Anda di halaman 1dari 14

Pengertian stainless steel /baja tahan karat.

Mengapa sebut stainless steel atau baja tahan karat, dan mengapa stainless steel
tidak berkarat ? Disebut sebagai baja tahan karat (stainless steel) karena jenis baja
ini tahan terhadap pengaruh oksigen dan memiliki lapisan oksida yang yang stabil
pada permukaan baja. Artikel ini membahas pengertian stainless steel, jenis dan
macam stainless steel serta karakteristik stainless steel.
Stainless steel bisa bertahan dari pengaruh oksidasi karena mengandung unsur
chromium lebih dari 10,5%, unsur chromium ini yang merupakan pelindung utama
baja dalam stainless steel terhadap gejala yang di sebabkan kondisi lingkungan.

Stainless steel di bagi dalam beberapa kelompok utama sesuai jenis dan
porsentase material sebagai bahan pembuatan-nya. Kelompok / klasifikasi
stainless steel antara lain adalah sebagai berikut:
1. Kelompok Stainless Steel Martensitic
Martensitic memiliki kandungan chrome sebesar 12% sampai maksimal 14% dan
carbon pada kisaran 0,08 2,0%. Kandungan karbon yang tinggi merupakan hal

yang baik dalam me-respon panas untuk memberikan berbagai kekuatan mekanis,
misalnya kekerasan baja.
Baja tahan karat kelas martensitic menunjukkan kombinasi baik terhadap
ketahanan

korosi

dan sifat

mekanis

mendapat

perlakuan

panas

pada

permukaannya sehingga bagus untuk berbagai aplikasi. Baja tahan karat


kelompok ini bersifat magnetis.
Pada kelompok atau klasifikasi martensic di bagi dalam beberapa tipe yang antara
lain adalah:
a. Type 410
Memiliki kandungan chrome sebanyak 13% dan 0,15% carbon, jenis yang paling
baik di gunakan pada pengerjaan dingin.
b. Type 416
Memiliki kandungan yang sama dengan type 410, namun ada penambahan unsur
shulpur.
c. Type 431
Mengandung 175 chrome, 2,5% nikel dan 0,15% maksimum carbon.
2. Kelompok Stainless Steel Ferritic
Ferritic memiliki kandungan chrome sebanyak 17% dan carbon antara 0,08
0,2%. Memiliki sifat ketahanan korosi yang meningkat pada suhu tinggi. Namun
sulit di lakukan perlakuan panas kepada kelompok stainless steel ini sehingga
penggunaan menjadi terbatas, Baja tahan karat kelompok ini bersifat magnetis.
Pada kelompok atau klasifikasi ferritic di bagi dalam beberapa tipe yang antara
lain adalah:
* Type 430

Memiliki kandungan chrome sebanyak 17%, dan kandungan baja yang rendah.
Tahan sampai temperature / suhu 800%, biasanya di buat dalam bentuk baja strip.
3. Kelompok Stainless Steel Austenitic
Austenitic memiliki kandungan chrome pada kisaran 17% 25% dan Nikel pada
kisaran 8 20% dan beberapa unsur / elemen tambahan dalam upaya mencapai
sifat yang di inginkan. Baja tahan karat kelompok ini adalah non magnetic.
Pada kelompok atau klasifikasi austenitic di bagi dalam beberapa tipe yang antara
lain adalah:
a. Type 304
Tipe ini dibuat dengan bahan dan pertimbangan ekonomis, sangat baik untuk
lingkungan tercemar dan di air tawar namun tidak di anjurkan pemakaiannya yang
berhubungan langsung dengan air laut.
b. Type 321
Merupakan variasi dari type 304 namun dengan penambahan titanium dan carbon
secara proporsional. Lumayan baik untuk pengerjaan suhu tinggi.
c. Type 347
Mirip dengan type 321 tetapi dengan penambahan niobium (bukan titanium).
d. Type 316
Pada tipe ini ada penambahan unsur molibdenum 2% 3% sehingga memberikan
perlindungan terhadap korosi, baik di gunakan pada peralatan yang berhubungan
dengan air laut. Penambahan nikel sebesar 12% tetap mempertahankan struktur
austenitic.
e. Type 317

