Anda di halaman 1dari 7

REFORMASI BEA CUKAI

Dari hasil kajian yang dilakukan JICA pada tahun 2004, disebutkan bahwa
pelaku bisnis yang terlibat dengan perdagangan internasional membutuhkan
administrasi kepabeanan yang memberikan pelayanan prima (excellent
service with swift, transparent, and immediate response) dan pelayanan cepat
dan murah (faster, cheaper, and better). Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
sebagai salah satu lembaga pemerintah yang berkaitan langsung dengan
perdagangan internasional dituntut untuk dapat senantiasa memperbarui diri
(self-reinventing) sesuai dengan aspirasi masyarakat dan perkembangan
mutakhir teknologi keuangan serta administrasi publik.
Menjawab tuntutan ini, sebenarnya DJBC telah mulai melakukan reformasi
kepabeanan pada tahun 2002 yang dilaksanakan dengan asistensi dari IMF
dirasa masih belum memenuhi harapan masyarakat akan kinerja pelayanan
DJBC yang dapat memberikan kepastian hukum, waktu dan biaya.

REFORMASI BEA CUKAI


Pada Rapat Pimpinan Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai di awal masa
kerja Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang baru pada saat itu (Anwar
Suprijadi), Budiono (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian)
memberikan arahan agar program kerja DJBC diharapkan fokus kepada
sasaran konkrit yang berdampak signifikan terhadap penciptaan iklim usaha
yang kondusif dan peningkatan citra DJBC.
Sri Mulyani (Menteri Keuangan RI) juga memberikan arahan bahwa program
kerja DJBC harus terkait good governance dan harus bisa mengatasi masalah
penerimaan (dengan mengurangi kebocoran penerimaan negara), komplain
dari masyarakat terkait dengan kinerja Bea dan Cukai serta meningkatkan
integritas untuk mengurangi misconduct.

REFORMASI BEA CUKAI


Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor Kep-66/BC/2006
tanggal 14 Juni 2006 yang diubah dengan Kep-10/BC/2007 tanggal 18 Januari 2007,
telah dibentuk Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Bidang Pelayanan Bea dan Cukai
dengan Tim Pengarah yang diketuai oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai dan Wakil
Ketua Sekretaris Direktorat Jenderal, serta anggota para Direktur (Eselon 2) di
lingkungan Kantor Pusat DJBC dan Kelompok Kerja yang diketuai oleh Thomas
Sugijata dan Wakil Ketua Frans Rupang serta beranggotakan pejabat dan pegawai dari
Sekretariat dan seluruh Direktorat di lingkungan Kantor Pusat DJBC.
Dari hasil kajian yang dilakukan oleh tim, diketahui bahwa dunia usaha dan
masyarakat masih banyak yang mengeluhkan dan merasa perlu adanya perbaikan
terhadap efektivitas pelayanan dan pengawasan yang dilakukan DJBC. Misalnya
dalam hal integritas pegawai yang masih perlu ditingkatkan, masalah time release,
masih adanya barang selundupan, perbaikan sistem remunerasi, penyederhanaan
sistem dan prosedur, serta akuntabilitas organisasi. Intinya, dunia usaha menuntut
agar DJBC memberikan kepastian hukum, waktu dan biaya.

REFORMASI BEA CUKAI


DJBC melakukan berbagai upaya serius dan menempuh langkah-langkah strategis
guna melakukan perbaikan secara sistemik, yang diwujudkan dengan upaya
pembentukan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPU). KPU merupakan
Kantor Pelayanan DJBC yang memberikan pelayanan prima dan pengawasan yang
efektif kepada pengguna jasa kepabeanan dan cukai, dengan mengimplementasikan
cara kerja yang cepat, efisien, transparan dan responsif terhadap kebutuhan pengguna
jasa.
Untuk melaksanakan pembentukan KPU tersebut, telah disusun Cetak Biru
Pembentukan KPU sebagai roadmap yang komprehensif, sistematis, terarah dan
terukur. Pada tahap awal, titik berat upaya pembentukan KPU dilakukan di Tanjung
Priok dan Batam yang merupakan pintu utama bagi kegiatan ekspor impor dan
mempunyai pengaruh sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta
menjadi etalase bagi dunia internasional. Hal ini sesuai dengan arahan Menteri
Keuangan RI dan Menteri Kooridinator Bidang Perekonomian untuk membentuk
kantor pelayanan prima di Tanjung Priok dan Batam dimana pembentukan KPU
diharapkan juga sekaligus dapat menata pelabuhan.

REFORMASI BEA CUKAI


Dari data empiris, Tanjung Priok mempunyai kegiatan yang signifikan jika
dilihat dari sisi penerimaan Bea Masuk (BM). Pada tahun 2006, penerimaan
BM di Tanjung Priok (KPBC Tanjung Priok I, II dan III) mencapai +/- Rp 6,6
trilyun atau 54,4% dari total penerimaan Bea Masuk di KPBC seluruh
Indonesia. Oleh sebab itu, Tanjung Priok dipilih karena mempunyai pengaruh
sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sedangkan untuk
Batam dipilih karena merupakan etalase terkait dengan kegiatan yang
berhubungan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

REFORMASI BEA CUKAI

Setelah Batam dan Tanjung Priok, dalam kurun waktu 2007 s.d. 2013 akan
dibentuk KPU lainnya di seluruh Indonesia, antara lain Soekarno-Hatta dan
Tanjung Perak.
KPBC Tanjung Priok I, II dan III akan melaksanakan masa transisi sebagai
KPU pada April hingga Juni 2007, sedangkan untuk KPBC Batam pada Mei
2007 hingga Juni 2007. Kedua kantor ini diimplementasikan secara penuh
mulai 1 Juli 2007. KPU Tanjung Priok merupakan penggabungan antara
Kantor Wilayah VII DJBC Jakarta I, KPBC Tanjung Priok I, II dan III yang
dipimpin oleh pejabat tingkat eselon II. Sedangkan KPU Batam merupakan
penggabungan antara KPBC Batam dan KPBC Muka Kuning yang juga
dipimpin oleh pejabat eselon II. Dengan kondisi ini maka terjadi perubahan
struktur organisasi.

REFORMASI BEA CUKAI


Pejabat dan pegawai yang masuk ke KPU harus melalui assessment test yang
dilakukan secara obyektif dan transparan. Tes yang diberikan meliputi antara lain tes
kompetensi jabatan, yang mencakup masalah integritas, minat dan kepemimpinan.
DJBC melibatkan Universitas Indonesia sebagai pihak yang independen dalam
melakukan tes ini. 1.070 pegawai yang telah memenuhi kriteria sebagai calon pegawai
KPU mendapatkan training yang bersifat umum dan spesialisasi, sebelum nantinya
akan dipanggil dan ditempatkan secara bertahap.
Dalam training, pegawai diberikan pengarahan, salah satunya oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memberikan materi menyangkut masalah
integritas. Selain KPK, ada juga pembicara dari pihak swasta, yakni Astra
Internasional yang memberikan materi seputar masalah budaya kerja. Dipilihnya Astra
dikarenakan perusahaan tersebut telah terkenal dengan etos kerjanya yang tinggi.
Terakhir, ada tim dari Trustco yang memberikan arahan mengenai masalah motivasi,
komunikasi dan kerjasama tim. Trustco merupakan suatu lembaga yang
berpengalaman saat mendidik pegawai dari Direktorat Jenderal Pajak yang duduk
dalam LTO (large tax office) atau yang lebih dikenal sebagai kantor pajak modern