Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

IMPLEMENTASI GCG (GOOD CORPORATE GOVERNANCE), KODE ETIK DAN


PERILAKU DI PT BANK MANDIRI TBK

Kelompok
1. Nadia Valosdita

(73.1628.601)

2. Mutiara Riyan P

(73.1628.607)

3. DiyanitaBerti K

(73.1628.609)

4. Roby Aditiya

(73.1628.628)

5. Muh. Fuad B

(73.1628.629)

Program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) Angkatan 28


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI YKPNYOGYAKARTA
2016

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era globalisasi yang semakin lama semankin berkembang pesat menyebabkan
terjadinya tuntutan terhadap paradigma good governance dalam seluruh kegiatan tidak
dapat dielakkan lagi. Implementasi prinsip GCG tidak terlepas dengan implementasi tata
kelola pemerintahan yang baik (good government governance). Istilah good governance
sendiri dapat diartikan sebagai terlaksananya tata ekonomi, politik dan sosial yang baik.
Jika kondisi good governance dapat dicapai maka negara yang bersih dan responsif
(clean and responsive state) akan terujud, semaraknya masyarakat sipil (vibrant civil
society) dan kehidupan bisnis yang bertanggung jawab. Banyak perusahaan yang
mengalami keterpurukan akibat dari tata kelola perusahaan yang buruk. Apabila suatu
peusahaan menerapkan tata kelola pemerintahan yang baik dapat menimbulkan sinyal
positif bagi para investor agar mau melakukan investasi pada perusahaannya tersebut.
Kebutuhan untuk menerapkan prinsip-prinsip GCG dirasakan sangat kuat dalam
industri perbankan. Situasi eksternal dan internal perbankan semakin kompleks dan risiko
kegiatan usaha perbankan kian beragam. Keadaan tersebut semakin meningkatkan
kebutuhan akan praktik tata kelola perusahaan yang sehat di bidang perbankan.
Pelaksanaan GCG sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat dan
dunia internasional sebagai syarat mutlak bagi dunia perbankan untuk berkembang
dengan baik dan sehat.
Tata kelola perusahaan (corporate governance) yang buruk dapat menyebabkan
terjadinya fraud (kecurangan) sebagaimana yang terjadi pada beberapa bank di Indonesia.
Dalam beberapa kasus, terjadinya fraud dapat menyebabkan kerugian pada bank yang
jumlahnya cukup besar sehingga bank tersebut dapat ditutup atau dilikuidasi, sebagai
contohnya adalah Bank Asiatic dan Bank Dagang Bali yang dilikuidasi pada tahun 2005.
Penutupan atau likuidasi akibat fraud yang terjadi pada bank Asiatic dan Bank Dagang
Bali tersebut sangat merugikan stakeholders antara lain pemerintah dan investor.
Oleh karena itu perlu dipahami mengenai pentingnya menerapkan prinsip-prinsip
dan praktik GCG pada sektor perbankan. Dan perlu dilakukan pengawasan dan
pengendalian terhadap praktik corporate governance pada lembaga perbankan. Dan
sejauh mana efektivitas praktik corporate governance dalam menekan jumlah fraud pada
sektor perbankan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana teori keagenan dalam lingkup PT Bank Mandiri Tbk. ?.
2. Apakan peran tata kelola dan tata kelola bisnis untuk mengatasi konflik kepentingan
pada PT Bank Mandiri Tbk. ?.

PEMBAHASAN
Bank Mandiri Company Profil
Bercita-cita menjadi The Best Bank in ASEAN 2020, Bank Mandiri menetapkan tiga
aspirasi yang akan menjadi fokus Bank Mandiri di tahun 20152020. Salah satu aspirasi
Bank Mandiri adalah Broadersocio economic impact dimana Bank Mandiri akan terus
berupaya menjadi perusahaan yang terkemuka dalam pencapaian non-keuangan di antaranya
menjadi perusahaan terkemuka pilihan utama pencari kerja, menjadi perusahaan kebanggaan
Indonesia dan menjadi perusahaan terkemuka dalam penerapan Good Corporate Governance
(GCG). Bank Mandiri menjadikan implementasi GCG sebagai salah satu hal utama yang
harus dicapai untuk menjadi The Best Bank in ASEAN 2020.

