Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT

DI PUSKESMAS

Disusun untuk memenuhi tugas pada stase keperawatan anak

IRMAN HIDAYAT
220112160142

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXII


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2016

1.

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)


a. Definisi
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan
Akut. Istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute
Respiratory Infection (ARI), yaitu penyakit infeksi akut yang
menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas mulai
dari hidung (saluran pernapasan atas) sampai alveoli (saluran
pernapasan bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus rongga
telinga tengah dan pleura (Mansyur, 2009).
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah suatu penyakit
yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik di negara berkembang
maupun di negara maju dan sudah mampu dan banyak dari mereka
perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakitpenyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula
memberi kecacatan sampai pada masa dewasa (Mansyur, 2009).
ISPA atau infeksi saluran pernafasan akut adalah suatu
kelompok penyakit yang menyerang saluran pernafasan. ISPA dapat
ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernafasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran
pernafasannya (Maryunani, 2010).
b. Etiologi
Menurut Maryunani (2010), ISPA disebabkan oleh lebih dari
300 jenis bakteri, virus dan jamur. Bakteri penyebab ISPA antara lain
dari Genus Streptococcus, Stafilococcus, Pneumococcus, Hemofillus,
Bordetalla, dan Korinobakterium. Virus penyebab ISPA antara lain
golongan

Mikosovirus

Mikoplasma,
Aspergillus

Adenovirus,

Herpesvirus.
sp,

Candidia

capsulatum,

Jamur

Koronavirus,
penyebab

Pikornavirus,

ISPA antara lain

albicans,

Histoplasma

Coccidiodes

immitis,

Cyrptococcus

neoformans.
Selain itu ISPA juga dapat disebabkan oleh asap kendaraan
bermotor, bahan bakar minyak/BBM biasanya minyak tanah.

c. Tanda dan Gejala


Menurut Nurrijal (2009), adapun pembagian tanda dan gejala
ISPA sebagai berikut :
1)

ISPA ringan
Ditandai dengan satu atau lebih gejala berikut:
1) Batuk
2) Pilek
3) Dengan atau tanpa demam
4) Tenggorokan merah

2) ISPA sedang
Meliputi gejala ISPA ringan ditambah satu atau lebih

gejala

berikut:
1) Pernafasan cepat.
2) Wheezing (nafas berbunyi ngik).
3) Sakit/keluar cairan dari telinga.
4) Bercak kemerahan (campak)
3) ISPA berat
Meliputi gejala ISPA sedang / ringan ditambah satu atau lebih
gejala berikut:
1) Tarikan dinding dada ke dalam sewaktu inspirasi (retraksi).
2) Kesadaran menurun (somnolen).
3) Bibir / kulit pucat kebiruan (sianosis).
4) Stridor (nafas ngorok) sewaktu istirahat.
d. Diagnosa
Menurut Sinanmbela (2010), dalam pelaksanaan program P2
ISPA, penentuan klasifikasi pneumonia berat dan pneumonia sekaligus
merupakan penegakan diagnosa, sedangkan penentuan klasifikasi
bukan pneumonia tidak dianggap sebagai penegakan diagnosa. Jika
seorang balita keadaan penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan
pneumoni maka diagnosa penyakitnya adalah: batuk pilek biasa
(common cold), pharyngitis, tonsillitis, otitis atau penyakit ISPA nonpneumonia lainnya.
Dalam pola tatalaksana penderita pneumonia yang dipakai oleh
Program P2 ISPA, diagnosa pneumonia pada balita didasarkan pada
adanya batuk atau kesukaran bernapas disertai peningkatan frekuensi
napas (napas cepat) sesuai umur. Adanya napas cepat (fast breathing)

ini ditentukan dengan cara menghitung frekuensi pernapasan. Batas


napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per

menit

atau lebih pada usia 2 bulan - <1 tahun dan 40 kali per menit atau lebih
pada anak usia 1 tahun - <5 tahun.
Diagnosa pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk atau
kesukaran bernapas disertai napas sesak atau penarikan dinding dada
sebelah bawah ke dalam (chest indrawing) pada anak usia 2 bulan - <5
tahun. Untuk kelompok umur < 2 bulan diagnosa pneumonia berat
ditandai dengan adanya napas cepat, yaitu frekuensi pernapasan
sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau adanya penarikan yang kuat
pada dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing).
e. Faktor Resiko Terjadi ISPA
ISPA dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1) Faktor Lingkungan
a) Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar
untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak
mekanisme pertahanan paru sehingga akan memudahkan
terjadinya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan
ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam

rumah,

bersatu dalam kamar tidur, ruang tempat bayi dan balita


bermain, sehingga dapat memudahkan terjadinya ISPA
(Maryunani, 2010).
b) Ventilasi rumah
Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan
udara ke atau dari ruangan baik secara

alami

maupun secara mekanis. Jadi jika di dalam rumah tidak


terdapat ventilasi maka udara bersih tidak dapat masuk dan
udara ruangan dari bau-bauan, asap atau debu tetap berada di
dalam ruangan sehingga memudahkan terjadinya Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) (Maryunani, 2010).
c) Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian rumah menurut Keputusan Menteri
Kesehatan

Nomor

829/MENKES/SK/VII/1999

tentang

persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal menempati


luas rumah 8m. Melalui kriteria tersebut diharapkan dapat

mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas,


karena tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor
polusi dalam rumah, sehingga akan memudahkan terjadinya
ISPA (Maryunani, 2010).
2) Faktor Individu Anak
a) Berat badan lahir
Berat badan lahir menunjukan pertumbuhan dan
perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai resiko
kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan
lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran
karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna
sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama
pneumonia (Maryunani, 2010).
b) Status gizi
Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah
terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi nomal.
Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak
mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi.
Jika keadaan gizinya buruk, tubuh tidak mempunyai cukup
kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap infeksi, jadi
anak lebih mudah terserang ISPA (Mayunani, 2010).
c) Vitamin A
Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan
dengan imunisasi akan menyebabkan peningkatan antibodi,
niscaya dapatlah diharapkan adanya perlindungan terhadap
bibit penyakit yang bersangkutan untuk jangka waktu yang
tidak singkat (Maryunani, 2010).
d) Status Imunisasi
Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA
yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi seperti difteri, pertusis dan campak, maka cakupan
peningkatan imunisasi akan berperan besar dalam upaya
pemberantasan

ISPA.

Untuk

mengurangi

faktor

yang

meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi lengkap.


Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila

21
menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya
tidak akan menjadi lebih berat.
Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan
pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). Melalui
imunisasi

campak

yang

efektif

sekitar 11% kematian

pneumonia balita dapat dicegah dan

dengan

imunisasi

pertusis (DPT) 6% kematian pneumonia dapat dicegah


(Maryunani, 2010).
3) Faktor Perilaku
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang
berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan
lainya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau
beberapa anggota keluarga memiliki masalah kesehatan, maka
akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA
sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada
sehari-hari didalam masyarakat/keluarga.
Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas
bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita
sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek penanganan ISPA
tingkat keluarga yang kurang/buruk akan berpengaruh terhadap
perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat.
(Maryunani, 2010).
f. Perawatan Balita ISPA
Menurut Rasmaliah (2004), beberapa hal yang perlu
dikerjakan untuk mengatasi anak yang menderita ISPA yaitu :
1) Mengatasi panas (demam)
Memberikan kompres, dengan menggunakan kain
bersih, dicelupkan pada air (tidak perlu air es).
2) Pemberian makanan
Memberikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit
tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebihlebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu
tetap diteruskan.
3) Pemberian minuman

22
Mengusahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan
sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu
mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah
sakit yang diderita.
4) Istirahat cukup
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut
yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan
demam.
5) Jika pilek, membersihkan hidung yang berguna untuk
mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang
lebih parah.
6) Menjaga kebersihan perorangan
7) Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang
berventilasi cukup dan tidak berasap.
8) Pencegahan penyebaran infeksi
Hal-hal

yang

dapat

dilakukan

untuk

mencegah

terjadinya penyakit ISPA pada anak, yaitu memberikan


imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh
terhadap penyakit baik dan mencegah anak berhubungan
dengan klien ISPA. Salah satu cara adalah memakai penutup
hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota
keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit ISPA.
g. Penanganan ISPA
Penanganan

terhadap

ISPA

disesuaikan

dengan

tingkatannya antara lain:


1) Penanganan ISPA berat
Penderita ISPA berat harus dirawat di Rumah Sakit dan
yang dilakukan adalah diberikan antibiotik parenteral dan
oksigen (Rasmaliah, 2004).
2) Penanganan ISPA sedang
Penanganan

ISPA

sedang

harus

mendapatkan

pertolongan dari petugas kesehatan (perawat atau bidan). Yang


harus dilakukan adalah diberi obat antibiotik kotrimoksasol
peroral.

