Anda di halaman 1dari 28

Secara etimologi, Kromatografi berasal dari bahasa yunani yang berarti warna dan

tulis. Kromatografi gas (GC), merupakan jenis kromatografi yang digunakan dalam kimia
organik untuk pemisahan dan analisis, Oleh karena itu, senyawa-senyawa kimia yang akan
dipisahkan haruslah dalam bentuk gas pula. GC dapat digunakan untuk menguji kemurnian dari
bahan tertentu, atau memisahkan berbagai komponen dari campuran. Kromatologi gas
memisahkan suatu campuran berdasarkan kecepatan migrasinya di dalam fasa diam yang dibawa
oleh fasa gerak. Sedangkan perbedaan migrasi ini disebabkan oleh adanya perbedaan interaksi
diantara senyawa-senyawa kimia tersebut (di dalam campuran) dengan fasa diam dan fasa
geraknya. Interaksi ini adalah adsorbsi, partisi, penukar ion dan jel permiasi.
Kromatografi gas termasuk dalam salah satu alat analisa (analisa kualitatif dan analisa
kuantitatif), kromatografi gas dijajarkan sebagai cara analisa yang dapat digunakan untuk
menganalisa senyawa-senyawa organik. Kita telah mengetahui bahwa ada dua jenis kromatografi
gas, yatiu kromatografi gas padat (KGP), dan kromatografi gas cair (KGC). Dalam kedua hal ini
sebagai fasa bergerak adalah gas (hingga keduanya disebut kromatografi gas), tetapi fasa
diamnya berbeda. Meskipun kedua cara tersebut mempunyai banya persamaan. Perbedaan antara
kedunya

hanya

tentang

cara

kerja.

Pada kromatografi gas padat (KGP) terdapat adsorbsi dan pada kromatografi gas cair (KGC)
terdapat partisi (larutan). Kromatografi ga padat (KGP) digunakan sebelum tahun 1800 untuk
memurnikan gas. Metode ini awalnya kurang berkembang. Penemuan jenis-jenis padatan baru
sebagi hasil riset memperluas penggunaan metode ini. Kelemahan metode ini mirip dengan
kromatografi cair padat. Sedangkan kromatografi gas cair sering disebut oleh para pakar kimia
organic sebagai kromatografi fasa uap. Pertama kali dikenalkan oleh James dan Martin pada
tahun 1952. Metode ini paling banyak digunakan karena efisien, serba guna, cepat dan peka.
Cuplikan dengan ukuran beberapa microgram sampel dengan ukuran 10 gram masih dapat
dideteksi. Sayangnya komponen cuplikan harus mempunyai tekanan beberapa torr pada suhu
kolom.

Gambar 1 dan 2. Alat kromatografi gas

2.

KOMPONEN

KOMPONEN

PADA

KROMATOGRAFI

GAS

Pada dasarnya komponen penting pada yang harus ada pada setiap alat kromatografi gas adalah :
1. Tangki pembawa gas
2. Pengatur aliran dan pengatur tekanan
3. tempat injeksi
4. kolom
5. detektor
6. rekorder

Gambar 3. Skema Peralatan Kromatografi Gas

1. Tangki pembawa gas


Fungsi gas pembawa adalah mengangkut cuplikan dalam kolom ke detektor. Bermacammacam gas telah digunakan dalam KGC, misalnya, hydrogen, helium, helium, memungkinkan
difusi yang lebih longitudinal dari solute, yang cenderung menurunkan efisiensi kolom, terutama
pada laju arus yang lebih rendah. Maka nitrogen mungkin merupkan suatu pilihan yang lebih
baik untuk gas-pembawa agar dapat dilakukan suatu pemisahan yang benar-benar sukar.
Pemilihan gas pembawa hars disesuaikan dengan jenis detektor yang digunakan. Hubungan
antara gas pembawa dengan detektor dinyatakan dalam table di bawah ini :
Gas pembawa DHP
DIN
Helium
X
X
Hydrogen
X
Nitrogen
X
X
Argon
DHP = detektor hantaran panas (TCD)
DIN

= detektor ionisasi nyala (FID)

DIE

= detektor tangkapan nyala (ECD)

DFN

= detektor fotometri nyala

DTE
x
x

DFN
x
-

Gambar 4. Tangki pembawa gas


2. Pengatur Aliran dan Pengatur Tekanan
Ini disebut pengatur atau pengurang Drager. Drager bekerja baik pada 2,5 atm, dan
mengalirkan massa aliran dengan tetap. Tekanan lebih pada tempat masuk dari kolom
diperlukan untuk mengalirkan cuplikan masuk ke dalam kolom. Ini disebabkan, kenyataan
lubang akhir dari kolom biasanya mempunyai tekanan atmosfir biasa. Juga oleh kenyataan

bahwa suhu kolom adalah tetap, yang diatur oleh thermostat, maka aliran gas tetap yang masuk
kolom akan tetap juga.
Demikian juga komponen-komponen akan dielusikan pada waktu yang tetap yang
disebut waktu penahanan (the retention time), t R. Karena kecepatan gas tetap, maka komponen
juga mempunyai volume karakteristik terhadap gas pengangkut = volume penahanan (the
retention volume), vr. Kecepatan gas akan mempengaruhi effisiensi kolom.
Harga-harga yang umum untuk kecepatan gas untuk kolom yang memiliki diameter
luar.
1/4" O.D : kecepatan gas 75 ml/min
1/8" O.D : kecepatan gas 25 ml/min.
3. Tempat Injeksi
Sejumlah kecil sampel yang akan dianalisis diinjeksikan pada mesin menggunakan
semprit kecil. Jarum semprit menembus lempengan karet tebal (Lempengan karet ini disebut
septum) yang mana akan mengubah bentuknya kembali secara otomatis ketika semprit ditarik
keluar dari lempengan karet tersebut.
Injektor berada dalam oven yang mana temperaturnya dapat dikontrol. Oven tersebut
cukup panas sehingga sampel dapat mendidih dan diangkut ke kolom oleh gas pembawa
misalnya helium atau gas lainnya.

Gambar 5. Injektor ports


4. Kolom
Jika suatu cuplikan dianalisis dengan GC maka pemisahan terjadi pada kolom. Kolom di
dalam GC sering disebut dengan jantung GC. Hal ini disebabkan karena keberhasilan suatu

