Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

MENCUCI TANGAN DI RUANG CEMPAKA


PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA

OLEH
KELOMPOK 9
Arif Dwi Saputro
Ermila Susanti

16.NS.139
16.NS.147

Risa Fitriana
Rizki Rahmawati Putri
Rusdianor
Yunia Rachmi

16.NS.178
16.NS.181
16.NS.192
16.NS.194

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN SARI MULIA BANJARMASIN
2016

LEMBAR PERSETUJUAN

Kasus

: Proposal Terapi Aktivitas Kelompok Mencuci Tangan

Ruang

: Wisma Cempaka

Kelompok : 9
Anggota

: 1. Arif Dwi Saputro


2. Ermila Susanti
3. Risa Fitriana
4. Rizki Rahmawati Putri
5. Rusdianor
6. Yunia Rachmi

Banjarmasin, September 2016


Menyetujui,
Panti Sosial Tresna

Program Studi Profesi Ners

Werdha

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan


Sari Mulia Banjarmasin

Preseptor Klinik (PK)

Preseptor Akademik (PA)

Rina, AMK

Yunina Ela Sari, S.Kep., Ns. M.Kep

NIP.19831111.201001.2008

NIK. 19.44.2014.196

A. Latar Belakang

Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang
meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku, kulit, dan kebersihan dalam
berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal (Effendy, 1997).
Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, dimana individu
secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya
penyakit. Upaya ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih hemat biaya, tenaga
dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraandan kesehatan.
Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata,
telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya
pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan akan pentingnya kebersihan diri tersebut
sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,1997).
Pengetahuan kebersihan diri sangat dibutuhkan oleh setiap individu dalam
mempertahankan kebiasaan hidup yang sesuai dengan kesehatan dan akan menciptakan
kesejahteraan serta kesehatan yang optimal, dengan melakukan keperawatan kesehatan
diri. Karena dari pengalaman dan penelitian terhadap praktek yang didasari oleh
pengetahuan akan lebih langgeng dari pada praktek yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 1997).
Macam Macam Mencuci Tangan
a. Mencuci tangan dengan air
Wadah pencuci tangan dan jeruk nipis yang disediakan di Rumah Makan. Ritual
mencuci tangan di dunia dipraktikan sebagai bagian dari budaya maupun praktik
keagamaan. Dalam agama Hindu terdapat ritual mencuci tangan Bah', dalam agama
Yahudi dinamakan tevilah dan netilat yadayim. Praktek yang mirip adalah ritual lavabo
untuk agama Kristen, wudhu untuk agama Islam, dan Misogi di kuil Shinto.
b. Mencuci tangan dengan air panas
Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa mencuci tangan dengan air
panas lebih efektif untuk membersihkan tangan, namun pendapat ini tidak disertai
dengan pembuktian ilmiah. Temperatur dimana manusia dapat menahan panas air tidak
efektif untuk membunuh kuman. Beberapa pendapat lain menyatakan bahwa air panas
dapat membersihkan kotoran, minyak, ataupun zat-zat kimia, namun pendapat populer
ini sebenarnya tidak terbukti, air panas tidak membunuh mikro organisme. Temperatur
yang nyaman untuk mencuci tangan adalah sekitar 45 derajat celsius, dan temperatur ini
tidak cukup panas untuk membunuh mikro organisme apapun.

