Anda di halaman 1dari 15

Jurnal

Praktikum Ekotoksikologi Perairan

Oleh:

Aryochepridho
14/365092/PN/13668
Manajemen Sumberdaya Perikanan

Asisten Laporan:
Tia Aprianti

Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan


Departmen Perikanan
Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2016
UJI TOKSISITAS PESTISIDA TERHADAP IKAN NILA (Oreochromis sp.)
Aryochepridho
14/365092/PN/13668
Manajemen Sumberdaya Perikanan

Intisari

Toksisitas adalah kemampuan merusak suatu bahan kimia pada saat bahan tersebut
mengenai bagian dalam atau permukaan tubuh yang peka terhadap bahan kimia
tersebut. Lethal concentration (LC) adalah konsentrasi substansi yang ada pada suatu
lingkungan yang akan menyebabkan kematian pada periode paparan tertentu.
Herbisida yang digunakan jenis Isopropilamina glifosfat merupakan bahan pestisida
yang bersifat toksik jenis sub letal. Praktikum ini memiliki tujuan yaitu mempelajari
salah satu cara mengukur daya racun (toksisitas) suatu bahan pencemar, mempelajari
penentuan toksisitas suatu bahan kimia atau bahan pencemar terhadap hewan air, dan
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat toksisitassuatu bahan pencemar.
Pada praktikum ini uji toksisitas dilakukan untuk menentukan LC50 dari herbisida
terhadap ikan nila setelah waktu pemaparan 96 jam. Metode dalam praktikum ini
adalah metode analisis probit atau metode regresi linier sederhana dengan rumus Y =
a + bx ; dimana Y = mortalitas ikan dan X = konsentrasi herbisida. Dari praktikum ini
didapat nilai LC50 herbisida non aerasi 1,35 ppm, toksisitas herbisida dengan
perlakuan non aerasi lebih tinggi dibandingkan toksisitas herbisida aerasi. Nilai R2
pada akuarium non aerasi 0,1007 yang menunjukkan konsentrasi herbisida tidak
mampu mempengaruhi mortalitas nila sehingga ada factor lain yang mempengaruhi
secara umum.

Kata kunci : herbisida, lc50, nila, regresi linear, toksisitas.


