Anda di halaman 1dari 91

Dr. der Nat. Poerbandono, S.T., M.M.

Ir. Eka Djunarsiah, M.T.

Suruei Hidrografi

dengauf<onuibusi:

In

In

Samsul Bachri, M.Eng., Ph.D.


Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc., Ph.D.

In Irdam Adil, M.T

Savnbutaw

0t.

RF. TEK. i 1.

Hidrografi sebagai suatu ilmu pada awalnya difokuskan untuk menunjang


navigasi kapal-kapal di laut. Sejalan dengan perkembangan teknologi serta
meningkatnya kebutuhan manusia yang berkembang dengan pesatnya serta
setelah beberapa perguruan tinggi terkenal mengantisipasi perkembangan
tersebut dengan memasukkan h idrografi sebagai mata kul iah, i I mu hidrografi
menjadi disiplin yang mulai dipelajari secara intensif dan ilmiah pada suatu
prograrn studi. Departemen Teknik Ceodesi, lnstitut Teknologi Bandung,
sebagai pelopor pendidikan geodesi di lndonesia, telah mulai mengembangkan
.1982.
ilmu hidrografi sejak tahun

2005

Dr. der Nat. Poerbandono, S.T., M.M. & lr. Eka Djunarsiah,
M.T.
Survei Hidrografi

Editor

Rose Herlina, S.Si.

Setting

: Teddy Soleh

Susandi

Desarn Sampul

: lman Taufik,

B.A.

Diterbitkan & dicetak oleh pT. Refika Aditama


Jl. Mengger Cirang No. 98, Bandung 40254
Telp. (022) 5205985, Fax. (022) 52OS}B4
e-ma il

re{ika I @rad. net. id

Anggota IKAPI
Cetakan Pertama: Maret 2005

lsBN 979- ) )01-24-)


Hak Cipta DilinclLrngi Unrlang-urrrl;rng.
Dilar.rng meng,uttp,tt.tu n)(,ml)(,rlr,rrry,rk sel;agian,rt,trr scluruh
isi br-rku ini
TANPA lZlN TERTULIS rl,rri lrr.rrr.rlrir

lndonesia sebagai salah satu negara maritim yang besar, sudah


sepantasnyalah ikut berperan serta dalam pengembangan hidrografi tersebut,
terutama dalam bidang pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia
yang akan mengelola wilayah perairan kita yang sangat luas ini. Sayangnya,

literatur yang tersedia untuk mempelajari serta mengembangkan ilmu


hidrografi tersebut sangat terbatas. Kekurangan literatur hidrografi itu tidak
hanya terasa di lndonesia saja, akan tetapi juga di luar negeri. Oleh sebab
itu, penerbitan buku hidrografi yang sederhana ini, minimal akan merupakan
bacaan berharga bagi mahasiswa serta siapa sa.ja yang berminat dalam
bidang hidrografi untuk mempelajari serta menambah wawasannya. Selain
itu, mudah-mudahan buku hidrografi ini dapat menjadi pancingan bagi
ilmuwan-ilmuwan lain untuk membahas serta menulis, baik dalam bentuk
makalah maupun buku mengenai hidrografi.
Para kontributor tulisan-tulisan dalam buku ini, terutama upaya
Dr. Por.rlr.rn<lr>no sebagai penulis utama l-ruku ini, yang telah berusaha dan
h.kr,ri,r kcr,rs rl,rl,rnr mcwujurlkan lltrkrr ini, pattrt kita hargai. Murlah-rnucJahan

buku ini dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan hi<lrogr,rlr


lndonesia.

rlr

Pengantar penw[is

Bandung, Januari 2005

Dosen di Departemen

Dr.-lng. lr. Siamsir Mira


Teknik Ceodesi llB (1962-2004),

Dosen Tamu di lnstitutTeknologi Kebangsaan Malaysia (1972-1975),


Curu Besar ITB (1 981 -2OO4),
Pendiri (19S2) dan Ketua KK Hidrografi (1982-2004),
Anggota Advisory Board IHO (1985-1990),
An

ggota Eclitori al Adv

so

ry Board Hydrol NTE RN ATIO

AL

997'2002\,

Pendiri (1993)dan Ketua Pusat Penelitian Kelautan ITB (1993-1999)'

