Anda di halaman 1dari 13

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sasaran

Mahasiswa

Waktu

90 menit

Kompetensi Umum :

Bahaya HIV AIDS

Komptensi Khusus :

Indikator

Pengertian HIV / AIDS


Sejarah HIV/AIDS
Penyebab HIV AIDS
Dampak HIV AIDS
Pengobatan HIV AIDS

Pengertian HIV/AIDS
Sejarah HIV/AIDS
Penyebab HIV/AIDS
Cara penularan HIV/AIDS
Mitos-mitos tentang penularan HIV/AIDS
Gejala-gejala HIV/AIDS
Dampak HIV/AIDS
Cara Pengobatan HIV/AIDS
Pencegahan HIV/AIDS

Tujuan Pengajaran :

Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian


HIV/AIDS
Mahasiswa mampu menjelaskan sejarah singkat
HIV/AIDS
Mahasiswa mampu menjelaskan penyebab
HIV/AIDS
Mahasiswa mampu menjelaskan cara penularan
HIV/AIDS
Mahasiswa mampu menjelaskan mitos-mitos
HIV/AIDS
Mahasiswa mampu menjelaskan gejala-gejala
dari HIV/AIDS
Mahasiswa mampu menjelaskan dampak dari
HIV/AIDS
Mahasiswa
mampu
menjelaskan
cara
pengobatan HIV/AIDS
Mahasiswa mampu menjelaskan pencegahan
HIV/AIDS
Metode

:
Ceramah
Tanya jawab

Medis pembelajaran

:
Laptop, LCD
Video tentang kisah pengidap HIV / AIDS

Kegiatan Pembelajaran

RINCIAN KEGIATAN
Pendahuluan
1.
Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk proses belajar
mengajar (memberikan salam, presensi/absensi, menyiapkan media
dan alat serta buku yang diperlukan).
2.
Melakukan kontrak waktu perkuliahan. Namun sebelumnya secara
khusus dosen mengadakan sesi perkenalan (minimal sebut nama dan
asal), terakhir dosen memperkenalkan diri.
3.
Memberikan motivasi
4.
Dosen menyampaikan garis besar materi tentang HIV/AIDS
Kegiatan Inti
1.
Dosen memperlihatkan video tentang kisah pengidap HIV / AIDS
2.
Dosen memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mengemukakan pendapatnya mengenai video yang telah ditampilkan
3.
Dosen memberi penjelasan mengenai pengertian HIV/AIDS
4.
Dosen kembali menanyakan kepada peserta didik apa perbedaan HIV
dan AIDS dari penjelasan pengertian HIV/AIDS
5.
Dosen menjelaskan secara singkat sejarah penemuan HIV/AIDS
6.
Dosen menjelaskan penyebab terjadinya HIV/AIDS
7.
Dosen memberikan penjelasan cara penularan HIV/AIDS
8.
Dosen mendorong peserta didik untuk menyebutkan mitos-mitos
tentang penularan HIV/AIDS yang berkembang di masyarakat
9.
Dosen menjelaskan mitos-mitos serta fakta tentang penularan
HIV/AIDS
10.
Dosen menjelaskan gejala-gejala HIV/AIDS
11.
Dosen menjelaskan cara pengobatan HIV/AIDS
12.
Dosen menjelaskan cara-cara pencegahan HIV/AIDS
Penutup
1.
Klarifikasi/kesimpulan peserta didik dibantu oleh dosen
menyimpulkan materi tentang HIV/AIDS
2.
Peserta didik melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran
dan pelajaran apa yang diperoleh setelah belajar tentang materi
HIV/AIDS
3.
Dosen melakukan evaluasi untuk mengukur ketercapian tujuan
pembelajaran, misalnya dengan mengajukan pertanyaan:
Jelaskan sejarah singkat ditemukannya HIV!
Apa saja yang menyebabkan HIV/AIDS?
Bagaimana gejala-gejala yang timbul pada pengidap
HIV/AIDS?

Waktu

15
menit

55
menit

20
menit

4.