Pendahuluan
Air merupakan sumberdaya alam berbahayanya zat kimia terhadap
yang dapat diperbaharui, namun air dapat kehidupan di air (Cairns et al., 1978).
dengan mudah terkontaminasi oleh Lethal Concentration 50 (LC50) adalah
aktivitas manusia. Air banyak digunakan konsentrasi yang diturunkan secara
oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan statistik yang dapat diduga menyebabkan
manusia sehari-hari yang dapat kematian 50% dari populasi organisme
menyebabkan pencemaran air seperti dalam serangkaian kondisi percobaan
limbah rumbah tangga ataupun limbah yang telah ditentukan. LC50 sering
pabrik. Bahan pencemar seperti senyawa ditunjukkan dalam ukuran mg per volume
kimia organik, anorganik atau mineral dari organisme uji. Suatu bahan kimia
yang dibuang ke perairan dapat dikatakan sangat beracun apabila
mengotori dan bersifat toksik sehingga memiliki nilai LC50 kecil dan sebaliknya
dapat mematikan ikan dan organisme air (Argo, 2001).
lainnya. Ikan yang digunakan ujikan yaitu
Toksisitas adalah kemampuan Ikan Nila (Orechromis sp.). Ikan nila
merusak suatu bahan kimia pada saat merupakan spesies ikan tropis yang lebih
bahan tersebut mengenai bagian dalam suka hidup di air dangkal. Secara
atau permukaan tubuh yang peka morfologi ikan nila memiliki bentuk pipih,
terhadap bahan kimia tersebut sisik besar dan kasar, kepala relatif kecil,
(Probosunu, 2010). garis linea lateralis terputus dan terbagi
Proses toksisitas terbagi atas dua, yaitu bagian atas dan bawah,
beberapa fase yaitu fase awal (kinetik) memiliki lima buah sirip. Toleransi ikan ini
dan fase dinamik. Fase kinetik meliputi terhadap perbedaan lingkungan sangat
proses biologi yang mempengaruhi tinggi, dapat hidup pada salinitas 0-29
absorbsi, penyebaran dan metabolisme permil, pada suhu 14-38 C, dan pH 5-11,
zat. Fase dinamik meliputi interaksi antara merupakan omnivora yang sangat
zat toksik dengan target dan tanggapan menyenangi pakan alami berupa rotifera,
fisiologis serta perilaku organisme Daphnia sp., bentos, perifiton, dan
(Connel dan Miller, 2006). fitoplankton, disamping itu bisa juga diberi
Pengukuran kematian (letalitas) pakan seperti pelet dan dedak. Ikan ini
seringkali digunakan untuk mencari dapat melakukan pemijahan sepanjang
tingkatan aman dari kontak dengan racun. tahun dan mulai memijah pada umur 6-8
Uji-uji toksisitas seperti uji letalitas akut bulan (Rochdianto, 2009).
adalah berguna untuk mengkaji
Klasifikasi ikan Nila menurut Daelami koloid organic tanah, mungkin oleh ion
(2001): COO, fenolat O, kombinasi keduanya,
Kelas : Osteichthyes atau kombinasi salah satu ion tersebut
Sub kelas : Actinopterigii dengan radikal bebas. Semakin tinggi
Ordo : Percomorphi kandungan bahan organic tanah, semakin
Sub ordo : Percoidea tinggi kandungan gugus reaktif yang
Familia : Cichlidae dimilikinya, semakin tinggi jumlah
Genus : Oreochromis herbisida yang terabsorbsi.
Spesies : Oreochromis niloticus Tujuan praktikum uji toksisitas ini
yaitu mempelajari salah satu cara
Pada uji toksisitas ini digunakan mengukur daya racun (toksisitas) suatu
pestisida jenis herbisida dalam bahan pencemar, mempelajari penentuan
mengetahui tingkat toksik yang ingin toksisitas suatu bahan kimia atau bahan
diamati. Herbisida ialah salah satu pencemar terhadap hewan air, dan
komponen kimia yang berfungsi untuk mengetahui faktor-faktor yang
mengatur adanya gulma atau tanaman mempengaruhi tingkat toksisitassuatu
pengganggu yang bisa tumbuh dengan bahan pencemar.
subur bersama tanaman lain. Adapun
beberapa pencemaran lingkungan yang Metode Penelitian
ditimbulkan oleh pestisida yaitu Praktikum ekotoksikologi uji
pencemaran tanah dan air, mengganggu toksisitas pestisida terhadap Oreocromis
kandungan unsur hara sehingga dapat sp. ini dilaksanakan di Laboratorium
merusak tanaman bila diserap hingga Ekologi Perairan Departemen Perikanan
ikan dalam suatu lingkungan perairan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah
dapat teracuni. Mada dengan dibagi menjadi 2 golongan.
Herbisida merupaan pestisida Golongan 1 melakukan uji pendahuluan