Bank Mandiri menyadari bahwa melalui penerapan GCG maka Bank Mandiri akan
tumbuh menjadi perusahaan yang berkelanjutan dan dapat mencapai tujuannya. Untuk itu,
Bank Mandiri berkomitmen untuk senantiasa menempatkan GCG sebagai fondasi utama
dalam menjalankan bisnis perusahaan serta untuk mempertahankan eksistensi perusahaan
dalam menghadapi tantangan dan persaingan usaha dimasa-masa mendatang khususnya di
sektor industri perbankan. Komitmen ini didukung penuh oleh seluruh jajaran manajemen
dan karyawan Bank Mandiri.
Upaya penerapan GCG yang telah dilaksanakan Bank Mandiri ini terbukti telah
memberikan kontribusi yang positif serta telah memberikan manfaat yang nyata bagi Bank
Mandiri, antara lain meningkatnya daya saing perusahaan, kinerja perusahaan serta
meningkatnya kepecayaan para pemangku kepentingan (stakeholder) Bank Mandiri
khususnya investor lokal maupun luar negeri. Berdasarkan hal tersebut dan untuk tetap
menjaga terpeliharanya kepercayaan dan kepentingan stakeholder Bank Mandiri secara terus
menerus dan konsisten meningkatkan komitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai integritas
dan GCG dalam menjalankan setiap aktivitas bisnisnya. Seluruh jajaran Bank Mandiri
meyakini bahwa pemenuhan aspek-aspek GCG dapat mendukung tujuan bank baik dalam
mencapai kinerja terbaik, profitabilitas dan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,
serta keberlangsungan bisnis jangka panjang.
Sejarah Bank Mandiri
Bank Mandiri berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program
restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli
1999, empat bank milik Pemerintah yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank
Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia, bergabung menjadi Bank
Mandiri. Sejarah keempat bank tersebut dapat ditelusuri lebih dari 140 tahun yang lalu.
Keempat bank tersebut telah turut membentuk riwayat perkembangan dunia perbankan di
Indonesia.
Pada tahun 2000 sampai dengan 2003 setelah marger, Bank Mandiri melakukan
proses konsolidasi secara menyeluruh. Pada saat itu Bank Mandiri menutup 194 kantor
cabang yang saling berdekatan, rasionalisasi jumlah karyawan menjadi 17.620 dari jumlah
gabungan sebanyak 26.600 dan mengganti platform teknologinya secara menyeluruh.
Dibutuhkan waktu 3 tahun dengan investasi sebesar US$ 200 juta demi mengembangkan
program untuk menggantikan core banking platform sebelumnya agar sesuai dengan standar
perbankan ritel. Selain itu brand

Bank Mandiri diimplementasikan ke semua jaringan,

kegiatan periklanan dan promosi lainnya. Pada tahun 2003 Bank Mandiri melakukan IPO
(Initial Public Offering).
Tahun 2005-2010 Bank Mandiri mencanangkan program transformasi untuk menjadi
bank yang unggul di regional (regional champion). Transformasi dilakukan dengan 4 strategi
utama yaitu implementasi budaya, pengendalian non performance loan secara agresif,
meningkatkan pertumbuhan bisnis yang melebihi rata-rata pertumbuhan pasar dan
pengembangan dan pengelolaan program aliansi antar direktorat atau business unit.
Tahun 2010 - 2014 Bank Mandiri melaksanaan transformasi lanjutan dimana Bank
Mandiri telah melakukan revitalisasi visinya menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang
paling dikagumi dan selalu progresif. Tahun 2015 2020 Bank Mandiri melanjutkan tahap
Corporate Plan, tahun 2015 ini menjadi tahun penting Bank Mandiri memasuki tahun
pertama tahap corporate plan.
Visi dan Misi Bank Mandiri
a. Visi Bank Mandiri yaitu Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi
dan selalu progresif.
b. Misi Bank Mandiri yaitu :
Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar.
Mengembangkan sumber daya manusia profesional.
Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder.
Melaksanakan manajemen terbuka.
Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan.
Untuk mencapai misinya Bank Mandiri akan selalu berkomitmen membangun
hubungan jangka panjang yang didasari atas kepercayaan baik dengan nasabah bisnis maupun
perseorangan. Bank Mandiri akan memberikan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan
standar layanan internasional melalui penyediaan solusi keuangan yang inovatif. Bank
Mandiri ingin dikenal karena kinerja, sumber daya manusia dan kerjasama tim yang terbaik.
Dengan mewujudkan pertumbuhan dan kesuksesan bagi nasabah, Bank Mandiri mengambil
peran aktif dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang Indonesia dan selalu
menghasilkan imbal balik yang tinggi secara konsisten bagi pemegang saham.
Teori Keagenan
Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham (shareholders)
sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak
oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Karena mereka