analisis ditentukan oleh tepat dan tidaknya kolom yang dipilih serta jenis cuplikan yang akan
dianalisis.
Kolom GC terdiri dari 3 bagian yaitu wadah luar yang terbuat dari logam (tembaga, baja
tahan karat, nikel),gelas atau plastik mislanya teflon dan isi kolom yang terdiri dari padtan
pendukung dan fasa cairan.
Kolom isian
Fasa stasioner dalam kromatografi gas cair (KGC) adalah cairan, tetapi cairan itu tidak
boleh dibiarkan bergerak gerak di dalam tabung. Cairan tersebut harus dimobilisasi, biasanya
dalam bentuk satu lapisan tipis dengan luas permukaan besar. Ini paling lazim dilakukan dengan
mengimpregnasi suatu bahan padat dengan fasa cair sebelum kolom diisi. Padatan tersebut harus
bersifat inert secara kimiawi terhadap zat zat yang nantinya akan dikromatografikan, stabil
pada temperatur operasi, dan memilki luas permukaan yang besar persatuan berat. Penurunan
tekanan yang dibutuhkan untuk laju alir gas yamg diinginkan harus tidak boleh berlebihan.
Kekuatan mekanis lebih diinginkan agar partikel partikelnya tidak pecah dan mengubah
distribusi ukuran partikel dengan penanganan. Kebanyakan padatan yang digunakan sebagai
penyangga pada KGC sangat berpori. Adsorben aktif seperti karbon aktif dan silika gel adalah
penyangga padat yang buruk. Bahkan jika dilapisi dengan lapisan cairan tipis maka padatan ini
akan menyerap komponen komponen sampel yang menyebabkan pengekoran (tailing). Bahan
penyangga padat yang paling umum adalah tanah diatom. Untuk dapat digunakan sebagai
penyangga padatan maka tanah diatom dijadikan seperti bata dan dipanaskan di dalam tanur
kemudian digerus halus sampai dan disaring dengan ukuran mesh tertentu.
Pemilihan fasa cair
Fasa cair harus dipilih dengan mempertimbangkan masalah pemisahan tertentu.
Cairan tersebut harus memiliki tekanan uap yang sangat rendah pad temperatur kolom; sebuah
petunjuk praktis mengusulkan suatu titik didih sekurang kurangnya 200 0C di atas temperatur di
mana cairan akan diberikan. Dua alasan penting untuk menginginkan volatilitas yang rendah
adalah pertama, hilangnya cairan akan menghancurkan kolom itu, dan kedua, detektor akan
memberi respon pada uap fasa stasioner dengan hasil penyimpangan pada garis dasar perekam
dan menurunkan kepekaan terhadap komponen komponen sampel yang dianalisis.
Jelas, fasa cair harus stabil secara termal pada temperatur kolom, dan kecuali dalam kasus
kasus khusus, cairan itu tidak bereaksi secara kimia dengan komponen komponen sampel.

Cairan tersebut harus memiliki daya pelarut yang cukup untuk sampel. Mengingat aturan lama
bahwa sejenis melarutkan sejenis , bisa dinyatakan bahwa secara umum seharusnya ada sedikit
kesamaan kimiawi antara zat cair dan zat terlarut yang dipisahkan.
Jumlah cairan yang diberikan pada penyangga padatan adalah penting. Jika terlalu banyak cairan,
zat terlarut akan menghabiskan terlalu banyak waktu berdifusi ke fasa cair, dan efisiensi
pemisahan menjadi berkurang. Terlalu sedikit cairan menyebabkan zat terlarut berinteraksi
dengan padatan itu sendiri., adsorpsi dapat menyebabkan pengekoran dan tumpang tindihnya pita
pita elusi. Pemuatan cairan berbeda beda dengan sifat penyangga padatan, ukuran sampel
yang diantisispasi dan faktor faktor lain, tetapi umumnya dalam rentang 2 atau 3 sampai sekitar
20% berat cairan. Biasanya padatan diolah dengan suatu larutan dari cairan yang diinginkan
dalam suatu pelaut yang volatil, dimana pelarut dipindahkan dengan pemanasan dan selanjutnya
dibuang dengan gas pembawa.

Gambar 6. Kolom paking


5. Detektor
Berbeda dengan alat analisis lainnya, detektor pada kromatografi gas pada umumnya
lebih beraneka ragam. Hal ini disebabkan detektor pada GC mendeteksi aliran bahan kimia dan
bukan berkas sinar seperti pada spektrofotometer. Beberapa pertimbangan dalam merancang
suatu detektor dapat dikemukan sebagai berikut :
1. Detektor GC harus dapat mendeteksi dalam waktu beberapa detik.
2. Cuplikan yang masuk ke dalam detektor harus volatil dan bebas dari pengaruh matrik. Hal
semacam juga terjadi pada spektrometri serapan atom atau emisi.
3. Detektor GC mempunyai kepekaan yang kebih dibandingkan dengan alat analisis pada
umumnya.
4. Detektor GC mempunyai kisaran dinamik yang sangat besar, umunya lebih besar daripada 107.
5. Detektor GC dapat pula digunakan sebagai alat identifikasi walaupun kegunaan secara umum
adalah untuk keperluan kuantitatif

Beberapa parameter yang sering dijumpai pada detektor adalah ratio signal terhadap noise
(S/N), batas deteksi minimum (BDM), faktor respon atau ratio signal terhadap jumlah cuplikan,
kisran dinamik linear, dan kespesifikan.
Rasio S/N dalam banyak hal dikaitkan dengan BDM. Batas deteksi minimum suatu
detektor tehadap suatu cuplikan ditentukan oleh rasio S/N. Salah satu kesepakatan yang dicapai
adalah BDM = 2 S/N. Yang dimaksud signal adalah respon detektor terhadap senyawa kimia
yang masuk ke dalamnya sedangakan noise berasal dari alat ( getaran rekorder setelah diperbesar
maksimum). Harga BDM untuk beberapa detektor dapat dilihat pada tabel berikut:
Harga BDM untuk beberapa detektor
Detektor
Hantaran panas
Ionisasi nyala
Tangkapan elektron
Fotometri nyala
Ionisasi nyala
Alkali (DINA)
Jenis jenis dari detektor :
a.

BDM
5 x 10-10
5 x 10-12
5 x 10-16
5 x 10-10

Senyawa yang dianalisis


Propana
Propana
Lindan
Tiofen

2 x 10-12
5 x 10-14
5 x 10-15

Tributilfosfat
Azobenzena
Tributilfosfat

Detektor konduktivitas termal


Alat ini mengandung baik suatu filamen logam yang dipanaskan maupun suatu termistor.
Termistor adalah bantalan kecil yang dispakan dengan menggabungkan campuran logam oksida
umumnya dari mangan, kobal, nikel, dan runut logam lainnya.
Elemen, filamen atau termistor dari detektor dipanaskan pada kondisi tunak, memiliki
temperatur tertentu yang ditentukan oleh panas diberikan padanya dan laju hilangnya panas ke
dinding ruang yang mengelilinginya.
Detektor itu umunya memiliki dua sisi, masing- masing elemennya sendiri. Gas pembawa
murni menelusuri satu sisi detektor yang terletak di depan di depan lubang injeksi sampel,
sementara efluen kolom mengalir melalui sisi lainnya.
Helium merupakan gas pembawa yang cocok untuk detektor konduktivitas termal karena
konduktivitas termalnya jauh lebih besar daripada kebanyakan senyawa organik dan tidak
memiliki suatu bahaya ledakan. Kepekaan detektor konduktivitas termal dapat ditingkatkan

dengan menjalankan elemen elemen pada temperatur yang lebih tinggi dengan memberikan
suatu arus jembatan yang besar, Tetapi melibatkan harapan hidup elemen tersebut kecil. Detektor
ini secara umum tidak bersifat menghancurkan.

Gambar 7. Detektor konduktivitas termal


a.