kationik dengan kelarutan di dalam air yang dilakukan pada tanggal 13
sangat tinggi. Bahan aktif yang September hingga 17 September 2016,
terkandung dalam herbisida merupakan sedangkan golongan 2 melakukan uji
pestisida kationik (divalent), sehingga sesungguhnya pada tanggal 19
berpotensi mengalami pertukaran kation September hingga 23 September 2016.
di dalam tanah. Ion paraquat dapat Penelitian dimulai dengan
bereaksi dengan lebih dari satu ion COO pemeliharaan, aklimatisasi, uji
koloid organic tanah. Paraquat akan pendahuluan, uji sesungguhnya, dan
bereaksi dan diikat oleh dua gugus reaktif kualitas air. Pada uji pendahulluan 10
ekor ikan dengan panjang 4-6 cm terpakai dan f = factor koreksi = 1. Selain
dimasukkan ke dalam aquarium yang itu untuk parameter biologi dilakukan
telah diisi 20 liter air dan bahan perhitungan gerak operculum yakni buka
pencermar dengan beberapa varian tutup insang dalam 1 menit dengan alat
konsentrasi. Pengamatan dilakukan bantu hand counter, escape refleks dan
setiap 24 jam untuk parameter fisik dan jumlah mortalitas hewan uji yang dihitung
biologi, sedangkan parameter kimia mulai dari 0 jam pengamatan. Hasil
dilakukan setiap 48 jam, mulai dari 0 jam perhitungan mortalitas yang diperoleh
sampai dengan 96 jam. Penelitian terdiri kemudian digunakan untuk menentukan
dari dua perlakuan yani aersi dan non LC50 dari Herbisida terhadap ikan nila
aerasi pada tiap-tiap konsentrasi, menggunakan analisis regresi linier
kosentrasi pada uji pendahuluan sebagai sederhana dengan rumus y= a+bx.
berikut : K1 (1,725 ppm); K2 (2,001 ppm); Alat yang digunakan antara lain
K3 (2,3 ppm); K4 (2,645 ppm); K5 (3,105 akuarium, bak penampungan sementara,
ppm); dan K6 sebagai kontrol. Uji ember, seser, termometer, botol oksigen,
sesungguhnya dilakukan berdasarkan erlenmeyer, gelas ukur, pipet ukur, pipet
nilai LC50-96 jam dari uji pendahuluan tetes, penghitung waktu (stopwatch),
dengan konsentrasi yang lebih sempit, kempot, dan pH meter. Bahan yang
konsentrasi uji sesungguhnya sebagai digunakan antara lain air uji, ikan nila,
berikut : P1 (1,725 ppm); P2 (2,001 ppm); pestisida sebagai bahan pencemar,
P3 (2,3 ppm); P4 (2,645 ppm); P5 (3,105 larutan MnSO4, larutan reagen oksigen,
ppm); dan P6 sebagai kontrol. Pada uji larutan H2SO4 pekat, larutan 1/80 N
kualitas air parameter yang diuji adalah Na2S2O3, larutan 1/44 N NaOH, larutan
parameter kimia (DO, pH, CO2, indikator amilum, larutan indikator
alkalinitas), parameter fisik (suhu), phenolphthalein (pp), larutan indikator
parameter biologi (gerakan operkulum, methyl orange (MO), larutan 1/50 N
escape refleks, mortalitas). Untuk H2SO4, larutan buffer dan kertas label.
parameter kimia rumus perhitungan Prinsip kerja praktikum ini adalah
kandungan oksigen metode winkler yaitu, aklimasi, uji pendahuluan dan uji
DO : 1000/50 x a x (f) x 0,1 mg/l, yakni a sesungguhnya.Uji toksisitas akut
sebagai volume titran, Na2 S2O3 yang umumnya memberikan estimasi paparan
terpakai, f adalah factor koreksi: 1. untuk konsentrasi yang menyebabkan kematian
rumus kandungan CO2 terlarut yakni 50 % (LC50) organisme uji pada periode
1000/50 x b x (f) x 0,1 mg/l , yaitu b waktu tertentu. Jangka waktu paparan
adalah volume titran 1/44 N NaOH yang yang mudah digunakan adalah 96 jam
sehingga uji toksisitas akut sering di dibanding herbisida, yakni sebesar
ekspresikan dengan LC50-96 jam. 0.00025 (herbisida) dan 1.35 (insektisida),
sehingga insektisida lebih mematikan
Hasil dan Pembahasan dibanding dengan herbisida.
Pembahasan Umum Pada dasarnya, aneka ragam
LC50 insektisida dan LC50 faktor yang dapat mempengaruhi
herbisida memiliki perbedaan yang cukup ketoksikan racun, dapat digolongkan
jelas dalam hasilnya. Pada LC50 menjadi dua, yakni faktor yang berasal
insektisida memiliki nilai lebih tinggi dari dari racun ( faktor intrinsik racun ) dan
LC50 herbisida, kematian pada yang berasal dari makhluk hidup ( faktor
Insektisida lebih besar dari hersida, ini intrinsik makhluk hidup ).
karena sifat dari kedua bahan tersebut. Faktor interistik racun
