Anda di halaman 1dari 186

Aku dan Duniaku

Helen Keller

Aku dan Duniaku


Pergulatan Batin Perempuan Buta dan Tuli
yang Menaklukkan Dunia

Aku dan Duniaku


Diterjemahkan dari The World I Live In
karya Helen Keller dari Project Gutenberg Etext 2009
Penerjemah: Dita Sylvana
Penyunting: Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara: Muhammad Bagus SM
Penggambar Sampul: Yudi Irawan
Penata Letak: MT Nugroho
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Cetakan I: 2014
ISBN: 978-979-1701-03-7

Jln. Kebagusan I No. 35 A Jakarta 12520


Telp./Faks : +6221 78847301
Email: penerbitdolphin@yahoo.com
Website: www.penerbitdolphin.com

Daftar Isi
Pengantar7
1. Aku Melihat dengan Tanganku13
2. Sentuhan Tangan Orang Lain25
3. Dunia Dibentuk Tangan Manusia35
4. Rahasia Sebuah Sentuhan45
5. Getaran-getaran Lembut yang Kurasakan57
6 Indra Penciuman, The Fallen Angel67
7. Betapa Semunya Indra Manusia79
8. Dunia dengan Lima Indra85
9. Penglihatan Batin95
10. Analogi dalam Persepsi Indra105
11. Sebelum Jiwaku Lahir Kembali115
12. Si Buta dan Tuli di Belantara Dunia123
13. Dunia Mimpi135
14. Mimpi dan Kenyataan153
15. Mimpi di Alam Jaga163
Mantra Kegelapan177

Pengantar
Jauh lebih baik berlayar selamanya di malam kebutaan, tetapi
mempunyai perasaan dan pikiran, daripada hanya berpuas diri
dengan kemampuan untuk melihat semata.
Helen Keller

Helen Keller adalah seorang perempuan yang lahir pada tang


gal 27 Juni 1880 di Tuscumbia, sebuah kota kecil di barat laut
Alabama, Amerika Serikat. Ia lahir seperti kebanyakan bayi
lainnya: dapat melihat dan mendengar. Tiba-tiba sebuah pe
nyakit menyerangnya saat ia baru berusia 19 bulan, membu
at indra penglihatan dan pendengarannya tak berfungsi se
lamanya. Dunianya menjadi gelap, tanpa suara. Menurut tu
turannya sendiri, setelah kebutaan dan ketulian itu mendekam di
tubuhnya, ia bagai terhempas di dalam mimpi abadi. Ia tidak
bisa membedakan apakah sedang terjaga ataukah tidur, ber
pikir ataukah bermimpi, sebab begitu tipis perbedaan antara
tidur dan jaga baginya. Semuanya mempunyai kualitas yang
sama: gelap.
Tetapi perlahan-lahan, seiring bertumbuhnya kesadaran,
dan berkat panduan gurunya yang penuh cinta, Anne Sullivan, ia

Helen Keller

mulai mampu mengatasi batasan-batasan fisiknya. Ketika organ


mata dan telinganya berhenti berfungsi, ia pun mengoptimalkan
fungsi indra peraba, penciuman, dan pengecapnya. Bisa dika
takan, ia belajar melihat dan mendengar dengan bantuan
tangan, hidung, dan lidahnya. Kepekaannya semakin terasah,
hingga ia memiliki pikiran-pikiran yang sering kali lebih bijak
dibandingkan orang lain, karena penyelamannya yang sangat
intens di pedalaman rasa.
Berkat usaha kerasnya, disertai dukungan lingkungannya, ia
berhasil mencapai prestasi luar biasa yang mencengangkan dunia.
Pada usia sepuluh tahun ia telah termasyhur di lingkungannya ka
rena pencapaian fenomenal pendidikannya. Pada tahun 1900, ia
menjadi mahasiswa buta-tuli pertama yang diterima di Radcliffe
College. Pada akhir Maret 1903, dalam usia yang masih belia, The
Story of My Life, buku otobiografinya, lahir dari rahim sunyinya.
Buku ini segera disambut luar biasa oleh masyarakat dunia, diter
jemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa, termasuk Indonesia, dan
menjadi bestseller hingga sekarang!
Lalu pada tanggal 28 Juni 1904, berselang sehari setelah
ulang tahunnya yang ke-24, Helen berhasil meraih gelar diplo
ma, sesuatu yang belum pernah diraih oleh orang lain seperti
dirinya. Menjelang akhir 1910, ia mulai belajar olah vokal un
tuk memperkuat urat vokalnya agar suaranya bisa didengar di
ruang kuliah. Hasilnya, pada tanggal 13 Februari 1913, Helen

Pengantar

memberikan pidato pertamanya di depan publik di Montclair,


New Jersey. Dari sanalah bermula kariernya sebagai pembicara
publik selama puluhan tahun, hingga perjalanan hidupnya yang
mengharu biru difilmkan pada tahun 1955tahun ketika ia
meraih Academy Award untuk The Unconquered, film biogra
finya itu.
Ia diundang ke berbagai negara, menjadi ikon yang nyaris tak
tergantikan bagi penderita cacat tubuh yang berhasil melampaui
batasan-batasan raga. Ya, jiwa mesti melampaui batasan-batasan
raga, sebab dunia batin jauh lebih kaya daripada dunia lahir. Dunia
batinlah yang mesti membimbing indra-indra manusia. Ini persis
seperti yang dikatakan Helen Keller pada salah satu bagian di buku
ini: Keindahan matahari terbenam yang dilihat oleh kawanku, yang
melintasi bukit lembayung, memang luar biasa. Namun matahari
terbenam di dalam mata batinku membawa sukacita yang lebih
murni, karena itu merupakan perpaduan dari berbagai keindahan
yang kita ketahui dan hasrati.
Helen Keller adalah salah satu tokoh besar dunia. Ia ba
gaikan cermin bening untuk mengaca dan berintrospeksi. Me
laluinya kita bisa belajar untuk meniti ke dalam diri, menyimak
penglihatan di dalam batin, mendengar suara-suara jiwa yang
hening-bening, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang maya. Ia bukan
hanya cermin bagi para tunanetra dan tunarungu, tetapi juga
bagi kita yang memiliki kemampuan melihat dan mendengar

Helen Keller

secara fisikal.
Buku ini merupakan sebuah catatan pergulatan batinnya
selama puluhan tahun ketika kegelapan dan kebisuan menggeli
muni dirinya. Sebuah rekaman bagaimana ia memaknai kenya
taan, mimpi, imajinasi, dan daya-daya spiritual yang sering terlu
pakan di dalam realitas fisik yang cenderung mengagungkan halhal material. Semoga apa yang terhidang di dalam buku ini bisa
membawa hikmah bagi kita, para pembacanya di Indonesia. Amin.
Shalahuddin Gh

10

Helen bersama buku dan anjing kesayangannya

Jauh lebih baik berlayar selamanya di


malam kebutaan, tetapi mempunyai
perasaan dan pikiran, daripada hanya
berpuas diri dengan kemampuan untuk
melihat semata.
(Helen Keller)

Aku Melihat dengan Tanganku


Baru saja kusentuh anjingku. Ia berguling-guling di rerum
putan. Keriangan memenuhi sekujur otot dan tubuhnya. Aku
ingin menangkap gambaran tentangnya melalui jemariku, dan
kusentuh ia selembut menyentuh sarang laba-laba. Tetapi, ah, ia
menggulingkan tubuh gemuknya dan berbalik duduk dengan
tegak. Lidahnya menjilati tanganku! Ia mera
patkan dirinya
kepadaku, seakan mencoba memenuhi tanganku dengan selu
ruh tubuhnya. Ia menyatakan cintanya dengan ekornya, dengan
cakarnya, dan dengan lidahnya. Kalau bisa berbicara, aku per
caya ia akan mengatakan bahwa kenikmatan surgawi bisa di
peroleh melalui sentuhan. Karena di dalam sentuhan terdapat
cinta kasih dan akal budi.
Peristiwa kecil ini membuatku memulai suatu percakapan
tentang tangan. Dan bila percakapan ini membawa hasil, aku
harus berterima kasih pada tokohnya: anjingku. Bagaimanapun,
sangat menyenangkan untuk membicarakan suatu topik yang
belum dikuasai orang lain. Serasa merepih jalan setapak baru di
dalam hutan yang belum terjelajah, aku seperti membuka jalan

13

Helen Keller

yang belum pernah dilewati oleh siapa pun. Dengan sukacita


akan kutuntun dirimu di sepanjang jalan baru ini ke dalam
sebuah dunia di mana tanganlah yang memegang peranan.
Tetapi, dari awal, kita akan menjumpai kesulitan. Kau begitu
terbiasa dengan cahaya. Aku khawatir kau akan tersandung bi
la kutuntun dirimu dalam dunia yang gelap dan sepi. Seorang
buta, sepertiku, bukanlah pemandu jalan yang baik. Namun
demikian, walaupun aku tak bisa memastikan apakah kau akan
tersesat atau tidak, tetapi aku berjanji tak akan menuntunmu
pada api atau air, atau membiarkanmu terjatuh ke dalam lubang
yang dalam. Kalau kau rela mengikutiku dengan sabar, akan kau
temukan bahwa ada suara yang sangat lembut. Tak ada ruang di
antara suara itu dan kesenyapan. Dan akan ada lebih banyak
makna yang terlihat pada segala sesuatu.
Tangan bagiku sama artinya dengan penglihatan dan pen
dengaran bagimu. Secara umum bisa dikatakan, kita menem
puh jalan yang sama, membaca buku yang sama, berbicara
dalam bahasa yang sama. Namun, yang kita alami sangatlah
berbeda. Segala gerakku berporos pada tangan. Tanganlah yang
menjadi pengikatku pada dunia pria dan wanita. Tanganku
adalah alat peraba yang melaluinya aku menjangkau semuanya,
melenting dari keterasingan dan kegelapanku. Melalui tangan
kurengkuh segenap sukacita. Melalui tangan aku melakukan
segala kegiatan yang tersentuh oleh jemariku. Dengan sepatah

14

Aku Melihat dengan Tanganku

dua patah kata yang disampaikan dari tangan orang lain kepada
tanganku, atau gerakan halus jemari, dimulailah pengetahuan,
sukacita, dan kepenuhan dari hidupku. Seperti halnya Nabi
Ayub, aku merasa tanganlah yang menciptaku, merancangku,
dan membentuk jiwaku.
Dalam setiap pengalaman dan pemikiranku, aku selalu
memberikan perhatian pada tangan. Segala hal yang menyen
tuh dan menggetarkan perasaanku, semuanya bagaikan tangan
yang menyentuhku di kegelapan. Dan sentuhan itu adalah ke
nyataan bagiku. Bila orang berkata bahwa kesan yang kuda
patkan melalui sentuhan bukanlah hal yang nyata, itu sama
artinya dengan mengatakan bahwa sebuah pemandangan yang
membahagiakanmu, atau suatu tamparan yang membuatmu me
neteskan air mata, juga tidak nyata.
Getaran lembut sayap kupu-kupu yang hinggap di tangan
ku; halus kelopak bunga bakung berlekuk di daunnya yang dingin,
yang menyeruak manja di padang rumputan; garis-garis tubuh
dan wajah yang jelas lagi tegas; lengkung mulus leher seekor
kuda dan sentuhan hidungnya yang bagaikan beludru, segala
hal itu dan ribuan perpaduan yang terbentuk darinya menjelma
menjadi bentuk-bentuk di dalam benakku, dan menciptakan
duniaku.
Dunia tempat kita hidup terbentuk dari berlaksa gagasan.
Dan impresi (kesan) melengkapi gagasan-gagasan itu. Duniaku

15

Helen Keller

dibangun oleh sensasi sentuhan, tanpa kehadiran warna dan


suara. Meskipun tanpa warna dan suara, ia bernapas dan ber
detak dengan kehidupan. Setiap objek di benakku selalu ber
hubungan dengan kualitas-kualitas sentuhan yangbila di
kombinasikan dalam cara yang tak berhinggamemberiku
rasa kuasa, keindahan, atau bahkan beragam keanehan: kare
na melalui tanganku, aku pun bisa merasakan kelucuan dan
keindahan dari penampilan sesuatu secara bersamaan. Ingatlah
bahwa kau, yang mengandalkan penglihatan, tidak menyadari
betapa banyak hal yang nyata dalam sebuah sentuhan. Ben
da-benda yang dapat disentuh memiliki sifat kaku atau luwes,
padat atau cair, besar atau kecil, hangat atau dingin, dan sifatsifat itu termodifikasi secara beragam. Dinginnya kelopak tera
tai yang tengah mekar berbeda dengan dinginnya angin di
malam musim panas. Berbeda pula dengan dinginnya air hujan
yang merasuk ke jantung pedalaman aneka tumbuhan, yang
memberinya kehidupan dan wujud yang menggetarkan. Lembut
beludru kelopak mawar berbeda dengan lembut beludru kulit
buah persik, atau lembut pipi berlesung seorang bayi. Kerasnya
kayu dibandingkan kerasnya batu begitu berbeda, layaknya be
da antara suara bass seorang pria dengan suara wanita bernada
rendah. Apa yang kusebut sebagai keindahan dibentuk dari
kombinasi sifat-sifat tersebut, dan hampir semuanya berasal
dari garis-garis berkeluk dan garis-garis lurus yang meliputi

16

Aku Melihat dengan Tanganku

permukaan benda-benda.
Apa arti garis lurus bagimu? Mungkin kau akan ber
tanya seperti itu kepadaku.
Garis lurus punya makna beragam. Ia melambangkan
kewajiban. Ada kualitas ketegasan padanya, seperti yang ada
pada sebuah kewajiban. Bila ada hal yang harus kukerjakan dan
tak dapat dikesampingkan, aku merasa bahwa diriku bergerak
lurus ke depan, dengan suatu tujuan yang pasti, atau terus
berjalan tanpa pernah menyimpang ke kiri atau ke kanan.
Demikianlah sesuatu memiliki makna bagiku. Lebih luas
lagi, kau bisa bertanya, Bagaimana rasa sebuah garis lurus?
Dan kau mungkin akan menjawab bahwa rasanya sama dengan
penampilannya: lurus. Tapi itu jalan pikiran membosankan
yang begitu-begitu saja. Tak ada sesuatu yang baru di sana. Pe
rasaan yang penuh yang didapat dari sebuah sentuhan tidak
bisa dirasakan pada garis lurus, tetapi pada garis berlekuk atau
pada kombinasi antara garis lurus dan garis berlekuk. Garisgaris itu timbul-tenggelam; terkadang dalam, terkadang dang
kal; bisa terputus, tersambung, atau memuai. Garis-garis itu
timbul-tenggelam di bawah jemariku, berhenti dan bergerak
secara tiba-tiba, dengan ragam yang tak terbatas dan luar biasa.
Walaupun tanganku tak dapat melihat kemilau warna senja, gu
nung, atau nuansa birunya langit, namun jiwaku tidaklah ter
tutup dari negeri keindahan.

17

Helen Keller

Ilmu fisika menyatakan padaku bahwa aku berada di


sebuah dunia yang tidak mengenal dingin ataupun suara, tetapi
sebuah dunia yang dibentuk oleh ukuran, bentuk, dan kualitaskualitas yang mendasarinya. Tetapi paling tidak, bagi jemariku
setiap objek terlihat berdiri tegak, dan bukan merupakan suatu
proyeksi-retina yang terbalik di mana otakmu harus terusmenerus menegakkannya kembali walaupun itu kau lakukan
secara tidak sadar. Sebuah objek nyata memasuki otakku leng
kap dengan membawa hangatnya kehidupan, dan benda itu
memenuhi ruang yang sama. Karena, tanpa egotisme, luas pi
kiran bisa seluas semesta. Ketika berpikir tentang perbukitan,
aku berpikir tentang tenagaku saat mendakinya. Ketika yang
menjadi objek pikiranku adalah air, maka aku dikejutkan
oleh sensasi dinginnya jika masuk ke dalamnya, juga gerakan
gelombang yang cepat lagi tegas, bergulung dan berayun di
sekitar tubuhku.
Perbedaan-perbedaan yang menyenangkan pada kulit po
hon dan dahannya, dari kasar ke halus, lentur dan kaku, me
lengkung dan lurus, menyatakan kejujurannya kepada tanganku.
Batu yang kokoh, dengan berbagai tonjolan dan cekungannya,
seperti berbicara pada jemariku bagaimana sesuatu itu timbul
dan tenggelam. Bulatnya buah semangka dan gendutnya buah
labu bertunas yang tumbuh dan matang di taman asing, yang
ditanam di suatu tempat di bawah jemariku, terasa sangat lucu

18

Aku Melihat dengan Tanganku

dalam ingatan dan imajinasi rabaanku. Jemariku tergelitik gem


bira oleh gelak tawa seorang bayi. Kutemukan sukacita pada
kokok gagah seekor ayam jago. Aku pernah memelihara ayam
jago yang senang bertengger di lututku. Ia sering menjulurkan
lehernya dan berkokok. Saat itu, seekor
ayam yang berada di tanganku nilainya
sama dengan dua ekor ayam yang berada
di dalam kandang.
Tentu saja jemariku tidak mampu
mendapat
kan kesan da
ri sebuah benda
besar dalam sekali sentuh. Tetapi aku dapat
meraba

bagian-bagiannya.

Kemudian

Kenikmatan surgawi
bisa diperoleh
melalui sentuhan.
Karena di dalam
sentuhan terdapat
cinta kasih dan akal
budi.

otakku menyatukannya. Aku bergerak di


ruang-ruang rumah, menyentuh setiap
ob
jek dengan urutan tertentu, sebelum
dapat kugambarkan rumah itu secara utuh. Di rumah orang
lain, aku hanya dapat menyentuh apa yang diperlihatkan kepa
daku, yaitu objek-objek yang menarik, pahatan di dinding,
atau bentuk-bentuk arsitektur mempesona, yang dipamerkan
seperti album keluarga. Karena itu, sebuah rumah di mana aku
tidak merasa akrab mula-mula tidak memiliki efek umum atau
detail yang harmonis di dalam pikiranku. Tak ada konsep yang
utuh, melainkan hanya sekumpulan kesan objek yang tidak
berhubungan dan terisolasi, sebab seperti itulah objek-objek

19

Helen Keller

itu datang kepadaku. Namun, benakku dipenuhi oleh berbagai


asosiasi, sensasi, juga teori. Berbekal semua itu, kemudian ter
gambarlah rumah tersebut. Proses ini mengingatkanku pada
proses pembangunan Kuil Sulaiman: tak terdengar suara ger
gaji, palu, ataupun alat-alat pertukangan lainnya ketika batu
demi batu disusun. Pekerja sunyinya adalah imajinasi yang
menitahkan kenyataan agar keluar dari kekacauan.
Tetapi ketika mata batinku terbuka terhadap keindahan,
tanah sunyi itu pun menjadi cerah di bawah telapak kakiku,
tanaman pagarnya menyemburkan dedaunan, dan pohon ma
warnya menebarkan aromanya yang semerbak ke mana-mana.
Aku tahu bagaimana rupa pohon yang sedang bertunas, dan
aku bisa memasuki kebahagiaan cinta burung-burung yang
berpasangan. Dan inilah keajaiban daya imajinasi.
Melalui jemariku, keajaiban ini terasa berlipat ganda ke
tika imajinasiku menggapai-gapai ke luar dan bertumbukan
dengan imajinasi seorang seniman yang ia wujudkan dalam
bentuk sebuah pahatan. Dibandingkan dengan wajah seorang
teman yang hangat dan penuh gairah, patung marmer memang
dingin, tak bernyawa, dan tak memberikan respons. Namun
ia tetap terasa indah di tanganku. Lekuk-keluk yang mengalir
lembut sungguh merupakan kegembiraan, hanya napas saja
yang tidak ada. Tetapi dalam pengaruh sihir imajinasi, patung
marmer itu memberikan sensasi dan menjadi kenyataan agung

20

Aku Melihat dengan Tanganku

yang sempurna. Imajinasi memberikan nyawa dan gairah pada


setiap lekuk dan garisnya. Patung yang kusentuh benar-benar
menjelma menjadi seorang dewi yang bernapas, bergerak, ang
gun mempesona.
Namun demikian, tidak semua karya pahatan terasa me
nyenangkan bagi jemariku, bahkan karya adiluhung sekalipun.
Ketika kusentuh The Winged Victory (patung marmer dewi
NikeDewi Kemenangan), yang muncul di benakku pertama
kali adalah sebuah mimpi tanpa-kepala dan tanpa-tubuh,
yang melayang ke arahku dalam sebuah tidur yang tak jenak.
Jubah Victory menonjol kaku ke belakang dan sama sekali ti
dak berkesan seperti jubah yang mampu terbang, berkibaran,
berlekuk, dan terpentang oleh tiupan angin. Tetapi daya imaji
nasi mampu mengisi ketidaksempurnaan itu. Victory bisa ber
ubah menjadi suatu sosok yang penuh daya dan kuasa, dengan
hembusan angin laut di jubahnya dan megahnya kemenangan
pada sayap-sayapnya.
Pada sesosok patung yang indah kutemukan kesempur
naan bentuk raga. Kujumpai di sana kualitas-kualitas keseim
bangan dan kelengkapan. Patung Minerva, yang penuh dengan
alusi puitik, memberiku sebuah keriangan yang hampir terasa
fisikal. Aku menyukai megahnya ikal rambut Bacchus dan
Apollo. Rangkaian daun Ivy memberiku kesan tentang pe
rayaan-perayaan kaum pagan.

21

Helen Keller

Demikianlah, imajinasi memahkotai pengalaman-peng


alaman tanganku. Dan tanganku memperoleh keahliannya
dari tangan bijak orang lain yangjuga dipandu oleh imajinasi
telah membawaku pada jalan yang belum kukenal, membuat
kegelapan menjadi terang di hadapanku, dan meluruskan jalan
yang berkelok.

22

Helen bersama Alexander Graham Bell

Aku berusaha menjadikan penglihatan di


mata orang lain sebagai mentariku, musik
yang didengar telinga orang lain sebagai
simfoniku, dan senyum di bibir orang lain
sebagai kebahagiaanku.
(Helen Keller)

Sentuhan Tangan Orang Lain


Sebagai seseorang yang memperoleh perlindungan dan keha
ngatan dari kedua tangannya, aku selalu merindukan bantuan
dan kebahagiaan darinya. Aku bisa mengerti perasaan Sang
Pemazmur ketika ia mengangkat suaranya dengan penuh kuasa,
sukacita, dan bernyanyi: Aku percaya kepada Tuhan senantiasa,
dan tangan-Nya akan menopangku dan aku akan aman berada
di dalamnya. Kekuatan tangan manusia pun memiliki sesuatu
yang agung. Orang bilang, kerlingan mata seorang kekasih
mampu menggetarkanmu dari suatu jarak. Tetapi tiada jarak
dalam sentuhan tangan seorang kekasih. Surat-surat yang kute
rima pun mengungkapkan:
Kisah dari lubuk hati terdalam,
Kehadiran sebuah tangan bisa kurasakan.