Detektor pengionan nyala


Prinsip dasar detektor pengionan nyala adalah energi kalor dalam nyala hidrogen cukup
untuk menyebabkan banyak molekul untuk mengionisasi. Gas efluen dari kolom dicampur
dengan hidrogen dan dibakar pada ujung jet logam dalam udara brlebih. Suatu potensial
diberikan antara jet dan elektroda kedua yang bertempat di atas atau sekitar nyala itu. Ketika ion
ion itu dibentuk dalam nyala, ruang gas antara kedua elektroda menjadi lebih konduktif dan
arus meningkat mengalir dalam sirkuit. Arus ini melewati resistor, tegangan terbentuk yang
dikuatan untuk menghasilkan suatu isyrat yang diterima perekam.
Dengan detektor pengionan nyala, konsentrasi ion ion dalam ruang antara elektroda dan
besarnya arus tersebut sangat bergantung pada laju dimana molekul molekul zat terlarut
dikirim ke nyala. Berat zat terlarut yang mencapai nyala dalam satuan waktu akan mnghasilakan
respon detektor yang sama berapapun tingkat pengenceran oleh gas pembawa. Ini dasar untuk
pernyataan bahwa detektor ini memberi respon bukan pada konsentrasi zat terlarut tetapi pada
laju alir massa zat terlarut tersebut. Juga harus diperhatikan bahwa Detektor pengionan nyala
dapat menghancurkan komponen komponen sampel.

Gambar 8. Skematis detektor pengionan nyala dan sirkuit di dalamnya


Kekurangan utama dari detektor ini adalah pengrusakan setiap hasil yang keluar dari
kolom sebagaimana yang terdeteksi. Jika anda akan mengirimkan hasil ke spektrometer massa,
misalnya untuk analisa lanjut, anda tidak dapat menggunakan detektor tipe ini.
6. Rekorder
Rekorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang diperkuat melalui
elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Dari kromatogram yang diperoleh dapat dilakukan
analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan cara membandingkan waktu retensi
sampel dengan standar. Analisis kuantitatif dengan menghitung luas area maupun tinggi dari
kromatogram (Hendayana, 2001). Sinyal analitik yang dihasilkan detektor dikuatkan oleh
rangkaian elektronik

agar bisa diolah oleh rekorder atau sistem data. Sebuah rekorder

bekerja dengan menggerakkan kertas dengan kecepatan tertentu. di atas kertas tersebut
dipasangkan pena yang digerakkan oleh sinyal keluaran detektor sehingga posisinya akan
berubah-ubah sesuai dengan dinamika keluaran

penguat sinyal detektor. Hasil rekorder

adalah sebuah kromatogram berbentuk pik-pik dengan pola yang sesuai dengan kondisi
sampel dan jenis detektor yang digunakan.
Rekorder biasanya dihubungkan dengan sebuah elektrometer yang dihubungkan dengan
sirkuit pengintregrasi yang bekerja dengan menghitung jumlah muatan atau jumlah energi
listrik yang dihasilkan oleh detektor. Elektrometer akan melengkapi pik-pik kromatogram
dengan data luas pik atau tinggi pik lengkap dengan biasnya.
Sistem data merupakan pengembangan lebih lanjut dari rekorder dan elektrometer
dengan melanjutkan sinyal dari rekorder dan elektrometer ke sebuah unit pengolah pusat (CPU,
Central Procesing Unit).

Hasil pembacaan dalam detector akan direkam dalam rekorder dan ditampilkan pada
layar komputer berupa diagram/grafik dengan puncak / pick yang berbeda-beda sesuai dengan
senyawa atau gugus senyawanya, seperti gambar di bawah ini:

Gambar 9. diagram/grafik dengan puncak / pick


2. 3

PRINSIP KERJA KROMATOGRAFI GAS


Kromatografi merupakan medan yang bergerak cepat karena sangat pentingnya dalam

praktek dalam banyak bidang penelitian. Usaha-uasaha berlanjut sepanjang banyak jalur,
beberapa diantaranya adalah : detektor yang lebih baik, bahan kemasan kolom yang baru,
hubungan dengan instrument lain (seperti spectrometer massa) yang dapat membantu untuk
mengidentifikasi komponen-komponen yang dipisahkan.
Cara kerja dari kromatografi gas adalah gas pembawa lewat melalui satu sisi detektor
kemudian memasuki kolom. Di dekat kolom ada suatu alat di mana sampel sampel bisa
dimasukkan ke dalam gas pembawa ( tempat injeksi). Sampel sampel tersebut dapat berupa gas
atau cairan yang volatil (mudah menguap). Lubang injeksi dipanaskan agar sampel teruapkan
dengan cepat.
Aliran gas selanjutnya menemui kolom, kolom merupakan jantung intrumen tempat di
mana kromatografi berlangsung. Kolom berisi suatu padatan halus dengan luas permukaan yang
besar dan relatif inert. Namun padatan teresebut hanya sebuah penyangga mekanika untuk
cairan. Sebelum diisi ke dalam kolom, padatan tersebut diimpregnasi dengan cairan yang
diinginkan yang berperan sebagai fasa diam atau stasioner sesungguhnya, cairan ini harus stabil
dan nonvolatil pada temperatur kolom dan harus sesuai dengan pemisahan tertentu.

Setelah muncul dari kolom itu, aliran gas lewat melalui sisi lain detektor. Maka elusi zat
terlarut dari kolom mengatur ketidakseimbangan antara dua sisi detektor yang direkam secara
elektrik.
Sebagai gambaran bagaimana yang terjadi di dalam kolom, anggap bahwa dalam kolom
tersebut memilki serangkaian kamar kamar kecil, masing masing mengandung suatu bagian
cairan yang nonvolatil sebagai fasa stasioner. Suatu fasa bergerak atau gas pembawa bersama
sama dengan cairan yang sudah berupa gas masuk ke dalam kamar pertama, di mana suatu
sampel (gas yang dikromatografikan) dari fasa bergerak. Jika cairan tersebut (fasa stasioner)
cocok dengan tujuan, sebagian sampel akan yang berupa gas tersebut akan masuk dan dan larut
di dalamnya dan sebagian lagi akan tetap ikut bersama dengan gas pembawa tersebut. Sekarang
hukum Henry, dalam bentuk biasanya, menyatakan bahwa tekanan parsial yang dihasilkan oleh
zat terlarut dalam suatu larutan encer sebanding dengan fraksi molnya. Maka untuk distribusi
benzena antara fasa cair dan uap dalam kamar itu dapat dituliskan sebagai berikut :

Pbenzena = k Xbenzena
Di mana Pbenzena adalah tekanan parsial dalam fasa uap, Xbenzena adalah fraksi mol benzena dalam
cairan dan k sebuah tetapan. Dalam kromatografi gas, tekanan parsial dan fraksi mol seringkali
digantikan dengan konsentrasi yang mnghasilkan suatu koefisisen distribusi yang tak bersatuan,
K:
K = konsentrasi benzena dalam fasa cair/konsentrasi benzena dalam fasa gas

Gambar 10. Ruang khayalan untuk model Craig dari percobaan KGC
Pindahkan gas nitrogen yang membawa sebagian sampel yang tidak terhenti pada kamar
pertama ke kamar kedua, di mana gastersebut bertemu dnegan cairan. Dalam hal ini sebagian
sampel di dalamnya akan melarut dan yang lainnya tetap ikut dengan gas pembawa atau fasa
geraknya. Dalam kromatografi, aliran fasa gerak berlanjut sampai zat terlarut telah bermigrasi
sepanjang kolom itu. Namun, setelah menelusuri panjang kolom suatu campuran akan

mengalami fraksinasi, dan kemudian muncul satu demi satu untuk memasuki detektor. Kamar
atau ruang khayalan dalam peralatan GC disebut pelat pelat teoritis.