Mirip dengan type 316, namun ada penambahan lebih pada unsur/elemen
molybdenum sebesar 3% 4%, memberikan peningkatan ketika berhubungan
langsung dengan air laut pada suhu / temperature dingin.
f. Moly
Lebih dikenal dengan istilah UNS S31254, merupakan jenis yang memiliki
ketahanan tinggi terhadap air laut karena tingginya kadar chromium dan
molibdenum.
g. L Grade
Memiliki kandungan carbon rendah (316L) dibatasi antara 0,03% 0,035%, hal
ini akan menyebabkan pengurangan kekuatan tarik.
4. Kelompok Stainless Steel Duplex
Merupakan kelompok terbaru yang memiliki keseimbangan chromium, nikel,
molibdenum dan Nitrogen pada campuran yang sama antara kelompok austenite
dan kelompok ferit.
Hasilnya adalah sebuah kekuatan yang tinggi, sangat tahan terhadap korosi.
Direkomendasikan pada suhu -50 sampai dengan +300 C. Biasanya di sebut
uNS, sebagai merk dagang.
Beberapa type antara lain adalah:
a. UNS S31803
Ini merupakan kelas tipe duplex yang paling banyak di gunakan. Komposisi-nya
adalah: 0,03% maksimum carbon, 22% chrome, 5,5% nikel dan 0,15 Nitrogen.
b. UNS S32750

Tipe duplex yang rendah menurut sifat mirip dengan type 316, tapi dua kali lipat
kekuatan tarik-nya. Komposisi-nya adalah : 0,03% carbon, 23% chrome, 4% nikel
dan 0,1% adalah nitrogen.
c. UNS S32750
Ini merupakan tipe super untuk kelompok duplex, ketahanan terhadap korosi yang
meningkat. Komposisi dari type ini adalah: 0,03% maksimum carbon, 25%
chrome, 7% nikel, 4% molibdenum dan 0,028 nitrogen.
Kesimpulan dari pembahasan Stainless Steel
Demikian pembahasan tentang pengertian stainless steel / Baja tahan karat dan
mengapa Stainless Steel tahan terhadap korosi / karat.
Dengan mengetahui semua karakteristik dan material bahan pada stainless steel
akan menjadi acuan pemilihan jenis untuk pekerjaan tertentu, tentunya dengan
pertimbangan lingkungan sekitar, kekuatan dan budget / dana untuk sebuah
pekerjaan yang memakai stainless.
Baja tahan karat atau lebih dikenal dengan stainless steel adalah material yang
mengandung senyawa besi dan setidaknya 10,5% Kromium untuk mencegah
proses korosi (pengaratan logam). Kemampuan tahan karat diperoleh dari
terbentuknya lapisan film oksida Kromium yang menghalangi proses oksidasi besi
(Ferum).

Klasifikasi
1. 12-14% kromium(Cr), di mana sifat mekanik bajanya sangat tergantung
dari kandungan unsur karbon (C).
2. Baja dengan pengerasan lanjut, 10-12% Kromium(Cr), 0.12% Karbon (C)
dengan sedikit tambahan unsur-unsur Mo, V, Nb, Ni dengan kekuatan
tekanan mencapai 927 Mpa dipergunakan untuk bilah turbin gas.
3. Baja kromium tinggi, 17%Cr, 2,5% Ni. Memiliki ketahanan korosi yang
sangat tinggi. Dipergunakan untuk poros pompa, katup dan fitting yang
bekerja pada tekanan dan temperatur tinggi tetapi tidak cocok untuk
kondisi asam.
4. Magnet tidak dapat menempel pada bahan stainless steel.

[sembunyikan]

Perhiasan
Bentuk

Anting-anting Bando Bros Cincin Chatelaine Gelang Gelang


kaki Gesper Jam (jam kantung) Jamang Kalung Kancing
kerah Kancing kerah tangan Kelat bahu Kembang goyang
Lapel pin Mahkota Pendan Pending Penjepit dasi Rantai
perut Siger Sumping Tiara Tusuk konde Upawita
Orang

Pembuatan

Bench jeweler Pandai emas Perancang perhiasan


Lapidary Pembuat jam

Casting (centrifugal, lost-wax, vacuum) Enameling


Engraving Filigree Metal clay Plating Polishing
Proses
Repouss and chasing Soldering Stonesetting Wire
wrapping
Alat Draw plate File Palu Mandrel Tang
Logam
mulia

