Anda di halaman 1dari 68

PENGINDERAAN JAUH

Oleh :
Ir. Christine Noegroho Kartini, SU.Pj.
JURUSAN TEKNIK GEODESI
FAKULTAS TEKNIK

Penginderaan Jauh
1. Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh
informasi tentang objek, daerah atau gejala, dengan jalan
menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat, tanpa
kontak langsung dengan objek, daerah atau gejala yang akan dikaji
(Lillesand dan Kiefer, 1990).
2. Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh,
menenentukan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan
sensor pada posisi pengamatan daerah kajian (Avery, 1985).
3. Penginderaan jauh merupakan teknik yang dikembangkan untuk
memperoleh dan menganalisis informasi tentang bumi. Informasi itu
berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau
dipancarkan dari permukaan bumi (Lindgren, 1985).

Penginderaan jauh merupakan upaya memperoleh informasi tentang objek


dengan menggunakan alat yang disebut sensor (alat perekam), tanpa kontak
langsung dengan objek.
Jadi penginderaan jauh merupakan pemantauan terhadap suatu objek dari
jarak jauh dengan tidak melakukan kontak langsung dengan objek tersebut.
Pengertian Inderaja (Remote Sensing)
Inderaja atau Penginderaan Jauh adalah sains dan teknologi yang
dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, atau menganalisis
karakteristik dari obyek yang diinginkan tanpa melakukan kontak langsung
dengan obyek tsb.
Radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan oleh obyek
merupakan sumber data untuk penginderaan jauh.
Alat yang dipergunakan unt merekam radiasi elektromagnetik yang
dipantulkan atau dipancarkan oleh obyek disebut sebagai Sensor, sedangkan
vehicle yang membawa sensor tsb disebut platform/wahana, contohnya adl
satelit atau pesawat udara.

Pengertian Citra
Citra digital atau citra didefinisikan
sebagai penyajian fungsi intensitas cahaya
f(x,y) dalam dua dimensi, dimana f(x,y)
menyatakan nilai intensitas cahaya tersebut
sedangkan x meyatakan posisi baris dan y
menyatakan posisi kolom (Schalkoff, 1989).
Secara sederhana, sebuah citra berbentuk
matrik dengan eleman terkecilnya berupa pel
atau piksel.

Penginderaan jauh
BUMI
SENSOR (Kamera udara, Scanner)
CITRA PJ (hardcopy, digital)
OBSERVASI dan PENGUKURAN
(Interpretasi, fotogrametri)
BASISDATA (Spasial dan Atribut)

Pemetaan
IMAGE (CITRA)
IMAGE INTERPRETATION
: manual/digital/interactive

klasifikasi

TENTATIVE MAP FIELD CHECK


REINTERPRETATION KUNCI INTERP.
PETA TEMATIK

Representasi dan Format Data Citra Digital (NASDA,1999)

Pengertian Interpretasi Citra


Interpretasi citra didefinisikan sebagai ekstraksi
informasi kualitatif dan kuantitatif dalam bentuk peta,
baik berupa bentuk, lokasi, struktur, fungsi, kualitas,
kondisi, hubungan antar obyek dengan menggunakan
pengetahuan atau pengalaman manusia (JARS,
1996). Interpretasi citra sering kali disebut sebagai
photo interpretation (interpretasi foto).
Interpretasi pada citra satelit dapat dilakukan
menggunakan sebuah citra satelit saja,sedangkan
pada foto udara umumnya menggunakan foto stereo

Preparatio
n
Thematic
Map

Pre-Works
Image
Analysis

Image
Reading
Image Measurement

Proses Interpretasi Citra (JARS, 1996)


Preparation/Persiapan
Antara lain mencakup kegiatan pengadaan citra/foto dan alat bantu
Pre-Work
Antara lain membaca anotasi data dan mengorientasikan citra terhadap peta
referensi atau base map
Image Reading
Identifikasi obyek menggunakan unsur-unsur interpretasi (al. bentuk, ukuran, pola,
tone, teksture, warna, bayangan, dan asosiasi).
Image Measurement
Ekstraksi informasi physical quantitaties, al. panjang, lokasi, tinggi, kerapatan
dengan menggunakan data referensi
Image Analysis
Pemahaman hubungan antara informasi hasil interpretasi dengan kondisi
sebenarnya unt mengevaluasi situasi.
Thematic Map
Penyajian dari hasil interpretasi

Dasar Fisika Inderaja


Persamaaan gelombang:

c f

c = kecepatan gelombang (3.108 m/det)


f = frekunsi (hertz)
= panjang gelombang

Gambar Gelombang Elektromagnetik (GEM)

Dasar Fisika Inderaja

0.4

0.5

0.7 m

0.6

Visible
Pajang gelombang (m)
10-6

10-5

10-4

Sinar
Sinar X
gamma
Sinar
kosmik

10-3

10-2

10-1

UV

10

102

103

Termal IR

Gambar Spektrum GEM

104

105

106

Microwav
e

107

108

109

TV dan
Radio

Sistem Penginderaan Jauh


Sumber GEM

Platform Satelit
Data
Receiving Station
and Processing

Permukaan Bumi

Pengguna

Komponen Sistem Penginderaan Jauh.