Gambar 11. Kromatogram gas dari suatu campuran hidrokarbon normal


Petunjuk cara kerja kromatografi gas
Walaupun beberapa sistem GC sangat rumit, pada dasarnya cara kerjanya sama. Jika GC
telah dinyalakan maka dapat dilakukan beberapa langkah berikut ini :
a.

Istrumen diperiksa, terutama jika tidak dipakai terus-menerus. Ini dilakukan untuk mengecek
apakah telah dipasang kolom yang tepat, apakah septum injector tidak rusak (apakah ada lubang
besar atau bocor karena sering dipakai), apakah sambungan saluran gas kedap, apakah tutup
tanur tertutup rapat, apakah semua bagian listrik bekerja dengan baik, dan apakah detektor yang
terpasang sesuai.

b.

Aliran gas kekolom dimulai atau disesuaikan. Ini dilakukan dengan membuka katup utama pada
tangki gas dan kemudian memutar katup (diafragma) sekunder kesekitar 15psi dan membuka
katup jarum sedikit. Ini memungkinkan aliran gas yang lambat (2-5 ml)/menit untuk kolom
kemas dan sekitar 0,5ml/menit untuk kolom kapiler melewati system dan melindungi kolom dan
detektor terhadap perusakan secara oksidasi. Dalam banyak instrument modern, aliran gas dapat
diatur dengan rotameter atau aliran otomatis atau pengendali tekanan, atau dapat dimasukkan
melalui modul pengendali berlandas mikroprosesor. Apapun jenisnya, sambungan system
(terutama sambungan kolom) harus dicek dengan larutan sabun untuk mengetahui apakah ada
yang bocor, atau dengan larutan khusus untuk mendeteksi kebocoran (SNOOP),atau dapat juga
dengan larutan pendeteksi kebocoran niaga.

c.

Kolom dipanaskan sampai suhu awal yang dikehendaki. Ini dilakukan, pada instrument buatan
lama, dengan memutar transformator tegangan peubah yang mengendalikan gelungan pemanas
dalam tanur kesekitar 90 V.

Selain prosedur kerja di atas, pengoperasian kromatografi gas dapat dilakukan dengan
tiga cara khususnya untuk penentuan kadar zat, sebagai berikut:
a. Cara baku internal.
Pada satu seri zat baku internal dengan jumlah tertentu, masing-masing tambahkan
sejumlah zat dengan jumlah yang berbeda-beda. Dari masing-masing larutan baku tersebut,
suntikan dengan jumlah yang sama pada tempat penyuntikan zat. Garis kalibrasi diperoleh
dengan menggambarkan hubungan antara perbandingan luas daerah puncak kurva atau tinggi
puncak kurva zat dengan zat baku internalnya, pada sumbu vertical, dan perbandingan jumlah zat
baku dengan jumlah zat baku internal, atau jumlah zat baku, pada sumbu horizontal.
Buat larutan zat seperti yang tertera pada masing-masing monografi, tambahkan zat baku
internal dengan jumlah sama seperti pada larutan zat baku di atas. Dari kromatogram yang
diperoleh dengan kondisi yang sama seperti cara memperoleh garis kalibrasi, hiitung
perbandingan luas daerah puncak kurva atau tinggi puncak kurva zat dengan luas daerah puncak
kurva zat baku internal. Jumlah zat dapat ditetapkan dari garis kalibrasi.
Untuk baku internal, gunakan senyawa yang mantap yang puncak kurvanya terletak dekat
puncak kurva zat tetapi cukup terpisah dari puncak kurva zat, serta puncak kurva komponenkomponen lain.

b. Cara garis kalibrasi mutlak


Buat satu seri larutan baku. Suntikan dengan volume sama tiap larutan ke dalam tempat
penyuntikan zat. Gambar garis kalibrasi dari kromatogram, dengan berat zat pada sumbu
horizontal, dan tinggi puncak kurva atau luas daerah puncak kurva pada sumbu vertical. Buat
larutan zat seperti yang tertera pada masing-masing monografi. Dari kromatogram yang
diperoleh dengan kondisi yang sama seperti cara memperoleh garis kalibrasi, ukur luas daerah
puncak kurva atau tinggi puncak kurva. Hitung jumlah zat menggunakan garis kalibrasi. Dalam
cara kerja ini, semua harus dikerjakan dengan kondisi yang betul-betul tetap.
c. Cara luas daerah normalisasi

Jumlah luas daerah puncak kurva komponen-komponen yang bersangkutan dalam


kromatogram dinyatakan sebagai angka 100. Perbandingan kadar komponen-komponen dihitung
dari harga prosen luas daerah tiap puncak kurva masing-masing.
Dalam tiga cara yang dinyatakan di atas, tinggi puncak kurva atau luas daerah puncak
kurva ditetapkan sebagai berikut :
1. Tinggi Puncak Kurva
Ukur tinggi dari titik puncak kurva sepanjang garis tegak lurus hingga berpotongan dengan garis
yang menghubungkan kedua kaki dari puncak kurva.
2. Luas daerah puncak kurva
- Lebar puncak kurva pada pertengahan tinggi puncak kurva x tinggi puncak kurva
- Gunakan planimeter untuk mengukur daerah puncak kurva.
2. 4 WAKTU RETENSI
Waktu yang digunakan oleh senyawa tertentu untuk bergerak melalui kolom menuju ke
detektor disebut sebagi waktu retensi (RT). Waktu ini diukur berdasarkan waktu dari saat
sampel diinjeksikan pada titik dimana tampilan menunujukkan tinggi puncak maksimum untuk
senyawa itu.
Setiap senyawa memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk senyawa tertentu, waktu
retensi sangat bervariasi dan bergantung pada:

Titik didih senyawa. Senyawa yang mendidih pada temperatur yang lebih tinggi daripada
temperatur kolom, akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berkondensasi sebagai
cairan pada awal kolom. Dengan demikian, titik didih yang tinggi akan memiliki waktu retensi
yang lama.

Kelarutan dalam fase cair. Senyawa yang lebih mudah larut dalam fase cair, akan mempunyai
waktu lebih singkat untuk dibawa oleh gas pembawa.. Kelarutan yang tinggi dalam fase cair
berarti memiiki waktu retensi yang lama.

Temperatur kolom. Temperatur tinggi menyebakan pergerakan molekul-molekul dalam fase gas;
baik karena molekul-molekul lebih mudah menguap, atau karena energi atraksi yang tinggi
cairan dan oleh karena itu tidak lama tertambatkan. Temperatur kolom yang tinggi
mempersingkat waktu retensi untuk segala sesuatunya di dalam kolom.

