Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FORMULASI TEKHNOLOGI SEDIAAN CAIR-SEMI PADAT


CREAM
Dosen pengampu : Nurul Hidayati, S. Farm, Apt.

Disusun Oleh :

1.
2.
3.
4.
5.

Nining Shofiyyah
Nurul Fajriati
Pipta Ria Puspa D
Ratna Dian S
Ria Pangestika K W

(1404025)
(1404026)
(1404027)
(1404030)
(1404031)

PROGRAM DIII FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
MUHAMMADIYAH KLATEN
TAHUN PELAJARAN 2016/2017

A. TINJAUAN PUSTAKA
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung
satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai
(mengandung air atau tidak kurang dari 60%).

Krim ada dua tipe yakni krim tipe M/A dan tipe A/M. Krim yang dapat dicuci
dengan air (M/A), ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat
digunakan untuk pemberian obat melalui vagina.
1. Kualitas dasar krim, yaitu:
a. Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka krim harus bebas dari
inkopatibilitas, stabil pada suhu kamar, dan kelembaban yang ada dalam
kamar.
b. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi
lunak dan homogen.
c. Mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi adalah yang paling mudah dipakai
dan dihilangkan dari kulit.
d. Terdistribusi merata, obat harus terdispersi merata melalui dasar krim padat
atau cair pada penggunaan (Anief, 1994).
2. Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asamasam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air
dan lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetika dan estetika. Ada dua tipe krim,
yaitu:
a. Tipe a/m, yaitu air terdispersi dalam minyak :
Contoh : cold cream
Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih,
berwarna putih dan bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral oil
dalam jumlah besar.
b. Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi dalam air
Contoh: vanishing cream
Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk
maksud membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing
cream sebagai pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film
pada kulit.

a.
b.
c.
d.
e.
f.

3. Kelebihan Dan Kekurangan Sediaan Krim


Kelebihan sediaan krim, yaitu:
Mudah menyebar rata
Praktis
Mudah dibersihkan atau dicuci
Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat
Tidak lengket terutama tipe m/a
Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m

g. Digunakan sebagai kosmetik


h. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun.
Kekurangan sediaan krim, yaitu:
a. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan
panas.
b. Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas.
c. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu sistem
campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan
komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan.
4. Bahan-bahan Penyusun Krim
Formula dasar krim, antara lain:
a. Fase minyak, yaitu bahan obat yang larut dalam minyak, bersifat asam.
Contoh : asam stearat, adepslanae, paraffin liquidum, paraffin solidum,
minyak lemak, cera, cetaceum, vaselin, setil alkohol, stearil alkohol, dan
sebagainya.
b. Fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa.
Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras), Trietanolamin/ TEA, NaOH,
KOH, Na2CO3, Gliserin, Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol, Surfaktan (Na
lauril sulfat, Na setostearil alkohol, polisorbatum/ Tween, Span dan
sebagainya).

a.
b.
c.
d.
e.

5. Bahan-bahan penyusun krim, antara lain:


Zat berkhasiat
Minyak
Air
Pengemulsi
Bahan Pengemulsi
Bahan pengemulsi yang digunakan dalam sediaan krim disesuaikan
dengan jenis dan sifat krim yang akan dibuat /dikehendaki. Sebagai bahan
pengemulsi dapat digunakan emulgide, lemak bulu domba, setaseum, setil
alkohol, stearil alkohol, trietanolamin stearat, polisorbat, PEG. Sedangkan,
bahan-bahan tambahan dalam sediaan krim, antara lain: Zat pengawet, untuk
meningkatkan stabilitas sediaan.
Bahan Pengawet : Bahan pengawet sering digunakan umumnya metil
paraben (nipagin) 0,12-0,18%, propil paraben (nipasol) 0,02-0,05%. Pendapar,