Pada insektisida dalam merusak suatu merupakan faktor yang berasal dari racun
organisme, langsung menyerang syaraf itu sendiri, dalam arti senyawa tersebut
dari organ yang terkena bahan ini. memang bersifat racun. Racun
Sehingga seluruh mekanisme kerja dari merupakan bahan atau zat kimia yang
bahan tersebut langsung terganggu berbahaya tubuh. Karena itu,
hingga berhenti bekerja, sehingga ketoksikannya tidak lepas dari sifat fisika
menyebabkan cacat sampai kematian atau kimia bawaan dari racun tersebut.
mendadak. Namun pada herbisida dalam Dengan kata lain, faktor kimia merupakan
menyerang organ pada organisme salah satu penentu ketoksikan racun.
memiliki fase yang cukup panjang, Efek toksik racun diawali oleh masuknya
herbisida tidak secara langsung racun tertentu ke dalam tubuh. Selain
menyerang syaraf yang ada pada organ, faktor kimia diatas aneka ragam faktor
tetapi herbisida secara perlahan merusak yang berkaitan dengan kondisi
organ melalui fungsi kerja organ tersebut. pemejanan (exposure) racun terhadap
Untuk dapat merusak organ, herbisida makhluk hidup, faktor pengolahan, faktor
masuk melalui aliran darah, berbeda pengawetan hingga faktor pengentalan,
dengan insektisida yang langsung juga dapat mempengaruhi ketoksikannya
menyerang syaraf tanpa melalui aliran suatu senyawa.
darah. Oleh karena itu pada perlakuan Pada dasarnya, faktor intrinsik
yang diberikan herbisida memiliki nilai makhluk hidup adalah kondisi makhluk
LC50 yang lebih kecil dibanding pada hidup yang meliputi berbagai keadaan
insektisida. Berdasarkan pustaka yang di fisiologis serta patologis yang dapat
dapat nilai LC50 Insekrisida lebih tinggi mempengaruhi ketoksikan suatu racun,
melalui pengaruhnya atas keefektifan racun daripada yang lain, sehingga untuk
translokasi racun di dalam tubuh, atau menderita tingkat toksik yang sama
kerentanan tempat aksi terhadap aksi diperlukan takaran atau dosis yang lebih
racun. Faktor interinsik makhluk hidup tinggi. Perbedaan daya tahan individu
dapat disimpulkan sebagai faktor yang terhadap ketoksikan racun dikenal
sangat di pengaruhi oleh kemampuan sebagai toleransi dan resistensi.
tubuh dalam menerima toksik, semakin Fungsi uji toksisitas berdasarkan
lemah tubuh dalam menerima toksik maksud dan tujuan penelitian adalah
maka ketoksikan racun semakin kuat dan pemantauan kualitas air limbah, uji bahan
sebaliknya. Beberapa faktor ketoksikan atau satu jenis senyawa kimia, penentuan
suatu racun berdasarkan interistik toksisitas serta daya tahan dan
makhluk hidup yaitu pertama kapasitas pertumbuhan organisme uji (Rossiana,
fungsional cadangan yaitu kemampuan 2006). Uji toksisitas digunakan untuk
suatu organ dalam menerima unsur toksik mengevaluasi polusi air, karena uji kimia
hingga mencapai keracunan; kedua faktor dan fisika sendiri tidak cukup dalam
genetika yaitu Tempat aksi racun dapat memperkirakan pengaruh polutan
berupa enzim, reseptor, atau protein. terhadap toksikan. Kepekaannya
Enzim dan protein nirenzim ada di dalam terhadap racun dari suatu spesies
tubuh menurut ciri khas model genetika tergantung pada umur, ukuran, jenis
masing-masing anggota populasi makhluk kelamin, kondisi reproduksi dan
hidup, maka cacat genetika dalam pemaparan oleh tekanan lain (Charpman
anggota suatu jenis makhluk hidup dapat 1978).
menyebabkan kekurangan jumlah atau Pada uji bioassay sering
ketidaksempurnaan molekul enzim. dilakukan dalam bentuk statis (air tidak
Adanya cacat genetika ini dapat mengalir) dengan menggunakan spesies
berdampak negative atau positif terhadap yang relatif tahan dalam jangka waktu 48
ketoksikan racun; dan ketiga toleran dan atau 96 jam untuk memperolah daya akut
resistensi yaitu Daya tahan seseorang dengan standar jumlah ikan uji dalam
terhadap ketoksikan racun berbeda wadah uji sekitar 2.5 liter per gram ikan.
dengan yang lain. Seseorang mungkin
lebih tahan terhadap ketoksikan suatu
Uji Sesungguhnya perlakuan yaitu dengan aerasi dan non
Dalam uji toksisitas pada aerasi, dimana masing-masing perlakuan
penelitian ini dilakukan dengan 2 dilakukan 2 kali ualangan.