dipilih, maka pihak manejemen harus mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya kepada


pemegang saham.
Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan hubungan keagenan sebagai agency
relationship as a contract under which one or more person (the principals) engage another
person (the agent) to perform some service on their behalf which involves delegating some
decision making authority to the agent.
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang
(prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal
serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal. Jika
kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk memaksimumkan nilai
perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan
prinsipal.
1. Masalah Dalam Teori Keagenan
Masalah keagenan potensial terjadi apabila bagian kepemilikan manajer atas
saham perusahaan kurang dari seratus persen. Dengan proporsi kepemilikan yang hanya
sebagian dari perusahaan membuat manajer cenderung bertindak untuk kepentingan
pribadi dan bukan untuk memaksimumkan perusahaan. Inilah yang nantinya akan
menyebabkan

biaya

keagenan

(agency

cost).

Jensen

dan

Meckling

(1976)

mendefinisikan agency cost sebagai jumlah dari biaya yang dikeluarkan prinsipal untuk
melakukan pengawasan terhadap agen. Hampir mustahil bagi perusahaan untuk
memiliki zero agency cost dalam rangka menjamin manajer akan mengambil keputusan
yang optimal dari pandangan shareholders karena adanya perbedaan kepentingan yang
besar diantara mereka.
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi dengan
mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran kepemilikan saham oleh
manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang
berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer
merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya. Proses ini
dinamakan dengan bonding mechanism, yaitu proses untuk menyamakan kepentingan
manajemen melalui program mengikat manajemen dalam modal perusahaan.

Dalam suatu perusahaan, konflik kepentingan antara prinsipal dengan agen salah
satunya dapat timbul karena adanya kelebihan aliran kas (excess cash flow). Kelebihan
arus kas cenderung diinvestasikan dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan
kegiatan utama perusahaan. Ini menyebabkan perbedaan kepentingan karena pemegang
saham

lebih

menyukai

investasi

yang

berisiko

tinggi

yang

juga

menghasilkan return tinggi, sementara manajemen lebih memilih investasi dengan risiko
yang lebih rendah.
2. Upaya Mengurangi Konflik Kepentingan
Menurut Bathala et al, (1994) terdapat beberapa cara yang digunakan untuk
mengurangi konflik kepentingan, yaitu: a) meningkatkan kepemilikan saham oleh
manajemen (insider ownership), b) meningkatkan rasio dividen terhadap laba bersih
(earning after tax), c) meningkatkan sumber pendanaan melalui utang, d) kepemilikan
saham oleh institusi (institutional holdings).
Sedangkan dalam penelitian Masdupi (2005) dikemukakan beberapa cara yang
dapat

dilakukan

dalam

meningkatkan insider

mengurangi

ownership.

masalah

Perusahaan

keagenan.

meningkatkan

Pertama,
bagian

dengan

kepemilikan

manajemen untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham sehingga


bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham. Dengan meningkatkan persentase
kepemilikan, manajer menjadi termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan bertanggung
jawab meningkatkan kemakmuran pemegang saham.
Kedua, dengan pendekatan pengawasan eksternal yang dilakukan melalui
penggunaan hutang. Penambahan hutang dalam struktur modal dapat mengurangi
penggunaan saham sehingga meminimalisasi biaya keagenan ekuitas. Akan tetapi,
perusahaan memiliki kewajiban untuk mengembalikan pinjaman dan membayarkan
beban bunga secara periodik. Selain itu penggunaan hutang yang terlalu besar juga akan
menimbulkan

konflik

keagenan

antara shareholders dengan debtholders sehingga

memunculkan biaya keagenan hutang.


Ketiga, institutional investor sebagai monitoring agent. Mohd et al, (1998)
menyatakan bahwa bentuk distribusi saham dari luar (outside shareholders)
yaitu institutional

investor dan shareholders

dispersion dapat

mengurangi

biaya

keagenan ekuitas (agency cost). Hal ini disebabkan karena kepemilikan merupakan
sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau menantang keberadaan
manajemen, maka konsentrasi atau penyebaran power menjadi suatu hal yang relevan
dalam perusahaan.

