Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuk reaksi kinetik dan reaksi verbal seorang
pembaca terhadap karya sastra yang didengar atau dibacanya. Dalam kehidupan sehari-hari,
sering kita mendengar istilah apresiasi. Barangkali dalam benak kita muncul pertanyaan: apa
itu apresiasi? Istilah apresiasi muncul dari kata appreciate (Ing), yang berarti menghargai.
Sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan untuk
menghargai sastra. Namun, dalam perkembangan berikutnya pengertian apresiasi sastra
semakin luas. Banyak tokoh mencoba memberikan batasan tentang apresiasi sastra. S.
Effendi memberikan batasan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra
dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pada cipta
sastra tersebut.
Apresiasi dapat diartikan suatu langkah untuk mengenal, memahami, dan menghayati
suatu karya sastra yang berakhir dengan timbulnya pencelupan atau rasa menikmati karya
tersebut dan berakibat subjekapresiator dapat menghargai karya sastra yang dinikmatinya
secara sadar. Karya sastra dapat dikenal atau dipahami melalui unsur-unsur yang
membangunnya atau disebut dengan unsur intrinsik. Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik,
yaitu tema, plot/alur, tokoh, watak tokoh, latar, seting, amanat/pesan, sudut pandang, dan
gaya bahasa. Selain dari unsur intrinsik dan teks seni berbahasa, juga dapat diapresiasi
dengan menelaah penggunaan atau pilihan kata serta istilah yang terdapat dalam teks
tersebut. Termasuk dalam hal ini, mencari kata-kata kunci yang menjadi penanda tema teks
yang bersangkutan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat apresiasi
Apresiasi dapat diartikan suatu langkah untuk mengenal, memahami, dan menghayati suatu
karya sastra yang berakhir dengan timbulnya pencelupan atau rasa menikmati karya tersebut
dan berakibat subjekapresiator dapat menghargai karya sastra yang dinikmatinya secara sadar.
Karya sastra dapat dikenal atau dipahami melalui unsur-unsur yang membangunnya atau
disebut dengan unsur intrinsik. Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik, yaitu tema, plot/alur,
tokoh, watak tokoh, latar, seting, amanat/pesan, sudut pandang, dan gaya bahasa. Selain dari
unsur intrinsik dan teks seni berbahasa, juga dapat diapresiasi dengan menelaah penggunaan
atau pilihan kata serta istilah yang terdapat dalam teks tersebut. Termasuk dalam hal ini,
mencari kata-kata kunci yang menjadi penanda tema teks yang bersangkutan.
Di samping pengamatan terhadap unsur-unsur intrinsik dan pemakaian unsur bahasanya,
untuk memahami suatu karya sastra atau teks seni berbahasa dapat dilakukan pula
pengamatan terhadap unsure-unsur ekstrinsik, yaitu hal-hal yang melatar belakangi
terciptanya teks seni berbahasa tersebut. Hal-hal tersebut antara lain latar belakang
pengarang, tujuan penulisan, latar sosial-budaya, lingkungan kehidupan pengarang, serta latar
belakang pendidikan.
B. Pengertian apresiasi
Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuk reaksi kinetik dan reaksi verbal seorang
pembaca terhadap karya sastra yang didengar atau dibacanya. Dalam kehidupan sehari-hari,
sering kita mendengar istilah apresiasi. Barangkali dalam benak kita muncul pertanyaan: apa
itu apresiasi? Istilah apresiasi muncul dari kata appreciate (Ing), yang berarti menghargai.
Sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan untuk
menghargai sastra. Namun, dalam perkembangan berikutnya pengertian apresiasi sastra
semakin luas. Banyak tokoh mencoba memberikan batasan tentang apresiasi sastra. S.
Effendi memberikan batasan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra
dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pada cipta
sastra tersebut.