Terminologi hidrografi telah bergeser dan berkembang dari akrivir,rs


penunjang navigasi laut (survei dan pemetaan laut) dan survei untuk inrltrslri
lepas pantai (survei seismik dan batimetri laut dalam) menjadi disiplin ilrrrrr
yang mulai diselenggarakan sebagai program akademik setingkat magistr,r rlr
beberapa universitas di lnggris, Jerman, Amerika serikat, Selandia ll,rrrr,
Malaysia dan lndonesia. Sebagai sebuah disiplin, hidrografi meliputi bc.lx.r,r1r,r
topik yang berhubungan erat dengan disiplin geodesi, survei dan pemct,r,rrr,
geomatika, fisika, hidrolika, oseanografi, geografi fisik, geologi, geofisik,r,
nautika dan hukum laut. Beberapa referensi asing yang menjelaskan spektrrrrr

disiplin hidrografi ditulis oleh Dyer [Dyer, K. R. (1 979). Estuarinr


Hydrography and sedimentation. Cambridge University press. Cambridgc,
UKI dan deJong et al. [deJong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema,
l. A. (2002). Hydrography. Delft University Press. Delft, The Netherlandsl.

Buku ini ditulis untuk menjadi acuan akademik bagi mahasiswa


program sarjana dan buku teks pengantar bagi mahasiswa program magistr.r
dalam ilmu-ilmu kebumian dan rekayasa lingkungan. pembagian, pengurut,rr

dan penya.iian materi dalam buku ini drrancang berdasarkan kebutulr,rrr


umum mahasiswa program sarjana dan magister di program studi rcknik
ceodesi dan ceomatika, lnstitut Teknologi Bandung yang diselenggarak,rrr
oleh Kelompok Kepakaran Hidrografi, Departemen Teknik ceorlesi, Fakulr.rs
Teknik sipil dan Perencanaan. Buku ini juga disarankan bagi l>ara nrahasisw,r
yang strl,rrrg hclajar atau meminati disiplin geografi fisik, tcknik p,rrrt,ri,
grrrlogi, orr',tttogt,tfi [isik serta disiplin lain yang mcnartrh pcrlr,rti,rp p,rrl,r
[t'ttoltrr.rr,r ;irr,rl' lr,rrl,rrr ,rir rlan interaksinya rlongirn rl;rs,rr pcr.,rir,rn. l,r,rrrrlis
btlr,tsttltt',t lr,rlrw,r l,r'tttlr,rr,r lrott'nsial brrku ilri tcl,rlt nrr,ngr,rr.rl lisik,r <l,rs,rr,
sl,rlislrk rl,rtt l.,rlIttlrr'. y.rtr1i p,r,,li tcl,rlr rlillcril<,trr rli tirrli[,rt l)r.tt,un,r,rl,r1 [r.

il
i1

rlua di fakultas-fakultas tckrrik, kcbumian alau ilmu pengct.rlrrl,rtt ,rl,tttt.


Selain itu, pemahaman terhadap beberapa materi di buku ini akan lebih
baik jika pembaca telah mengenal dasar-dasar ilmu ukur tanah dan pemetaan.
Topikropik yang disajikan dalam buku ini dipilih sedemikian rupa

untuk menggambarkan sebagian dari lingkup hidrografi modern, karenanya


-untuk sementara- topik hidrografi klasik (navigasi laut dan survei industri
lepas pantai) ditinggalkan. Survei hidrografi adalah sebagian dari aktivitas
hidrografi. Pemilihan kata 'survei' pada judul buku ini sengaja dipakai
untuk memperkuat konsentrasi pembahasan pada teknik-teknik pengadaan
data hidrografi secara setempat (in-situ) dan ilustrasi penEEunaannya secara
deskriptif. Pengetahuan yang disajikan diusahakan terhindar informasi yang
bersifat nice to know dengan sedapat mungkin memilih hal-hal yang has to

be known.
Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam penulisan buku ini adalah
dalam menentukan kedalaman pembahasan. Tingkat kedalaman pembahasan
yang dituliskan di buku ini merupakan pandangan subjektif penulis terhadap
kebutuhan pembaca dan dianggap sebagai topik-topik yang harus diketahui

It'tittt,t [,t',tlr;rr1i,r l,rtrrt ',,rtrr1),rl\,url\('1,,r(l,r rck,rtr tcl<,rrr rlr Kr,lorrrlrol. Kr,,rlrlr,rn