1. Sumber energi
2. Atmosfir , sebagai medium
3. Obyek , gelombang elektromagnetik yang
dimantulkan atau dipancar oleh obyek diatas
permukaan bumi (obyek yang direkam)
4. Interaksi antara gelombang
elekyromagnetik ,atmosfir dan obyek dan
diterima oleh sensor.
5. Sensor adalah alat perekam

I .Sumber energi:
Matahari ( alami ) : disebut sistem penginderaan jauh pasif.
Sumber energi yang dipancarkan oleh obyek yang punya suhu : disebut
dengan penginderaan jauh pasif juga.
Sumber buatan : disebut system penginderaan jauh aktif.
II Atmosfir :
Jalur trasmisi gelombang elektromagnetik dilakukan melalui atmosfer.
Atmosfer bersifat sebagai penghantar/ penghambat energi yang sampai
ke obyek dank e sensor(akan punya pengaruh terhadap data yang
diperoleh).
III. Obyek diatas permukaan bumi.
Obyek diatas permukaan bumi yang akan dikaji ( informasi yang di
butuhkan ).
IV. Interaksi antara gelombang elektromanetik ,atmosfer dan obyek.
Pada aplikasi P.J didarat maupun air pantulan /pancaran radiasi
gelombang elektromagnetik akan memberikan karakteristik obyek ( jenis
oyek yang dikaji ).
Pantulan/pancaran terjadi ketika radiasi mengenai obyek kemudian
mengalihkan arah ke sensor ( akan menghasilkan gambar yang di sebut
citra).

V. Sensor.
Sensor disebut dengan alat perekam (alat pemotret ).
Sensor bisa berupa Kamera udara atau Skenner.
Untuk merekam sensor dapat di letakkan di ( dibawa oleh ).
- Airborne Sensing ( pesawat terbang ) yang hasilnya
1. foto udara
2. citra radar ( slar image )
3. small format dan
4. Hyperspektral.
- Spaceborne Sensing ( satelit ) yang hasilnya
1. Citra Landsat
2. Citra SPOT
3. Citra Aster
4. Citra IKONOS
5. Citra Quickbird

ANALISIS CITRA
Analisis Citra bisa dilakukan dengan dua cara :
1. Analisis secara visual menggunakan unsurunsur iterpretasi ( Rona/warna, bentuk, ukuran,
pola, tekstur, tinggi, bayangan, situs, dan asosiasi )
Dapat dilakukan secara monoscopis enterpretasi atau
stereokospis enterpretasi.
2. Analisis secara Digital (dilakukan dengan
bantuan komputer )
Dapat dilakukan secara monospeltral dan
multispektral

Interaksi antara Obyek dengan GEM


(NASDA,1999)

Jenis Citra: Foto Udara


a. Foto Udara Pankromatik Hitam Putih
Mrp jenis citra yang digunakan paling banyak dalam
pemotretan udara
Mempunyai kepekaan pada range panjang gelombang Biru
sd Merah
Umumnya dilengkapi dengan filter untuk mengurangi
pengaruh asap dan kabut
b. Foto Udara Pankromatik Berwarna
Citra ini memberikan warna alami dari obyek yang
terpotret
Digunakan pada kondisi cuaca yang baik
Aplikasi al. pada bidang identifikasi jenis tanah dan batuan,
hidrografi

Jenis Citra: Foto Udara


c. Foto Udara Infra merah Hitam Putih
Mempunyai kepekaan untuk merekam bagian spektrum
inframerah (termasuk near infrared)
Dapat digunakan filter merah unt melewatkan spektruk
gelombang merah saja dan mampu meningkatkan kontras
Citra ini mampu menembus kabut lebih baik dari pada film
pankromatik hitam putih.
Aplikasi al. delineasi water bodies, garis pantai, kanal,
studi vegetasi
d. Foto Udara Inframerah Berwarna
Disebut pula false color, karena tidak menghasilkan warna
yang sesuai dengan warna aslinya ( warna semu )
Aplikasinya al unt mendeteksi awal kerusakan tanaman
dan membedakan antara air asin dengan air tawar