Istilah Apresiasi berasal dari bahasa latin Apreciation yang berarti mengindahkan.
Dalam konteks yang lebih luas itilah apresiasi menurut Gove dalam Aminuddin (1987:34)
mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan, dan (2) pemahaman dan
pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire
dan Taba dalam Aminuddin (1987:35) berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi
melibatkan tiga unsur inti, yakni (1) aspek kognitif, berkaitan dengan keterlibatan unsur
intelek pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur kesusastraan yang bersifat objektif (2)
aspek emotif, berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati
unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca (3) aspek evaluatif, berhubungan
dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik buruk, indah tidak indah, sesuai tidak
sesuai serta segala ragam penilaian lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik,
tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca.
Sejalan

dengan

rumusan

pengertian

apresiasi

di

atas,

Effendi

(1973:33)

mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara
sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis,
dan kepekaan pikiran yang baik terhadap karya sastra. Dari pendapat itu juga disimpulkan
bahwa kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang
mampu memuaskan rohaniahnya.
Sehubungan dengan masalah di atas, Djunaedi (1992:2-4) menyebutkan tingkat
penerimaan seseorang terhadap karya sastra (novel) ada empat, yaitu : (1) Tingkat reseftif
adalah tahap penerimaan menurut apa adanya (2) Tingkat reaktif adalah tahap pemberian
reaksi terhadap kehadiran sebuah karya sastra (3) Tingkat produktif adalah tahap pemberian
reaksi terhadap karya sastra yang dibacanya (dinikmati) dan sekaligus dapat memproduksi
dan menelaah karya sastra tersebut (4) Tingkat implementatif adalah tahap memahami,
mengevaluasi dan memproduksi sastra, serta dapat mewujudkan kebenaran yang
diperolehnya dari bacaan sastra dalam kehidupan sehari-hari.
C. Proses apresiasi
Sebelum melakukan apresiasi, umumnya seseorang memilih bentuk karya sastra atau
jenis teks seni berbahasa yang disukai, misalnya bentuk karya sastra prosa, puisi, drama, atau
film. Kesukaan itu akan melangkah pada upaya seseorang untuk mengetahui atau memahami
lebih dalam karya yang dipilihnya. Sebuah karya sastra dapat disukai dan digemari oleh
seseorang oleh karena karya tersebut dapat memberi kesan tersendiri yang menimbulkan
3

empati bagi penggemarnya. Hal itu disebabkan proses penciptaan karya sastra meliputi halhal berikut ini.
1. Upaya mengeksplorasi jiwa pengarangnya yang diejawantahkan ke dalam bentuk bahasa
yang akan disampaikan kepada orang lain.
2. Upaya menjadikan sastra media komunikasi antara pengarang atau pencipta dan peminat
sastra.
3. Upaya menjadikan sastra sebagai alat penghibur dalam arti merupakan alat pemuas hati
peminat sastra.
4. Upaya menjadikan isi karya sastra merupakan satu bentuk ekspresi yang mendalam dari
pengarang atau sastrawan terhadap unsur-unsur kehidupan. Dengan kata lain, merupakan
hasil proses yang matang bukan sekadar diciptakan.
Untuk mengapresiasi sebuah karya sastra atau teks seni berbahasa, perlu dilakukan aktivitas
berupa:
1) mendengarkan/menyimak
2) membaca
3) menonton
4) mempelajari bagian-bagiannya
5) menceritakan kembali
6) mengomentari
7) meresensi
8) membuat parafrasa
9) menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan karya tersebut
10) merasakan seperti: mendeklamasikan (untuk puisi ) atau melakonkan (untuk drama
11) membuat sinopsis untuk cerita, dan sebagainya Selain aktivitas merespons karya sastra
seperti disebutkan di atas, langkah-langkah mengapresiasi sebuah karya sastra yang
diminati secara umum meliputi hal-hal berikut:
1.

Menginterpretasi

atau

melakukan penafsiran terhadap karya sastra berdasarkan sifat-sifat karya sastra


tersebut
2.

Menganalisis atau menguraikan

unsur-unsur karya sastra tersebut, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya


3.
Menikmati atau merasakan
karya sastra berdasarkan pemahaman untuk mendapatkan penghayatan
Mengevaluasi atau

4.