I lirlrtlgr,rlr ,tl,r', prrlr,rlr,rrr rl,rrr lr,rnlu,rtr ntt.rt.k.r. Sr,t,rr,r klrrrsrrs k,rrrrr rnlirrr
memanl,t,tll(,ur l\(,\('nrl),rl,rrr irri untuk herterima k.rsih at,rs kcrj,r kr,r,rs llrrr
Rose l-lt'rlin.t, S.Si rlirri licfika Aditama serta bantuan yanll rlilrr.rik,rrr ok.lt
mahasisw;r kami, Melissa Suryaningtyas, dalam menyiapkan gamlrirr-g,rnrlr,rr
dan mengumpulkan naskah-naskah dasar yang berserakan di trtas nrt'j,r kcrj,r,
lemari dan komputer karni. Buku ini kami persembahkan untuk nr,rrrl,rrr
guru-guru kami dan para mahasiswa -yang kami harap dapat memlx,rik,rrr
umpan balik atas materi yang ditulis dalam buku ini.

Bandung, Januari 2(X)',

Dr. der Naf. Poerbandono, S.T., M.M. & lr. Eka Djunarsiah, M.T.
poerbandono@gd.itb.ac.id ; http://laul.gtl rllr ,rt rl

pembaca. Beberapa detil, terutama operasi persamaan-persamaan


matematika, sengaja tidak disajikan untuk menghindari jumlah halaman
yang akan menjadi terlalu banyak. Kesulitan lain yang dihadapi adalah
penyeragaman simbol. Simbol yang digunakan di buku ini masih didasarkan
pada kelaziman pemakaian di tiaptiap topik pembahasan. Karenanya,
sehubungan dengan itu dan tentu saja hal-hal lainnya, dalam rangka

menghindari perbedaan pemahaman, penulis membuka kesempatan untuk


berdiskusi dengan para pembaca. Diskusi tersebut akan sangat bermanfaat
untuk perbaikan isi dan penyajian buku ini pada edisi berikutnya'
Naskah-naskah yang menjadi bahan utama dalam buku ini tidak mungkin
terpublikasikan tanpa kesediaan Refika Aditama untuk menerbitkannya. Kami
menyampaikan pujian kepada Refika Aditama atas keberaniannya memilih

naskah dari topik keilmuan yang dijalani sedikit orang untuk diterbitkan
sebagai referensi akademik nasional. Selain itu, banyak pihak yang membuat
kami bersemangat menyelesaikan buku ini. Untuk itu, kami sangat berterima
kasih kepada para kontributor: Samsul Bachri, Ph.D., Hasanuddin Z. Abidin,
Ph.D. dan lrdam Adil, M.T. atas sumbangan tulisan mereka yanS sanSat
berarti untuk memperkuat isi buku ini. Kami juga berterima kasih kepada
guru kami, I)r.-lng. Sjamsir Mira, atas kesediaannya membaca dan

memlx'rb;tikr naskah final kami serta memberikan kata sambtltiltl' IJ<';tPan

vltt

lx

oaftar Isi

SAMBUTAN
PENGANTAR PENUTlS
DAFTAR ISI
Bab

PENDAHULUAN --

A. Terminologi dan Perkembangan Hidrografi


B. Definisi dan Lingkup Hidrografi .......
C. Kelembagaan Hidrografi .....
D. Kompetensi Profesi dan Akademisi Hidrografi
E. Konfigurasi Survei Hidrografi

F.

......

Referensi Akademik Hidrografi

lt
(r

Referensi

Bab

A.

SISTEM REFERENS! GEODETIK DAN PENENTUAN POStSt

DI TAUT ..

Sistem Referensi Ceodetik

a.

Sistem Koordinat
b. Datum Ceodetik
c. Proyeksi Peta .
B.
Penentuan Posisi di Laut..
a. Ceometri Caris Posisi ................
b. Penentuan Posisi Berbasis Caris Posisi.
c. Teknik Penentuan Posisi secara Optik
rl. Pr.rrcntuan Posisi secara Elektronik
C. l'r,rrr.rrlu.rrr l'osisi rlengan CPS
,r k,rr,rIlr.r l.,lrk \rslom CPS.......
lr lvt,lnrh' l'r,rrr.rrlu,rrr l'osisi rk'rrg.rrr (;l'S ..

I0
1',2

14

20
20

)2
24
2()

l2

il
t/

C.

d.

e.
f.