Aku selalu tertarik memperhatikan perbedaan tangan


orang. Aneka gairah, energi, ketenangan, dan keramahtamahan
terasa darinya. Dulu belum kusadari bahwa tangan manusia

25

Helen Keller

begitu sarat akan kehidupan, hingga aku melihat koleksi ce


takan tangan Mr. Hudson yang terbuat dari plaster dingin.
Tangan yang kukenal di kehidupan ini penuh dengan darah
dalam nadinya dan terasa elastis karena semangatnya. Lihatlah,
betapa beda tangan Mr. Hudson dibandingkan tiruannya
yang membosankan dan tidak sensitif itu! Bagiku, cetakan ta
ngan itu justru tak berbentuk seperti tangan. Aku tak bisa
mengenali satu pun tangan dari berbagai koleksi cetakan milik
Mr. Hudson, bahkan cetakan tanganku sendiri. Yang tak akan
bisa kulupakan adalah tangan yang menawarkan kasih sayang.
Jemariku mengingat tangan besar Bishop Brook, yang penuh
kelembutan dan sukacita dari seorang pria yang kuat. Bila kau
buta dan tuli, dan bisa memegang tangan Mr. Jefferson, kau
akan bisa melihat wajah dan mendengar suara yang sungguh
sangat khas. Tangan Mark Twain penuh dengan selera humor
yang cerdas dan ganjil. Ketika kau menggenggam tangannya,
akan kau rasakan perubahan perasaannya, dari perasaan lucu
menjadi simpatis dan rasa melindungi.
Ada yang bilang kepadaku bahwa kata-kata yang kutulis
kan di atas sebenarnya tidak menggambarkan tangan temantemanku. Menurut mereka aku hanya melekatkan kualitas-ku
alitas kemanusiaan yang kutahu dimiliki oleh pemilik tangan
tersebut, dan yang hanya bisa disampaikan melalui bahasa
yang abstrak. Kritik semacam itu menyiratkan bahwa aku tidak

26

Sentuhan Tangan Orang Lain

menyatakan kebenaran utama dari apa yang kurasakan. Namun,


kalau begitu, bagaimana dengan buku-buku yang kubaca, bukubuku yang ditulis oleh orang yang bisa melihat yang memberikan
gambaran tampilan fisik seraut wajah? Aku membaca bahwa
wajah bisa keras dan lembut, penuh kesabaran dan kecerdasan.
Aku membaca bahwa wajah bisa baik, manis, mulia, dan indah.
Mengapa aku tak diperbolehkan menggunakan deskripsi yang
sama untuk menggambarkan apa yang kurasakan sama seperti
yang kau lihat?
Apa yang kurasakan melalui sentuhan tanganku adalah
ekspresi yang sejati. Jarang sekali kuperhatikan kualitas fisik,
seperti apakah jari-jari tangan itu panjang atau pendek, atau
apakah kulitnya kering atau lembap. Sama halnya denganmu,
akan sangat susah untuk mengingat setiap detail dari seraut
wajah, walaupun kau telah melihatnya berkali-kali. Kalaupun
kau mengingat raut mukanya, misalnya matanya yang biru,
dagunya yang menonjol, hidungnya yang pesek atau pipinya
yang kempot, bisa kupastikan kau belum tentu bisa mem
berikan kesan mengenai orang itu. Tidak semudah bila kau
menerjemahkan langsung inti dari kualitas-kualitas moral
wajah itu, rasa humornya, kesenduannya, kesedihannya, dan
spiritualitasnya. Memang sulit menerangkan kepadamu bagai
mana rasa sebuah wajah secara fisik; sama sia-sianya dengan
mencoba menggambarkan detail penampilan wajah itu kepada

27

Helen Keller

seorang buta. Ingatlah, ketika seorang buta memperoleh


penglihatannya kembali, ia tak bisa mengenal hal-hal paling
umum yang selama ini begitu akrab dengan sentuhannya: wa
jah kekasih yang selama ini mesra dengan jemarinya, dan apa
yang dideskripsikan orang secara berulang-ulang kepadanya
pun tidak dimengertinya. Demikianlah, kau yang tidak terlatih
untuk meraba tak akan mengenali sebuah tangan melalui
sentuhan. Demikian juga, apa pun yang kudeskripsikan ten
tang sebuah tangan yang bersahabat dengan jemariku yang
dengan kasih sayangnya menerjemahkan artinya ke dalam
memoriku, kau tak akan sanggup mengerti.
Aku tidak bisa mengklasifikasikan tangan. Tak ada demo
krasi pada tangan. Beberapa tangan bercerita tentang bagaimana
mereka mengerjakan segala sesuatu dengan cara yang sibuk dan
riuh. Sejumlah tangan lainnya bergerak tak teratur, gelisah, dan
jemarinya terus bergerak, mengindikasikan sifat yang sensitif
dalam menghadapi cubitan-cubitan kehidupan. Kadang-ka
dang, dengan resah bisa kukenali tangan yang bagus dari se
seorang yang bodoh, yang berbicara dengan banyak kata tanpa
memberikan informasi apa pun. Aku pernah bertemu dengan
seorang pendeta yang memiliki tangan ceria, seorang humoris
yang tangannya berat, seseorang yang kelihatan pemberani
tapi tangannya menunjukkan ketakutan, dan seorang laki-la
ki pendiam dan peragu tetapi tangannya penuh kekuatan. Se

28

Sentuhan Tangan Orang Lain

waktu kecil, aku diajak bertemu dengan seorang wanita tu


nanetra dan lumpuh. Tak akan dapat kulupakan ketika ia
mengangkat tangan kecilnya yang gemetaran dan menyentuh
tanganku dengan penuh simpati. Saat itu aku bisa merasakan
keletihannya, keperihannya, kegelapannya, dan kesabarannya
melalui tangannya yang kurus, tersia-sia, yang selalu merabaraba, sekaligus penuh cinta.
Menurutku, orang yang tidak mengenalku akan sulit me
ngerti bahwa diriku mampu merasakan mood temanku yang
sedang terlibat perbincangan dengan orang lain. Tanganku
mengikuti gerak-geriknya. Aku menyentuh telapak tangannya,
lengannya, dan wajahnya. Aku bisa mengetahui apakah ia me
rasa senang dengan sebuah lelucon yang tidak disampaikan ke
padaku, atau apakah ia sedang bercerita dengan penuh gairah.
Salah satu temanku sedikit agresif sifatnya; dari tangannya aku
bisa tahu kapan ia akan memulai suatu perbantahan. Dengan
sentakan tak sabar, aku tahu ia punya sebuah argumen kepada
orang lain. Aku juga bisa merasakan bila ia mulai mendapatkan
ide baru atau tiba-tiba teringat sesuatu. Aku merasakan dukacita
di tangannya. Aku merasakan jiwanya berbusana kegelapan
dengan anggunnya, seperti halnya saat ia memakai pakaian.
Temanku lainnya mempunyai tangan yang positif dan empatik,
yang menyatakan pendapatnya dengan tegas. Ia satu-satunya
orang yang kukenal yang memberikan penekanan pada ejaan

29

Helen Keller

kata-katanya, menjelaskan penekanan katanya, juga penekanan


pada ucapan-ucapannya ketika kubaca gerak bibirnya. Karena
itu aku sangat menyukainya saat ia berbicara, lebih dari orangorang lainnya.
Ada tangan yang meluapkan
kegembiraannya dengan ceria ketika
Tangan bukan hanya

kau menggenggamnya. Tangan-

mudah dibaca seperti

tangan itu berdetak dan tera


sa

wajah, tapi bahkan

begitu hidup. Ada orang yang

mengungkapkan
rahasianya secara lebih
terbuka dan tanpa
disadari.

tak pernah kukenal, tetapi ketika


memegang tanganku, seakan-akan
aku adalah saudarinya yang sudah
lama tak berjumpa. Ada juga orang
yang ragu-ragu saat berjabat tangan
denganku, takut kalau-kalau aku
akan melakukan sesuatu yang bu
ruk kepadanya. Orang semacam

itu mengulurkan tangannya hanya demi sopan-santun, dan


langsung menariknya kembali. Dalam hati, kau akan berharap
untuk tidak lagi bersentuhan dengan tangan pengecut seperti
itu. Tangan seperti itu menyatakan pikiran yang sempit, kesom
bongan, juga kecurigaan. Sungguh sangat berlawanan dengan
tangan orang yang berjiwa besar dan penuh kasih sayang.
Jabat tangan orang tertentu bisa membuatmu berpikir

30

Sentuhan Tangan Orang Lain

tentang kecela
kaan dan kematian mendadak. Bandingkan
tangan semacam ini de
ngan tangan seorang perawat yang
ber
gerak cepat, penuh keahlian dan ketenangan, yang selalu
kukenang, karena perawat inilah yang pernah merawat guruku
dengan baik. Aku pernah berjabat tangan dengan orang-orang
kaya; tangan mereka halus karena tak pernah bekerja keras.
Tetapi, tangan mereka tidaklah cantik. Di bawah permukaannya
yang halus dan lembut terungkap kekacauan dari karakter yang
tak berkembang!
Bagi seorang pasien, aku yakin tak ada yang dapat me
nandingi tangan dokternya yang penuh keahlian, kelembut
an, perhatian, dan keyakinan. Tak mengherankan jika Ruskin
menganggap bahwa seorang pelukis harus mencontoh gerakan
tangan yang pasti dan terkendali dari seorang dokter bedah.
Bila sang dokter kebetulan adalah orang yang bersifat baik,
maka sentuhannya juga membawa kesembuhan jiwa. Sen
tuhan ajaib yang membawa kesembuhan ini kudapati pada
tangan seorang teman, yang merupakan dokter bagi kami, baik
dalam sakit maupun sehat. Jiwanya yang penuh sukacita dan
ramah menghadirkan banyak berkah pada pasien-pasiennya,
walaupun mereka tidak sedang sakit.
Sebagaimana kecantikan wajah yang beragam, tangan
pun memiliki kecantikan yang beraneka. Sentuhan mempunyai
sensasinya sendiri. Tangan orang-orang yang berkepribadian

31

Helen Keller

kuat dan sensitif penuh dengan gerakan. Ujung jari mereka


mengekspresikan berbagai nuansa pikiran. Sering kali aku ber
sentuhan dengan tangan yang lentik, elegan, dan lincah, yang
menggambarkan kecantikan dan keunikan yang sama yang
bisa kau dapati pada tulisan tangan orang terdidik. Ah, andai
saja kau bisa melihat betapa indahnya tangan seorang anak
kecil tergambar dalam pikiranku. Mereka layaknya kembangkembang liar kehidupan manusia. Gerakan tangan mereka lak
sana kembang-kembang liar percakapan.
Semua ini adalah ilmu membaca tanganku pribadi, dan
jika kau kuramal, itu bukan datang dari intuisi misterius atau
ilmu sihir kaum gipsi. Semuanya terbaca melalui pengenalan
yang alami dan masuk akal dari karakter yang terpahat di ta
nganmu. Tangan bukan hanya mudah dibaca seperti wajah,
tapi bahkan mengungkapkan rahasianya secara lebih terbuka
dan tanpa disadari. Orang biasanya menjaga ekspresi mukanya,
tapi tidak tangannya. Tangan menjadi lemas dan lesu ketika
semangat sedang menurun dan sedih. Otot-ototnya mengencang
ketika timbul pikiran yang menggairahkan atau ketika hatinya
riang. Pun terdapat kualitas-kualitas permanen yang tertulis di
tangan sepanjang masa.

32

Tulisan tangan Helen Keller

Kembalikan lagi perasaan batin yang indah


dan sempurna pada tempatnya, niscaya Anda
akan memberiku perasaan sukacita yang
merupakan bukti terbaik dari kenyataan ini.
(Helen Keller)

Dunia Dibentuk Tangan Manusia


Coba buka Kamus Century-mu. Kalau kau seorang tuna
netra, minta tolonglah pada gurumu. Pelajarilah betapa banyak
ungkapan yang tercipta dari ide tentang tangan, dan betapa
banyak kata yang terbentuk dari kata dari Bahasa Latin manus
(yang berarti tangan). Sedemikan banyaknya sehingga cukup
untuk menamai hal-hal penting dalam kehidupan. Kata hand
(tangan) dengan kutipan dan kombinasi katanya, memenuhi
dua puluh empat kolom dan delapan halaman kamus ini. Kata
hand didefinisikan sebagai the organ of apprehension (organ
untuk menangkap dan memahami). Definisi itu tepat sekali
dan mewakili dua arti dari kata apprehend (yaitu menangkap
dan memahami). Sebab, dengan tangan kuraih dan kugenggam
segala yang dapat kutemukan pada tiga dunia: fisik, intelektual,
dan spiritual.
Coba pikirkan bagaimana kita memahami dunia melalui
istilah hand (tangan). Kehidupan ini berada di antara on one
hand dan on the other hand. Buah karya dari suatu keahlian
disebuah manu-factures. Cara untuk mengelola sesuatu dise

35

Helen Keller

but sebagai man-agament. Sejarah tampak seperti rekam je


jak dari man-euver of armies (manuver-manuver angkatan
perang). Namun, sejarah kedamaian, catatan tentang kemajuan
pertanian, kehutanan, dan perkebunan anggur, juga ditulis de
ngan tanda kemenangan tangan, yaitu sebuah tanda dari tangantangan manusia yang telah berhasil menaklukkan alam liar.
Bahkan para pekerjanya pun disebut hand (pekerja). Melalui
man-acle (borgol) dan manu-mission (pembebasan budak),
kita membaca sejarah kemanusian mengenai perbudakan dan
pembebasannya.
Ada banyak lagi idiom lain, namun aku tak akan mengu
tip terlalu banyak, agar kau tidak perlu berseru Hands off!
(Hentikan!) Tetapi karena aku sangat menyukai permainan
kata ini, aku masih ingin menuliskan beberapa lagi. Barang
yang kita miliki, yang merupakan bekas milik orang lain, kita
sebut second-hand. Ada orang yang mengatakan bahwa pe
ngetahuanku adalah pengetahuan second-hand. Tentu saja
sahabat-sahabat yang sayang padaku tidak setuju dengan pen
dapat itu. Dalam pandangan mereka, pengetahuanku adalah
first-hand (orisinal). Tidak hanya itu, mereka juga menyatakan
bahwa aku mempunyai indra keenam, dan bahwa segala sesuatu
yang kuperoleh sebagai keajaiban dan anugerah ilahi tersebut
kucapai dengan good right hand (terjemahan bebasnya: ke
tekunan dan kebajikanpenerj.). Bagiku sendiri, aku bukan

36

Dunia Dibentuk Tangan Manusia

hanya mempunyai good right hand, tapi juga good left hand,
karena dengan tangan kirilah aku membaca, dan tangan kiriku
sama berharga dan terhormatnya dengan tangan kananku. Entah
mengapa dalam perkembangan manusia tangan kiri sering kali
dikesampingkan. Bukankah lebih baik bila ketika kita tiba pada
titik puncak peradaban, kedua tangan kita bisa digunakan sama
lihainya? Dan bukankah ini akan memampukan kita men
jadi pemenang dalam pertarungan kita secara hand to hand
(berhadapan langsung) melawan kesulitan-kesulitan? Aku ter
ingat ketika guruku sedang melatih semangatku yang belum
terbangkitkan, melatihku untuk berperang melawan kegelapan,
berbekal tangan yang disiplin dan cahaya dari alfabet manual.
Itu pun merupakan konflik hand to hand.
Sebuah esai sastra belum bisa dikatakan lengkap bila
belum mengutip karya Shakespeare. Dalam kemudaan dan
pengalamanku yang terbatas, dulu aku berasumsi bahwa pem
bicaran tentang tangan adalah bidangku, namun ternyata
Shakespeare sudah lebih dulu memulainya. Pada hampir se
tiap naskah drama karyanya, ada bagian di mana tangan
memainkan peranan penting. Percakapan-batin Lady Macbeth
tentang tangan mungilnya yang sangat menyentuh hati, di mana
dikatakan tak ada parfum dari Arab yang mampu menghapus
aroma nodanya, adalah momen paling mengibakan dari se
luruh tragedi itu. Mark Anthony memberikan penghargaan ke

37

Helen Keller

pada Scarus, prajuritnya yang paling berani, dengan meminta


Cleopatra memberikan tangannya: Biarkan bibirnya mencium
tanganmu yang pengasih itu. Pada bagian yang berbeda, ia
marah ketika Thyreus bermaksud
mencium tangan Sang Ratu. Tangan
yang dengan mesra disebutnya seba
Dengan tangan
kuraih dan
kugenggam
segala yang dapat
kutemukan pada
tiga dunia: fisik,
intelektual, dan
spiritual.

gai idam-idamannya, juga anugerah


nya.
Ketika terancam akan diperma
lukan kemenangan Caesar, Cleopatra
menyambar sebilah belati dan ber
seru, Aku akan mengandalkan ke
putusanku sendiri dan kedua belah
tanganku. Dengan insting yang sa
ma cepatnya, Casius mengayunkan
tangannya menikam Caesar. Wahai

tanganku! Wakililah aku berkata-kata!


Biarkanlah kucium tanganmu, kata si buta Gloster kepada
Lear. Tunggu, biar kubersihkan dulu tanganku. Ada aroma
kematian di sana, jawab raja tua yang sengsara itu. Betapa sa
rat kata-kata ini dengan makna kepedihan! Dan betapa mata
kita tercelik menyaksikan pemandangan menakutkan yang di
alami Lear ketika ia tahu bahwa status kebangsawanannya tak
sanggup menjadi tameng melawan kekejaman dan rasa dengki!

38

Dunia Dibentuk Tangan Manusia

Si buta Gloster berseru kepada putranya, Walau aku


hanya hidup untuk melihatmu melalui sentuhanku, rasanya
seakan aku kembali memiliki mata. Kurasakan kesedihannya
sangat nyata, seperti denyut nadi dalam tubuhku, saat membaca
kata-katanya.
Hantu dalam kisah Hamlet membacakan semua kejahatan
yang menjadi sumber tragedi: Demikianlah, aku terbunuh
oleh tangan saudaraku sendiri; seketika terenggut dariku kehi
dupanku, mahkotaku, ratuku.
Ingat bagaimana Othello membuat napasmu tercekat? Ka
limat-kalimatnya sarat dengan arti ganda yang mengandung
kepahitan. Othello sangat curiga dengan kejahatan yang dila
kukan tangan Desdemona. Dan Desdemona hanya menjawab
polos: Tanganku inilah yang mengungkapkan isi hatiku.
Tidak semua karya Shakespeare yang berhubungan de
ngan tangan bersifat tragis. Ingatlah permainan kata ringan da
lam kisah Romeo dan Juliet, di mana dialognya berjalan lugas
dan lincah, merangkaikan sonata indah mengenai tangan. Dan
siapakah yang lebih memahami tangan kecuali sang pencinta?
Sentuhan tangan ada dalam setiap pasal Alkitab. Bisa
dikatakan, Kitab Keluaran adalah kitab yang berkisah tentang
tangan. Segala sesuatunya dilakukan melalui tangan Tuhan
atau tangan Musa. Penindasan bangsa Yahudi di Mesir dicatat
sebagai berikut: Tangan Firaun menindas Bangsa Ibrani.

39

Helen Keller

Heng
kangnya mereka dari Mesir diceritakan dengan tegas:
Tuhan membawa Bani Israel keluar dari rumah perbudakan
dengan tangan-Nya yang kuat dan lengan yang terulur. Dengan
mengulurkan tangannya, Musa membelah Laut Merah. Ketika
Tuhan mengangkat tangan-Nya dalam kemarahan-Nya, ribuan
orang mati di padang gurun. Dalam sejarah Bani Israel, bahkan
dalam sejarah umat manusia, setiap tindakan dan pernyataan
selalu ditegaskan oleh tangan. Bukankah tangan dipergunakan
pada saat penting, seperti ketika menyumpah, memberkati dan
mengutuk, memukul, menyetujui, menikahkan, membangun,
dan menghancurkan? Kesakralan tangan tercatat dalam hukum
agama, di mana dikatakan bahwa korban persembahan tidaklah
absah bila si pemberi korban tidak menumpangkan tangannya
di atas korban itu. Jemaat menumpangkan tangan mereka di
atas kepala orang yang dijatuhi hukuman mati. Betapa ngerinya
arti tumpangan tangan itu dirasakan oleh sang pesakitan! Ke
tika Musa membangun mezbah di Gunung Sinai, ia diperintah
untuk tidak memakai alat apa pun kecuali dua belah tangannya.
Bumi, laut, langit, manusia, dan semua binatang adalah kudus
bagi Tuhan, karena Ia membentuk semua ciptaan dengan ta
ngan-Nya. Ketika Sang Pemazmur memperhatikan langit dan
bumi, ia berseru: Siapakah manusia, wahai Tuhan, hingga
Engkau memperhatikan mereka? Karena Engkau telah men

40

Dunia Dibentuk Tangan Manusia

ciptakan mereka untuk berkuasa atas hasil karya tangan-Mu


yang lain. Gerakan tangan menyembah selalu menyertai doa
yang terucap, dan tangan yang bersih menandakan hati yang
suci.
Kristus memberikan ketenangan, memberkati, menyem
buhkan, dan mengadakan banyak keajaiban dengan tangannya.
Ia menyentuh mata orang buta, dan mata itu pun terbuka. Ketika
Jairus mencarinyadengan terbebani duka yang dalamYesus
menumpangkan tangannya di atas anak perempuan sang peja
bat itu, dan anak itu pun terbangun dari tidur kematiannya
dan menjumpai ayah yang mengasihinya. Ingatkah kau ketika
Yesus pun menyembuhkan seorang perempuan bungkuk? Dia
bersabda, Ibu, kulepaskan kau dari penyakitmu. Ia menum
pangkan tangannya di atas wanita itu. Seketika, ia sembuh dan
kemudian memuliakan Tuhan.
Di mana pun kita pelajari, dalam waktu dan sejarah, selalu
akan kita jumpai tangan-tangan yang bekerja, membangun,
mencipta, membawa bangsa-bangsa masuk ke dalam peradaban.
Tangan adalah simbol kekuasaan dan keagungan sebuah karya.
Tangan-tangan para ahli mesin yang mengatur kekuatan-keku
atan elemental, tangan yang memahat, menggergaji, memotong,
dan membangun, sama bermanfaatnya dengan tangan-tangan
halus yang melukis kembang liar, yang mencetak tembikar

41

Helen Keller

Yunani, atau tangan seorang negarawan yang menulis undangundang. Sang mata tak bisa berkata kepada sang tangan, Aku
tak membutuhkanmu! Terberkatilah, wahai tangan! Tiga kali
lipat berkat bagi tangan yang bekerja!

42

Helen bersama salah satu anjing kesayangannya

Penemuan apakah yang tidak hadir terlebih


dahulu di benak sang penemu jauh sebelum
ia benar-benar menemukannya?
(Helen Keller)

Rahasia Sebuah Sentuhan


Beberapa bulan yang lalu, di sebuah surat kabar yang meng
umumkan penerbitan Matilda Ziegler, majalah untuk tuna
netra, tercantum paragraf berikut ini:
Banyak puisi dan cerita yang tidak bisa kami terbitkan karena
memuat pernyataan tentang penglihatan. Penggambaran ten
tang cahaya rembulan, pelangi, sinar bintang, awan dan pe
mandangan yang indah tidak bisa kami cetak, karena akan
mempertegas perasaan cacat pada orang buta.

Ini sama saja dengan mengatakan bahwa aku tak boleh


berbicara tentang rumah mewah dan tamannya hanya karena
aku miskin. Atau, aku tak boleh membaca tentang Paris dan
India Barat hanya karena aku tak bisa mengunjungi daerah
itu di alam nyata. Aku tak boleh memimpikan surga karena
kemungkinan aku tak akan pernah masuk ke dalamnya. Namun,
jiwa kembaraku mendorongku untuk mempergunakan kata-

45

Helen Keller

kata tentang penglihatan dan suara, walaupun artinya hanya


bisa kuterka melalui analogi dan imajinasi. Permainan imajinasi
ini adalah bagian dari sukacita, candaria kehidupan sehari-hari.
Hatiku berbunga ketika membaca keindahan yang hanya bisa
disaksikan oleh mata. Penggambaran cahaya rembulan dan
awan tidaklah membuatku makin menyadari cacatku, tetapi
justru membawa jiwaku melampaui batas sempit kenyataanku.
Para pengkritik sangat suka mendikte kami mengenai
keterbatasan kami. Mereka beranggapan bahwa kebutaan dan
ketulian kami membuat kami terasing sepenuhnya dari halhal yang hanya bisa dinikmati melalui penglihatan dan suara.
Dan karenanya, mereka menganggap kami secara moral tak
mempunyai hak untuk berbicara tentang keindahan, langit,
pegunungan, serenade burung-burung, ataupun warna. Mereka
menyatakan bahwa sensasi utama yang kami rasakan dari indra
peraba kami bukanlah pengalaman kami sendiri, tetapi juga
hasil partisipasi orang lain. Mungkin mereka pikir teman kami
yang harus merasakan hangat matahari untuk kami! Mereka
menolak begitu saja apa yang belum mereka lihat dan apa yang
telah kurasakan. Bahkan ada juga orang yang mengabaikan
keberadaanku. Karenanya, supaya aku tahu bahwa diriku eksis,
terpaksa kupakai cara pikir Descartes: Aku berpikir, maka aku
ada. Dengan cara demikian, maka secara metafisik aku hadir,
dan biarlah mereka yang meragukan keberadaanku mencoba

46

Rahasia Sebuah Sentuhan

membuktikan sebaliknya. Jika kita pertimbangkan bahwa pe


ngetahuan kita tentang otak masih sangat terbatas, maka alang
kah mengherankan bila orang bisa langsung membuat asumsi
tentang pengetahuan orang lain. Kuakui, banyak sekali hal
mencengangkan di dunia yang kasatmata ini, yang terbayangkan
olehku. Namun sebaliknya, wahai para pengkritik, ada jutaan
sensasi yang bisa kunikmati, yang tak akan pernah terbayang
olehmu.
Kehidupan memberikan kepada mata kemampuan berhar
ga untuk melihat. Kehidupan pun memberikan kemampuan
untuk merasa kepada seluruh bagian tubuh. Kadang-kadang,
rasanya seperti seluruh bagian tubuhku terdiri dari banyak
mata, yang setiap saat menatap dunia yang seakan baru tercipta.
Kesenyapan dan kegelapan, yang katanya mengungkungku, jus
tru membuka pintu ceria akan sensasi yang tak berhingga, yang
mengalihkan perhatianku, mengajariku, menasihatiku, dan
menghiburku. Bersama tiga pemandu terpercaya (sentuhan,
penciuman, dan rasa), aku bertualang ke negeri-negeri di luar
Kota Cahaya. Alam mengakomodasi setiap kebutuhan manusia.
Bila mata cacat, sehingga tak dapat lagi menyaksikan kein
dahan wajah pagi, indra peraba menjadi lebih kuat dan peka.
Dengan latihan memperkuat dan menambah kemampuan
indra lainnya, alam terus melengkapi manusia. Karena itulah
seorang tunanetra sering mempunyai pendengaran lebih tajam

47

Helen Keller

dan jelas dibandingkan orang lain. Indra penciuman seakan


menjadi kemampuan baru yang mampu menembus kerumitan
dan ketidakjelasan dalam berbagai situasi. Demikianlah, sesuai
dengan hukum yang tak terbantahkan, indra-indra manusia
saling membantu dan memperkuat.
Bukanlah hakku memberikan penilaian mana lebih baik:
melihat melalui mata atau melalui tangan? Yang kuketahui ha
nyalah, dunia yang kusaksikan melalui jemariku adalah du
nia yang penuh kehidupan, semarak, dan memuaskan. Sen
tuhan memampukan seorang buta menemukan kepastian-ke
pastian yang indah, yang terlewatkan oleh orang lain dengan
indra peraba yang tak terlatih. Ketika mereka memandang
sesuatu, mereka menaruh tangannya di kantong. Karena itulah
pengetahuan mereka sering samar-samar, tidak akurat, dan siasia. Tentu saja, besar kemungkinan pengetahuan kami atas fe
nomena-fenomena yang berada di luar jangkauan tangan juga
tak sempurna. Meskipun begitu, sesungguhnya pengetahuan
diperoleh melalui kabut emas fantasi.
Tiada keragu-raguan tentang apa yang dapat kami sentuh.
Melalui sentuhan kami mengenal wajah kawan-kawan kami,
mengetahui berbagai variasi garis lurus dan berlekuk, mem
pelajari berbagai permukaan, kesukacitaan bumi, bentuk lembut
bebungaan, keagungan bentuk pepohonan, dan jelajah angin
yang perkasa. Di samping benda-benda, permukaan sesuatu,

48

Rahasia Sebuah Sentuhan

dan perubahan atmosfer, dapat pula kutangkap getaran-getaran


yang tak terbilang jumlahnya. Aku menarik banyak pelajaran
tentang masalah sehari-hari melalui hentakan dan guncangan
yang terasa di seputar rumah.
Langkah kaki manusia berbeda-beda sesuai dengan umur,
jenis kelamin, dan perilaku pemiliknya. Tak mungkin salah
membedakan langkah ringan seorang bocah dengan langkah
orang tua. Langkah kaki seorang pemuda terasa kuat dan bebas,
berbeda dengan langkah kaki orang separuh baya yang lebih
berat dan tertahan, atau berbeda dengan langkah kaki orang
jompo yang menyeret langkahnya dengan pelan dan tertatih.
Pada lantai telanjang, seorang anak gadis melangkah dengan
ritme yang cepat dan luwes, yang sangat berbeda dengan lang
kah kalem seorang perempuan tua.
Pernah aku tertawa mendengar decit sepatu baru dan riuh
langkah pembantu kami ketika ia berdansa jig di dapur. Suatu
ketika, di ruang makan sebuah hotel, suatu disonansi getaran
terasa olehku. Aku duduk diam dan mendengarnya melalui
kakiku. Aku temukan, dua pelayan berjalan mondar-mandir,
tapi dengan langkah yang berbeda. Ketika itu band sedang
memainkan musiknya dan bisa kudengar gelombang nadanya
melalui lantai. Salah satu pelayan itu melangkah sesuai irama
musik, elegan dan lincah, sementara yang satu lagi tak peduli
pada musik itu dan bergegas melayani dari satu meja ke meja

49

Helen Keller

lainnya, mengikuti irama sumbang dari dalam hatinya. Langkah


mereka membuatku membayangkan: andai saja seekor kuda
perang gagah dipasang bersama seekor kuda penarik gerobak.
Kadang-kadang langkah kaki bisa menyingkap karakter
dan perasaan batin orang yang melangkah. Bisa kurasakan
pada langkah-langkah kaki itu ketegasan atau keragu-raguan,
ketergesaan dan pertimbangan, semangat dan kemalasan, kele
tihan, kecerobohan, kelemahlembutan, kemarahan dan duka
cita. Biasanya aku paling bisa membaca perasaan tersebut pada
orang-orang yang dekat denganku.
Langkah kaki sering terinterupsi oleh gerakan dan sentakan,
sehingga aku bisa mengetahui bila seseorang berlutut, menendang,
mengguncangkan sesuatu, duduk, atau bangkit berdiri. Dengan
cara itu bisa kuikuti gerak-gerik orang lain di sekitarku. Misalnya,
beberapa menit lalu, langkah lembut dari kaki berbulu, diikuti
sebuah sentakan mewartakan padaku bahwa anjingku baru saja
melompat naik ke kursi dan duduk memandang ke luar jendela.
Aku terus memantau gerakannya, dan tak lama kemudian aku
tahu bahwa ia telah berpindah dari kursi ke sofa.
Ketika seorang tukang kayu bekerja di rumah atau di
kandang dekat rumah, bisa kuketahui apa yang dikerjakannya
dari getaran-getaran yang kurasakan. Bila ia menggergaji, akan
kurasakan vibrasi gerakan benda bergerigi yang bergerak naikturun pada sudut tertentu. Bila kurasakan getaran pukulan

50

Rahasia Sebuah Sentuhan

berdenging yang bertubi-tubi, aku tahu bahwa ia memukulmukulkan palu. Bila aku berada cukup dekat dengannya dan
merasakan getaran maju-mundur di atas permukaan kayu, aku
tahu bahwa ia sedang menggunakan pahat.
Desahan halus pada karpet mengabarkan kepadaku bah
wa kertas-kertasku tertiup angin dan
jatuh ke lantai. Bunyi detakan adalah
tanda bahwa pensilku jatuh ke lantai,
dan bila berdebum itu artinya buku
yang jatuh. Ketukan pada terali kayu
menginformasikan

bahwa

makan

malam telah terhidang. Di luar rumah,


kerap kali getaran ini menjadi samar.
Di pekarangan atau jalan raya, yang
bisa kurasakan hanyalah gerakan

Sentuhan memampukan
seorang buta
menemukan kepastiankepastian yang indah,
yang terlewatkan oleh
orang lain dengan indra
peraba yang tak terlatih.

roda yang berlari, menghentak, dan


bergemuruh.
Dengan menempatkan tanganku
di bibir dan tenggorokan seseorang, aku memperoleh ide tentang
getaran-getaran tertentu. Dan aku bisa menafsirkannya, misalnya:
tawa geli seorang anak; seorang laki-laki berkata Wah! bila
terkejut, atau Hem! bila merasa jengkel atau kebingungan.
Juga ada erang kesakitan, jeritan, bisikan, desahan, isakan,
suara tersedak, dan terengah.