Jenis Citra: Foto Udara

Foto udara memiliki ciri khas, selalu ada informasi tepi yang
menunjukkan saat pemotretan ( jam pemotretan), tinggi
terbang (bacaan altimeter pesawat), posisi sumbu kamera
dinyatakan nivo kotak muncul (syarat foto udara tegak),
nomor exposure, dan bisa juga posisi koordinat ( bila memakai
pembacaan koordinat GPS). Tiap foto memiliki empat tanda
tepi atau tanda fidusial ( fiducial mark) yang merupakan
pedoman untuk menentukan posisi pusat proyeksi ( titik
utama tiap foto)
B
Nivo kotak
Saat pemotretan

T
U

Bacaan
altimeter
Registrasi bukaan/
exposure
A, B, C, D: Fiducial
marks
TU:
Titik utama foto

Jenis Citra: Foto Udara Pankromatik Yogyakarta


1994

Jenis Citra: Citra Satelit Landsat


Program Earth Resources Technology Satellite (ERTS) telah
meluncurkan seri pertama dari satelit Landsat pada tahun
1972. Proyek eksperimental ini sukses dan dan dilanjutkan
dengan seri kedua, tetapi berganti nama dengan Landsat.
Landsat 1,2, dan 3 membawa sensor Multispektral Scanner
(MSS) dan kamera Return Bean Vidicon (RBV) percobaan.
Generasi satelit Landsat berikutnya yaitu satelit Landsat 4
membawa sensor MSS dan Thematic Mapper (TM) dan diikuti
satelit Landsat 5 yang membawa sensor yang sama. Seri satelit
Landsat yang ke-6 mengalami kegagalan dalam peluncurannya
dan tidak mencapai orbit.
Khusus satelit Landsat 5, memiliki sensor TM dan MSS. Satelit
ini melakukan pelarikan dengan karakteristik spektral yang
lebih banyak dan lebih sensitif sehingga dapat mendeteksi
obyek lebih teliti.
Resolusi geometrik linier sensor TM adalah 2,6 kali lebih teliti
daripada sensor MSS dengan resolusi spektral berdasarkan
sudut pandang sesaat (IFOV = Instantaneous Field of View)
cukup tinggi yaitu 30x30 m dengan ketinggian orbit 705 km
(Lindgren, 1985).
Landsat TM terdiri dari enam band multispektral (band satu,
dua, tiga, empat, lima, dan tujuh) dan band enam adalah band
infra merah termal. Landsat TM memiliki resolusi radiometrik
delapan bit/band dengan luas cakupan 185 km x 185 km
(Hardiyanti, 2001).

Jenis Citra: Karakteristik Citra Satelit Landsat TM


Band
(m)

Spektra
l

Kegunaan utama

0.45
0.52

Biru

Penetrasi tubuh air, analisis


penggunaan lahan, tanah dan vegetasi.
Pembedaan vegetasi dan lahan.

0.52
0.60

Hijau

Pengamatan puncak pantulan vegetasi


pada saluran hijau yang terletak di
antara dua saluran penyerapan.
Pengamatan ini dimaksudkan untuk
membedakan jenis vegetasi dan jenis
tanaman sehat atau tidak sehat.

0.63
0.69

Merah

Saluran terpenting untuk membedakan


jenis vegetasi, terletak pada salah satu
daerah penyerapan klorofil dan
memudahkan pembedaan antara tanah
dan tanaman serta lahan dan air

0.76
0.90

Infra
Merah
dekat

Saluran yang peka terhadap biomassa


vegetasi, juga untuk identifikasi jenis
tanaman, memudahkan pembedaan
antara tanah dan tanaman serta lahan
dan air.

Jenis Citra: Citra Satelit Landsat TM


Band
(m)

Spektra
l

1.55
1.75

Infra
Saluran penting untuk pembedaan jenis
Merah
tanaman, kandungan air pada
tengah I tanaman, kondisi kelembaban tanah.

2.08
2.35

Infra
Membedakan formasi batuan dan untuk
Merah
pemetaan hidrotermal
Thermal

10.40

12.50

Infra
Merah
tengah

Kegunaan utama

Klasifikasi vegetasi, analisis gangguan


vegetasi, pembedaan kelembaban
tanah, dan keperluan lain yang
berhubungan dengan gejala termal.

