Anda di halaman 1dari 39

Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat

Tentang

Rujukan

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 1

Ketua
Sekretaris

: Surya Navisa Yunid (15-088)


: Anggi Angraini

(15-093)

Penyaji

: Feriska Yulia Yusuf (15-090)

Moderator

: Aika Gleedina P.E.Z

(15-089)

Anggota

: Assyifa Dinda R.F

(15-041)

Indah Saputri

(15-085)

Stela Maysa Prima

(15-086)

Agry Primanita Efendy (15-087)


Nurhayani Putri

(15-092)

Ihut Hamonangan

(15-095)

Tiola Elten Prastilya

(15-094)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG
2016
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan Rahmat-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang di berikan oleh dosen pembimbing
dalam mata kuliah IKGM (Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat) Shalawat serta salam
semoga selalu tercurahkan kepada pemimpin paling mulia, manusia yang paling baik
akhlaknya yaitu Nabi Muhammad SAW , kepada keluarganya, para sahabat serta
pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Amin

Makalah ini berjudul Rujukan yang nantinya akan memberikan pemahaman


kepada pembaca tentang hal-hal yang berkaitan dengan Rujukan. Mungkin penulis
tidak bisa membuat makalah ini sesempurna mungkin. Oleh karena itu, kritik dan
saran sangat penulis harapkan dari para pembaca. Khususnya dari dosen yang telah
membimbing penulis dalam mata kuliah ini.

Padang, 12 November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................................i


Daftar Isi..................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................................1
1.3 Tujuan........................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi

Rujukan............................................................................................3
2.2

Sistem

Rujukan..............................................................................................4
2.3

Tujuan

Rujukan.............................................................................................5
2.4 Tingkatan
Rujukan........................................................................................6
2.5 Syarat-syarat
rujukan....................................................................................7
2.6

Jenis-Jenis

Sistem

Rujukan

di

Indonesia......................................................8
2.7

Mekanisme

Sistem

Rujukan

di

Indonesia.....................................................10
2.8

Prosedur

Merujuk

Dan

Menerima

Rujukan

Pasien.......................................11
2.9

Keuntungan

Sistem

Rujukan.........................................................................15
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Contoh Surat
Rujukan.................................................................................17
3.2

Contoh

Surat

Rujukan

Puskesmas...............................................................19
3.2 Contoh surat rujukan ke
Spesialis...............................................................19
3.4

Contoh

Kasus...............................................................................................20
BAB IV PENUTUP
4.1
Kesimpulan..................................................................................................
26
4.2

Saran.............................................................................................................
26
Daftar
Pustaka.........................................................................................................
...28

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik
atas kasus atau masalah kesehatan yang timbul baik secara vertikal
(dan satu unit ke unit yang lebih lengkap / rumah sakit) untuk
horizontal (dari satu bagian lain dalam satu unit). Sistem Rujukan
adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang
memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal
balik atas masalah yang timbul,baik secara vertical (komunikasi antar
unit yang sederajat) ataupun secara horisontal (lebih tinggi yang lebih
rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau,
rasional dan tidak dibatasi wilayah administrasi (Satrianegara, 2009).
Di negara Indonesia sistem rujukan kesehatan telah dirumuskan
dalam Permenkes No. 01 tahun 2012. Sistem rujukan pelayanan
kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang
mengatur pelimpahan tugas dan

tanggung jawab timbal balik

pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun


horizontal. Sederhananya, sistem rujukan mengatur darimana dan
harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu
memeriksakan keadaan sakitnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian Rujukan?
2. Apakah Pengertian Sistem Rujukan?

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa Tujuan Rujukan dan Jenis Rujukan?


Apa saja Tingkatan Rujukan?
Apa saja Syarat-syarat rujukan ?
Apa saja jenis-Jenis Sistem Rujukan di Indonesia?
Bagaimana mekanisme sistem rujukan di indonesia ?
Bagaiamana Prosedur Merujuk Dan Menerima Rujukan

Pasien ?
9. Apa saja keuntungan sistem rujukan?
10. Bagaiamankah Contoh Surat Rujukan ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian Rujukan dan Sistem Rujukan
.
2. Untuk mengetahui Tujuan Rujukan dan Jenis Rujukan .
3. Untuk mengetahui Tingkatan Rujukan.
4. Untuk mengetahui syarat-syarat rujukan.
5. Untuk mengetahui mekanisme sistem rujukan di indonesia.
6. Untuk

mengetahui

Prosedur

Merujuk

Dan

Menerima

Rujukan Pasien.
7. Untuk mengetahui Keuntungan sistem rujukan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Rujukan

Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas


masalah kesehatan masyarakat dan kasus-kasus penyakit yang dilakukan
secara timbal balik secara vertikal maupun horizontal meliputi sarana,
rujukan teknologi,rujukan tenaga ahli, rujukan operasional, rujukan kasus,
rujukan ilmu pengetahuan dan rujukan bahan pemeriksaan laboratorium
(Permenkes No V, 2012).
Tata laksana rujukan:
1) Internal antar petugas di satu rumah.
2) Antara puskesmas pembantu dan puskesmas Induk.
3) Antara masyarakat dan puskesmas.
4) Antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya.
5) Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya.
6) Internal antar-bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit.
7) Antar rumah sakit, laboratoruim atau fasilitas pelayanan lain dari
rumah sakit.

2.2 Sistem Rujukan


Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan
kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab
secara timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara vertikal

(komunikasi antar unit yang sederajat) ataupun secara horisontal (lebih


tinggi yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten,
terjangkau,

rasional

dan

tidak

dibatasi

wilayah

administrasi

(KepMenKesRI, 2004).
Sistem Rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung
jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun
horizontal. Pelimpahan wewenang dalam sistem rujukan dibagi menjadi:
1. Interval referral, pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderita
sepenuhnya kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu,
dan

selama

jangka

waktu

tersebut

dokter

tsb

tidak

ikut

menanganinya.
2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggung jawab
penanganan penderita hanya untuk satu masalah kedokteran khusus
saja .
3. Cross

referral,

penanganan

menyerahkan

penderita

wewenang

sepenuhnya

dan

kepada

tanggungjawab

dokter

lain

untuk

tanggung

jawab

selamanya.

4. Split

referral,

penanganan

menyerahkan
penderita

wewenang

sepenuhnya

dan

kepada

beberapa

dokter

10

konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan wewenang dan


tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur
(KepMenKesRI, 2004).
2.3 Tujuan Rujukan
Menurut Mochtar, 1998 Rujukan mempunyai berbagai macam
tujuan antara lain :
a) Agar setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan
sebaik-baiknya.
b) Menjalin kerja sama dengan cara pengiriman penderita atau
bahan laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang
c)

lebih lengkap fasilitasnya.


Menjalin perubahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of
knowledge & skill) melalui pendidikan dan latihan antara pusat

pendidikan dan daerah perifer .


Sedangkan menurut Hatmoko, 2000 Sistem rujukan mempunyai
tujuan umum dan khusus, antara lain :
a) Umum Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan
yang didukung kualitas pelayanan yang optimal dalam rangka
memecahkan masalah kesehatan secara berdaya guna dan
berhasil guna.
b) Khusus (a) Menghasilkan upaya pelayanan kesehatan klinik
yang bersifat kuratif dan rehabilitatif secara berhasil guna dan
berdaya guna. (b) Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat
yang bersifat preveventif secara berhasil guna dan berdaya
guna.
2.4 Tingkatan Rujukan
Tingkatan rujukan berdasarkan pada bentuk pelayanan :

11

a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care)


Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang
sakit ringan dan masyarakat sehat untuk meningkatkan kesehatan
mereka atau promosi kesehatan. Oleh karena jumlah kelompok ini
didalam

suatu

populasi

sangat

besar

(kurang

lebih

85%),

pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan


kesehatan dasar (basib health services). Bentuk pelayanan ini di
Indonesia adalah puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas
keliling dan balkesmas.
b. Pelayanan Kesehatan tingkat kedua (secondary health services)
Pelayanan

kesehatan

jenis

ini

diperlukan

oleh

kelompok

masyarakat yang memerlukan perawatan nginap, yang sudah


tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Bentuk
pelayanan ini misalnya Rumah Sakit tipe C dan D dan memerlukan
tersedianya tenaga spesialis
c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services)
Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat
atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan
kesehatan sekunder.
Pelayanan sudah komplek, dan memerlukan tenaga-tenaga super
spesialis. Contoh di Indonesia: RS tipe A dan B.
2.5 Syarat-syarat rujukan
Pembuat rujukan harus :