2. 5

KEGUNAAN KROMATOGRAFI GAS


Pembatasan utama pada GC ini adalah yang mengenai mudahnya menguap. Contohnya

harus memiliki tekanan uap cukup pada suhu kolom, memiliki titik didih rendah, dan tidak rusak
dalam bentuk gasnya.
Kebanyakan contoh anorganik tidak cukup menguap untuk memperkenankan penggunaan
GC secara langsung, meskipun beberapa penelitian telah dilakukan pada suhu-suhu sangat tinggi
dengan menggunakan garam-garam leburan atau campuran eutektik sebagai fasa cair stasioner.
Helida dari beberapa unsur seperti timah, titanium, arsen, dan antimony cukup mudah menguap,
dan telah di pisahkan dengan GC. Sejumlah logam seperti berilium, alumunium, tembaga, besi,
krom, dan kobal telah dapat di GC kan dalam bentuk senyawa-senyawa khelat yang cukup
mudah menguap dengan asitelaseton dan turunan yang difluorinasikan. Misalnya aluminium,
besi, dan tembaga telah ditentukan dalam logam-campur dengan melarutkan contoh diikuti
dengan ekstraksi logam-logamnya ke dalam larutan klorofom dari trifuoroasetilaseton yang
kemudian di klamotografikan. Kesalahan-kesalahan relative setingkat 0,2 hingga 3% telah
dilaporkan.
Kromatografi gas telah digunakan pada sejumlah besar senyawa-senyawa dalam berbagai
bidang. Dalam senyawa organic dan anorganik, senyawa logam, karena persyaratan yang
digunakan adalah tekanan uap yang cocok pada suhu saat analisa dilakukan. Berikut akan kita
lihat beberapa kegunaan kromatografi gas pada bidang-bidangmya adalah :
a. Polusi udara
Kromatografi gas merupakan alat yang penting karena daya pemisahan yang digabungkan
dengan daya sensitivitas dan pemilihan detektor GLC menjadi alat yang ideal untuk menentukan
banyak senyawa yang terdapat dalam udara yang kotor, KGCdipakai untuk menetukan AlkilAlkil Timbal, Hidrokarbon, aldehid, keton SO , HS, dan beberapa oksida dari nitrogen dan lainlain.
b. Klinik
Diklinik kromatografi gas menjadi alat untuk menangani senyawa-senyawa dalam klinik seperti :
asam-asam amino, karbohidrat, CO , dan O dalam darah, asam-asam lemak dan turunannya,
trigliserida-trigliserida, plasma steroid, barbiturate, dan vitamin.
c. Bahan bahan pelapis

Digunakan untuk menganalisa polimer-polimer setelah dipirolisa, karet dan resin-resin sintesis.
d. Minyak atsiri
Digunakan untuk pengujian kulaitas terhadap minyak permen, jeruk sitrat dan lain-lain.

e. Bahan makanan
Digunakan dengan TLC dan kolom-kolom, untuk mempelajari pemalsuanatau pencampuran,
kontaminasi dan pembungkusan dengan plastic pada bahan makanan, juga dapat dipakai unutk
menguji jus, aspirin, kopi dan lain-lain.
f. Sisa-sisa pestisida
KGC dengan detektor yang sensitive dapat menentukan atau pengontrolan sisa-sisa peptisida
yang diantaranya senyawa yang mengandung halogen, belerang, nitrogen, dan fosfor
g. Perminyakan
Kromatografi gas dapat digunakan unutk memisahkan dan mengidentifikasi hasil-hasildari gasgas hidrokarbon yang ringan.
h. Bidang farmasi dan obat-obatan
Kromatografi gas digunakan dalam pengontrolan kualitas, analisa hasil-hasil baru dalam
pengamatan metabolisme dalam zat-zatalir biologi.
i. Bidang kimia/penelitian
Digunakan untuk menentukan lama reaksi pada pengujian kemurnian hasil
2. 6 APLIKASI KROMATOGRAFI GAS PADA PEMISAHAN
A. Percobaan Pemisahan dan Penentuan Komponen Organik dengan Krotmaografi Gas
Kromatografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran
yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik untuk campuran
sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen.
Komponen campuran dapat diidentifikasikan dengan menggunakan waktu tambat (waktu retensi)
yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu tambat ialah waktu yang menunjukkan berapa lama
suatu senyawa tertahan dalam kolom.waktu tambat diukur dari jejak pencatat pada kromatogram
dan serupa dengan volume tambat dalam KCKT dan Rf dalam KLT. Dengan kalibrasi yang patut,

banyaknya (kuantitas) komponen campuran dapat pula diukur secara teliti . kekurangan utama
KG adalah bahwa ia tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar.
Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan campuran pada tingkat g mungkin
dilakukan; tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika tidak ada
metode lain.
a. Alat dan Bahan
Alat: Kromatografi gas, jarum suntik ukuran mikro liter, tabung gas nitrogen, filler, labu takar
10ml, pipet ukur 1ml, dan timbangan analitis.
Bahan: Senyawa standar yang sudah diketahui rumus kimia dan konsentrasinya dan sampel
campuran beberapa zat organik yang tidak diketahui senyawa dan komposisinya.
b. Cara Kerja

Beberapa senyawa standar disiapkan (diketahui rumus kimia dan kemurniannya)

Campuran beberapa senyawa yang diketahui perbandingannya (misalnya 1:1:1:1 volume atau
massa) dibuat.

Kondisi kerja ala kromatografi, terutama temperature kolom, laju alir gas pembawa, detektor,
besar arus yang melalui detektor, attenuator, kecepatan kertas recorder, dan posisi pen pada
recorder diatur

Sebelum mengambil senyawa dengan menggunakan jarum suntik, jarum tersebut dicuci terlebih
dahulu dengan senyawa yang akan digunakan untuk menghindari adanya intervensi senyawa lain
akibat pemakaian jarum suntik tersebut sebelumnya, dengan cara:

o Senyawa yang akan digunakan dengan menggunakan jarum ukuran mikro liter yang akan dipakai
diambil dan dibuang beberapa kali.
o Gagang suntikan ditarik hingga keluar dari badan jarum
o Gagang suntikan tersebut dibersihkan dengan menggunakan tissue
o Suntikan tersebut dibilas kembali dengan cara ambil dan buang senyawa tersebut
o Gagang suntikan ditarik dan didorong dengan posisi ujung jarum berada di tissue dengan tujuan
membersihkan sisa senyawa yang masih menempel di jarum suntik

Alat kromatografi gas dipastikan siap untuk dipakai.

Tombol zero, enter, sig 1 ditekan pada alat kromatografi gas

Senyawa standar diambil

Senyawa standar disuntikkan ke dalam alat kromatografi gas masing masing sebanyak 1 kali.

Tombol start ditekan tepat pada saat penyuntikkan dan alat kromatografi dibiarkan bekerja.

Jarum suntik yang digunakan dicuci terlebih dahulu setiap kali akan digunakan untuk
mengambil atau menyuntikkan senyawa yang berbeda.