Jenis Citra: Citra Satelit Landsat 7 ETM+


Sampai tahun 2004, telah diluncurkan 7 satelit Landsat dengan
karakteristik wahana dan obit yang berbeda.
Satelit Landsat 7 membawa sensor Enhanced Thematic Mapper
plus (ETM+). Peluncuran satelit Landsat 7 adalah untuk
memperbaiki kualitas data penginderaan jauh untuk
mendukung aktivitas di bidang penelitian dan aplikasi.
Wahana satelit Landsat 7 beroperasi pada ketinggian sekitar
705 km dari permukaan bumi dengan karakteristik orbitnya:
near polar, near circular dengan orbit sun synchronous.
Pada sudut inklinasi 98,2 dapat mencitra daerah selebar 183
km setiap 16 hari. Terdapat 233 lintasan orbit dengan overlap
samping bervariasi antara 7% pada ekuator dan mendekati
84% pada 81 LU atau LS. karakteristik setiap band citra satelit
Landsat 7 ETM+
Band 1: = 0,450-0,515 dengan resolusi spasial 30 m
Band 2: = 0,525-0,605 dengan resolusi spasial 30 m
Band 3: = 0,630-0,690 dengan resolusi spasial 30 m
Band 4: = 0,775-0,900 dengan resolusi spasial 30 m
Band 5: = 1,550-1,750 dengan resolusi spasial 30 m
Band 6: = 10,40-12,50 dengan resolusi spasial 60 m
Band 7: = 2,090-2,35 dengan resolusi spasial 30 m
Band 8: = 0,520-0,900 dengan resolusi spasial 15 m

Jenis Citra: Landsat MSS Yogyakarta 1998: RGB 321

Jenis Citra: Landsat MSS Semarang 1998 RGB: 321

Jenis Citra: Citra Satelit SPOT


Sistem satelit observasi bumi SPOT didesain oleh CNES di
Perancis dan dikembangkan bersama-sama dengan Swedia
dan Belgia.
Sampai saat ini sudah ada 5 generasi satelit SPOT.
SPOT 1 diluncurkan tanggal 22 Februari 1986
SPOT 2 diluncurkan tanggal 22 Januari 1990
SPOT 3 diluncurkan tanggal 26 September 1993
SPOT 4 diluncurkan tanggal 24 Maret 1998
SPOT 5 diluncurkan tahun 2000 (cek!)
Satelit SPOT memiliki orbit polar, sirkular, sun synchronous,
dan terfase. Orbit polar dengan sudut inklinasi sebesar 98
derajad memungkinkan satelit SPOT untuk meliput daerah
yang sama di permukaan bumi setiap 26 hari sekali.
Untuk menjaga ketinggian orbit satelit yang cukup konstan,
maka diusahakan orbit satelit SPOT dibuat sirkular dan sun
syncronous dengan tujuan untuk tetap menjaga sudut arah
datang sinar matahari selalu tetap terhadap bidang orbit
sehingga daerah yang diliput oleh satelit SPOT memiliki
pencahayaan yang tetap. Hal ini sangat penting untuk
menjaga kestabilan dan kualitas radiometrik citra satelit yang
dihasilkan

Jenis Citra: Citra Satelit SPOT


Satelit SPOT menggunakan sensor opto elektronis dan terdiri dari
2 alat HRV. Sistem HRV yang dipergunakan pada satelit SPOT 1,
2, dan 3 mampu meliput daerah di permukaan bumi selebar 60
km x 60 km pada sudut vertikal dan 60 km x 80 km pada sudut
miring. Jika kedua sensor dioperasikan maka akan mampu
meliput daerah di permukaan bumi selebar 120 km (NASDA,
1999). Pada saat pencitraannya sensor HRV menggunakan sistem
linear array atau push brom, sehingga pada saat perekaman data
dalam satu strip direkam secara bersamaan (JARS, 1993;
Hariyanto, 1995).
Keunggulan dari instrumen HRV ini adalah dilengkapi dengan
cermin yang dapat diubah-ubah sehingga pada arah yang sama
di permukaan bumi dapat direkam pada jalur dan sudut yang
berbeda (JARS, 1993; Hariyanto, 1995; SPOT IMAGE, 2000).
Sistem penyiaman HRV ini diilustrasikan pada Gambar 2-1(a) dan
(b). SPOT IMAGE (2000) menyatakan besar sudut pandang sensor
dapat diatur sebesar 27o terhadap sudut vertikal, seperti
ditunjukkan pada Gambar 2-1(a). Teknologi ini memungkinkan
diperoleh citra stereo, seperti ditunjukkan pada Gambar 2-1(c).
Pada dasarnya citra satelit SPOT memiliki karakteristik yang
sama dari generasi SPOT 1 sampai SPOT 4. Perbedaan utamanya
terletak pada penggunaan sensor HRVIR pada satelit SPOT 4,
dimana jumlah saluran pada mode multispektral menjadi 4 buah.
Penambahan saluran baru tersebut dimasukan pada saluran infra
merah dengan panjang gelombang antara 1,58 1, 75 m.