3. Peran Tata Kelola dan Tata Kelola Bisnis Untuk Mengatasi Konflik Kepentingan
Kelemahan mendasar pada perekonomian di Indonesia terutama diakibatkan
oleh beberapa hal, yaitu : kinerja keuangan yang buruk, daya saing yang rendah,
ketiadaan profesionalisme, tidak responsif terhadap perubahan dalam lingkungan
bisnis, pengelolaan ekonomi dan sektor usaha yang kurang efisien serta sistem
perbankan yang rapuh. Di dalam berbagai analisis dikemukakan, ada keterkaitan antara
krisis ekonomi, krisis finansial dan krisis yang berkepanjangan di berbagai negara dengan
lemahya corporate governance.
Corporate governance adalah seperangkat tata hubungan diantara manajemen,
direksi, dewan komisaris, pemegang saham dan para pemangku kepentingan
(stakeholders) lainnya yang mengatur dan mengarahkan kegiatan perusahaan. Good
Corporate Governance (GCG) diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup
perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas,
responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan. Di Indonesia penerapan
GCG telah dibuatkan perdomannya oleh Komite Nasional Kebijakan Governance
(KNKG) melalui bukunya yang baru dirilis tahun 2006 dengan judul Pedoman Umum
Good Corporate Governance Indonesia.
Good Corporate Governance
GCG adalah adalah suatu pola hubungan antara manajemen dengan stakeholders,
manajemen dengan dewan komisaris, dan antar manajemen yang didasarkan pada etika,
Corporate Culture dan Corporat Values yang ditunjang oleh suatu sistem, proses, pedoman
kerja dan organisasi untuk mencapai kerja yang maksimal.
Implementasi tata kelola perusahaan yang baik merupakan alat untuk menjaga
kelangsungan bisnis, menjaga kepercayaan para stakeholder, dan menumbuhkan integritas
perusahaan. Sebagai Bank yang memiliki aspirasi untuk menjadi The Best Bank in ASEAN
2020, dan dalam menghadapi era perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),
Bank Mandiri terus berupaya mengikuti perkembangan praktik terbaik Corporate
Governance baik di tingkat nasional maupun regional.

Untuk menerapkan Tata Kelola Perusahaan pada level yang lebih tinggi, BankMandiri
senantiasa membangun sinergi dan aliansi bisnis yang kuat antara Bank Mandiri dan seluruh
Perusahaan Anak melalui Tata Kelola Terintegrasi guna menciptakan nilai tambah bagi
Mandiri Group secara berkelanjutan.
Manfaat GCG yaitu:
1. Meningkatkan kesungguhan manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan,
akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, kewajaran, dan kehati-hatian dalam
2.
3.
4.
5.

pengelolaan bank.
Meningkatkan kinerja bank, efisiensi dan pelayanan kepada stakeholders.
Menarik minat dan kepercayaan investor.
Memenuhi kepentingan shareholders atas peningkatan shareholders values dan dividen.
Melindungi Bank Mandiri dari invensi politik dan tututan hukum.

Prinsip-Prinsip GCG di Bank Mandiri


Perusahaan senantiasa melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik (good
corporate governance atau GCG) secara sistematis, konsisten, dan disiplin. Perusahaan
mengimplementasikan GCG dengan menerapkan lima prinsip yaitu:
1. Keterbukaan (Transparency)
Bank mengungkapkan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat

diperbandingkan serta dapat diakses oleh stakeholders sesuai dengan haknya.


Informasi tersebut meliputi visi, misi, sasaran usaha, strategi Bank, kondisi keuangan,
susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, cross shareholding,
pejabat eksekutif, pengelolaan risiko, sistem pengawasan dan pengendalian intern,
status kepatuhan, sistem dan implementasi GCG serta informasi dan fakta material

yang dapat mempengaruhi keputusan pemodal.


Prinsip keterbukaan itu tetap memperhatikan ketentuan rahasia bank, rahasia jabatan

dan hak-hak pribadi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Kebijakan bank harus tertulis dan dikomunikasikan kepada stakeholders yang berhak
memperoleh informasi tentang kebijakan tersebut. Bank Mandiri menyampaikan
laporan kepada Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan
(BAPEPAM-LK), Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, serta mengumumkan
kepada publik mengenai terjadinya suatu peristiwa, informasi atau fakta material yang
dapat mempengaruhi harga atau nilai efek atau keputusan investasi pemodal secara

tepat waktu dan obyektif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


2. Akuntabilitas (Accountability)

Bank menetapkan tanggung jawab yang jelas dari masing-masing organ Bank yang
selaras dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi Bank dan menetapkan

kompetensi kepada organ tersebut sesuai tanggung jawab masing-masing.


