Anda di halaman 1dari 14

ACARA I

PERTUMBUHAN
I.

II.

Tujuan
1.1 Menggunakan alat untuk mengadakan percobaan pengukuran pertumbuhan.
1.2 Mengukur pertumbuhan.
1.3 Menginterpretasikan data yang diperoleh dari hasil pengukuran.
Tinjauan Pustaka
2.1
Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses
pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal dalam
perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan merupakan fenomena kompleks yang
tidak hanya dipengaruhi oleh hormon petumbuhan tetapi juga hormon tiroid,
androgen, glukocotikoid dan insulin. Pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu
peningkatan massa. Faktor-faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi
pertumbuhan hewan. Makanan dan kondisi lingkungan merupakan faktor
ekstrinsik yang paling penting dalam mempengaruhi pertumbuhan. Pertumbuhan
adalah penambahan bobot badan persatuan waktu (Ikalor, 2013).
Laju pertumbuhan suatu organisme berjalan secara tidak konstan, tetapi
meliputi suatu periode pertumbuhan yang dipercepat dan pertumbuhan yang
diperlambat. Pertumbuhan biasanya berlangsung dengan cepat dan selanjutnya
berlangsung secara perlahan. Hal tersebut membentuk kurva sigmoid.
Pertumbuhan ayam broiler berlangsung dengan cepat sampai 8 minggu, setelah
itu pertumbuhan menjadi menurun Pertumbuhan unggas dipengaruhi oleh
bangsa, jenis kelamin, umur, kualitas ransum, dan lingkungannya (Wahyu, 2005).
2.2

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan


2.2.1 Faktor Internal
Menurut Pratiwi (2006), faktor internal yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan adalah gen dan hormon.
a. Gen
Gen merupakan faktor penting dalam pertumbuhan karena gen
adalah penentu pola dasar pertumbuhan yang meliputi bentuk
bentuk tulang, otot, warna kulit, dan ciriciri lainnya. Gen
merupakan faktor keturunan yang diwariskan. Gen juga merupakan

pengendali sintesis protein yang berfungsi untuk membangun tubuh


(Pratiwi, 2006).
b. Hormon
Hormon merupakan suatu sekret yang dihasilkan kelenjar endokrin
yang berfungsi mendorong pertumbuhan (Pratiwi, 2006).
2.2.2 Faktor Eksternal
Menurut Pratiwi (2006), faktor luar yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan, antara lain makanan, air, suhu, aktivitas,
dan sinar matahari.
a. Makanan
Makanan adalah faktor yang utama bagi pertumbuhan. Makanan
memiliki berbagai fungsi di dalam tubuh. Fungsi makanan yang
utama adalah sebagai pembangun dan sumber energi. Makanan yang
mempunyai peran terbesar bagi pertumbuhan adalah protein. Protein
berfungsi sebagai zat pembangun dengan membentuk asam amino
dan komponen tubuh yang lain (Pratiwi, 2006).
b. Air
Air dibutuhkan untuk pertumbuhan karena air merupakan pelarut
protoplasma atau media untuk terjadinya reaksi kimia di dalam
tubuh. Reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh meliputi sintesis protein,
respirasi sel, dan ekskresi. Reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh
berpengaruh secara langsung dalam pertumbuhan karena reaksireaksi kimia ini menghasilkan energi, membantu pembentukan selsel baru, dan memperbaiki jaringan tubuh (Pratiwi, 2006).
c. Aktivitas
Aktivitas fisik yang dilakukan selama bertahun-tahun memberikan
pengaruh yang nyata pada struktur otot dan tulang. Dengan
melakukan aktivitas secara rutin, badan akan lebih sehat dan
metabolisme tubuh lancar. Dengan lancarnya metabolisme tubuh
akan baik pula pertumbuhan (Pratiwi, 2006).
d. Cahaya Matahari
Cahaya matahari berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang. Cahaya
matahari mampu mengubah prekursor vitamin D menjadi vitamin D
2.3

yang diperlukan untuk membangun tulang (Pratiwi, 2006).