Tabel 1. Hasil pengamatan uji toksisitas perlakuan aerasi

Parameter
Konsentrasi Fisika Parameter Kimia Parameter Biologi
Jam
(ppm) DO C02
Suhu Air pH (ppm) (ppm) GO ER M
0 29,5 7,1 7,9 7,5 193,5 4 0
1,725 30 7,2 6,78 19 152,4 4 0
2,001 30 7,1 5,7 17 153,1 4 0
0
2,300 30,5 7,2 6,76 11,6 147,9 4 0
2,645 29,5 7,1 5,9 14,5 161,9 3,5 0
3,105 29,5 7,1 4,4 16,8 145 3,5 0
0 28 153 4 0
1,725 28 192 4 0,5
2,001 28 175 3,5 0
24
2,300 28 194,5 4 0
2,645 28 175 4 0
3,105 28 170 3 0
0 28 7,25 8,1 2 135 4 0,5
1,725 28 7,35 6,29 4,2 141 3,5 0
2,001 28 7,45 7,38 4,6 154,5 4 0
48
2,300 27,5 7,35 6,58 6,9 143 4 1,5
2,645 27,5 7,4 7,8 4 138,5 3,5 0
3,105 27,5 7,4 7,17 5,5 136 3 0,5
0 28 120 4 1,5
1,725 28,25 116,5 4 1
2,001 28 111,5 4 0
72
2,300 28 94,5 4 0
2,645 28 114 3,5 0,5
3,105 28 69 3,5 0
0 28 7,5 5,65 0 103,5 4 0,5
1,725 28 7,35 5,9 1,54 127 4 0
2,001 28 7,35 7,07 3 157 4 0,5
96
2,300 28 7,4 5,78 2,8 143,5 3,5 0
2,645 28 7,4 7,9 6 108 3,5 0
3,105 28 7,3 6,8 7 110,5 3,5 1
Tabel 2. Hasil pengamatan uji toksisitas perlakuan non aerasi