Jenis Citra: Citra Satelit SPOT

Sistem Pencitraan
SPOT

Pencitraan Stereo pada


SPOT

Jenis Citra: Citra Satelit SPOT


SPOT 5 dilengkapi dengan 2 sensor HRG (high resolution
geomatric),sehingga memiliki resolusi 10 m unt multispektral
dan 5 m dan 2.5 m unt Pankromatik. Jumlah band dan
resolusinya:
2 Pan (2,5 m dan 5 m)
3 Band XS (10 m)
1 NIR (20 m)
Produk satelit SPOT yang berupa citra satelit berdasarkan
format datanya dapat dikelompokkan dalam 2 kategori, yaitu:
citra dalam bentuk digital dan analog (SPOT IMAGE, 2000).
Citra digital umumnya berformat CAP dan disimpan dalam
salah satu media berikut:
Pita magnetik atau CCT
CD ROM, umumnya terdiri dari 5 buah file
CD-DIR.FIL
: Volume Descriptor File
VOLD_01.DAT : Volume Directory File
LEAD_01.DAT : Leader File
IMAG_01.DAT : Imagery File
TRAI_01.DAT : Trailer File
NULL_01.DAT : Null Volume Directory
Jaringan (pengiriman data secara elektronik)
Media lainnya, misal dalam bentuk exabyte atau DAT

Jenis Citra: Citra Satelit SPOT


Khusus untuk citra SPOT yang berformat digital, berdasarkan
tingkat pengolahannya maka diklasifikasikan dalam (SPOT IMAGE,
2000):
Tingkat 1A. Citra belum dikoreksi geometrik dan hanya
dilakukan proses ekualisasi detektor dengan model linier. Citra
ini sangat cocok untuk pembentukan orthoimage. Jika citranya
saling overlap maka sangat sesuai untuk menurunkan data
DTM
Tingkat 1B. Distorsi geometrik yang bersifat sistematik telah
dikoreksi, seperti pengaruh kelengkungan bumi, rotasi bumi,
efek panoramik, dan variasi orientasi satelit
Tingkat 1AP. Karakteristik data citra pada tingkat ini sama
seperti pada 1A, tetapi didesain berformat seperti foto udara
sehingga dapat digunakan pada plotter fotogrametri analog
yang sesuai dengan geometri citra SPOT
Tingkat 2A. Tingkat ini merupakan tingkat persiapan proses
proyeksi peta pada tahap pengolahan citra selanjutnya. Pada
tingkat ini titik kontrol tanah belum dipergunakan untuk
mengkalibrasi geometrik citra
Tingkat 2B. Pada tingkat ini citra telah diproyeksikan dalam
sistem proyeksi tertentu dengan menggunakan titik kontrol
tanah. Tingkat ketelitian posisi geometrik berkisar antara 10 m
30 m, tergantung kepada kualitas peta acuan yang
digunakan
Tingkat Ortho (ada yg menyebut tingkat S). Tingkat ini
merupakan pengolahan lanjut dari citra tingkat 2B, dimana

Jenis Citra: SPOT Pankromatik Semarang 1994

Jenis Citra: Citra Satelit ASTER


ASTER (Advance Spaceborne Thermal Emission and Reflection
Radiometer) adalah satelit yang diluncurkan pada bulan Juli
1999 oleh NASA (National Aeronautics and Space
Administration) pada platform pertama Earth Observing
System (EOS AM-1).
Instrumen Satelit ASTER terdiri dari tiga subsistem, yaitu
visible and near infrared (VNIR), short wave infrared (SWIR)
dan thermal infrared (TIR).
ASTER memiliki 14 band yang terdiri dari 3 band pada VNIR, 6
band pada SWIR dan 5 band pada TIR. Karakteristik spasial
dan spektral satelit ASTER secara lengkap dapat dilihat pada
Tabel
Instrumen ASTER memiliki kemampuan dalam melakukan
cross track pointing setiap 8,55 derajat (TIR dan SWIR) atau
24 derajat (VNIR) dan setiap hari dapat menghasilkan 700
kerangka liputan dengan ukuran 60 x 60 km.
Penambahan teleskop dengan sudut pandang yang
berlawanan dengan band tunggal pada band 3 VNIR akan
menghasilkan data streogrametrik pada orbit yang sama.
Resolusi temporal yang dimiliki satelit ASTER adalah 16 hari.