Emas Paladium Platinum Rodium Perak

Perak Britannia Emas berwarna Emas mahkota


Aloi logam
Elektrum Sterling platinum Shakudo Shibuichi
mulia
Perak Sterling Tumbaga
Logam/aloi Kuningan Perunggu Tembaga Mokume-gane
dasar Pewter Baja tahan karat Titanium
Bahan

Aventurin Agate Aleksandrit Ametis Akuamarin


Karnelian Sitrin Intan Diopsida Zamrud Garnet
Batu
Jade Jasper Lapis lazuli Malasit Markasit Batu
permata
bulan Obsidian Oniks Opal Peridot Kuarsa
mineral
Rubi Safir Sodalit Batu matahari Tanzanit Mata
Harimau Topaz Tourmalin
Batu
permata Amber Kopal Koral Jet Mutiara Abalon
organik

Istilah

Karat (massa) Karat (kemurnian) Finding Millesimal fineness

Topik terkait: Tindik tubuh Mode Gemologi Teknik logam Seni


pakaian
Keluli, juga dikenali sebagai besi baja atau besi waja (Bahasa Inggeris: Steel)
adalah sejenis aloi yang bahan utamanya ialah besi, dengan sedikit kandungan
karbon di antara 0.02% dan 1.7 atau 2.04% mengikut berat (C:100010,8.67Fe),

bergantung kepada gred. Karbon adalah bahan sebatian paling murah dan
berkesan bagi besi, tetapi pelbagai unsur sebatian lain yang turut digunakan
seperti manganese dan tungsten.[1] Karbon dan unsur lain bertindak sebagai agen
pengeras, menghalang kerawang kristal (crystal lattice) dalam atom besi berpisah
dengan tergelincir sesama sendiri. Jumlah unsur sebatian yang berbeza dan bentuk
kehadirannya dalam keluli (unsur solute, fasa precipitated) mengawal kualiti
seperti kekerasan, kelenturan, dan kekenyalan keluli yang terhasil. Besi dengan
peningkatan kandungan karbon mampu menjadi lebih kukuh dan kuat berbanding
besi , tetapi ia juga lebih rapuh. Maksima kelarutan karbon dalam besi (di
kawasan austenite) adalah 2.14% menurut berat, berlaku pada 1149 C;
kandungan karbon yang lebih tinggi atau suhu yang lebih rendah akan
menghasilkan cementite. Sebatian besi dengan kandungan karbon lebih tinggi dari
ini dikenali sebagai besi tuang kerana kadar leburnya yang lebih rendah.[1] Keluli
juga dibezakan dari besi tempa (wrought iron) dari segi kandungan yang
mengandungi hanya sejumlah kecil unsur lain, tetapi mengandungi 13% slag
menurut berat dalam bentuk partikel memanjang pada satu arah, memberikan ciriciri urat besi. Ia lebih tahan karat berbanding keluli dan lebih mudah dipetri.
Tetapi pada masa kini istilah ini jarang digunakan dalam industri keluli. Ia
merupakan perkara biasa pada masa kini bagi merujuk 'industri besi keluli' seolaholah ia satu entiti, tetapi dalam sejarah ia merupakan keluaran yang berbeza.
Sungguhpun besi telah dihasilkan melalui pelbagai kaedah tidak efisen lama
sebelum Renaissance, kegunaannya lebih biasa selepas kaedah lebih efisen dicipta
pada abad ke-17. Dengan ciptaan proses Bessemer pada pertengahan abad ke-19,
besi menjadi barangan keluaran pukal yang murah dari segi perbandingan.
Peningkatan lanjut dalam proses tersebut, seperti penghasilan besi asas oksijen,
menurunkan lagi kos penghasilan sementara pada masa yang sama meningkatkan
kualiti logam. Hari ini, keluli merupakan salah satu bahan yang biasa didapati di
dunia dan merupakan komponen utama dalam pembinaan bangunan, perkakasan,
kereta, dan peralatan utama. Keluli moden biasanya dikenali menurut gred keluli
yang ditakrifkan oleh pelbagai organisasi piawaian.
Baja adalah logam paduan, logam besi sebagai unsur dasar dengan beberapa
elemen lainnya, termasuk karbon. Kandungan unsur karbon dalam baja berkisar
antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Elemen berikut ini selalu ada
dalam baja: karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil oksigen,
nitrogen dan aluminium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan untuk
membedakan karakteristik antara beberapa jenis baja diantaranya: mangan, nikel,
krom, molybdenum, boron, titanium, vanadium dan niobium.[1] Dengan
memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis
kualitas baja bisa didapatkan. Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur
pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi kristal (crystal lattice)