Parameter Parameter Kimia Parameter Biologi


Konsentrasi Fisik
Jam
(ppm) DO CO2
Suhu Air pH (ppm) (ppm) GO ER M
0 29,5 6,95 4,74 24,9 120,5 4 0
1,725 30 6,95 4,4 26,5 129 4 0
2,001 30,5 7 4,5 38,3 137 4 0
0
2,300 30 7 3,42 23,5 139 4 0
2,645 30,5 7 3,82 27,4 136 4 0
3,105 30 7,05 3,94 32,2 101,5 4 0
0 27,25 159 4 2
1,725 27 156 4 1
2,001 26,75 190,5 4 0
24
2,300 26,75 205,5 3,5 0
2,645 26,75 200 3 1
3,105 27 185 2 7
0 28 7,05 2,1 24,5 174 4 4
1,725 27,5 7 2,25 30,8 169,5 4 0
2,001 27,25 7 2,12 30 184 3 0
48
2,300 28 7 2,56 28 215,5 3 0
2,645 27,5 7 1,61 30,1 218 2,5 0
3,105 27,5 7 1,01 25,7 82,5 1,5 3
0 27,5 219 2 4
1,725 27,5 163,5 3,5 0
2,001 27 169,5 3 0
72
2,300 27 174,5 3 1
2,645 27 181 2,5 0
3,105 27 200 2 0
0 27,5 7,2 1,93 24,9 277 2 0
1,725 27,5 7,15 1,52 18,1 189 3,5 2
2,001 27,75 7,15 1,09 19,2 194,5 3 0
96
2,300 27,75 7,1 1,5 17,6 193,5 3,5 0
2,645 27,75 7,1 1,12 15,3 206 2 0
3,105 27,75 7,2 1,42 18 201 1 0
Pengamatan yang diamati operculum terendah sebesar 82,5 terjadi
meliputi parameter fisik, kimia, dan pada saat 48 jam pada konsentrasi zat
biologi. Pada parameter fisik parameter pencemar 3,105 ppm, gerakan operculum
yang diamati hanya suhu, pengamatan tertinggi sebesar 215,5 terjadi pada 48
terhadap suhu dilakukan karena jam pada konsentrasi zat pencemar
parameter tersebut dapat mempengaruhi sebesar 2,3 ppm. Gerakan operculum
kinerja metabolisme organ makhluk hidup perlakuan aerasi menunjukan nilai yang
air, pada perairan yang berbeda memiliki lebih rendah dibandingkan dengan non
tingkatan suhu yang berbeda. aerasi, hal ini dikarenakan pada
Berdasarkan tabel 1 dan 2 di atas terlihat perlakuan aerasi terdapat tambahan
suhu pada akuarium pengamatan dalam suplai oksigen sedangkan non aerasi
kondisi normal, karena pada kisaran tidak. Secara umum waktu pengujian
260C-310C, ini sesuai suhu normal yang berbanding lurus dengan gerakan
diuatarakan oleh Effendi (2003) yakni operculum sehingga semakin lama waktu
0 0
berkisar 27 C-32 C. Hal ini berarti dari pengujian maka semakin sedikit gerakan
keseluruhan perlakuan aerasi maupun operculum. Escape reflex pada perlakuan
non aerasi suhu air masih sesuai untuk aerasi didapatkan hasil sebesar 3,5-4,
tempat hidup ikan. Selain itu suhu pada 2 ikan uji masih memberikan respon yang
perlakuan juga relative stabil atau tidak baik terhadap ketukan yang diberikan
mengalami fluktuasi yang tinggi, hal ini yakni berkisar 3.5-4. Pada perlakuan non
dikarenakan air memiliki heat capacity aerasi didapatkan hasil sebesar 1-4.
atau daya simpan panas yang lebih baik Berdasarkan bagian non aerasi, escape
dan kalor jenis air yang lebih tinggi. reflex tiap jamnya semakin besar
Pada parameter biologi yang konsentrasi zat pencemar makan escape
diamti adalah gerakan operculum, escape reflex akan menurun. Untuk nilai
reflex, dan juga mortalitas. Pada mortalitas pada perlakuan aerasi
perlakuan aerasi hasil gerakan operculum didapatkan hasil 0-1,5, dimana nilai 0
yang didapat adalah 69-194,5, gerakan menunjukan tidak adanya mortalitas,
operculum terendah terjadi pada 72 jam sedangkan mortalitas tertinggi sebesar
pada konsentrasi zat pencemar 31,105 1,5 yang artinya kematian berada di
ppm, sedangkan gerakan operculum bawah 50% dari populasi. Untuk pada
tertinggi terjadi pada 24 jam pada perlakuan non aerasi didapatkan nilai
konsentrasi zat pencemar 2,3 ppm. mortalitas tertinggi sebesar 7 yang terjadi
Sedangkan pada perlakuan non aerasi pada 24 jam pada konsentrasi zat
didapatkan hasil 82,5-215,5, gerakan pencemar sebesar 3,105 ppm. Nilai
mortalitas perlakuan non aerasi lebih Kadar CO2 bebas dipengaruhi oleh
tinggi dari aerasi hal ini berkaitan dengan banyaknya O2 di dalam air dan
suplai oksigen yang berpengaruh metabolisme ikan. Semakin banyak O2
terhadap metabolisme ikan. yang dihirup maka ikan dapat melakukan
Parameter kimia yang diamati respirasi dengan baik sehingga CO2
adalah DO, CO2 bebas, Alkalinitas dan bebas yang dikeluarkan juga cukup
juga pH. Pada perlakuan aerasi nilai DO banyak, selain itu DO berbanding terbalik
yang diddapat berkisar antara 4,4- dengan CO2 bebas. Kandungan karbon
8,1ppm. Pada perlakuan non aerasi nilai dioksida yang aman harus kurang dari 5
DO yang didapat berkisar antara 6,95- mg/ l air. Namun, nila merah masih
7,15 ppm. Menurut Charpman (1978) ikan mampu hidup pada kandungan
nila dapat hidup pada kandungan DO 5-9 karbondioksida sampai 25 mg/l air(Arie,
ppm namun masih dapat mentoleransi 1999). Sehingga tingginya CO2 bebas di
DO > 3 ppm (Boyd,1982), sehingga perairan (akuarium) mengindikasikan
meskipun kandungan DO tidak sesuai yang racun bagi ikan dan tidak layak
dengan tempat hidup ikan nila tetapi untuk tempat hidup ikan. Pada perlakuan
masih dapat di terima atau sesuai oleh aerasi nilai pH yang didapat berkisar
tubuh ikan, hal terjadi pada jam 0 antara 7,1-7.5, sedangkan nilai pH pada
konsentrasi 3,105 yang menghasilkan DO perlakuan non aerasi berkisar antara
4,4 ppm. Pada perlakuan non aerasi 6,95-7,15. Pada perlakuan non aerasi
kandungan DO cenderung menurun, ini cenderung lebih asam karena adanya
karena suplai oksigen untuk perlakuan ini peningkatan CO2 pada perairan yang
kurang karena tidak adanya aerator. Nilai dimana CO2 bersifat asam, akan tetapi
CO2 bebas pada perlakuan aerasi ikan masih bisa beradaptasi pada pH
didapatka hasil berkisar antara 0-16,8 tersebut.
ppm. Pada perlakuan non aerasi
didapatkan hasil sebesar 15,3-38,3 ppm.
KONSENTRASI VS MORTALITAS
12

10
y = -1.3628x + 6.8414
R = 0.1007
Mortalitas (ekor)

8
KONSENTRASI VS
6 MORTALITAS

4 Linear
(KONSENTRASI
VS MORTALITAS)
2

0
0 1 2 3 4
Konsentrasi (ppm)