Ayam Broiler

Ayam Broiler adalah ayam jantan


atau betina yang umumnya dipanen pada
umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagai
penghasil daging, sedangkan menurut
Rasyaf (2008), ayam broiler yakni ayam
yang berwarna putih dan cepat tumbuh.
Menurut Kartasudjana dan Suprijatna
(2006), pertumbuhan yang paling cepat
terjadi sejak menetas sampai umur 4-6
minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa.
Menurut Wahyu (2005), Pertumbuhan adalah suatu penambahan jumlah protein
dan mineral yang tertimbun dalam tubuh. Proses pertumbuhan tersebut
membutuhkan energi dan substansi penyusun sel atau jaringan yang diperoleh
ternak melalui ransum yang dikonsumsinya (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah
dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi,
efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi
daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannya
adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka
terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi (Aziz dan Manin, 2010).
Menurut sejarahnya, ayam jinak yang dipelihara manusia sekarang adalah
berasal dari ayam liar. Keturunan ayam yang telah menjadi jinak kemudian
disilang-silangkan atau dikawin-kawinkan oleh manusia. Konon, menurut
teorinya, ayam liar ini adalah ayam hutan atau Gallus gallus. Menurut Rasyaf
(2008), hirarki klasifikasi ayam adalah sebagai berikut.
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Subphylum

: Vertebrata

Divisi

: Carinathae

Kelas

: Aves

Ordo

: Galliformes

2.4

Family

: Phasianidae

Genus

: Gallus

Spesies

: Gallus gallus domestica

Gambar 1 Gallus gallus


domestica (Ayam Broiler)
(sumber: Rasyaf, 2008)

Pakan
Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan
oleh hewan. Secara umum, bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan atau
edible. ayam mengkonsumsi rasum atau pakan untuk memenuhi kebutuhan
energinya, sebelum kebutuhan energinya terpenuhi ayam akan terus makan. Jika
ayam diberi makan dengan kandungan energi rendah maka ayam akan makan lebih
banyak. Konsumsi ransum setiap minggu bertambah sesuai dengan pertambahan
bobot badan. Setiap minggunya ayam mengonsumsi ransum lebih banyak
dibandingkan dengan minggu sebelumnya Rasyaf (2008).
Bentuk fisik pakan ada beberapa macam, yaitu mash and limited
grains (campuran

bentuk

tepung

dan

butiran),

all

mash (bentuk

tepung), pellet (bentuk butiran dengan ukuran sama), crumble (bentuk butiran
halus dengan ukutan tidak sama). Di antara keempat macam bentuk tersebut,
bentuk pellet memiliki palatabilitas paling tinggi dan lebih tahan lama disimpan.
Bentuk all mash atau tepung digunakan untuk tempat ransum otomatis, tetapi
kurang disukai ayam, mudah tengik, dan sering menyebabkan kanibalisme yang
tinggi (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Pakan untuk ayam petelur umur 0 6
minggu (fase starter) sebaiknya menggunakan pakan jadi buatan pabrik yang
memiliki komposisi pakan yang tepat dan tekstur halus, sedangkan untuk fase
grower dan layer dapat digunakan pakan hasil formulasi sendiri (Subronto, 2008).
2.5
Alat yang Digunakan
2.5.1 Jangka Sorong
Jangka sorong (vernier caliper) adalah suatu alat ukur panjang yang
dapat digunakan untuk mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian
hingga 0,1 mm. Jangka sorong digunakan pula untuk mengukur panjang
benda maksimum 20 cm. Keuntungan penggunaan jangka sorong adalah
dapat digunakan untuk mengukur diameter sebuah kelereng, diameter dalam
sebuah tabung atau cincin, maupun kedalam sebuah tabung (Ishaq, 2007).

Secara umum, jangka sorong terdiri atas 2 bagian yaitu rahang tetap
dan rahang geser. Jangka sorong juga terdiri atas 2 bagian yaitu skala utama
yang terdapat pada rahang tetap dan skala nonius (vernier) yang terdapat
pada rahang geser. Adapun jenis-jenis jangka sorong yang dapat digunakan
untuk mengukur panjang yakni jangka sorong manual dengan ketelitian
0,1mm = 0,01 cm; jangka sorong analog dengan ketelitian 0,05 mm = 0,005
cm; dan jangka sorong digital dengan ketelitian 0.01 mm = 0,001 cm
(Zaelani, 2005).
2.5.2 Benang
Menentukan jarak atau panjang dari sebuah benda akan sedikit
rumit apabila jarak atau panjang benda yang akan diukur berkelok-kelok.
Perhitungan