Ketelitian Posisi CPS


Aplikasi Penentuan Posisi CPS dalam Bidang Survei

l(l

Kelautan

40
46
47

Keunggulan Metode Penentuan Posisi CPS


Kendala CPS dalam Penentuan Posisi ......

sl

Bab

A.

Pasut

51

a.
b.
c.

52
55
55
57
59
63

B.
C.
D.

PASUT DAN DATUM VERTIKAL --

Teori Pasut
Model Matematika Pasut dan Konstanta Harmonik...'...
Tipe Pasut
Arus Pasut
Datum Vertikal

a.
b.

Pengamatan Pasut
Pengikatan Stasiun Pengamat Pasut

Prediksi Pasut.
a. Analisis Harmonik
b. Prediksi LAT ..
c. Pengaruh Faktor-faktor Non-Harmonik

Referensi

Referensi

Bab

A.
xii

Bab

A.
B.

6B

69
69

70

73
73

C.
D.

l(x)

l0i
t07
l0()

ilt
|)
I t7
I I ()

t)t

PENETAPAN BATAS IAUT -- 123


Konsep Batas Laut Berdasarkan UNCLOS 1982
Wilayah Perairan Berdasarkan UNCLOS 1982
a. Perairan Pedalaman
b. Laut Teritorial ....
c. Zona Tambahan

124
12lt

t'),,
l.f

I ) (t

d.

67

Zona Ekonomi Eksklusif


e. Landas Kontinen
f. Laut Lepas
Penetapan Batas Laut di lndonesia......
lmplementasi Penetapan Batas Laut Daerah di Lapangan .....
a. Penentuan Lokasi Daerah Survei
b. Pemasangan Pilar Titik Referensi ....
c. Penggambaran dan Penentuan Koordinat Titik Batas .....

Referensi

)7
I )7
I

I 2t)

)tl
I l)
I l)
I

l .i

l.]4
135

74
74
B1

B2
B3
B6
B9
91
91

92

94
96

PENGUKURAN ARUS DAN SEDIMEN -- 97


Pengukuran Arus .
,r. Sif.rr Ct'r.tk.ttt Bitrlitn Air....

l'ro,,r'rlttr l'r,rrlirrkut,ttt Artts


l'rrrr,,rp l'r.rrgrrkrrr.rrr Arus dengan C,tra Akuslik .............
l'r,rrgol,rlran dan Penyajian Data Pengukurarr Arus
Pr.rrl3,ukuran dan Analisis Sedimen
a. Karakter Sedimen
b. Pengambilan Contoh Sedimen
c. Analisis Distribusi Ukuran Butir .
d. Analisis Konsentrasi Sedimen

Referensi

66

PEMERUMAN -- 71
A. Pengukuran Kedalaman
a. Desain Lajur Perum
b. Prinsip Penarikan Caris Kontur.......
c. Teknik Pengukuran Kedalaman
B. Akustik Bawah Air untuk Pemeruman
a. Sifat Celombang Akustik.......
b. Alat Perum Cema
c. Sumber Kesalahan dan Kalibrasi ..".
d. Pemeriksaan Data Pemeruman
C. Detil Situasi dan Caris Pantai
a. Caris Pantai ....
b. Pengukuran Detil Situasi dan Caris Pantai
D. Beberapa Ketentuan tentang Kartografi Peta Laut
Bab

B.

4B

Referensi

lr.
.
rl.
(

97
()7

..

Lampiran A

Transformasi Koordinat ....

Lampiran

Posisi
Segiempat dan Elips Kesalahan
Standar Ketelitian Survei Hidrografi

Lampiran C
Lampiran D

Model Matematika Penentuan

TENTANG PENUTIS

.- 163

..

37

141
147

.l5ir

Pendahulurrn

A.

TERMINOLOGI DAN PERKEMBANGAN HIDROGRAFI


Kata hidrografi merupakan serapan dari bahasa lnggris ,hydrograplry,.

secara etimologis, 'hydrography' ditemukan dari kata sifat dalam lr,rh,rs,r


Prancis abad pertengahan 'hydrographique', sebagai kata yang berhul)un,.l,ur
dengan sifat dan pengukuran badan air, misalnya: kedalaman rl;rrr ,rrrrr
(Merriam-Webster online, 2004). Tabel 1 .1 memperlihatkan beberap;r rn,rkn,r
leksikal' hydrography' beserta sumbernya.