Grafik 1. mortalitas vs konsenterasi

Grafik mortalitas uji itu semakin tinggi konsentrasi bahan


sesungguhnya hanya terdapat pada uji toksik nilai mortalitas cenderung
perlakuan non aerasi, inikarena pada mengalami peningkatan.
perlakuan aerasi mortalitas tidak Grafik di atas menunjukkan
mencapai 50% dari populasi dalam arti persamaan regrasi y = -1,362x + 6,841,
LC50 dari perlakuan aerasi tidak dimana y merupakan variabel terikat yang
diketahui. menunjukkan mortalitas hewan uji selama
Berdasarkan perlakuaan non 96 jam. Nilai a merupakan titik potong
aerasi yang diperoleh, nilai mortalias sumbu Y nilainya sebesar 6,841 dan b
tertinggi terdapat pada konsentrasi 3,105 merupakan kemiringan garis regresi yang
pada jam 24. Terlihat juga hasil dari nilainya sebesar -1,362. Kemudian x
mortalitas yang fluktuatif ini karena merupakan konsentrasi transfluthrin.
semakin lama waktu pemaparan dengan Berdasarkan hasil pengamatan,
toksikan maka pengaruhnya terhadap didapatkan LC50-96 jam pestisida
ikan semakin besar, jika ikan tidak terhadap ikan nila non aerasi sebesar
mampu beradaptasi maka ikan mati. 1,35 ppm.
Sedangkan, semakin besar konsentrasi Hubungan antara mortalitas
bahan kimia toksik maka semakin kuat dengan konsentrasi pencemar
pula efek toksik yang dapat mengganggu menunjukkan bahwa semakin besar
kelangsungan hidup ikan uji. Oleh karena penambahan konsentrasi pencemar maka
mortalitas yang terjadi semakin besar, nilai LC50. Hali ini dikarenakan adanya
namun terdapat konsentrasi bahan bantuan aerator yang menyediakan suplai
pencemar yang dapat menyebabkan oksigen. Ketersediaan oksigen membantu
mortalitas yang lebih rendah jika ikan untuk menjalankan proses
konsentrasinya ditingkatkan. Hasil metabolisme menjadi lebih baik
pengamatan yang terjadi seperti tersebut dibandingkan dengan tanpa aerasi
bisa disebabkan karena faktor internal sehingga daya tahan tubuh ikan lebih baik
hewan uji. Kondisi hewan uji juga (Kholik, 2000). Jika dibandingkan supali
mempengaruhi. Ukuran, kesehatan dan DO pada perlakuan aerasi lebih besar
umur ikan berpengaruh terhadap daya dibandingkan dengan non-aerasi karena
toksisitas suatu pencemar. Ikan yang aerator membantu ketersediaan suplai
sakit hingga stress lebih mudah oksigen.
terpengaruh oleh keberadaan suatu Penggunaan dua perlakuan
bahan pencemar. Semala melakukan aerasi dan non aerasi bertujuan untuk
pengamatan, hewan uji tidak diberi membandingkan nilai LC50-96 jam pada
makan dan tidak mendapat bantuan ikan nila yang hidup di daerah kaya
oksigen dari aerator, itu juga menjadi oksigen dan ikan nila yang hidup di
faktor pendukung kematian ikan selain daerah miskin oksigen, hal ini juga akan
dari bahan toksik yang sedang di amati. mempegaruhi suhu yang selanjutnya kan
Berdasarkan grafik di atas, mempengaruhi kandungan DO perairan
diketahui nilai R2 =0,1007 yang berarti yang secara tidak langsung juga memiliki
bahwa keterkaitan antara konsentrasi dan hubungan dengan CO2 bebas, dan
mortalitas adalah sekitar 10,07%, atau berkesinabungan berhubungan dengan
dapat dikatakan bahwa setiap penigkatan pH, alkalinitas dan perlakuan ikan. Jadi
konsentrasi bahan pencemar yang karena adanya aerasi dan non-aerasi
diberikan tidak terlalu memberikan akan dapat mengetahui kompleks
pengaruh terhadap kenaikan mortalitas hubungan antara konsentrasi toksikan
ikan sekitar 10,07%, sedangkan terhadap parameter terukur. Dalam
peningkatan mortalitas ikan sebesar penelitian uji toksisitas sebaiknya
89,93% dipengaruhi oleh faktor atau digunakan perlakuan aerasi pada setiap
variabel lain. akuarium uji, karena ikan akan lebih stabil
Pada praktikum ini dilakukan 2 keadaannya jika kualitas air yang dipakai
perlakuan yakni aerasi dan non aerasi. untuk menguji baik sehingga dapat
Pada aerasi tidak didapatkan nilai LC50 memperkecil kesalahan/eror pada saat
