Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN TEKNOLOGI LAPISAN TIPIS

MODIFIKASI PERMUKAAN POLYTYRENE DENGAN PLASMA


NITROGEN (VARIASI WAKTU)

Oleh :
Ahmad Arif Amirullah

145090300111012

Fatmala Sari

145090301111014

Muhammad Adib Abdillah

145090307111020

Salsabila Amanda Putri

135090301111036

Shabrina Rizqi Hawadah

145090307111001

LABORATORIUM FISIKA MATERIAL


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui efek variasi waktu terhadap
kondisi permukaan QCM yang telah dispin coating dengan polistirena
1.3 Dasar Teori
1.3.1 QCM
Quartz Crystal merupakan bahan piezoelektrik yang dapat
digunakan untuk mendeteksi perubahan massa. Saat dipotong dengan benar
dan diterapkan pada tekanan A/C maka terjadi osilasi pada frekuensi
tertentu. Oleh karena itu pengukuran massa per satuan luas diukur dengan
mengamati perubahan frekuensi dari resonator krital kuarsa. Quartz Crystal
Microbalance merupakan sensor massa yang sensitif dan mampu mengukur
tingkat sub-nanogram. Secara kuantitatif pengukuran ketebalan dapat
dihitung dengan persamaan Sauerbrey :
2

f=

2 f 0
m
A q q

Ket :
f

: Perubahan frekuensi

f0

: resonansi frekuensi

: Perubahan massa

: luasan vibrasi

: Modulus kuarsa

: Densitas kuarsa

Berdasarkan persamaan Saurbrey, korelasi antara frekuensi dan perubahan


massa QCM adalah linier,

f =s m . Persamaan ini memngkinkan

penentuan perubahan massa kuantitatif kuarsa dengan mengukur perubahan


frekuensi (Chang,2008).
Pengaplikasian QCM misalkan di bidang kesehatan sebagai
biomunosensor. Selain sensor massa yang bekerja karena ada penambahan
massa disertai dengan penurunan frekuensi resonansi, QCM dapat
dimanfaatkan sebagai sensor lain yaitu dengan memodifikasi permukaan
untuk

menangkap

respon

diinginkan.

Modifikasi

ini

bertujuan

meningkatkan jumlah pengikatan biomolekul. Lapisan tipis yang digunakan


biasanya polistiren dengan pelarut. Pelarut tersebut meliputi Larutan
cloroform, THF, dan lain lain

1.3.2 Larutan THF


Larutan Tetrahydrofuran merupakan larutan yang memiliki titik
didih 65 - 66C. Dengan titik didih tersebut menunjukkan nilai tekanan
uap yang dimiliki yaitu 173 hPa pada 20C. Dimana akan mempengaruhi
lapisan polistiren yang akan terbentuk saat pemodifikasian permukaan
QCM yang terlapisi oleh larutan THF. Senyawa organik heterosiklik
dengan rumus kimia C4H8O6 ini termasuk molekul yang dapat larut
dalam proporsi apapun. Uap larutan ini dapat membentuk campuran
eksplosif dengan udara. Selain itu larutan THF yang berupa cairan
memiliki viskositas rendah (0.456 mPa_s pada 25C). (Roth,2016).
1.3.3 Chloroform
Kloroform merupakan senyawa yang jelas, tidak berwarna, mudah
menguap dengan bau manis yang khas. Kloroform secara tidak langsung
diproduksi ketika klorin bereaksi dengan senyawa organik. Oleh karena
itu, sejumlah proses desinfeksi air termasuk klorinasi seperti air minum,
air limbah dan air kolam yang berkontribusi untuk pembentukan dan
pelepasan kloroform ke dalam lingkungan Hidup. proses desinfeksi di

pabrik

pulp

dan

kertas

juga

berpotensi

sumber

kloroform

(bingham,dkk.2007).
Kloroform terutama digunakan dalam produksi gas refrigerant,
tetapi juga

digunakan dalam formulasi pestisida, sebagai pelarut dan

sebagai bahan kimia tengahan. Kloroform terdapat pada tingkat rendah di


udara dan mungkin juga terjadi pada air minum, laut dan air tanah. Potensi
sumber paparan kloroform untuk masyarakat umum terdapat pada
kontaminasi udara dan makanan. Air minum mungkin juga menjadi
sumber paparan (bingham,dkk.2007)
Kloroform diproduksi oleh hydrochlorination of methanol atau
dengan klorinasi metana. Ini digunakan terutama dalam produksi
refrigeran

