Anda di halaman 1dari 10

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Buncis (Phaseolus vulgaris L.)


Buncis (P. vulgaris L.) merupakan sayuran polong semusim yang
merambat. Buncis memiliki kemiripan dengan kacang panjang. Perbedaan terletak
pada kurang mampunya bersimbiosis dengan bakteri penambah nitrogen bebas
dari udara (Rhizobium), daunya agak lebih kasar dan polongnya cenderung pipih
dan memiliki aroma yang kurang sedap (Sunarjino, 2002).

2.2 Klasifikasi
Dalam ilmu tumbuhan, tanaman buncis diklasifikasikan sebagai berikut :
Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae
Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Leguminales

Famili

: Leguminoceae

Genus

: Phaseolus

Species

: Phaseolus vulgaris L.

Menurut Cahyono (2003) menyatakan bahwa buncis memiliki banyak sekali


jenisnnya, tetapi secara garis besar digambarkan buncis merambat dan buncis
tegak. Jenis buncis merambat dapat tumbuh hingga mencapai 2 m memerlukan
lanjaran untuk mendukung pertumbuhannya. Biji buncis tipe merambat ada
umunya berwarna putih, hitam, dan kuning. Buncis tipe merambat dikomsumsi
pada saat polongnya masih mudah. Buncis tipe tegak tumbuh tidak merambat dan
pendek berkisar 30-50cm, sehingga pertumbuhanya tidak memerlukan lanjaran
dan dapat bisa disebut sebagai buncis jogo. Buncis tipe tegak umumnya
dikomsumsi pada bijinya.
Buncis memiliki kandunga gizi yang cukup lengkap (protein, karboidrat,
vitamin, serat kasar dan mineral). Kandungan zat gizi yang terdapat pada buncis
dalam 100 g dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:

Tabel 2.1. Kandungan Gizi dan Kalori Buncis per 100 gram Bahan yang Dapat
Dimakan.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Jenis Zat Gizi


Energi / kalor
Protein
Lemak
Karbohidrat
Kalsium (Ca)
Fosfor (P)
Serat
Besi (Fe)
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin B2
Vitamin B3
Vitamin C
Air

Jumlah Kandungan Gizi


35,00 kal
2,40 g
0,20 g
7,70 g
6,50 g
4,40 g
1,20 g
1,10 g
630,00 SI
0,08 mg
0,10 mg
0,70 mg
19,00 mg
89 g

Sumber : Emma S. Wirakkusuma (1994) dalam cahyono (2003)

2.3 Deskripsi dan Morfologi Tanaman Buncis


Menurut IPTEK Tanaman Sayuran (2013), karakter buncis tegak varietas
balitsa 2 yaitu sebagai berikut :
Umur berbunga

: 43-46 HST

Umur panen

: 52-54 HST

Panjang

: 16-18 cm

Lebar polong

: 0,9 cm

Bobot Perpolong

: 9,5-10 gram

Jumlah polong pertanaman

: 50-60 buah

Bobot Polong Pertanaman

: 300-400 gram

Bobot 100 Butir

: 25-25,5 gram

Polong Muda

: Hijau muda bentuknya lurus

Keunggulan

: Produksi tinggi
Berbunga serempak
Benrumur genjah

Buncis termasuk tanaman jenis sayuran polong semusim (berumur pendek)


sama seperti kacang kapri, kacang panjang, cabe, labu, mentimun dan sebagainya.
Tinggi tanaman buncis tipe merambat berkisar antara 30 50 cm tergantung

varietas. Sedangkan tinggi tanaman tipe merambat dapat mencapai 2 m (Cahyono,


2003).
Morfologi tanaman buncis adalah sebagai berikut :
2.3.1 Akar
Tanaman buncis berakar tunggang dan berakar serabut. Akar tunggang
tumbuh lurus hingga kedalaman sekitar 11 -15 cm, sedangkan akar serabut
tumbuh menyebar (horizontal) dan tidak dalam. Perakaran tanaman buncis tidak
tahan terhadap genangan air (tanah becek). Akar tanaman merupakan bagian dari
organ tubuh yang berfugsi untuk berdirinya tanaman serta penyerapan zat hara
dan air (Cahyono, 2003).

2.3.2 Batang
Batang tanaman buncis berbengkok-begkok, berbentuk bulat, berbulu atau
berambut halus, berbuku buku atau beruas ruas, lunak tetapi cukup kuat. Ruas
ruas batangan mengalami penebalan (Cahyono, 2003).

