Anda di halaman 1dari 4

PENGELOLAAN LIMBAH PADAT PASCA BENCANA

Pengelolaan limbah padat kerap menimbulkan satu masalah khusus dalam situasi darurat.
Selama periode pascabencana, otoritas bukanya hanya harus berhadapan dengan barang
bekas dan sampah, tetapi juga puing-puing bangunan, fasilitas umum, pohon,pabrik, dan
bangkai hewan. Pembersihan awal reruntuhan secara cepat sangat penting untuk upaya
rehabilitasi. Pembersihan jalan, misalnya, bukan hanya memulihkan akses yang ada, tetapi
juga mempunyai dampak psikologis positif bag penduduk. Pembuangan saniter barang bekas
dan limbah lain juga merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit
bawaan vector. Pengumpulan sampah harus sesegera mungkin dilaksanakan kembali didaerah
terserang bencana. Penguburan atau pembakaran limbah padat organic direkomendasikan,
sebaliknya pembuangan limbah ditempat terbuka harus dihindarkan. Bangkai binatang yang
tertunda penguburanya harus disiram dengan minyak tanah untuk menjaga agar tidak di ambil
oleh hewan predator. Pembakaran bangkai binatang dalam jumlah besar sulit dilakukan
kecuali dibuatkan tempat pembakaran khusus, yang membutuhkan bahan bakar dalam jumlah
besar. Peralatan berat akan diperlukan untuk membersihkan reruntuhan, mengumpulkan
limbah padat, dan mengoprasikan lokasi pembuangan. Pengaturan prabencana dengan
pemilik peralatan swasta dapat memfasilitasi layanan mereka. Masyarakat umum harus
dianjurkan untuk melaksanakan pengelolaan limbah secara saniter jika tidak ada pelayanan
yang dapat disediakan( misalnya dengan membakar atau mengubur barang buangan
dihalaman). Tempat pembuangan sampah yang ada mungkin tidak dapat diakses atau
digunakan selama waktu yang cukup lama sehingga perlu dibuka tempat pembuangan yang
baru. Pemilihan lokasi pembuangan sampah harus dilakukan dengan sangat cermat karena
begitu pembuangan dimulai di suatu wilayah, wilayah tersebut akan menjadi tempat
pembuangan tetap. Puing-puing bangunan dapat digunakan untuk memperbaiki jalan masuk
atau digunakan di area lain yang membutuhkan penambalan. Materi besar lain harus
diratakan dengan menggunakan bulldozer, jika tersedia. Kecermatan tinggi juga harus
diterapkan saat memilih lokasi pembuangan bahan-bahan berbahaya(mis, trafo tegangan
tinggi rusak yang mengandung PCBs). Limbah berpotensi berbahaya harus disimpan dengan
aman dalam suatu tempat yang dikemudian hari limbah itu dapat diambil kembali untuk
identifikasi, penetralan, pengolahan dan atau pembuangan secara benar.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,
kekeringan, angin topan, dan tanah longsor (BNPB, 2012).
Pasca bencana mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar salah satunya adalah
kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan pasca bencana dapat meninggalkan berbagai
macam limbah padat dan cair yang tentunya akan berdampak buruk untuk ekosistem alam
sekitar. Oleh karena itu limbah padat dan cair tersebut harus dibersihkan atau diolah.
Pengelolaan limbah padat dan cair pasca bencana harus dilakukan sehingga akan memberikan
dampak positif bagi lingkungan, dapat mencegah penyakit (diare, malaria).
Berdasarkan pembahasan diatas, penulis tertarik untuk membuat makalah telaah pustaka
tentang Pengelolaan Limbah Padat dan Cair Pasca Bencana.
PENGELOLAAN LIMBAH PADAT PASCA BENCANA

Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau bubur yang
berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari kegiatan industri
dandomestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga,
limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempattempatumum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal,
gelas/kaca,organik, bakteri, kulit telur, dllSumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi
seperti pabrik gula, pulp,kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau
daging.
Secara garis besar limbah padat terdiri dari :
1)

Limbah padat yang mudah terbakar.

2)

Limbah padat yang sukar terbakar.

3)

Limbah padat yang mudah membusuk.

4)

Limbah yang dapat di daur ulang.

5)

Limbah radioaktif.

6)

Bongkaran bangunan.

7)

Lumpur.