atom besi. Baja karbon ini dikenal sebagai baja hitam karena berwarna hitam,
banyak digunakan untuk peralatan pertanian misalnya sabit dan cangkul.
Penambahan kandungan karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan
(hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength), namun di sisi lain
membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility).
Meskipun baja sebelumnya telah diproduksi oleh pandai besi selama ribuan tahun,
penggunaannya menjadi semakin bertambah ketika metode produksi yang lebih
efisien ditemukan pada abad ke-17. Dengan penemuan proses Bessemer di
pertengahan abad ke-19, baja menjadi material produksi massal yang membuat
harga produksinya menjadi lebih murah. Saat ini, baja merupakan salah satu
material paling umum di dunia, dengan produksi lebih dari 1,3 miliar ton tiap
tahunnya. Baja merupakan komponen utama pada bangunan, infrastruktur, kapal,
mobil, mesin, perkakas, dan senjata. Baja modern secara umum diklasifikasikan
berdasarkan kualitasnya oleh beberapa lembaga-lembaga standar.

Karakteristik material

Diagram fasa besi-karbon.

Pieces of through-tempered steel flatbar. The first one, on the left, is normalized
steel. The second is quenched, untempered martensite. The remaining pieces have
been tempered in an oven to their corresponding temperature, for an hour each.
"Tempering standards" like these are sometimes used by blacksmiths for
comparison, ensuring that the work is tempered to the proper color.
Besi dapat ditemukan pada bagian kerak bumi hanya dalam bentuk bijih, biasanya
dalam bentuk besi oksida seperti magnetit dan hematit. besi diekstraksi dari bijih
besi dengan menghilangkan atom oksigen dan kemudian menggabungkannya
kembali dengan atom lain seperti karbon. Proses ini disebut smelting.[2] Ada
sejumlah kecil besi yang sudah melalui proses ini pada masa lampau dengan cara
memanaskan bijih yang ditanam pada bara api dan kemudian menggabungkan
kedua logam dengan menempanya palu. Kandungan karbon yang terkandung juga
dapat dikontrol.
Temperatur tinggi pada proses smelting dapat dicapai dengan metode kuno yang
sudah dipakai sejak zaman Tembaga. Karena tingkat oksidasi besi meningkat
sangat cepat diatas suhu 800 C (1,470 F), maka harus diperhatikan bahwa proses
smelting harus dilaksanakan pada lingkungan dengan tingkat oksigen rendah.
Proses peleburan akan menghasilkan paduan yang dinamakan baja.[2] Kelebihan
karbon dan pengotor lainnya dapat dihilangkan dengan beberapa proses bertahap.
Beberapa material juga ditambahkan ke campuran besi/karbon untuk
mendapatkan baja dengan karakteristik yang diinginkan. Nikel dan mangan
ditambahkan untuk menambah kekuatan, krom ditambahkan untuk meningkatkan
kekerasan dan titik didih, serta penambahan vanadium juga menambah kekerasan
serta mengurangi dampak kelelahan logam.[3]
Untuk mencegah korosi, ditambahkan kromium paling sedikit 11% wt sehingga
membentuk oksida yang keras pada permukaan baja; baja ini dikenal dengan
stainless steel (baja anti noda). Tungsten ditambahkan pada pembentukan
cementit, sehingga pada kecepatan quench yang lebih rendah akan membentuk
martensit. Di sisi lain, sulfur, nitrogen, dan fosfor membuat baja menjadi getas,
sehingga elemen ini harus dipisahkan ketika pemrosesan.[3]
Densitas baja bervariasi tergantung dari unsur pembentuknya, namun umumnya
berada di antara 7,750 and 8,050 kg/m3 (484 and 503 lb/cu ft), atau 7.75 and
8.05 g/cm3 (4.48 and 4.65 oz/cu in).[4]