12

1. Mempunyai kompetensi dan wewenang merujuk.


2. Mengetahui kompetensi dan wewenang sasaran /tujuan rujukan.
3. Mengetahui kondisi serta kebutuhan objek rujukan.
4. Adanyan pengertian timbale balik antara pengirim dan penerima
rujukan.
5. Adanya pengertian petugas tentang rujukan.
6. Rujukan dapat bersifat horizontal dan vertical , dengan prinsip
mengirim kearah fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu
dan lengkap.
7. Sarana tranfortasi yang digunakan harus dilengkapi alat resusitasi,
cairan infus, oksigen dan dapat menjamin pasien sampai ketempat
rujukan tepat waktu.
8. Pasien didampingi oleh tenaga kesehatan yang mahir tindakan
kegawat daruratan.
9. Sarana tranfortasi / petugas kesehatan pendamping memiliki
system komunikasi.
10. Pasien memerlukan pelayanan penunjang medis yang lebih
lengkap yabg tidak tersedia di fasilitas pelayanan semula.
11. Rujukan tanpa alas an medis dapat dilakukan apabila suatu rumah
sakit kebihan pasien ( jumlah tempat tidur tidak melengkapi .
12. Adanya unit yang mempunyai tanggung jawab dalam rujukan baik,
yang merujuk atau yang menerima rujukan

13

13. Adanya tenaga kesehatan

yang

kompeten

dan mempunyai

kewenangan melaksanakan pelayanan medis dan rujukan medis


yang dibutuhkan.
14. Adanya pencatatan /kartu/dokumentertentu berupa ;
a) Formulir rujukan dan rujuk balik sesuai.
b) Kartu jamkesma , jamkesma atau kartu asuransi.
c) Pencatatan dan hasil dokumen pemeriksaan penunjang.
2.6 Jenis-Jenis Sistem Rujukan di Indonesia
Menurut PerMenKes No 034 (2012), jenis-jenis sistem rujukan di
Indonesia:
1. Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari: Rujukan internal
dan rujukan eksternal
a.

Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit


pelayanan di dalam institusi tersebut Misalnya dari jejaring
puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas induk.

b. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit - unit


dalam

jenjang

pelayanan

kesehatan,

baik

horizontal

(dari

puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat map) maupun vertikal


(dan puskesmas ke rumah sakit umum daerah) (PerMenKes, 2012).
2. Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari:
a.

Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi


upaya

penyembuhan

(kuratif)

dan

pemulihan

(rehabilitatif).

Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan penyakit kronis


(jantung koroner, hipertensi, diabetes melitus) ke rumah sakit

14

umum daerah.
b. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya
berkaitan

dengan

(promotif)

dan

upaya

peningkatan

pencegahan

(preventif).

promosi

kesehatan

Contohnya,

merujuk

pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (PerMenKes,


2012).
3. Menurut rujukan dalam kedokteran gigi, antara lain :
a. Rujukan Kasus Dengan Atau Tanpa Pasien :
Dari posyandu/sekolah/pustu ke puskesmas, indikasinya :
semua kelainan/kasus/keluhan yang ditemukan pada jaringan
keras dan jaringa lunak didalam rongga mulut.
Dari poli gigi puskesmas ke rumah sakit yang lebih mampu,
indikasinya: semua kelainan/kasus yang ditemukan tenaga
kesehatan gigi (dokter gigi, perawat gigi) di puskesmas yang
memerlukan

tindakan

diluar

kemampuannya

(PerMenKes,2012).
b.

Rujukan

Model

(Prosthetic

Atau

Orthodonsi)

:Pelayanan

kesehatan gigi yang memerlukan pembuatan prothesa termasuk


mahkota dan jembatan, plat orthodonsi, obturator, feeding plate,
inlay, onlay (PerMenKes, 2012).
c. Rujukan Spesimen Semua kelainan/kasus yang ditemukan
tenaga kesehatan gigi (dokter gigi,perawat gigi) di puskesmas yang

15

memerlukan

pemeriksaan

penunjang

diagnostik/laboratorium

sehubungan dengan kelainan dalam rongga mulutnya.


d. Rujukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Keadaan dimana dibutuhkan peningkatan ilmu pengetahuan dan
atau ketrampilan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, agar dapat
memberikan pelayanan yang lebih optimal.
e. Rujukan Kesehatan Gigi
Semua kegiatan peningkatan promosi kesehatan dan pencegahan
kasus yang memerlukan bantuan teknologi, sarana dan biaya
operasional (PerMenKes, 2012).
2.7 Mekanisme Sistem Rujukan di Indonesia

Jalur rujukan terdiri dari dua jalur yakni :


1. Rujukan Upaya Kesehatan perorangan
a.

Antara masyarakat dengan puskesmas

b. Antara puskesmas pembantu atau bidan di desa dengan


puskesmas
c.

