Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pada dasarnya setiap perusahaan, baik perusahaan dagang, industri,
maupun jasa mempunyai tujuan untuk memperoleh laba yang optimal. Laba
(profit) adalah selisih jumlah yang dikeluarkan untuk membeli sumber daya yang
menghasilkan produk atau jasa tersebut dengan penerimaan hasil dari
penjualannya. Menurut Burton dalam Agnes Sawir (2005, hal 129) modal
merupakan investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek atau lancar,
termasuk di dalamnya kas, sekuritas, piutang, persediaan, dan dalam beberapa
perusahaan, biaya dibayar di muka. Hal ini menunjukkan bahwa modal adalah
keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan.
Jumlah laba bersih kerap dibandingkan dengan ukuran kegiatan atau kondisi
keuangan lainnya seperti penjualan, aktiva, ekuitas pemegang saham untuk
menilai kinerja sebagai suatu persentase dari beberapa tingkat aktivitas atau
investasi.
Adapun Faktor-faktor yang akan mempengaruhi laba bersih

suatu

perusahaan adalah meliputi pertumbuhan penjualan, perputaran aktiva, current


ratio, beban-beban operasional, tingkat hutang dan modal. (Munawir, 2002 : 64).
Modal mempunyai peranan yang sangat penting bagi perusahaan, karena
modal digunakan untuk membelanjai operasional sehari-hari perusahaan secara
langsung dan terus-menerus, berputar selama perusahaan tersebut beroperasi
sesuai dengan tujuannya memperoleh keuntungan. Untuk dapat menghindari
bahaya adanya krisis keuangan ataupun kelebihan dana, perusahaan perlu

mengatur penggunaan modalnya dengan seekonomis dan seefisien mungkin


sehingga tercipta kesesuaian antara kebutuhan dan jumlah dana yang tersedia.
Penggunaan modal dilaksanakan secara efisien berarti bahwa setiap jumlah yang
tertanam dalam modal aktif dan modal pasif harus dapat digunakan sebaik
mungkin untuk menghasilkan tingkat keuntungan investasi, karena efisien
penggunaan modal secara langsung akan menentukan besar kecilnya tingkat
keuntungan yang dihasilkan dari investasi tersebut.
Suatu perusahaan yang mempunyai earning (laba) yang stabil akan selalu
dapat memenuhi kewajiban finansialnya sebagai akibat dari penggunaan modal
asing. Sebaliknya perusahaan yang mempunyai laba yang tidak stabil akan
menanggung resiko tidak dapat membayar beban bunga atau tidak dapat
membayar angsuran-angsuran utangnya pada tahun-tahun atau keadaan yang
buruk, sehingga dapat memperkecil pendapatan.
Agus Sartono (2001:261) Modal yang digunakan adalah penggunaan
sumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan bahwa akan memberikan
tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapnya sehingga akan
meningkatkan laba perusahaan.
Modal yang digunakan menunjukkan penggunaan hutang dalam
membiayai perusahaan yang dapat mengakibatkan timbulnya resiko keuangan,
semakin besar biaya tetap finansial yang ditambahkan pada biaya tetap opersasi
(Operating Fixed Cost).
Modal kerja haruslah memadai jumlahnya,tetapi harus dijaga agar modal
kerja ini tidak sampai berlebihan. Manajemen perusahaan harus berhati-hati dalam
membuat keputusan keputusan mengenai mengenai modal kerja. sebab utama
dari kegagalan perusahaan adalah tidak mencukupinya modal kerja perusahaan,

sebaliknya dengan adanya modal kerja yang berlebihan menunjukan bahwa


terdapat dana yang tidak produktif.
Kasmir (2011, hal 250) Menyebutkan bahwa : Modal kerja adalah modal
yang digunakan untuk melakukan kegiatan operasi perusahaan atau dapat pula
diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva
jangka pendek, seperti kas, bank, surat-surat berharga, piutang, persediaan, dan
aktiva lancar lainnya.
Agnes Sawir (2005, hal, 129) Dengan modal kerja yang ada, perusahaan
diharapkan mampu menjalankan aktivitas perusahaan seperti membiayai operasi
dan juga memenuhi kewajiban perusahaannya. Dengan kata lain sebagian modal
kerja harus disediakan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya dan
kemudian digunakan untuk membiayai operasi perusahaan dalam hal memperoleh
laba.
Aktiva tetap merupakan investasi yang dilakukan perusahaan dalam
jangka panjang (lebih dari satu tahun) yang bertujuan tidak untuk dijual kembali
melainkan untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan. Aktiva tetap
menuntut pemanfaatan maksimum selama umur ekonomisnya, oleh karena itu
perlu dibentuk suatu fungsi yang memiliki tanggung jawab untuk mengatur
penggunaan, pemindahan, pemberian otorisasi dan penghentian aktiva tetap. Jika
masing-masing fungsi memiliki wewenang untuk menggunakan, memindahkan,
dan menghentikan pemakaian aktiva tetap, penggunaan aktiva tetap tidak akan
optimum, karena aktiva tetap yang menganggur di suatu fungsi tidak dapat
dimanfaatkan oleh fungsi lain.
Munawir (2004:53) Investasi aktiva tetap yang dapat disusutkan sering
kali merupakan bagian signifikan aktiva perusahaan, dimana penyusutan
karenanya dapat berpengaruh secara signifikan dalam menentukan dan

menyajikan posisi keuangan dan hasil/laba usaha perusahaan. Dengan kata lain
bahwa penyediaan aktiva tetap yang mengalami penyusutan (depresiasi) akan
mempengaruhi perusahaan dalam menentukan tingkat laba bersih suatu
perusahaan.
Tabel I.1
Data Modal Kerja, Aktiva Tetap, Dan Laba Bersih
Tahun
2010
2011
2012
2013
2014

