Anda di halaman 1dari 5

3.

Nyeri
Menurut The Internasional Association for the study of pain (IASP) nyeri adalah suatu
pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan
kerusakan jaringan atau potensial yang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan (Potter &
Perry, 2006). Nyeri secara umum adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan ataupun
berat dan bersifat sangat individual dan tidak bisa diukur secara subjektif dan hanya pasien
yang dapat merasakan adanya nyeri (Heriana, 2014). Nyeri merupakan kondisi yang lebih dari
sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri akan mengarah pada
ketidakmampuan. Seiring dengan peningkatan usia harapan hidup, banyaknya orang dengan
penyakit kronik, nyeri merupakan gejala umum yang sering dirasakan (Potter & Perry, 2006). 19

a. Jenis nyeri :
1) Nyeri akut
Nyeri akut adalah nyeri yang biasanya terjadi setelah cedera akut, penyakit, atau intervensi
bedah yang memiliki awitan cepat, dengan intensitas yang bervariasi (ringan sampai berat) dan
berlangsung untuk waktu singkat (Heriana, 2014). Fungsi dari nyeri akut adalah sebagai
pemberi peringatan akan cedera atau penyakit yang akan datang dan nyeri akan hilang dengan
atau tanpa pengobatan (Prasetyo, 2010).
2) Nyeri kronik
Nyeri kronik adalah nyeri yang berlangsung lama, intensitas yang bervariasi dan bisanya
berlangsung lebih dari 6 bulan. Nyeri kronik biasanya disebabkan oleh kanker yang tidak
terkontrol, luka bakar yang parah, low back pain dan nyerinya bisa berlangsung terus menerus
bahkan sampai kematian (Prasetyo, 2010). Gejala nyeri kronik yaitu keletihan, insomnia,
penurunan berat badan, depresi, putus asa dan kemarahan (Heriana, 2014).
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri :
1) Usia
Variabel penting yang mempengaruhi nyeri adalah usia, khususnya pada anak-anak dan lansia.
Pada lansia nyeri bukanlah merupakan bagian dari proses penuaan yang tidak dapat dihindari.
Pada lansia yang mengalami nyeri, perlu 20

dilakukan pengkajian lebih rinci, diagnosis, dan penatalaksanaan secara agresif. Apabila lansia
mengalami nyeri, maka ia dapat mengalami gangguan status fungsi yang serius seperti
mobilisasi, aktivitas perawatan diri, sosialisasi di lingkungan luar, dan toleransi aktivitas dapat
mengalami penurunan. Lansia terkadang pasrah terhadap apa yang dirasakannya dan kadang
mereka beranggapan bahwa hal tersebut adalah konsekuensi dari penuaan yang tidak bisa
dihindari (Prasetyo, 2010).
2) Jenis kelamin
Antara pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna respon terhadap nyeri. Beberapa
kebudayaan mempengaruhi jenis kelamin, menganggap bahwa laki-laki harus berani dan tidak
boleh menangis dalam situasi apapun sedangkan wanita boleh menangis dalam situasi yang
sama (Potter & Perry, 2006).
3) Kebudayaan
Setiap keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu dalam mengatasi nyeri
(Heriana, 2014).
4) Dukungan sosial dan keluarga
Kehadiran keluarga atau orang-orang terdekat dapat mempengaruhi respon individu terhadap
nyeri. Individu yang mengalami nyeri sering bergantung kepada keluarga atau teman dekat
untuk memberi dukungan, bantuan dan perlindungan (Prasetyo, 2010). 21

c. Penatalaksanaan nyeri
Penatalaksanaan nyeri ada dua macam yaitu farmakologi dan nonfarmakologi. Tindakan
nonfarmakologi yang dapat dilakukan diantaranya adalah :
1) Teknik relaksasi
Teknik relaksasi merupakan cara untuk membebaskan mental dan fisik dari ketegangan dan
stres. Teknik ini dapat memberikan individu kontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau
nyeri, stres fisik dan emosi pada nyeri. Metode ini juga dapat menurunkan ketegangan otot
sehingga denyut jantung dan respirasi juga mengalami penurunan. Teknik relaksasi dengan
atau tanpa imajinasi dapat menghilangkan nyeri kepala, nyeri persalinan, dan antisipasi
rangkaian nyeri akut ataupun nyeri kronis (Prasetyo, 2010).
2) Imajinasi terbimbing
Imajinasi terbimbing adalah dengan mengarahkan klien untuk mencipatakan kesan dalam
pikirannya dengan memikirkan pemandangan atau hal-hal yang menyenangkan dan
berkonsentrasi terhadap kesan tersebut sehingga secara bertahap klien akan merasa nyerinya
berkurang. Teknik ini dapat dilakukan secara bersamaan dengan teknik relaksasi (Prasetyo,
2010).
3) Stimulasi kuntaneus
Stimulasi kuntaneus adalah memberikan stimulasi pada kulit yang dilakukan untuk
menghilangkan nyeri. Yang termasuk 22

dalam stimulasi kuntaneus yaitu masase, mandi/rendam air hangat, kompres hangat/dingin, dan
stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS) yang merupakan langkah-langkah sederhana dalam
upaya untuk menurunkan persepsi nyeri. Keuntungan dari stimulasi kuntaneus adalah tindakan
ini mudah dilakukan dan dapat dilakukan dirumah, sehingga klien dan keluarga dapat
mengontrol gejala nyeri (Potter & Perry, 2006).
d. Pengukuran nyeri
1) Pengukuran nyeri secara numerik