Antara petugas puskesmas atau puskesmas rawat inap.

d. Antar puskesmas atau puskesmas dengan rumah sakit atau


fasilitas pelayanan lainnya (Satrianegara, 2009).
2. Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat

16

a) Dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten atau kota


b) Dari puskesmas ke instansi lain yang lebih kompeten baik
intrasektoral maupun lintas sektoral.
c)

Bila rujukan ditingkat kabupaten atau kota masih belum


mampu menanggulangi bisa diteruskan ke provinsi atau pusat
(Satrianegara,2009).

2.8 Prosedur Merujuk Dan Menerima Rujukan Pasien


Menurut keputusan Dikti KemDikBud (2011), dalam prosedur merujuk
dan menerima rujukan pasien ada dua pihak yang terlibat yaitu pihak
yang merujuk dan pihak yang menerima rujukan dengan rincian beberapa
prosedur sebagai berikut:
1. Prosedur Standar Merujuk Pasien
Prosedur Klinis:
a.

Melakukan

anamnesa,

penunjang

medik

pemeriksaan

untuk

menentukan

fisik

dan

diagnosa

pemeriksaan
utama

dan

diagnose banding.

b. Memberikan tindakan pra rujukan sesuai kasus berdasarkan


Standar Prosedur Operasional (SPO).
c.

Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan.

d. Untuk pasien gawat darurat harus didampingi petugas Medis /

17

Paramedis yang kompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi


pasien.
e.

Apabila pasien diantar dengan kendaraan Puskesmas keliling atau


ambulans, agar petugas dan kendaraan tetap menunggu pasien di
IGD tujuan sampai ada kepastian pasien tersebut mendapat
pelayanan dan kesimpulan dirawat inap atau rawat jalan

Prosedur Administratif:
a.

Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan pra-rujukan.

b. Membuat catatan rekam medis pasien.


c.

Memberikan Informed Consent (persetujuan/penolakan rujukan)

d. Membuat surat rujukan pasien rangkap 2 (form R/1/a terlampir).


Lembar pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang
bersakutan. Lembar kedua disimpan sebagai arsip.
e.
f.

Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien.


Menyiapkan sarana transportasi dan sedapat mungkin menjalin
komunikasi dengan tempat tujuan rujukan.

g. Pengiriman pasien ini sebaiknya dilaksanakan setelah diselesaikan


administrasi yang bersangkutan (Dikti KemDikBud 2011).
2. Prosedur Standar Menerima Rujukan Pasien
Prosedur Klinis:
a.

Segera menerima dan melakukan stabilisasi pasien rujukan sesuai

18

Standar Prosedur Operasional (SPO).


b. Setelah stabil, meneruskan pasien ke ruang perawatan elektif
untuk

perawatan

selanjutnya

atau

meneruskan

ke

sarana

kesehatan yang lebih mampu untuk dirujuk lanjut.


c.

Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan klinis pasien.

Prosedur Administratif:
a.

Menerima, meneliti dan menandatangani surat rujukan pasien


yang telah diterima untuk ditempelkan di kartu status pasien.

b. Apabila pasien tersebut dapat diterima kemudian membuat tanda


terima pasien sesuai aturan masing-masing sarana.
c.

Mengisi hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada


kartu

catatan

medis

dan

diteruskan

ke tempat

perawatan

selanjutnya sesuai kondisi pasien.


d. Membuat informed consent (persetujuan tindakan, persetujuan
rawat inap atau pulang paksa).
e.

Segera memberikan informasi tentang keputusan tindakan /


perawatan yang akan dilakukan kepada petugas / keluarga pasien
yang mengantar.

f.

