Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA TN.

S
DENGAN GATROENTRITIS DI RUANG ICU RUMAH SAKIT
PKU MUHAMMADIYAH SINGKIL KAB.TEGAL

Di susun oleh:

Disusun Oleh:
Nama : M.FAQIH ZULFIQRI
NIM : 1013013
Pembimbing: AGUS BUDIANTO,M.KEP.,NS

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diare merupakan gangguan pada saluran cerna yaitu ketidaknormalan (pertambahan)
frekuensi buang air besar (defekasi) dengan ciri khas konsistensi fesesnya cair. Yang
dimaksudkan dengan ketidaknormalan disini adalah keadaan yang tidak seperti
biasanya. Misalnya seseorang biasa buang air besar 3 kali seminggu, pada saat diare
orang tersebut bisa buang air besar 3 kali dalam sehari dengan konsistensi yang cair.
Di Amerika 16,5 juta anak kurang dari 5 tahun menderita diare dan 300-500 anak
meninggal setiap tahunnya karena diare. Di negara berkembang, diare akut
membunuh 5000 anak setiap tahunnya. WHO (World Health Organization)
memperkirakan bahwa 744 ribu sampai 1 juta kasus diare terjadi pada anak-anak
setiap tahunnya. Jadi sebaiknya jangan menyepelekan diare. Karena penyakit diare
ini sangat berbahaya, kami menyusun makalah ini sebagai bahan ajaran dan
pedoman bagi kita semua untuk mengetahui tentang penyakit diare ini lebih dalam.
1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan Diare
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menyusun pengkajian pada klien diare
2. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien diare
3. Mahasiswa mampu menyususn intervensi pada klien diare
4. Mahasiswa mampu menyusun implementasi pada klien diare
5. Mahasiswa mampu menyusun evaluasi pada klien diare
1.3Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah
dengan menggunakan metode studi pustaka yaitu dengan mencari sumber dari
berbagai literature baik itu buku maupun dari berbagai media elektronik.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Diare

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih
banyakdari biasanya (normal 100 200 ml per jam tinja), dengantinja
berbentuk cairan

atau

setengah

cair

(setengah

padat),

dapat

pula

disertaifrekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999).Diare


adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari
(WHO,1980),Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung
dan

usus

yangmemberikan

gejala

diare

dengan

atau

tanpa

disertai

muntah(Sowden,et all.1996).Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar


yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih
banyak dari biasanya (FKUI,1965).Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah
lambung dan intestinal yangdisebabkan oleh bakteri yang bermacammacam,virus

dan

parasit

yang

pathogen

(Whaley

&

Wongs,1995).Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya


muntah dan diare yangdisebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat
makanan (MarlenanMayers,1995 ).
Berdasarkan pengertian diatas maka diare adalah peradangan yang terjadi
pad alambung dan usus yang memberikan gejala buang air besar encer atau cair
selama lebih dari 3 kali sehari.
2.2 Tanda dan Gejala
a. Naunesa
b. Muntah
c. Nyeri perut
d. Demam
e. Diare
f. Haus
g. Lidah kering
h. Anoreksia
i. Lemah
j. Turgor kulit menurun
k. Suara menjadi serak
l. Frekuensi nafas cepat
m. Tekanan darah menurun
n. Gelisah
o. Pucat
p. Ekstrimitas dingin
q. Siagnosis
r. Anuria

2.3 Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor :
1. Faktor Infeksi
a.

Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan


penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:
Infeksi bakteri; Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobakter,
Yersinia, Aeromonasdan sebagainya.
Infeksi
virus; Enterovirus (Virus

ECHO,

Coxsackie,

Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Antrovirus dan lain-lain.


Infeksi parasit; Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides),
Protozoa (Entamoeba histolitika, Giardia lambia, Trichomonas hominis),
Jamur (Candida albicans).
b.

Infeksi Parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan


seperti;

otitis

media

akut

(OMA),

tonsilitis/tonsilofaringitis,

bronchopneumonia, enchefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama


terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.