Meski dalam rentang konsentrasi campuran yang rendah besi dan karbon
membentuk baja, namun dapat terbentuk berbagai macam struktur metalurgi yang
berbeda dengan sifat yang sangat berbeda pula. Memahami sifat-sifat ini sangat
penting dalam produksi baja. Pada suhu ruangan, bentuk besi yang paling stabil
adalah struktur body-centered cubic (BCC) yang disebut ferrit atau besi-. Besi ini
merupakan logam lunak yang hanya dapat melarutkan karbon dalam konsentrasi
kecil, tidak lebih dari 0.021 wt% pada 723 C (1,333 F), dan hanya 0.005% pada
0 C (32 F). Pada 910 C besi murni berubah menjadi struktur face-centered
cubic (FCC), yang disebut austenit atau besi-. Struktur FCC austenit dapat
melarutkan karbon lebih banyak, sampai 2.1%[5] (karbonnya 38 kali ferrit) pada
1,148 C (2,098 F), yang disebut besi tuang (cast iron).[6]
Ketika baja dengan kandungan karbon kurang dari 0,8% dipanaskan, maka fase
austenitic (FCC) campuran mencoba berubah menjadi fase ferrit (BCC),
menghasilkan kelebihan karbon.

Perlakuan panas
Ada berbagai perlakuan panas yang biasa digunakan pada proses pengolahan baja.
Perlakuan panas yang paling sering digunakan adalah annealing, quenching, dan
tempering. Annealing adalah perlakuan panas terhadap baja yang dilakukan
dengan memanaskan baja hingga temperatur cukup tinggi untuk membuat baja
lunak. Proses ini terjadi dalam tiga tahapan, pemulihan, rekristalisasi, dan
penumbuhan butir. Temperatur yang dibutuhkan untuk annealing bergantung pada
jenis annealing dan kandungan elemen campuran dalam baja.
Quenching dan tempering awalnya melibatkan pemanasan baja hingga fasanya
berubah menjadi austenit lalu dilakukan pendinginan menggunakan media
pendingin oli atau air. Penurunan temperatur yang tiba-tiba menghasilkan struktur
martensit yang keras dan getas. Baja lalu diproses melalui proses tempering yang
merupakan salah satu jenis dari annealing. Pada proses ini sebagian dari struktur
martensit akan berubah menjadi sementit, atau spheroidite untuk mengurangi
tegangan internal dan cacat dalam baja, sehingga baja lebih ulet dan lebih tahan
terhadap keretakan.

Produksi baja
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pembuatan baja
Pengertian proses ereksi pada konstruksi baja
secara umum adalah suatu proses yang terdiri dari perakitan komponen baja
sehingga menjadi satu kesatuan yang dilaksanakan di lapangan. Proses ereksi
terdiri dari proses pengangkatan dan menempatkan komponen baja ke posisi yang
diinginkan, kemudian menghubungkan
mereka bersama-sama.

Lihat pula: Daftar negara menurut produksi baja

Pelet bijih besi untuk produksi baja


Besi setelah melalui proses peleburan dari bijih, mengandung karbon berlebih.
Untuk menjadikannya baja, perlu dilelehkan dan diproses ulang untuk mengurangi
kandungan karbonnya hingga mencapai jumlah yang diinginkan, maka setelah itu
elemen-elemen lain dapat ditambahkan. Cairan ini lalu dituang secara kontinu
membentuk lempeng besi panjang atau dituang menjadi batangan baja. Sekitar
96% baja dituang secara kontinu dan 4%nya diproduksi dalam wujud batangan.[7]

Industri baja
Lihat pula: Sejarah industri baja modern, Tren industri baja global, Produksi baja
menurut negara, dan Daftar produsen baja

Produksi baja menurut negara tahun 2007

Sebuah pabrik baja di Britania Raya.