sedangkan pada non-aerasi didapatkan penelitian berlangsung. Selain itu agar
bahan toksik yang digunakan dapat herbisida, fungsi hematologi darah ikan
teraduk merata dan semakin intens dan juga terganggu setelah terkena arsenik.
optimal dalam pengujian.
Berdasarkan grafik mortalitas Kesimpulan
terhadap LC50-96 akuarium dengan Untuk mengukur suatu bahan
perlakuan non aerasi memiliki fungsi toksik diperairan dapat menggunakan Uji
untuk menunjukkan batas konsentrasi Toksisitas dengan mencari LC50-96 jam
bahan pencemar yang menyebabkan suatu bahan toksik. Herbisida jenis
kematian pada ikan nila. Nilai LC50-96 Isopropilamina glifosfat merupakan salah
jam yang didapat yakni sebesar 1,35 satu bahan pencemar perairan yang
ppm. Nilai LC yang didapatkan pada bersifat subletal, bahan kimia tersebut
penelitian ini jika dibandingkan dengan memiliki LC50-96 jam pada pengamatan
pustaka dari penelitian lain yakni sebesar sebesar 1,35 ppm. Metode yang
324,38 ppm (Mulyani et al, 2014) jauh digunakan adalah metode analisis probit
berbeda dengan nilai LC50-96 jam yang atau metode regresi linier sederhana
didapatkan pada penelitian ini, hal ini dengan rumus Y = a + bx ; dimana Y =
dapat terjadi karena banyak faktor seperti mortalitas ikan dan X = konsentrasi
perlakuan, banyaknya ikan,dan lain herbisida, nilai a merupakan titik potong
sebagainya. sumbu Y dan b merupakan kemiringan
Herbisida merupan bahan toksik garis regresi. Berdasar nilai LC50
yang bersifat sublethal, dimana bahan diketahui bahwa adanya pestisida dalam
toksik tersebut tidak secara langsung akuarium dengan aerasi lebih toksik dan
mematikan seluruh populasi ikan namun tergolong subletal daripada pestisida
ikan akan mengalami kematian secara dalam akuarium dengan aerasi.
perlahan dan mengalami gangguan fungsi
patomologik dan patofisiologi setelah Saran untuk praktikum selanjutnya
terpapar bahan toksisk arsenit tersebut ikan yang di gunakan harus dalam
dalam waktu yang cukup lama. keadaan baik, dan dalam pengambilan
Pernyataan tersebut sesuai dengan ikan cukup menggunakan satu org yang
penelitian yang dilakukan oleh Reddy dkk ditugaskan saja, sehingga menimalisir
(2013) yang menunjukkan bahwa adanya ikan yang stress.
penindihan di granulosit , eritrosit ,
hemoglobin, nilai hematokrit yang
menurun karena toksisitas oksidatif
Daftar Pustaka 37 (1): 1-6 (2014). Jurusan Biologi,
Argo D, Imono. 2001. Toksikologi Dasar. FMIPA Universitas Negeri
Laboratorium Farmakologi Dan Semarang.
Toksikologi Fakultas Farmasi Probosunu, 2004. Penentuan Toksisitas
Universitas Gajah Mada. Suatu Bahan Pencemaran di
Boyd,C.E.1982.Water Quality For Perairan. Laboratorium Ekologi
Management for Pond Fish Perairan Jurusan Perikanan,
Culture.Elsevier Scisentific Universitas Gadjah Mada,
Publishing Yogyakarta.
Company.Amsterdam.318 p. Rahmawati. 2012. Pengaruh limbah
Cairns, Jr., J., Dickson, K.L., dan Maki . pabrik karet terhadap jumlah
A.W. (Eds.). 1978. Estimating the gerakan operkulum dan frekuensi
Hazard of Chemical Substance to batuk ikan mas (cyprinus carpio l.).
Aquatic Life. ASTM. Philadelphia. skripsi. Universitas negeri padang,
Charpman 1978. Estimating the Hazard of Padang.
Chemical Substance to Aquatic Life. Rochdianto, A. 2000. Budidaya Ikan di
ASTM. Philadelphia. Jaring Terapung. Penebar
Connell,D.W. dan Miller,G.J. 2006. Kimia Swadaya, Jakarta.
dan Ekotoksikologi Pencemaran.
UI-Press, Jakarta.
Daelami, 2001. Usaha pembenihan ikan
hias Air Tawar. Penerbit Swadaya.
Jakarta.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi
Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Cetakan
Kelima. Kanisius. Yogjakarta.
Kholik. Abdul. 2000. Kamus Biologi
Praktis. CV Nurul Umu: Jakarta.
Mulyani, FAM., P. Widiyaningrum, NR.
Utami,. 2014. Uji Toksisitas dan
Perubahan Struktur Mikroanatomi
Insang Ikan Nila Larasati
(Oreochromis nilloticus) yang
Dipapar Timbal Asetat. Jurnal MIPA