2. Faktor Malabsorbsi
a.
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan
sukrosa): monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada
bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa.
b.
Malabsorbsi lemak
c.
Malabsorbsi protein
3. Faktor Makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor Psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar)
2.4 Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
Diare dapat mengakibatkan beberapa kondisi antara lain infeksi psikologis
malabsorbsi dan makanan. Infeksi dibagi menjadi 2 yaitu infeksi enteral dan
parenteral. Infeksi parenteral disebabkan oleh Bronkopneumonia, encephalitis,

dan tonsilis, sedangkan infeksi enteral disebabkan oleh bakteri Shigella,


E.Cholli. salmonela. Psikologis dapat menyebabkan perubahan lingkungan
(HOSPITALISASI) dan akan menimbulkan rasa takut dan cemas yang dapt
mengganggu istirahat. Malabsorbsi terjadin karena terlalu banyak KH, lemak
dan protein yang menimbulkan naiknya tekanan osmotik akhirnya menyebabkan
pergeseran air & elektrolit ke lumen usus mengakibatkan isi rongga usu berlebih
yang akirnya merangsang usu untuk mengeluarkannya dan mengakibatkna
kehilangan volume cairan, dan yang terakhir adalah makanan, makan dan
minum yang terkontaminasi menyebabkan rangsangan tertentu pada dinding
usus dan makan zat yang tidak dapat diserap menyebabkan tekanan osmosis
rongga usus menjadi mual dan muntah mengakibatkan intake menurun dan
menyebabkan resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

2.5 Pathways

2.6 Pemeriksaan Penunjang

Menurut Hassan dan Alatas (1998) pemeriksaan laboratorium pada diare


adalah:
a. Feses
b. Makroskopis dan Mikroskopis
c. pH dan kadar gula pada tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila
diduga terdapat intoleransi gula.
d. Biakan dan uji resisten.
e. Pemeriksaan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan pH
dan cadangan alkalin atau dengan analisa gas darah.
f. Ureum kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
g. Elektrolit terutama natrium, kalium dan fosfor dalam serium.
h. Pemeriksaan Intubasi deudenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit.
2.7 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.
a. Jenis cairan Pada diare akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan
cairan RL, bila tak tersedia dapat diberikan NaCl isotonik ditambah satu
ampul Na bikarbonat 7,5 % 50 ml.
b. Jumlah cairan diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan.
c. Jalan masuk atau cara pemberian cairan Dapat dipilih oral atau IV.
d. Jadwal pemberian cairan Rehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan
diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya dilakukan penilaian kembali
status hidrasi untuk memperhitungkan kebutuhan cairan. Rehidrasi
diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke-3.
e. Terapi simtomatik obat diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat
hati-hati atas pertimbangan yang rasional. A Sifat antimotilitas dan sekresi
f.

usus. A Sifat antiemetik.


Vitamin meneral, tergantung kebutuhannya. A Vitamin B12, asam folat,

vit. K, vit. A. A Preparat besi , zinc, dll.


g. Terapi definitif pemberian edukatif sebagailangkah pencegahan. Hiegene
perseorangan, sanitasi lingkungan, dan imunisasi melalui vaksinasi sangat
berarti, selain terapi farmakologi.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Dalam penatalaksanaan keperawatan dapat dilakukan Pendidikan Kesehatan,
antara lain:
a.
Mencoba makan lebih sering tapi dengan porsi yang lebih sedikit,
frekuensi teratur, dan jangan makan atau minum terlalu cepat, menjaga

kebersihan dan isolasi: Kebersihan tubuh merupakan faktor utama dalam


membatasi penyebaran penyakit.
b.
Jaga hidrasi dengan elektrolit yang seimbang. Ini merupakan cara
paling sesuai di kebanyakan kasus diare, bahkan disentri. Mengkonsumsi
sejumlah besar air yang tidak diseimbangi dengan elektrolit yang dapat
dimakan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit yang
berbahaya dan dalam beberapa kasus yang langka dapat berakibat fatal
c.

(keracunan air).
Terapi rehidrasi oral: Meminum solusi gula/garam, yang dapat diserap
oleh tubuh.