semacam

ini

dapat

dilakukan

pengukuran

dengan

menggunakan bantuan benang. Caranya adalah dengan meletakkan ujung


benang pada ujung garis pengukuran, kemudian dijalankan mengikuti likuliku garis yang dimaksud pada benda tersebut hingga titik akhir
pengukuran. Panjang benang kemudian diukur menggunakan mistar dan
hasil pengkuran tersebut merupakan panjang dari benda tersebut (Ishaq,
2007).
2.5.3 Penggaris
Penggaris adalah sebuah alat pengukur dan alat bantu gambar untuk
menggambar garis lurus. Terdapat berbagai macam penggaris, dari mulai
yang lurus sampai yang berbentuk segitiga (biasanya segitiga siku-siku
sama kaki dan segitiga siku-siku 3060). Penggaris dapat terbuat dari
5xial5c, logam, berbentuk pita dan sebagainya. Penggaris merupakan alat
untuk mengukur garis, dan merupakan alat yang digunakan dalam
geometri, teknik menggambar, mencetak dan rekayasa/bangunan untuk
mengukur jarak dan/atau menggambar garis lurus. Penggaris bentuknya
adalah sejajar digunakan untuk menggaris baris, Tetapi biasanya penggaris
juga berisi garis dikalibrasi untuk mengukur jarak (Kanginan, 2006).
2.5.4 Timbangan Digital
Sebuah timbangan digital adalah perangkat pengukuran yang
digunakan untuk mengukur berat atau massa suatu benda atau zat. Digital
sisik sering lebih kompak, tahan lama, dan tepat daripada jenis lain dari

skala, seperti timbangan pegas atau saldo, yang sering aus dan
memberikan pembacaan yang berbeda dari waktu ke waktu. Timbangan
Digital membutuhkan sumber daya dan tidak selalu benar-benar akurat,
tetapi mereka biasanya cukup akurat dan konsisten bahkan ketika
digunakan dalam waktu yang lama. Sebuah skala digital dapat digunakan
untuk berbagai tujuan mulai dari pengukuran bahan di dapur untuk
pengukuran tepat dari bahan di laboratorium (Irawati, 2008).
Timbangan digunakan dalam pengaturan laboratorium, terutama
yang digunakan untuk kimia, fisika, dan penelitian medis, harus sangat
akurat. Masalah dapat terjadi akibat ketidakakuratan sekecil massa
beberapa butir pasir. Reaksi kimia sering membutuhkan jumlah yang tepat
dari zat tertentu untuk sukses menjalankan sampai selesai. Sebuah skala
digital digunakan untuk keperluan laboratorium sering kali berisi kotak
kaca sekitar permukaan pengukuran untuk mencegah perubahan massa
dihasilkan dari arus udara menerapkan sedikit tekanan ke permukaan
pengukuran. Hal ini sering terjadi ketika benda hangat atau panas atau zat
yang diukur sebagai perbedaan suhu dapat menyebabkan arus udara yang
mengubah pengukuran berat badan (Irawati, 2008).

III.

Metodologi
3.1 Alat
3.1.1
Jangka sorong
3.1.2
Benang
3.1.3
Penggaris
3.1.4
Timbangan digital
3.2 Bahan
3.2.1 3 ekor ayam yang berumur 1 minggu
3.2.2 3 kabel ties
3.3 Cara Kerja
3.3.1

3 ekor ayam ditandai menggunakan masing-masing 1 kabel ties yang berbeda


warna.

3.3.2

Masing-masing ayam diukur panjang paruhnya dengan cara pangkal paruh


ayam ditandai dengan spidol kemudian panjang paruh diukur menggunakan
jangka sorong dari pangkal sampai ujung paruh, lalu dicatat hasilnya.

3.3.3

Masing-masing ayam diukur panjang sayapnya dengan cara pangkal sayap


ayam (7xial) ditandai dengan spidol kemudian sayap tersebut direntangkan
dan panjang sayap diukur dari pangkal sampai ujung sayap (ujung digiti)
menggunakan benang. Benang tersebut diukur menggunakan penggaris, lalu
dicatat hasilnya.

3.3.4

Masing-masing ayam diukur panjang tibia tarsusnya dengan cara pangkal


paha bagian bawah ayam dan pangkal digiti (jari-jari) ditandai dengan spidol
kemudian panjang tibiotarsus dan tarsometatarsus diukur menggunakan
benang. Benang tersebut diukur menggunakan penggaris, lalu dicatat hasilnya.