Tabel 1.1 Makna leksika! 'hydrography'

DEFINISI
The art and science of compiling and
producing charts, or maps, of water-covered
areas of the Earth's surface.
The sclence of the measurement and
description and mapping of the surface of the
earth with special reference to navigation
The art of measuring and describing the sea,
lakes, rivers, and other waters, with their

phenomena.
That branch of surveying which embraces the
determination of the contour of the bottom of
a harbor or other sheet of water, the depth of
soundings, the position of channels and
shoals, with the construction of charts
:'

! ltSL h e:spptaybr

!: ! t

SUMBER

Encyclopaedia

Britannica
(2004)
HyperDictionary
(2004)
Webster's

'191.1

QOOa);

BrainyDictionary
(20O4)

'\^rr' /f'lr"'t''tl'
rrrt
I J----

-t

Br--tt:-r*ir

- r-r

E---

t lirrgga scl(it.u',rl<lrir l1)t|0-an, l<cgiatan ltirlrogr.rfi utamilny,t tltrlottttn,r',t


oleh survei dan pemetaan laut untuk pembLlatan peta navigasi laut (rr,rtrlir ,r/

chart) dan survei untuk eksplorasi minyal< dan gas bumi (lngham, lr975).
Peta navigasi laut memuat informasi penting yang diperlukan untuk menjamin
keselamatan pelayaran, seperti : kedalaman perairan, rambu-rambu navigasi,
garis pantai, alur pelayaran, bahaya-bahaya pelayaran dan sebagainya. selain
itu, kegiatan hidrografi juga didominasi oleh penentuan posisi dan kedalaman

di laut lepas yang mendukung eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas
bumi.
Selama 20 tahun terakhir, telah terjadi pergeseran mendasar pada lingkup

dan aplikasi hidrografi. Hidrografi tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan


pemetaan laut dan penentuan posisi, melainkan juga dengan Hukum Laut
(Law of the Sea) dan aspek fisik dari Pengelolaan Kawasan Pesisir secara
Terpadu (lntegrated CoastalZone Management) (Dyer, 1979; de Jong et al.,
2OO2). Pergeseran ini diakibatkan oleh kemajuan teknologi instrumen
pengukuran dan komputasi. selain itu, pergeseran inijuga diakibatkan oleh
permintaan masyarakat dan industri pengguna produl< hidrografi sebagai
akibat dari meningkatnya kegiatan manusia di kawasan perairan.
Pergeseran ini juga ditandai dengan munculnya program-program

pendidikan akademik setingkat sarjana dan magister di Amerika (misalnya:


L)niversity of Southern Mississippi), lnggris (misalnya: I,Jniversity of
Plymouth dan Unlversity College London), Jerman (Fachhochschule
Hamburg-Harburg), Malaysia (Universiti Teknologi Malaysia) dan
lndonesia (Di nas H idro-oseanografi TN l-AL dan nstitut Teknologi Bandung).
Dewasa ini, hidrografi mulai dipahami sebagai salah satu cabang ilmu yang
secara khusus di lndonesia mulai dikembangkan pada tahun 1990an
(Mira, 1998; 1999).
I

B. DEFINISI DAN LINGKUP

HIDROGRAFI

isi akademi k untuk terminologi h idrografi, dikemul<akan pertama


kali oleh !nternational Hydrographic Organization (lHO) pada Specia/
Publication Number 32 (SP-32) tahun 1970 dan Croup of Experts on
Defi

Hydrographic Surveying and Nautica/ Charting dalam laporannya pada


Second lJ nited Nations Regional Cartographic Conference for the Americas
di Mexico City tahurn 1g79.lHO mengemukakan bahwa hidrografi adalah
,that hranch of applied .scrence which deals with measurement and