Aktiva Lancar
1.566.650.457.397
1.815.113.154.150
2.133.046.448.310
2.262.226.208.594
194.739.685.737

Hutang Lancar
1.086.530.490.073
1.272.356.532.418
1.526.638.697.706
1.565.759.623.956
1.465.759.630.487

Aktiva Tetap
175.324.813.060
203.374.980.705
223.049.922.385
209.771.871.672
194.739.685.737

Modal Kerja
480,119,967,324
542,756,621,732
606,407,750,604
696,466,584,638
(1,271,019,944,750)

Laba Bersih
108.657.718.639
108.495.128.708
117.671.693.208
133.863.947.441
165.209.011.078

Dari tabel I.I dapat dilihat bahwa terjadi penurunan nilai laba bersih pada
beberapa tahun hal ini akan berdampak, dimana dengan kondisi ini perusahaan
akan mengalami kekurangan dalam pembayaran bunga, dividen, dan pajak
pemerintah, sementara menurut teori Hery (2012:187) menyatakan ukuran laba
bersih menggambarkan kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan profit
untuk membayar bunga kreditur, deviden, dan pajak pemerintah.
Dari data diatas terjadi penurunan nilai modal kerja sementara teori Agus
Sartono (2001:261) Modal kerja adalah penggunaan sumber dana yang memiliki
beban tetap dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang
lebih besar daripada beban tetapnya sehingga akan meningkatkan laba
perusahaan.
Demikian juga halnya pada beberapa tahun terjadi penurunan nilai aktiva
tetap sementara menurut teori Munawir (2004:53) Investasi aktiva tetap yang
dapat disusutkan sering kali merupakan bagian signifikan aktiva perusahaan,
dimana penyusutan karenanya dapat berpengaruh secara signifikan dalam
menentukan dan menyajikan posisi keuangan dan hasil/laba usaha perusahaan.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, sehingga penulis tertarik untuk


mlakukan penelitian dengan judul Analisis Modal Kerja Dan Investasi Aktiva
Tetap Dalam Meningkatkan Laba Bersih Pada PT. Tiga Raksa Medan

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka identifikasi
masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Modal kerja mengalami penurunan di beberapa tahun.
2. Aktiva tetap mengalami penurunan di beberapa tahun.
3. Laba bersih yang mengalami penurunan pada beberapa tahun

C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana modal kerja dapat meningkatkan laba bersih ?
2. Bagaimana aktiva tetap dapat meningkatkan laba bersih ?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitan


Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui dan menganalisis modal kerja dalam meningkatkan
laba bersih
2. Untuk mengetahui dan menganalisis aktiva tetap dalam meningkatkan laba
bersih.
Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Dapat memperluas pengatahuan dan wawasan peneliti mengenai masalah
modal kerja, aktiva tetap, dan laba bersih.
2. Bagi Perusahaan

Perusahaan dapat mengetahui langkah-langkah yang akan diambil dalam


mengantisipasi kegiatan usahanya berdasarkan laba yang tersedia bagi
pencapaian sasaran, sehingga diharapkan terus mengalami perkembangan
ke arah yang lebih baik sehingga dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam hal menentukan kebijakan penyediaan modal kerja
pada masa yang akan datang.
3. Bagi peneliti lain
Sebagai bahan referensi bagai para peneliti lain melakukan penelitian
mengenai Analisis modal kerja dan aktiva tetap .

BAB II
URAIAN TEORITIS

A. Uraian Teoritis
1. Laba
1.1. Pengertian Laba

Kegiatan perusahaan sudah dapat dipastikan berorientasi pada keuntungan


atau laba, menurut Soemarso (2004: 245) Laba adalah selisih lebih Penjualan atas
beban sehubungan dengan usaha untuk memperoleh Penjualan tersebut selama
periode tertentu. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan laba sejauh
mana suatu perusahaan memperoleh Penjualan dari kegiatan Penjualan sebagai
selisih dari keseluruhan usaha yang didalam usaha itu terdapat biaya yang
dikeluarkan untuk proses Penjualan selama periode tertentu.
Umumnya peusahaan didirikan untuk mencapai tujuan tertentu yaitu
memperoleh laba yang optimal dengan pengorbanan yang minimal untuk
mencapai hal tertentu perlu adanya perencanaan dan pengendalian dalam setiap
aktivitas usahanya agar perusahaan dapat membiayai seluruh kegiatan yang
berlangsung secara terus menerus.
Pengertian laba menurut Zaky Baridwan (2004: 29) Kenaikan modal
(aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang
terjadi dari badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang
mempengaruhi badan usaha selama satu periode kecuali yang termasuk dari
Penjualan (revenue) atau investasi oleh pemilik.

Sedangkan

menurut

Henry

Simamora

(2002:

45)

Laba

adalah

perbandingan antara Penjualan dengan beban jikalau Penjualan melebihi beban


maka hasilnya adalah laba bersih.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa laba berasal dari
semua transaksi atau kejadian yang terjadi pada badan usaha dan akan
mempengaruhi kegiatan perusahaan pada periode tertentu dan laba di dapat dari
selisih antara Penjualan dengan beban, apabila Penjualan lebih besar dari pada
beban maka perusahaan akan mendapatkan laba apabila terjadi sebaliknya maka
perusahaan mendapatkan rugi.
1.2. Jenis-Jenis Laba
Menurut Theodorus M. Tuanakotta (2001: 219) mengemukakan jenis-jenis
laba dalam hubungannya dengan perhitungan laba, yaitu :
a. Laba bersih
b. Laba dari operasi
c. Laba bersih
Adapun penjelasan jenis jenis laba diatas sebagai berikut :
1. Laba Kotor
Laba bersih yaitu perbedaan antara Penjualan bersih dan Penjualan dengan
harga pokok Penjualan.
2. Laba dari operasi
Laba dari operasi yaitu selisih antara laba bersih dengan total beban biaya.