2.8 Askep teori diare


1. Pengkajian
a. Kaji riwayat diare
b. Kaji status hidrasi; ubun-ubun, turgor kulit, mata, membaran mukosa
mulut
c. Kaji tinja; jumlah, warna, bau, konsistensi dan waktu buang air besar
d. Kaji intake dan output (pemasukan dan pengeluaran)
e. Kaji berat badan
f. Kaji tanda-tanda vital
2. Diagnosa Keperawatan
a. Diare berhubungan dengan malabsorbsi
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
aktif
c. Ketidakseimbangan

nutrisi:

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrien.


d. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan seringnya
buang air besar
e. Risiko infeksi pada orang berhubungan dengan terinfeksi kuman diare
atau kurangnya pengetahuan tentang pencegahan penyebaran penyakit
f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
menurunnya intake (pemasukan) dan menurunnya absorbsi makanan
dan cairan

3. Implementasi
a. Meningkatkan hidrasi dan keseimbangan elektrolit
1. Kaji status hidrasi,; ubun-ubun, mata, turgor kulit dan membran
mukosa
2. Kaji pengeluaran urine; gravitasi urine atau berat jenis urine
(1.005-1.020) atau sesuai dengan usia pengeluaran urine 1-2
ml/kg per jam
3. Kaji pemasukan dan pengeluaran cairan
4. Monitor tanda-tanda vital
5. Pemeriksaan laboratorium sesuai program; elektrolit, Ht, pH, dan
serum albumin
6. Pemberian cairan dan elektrolit sesuai protokol (dengan oralit,
dan cairan parenteral bila indikasi)
7. Pemberian obat anti diare dan antibiotik sesuai program
b. Mempertahankan keutuhan kulit
1. Kaji kerusakan kulit atau iritasi setiap buang air besar
2. Hindari dari pakaian dan pengalas tempat tidur yang lembab
3. Gunakan obat cream bila perlu untuk perawatan perineal
c. Mengurangi dan mencegah penyebaran infeksi
1. Segera bersihkan dan angkat bekas buang air besar dan tempatkan
pada tempat yang khusus
2. Gunakan standar pencegahan universal (seperi; gunakan sarung
tangan dan lain-lain)
d. Meningkatkan kebutuhan nutrisi yang optimum
1. Monitor intake dan output (pemasukan dn pengeluaran)
2. Setelah rehidrasi, berikan minuman oral dengan sering dan
makanan yang sesuai dengan diet
3. Lakukan kebersihan mulut setiap habis makan
4. Jelaskan tentang penyakit, perawatan dan pengobatan
5. Jelaskan pentingnya kebersihan
4.

Evaluasi
1. Jelaskan penyebab diare
2. Ajarkan untuk mengenal komplikasi diare

3. Ajarkan untuk mencegah penyakit diare dan penularan; ajarkan


tentang standarpencegahan
4. Ajarkan perawatan anak; pemberian makanan dan minuman
(misalnya;oralit)
5. Jelaskan obat-obatan yang diberikan; efek samping dan
kegunaannya

7. PEMERIKSAAN FISIK
a. Survey umum
Keadaan umum

: Lemah

Kesadaran

: compos mentis

Tanda tanda vital


- TD

: 110 /60 mmHg

- HR

: 80

x/menit

- RR

: 18

x/menit

- Suhu

: 36,4

Antropometri
- TB

: 157 cm

- BB

: 53 kg

- IMT

: 21,46 (normal)

b. Kulit, rambut dan kuku


Kulit

:Warna kulit kemerahan alami,

tidak pucat, eritema (-), ikterik atau sianosis(-), turgor tidak menurun
dan tekstur halus.
Rambut

: rambut berwarna hitam

menyebar merata di seluruh permukaan kepala dengan tekstur lembut,

Kuku

: kuku berwarna merah muda

dengan tekstur keras

c. Kepala dan leher


Kepala

: Wajah dan kulit kepala Bentuk

muka oval, ekspresi wajah gelisah dan pucat, rambut hitam tapi
beruban, bersih dan tidak rontok, tidak ada nyeri tekan.