3.3.5

3 ayam tersebut dilakukan pemberian pakan, minum dan pembersihan


kandang selama dua kali dalam sehari, serta dilakukan pengukuran
pertumbuhan pada masing-masing ayam di setiap minggu yaitu pada hari
selasa.

IV.
AYAM
1
2
3
Ratarata

BB
0,06
0,07
0,07

Hasil Pengamatan
4.1 Tabel Hasil Pengamatan
MINGGU 1
PR SY
2,9 7,5
3
7
3
5

TT
7,5
7,3
6,6

BB
0,09
0,09
0,12

MINGGU 2
PR SY TT
3
8
9
3,1 7,5 7,7
3,4 9,5 9,5

BB
0,24
0,22
0,26

MINGGU 3
PR
SY
3,2 11,2
3,2
11
3,5 11,5

TT
10
10
11

BB
0,31
0,27
0,42

MINGGU 4
PR
SY
TT
3,8
12
10,5
3,3 12,2 10,6
3,7
14
12,5

0.06 2.96 6.50 7.13 0.10 3.16 8.33 8.73 0.24 3.30 11.23 10.33 0.33 3.60 12.73 11.20
Catatan :
BB : Berat Tubuh Ayam
PR : Panjang Paruh Ayam
SY : Panjang Sayap Ayam
TT : Panjang Tibia Tarsus Ayam
Satuan pengukuran yang digunakan pada BB : kg (kilogram)
Satuan pengukuran yang digunakan pada PR, SY, TT : cm (centimeter)
4.2 Grafik Pertumbuhan Ayam
4.2.1
Kurva Berat Tubuh Ayam

Grafik 1 Kurva berat tubuh ayam (data: Pribadi, 2015)

4.2.2

Kurva Panjang Paruh Ayam

Grafik 2 Kurva panjang paruh ayam (data: Pribadi, 2015)


4.2.3

Kurva Panjang Sayap Ayam

Grafik 3 Kurva panjang sayap ayam (data: Pribadi, 2015)

4.2.4

Kurva Tibia Tarsus Ayam

Grafik 4 Kurva tibia tarsus ayam (data: Pribadi, 2015)

V.

Pembahasan
Praktikum Fisiologi Hewan acara I dengan judul Pertumbuhan yang dilaksanakan
pada hari Selasa, 29 September 2015 pukul 14.35-16.00 WIB di Laboratorium Biologi
Struktur dan Fungsi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas
Diponegoro. Tujuan dari praktikum ini adalah mampu menggunakan alat untuk
mengadakan percobaan pengukuran pertumbuhan, mengukur pertumbuhan, dan
menginterpretasikan

data

yang

diperoleh

dari

hasil

pengukuran.

Pengukuran

pertumbuhan dilakukan selama 4 minggu dan berakhir pada hari Selasa tanggal 20
Oktober 2015.
Alat yang digunakan pada praktikum antara lain jangka sorong, benang,
penggaris, dan timbangan digital. Bahan yang digunakan pada praktikum antara lain 3
ekor ayam broiler yang awalnya berusia 1 minggu dan 3 kabel ties. Cara kerja
praktikum pertumbuhan ini yaitu 3 ekor ayam ditandai menggunakan masing-masing 1
kabel ties yang berbeda warna. Masing-masing ayam diukur panjang paruhnya dengan
cara pangkal paruh ayam ditandai dengan spidol kemudian panjang paruh diukur
menggunakan jangka sorong dari pangkal sampai ujung paruh, lalu dicatat hasilnya.
Masing-masing ayam diukur panjang sayapnya dengan cara pangkal sayap ayam (axila)
ditandai dengan spidol kemudian sayap tersebut direntangkan dan panjang sayap diukur
dari pangkal sampai ujung sayap (ujung digiti) menggunakan benang. Benang tersebut
diukur menggunakan penggaris, lalu dicatat hasilnya. Masing-masing ayam diukur
panjang tibia tarsusnya dengan cara pangkal paha bagian bawah ayam dan pangkal digiti
(jari-jari) ditandai dengan spidol kemudian panjang tibiotarsus dan tarsometatarsus diukur
menggunakan benang. Benang tersebut diukur menggunakan penggaris, lalu dicatat
hasilnya. 3 ayam tersebut dilakukan pemberian pakan, minum dan pembersihan kandang
selama dua kali dalam sehari, serta dilakukan pengukuran pertumbuhan pada masingmasing ayam di setiap minggu yaitu pada hari selasa.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, hasil pengamatan yang diperoleh
selama 4 minggu yaitu bahwa ketiga ayam mengalami pertumbuhan. Ayam 3 mengalami
pertumbuhan yang optimal. Ayam 3 ini unggul dalam berat badan, panjang paruh,
panjang sayap dan panjang tibia tarsus. Penyebab dari pertumbuhan optimal pada ayam 3
yaitu ayam 3 lebih mampu mencari nutrisi (makanan dan minuman) dibandingkan dengan