3. Laba Bersih
Laba bersih yaitu angka terakhir dalam perhitungan laba rugi dimana untuk
mencarinya laba operasi bertambah Penjualan lain-lain dikurangi oleh beban
lain-lain.

1.3. Tujuan Laba


Menurut Anis dan Imam (2003 : 216) mengutarakan bahwa tujuan
pelaporan laba adalah sebagai berikut :
1)

Sebagai indikator efesiensi penggunaan dana yang tertahan dalam

2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembaliannya.


Sebagai dasar pengukuran prestasi manajemen.
Sebagai dasar penentuan besarnya perencanaan pajak.
Sebagai alat pengendalian sumber daya ekonomi suatu negara.
Sebagai kompensasi dan pembagian bonus.
Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan.
Sebagai dasar bentuk kenaikan kemakmuran.
Sebagai dasar pembagian deviden.
Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dilaporkannya laba

atau lebih dikenal dengan laba atau rugi adalah sebagai indikator efesiensi
penggunaan dana yang digunakan sebagai dasar untuk pengukuran, penentuan,
pengendalian, motivasi prestasi manajemen dan sebagai dasar kenaikan
kemakmuran serta dasar pembagian deviden untuk para investor yang
menanamkan modalnya pada perusahaan.
2. Laba bersih
2.1. Pengertian Laba bersih
Laba merupakan selisih antara Penjualan dengan beban, sehingga laba
dapat mengukur masukan (dalam bentuk beban yang diukur dengan biaya) dan
keluaran (dalam bentuk Penjualan yang diperoleh). Hal ini seperti pernyataan

10

bahwa Laba yang dicapai merupakan pengukur penting efisien dan efektivitas
organisasi (R.A Supriyono, 2000:330).
Pencapaian laba bersih adalah tercapainya target laba bersih yang
maksimal dengan menunjukkan adanya Penjualan yang lebih tinggi daripada
harga pokok Penjualan (Iyan Rohaeni 2004:15).
Laba bersih merupakan hasil dari Penjualan bersih dikurangi dengan harga
pokok Penjualan, hal ini sejalan dengan kutipan dari Soemarso (2001.234) Laba
bersih (gross profit) adalah Penjualan bersih dikurangi harga pokok Penjualan.
Menurut Ahmad Belkaoli (2003: 244) Laba bersih atas Penjualan,
merupakan selisih dari Penjualan bersih dan harga pokok Penjualan . Laba ini
dinamakan laba bersih hasil Penjualan bersih sebelum dikurangi dengan beban
operasi lainnya untuk periode tertentu.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa biaya atau
masukan atau input akan menunjukkan ukuran pencapaian laba bersih apabila
setelah jumlah Penjualan diketahui sebagai salah satu faktor yang menentukan
nilai laba bersih suatu perusahaan.

2.2. Manfaat Laba bersih


Manfaat analisis perubahan laba bersih bagi manajemen menurut Prastowo
(2002:191) yaitu: memberikan cukup motivasi bagi manajemen untuk memulai
suatu pemeriksaan, yang akan membawa kepada berbagai kemungkinan tindakan

11

koreksi, khususnya analisis yang menunjukan perbedaan tidak menguntungkan


(rugi) antara anggaran dan realisasi.
Analisis laba bersih yang didasarkan pada anggaran atau biaya standar
dapat memberikan gambaran titik-titik kelemahan dari kinerja periode tersebut.
Dengan demikian, manajemen akan mampu untuk menguraikan tindakan-tindakan
perbaikan yang diperlukan untuk mengoreksi situasi dan untuk dapat menentukan
sebab-sebab terjadinya penyimpangan yang tidak menguntungkan tersebut.
Kegunaan analisis laba bersih menurut Munawir (2004: 216) yaitu:
Perubahan dalam laba bersih perlu dianalisa untuk mengetahui sebab-sebab
perubahan tersebut, baik perubahan yang menguntungkan (kenaikan) maupun
perubahan yang tidak menguntungkan (penurunan), sehingga akan dapat diambil
kesimpulan dan atau tindakan seperlunya untuk periode-periode berikutnya.

2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laba bersih


Menurut Amstrong (2002: 327) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
laba bersih, yaitu:
a) Faktor Penjualan, maksudnya jumlah omzet yang dijual pada barang dan jasa,
baik dalam unit maupun dalam rupiah. Sementara itu Penjualan ini
dipengaruhi oleh:
1) Faktor harga jual, harga persatuan atau unit atau lainnya produk yang
dijual di pasaran. Penyebab berubahnya merupakan perubahan nilai
harga jual per satuan.
2) Faktor jumlah barang yang dijual, banyaknya kuantitas atau jumlah
barang yang dijual dalam suatu periode.
b) Faktor harga pokok Penjualan, harga barang atau jasa sebagai bahan baku atau
jasa untuk menjadi barang dengan ditambah biaya-biaya yang berkaitan

12

dengan harga pokok Penjualan tersebut. Harga pokok Penjualan dipengaruhi


oleh:
1) Harga pokok rata-rata, apabila harga pokok rata-rata naik, laba bersih
dapat menurun, begitu pula sebaliknya.
2) Jumlah barang yang dijual, jika jumlah Penjualan meningkat,
kemungkinan akan dapat menaikkan laba bersih, begitu pula
sebaliknya.
Faktor lain yang harus diperhatikan yaitu adanya ketidakefisiensian di
dalam memproduksi barang atau jasa atau menjual barang yang mengakibatkan
pemborosan. Misalkan pengiriman barang yang tidak tepat waktu, pemakaian
bahan yang mengakibatkan pemborosan sehingga biaya yang seharusnya tidak
diperlukan keluar justru menjadi beban, dan yang paling fatal adalah adanya unsur
kecurangan dari pihak manajemen perusahaan yang bermain dengan perusahaan
lain.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perubahan laba bersih
disebabkan oleh tiga faktor ini.