Dengan cara yang sama seperti senyawa standar, larutan standar campuran dan sampel
campuran disuntikkan.
c. Hasil Pengamatan
Pada saat penyuntikan, alat kromatografi gas melaporkan hasil dari kromatografi dalam
bentuk signal, adapun hasil signal tersebut untuk beberapa senyawa/larutan adalah sebagai
berikut:
Metanol:

Propanol :

Butanol :

Pentanol :

Larutan standar dengan komposisi 1:1:1:1


Dengan RT adalah waktu retensi (Retention Time), Area adalah luas segitiga di bawah
puncak, Type adalah jenis puncak yang tercatat (PB: Penetrate to Base, BB: Base to Base), Width
adalah jebar dasar puncak, dan Area% adalah persentase perbandingan luas segitiga di bawah
puncak (untuk suatu komponen) dengan luas total segitiga yang ada.
d. Analisis dan Pembahasan
Cara Kerja Alat Kromatografi Gas
Pada dasarnya, dalam alat kromatografi gas, ada dua jenis detektor, yang pertama adalah
Flame Ionization Detektor, dan yang kedua adalah Thermal Conductivity Detektor. Namun,
untuk praktikum kali ini, jenis detektor yang dipakai adalah Thermal Conductivity Detektor. Fasa
diam yang dipakai adalah metal silicon gum. Gas yang digunakan sebagai gas pembanding dan
gas pembawa adalah gas nitrogen karena di samping nitrogen cenderung murah jika

dibandingkan dengan jenis gas yang lain, nitrogen juga inert, aman (dibandingkan dengan gas
lain yang mudah terbakar), dan mudah didapat.
Secara umum syarat dari bahan yang menjadi fasa stasioner adalah:
o Memiliki volatilitas yang rendah (idealnya titik didih bahan minimal 100 0C lebih tinggi dari
temperatur maksimum kolom)
o Memiliki stabilitas termal
o Inert
o Karakteristik solvent (dapat menguraikan substansi lain)
Pada percobaan kali ini, suhu kolom yang digunakan adalah 50-90C dengan Initial time 1
menit, laju perubahan suhu adalah 10C per menit, dan final time adalah 1 menit. Maksudnya,
pada saat alat kromatografi gas digunakan, suhu kolom akan bertahan di 50C selama 1 menit,
setelah itu suhu akan naik secara bertahap dengan kelajuan 10C per menit sampai suhu kolom
itu mencapai 90C. Setelah mencapai suhu 90C, alat kromatografi gas pun akan kembali
menahan suhu kolom selama 1 menit dan setelah itu, proses kromatografi akan berhenti. Dalam
kromatografi gas, suhu di bagian injeksi harus lebih tinggi dari suhu akhir kolom. Pada detektor
pun, suhu yang digunakan cukup relative tinggi, yaitu 160C. Kolom yang digunakan pun adalah
kolom kapiler yang sangat panjang namun mempunyai diameter yang sangat kecil. Total panjang
kolom kapiler dalam alat kromatografi gas ini adalah 30 meter dengan diameter 0,053 mm. Metil
Silicon Gum yang ada di dalam kolom kapiler ini mempunyai sifat polar yang cenderung tarik
menarik dengan senyawa yang mempunyai sifat polar juga.
Prinsip utama pemisahan dalam kromatografi gas adalah berdasarkan perbedaan laju
migrasi masing-masing komponen dalam melalui kolom. Komponen-komponen yang terelusi
dikenali (analisa kualitatif) dari nilai waktu retensinya (RT).
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu retensi :
Nilai/harga waktu retensi (RT) tiap komponen disebabkan oleh perbedaan titik didih (Td)
masing-masing komponen, perbedaan massa molekul relative (Mr)/perbedaan ukuran komponen,
interaksi/keterikatan masing-masing komponen dengan fasa stasioner/fasa diam (misalnya oleh
karena sifat kepolaran fasa diam serta fasa geraknya), panjang kolom, diameter kolom,
temperatur kolom dan laju/temperatur aliran gas pembawa serta tingkat kejenuhan kolom.
Semakin rendah titik didih suatu komponen maka waktu retensinya akan semakin
kecil/singkat karena pada temperatur tertentu zat tersebut sudah menjadi fasa uap sehingga bisa

bergerak bebas/lebih cepat sebagai fasa gerak dalam kolom kapiler sedangkan komponen lainnya
masih dalam fasa cairan. Jadi komponen yang terlebih dahulu menjadi uap akan lebih cepat
keluar dari kolom. Oleh karena itu, methanol mempunyai waktu retensi lebih singkat dari
propanol, propanol mempunyai waktu retensi yang lebih singkat dari butanol, dan butanol
mempunyai waktu retensi yang lebih singkat dari pentanol.
Semakin kecil ukuran sebuah komponen dan semakin kecil nilai massa molekul relatifnya
(Mr) maka sebuah komponen akan lebih dapat bergerak bebas/lebih cepat keluar dari kolom. Jadi
semakin kecil ukuran komponen dan semakin kecil Mr komponen maka waktu retensinya akan
semakin kecil pula. Oleh karena itu, methanol mempunyai waktu retensi lebih singkat dari
propanol, propanol mempunyai waktu retensi yang lebih singkat dari butanol, dan butanol
mempunyai waktu retensi yang lebih singkat dari pentanol.
Jika fasa diamnya bersifat nonpolar, maka komponen yang akan terelusi lebih cepat adalah
komponen yang paling polar, karena ikatan dengan fasa diamnya relatif lebih lemah. Begitu juga
sebaliknya jika fasa diamnya polar maka komponen yang lebih cepat yaitu komponen yang
paling nonpolar. Jadi kepolaran fasa diam dan fasa gerak sangat mempengaruhi waktu retensi
masing-masing komponen.
Semakin panjang kolom, maka RT menjadi lambat karena jarak yang harus ditempuh oleh
senyawa tersebut cenderung lebih jauh. Sebaliknya, jika kolom pendek, maka RT menjadi lebih
cepat karena jarak yang harus ditempuh oleh senyawa tersebut untuk menuju detektor cenderung
lebih dekat.
Temperatur kolom harus disesuaikan dengan titik didih larutan senyawa organik. Apabila
temperatur kolom terlalu rendah daripada titik didih larutan, maka tidak akan timbul puncak
karena kalor atau temperature kolom tidak cukup untuk menguapkan senyawa yang ada.
Sedangkan jika temperatur kolom jauh lebih tinggi daripada titik didih larutan, maka T R menjadi
sangat cepat karena senyawa yang ada langsung menerima kalor dengan cepat untuk segera
mengubah wujudnya menjadi gas.

Pengaruh pengotor
Pada percobaan kali ini, jika kita memperhatikan hasil cetakan dari alat kromatografi gas,
kita dapat melihat adanya puncak puncak kecil. Puncak-puncak kecil itu adalah pengotor, baik
itu pengotor yang ada di dalam kolom yang akhirnya terbaca oleh detektor, maupun pengotor
yang ada di dalam senyawa (terbawa oleh senyawa ketika penyuntikkan). Seharusnya, tidak ada

pengotor di dalam kita melakukan suatu analisis terhadap suatu sampel atau suatu senyawa. Hasil
yang paling ideal adalah ketika yang dihasilkan adalah suatu garis lurus yang ada pada base yang
diikuti oleh puncak-puncak yang cukup significant yang menunjukkan komponen utama dari
senyawa tersebut.