untuk mempertahankan pH sediaan Pelembab. Antioksidan, untuk mencegah


ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tak jenuh.
6. Metode Pembuatan Krim
Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi.
Biasanya komponen yang tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin
dicairkan bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75C, sementara itu semua
larutan berair yang tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada
suhu yang sama dengan komponen lemak. Kemudian larutan berair secara
perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk
secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah
kristalisasi dari lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan didinginkan
dengan pengadukan yang terus-menerus sampai campuran mengental. Bila
larutan berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa
lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan
fase cair (Munson, 1991).
7. Pengemasan
Sediaan krim dikemas sama seperti sediaan salep yaitu dalam botol atau tube.
8. Stabilitas Sediaan Krim
Sediaan krim dapat menjadi rusak bila terganggu sistem campurannya
terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi karena
penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe krim
jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran krim
hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok. Krim yang sudah
diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan.
9. Evaluasi Mutu Sediaan Krim
Agar system pengawasan mutu dapat berfungsi dengan efektif, harus
dibuatkan kebijaksanaan dan peraturan yang mendasari dan ini harus selalu
ditaati. Pertama, tujuan pemeriksaan semata-mata adalah demi mutu obat yang
baik. Kedua, setia pelaksanaan harus berpegang teguh pada standar atau
spesifikasi dan harus berupaya meningkatkan standard an spesifikasi yang telah
ada.
a. Organoleptis
Evaluasi organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau,
warna, tekstur sedian, konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek

responden ( dengan kriteria tertentu ) dengan menetapkan kriterianya


pengujianya ( macam dan item ), menghitung prosentase masing- masing
kriteria yang di peroleh, pengambilan keputusan dengan analisa statistik.
b. Evaluasi daya proteksi
Evaluasi ini bertujuan untuk mendeteksi apakah ada noda merah pada
kertas saring atau tidak. Jika tidak ada noda merah berarti cream memenuhi
standar.
c. Evaluasi daya sebar
Dengan cara sejumlah zat tertentu di letakkan di atas kaca yang
berskala. Kemudian bagian atasnya di beri kaca yang sama, dan di tingkatkan
bebanya, dan di beri rentang waktu 1 2 menit. kemudian diameter
penyebaran diukur pada setiap penambahan beban, saat sediaan berhenti
menyebar ( dengan waktu tertentu secara teratur ).
d. Evaluasi daya lengket
Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar daya lengket
yang dihasilkan oleh cream.
10. Pemerian Bahan
a. ACIDUM STEARICUM (FI III hal 157)
Pemerian: Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih atau
kuning pucat, mirip lemak lilin
Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol (95%),
dalam 2 bagian kloroform dan dalam 3 bagian eter
b. CERA ALBA (FI III hal 140)
Pemerian: Zat padat, lapisan tipis bening, putih kekuningan, bau khas lemah
Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%)
dingin, larut dalam kloroform, dalam eter hangat, dalam minyak
lemak dan dalam minyak atsiri
c. VASELINUM ALBUM (FI III hal 633)
Pemerian: Massa lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk, hampir tidak
berasa
Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%), larut dalam
kloroform, dalam eter dan dalam eter minyak tanah, larutan
kadang-kadang beropalesensi lemah
d. TRIETHANOLAMINUM (FI III hal 612)

Pemerian: Cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat, bau lemah mirip
amoniak, higroskopik
Kelarutan: Mudah larut dalam air dan dalam wadah etanol (95%), larut dalam
kloroform
e. PROPYLENGLYCOLUM (FI III hal 534)
Pemerian: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis,
higroskopik
Kelarutan: Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) dan dengan
kloroform, larut dalam 6 bagian eter, tidak dapat campur dengan
eter minyak tanah dan dengan minyak lemak.
f. AQUA DESTILLATA (FI III hal 96)
Pemerian: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
B. FORMULA STANDAR
Tiap 10 gram mengandung :
Asam stearate

15,0

Cera alba

Vaselin album

Trietanolamin

1,5

Propilenglikol

Aquades

65,5

S. vanishing cream base


Tiap 10 gram mengandung :
Sulfadiazine

1%

Paraffin

1%

Parfum

0,1%

Asam stearate
15,0%
C. FORMULA PENGEMBANGAN
Cera alba
2%
Vaselin album

8%

Trietanolamin

1,5%

Propilenglikol

8%

Aquades
S. Vanishing cream base

65,5%

D. ALAT DAN BAHAN


ALAT :
1. Mortir
2. Stamfer
3. Cawan Porselin
4. Kaca Arloji
5. Timbangan Elektrik
6. Pot cream
7. Sudip
8. Kompor Listrik
9. Beker Glass
10. Kertas Saring