HCFC-22

(chlorodifluoromethane

atau

hydrochlorofluorocarbon 22). HCFC-22 digunakan untuk pendingin udara


rumah atau freezer besar

supermarket yang di produksi oleh

fluoropolymer (bingham,dkk.2007)
Kloroform digunakan dalam formulasi pestisida, sebagai bahan
pelarut dan bahan kimia tengahan laboratorium dan industri, sebagai
agen pembersih, di alat pemadam kebakaran dan di industri karet. Hal ini
juga digunakan dalam pembuatan fluorocarbon plastik, resin dan propelan
(bingham,dkk.2007)
Pada teknik lapisan tipis kloroform juga berpengaruh sebagai
pelarut pada morfologi pada bahan polimer (seperti polystyrene) lapisan
spincoting ke permukaan QCM untuk menentukan bagaimana pelarut
menghasilkan nilai kekasaran dan pori pada permukaan. Kekasaran dan
pori pada permukaan tersebut diharapakan dapat menghasilkan imobilisasi
biomolekul yang lebih (Masruroh,dkk.2014)
Untuk

polystyrene

yang

dilapisi

ke

permukaan

QCM

menggunakan pelarut kloroform Semua permukaan polystyrene terlepas


dari pelarut, mengandung alur dan berpori. Sebuah pelarut dengan
vaporizability tinggi menyebabkan pelarut menguap lebih cepat dan untuk
lapisan polimer membeku lebih cepat, yang menyebabkan peningkatan

ketebalan lapisan. Oleh karena itu, kloroform yang memiliki vaporizability


tertinggi, menghasilkan lapisan yang tebal, permukaan yang kasar. Ini
menunjukkan bahwa penggunaan polystiren pelapis menggunakan pelarut
kloroform menghasilkan peningkatan yang signifikan pada biomolekulnya
(Masruroh,dkk.2014)
1.3.4 Plasma treatment
Plasma merupakan konsep yang cukup sederhana yang mengacu pada
keadaan kimia keempat materi. Ketika energi yang cukup ditambahkan ke
masing-masing materi berubah secara berurutan dari padat menjadi cair dan
dari cair ke gas. Setelah di fase gas jika energi tambahan dipaksa masuk ke
dalam sistem, maka gas menjadi terionisasi dan mencapai keadaan plasma.
Ketika plasma masuk

ke dalam kontak, permukaan material tersebut

mengalihkan energi tambahan dari plasma untuk memungkinkan Reaksi


selanjutnya berlangsung pada permukaan material (Welt.2009)
Plasma surface treatment adalah proses yang menimbulkan energi
permukaan dari banyak bahan sehingga ditujukan

untuk meningkatkan

karakteristik ikatan. Salah satu bentuk pengobatan plasma juga sering dikenal
sebagai pengobatan corona, yang diciptakan oleh insinyur Denmark Verner
Eisby pada 1950-an. Dalam banyak kasus, proses ini merupakan pengobatan
standar untuk bahan seperti: polimer plastik, film, kaca, dan bahkan logam.
(Welt.2009)
Teknologi plasma sudah masuk berbagai tujuan untuk perawatan
permukaan seperti: pembersih, pelapis, percetakan, lukisan, dan perekat
ikatan. Saat ini teknologi plasma telah mencakup begitu banyak aplikasi yang
berbeda. Salah satu metode top di permukaan pengobatan, metode ini sangar
bermanfaat terutama dalam industri yang sangat bergantung pada kemasan.
Terdapat

banyak solusi industri yang dibuat sepanjang waktu karena

fleksibilitas dari yang luas dari perlakuan pada plasma dimana perawatan
plasma dapat diterapkan. Teknologi ini bahkan banyak digunakan pada mobil
dan industri pesawat. Pemaparan plasma juga menghasilkan produk-produk
berkualitas yang sangat tinggi di dasarnya setiap bidang berlaku sementara