Sudah biasa terdengar sebutan "industri besi dan baja" sebagai suatu kesatuan,
tetapi dari perspektif sejarah mereka adalah produk yang berbeda. Industri baja
sering digunakan sebagai indikator perkembangan ekonomi, dikarenakan peran
baja untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan perkembangan ekonomi secara
menyeluruh.[8]
Tahun 1980, lebih dari 500.000 pekerja di industri baja. Pada tahun 2000, pekerja
di industri baja menurun hingga 224.000.[9]
Perkembangan ekonomi di India dan Cina yang pesat mengakibatkan peningkatan
permintaan baja pada tahun belakangan ini. Antara tahun 2000 hingga 2005,
permintaan dunia terhadap baja meningkat sekitar 6%. Sejak tahun 2000,
beberapa perusahaan baja Cina dan India [10] telah menjadi perusahaan besar di
industri ini, seperti Tata Steel, Shanghai Baosteel Corporation dan Grup Shagang.
Produsen baja terbesar di dunia adalah ArcelorMittal.
Pada tahun 2005, British Geological Survey menyatakan bahwa Cina adalah
produsen baja terbesar di dunia, sekitar sepertiga produksi baja dunia berasal dari
Cina, disusul oleh Jepang, Russia dan Amerika Serikat.[11]
Tahun 2008, baja menjadi komoditas perdagangan di London Metal Exchange.
Pada akhir 2008, industri baja sempat terjatuh sehingga banyak menyebabkan
pemutusan hubungan kerja.[12]

Sejarah
Sebelum diperkenalkannya metode produksi Bessmer dan berbagai teknik
produksi modern lainnya, baja termasuk material yang mahal dan hanya
digunakan ketika tidak ada material alternatif yang lebih murah, khususnya untuk
bagian tajam dari pisau, alat pencukur, dan pedang, dan berbagai alat perkakas
yang membutuhkan bagian yang keras dan tajam. Baja pada saat itu juga
digunakan untuk pegas, termasuk pegas yang digunakan pada jam.
Dengan berkembangnya metode produksi yang lebih cepat dan ekonomis, baja
menjadi lebih mudah didapat dan menjadi jauh lebih murah. Baja telah
menggantikan penggunaan bongkah besi dalam berbagai hal. Pada abad 20
dengan ditemukannya plastik, penggunaan baja untuk beberapa aplikasi dapat
tergantikan, dikarenakan plastik lebih murah dan lebih ringan. Fiber karbon juga
menggantikan baja untuk berbagai aplikasi yang lebih memprioritaskan berat
yang ringan daripada harga ekonomis, seperti pada pesawat terbang, peralatan
olahraga dan kendaraan mewah.

Klasifikasi baja

Berdasarkan komposisi
o Baja karbon

o Baja paduan rendah


o Baja tahan karat

Berdasarkan proses pembuatan


o Tanur baja terbuka
o Dapur listrik
o Proses oksidasi dasar

Berdasarkan bentuk produk


o Pelat batangan
o Tabung
o Lembaran
o Pita
o Bentuk struktural

Berdasarkan struktur mikro


o Feritik
o Perlitik
o Martensitik
o Austenitik

Berdasarkan kegunaan dalam konstruksi


o Baja Struktural
o Baja Non-Struktural

Lihat pula

Produsen baja

Referensi

1.

^ Ashby, Michael F. and Jones, David R. H. (1992) [1986].


Engineering Materials 2 (with corrections ed.). Oxford: Pergamon Press.
ISBN 0-08-032532-7.
^ a b Smelting. Encyclopdia Britannica. 2007.

2.
3.

^ a b "Alloying of Steels". Metallurgical Consultants. 2006-06-28.


Diakses tanggal 2007-02-28.

4.
5.

^ Elert, Glenn. "Density of Steel". Diakses tanggal 2009-04-23.


^ Beberapa sumber menyatakan perbedaan dalam angka ini,
sehingga dibulatkan menjadi 2.1%, meskipun begitu nilai ini hanya
digunakan untuk keperluan akademik karena plain-carbon steel amat
jarang dibuat dengan kandungan karbon seperti ini. Lihat:

Smith & Hashemi 2006, hlm. 3632.08%.

Degarmo, Black & Kohser 2003, hlm. 752.11%.

Ashby & Jones 19922.14%.

6.

^ Smith & Hashemi 2006, hlm. 363.

7.

^ Smith & Hashemi 2006, hlm. 361

8.

^ "Steel Industry". Diakses tanggal 2009-07-12.

9.

^ "Congressional Record V. 148, Pt. 4, April 11, 2002 to April 24,


2002". United States Government Printing Office.

10.

^ "India's steel industry steps onto world stage". Diakses tanggal


2009-07-12.

11.

^ "Long-term planning needed to meet steel demand". The News.


2008-03-01. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-11-02. Diakses
tanggal 2010-11-02.

12.

^ Uchitelle, Louis (2009-01-01). "Steel Industry, in Slump, Looks


to Federal Stimulus". The New York Times. Diakses tanggal 2009-07-19.