karya sastra dalam rangka mengukur kualitas karya tersebut


5.
Memberikan

menilai

penghargaan

kepada karya sastra berdasarkan tingkat kualitasnya


D. Reaksi kinetik dan reaksi verbal dalam apresiasi
4

Jenis Apresiasi
Dalam tahapan apresiasi tertinggi, seseorang akan dapat memberikan penilaian dan
penghargaan yang posisif bagi sebuah karya sastra. Ia pun dapat memberikan penjelasan
secara objektif dan mempertanggungjawabkan sikapnya tersebut kepada orang lain. Setelah
melakukan pilihan kepada sebuah bentuk karya sastra yang menarik pikiran dan perasaan
atau jiwa seninya, seseorang akan merespons karya tersebut dengan dua bentuk sikap atau
jenis apresiatif, yaitu apresiasi yang bersifat kinetik atau sikap tindakan dan apresiasi yang
bersifat verbalitas
Apresiasi bersifat kinetik, yaitu sikap memberikan minat pada sebuah karya sastra lalu
berlanjut pada keseriusan untuk melakukan langkah-langkah apresiatif secara aktif. Misalnya,
untuk bentuk karya sastra berupa prosa fiksi seperti cerpen dan novel, tindakan apresiatifnya
ialah memilih cerpen atau novel yang sesuai kehendaknya. Selanjutnya, membaca dan
menyenangi novel sejenis, menyenangi tema atau pengarangnya, memahami pesan-pesannya,
jalan ceritanya, serta mengenal tokoh-tokoh dan watak tokohnya, bahkan secara ekstrim ada
yang berkeinginan mengindentifikasi diri menjadi tokoh yang digemari dalam karya prosa
tersebut. Puncak dari sikap apresiasinya ialah ingin dapat membuat karya cerpen atau novel
seperti itu. Setidak-tidaknya dapat memberikan komentar atau tanggapan tentang hal yang
berhubungan dengan novel yang digemari.
Untuk karya puisi, memerhatikan pembacaan puisi, menyukai puisi-puisi tertentu,
berusaha memahami makna puisi yang disukai, mengenal para penyair jenis puisi yang
disukai, berusaha dapat membaca puisi dengan baik, dan puncaknya berkeinginan dapat
membuat puisi sejenis serta menulis tanggapan atau ulasan mengenai puisi itu. Untuk karya
sastra drama apresiasif kinetiknya menyukai pementasan drama, tertentu, mengenal karakter
tokohnya, para kru di belakangnya, dan ingin melakonkan tokoh tertentu pada drama sejenis.
Sekarang mungkin objeknya lebih kepada bentuk tayangan film yang memiliki unsur-unsur
yang sama dengan drama.
Apresiasi bersifat verbal, yaitu pemberian penafsiran, penilaian, dan penghargaan yang
berbentuk penjelasan, tanggapan, komentar, kritik, dan saran serta pujian baik secara lisan
maupun tulisan. Dalam kaitannya dengan aspek kompetensi menyimak, apresiasi bermula
pada proses mendengarkan penyampaian karya sastra secara lisan dengan serius dan saksama,
kemudian berlanjut pada pencapaian langkah-langkah apresiasi yang telah delaskan di atas.

Untuk pembelajaran tentang apresiasi sastra, semua bentuk karya sastra yang dapat
diperdengarkan harus dipelajari.
E. Tahap tahap apresiasi
1. Tahap mengenal dan menikmati
Pada tahap ini, kita berhadapan dengan suatu karya. Kemudian kita mengambil suatu
tindakan berupa membaca, melihat atau menonton, dan mendengarkan suatu karya sastra.
2. Tahap menghargai
Pada tahap ini kita merasakan manfaat atau nilai karya sastra yang telah dinikmati. Manfaat
di sini berkaitan dengan kegunaan karya sastra tersebut. Misalnya memberi kesenangan,
hiburan, kepuasan, serta memperluas wawasan dan pandangan hidup.
3. Tahap pemahaman
Pada tahap ini kita melakukan tindakan meneliti serta menganalisis unsur-unsur yang
membangun karya sastra, baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsiknya. Akhirnya kita
menyimpulkan karya sastra tersebut. Apakah karya sastra tersebut termasuk baik atau tidak,
bermanfaat atau tidak bagi masyarakat sastra?
4. Tahap penghayatan
Pada tahap ini kita membuat analisis lebih lanjut dari tahap sebelumnya, kemudian membuat
interpretasi atau penafsiran terhadap karya sastra serta menyusun argumen berdasarkan
analisis yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.
5. Tahap aplikasi atau penerapan
Segala nilai, ide, wawasan yang diserap pada tahap-tahap terdahulu diinternalisasi dengan
baik, sehingga masyarakat penikmat sastra dapat mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam sikap
dan tingkah laku sehari-hari.
Dengan demikian, kegiatan apresiasi sastra diartikan sebagai suatu proses mengenal,
menikmati, memahami, dan menghargai suatu karya sastra secara sengaja, sadar, dan kritis
sehingga tumbuh pengertian dan penghargaan terhadap sastra.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sastra adalah:
1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).

2) karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan
seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.
Sastra dalam pengertian umum adalah karya tulis yang merupakan ungkapan pengalaman
manusia melalui bahasa yang mengesankan. Dalam sastra terkandung ide, pikiran, perasaan,
dan pengalaman yang khas manusiawi, serta diungkapkan dengan bahasa yang indah. Jakob
Sumardjo mengatakan bahwa sastra memiliki badan dan jiwa. Jiwa sastra berupa pikiran,
perasaan, dan pengalaman manusia. Badannya berupa ungkapan bahasa yang indah. Karya
sastra mempunyai tiga ciri yang melekat padanya.
1) Sastra itu memberikan hiburan.
Dalam lubuk hati manusia terpatri kecintaan akan keindahan. Manusia adalah makhluk yang
suka keindahan. Karya sastra adalah ekspresi dari keindahan itu. Karena itu, karya sastra
yang baik selalu menyenangkan untuk dibaca.
2) Sastra menunjukkan kebenaran hidup manusia.
Dalam karya sastra terungkap berbagai pengalaman hidup manusia: baik-buruk, benar-salah,
menyenangkan-menyedihkan, dan sebagainya. Karena itu, manusia lain dapat memetik
pelajaran dari karya sastra tersebut.
3) Sastra melampaui batas bangsa dan zaman.
Nilai-nilai kebenaran, ide atau gagasan dalam karya sastra yang baik bersifat universal
sehingga dapat dinikmati oleh bangsa mana pun. Karya sastra yang baik juga dapat
menerobos batas-batas waktu. Artinya, karya sastra tersebut tetap relevan sepanjang zaman.
F. Tingkatan-tingkatan dalam apresiasi sastra
Mengingat tujuan apresiasi sastra sebagaimana telah diuraikan di atas adalah untuk
mempertajam kepekaan terhadap persoalan hidup, membekali diri dengan pengalamanpengalaman rohani, mempertebal nilai moral dan estetis; maka tingkatan dalam apresiasi
sastra diukur dari tingkat keterlibatan batin apresiator. Untuk dapat mengetahui tingkat
keterlibatan batin, seorang apresiator harus memiliki patos. Istilah patos berasal dari kata
patere (Latin) yang berarti merasa. Dengan kata lain, untuk dapat mencapai tingkatantingkatan dalam apresiasi, seorang apresiator harus dapat membuka rasa.
Tingkatan pertama dalam apresiasi sastra adalah simpati. Pada tingkatan ini batin
apresiator tergetar sehingga muncul keinginan untuk memberikan perhatian terhadap karya
sastra yang dibaca/digauli/diakrabinya. Jika kita membaca karya sastra kemudian mulai
7

muncul perasaan senang terhasdap karya sastra tersebut, berarti kita sudah mulai masuk ke
tahap pertama dalam apresiasi sastra, yaitu simpati.
Tingkatan kedua dalam apresiasi sastra adalah empati Pada tingkatan ini batin
apresiator mulai bisa ikut merasakan dan terlibat dengan isi dalam karya sastra itu. Dengan
kata lain, jika kita membaca prosa cerita, kemudian kita bisa ikut merasakan peristiwaperistiwa yang terjadi dalam cerita tersebut, berarti tingkat apresiasi sastra kita sudah sampai
pada tingkat kedua, yaitu empati.
Tingkat ketiga atau tingkat tertinggi dalam apresiasi sastra adalah refleksi diri. Pada
tingkatan ini, seorang apresiator tidak hanya sekedar tergetar (simpati), atau dapat merasakan
(empati) saja, tetapi dapat melakukan refleksi diri atas nilai-nilai yang terkandung dalam
karya sastra itu. Dengan kata lain, pada tingkat ketiga ini seorang apresiator dapat memetik
nilai-nilai karya sastra sebagai sarana untuk berrefleksi, bercermin diri.
G. Aspek dalam apresiasi
Apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yakni 1) aspek kognitif, 2) aspek emotif, dan 3) aspek
evaluatif.
Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya
memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Unsur-unsur kesastraan yang
bersifat objektif tersebut, selain dapat berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal
terkandung dalam suatu teks sastra atau unsur intrinsik, juga dapat berkaitan dengan unsurunsur di luar teks yang secaralangsung menunjang kehadiran teks sastra itu sendiri.
Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya
menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca. Selain itu, unsur emosi
juga sangat berperanan dalam upaya memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. Unsur
subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat
konotatif-interpretatif serta dapat pula berupa unsur-unsur signifikan tertentu, misalnya
penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis.
Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baikburuk, indah tidak indah, sesuai-tidak sesuai serta sejumlah ragam penilaian lain yang tidak
harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca.
Dengan kata lain, keterlibatan unsur penilaian dalam hal ini masih bersifat umum sehingga
setiap apresiator yang telah mampu meresponsi teks sastra yang dibaca sampai pada tahapan
pemahaman dan penghayatan, sekaligus juga mampu melaksanakan penilaian.