c. Mencuci tangan dengan sabun


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mencuci tangan dengan sabun. Mencuci
tangan dengan sabun adalah praktik mencuci tangan yang paling umum dilakukan
setelah mencuci tangan dengan air saja. Walaupun perilaku mencuci tangan dengan
sabun diperkenalkan pada abad 19 dengan tujuan untuk memutus mata rantai kuman,
namun pada praktiknya perilaku ini dilakukan karena banyak hal di antaranya,
meningkatkan status sosial, tangan dirasakan menjadi wangi, dan sebagai ungkapan
rasa sayang pada anak.
Pada fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, mencuci tangan bertujuan
untuk melepaskan atau membunuh patogen mikroorganisme (kuman) dalam mencegah
perpindahan mereka pada pasien. Penggunaan air saja dalam mencuci tangan tidak
efektif untuk membersihkan kulit karena air terbukti tidak dapat melepaskan lemak,
minyak, dan protein dimana zat-zat ini merupakan bagian dari kotoran organik. Karena
itu para staf medis, khususnya dokter bedah, sebelum melakukan operasi diharuskan
mensterilkan tangannya dengan menggunakan antiseptik kimia dalam sabunnya (sabun
khusus atau sabun anti mikroba) atau deterjen. Untuk profesi-profesi ini pembersihan
mikro organisme tidak hanya diharapkan "hilang" namun mereka harus bisa memastikan
bahwa mikro organisme yang tidak bisa "bersih" dari tangan, mati, dengan zat kimia
antiseptik yang terkandung dalam sabun. Aksi pembunuhan mikroba ini penting sebelum
melakukan operasi dimana mungkin terdapat organisme-organisme yang kebal terhadap
antibiotik.
d.Mencuci tangan dengan cairan
Pada akhir tahun 1990an dan awal abad ke 21, diperkenalkan cairan alkohol untuk
mencuci tangan (juga dikenal sebagai cairan pencuci tangan, antiseptik, atau sanitasi
tangan) dan menjadi populer. Banyak dari cairan ini berasal dari kandungan alkohol atau
etanol yang dicampurkan bersama dengan kandungan pengental seperti karbomer,
gliserin, dan menjadikannya serupa jelly, cairan, atau busa untuk memudahkan
penggunaan dan menghindari perasaan kering karena penggunaan alkohol. Cairan ini
mulai populer digunakan karena penggunaannya yang mudah, praktis karena tidak
membutuhkan air dan sabun.

e.Mencuci tangan dengan tisu basah

Rediwipes tisu basah yang dinyatakan dapat membunuh bakteri E-coli dan
Salmonella. Tisu basah diperkenalkan pada awalnya untuk membersihkan tidak hanya
tangan, tetapi juga kotoran bayi, permukaan meja, dan di AS dianjurkan untuk peralatan
rumah tangga laiinya. Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC) (Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular) di Amerika serikat sebayak 76 juta
dari 300 juta orang yang tinggal di AS sakit setiap tahunnya karena penyakit yang
dibawa bersamaan dengan masuknya makanan. Sebanyak 300.000 masuk rumah sakit
dan dan setiap tahun 5.000 orang meninggal dunia karena penyakit dibawa bersamaan
dengan masuknya makanan.
B. Tujuan Pelaksanaan
1. Tujuan Umum
Mencuci tangan merupakan suatu teknik yang paling mendasar untuk
menghindari masuknya kuman kedalam tubuh dimana tindakan ini dilakuakn dengan
tujuan :
2. Tujuan Khusus
a.
b.
c.
d.
e.

Menghilangkan kotoran yang melekat di tangan


Menghilangkan bau yang melekat di tangan
Mencegah penyebaran infeksi silang
Menjaga kondisi tangan agar tetap steril
Memberikan perasaan yang segar dan bersih

C. Kriteria Klien
1. Lansia yang tinggal di wisma cempaka
2. Klien yang sehat secara fisik dan psikologis serta dapat mengikuti kegiatan sampai
selesai
D. Persiapan
Menurut Keliat, (2004), hal-hal yang harus disiapkan dalam melakukan terapi aktivitas
kelompok adalah sebagai berikut:
1. Analisa situasi meliputi : waktu pelaksanaan, jumlah perawat, pembagian tugas perawat,
alat bantu yang dipakai dan persiapan ruangan
2. Uraian tugas perawat (therapist)
a. Leader dan Co-Leader bertugas mendemontrasikan dan mengajarkan tentang cuci
tangan 6 langkah

dengan cara membaasahi kedua telapak tangan setinggi

pertengahan lengan memakai air yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan

gosok kedua telapak tangan secara lembut. mengusap dan gosok juga kedua
punggung tangan secara bergantian, jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari
hingga bersih, bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan, gosok
dan putar kedua ibu jari secara bergantian, letakkan ujung jari ke telapak tangan
kemudian gosok perlahan, membersihkan kedua pergelangan tangan secara
bergantian dengan cara memutar, kemudian diakhiri dengan membilas seluruh
bagian tangan dengan air bersih yang mengalir lalu keringkan memakai handuk atau
tisu.
b. Fasilitator bertugas memberikan stimulus kepada anggota kelompok lain agar dapat
mengikuti jalannya kegiatan dalam kelompok
c. Observer bertugas mencatat serta mengamati respon klien, jalannya aktivitas therapi,
peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta yang drop out (tidak dapat
mengikuti kegiatan sampai selesai)
3. Proses Seleksi
a.
b.