Apabila

tidak

sanggup

menangani

(sesuai

perlengkapan

Puskesmas / RSUD yang bersangkutan), maka harus merujuk ke


RSU yang lebih mampu dengan membuat surat rujukan pasien

19

rangkap 2 kemudian surat rujukan yang asli dibawa bersama


pasien, prosedur selanjutnya sama seperti merujuk pasien.
g. Mencatat identitas pasien di buku register yang ditentukan.
h. Bagi Rumah Sakit, mengisi laporan Triwulan (Dikti KemDikBud
2011).
3. Prosedur Standar Membalas Rujukan Pasien
Prosedur Klinis:
a. Rumah Sakit atau Puskesmas yang menerima rujukan pasien wajib
mengembalikan pasien ke RS / Puskesmas / Polindes/Poskesdes pengirim
setelah dilakukan proses antara lain: Sesudah pemeriksaan medis, diobati
dan dirawat tetapi penyembuhan selanjutnya perlu di follow up oleh
Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes/Poskesdes pengirim.
b. Sesudah pemeriksaan medis, diselesaikan tindakan kegawatan
klinis, tetapi pengobatan dan perawatan selanjutnya dapat dilakukan di
Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes / Poskesdes pengirim.

c. Melakukan pemeriksaan fisik dan mendiagnosa bahwa kondisi


pasien sudah memungkinkan untuk keluar dari perawatan Rumah
Sakit/Puskesmas tersebut dalam keadaan:
Sehat atau Sembuh.

20

Sudah ada kemajuan klinis dan boleh rawat jalan.


Belum ada kemajuan klinis dan harus dirujuk ke tempat lain.
Pasien sudah meninggal (Dikti KemDikBud 2011).
2.9 Keuntungan Sistem Rujukan
1. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti
bahwa pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah dan secara
psikologis memberi rasa aman pada pasien dan keluarga
2. Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan
keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga makin
banyak kasus yang dapat dikelola di daerahnya masing masing
3. Masyarakat desa dapat menikmati tenaga ahli I. Upaya Peningkatan
Mutu Rujukan Langkah-langkah dalam upaya meningkatkan mutu
rujukan :
a) Meningkatkan mutu pelayanan di puskesmas dalam menampung
rujukan puskesmas pembantu dan

pos kesehatan lain dari

masyarakat.
b) Mengadakan pusat rujukan antara lain dengan mengadakan
ruangan tambahan untuk 10 tempat tidur perawatan penderita
gawat darurat di lokasi strategis.
c)

Meningkatkan sarana komunikasi antar unit pelayanan kesehatan .

21

d) Menyediakan Puskesmas keliling di setiap kecamatan dalam


bentuk kendaraan roda 4 atau perahu bermotor yang dilengkapi
alat komunikasi.
e) Menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan bagi sistem, baik
rujukan medik maupun rujukan kesehatan .
f)

Meningkatkan upaya dana sehat masyarakat untuk menunjang


pelayanan kesehatan.

22

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Contoh Surat Rujukan
A. Surat Rujukan

23

24

B. Jawaban Rujukan

25

3.2 Contoh Surat Rujukan Puskesmas

3.2 Contoh surat rujukan ke Spesialis

3.4 Contoh Kasus


A. Anamnesis
Pada tanggal 8 Juli 2014, Pasien perempuan umur 61 tahun datang
ke Bagian Bedah Mulut RSUD Pare Kediri dengan keluhan ingin

26

menyabutkan gigi depan bawahnya. Pasien mengeluhkan gigi tersebut


terasa goyang, tidak sakit dan tidak nyaman saat digunakan makan.
Pasien mengatakan memiliki riwayat penyakit kencing manis sejak 10
tahun yang lalu, pasien mengatakan pernah memeriksakan giginya di
Puskesmas sekitar 6 bulan yang lalu dan belum dilakukan pencabutan.
B. Pemeriksaan Klinis
1. Pemeriksaan Subjektif
a. Pemeriksaan umum:
- Usia : 61 tahun
- Jenis kelamin : perempuan
- Kepala : Normal
- Kelenjar tiroid : Normal
- Wajah : Simestris
- TD : 160/100 mmHg

b. Riwayat Medis :
- Penyakit sistemik : Pasien memiliki riwayat penyakit sistemik
sejak 10 tahun yang lalu.
c. Riwayat Gigi :
- Pasien pernah datang ke Puskesmas Mojoroto Kediri ingin