Sejalan dengan rumusan pengertian di atas, Effendi dalam (Aminuddin,2002)


mengemukakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara
sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan kritis, dan
kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Juga disimpulkan bahwa kegiatan
apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab
dengan teks sastra yang diapresiasinya, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta
melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan
yang mampu memuaskan rohaniahnya.
Belajar apresiasi sastra pada hakikatnya adalah belajar tentang hidup dan kehidupan.
Melalui karya sastra, manusia akan memperoleh gizi batin, sehingga sisi-sisi gelap dalam
hidup dan kehidupannya bisa tercerahkan lewat kristalisasi nilai yang terkandung dalam
karya sastra. Teks sastra tak ubahnya sebagai layar tempat diproyeksikan pengalaman psikis
manusia. Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju proses globalisasi,
sastra menjadi makin penting dan urgen untuk disosialisasikan dan "dibumikan" melalui
institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk
watak dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai, para keluaran
pendidikan diharapkan mampu bersaing pada era global dengan sikap arif, matang, dan
dewasa.
H. Tujuan dan Manfaat dari Apresiasi Sastra
Tujuan dan Manfaat Apresiasi Sastra
1.

Melatih keempat keterampilan

berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.


2.
Menambah

pengetahuan

tentang pengalaman hidup manusia seperti adat istiadat, agama, kebudayaan, dsb.
Membantu
mengembangkan

3.

pribadi
4.
5.
6.

Membantu pembentukan watak


Memberi kenyamanan
Meluaskan dimensi kehidupan
dengan pengalaman baru (Wardani 1981)

Selain itu, manfaat lain dari apresiasi sastra, diantaranya :


1.

Nilai personal

Memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman yang dapat


terhayati, mengembangkan pandangan ke arah persoalan kemanusiaan, menyajikan
pengalaman yang bersifat emosional.
2.
Nilai pendidikan
Membantu perkembangan bahasa, meningkatkan kelancaran-kemahiran membaca,
meningkatkan keterampilan menulis, mengembangkan kepekaan terhadap sastra (Huck
1987).

10

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuk reaksi kinetik dan reaksi verbal seorang
pembaca terhadap karya sastra yang didengar atau dibacanya.
Istilah Apresiasi berasal dari bahasa latin Apreciation yang berarti mengindahkan.
Dalam konteks yang lebih luas itilah apresiasi menurut Gove dalam Aminuddin (1987:34)
mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan, dan (2) pemahaman dan
pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.
Apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yakni
1) aspek kognitif
2) aspek emotif, dan
3) aspek evaluatif.
Tujuan dan Manfaat Apresiasi Sastra

Melatih keempat keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan

menulis.
Menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia seperti adat istiadat, agama,

kebudayaan, dsb.
Membantu mengembangkan pribadi
Membantu pembentukan watak
Memberi kenyamanan
Meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru (Wardani 1981)

DAFTAR PUSTAKA

11

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra..Bandung: Sinar Baru Algesindo.


Dola, Abdullah. 2007. Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama. Makassar: Badan Penerbit
Universitas Negeri Makassar.

http://kikixxxxx.blogspot.co.id/2014/09/makalah-apresiasi-karya-sastra.html
http://dc347.4shared.com/doc/s_VcSJ_L/preview.html
http://putuwijaya.wordpress.com/2007/11/03/pengajaran-sastra
http://triratihmulyaningsih.blogspot.com/2014/01/latar-belakang-apresiasi-karya-sastra.html

TUGAS

12

APRESIASI DAN EKSPRESI SASTRA

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NOVITASARI
214 502 046

JURUSAN BAHASA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAKIDENDE
UNAAHA
2016

13