Dosen menutup perkuliahan dan mengucapkan salam

Materi
1. Pengertian HIV/AIDS
a.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang dapat
menyebabkan AIDS. HIV termasuk keluarga virus retro yaitu virus yang
memasukan materi genetiknya ke dalam sel tuan rumah ketika melakukan
cara infeksi dengan cara yang berbeda (retro), yaitu dari RNA menjadi DNA,
yang kemudian menyatu dalam DNA sel tuan rumah, membentuk pro virus
dan kemudian melakukan replikasi.
b.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan dampak atau
efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus
HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang
mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah
atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel
CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
2. Sejarah HIV/AIDS
Virus HIV dikenal secara terpisah oleh para peneliti di Institut Pasteur
Perancis pada tahun 1983 dan NIH yaitu sebuah institut kesehatan nasional di
Amerika Serikat pada tahun 1984. Meskipun tim dari Institute Pasteur Perancis
yang dipimpin oleh Dr. Luc Montagnie, yang pertama kali mengumumkan
penemuan ini di awal tahun 1983 namun penghargaan untuk penemuan virus ini
tetap diberikan kepada para peneliti baik yang berasal dari Perancis maupun
Amerika. Peneliti Perancis memberi nama virus ini LAV atau lymphadenopathy
associated virus. Tim dari Amerika yang dipimpin Dr. Robert Gallo menyebut
virus ini HTLV-3 atau human T-cell lymphotropic virus type-3. Kemudian Komite
Internasional untuk Taksonomi Virus memutuskan untuk menetapkan nama
human immunodeficiency virus (HIV) sebagai nama yang dikenal sampai
sekarang makapara peneliti tersebut juga sepakat untuk menggunakan istilah HIV.
Sesuai dengan namanya, virus ini memakan imunitas tubuh.
Penyakit AIDS telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu
singkat terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak
negara. Dikatakan pula bahwa epidemic yang terjadi tidak saja mengenal penyakit

(AIDS), virus (HIV) tetapi juga reaksi/dampak negative berbagai bidang seperti
kesehatan, social, ekonomi, politik, kebudayaan dan demografi. Hal ini
merupakan tantangan yang harus diharapi baik oleh negara maju maupun negara
berkembang.
3. Penyebab HIV/AIDS
Penyakit ini akan menular melalui pertukaran darah dan cairan tubuh lain. Kontak
secara langsung tanpa melibatkan cairan tertentu sama sekali tidak berbahaya.
4. cara penularan HIV/AIDS
Cara penularan HIV/AIDS yaitu:
a. Melalui hubungan seksual dengan orang yang terjangkit HIV
b. Pemakaian jarum suntik bekas orang yang terinfeksi HIV
c. Menerima transfusi darah yang tercemar HIV
d. Dari ibu HIV-positif ke bayi dalam kandungan yaitu saat melahirkan dan saat
menyusui.
5. Mitos HIV/AIDS
Seiring berkembangnya HIV, masyarakat semakin meningkatkan
kewaspadaan agar tidak tertular virus mematikan ini. Beberapa mitos muncul
sehingga seringkali membuat kerancuan pada masyarakat tanpa ada fakta yang
meluruskannya. Beberapa fakta berikut dapat menjadi jawaban bagi mitos-mitos
seputar HIV :
a. Terserang HIV berarti terkena AIDS
Mitos : HIV merupakan virus yang menghancurkan sel kekebalan tubuh CD4
yang membantu melawan penyakit. Dengan pengobatan yan tepat, Anda dapat
memiliki HIV bertahun-tahun tanpa berkembang menjadi AIDS. AIDS
didiagnosis ketika Anda memiliki HIV dan infeksi oportunistik tertentu, atau
jumlah CD4 turun dibawah 200.
Sulit terkena HIV dari kontak langsung
Fakta : Anda tidak dapat menangkap atau menyebar HIV hanya karena
memeluk seseorang, menggunakan handuk yang sama, atau berbagi gelas
yang sama. Namun, Anda dapat menyebarkan virus HIV melalui seks bebas
tanpa kondom, berbagi jarum, melalui transfusi darah atau membuat tato dari
peralatan yang tidak steril.
b.