51

Helen Keller

Suara binatang, meskipun tanpa kata, akrab bagiku. Dengkur


kucing dan meongannya, atau gerutu dan sentakan kemarahannya.
Seekor anjing bisa menggonggong galak atau menyambut dengan
sukacita; kadang-kadang ia mendengking sedih atau mendengkur
pulas. Sapi melenguh; monyet mengoceh; kuda meringkik; singa
mengaum; dan ha
ri
mau me
raung dengan seramnya. Mung
kin harus kutambahkan, untuk meyakinkan para pengkritik dan
orang-orang yang meragukanku, yang mungkin membaca tu
lisan ini, bahwa semua suara itu kurasakan dengan kedua belah
tanganku. Sejak kanak-kanak hingga kini, aku selalu siap sedia
untuk mengunjungi kebun binatang, peternakan, dan sirkus. Dan
semua binatang itu, kecuali harimau, berbicara kepada tanganku.
Aku hanya pernah me
nyentuh harimau di museum, karena
di sana ia sejinak domba. Namun, aku pernah mendengarnya
bersuara, dengan meletakkan tanganku di jeruji kandangnya. Aku
pernah menyentuh beberapa singa hidup, dan merasakan getaran
aumannya yang megah, seperti air terjun menimpa bebatuan.
Lebih lanjut lagi, aku tahu suara riak air dalam bejana. Jadi,
kalau aku menumpahkan susu, tak mungkin aku berpura-pura
tidak tahu. Aku juga akrab dengan letupan tutup botol yang baru
dibuka, kobaran api, tik-tok jam dinding, gerak naik-turunnya
pompa, kucuran air yang deras dari selang, ketukan-ketukan
rahasia angin pada daun pintu dan jendela, dan berbagai macam
vibrasi yang tak mungkin kusebutkan satu per satu.

52

Rahasia Sebuah Sentuhan

Ada vibrasi yang tak terasa oleh kulit. Getarannya menem


bus kulit, urat saraf, tulang, seperti rasa sakit, rasa panas, dan
dingin. Dentaman drum membuaiku menembus dada hingga
terasa di tulang belikatku. Getaran kereta api yang melewati
jembatan meninggalkan perasaan tercengkeram oleh old-manof-the-sea (perasaan yang menetap lama walaupun kejadian
yang menyebabkannya sudah lama berlalupenerj.). Jika vi
brasi dan gerakan bergabung dalam sentuhanku dalam jangka
waktu lama, maka akan kurasakan seperti bumi bergerak cepat
sementara aku berdiri diam. Ketika aku melangkah turun dari
kereta api, kurasakan seakan lantai stasiun berputar dan mem
buatku sulit melangkah.
Setiap atom di tubuhku adalah vibroscope (alat pendeteksi
getaran), namun sensasiku itu tidaklah selalu sempurna. Ku
ulurkan tanganku dan tersentuh olehku sesuatu yang berbulu,
yang bergerak-gerak lalu bersikap seakan ingin meloncat, se
perti seekor binatang. Aku berhenti sejenak, lalu dengan ha
ti-hati menyentuhnya lagi dengan sentuhan yang lebih tegas.
Dan ternyata, benda itu adalah jaket bulu, yang bergerak dan
terkelepak oleh angin. Bagiku, seperti halnya bagimu, bumi ini
seakan diam tak bergerak, sementara mataharilah yang kelihatan
bergerak; karena cahaya matahari senja perlahan memudar,
sembari menyentuh wajahku, lalu udara jadi sejuk. Dari sini
bisa kumengerti mengapa tepian pantai seakan menyurut ketika

53

Helen Keller

kita berlayar menjauhinya. Tidak aneh jika orang mengatakan


bahwa garis paralel seakan bertemu di cakrawala, dan bumi
dan langit pun kelihatan bertaut. Indraku yang tak lengkap ini
telah lama mengungkapkan kepadaku ketidaksempurnaan dan
kesalahan persepsinya.
Indra kita bukan hanya menipu, tetapi beragam pemakaian
dalam bahasa pun mengindikasikan bahwa orang-orang yang
memiliki pancaindra lengkap mendapati kesulitan untuk mem
buat masing-masing fungsinya berbeda. Aku memahami bahwa
kita bisa mendengar pandangan, melihat nada, me
rasakan
musik. Orang bilang, suara mempunyai warna. Kebijaksanaan,
yang tadinya menurutku adalah masalah persepsi-yang-baik, ter
nyata lebih berhubungan dengan rasa. Jika dinilai dari luas peng
gunaannya, rasa kelihatannya adalah indra yang paling penting.
Rasa mengatur banyak hal, besar maupun kecil, dalam hidup ini.
Yang pasti, bahasa indra penuh kontradiksi, dan tidaklah menjadi
jaminan bahwa kawan-kawanku yang memiliki lima indra lengkap
lebih merasa at home dibandingkan diriku.

54

Helen tengah mendengarkan sebatang pohon.

Ketajaman penglihatan kita tidak


bergantung pada kemampuan mata kita
melihat, melainkan pada kemampuan kita
merasakan. Keindahan tidak tercipta dari
pengetahuan belaka.
(Helen Keller)

Getaran-getaran Lembut
yang Kurasakan
Telah kuceritakan tentang sentakan dan getaran yang setiap
hari dirasakan tubuhku. Getaran tegas dan nyata yang menarik
emosiku, jumlahnya banyak dan beragam. Aku mendengar
dengan terpesona gemuruhnya halilintar, juga luapan suara
yang mencekam ketika gelombang menghempaskan dirinya ke
tepian. Dan betapa sangat kusukai instrumen musik organ yang
menangkap-lepaskan diapason (rentang suara) samudra melalui
beragam suaranya yang bergelora. Bila musik bisa terlihat, bisa
kutunjukkan gerak-gerik notasi organ itu, yang naik dan turun,
mendaki dan terus mendaki, menggetarkan dan membuai. Ka
dang kala nyaring dan dalam, sesekali tinggi dan bergelora, bisa
lembut dan tenang, dengan getaran ringan berselang-seling dan
berlari di antaranya. Musik organ memenuhi perasaan dengan
kebahagiaan yang berluapan.
Ada juga sukacita yang nyata pada instrumen lain. Sebuah
biola begitu hidup dan indah, sebagai respons dari keinginan
maestro yang menggeseknya. Perbedaan antara notasi biola

57

Helen Keller

memang lebih lembut daripada notasi piano.


Aku paling menikmati piano bila aku pun bisa menyentuh
instrumen itu. Bila kuletakkan tanganku di badan piano, bisa
kudeteksi getaran halus, kembalinya melodi dan hening yang
mengikutinya. Ini adalah penjelasan bagiku bagaimana suara
bisa perlahan sirna bagi telinga yang mendengarnya.
Betapa lirih dan bening
Makin lirih, makin bening, perlahan menjauh!
O yang legit, yang jauh, dari tebing dan riuh
Terompet negeri peri sayup ditiup!

Aku mampu memahami semangat dan mood dominan


di dalam musik. Bisa kutangkap tarian gembira yang berdansa
di atas kunci-kunci nada, lagu duka yang pelan, dan nada
lembut penuh impian. Aku tergetar oleh nada berapi-api yang
berseling dengan notasi gemuruh dalam Walkre, di mana
Wotan mengobarkan api menakutkan yang menjaga Brunhild
yang tertidur (Walkre adalah opera karya Richard Wagner
penerj.). Alangkah dahsyat sebuah instrumen ketika seorang
musisi besar mampu bernyanyi dengan tangannya! Aku tak
pernah bisa membedakan satu komposisi dengan komposisi
lainnya. Rasanya memang tak mungkin, karena konsentrasi dan
ketegangan dalam perhatianku akan begitu besarnya, hingga

58

Getaran-getaran Lembut yang Kurasakan

aku ragu apakah kenikmatan yang kuperoleh sepadan dengan


usahaku untuk membedakannya.
Pun sulit bagiku untuk membedakan dengan mudah nada
yang dinyanyikan. Dengan menempatkan tanganku pada leher
dan pipi si penyanyi, bisa kunikmati perubahan-perubahan su
aranya. Aku tahu ketika suaranya tinggi atau rendah, nyaring atau
terkulum, sedih atau ceria. Getaran tipis yang lemah dari seorang
berusia lanjut, dalam sentuhanku, berbeda dengan sensasi suara
orang muda. Logat terseret orang Selatan (Southerner drawl)
cukup berbeda dengan logat sengau orang Utara (Yankee). Kadangkadang keras dan lembutnya alunan suara begitu memukau, hingga
jemariku gemetar oleh kenikmatan yang mesra, bahkan ketika aku
tak mengerti kata apa yang diucapkan.
Namun sebaliknya, aku sangat sensitif dengan suara-suara
kasar, seperti suara gerusan, korekan, atau derak-derik kasar suara
kunci karatan. Peluit penanda kabut adalah mimpi buruk bagi
sensor getarku. Pernah kuberdiri di dekat jembatan yang tengah
dibangun, dan kurasakan getaran suara, gemeretak ba
tu-batu
besar, bergulungnya tanah gembur, gemuruhnya suara mesin,
debum isi gerobak yang tumpah, dan dentang bergema dari palu
vulkan. Aku pun bisa mencium bau drum pembakaran aspal dan
semen. Jadi, aku memiliki gambaran nyata tentang pengerjaan
baja dan batu, dan aku yakin diriku cukup akrab dengan semua
suara menyeramkan, baik yang berasal dari manusia maupun

59

Helen Keller

mesin. Berdebumnya suara benda berat jatuh, suara kayu dikapak,


suara es pecah bak kristal, terhempasnya pohon ke bumi oleh
tiupan badai, suara kereta api barang yang menjengkelkan dan
tak kunjung reda, ledakan gas, suara batu dihancurkan, dan suara
gemeretak batu beradu batu sebelum longsor; semuanya telah
kualami dalam pengalaman sen
tuhku dan menjadi kontribusi
bagiku untuk mengenal ide-ide mengenai kerusuhan, peperangan,
muncratnya air, gempa bumi, dan peristiwa ketika beberapa suara
bergabung jadi satu.
Sentuhan membuatku bisa mengalami kesibukan lalulintas dan berbagai aktivitas lain di kota ini. Selain ramainya
lalu-lintas dan padatnya manusia, juga suara berderak yang
tak jelas dan raungan elektris trem, aku pun bisa merasakan
hembusan dari berbagai tempat, mulai dari barak mobil, kereta
kuda, lapak penjual buah-buahan, hingga berbagai sumber asap.
Aroma aneh dan lembap
Udara berdebu dan pengap
Bersama kapur dan pasir
Tak seorang bertahan hadir
Jalan tak terlewati
Orangnya tak ramah lagi
Semua menangis
Gemetar bak teriris
Pandangan matanya

60

Getaran-getaran Lembut yang Kurasakan

Juga penciumannya
Hilang, atau setidaknya berkurang
Ah, kapankah kota ini selesai?

Kota memang sangat menarik, tetapi sentuhan kesunyian


di pedesaan selalu akrab menyambutku setelah berada di riuh
nya kota dan mendengar derit kereta api yang menyebalkan.
Betapa hening dan sentosa segala yang terjadi pada alam, baik
penghancuran, perbaikan, maupun perubahannya! Tak terdengar
suara dentam palu, gergaji, atau suara batu yang sengaja dipecah.
Yang ada hanya suara musik yang berdesir di rumputan ketika
dedaunan gugur dan buah-buah lembut jatuh dihembus angin dari
cabangnya sepanjang hari. Dalam diam semua menunduk, layu,
dan tertumpah ke bumi, hingga penciptaan ulang bisa dimulai
kembali. Segalanya lelap tertidur, sementara arsitek-arsitek waktu
menawarkan jasa-sepinya di tempat lain. Keheningan yang sama
pun meraja ketika secara serentak bumi menghadirkan ciptaan
barunya. Dengan lembut, lautan rumput, lumut, dan bunga-bunga
meruak, menebar, memenuhi bumi. Tirai dedaunan menyelimuti
dahan-dahan pohon. Pohon-pohon besar mempersiapkan diri
di jantungnya yang kokoh untuk menerima kembali kehadiran
burung-burung yang mendiami kamar-kamar lapangnya yang
menghadap ke selatan dan ke barat. Ah, tiada tempat yang terlalu
hina untuk merumahkan makhluk-makhluk ceria ini. Aliran

61

Helen Keller

sungai yang melintasi padang rumput mendobrak belenggu be


kunya dengan nada-nada yang bergelora, gemercik, dan mengalir
bebas. Dan semuanya itu terangkai dalam waktu kurang dari dua
bulan, mengikuti irama orkestra alam, di tengah wangi alam yang
sejuk segar.
Ribuan suara lembut dari bumi benar-benar sampai kepa
daku: desir rerumputan, gerak selem
but sutra dari dedaunan, dengung se
Betapa hening dan
sentosa segala yang
terjadi pada alam,
baik penghancuran,
perbaikan, maupun
perubahannya!

rangga, gumam lebah madu, getaran


lembut sayap burung seusai mandi, dan
getaran ringan percikan air yang meng
alir di atas bebatuan. Sekali kurasakan,
suara-suara menyenangkan ini men
desir, mendengung, bergu
mam, dan
berpercikan di benakku selamanya, se
bagai bagian dari kenangan-kenangan
indah yang berkekekalan.
Tiada jurang pemisah yang tak
bisa kujembatani antara pengalam

an-pengalamanku dengan pengalaman orang lain; karena diri


ku senantiasa menjalin hubungan yang penuh hikmah dengan
dunia, dengan kehidupan, juga dengan atmosfer berpendar
yang melingkupi kita semua. Energi menggetarkan dari uda
ra yang me
nye
limuti kita begitu hangat dan mele
nakan.

62

Getaran-getaran Lembut yang Kurasakan

Gelombang panas dan gelombang suara bermain di wajahku


dengan berbagai ragam dan kombinasinya, hingga aku bisa
menyimpulkan bagaimana kiranya riuhnya aneka suara yang
tak terdengar telinga tuliku ini.
Udara terasa beda sesuai dengan daerah dan musimnya.
Bahkan berbeda pada setiap waktu dalam kesehariannya. Angin
laut yang segar dan sedikit amis sangat berbeda dengan angin
yang menyentak-nyentak di sepanjang tepian sungai, yang
lembap dan sarat dengan bebauan tanah. Udara gunung yang
tertahan, ringan dan kering, tak mungkin sama dengan udara
pantai yang tajam bergaram. Udara musim dingin terasa padat,
keras, dan menekan, sementara udara musim semi terasa segar
dan menggairahkan. Terasa ringan, mengalir, dan sarat dengan
ribuan bau yang berdenyut dari bumi, rumput, dan daun-daun
yang baru bersemi. Udara pada pertengahan musim panas
terasa padat, lembap, atau kering dan terbakar, seakan baru
saja keluar dari pemanggangan. Ketika angin sepoi mengelus
keheningan yang lembap, bebauan yang dibawanya tak sekuat
angin di bulan Mei, dan sering kali bau yang dibawanya adalah
bau badai yang hendak datang. Kesejukan yang turun menyapu
melewati tekanan udara sangat berbeda dengan dingin yang
mencucuk tulang di musim salju.
Hujan musim dingin terasa kaku, tanpa bau, dan sendu.
Hujan musim semi terasa ringan, wangi, penuh kehangatan

63

Helen Keller

yang membawa kehidupan. Selalu kusambut dengan sukacita


kedatangannya ke bumi, yang memperkaya sungai-sungai,
mengairi perbukitan dengan limpahannya, menggemburkan
tanah agar siap ditanami, menghamburkan wangi yang tak
puas-puasnya kuhidu dengan hidungku. Hujan musim semi
sa
ngatlah indah, merata, dan membawa bahagia. Dengan
tetesannya yang bak mutiara, dibasuhnya setiap helai daun
pohon dan semak secara merata, baik kepada tanaman herbal
yang bermanfaat maupun kepada rumput beracun sekalipun,
juga kepada setiap makhluk yang membutuhkan curahannya.
Semua indra saling membantu dan memperkuat satu sama
lain, hingga aku tak dapat membedakan apakah sentuhan atau
penciuman yang lebih banyak bercerita kepadaku tentang dunia.
Di mana-mana, sungai sentuhan bergabung dengan arus
aroma. Setiap musim beraroma khas. Musim semi beraroma
tanah dan getah. Bulan Juli dilimpahi aroma bulir-bulir gandum
meranum. Semakin lanjut musim berjalan, aromanya pun ber
ganti, dikuasai aroma kering dan matang, dan aroma bunga
golden-rod, tansy dan everlasting menandai waktu yang melaju.
Di musim gugur, wangi yang lembut mempesona memenuhi
udara, mengambang dari semak-semak, rerumputan, bunga,
dan pepohonan. Semuanya bercerita kepadaku tentang waktu
pergantiannya, tentang kematian dan kehidupan yang baru,
tentang gairah dan pemuasannya.

64

Helen sedang mencium bunga mawar.

Manusia yang melihat ke dalam batinnya


pada akhirnya akan menemukan luas dan
makna semesta.
(Helen Keller)

Indra Penciuman, The Fallen Angel


Karena alasan yang tak jelas, indra penciuman sering tidak
dianggap sepenting indra-indra lainnya. Ada kesan bahwa indra
penciuman ini dianaktirikan. Ketika hidung menghadirkan
aroma hutan yang segar kepada kita, dengan wangi dari ta
man bunga yang indah, kita pun menerima hidung sebagai
bagian penting dari hidup kita. Tetapi apabila hidung kita
memberi kita peringatan akan sesuatu yang busuk di dekat
kita, maka kita memperlakukannya bagai setan yang berhasil
menaklukkan malaikat, yang kita pinggirkan ke tempat gelap,
dan kita hukum karena pelayanannya yang kita anggap tak
setia. Sangat sulit mempertahankan makna suatu kata ketika
kita sedang membicarakan prasangka-prasangka manusia, dan
sulit bagiku menerangkan persepsi-bau yang hadir dengan jujur
apa adanya.
Dalam pengalamanku, penciuman adalah yang paling
penting, dan kupelajari bahwa indra yang sering kita kesam
pingkan dan olok-olok ini sebenarnya mempunyai kewenangan
yang tegas. Ada tertulis bahwa Tuhan memerintah agar dupa

67

Helen Keller

wangi dibakar di depan-Nya terus-menerus. Aku yakin, tia


da sensasi yang lebih menyenangkan daripada aroma yang
tersaring oleh dahan-dahan yang dihangatkan cahaya matahari
dan ditiup angin. Atau alunan bau semerbak yang sebentar
menyentak, lalu surut, dan menggelora lagi dalam gelombang
di atas gelombang, memenuhi dunia dengan keelokan yang
tak terlihat oleh mata. Sekilas, aroma semesta ini membuat
kita memimpikan sebuah dunia yang belum pernah kita lihat,
membuat kita sekilas terkenang sebuah kisah dari pengalaman
menyenangkan dalam hidup kita. Setiap kali mencium aroma
bunga daisy, itu selalu membuatku merasakan dan mengalami
hari-hari bahagia ketika aku bersama guruku menjelajah padang
rumputan sambil mempelajari kata-kata baru dan nama-nama
berbagai benda.
Indra penciuman bagaikan penyihir sakti yang mampu
membawa kita berpetualang ribuan mil jauhnya, melintasi ta
hun-tahun kehidupan kita. Aroma buah-buahan akan mem
bawaku kembali ke rumahku di Selatan, meluncur ke masa
kecilku, ketika aku bermain-main di kebun buah persik. Aroma
lain, walau hanya sekejap dan sayup, mampu membuat hatiku
berbunga ceria, atau mengerut dalam duka yang tiba-tiba ter
kenang. Hanya dengan berpikir tentang bau saja, itu sudah
membuat hidungku dipenuhi berbagai aroma yang membang
kitkan kembali kenangan manis tentang musim panas yang

68

Indra Penciuman, The Fallen Angel

telah lama berlalu, tentang ladang gandum yang bernas, yang


jauh dari sini.
Bau yang tertiup dari lembah, walau sangat samar seka
lipun, setelah jerami segar baru ditebas dan dibiarkan terge
letak di bawah matahari, mampu membawaku dari tempat
ini, dari waktu kini. Aku kembali berada di gudang bercat
merah itu, bermain bersama teman-teman kecilku di atas gun
dukan jerami. Gundukan yang sangat besar dan padat, pe
nuh dengan potongan jerami kering, yang berbau segar dan
wangi. Dari pucuk gundukan itu, anak yang terkecil sekalipun
bisa mencapai tiang-tiang penyangga atap. Di bawah kami
terdapat kandang-kandang tempat hewan-hewan peternakan.
Lihatlah, itu si Jerry yang jelek dan lamban; dengan tenang ia
mengunyah bulir-bulir gandum, perlahan-lahan, seakan-akan
tak menikmati makanannya. Lalu bisa kusentuh lagi si Brownie,
yang manja dan selalu haus perhatian. Si kecil Brownie yang rela
meninggalkan makanannya demi mendapat belaian sayang. Ia
akan mengulurkan leher jenjangnya untuk dielus-elus. Di situ
juga ada Lady Belle yang bermulut manis dan basah, yang
bermalasan mengambil minuman dan daun semanggi dari Ti
mothy, sambil memimpikan padang rumput bulan Juni dan ge
mercik air kali.
Indra penciumanku menyatakan padaku bahwa akan ada
badai berjam-jam sebelumnya, bahkan sebelum terlihat tanda-

69

Helen Keller

tandanya. Yang pertama kurasakan adalah adanya denyutan


awal kedatangan badai, ada getaran yang halus dan cuping
hidungku terasa menegang. Saat badai itu makin mendekat,
cuping hidungku terasa makin kembang-kempis, sehingga se
makin mampu menerima gelombang bau-tanah, yang makin
lama makin kuat dan menyebar,
hingga akhirnya kurasakan percikan
Indra penciumanku
menyatakan padaku
bahwa akan ada badai
berjam-jam sebelumnya,
bahkan sebelum terlihat
tanda-tandanya.

air hujan di pipiku. Ketika badai


perlahan-lahan reda, baunya pun
memudar pelan-pelan dan akhirnya
hilang sama sekali.
Saat memasuki sebuah rumah,
aku bisa mengetahui se
perti apa
rumah itu dari baunya. Aku bisa
mengenal sebuah rumah tua di pe
desaan, karena adanya lapisan-la
pisan bau yang berbeda, yang di
ting
galkan berbagai keluarga yang

pernah mendiaminya, juga oleh tanaman, beberapa parfum,


dan tirai-tirainya.
Di malam sepi, getaran yang terjadi tidaklah sebanyak
di siang hari. Pada saat itu aku lebih mengandalkan indra
penciumanku. Bau belerang korek api menceritakan padaku
bahwa lampu-lampu tengah dinyalakan. Saat malam mengental,

70

Indra Penciuman, The Fallen Angel

kuperhatikan ada jejak bau yang seperti ragu-ragu, sekilas ada,


lalu menghilang. Aku tahu itu adalah sinyal jam malam. Semua
lampu akan dipadamkan.
Di luar rumah, melalui bau, tanah yang kujejaki, dan tem
pat-tempat yang kami lalui, aku memperhatikan sekelilingku.
Kadang-kadang, saat angin mati, bebauan itu hadir serentak
sehingga bisa kukenali karakter daerah itu, dan bisa keketahui
di mana adanya ladang gandum, warung, taman, kandang,
rumpun pohon pinus, dan rumah pertanian dengan jendela
terbuka.
Pernah aku pergi berjalan ke arah hutan yang sudah ku
kenal dengan baik. Tiba-tiba ada bau yang sangat mengusik
perasaanku, membuatku terdiam dan bersedih. Tak lama ke
mudian, kurasakan getaran hentakan, diikuti bunyi gemuruh
yang keras dan tumpul. Aku mengerti sekali apa arti bau dan
hentakan itu. Itu adalah pohon-pohon yang sedang ditebang.
Kami memanjat tembok batu di sisi kiri, yang memagari hu
tan yang sudah lama sangat kucintai dan kuanggap seperti
milikku sendiri. Tetapi hari ini, hembusan angin yang tidak
biasa kurasakan, dan sengat matahari yang tak kuharapkan,
mewartakan kepadaku bahwa pohon-pohon yang kucintai
itu telah tiada. Tempat itu kini kosong, bagai rumah yang di
telantarkan penghuninya. Kuulurkan tanganku. Biasanya, akan
tersentuh olehku pohon pinus yang kokoh, besar, indah, dan