Faktor kesalahan
Dalam praktikum ini, ada beberapa factor kesalahan yang membuat hasil kromatografi gas
tidak seideal yang diharapkan, yaitu kemurnian analit dan ketidaktepatan waktu penginjeksian
dengan penekanan tombol start pada alat kromatografi gas. Untuk itu, kita dapat menggunakan
analit dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi dan kita dapat melatih atau membiasakan diri
melakukan kromatografi gas sehingga waktu penginjeksian dan penekanan tombol dapat
dioptimalkan setepat mungkin.

Pembahasan hasil percobaan

o Pada saat senyawa methanol dianalisis, hasil analisis menyatakan bahwa waktu retensi untuk
methanol adalah 1,369 menit dan keseluruhan analit adalah methanol murni.
o Pada saat menganalisis senyawa propanol, timbul/ terdapat dua buah puncak, yaitu dengan waktu
retensi 1,302 menit dan 1,795 menit dengan perbandingan persentase area 15,51498% dan
84,48502. Jika kita bandingkan dengan waktu retensi methanol (1,369), maka kita bisa
mendapatkan hasil bahwa senyawa propanol yang kita analisis mengandung kurang lebih 15%
methanol dan bukan 100% propanol murni. Kemungkinan penyebabnya adalah propanol yang
ada sudah berinteraksi dengan udara bebas karena dibiarkan terbuka, sehingga ada rantai
propanol yang terputus dan menjadi methanol.
o Sama halnya seperti propanol, hasil analisis buthanol juga menunjukkan bahwa buthanol yang kita
analisis mengandung 14% methanol karena terdapat puncak pada waktu retensi 1,310 dengan
persentase area 14%. Selebihnya, terdapat puncak pada waktu retensi 2,414 dengan persentase
area 85% yang tidak lain adalah buthanol itu sendiri.
o Pada saat menganalisis pentanol, ternyata pentanol yang ada pun bukanlah pentanol murni 100%.
Terdapat 8% methanol yang kemungkinan juga merupakan hasil dari pentanol yang terurai
karena telah cukup lama berinteraksi dengan udara bebas. Waktu retensi dari pentanol itu sendiri
adalah 2,818 menit.
o Jika kita perhatikan waktu retensi masing masing senyawa tersebut, kita telah berhasil
membuktikan bahwa waktu retensi methanol lebih kecil dari waktu retensi propanol, waktu

retensi propanol lebih kecil dari waktu retensi buthanol, dan waktu retensi buthanol lebih kecil
dari waktu retensi pentanol.
o Ketika senyawa campuran dengan dianalisis, timbul empat buah puncak yang masing masing
puncaknya timbul di sekitar waktu retensi berada di sekitar waktu retensi methanol, propanol,
buthanol dan pentanol. Dari waktu retensi dan perbandingan persentase area yang ada, kita bisa
melihat bahwa perbandingan antara methanol, propanol, buhanol, dan pentanol dalam senyawa
campuran mendekati 1:1:1:1. Namun jika kita amati lebih lanjut, persentase area untuk pentanol
hanya sekitar 20%, kemungkinan penyebabnya adalah pentanol itu sudah terurai menjadi
senyawa yang lain karena berinteraksi dengan udara bebas.
o Untuk sample, setelah dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas, didapatkan juga ada 4
buah puncak yang waktu retensinya juga berkisar di antara waktu retensi methanol, propanol,
buthanol, dan pentanol. Untuk puncak dengan waktu retensi 1,330 (methanol), persentase
perbandingan area terhadap total area puncak adalah 48,88542% mendekati 50%. Untuk puncak
dengan waktu retensi 1,590 (propanol), persentase perbandingan area puncak adalah 15,96455%,
mendekati 15%. Untuk puncak dengan waktu retensi 2,125 (buthanol), perbandingan persentase
area puncak terhadap total area puncak adalah 19.80757% mendekati 20%. Dan untuk puncak
dengan waktu retensi 2,754 (pentanol), perbandingan persentase area puncak terhadap total area
puncak adalah 15,34246% mendekati 15%. Jika kita bandingkan keempat persentase tersebut,
maka kita bisa mendapatkan perbandingan methanol : propanol : buthanol : pentanol = 50 : 15 :
20 : 15 = 10 : 3 : 4 :3.
B. Isolasi minyak biji mengkudu
Untuk menentukan komposisi bahan dalam buah mengkudu, maka terlebih dulu harus
dilakukan proses pemisahan terhadap buah mengkudu dengan menggunakan alat ekstruder. Alat
ekstruder dapat digunakan untuk memisahkan komponen buah mengkudu menjadi kulit dan biji,
serta daging buah dan jus.
Dari hasil pemisahan, biji dan kulit mengkudu merupakan bahan kedua terbesar setelah
daging buah, yaitu sekitar 27 kg/100 kg buah. Hal ini menunjukkan, proses produksi jus
mengkudu menghasilkan limbah biji yang cukup besar dan selama ini masih belum
dimanfaatkan. Sebagai gambaran, sebuah koperasi penghasil jus mengkudu di Bogor dalam
sebulan minimal memerlukan 10.000 kg buah, sehingga dengan perhitungan di atas, minimal
akan dihasilkan produk buangan berupa biji mengkudu seberat 2.700 kg.

Proses selanjutnya adalah proses pemisahan biji mengkudu dengan kulit buah, yaitu
dilakukan dengan cara pencucian dengan air dan penyaringan. Untuk menurunkan kandungan air
dalam biji mengkudu, maka dilakukan pengeringan terhadap biji mengkudu menggunakan sinar
matahari sehingga diperkirakan kadar airnya tersisa 2% 8%. Biji kering tersebut selanjutnya
dihaluskan untuk memudahkan analisis proksimat dan proses isolasi minyak.
Analisis proksimat menunjukkan, proses pengeringan berhasil menurunkan kadar air
dalam serbuk biji mengkudu menjadi 6,74%, juga dapat dilihat serat dan karbohidrat merupakan
senyawa kimia dominan dalam biji mengkudu. Sedangkan lemak atau minyak merupakan
senyawa dominan ketiga, yaitu 13,2%, sehingga dimungkinkan untuk diisolasi menggunakan
pelarut organik atau menggunakan proses mekanik berupa pengepresan.
Dalam penelitian ini dilakukan proses isolasi minyak menggunakan proses ekstraksi.
Berdasarkan sifat lemak yang non polar, maka dilakukan isolasi minyak menggunakan pelarut
nonpolar yaitu n-heksana dengan alat sokhlet. Proses isolasi dilakukan pada suhu 80 oC selama 4
jam. Kondisi suhu dipilih berdasarkan pertimbangan titik didih pelarut dan kestabilan minyak,
sedangkan parameter waktu didasarkan pada prosedur umum untuk penentuan lemak kasar.
Rendemen hasil ekstraksi minyak dengan n-heksana adalah berkisar antara 11,59% 12,60%.
Minyak yang dihasilkan umumnya berwarna kuning jernih dan tak berbau.
Selanjutnya terhadap minyak hasil isolasi dilakukan uji kualitas dan kandungan asam
lemak. Uji kualitas dilakukan terhadap beberapa parameter yaitu : bilangan penyabunan,
bilangan iod, bilangan asam, bilangan peroksida, berat jenis, dan indeks bias.
Bilangan penyabunan menunjukkan banyaknya basa (mg KOH) yang dibutuhkan untuk
menyabunkan 1 gram minyak. Besarnya bilangan penyabunan bergantung dari massa molekul
minyak, semakin besar massa molekul semakin rendah bilangan penyabunannya. Hal ini dapat
dijelaskan, dengan semakin panjang rantai hidrokarbon suatu minyak, maka akan semakin kecil
proporsi molar gugus karboksilat yang akan bereaksi dengan basa. Data analisis bilangan
penyabunan minyak mengkudu adalah 185 mg KOH/gram contoh, angka ini relatif lebih kecil
bila dibandingkan dengan angka penyabunan minyak kelapa yaitu 255 265 mg KOH/gram
contoh.
Hal ini diduga erat kaitannya dengan kandungan asam lemak dari minyak mengkudu.
Data analisis kromatografi gas menunjukkan bahwa minyak mengkudu mengandung asam lemak