Waktu hidup singkat

Mitos : Setiap orang memiliki pengalaman HIV yang berbeda. Beberapa


orang dapat mengembangkan AIDS dalam beberapa bulan saja sebagai virus
yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan ada pula yang memiliki
harapan hidup yang normal. Pencegahan HIV menjadi AIDS dapat dilakukan
dengan melakukan pemeriksaan teratur dan mengikuti rekomendasi dokter.
c.

Anda tahu Anda terkena HIV berdasarkan gejalanya


Mitos : Sebagian orang tidak menunjukkan gejala HIV selama bertahuntahun setelah terinfeksi. Namun banyak juga yang menunjukkan gejala dalam
10 hari hingga beberapa bulan setelah terinfeksi. Gejala pertama tersebut
serupa dengan gejala flu atau mononucleosis yang biasanya berupa demam,
letih, dan radang tenggorokan. Gejala tersebut dapat hilang setelah beberapa
minggu, dan Anda tidak akan memiliki gejala serupa dalam beberapa tahun ke
depan. Cara terbaik untuk mendeteksi keberadaan HIV adalah dengan
melakukan tes.

d.

HIV dapat disembuhkan


Mitos : HIV tidak dapat disembuhkan tapi pengobatan dapat menjaga virus
melemah dan membantu pengaturan sistem kekebalan tubuh. Beberapa obat
mengganggu dengan adanya protein HIV yang perlu untuk menyalin dirinya,
sedangkan yang lainnya menahan virus masuk atau memasukkan materi
genetikke dalam sel-sel kekebalan tubuh. Dokter akan mempertimbangkan
kesehatan umum, kesehatan sistem kekebalan,dan jumlah virus dalam tubuh
untuk memutuskan kapan untuk memulai pengobatan.

e.

Setiap orang dapat terkena HIV


Fakta : Sekitar 56 ribu orang di Amerika terkena HIV setiap tahunnya, dan 18
ribu orang dengan AIDS meninggal tiap tahun. Setiap orang dapat terkena
HIV, baik itu pria, wanita, anak-anak, kaum homoseksual dan normal. Pria
yang berhubungan seks dengan pria membuat lebih dari setengah (53%)
infeksi baru HIV setiap tahun. Wanita berjumlah 27% dan anak-anak 13%.

Ras Afrika-Amerika membuat hampir setengah dari seluruh infeksi baru HIV
setiap tahun.
f.

Seks menjadi aman ketika kedua pasangan memiliki HIV


Mitos : Hanya karena Anda dan pasangan sama-sama memiliki HIV, bukan
berarti Anda harus melupakan tentang perlindungan saat berhubungan badan.
Menggunakan kondom atau penahan berbahan karet dapat melindung Anda
dari berbagai penyakit seksual lainnya. Meskipun Anda telah mendapatkan
pengobatan dan merasa lebih baik, Anda masih dapat menyebarkannya pada
orang lain.

g.

Anda juga dapat memiliki bayi dengan HIV-positif


Fakta : Ibu yang terinfeksi memang dapatmenularkan HIV kepada bayinya
selama kehamilan atau persalinan. Namun, Anda dapat menurunkan risiko
dengan bekerja sama dengan dokter dan mendapatkan perawatan yang tepat
dan pengobatan. Wanita hamil dengan HIV dapat mengambil obat untuk
mengobati infeksi dan untuk melindungi bayi mereka terhadap virus.

h.

Anda

tidak

dapat

menghindari

HIV

dan

infeksi

terkait

lainnya

Mitos : Akibat sistem kekebalan tubuh yang lemah, orang dengan HIV rentan
terhadap infeksi seperti pneumonia,pneumosistis, ttuberkolosis, kandidiasis
,cytomegalovirus, dan toksoplasmosis. Cara terbaik untuk mengurangi risiko
tersebut adalah dengan mengonsumsi obat HIV. Beberapa infeksi dapat
dicegah dengan obat-obatan. Anda dapat mengurangi eksposur Anda ke
beberapa kuman dengan menghindari daging yang kurang matang, kotak
sampah,dan air yang mungkin terkontaminasi.
i.