Jenis Citra: Citra Satelit ASTER


Jenis
gelombang
VNIR

SWIR

TIR

Band

(m)

0.52 0.60

15 m

0.63 0.69

15 m

0.76 0.86

15 m

1.60 1.70

30 m

2.145 2.185

30 m

2.185 2.225

30 m

2.235 2.285

30 m

2.295 2.365

30 m

2.360 2.430

30 m

10

8.125 8.475

90 m

11

8.475 8.825

90 m

12

8.925 9.275

90 m

13

10.25 10.295

90 m

14

10.95 11.65

90 m

Resolusi spasial

Jenis Citra: ASTER Semarang 2000: RGB 321

Jenis Citra: Citra Satelit IKONOS


Satelit IKONOS telah diluncurkan pada tanggal 24 September
1999 di Vandenberg Air Force Base, California, Amerika
Serikat (Space Imaging, 2002).
Satelit IKONOS memiliki resolusi spasial 1 m pada mode
pankromatik dan 4 m pada mode multispektral, yang waktu
pencitraannya dapat dilakukan secara serempak.
IKONOS memiliki resolusi temporal yang cukup singkat, yaitu
antara 1,5 sampai 3 hari. Karakteristik satelit IKONOS dapat
disimak pada Tabel.
IKONOS didesain untuk dapat digunakan pada berbagai
macam bidang aplikasi. Melihat karakteristik resolusi
spasialnya yang sangat baik, beberapa aplikasi yang dapat
menggunakan citra satelit IKONOS antara lain: penentuan
batas bidang, identifikasi jaringan jalan, transportasi, dan
identifikasi bangunan (Transavia Informatika Pratama, 2000).
Untuk dapat menggunakan citra IKONOS pada suatu bidang
aplikasi maka harus diperhatikan kondisi citra, dalam hal ini
terkait erat dengan tingkat pengolahan dan harga.

Jenis Citra: Karakteristik Satelit IKONOS


Elemen

Keterangan

Tanggal
Peluncuran

24 September 1999 di Vandenberg Air


Force Base, California

Usia operasi

Diatas 7 tahun

Orbit

98.1 degree, sun synchronous

Kecepatan pada
orbit

7.5 kilometer (4.7 mil) per detik

Kecepatan di atas 6.8 kilometer (4.2 mil) per detik


tanah
Jumlah revolusi

14.7 setiap 24 jam

Waktu orbit
98 menit
mengelilingi bumi
Ketinggian

681 kilometer (423 mil)

Resolusi

Nadir: 0.82 meter (2.7 feet)


panchromatik 3.2 meter (10.5 feet)
multispektral 26 Off-Nadir: 1.0 meter
(3.3 feet) panchromatik 4.0 meters
(13.1 feet) multispektral

Jenis Citra: Karakteristik Satelit IKONOS


Elemen

Keterangan

Lebar Swath

11.3 kilometer (7.0 mil) at nadir 13.8


kilometer (8.6 mil) pada 26 off-nadir

Waktu melewati
ekuator

Sekitar jam 10:30 a.m. solar time

Waktu revisit

Sekitar 3 jam pada resolusi 1-meter, 40 L

Dynamic range

11 bits per piksel

Jumlah band

Pankromatik, R, G, B, dan NIR

Jenis Citra: IKONOS PAN SHARPENED Yogya 2001

Jenis Citra: Karakteristik Citra Satelit Quick Bird

Jenis Citra: Citra Satelit Quick Bird


Ada 3 tahapan pengolahan yang dilakukan pada Quick Bird:
Basic, dikoreksi kesalahanan raw geometric
Standard, dikoreksi kesalahan geometrik dan radiometrik
serta telah dilakukan proses georeferencing (sistem
proyeksi peta, referensi)
Ortho, dikoreksi kesalahan geometrik, radiometrik, dan
pengaruh topografi serta telah dilakukan proses
georeferencing (sistem proyeksi peta, referensi)
Jenis produk Quick Bird:
Pankromatik (hitam dan putih)
Multispektral (color dan inframerah dekat)
Bundle (pankromatik dan multispektral)
Color (3 band dari multispektral dengan resolusi spasial
setara pankromatik)
Pansharpened (4 band dari multispektral dengan resolusi
spasial setara pankromatik