71

Helen Keller

wangi. Kali ini tanganku hanya menemukan tunggul-tunggul


yang kasar dan lembap. Di sekitarku bergeletakan potongan ca
bang-cabang pohon, seperti tanduk-tanduk rusa yang patah.
Serbuk gergaji berbau segar bertumpuk dan bertebaran di se
kitarku. Dalam benakku, kurasakan kilatan kejengkelan atas
perusakan keindahan yang kucintai ini. Akan tetapi, tak ada
kemarahan ataupun kejengkelan yang kurasakan pada alam.
Udara tetap dipenuhi aroma, baik aroma kehidupan maupun
penghancuran, karena kematian dan pertumbuhan sama-sama
bagian kehidupan. Matahari tetap bersinar dan angin bertiup
kencang di tempat yang sekarang terbuka ini. Aku tahu, hutan
yang baru akan tumbuh menggantikan hutan yang sudah hilang
ini, yang akan sama indahnya, sama menyenangkannya, seperti
sebelumnya.
Sensasi sentuhan bersifat abadi dan pasti. Sementara itu,
bau berubah, mengelak, berganti nuansa, tingkatan, dan lo
kasinya. Ada satu hal lagi dalam bebauan yang memberiku
perasaan tentang jarak. Aku menyebutnya sebagai cakrawala,
sebuah garis di mana aroma dan khayalan bertemu pada batas
terjauh penciuman.
Indra penciuman memberiku ide-ide yang lebih berarti
daripada indra sentuhan ataupun pengecap. Yang diberikan
sentuhan dan kecapan mungkin bisa digantikan oleh penglihatan
dan pendengaran. Sentuhan seakan menetap pada objek yang

72

Indra Penciuman, The Fallen Angel

disentuhnya, karena adanya kontak dengan permukaan ben


danya. Melalui penciuman, tidak ada kesan yang didapat me
lalui kontur permukaan. Aroma tidak menetap pada objek
yang dibaui, tetapi pada organnya. Karena aku bisa mencium
aroma sebatang pohon dari kejauhan, aku bisa juga memahami
bahwa seseorang bisa mengindranya melalui penglihatan tanpa
harus menyentuhnya. Seseorang bisa melihat sebuah objek se
bagai sebuah gambar di retina matanya tanpa menyentuhnya,
tak beda dengan diriku yang bisa mengetahui sesuatu melalui
penciumanku, tanpa melihat atau menyentuhnya. Penciumanku
mengenali sebatang pohon sebagai lingkaran tipis tanpa isi.
Sebenarnya, bau-bauan saja tidak memberikan informasi apa
pun. Untuk mendapatkan informasi yang dibawa oleh suatu
bau, aku harus menghubungkannya dengan jarak, tempat, dan
hal-hal yang umumnya terjadi di sekitar sumber bau tersebut;
ini sama halnya dengan orang lain yang lengkap indranya
menilai sesuatu dengan warna, cahaya, dan bunyi.
Dari penciuman aku bisa banyak belajar tentang orangorang yang kutemui. Aku bisa mengetahui apa pekerjaan atau
kegiatan mereka. Bau kayu, besi, cat, atau obat-obatan mele
kat pada pakaian kerja mereka. Dengan begitu aku bisa mem
bedakan tukang kayu dengan pandai besi, pelukis dengan tu
kang batu atau apoteker. Ketika seseorang melewatiku, bisa
kutangkap aroma yang memberiku kesan dari arah mana ia

73

Helen Keller

datang. Bisa dari dapur, kebun, atau ruang perawatan. Aku


mendapatkan kesan segar yang menyenangkan dari aroma
sabun, kolonyet, pakaian bersih, barang-barang dari wol dan
sutra, serta bau sarung tangan.
Memang, daya penciumanku tak dapat dibandingkan de
ngan daya penciuman anjing pelacak atau binatang liar. Banyak hal
yang tak bisa diartikan hanya melalui baunya. Namun demikian,
bau tubuh manusia banyak variasinya dan kita bisa mengenali
seseorang melalui baunya, sama seperti kita mengenali orang
dari tangan dan bentuk wajahnya. Bau tubuh orang yang kukasihi
tercium sangat pasti, meyakinkan, dan selalu akan dapat kukenali.
Bila tidak bertemu dengan seorang teman akrab selama bertahuntahun, aku yakin, jika bertemu di Afrika sekalipun, pasti aku masih
akan bisa mengenali baunya, sama tajamnya dengan kemampuan
penciuman anjingku. Dulu, pernah sekali, seorang ibu menciumku
sekilas di tengah keramaian stasiun kereta api. Saking tergesanya,
aku bahkan tak sempat menyentuhnya. Tetapi ia meninggalkan
bau wangi ketika ia menciumku, memberiku sekilas gambaran
tentang dirinya. Kejadian itu sudah lama berlalu, namun aromanya
masih segar bugar dalam ingatan.
Sangat sulit melukiskan aroma tubuh masing-masing
orang dengan kata-kata. Kelihatannya tidak ada cukup banyak
kosakata tentang bau, sehingga aku harus mengandalkan fra
sa-frasa yang mendekati, atau melalui metafora. Ada orang

74

Indra Penciuman, The Fallen Angel

yang mempunyai bau yang samar-samar, tidak cukup jelas,


mengambang, dan seakan-akan mengejek dan menantangku
untuk berusaha mengidentifikasinya. Ini tantangan yang sulit
dipenuhi pengalaman indra penciumanku. Kadang-kadang
aku bertemu dengan seseorang yang tidak memiliki bau tubuh
yang jelas, dan orang seperti ini biasanya tidak ceria dan mem
bosankan. Sebaliknya, orang yang mempunyai bau tubuh yang
kuat biasanya memiliki vitalitas dan energi yang besar, serta pi
kiran yang lincah.
Aroma tubuh maskulin biasanya lebih kuat, lebih jelas,
dan dapat dengan mudah dipilah-pilah antara yang satu dengan
yang lainnya. Pada bau tubuh para pemuda ada hal yang sangat
elemental, seperti api, badai, dan asinnya laut, berdenyut de
ngan lincah dan penuh gairah. Dari hal-hal itu terkandung
sugesti segala sesuatu yang kuat, indah, penuh sukacita, dan
memberiku sensasi kebahagiaan fisik. Kadang-kadang aku
bertanya-tanya, apakah orang menyadari bahwa seorang bayi
mempunyai bau yang sama? Yang murni, sederhana, dan tak
memberikan gambaran jelas akan kepribadiannya yang memang
masih belum berkembang? Ketika mereka berusia enam atau
tujuh tahun, barulah mereka mulai memiliki bau tubuh yang
lebih nyata secara individual. Bau ini berkembang dan menjadi
dewasa seiring perkembangan mental dan tubuh mereka.
Semua yang telah kutulis tentang bau, terutama bau tubuh

75

Helen Keller

manusia, kemungkinan hanya akan dianggap sebagai sentimen


yang tak wajar, yang dialami oleh seseorang yang tak mampu
menikmati dunia nyata yang hanya bisa disaksikan mata. Ada
orang yang buta warna, juga ada orang yang tuli nada. Banyak
orang mengalami buta dan tuli penciuman. Jangan memberi
nilai buruk sebuah komposisi musik dengan hanya berdasarkan
penilaian seseorang yang tak mampu membedakan nada-na
da musik, atau sebuah lukisan berdasarkan penilaian orang
yang buta warna. Sensasi aroma telah mendatangkan sukacita,
memberikan pengetahuan, dan memperluas wawasan kehi
dupanku. Nilainya tak akan berkurang hanya karena dikritik
oleh orang yang terbiasa melangkah di jalan yang lebar dan
terang, tetapi yang indra penciumannya tidak berkembang.
Tanpa sensasi dan kepastian yang diberikan oleh rasa, bau, dan
sentuhan, sensasi yang lembut dan sering tidak diperhatikan
orang ini, konsepsiku mengenai semesta akan sepenuhnya ber
gantung pada orang lain. Aku akan kehilangan alkemi yang me
mungkinkanku memenuhi duniaku dengan cahaya, warna, dan
percikan yang beraneka. Realitas indrawi yang menjalin dan
mendukung jangkauan imajinasiku akan hancur. Bumi yang
kokoh ini akan meleleh di bawah kakiku dan berserakan ke
seluruh jagat. Benda-benda yang akrab dengan tanganku akan
menjadi tak berbentuk, dan aku akan berjalan di tengah-tengah
mereka sebagai hantu yang tak terlihat.

76

Helen ketika lulus dari sekolah di Radcliffe, 1904.

Tanpa imajinasi, alangkah menyedihkan


duniaku ini! Tamanku hanya akan berupa
sepetak tanah sunyi berisi kayu-kayu
beragam bentuk dan bau.
(Helen Keller)

Betapa Semunya Indra Manusia


Indra penciuman dan pengecapku pernah tidak berfungsi selama
beberapa hari. Sangat dahsyat rasanya bisa lepas dari bebauan,
ketika kita bernapas dan tak menemukan satu bau apa pun.
Mungkin perasaan ini serupawalaupun mungkin pada tingkat
yang lebih rendahdengan seseorang yang baru saja kehilangan
penglihatannya dan masih berharap segera melihat cahaya kembali.
Aku yakin bahwa aku akan segera mencium bebauan lagi. Namun,
walaupun begitu, setelah perasaan dahsyat itu berlalu, perasaan
sepi merayapi hatiku. Sepi yang sangat lantang. Kerinduan akan
berbagai aroma yang biasanya kucium baunya. Berbagai sukacita
lembut yang ditimbulkan oleh bermacam aroma menjadi kenangan
yang sa
ngat kurindukan. Ketika indra penciumanku akhirnya
pulih, hatiku melonjak gembira. Seperti dalam cerita dongeng Kay
dan Gerda, Hans Andersen memberikan sentuhan dramatis ketika
bercerita tentang bunga-bunga. Kay, yang terbutakan terhadap
cinta kasih manusia karena kutukan cermin sihir jahat, berlari
meninggalkan rumah dan mengetahui bahwa bunga mawar telah
kehilangan wanginya.

79

Helen Keller

Tatkala kehilangan kemampuan penciuman selama bebe


rapa hari itu, aku menjadi semakin mengerti bagaimana rasanya
menjadi buta dengan tiba-tiba, tanpa daya. Dengan memakai
imajinasi, bisa kubayangkan bagaimana rasanya ketika sebuah
tirai besar tiba-tiba menutupi cahaya, bintang-bintang, bahkan
langit sekalipun. Kubayangkan ba
gaimana si buta itu mencoba meli
Hal-hal menarik
dan kejutan-kejutan
masih berlimpah, dan
petualangan justru
sangat kental di dalam
kegelapan.

hat cahaya, dan dengan takut-takut


berusaha berjalan berkeliling, hingga
akhirnya kekosongan yang menu
tupi segala hal di sekelilingnya mem
buatnya sadar akan kegelapan yang
menutupi kesadarannya.
Peristiwa hilangnya indra penci
uman itu membuktikan kepadaku
bahwa kehilangan satu indra tidaklah
berarti bahwa kemampuan mental
kita menjadi tumpul. Juga tidak akan

mendistorsi pengamatan kita terhadap dunia ini. Karena itu,


menurutku, kebutaan dan ketulian tidaklah harus mengurangi
kecerdasan kita. Aku tahu bahwa walau tak bisa mencium
bebauan, aku masih mampu memiliki sebagian dunia ini.
Hal-hal menarik dan kejutan-kejutan masih berlimpah, dan
petualangan justru sangat kental di dalam kegelapan.

80

Betapa Semunya Indra Manusia

Dalam mengklasifikasikan indra, bagiku penciuman se


dikit inferior daripada pendengaran, dan sentuhan sangat su
perior dibandingkan penglihatan. Ternyata banyak seniman
dan filosof yang sependapat denganku mengenai hal ini.
Diderot mengatakan:
Kalau aku menilai semua indra, mata yang paling dangkal;
telinga yang paling membanggakan; bau yang lebih meng
gairahkan; rasa yang paling mendatangkan prasangka; sen
tuhan yang paling beragam, terdalam, dan hakiki.

Seorang teman yang belum pernah kutemui mengirimkan


sebuah kutipan dari Renaissance in Italy karya Symonds:
Setelah mendeskripsikan sesosok patung antik yang dilihatnya
di Roma, Lorenzo Ghiberti menambahkan, Kemampuan bahasa
saja tak akan cukup untuk mengungkapkan kesempurnaan dari
pembelajaran, kepakaran, dan seni yang dipertunjukkan di sini.
Keindahannya yang luar biasa elok itu tak mungkin ditemukan
melalui penglihatan, tetapi hanya melalui sentuhan tangan. Ia
juga memberikan pendapat tentang sebuah patung marmer klasik
di Padua, Patung ini, ketika Kristianitas berjaya, disembunyikan
oleh seseorang yang berjiwa lembut. Orang ini melihat
kesempurnaannya, dan betapa hebat seni yang membentuknya
dengan kemampuan yang jenius. Hal itu membuat hatinya

81

Helen Keller

tergerak oleh rasa sayang, sehingga ia membangun kuburan


batu, mengubur patung itu di bawahnya, dan menutupinya
dengan kepingan batu besar, agar tidak sampai rusak. Patung itu
memiliki begitu banyak keelokan aduhai, yang tak akan dapat
dipahami oleh mata saja, baik dilihat di bawah cahaya terang
maupun remang; hanya tanganlah, dengan sentuhannya, yang
akan mampu menikmatinya.

Ulurkanlah tanganmu untuk merasakan kemewahan sang


surya. Lekatkanlah kelopak bunga ke pipimu dan sentuhlah
dengan jemarimu lekuknya yang anggun, bentuknya yang ha
lus, kelenturan dan kesegarannya. Biarkan wajahmu terbuka
bagi gelombang udara yang menyapu langit. Hiruplah keluasan
udara semesta. Terpesonalah pada gerakan-gerakan angin
yang tak kenal letih. Kumpulkanlah nada-nada musik abadi
yang mengaliri jiwamu melalui suara yang kau dengar melalui
sentuhan, yang bernyanyi tentang ribuan dahan dan ricik-ricik
air. Bagaimana mungkin dunia ini menjadi sempit jika sen
tuhanindra yang paling nyata dan emosionalmelayanimu
dengan setia? Aku yakin, bila ada peri yang memintaku untuk
memilih antara penglihatan dan sentuhan, aku tak akan mau
melepaskan sentuhan hangat bersahabat dari tangan manusia,
atau dari kekayaan bentuk, keagungan, dan kesempurnaan ben
da-benda yang disentuhkan ke telapakku.

82

Helen bersama gurunya, Anne Sullivan.

Dunia yang dibangun oleh imajinasi


dari pengalaman dan gagasan yang tak
terhitung jumlahnya jauh lebih indah
daripada dunia yang dapat diindra.
(Helen Keller)

Dunia dengan Lima Indra


Para penyair mengajarkan kepada kita bahwa betapa malam
penuh pesona. Bagi seorang buta, malam memiliki pesonanya
juga. Kegelapan yang tak bercahaya hanya ada pada malam
milik orang bodoh yang tak memiliki kepedulian. Memang
ada perbedaan antara orang buta dan orang yang bisa melihat.
Namun yang berbeda bukan pada indra kita, tetapi bagaimana
kita memakainya. Yang berbeda adalah pada imajinasi dan
keberanian yang kita gunakan untuk mencari pengetahuan
yang melampaui indra kita.
Sebenarnya lebih sulit untuk mengajar orang pandir ten
tang bagaimana cara berpikir daripada mengajar orang buta
untuk bisa melihat kemegahan air terjun Niagara. Aku pernah
bepergian dengan orang yang matanya sempurna, tetapi ia ga
gal melihat keindahan hutan, lautan, angkasa; tak melihat apa
pun di jalan-jalan kota atau di buku-buku. Alangkah sia-sianya
penglihatannya! Jauh lebih baik berlayar selamanya di malam
kebutaan, tetapi mempunyai perasaan dan pikiran, daripada

85

Helen Keller

hanya berpuas diri dengan kemampuan untuk melihat semata.


Mereka mampu melihat langit senja, langit fajar, bebukitan nun
jauh di sana, namun jiwa mereka menjalani dunia yang penuh
keajaiban ini dengan tatapan yang kosong.
Menjadi buta adalah bencana besar yang tak dapat diper
baiki, tetapi itu bukan berarti kita juga kehilangan hal-hal yang
berarti dalam hidup ini: pekerjaan, persahabatan, selera humor,
imajinasi,

kebijakan.

Ini

adalah

kekuatan rahasia yang tersembunyi,


yang

mengendalikan

kehidupan

Menjadi buta adalah

seseorang. Kami memiliki kehendak

bencana besar yang

untuk berbuat baik, untuk mencintai

tak dapat diperbaiki,

dan dicintai, untuk terus berpikir

tapi itu bukan berarti

hingga kami bisa menjadi semakin

kita juga kehilangan


hal-hal yang berarti
dalam hidup ini.

bijaksana. Kami memiliki kekuatankekuatan yang kami bawa sejak lahir


ini, sederajat dengan semua makhluk
Tuhan lainnya. Karena itu, kami pun
melihat petir dan mendengar ge
muruh guntur di gunung Sinai. Kami
pun berjalan menempuh belantara

dan tempat-tempat sunyi yang mendatangkan keriangan bagi


kami. Dan ketika kami menempuhnya, Tuhan akan membuat
padang gurun bersemi layaknya bunga mawar. Kami juga

86

Dunia dengan Lima Indra

memasuki Tanah Perjanjian untuk memperoleh harta karun


bagi jiwa kami, keabadian yang tak kasatmata dari kehidupan
dan alam.
Seorang yang buta tetapi memiliki semangat akan meng
hadapi ketidakpastian dan mengatasinya. Ia akan melakukan apa
pun yang bisa dilakukan oleh orang yang melihat. Ia memiliki
imajinasi, simpati, dan rasa kemanusiaan. Dan seluruh ke
beradaan yang tak akan bisa dihapuskan ini menggantikan
indra yang tak dimilikinya. Ketika ia dihadapkan dengan
istilah-istilah warna, cahaya, penampilan fisik, ia akan mener
ka, membayangkan, mempertanyakan artinya, dengan mema
kai analogi dari indra lain yang dimilikinya. Secara alamiah,
aku cenderung berpikir, membuat pertimbangan dan menarik
kesimpulan, seakan-akan aku memiliki lima indra dan bukan
hanya tiga. Kecenderungan ini berada di luar kendaliku. Sifat
nya spontan, merupakan kebiasaan, dan berdasarkan insting
di dalam diriku. Aku tak bisa memaksa pikiranku untuk me
ngatakan kurasakan dan bukannya kulihat atau kudengar.
Kalau diperhatikan dengan saksama, kata merasa sama saja
pemakaiannya dengan kata melihat atau mendengar ketika
aku mencoba mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa
yang dari luar mempengaruhi ketiga indraku. Ketika seseorang
kehilangan kakinya, otaknya masih terus mendorongnya untuk
menggunakan kaki itu, yangwalaupun sudah tak adamasih

87

Helen Keller

dirasakan keberadaannya. Apakah itu berarti otak befungsi


sedemikian rupa sehingga ia akan meneruskan kegiatan yang
menjiwai penglihatan dan pendengaran, bahkan setelah mata
dan telinga sudah rusak?
Tampaknya, kelima indra bisa bekerja sama dengan baik
pada tubuh yang sama. Namun, bila seseorang hanya mempunyai
dua atau tiga indra, kadang-kadang mereka mencari pelengkap
dari tubuh orang lain dan menyadari bahwa mereka bisa bekerja
sama dengan baik dengan indra pinjaman itu. Ketika tanganku
sakit karena terlalu banyak meraba, kutemukan bantuan dari
penglihatan orang lain. Ketika otakku terasa lamban dan letih
karena terlalu dipaksa untuk memikirkan substansi gelap, se
nyap, terpisah, dan tanpa warna, kemampuanku berpikir akan
kembali elastis setelah kuperoleh bantuan dari pikiran orang lain
yang mampu mengindra cahaya, harmoni musik, dan warna.
Nah, bila kelima indra tersebut bisa terus saling berhubungan,
maka kehidupan orang yang buta dan tuli tak akan bisa di
pisahkan dengan orang yang bisa melihat dan mendengar.
Seseorang yang buta dan tuli bisa saja terjun dan terjun
kembalilayaknya penyelam Schillerke dalam samudra ke
tidakpastian. Namun, tidak seperti tokoh tragis dalam cerita itu,
ia akan kembali dengan kemenangan, menggenggam kebenaran
yang sangat berharga, yaitu bahwa pikirannya tidaklah cacat
atau dibatasi oleh kelumpuhan indranya. Dunia yang bermata

88

Dunia dengan Lima Indra

dan bertelinga baginya menjadi sebuah subjek yang menarik.


Ia akan menangkap setiap kata mengenai penglihatan dan
pendengaran karena sensasinya mendorongnya untuk mela
kukan itu. Dengan berani ia akan mempelajari cahaya dan
warna, walau tanpa bukti persepsi, dan ia percaya bahwa se
gala kebenaran manusiawi pun terbuka baginya. Ia berada di
posisi seperti seorang ahli perbintangan yang dengan setia dan
sabar mengawasi sebuah bintang, bermalam-malam, selama
bertahun-tahun, dan akan merasa mencapai hasil bila ia mampu
mempelajari satu saja fakta dari bintang itu. Ada orang yang
buta dan tuli terhadap hal-hal sepele di luar dirinya, dan ada
yang buta dan tuli terhadap semesta luas ini; keduanya samasama dibatasi oleh ruang dan waktu.
Sebagian besar dari pengetahuan dunia adalah konstruksi
imajinasi. Sejarah sendiri tak lain merupakan sebuah cara
berimajinasi, yang memampukan kita melihat kembali per
adaban yang sudah tak ada lagi di muka bumi. Beberapa pe
nemuan penting dalam ilmu pengetahuan modern berasal da
ri hasil imajinasi orang-orang yang sebenarnya tak memiliki
pengetahuan yang akurat ataupun alat yang tepat untuk men
demonstrasikan apa yang mereka percayai. Bila ilmu astronomi
tak selangkah lebih maju daripada teleskop, tak akan ada orang
yang menciptakan teleskop. Penemuan apakah yang tidak hadir
terlebih dahulu di benak sang penemu jauh sebelum ia benar-

89

Helen Keller

benar menemukannya?
Contoh yang sangat tepat tentang pengetahuan imajinatif
adalah pengetahuan akan kesatuan (unity) yang dengan itu
para filosof memulai kajiannya tentang dunia. Mereka tak akan
mungkin mampu melihat realitas dunia secara menyeluruh.
Namun demikian, imajinasi merekayang sangat memberikan
ruang bagi terjadinya kesalahan, dan punya kekuatan untuk
meng
anggap ketidakpastian sebagai sesuatu yang dapat di
abaikantelah memampukan mereka meneruka pintu-pintu
pengetahuan.
Ketika mereka tiba pada titik puncak kreativitasnya, se
orang penyair atau musisi besar sudah tidak lagi memakai
instrumen-instrumen sepele seperti penglihatan atau pende
ngaran. Mereka melepaskan diri dari batasan-batasan indranya.
Mereka akan terbang dengan sayap-sayap roh yang kuat, jauh
melayang di atas perbukitan yang tertutup kabut dan lembahlembah kelam, menuju ranah cahaya, irama, dan akal budi.
Mata mana yang pernah menyaksikan kemegahan Ye
rusalem Baru? Telinga mana yang pernah mendengar musik
semesta, jejak langkah waktu, dentang kesempatan, dan pukulan
kematian? Belum pernah ada manusia yang mendengar dengan
indra fisiknya riuhnya suara merdu di perbukitan Yudea, juga
tak ada yang pernah melihat penglihatan surgawi. Tetapi, jutaan
jiwa telah mendengar pesan rohani yang melintasi zaman demi

90

Dunia dengan Lima Indra

zaman.
Kebutaan kami tak akan mengubah sedikit pun arus ke
nyataan batin kami. Ini adalah kebenaran yang berlaku baik
bagi kita maupun bagi orang yang mampu melihat, yaitu bahwa
dunia yang paling indah harus disimak melalui imajinasi. Bila
kau ingin merasakan dirimu yang sama sekali berbedayang
baik, agung, dan muliapejamkanlah matamu; untuk sejenak
dalam impian, kau bisa menjadi apa saja yang kau inginkan.

91

Helen bersama seorang balita.

