Anda di halaman 1dari 2

Halaman 205

Seringkali menimbulkan konflik. Pribadi yang berbeda, profesional dan nilai-nilai institusional
membentuk konflik moral yang harus diperhatikan oleh semua anggota tim.
Terakhir, nilai-nilai tersebut harus dipertimbangkan dan disusun prioritasnya sesuai
norma-norma etik yang dapat menjadi petunjuk bagi kita.
PERANGKAT ETIK
BAGI SESEORANG YANG TERLIBAT DALAM KONFLIK MORAL, PEMECAHAN
TAMPAKNYA TAK MUNGKIN. PENERAPAN PERANGKAT etik secara sistemastis, dasar
prinsip-prinsip moral dan petunjuk keperawatan profesional, membantu kita dan
memutuskan mana tindakan yang benar dapat membantu kita memenuhinya. Proses
pembuatan keputusan secara sistematis adalah perangkat lain yang dapat membantu kita
memenuhi kewajiban etika.
Pembuatan keputusan etika tidak menjanjikan jawaban yang absolut. Dilema etik
adalah dilema karena memaksakan beberapa alasan yang ada untuk memperoleh satu dari
dua atau lebih pilihan tindakan. Keputusan tentang mana tindakan yang harus diambil
hasrus dianalisa dan diberikan alasannya menurut dasar prinsip-prinsip moral yang akan
didiskusikan di bawah ini.
Sistem tentang pemikiran etik
Dalam etik normatif, ada dua sistem etik yang membantu kita menentukan mana yang
benar dan mana yang salah. Kategori pertama meliputi teori-teori yang menentukan suatu
tindakan benar atau salah berdasarkan dasar-dasar dari konsekuensinya. Teori-teori ini
diistilahkan sebagai teori-teori konsekuensialistik. Kategori kedua meliputi teori-teori untuk
menilai suatu tindakan betul atau salah yang lebih didasari oleh rangkaian cerita daripada
akibat, biasanya berdasarkan kesesuaian antara tindakan dengan aturan moral. Teori
seperti ini dinamakan deontologi atau teori non konsekuensialistik. Kedua teori tersebut
menggunakan prinsip-prinsip dan aturan, meskipun untuk alasan yang berbeda.
Saat ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral terhadap situasi tertentu, kadangkadang kita tidak menyadari nilai-nilai profesional kita dan kewajiban-kewajiban yang
memberi warna pada alasan etika kita. Kesadaran tentang kewajiban profesional dan
kewajiban pribadi dapat memberikan wawasan terhadap sumber-sumber interprofesional
atau konflik etika interprofesional.
Prinsip-prinsip etik
Prinsip-prinsip yang paling penting untuk menganalisa konflik moral yang dihadapi oleh
perawat praktisi adalah beneficence (melakukan yang baik). Non malafiecence (tidak
menimbulkan bahaya), otonomi (menghargai penentuan diri) kesetiaan (ketulusan dalam
hubungan). Prinsip-prinsip ini membantu kita menentukan apa tugas-tugas kita, dana
apakah semuanya itu benar atau salah jika kita laksanakan.
Prinsip-prinsip ini dapat diperoleh dari kode-kode untuk perawat. Kode menyusun
prinsip tersebut dalam preambulnya dan menerapkannya dalam pernyataan interpretif.

Nonmalafiecence dan benefience


Prinsip non malaeficence mengatakan bahwa kita memiliki tugas etika untuk tidak
menimbulkan bahaya dan kenyataan. Kenyataannya, tugas untuk tidak membahayakan
orang lain lebih berat daripada tugas tugas untuk memberi keuntungan pada orang lain.
Mengambil pernyataan dari sumpah hippocratic dan nightingale, jameton berpendaapat
bahwa lebih penting untung menghindari melakukan yang dapat membahayakan daripada
melakukannya dengan baik.