Jenis Citra: Quick Bird Pan Jaksel 2001

Jenis Citra: Citra SFAP


Dipokusumo (1995) menyatakan bahwa foto udara format
kecil atau Small Format Aerial Photography (SFAP) adalah foto
udara hasil pemotretan menggunakan wahana pesawat
miniatur dengan kamera non metrik atau kamera yang tidak
standar untuk keperluan foto udara.
Adapula peneliti yang menggunakan wahana layang-layang
(kite) untuk pemotretan SFAP (Aber, Aber, and Pavri, 2002).
Foto udara non metrik memiliki ukuran format film 24 mm x
36 mm untuk kamera ukuran lensa 35 mm dan 55 mm atau
60 mm x 60 mm untuk kamera ukuran lensa 70 mm. Ukuran
tersebut sangat berbeda dengan ukuran format foto udara
metrik yaitu 230 mm x 230 mm.
Di samping itu foto udara non metrik tidak dilengkapi dengan
fidusial mark pada tepi foto dan harga orientasi dalam dari
kamera tidak diketahui sebagian atau seluruhnya, sehingga
pengaturan skala dilakukan pada saat pencetakan foto
berdasarkan kontrol tanah atau jarak dan koordinat
(Dipokusumo, 1995).

Jenis Citra: Citra SFAP

Unsur dan Teknik Interpretasi


Citra

Unsur dan Teknik Interpretasi Citra


Secara umum interpretasi citra dapat dilakukan secara:
Visual (menggunakan mata manusia)
Digital (menggunakan algoritma tertentu yg dpt
diprogramkan pada mesin komputer), pada
matakuliah ini tidak dibahas
Pengenalan obyek merupakan bagian vital dalam
interpretasi citra, tanpa dikenali identitas dan jenis
obyek yang tergambar pada citra, tidak mungkin
dilakukan analisis untuk memecahkan masalah yang
dihadapi (Sutanto, 1992).
Keberhasilan dalam interpretasi sangat tergantung dari
latihan dan pengalaman penafsir, sifat obyek yang
diinterpretasi, dan kualitas citra yang digunakan
(Lillesand and Kiefer, 2000).
Prinsip pengenalan obyek pada citra mendasarkan
pada penyidikan karakteristiknya. Karakteristik citra
obyek yang tergambar pada citra dan digunakan untuk
mengenali obyek disebut unsur interpretasi citra
(Sutanto, 1992).
Untuk membantu pengenalan karakter dan ukuran
obyek unt keperluan interpretasi (pada citra digital),
terlebih dahulu dpt dilakukan (1) pembuatan citra
komposit, (2). digunakan teknik penajaman citra

Unsur dan Teknik Interpretasi Citra


Hal yang perlu diperhatikan pada tahap interpretasi
adalah pemilihan atau penentuan skema klasifikasi
yang digunakan, dimana hal ini tergantung pula pada
kondisi citra/foto yang dipakai. Semakin detail resolusi
spasial dan spektral suatu citra, maka semakin detail
obyek yang dapat dikenali.
Jensen (1996) menyatakan telah dikembangkan
beberapa skema klasifikasi, tetapi umumnya untuk
terapan land cover/land use, yang dapat dipakai di
Amerika adalah: skema USGS Land Use/Land Cover.
Dimana skema tersebut dapat diturunkan informasi dari
yang paling global (level 1) sampai detail (level 4),
tergantung tingkat kedetailan data citra/foto yang
dipakai.
Untuk mem-validasi hasil interpretasi dapat dilakukan
perbandingan dengan:
Kondisi lapangan sebenarnya
Peta tematik yang lebih detail
Hasil perbandingan tersebut dpt digunakan untuk
menyatakan seberapa jauh akurasi interpretasi (yang
populer menggunakan confusion matrix), hasil
dinyatakan dlm prosentase. Mendekati 100% makin
akurat interpretasi yang dilakukan.

Tingkat Kerumitan Unsur-Unsur Interpretasi Citra


Tingkat
Kerumita
n

Unsur Dasar

Primer

Rona/ Warna
Susunan
Keruangan Ukuran

Tekstur

Sekunder

Bentuk
Tersier

Pola

Tinggi

Bayangan
Lebih
Tinggi

Situs
Paling
rumit

Assosiasi

REMOTE SENSING SYSTEM


AIRBORNE SENSING :

AERIAL PHOTO
SLAR IMAGE
SMALL FORMAT IMAGE
HYPERSPECTRAL IMAGE

SPACEBORNE SENSING
SATELLITE IMAGERY (SPOT, MSS, TM,
IKONOS, QUICKBIRD)
RADAR IMAGE (ERS, JERS, ALMAS,
RADARSAT)
MET & CLIM IMAGE (NOAA)