23
Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau
ternyata dengan pemberian kotrimoksasol keadaan penderita menetap,
dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin
atau penisilin prokain
(Rasmaliah, 2004).
3) Penanganan ISPA ringan
Pengobatan dan perawatan penderita ISPA ringan dapat
dilakukan di rumah. Jika anak menderita ISPA ringan maka yang harus
dilakukan adalah:
a) Tanpa pemberian obat antibiotik, untuk batuk dapat digunakan obat
batuk tradisional (jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap
atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari) atau obat batuk
lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,
dekstrometorfan dan antihistamin (Bunyamin, 2012)
b) Bila demam diberikan obat penurun panas. Untuk anak yang di
bawah umur 6 tahun menggunakan paracetamol, Ibuprofen atau
Asetosal. Apabila obat dalam bentuk sirup dengan dosis 1 sendok
teh (120 mg/1 sendok teh) 3 4 kali sehari maksimal pemberian
5x/24 jam, apabila obat dalam bentuk tablet diberikan 10-15 mg/kg
BB (3-4x/hari atau antara 4-6 jam sekali) atau dengan kompres
(Nasir, 2009).
h. Komplikasi
Penyakit ISPA sebenarnya merupakan self limited disease, yang
sembuh sendiri 5-6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lainnya.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah sinusitis paranasal, penutupan tuba
eusthacii dan penyebaran infeksi.
1) Sinusitis paranasal
Komplikasi ini hanya terjadi pada anak besar karena pada bayi
dan anak kecil sinus paranasal belum tumbuh. Gejala umum tampak
lebih besar, nyeri kepala bertambah, rasa nyeri dan nyeri tekan
biasanya di daerah sinus frontalis dan maksilaris. Diagnosis ditegakkan

24
dengan pemeriksaan foto rontgen dan transiluminasi pada anak besar.
Proses sinusitis sering menjadi kronik dengan gejala malaise,
cepat lelah dan sukar berkonsentrasi (pada anak

besar). Kadang-

kadang disertai sumbatan hidung, nyeri kepala hilang timbul, bersin


yang terus menerus disertai secret purulen dapat unilateral ataupun
bilateral. Bila didapatkan pernafasan mulut yang menetap dan
rangsang faring yang menetap tanpa sebab yang jelas perlu yang
dipikirkan terjadinya komplikasi sinusitis. Sinusitis paranasal ini dapat
diobati dengan memberikan antibiotik (Ngastiyah, 2005).
2) Penutupan tuba eusthachii
Tuba eusthachii yang buntu memberi gejala tuli dan infeksi
dapat menembus langsung ke daerah telinga tengah dan menyebabkan
Otitis Media Akut (OMA). Gejala OMA pada anak kecil dan bayi
dapat disertai suhu badan yang tinggi (hiperpireksia) kadang
menyebabkan kejang demam (Ngastiyah, 2005).
Anak sangat gelisah, terlihat nyeri bila kepala digoyangkan
atau memegang telinganya yang nyeri (pada bayi juga dapat diketahui
dengan menekan telinganya dan biasanya bayi akan menangis keras).
Kadang-kadang hanya ditemui gejala demam, gelisah, juga disertai
muntah atau diare. Karena bayi yang menderita batuk pilek sering
menderita infeksi pada telinga tengah sehingga menyebabkan
terjadinya OMA dan sering menyebabkan kejang demam, maka bayi
perlu dikonsultasikan ke bagian THT. Biasanya bayi dilakukan
parsentesis jika setelah 48-72 jam diberikan antibiotika keadaan tidak
membaik. Parasentesis (penusukan selaput telinga) dimaksudkan
mencegah membran timpani pecah sendiri dan terjadi Otitis Media
Perforata (OMP)
Ngastiyah, 2005).
3) Penyebaran infeksi
Penjalaran infeksi sekunder dari nasofaring ke arah bawah

25
seperti laryngitis, trakeitis, bronkitis dan bronkopneumonia. Selain itu
dapat pula terjadi komplikasi
purulenta (Ngastiyah, 2005).

jauh, misalnya terjadi meningitis