Mata

: Mata kanan dan kiri simetris, mata cekung, konjungtiva

anemis, selera tidak ikterit, tidak ada sektet, gerakan bola mata
normal, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, fungsi penglihatan
menurun.
Telinga : Canalis bersih, pendengaran baik, tidak ada benjolan pada
daun telinga, tidak memakai alat bantu pendengaran.
Hidung
: Tidak ada polip, keadaan
seputum bersih, tidak ada sektet, tidak ada radang, tidak ada benjolan,
fungsi penghidu baik.
Mulut

: Gigi bersih, tidak ada karies

gigi, tidak memakai gigi palsu, gusi tidak ada peradangan, lidah
bersih, bibir kering.
Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar

thyroid, tidak ada nyeri tekan, tidak ada bendungan vena jugularis dan
tidak ada pembesaran kelenjar limpo.
d. Toraks dan paru-paru
Toraks

: Bentuk dada normal chest

simetris kanan dan kiri.


Jantung
- I

: lokasi lotus di gic

midclavikula dan denyut jantung Nampak.


- P

: teraba denyut jantung dengan

gerakan.
- P

: di sic 5 mid axial dari laterat

ke media bunyinya sonor sampai dengan sternum 2 jari ke sternum


peka.
- A

: s1 = s2 murni regular, bunyi

jantung normal, tidak ada mur mur dan gallop.

Paru paru
- I

: Inspeksi : pada paru paru

didapatkan data tulang iga simetris kanan dan kiri, payudara normal,

RR : 22x/ menit, pola nafas regular, bunyi vesikuler, tidak ada sesak
nafas.
- P

: Vocal fremitus anteria kanan

dan kiri simetris, tidak ada nyeri tekan.


Vocal fremitus posterior kanan = kiri, gerak pernafasan kanan = kiri
simetris.
- P

: suara paru paru sonor pada

paru kanan dan kiri.


- A

: suara vesikuler, tidak ada rokhi

maupun wheezing.

Abdomen

- I

: abdomen simetris, datar dan

tidak ada luka.

f.

- A

: peristartik 25x/ menit

- P

: ada nyeri di kuadran kiri atas.

- P

: suara hypertimpani.

Genetalia

: Data tidak terkaji, tidak

terpasang kateter.
g. Rektum dan anus

: pada rektum tidak mengalami

hemoroid atau luka atau abses, dan anus tidak kemerahan.


h. Ekstremitas

: Ekstresmitas atas : simetris,

tidak ada odema atau lesi, tidak ada nyeri tekan, tangan kanan terpasang
infuse RL 20 tetes/ menit.
Ekstremitas bawah : kaki kanan dan kaki kiri simetris tidak ada kelainan.
8. POLA FUNGSI KESEHATAN
a.

Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan


Klien mengatakan kesehatan itu penting dan jika ada anggota keluarga
yang sakit selalu membawanya ke pelayanan kesehatan

b. Pola aktivitas dan latihan


Sebelum sakit : klien mengatakan dapat melakukan aktifitas sehari hari
tanpa bantuan dari orang lain.
Selama sakit : klien mengatakan aktifitasnya seperti makan dan minum,
toileting, berpakaian, berpindah dan ambulasi/ Rom dibantu oleh orang
lain, keluarga dan perawat.
c. Pola nutrisi dan metabolik
Sebelum sakit : klien mengaku memiliki nafsu makan baik 3x sehari
dengan menu seperti nasi, sayur bening, ayam, dan ikan asin. Makanan
favorit klien yaitu bakso. Minum yang disukai klien yaitu air putih. ( 8
gelas/ hari )
Selama sakit : klien makan 1x/ hari dengan menu yang disediakan di RS
dan habis porsi, klien mengatakan nafsu makan berkurang karena
setiap makan langsung muntah, minum klien hanya 2 gelas/ hari.
d.

Pola eliminasi
Sebelum sakit : klien BAB 1 2x/ hari, konsistensi (padat) tidak ada
gangguan, BAK 3 4/ hari dengan warna dan bau yang khas.
Selama sakit : klien BAB lebih dari 7 kali/ hari konsistensi (cair) dan
berlendir. BAK 2 3 kali/ hari dengan warna dan bau yang khas.
e. Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit : klien mengatakan istirahat dengan cukup 10 jam yaitu
malam hari dari jam 21.00 04.30 dan tidur siang dari jam 13.00
14.30.
Selama sakit : klien mengatakan istirahat kurang 3 jam yaitu malma hari
dari jam sering terbangun karena merasa ingin BAB
f.