11. Millimeter Blok


12. Penggaris
13. Anak Timbang
14. Pipet tetes
15. Alat uji daya sebar
16. Alat uji daya lengket
17. Gelas ukur
18. Batang pengaduk

BAHAN :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sulfadiazine
Paraffin liquid
Asam stearate
Cera alba
Trietanolamin
Propilenglikol

7. Aquades
8. Vaselin album / vaselin putih
9. Parfum
10. KOH 0,1 N
11. Indikator Fenolftalein

E. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN


1
a. Sulfadiazine : 100 x 10 gram + 10% = 0,11 gram
b. Paraffin liquid :

1
100

x 10 gram + 10% = 0,11 gram

c. Parfum :

0,1
100

x 10 gram + 10% = 0,011 gram

Pengambilan bahan

: Formula standar formula pengembangan


: 10 gram 0,23 gram
: 9,77 gram

Untuk enghindari kekurangan bahan karena proses pembuatan maka penimbangan


dilebihkan 10%
a. Sulfadiazine :

1
100

b. Paraffin liquid :
c. Parfum :

0,1
100

d. Asam stearate :
e. Cera alba :

2
100

1
100

x 10 gram + 10% = 0,11 gram


x 10 gram + 10% = 0,11 gram

x 10 gram + 10% = 0,011 gram


15
100

x 9,77 gram + 10% = 1,61 gram

x 9,77 gram + 10% = 0,21 gram

f. Vaselin album :

8
100

x 9,77 gram + 10% = 0,85 gram

g. Trietanolamin :

1,5
100

x 9,77 gram + 10% = 0,16 gram

h. Propilenglikol :

8
100

x 9,77 gram + 10% = 0,85 gram

i. Aquades :

65,5
100

x 9,77 gram + 10% = 7,054 gram (7,054 ml)

F. CARA KERJA
Timbang semua bahan
Lelehkan vaselin album, asam stearate, dan cera alba
Masukkan sulfadiazine dalam mortir, gerus ad halus

Tambahkan paraffin liquid

Masukkan lelehan vaselin album, asam stearate, dan cera alba, gerus ad halus

Masukkan propilenglikol dan trietanolamin yang sebelumnya sudah dilarutkan dalam


air hangat, aduk ad homogen

Tambahkan parfum dan aquadest, gerus ad homogen

Masukkan kedalam pot yang sudah disetarakan

Timbang seberat 10 gram, dan beri etiket biru

G. ETIKET
BIRU

H. PROSEDUR KONTROL KUALITAS


1. Organoleptis : Mengamati warna, bau dan bentuk.
2. Homogenitas :
Oleskan cream pada kulit
Diamati ada partikel atau tidak

Homogen atau tidak


3. Daya Lengket
Cara Kerja :
Oleskan cream pada salah satu objek glass dengan luas tertentu setipis mungkin
Letakkan objek glass lain diatas olesan hingga tertutup semua dengan posisi objek
glass terpasang di alat uji dan ekanlah dengan beban 50 gram selama 5 menit
Lepaskan beban pada alat uji sehingga kedua objek glass terpisah

Catat waktu ang dibutuhkan sampai kedua objek glass terpisah

Ulangi percobaan minimal 3 kali


4. Daya Sebar
Cara Kerja :
Timbang cream seberat 0,5 gram, letakkan ditengah alat

Timbang kaca penutup, letakkan kaca tersebut diatas massa cream danbiarkan
selama 1 menit

Ukurlah berapa diameter cream yang menyebar dengan menghitung panjang ratarata dari beberapa sisi

Tambahkan 50 gram beban diatas kaca penutup diamkan selama 1 menit dan
catatah diameter cream yang menyebar seperti sebelumnya

Teruskan penambahan beban sampai cream tidak menyebar

Gambar grafik diameter cream yang menyebar vs beban


5. Daya Proteksi
Cara Kerja :
Ambil sepotong kertas saring dengan ukuran 5 cm x 5 cm, basahi dengan larutan
feolftalein untuk indikator, setelah itu kertas dikeringkan