2.3.3 Daun
Daun tanaman buncis berbentuk bulat lonjong, ujung daun runcing, tepi
daun merat, berbulu atau merambat sangat halus, dan memiliki tulang tulang
penyirip. Ukuran daun bencis sangat bervariasi tergantung pada varietasnya Daun
yang berukuran kecil memiliki ukuran lebar 6 7,5 cm dan panjang 7,5 9 cm.
Sedangkan daun berukuran besar memiliki lebar 10 11 cm dan panjang 11 13
cm (Cahyono, 2003).

2.3.4 Bunga
Bunga tanaman buncis berbentuk bulat panjang (silindris) yang panjangnya
1,3 cm dan lebar bagian tengah 0,4 cm. Bagian dari bunga buncis adalah kelopak
bunga berjumlah 2 buah, tangkai yang panjang sekitar 1 cm, dan mahkota bunga
yang berjumlah 3 buah. Persarian bunga tanaman buncis dapat terjadi dengan
bantuan serangga dan angin. Bunga buncis tumbuh dari cabang yang masih muda
atau pucuk pucuk muda (Cahyono, 2003).

2.3.5 Polong
Polong buncis memiliki bentuk yang bervariasi, tergantung pada
varietasnya. Ada yang berbentuk pipih dan lebar yang panjangnya lebih dari 20
cm, bulat lurus dan pendek kurang dari 12 cm, serta berbentuk silindris agak
panjang sekitar 12 20 cm. Polong buncis memiliki struktur halus, tekstur renyah,
berserat, ada yang tidak berserat, bersulur pada ujung polong dan ada yang tidak
bersulur. Polong buncis tersusun bersekmen sekmen. Jumlah biji pada satu polong
bervariasi antar 5 14 buah tergantung pada panjang polong. Pada polong yang
berukuran panjang, jumlah bijinya lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
yang pendek (Cahyono, 2003).

2.3.6 Biji
Biji buncis yang telah tua agak keras dan warnanya agak bervariasi
tergantung pada varietasnya. Biji buncis berukuran agak besar, berbentuk bulat
lonjong dan bagian tegah (mata biji) agak melengkung (cekung) berat biji buncis
berkisar antara 16 40,6 g (berat 100 butir) tergantung pada varietanya (Cahyono,
2003)

2.4 Syarat Tumbuh Buncis


2.4.1 Tanah
Tanah memiliki bermacam-macam jenis dan tingkat kesuburan. Jenis tanah
dan tingkat kesuburan tanah disetiap daerah berbeda beda. Yang perlu
diperhatikan adalah ketinggian tempat, jenis tanah, dan sifat fisik tanah, sifat
kimia tanah dan biologis tanah.
a. Ketinggian Tempat
Tanaman buncis dapat ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi
tergantung jenis varietas yang digunakan. Tanaman tipe merambat dapat tumbuh
pada ketinggian 200 600 m dpl sedangkan tanaman buncis tipe tegak dapat
tumbuh 500 1500 m dari permukuaan laut tanaman buncis dapat juga tumbuh
baik di dataran rendah. Akan tetapi, tanaman buncis memerlukan perawatan
khusus walaupun tidak sulit seperti tanaman buncis dapat juga tumbuh baik di

dataran rendah. Akan tetapi, tanaman buncis memerlukan perawatan khusus


walaupun tidak sulit. Semakin tinggi suatu daerah dari permukaan laut maka
curah hujan dan kelembapan semakin tinggi. Dengan demikian ketinggian tempat
sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan pembentukan polong. Tanaman
buncis di dataran rendah yang ditanam di dataran tinggi tidak akan berhasil
dengan baik, walupun tanaman dapat tumbuh. Demikian pula tanaman buncis
dataran tinggi yang ditanam di dataran rendah sebap kondisi lingungan yang tidak
sesuai yang diperlukan tanaman buncis akan berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan proses pembentukan polong (Cahyono, 2003).
b. Sifat Fisik Tanah
Sifat fisik tanah yang baik untuk penanaman buncis adalah tanah gembur,
kaya bahan organik, tanah mudah mengikat air dan kedalaman tanah dalam.sifat
fisik yang demikian sangat cocok untuk pertumbuhan dan produksi polong buncis.
Menurut (Cahyono, 2003) tanah yang subur dan dalam dapat perkembangan dan
pertumbuhan akar sehingga dapat tumbuh dengan subur karna dapat
meningkatkan zat-zat makanan didalam tanah yang diperlukan oleh tanaman
untuk pertumbuhan dan pembentukan polong.
c. Sifat Kimia Tanah
Kemasaman (pH) tanah yang cocok untuk tanaman buncis adalah berkisar
5,5 6. Jika pH kurang dari 5,5 maka pertumbuhan dan pembentukan polong
akan terganggu: polong yang terbentuk tidak normal dan kecil kecil sehingga
kulitas dan produksi rendah. Karna pH yang terlalu rendah akan mengangu
penyerapan zat makanan oleh akar. Sedangkan apabila ditanam pada pH di atas 7
berpengaruh terhadap pembentukan polong. Polong akan berukuran kecil kecil
dan produksi rendah dan gejala pada pertumbuhan daun menjadi mengkuning dan
tanaman tumbuh kerdil (Cahyono, 2003).
d. Sifat Biologis Tanah
Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi jika
ditanam pada tanah yang mengandung bahan bahan organik dan bermacam
macam bahan makan yang dibutuhkan oleh tanaman dan didalam tanah banyak
organisme pengurai bahan organik (humas) (Cahyono, 2003).