Dalam pengelolaannya, bank menetapkan check and balance system.
Bank juga memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran berdasarkan ukuran yang
disepakati konsisten dengan nilai perusahaan (corporate values), sasaran usaha dan

strategi bank serta memiliki reward and punishment system.


Bank meyakini bahwa semua organ organisasi Bank mempunyai kompetensi sesuai

dengan tanggung jawabnya dan memahami perannya dalam implementasi GGC.


3. Tanggung Jawab (Responsibility)
Bank berpegang pada prinsip kehatihatian (prudential banking practices) dan

menjamin kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.


Bank sebagai good corporate citizen peduli terhadap lingkungan dan melaksanakan

tanggung jawab sosial secara wajar.


4. Independensi (Independency)
Bank menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh stakeholders manapun
dan tidak terpengaruh oleh kepentingan sepihak serta terbebas dari benturan

kepentingan (conflict of interest).


Bank mengambil keputusan secara obyektif dan bebas dari segala tekanan dari pihak

manapun.
5. Kewajaran (Fairness)
Bank memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan asas kesetaraan

dan kewajaran (equal treatment).


Bank memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholders untuk memberikan
masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan bank serta mempunyai akses
terhadap informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan.

Struktur Corporate Governance


Struktur Corporate Governance di Bank Mandiri adalah sebagai berikut :
a. Komisaris
Berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh pemegang saham, Komite Nominasi
dan Remunerasi merekomendasikan calon Komisaris. Dari rekomendasi tersebut
pemegang saham memilih Komisaris dalam RUPS melalui proses yang transparan.
Demikian pula pemberhentian Komisaris hanya bisa dilakukan oleh pemegang saham
dalam RUPS.
b. Komisaris Independen
Keberadaan Komisaris Independen dimaksudkan untuk dapat mendorong
terciptanya iklim dan lingkungan kerja yang lebih obyektif dan menempatkan kewajaran
(fairness) dan kesetaraan di antara berbagai kepentingan termasuk kepentingan pemegang

saham minoritas dan stakeholders lainnya. Selaku Komisaris Independen dan Pihak
Independen harus dapat terlepas dari benturan kepentingan (conflict of interest).
Dalam rangka mendukung pelaksanaan GCG Bank, pemegang saham dalam RUPS
menetapkan Komisaris Independen dengan jumlah dan persyaratan sebagaimana
ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan guna menjalankan tugas pengawasan
terhadap bank dan kelompok usaha bank yang tidak melakukan kegiatan usaha bank.
c. Komite-Komite Di Bawah Komisaris
Dalam menjalankan tugasnya, komisaris membentuk komite-komite :
1. Komite Audit, membantu komisaris dalam pengawasan atas hal-hal yang terkait
dengan informasi keuangan, sistem pengendalian internal dan efektivitas pemeriksaan
oleh auditor eksternal dan internal.
2. Komite Nominasi dan Remunerasi, membantu komisaris dalam menjalankan fungsi
pengawasan atas hal-hal yang terkait dengan penetapan kualifikasi dan proses
nominasi serta remunerasi komisaris, direksi dan para pejabat eksekutif.
3. Komite Kebijakan Risiko membantu komisaris dalam menjalankan fungsi
pengawasan kebijakan risiko usaha.
4. Komite GCG, membantu komisaris dalam memberikan rekomendasi arah kebijakan
implementasi prinsip-prinsip GCG.
d. Direksi
Seperti halnya pemberhentian komisaris, pemberhentian direksi hanya bisa dilakukan
oleh pemegang saham dalam RUPS. Karena Bank Mandiri adalah suatu Badan Usaha
Milik Negara yang telah terbuka, anggaran dasar bank mengatur bahwa pengangkatan
Direksi oleh RUPS harus disetujui oleh pemegang saham dwiwarna seri A (Negara
Republik Indonesia). Lebih lanjut anggaran dasar mengatakan bahwa hanya pemegang
saham dwiwarna seri A yang berhak mengajukan pencalonan kepada RUPS. Penunjukan
tersebut efektif setelah Direksi terpilih lulus fit and proper test Bank Indonesia.
Tahap Implementasi GCG Bank Mandiri
1. Perumusan governance commitment : merumuskan visi, misi dan strategi Bank Mandiri
dengan revitalisasi Bank Mandiri
2. Government Structure : menyempurnakan struktur dan infrastruktur GCG agar proses
pelaksanaan prinsip GCG dapat menghasilkan outcome yang sesuai dengan harapan
stakeholder.
3. Penyempurnaan governance mechanism : memastikan efektivitas proses implementasi
GCG yang di dukung oleh kecukupan struktur dan infrastruktur GCG.
4. Sosialisasi dan evaluasi: sosialisasi dan evaluasi yang dilakukan untuk menjamin
implementasi prinsip GCG secara berkesmbungan.