masih proses ramah lingkungan. Pengobatan plasma akan terus dieksplorasi


untuk menentukan apakah jenis pengobatan tertentu akan menghasilakan
manfaat yang signifikan dibandingkan dengan yang lain. (Welt.2009)
Teknik plasma treatment ini juga dimanfaatkan untuk memodifikasi
permukaan transduser seperti untuk memodifikasi permukaan QCM( quartz
crystal microbalance) yang setelah dimodifikasi akan menjadikan permukaan
QCM memilika fungsionalisasi yang berbeda sehingga biasanya dapat
dimanfaatkan dalam bidang biosensor.
1.4.4 Plasma Nitriding
Salah satu cara untuk meningkatkan performance dari suatu bahan
adalah dengan menggunakan teknik modifikasi permukaan dengan metode
treatment yaitu menggunakan plasma Nitriding. Menurut Sujitno (2003),
prinsip dasar dari plasma nitriding adalah metode pelapisan permukaan bahan
dengan menggunakan gas nitrogen (N2) berbentuk plasma berfungsi untuk
membentuk kekerasan dalam fase nitrida pada permukaan bahan. Proses
nitridasi dilakukan pada tekanan rendah dan diberi beda potensial untuk
membuat electron bebas (meloncat) akan berpindah dari potensial tinggi ke
potensial yang rendah. Ketika electron menuju elektroda dan diberi gas, maka
molekul gas ditumpuk dengan electron sehingga terjadi ionisasi dan terjadi
lucutan pijar dan (terjadi plasma). Menurut Setiabudi (2010), cahaya pijar
(glow discharge) terjadi disebabkan oleh emisi foton dari atom-atom nitrogen
yang terekstitasi. Pada kondisi tersebut terjadi loncatan atom atom nitrogen
sehingga gerakan antar ion makin padat hingga menghasilkan panas dari
energi kinetik yang digunakan untuk meningkatkan suhu ruangan plasma. Ion
nitrogen akan bergerak ke katoda dan akan menumbuk bahan yang terdapat
pada katoda akibat adanya beda potensial dan atom nitrogen akan berdifusi ke
dalam bahan logam.

1.2 Metodologi Percobaan


1.2.1 Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam eksperimen ini adalah power
supply dengan tegangan tinggi, vacuum pump, reaktor plasma, selang,
penjepit preparat, Sedangkan bahan yang digunakan pada eksperien ini
adalah gas nitrogen, QCM (Quartz Crystal Microbalance).
1.2.2

Langkah-langkah eksperimen

Vacuum pump dihubungkan pada reaktor plasma untuk menetralisir

gas-gas yang terkandung dalam chamber


Setelah mencapai tingkat vacuum yang diinginkan, gas nitrogen

dialirkan pada chamber yang diatur sebelumnya dengan flowmeter


Power supply yang terhubung dengan reaktor plasma dihidupkan,

untuk memberikan tegangan pada reaktor.


Tegangan akan menyebabkan elektroda dalam chamber memiliki beda
tegangan, sehingga elektron pada elektroda logam akan terlepas dan

bereaksi dengan gas nitrogen.


Waktu proses plasma nitriding diatur sesuai variabel waktu yang

diinginkan.
Setelah waktu yang diingin kan tercapai, kran yang mengalirkan gas

nitrogen ditutup sehingga flowmeter menunjukkan nilai 0.


Setelah itu, membuka chamber dengan perlahan agar QCM yang
berada didalamnya tidak terhempas karena beda tekanan yang

signifikan.
Permukaan QCM dapat diukur tingkat kekasarannya

1.2.3 Gambar

Gambar 1.2.3.1 Instalasi RF-Plasma Generator

Gambar 1.2.3.2 Skema peralatan plasma-nitridasi.


Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

tabung dan sistem aliran gas (nitrogen)


sistem pemanas dan benda uji
sistem pengatur dan kontrol temperature
pompa daD sistem vakum
sistem tegangan tinggi
tabung nitridasi
anode

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengaruh Variasi Waktu Plasma Nitriding
QCM yang telah dilapisi polistirena melalui proses Spin Coating
akan langsung menuju tahap selanjutnya untuk maksimalisasi QCM
sebagai biosensor, yaitu proses Plasma Nitriding. Plasma Nitriding
dilakukan dalam medium vakum yang dapat dipastikan kevakumannya
melalui sensor tekanan yang kemudian dikonversi dalam bentuk tegangan.
Dalam tahap Plasma Nitriding ini diberikan variasi waktu, yang
pertama adalah 2 menit dan yang kedua adalah 1 menit. Proses Plasma
Nitriding sangat berkaitan dengan kekasaran dari permukaan yang
diinginkan pada QCM sebagai biosensor. Diharapkan, kekasaran pada
QCM ini dapat menjadi jebakan bagi enzim, protein, virus, bakteri dll
sehingga dapat terbaca bagi QCM sebagai biosensor.
Proses Plasma Nitriding tidak boleh terlalu lama, hal ini
dikarenakan QCM telah di lapisi dengan polistirena (polimer) melalui
proses Spin Coating sehingga jika terlalu lama maka polistirena akan
rusak, gosong, atau terbakar. Selain rusak, dari kekasaran juga akan
menurun secara signifikan sehingga tujuan dari Plasma Nitriding untuk
memberikan permukaaan dengan efek kekasaran yang baik akan gagal
apabila proses Plasma Nitriding dilakukan terlalu lama
Sedangkan Plasma Nitriding juga tidak boleh dilakukan terlalu
cepat, apabila hal tersebut terjadi maka hasil yang didapatkan akan terlalu
kasar dan menyebabkan Efek Loading. Efek loading dapat terjadi apabila
terlalu banyak massa yang terjebak dalam kekasaran permukaan sehingga
sistem tidak dapat melakukan sensor dan mengolah data yang tertangkap
dengan baik, terutama bagian Transducer yang tidak dapat mengubah
tekanan yang diberikan oleh biolayer dengan elemen biologi yang
tertangkap menjadi energi listrik.
Dari percobaan yang kami lakukan, dapat diketahui bahwa hasil
variasi tekanan dari 1 menit dan 2 menit memiliki kekasaran yang berbeda.