i,,,,i,i,i,i,,i,i,i,l,l,.i,i,,i,,i,,i,i,ll,:;.,;;,;,;,;,,:,;,;,;;;,i;,1;;.
atxt ,tdfufiting r o.lrl,rl rtr(ln, wilh spe,<'i,tl 1,[sJp111'1' kr lhrir tnt, llt lln,
purposc ttl' tt,tvig,rlitnr'. (,toul) <i Exlrcrls on f ly<lu4it,11rlrrr \rrrvt,yrrt1l ,rttrl
Naulir,r/ ( lr.rrtrtrli rut'rrgcrnul<al<an bahwa hidrogr,rli ,rrl.rl,rlr 'tlrc s(ir.,r(t ()l'
measurirtl4, describing, and depicting nature and configuratittrt of lht,
seabed, geographical relationship to landmass, and chara<'ft,nslrcs ,urrl
dynamics of the sea'.
Perkembangan hidrografi juga mengakibatkan perulr:rh.rn rk,lrnrsr
hidrografi yang oleh IHO didefinisikan sebagai 'that branch of appli<rl
sciences which deals with the measurement and description of tht
features of the seas and coastal areas for the primary purpose of
navigation and all other marine purposes and activities, inclucling
-inter alia- offshore activities, research, protection of the environm<ml,
and prediction services' (Corziglia, 2004). Buku ini mengadopsi <ft'l'irrrsi
hidrografi yang didokumentasikan oleh Kelompok Keahlian (KK) l'litlrrrgr,rlr,
Departemen Teknik Ceodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaarr, lrrstrtrl
Teknologi Bandung, yaitu 'cabang ilmu yang berkepentingan rleng,ur
pengukuran dan deskripsi sifat dan bentuk dasar perairan dan rlirranrik.r
badan air'(KK Hidrografi, 2004).
Fenomena dasar perairan yang disebut dalam definisi di al.rs rrrr,lrprrtr

batimetri atau'topografi'dasar laut, jenis material dasar laut clarr rlrorlrlogr


dasar laut. Sementara dinamika badan air yang disebut dalam rk'lrrrrsr rlr
atas meliputi: pasut (dan muka air) dan arus. Data mengenai ft'rrorrrr,rr,r
dasar perairan dan dinamika badan air diperoleh melalui pengukur,rrr y,rrrlg
kegiatannya disebut sebagai survei hidrografi. Data yang diperolclr rl,rrr
survei hidrografi kemudian diolah dan disajikan sebagai informasigcosp,rsi,rl
atau informasi yang terkait dengan posisi di muka bumi. Sehubungarr rlt.rrg,rrr
itu maka seluruh informasi yang disajikan harus memiliki data posisi rl,rl,rrrr
ruang yang mengacu pada suatu sistem referensi tertentu. Oleh karen,tny,r,
posisi suatu objek di atas, di dalam dan di dasar perairan merupakarr titik
perhatian utama dalam hidrografi. lnformasi hidrografi utamanya rlittrjrrl<,rrr
u

ntu k:

(1) Navigasi dan keselamatan pelayaran,


(2) Ponetapan batas wilayah atau dacrah rli laut; <l.rn
(

l)

\lr rr li r lirr,rmika pesisir dan tr;engclol.titn strnrlx.rr l,ry,r l,rut.

rr,r lr,rlrrk lrirlrografi tt.xliri rl,rri llcrl r,rli,ri scLlor,

rrl,rnr,rny,r

l,l',r nr,lrrtrrrr rl,rrr rr,rvi1i,rsi, lrr,rrg,lol,r,rrr l<,rw,r.,,lt lx',,t,,1,

r,k,,; rl,rr ,r,,r

l'r'tt1i11
Ir,rtr,,1 r)r

,\",u, il,/,,'y,a/,

a r

&J

a r

r:-

Et

E&E

-r Fr

-' *E

lEt

--

E -

-'

rlarr cl<sploitasi suntItc'r(l.ly.l laut, [)cnl]clola.ln lingl<urtgatt l,rtrt, tcl',ry,r',,r


lepas pantai, hukum laut dan zona ekonomi eksl<lusif serta aplik.rsi-,r1rlrl<,rsi
survei di pesisir dan laut lainnya.

C. KELEMBAGAAN HIDROGRAFI
lnternational Hydrographic Organization (lHO) adalah lembaga
internasional yang berwenang untul< mengelola dan menyelenggarakan
penerbitan bg+bagai publikasi untuk l<eperluan navigasi. Lembaga ini
berkedudul<an di Monaco dan dikelola oleh representasi pakar-pakar hidrografi

dunia -dan bidang lain yang berkartan langsung-. Dalam melaksanakan


tugasnya, IHO menunjuk dan membentuk kepanitiaan khusus dalam bentuk
working group. Secara teknis, kewenangan IHO dilaksanakan oleh
I nte r n ati o n al Hyd rogr aph i c B u re au (l H B). HO breran ggotakan negara-negara
yang berkepentingan dengan navigasi laut dan keselamatan pelayaran.
Di beberapa negara maju, seperti Ameril<a Serikat, lnggris dan Jerman,
terdapat pula lembaga profesi yang menampung aspirasi aplikasi hidrografi
I

yang lebih luas. Lembaga ini disebut sebagai The Hydrographic Society atau

Masyarakat Hidrografi.

