Anda di halaman 1dari 6

BAB 3.

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dilahan percobaan POLITEKNIK NEGERI
JEMBER, Jalan PO BOX Mastrip No. 124 Jember pada bulan Juli Oktober
2016.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan cangkul, sprayer, gembor, ember, gunting pangkas,
koret, jangka sorong,

sabit, gelas ukur, meteran, pisau, baki. Bahan yang

digunakan adalah Benih Buncis Varietas Balitsa 2 kelas dasar.

3.3 Metode Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak
Kelompok (RAK) secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor,
a. faktor 1 yaitu konsentrasi ZPT Dekamon 22,43 L (Z) dengan 3 taraf yaitu :
1. Z0 = ZPT dekamon 22,43 L control (0cc)
2. Z1 = ZPT dekamon 22,43 L 3 cc/l
3. Z2 = ZPT dekamon 22,43 L 6 cc/l
b. Faktor 2 yaitu umur panen (U) dengan 2 taraf :
1. Umur panen 36 HSB (Hari setelah Berbunga)
2. Umur panen 40 HSB (Hari setelah Berbunga)
Sehingga Diperoleh 6 kombinasi percobaan dan diulang sebanyak 3 kali
sehingga diperoleh 18 satuan percobaan. Kombinasi percobaannya :
a. Z0U1
b. Z0U2
c. Z1U1
d. Z1U2
e. Z2U1
f. Z2U2
Metode statistik yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
Yij = + i + j + ()ij + ij
14

15

Keterangan:
Yij

= Nilai pengamatan unit percobaan pada taraf perlakuan benih ke-i dan
perlakuan benih ke-j

= Nilai tengah umum

= Pengaruh pemberian zpt dekamon

= Pengaruh umur panen

()ij

= Pengaruh interaksi pemberian Zpt dekamon ke-i dengan perlakuan


umur panen ke-j

ij

= Galat percobaan
Data hasil penelitian diolah secara statistik menggunakan Analysis Of

Variance (ANOVA). Apabila hasil menunjukkan pengaruh yang nyata maka akan
dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%.
a. Lay-out Perlakuan
BLOK 1
Z2U2
Z1U1
Z0U2
Z0U1
Z2U1
Z1U2

BLOK 2
Z0U2
Z1U2
Z2U2
Z2U1
Z0U1
Z1U1

BLOK 3
Z1U2
Z0U2
Z2U1
Z1U1
Z2U2
Z0U1

BLOK 4
Z0U1
Z2U1
Z1U2
Z2U2
Z1U1
Z0U2

3.4 Prosedur Penelitian


3.4.1 Pengolahan Lahan
a. Persiapan lahan
1. pembersihan lahan dari sumber kontaminan (rumput, kaleng, plastik, dll.).
2. mengolah tanah dengan cara mencangkul tanah sedalam 20 cm hingga gembur.
3. membuat bedengan dengan pola tanaman baris ganda dengan panjang 2 m dan
lebar 1 m dengan tinggi 30 cm dan lebar parit 40 cm dengan arah bedengan
dari timur barat, sebanyak 18 unit

16

4. melakukan pemupukan dasar 7-10 hari sebelum penanaman berupa pupuk


kandang sapi yang disebarkan di atas bedengan sebanyak 3 kg perbedengan (25
ton/ha).

3.4.3 Penanaman
Penanaman benih buncis langsung ditanam di lahan. Jarak tanam yang
digunakan 50 cm x 40 cm, jarak antar baris 50 cm dan jarak dalam baris 40 cm,
Benih buncis ditanam sebanyak 2 benih/lubang tanam (diberi furadan 3G) dengan
cara ditugal sedalam 5cm.

3.4.4 Pemeliharaan
a. Penyulaman
Penyulaman dilakukan bila benih tanaman tidak tumbuh, tanaman yang rusak.
Penyulaman dilakukan selambat-lambatnya 4-6 hari setelah tanam.
b. Pengairan
Pengairan dilakukan secara kondisional sesuai dengan kondisi lahan produksi
benih.
c. Penyiangan
Dilakukan secara kondisional pada saat muncul tanaman yang bukan tanaman
pokok disekitar bedengan secara mekanik (kored, cangkul, atau parang)
d. Pemupukan
Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 2 kali,
Jenis Pupuk

Pupuk Susulan 1

Urea

31

kg/ha

Pupuk Susulan 2

(0,52 15,5 kg/ha (0,26

gram per tanaman) gram per tanaman)


SP 36

62,5 kg/ha (1.44 31 kg/ha (0,52


gram per tanaman) gram per tanaman)

KCl

22,5 kg/ha (0,37 15

kg/ha

(0,3

gram per tanaman) gram per tanaman)


.