dengan massa molekul yang lebih besar bila dibandingkan dengan asam lemak yang terkandung
dalam minyak kelapa.
Bilangan iod menunjukkan banyaknya molekul iod yang dapat mengadisi ikatan rangkap
pada minyak, dinyatakan dalam gram iod per 100 gram contoh minyak. Bilangan ini sangat
penting dalam menentukan kualitas minyak berdasarkan banyaknya ikatan rangkap dalam asam
lemaknya. Semakin besar bilangan iod, maka semakin banyak ikatan rangkap yang ada dalam
asam lemak suatu minyak. Sedangkan semakin banyak ikatan rangkap dalam suatu minyak,maka
minyak tersebut akan semakin mudah rusak, karena sifatnya yang mudah teroksidasi oksigen
dalam udara, senyawa kimia atau proses pemanasan.
Data analisis menunjukkan, minyak mengkudu mempunyai angka iod yang sangat tinggi
yaitu 114 gram iod/100 gram minyak. Angka ini jauh lebih besar daripada angka iod minyak
kelapa yaitu 8 10 gram iod/100 gram minyak.
Bilangan asam menunjukkan banyaknya asam lemak bebas dalam minyak dan
dinyatakan dengan mg basa per 1 gram minyak. Bilangan asam juga merupakan parameter
penting dalam penentuan kualitas minyak. Bilangan ini menunjukkan banyaknya asam lemak
bebas yang ada dalam minyak akibat reaksi hidrolisis akibat reaksi kimia, pemanasan, proses
fisika atau reaksi enzimatis.
Semakin tinggi bilangan asam maka semakin banyak minyak yang telah terhidrolisis.
Data analisis menunjukkan, bilangan asam minyak mengkudu sebesar 21,12 mg KOH/gram
minyak. Besarnya bilangan ini diduga karena telah terjadi proses hidrolisis pada minyak
mengkudu terutama pada saat pemeraman buah dan pengolahan.
Pengujian kandungan komponen asam lemak dalam minyak mengkudu bertujuan untuk
mengetahui jenis asam lemak yang ada dan dilakukan dengan menggunakan alat kromatografi
gas. Data analisis data kualitatif berdasarkan perbandingan waktu retensi beberapa puncak
kromatogram contoh terhadap standar asam lemak, maka diamati minyak mengkudu
mengandung beberapa asam lemak yaitu asam palmitat, asam linolenat, asam oleat dan asam
linoleat.
Selain itu terdapat beberapa puncak dengan waktu retensi lain yang dapat diamati, tetapi
belum dapat disimpulkan karena keterbatasan jenis asam lemak standar. Tapi berdasarkan hasil
penelitian peneliti lain juga didapatkan adanya kandungan asam lemak yang lain seperti asam
stearat.

Dari empat jenis asam lemak yang dapat diamati, ternyata minyak mengkudu mempunyai
kandungan jenis asam lemak tak jenuh yang lebih banyak. Seperti diketahui asam oleat, asam
linoleat dan asam linolenat merupakan asam lemak tak jenuh dengan jumlah ikatan rangkap tak
jenuh masing-masing berturut-turut adalah satu, dua dan tiga. Kandungan inilah yang diduga
mengakibatkan besarnya bilangan iodium dan peroksida. Hal ini diduga juga akan menimbulkan
mudahnya minyak mengkudu untuk rusak dan berbau tengik. Hasil penelitian menunjukkan, biji
mengkudu dapat dijadikan sebagai bahan alternatif untuk memproduksi minyak.

KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1.

Pengertian kromatografi menyangkut metode pemisahan yang didasarkan atas distribusi


diferensial komponen sampel diantara dua fasa. Menurut pengertian ini kromatografi selalu
melibatkan dua fasa, yaitu fasa diam (Stationary Phase) dan fasa gerak (Gerak Phase). Fase diam
dapat berupa padatan atau cairan yang terikat pada permukaan padatan (kertas atau suatu
adsorben), sedangkan fasa gerak dapat berupa cairan disebut eluen atau pelarut, atau gas
pembawa inert.

2.

Kromatografi gas digunakan untuk memisahkan senyawa kimia dalm


campuran kimia.

3.

Komponen penting pada yang harus ada pada setiap alat kromatografi gas adalah :

a. tangki pembawa gas


b. Pengatur aliran dan pengatur tekanan
c. tempat injeksi
d. kolom
e. detektor
f. rekorder
Prinsip kerja kromatografi gas adalah sebagai berikut :
a.

Menyalakan instrumen dan mencek kondisi instrumen.

b.

Mengatur aliran gas.

c.

Memanaskan oven.

d.

Menginjeksikan sejumlah kecil sampel yang akan dianalisis pada mesin.

e.

Menunggu laporan hasil analisis instumen.

5.

Waktu retensi adalah waktu yang digunakan oleh senyawa tertentu untuk bergerak melalui kolom
menuju ke detektor

6. Aplikasi kromatografi gas pada pemisahan dapat digunakan untuk berbagai keperluan analisis:
a. Minyak Bumi
b. Minyak Atsiri
c. Kedokteran
d. Penelitian
e. Pestisida
f. Lingkungan
g. Minyak Biji Mengkudu

DAFTAR PUSTAKA
Day, Jr dan Underwood, A.L. 1991. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi 5. Jakarta: Penerbit Erlangga
Fadholi, Arif. 2009. Kromatografi Gas (online). http://ariffadholi.blogspot.com/2009/10/olehnajiullah-2007-kromatografi-gas-i.html. Diakses pada tanggal 13 Mei 2010.
Husni, Hafidz. 2009. Kromatografi Gas (online).
http://hafidzmetalurgi.blogspot.com/2009/12/kromatografi-gas.html. Diakses pada tanggal 13
Mei 2010.
Madbardo. 2008. Kromatografi Gas. (online). http://madbardo.blogspot.com/2010/02/kromatografigas.html. Diakses pada tanggal 13 Mei 2010.
Rismana, Eriawan. 2008. Isolasi Minyak dari Biji Mengkudu (online). http://www.resep.web.id.
Diakses pada tanggal 13 Mei 2010.
Takeuchi, Yoshito. 2009. Kromatografi (online). http://www.chem-is-try.org. Diakses pada tanggal 13
Mei 2010.