a) Berubahnya harga jual


Berubahnya harga jual yang dianggarkan dengan harga harga jual periode
sebelumnya.
b) Berubahnya jumlah kuantitas barang yang dijual
perubahan jumlah barang yang akan dijual dari jumlah yang dianggarkan
dengan jumlah periode sebelumnya.
c) Berubahnya harga pokok Penjualan
Perubahan harga pokok Penjualan dari yang dianggarkan dengan harga pokok
Penjualan pada periode sebelumnya. Perubahan disebabkan karena adanya
kenaikan harga pokok Penjualan dari sumber utamanya.
Harga pokok Penjualan suatu produk banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1) Haga bahan baku

13

2) Upah tenaga kerja


3) Kenaikan harga secara umum

3. Modal Kerja
3.1 Pengertian Modal Kerja
Perusahaan yang bergerak di bidang apapun baik itu perusahaan jasa
maupun perusahaan produksi selalu membutuhkan modal kerja untuk membiayai
kegiatan usahanya,dengan harapan dana yang telah dikeluarkan dapat kembali
masuk kedalam perusahaan dalam jangka yang relatif pendek. pengertian modal
dalam perusahaan belum terdapat suatu kesatuan pendapat diantara ahli ekonomi.
untuk melihat pengertian modal itu,maka penulis mengemukakan oebdapat dari
beberapa ahli ekonomi yang memberikan defenisi modal kerja.
Kasmir (2011, hal, 250) Menyebutkan bahwa : Modal kerja adalah
modal yang digunakan untuk meelakukan kegiatan operasi perusahaan atau dapat
pula diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva
jangka pendek, seperti kas, bank, surat-surat berharga, piutang, sediaan, dan
aktiva lancar lainnya.
James C.Van Horne (2005, hal, 308) Menyebutkan bahwa : Modal kerja
adalah Aktiva lancar yang dikurangi kewajiban jangka pendek.
Jumingan (2005, hal, 66) menyebutkan bahwa : modal kerja adalah
kelebihan aktiva lancar terhadap utang jangka pendek.
Agnes Sawir (2005, hal, 129) menyebutkan bahwa : Modal kerja adalah
keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan,atau dapat pula dimaksudkan
sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan
sehari-hari.
Secara tradisional,modal kerja (Working Capital) didefenisikan sebagai
investasi perusahaan dalam aktiva lancar (Current asset). Aktiva lancar itu sendiri

14

sebagaimana didefenisikan menurut akuntansia adalah aktiva yang harus habis


dalam satu kali berputar dalam satu kali proses produksi, dan proses
perputarannya adalah dalam jangka waktu yang pendek
Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membelanjai
operasinya sehari-hari, misalnya untuk memberikan persekot pembelian bahan
mentah, membayar upah buruh, gaji pegawai dan lain sebagainya,dimana uang
atau dana yang dikeluarkan itu diharapkan akan dapat kembali lagi masuk
kedalam

perusahaan

dalam

waktu

yang

pendek

melalui

penjualan

produksinya.Uang yang masuk berasal dari penjualan produk tersebut akan segera
dikeluarkan lagi untuk membiayai operasiselanjutnya. Dengan demikian maka
dana tersebut akan terus-menerus berputar setiap periodenya selama perusahaan
masih berjalan.
Menurut Kasmir (2011, hal, 250) pengertian modal kerja secara
mendalam terkandung dalam konsep modal kerja yang dibagi tiga macam,yaitu :
1. Konsep kuantitatif
Konsep kuantitatif, menyebutkan bahwa modal kerja adalah seluruh
aktiva lancar. Dalam konsep ini adalah bagaimana mencukupi
kebutuhan dana atau membiayai operasi perusahaan jangka pendek.
2. Konsep Kualitatif
Konsep kualitatif, merupakan konsep yang menitik beratkan kepada
kualitas modal kerja. Konsep ini melihat selisih antara jumlah aktiva
lancar dengan kewajiban lancar, konsep ini disebut modal kerja bersih
atau (net working capital).
3. Konsep Fungsional
Konsep fungsional menekankan kepada fungsi dana yang dimiliki
perusahaan dalam memperoleh laba. Artinya sejumlah dana yang
dimiliki dan digunakan perusahaan untuk meningkatkan laba
perusahaan.

15

3.2. Jenis-jenis Modal kerja


Jumingan (2005, hal, 71) Menggolongkan modal kerja menjadi dua yaitu
1. Modal kerja permanen
Modal kerja permanen,yaitu jumlah modal kerja minimal yang
harus tetap ada dalam perusahaan untuk melaksanakan operasinya atau
sejumlah modal yang secara terus-menerus diperlukan untuk kelancaran
usaha.
Modal kerja permanen ini dapat dibedakan :
a. Modal kerja primer,yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus
ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
b. Modal kerja normal,yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan
untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.
2. Modal kerja Variabel
Modal kerja variabel,yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah
tergantung pada perubahan keadaan.
Modal kerja variabel ini dapat dibedakan dalam :
a. Modal kerja musiman,yaitu modal kerja yang jumlahnya berubahubah disebabkan dan fluktuasi musim.
b. Modal kerja siklis,yaitu modal kerja jumlahnya berubah-ubah oleh
fluktuasi konjungtur.
c. Modal kerja darurat, yaitu modal kerja yang jumlahnya
berubah-ubah karena adanya keadaan darurat atau mendadak yang
tidak dapat diketahui atau diramalkan terlebih dahulu (Bambang
Riyanto,1981 hal, 52).