Berdasarkan observasi prilaku sehari-hari klien yang dikelola oleh perawat


Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai prilaku klien sehari-hari serta
kemungkinan dilakukan therapi kelompok pada klien tersebut dengan perawat

c.

ruangan
Melakukan kontak pada klien untuk mengikuti aktivitas yang akan dilakukan

4. Program antisipasi masalah


Suatu intervensi keperawatan yang dilakukan dalam mengantisipasi keadaan yang
bersifat darurat atau emergensi yang dapat mempengaruhi proses pelaksanaan
kegiatan therapi aktivitas kelompok.

5. Setting Tempat

Keterangan :
= Leader
= Co-Leader
= Fasilitator
= Observer
= Pasien

E. Kegiatan
Azizah (2011), mengemukakan bahwa tahapan kegiatan TAK sebagai berikut:
1. Perkenalan
Kelompok perawat memperkenalkan identitas diri masing-masing dipimpin oleh
leader.Leader menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok.
2. Kegiatan
Kelompok akan melakukan cara melakukan cuci tangan
3. Evaluasi
Setelah mengikuti kegiatan klien dipersilahkan untuk maju dan mengulang cara
mencuci tangan secara mandiri
4. Terminasi/Penutup
Leadermenjelaskan kembali tujuan dan manfaat kegiatan, klien menyebutkan
kembali tujuan dan manfaat kegiatan.
F. Kriteria Evaluasi
Menurut Azizah (2011), presentasi jumlah klien yang mengikuti kegiatan sesuai
dengan yang direncanakan sebagai berikut:

1. 70% dari jumlah klien mampu mengikuti cara cuci tangan yang di demontrasikan
secara benar.
2. 60% dari jumlah klien mampu mengulang kembali cara mencuci tangan secara
mandiri.
G. Struktur Pelaksana
1. Kriteria klien yang mengikuti terapi TAK di Wisma Cempaka Panti Sosial Tresna
Werdha Banjarmasin semua klien bisa melakukan cara mencuci tagan 6 langkah
secara benar.
2. Masalah Keperawatan
a.

Defisit perawatan diri

3. Persiapan
a. Analisa Situasi
1) Waktu Pelaksanaan
Hari/Tanggal

: Sabtu, 10 Desember 2016

Waktu

: 10.00 s.d selesai

Tempat

: Wisma Cempaka

Jumlah Peserta

: 6 Orang

2) Pembagian Tugas
Leader

: Ermila Susanti

Co-Leader

: Risa Fitriana

Observer

: Arif Dwi Saputro

Fasilitator

: Rizki Rahmawati Putri


Rusdianor
Yunia Rachmi

3) Alat Bantu
Cairan Antiseptik
4) Setting :

Keterangan:
= Leader
= Co-Leader
= Fasilitator
= Observer
= Pasien

H. Prosedur Pelaksanaan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada sesi 1 TAK
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
b. Evaluasi/ Validasi
1)
Menanyakan perasaan klien pada saat ini
2)
Menanyakan apakah klien sudah pernah melakukancuci tangan 7 langkah
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitucara mencuci tangan.
2) Menjelaskan aturan main berikut:
- Jika ada peserta yang meninggalkan kelompok, harus meminta ijin
kepada terapis
- Lama kegiatan 30 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
3. Tahap Kerja
a. Leader dan CO leader mendemontrasika cara mencuci tangan
b. Leader dan CO leader kembali mendemontrasika cara mencuci tangan di ikuti
semua peserta
c. Semua peserta mengulang cara mencuci tangan di bantu oleh fasilitator
4. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
1) Peserta yang sudah bisa cara mencuci tangan maju kedepan dan
mendemontrasikan cara mecuci tangan kepada peserta yang lain
2) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
1) Menganjurkan tiap anggota kelompok mengajarkan cara mencuci tangan
2) Memasukkan kegiatan berkenalan pada jadwal kegiatan harian klien
I.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi dilakukan ketika proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan Tak. Untuk TAK evaluasi
kemampuan verbal dalam cara mencuci tanagan dan kemampuan nonverbal.