Hasil 1 menit Plasma Nitriding memiliki kekasaran yang lebih baik jika
dibandingkan dengan kekasaran hasil 2 menit Plasma Nitriding. Hal ini
terjadi karena hasil 2 menit Plasma Nitriding menunjukkan ukuran
kekasaran yang terlalu rendah jika dibandingkan dengan hasil 1 menit.
Sedangkan hasil 1 menit Plasma Nitriding menunjukkan ukuran kekasaran
yang pas, namun juga tidak terlalu kasar. Belum ada penelitian tentang
jumlah waktu yang optimal untuk mendapatkan kekasaran yang pas dari
Plasma Nitriding pada QCM yang telah dilakukan spin coating dengan
polistirena ini. Namun jika dibandingkan antara hasil 1 dan 2 menit, maka
hasil yang paling baik untuk biosensor adalah hasil Plasma Nitriding
selama 1 menit.
Dalam percobaan yang dilakukan, parameter yang digunakan
adalah tegangan, tekanan, dan waktu. Dimana, sumber tegangan yang
digunakan adalah AC. Tegangan tersebut nantinya akan dikonversi
menjadi tekanan. Waktu yang diperlukan pun berbeda dalam percobaan ini
yaitu Cloroform membutuhkan waktu 2 menit dan THF membutuhkan
waktu 1 menit dalam ruang vacum.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hasil 1 menit Plasma Nitriding memiliki kekasaran yang lebih baik
jika dibandingkan dengan kekasaran hasil 2 menit Plasma Nitriding karena

hasil 2 menit Plasma Nitriding menunjukkan ukuran kekasaran yang terlalu


rendah jika dibandingkan dengan hasil 1 menit, sedangkan hasil 1 menit
Plasma Nitriding menunjukkan ukuran kekasaran yang pas, namun juga tidak
terlalu kasar.
3.2 Saran
Diharapkan ada penelitian lebih lanjut tentang waktu optimal untuk
mendapatkan kekasaran yang pas dari Plasma Nitriding pada QCM yang telah
dispin coating dengan polistirena, karena nilai 1 menit pada percobaan ini
memiliki kekasaran yang terbaik karena hasil tersebut hanya dibandingkan
dengan nilai 2 menit.

DAFTAR PUSTAKA
Bingham B, Cohrssen B, and Powell C.2007.chloroform vol 1.health
protection agency: Geneva
Chang, Biao and Tao Zhan. 2008. Quartz Crystal Microbalance Study of DNA
Immobilization and hybridization for DNA sensor development. Michigan
State University.

Masruroh, D.J.D.H Djoko, Lalu A. Didik, Eka Rahmawati, Masdiana Pagaga,


Abdurrouf, and S.P Sakti. 2014. Solvent Effect on Morphology of Polystyrene
Coating and their Role to Improvement for Biomolecule Immobilization in
Application of QCM Based Biosensor. Applied Mechanics and Materials Vols.
530-531 (2014) pp 54-57
Roth, Carl. 2016. Lembar data keselamatan Tetrahydrofuran, [pdf],
(https://www.carlroth.com/downloads/sdb/in/5/SDB_5182_ID_IN.pdf. diakses
tanggal 05 November 2016).
Sujitno,T. 2003. Aplikasi Plasma dan Teknologi Sputtering untuk Surface
Treatment. Diktat
Setiabudi, A. 2010. Pengaruh Waktu Dan Temperatur Nitridasi Terhadap
Kekerasan

Bantalan

Bola

Yang

Dinitridasi

Menggunakan

Pasma

Nitriding.Tugas Akhir STTN-BATAN. Yogyakarta


Welt,bruce.2009.Technical Synopsis of Plasma Surface Treatments. university
of florida : florida