Keindahan matahari terbenam yang


dilihat oleh kawanku, yang melintasi bukit
lembayung, memang luar biasa. Namun
matahari terbenam di dalam mata batinku
membawa sukacita yang lebih murni, karena
itu merupakan perpaduan dari berbagai
keindahan yang kita ketahui dan hasrati.
(Helen Keller)

Penglihatan Batin
Menurut seni, alam, dan semua pemikiran manusia yang kohe
ren, kita ketahui bahwa tata, proporsi, dan bentuk, adalah ele
men-elemen penting keindahan. Tetapi keindahan dan ritme
lebih dalam sifatnya daripada indra. Sebagaimana cinta dan iman.
Cinta dan iman bersemi dan tumbuh dari proses spiritual yang
hanya sedikit mengandalkan kemampuan indrawi. Tata, proporsi,
dan bentuk, tak akan bisa menumbuhkan ide abstrak tentang
keindahan dalam benak kita, kecuali bila sudah ada akal budi yang
menghembuskan napas kehidupan pada wujudnya. Banyak orang
memiliki mata yang sempurna, tetapi ternyata buta mata hatinya.
Banyak orang memiliki pendengaran sempurna, tetapi ternyata
tuli perasaannya. Namun, orang-orang seperti inilah yang justru
berani memancangkan batas pandangan kepada orang-orang yang
tak memiliki lima indra sempurna, namun memiliki semangat,
jiwa, gairah, dan imajinasi. Iman tak akan dianggap serius bila
tidak mengajarkan kepada kita bahwa kita boleh menciptakan
dunia yang lebih lengkap dan indah daripada dunia materi kita ini.
Demikian pula diriku. Aku sanggup menciptakan duniaku yang

95

Helen Keller

lebih baik, karena aku adalah anak Tuhan, ahli waris dari sebagian
kualitas Sang Pemikir yang menciptakan seluruh dunia ini.
Ada harmoni dalam segala sesuatu, perpaduan dari segala
yang kita ketahui tentang dunia material dan spiritual. Bagiku,
itu terdiri dari berbagai kesan (impresi), getaran, panas, dingin,
rasa, bau, dan sensasi yang dihantarkan kepada pikiranku,
yang selalu saling berpadu dan terjalin dengan ide-ide dan
pengetahuan yang sudah ada. Bagi seseorang yang bernalar,
mereka tak akan percaya bila apa yang kukatakan tentang
arti langkah kaki hanyalah terdiri dari getaran dan hentakan.
Langkah kaki merupakan perpaduan sejumlah elemen alami,
ketukan-ketukan yang menyentuh, ditambah pengetahuan sebe
lumnya tentang kebiasaan-kebiasaan fisik dan karakter moral
dari manusia-yang-tercipta-secara-saksama. Apalah artinya
aroma bila tidak dihubungkan dengan musim-musim dunia,
tempat di mana aku hidup, dan orang-orang yang kukenal?
Sebuah perpaduan kadang-kadang menghasilkan perco
baan sumbang dari senar-senar yang masih terpisah dari melodi
dan jauh dari simfoni. (Demi untuk meyakinkan orang-orang
tertentu, perlu kusampaikan bahwa aku pernah merasakan
getaran ketika seorang musisi menala biolanya, dan aku pun
pernah membaca tentang simfoni, sehingga aku memiliki per
sepsi intelektual yang cukup baik dalam metaforaku ini). Tetapi
dengan pelatihan dan pengalaman, nada-nada yang tercecer itu

96

Penglihatan Batin

kemudian dipadukan menjadi satu kesatuan yang harmonis. Bila


orang yang melakukannya sangat berbakat, kita menamainya
sebagai pujangga. Memang, banyak sekali orang buta dan tuli yang
bukan pujangga besar. Namun sekali-sekali akan kau temukan juga
seorang tuli dan bisu yang sanggup mencapai kerajaan keindahan.
Aku memiliki buku puisi karya
seorang perempuan buta dan tuli, Ma
dame Bertha Galeron. Puisi-puisinya
memiliki variasi pemikiran yang kaya.
Kadang-kadang lembut dan manis,
kadang-kadang dipenuhi gairah, tra
gis dan tegasnya kehidupan. Victor
Hugo menjuluki perempuan itu de
ngan La Grande Voyante (Penyihir
Besar). Ia juga telah menulis berbagai

Namun sekali-sekali
akan kau temukan
juga seorang tuli dan
bisu yang sanggup
mencapai kerajaan
keindahan.

naskah sandiwara, dua di antaranya


telah dipentaskan di Paris. The French
Academy telah memahkotai karyanya.
Keajaiban semesta yang tak
berhingga dinyatakan kepada kita dengan takaran yang tepat
sesuai dengan ke
mampuan kita memahaminya. Ke
tajaman
penglihatan kita tidak bergantung pada kemampuan mata, tetapi
pada kemampuan kita merasakan. Keindahan tidak tercipta dari
pengetahuan belaka. Alam mendendangkan lagu termerdunya

97

Helen Keller

kepada para pencintanya. Tak akan diungkapkannya rahasianya


kepada orang yang hanya ingin memuasakan keinginannya
untuk menganalisa dan mengumpulkan fakta, tetapi hanya ke
pada mereka yang mengamati bahwa pada lapis-lapis kenyataan
terdapat perasaan yang lembut dan mulia.
Apakah aku tidak diperbolehkan memakai kata-kata se
perti segar, berkilau, gelap, dan suram? Pernah kuberjalan
di padang rumput pagi hari. Di sana kusentuh tanaman mawar
yang dipenuhi embun dan berbau semerbak. Aku juga pernah
merasakan bentuk tubuh dan lincahnya anak kucingku ketika
bermain. Aku telah mengenal tingkah anak kecil yang manis dan
malu-malu. Aku pun telah mengenal kebalikan yang menyedih
kan dari semua itu, suatu gambaran yang memilukan melalui
sentuhan. Ingatlah, aku pernah sekali-sekali berjalan di sepanjang
jalan berdebu, sejauh kakiku mampu melangkah. Pada sebuah
belokan, aku menginjak rumpun semak yang meranggas, dan
ketika kuulurkan tanganku, yang tersentuh olehku adalah sebatang
pohon yang pernah elok, yang kehidupannya disedot oleh tanaman
parasit, seperti vampir. Aku pun pernah menyentuh seekor burung
cantik yang sayap lembutnya terkulai dan jantung kecilnya tak lagi
berdetak. Aku pernah menangisi seorang anak yang lemah dan
cacat, yang lumpuh, yang terlahir buta, ataulebih parah lagi
yang cacat mental. Bila aku jenius seperti Thomson, mungkin
aku pun akan mampu menggambarkan City of Dreadful Night

98

Penglihatan Batin

(Kota Malam yang Menakutkan) hanya melalui sensasi sentuhan.


Dari berbagai perbandingan kontras yang tak terbantahkan
itu, masihkah kita gagal membentuk sebuah gagasan mengenai
keindahan dan dengan yakin mengenali keindahan itu bila kita
menjumpainya?
Berikut ini adalah sebuah soneta yang menampilkan kefa
sihan dari kemampuan visioner seorang buta:
The Mountain to the Pine
Sungguh tinggi dirimu, penguasa agung rimba,
Yang berdiri di tempat tak ada semak berani merayap,
Manusia menyebutmu tua dan kau telah berdiri lama
Seabad di lerengku yang terjal;
Namun bagiku hidupmu hanya sehari,
Saat kukenangkan segala yang pernah kusaksikan,
Penguasa-penguasa rimba yang telah berlalu
Di tempat di mana kulihat kau meraya,
Karena aku lebih tua dari umur manusia,
Atau makhluk lainnya yang merayap dan merangkak,
Atau burung di udara, dan makhluk di kedalaman;
Akulah sketsa awal yang samar dari rancangan Tuhan:
Hanya gelombang laut yang selalu bergelora
Dan bintang-bintang di angkasa, yang kuanggap tua.

Aku bahagia karena temanku, Mr. Stedman, mengetahui


puisi ini ketika ia tengah mengerjakan antologinya. Sebagai

99

Helen Keller

seorang penyair dan kritikus sastra yang hebat, ia tak mungkin


melewatkan puisi tersebut ke dalam kumpulan puisi Amerikanya yang sangat berharga. Penulis puisi ini, Mr. Clarence
Hawkes, buta sejak kecil. Walaupun demikian, dari alam ia
menemukan kombinasi berbagai petunjuk untuk penggambaran
imajinasinya. Dari pengetahuan dan kesan yang diperolehnya,
ia menciptakan sebuah mahakarya yang terpahat pada dinding
benaknya. Dan jiwa-jiwa sejati dunia ini telah mengunjungi ru
mah penyair ini.
Sangat jarang ada penyair yang menggambarkan sebuah
gunung sebagai sketsa awal yang samar dari rancangan Tu
han. Inilah yang merupakan pesona sejati dari puisi itu, bu
kan kenyataan bahwa seorang buta mampu berbicara penuh
percaya diri tentang langit dan lautan. Ide kami tentang langit
adalah akumulasi dari gambaran melalui sentuhan, dari tulisantulisan dan pengamatan orang lain, dikombinasikan dengan
perpaduan rasa dari semua aspek tersebut. Wajahku hanya
mampu merasakan sebagian kecil dari atmosfer. Tetapi aku
bergerak terus-menerus melalui ruang dan merasakan udara di
setiap tempat, setiap saat.
Aku sudah mendapat informasi tentang berapa jarak an
tara bumi dan matahari, atau planet-planet lain, atau bintangbintang yang telah dikenal. Kukalikan seribu kali jarak jang
kauan tertinggi dan terlebarku, dan dari situ kuperoleh rasa

100

Penglihatan Batin

tentang luasnya angkasa.


Bawa aku terus-menerus melintasi air, air, dan hanya
air, dan akan kurasakan sepi dan luasnya samudra, sejauh
mata memandang. Aku pernah naik perahu layar di lautan,
ketika alun gelombang membawanya ke tepian. Bukankah ti
dak mengherankan bila aku bisa memahami tulisan sang pe
nyair: Hijaunya musim semi meruahi bumi seperti air yang
meninggi? Aku pernah merasakan bagaimana nyala lilin tertiup
dan meredup karena angin. Dengan demikian, bolehkah aku
mengatakan: Beribu kunang beterbangan ke sana-kemari, di
rumput bermandi embun, seperti gemulai nyala lilin ini?
Coba sekarang padukan luasnya udara, hangatnya mentari,
awan di angkasa yang digambarkan kepada jiwaku, sungai kecil
yang mengalir, luasnya air danau yang beriak oleh angin, naikturunnya perbukitan yang pernah kudaki dan yang kurindukan
ketika jauh darinya, pepohonan menjulang tinggi yang pernah
kulewati dalam perjalananku, dan bagaimana aku mencoba
mempertahankan arah ketika orang menunjukkan berbagai
titik pemandangan; kau akan merasa lebih yakin dengan lans
kap mentalku. Sejauh mana pikiranku dapat menjangkau de
ngan jelas, itulah cakrawala dalam benakku. Dari cakrawala
inilah bisa kubayangkan cakrawala yang kalian saksikan dengan
mata.
Sentuhan tak dapat menjembatani jarak, dan hanya tepat

101

Helen Keller

dipakai bila terjadi kontak dengan sesuatu. Namun, pikiran


mampu melompati jurang-jarak itu. Karena itulah aku mampu
menggunakan kata-kata yang mampu menjelaskan benda-benda
yang jauh dari jangkauan indraku. Aku pernah menyentuh bayi
montok nan lembut, lalu kupergunakan pengalaman-sentuhan
tersebut untuk menggambarkan lanskap dan perbukitan nun
jauh di sana.

102

Helen tengah meletakkan bunga di dekat dinding.

Cinta dan iman bersemi dan tumbuh


dari proses spiritual yang hanya sedikit
mengandalkan kemampuan indrawi.
(Helen Keller)

10

Analogi dalam Persepsi Indra


Aku belum pernah menyentuh lekuk-keluk matahari atau ke
anggunan rembulan. Namun aku percaya bahwa Tuhan telah
men
ciptakan dua cahaya itu: yang besar berkuasa di hari
siang, yang kecil di hari malam. Dengan keduanya, aku tahu
bahwa aku sanggup menakhodai bahtera hidupku, dengan
penuh keyakinan akan dapat mencapai langit, seyakin orang
yang memakai Bintang Utara sebagai pemandunya. Mungkin
matahariku bersinar tak sama dengan mataharimu. Warnawarni yang memperindah duniaku, birunya langit, hijaunya pa
dang rumput, mungkin tak sama persis dengan apa yang kau
nikmati. Tetapi, bagiku itu tetap adalah warna-warni. Matahari
tak bersinar bagi mata fisikku. Aku pun tak bisa melihat kilatan
petir atau pohon yang menghijau di musim semi. Namun, itu
bukan berarti mereka tak nyata. Sebuah pemandangan tak akan
sirna hanya karena kau memunggunginya.
Aku bisa memahami bahwa warna merah bata berbeda
dengan warna merah darah karena aku tahu bahwa bau jeruk
sunkis tak sama dengan bau jeruk bali. Aku juga tahu bahwa

105

Helen Keller

warna mempunyai berbagai nuansa, dan aku bisa memperki


rakan apa nuansa warna itu. Bau dan rasa mempunyai variasi
yang tidak cukup luas untuk menjadi variasi bau atau rasa
yang sama sekali berbeda. Variasi bau dan rasa itu kunamakan
nuansa. Ada setengah lusin bunga mawar tumbuh di dekatku.
Semuanya memiliki wangi khas mawar, namun hidungku bisa
menangkap bahwa wewangian itu tidak sama. Jenis Ameri
can Beauty sangat berbeda dari jenis Jacqueminot dan La
France. Bau rumput yang perlahan memudar bagiku sama
nyatanya dengan ketika kau melihat warna memudar di bawah
terik mentari. Segarnya sekuntum bunga di tanganku bisa di
analogikan dengan kesegaran yang kurasakan saat memakan
apel yang baru dipetik. Aku memakai analogi-analogi seperti
ini untuk memperluas konsepsiku tentang warna. Ada analogi
yang kutarik dari kualitas antara permukaan dan getaran, rasa
dan bau, sementara orang lain mungkin menarik analogi antara
penglihatan, pendengaran, dan sentuhan. Fakta ini membuatku
semakin bersemangat dan tidak putus asa untuk mencoba
menjembatani jarak antara mata dan tangan.
Tentu saja aku bisa bersimpati dengan kebahagiaan yang
dirasakan oleh orang-orang yang senasib denganku, dalam kein
dahan yang dilihatnya dan harmoni yang didengarnya. Ikatan yang
ada antara diriku dan kemanusiaan ini harus kupertahankan, meski
pun dasar pemikiran mengenai hal ini bisa saja terbukti salah.

106

Analogi dalam Persepsi Indra

Vibrasi yang indah dan manis hadir dalam sentuhanku,


walaupun gelombang vibrasi itu sampai kepadaku melalui me
dia-media lain dan bukan melalui media udara. Jadi, aku mem
bayangkan suara-suara yang manis dan menyenangkanyang
kemudian menjadi sebuah aransemen artistik yang disebut musik.
Dan aku ingat bahwa nada-nada musik ini melintasi udara untuk
sampai kepada telinga pendengarnya, membawa kesan yang
kurang-lebih sama dengan yang kuterima. Aku juga paham apa itu
nada, karena nada adalah bagian dari sesuatu yang bisa disentuh.
Sementara itu, panas mempunyai banyak variasi, pada matahari,
pada api, pada tangan, dan pada bulu binatang. Bagiku, tak ada
yang namanya matahari yang dingin. Dari situ aku membayangkan
variasi cahaya yang menyentuh mata, yang dingin dan yang hangat,
yang terang dan yang redup, yang lembut dan yang mencorong,
semuanya tetaplah cahaya. Aku membayangkan gerakan cahaya
itu melalui udara, menyebar dan meluas, tidak seperti sentuhan
yang gerakannya terbatas.
Dari pengalamanku dengan suara, aku bisa menduga ba
gaimana mata memilah-milah nuansa warna dalam cahaya.
Ketika aku membaca bibir seorang wanita penyanyi soprano,
aku mendeteksi nada rendah dan ceria, yang terselip di antara
suaranya yang tinggi dan mengalun. Ketika kurasakan pipiku
panas, aku tahu bahwa wajahku panas. Aku telah banyak ber
bicara dan membaca tentang warna, hingga secara tak sadar

107

Helen Keller

aku memberikan arti pada setiap warna. Sama saja dengan


semua orang lain yang memberikan arti pada konsep-konsep
abstrak seperti harapan, idealisme, monoteisme, intelektual,
yang kesemuanya tak dapat direpresentasikan seutuhnya me
lalui objek yang kasatmata, tetapi yang bisa dimengerti dengan
memakai analogi-analogi antara konsep non-material dengan
ide yang ditimbulkan pada hal-hal eksternal. Kekuatan asosiasi
ini mendorongku untuk mengatakan bahwa warna putih ada
lah agung dan murni; warna hijau itu bergairah; warna merah
memberikan kesan tentang cinta, atau perasaan malu, atau
kekuatan. Tanpa adanya warna-warni atau sesuatu yang sepadan
dengannya, hidup bagiku pasti akan terasa gelap dan gersang.
Karena itu, agar duniaku lengkap sempurna, pikiranku
harus kupenuhi dengan warna-warna. Aku harus berkonsentrasi
untuk memisahkan warna dan suara dari objeknya. Sejak pen
didikanku dimulai, aku selalu meminta agar sebuah objek dije
laskan kepadaku, dengan warna dan bunyinya, oleh orang yang
mempunyai perasaan yang peka dan tajam dalam menganalisis
perbedaannya. Dengan demikian, aku terbiasa memikirkan se
buah objek sebagai sesuatu yang berwarna dan berbunyi. Ke
biasaanku itu memampukan diriku memahami sesuatu: pera
saanku yang melengkapi pemahaman akan sesuatu itu; otakku,
dengan konstruksi pancaindranya, yang membuatnya sem
purna. Dengan melibatkan kesemuanya, kesatuan dunia men

108

Analogi dalam Persepsi Indra

syaratkan agar warna selalu dihadirkan, walaupun mungkin aku


tak menyadarinya. Meski aku tak bisa melihatnya, aku senang
melibatkan diri untuk membicarakan, membayangkan, dan me
rasakan kebahagiaan orang-orang di sekitarku yang memandangi
nuansa warna pelangi atau matahari senja dengan sukacita.
Tanganku sangat berperan dalam pengetahuan ganda
ini. Tapi jangan lupa, dengan jemariku aku hanya bisa melihat
sebagian kecil dari permukaan, dan
aku harus menyentuhnya berulangulang sebelum sentuhanku memper
oleh gambaran yang menyeluruh.
Yang lebih penting untuk diingat ia
lah, imajinasiku tidaklah tertambat
pada titik-titik lokasi atau suatu ja
rak tertentu. Imajinasiku mampu
menggabungkan

semua

Karena itu, agar


duniaku lengkap
sempurna, pikiranku
harus kupenuhi
dengan warna-warna.

bagian

se
cara bersamaan, sehingga aku
seakan bisa melihatnya, bukan hanya
merasakannya. Walaupun aku hanya
bisa meraba suatu bagian dari ku
dakukudaku sering gelisah dan tidak menyukai eksplorasi
tangankunamun karena aku sudah sering menyentuh kaki,
hidung, kuku, dan surainya, aku bisa melihat kuda-kuda tung
gangan Phoebus Apollo berp
acu melintasi cakrawala.

109

Helen Keller

Dengan kemampuan imajinasi seperti itu, tak bisa dika


takan bahwa pikiranku tak jelas dan samar-samar. Pikiranku
selalu diperlukan untuk bersikap tegas dan pasti. Ini merupakan
konsekuensi dari kebenaran filsafat yang mengatakan bahwa
dunia nyata eksis hanya untuk pikiran (mind). Dengan kata lain,
aku tak akan mampu menyentuh dunia ini secara keseluruhan.
Yang kusentuh pun lebih sedikit daripada bagian yang dilihat atau
didengar orang lain. Akan tetapi, semua makhluk, semua objek,
tertangkap oleh otakku secara utuh dan menempati ruang yang
sama luasnya di benakku, seperti kenyataan mereka di dunia
material. Pikiranku yang bercabang-cabangsebagaimana po
hon pinusmelambai, berayun, berdesir, dan menciptakan mu
sik yang mendaki ke puncak-puncak gunung. Ceritakan tentang
sekuntum mawar kepadaku, yang jauh letaknya, yang terlalu
jauh untuk kucium wanginya. Seketika itu juga ada semerbak
menyelinap ke hidungku, sebentuk benda lembut menempel
di telapak tanganku, dengan kelopak-kelopaknya yang lentik
dan tepiannya sedikit bergulung, tangkainya melengkung, dan
daun-daunnya mulai layu.
Ketika aku mencoba memandang dunia ini secara menye
luruh, maka dengan cepat munculdalam penglihatankuma
nusia, binatang, burung, reptil, serangga, langit, gunung, pa
dang, bebatuan, juga kerikil. Juga hangatnya kehidupan, realitas
penciptaan yang hadir di mana-manadenyut nadi tangan ma

110

Analogi dalam Persepsi Indra

nusia, kilauan bulu binatang, lekuk luwes tubuh reptil, dengung se


rangga yang menjengkelkan, terjalnya tebing-tebing yang kudaki,
alunan dan hempasan ombak di batu karang. Mungkin terdengar
aneh, tetapi aku tidak pernah bisa memaksakan sentuhanku me
lingkupi semesta ini dari segala penjuru. Kalau aku bersikeras
mencobanya, maka gambaran keseluruhannya akan musnah,
hanya sebagian kecil yang tertinggal (yang tersentuh), yang lain
berserakan secara acak. Tak ada getar, tak ada kegirangan yang
timbul karenanya. Kembalikan lagi perasaan batin yang indah dan
sempurna pada tempatnya, niscaya kau akan memberiku perasaan
sukacita yang merupakan bukti terbaik dari kenyataan ini.

111

Helen pada usia 8 tahun, 1888.

Kemampuan berpikir membuatku menyadari


tentang cinta, kebahagiaan, dan
semua emosi lainnya.
(Helen Keller)

11

Sebelum Jiwaku Lahir Kembali


Sebelum guruku datang dalam kehidupanku, aku tak mengenal
siapa diriku sebenarnya. Aku hidup dalam dunia yang tidak
nyata. Tak bisa kujelaskan dengan layak waktu-ketiadaan (time
of nothingness) yang tak sadar namun sadar. Aku tidak tahu apa
yang harus kuketahui. Aku pun tidak tahu bahwa aku hidup,
bertindak, dan berkeinginan. Aku tak mempunyai kehendak
maupun akal budi. Ketika diperkenalkan pada benda-benda
di sekitarku, aku bertindak sebagaimana layaknya orang buta.
Aku mempunyai otak yang membuatku merasa marah, puas,
dan bergairah. Kedua fakta ini membuat orang di sekitarku
menganggap bahwa aku mempunyai kehendak dan pikiran.
Aku bisa mengingat semua ini, bukan karena aku tahu akan
kenyataan itu, tetapi karena aku mempunyai memori sentuhan,
yang membuatku mampu mengingat bahwa aku tak pernah
mengernyitkan dahi untuk berpikir. Aku tak pernah memilahmilah sesuatu sebelum menjatuhkan pilihan. Aku juga teringat,
secara sentuhan, pada kenyataannya tak sekali pun aku merasakan
mencintai atau menyayangi apa pun. Kehidupan jiwaku, ketika

115

Helen Keller

itu, kosong, tanpa masa lalu, masa kini, atau masa depan; tanpa
harapan atau antisipasi; tanpa kegirangan, sukacita, atau iman.
Bukan malam, bukan pula siang.
.....
Tetapi kekosongan yang menghisap ruang,
Segalanya diam, tanpa tempat;
Tiada bintang, tiada bumi, tiada waktu;
Tanpa jeda, tanpa perubahan, tanpa baik, tanpa jahat.

Keadaanku yang bagai mati suri ini tak memiliki konsepsi


tentang Tuhan atau keabadian, tiada rasa takut akan kematian.
Aku mengingat, juga melalui sentuhan, bahwa aku me
miliki kemampuan untuk berasosiasi (menghubungkan). Aku
merasakan sentakan seperti jejakan kaki, jendela yang terbuka
atau tertutup, pintu yang dihempaskan. Setelah berkali-kali
mencium bau hujan dan merasakan perasaan tak nyaman ke
tika basah, aku pun bertindak seperti orang lain: aku berlari
untuk menutup jendela. Tetapi tindakan itu bukan karena hasil
berpikir. Hanya suatu asosiasi yang sama dengan yang ada pada
binatang, ketika binatang mencari tempat berteduh dari hujan.
Dengan insting yang sama aku membebek perilaku orang di
sekitarku. Aku melipat dan menyimpan pakaianku yang baru
selesai dicuci, memberi makan kalkun peliharaanku, menjahit

116

Sebelum Jiwaku Lahir Kembali

benik mata pada wajah bonekaku, dan melakukan banyak hal


lain berdasarkan memori sentuhanku. Ketika menginginkan
sesuatu, misalnya es krim yang sangat kugemari, maka li
dahku akan merasakan kelezatan (yang sekarang tak pernah
terjadi lagi), dan tanganku merasakan membuka kulkas. Aku
memberi sinyal, dan Ibu akan tahu bahwa aku ingin es krim.
Aku berpikir dan mempunyai hasrat di jemariku. Bila aku
yang menciptakan manusia, pastilah akan kuletakkan otaknya
di ujung jemarinya. Dari kenangan-kenangan seperti ini, aku
menyimpulkan bahwa berkembangnya dua hal, kebebasan
berkehendak atau kebebasan memilih dan rasionalitas atau
kemampuan berpikir, memungkinkan seseorang untuk ber
tumbuh dari anak menjadi orang dewasa.
Karena aku tak mempunyai kemampuan berpikir, aku
tak bisa membuat perbandingan tentang kemampuan mental.
Oleh sebab itu, aku tidak menyadari bila ada perubahan atau
kemajuan pada otakku sebelum guruku memulai pengajarannya
kepadaku. Aku hanya memikirkan objek, dan hanya objek yang
kuingini. Hanya sama dengan membuka kulkas pada skala
yang lebih besar. Ketika aku belajar tentang arti dari aku dan
bagiku, dan kusadari bahwa aku ini berarti, ketika itulah aku
mulai berpikir. Kesadaran mulai timbul di dalam diriku. Jadi,
bukanlah indra peraba yang membawa pengetahuan bagiku,
namun kebangkitan jiwaku yang mula-mula memberikan ke

117

Helen Keller

pada indraku nilai-nilainya, pengetahuannya tentang objekobjek, nama-nama, kualitas, dan sifat-sifat. Kemampuan ber
pikir membuatku menyadari tentang cinta, kebahagiaan, dan
semua emosi lainnya. Aku menjadi bersemangat untuk me
ngenal, mengerti, kemudian merefleksikan apa yang kuketahui
dan kumengerti itu. Sejak saat itu,
impuls orang buta, yang sebelumnya
Aku berpikir dan
mempunyai hasrat di
jemariku. Bila aku
yang menciptakan

menjadi penggerakku ke sana-kemari


menurut suruhan sen
sasiku, sirna
untuk selamanya.
Sama seperti orang lain, aku

manusia, pastilah akan

juga tidak bisa melukiskan dengan

kuletakkan otaknya di

lebih jelas perubahan yang halus dan

ujung jemarinya.

bertahap, mulai dari kesan pertama


yang kemudian menjadi ide abstrak.
Tapi aku tahu bahwa ide-ide fisikku,
yaitu, ide-ide yang timbul dari ob
jek-objek fisik, mula-mula muncul

bagiku sebagai ide yang serupa dengan hasil sentuhan. Ide-ide


itu langsung berubah menjadi bermakna intelektual. Sesudah
itu, makna itu menemukan ekspresinya pada apa yang disebut
perkataan batin. Saat masih kanak-kanak, perkataan batinku
adalah pengejaan batin. Sampai sekarang, aku masih sering
ketahuan mengeja dengan jari-jariku, namun aku juga bisa

118

Sebelum Jiwaku Lahir Kembali

berkata-kata pada diriku sendiri, dengan bibirku. Dan, memang


benar bahwa ketika aku mulai belajar berbicara, benakku
membuang simbol-simbol jemari dan mulai berartikulasi.
Namun, bila aku mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan
seseorang padaku, aku sadar akan adanya sebuah tangan yang
mengejakannya pada tanganku.
Orang sering bertanya kepadaku apa kesan pertamaku
tentang dunia tempat aku berada. Tapi kalau kita mau berpikir,
kita tahu bahwa kesan pertama selalu merupakan teka-teki.
Kesan kita tumbuh dan berubah tanpa kita perhatikan, sehingga
apa yang kita pikirkan ketika kita anak-anak bisa saja berbeda
dengan apa yang kita alami pada masa kecil kita itu. Yang
kuketahui ialah, ketika pendidikanku dimulai, dunia yang bisa
kujangkau menjadi hidup. Aku mengeja kata-kata pada mainan
blok-ku dan pada anjingku. Aku bersimpati dengan tanaman
yang bunganya dipetik karena kupikir tanaman itu pasti ke
sakitan, dan bersedih hati karena kehilangan bunganya. Dua
tahun berlalu sebelum aku bisa percaya bahwa anjingku tidak
mengerti apa yang kukatakan, ketika aku minta maaf kalau aku
menabrak atau menginjaknya.
Dengan semakin berkembangnya pengalamanku, perasaan
kanak-kanak yang tak pasti dan puitis itu pun mulai berbentuk
menjadi pikiran-pikiran yang pasti. Alamdunia yang bisa
kusentuhterbentuk dan dipenuhi dengan diriku sendiri.