Pola kognitif persepsi


Klien sudah mengetahui tentang penyakit yang sedang dialaminya

g. Pola sensori visual


Sistem panca indra klien masih baik, hanya penglihatan menurun. Untuk
indra perasa, peraba, pendengaran, penghidu masih baik, klien juga yakin
dengan dibawa kerumah sakit klien akan cepat sembuh.
h. Pola toleransi dan koping terhadap stress

Klien selalu memecahkan masalahnya dalam keluarga dengan


musyawarah.
i.

Persepsi diri / konsep diri


a. Citra tubuh : klien menerima keadaannya karena klien tidak cacat
b. Fungsi peran : klien sudah mengetahui perannya dalam keluarga
sebagai istri dan ibu
c. Identitas diri : klien sudah mengetahui namanya yaitu Ny. W jenis
kelaminnya perempuan, dan umurnya 65 tahun.
d. Ideal diri : klien mempunyai keinginan untuk sembuh
e. Harga diri : klien tidak mengalami merasa malu saat berhubungan
dengan masyarakat

j.

Pola seksual dan reproduksi


Klien adalah seorang perempuan berusia 65 tahun, klein sudah
mempunyai 2 orang anak.

k. Pola nilai dan keyakinan


Sebelum sakit : klien beragama islam, selalu menjalankan ibadah sholat
5 waktu tepat waktu dan khusyu,
Selama sakit : klien tetap menjalanan sholat dengan duduk karena
merasa lemah dan belum kuat berdiri, selama dirumah sakit klien
menjalankan ibadah seperti biasa.
9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Interpretasi
keterangan

Albumin
Globulin

3,5 gr/dl
2,2 gr%

b. Pemeriksaan radiologi
Foto thorak jika diperlukan
10.

TERAPI

4,0 5,8 gr/dl


2,3-3,2 gr%

a.
b.
c.
d.
e.

Infus RL 20 TPM
Inj Arpisilin3x1 Amp/ iv
Inj Ranitidin 3x1 Amp/ iv
Cefotaxim 3x1/ gr/ iv
Ranitidin 3x1/ gr/ iv

BAB IV
PEMBAHASAN

1.

PENGKAJIAN
Proses pengkajian yang dilakukan pada klien Ny. W dengan Diarea di
RS Sakit Kardinah Tegal dilakukan perawat melalui wawancara dengan
suami klien, observasi dan pemeriksaan fisik langsung kepada klien.
Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori, akan tetapi disesuaikan dengan
kondisi klien saat di kaji. Pada saat dilakukan pengkajian suami klien cukup
terbuka sehingga mempermudah perawat dalam mengkaji pasien dan dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan.Hal ini dibuktikan dengan suami klien mau
menjawab pertanyaan dari perawat. Data yang di dapat pada saat pengkajian
pada Ny. W dengan suami klien mengatakan anak Ny. W BAB 7x sehari,
dengan feses berwarna kuning, berbau menyengat dan berbusa. Pemeriksaan
feses : terdapat bakteri E. coli. Raut wajah terlihat meringis menahan sakit
Klien tampak lemah Bibir kering Klien menghabiskan bubur setengah porsi
Dari data yang terkumpul kemudian dilakukan analisa dan identifikasi
masalah yang dihadapi oleh klien yang merupakan data fokus dan selanjutnya
dirumuskan diagnosa atau masalah keperawatan.

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan tinjauan teoriti, pada klien Ny. W dengan diarea adalah
ada 3 diagnosa yang diangkat, meliputi :
a.Diare b/d malabsorbsi (0013)
b.Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif (00027)
c.Ketidakseimbangan

nutrisi:

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

b/d

Ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrien (00002)


Alasan mengambil diagnose yang pertama Diare berhubungan dengan
Malabsorbsi ditandai dengan suami klien mengatakan anak Ny. W BAB 7x
sehari, dengan feses berwarna kuning, berbau menyengat, saat dilakukan
pengkajian didapat klien merasa lemas, Kemudian mengambil diagnosa
kedua yaitu Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif ditandai dengan suami klien mengatakan klien mengatakan lemas

setelah berulang kali BAB, mukosa bibir kering, mata cekung, turgor kulit
lambat, BC: -1000 cc (tidak balance). Dan mengambil diagnosa ketiga yaitu
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hilangnya nafsu
makanditandai

dengan

klien

mengatakan

nafsu

makan

berkurang,

Antropometri : BB: 53kg, TB: 156cm, IMT: 22,76, Biokimia: albumin (3,5
gr/dl), globulin (2,2 gr%), Clinis: tampak lemah, Diet: Makan habis porsi.
Pemeriksaan feses : terdapat bakteri E. Coli. Setelah diagnosa atau masalah
keperawatan ditegakan selanjutnya dilakukan pembuatan rencana tindakan
dan kriteria hasil untuk mengatasi masalah keperawatan yang ada pada klien
3.