2.4.2 Iklim
Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik dan produksi tinggi pada
kisaran suhu udara antar 20o C - 25o C. Keadaan suhu udara lebih dari 25o dapat
mengurangi kualitas polong sangat rendah dan tidak berisi (gopong). Sedangkan
apabila suhu rendah (kurang dari 20o C) dapat menyebapkan pertumbuhan kurang
baik dan dan pembentukan polong sangat sedikit. Kelembapan udara dan tanah
yang sesuai ialah berkisar 50 60% kelembapan yang rendah menyebapkan
pertumbuhan tanaman buncis kurang baik dan produksi polong rendah baik
jumlah maupun mutu benih sedangkan apabila terlalu tinggi (lebih dari 70%)
dapat menyebapkan stomata tertutup sehingga penyerapan CO2 terhambat tidak
masuk kedalam daun sehingga fotosintesis tidak berjalan dengan baik
mengakibatkan pertumbuhan dan hasilnya tergangu. Tanaman buncis memerlukan
penyinaran cahaya matahari penuh sepanjang hari berkisar 10 12 jam atau
memerlukan banyka sekitar 400 800 footcandles. Untuk itu penanaman buncis
harus di tempat yang terbuka (Cahyono, 2003).

2.5 Zat pengatur tuumbuh dekamon 22,43 L


Didalam dunia tumbuhan, zat pengatur tumbuh mempunyai peranan dalam
pertumbuhan dan perkembangan tanaman untuk kelangsungan hidupnya.
Mengenai ini went seorang ahli fisiologi bangsa jerman telah mengemukakan
bahwa tanpa zat pengatur tumbuh tidak ada pertumbuhan. Zat pengatur tumbuh
dapat merangsang pertumbuhan tanaman seperti pengembangan sel, peningkatan
sintesa, pertumbuhan akar dan buah (abiding, 1985).
Penggunaan zat pengatur tumbbuh di bidang pertanian telah banyak dikenal
orang antara lain dekamon 22,43 L dan pada umumnya digunakan sebagai
perangsang pembungaan (manurung, 1985).
Dekamon 22,43 L adalah suatu zat pengatur dengan bahan aktif turunan dari
fenol. Bahan aktif yang terdapat di Dekamon 22,43 L yaitu:
1. Sodium 5 Nitroguaiacol (C7H5NO4Na)

3,43 g/l

2. Sodium Ortho Nitrofenol (C6H4NO3Na)

6,90 g/l

3. Sodium Para Nitrofenol (C7H6NO4Na)

10,34 g/l

4. Sodium 2,4 dinitrofenol (C6H3N2H5Na)

2,30 g/l

Dekamon 22,43 L diaplikasikan melalui daun tanaman dengan cara


penyemprotan konsentrasi 3-6 cc per liter air. Penyemprotan dilakukan sampai
daun tanaman basah (anonimus, 1998).
Dekamon 22,43 L berbentuk cair berwarna coklat dengan bau khas. Fungsi zat
pengatur tumbuh adalah (anonymous, 1998) :
1. Merangsang pertumbuhan tunas baru
2. Mencegah kerontokan bunga dan buah
3. Menigkatkan jumlah serta kualitas hasil
Zat pengatur tumbuh tidak beracun dan tidak mempengaruhi tanah. Aplikasinya
dapat dicampur pupuk daun, insektisida dan fungisida (anonimus, 1998)
Leopold dan kriedeman (1975) bahwa senyawa phenol dapat mengaktifkan
berbagai reaksi metabolism dalam tanaman sehingga merangsang dan
mengendalikan pertumbuhan senyawa phenol dapat merangsang pertumbuhan
karena dapat meningkatkan kandungan IAA dalam tanaman, dimana IAA adalah
auksin alami dalam tanaman, meningkatnya konsentrasi auksin dalam sel tanaman
dapat merangsang pemanjangan sel.