5. Walking the talk : implementasi GCG secara disiplin dan konsisten yang diwujudkan
dalam tindakan nyata oleh seluruh jajaran Bank Mandiri
Implementasi Good Corporate Governance
Bank Mandiri terus melakukan penguatan Good Corporate Governance (GCG) secara
berkelanjutan dan konsisten melalui proses dari waktu ke waktu. Implementasi GCG Bank
Mandiri telah dilakukan secara terstuktur dengan tahapan sebagai berikut:
1998

(Awal

Merger)

Program Tata Kelola Perusahaan


Kesadaran implementasi GCG didorong adanya krisis perbankan akibat
adanya praktek bad governance yang menyeluruh di industri perbankan,
hal ini menyebabkan banyak bank yang harus di Bailout dan kemudian
Direksi serta Dewan Komisaris bank harus menandatangani Kontrak
Manajemen dengan Bank Dunia yang didalamnya mencantumkan kewajiban

2000 2001

bank untuk menerapkan GCG.


Respon BankMandiri terhadap Kontrak Manajemen dengan Bank Dunia

Peletakan Dasar-

tersebut, menerbitkan ketentuan antara lain:

Dasar

- Surat Keputusan Bersama Direksi dan Komisaris tentang Prinsip-prinsip

Governance
Commitment,

GCG
- Surat Keputusan Bersama Direksi dan Dewan Komisaris tentang Code of

Structure

Conduct yang menjadi pedoman perilaku dalam berinteraksi dengan

And Mechanisms

nasabah, rekanan dan sesama pegawai


- Keputusan Direksi tentang Kebijakan Kepatuhan (Compliance Policy) yang
mewajibkan seluruh jajaran Bank Mandiri untuk bertanggung jawab penuh
secara individu didalam melakukan kegiatan operasional bank dibidangnya
masing-masing
Bank Mandiri telah menugaskan PWC untuk melakukan diagnostic
review atas implementasi GCG
Atas implementasi pelaksanaan GCG tersebut, Standard & Poors telah
memberikan penilaian GCG untuk periode tahun 2003 dengan skor

2003

sebesar 6,2, meningkat dari penilaian tahun sebelumnya dengan skor 5,4.
Dalam rangka pelaksanaan IPO, Bank Mandiri telah melakukan

Initial Public

penyempurnaan implementasi GCG, dengan melakukan hal-hal sebagai

Offering

berikut :

(IPO)

Pembentukan Komite-komite di Level Dewan Komisaris, yaitu :

Bank Mandiri

- Komite Audit
- Komite Pemantau Risiko
- Komite Remunerasi dan Nominasi

- Komite GCG
Pembentukan Sekretaris Perusahaan (Corporate Secretary)
Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku bagi perusahaan publik
Melaksanakan keterbukaan informasi secara tepat waktu, antara lain dalam
publikasi Laporan Keuangan, informasi maupun peristiwa atau fakta
material
Menyusun Laporan Tahunan yang tepat waktu, memadai, jelas dan akurat
Menghormati dan memperhatikan kepentingan pemegang saham minoritas
Mengikuti penilaian implementasi GCG oleh Lembaga Independen yaitu
2005

The Indonesian Institute for Corporate Governance.


Awal transformasi Bank Mandiri melalui penetapan nilai-nilai kebersamaan

Transformasi

(sharedvalues) serta perumusan perilaku utama Bank Mandiri (TIPCE) yang

Budaya

merupakan Budaya kerja perusahaan.


Penyusunan Charter GCG yang dituangkan melalui Keputusan Dewan
Komisaris, yang mengatur pokok-pokok pelaksanaan GCG di Bank
Mandiri
Rating GCG dalam Corporate Governance Perception Index(CGPI) meraih

2008-2010

predikat Sangat Terpercaya untuk pertama kalinya.