Olesi kertas tersebut dengan cream yang akan dicoba pada salah satu muka
seperti lazimnya orang mengunakan cream

Pada kertas saring yang lain dengan ukuran sama dibuat ditengahnya luas area
3 cm x 3 cm dibuat batas dengan arsiran parafin padat yang telah dilelehkan

Tempelkan bagian kertas dengan lelehan parain, diatas kertas yang dileskan
cream

Teteskan larutan KOH 0,1 N

Lihatah kertas yang dibasahi fenolftalein pada waktu 15, 30, 45 dan 60 detik, 3
menit dan 5 menit

Bila tiak ada noda merah berarti cream dapat memberikan proteksi terhadap
cairan KOH 0,1 N
I. HASIL PERCOBAAN
1. Organoleptis
Bau

: Mawar

Bentuk

: Semi padat

Warna

: Putih

2. Homogenitas : dioleskan pada kulit, dilihat homogen atau tidak


Sediakan krim yang dibuat homogen

3. Daya lengket
Replikasi
I
II
III
Rata-rata

Waktu
1,35 detik
1,87 detik
2,03 detik
1,75 detik

4. Daya sebar
Beban
Tanpa beban
50 g
100 g
200 g

RI
5 cm
6 cm
6 cm
6 cm

Daya sebar
R II
6 cm
7 cm
7 cm
7 cm

R III
6 cm
7 cm
7 cm
7 cm

RI
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Daya Proteksi
R II
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

R III
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Rata-rata
5,67 cm
6,67 cm
6,67 cm
6,67 cm

5. Daya proteksi
Waktu
15 detik
30 detik
45 detik
60 detik
3 menit
5 menit

Kesimpulan
Tidak
ada
noda
merah

J. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan mencoba membuat sediaan cream dan
melakukan evaluasi atau pengujian terhadap cream yang dibuat. Cream adalah bentuk
sediaan setengah padat, berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60%
dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Sediaan cream dikemas dalam pot cream.
Tujuan dari praktikum ini antara lain : praktikan mampu mengetahui formulasi yang

akan digunakan untuk membuat cream, prktikan mampu membuat cream, dan
praktikan mampu melakukan evaluasi atau pengujian terhadap cream yang dibuat
apakah sudah memenuhi standar atau belum.
Dalam praktikum ini, praktikan membuat sediaan cream berdasarkan formula
yang sudah ada di buku petunjuk praktikum. Selanjutnya Alat yang digunakan berupa
mortir dan stamfer sebagai tempat mengerus bahan-bahan yang akan dibuat.
Timbangan digunakan untuk menimbang bahan obat yang akan dibuat. Beker glass,
gelas ukur, kaca arloji digunakan meletakkan bahan obat yang sudah ukur dan
ditimbang. Pipet tetes digunakan untuk meneteskan bahan obat kedalam wadah.
Kompor listrik digunakan untuk memanaskan vaselin album yang akan dilebur.
Cawan porselen digunkan sebagai wadah vaselin album yang akan dilebur. Pot salep
digunakan untuk wadah salep yang telah dibuat. Indikator fenoftalein digunakan
untuk mengetahui apakah ada noda merah pada kertas saring atau tidak. Alat uji daya
sebar digunakan untuk menguji daya sebar pada sediaan salep yang dibuat. Alat uji
daya lengket digunakan untuk menguji daya lengket sediaan salep yang dibuat. Kertas
saring digunakan untuk menguji daya proteksi sediaan salep yang dibuat. Bahan yang
digunakan berupa sulfadiazine yang berkhasiat untuk antibakteri. Vaselin album
digunakan sebagai zat tambahan. Asam stearate digunakan sebagai zat tambahan.
Cera alba digunakan sebagai zat tambahan. Trietanolamin digunakan sebagai zat
tambahan. Propilenglikol digunakan sebagai zat tambahan atau zat pelarut. Parfum
digunakan untuk pemberi aroma pada salep.
Pada saat praktikum ini sebaiknya semua bahan harus sudah disiapkan terlebih
dahulu, karena pada proses pembuatan cream bahan-bahan yang sudah disiapkan,
harus segera dicampurkan pada saat vaselin, cera alba dan asam stearate sudah
meleleh. Jika tidak segera dicampurkan maka cream yang dibuat tidak jadi, karena
vaselin, cera alba dan asam stearate tidak bias bercampur dengan bahan lain dan lama
kelamaan akan mulai memadat lagi.
Beberapa macam evaluasi yang digunakan untuk menguji sediaan cream yang
dibuat antara lain :
a. Evaluasi pertama adalah uji organoleptis, evaluasi yang dilakukan dengan dilihat
bentuk, warna, dan bau dari sediaan cream yang dibuat tersebut. Evaluasi ini
dilakukan agar mengetahui sediaan yang dibuat sesuai dengan standar cream
yang ada, dalam arti sediaan cream tersebut stabil dan tidak menyimpang dari
standar cream.