2.6 Mutu Benih


Menurut Sadjad (1993) menyatakan bahwa benih adalah biji tanaman yang
dipergunakan untuk keperluan pengembangan usaha tani, memiliki fungsi
agronomis atau merupakan komponen agronomi.
Mutu benih adalah nilai kualitas secara fisiologis dan patologis terhadap
suatu benih. Benih yang bermutu baik secara fisiologis adalah benih yang
memiliki daya kecambah yang baik dan mampu tumbuh serentak dengan sifat
yang seragam dan berproduksi tinggi. Secara patologis benih bermutu baik adalah
benih yang tidak membawa pathogen dan tidak terjangkit penyakit serta dapat
tumbuh dan memiliki ketahanan terhadap penyakit tertentu (Sutopo, 2002).
Menurut Sadjad (1993) mutu benih mencangkup beberapa bagian yaitu :
a. Mutu Fisik Benih

10

Benih bermutu fisik mencangkup benih yang bersih. Tidak saja bersih dari
campuran kotoran fisik seperti pasir, tanah, tangkai atau daun kering, tetapi juga
bersih dari campuran benih-benih mati atau benih abnormal fisik (Inferior), dan
benih kosong, atau dari perangan benih seperti kulit, endosperem, pecahan
kotiledon. Benih bermutu fisik yang tinggi juga menujukan perwujudan seragam,
seragam bentuk, warna, ukuran, dan berat perjumlah atau pervolume.
b. Mutu Fisiologis Benih
Mutu fisiologis benih berkaitan kemampuan benih untuk bisa hidup normal
dan kisaran keadaan alam yang cukup luas, mampu tumbuh cepat dan merata.
Benih bermutu fisiologis yang tinggi juga mampu untuk disimpan. Artinya meski
melalui priode simpan dengan keadaan simpan yang suboptimum pun, benih tetap
menghasilkan pertumbuhan tanaman yang berproduksi normal apabila ditanam
sebelum disimpan.
b. Mutu Genetik Benih
Mutu genetik benih dalah benih yang mempunyai kesamaan dengan benih
induknya dari penampilan dan tumbuhanya. Mutu genetik benih penampilan benih
murni dari spesies lain atau varietas tertentu.
Menurut Sutopo (2002) menyatakan bahwa mutu benih tidak hanya
mengambarkan fisik, fisiologis dan genetik tapi juga mengambarkan mutu
pathologis benih yang mencangkup tentang kesehatan benih. Tolak ukur dari
mutu pathologis benih yang biasa digunakan adalah status kesehatan benih. Halhal yang diamati untuk mengetahui status kesehatan benih ini adalah keberadaan
serangan pathogen, jenis pathogen, dan tingkat srangan pathogen.

11

2.7 Kerangka Berpikir


Berdasarkan studi empiris dan teoritis yang telah diuraikan, maka penulis
membuat kerangka berfikir seperti pada diagram di bawah ini (Gambar 2.1) :
Buncis

Sebagai Bahan Komsumsi

Penggunaan Lahan
Produksi Menurun

Rendahnya Penggunaan
Benih Bermutu

Penurunan Hasil

Permintaan Menigkat

Perbaikan Kultur
Teknis

Penggunaan Benih
Bersertifikat
Pemberian zat pengatur
tumbuh dekamon 23,43 L

konsentrasi zat
pengatur tumbuh

Umur panen dan


kemasakan benih

36 hsb

40 hsb

0 cc/l

3 cc/l

Pengamatan Hasil dan Mutu Benih

Metode Terbaik

Peningkatan Hasil
Gambar 2.1 Skema Kerangka Berfikir Penelitian

6 cc/l

12

2.8

Hipotesis
Berdasarkan uraian teoritis di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini yaitu

sebagai berikut :
1.

H0 = Penentuan umur panen tidak berpengaruh terhadap hasil dan mutu benih
tanaman buncis (P. vulgaris L.)
H1 = Penentuan umur panen berpengaruh terhadap hasil dan mutu benih
tanaman buncis (P. vulgaris L.)

2.

H0 = Pemberian zat pengatur tumbuh tidak berpengaruh terhadap hasil dan


mutu benih buncis (P. vulgaris L.)
H1 = Pemberian zat pengatur tumbuh berpengaruh terhadap hasil dan mutu
benih buncis (P. vulgaris L.)

3.

H0 = Tidak terdapat interaksi penentuan umur panen dan pemberian zat


pengatur tumbuh terhadap hasil dan mutu benih buncis (P. vulgaris L.)
H1 = Terdapat interaksi penetuan umur panen dan pemberian zat pengatur
tumbuh terhadap hasil dan mutu benih buncis (P. vulgaris L.)