3.3. Penentuan Besarnya Modal Kerja


Modal kerja yang dibutuhkan perusahaan harus segera terpenuhi sesuai
dengan kebutuhan perusahaan. Namun,terkadang untuk memenuhi kebutuhan
modal kerja seperti yang diinginkan tidaklah selalu tersedia.hal ini disebabkan

16

terpenuhi tidaknya kebutuhan modal kerja sangat tergantung kepada berbagai


faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, pihak manajemen dalam
menjalankan kegiatan operasi perusahaan terutama kebijakan dalam upaya
pemenuhan modal kerja harus selalu memerhatikan faktor-faktor tersebut.
3.4. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Modal Kerja
Menurut Jumingan (2005, hal, 69) faktor-faktor mempengaruhi jumlah
modal kerja adalah sebagai berikut :
1. Sifat umum atau tipe perusahaan : modal kerja yang dibutuhkan
perusahaan jasa relatif rendah karena investasi dalam persediaan dan
piutang perannya menjadi kas relatif cepat. Proporsi modal kerja dari total
aktiva, pada perusahaan jasa relatif kecil berbeda dengan perusahaan
industri.
Investasi dalam aktiva lancar cukup besar dengan tingkat perputaran
persediaan piutang yang relatif rendah.
Perusahaan industri memerlukan modal kerja yang cukup besar yakni
untuk melakukan investasi dalam bahan baku, barang dalam proses, dan
barang jadi. Fluktuasi dalam pendapatan bersih pada perusahaan jasa juga
relatif kecil bila dibandingkan dengan perusahaan industri dari keuangan
2. Waktu yang diperlukan untu memproduksi atau mendapatkan barang dan
ongkos produksi per unit/harga beli per unit barang. Jumlah modal kerja
berkaitan langsung dengan waktu yang dibutuhkan mulai dari bahan baku
atau barang jadi sampai barang-barang dijual kepada pelanggan.
Makin panjang waktu yang diperlukan untu memproduksi barang atau
untuk memperolehnya karena makin besar kebutuhan modal kerja

17

bervariasi tergantung pada volume pembelian dan harga beli perunit dari
barang yang dijual.
3. Syarat pembelian dan penjualan : syarat kredit pembelian hutang dagang
atau bahan baku akan mempengaruhi besar kecilnya modal kerja.
Syarat kredit pembelian yang menguntungkan akan memperkecil
kebutuhan uang kas yang harus ditanamkan dalam persediaan, sebaliknya
bila pembayaran harus dilakukan segera setelah barang diterima maka
kebutuhan uang kas untuk membelanjai volume perdagangan menjadi
lebih besar.
Disamping itu modal kerja juga dipengaruhi oleh syarat kredit penjualan
barang. Semakin lunak kredit yang diberikan kepada pelanggan, maka
akan semakin besar kebutuhan modal kerja yang harus ditanamkan dalam
piutang. Untuk mengurangi kebutuhan modal kerja dan mengurangi resiko
kerugian karena adanya kebutuhan piutang yang tidak terbayar, biasanya
perusahaan memberikan rangsangan potongan tunai (cash discount).
4. Tingkat

perputaran

persediaan

tingkat

perputaran

persediaan

menunjukkan berapa kali persediaan tersebut diganti dalam arti dibeli dan
dijual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran tersebut, maka jumlah
modal kerja yang dibutuhkan (terutama yang harus diinvestasikan dalam
persediaan) semakin rendah untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang
tinggi maka harus diadakan perencanaan dan pengawasan persediaan
secara teratur dan efisien. Semakin cepat atau tinggi tingkat perputaran
akan memperkecil resiko terhadap kerugian yang disebabkan karena
penurunan harga atau karena perubahan selera konsumen, disamping itu

18

akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap


persediaan tertentu.
5. Tingkat perputaran piutang : kebutuhan modal kerja juga tergantung pada
periode waktu yang diperlukan untuk mengubah piutang menjadi uang kas.
Bila piutang terkumpul dalam waktu pendek berarti kebutuhan akan modal
kerja menjadi semakin rendah/kecil. Untuk mencapai tingkat perputaran
piutang yang tinggi diperlukan pengawasan piutang yang efektif dan
kebijaksanaan yang tepat sehubungan dengan perluasan kredit, syarat
kredit penjualan bagi langganan dan penagihan piutang.
6. Pengaruh konjungtur : pada periode makmur (prosperity) aktivitas
perusahaan meningkat dan perusahaan cenderung membeli barang-barang
dengan memanfaatkan tingkat harga yang masih rendah. Ini berarti
perusahaan

memperbesar

tingkat

persediaan.

Peningkatan

jumlah

persediaan membutuhkan jumlah modal kerja yang lebih banyak.


Sebaliknya pada periode depresi, volume perdagangan menurun, sehingga
perusahaan akan cepat-cepat menjual barang-barangnya dan menarik
semua piutang. Selanjutnya uang yang diperoleh dipergunakan untuk
membeli surat-surat berharga, melunasi hutang-hutang atau untuk
menutupi kerugian.
7. Derajat resiko kemungkinan menurunnya harga jual jangka pendek.
Menurunnya nilai nol dibanding dengan surat-surat bergarga, maka
persediaan barang dan piutang akan dapat menurunkan modal kerja.

19

Apalagi kerugian semakin bertambah besar berarti sangat dibutuhkan


modal kerja untuk membayar bunga atau melunasi hutang jangka pendek
yang sudah jatuh tempo tersebut.
Untuk melindungi hari hal-hal yang tidak terduga atau dari hal-hal yang
tidak diinginkan dibutuhkan moda kerja yang relatif besar dalam bentu kas
atau surat-surat berharga.
8. Pengaruh

musim

perusahaan

yang

dipengaruhi

oleh

musim

membutuhkan jumlah maksimum moda kerja untuk periode yang relatif


pendek. Modal kerja yang ditanamkan dalam bentuk persediaan berangsurangsur meningkat dalam bulan-bulan menjelang puncak penjualan.
9. Kredit rating dari perusahaan : jumlah modal kerja dalam bentuk kas
termasuk surat-surat berharga yang dibutuhkan perusahaan untuk
membiayai operasinya tergantung pada kebijaksanaan penyediaan uang
kas. Penyediaan uang kas ini tergantung pada :
a) Kredit rating perusahaan (kemampuan meminjam uang dalam
jangka waktu pendek)
b) Perputaran persediaan dan piutang.
Lucas (2008:273) menyatakan bahwa beberapa faktor penting dalam
menentukan modal kerja meliputi beberapa faktor: Kelangsungan hidup jangka
panjang, konservatisme manajemen, pengawasan, struktur aktiva, risiko bisnis,
pengawasan, tingkat pertumbuhan, pajak, profitabilitas. Struktur modal dapat
diukur dari rasio perbandingan antara total hutang terhadap ekuitas yang biasa
diukur melalui rasio debt to equity ratio (DER). Dari beberapa faktor diatas