b. Evaluasi kedua yaitu uji homogenitas. Uji ini dilakukan dengan tujuan agar
mengetahui sediaan yang dibuat homogen atau tidak, karena sediaan cream yang
baik harus homogen dan bebas dari pertikel-partikel yang masih mengumpal.
c. Evaluasi ketiga adalah uji daya lengket. Uji ini dilakukan untuk mengetahui
lamanya daya lengket sediaan cream yang dibuat. Uji ini menggunakan alat yang
bernama alat uji daya lekat.
d. Evaluasi keempat adalah uji proteksi. Uji ini dilakukan yang pada prinsipnya
untuk mengetahui sediaan cream tersebut memberikan proteksi atau tidak.
e. Evaluasi kelima adalah uji daya sebar. Uji ini dilakukan untuk mengetahui daya
sebar yang dapat ditempuh sediaan cream yang dibuat.
Berdasarakan masing masing uji diperoleh data sebagai berikut :
a. Uji organoleptis sediaan cream yaitu bentuknya semi padat, bau Oleum rosae
(mawar), warna putih.
b. Uji homogenitas, hasil yang diperoleh adalah sediaan cream yang dibuat adalah
homogen, tidak terdapat partikel yang mengumpal.
c. Uji daya lengket dengan 3 kali replikasi pengujian yang diperoleh hasil dengan
rata-rata 1,75 detik untuk daya lengket dari cream terhadap alat penguji.
d. Uji daya proteksi pada cream dilakukan dengan 3 kali replikasi pengujian pula,
untuk menimimalisir terjadinya kesalahan perolehan data. Pada rentang waktu
antara 15 detik, 30 detik, 45 detik, 60 detik, 3 menit dan 5 menit cream tidak
menimbulkan noda merah pada kertas saring yang menandakan bahwa cream ini
mampu memberikan daya proteksi.
e. Uji daya sebar, dengan 3 kali replikasi pengujian yang diperoleh terhadap luas
pemukaan cream dengan tanpa beban adalah 5,67 cm, beban 50 gram adalah 6,67
cm, beban 100 gram adalah 6,67 cm, dan pada beban 200 gram adalah 6,67 cm.
Berarti salep mampu menyebar dengan cukup luas dipermukaan kulit jika
digunakan.
K. KESIMPULAN
1. Telah dibuat sediaan cream dan tidak mengalami kesulitan.
2. Cream yang dibuat berwarna putih, berbentuk semi padat, dan berbau Oleum
Rosae (mawar).
3. Uji daya lengket cream waktu yang dibutukan sampai kedua objek terpisah ratarata 1,75 detik.

4. Rata-rata diameter pada uji daya sebar adalah 6,67 cm.


5. Uji daya proteksi cream hasilnya adalah tidak ada noda merah.
L. DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
2. Aoninm. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
3. Anief, Moh. 2006. Ilmu Meracik Obat. Universitas Gajah Mada Press.
Yogyakarta.
4. Anonym. 2016. Buku Petunjuk Praktikum Formulasi Teknologi Sediaan Cair
Semi Padat. Stikes Muhammadiyah Klaten.
5. Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. EGC. Jakarta
6. Voigt, R.1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Universitas Gajah Mada
Press.Yogyakarta.

Grafik uji daya sebar

diameter
6.67

5.67

6.67

6.67