Anda di halaman 1dari 1

STUDI KASUS

George edwards, pria berusis 59 tahun, datang ke ruang gawat darurat dengan keluhan sakit
kepala dan nyeri dada sejak beberapa minggu terakhir ini. Monitor jantung menunjukkan
adanya takikardia, ventrikuler,. Setelah ditempatkan di ruang ICCU, Tn. Edward
membutuhkan beberapa tindakan untuk mengatasi takikardia. Pada saat ini dia membutuhkan
RJP (Resusitasi Jantung Paru). Hasil labolatorium menunjukkan adanya infark miokardia,
dan hasil ekokardiogram menunjukkan fraksi ejeksi sebesar 25 persen. Dokter kardiologi
merencanakan pemasangan defebrilator impian jika keadaan Tn. Edward telah stabil.
Pada hari ke -14 perawatannya di rumah sakit. Tn. Edward mengalami gagal jantung
kongestif dan takikardia ventrikular, dan membutuhkan RJP dan defibrilator. Dokter
kardiologi tetap optimis bahwa studi elektrofifiologi dan pemasangan defebrilator jantung
automatik yang dapat di tanam (automatic implantable cardiac defebrilator (AICD) akan
memberikan hasil yang baik. Tn. Edward sangat lelah, binggng untuk beberapa saat dan
mulai sering bertanya pada perawat tentang rencana pemasangan AICD tesebut, yang dapat
memperpanjang hidupnya. Dia sering mengungkapkan ketakutannya tentang pemasangan alat
tersebut dan ketidaknyamanan yang dapat mengganggunya jika alat itu dipasang. Perawat
mulai bertanya keuntungan jangka panjang apa yang dapat diperoleh dari pengobatan seperti
itu yang dilakukan pada pasien yang keadaanya cukup menderita.
Kasus ini memperlihatkan dilema dalam memberikan pengobatan yaitu keuntungan yang
dapat diperoleh dari defebrilator untuk mengatasi takikardia ventrikuler berulang yang terjadi
pada pasien yang menderita kerusakan jantung yang cukup berat. Tanpa terapi ini, pasien
akan mati, tetapi apakah keuntungan dari mencegah timbulnya kematian mendadak lebih
berat dari pada risiko bahaya fisik dan emosional yang disebabkan oleh berulangnya
defebrilasi dengan pengulangan defebrilasi dan kardioversi saat pasien menunggu
dilakukannya tindakan pemasangan AICD?.
Keinginan untuk mencegah bahaya melalui penundaan kematian adalah salah satu bentuk
non-maleficence. Mungkin bahaya yang lebih besar dari kematian, adalah ketidaknyamanan
fisik dan emosi yang terus menerus yang disebabkan oleh pengobatan ini. Keinginan untuk
bertindak secara lebih menguntungkan melalui pemberian rasa nyaman dan pengobatan yang
tidak begitu agresif mungkin dapat menjadi pertimbangan dalam kasus di atas.