20

penelitian ini menggunakan faktor struktur asset, pertumbuhan penjualan dan


profitabilitas
3.5. Sumber Modal Kerja
Kebutuhan akan modal kerja mutlak disediakan dalam bentuk
apapun.Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan sumbersumber modal kerja yang dapat dicari dari berbagai sumber yang tersedia. Namun
dalam pemilihan sumber modal harus diperhatikan untung ruginya sumber modal
kerja tersebut. Pertimbangan ini perlu dilakukan agar tidak menjadi beban
perusahaan ke depan atau akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.
Menurut S. Munawir (2005, hal, 120) Sumber-sumber modal kerja yang
dapat digunakan perusahaan yaitu :
1. Hasil operasi perusahaan adalah jumlah net income yang nampak dalam
perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi, jumlah ini
menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan
dapat dihitung dengan menganalisa laporan perhitungan rugi laba
perusahaan tersebut. Dengan adanya keuntungan atau laba dari usaha
perusahaan maka laba tersebut akan menambah modal perusahaan yang
bersangkutan.
2. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek).
Surat berharga yang dimiliki perusahaan untu jangka pendek (marketable
securities atau efek) adalah salah satu elemen aktiva lancar yang segera
dapat dijual dan akan menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan
adanya penjualan surat berharga menyebabkan terjadinya perubahan dalam
unsur modal kerja yaitu dari bentuk surat berharga berubah menjadi uang

21

kas. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan surat berharga ini


merupakan suatu sumber untuk bertumbuhnya modal kerja ; sebaliknya,
apabila dalam penjualan tersebut terjadi kemajuan maka akan menyebabkan
berkurangnya modal kerja. Apabila efek atau investasi jangka pendek ini
dijual dengan harga jual yang sama dengan haga perolehannya (tanpa laba
maupun rugi), maka penjualan efek-efek tersebut tidak akan mempengaruhi
besarnya modal kerja (modal kerja tidak bertambah maupun berkurang).
Diadakan menganalisa sumber-sumber modal kerja maka sumber yang
berasal dari keuntungan penjualan surat-surat berharga harus dipisahkan
dengan modal kerja yang berasal dari hasil usaha pokok perusahaan .
3. Penjualan aktiva tidak lancar. Sumber lain yang apat menambah modal kerja
adalah hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva
tidak lancar lainnya yang tidak diperukan lagi oleh perusahaan. Perubahan
dari aktiva ini menjadi kas atau piutang akan menyebabkan bertambahnya
modal kerja sebesar hasil penjualan tersebut. Apabila dari hasil penjualan
aktiva tetap atau aktiva tidak lancar lainnya ini segera digunakan untuk
mengganti aktiva yang bersangkutan akan menyebabkan keadaan aktiva
lancar sedemikian besarnya sehingga melebihi jumlah modal kerja yang
dibutuhkan (adanya modal kerja yang berlebih-lebihan).
4. Penjualan saham atau obligasi. Untuk menambah dana atau modal kerja
yang dibutuhkan perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau
meminta kepada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya.
Disamping ini perusahaan dapat juga mengeluarkan obligasi atau bentuk
hutang jangka panjang lainnya guna memahami modal kerja.

22

Penjualan obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus


membayar bunga tetap, oleh karena itu dalam mengeluarkan hutang dalam
bentuk obligasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan
penjualan obligasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (terlalu besar)
disamping menibulkan beban bunga yang besar, juga akan mengakibatkan
keadaan aktiva lancar yang besar sehingga melebihi jumlah modal kerja
yang dibutuhkan.

3.6. Penggunaan Modal Kerja


Hubungan antara sumber dan penggunaan modal kerja sangat erat.
Artinya penggunaan modal kerja dipilih dari sumber modal kerja tertentu atau
sebaliknya. Penggunaan modal kerja akan dapat mempengaruhi jumlah modal
kerja itu sendiri. Seorang manajer dituntut untuk menggunakan modal kerja secara
tepat, sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai perusahaan.
Menurut Kasmir (2011, hal, 259) Secara umum dikatakan bahwa
penggunaan modal kerja biasa dilakukan perusahaan untuk :
1. Pengeluaran untuk gaji, upah, dan biaya operasi perusahaan lainnya.
2. Pengeluaran untuk membeli bahan baku atau barang dagangan.
3. Menutupi Kerugian akibat penjualan surat berharga.
4. Pembentukkan dana.
5. Pembelian aktiva tetap ( tanah, bangunan, kenderaan, mesin, dan lain-lain)
6. Pembayaran utang jangka panjang (obligasi, hipotek, jangka panjang).
7. Pembelian atau penarikan kembali saham yang beredar.
8. Pengambilan uang atau barang untuk kepentingan pribadi.
Kutipan diatas dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pengeluaran gaji dan upah : perusahaan mengeluarkan sejumlah uang
untuk membayar gaji, upah, dan biaya operasi lainnya yang digunakan
untuk penjualan.