119

Helen Keller

Aku cenderung mempercayai para filosof yang menyatakan


bahwa kita tidak tahu apa-apa kecuali perasaan dan ide-ide kita
sendiri. Dengan sedikit penalaran imajinatif, kita bisa melihat
bahwa dunia materi hanyalah sebuah cerminan, suatu citra
(image) dari gambaran mental yang permanen. Karena itu,
mungkin banyak orang yang hanya mengenal sedikit sekali
hal yang di luar jangkauan pengalamannya. Mereka melihat ke
dalam batinnyadan menemukan kekosongan! Oleh sebab itu,
mereka (para filosof) pun menyimpulkan bahwa tak ada apa
pun di luar diri mereka.
Bagaimanapun, kelak aku mencari gambaran dari emosi
dan sensasiku pada orang lain. Aku harus mempelajari sinyal
luar yang mewakili perasaan batin. Awal dari rasa takut, ra
sa sakit yang ditahan dan dikendalikan, denyut otot-otot ke
bahagiaan pada orang lain, harus ditilik dan dibandingkan
dengan pengalamanku pribadi sebelum aku bisa menelusurinya
kembali ke jiwa orang lain yang mengalaminya. Dengan me
raba, tanpa kepastian, akhirnya kutemukan identitasku. Dan
setelah menyaksikan pikiran dan perasaanku terlihat berulang
pada orang lain, secara bertahap aku membentuk duniaku yang
terdiri dari manusia dan Tuhan. Dengan membaca dan belajar,
kutemukan bahwa seluruh ras manusia juga melakukan hal yang
sama. Manusia yang melihat ke dalam batinnya pada akhirnya
akan menemukan luas dan makna semesta.

120

Helen tengah menyiram tanaman.

Orang bilang, kerlingan mata seorang kekasih


mampu menggetarkanmu dari suatu jarak. Tetapi
tiada jarak dalam sentuhan tangan seorang
kekasih.
(Helen Keller)

12

Si Buta dan Tuli di Belantara Dunia


Demikianlah! Di tengah kehidupan yang bergairah lagi tegas,
si anak yang buta dan tuli ituyang dicencang di batu karang
keadaanseperti laba-laba, melepaskan rangkaian pikiran yang
halus-lembut ke arah kehampaan luas yang melingkupinya.
Dengan penuh kesabaran, dijelajahinya kegelapan itu. Ia berhasil
mengumpulkan pengetahuan tentang dunia tempatnya berada;
jiwanya menemukan keindahan dunia, di mana matahari se
lalu bersinar dan burung-burung berkicauan. Bagi si anak buta
itu, gelap itu ramah. Di dalamnya tak ia temukan yang sangat
luar biasa atau yang jelek. Inilah dunia yang dikenalnya, walau
pun untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain harus
meraba-raba, melangkah tertahan-tahan, dan bergantung pada
orang lain. Semuanya ini tak mengherankan baginya. Ia tak
mengetahui betapa banyak kesenangan yang tertutup baginya
oleh kegelapan. Sampai suatu ketika ia membandingkan kehi
dupannya dengan memakai ukuran pengalaman orang lain.
Ketika itulah ia menyadari apa arti hidup dalam kegelapannya
yang abadi. Namun, pengetahuan yang membawa kepahitan juga

123

Helen Keller

membawa pelipur laracahaya spiritual, janji di hari menjelang.


Si anak buta ini, anak yang buta dan tuli ini, mewarisi pola
pikir dari leluhur yang mampu melihat dan mendengar, pola
pikir yang diukur dengan pancaindra. Karena itu, walaupun
tak disadarinya, mau tak mau ia pun terpengaruh oleh cahaya,
warna, dan nyanyian, yang disalurkan melalui bahasa yang
dipelajarinya, karena bilik-bilik benaknya siap untuk menerima
bahasa. Otak manusia begitu terlumuri oleh warna, bahkan
bahasa orang buta pun terwarnai olehnya. Setiap objek yang
terpikir olehku ternoda oleh nuansa warna yang berasal dari
asosiasi dan ingatan. Pengalaman hidup seorang buta-tuli,
dalam dunia yang dijejali orang yang bisa melihat dan men
dengar, seperti seorang pelaut yang terdampar di sebuah pulau
yang penduduknya berbicara dengan bahasa yang tak dike
nalnya, juga dengan cara hidup yang sangat berbeda dengannya.
Ia hanya seorang diri, mereka ada banyak; tak ada kemungkinan
untuk mufakat. Ia yang harus belajar melihat melalui mata
mereka, mendengar melalui telinga mereka, berpikir dengan
cara pikir mereka, dan mengikuti cara-cara mereka.
Bila dunia gelap dan sepi yang melingkupinya berbeda
dengan dunia yang riuh dan bermandikan cahaya, maka akan
sulit baginya untuk memahaminya, dan tak akan pernah bisa
didiskusikan. Apabila perasaan dan sensasinya secara men
dasar berbeda dengan orang lain, maka itu akan sulit dime

124

Si Buta dan Tuli di Belantara Dunia

ngerti kecuali oleh mereka yang mempunyai sensasi dan pe


rasaan yang sama. Bila kesadaran mental seorang buta-tuli
sangat berbeda dengan yang dimiliki orang lain, maka ia tak
akan mampu membayangkan apa yang mereka pikirkan. Pada
dasarnya, pikiran seorang tunanetra sama dengan orang yang
melihat; ia menolak untuk menerima adanya kekurangan, se
hingga diperlukan pengganti yang setara untuk menggantikan
sensasi fisik yang tak dimilikinya. Ia harus mampu melihat
kemiripan antara hal-hal batiniah dan lahiriah, sebuah ko
respondensi antara yang terlihat dengan yang tak terlihat. Aku
mempergunakan korespondensi ini dalam berbagai hubungan.
Tidak jadi masalah seberapa jauh aku mempergunakannya un
tuk mengerti hal-hal yang tak dapat kulihat. Dan cara itu tak
pernah gagal.
Sebagai hipotesis terapan korespondensi ini cukup baik
untuk dipakai oleh siapa saja, dalam berbagai macam fenomena.
Cepatnya kilat pikiran menjelaskan cepatnya sambaran petir
dan luncuran komet yang melintasi langit. Langit batinku
membuka angkasa yang luas bagiku. Aku mengenali kebenaran
dari kejelasan dan bimbingan yang diberikan kepada pikiranku.
Dan dengan mengenal kejelasan itu, aku bisa membayangkan
bagaimana mata melihat cahaya. Bila aku berseru Oh, aku
melihat kesalahanku! atau Betapa gelap dan murung kehi
dupannya!, itu bukanlah suatu konvensi bahasa, tetapi pe

125

Helen Keller

rasaan yang kuat dari kenyataan. Aku menyadari bahwa ini


adalah metafora. Namun, walaupun begitu, aku harus mem
buktikannya, karena tak ada cara lain dalam bahasa kita yang
dapat menggantikannya. Orang buta-tuli tidak mempunyai
metafora untuk korespondensi, dan memang tak perlu. Karena
aku bisa memahami arti kata pantulan secara kiasan, maka
konsep tentang cermin tidak membingungkanku. Aku tahu
bahwa kacamata bisa memperbesar penampilan objek, atau
mendekatkannya, atau membuatnya tampak lebih jauh karena
aku bisa mengimajinasikannya.
Bila korespondensi ini, indra batin ini, diambil dariku, dan
bila aku dibatasi hanya pada dunia sentuhan yang tak sejalan
dan terpecah-pecah, maka aku akan menjadi seperti kelelawar
yang terbang berkeliaran. Bayangkan jika aku membuang se
mua kata seperti melihat, mendengar, warna, cahaya,
pemandangan, dan ribuan fenomena, instrumen-instrumen,
serta keindahan yang berkaitan dengannya dari kosakataku.
Tentu saja keindahan yang kudapatkan akan jauh berkurang.
Kegembiraan dalam memperoleh pengetahuan pun menyurut.
Dan yang akan lebih menyedihkan, emosiku akan menjadi
tumpul, hingga aku tak akan bisa tersentuh oleh hal-hal yang
tak terlihat.
Pernahkah ada sanggahan mengenai keabsahan cara ko
respondensi ini? Pernahkah bilik di otak orang buta dibuka dan

126

Si Buta dan Tuli di Belantara Dunia

ditemukan kosong? Pernahkah seorang ahli psikologi menje


lajahi pikiran orang buta dan mengatakan Tak ada sensasi ku
temukan di sini?
Aku berjalan di atas bumi yang padat, aku menghirup
udara yang berbau harum. Dari kedua pengalaman ini saja aku
bisa membentuk asosiasi dan korespondensi yang tak terkira
jumlahnya. Aku mengamati, aku merasakan, aku berpikir, dan
aku membayangkan. Aku mengasosiasikan berbagai kesan,
pengalaman, dan konsep. Dari bahan-bahan tersebut, fantasi
kemudian menyatukannya menjadi sebuah citra (image). Se
orang skeptis menganggap bahwa aku tak bisa mengetahui
citra ini karena aku tidak bisa melihat dengan mata fisik wajah
yang cantik dan terus berubah dari pikiranku. Orang skeptis
itu meremehkan cermin pikiranku. Ia adalah seorang pengejek,
yang merendahkan jiwaku dan memaksaku untuk mengunyah
mentah-mentah hal-hal material. Sementara aku mencerna ke
adaan sekitar, ia mendorong dan memaksaku untuk menelan
fakta. Jika aku mengindahkannya, maka bumi yang berwajah
manis ini akan sirna, dan yang tertinggal untuk kugenggam
hanyalah segumpal barang mati yang tak bertujuan dan tak
berjiwa. Namun, walaupun tubuh fisik terbelenggu pada batu
Prometheus (simbol keterbatasan dan keterikatanpenerj.), te
tapi sang pemburu spiritual yang pemberani akan terus mencari
jalan raya semesta yang terbuka dan bercahaya.

127

Helen Keller

Kebutaan tidak membatasi visi mentalku. Cakrawala in


telektualku tak ter
batas luasnya. Semesta yang dilingkupi
nya
tak terukur. Apakah mereka yang ingin membatasiku dalam
kungkungan keterbatasan indraku juga menuntut kepada Herschel
untuk memberikan batas
an kepada semesta bin
tang
nya, lalu
menghi
dangkan kembali bola-kaca
Plato kepada kita? Akankah mereka
Kebutaan tidak

memerintah Darwin dari kuburannya

membatasi visi

dan menyuruhnya menghapus peme

mentalku. Cakrawala

taan waktu geologinya, lalu menghi

intelektualku tak

dangkan kembali pengetahuan tentang

terbatas luasnya.

beberapa ribu tahun saja kepada kita?

Semesta yang

Oh, para peragu yang congkak! Me

dilingkupinya tak
terukur.

reka selalu mencoba memangkas sa


yap semangat yang berani terbang ke
angkasa.
Orang yang kehilangan satu
atau bebe
rapa kemampuan indranya

tak akan menjadi seperti orang yang kehilangan jejak di alam liar
tanpa petunjuk dan panduan, seperti yang banyak diperkirakan
orang. Dalam kege
lap
an
nya, seorang buta membawa semua
pe
rangkat yang dibu
tuhkannya untuk menyimak du
nia yang
tertutup baginya. Ia pun menemukan sebuah lingkungan yang
bermandikan cahaya matahari di dalam kegelapannya. Karena,

128

Si Buta dan Tuli di Belantara Dunia

ada samudra kemiripan antara dunia batin dan dunia lahir. Dan
kemiripan ini, korespondensi ini, seimbang dengan segala situasi
yang ditawarkan kehidupan kepadanya.
Kebutuhan akan hal seperti korespondensi atau simbolis
me tampak semakin mendesak bila kita mempertimbangkan
tugas yang dibebankan oleh agama dan filsafat kepada kita.
Seorang buta diharapkan membaca Alkitab sebagai sarana
untuk mencapai kebahagiaan spiritual. Nah, Alkitab penuh de
ngan referensi tentang awan, bintang-bintang, warna-warni,
dan keindahan. Dan, sering kali referensi ini dibutuhkan untuk
menerangkan sebuah perumpamaan atau pesan yang ingin di
sampaikan. Di sini kita harus melihat inkonsistensi orang-orang
yang mengimani Alkitab, tetapi yang justru melarang kami untuk
membicarakan apa yang tak dapat kami lihat, yang sebenarnya
juga tak dapat mereka lihat. Siapa yang boleh melarang hatiku
untuk bernyanyi Ah, ia terbang di atas sayap angin. Ia membuat
kegelapan menjadi tempat rahasianya. Pesanggrahan di sekitarnya
adalah air yang kelam dan awan gelap di angkasa?
Filsafat secara terus-menerus menunjukkan betapa pan
caindra tak dapat begitu saja dipercaya dan betapa pentingnya
pemakaian nalar untuk mengoreksi kesalahan penglihatan dan
mengungkapkan ilusinya. Jika pancaindra masih dianggap ku
rang, bagaimana lagi dengan hanya tiga indra? Apa dasarnya
mengesampingkan cahaya, suara, dan warna sebagai bagian

129

Helen Keller

integral dari dunia kita? Bagaimana kita bisa tahu bila hal-hal
tersebut sudah tak ada lagi? Kita harus meyakini kenyataan da
ri hal-hal itu, seperti halnya filsafat mengajarkan kepada kita
untuk mengasumsikan realitas dunia ini, walaupun kita tidak
bisa secara fisik melihatnya secara utuh.
Filsafat Kuno menawarkan sebuah argumen yang masih
kelihatan valid. Bahwa pada orang buta, sama halnya pada
orang yang bisa melihat, ada Sang Absolut yang memberikan
kebenaran pada apa yang kita anggap benar, aturan pada apa
yang seharusnya teratur, keindahan pada apa yang indah, sen
tuhan pada apa yang nyata. Bila ini benar adanya, maka Sang
Absolut ini pun tak sempurna, tak lengkap, dan terpecahpecah. Ia harus bisa melampaui keterbatasan indrawi kita, dan
memberikan cahaya pada apa yang tak terlihat, dan memberikan
musik kepada kesunyian. Demikianlah, pikiran kita sendiri
mendorong kita untuk memperhatikan bahwa kita berada di
dunia yang memiliki keteraturan intelektual, keindahan, dan
harmoni. Kita tidak berada di dunia yang buruk, tak teratur dan
sumbang. Dengan demikian, ketulian dan kebutaan tidaklah
eksis dalam pikiran non-materi. Secara filosofis, pikiran nonmateri inilah yang merupakan dunia nyata, bukan sebaliknya.
Kenyataan, yang memakai benda-benda nyata sebagai sim
bolnya, bercahaya di dalam pikiranku. Ketika aku berjalan

130

Si Buta dan Tuli di Belantara Dunia

berkeliling kamarku dengan langkah tertahan, jiwaku melayang


ke angkasa dengan sayap rajawali. Aku memandang dengan
penglihatan yang penuh kerinduan kepada dunia keindahan
abadi.

131

Helen tengah membaca sebuah buku.

Segala hal memiliki keajaiban, termasuk


kegelapan dan kesunyian, dan aku belajar
bahwa bagaimanapun keadaanku, pasti ada
kepuasan di dalamnya.
(Helen Keller)

13

Dunia Mimpi
Setiap orang menganggap mimpinya penting. Tetapi, ketika
pada pagi hari orang lain menceritakan petualangan mimpinya
di meja makan, mereka merasa bosan. Karena itu, sebenarnya
aku agak ragu-ragu mengisahkan mimpi-mimpiku. Karena ba
giku, membosankan pembaca adalah suatu dosa dalam menulis.
Kita berdosa secara ilmiah bila kita melaporkan fakta-fakta
dari negeri nun jauh di sana dengan lebih menekankan pada
poin dan ringkasan daripada kebenaran yang lengkap dan apa
adanya. Para psikolog memiliki sejumlah teori dan fakta yang
mereka latih dengan baik bagai sekawanan anjing buldog yang
mereka rantai, dan yang baru mereka lepaskan untuk me
mandu kita dalam mencari kemungkinan-kemungkinan mim
pi. Kita bahkan tak bisa menceritakan sebuah mimpi yang
menyenangkan tanpa dicurigai bahwa kita telah banyak meng
editnya, seakan-akan mengedit adalah salah satu dari tujuh
dosa besar, dan bukan pekerjaan yang terhormat! Karena itu,
harap dimengerti jika aku suka bercerita di meja makan pada
pagi hari tentang mimpi-mimpiku.

135

Helen Keller

Dulu aku sering bertanya-tanya mengapa para ilmuwan,


dan juga orang lain, sering bertanya kepadaku tentang mimpimimpiku. Tetapi sekarang aku tidak heran lagi, sejak aku me
ngetahui apa yang diyakini orang sebagai pengalaman biasa
dalam keadaan terjaga bagi orang buta dan tuli. Mereka ber
pendapat, aku hanya sedikit mengetahui objek yang letaknya
hanya beberapa kaki di luar jangkauan tanganku. Segala sesuatu
di luar diriku, menurut mereka, hanyalah bayangan yang samar.
Pohon, gunung, kota, samudra, dan bahkan rumah yang kudiami
hanyalah ciptaan khayalan, ketidaknyataan yang kabur. Karena
itu, mereka beranggapan bahwa mimpi-mimpiku pun pasti
mengandung banyak hal yang menarik secara ilmiah. Walaupun
tidak dikatakan secara terang-terangan, mereka berharap bisa
menemukan dunia tempatku berada sebagai dunia yang datar,
tak berbentuk, tak berwarna, tanpa perspektif, tidak tebal dan
kurang solidsebuah kesunyian yang luas dari ruang tanpa
suara. Tetapi siapa yang senang memakai kata-kata seperti tak
terbatas, tanpa visi, dan kekosongan yang senyap? Tentu
saja, kau harus tak berwujud untuk bisa menciptakan sesuatu dari
pengalaman-pengalaman tanpa substansi itu. Menurutku, sebuah
dunia, atau dalam hal ini sebuah mimpi, agar bisa kita pahami,
harus berselubung substansi yang dirajut menjadi jalinan fantasi.
Bahkan dalam mimpi sekalipun, kita tak bisa membayangkan
sebuah objek yang tak mempunyai padanannya di dunia nyata.

136

Dunia Mimpi

Hantu sekalipun mengambil wujud seseorang; kalaupun ia tidak


menampakkan diri, kehadirannya akan ditandai dengan keadaankeadaan yang sudah sangat lazim dan kita kenal.
Ketika tidur, kita memasuki alam misteri; ilmu pengetahu
an belum mampu menjelajah jauh ke sana. Melampaui batas lelap,
para peneliti tidak diperkenankan masuk dengan segala aturan
rasional dan uji ilmiah mereka. Dengan sentuhan lembut, tidur
mengunci semua gerbang indra fisik kita, melenakan kemauan
sadar yang biasanya mendisiplinkan pikiran kita ketika kita
dalam keadaan jaga. Kemudian jiwa melepaskan diri dari jeratan
akal. Dan seperti kereta bersayap yang melepaskan diri dari
bumi yang hijau dan padat ini, jiwa meluncur menembus angin
dan awan, tanpa meninggalkan bekas ataupun jejak yang dapat
dipakai ilmu pengetahuan untuk mengikutinya dan menyajikan
pengetahuan bagi kita tentang negeri bayangan nun jauh di
sana, yang kita kunjungi setiap malam. Saat kembali dari alam
mimpi, kita tak bisa memberikan laporan rasional tentang apa
yang kita jumpai di sana. Tetapi sekali batas tersebut dilintasi,
kita merasa nyaman di sana, seakan kita sudah lama berdiam di
dalamnya dan tak pernah menginjakkan kaki di dunia rasional ini.
Mimpi-mimpiku kelihatannya tak berbeda jauh dengan
mimpi orang lain. Ada yang berkaitan dengan suatu kejadian
atau kesimpulan. Ada juga yang tak beraturan dan fantastis.
Semuanya membuktikan bahwa di Negeri Mimpi orang tidak

137

Helen Keller

berleha-leha. Selalu ada yang kita kerjakan di sana, karena


kita berhasrat untuk berpetualang. Kita bertindak, berusaha,
menderita, dan bahagia tanpa alasan yang jelas. Di luar pintu
gerbang mimpi, kita tinggalkan semua ketidakpercayaan yang
menjengkelkan dan spekulasi yang menyebalkan tentang ber
bagai kemungkinan. Aku melayang-layang seperti peri di atas
awan-gemawan, keluar-masuk di antara tiupan angin, tanpa
menyadari bahwa yang sedang kulakukan ini tidaklah lazim.
Di Negeri Mimpi hanya sedikit hal yang kurasa aneh atau yang
baru kualami. Apa pun yang terjadi, aku tidak kaget, betapapun
anehnya kejadian itu. Aku berkunjung ke negeri-negeri asing
yang belum pernah kudatangi dalam kenyataan, dan berbincang
dengan orang-orang yang bahasanya belum pernah kudengar.
Namun, kami bisa saling mengerti secara sempurna. Ke mana
pun pengembaraan ini membawaku, selalu ada keseragaman
yang sama. Andai saja aku berada di Vagabondia, aku akan
bergembira bersama orang-orang yang ceria, para petualang,
atau orang-orang di kedai anggur.
Dalam mimpiku, aku tak pernah ingat orang yang tak
bisa diajak berkomunikasi. Aku pun tak pernah bertemu de
ngan orang yang mengejutkanku karena tindakannya. Dalam
petualangannya yang aneh di hutan-hutan kelabu di Negeri
Tidur, jiwaku merasa seakan segala hal itu wajar. Jiwaku mampu
beradaptasi dengan ilusi yang paling liar sekalipun. Aku jarang

138

Dunia Mimpi

sekali menjadi bingung. Segalanya terang dan jelas. Kukenali


setiap kejadian, segera setelah itu terjadi. Ke mana pun kakiku
melangkah, pikiran menjadi pemandu dan penerjemah setiaku.
Di dalam mimpi, kurasa setiap orang pernah mengalami
peristiwa menjengkelkan ketika kita mencari sesuatu tanpa hasil
yang diinginkan. Ada sensasi yang meletihkan karena kegagalan
menemukan persembunyiannya. Ka
dang kala aku mendaki dan mendaki
hingga kepalaku berdenging pusing,
tanpa tahu mendaki ke mana dan
me
ngapa. Namun, aku tak dapat
menghentikan upaya yang menyiksa
dan menggairahkan ini, walaupun
ber
kali-kali aku mencoba meraih
sesuatu yang dapat kupegang. Tentu

Ketika tidur, kita


memasuki alam
misteri; ilmu
pengetahuan belum
mampu menjelajah
jauh ke sana.

saja, seperti halnya keanehan mimpi,


tak ada satu benda pun yang dapat
kupegang. Aku meraih udara hampa
dan meluncur ke bawah dan terus ke
bawah. Lalu tiba-tiba aku melebur ke dalam atmosfer ketika
diriku melayang jatuh.
Aku pernah mengalami mimpi yang seperti mimpi di dalam
mimpi. Seperti lapisan sejumlah lingkaran kon
sentris yang
berlapis-lapis. Dalam tidurku aku merasa seakan aku tak bisa

139

Helen Keller

tidur. Aku berbaring gelisah memikirkan tugas yang belum ter


selesaikan. Akhirnya kuputuskan untuk bangkit dan membaca
sebentar. Aku tahu rak buku di perpustakaanku, tempat buku
yang kuinginkan berada. Buku itu tak berjudul, tetapi aku bisa
menemukannya dengan mudah. Aku lalu duduk dengan nyaman
di kursi malas, buku itu terbuka di pangkuanku. Tak satu kata
pun yang kumengerti, karena halaman-halamannya kosong.
Namun aku tidak heran, walaupun sangat kecewa. Kubukabuka halamannya, kupandangi dengan perasaan sayang, lalu
air mataku menetes ke telapak tanganku. Cepat-cepat kututup
buku itu dan secercah pikiran melintasi benakku, Tulisannya
akan menjadi kabur kalau basah. Walaupun tak ada satu pun
tulisan tercetak di halamannya!
Pagi ini, kupikir aku sudah terjaga. Aku merasa sangat
yakin bahwa aku bangun kesiangan. Kutengok jam tanganku.
Ternyata benar, jam menunjukkan bahwa aku sudah terlambat
satu jam. Segera aku melompat bangun dengan tergesa, aku
yakin sarapanku pasti sudah tersedia. Kupanggil ibuku, yang
mengatakan padaku bahwa jamku pastilah keliru. Ibu yakin
bahwa tak mungkin hari sudah sesiang itu. Kutengok jam
tanganku lagi. Dan, astaga! Jarum-jarum jamnya bergoyang,
berputar, berbunyi, kemudian menghilang. Aku makin terjaga,
makin terheran, hingga akhirnya aku benar-benar terbangun
dari tidurku. Mataku terbuka dan akhirnya aku sadar bahwa aku

140

Dunia Mimpi

tadi bermimpi. Aku terbangun untuk masuk ke dalam mimpi


yang lain. Yang lebih mengherankan lagi, tak ada perbedaan
antara kesadaranku pada waktu terjaga dalam mimpi dan ter
jaga sebenarnya.
Sangatlah menakutkan jika kita berpikir bahwa semua
yang kita lihat, rasakan, baca, dan yang telah kita lakukan bisa
dengan seketika berada dalam visi-impian kita, seperti lautan
memuntahkan kembali barang-barang yang ditelannya. Aku
pernah menggendong seorang anak kecil di tengah kerusuhan
dan berbicara keras, memohon agar tentara Rusia tidak mem
bantai orang Yahudi. Aku pernah mengalami kejadian menge
rikan di Pemberontakan Sepoy dan Revolusi Perancis. Kotakota terbakar di hadapanku, dan aku telah mencoba untuk me
ngalahkan api itu hingga aku letih. Holocaust melanda dunia,
dan aku berjuang dengan sia-sia untuk menyelamatkan kawankawanku.
Dalam mimpi, pernah suatu ketika datang sebuah berita
yang menyebar melalui daratan dan lautan bahwa musim di
ngin melanda seluruh dunia dari Kutub Utara. Dan zona kutub
beralih ke daerah iklim kita yang mulanya tidak ekstrem. Kabar
itu menyebar ke mana-mana. Laut membeku di tengah-tengah
musim panas. Ribuan kapal terperangkap ke dalam es, kapalkapal besar berlayar putih. Kekayaan dari negara-negara Timur
dan hasil panen perkebunan dari Negara Barat Keemasan tak