27

menyabutkan gigi nya. pasien mengatakan belum dilakukan


pencabutan gigi.
2. Pemeriksaan Obyektif
a. Gigi 32 :
- Kegoyangan gigi derajat 3
- Kalkulus : (+)
- Gingiva sekitar : Kemerahan
3. Diagnosa pada gigi 32 : Periodontitis kronis oleh karena penyakit
sistemik
C. Rencana Terapi
Setelah dilakukan pemeriksaan subyektif dan obyektif di Bagian
Bedah Mulut RSUD Pare, rencana perawatan selanjutnya yaitu perlu
dilakukan pemeriksaan kadar gula darah (KGD) pada pasien dengan
merujuk ke Bagian Laboratoris RSUD Pare agar mengetahui kadar gula
darah pasien sebelum dilakukan tindakan ekstraksi. Pemeriksaan
kadar gula darah (KGD) menunjukkan hasil kadar glukosa 320 mg/dL.
Dengan hasil pemeriksaan tersebut rencana perawatan selanjutnya
dengan merujuk pasien ke Poli Penyakit Dalam RSUD Pare Kediri. Hasil
dari balasan rujukan Poli Penyakit Dalam, pasien mengalami penyakit
sistemik Diabetes Melitus dengan hasil pemeriksaan kadar gula darah
(KGD) sebesar 320 mg/dL diatas batas normal dan dilakukan
penundaan extraksi pada gigi 32.

28

D. Penyelesaian
Penatalaksanaan kasus ekstraksi gigi 32, perlu dipertimbangkan
kerja sama dalam pemeriksaan lebih lanjut atas permasalahan yang
timbul pada pasien dengan melakukan rujukan secara horisontal
antar-bagian / unit pelayanan di dalam satu rumah sakit. Diperlukan
pemeriksaan kadar gula darah (KGD) ditujukan ke Bagian Laboratoris
pada pasien yang memiliki riwayat penyakit sistemik agar mengetahui
kadar gula darah sebelum dilakukan tindakan ekstraksi gigi 32.
Pemeriksaan kadar gula darah (KGD) menunjukkan hasil kadar glukosa
320 mg/dL.
Dengan

hasil

pemeriksaan

tersebut

rencana

perawatan

selanjutnya dengan merujuk pasien ke Poli Penyakit Dalam RSUD Pare


Kediri. Hasil dari balasan rujukan Poli Penyakit Dalam, pasien
mengalami

penyakit

sistemik

Diabetes

Melitus

dengan

hasil

pemeriksaan kadar gula darah (KGD) sebesar 320 mg/dL diatas batas
normal. Adapun nilai normal kadar gula darah (KGD) menurut WHO:
Gula darah puasa (8 jam tidak makan) = 70 110 mg/dL, Gula darah 2
jam PP (sesudah makan) = 100 140 mg/dL dan Gula darah acak =
70 - 125 mg/dL. Dari hasil balasan rujukan Poli Penyakit Dalam untuk
dilakukan penundaan ekstraksi gigi 32. Pencabutan gigi hanya boleh
dilakukan bila kadar gula darah telah teregulasi dengan baik. (min <
200 mg / dL ).
Pada beberapa keadaan tidak boleh dilakukan ekstraksi gigi

29

karena beberapa faktor atau merupakan kontraindikasi ekstraksi gigi.


kontraindikasi ekstraksi gigi sangat berperan penting untuk tidak
dilakukan ekstraksi gigi sampai masalahnya dapat diatasi. Kontra
indikasi pencabutan gigi atau tindakan bedah lainnya disebabkan oleh
faktor

lokal

atau

sistemik.

Dikatakan

menjadi

kontra

indikasi

pencabutan gigi bila dokter gigi / dokter spesialis akan memberi izin
atau menanti keadaan umum penderita hingga dapat menerima suatu
tindakan bedah tanpa menyebabkan komplikasi yang membahayakan
bagi jiwa penderita.
Kewenangan Dokter Gigi Umum Dalam Bidang Bedah Mulut
Batas-batas wewenang dokter gigi umum dalam tindakannya
menurut Konsil Kedokteran Indonesia (2008) dalam bidang bedah
mulut adalah:
1. Diagnosa
2. Ekstraksi
3. Odontektomi impaksi ringan
4. Alveolektomi
5. Ekstraksi open method
6. Diskusi kasus
7. Insisi Eksisi
8. Operkulektomi

30

9. Asisten operasi
10. Reposisi TMJ
11. Kegawat daruratan
12. Penegakan infeksi tumor jinak, kista, kangker
13. Penanganan

komplikasi

exodonsi

dan

anastesi

local

(dry

socket,shock dll)
14. Penanganan

fraktur

alveolus,gigi

avulsi,luksasi,akibat

trauma

dengan fiksasi essig.