23

2. Pengeluaran pembelian bahan baku : Pada sejumlah bahan baku yang


dibeli yang akan digunakan untuk proses produksi dan pembelian
barang
dagangan untuk dijual kembali.
3. Penjualan surat berharga : pada saat perusahaan menjual surat-surat
berharga, namun mengalami kerugian.
4. Pembentukkan dana : Pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu
dalam jangka panjang,misalnya pembentukkan dana pensiun, dana
ekspansi atau dana pelunasan obligasi.
5. Pembelian aktiva tetap : Pembelian

ini

akan

mengakibatkan

berkurangnya aktiva lancar dan timbulnya utang lancar.


6. Pembayaran utang jangka panjang : Adanya pembayaran utang jangka
yang sudah jatuh tempo seperti pelunasan obligasi, hipotek, dan utang
bank jangka panjang.
7. Pembelian atau Penarikan kembali saham : Perusahaan menarik
kembali saham-saham yang sudah beredar dengan alasan tertentu dengan
cara membeli kembali, baik untuk sementara waktu maupun selamanya.
8. Pengambilan uang atau barang untuk kepentingan pribadi : Pemilik
perusahaan mengambil barang atau uang ini adanya pengambilan
keuntungan atau pembayaran dividen oleh perusahaan.
4. Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang menjadi acuan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :

No
1

Nama

Judul

Tabel II.1
Penelitian Terdahulu
Variabel Hasil

Sumber

Siti Saroh Analisis Modal Modal

Penelitian
Modal Kerja Skripsi USU

(2010)

bersih

Kerja

Bersih Kerja

dapat

24

Dalam

bersih.

meningkatkan

Meningkatkan

Laba

Laba bersih

Laba

Bersih Bersih

Pada
Perusahaan
Pertambangan
Yang Terdaftar
2

Ratih

Di BEI
Analisis Modal Modal

Modal

(2010)

Kerja

bersih

Dalam Kerja

Meningkatkan
Laba

Bersih Laba

Pada
3

Bersih,

kerja Jurnal STIE


belum Kesatuan

meningkatkan

Vol.V.

laba bersih

171

No.

PT. Bersih

Ramlan

Indocement
Analisis Modal Modal

Modal

Kerja

Jurnal

(2009)

Kerja

Bersih

dapat

Universitas

Bersih Kerja

Dalam

Bersih dan menghasilkan

Menghasilkan

Laba

Laba

Bersih Bersih

laba

Gorontalo

bersih Vol. IX No.6

yang maksimal

Pada
Perusahaan
Makanan

Dan

Minuman Yang
Terdaftar
4

Citra

Di

BEI
Analisis Modal Modal

Modal

kerja

Jurnal

25

(2014)

Kerja

Bersih Kerja

bersih

Dalam

Bersih dan dapat

Menghasilkan

laba bersih

belum

Vol 2 No.2

menghasilkan

Subekti

Laba Bersih
Analisis Modal Modal

laba bersih
Modal Kerja

(2006)

Kerja

Bersih,

Bersih Kerja

EMBA

Dalam

bersih dan Bersih

Memprediksi

laba bersih

Laba

Jurnal
UNPAN
Vol. 7
Nomor 15

Susanti

Laba
Analisis Modal Modal

Modal

kerja

Skripsi

(2007)

Kerja

bersih

dapat

Sunan

Dalam Kerja

Meningkatkan

Bersih,

meningkatkan

Laba Pada PT. Laba

laba

Industri

yang dihasilkan

Bersih

Gunung Jati

bersih

Telekomunikasi
7

Wisnu

Indonesia
Analisis Modal Modal

Adanya

Skripsi

(2008)

Kerja

kenaikan

Gunadharm

Dalam kerja

Meningkatkan
Laba

Bersih,

Bersih Laba

Pada PT. Tima

Bersih

modal

kerja

sementara laba
bersih
mengalami
penurunan

B. Kerangka Berfikir

26

Mengetahui bagaimana kondisi keuangan suatu perusahaan, diperlukan


laporan keuangan yang disusun setiap akhir periode tertentu. Laporan keuangan
tersebut dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan
tugas-tugas yang diberikan kepada manajer. Laporan keuangan yang dimaksud
berupa laporan

laba rugi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba yang telah terjadi pada periode tertentu, kemudian laporan
keuangan tersebut dianalisis

untuk mengetahui secara jelas posisi keuangan

perusahaan.
Bila perusahaan dapat menekan biaya operasi, maka perusahaan akan
dapat meningkatkan laba, demikian juga sebaliknya, bila terjadi pemborosan biaya
akan mengakibatkan menurunnya laba.
Dengan modal kerja yang ada, perusahaan diharapkan mampu
menjalankan aktivitas perusahaan seperti membiayai operasi dan juga memenuhi
kewajiban perusahaannya. Dengan kata lain sebagian modal kerja harus
disediakan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya dan kemudian
digunakan untuk membiayai operasi perusahaan dalam hal memperoleh laba.
Aktiva tetap merupakan investasi yang dilakukan perusahaan dalam
jangka panjang (lebih dari satu tahun) yang bertujuan tidak untuk dijual kembali
melainkan untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan. Aktiva tetap
menuntut pemanfaatan maksimum selama umur ekonomisnya, oleh karena itu
perlu dibentuk suatu fungsi yang memiliki tanggung jawab untuk mengatur
penggunaan, pemindahan, pemberian otorisasi dan penghentian aktiva tetap. Jika
masing-masing fungsi memiliki wewenang untuk menggunakan, memindahkan,
dan menghentikan pemakaian aktiva tetap, penggunaan aktiva tetap tidak akan

27

optimum, karena aktiva tetap yang menganggur di suatu fungsi tidak dapat
dimanfaatkan oleh fungsi lain.
Munawir (2004:53) Investasi aktiva tetap yang dapat disusutkan sering
kali merupakan bagian signifikan aktiva perusahaan, dimana penyusutan
karenanya dapat berpengaruh secara signifikan dalam menentukan dan
menyajikan posisi keuangan dan hasil/laba usaha perusahaan. Dengan kata lain
bahwa penyediaan aktiva tetap yang mengalami penyusutan (depresiasi) akan
mempengaruhi perusahaan dalam menentukan tingkat laba bersih suatu
perusahaan
Adapun kerangka berpikir dapat peneliti gambarkan sebagai berikut :

