Anda di halaman 1dari 2

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hampir semua kalangan masyarakat memanfaatkan buncis, mulai dari ibu
rumah tangga yang membutuhkan dalam jumlah sedikit sampai ke industri
pengolahan yang membutuhkan dalam jumlah besar dan continue.
Budidaya buncis di Indonesia mula-mula di daerah Bogor, kemudian
menyebar ke daerah-daerah yang sekarang menjadi sentra penghasil sayuran. Kini
buncis banyak dibudidayakan di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat,
Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua (Pitojo, 2004).
Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 1999 tentang Gerakan Nasional
Penanggulangan Masalah Pangan dan Gizi mengisyaratkan perlunya penanganan
pangan secara terpadu oleh masyarakat dan pemerintah. Dalam hal ini, buncis
berperan sebagai sayuran karena memiliki kandungan gizi dan vitamin yang
bermanfaat bagi kesehatan jasmani (Pitojo, 2004). Menurut catatan Departemen
Kesehatan RI, setiap 100 g buncis mengandung 35 g kalori, 2,4 g protein, 0,2 g
lemak, 7,7 g karbohidrat, 65 mg kalsium, 44 mg fosfor, 1,1 mg besi, 630 SI
vitamin, 0,08 mg vitamin B1, 19 mg vitamin C dan 88,9 g air.
`Menurut data statistik produksi hortikulura tahun 2013 produksi buncis
mengalami penurunan yaitu pada tahun 2010 mencapai 336.494 ton dengan luas
areal panen 36.483 hektar. Sedangkan pada tahun 2013 mencapai 327.378 ton
dengan luas areal panen 30.094 hektar. Dengan demikian terdapat penurunan luas
panen sebesar 6.389 hektar, dengan penurunan produksi sebesar 9116 ton.
Mengingat jumlah penduduk yang selalu meningkat setiap tahun perlu adanya
peningkatan produksi buncis di indonesia.
Usaha-usaha peningkatan produktivitas bisa dilakukan dengan cara
intensifikasi, yaitu usaha penerapan sapta usaha tani. Usaha tersebut antara lain
meliputi penggunaan bibit unggul, perbaikan cara bercocok tanam, penggunaan
zat pengatur tumbuh, dan penanganan pascapanen yang baik.
Untuk menunjang ketersediaan benih buncis yang bermutu tinggi dari
varietas unggul maka perlu suatu informasi budidaya buncis yang tepat dari mulai

pembibitan sampai dengan pasca panen. Pemanenan benih dilakukan setelah


benih tersebut masak secara fisiologis dimana berat kering benih mencapai
maksimum (Sadjad, 1980a dan Delouche, 1983). Benih yang digunakan dalam
penelitian ini adalah benih buncis varietas spurt tegak yang tahan terhadap karat,
virus mosaic dan curly top. Penggunaan zat pengatur tumbuh juga bisa
meningkatkan produksi tanaman. ZPT yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Dekamon 22,43 L, Hormon ini mampu merangsang pertumbuhan tunas-tunas
baru, mencegah kerontokan bunga dan buah, dan meningkatkan jumlah kualitas
hasil (Lingga, 1999).

1.2 Rumusan Masalah


a. Apakah terdapat pengaruh penundaan panen terhadap viabilitas benih?
b. Apakah terdapat pengaruh pemberian ZPT terhadaplaju tumbuh tanaman
buncis?
c. Mencari umur panen yang tepat untuk meningkatkan viabilitas benih?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui umur panen tanaman
buncis yang tepat serta mengetahui pengaruh ZPT dekamon terhadap
pertumbuhan tanaman buncis.

1.4 Manfaat
Penelitian ini dilakukan agar kedepannya produksi tanaman buncis
meningkat dikarenakan adanya benih unggul serta diharapkan penelitian ini
memberikan informasi kepada peneliti yang akan datang dan sebagai acuan untuk
meningkatkan viabilitas benih yang akan meningkatkan produksi tanaman buncis.