15. Melakukan suturing
16. Kewaspadaan universal (aseptic)
Kasus-Kasus Bedah Mulut Yang Membutuhkan Rujukan
Pelayanan klinis dalam bidang bedah mulut oleh dokter gigi umum
yang

memerlukan

tindakan

rujukan

sesuai

peraturan

Konsil

Kedokteran Indonesia (2007):


1.

Perawatan

bedah

dentoalveolar

(pencabutan

gigi

M3

yang

tertanam dalam tulang rahang, pencabutan gigi dengan penderita


medically compromised, pencabutan gigi dengan tingkat kesulitan
tinggi disertai faktor lokal dan sistemik, bedah preprosthetic untuk
penempatan implant gigi atau gigi tiruan).
2.

Perawatan celah bibir dan langit-langit.

3.

Perawatan patah tulang daerah gigi, rahang dan tulang-tulang

31

daerah wajah
4.

Perawatan tumor termasuk kanker daerah kepala dan leher


(bekerja sama dengan bedah kepala dan leher). Perawatan kista
dan tumor daerah rongga mulut.

5.

Perawatan kelainan dysgnathia (oklusi gigitan terbalik atau tidak


tepat)

dan

orthognatik

reconstructive

surgery,

orthognathic

surgery, maxillomandibular advancement, bedah koreksi asymetri


wajah.
6.

Perawatan pada pasien yang mempunyai keluhan nyeri wajah.

7.

Perawatan segala kondisi yang berkaitan dengan sendi rahang.

8.

Perawatan posisi rahang yang tumbuh tidak tepat ke posisi yang


diinginkan (bekerjasama dengan spesialis ortodonsia).

9.

Perawatan distraksi osteogenesis.

10. Mengganti gigi dengan implant yang menyatu dengan tulang.

32

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas
masalah kesehatan masyarakat dan kasus-kasus penyakit yang dilakukan
secara timbal balik secara vertikal maupun horizontal meliputi sarana,
rujukan teknologi,rujukan tenaga ahli, rujukan operasional, rujukan kasus,
rujukan ilmu pengetahuan dan rujukan bahan pemeriksaan laboratorium
(Permenkes No V, 2012).
Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan
kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab
secara timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara vertikal
(komunikasi antar unit yang sederajat) ataupun secara horisontal (lebih
tinggi yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten,
terjangkau,

rasional

dan

tidak

dibatasi

wilayah

administrasi

(KepMenKesRI, 2004).
4.2 SARAN
Dengan dipelajarinya tentang rujukan, berharap:
a) Bagi Tenaga Kesehatan: Tenaga penolong persalinan dilatih agar
mampu untuk mencegah atau deteksi dini komplikasi yang
mungkin terjadi, merupakan asuhan persalinan secara tepat guna
dan waktu, baik sebelum atau saat masalah terjadi dan segera

33

melakukan rujukan saat kondisi masih optimal, maka para ibu


akan terhindar dari ancaman kesakitan dan kematian.
b) Bagi Pelayanan Kesehatan: Dengan adanya sistem rujukan,
diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih
bermutu karena tindakan rujukan ditujukan pada kasus yang
tergolong beresiko tinggi. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus
memiliki kesiapan untuk merujuk ibu dengan keluhan ginekologi
ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu jika
c)

menghadapi penyulit.
Bagi Pasien: untuk bertindak kooperatif dan keluarga untuk
mempersiapkan perlengkapan pasien selama di rumah sakit dan
membawa uang untuk biaya perawatan. Bagi Masyarakat: untuk
mendukung sistem rujukan dan membantu proses perujukan
pasien.

34

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Kesehatan RI . 2004. Sistem Rujukan. Jakarta : Depkes.


Konsil Kedokteran Indonesia. 2007. Standar Kompetensi Dokter Gigi Spesialis.
Diunduh dari:
http://www.kki.go.id/assets/data/arsip/Standar_Kompetensi_Dokter_Gigi_
Spesialis.pdf
Konsil Kedokteran Indonesia. 2008 . Standar Kompetensi Profesi Dokter Gigi.
Diunduh dari:
http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream/123456789/838/4/BK200
8-G36.pdf
Permenkes. 2012. Sistem rujukan pelayanan kesehatan. Jakarta : Depkes.
Satrianegara, M. 2009. Buku Ajar Organisasi Dan Manajemen Pelayanan
Indonesia. Jakarta: Salemba Medika.