Laporan Keuangan

Laporan Laba Rugi

Laba Bersih

Modal Kerja

Aktiva Tetap

Gambar II.1
Kerangka Berpikir

28

BAB III
METODOLOGI PENELITIN

A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan

penelitian

deskriptif.Pendekatan

yang

deskriptif

peneliti
merupakan

gunakan

adalah

penelitian

pendekatan

yang

hanya

mengumpulkan, menyusun dan mengkalisifikasi data sehingg dapat mengetahui


gambaran yang jelas mengenai masalah yang diteliti.Dan dalam penelitian ini
tidak memerlukan hipotesis.
Jika peneliti hanya mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasi dan
menafsirkan data sehingga penelitian mengetahui mengenai masalah apa yang
akan diteliti. Data yang digunakan peneliti adalah laporan laba rugi.

B. Definisi Operasional Variabel

29

Definisi operasional variabel dalam penelitian ini sebagai berikut:


1. Modal Kerja
Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan,
atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus tersedia untuk
membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Dalam penelitian ini
modal kerja diukur dengan asset lancar yang dikurangi dengan hutang
lancar
Modal kerja bersih = Asset lancar

2. Aktiva Tetap
Hutangyang
Lancar
Harta kekayaan
berwujud, yang bersifat relatif permanen,
digunakan dalam operasi regular lebih dari satu tahun, dibeli dengan
tujuan tidak untuk dijual kembali
3. Laba bersih
Kelebihan seluruh pendapatan atas seluruh biaya untuk suatu periode
tertentu setelah dikurangi pajak penghasilan yang disajikan dalam bentuk
laporan laba rugi.
Laba bersih = Pendapatan Beban

C. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada PT. Tiga Raksa Jl. Gatot Subroto Km. 6.5 ,
Medan 20122
Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian ini dimulai dari bulan Desember 2015sampai
Maret 2016. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Jadwal kegiatan

Tabel III.1
Waktu Penelitian
Bulan Pelaksanaan 2015-2016

30

Desember

Januari

Februari

Maret

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3

1.Pengajuan judul
2.Pembuatan Proposal
3. Bimbingan
Proposal
4. Seminar Proposal
5. Pengumpulan Data
6. Bimbingan Skripsi
7. Sidang Meja Hijau
D. Jenis Dan Sumber Data
Jenis Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis data kuantitatif. Data
kuantitatif, berupa angka-angka penjelasan atau pernyataan tentang laporan
keuangan PT. Tiga Raksa Medan dari tahun 2010-2014.
Sumber Data
Adapun sumber data yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian
ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh langsung dari
perusahaan berupa data tertulis, seperti laporan keuangan dan laporan lainnya
yang diperlukan sehubungan dengan penelitian ini.

E. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan studi dokumentasi
yaitu dengan mempelajari, mengklasifikasikan, dan mengalisis data sekunder
berupa catatancatatan, laporan keuangan, maupun informasi lainnya yang terkait
dengan lingkup penelitian ini. Data penelitian mengenai modal kerja, aktiva tetap
dan laba bersih.

31

G. Teknik Analisis Data


Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis
deskriptif, yaitu dengan cara menganalisis data-data laporan keuangan perusahaan
yang mengenai modal kerja, aktiva tetap dan laba bersih kemudian ditarik
kesimpulan dari data laporan keuangan tersebut. Data penelitian dianalisis dengan
pendekatan akuntansi keuangan. Berikut tahapan analisis data penelitian ini :
1. Mengumpulkan data laporan keuangan dari tahun 2010-2014 terutama
Neraca dan laporan laba rugi
2. Menganalisis data modal kerja, aktiva tetap dan laba bersih dari tahun
2010-2014
3. Menyimpulkan permasalahan yang terjadi pada modal kerja, aktiva tetap
dan laba bersih dari tahun 2010-2014

32

DAFTAR PUSTAKA
Brealey, Richard A, Stewart C. Myers, dan Alan J. Marcus. 2008. Dasar-dasar
Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 2. Edisi Kelima. Jakarta:
Erlangga.
Kasmir, 2008. Analisis Laporan Keuangan, Edisi pertama, PT RajaGrafindo
Persada, Jakarta
Amstrong, Gary & Philip, Kotler. 2002. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jilid
1, Alih Bahasa Alexander Sindoro dan Benyamin Molan. Jakarta:
Penerbit Prenhalindo.
Hatta. 2002. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen: Investigasi
Pengaruh Teori Stakeholder. JAAI Volume 6 No. 2, Desember 2002
Ratnawati. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Internal. JAAI
Volume 6 No. 2, Desember 2002
Devi.

2003. Faktor-faktor yang


JurnalBisnis dan Akuntansi

Mempengaruhi

Pertumbuhan

Internal.

Fabozzi, Frank J. (2000). Manajemen Investasi. Jakarta: Salemba Empat


Dilla Ainur Rahmi. (2014). Analisis pertumbuhan penjualan dan struktur
aktivaTerhadap struktur pendanaan eksternal.Jurnal Manajemen &
Bisnis Vol 14 No. 01
Suherni Fitria. (2014). Pengaruh Arus Kas Dan Pertumbuhan Laba Terhadap
Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa
Efek Indonesia 2008 2013
Surtati dan Adi Sulaeman.(2011) Pengaruh Arus Kas Operasi Terhadap
Pertumbuhan Laba Perusahaan Studi Kasus Pada PT. Multi
Manunggal.Jurnal Ilmiah Ranggading Volume 11 No. 2

Anda mungkin juga menyukai