17

e. Pengendalian hama dan penyakit


Dilakukan secara kondisional dan bijak, serta dilakukan pengendalian secara
kimia apabila tingkat serangan hama telah memasuki tingkat kerusakan secara
ekonomi.
f. Penyemprotan ZPT dekamon
Penyemprotan ZPT Dekamon 22,43 L dilakukan 14 hari setelah tanam dengan
interval 7 hari sampai 42 hari setelah tanam.

3.4.4 Panen dan Pasca Panen


Panen buah buncis tipe merambat dapat dilakukan pada umur 36 dan 40 hari
setelah tanam bunga

dicirikan dengan semua daun tanaman menguning dan

polong bewarna kuning sampai coklat tua, waktu panen dilakukan pada pagi hari
atau sore hari ketika cuaca cerah, cara panen dengan mencabut seluruh
tanamannya kemudian di jemur di tempat penjemuran khusus.
Penanganan pasca panen buncis tipe tegak dilakukan dengan cara
memisahkan polong kacang dengan tangkai tanaman, kemudian dijemur di bawah
terik matahari hingga kering lalu pisahkan biji dengan polong dengan cara
memasukan ke dalam karung lalu dipukul hingga biji dan polong terpisah. Biji
buncis dipisahkan dari kotoran benih, benih tanaman lain, dan benih yang rusak,
selanjutnya jemur hingga kadar air 12%, benih dikemas diwadah dengan rapat dan
kondisi yang sesuai.

3.4.6 Pengujian Mutu


Pengujian mutu benih dengan melakukan pengujian kadar air, daya
kecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh dengan metode sesuai
dengan pedoman mutu benih.

3.5 Parameter Pengamatan


Pengamatan dilakukan pada seluruh unit perlakuan dengan jumlah sampel
pengamatan 4 sampel dari jumlah tanaman pada setiap unit perlakuan.

18

3.5.1 Parameter Fase Pertumbuhan


a. Tinggi tanaman (cm)
Diukur dari pangkal batang sampai dengan pucuk, dilakukan pengukuran
setelah tanaman berumur 27 HST sampai dengan 44 HST diukur (diamati) tiap
minggu.

3.5.2 Parameter Pasca Panen


a. Jumlah polong pertanaman
Menghitung jumlah polong pertanaman secara manual.
b. Berat polong pertanaman
Menghitung bobot polong disetiap tanaman menggunakan timbangan.
b. Jumlah biji per polong
Menghitung jumlah biji disetiap tanaman secara manual sebanyak 20 polong
pertanaman
c. Berat 1000 butir (gram)
Mengambil sejumlah benih hasil prosessing dari masing-masing perlakuan
sesuai dengan prosedur dan standarisasi dalam pedoman pengujian mutu benih.

3.6 Pengamatan Mutu Benih


3.6.1 Daya Kecambah (DB)
Daya berkecambah diukur dengan cara menanam 50 butir benih buncis pada
substrat kertas merang dengan metode UKDDP. Kemudian diletakkan di
germinator. Pengamatan dilakukan pada hitungan pertama (hari ke-5) dan
hitungan kedua (hari ke-9) setelah tanam. Daya berkecambah (DB) adalah
persentase kecambah normal dalam keadaan lingkungan yang optimum,
persentasen dapat dihitung berdasarkan kecambah normal (KN) yang tumbuh
dengan rumus:
% Kecambah Normal =

3.6.2 Kecepatan Tumbuh (KCT)

19

Benih buncis sebanyak 50 butir ditanam pada substrat kertas merang dengan
metode UKDDP, kemudian dikecambahkan dengan germinator. Pengamatan
dilakukan setiap hari. Kecepatan tumbuh diukur dengan menghitung kecambah
normal. Setiap pengamatan jumlah kecambah normal dibagi etmal (24jam). Nilai
etmal kumulatif dihitung mulai saat benih ditanam sampai saat pengamatan
terakhir dengan rumus:

Kct =
Keterangan :
KCT = Kecepatan tumbuh (%/etmal)
Xi

= Presentase kecambah normal pada etmal ke i

Ti

= waktu pengamatan dalam (etmal)

3.6.3 Keserampakan Tumbuh (KST)


Benih buncis sebanyak 50 butir ditanam pada substrat kertas merang dengan
metode UKDDP, kemudian dikecambahkan dengan germinator. Pengamatan yang
dilakukan ialah kecambah normal kuat pada hari antara hitungan pertama dan
hitungan kedua (hari ke-7). Kecambah normal kuat adalah kecambah yang
memiliki kinerja kuat diantara kecambah yang tumbuh normal. Keserempakan
tumbuh dihitung dengan rumus :
KST (%) =