Pengumpulan dan pembuangan sampah padat. Masyarakat harus memiliki lingkungan yang
cukup bebas dari pencemaran akibat limbah padat, termasuk limbah medis.
1. Sampah rumah tangga dibuang dari pemukiman atau dikubur di sana sebelum sempat
menimbulkan ancaman bagi kesehatan.
2. Tidak terdapat limbah medis yang tercemar atau berbahaya (jarum suntik bekas pakai,
perbanperban kotor, obatobatan kadaluarsa,dsb) di daerah pemukiman atau
tempattempat umum.
3. Dalam batasbatas lokasi setiap pusat pelayanan kesehatan, terdapat tempat
pembakaran limbah padat yang dirancang, dibangun, dan dioperasikan secara benar
dan aman, dengan lubang abu yang dalam.
4. Terdapat lubanglubang sampah, keranjang/tong sampah, atau tempat tempat khusus
untuk membuang sampah di pasarpasar dan pejagalan, dengan system pengumpulan
sampah secara harian.
5. Tempat pembuangan akhir untuk sampah padat berada dilokasi tertentu sedemikian
rupa sehingga problemaproblema kesehatan dan lingkungan hidup dapat
terhindarkan.
6. 2 ( dua ) drum sampah untu 80 100 orang Tempat/lubang Sampah Padat
Masyarakat memiliki cara cara untuk membuang limbah rumah tangga sehari hari
secara nyaman dan efektif.

Tolak ukur kunci


1. Tidak ada satupun rumah/barak yang letaknya lebih dari 15 meter dari sebuah bak
sampah atau lubang sampah keluarga, atau lebih dari 100 meter jaraknya dar lubang
sampah umum
Tersedia satu wadah sampah berkapasitas 100 liter per 10 keluarga bila limbah rumah tangga
seharihari tidak dikubur ditempat
PENGELOLAAN LIMBAH CAIR PASCA BENCANA
Masyarakat memiliki lingkungan hidup seharihari yang cukup bebas dari risiko pengikisan
tanah dan genangan air, termasuk air hujan, air luapan dari sumber sumber, limbah cair
rumah tangga, dan limbah cair dari prasaranaprasarana medis. Halhal berikut dapat dipakai
sebagai ukuran untuk melihat keberhasilan pengelolaan limbah cair :
1. Tidak terdapat air yang menggenang disekitar titiktitik pengambilan/sumber air
untuk keperluan seharihari, didalam maupun di sekitar tempat pemukiman
2. Air hujan dan luapan air/banjir langsung mengalir malalui saluran pembuangan air
3. Tempat tinggal, jalan jalan setapak, serta prasana prasana pengadaan air dan
sanitasi tidak tergenang air, juga tidak terkikis oleh air.
Menurut PP No. 82 Tahun 2001, limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan
yang berwujud cair. Jenis-jenis limbah cair dapat digolongkan berdasarkan sifatnya, yaitu
fisika dan sifat agregat, parameter logam, anorganik nonmetalik, organik agregat, dan
mikroorganisme.
Begitupun dengan Metcalf & Eddy (2003), mendefinisikan limbah berdasarkan titik
sumbernya sebagai kombinasi cairan hasil buangan rumah tangga (permukiman),instansi
perusahaaan, pertokoan, dan industri dengan air tanah, air permukaan, dan air hujan
Sumber-sumber limbah cair :
1. Kegiatan rumah tangga
2. Kegiatan industri
3. Kegiatan rumah sakit dan aktivitas yang bergerak di bidang kesehatan
4. Kegiatan pertanian, peternakan
5. Kegiatan pertambangan
6. Kegiatan transportasi
Macam Macam Limbah Cair :

Limbah cair adalah segala jenis limbah yang berwujud cairan, berupa air beserta bahan-bahan
buanga lain yang tercampur (tersuspensi) maupun terlarut dalam air. Limbah cair dapat
diklasifikasikan dalam 4 kelompok yaitu :
1)

Limbah cair domestic

Yaitu limbah cair hasil buangan dari perumahan (rumah tangga), bangunan perdagangan,
perkantoran dan sarana sejenis. Contoh limbah cair domestic adalah air deterjen sisa cucian,
air sabun, dan air tinja.
2)

Limbah cair industri

Yaitu limbah cair hasil buangan industri. Contoh limbah cair industri adalah air sisa cucian
daging, buah, atau sayur dari industri pengolahan makanan dan dari sisa pewarnaan
kain/bahan dari industri tekstil.
3)

Rembesan dan Luapan

Yaitu limbah cair yang berasal dari berbagai sumber memasuki saluran pembuangan limbah
cair melalui rembesan kedalam tanah atau melalui luapan dari permukaan. Air limbah dapat
merembes ke dalam saluran pembuangan melalui pipa yang rusak, pecah, atau bocor
sedangkan luapan dapat terjadi melalui bagian saluran yang membuka atau terhubung ke
permukaan. Contoh limbah cair yang dapat merembes dan meluap ke dalam saluran
pembuangan limbah cair adalah air buangan dari talang atap, pendingin ruangan (AC), tempat
parker, halaman, bangunan perdagangan dan industri, serta pertanian atau perkebunan.
4)

Air Hujan

Yaitu limbah cair yang berasal dari aliran air hujan di atas permukaan tanah. Aliran air hujan
di permukaan tanah dapat melewati dan membawa partikel-partikel buangan padat atau cair
sehingg dapat disebut sebagai limbah cai