141

Helen Keller

bisa lagi di bawa ke berbagai negeri. Selama beberapa saat, pe


pohonan dan bunga-bunga tetap tumbuh, walaupun dingin
makin menggigit. Burung-burung terbang memasuki rumahrumah mencari keamanan, dan bagi yang terlambat melepaskan
diri dari musim dingin akan terkapar di salju dengan sayap
terentang, mencoba terbang dengan sia-sia. Akhirnya deda
unan dan kembang-kembang pun bersujud di kaki musim
dingin. Kelopak-kelopak bunga menjelma menjadi batu merahdelima dan safir. Daunnya membeku menjadi batu zamrud.
Pepohonan mengerang dan melenggokkan dahan-dahannya
ketika kebekuan menusuk kulit dan nadinya, menikam sampai
ke dalam akar. Aku pun gemetar kedinginan hingga terjaga, dan
dengan gelora sukacita, kuhirup berbagai bebauan pagi yang
semerbak yang terbangun oleh matahari musim panas.
Kita tak perlu berkunjung ke belantara Afrika atau rimba
India untuk berburu harimau. Kita bisa saja berbaring di tempat
tidur di antara bantal bulu angsa dan memimpikan harimau
yang sama menyeramkan seperti di alam liar. Suatu malam,
waktu masih kecil, aku mencoba melintasi taman di depan
rumah bibiku di Alabama. Ada seekor kucing berekor tebal
yang kukejar. Beberapa jam sebelumnya, kucing itu mencakar
burung kenariku di kandangnya dan menggigitnya dengan
giginya yang jahat. Aku tak bisa melihat kucing itu. Tapi pikiran
yang ada di benakku cukup nyata: Dia lari ke arah rumputan

142

Dunia Mimpi

yang tumbuh tinggi di ujung taman itu. Aku akan menyusulnya


ke sana! Dengan meraba tanaman yang memagari taman itu,
aku berlari cepat menyusuri jalan setapak. Ketika sampai di
rerumputan, si kucing baru saja meluncur memasukinya. Aku
bergegas menghampirinya dan mencoba merebut burung itu
dari gigitannya. Alangkah terkejutnya aku ketika seekor binatang
besar, bukan kucing itu, melompat keluar dari sela rerumputan.
Badannya yang berotot dan kuat berbenturan denganku. Te
linganya tegak dan bergetar oleh kemarahan. Matanya ganas.
Cuping hidungnya besar dan lembap. Mulutnya menyeringai
sangat mengerikan. Aku tahu itu seekor harimau, benar-benar
harimau hidup. Seharusnya ia menerkammu bersama burung
kecilku. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Hal penting
selanjutnya jarang terjadi di dalam mimpi.
Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat mimpi yang me
ninggalkan kesan sangat mendalam. Bibiku sedang menangis
karena ia tak dapat menemukanku. Tetapi, dengan nakal aku
merasa senang melihat bibiku yang menangis dan orang-orang
yang mencariku. Aku membuat banyak kegaduhan yang bisa
kurasakan melalui kakiku. Namun tiba-tiba, perasaan nakal itu
tergantikan oleh kekhawatiran dan rasa takut. Aku merasa dingin
udara berasa seperti es dan garam. Aku mencoba berlari. Tetapi
rumput yang tumbuh subur menjegalku. Aku jatuh tertelungkup.
Aku tergeletak tak bergerak, merasakan dengan seluruh tu

143

Helen Keller

buhku. Beberapa saat kemudian sepertinya semua sensasi ter


konsentrasi di jemariku, dan kurasakan helai-helai rumput
itu setajam pisau yang dengan kejamnya menyakiti tanganku.
Aku mencoba bangkit perlahan dan berhati-hati supaya tidak
teriris rumput tajam itu. Perlahan-lahan kulangkahkan kakiku,
seperti anak kucing yang baru pertama kali melangkah di hutan
rimba halaman belakang rumahku. Seketika kudengar langkah
mengendap-endap, ada yang merayap ke arahku. Aku tak tahu
persis bagaimana ide itu terbentuk di benakku; aku tak punya
kata untuk niat dan tujuan. Namun, justru yang menakutkanku
adalah niat jahat yang kurasakan, bukan binatang yang merayap
mendekatiku. Aku sebenarnya tidak takut pada makhluk hidup.
Aku menyukai binatang-binatang peliharaan ayahku, anjinganjingnya, anak kudanya yang lincah, sapinya yang lembut,
kuda-kudanya yang suka makan apel dari tanganku, dan tak ada
satu pun yang pernah mencederaiku. Aku bertiarap, menanti
dengan menahan napas ketakutan, menunggu makhluk itu
menerkam dan menancapkan cakarnya ke tubuhku. Aku ber
pikir, Pasti cakarnya seperti cakar kalkun. Lalu sesuatu yang
hangat dan basah menyentuh wajahku. Aku menjerit, tanganku
kudorongkan ke depan, lalu aku terbangun. Masih ada sesuatu
yang menggeliat di lenganku. Aku memeluknya erat dengan
segala kekuatanku hingga aku kecapekan dan melonggarkan
pelukanku. Lalu kutemukan Belle, anjing setter tua yang ku

144

Dunia Mimpi

sayangi; ia mengibaskan tubuhnya dan memandangku dengan


jengkel. Tadi kami sama-sama tertidur di karpet, dan kemudian
berkelana ke hutan mimpi di mana anjing dan gadis cilik
pergi berburu dan mengalami petualangan-petualangan ajaib.
Di sana kami bertemu dengan pasukan peri jahat di mana
dibutuhkan kemampuan taktis si Belle, yang bertindak sebagai
seorang putri dan pemburu, untuk melepaskan diri. Belle juga
mempunyai mimpinya sendiri. Kami dulu suka berbaring di
bawah pepohonan dan bunga-bungan di kebun itu, dan aku
suka tertawa girang bila selembar daun magnolia jatuh dengan
hentakan halus, dan Belle melompat bangun karena ia mengira
telah mendengar seekor burung dara. Ia akan mengejar daun itu,
mengambilnya, membawanya kepadaku, lalu meletakkannya di
kakiku sambil dengan gembira mengibas-ngibaskan ekornya,
seakan-akan berkata: burung seperti ini yang membangunkan
tidurku. Aku suka membuat kalung untuknya dari bunga Pau
lownia yang cantik dan menyelimutinya dengan daun-daun
yang berbentuk hati.
Si Belle tersayang sekarang sudah berada di surga anjing,
bermimpi di antara bunga-bunga teratai dan popi.
Ada beberapa mimpi yang menghantuiku sejak kecil.
Ada satu mimpi yang berulang kali kumimpikan dan biasanya
seperti ini: Ada roh melintas di depan wajahku. Aku merasakan
hawa yang sangat panas seperti semburan panas dari sebuah

145

Helen Keller

mesin. Ini adalah perwujudan dari rasa kejahatan. Mimpi ini


mulai ada sejak hari ketika aku pernah hampir terbakar.
Roh lain yang sering mengunjungiku sering membawa
sensasi dingin yang lembap, seperti yang biasa kita rasakan
pada malam-malam dingin bulan November ketika jendela
terbuka. Roh itu berhenti tepat di luar jangkauan tanganku,
berayun-ayun seperti makhluk yang sedang berdukacita. Da
rahku mendingin dan seakan membeku di urat nadiku. Kucoba
untuk bergerak, tetapi tubuhku kaku, dan aku bahkan tak bisa
berteriak. Tak lama kemudian, roh itu berlalu, dan dengan
gemetar aku berkata kepada diriku sendiri. Itu pastilah Sang
Maut! Jangan-jangan ia sudah diambil. Yang kumaksud dengan
ia di sini adalah guruku.
Di dalam mimpi, aku mengalami sensasi, bau, rasa, dan
gagasan-gagasan yang dalam kehidupan nyata aku tak ingat
apakah pernah memilikinya. Mungkin ini adalah kilasan-kilasan
yang ditangkap pikiranku melalui tirai tidur dari masa balitaku.
Aku pernah mendengar suara air berkecipak. Kadang-kadang
seberkas cahaya indah mengunjungiku dalam lelap. Alangkah
kemilau dan menakjubkan! Kupandangi terus sampai akhirnya
sirna. Kemampuanku dalam membau dan merasakan sama
besarnya seperti dalam keadaan jaga. Tetapi indra peraba me
mainkan peranan yang lebih kecil. Dalam tidur aku hampir tak
pernah meraba. Tak ada yang menuntunku. Bahkan pada jalanan

146

Dunia Mimpi

yang padat pun, aku mandiri. Aku mengalami kemerdekaan


yang tak pernah kurasakan dalam kehidupan fisikku. Sekarang
aku hampir tak pernah mengeja dengan jemariku. Pikiranku
bertindak terlepas dari organ-organ fisikku. Aku sangat bahagia
bisa mengalami kemerdekaan ini, walaupun hanya dalam mim
pi. Sebab, saat itu jiwaku mengenakan kasut terbangnya, dan
dengan penuh sukacita bergabung dengan makhluk-makhluk
ceria lainnya yang bersemayam di tempat yang berada di luar
jangkauan tubuh.
Ketidakkonsistenan moral dari sebuah mimpi sangatlah
nyata. Pada diriku, pengalaman-pengalaman dalam mimpi se
makin lama semakin tidak sejalan dengan prinsip-prinsipku
tentang apa yang benar. Setiap malam aku terlempar ke dalam
beragam pertentangan yang tidak etis. Aku harus membela
yang satu sampai tetes darah penghabisan atau mengutuknya
dan tak pernah mengampuninya. Aku melakukan pembunuhan
dalam tidur, untuk menyelamatkan jiwa orang lain. Kepada
orang-orang yang kusayangi aku telah melakukan tindakan
keji dan mengucapkan kata-kata yang membuatku sangat sedih
bila mengingatnya. Juga kulontarkan berbagai celaan terhadap
mereka. Untunglah, demi kewarasan pikiran kita, mimpi-mimpi
yang paling jahat cepat terlupakan. Kematian yang mendadak
dan mengerikan, cinta yang aneh, dan kebencian yang dirasakan
tanpa sesal, pembalasan dendam yang direncanakan dengan

147

Helen Keller

sangat culas, semuanya itu hanya menjadi kenangan samarsamar di pagi hari. Di siang hari, semuanya akan terhapuskan
oleh kegiatan berpikir yang normal. Ada juga mimpi-mimpi yang
langsung terlupakan ketika kita terbangun. Aku pernah merasa
sangat sebal terhadap kenangan akan suatu pertentangan dalam
mimpi, sehingga aku berharap tak akan pernah bermimpi lagi.
Tetapi ketika tidur, aku kembali lagi memasuki kekacauan alam
mimpi.
Ah, mimpi Tuduhan apa yang telah kutudingkan ke
padamu? Mimpi adalah suatu hal yang paling sia-sia yang bisa
kubayangkan. Peniru yang nakal, pembuat kontras-kontras yang
menyebalkan, burung pembawa kabar buruk yang menghantui,
gema-gema yang mengejek, pembawa kenangan yang tidak
pada waktunya, kejengkelan-kejengkelan yang berulang kali
kembali, kerangka di kursi malasku, pelawak di kuburan, kepala
mayat di pesta pernikahan, pelanggar hukum otak yang setiap
malam menantang pekerjaan polisi pikiran, pencuri buah apel
Hesperidian-ku, penghancur kedamaian domestikku, pembu
nuh tidur. Ah, kau, mimpi buruk yang menakutkan jiwaku!
Tidaklah mengherankan jika Hamlet memilih penyakit yang
dikenalnya daripada berhadapan dengan risiko sebuah visimimpi.
Namun demikian, jika dunia mimpi kita hilangkan, sulit
dibayangkan perasaan kehilangan yang bakal terjadi. Mantra

148

Dunia Mimpi

sihir yang menjalin puisi akan hancur. Keagungan seni dan


kehebatan imajinasi yang melambung tinggi akan berkurang,
karena tak ada lagi bayang-bayang senja dan bunga-bunga
abadi yang mendorong kita menuju sebuah tujuan. Akan hilang
juga persetujuan dan kerja sama yang senyap, yang membuat
jiwaku berani mencela keterbatasan ruang dan waktu, yang
meramalkan dan mengumpulkan hasil karya pencapaian dari
masa-masa mendatang. Bila mimpi dihapuskan, mereka yang
buta akan kehilangan salah satu dari sumber hiburan utama
mereka. Karena dalam penglihatan kala tidurnyalah mereka
percaya pada kemampuan pikiran mereka untuk melihat, dan
di sana pula ada harapan tentang cahaya di luar batasan sempit
yang bisa diberikan oleh malam. Bukan itu saja! Konsep kami
tentang keabadian akan terguncang. Iman, yang merupakan
motivasi penggerak kehidupan manusia, akan meredup dan
mati. Dibandingkan kekosongan dan kehampaan itu, lebih baik
kami menerima guncangan dari dunia yang kacau di dalam
mimpi. Pada kenyataannya, mimpi membawa bagi kami suatu
pikiran yang terlepas dari siapa dan bagaimana kami, hingga
jiwa akan mampu meluruskan sifatnya, menebarkan layar
lebar dengan tali-temali yang lebih panjang, dan meluncur
dengan sukacita menuju ketakterbatasan.

149

Helen dan Anne Sullivan tengah bermain catur.

Mimpi membawa bagi kami suatu pikiran


yang terlepas dari siapa dan bagaimana
kami, hingga jiwa akan mampu meluruskan
sifatnya, menebarkan layar lebar dengan
tali-temali yang lebih panjang, dan meluncur
dengan sukacita menuju ketakterbatasan.
(Helen Keller)

14

Mimpi dan Kenyataan


Sungguh sangat menakjubkan bila kita berpikir betapa dunianyata atau dunia-jaga kita bergerak di sekitar dunia mimpi
yang samar dan tak nyata. Walaupun kita sering mengatakan
bahwa mimpi-mimpi itu tidak konsekuen, tetapi kadang-ka
dang kita menggunakannya sebagai alasan untuk tindakantindakan kita. Kita melandaskan harapan-harapan terbesar kita
kepadanya. Bukan itu saja. Kita bahkan memakainya sebagai
landasan untuk membangun kerangka dunia yang ideal. Aku
bisa mengingat beberapa puisi penuh makna, karya-karya seni
agung, atau sistem filsafat apa pun di mana tak ada bukti bahwa
fantasi mimpi menyimbolkan kebenaran yang disembunyikan
oleh fenomena.
Kenyataan bahwa di dalam mimpi kekacauanlah yang
berkuasa dan hubungan yang tidak masuk akal terjadi mem
benarkan teori Sir Arthur Mitchell dan sejumlah ilmuwan
lainnya bahwa mimpi kita tak terkendalikan dan tak terarahkan
oleh kehendak kita. Kehendakkekuatan yang mengendalikan
dan mengarahkan itumenemukan perhentian dan penyegaran

153

Helen Keller

di dalam tidur, di mana pikiran bagaikan kapal tanpa kemudi


dan kompas, yang hanyut tanpa tujuan di samudra yang belum
terjamah. Tetapi yang cukup mengherankan, khayalan dan pi
kiran-pikiran yang saling silang ini bisa ditemukan dalam pu
isi imajinatif yang agung seperti karya Spencer Faerie Queene
(Ratu Bidadari). Lamb sangat terpesona oleh analogi antara pi
kiran-dalam-mimpi-kita dengan karya imajinasi. Dalam tulis
annya tentang sebuah episode di gua Mammon, Lamb menulis:
Tidaklah cukup bila dikatakan bahwa seluruh episode ini
merupakan tiruan dari konsepsi pikiran dalam tidur. Tetapi,
meski demikian, ini adalah tiruan yang luar biasa! Biarkan
orang yang berjiwa paling romantissetelah semalaman di
hibur pertunjukan dari sebuah visi yang liar dan luar biasa
menyusun ulang pertunjukan itu di pagi hari dan memberikan
penilaian pada saat terjaga. Apa yang tampaknya melompatlompat, walaupun berhubungan, ketika diperhatikan dengan
tenang akan tampak tak masuk akal dan tak berhubungan.
Ini akan membuat kita merasa malu bahwa walaupun hanya
di dalam tidur, kita telah tertipu karena menganggap seekor
monster sebagai dewa. Transisi-transisi dalam episode ini sa
ma brutalnya dengan apa yang ada di dalam mimpi paling
fantastis; namun, walaupun demikian, penilaian kita saat kita
terjaga menyatakannya absah.

154

Mimpi dan Kenyataan

Mungkin aku mengenal lebih baik analogi antara dunia


jaga dan dunia mimpi kita dibandingkan orang lain. Sebelum
pendidikanku dimulai, aku berada dalam hidup yang seperti
mimpi abadi. Kesaksian-kesaksian orangtua dan teman-teman
yang mengawasiku dari hari ke hari adalah satu-satunya cara
bagiku untuk bisa mengetahui kenyataan yang terjadi pada
masa kecilku yang sangat tidak jelas. Kegiatan fisik untuk pergi
tidur dan kemudian bangun di pagi hari adalah satu-satunya
penanda adanya peralihan dari dunia nyata ke dunia mimpi.
Sejauh yang dapat kukatakan, tidur ataupun bangun hanyalah
bisa kurasakan dengan tubuhku. Aku tak bisa mengingat satu
proses pun yang bisa kusebut sebagai berpikir. Memang benar
bahwa sensasi fisikku sangatlah tajam; tetapi di luar hubungan
kasarnya dengan kebutuhan fisik, sensasi itu tak berhubungan
dan tak terarah. Hampir tak ada hubungannya satu sama lain;
atau hampir tak ada hubungannya denganku atau dengan peng
alaman orang lain. Pikiranyang memberikan identitas dan
keberlanjutan pada pengalamanmemasuki eksistensi tidur
dan jagaku pada saat yang bersamaan dengan bangkitnya ke
sadaran. Sebelum momen itu terjadi, pikiranku berada dalam
kondisi kacau, sensasi-sensasinya tak mempunyai arti. Kalau
pun pikiran muncul, itu pun sangat samar, tak berarti, dan
tak bisa dibuat sebagai bahan pembicaraan. Namun demikian,
bahkan sebelum pendidikanku dimulai, aku sudah bermimpi.

155

Helen Keller

Aku tahu bahwa aku pasti bermimpi karena tidak kuingat ada
jeda pada pengalaman sentuhanku. Barang-barang jatuh tibatiba. Aku merasa pakaianku terbakar atau aku terjatuh ke bak
mandi berisi air dingin. Suatu ketika aku mencium bau pisang,
dan bau itu begitu nyata di hidungku sehingga ketika pagi tiba,
sebelum berpakaian aku pergi ke lemari makan mencari pisang.
Tidak ada pisang di sana, dan tak ada bau pisang di mana pun!
Kehidupanku di masa lalu pada kenyataannya adalah mimpi
yang berlangsung terus-menerus.
Kesamaan antara keadaan jaga dan keadaan tidurku bi
sa ditandai. Di dalam keduanya aku bisa melihat, tetapi bukan
dengan mataku. Aku mendengar, tetapi bukan dengan telingaku.
Aku berbicara dan diajak berbicara, tetapi bukan dengan bunyi
suara. Aku terpesona oleh keindahan yang tak terungkapkan
dengan kata, yang tak pernah kusaksikan di dunia fisik. Pernah
sekali dalam mimpiku, aku memegang sebutir mutiara. Apa
yang kulihat dalam mimpi itu pastilah hasil imajinasiku. Mutiara
itu halus dan berbentuk kristal yang sangat mempesona. Ketika
kutatap kemilaunya, jiwaku dilanda kebahagiaan yang lembut.
Aku dipenuhi perasaan takjub seperti seseorang yang untuk
pertama kalinya menatap sejuk manisnya bunga mawar.
Mutiaraku itu seakan embun dan api, lembutnya hijau beludru
lumut, halusnya putih bunga lili, dan sulingan warna dan
keindahan ribuan mawar. Bagiku, jiwa dari keindahan terlebur

156

Mimpi dan Kenyataan

dalam inti kristalnya. Keindahan penglihatan ini memperkuat


keyakinanku bahwa dunia yang dibangun oleh imajinasi dari
pengalaman dan gagasan yang tak terhitung jumlahnya jauh
lebih indah daripada dunia yang dapat diindra. Keindahan
matahari terbenam yang dilihat oleh kawanku, yang melintasi
bukit lembayung, memang luar bia
sa. Namun matahari terbenam di
dalam mata batinku membawa suka
cita yang lebih murni, karena itu
merupakan perpaduan dari berbagai
keindahan yang kita ketahui dan has
rati.
Aku yakin bahwa aku lebih ber

Sebuah mimpi
bahagia lebih
berharga daripada
emas dan permata.

untung dalam pengalaman mimpiku


dibandingkan orang lain. Karena,
bila kuingat-ingat semua mimpiku,
kebanyakan adalah mimpi yang me
nyenangkan, walaupun kita umum
nya lebih mengingat dengan jelas dan
lebih suka menceritakan kembali petualangan-petualangan
Alam Mimpi yang mengerikan dan fantastis. Namun demikian,
ada beberapa temanku yang mimpi-mimpinya selalu menggeli
sahkan. Mereka terbangun dengan tubuh yang letih dan pegal,
dan mereka menyatakan padaku bahwa kerajaan pun akan

157

Helen Keller

mereka serahkan bila mereka bisa mendapat satu malam untuk


tidur tanpa mimpi. Ada juga seorang teman yang bilang bahwa
ia belum pernah mendapat mimpi yang menyenangkan. Perju
angan dan kekhawatiran sehari-hari menyerbu alam mimpi
dan membuatnya letih dengan upaya-upaya yang tak berke
sudahan dan tak membawa hasil. Aku kasihan pada temanku
yang satu ini, dan mungkin memang tak adil untuk mence
ritakan indahnya bermimpi kepada orang sepertinya, di mana
pengalaman-mimpinya begitu tak menyenangkan.
Tapi, sungguh, mimpi indah dan mimpi burukku sama
banyaknya. Semua kerinduanku akan hal-hal aneh, yang men
cengangkan, yang seperti hantu, dipuaskan oleh mimpi-mim
piku. Mimpi-mimpiku membawaku keluar dari tempatku
yang biasa dan membosankan. Sekilas, dalam sekejap, direng
gutnya beban dari pundakku, tugas-tugas dari tanganku, serta
kesedihan dan kekecewaan dari hatiku. Dan bisa kupandang
wajah jelita dari mimpiku. Ia menari mengelilingiku dengan
ceria, melompat ke sana-kemari dengan sukacita yang lepas.
Keanehan-keanehan yang manis tiba-tiba muncul di setiap su
dut, dan kejutan-kejutan yang menyenangkan kutemui di setiap
kelokan. Sebuah mimpi bahagia lebih berharga daripada emas
dan permata.
Aku senang berpikir bahwa di dalam mimpi kita bisa
mengintip sebuah kehidupan yang lebih agung daripada kehi

158

Mimpi dan Kenyataan

dupan kita sendiri. Kita memandangnya dari mata seorang anak,


atau orang liar yang berkunjung ke masyarakat beradab. Pikiran
yang dikomunikasikan kepada kita jauh di atas kemampuan kita
berpikir. Perasaan yang jauh lebih agung dan bijaksana daripada
apa yang kita biasanya tahu menggetarkan kita di sela-sela detak
jantung kita. Dalam waktu satu malam yang sangat singkat,
perasaan luar biasa menguasai kita, dan kita menjelma menjadi
sebesar aspirasi kita. Aku yakin kita kembali pada dunia kecil
kita yang penuh dengan kegiatan sehari-hari dengan membawa
separuh ingatan yang samar-samar. Sama seperti orang Afrika
yang baru saja berkunjung ke Inggris. Dan ketika ditanya ten
tang kunjungannya, ia akan mengatakan bahwa dirinya telah
pergi ke sebuah bukit besar yang membawanya menyeberangi
lautan luas. Kemampuan untuk memahami pikiran kita, baik
pada saat tidur ataupun jaga, jelas sangat bergantung pada ke
mampuan khusus, keadaan, kebiasaan, dan kemampuan mental
kita. Namun, bagaimanapun sifat mimpi kita, proses mental
yang memberikan karakter kepadanya adalah analogi dari pro
ses yang terjadi ketika benak kita sedang tidak dikuasai oleh
keinginan kita.

159

Helen di usia senja.

Hanya cinta yang kuasa meruntuhkan


dinding yang memisahkan kita
dan kebahagiaan.
(Helen Keller)

15

Mimpi di Alam Jaga


Telah berjam-jam aku duduk termenung, membiarkan piki
ranku mengembara tanpa arah dan tujuan. Dengan santai aku
memperhatikan rangkaian pikiran yang datang terus-menerus,
gambaran demi gambaran. Kuperhatikan bahwa pikiranku
menciptakan berbagai hubungan, keluar-masuk, melingkarlingkar, dan terpecah menjadi berbagai alur fantasi, sama se
perti di dalam mimpi. Suatu sore, aku bermain-main dengan
urutan pikiran yang tiba-tiba mengunjungiku saat itu. Aku
lalu menuliskannya selama tiga atau empat jam, dan hasilnya
adalah sebuah catatan yang sangat mirip dengan sebuah mimpi.
Aku mendapati bahwa pikiran-pikiran yang tak berhubungan,
dan tak serupa, datang secara bersamaan. Ternyata aku telah
bermimpi dalam keadaan terjaga. Perbedaannya adalah, dalam
mimpi kala terjaga ini aku bisa menganalisis kembali rangkaian
pikiran yang tak berkesudahan itu, sementara dalam mimpi
kala tidur aku hanya bisa mengingat beberapa ide dan gambaran
saja. Aku menangkap sejumlah rangkaian yang patah dari suatu

163

Helen Keller

kumpulan dan pilihan dari pola yang tak bisa kulihat, atau
daun-daun bercahaya yang melayang dihembus angin-tidur
dari sebuah pohon yang tak bisa kukenali. Dalam lamunan saat
terjaga ini, aku yang memegang kunci dari kumpulan gagasan
itu. Catatanku mengenai hal ini adalah untuk menunjukkan
analogi apa yang eksis antara pikiran-pikiran ketika tak diarah
kan dan sifat pikiran di dalam mimpi saat kita sedang tidur.
Aku ingin menulis sebuah esai. Aku ingin pikiranku se
gar dan teratur. Dan aku ingin semua alat bantunya siap untuk
mendukung tanganku dalam tugas ini. Aku berencana untuk
menulis pengalaman-pengalaman pendidikanku, dan aku
ingin melakukan yang terbaik. Di dalam kepalaku sudah ada
rancangan kerja tentang esai ini, yang akan bersifat serius,
bijak, dan penuh ide. Lebih dari itu, esai ini akan bersifat
akademik. Kukunci diriku di ruang belajarku, dengan tekad
untuk menuliskan kisah kehidupanku pada tuts-tuts mesin ke
tikku. Bahkan aku sangat yakin, keteraturan dan kedisiplinan
pasukan Alexander the Great pun tak akan bisa menyaingi ke
teraturan rumah mentalku dan pikiranku yang disiplin. Sela
ma ini pikiranku mengalami liburan panjang, dan sekarang
aku kembali kepadanya dalam satu jam dan mendapati bahwa
bukan aku yang ada di sana. Situasiku sama dengan seorang
tuan yang bepergian ke negeri jauh dan berharap agar ketika
ia kembali keadaan rumahnya masih akan sama seperti ketika

164

Mimpi di Alam Jaga

ia meninggalkannya. Tetapi ketika kembali, ia menyaksikan


pembantunya menggelar pesta di rumahnya. Keadaannya sa
ngat kacau. Ada yang bermain musik dan menari, ada yang
berceloteh dalam berbagai bahasa, sehingga suara sang tuan tak
dapat terdengar. Walaupun ia berteriak dan mengetuk keraskeras, pintu rumahnya tetap tertutup.
Demikian halnya denganku.
Kutiup terompet dengan keras sela
ma beberapa saat. Tetapi pasukan pi
kiranku tak juga berkumpul di bawah
panji-panji
ku. Masing-masing dari
mereka merangkul pasangannya yang
cantik, dan aku tak mengenal irama
liar put life and mettle into their heels.