Secara berkelanjutan melaksanakan penyempurnaan penerapan prudent

Transformasi

banking, GCG serta internal control melalui pengembangan website GCG,

Budaya

Compliance Risk Management System, Standar prosedur Anti Pencucian

Lanjutan

Uang & Pencegahan Pendanaan Teroris, Risk Based Audit Tools dan Sistem
Informasi Manajemen Audit.
Pengambilan keputusan bisnis maupun keputusan manajemen lainnya
dengan

mempertimbangkan

prinsip-prinsip

GCG

serta

senantiasa

mempertimbangkan semua ketentuan yang berlaku


Pelaksanaan program internalisasi budaya lanjutan antara lain melalui
penyelenggaraan Culture Fair, Culture Seminar, dan Recognition Program
berupa pemberian penghargaan kepada unit kerja dan change agentterbaik
dalam implementasi program budaya.
2011-2013

Bank Indonesia mengeluarkan PBI No. 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian


Tingkat Kesehatan Bank Umum, mewajibkan Bank baik secara individual
maupun konsolidasi melakukan penilaian GCG dengan pendekatan Risk
Based Bank Rating (RBBR).
Konsistensi penerapan GCG Bank Mandiri secara terus menerus,
mendapatkan apresiasi dari berbagai lembaga nasional dan internasional

yang independen dan profesional, antara lain:


-

Rating GCG oleh The Indonesian Institute for Corporate Directorship


(IICD) kepada 100 perusahaan publik dengan nilai kapitalisasi pasar
terbesar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, Bank Mandiri meraih

predikat Best Financial.


- Rating GCG oleh Corporate Governance Asia (CGA) yang berkedudukan di
Hongkong, sejak tahun 2009 Bank Mandiri selalu meraih posisi sebagai
perusahaan terbaik dalam implementasi GCG.
Menerapkan pengendalian Gratifikasi melalui implementasi pelaporan Gift
Disclosure Statement tanggal 2 Juli 2013 sebagai upaya dalam pencegahan
penerimaan

gratifikasi

yang

sejalan

dengan

himbauan

Komisi

Pemberantasan Korupsi (KPK).


Berpartisipasi untuk terus menciptakan budaya anti korupsi antara lain
dengan mengikuti acara kegiatan Pekan Anti Korupsi 2013 yang
2014

diselenggarakan KPK.
Rating GCG oleh The Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD)
dalam ajang ASEAN CG Scorecard, Bank Mandiri meraih kategori The Best
Overall.
Rating GCG oleh Corporate Governance Asia (CGA) yang berkedudukan
di Hongkong, Bank Mandiri meraih predikat ICON in Corporate
Governance.

Good Corporate Citizen (GCC) sejalan dengan corporate plan Bank


Mandiri 20152020 yang salah satunya adalah social economic impact,
dimana salah komponen yaitu role model corporate citizen. Bank Mandiri
telah melakukan diagnostic review terhadap penerapan GCC di Bank
Mandiri.

Menyempurnakan ketentuan larangan gratifikasi yang diatur dalam


Petunjuk Teknis Operasional Gift Disclosure Statement sesuai dengan
2015-Hingga saat

himbauan KPK.
Melakukan transformasi tahap 3

ini

Corporate Governance Perception Index (CGPI) adalah program riset dan


pemeringkatan penerapan GCG yang dilakukan oleh lembaga independen
yaitu The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), dimana
Bank Mandiri telah mengikuti penilaian CGPIselama 12 (dua belas) tahun
berturut-turut sejak tahun 2003. Di tahun 2015 Bank Mandiri meraih
predikat Sangat Terpercaya sebanyak 9 kali berturut-turut.
Rating GCG oleh The Indonesian Institute for Corporate Directorship
(IICD) dalam ajang ASEAN CG Scorecard, Bank Mandiri meraih kategori

The Best Financial Sector.