Tanpa

asuransi,

anda

tidak

dapat

memperoleh

obat

Mitos : Ada program-program pemerintah, kelompok nirlaba, dan beberapa


perusahaan farmasi yang dapat membantu menutupi biaya HIV/obat AIDS.
Lakukan

konsultasi

dengan

Lembaga

Swadaya

Masyarakat

HIV/AIDS untuk memudahkan Anda mengatur financial obat tersebut.


6. Gejala HIV/AIDS

(LSM)

a. Gejala Awal
Semua penderita HIV AIDS biasanya memiliki beberapa gejala yang
berbeda. Setiap tahap awal biasanya menghasilkan gejala seperti penyakit
biasa. Infeksi HIV biasanya akan meningkatkan gejala setelah masa virus
masuk ke dalam tubuh antara 2 hingga 6 minggu. Tubuh akan mengirimkan
respon yang menandakan bahwa virus sudah masuk ke dalam tubuh. Gejala
awal ini bisa muncul dalam beberapa waktu yang berbeda, bahkan ada
penderita HIV yang tidak pernah merasakan gejala hingga lebih dari 8 tahun.
Berikut ini beberapa gejala HIV AIDS awal yang umum terjadi :
1. Demam tinggi yang terkadang sembuh sendiri, namun bisa muncul lagi
dalam waktu mendadak.
2. Rasa sakit pada tenggorokan dan biasanya rasa sakit lebih sering dilihat
sebagai gejala flu.
3. Ada ruam kemerahan dan hitam pada di atas kulit.
4. Tubuh akan terasa lebih lelah dan tidak bisa melakukan aktivitas dengan
bebas.
5. Rasa sakit pada semua bagian persendian dan otot.
6. Terjadi pembengkakan pada bagian kelenjar yang tidak disertai dengan
rasa sakit.
7. Sakit kepala yang sangat parah dan bisa menyebabkan penderita tidak
bisa bangun atau membuka mata.
b. Gejala Tahap Lanjut
Pada tahap yang lebih lanjut maka sebenarnya penderita justru tidak
merasakan gejala seperti pada tahap awal. Virus akan berkembang dalam
tubuh dan tidak menyebabkan rasa sakit. Padahal selama periode ini
sebenarnya virus berkembang dan merusak sistem tubuh. Perawatan dan
pengobatan yang dilakukan pada tahap lanjut berfungsi untuk mengendalikan
pertumbuhan sel dan menjaga kerusakan organ. Biasanya masa tahap lanjut

bisa mencapai 10 tahun atau lebih tergantung dari kondisi penderita. Pada
tahap ini penderita tetap bisa memiliki potensi menularkan HIV meskipun
virus yang berkembang dalam tubuh jumlahnya sudah lebih kecil.
c. Gejala Tahap Akhir
Pada tahap akhir biasanya infeksi virus HIV sudah menjadi AIDS yang berarti
bahwa tubuh sudah mengalami beberapa perubahan yang sangat besar untuk
kesehatan. Virus HIV yang telah berkembang akan mengalami perubahan dan
menggerogoti sistem kekebalan tubuh. Berikut ini beberapa gejala HIV AIDS
yang bisa muncul.
1. Sistem kekebalan tubuh yang terus melemah dan mudah terserang
penyakit.
2. Berat badan menurun cepat dan tanpa alasan khusus.
3. Banyak mengeluarkan keringat terutama pada malam hari meskipun saat
cuaca panas dan dingin.
4. Merasakan lelah yang sangat panjang dan membuat tubuh tidak bisa
digunakan untuk beraktivitas.
5. Terjadi pembengkakan kelenjar pada bagian ketiak, leher maupun
selangkangan.
6. Gangguan pencernaan yang bisa
berlebihan selama beberapa minggu.

menyebabkan diare dan

muntah

7. Banyak luka kecil yang ditemukan pada bagian mulut, alat kelamin
hingga anus.
8.

Penderita akan mengalami depresi yang menyebabkan kehilangan ingatan


dan depresi yang mengacaukan mental.