ayam lain, sedangkan ayam 1 dan ayam 2 pertumbuhannya hampir optimal. Hal ini sesuai
dengan pernyataan menurut Pratiwi (2006), bahwa pertumbuhan merupakan suatu
fenomena universal yang bermula dari suatu telur yang telah dibuahi dan berlanjut sampai
hewan mencapai dewasanya. Pertumbuhan yang berupa penambahan massa dan ukuran
tubuh hewan dapat dinyatakan dengan pengukuran kenaikan berat badan dan pengukuran
somatometrik meliputi panjang paruh, panjang sayap dan panjang tibia tarsus. Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain faktor internal yang meliputi gen dan
hormon, serta faktor eksternal yang meliputi makanan, air, aktivitas dan cahaya matahari.
Nutrisi yang dibutuhkan dapat diperoleh dari makanan dan cahaya yang membantu
pertumbuhan diperoleh dari bohlam lampu karena ayam berada di kandang.

VI.

Kesimpulan
VI.1
Praktikum kali ini menggunakan alat yaitu jangka sorong, timbangan, penggaris,
dan benang. Bahan yang digunakan yaitu 3 ekor ayam broiler dan 3 kabel ties. Jangka
sorong untuk mengukur paruh ayam. Timbangan untuk mengukur berat tubuh ayam.
Penggaris dan benang untuk mengukur panjang sayap dan panjang tibia tarsus ayam.
Kabel ties untuk menamai ketiga ayam broiler.
VI.2
Pertumbuhan ayam broiler diamati selama 4 minggu. Pertumbuhan ayam tersebut
optimal jika dipengaruhi oleh faktor nutrisi, lingkungan kandang yang bersih, dan
penghangatan dari lampu bohlam.
VI.3
Berdasarkan hasil pengamatan, ayam 3 mengalami pertumbuhan paling optimal,
sedangkan pertumbuhan ayam 1 dan ayam 2 hampir optimal. Rata-rata pertumbuhan
ayam 1 selama empat minggu ialah, berat badan 0.18 gram; panjang paruh 3.23 cm;
panjang sayap 9.68 cm; dan panjang tibia tarsus 9.25 cm. Rata-rata pertumbuhan ayam 2
selama empat minggu ialah, berat badan 0,16 gram; panjang paruh 3.15 cm; panjang
sayap 9.43 cm; dan panjang tibia tarsus 8.85 cm. Rata-rata pertumbuhan ayam 3 selama
empat minggu ialah, berat badan 0.22 gram; panjang paruh 3.4 cm; panjang sayap 10 cm;
dan panjang tibia tarsus 9,9 cm. Rata-rata pertumbuhan semua ayam percobaan selama
empat minggu ialah, berat badan 0.18 gram; panjang paruh 3.26 cm; panjang sayap 9.7
cm; dan panjang tibia tarsus 9.35 cm.

DAFTAR PUSTAKA
Azis, A., Manin, F. (2010). Penampilan Produksi Ayam Broiler yang Diberi Bacillus circulans
dan Bacillus sp. Selama Periode Pemulihan Setelah Pembatasan Ransum. Media
Peternakan-Journal of Animal Science and Technology, 33(1).
Ikalor, Allvanialista. 2013. Pertumbuhan dan Perkembangan. Vol. 7 No. 1: 1-6.
Irawati, Ani. 2008. Fisika. Surabaya: Cipta Sikan Kentjana.
Ishaq, Muhammad. 2007. Fisika Dasar Edisi 2. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Kanginan, Marthen. 2006. Fisika. Jakarta: Erlangga.
Kartasudjana, R dan Edjeng S. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pratiwi, D. A. 2006. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Rasyaf, Muhammad. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Jakarta: Penebar Swadaya.
Subronto. 2008. Ilmu Penyakit Ternak Ib. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wahyu. J. 2005. IImu Nutrisi Ternak Unggas. Yogyakarta: UGM Press.
Zaelani, Ahmad. 2005. Fisika. Bandung: Yrama Widya.