Di setiap negara, ditunjuk sebuah kantor hidrografi nasional yang diberi


kewenangan sejenis untul< wilayahnya. Semua publikasi internasional yang
dikeluarkan oleh IHO akan diratifil<asi oleh kantor hidrografi nasional di
setiap negara. Dinas Hidro-oseanografi (Dishidros) TNI-AL adalah lembaga
yang berwenang menjalankan tugas sebagai kantor hidrografi nasional untuk
lndonesia. Lembaga hidrografi ini adalah badan resmi yang berwenang
menerbitl<an, merevisi dan memutakhirl<an peta laut beril<ut ketentuan

;;;;;;;"; ";;;il;;,;l;- ; ; ;, ;il;i,;

;.1

"

2(X) t):

(l) N,tttttr ,rl ( lt,rtlrrtll

(2) Military
(3) lnland Water
(4) Coastal Zone Management
(5) Offshore Seismic
(6) Offshore Construction
(7) Remote Sensing
Apl i kasi n auti cal ch arti ng (pemetaan laut)

kan u ntu k men ghirs i l l<, n


jasa dan produk informasi hidrografi untuk keselamatan navigasi. Alrlik,rsi
military (militer) diutamakan untuk navigasi (kapal selam) dan detel<si (rirrr j,rrr)
d

ituj

bawah air. Aplikasi inland water (perairan pedalaman) ditujuk;rrr rrrrlrrlr


pengelolaan daerah aliran sungaidan lingkungan perairan pedalam,rrr l,rirrrry,r
(termasuk: danau dan bendungan). Aplikasi coasta/ zone nt,ttt,t;;r'ttrltrl
(pengelolaan kawasan pesisir) ditujukan untuk pemelihara,ur rrv(",1,r',r
(utamanya: infrastruktur perhubungan laut) di kawasan pesisir. Aplrk,r',r
offshore seismic dan construction (industri lepas pantai) diutam,rl<,rrr rrrrlrrh
mobilisasi anjungan minyak dan gas bumi serta survei seisntil<. A1rlrl.,r',r
remote sensing diutamakan untuk akusisi data regional dan glolr,rl lr,rgr
kepentingan pemantauan lingkungan secara berkala.

E. KONFIGURASI SURVEI

HIDROGRAFI

tel<nisnya, standar mutu penyelenggaraan survei hidrografi, akreditasi kualifikasi

Survei adalah kegiatan terpenting dalam menghasilkan infornr.rsr

hidrografer, penerbitan publikasi nautika (daftar pasut, berita pelaut, daftar


pelabuhan, daftar suar, daftar rambu, almanak nautika), aturan pelayaran
dan lainnya yang berkaitan dengan hidrografi, navigasi, survei serta pemetaan

hidrografi. Buku ini membahas aktivitas utama survei hidrografi yang nrt.liptrli
(Gambar 'l .1):

laut dan pelayaran.

D.

KOMPETENSI PROFESI DAN AKADEMISI


HIDROGRAFI

Kompetensi profesi (praktisi) dan akreditasi pend idikan tinggi hidrografi


disertifikasi oleh IHO bersama-sama dengan lnternational Federation rtf

Surveyors (Fdddration lnternationa/e des Crrorttr)lres-FlC). Pro[t",i rl,rrr

.
.
.
.
.
.

Penentuan posisi

di laut (l) dan penggunaan sistem rofercrrsi

(7)

Pengukurankedalaman(pemeruman)(2)
Pengukuran arus (3)
Pengukuran (pengambilan contoh dan analisis) scrlimon (4)
Pengamatan pasut (5)
Pcngul<rrran detil situasi cl;ln g;rris 1l,rnt,ri (rrrrtul< pr,nrcl,r,rn pcsrsrr)
(l r)

.\urut, //,,/"ot.a,l,
c. a i-J & { r-

- EE-Er

rtr

E;E.-:r.Er

-EE

rf

r, - c.}

*,l,u,o,l;

;,";.;;;;;-,;;;

; ",,,;;;-;,;,;,, ; ; ;,; ;i-;.

