Anda di halaman 1dari 3

Karakteristik Bencana

Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi aktif yang ada di Indonesia. Gunung
Kelud memiliki ketinggian 1.731 mdpl. Gunung Kelud terbentang di sepanjang 3 kabupaten,
yakni Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Malang. Di sekitar komplek Gunung
Kelud terdapat 7 buah yang terdapat di sekitar pusat erupsi (puncak) maupun yang terdapat di
erupsi samping. Gunung Kelud merupakan Gunung Berapi tipe strato, Gunung Berapi tipe strato
memiliki karakteristik letusan eksplosif, bersifat sprint dalam jangka waktu yang sangat pendek,
letusannya dahsyat, dan tidak ditandai cicri-ciri visual letusan awal yang beraturan.
Pada tahun 2014, terjadi letusan Gunung Kelud setelah sebelumnya terakhir terjadi pada
tahun 2007 lalu. Letusan pada 2014 lalu dianggap lebih dahsyat daripada letusan yang terjadi
pada tahun 1990. Pada tanggal 13 Februari pukul 22.15 WIB, Gunung Kelud ditingkatkan
statusnya menjadi Awas sehingga radius 10 km dari puncak harus dikosongkan dari penduduk.
Selang waktu 40 menit kemudian yakni pukul 22.55 WIB, terjadi letusan Gunung Kelud dengan
menyemburkan awan panas dan debu vulkanik mencapai ketinggian 3.000 meter. Menurut
BMKG, abu dan pasir banyak terbawa ke beberapa arah angin, seperti pada lapisan 1.500 meter
yang terbawa ke arah timur laut, pada lapisan 5.000 meter terbawa kea rah barat laut, dan pada
lapisan 9.000 meter ke arah barat.
Letusan Gunung Kelud mengakibatkan warga harus mengungsi di tempat-tempat yang
lebih aman. Sebanyak 56.089 jiwa yang tersebar di beberapa daerah yakni Kediri, Blitar,
Malang, Batu, dan Jombang dinyatakan harus mengungsi. BNPB juga melaporkan bahwa ada 4
jiwa yang meninggal dunia akibat Erupsi Gunung Kelud.
Berikut ini merupakan kronologi terjadinya letusan Gunung Kelud:
1. Januari 2014
Terjadi peningkatan kegempaan yang terjadi di Gunung Kelud dengan kisaran
kejadian 22-150 per hari. Pada tanggal 27 Januari terjadi peningkatan dengan rata-rata
37 kejadian per hari.
2. 2 Februari 2014
Berdasarkan peningkatan kegempaan tersebut, status Gunung Kelud dinaikkan dari
normal (level I) menjadi waspada (level II)
3. 9 Februari 2014
Gempa-gempa yang terjadi relative membesar dengan jumlah yang juga meningkat,
sehingga statusnya dinaikkan dari waspada (level II) menjadi siaga (level III)
4. 13 Februari 2014

Pukul 22.15 : Berdasarkan hasil pemantauan serta potensi ancaman bahaya Gunung
Kelud maka status Gunung Kelud dinaikkan dari siaga (level III)
menjadi Awas (level IV). Warga tidak diperbolehkan melakukan
aktivitas pada radius 10 km dari kawah aktif.
Pukul 22.50 :petugas vulkanologi meninggalkan pos kelud
Pukul 22.55 : terjadi letusan pertama
Pukul 23.00 : terjadi letusan kedua
Pukul 23.23 : terjadi letusan ketiga
Pukul 23.29 : terjadi letusan besar
Pukul 23.36 : Hujan batu sampai ke pare
Pukul 23.41 : hujan kerikil sampai ke wates dan kota Kediri
Gubernur Jawa Timur telah menyatakan bahwa masa tanggap darurat erupsi Gunung
Kelud dimulai sejak 13 Februari 2014 hingga 12 Maret 2014.

Promosi Kesehatan
Bencana letusan Gunung Kelud mengakibatkan banyaknya warga yang harus mengungsi
di tempat pengungsian, yang mana warga ditempatkan di suatu tempat yang lebih aman. Dengan
jumlah pengungsi yang sangat banyak di suatu tempat pengungsian yang sama, maka dapat
meningkatkan risiko menularnya suatu penyakit. Maka dibutuhkan suatu kegiatan promosi
kesehatan dalam rangkan mencegah peningkatan penyakit yang dapat dengan mudah menular di
temapat pengungsian.
Berikut ini merupakan beberapa rencana kegiatan promosi kesehatan yang dapat
dilakukan di lokasi pengungsian letusan Gunung Kelud:
1. Penggunaan Masker
Letusan Gunung Keludmenyebabkan hujan abu yang merata di sekitar lokasi letusan. Abu
vulkanik yang tersebar terbawa angin tersebut dapat masuk ke dalam organ tubuh manusia
melalui saluran pernafasan yang dapat mengakibatkan penyakit-penyakit di saluran
pernafasan misalnya ISPA. Hal tersebut dapat dicegah dengan penggunaan masker pada
seluruh pengungsi. Promosi kesehatan penggunaan masker dapat dilakukan dengan
menggunakan media KIE.
2. Cuci tangan pakai sabun
Pada situasi darurat, air yang ada di tempat pengungsian tidak dijamin kebersihannya atau
mungkin mengandung banyak kuman yang dapat menyebabkan penyakit. Apabila tidak
menggunakan sabun saat mencuci tangan maka kuman akan menempel di tangan dan dapat

masuk ke dalam tubuh bersamaan dengan makanan yang dimakan oleh pengungsi. Promosi
kesehatan cuci tangan pakai sabun juga dapat dilakukan dengan media KIE.
3. Imunisasi dan pemberian vitamin
tempat pengungsian tentunya dihuni oleh pengungsi dari berbagai umur. Bayi dan balita
termasuk juga pengungsi yang rawan terhadap penularan penyakit di tempat pengungsian.
Untuk mencegah hal tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan posyandu di tempat
pengungsian dengan melakukan imunisasi dan pemberian vitamin kepada pengungsi bayi dan
balita.
4. Penggunaan air bersih
Air bersih merupakan kebutuhan penting yang harus ada di tempat pengungsi. Setiap orang
pengungsi membutuhkan 15 liter per hari. Kebutuhan tersebut digunakan untuk kegiatan
personal hygiene para pengungsi. Air yang digunakan diharapkan merupakan air bersih yang
bebas kuman dan bakteri sehingga tidak menularkan penyakit kepada pengungsi.
5. Penggunaan jamban
Jamban tentulah juga merupakan sesuatu yang harus ada di tempat pengungsian. Dalam
keadaan darurat biasanya jamban yang digunakan juga merupakan jamban darurat.
Sosialisasi penggunaan jamban kepada pengungsi sangatlah penting karena apabila para
pengungsi tidak menggunakan jamban dan buang air sembarangan, maka hal tersebut dapat
menularkan berbagai macam penyakit di tempat pengungsian.
6. Membuang sampah pada tempatnya
Di tempat pengungsian tentulah sangat padat dengan tempat yang terbatas dan jumlah
pengungsi yang sangat banyak. Apabila kebersihan di sekitar tempat pengungsian tidak
dijaga maka hal tersebutlah yang dengan mudah dapat menularkan penyakit, sehingga perlu
adanya promosi kesehatan terkait membuang sampah pada tempatnya. Promosi kesehatan
tersebut dapat dilakukan dengan media KIE.