RS IMAGE DATA &


ANALYSIS
1. MANUAL DATA and ANALYSIS
-

MONOSCOPIC INTEPRETATION
STEREOSCOPIC INTERPRETATION

2. DIGITAL DATA and ANALYSIS


MONOSPECTRAL
MULTISPECTRAL
INTERACTIVE

IMAGE INTERPRETATION
KEYS FOR MANUAL
INTERPRETATION

1.TONE/COLOR2. SHAPE
3. SIZE

4. PATTERN

5. TEXTURE 6. HEIGHT
7. SHADOW

8. SITE

9.ASSOCIATION

RONA/TONE
WARNA/COLOR
TINGKAT GELAP TERANG OBYEK
HITAM PUTIH
Brighness value (0 255; 8bits)
Perekaman spektrum lebar (0,4-0,7um)
Warna : hasil perekaman spektrum sempit
(0,4-0,5; 0,5-0,6; 0,6-0,7um)
Warna dasar : biru, hijau, merah
Warna komplementer : kuning, cyan,
magenta

KOMBINASI WARNA

Biru
0
255
0
255
0
255
128

Hijau
Merah tampak
0
255
merah cerah
255
255
putih
0
0
hitam
0
255
magenta
255
255
kuning
255
0
cyan
128
0
cyan suram

BENTUK/SHAPE
Bentuk obyek sesuai kondisi spasialnya
pada citra : titik, garis, area/poligon
Titik : rumah, gedung, tugu
Garis, memanjang : irigasi, sungai, jalan
Area : kawasan permukiman, hutan,
perkebungan, tubuh air danau, laut, rawa

SIZE/UKURAN
Ukuran obyek di citra/bumi dengan
memperhitungkan skala citra
Ukuran panjang/lebar; luas, volume
Penting untuk meyakinkan interpretasi

PATTERN/POLA
Pengulangan bentuk dan ukuran obyek
pada citra/bumi : teratur/tidak teratur; pola
menjari/radial centrifugal, centripetal
Faktor akses juga diperhitungkan :
permukiman teratur/tidak teratur; coridor;
concentris;

Pola segi
empat

TEKSTUR
Tingkat kekasaran obyek : halus kasar
Menunjukan kerapatan : halus rapat,
kasar tidak rapat
Untuk tanaman : halus rumput, sedang
jagung/tebu/semak; kasar hutan/belukar

Texture
sedang

halus

kasar

TINGGI

BAYANGAN/SHADOW

SITUS/LOCATION/SITE

Lokasi di muka bumi


Iklim, ketinggian, tanah/batuan, akses
Ekologis (vegetasi, habitat, fauna)
Aspek potensi ruang untuk pembangunan
Aspek bencana ruang, perlu mitigasi
Konfigurasi muka bumi : dari gunung - laut

Citra Landsat ETM+ Bali

ASOSIASI/ASOCIATION
Kebersamaan 2 obyak di dalam suatu
ruang/lahan
permukiman dengan jalan; gedung
perkantoran dengan lapangan; sekolah
dengan tempat parkir/lapangan
Baik untuk citra skala sedang dan kecil

Gambar 4.8. Interpretasi citra dari foto udara kawasan Slipi dan
sekitarnya,
Jakarta Barat: 1) jalan; 2) permukiman penduduk; 3) rel kereta api;
4) lapangan rumput; 5) perkantoran.

Gambar 4.9. Interpretasi citra kawasan Cakung, Jakarta: 1) gedung; 2) jalan;


3) sungai; 4) permukiman penduduk; 5) kawasan industri; 6) daerah rendah
ditutupi tumbuhan air; 7) daerah genangan air keruh.
(Dinas Topografi DKI Jakarta, 1979).

DAFTAR PUSTAKA
Estes J.E. 1974, Imaging with Photographic and
Nonphotographic Sensor System, In : Remote Sensing
Tehciques for Environtmental Analysis, California Hamilton
Publishing Compagny,.
Harintaka, Christine, 2005 Penginderaan Jauh, Jurusan Teknik
Geodesi Fakultas Teknik Universoitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Hartono, 2006 Pengunderaan Jauh Dasar, Fakultas Geografi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Lillesand, Kiefer, 2000 Remote Sensing and Image Interpretation,
4th edition, John Wiley and Sons, New York.
Sabins, F.F, 1978, Remote Sensing Principles and
Interpretation, WH Freeman and Co, Sanfrasisco
Sutanto, 1986 Penginderaan jauh, Jilid I dan II, Fakultas Geografi,
Gajah Mada University Press, Yogyakarta.