35

Pertanyaan dan Jawaban


1. Pertanyaan oleh M.juprianto (15-121)
Kasus : Ada seorang pasien yang datang ke praktek dokter gigi ingin memeriksa
gigi, setelah diperiksa ternyata terjadi kelainan terhadap molar 3 nya, dan dokter gigi
tersebut lansung merujuk ke dokter spesialis.
Bagaimana sistem rujukan yang dipakai ke spesialis jika dokter gigi tersebut
tidak dapat melakukan pencabutan pada gigi molar 3 ?
Dijawab oleh Surya navisa (15-088) :
Dalam Kasus ini, jenis rujukan yang dipakai adalah rujukan dalam bentuk
vertikal yaitu komunikasi antar unit yang sederajat. Jadi apabila dokter gigi tersebut
tidak dapat menangani kasus pada pasien tersebut maka dokter gigi tersebut akan
memberikan rujukan ke dokter contohnya spesialis pada kedokteran gigi seperti
bedah mulut. Maka surat rujukan yang dibuat dokter gigi tersebut mencakup format
surat yang telah ditentukan seperti adanya anamnesa pasien,terapi yang telah
diberikan,nama pasien,dll. Dan surat tersebut akan diberikan kepada si pasien,dan
pasien akan datang ke dokter gigi spesialis yang akan dituju.
2. Pertanyaan oleh Dylan Pebri ilham (15-105)
Apabila pasien parah,apakah bisa langsung dirujuk kerumah sakit tertentu dan
apa saja kendalanya?

36

Dijawab oleh Indah saputri (15-085) :


Bisa, karena pada pasien yang parah atau kritis ada pengecualian harus segera
ditangani sebelum menjadi tambah buruk.
Kendalanya :
1) Sarana,prasarana dipelayanan bervariasi.
2) Lokasi rumah sakit yang tidak merata secara geografis.
3) Pelayanan dimasing-masing daerah belum merata.
4) Kualitas dan kuantitas tenaga yang belum memadai seperti puskesmas yang
belum ada dokter.
5) Pembiayaan kesehatan belum terstandar.
6) Mekanisme sistem rujukan terstruktur dan berjenjang belum berjalan optimal
7) Rujukan lintas batas antar rumah sakit kabupaten/kota lain belum
terkoordinasi dengan baik.
3. Pertanyaan oleh Moch ikhwanul Mirza (15-109)
Bagaimana perbedaan sistem rujukan di indonesia dengan negara lain?
Dijawab oleh Assyifa dinda (15-041) :
Sistem rujukan indonesia memiliki 3 tingkatan,yaitu tingkat primer,sekunder, dan
tersier. Sedangkan,sistem rujukan pada negara singapura memiliki 3 bagian

37

yaitu,pelayanan kesehatan tingkat primer,pelayanan rumah sakit dan intermediate and


long term care service (ILTC)
4. Pertanyaan oleh Chitra Anesa Pratiwi (15-098)
Bagaimana pendapat kelompok anda jika ada pasien parah dalam pejalanan dari
suatu daerah dan diperjalanan mengalami penurunan keselamatan,siapakah yang akan
bertanggung jawab?
Dijawab oleh Ihut Hamonangan (15-095) :
Seperti kita ketahui tujuan dari rujukan ialah untuk mendapatkan perawatan
dan pertolongan yang lebih baik, jadi sebelum melakukan rujukan kita harus terlebih
dahulu minta persetujuan dari pihak keluarga, setelah itu, dalam perjalanan harus
ditemani oleh petugas medis yg berpengalaman, dan di dalam ambulance harus
tersedia alat2 medis sperti, infus, tabung oksigen dan lain2, apabila dalam perjalanan
tiba tiba kondisi pasien memburuk atau sampai meninggal dunia maka tidak ada yang
bisa disalahkan karena pihak perujuk sudah melakukan upaya terbaik untuk pasien.
5. Pertanyaan oleh Intan Saputri (15-106) :
Apakah boleh kita melakukan rujukan lebih dari sekali dalam sehari?
Dijawab oleh Anggi Angraini (15-093) :
Bisa karena tergantung kasusnya,apabila dokter spesialis merujuk ke spesialis
lainnya itu bisa dilakukan,karena ada banyak macam-macam jenis rujukan yang ada
di indonesia.

38

39