PERENCANAAN KEPERAWATAN
Perencanaan dalam proses keperawatan dimulai setelah data
terkumpul dikelompkkan, dianalisa dan ditetapkan masalah keperawatan.
Perencanaan disusun berdasarkan prioritas masalah yang disesuaikan dengan
kondisi klien.Setelah masalah ditentukan berdasarkan prioritas, tujuan
pelayanan keperawatan ditetapkan.Tujuan bisa ditetapkan dalam jangka
panjang

atau

jangka

pendek,

harus

jelas,

dapat

diukur

dan

realistis.Ditegaskan dalam bentuk perubahan, kriteria hasil sebagai alat ukur


pencapaiantujuan yang mengacu pada tujuan yang disusun pada rencana
keperawatan, pada penyusunan kriteria hasil perawat menyesuaikan dengan
waktu pemberian perawatan yang dilakukan oleh perawat yaitu selama 2x24
jam.Perencanaan yang dibuat pada Ny. W dengan masalah utama setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam maka klien akan
mendemostrasikan kekurangan volume cairan teratasi.
4.

PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI
Setelah rencana keperawatan dibuat, kemudian dilanjutkan dengan
pelaksanaan. Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan merupakan kegiatan
atau tindakan yang diberikan pada Ny. W dengan menerapkan pengetahuan
dan kemampuan klinik yang dimilki oleh klien berdasarkan ilmu ilmu
keperawatan dan ilmu ilmu lainnya yang terkait. Seluruh perencanaan
tindakan yang telah dibuat dapat terlaksana dengan baik.Klien diberikan
obat-obatan berupa : Terapi cairan infuse RL 500 ml (40atm) yang bertujuan
untuk mengatasi kekurangan volume cairan dan diarea.

5.

EVALUASI
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Tahap
evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif
dan data objektif yang akan menunjukkan apakah tujuan asuhan keperawatan
sudah tercapai sepenuhnya, sebagian atau belum tercapai. Serta menentukan
masalah apa yang perlu di kaji, direncanakan, dilaksanakan dan dinilai
kembali.Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik
rencana keperawatan, menilai, meningkatkan mutu asuhan keperawatan
melalui perbandingan asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilnya
dengan standar yang telah di tetapkan lebih dulu.Pada tahap evaluasi yang
perawat lakukan pada Ny. W adalah melihat apakah masalah yang telah
diatasi sesuai dengan kriteria waktu yang telah ditetapkan. Dari ketiga
diagnosa, diagnosa diare, kekurangan volume cairan, nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh.

PENUTUP
1.

Kesimpulan
Gastroenteritis atau penyakit diare adalah peradangan yang terjadi pada

lambung dan usus yang memberikan gejala BAB dengan frekuensi lebih banyak dari
biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang pathogen. Diare terbagi
2 yaitu diare akut dan kronis. Diare akut adalah diare awalnya mendadak dan
berlangsung singkat,dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari sedangkan diare
kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu pada orang dewasa dan
dua minggu pada bayi anak-anak.
2.

Saran
Agar tetap menjaga kebersihan baik kebersihan diri maupun kebersihan

lingkungan, makan-makanan yang mengandung gizi tinggi, istirahat yang cukup.


Menjaga kondisi tubuh agar tetap segar.

3.

DAFTAR PUSTAKA
_____________. 2010. Diare. Diakses pada tanggal 8 Juni 2014 pukul 22.35. dengan
alamat http://id.wikipedia.org/wiki/Diare
_____________. 2009. Asuhan keperawatan klien dengan Diare. Diakses pada
tanggal

Juni

2014

pukul

22.35.

dengan

alamat

http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-klien-dengandiare.html