Dalam mimpi kala


terjaga ini aku
bisa menganalisis
kembali rangkaian
pikiran yang tak
berkesudahan itu.

Tak ada yang bisa kulakukan. Aku


memandang sekelilingku. Aku meng
amati para pengikutku dengan putus
asa. Dan, aku menyadari bahwa yang
penting bukanlah apa yang kita punyai, melainkan kemampuan
kita dalam memanfaatkannya. Akhirnya aku duduk manis di
kursiku dan menonton pertunjukan itu. Aku pun merasa senang
duduk di sana, tidak melakukan apa-apa, hanya mengawasi
pikiranku sendiri bermain-main. Seperti memikirkan hal-hal
yang menarik untuk dikatakan tanpa harus bersusah payah me

165

Helen Keller

nuliskannya. Aku merasa seperti Alice di negeri asing ketika ia


berlari cepat bersama Ratu Merah, tanpa melewati apa pun, dan
tak pernah sampai ke mana pun.
Pesta ceria ini berlangsung terus dan gila-gilaan. Para pe
narinya adalah pikiran-pikiranku sendiri. Ada pikiran yang
sedih, ada yang senang. Ada pikiran yang cocok untuk berbagai
musim dan cuaca, pikiran untuk semua umur dan negara.
Ada pikiran konyol dan bijaksana. Ada pikiran tentang orangorang, barang-barang. Ada pikiran yang kekanak-kanakan. Ada
pikiran yang besar dan agung. Semuanya berayun, berputar,
bergandengan tangan. Seorang pelawak lucu berpakaian hijau
dan emas memandu tarian pikiran-pikiranku. Tamu-tamunya
tak mengikuti aturan atau contoh apa pun. Tak ada pikiran yang
saling berhubungan. Bahkan tak ada aliansi internasional di an
taranya. Setiap pikiran bertindak seakan-akan dirinya adalah
sebuah puisi yang baru tercipta.
Mulutnya tak bisa dibukanya,
Tapi dari sana melayang keluar suatu rupa.

Lirik magis? Oh, seandainya saja kutuliskan semuanya!


Dengan cara yang tak teratur mereka muncul melalui jalan
raya benakku yang biasanya sangat tertutup. Dengan lagu dan
teriakan kemabukan, mereka datang. Tak akan pernah ada la

166

Mimpi di Alam Jaga

gi yang menyaksikan kekacauan yang lebih membingungkan


daripada ini.
Pejamkanlah matamu dan saksikan mereka munculpara
kesatria dan para putri yang kusayangi. Mereka datang dengan
hiasan bulu burung dan berturban, berbaju zirah dan berpakai
an sutra. Gadis-gadis lembut berbaju abu-abu. Pangeran-pa
ngeran ramah dengan jubah merah. Si centil dengan mawar
merah di rambutnya. Pendeta-pendeta dengan jubah bertudung
yang bisa menyelubungi menara Minster. Gadis-gadis kecil yang
malu-malu memeluk boneka kertasnya. Anak-anak sekolah
berpipi tembam. Profesor linglung yang membawa sepatu
yang terkempit di ketiaknya dan kelihatan sangat bijaksana,
diikuti oleh nenek sihir, peri, kurcaci dan pasukan yang baru
dilepaskan dari perahu Nuh yang selama ini terombang-ambing
dihantam badai. Mereka berjalan, melenggang, melayang, dan
berenang. Beberapa ada yang datang melewati api. Seorang
peri sungai memanjat ke bulan, menaiki tangga yang terbuat
dari dedaunan dan embun beku. Seekor merak berparuh besar
terbang di sela-sela dahan pohon delima dan mematuk-matuk
buahnya yang kemerahan. Lalu ia menjerit begitu keras, hingga
Apollo di keretanya yang berapi berpaling; dari busurnya yang
mengkilap ia pun membidikkan sebatang panah ke arah merak
itu. Namun bidikan ini sama sekali tak membuat si merak ter
ganggu. Ia membentangkan sayapnya yang bak permata dan

167

Helen Keller

memamerkan ekornya yang indah berujungkan api ke muka si


dewa matahari!
Lalu datanglah Venus, persis seperti patung yang ku
punyai, agung, bermata teduh, menari kalem dan berwibawa
seperti Ratu Elizabeth, dikelilingi pasukan Cupid yang manis
berpipi merah dan mengendarai awan bersemu merah muda,
berayun ke sana-kemari ditiup angin semilir, sementara di se
kitarnya menari-narilah bunga-bunga dan sungai-sungai dan
pohon ceri Jepang yang aneh yang ditanam di dalam pot! Di
belakang mereka datanglah si Pan dengan rambutnya yang hi
jau dan sandalnya yang berhiaskan permata; dan di sisinya,
hampir aku tak dapat mempercayai penglihatanku sendiri,
berjalanlah seorang biarawati sederhana yang memutar rosa
rionya. Di kejauhan tampaklah tiga penari bergandengan ta
ngan: komentar yang kurus kelaparan, lawakan yang gemuk
dan berlesung pipit, dan khotbah tentang nasib. Tak jauh dari
mereka datanglah serangkaian Malam dengan rambut terurai
oleh angin dan Hari-hari dengan ranting-ranting kering di
punggungnya. Segera kulihat juga tubuh tambun Kehidupan
bangkit di antara kerumunan itu, memegang bayi telanjang di
satu tangannya dan pedang di tangan lainnya. Seekor beruang
berada di dekat kakinya, dan di sekelilingnya berputaran dan
berkilauan jutaan atom yang bersama-sama menyanyi: Kami
adalah kehendak Tuhan. Atom kawin dengan atom. Zat kimia

168

Mimpi di Alam Jaga

kawin dengan zat kimia. Dan tarian kosmis itu pun terus ber
langsung dengan aturan yang berubah dan tak berubah, se
hingga kepalaku menjadi pening dan berdenging.
Ketika baru saja hendak meninggalkan peragaan batin
ini untuk berjalan ke kebun yang tenang di dunia mimpi, aku
melihat ada keramaian di salah satu pintu masuk dari Istana Pe
sonaku ini. Jelas nyata dari bisik-bisik dan desas-desus bahwa
ada orang terkenal yang baru tiba. Tokoh yang pertama kulihat
adalah Homer, yang sudah tidak buta lagi. Ia membawa rantai
emas dan menarik kapal-kapal beranjungan putih orang-orang
Achaia yang mengangguk-anggukkan kepala dan berceloteh
seperti segerombolan angsa putih. Plato dan Mother Goose,
bersama anak-anak yang hidup di dalam sepatu, menyusul di
belakangnya. Simple Simon, Jill, Jack yang kepalanya sudah
diobati, dan si kucing yang jatuh ke dalam krimnama-nama
itu adalah tokoh-tokoh dongeng dari lagu kanak-kanak dalam
buku Mother Goosemenari-nari, berputar-putar, sementara
Plato dengan tenang memberikan pelajaran tentang hukum di
negeri Jungkir Balik. Setelah itu tampil si Calvin yang berwajah
angker dan Sappho yang berwajah manis dan bermahkota ungu,
yang menari tarian Schottische. Aristophanes dan Moliere juga
bergabung untuk meramaikan suasana, keduanya berbicara se
cara bersamaan. Moliere berbahasa Yunani dan Aristophanes
berbahasa Jerman. Menurutku ini aneh, karena Jerman adalah

169

Helen Keller

bahasa mati sebelum Aristophanes lahir. Shelley yang bermata


bening membawa seekor burung gereja yang mengepak-nge
pakkan sayapnya; ia lalu menyanyikan lagu chanticleer-nya
Chaucer. Henry Esmond mengulurkan tangannya untuk meng
ajak Diana dari Crossway untuk berdansa. Sepertinya Henry
tidak memahami lelucon Diana dari abad ke-19; sehingga ia
tidak tertawa. Atau mungkin ia hanya tak berselera lagi melihat
wanita-wanita yang cerdas. Anon Dante dan Swedenborg datang
bersama-sama sambil berbincang dengan asyiknya tentang halhal yang jauh dan mistis. Swedenborg bilang bahwa udaranya
sangat hangat. Dante menjawab bahwa ada kemungkinan hujan
turun di malam hari.
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat ramai, dan ternyata
Pertarungan Buku baru saja dimulai kembali. Dua tokoh ter
libat dalam perdebatan seru. Yang satu berpakaian sederhana
buatan tangan, yang satu lagi memakai jubah ilmuwan di atas
jas yang campur-aduk. Dari percakapan mereka aku bisa tahu
bahwa mereka adalah Cotton Mather dan William Shakespeare.
Mather menuntut agar para tukang sihir dalam Macbeth ditang
kap dan digantung. Shakespeare menjawab bahwa mereka sudah
cukup menderita di tangan para kritikus sastra. Lalu muncul
dua belas kesatria Meja Bundar yang mendorong kedua orang
itu ke samping; mereka berbaris sambil membawa baki yang di
atasnya duduk si angsa yang bertelur emas. Kuda Sang Paus

170

Mimpi di Alam Jaga

dan Lembu Emas mengadakan pertempuran antara sejarah


dan fiksi, seperti yang sering kubaca di buku-buku tetapi yang
belum pernah kusaksikan sendiri. Binatang-binatang kecil ini
kemudian dibikin lari berhamburan oleh seekor gajah besar yang
berjalan masuk dan Rudyard Kippling duduk di atas belalainya.
Gajah itu kemudian berubah menjadi sebuah rakish craft (aku
tidak tahu apa itu rakish craft, yang jelas bentuknya sangat aneh
dan memang sangat cerdik). Mungkin dulu ditelantarkan oleh
para bajak laut liar dari laut Selatan; karena kulihat seorang pria
bermata tajam dan berjaket beludru bergantungan di temalinya
dan dengan gembira bersorak ketika kapal itu tenggelam. Ketika
kapal itu hampir hilang dari penglihatan, Falstaff bergegas me
nyelamatkan nakhodanya yang kesepian dan kemudian men
copet dompetnya. Namun Miranda membujuknya untuk
mengembalikan dompet itu. Stevenson berkata: Siapa yang
mencuri dompetku, maka ia mencuri sampah! Falstaff tertawa
dan bilang bahwa itu lelucon yang sangat lucu, sama lucunya
dengan lelucon yang pernah ia dengar pada zamannya.
Dan ini menjadi sinyal bagi keluarnya sekumpulan ku
tipan bijak. Kutipan-kutipan itu bergegas, maju-mundur: se
gerombolan frasa awal setengah-jadi, kalimat-kalimat yang
terpenggal, perasaan-perasaan yang dijadikan parodi, dan me
tafora-metafora yang luar biasa. Aku tak bisa membedakan
frasa-frasa atau gagasan-gagasan buatanku sendiri dengan

171

Helen Keller

buatan orang lain. Aku melihat sebuah kalimat yang miskin,


compang-camping, dan menciutkemungkinan adalah milik
kuyang menangkap sayap-sayap gagasan yang baik dengan
cahaya jenius bersinar seperti cahaya halo di kepalanya.
Di sana-sini, berkali-kali para penari berganti pasangan
tanpa undangan atau permisi. Pikiran-pikiran saling jatuh cinta
pada pandangan pertama, kemudian langsung menikah, dan
bergandengan tangan tanpa berkencan terlebih dulu. Ketidak
serasian pada perkawinan dua pikiran yang tak pernah berken
can secara wajar sebelumnya, dan perkawinan tanpa rayuan ini,
tentu saja kemungkinan besar akan menimbulkan percekcokan
internal. Bahkan bisa mengakibatkan perpecahan keluargakeluarga terhormat. Di antara pasangan-pasangan baru itu
adalah perkawinan antara dua kata benda yang sebelumnya
kukuh dalam kesendiriannya dan sangat dihormati orang. Per
temuan mereka yang dahsyat ini hampir saja mengacaukan
tarian. Untunglah mereka sendiri kemudian menyadari ko
nyolnya penyatuan mereka, lalu kembali berpisah. Bentukbentuk kata yang lain kelihatannya memiliki kebiasaan hidup
dalam ketidakharmonisan. Sudah terlalu sering mereka kawincerai. Mereka tergabung di dalam kelompok bereputasi jelek
bernama Metafora Campuran.
Segerombolan bayangan melayang-layang, keluar-masuk.
Mereka mengenakan kostum pelupaan yang menarik perha

172

Mimpi di Alam Jaga

tian. Mereka seakan-akan ingin menari, tetapi kemudian meng


hilang. Mereka muncul lagi beberapa kali, tetapi tak pernah
menyingkapkan tabir wajahnya. Si bandel Keingintahuan ber
kata kepada Kenangan: Mengapa mereka melarikan diri? Ini
ketidakjujuran yang mengherankan! Lalu Kenangan pun ber
lari menangkap mereka. Setelah kejar-kejaran beberapa saat,
sambil terengah-engah dan saling tabrak, ia berhasil menangkap
beberapa pelarian itu dan membawa mereka masuk. Tetapi
ketika akhirnya topeng mereka hendak dilepaskan, ternyata
beberapa di antara mereka sangat mengecewakan sebab tak
ada keistimewaannya sama sekali, dan yang lain hanyalah ku
tipan-kutipan liar yang mencoba menyembunyikan tandatanda bacanya. Kenangan menjadi sangat kecewa, sebab ia
telah bersusah-payah mengejar dan menangkap mereka yang
ternyata hanya gerombolan pengacau tak berarti.
Di tengah-tengah gegap gempita itu, empat raksasa
agung melangkah masuk. Mereka adalah Sejarah, Filsafat, Hu
kum, dan Kedokteran. Mereka tampak terlalu anggun untuk
bergabung dalam pesta-pora ini. Namun, ternyata, ketika ku
perhatikan, raksasa-raksasa perkasa ini kemudian memecahmecah dirinya menjadi fragmen-fragmen yang kemudian mu
lai menari berputar, menari dalam divisi, subdivisi, re-subdivisi,
dari omong kosong ilmu pengetahuan! Sejarah pecah menjadi
Filologi, Etnologi, Antropologi, dan Mitologi. Ini pun masih

173

Helen Keller

memecah-mecah diri menjadi bagian-bagian yang lebih kecil


lagi. Setiap kejuruan memeluk pengetahuannya sendiri dan
berdansa berputar-putar. Sementara itu yang lain mulai ter
kantuk-kantuk dan aku pun mulai lelah. Untuk mengakhiri
tarian yang anggun ini, pasukan peri melambai-lambaikan bu
nga poppy di atas kami semua. Pesta pun memudar, kepalaku
terkulai, dan aku tersentak. Rasa kantuk membangunkanku.
Dan di sisiku kulihat teman lamaku si Bottom.
Bottom, sapaku, aku baru saja mengalami mimpi yang
tak akan bisa dijelaskan dengan akal manusia. Aku rasa begitu.
Tak ada seorang pun bisa menjelaskannya. Tak ada mata yang
pernah melihatnya. Tak ada telinga yang pernah mendengarnya.
Tak ada tangan yang mampu mencicipinya. Tak ada lidah
yang memahaminya. Dan hati pun tak kuasa mengabarkan
bagaimana sebenarnya mimpiku itu.

174

Helen Keller meraih Academy Award untuk film biografinya,


The Unconquered, 1955.

Sayap-sayapku terlipat menutupi telinga,


Sayap-sayapku bersilang di atas mata,
Namun melalui bayangan peraknya muncul,
Dan melalui lambaian hiasannya tampil,
Serupa bentuk, serangkai suara.
(Prometheus Unbound, Shelley)

Mantra Kegelapan
I
Tak berani kubertanya kenapa kami tak diberi cahaya,
Terhempas ke pulau-pulau sepi di samudra tak terukur,
Atau bagaimana penglihatan kami membentuk visi nan indah,
Lalu pudar dan sirna, meninggalkan kami sendiri di gelap buta.
Rahasia Tuhan berdiam di kuil kami;
Dalam rahasia-Nya tak berani kumengintip. Hanya ini kutahu:
Dengan-Nya ada kekuatan, bersama-Nya ada hikmat,
Dan hikmat-Nya meletakkan kegelapan di atas jalan kami.
Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,
Dan tak lama lagi kami akan kembali
Kepada gelap yang luas dan abadi.
O Gelap! Kau yang menakutkan, tetapi manis dan suci!
Dalam ruang anggunmu, lepas dari mata manusia,
Tuhan membentuk semesta-Nya; Ia meletakkan pasak bumi,
Ia menetapkan ukurannya, membentangkan garis di atasnya;
Ia menutup laut dengan pintu-pintu, menjadikan kemegahan

177

Helen Keller

Awan-gemawan yang menyelubunginya;


Ia pun memerintah pagi, dan saksikan, kekacauan berhenti
Dengan terbitnya mentari;
Ia membagi arus untuk air yang melimpah;
Ia mencurahkan hujan ke bumi
Di atas alam lepas, di tempat tak ada manusia,
Di atas gurun tempat daun-daun lembut tak muncul,
Dan lihatlah, kehijauan marak di padang-padang,
Dan bukit-bukit berjubah keindahan!
Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,
Dan tak lama lagi kami akan kembali
Kepada gelap yang luas dan abadi.
O Gelap! Kau yang penuh rahasia tak terungkap!
Di kedalaman sunyimu, di dasar mata air tak terukur,
Tuhan membentuk jiwa manusia.
O Gelap! Kau yang penuh kasih dan mahatahu!
Bak bayang senja, pesanmu mendatangi manusia.
Kau letakkan jemari halusmu di kelopak mata yang letih,
Dan jiwanya, yang lelah dan merindu rumahnya, kembali
Ke dalam pelukmu yang tenang damai.
Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,
Dan tak lama lagi kami akan kembali
Kepada gelap yang luas dan abadi.

178

Mantra Kegelapan

O Gelap! Gelap yang bijak, menggeliat dan melesat!


Di dalam misterimu kau sembunyikan cahaya
Kehidupan jiwa.
Di tepianmu yang senyap aku berjalan tegap;
Tak cemas bahaya, walau berjalan di lembah buta.
Tak akan kukenal gelombang ketakutan
Saat Maut yang lembut membawaku ke pintu hidup,
Tatkala selubung malam terbuka,
Dan siang memancarkan cahayanya.
Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,
Dan tak lama lagi kami akan kembali
Kepada gelap yang luas dan abadi.
Jiwa lemah, yang diburu ketakutan, menolak kegelapan;
Tetapi di wajah kami yang harus berdiam dalam kelam
Berhembus angin yang berasal dari sayap-sayap malaikat,
Di sekitarnya keluar cahaya dari api yang tak kasatmata.
Tiang cahaya ajaib yang bersinar di kegelapan;
Jalan keindahan yang berkelok ke dalam dunia hitam
Menuju dunia cahaya lainnya,
Di mana tiada tabir indra yang mencegahnya dari surga.
Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,
Dan tak lama lagi kami akan kembali
Kepada gelap yang luas dan abadi.

179

Helen Keller

O Gelap! Kau yang terberkati dan tenang!


Kepada yang terbuang yang harus tinggal bersamamu,
Betapa pemurah dan ramahnya dirimu;
Dari kejamnya dunia kau lindungi ia;
Kepadanya kau bisikkan rahasia malam yang penuh misteri;
Kepadanya kau limpahkan rentang ruang yang luas,
Seperti jiwanya yang tak terbatas;
Kau anugerahkan kemuliaan kepada yang rendah;
Dengan kepakmu kau selimuti segala yang tak indah;
Di bawah sayap-sayapmu kutemukan kedamaian.
Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,
Dan tak lama lagi kami akan kembali
Kepada gelap yang luas dan abadi.

II
Pernah di kehampaan cahaya aku mengembara;
Dalam gelap aku terjerembap,
Dan ketakutan menuntun tanganku;
Kakiku tertancap ke bumi,
Cemas akan sejuta lubang.
Oleh berbagai teror malam yang menakutkan.
Kepada hari yang baru terbangun,
Kuulurkan tanganku memohon.

180

Mantra Kegelapan

Kemudian datanglah Cinta, di tangannya terbawa


Pelita yang menjadi terang langkah,
Lalu dengan lembut berkatalah Cinta: Sudahkah kau
Masuki gelap yang kaya-raya?
Sudahkan kau masuki kekayaan malam?
Carilah dalam kebutaanmu. Di sana tersimpan
Harta karun yang tak terbilang.
Kata-kata Cinta itu menyalakan semangatku.
Penuh gairah, jemariku mencari misteri-misteri itu,
Yang megah, yang suci, yang terdalam, dari segala hal,
Dan dalam ketiadaan, dengan kepekaan spiritual
Kukenali penuhnya kehidupan;
Dan pintu gerbang Hari pun terbentang lebar.
Aku tersentak oleh keriangan;
Tubuhku gemetar oleh sukacita;
Hatiku dan seluruh bumi
Bergetar oleh kebahagiaan;
Ekstase kehidupan
Melanda seluruh dunia.
Pengetahuan telah menyibak tirai surga;
Di tepian terluar kegelapan, memancarlah cahaya;

181

Helen Keller

Malam mengirimkan pilar cahaya!


Hai si buta yang tersandung gelap tanpa terang,
Saksikanlah harimu yang segar baru!
Dalam ketakpastian, berkilau bintang Pikiran;
Daya khayal memperoleh mata yang cemerlang,
Dan pikiran beroleh penglihatan yang gemilang.

III
Orang itu buta. Apa artinya kehidupan baginya?
Sebuah buku tertutup di depan wajahnya yang lelah.
Andai saja ia bisa melihat
Bintang jelita itu, dan mengetahui
Sebuah momen suci yang menggelorakan
Dan degup sukacita oleh penglihatan!
Segala penglihatan berasal dari jiwa.
Saksikanlah jiwamu terbang mengembara
Dengan semangat tak terkekang! Pernahkah kau lihat
Pikiran bersemi di wajah seorang anak buta?
Kau lihatkah pikirannya berkembang,
Seperti fajar bersuar, menggapai
Cahaya Sang Penguasa?
Itulah hebatnya mata batin kita.

182

Mantra Kegelapan

Di dunia yang luar biasa tempatku berada


Kujelajahi hidupku dengan rabaan tanganku;
Aku berbahagia ketika memahami;
Jemariku selalu ingin menyentuh bumi,
Dan meneguk keajaibannya dengan sukacita,
Menarik rasa bahagia dari bumi tercinta;
Kakiku dilimpahi suara gumaman,
Detakan, dari segala yang tumbuh berkembang.
Inilah sentuhan, yang bergetar penuh arti,
Nyala ini, udara ini,
Desir darah yang gembira ini,
Cerahnya hari di hati ini,
Hangatnya simpati di telapak tangan ini!
Kau, sentuhan buta, yang penuh kasih dan mencari,
Untukku kau buka buku kehidupan ini.
Suara-suara lirih bumi yang tak berisik
Datang dengan desirnya yang berkersik;
Kaki-kaki kehidupan yang manis dan pemalu;
Dengung selembut sutra sayap-sayap ngengat
Di atas telapak tanganku yang tertahan;
Riuh kepak sayap-sayap serangga;
Tetesan air berwarna keperakan;
Angin sepoi yang sibuk di sela rumput musim panas;

183

Helen Keller

Daun berembun beku yang melayang diayun angin;


Guyur hujan musim panas laksana kristal,
Terurapi bau tanah gembur beraroma.
Jemariku yang siaga mendengar
Curahan berbagai suara
Yang dihantarkan angin rimba.
Aku bermandikan bayangan basah
Di bawah pohon pinus, di mana udaranya sejuk
Saat hujan selesai merajuk.
Teman kecilku, si tupai yang lincah
Mengibas pundakku dengan ekornya,
Melompat dari ayun ranting satu ke ayun ranting lainnya,
Lalu kembali menikmati sarapannya di tanganku.
Ada cinta yang gembira antara aku dengannya;
Ia melonjak; detak jantungku berdansa ria;
Betapa hidup yang bergairah membuatku sukacita.
Bukankah pernah jemariku mengukir pasir
Di pantai yang bermandikan cahaya surya?
Bukankah pernah tubuhku merasakan air bernyanyi
Ketika lautan memeluknya
Dengan musiknya yang beralun-alun?
Bukankah pernah kurasakan

184

Mantra Kegelapan

Ayunan ombak di bawah perahu,


Kibaran layar,
Kencangnya tiang kapal
Hembusan liar
Dari angin berbumbu petir?
Bukankah pernah kucium bau
Sayap-sayap yang cekatan dan siap terbang
Sebelum badai menjelang?
Di sini sukacita bangkit, bercahaya;
Di sini, di geloranya hati.
Tanganku melahirkan penglihatan dan suara dari perasaan,
Indra-indra bergerak di dalam diriku tiada akhirnya;
Menautkan gerakan dengan penglihatan, bau dengan suara
Tanganku memberikan warna pada angin yang legit.
Tanganku memberikan ritme dan gairah sebuah simfoni
Pada getar sayap-sayap yang tak kasatmata.
Dalam rahasia bumi, matahari, dan udara
Jemariku sangatlah bijaksana;
Ditangkapnya cahaya dari kegelapan,
Dan terpesona pada harmoni yang meniti dalam sunyi.
Aku berjalan di hening malam,
Dan jiwaku berdendang kebahagiaan.

185

Helen Keller

O Malam, yang hening beraroma, betapa kumencintaimu!


O Malam, yang luas lempang, betapa kumencintaimu!
O Malam, yang setia dan agung!
Kusentuh kau dengan tanganku;
Aku bersandar pada kekuatanmu;
Dan kutemukan damai di dalammu.
O Malam yang tiada batas dan indah!
Kaulah pelipur jiwaku yang resah
Aku bersemayam lega di pelukmu
O Ibu yang gelap dan penuh kasih!
Bagai merpati, aku beristirahat di dadamu.
Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,
Dan tak lama lagi kami akan kembali
Kepada gelap yang luas dan abadi.

186