Rating GCG oleh Corporate Governance Asia (CGA), Bank Mandiri
meraih predikat ICON in Corporate Governance
Penerapan Tata Kelola Terintegrasi
- Menerapkan tata kelola terintegrasi dan satuan kerja terintegrasi pada
Mandiri Group sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.
18/POJK.03/2014 tanggal 18 November 2014 tentang Tata Kelola
Terintegrasi
- Membentuk Satuan Kerja Kepatuhan Terintegrasi, Satuan Kerja
Manajemen Risiko Terintegrasi dan Satuan Kerja Audit Intern
Terintegrasi, serta Komite Tata Kelola Terintegrasi
- Menyusun Pedoman Tata Kelola Terintegrasi
Penyempurnaan PTO Gift Disclosure Statement menjadi PTO Pengendalian
Gratifikasi yang berlaku per tanggal 3 Juli 2015 dan launching Unit
Pengendalian Gratifikasi (UPG) pada 9 Juli 2015. UPG Bank Mandiri
mendapatkan penghargaan BUMN dengan Unit Pengendali Gratifikasi
Terbaik Tahun 2015 dari Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kode Etik
Kode etik merupakan pedoman perilaku jajaran bank dalam menjalankan tugas dan
kedinasan sehari-hari serta dalam melakukan hubungan bisnis dengan para nasabah, rekanan
maupun rekan kerja. Adanya aturan dasar tersebut yang dimuat dalam Kode Etik (Code of
Conduct), menjadikan salah satu komitmen bank terhadap prinsip-prinsip GCG, yang selama
ini mendukung bank untuk mancapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Muatan kode etik
Bank Mandiri berisikan pengaturan etika kerja dan etika bisnis. Etika kerja yang mengatur
Jajaran Bank dalam berperilaku, mencakup aspek sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Benturan Kepentingan
Kerahasiaan
Penyalahgunaan Jabatan
Perilaku Insiders
Integritas dan Akurasi Data Bank
Integritas Sistem Perbankan

Adapun etika bisnis sebagai dasar perilaku jajaran bank dalam menjalankan aktivitas bisnis,
mencakup aspek berikut:
1. Perilaku Individu
2. Perlindungan Terhadap Harta Milik Bank
3. Penyelenggaraan Bisnis Bank

Upaya implementasi dan penegakkan kode etik Bank Mandiri dilakukan dengan penuh
kesadaran secara terus-menerus dalam bentuk sikap, perbuatan, komitmen serta ketentuan,
dilakukan antara lain dengan :
1.
2.
3.
4.
5.

Pernyataan Kepatuhan Kode Etik Bank Mandiri untuk menerapkan kode etik yang efektif.
Komitmen Manajemen dan Seluruh Pegawai Bank Mandiri.
Annual Disclosure Benturan Kepentingan.
Pakta Integritas.
Program Awareness

Teori-Teori Etika yang Terkait


1. Teori Utilitarianisme
Teori ini menjelaskan mengenai tindakan yang dilakukan bermanfaat untuk orang banyak.
PT Bank Mandiri ini telak memberikan banyak manfaat tidak hanya pada nasabahnya
saja, tetapi juga memberikan manfaat kepada PT Bank Mandiri antara lain meningkatkan
daya saing perusahaan kinerja perusahaan serta meningkatkan kepercayaan terhadap para
stakeholder Bank Mandiri khususnya investor.
2. Teori Deontologi
Teori ini menjelaskan tentang tindakan yang sesuai dengan prinsip moral. PT Bank
Mandiri telah menjalankan prinsip-prinsip GCG dalam menjalankan aktivitas
perusahaannya.
3. Teori Hak
Teori ini menjelaskan mengenai tindakan dianggap baik jika mendukung hak asasi. PT
Bank Mandiri telah memberikan pelayanan terbaik bagi semua pik yang terkait, misalnya
mendirikan mendirikan layanan kesehatan dan layanan pendidikan. Dengan demikian PT
Bank Mandiri telah memenuhi hak asasi manusia.
4. Teori Keutamaan
Teori ini menjelaskan bagaimana menjadi manusia yang utama dengan tingkah laku yang
baik. Karyawan PT Bank Mandiri melakukan pekerjaan dengan jujur dengan mematuhi
segala etika yang terdapat dalam aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian PT Bank
Mandiri telah melakukan nilai-nilai dan tujuan organisasi denggan jelas.

KESIMPULAN
Penerapan prinsip good corporate governance secara komprehensif menjadi faktor
penting dalam menentukan tingkat profitabilitas perseroan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Bank terbesar di Indonesia dari sisi aset ini memperkuat penerapan prinsip good corporate
governance (GCG) dalam setiap bisnis proses hingga mendapat pengakuan dari jurnal
Corporate Governance Asian (CGA) (Annual Recognition Award ) 2013 sebagai ikon
penerapan GCG terbaik di Indonesia. Penghargaan The Best of Asia ini merupakan yang
kelima kalinya disematkan kepada Bank Mandiri secara berturut-turut.
Hal ini tidak mustahil terjadi pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk karena bank telah
mengimplementasikan prinsip-prinsip GCG, kode etik dan perilaku secara efektif dan efisien
serta sebagai dasar kegiatan operasional yang sehat dan aman. Bank Mandiri berusaha
menciptakan iklim usaha yang bersih dan sehat dengan berusaha menekan perilaku fraud
dengan menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada tiap level bisnis.