7. Dampak HIV/AIDS
Dampak HIV/AIDS Terhadap Kehidupan
1. Dampak Demograf

Salah satu efek jangka panjang endemi HIV dan AIDS yang telah meluas
seperti yang telah terjadi di Papua adalah dampaknya pada indikator
demografi. Karena tingginya proporsi kelompok umur yang lebih muda
terkena penyakit yang membahayakan ini, dapat diperkirakan nantinya akan
menurunkan angka harapan hidup. Karena semakin banyak orang yang
diperkirakan hidup dalam jangka waktu yang lebih pendek, kontribusi yang
diharapkan dari mereka pada ekonomi nasional dan perkembangan sosial
menjadi semakin kecil dan kurang dapat diandalkan. Hal ini menjadi masalah
yang penting karena hilangnya individu yang terlatih dalam jumlah besar tidak
akan mudah dapat digantikan. Pada tingkat makro, biaya yang berhubungan
dengan kehilangan seperti itu, seumpama meningkatnya pekerja yang tidak
hadir, meningkatnya biaya pelatihan, pendapatan yang berkurang, dan sumber
daya yang seharusnya dipakai untuk aktivitas produktif terpaksa dialihkan
pada perawatan kesehatan, waktu yang terbuang untuk merawat anggota
keluarga yang sakit, dan lainnya,juga akan meningkat.

2. Dampak Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan


Tingginya tingkat penyebaran HIV dan AIDS pada kelompok manapun berarti
bahwa semakin banyak orang menjadi sakit, dan membutuhkan jasa pelayanan
kesehatan. Perkembangan penyakit yang lamban dari infeksi HIV berarti
bahwa pasien sedikit demi sedikit menjadi lebih sakit dalam jangka aktu yang
panjang, membutuhkan semakin banyak perawatan kesehatan. Biaya langsung
dari perawatan kesehatan tersebut semakin lama akan menjadi semakin besar.
Diperhitungkan juga adalah waktu yang dihabiskan oleh anggota keluarga
untuk merawat pasien, dan tidak dapat melakukan aktivitas yang produktif.
Waktu dan sumber daya yang diberikan untuk merawat pasien HIV dan AIDS
sedikit demi sedikit dapat mempengaruhi program lainnya dan menghabiskan
sumber daya untuk aktivitas kesehatan lainnya. Penelitian yang dilakukan oleh
John Kaldor dkk pada tahun 2005 memprediksi bahwa pada tahun 2010, bila
upaya penanggulangan tidak ditingkatkan maka 6% tempat tidur akan
digunakan oleh penderita AIDS dan di Papua mencapai 14% dan pada tahun
2025 angka angka tersebut akan menjadi 11% dan 29%. Meningkatnya
jumlah penderita AIDS berarti meningkatnya kebutuhan ARV. Rusaknya
sistem kekebalan tubuh telah memperparah masalah kesehatan masyarakat
yang sebelumnya telah ada yaitu tuberkulosis. Banyak penelitian yang
menunjukkan bahwa kejadian TB telah meningkat secara nyata di antara kasus
HIV. TB masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
utama di Indonesia dimana setiap tahunnya ditemukan lebih dari 300.000

kasus baru, maka perawatan untuk kedua jenis penyakit ini harus dilakukan
secara bersamaan.
3. Dampak Terhadap Ekonomi Nasional
Mengingat bahwa HIV lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka
yang berada pada umur produktif utama (94% pada kelompok usia 19 sampai
49 tahun), epidemi HIV dan AIDS memiliki dampak yang besar pada
angkatan kerja, terutama di Papua. Epidemi HIV dan AIDS akan
meningkatkan terjadinya kemiskinan dan ketidak seimbangan ekonomi yang
diakibatkan oleh dampaknya pada individu dan ekonomi. Dari sudut pandang
individu HIV dan AIDS berarti tidak dapat masuk kerja, jumlah hari kerja
yang berkurang, kesempatan yang terbatas untuk mendapatkan pekerjaan
dengan gaji yang lebih baik dan umur masa produktif yang lebih pendek.
Dampak individu ini harus diperhitungkan bersamaan dengan dampak
ekonomi pada anggota keluarga dan komunitas. Dampak pada dunia bisnis
termasuk hilangnya keuntungan dan produktivitas yang diakibatkan oleh
berkurangnya semangat kerja, meningkatnya ketidakhadiran karena izin sakit
atau merawat anggota keluarga, percepatan masa penggantian pekerja karena
kehilangan pekerja yang berpengalaman lebih cepat dari yang seharusnya,
menurunnya produktivitas akibat pekerja baru dan bertambahnya investasi
untuk melatih mereka. HIV dan AIDS juga berperan dalam berkurangnya
moral pekerja (takut akan diskriminasi, kehilangan rekan kerja, rasa khawatir)
dan juga pada penghasilan pekerja akibat meningkatnya permintaan untuk
biaya perawatan medis dari pusat pelayanan kesehatan para pekerja, pensiun
dini, pembayaran dini dari dana pensiun akibat kematian dini, dan
meningkatnya biaya asuransi. Pengembangan program pencegahan dan
perawatan HIV di tempat kerja yang kuat dengan keikutsertaan organisasi
manajemen dan pekerja sangatlah penting bagi Indonesia. Perkembangan
ekonomi akan tertahan apabila epidemi HIV menyebabkan kemiskinan bagi
para penderitanya sehingga meningkatkan kesenjangan yang kemudian
menimbulkan lebih banyak lagi keadaan yang tidak stabil. Meskipun
kemiskinan adalah faktor yang paling jelas dalam menimbulkan keadaan
resiko tinggi dan memaksa banyak orang ke dalam perilaku yang beresiko
tinggi, kebalikannya dapat pula berlaku pendapatan yang berlebih, terutama
di luar pengetahuan keluarga dan komunitas dapat pula menimbulkan resiko
yang sama. Pendapatan yang besar (umumnya tersedia bagi pekerja terampil
pada pekerjaan yang profesional) membuka kesempatan bagi individu untuk
melakukan perilaku resiko tinggi yang sama: berpergian jauh dari rumah,
pasangan sex yang banyak, berhubungan dengan PS, obat terlarang, minuman
keras, dan lainnya.

4. Dampak Terhadap Tatanan Sosial


Adanya stigma dan diskriminasi akan berdampak pada tatanan sosial
masyarakat. Penderita HIV dan AIDS dapat kehilangan kasih sayang dan
kehangatan pergaulan sosial. Sebagian akan kehilangan pekerjaan dan sumber
penghasilan yang pada akhirnya menimbulkan kerawanan sosial. Sebagaian
mengalami keretakan rumah tangga sampai perceraian. Jumlah anak yatim
dan piatu akan bertambah yang akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh
sebab itu keterbukaan dan hilangnya stiga dan diskriminasi sangat perlu
mendapat perhatian dimasa mendatang.
8. Cara pengobatan HIV/AIDS
Melihat sangat berbahayanya penyakit ini, berbagai usaha telah dilakukan dalam
pengembangan penelitian obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan
yang terus berkembang hingga saat ini memiliki target yaitu enzim-enzim yang
dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang.
Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan
menghambat kerja enzim-enzim. Sehingga pada akhirnya akan menghambat
Tes HIV
Tes HIV merupakan suatu tes untuk mengetahui apakah kita terinfeksi virus HIV
atau tidak. Tes ini mencari antibodi terhadap HIV di dalam tubuh. Antibodi
adalah suatu protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk menyerang
kuman tertentu. Antibodi terhadap semua kuman berbeda, jadi bila ditemukan
antibodi terhadap HIV dalam darah, artinya kita terinfeksi virus HIV.
9. Pencegahan HIV/AIDS
Beberapa hal yang bisa dilakukan agar semakin sedikit orang yang terkena , yaitu
dengan:
a. Menghindari Free Sex sebisa mungkin
b. Usahakan hanya melakukan hunungan seksual dengan 1 pasangan
Memberikan vaksinanasi jika ibu hamil positif HIV agar bayi kemungkinan
kecil terkena HIV
Tidak
mendonorkan
darah
jika
sudah
terkena
HIV
Adapun usaha lain yang dapat dilakukan yaitu :
memberikan penyuluhan/informasi kepada seluruh masyarakat tentang
HIV/AIDS , melalui penyebaran brosur, poster-poster yang berhubungan dengan

HIV/AIDS , dan melalui iklan di media massa baik itu media cetak/ media
elektronik.

Anda mungkin juga menyukai