"
l,rirr ,r<l,rl,rlr lltt' I1t,1trt111,1111111 lotrrtral
y,rrrg rlrlr.rlrrlk,rrr olllr llt,'
.','rl,rttgl<,ttr
Ilytln44r,r1ilrtr \rrr rlll ,
,rrtil<t'l-,rrl il<t.l illri,rlr l)()l)ul(,r tr,rrl,rrrlq
lritfrogr.t[i rliptrlrlr[,rsrl\.ur ()l('lr majalah Hydrc /N7l/(NA tl()Nt\l
.

Referensi
B ra

ny D

ctionary (2004). http ://www. brai nyd ictionary. crom.

de Jong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema,

l. A.

(2oo.,)

Hydrography. Delft University Press. Delft, The Nethorl.rrrrls.


Dyer, K. R. (1979). Estuarine Hydrography and Sedimentation. C.rnrlrr.irlly,
University Press. Cambridge, UK.
Encyclopaedia Britann ica (2004). http ://www. britan n ica. com.

Corziglia, H. (2004). lnternational Hydrographic Organization A< tivitrr,,,


Dalam: Poerbandono (ed.). The Spectrum of Hydroyttltll,
Departemen Teknik Ceodesi, lnstitut Teknologi Banrlrrrrg.
4 t

,!

yperD ictio nary (2004). www. hyperd ictionary. com.

lngham, A. E. & Abott, V J. (i992). Hydrography for thr srrrvr'1,r,r ,ttt,l


Engineer. Blackwell Science.

,. (',975). Sea Surveying.]ohn-Wiley.


lngham, O. t. (', 984). Hydrography for the Surveyor
lngham, O.

Cambar /. / Konfigurasi survei hidrografi

ro,,,,lry

Lockwood Staples.

lngham,
Data yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas tersebut di atas dapat disajil<an

and Engintt'r.

A. E. (200O). Hydrography for the Surveyor anrl

Lrtt:rrtctr

Blacl<well Science.

sebagai informasi dalam bentuk peta dan non-peta serta disusun dalam
bentuk basis data kelautan.

lnternational Hydrographic Organization - lHo (2002). -stanr/,rrr/s ,/


Competence for Hydrographic Surveyors. M-.5 9'r, Erlitiorr.
lnternational Hydrographic Bureau - lHB, Monaco.

F.

Kelompok Keahlian Hidrografi (2oo4). Program Penelitian, Pt'nrlirlik,rrr tl,ttt

REFERENSI AKADEMIK HIDROGRAFI

Pemberdayaan Masyarakat 2005-201 0. Nasl<ah Al<,rrlt'nril<


Departemen Tel<nil< Ceodesi, lnstitut Teknologi [3anrlun13.

Sebagian besar referensi tentang hidrografi berasosiasi dengan pendidikan

profesional hidrografi dan publikasi-publikasi lHO. Daftar publikasi IHO


dapat diperoleh dari www.iho.shom.fr. Beberapa referensi akademik terpilih
tentang hidrografi antara lain ditulis oleh lngham (1975, 1984, 2OO0), lngham
& Alrolt (19()2), Dyer (1()79) clan de Jong et al. (2002). Kompilasi dari
lrt'lrt'r,rp,t rt'[r'rcnsi ,tl<,rrk'nril< 1x.rn,rh rlirlokrrmcnl.rsikan clan dipakai sch,rg,ri
,l( u,ln ,r[,rr['tttil< ok'lr Kclonrllok llirl,rng Kcl,rrrl,rn (sr.k,rritrrg: Kclorrrpok

Kelompol< Bidang Keahlian Kelautan (1989). Pendirlikan -srrrvt'i lli<hr4;r,rrt


IT B-PERT AMINA. Diktat Kuliah. Jurusarr Tt'l<nil< ( lcor lt'si, lrrstrtr rl
Teknologi Bandung.

Morri,rnt Wr.lrster Online (2004). l"rltp://www.r1t w ( ()ru.

Mit,t,

'- 1f ')()ll)

I lyrl^,f,',r,',,ty

fJ,,r','tttlr1r I )r't t,ttt[x'r

in

ltxlorrcsl,r. I lyrlro lN

ll

l(NA

ll( )Nn I

,\u."r, /1,/*r.ul,

Br

r!

&-Jlr--

DE

-rr-

---.-.-.

r-r

r-r-r-r:D

Mir.r, S. (l()()()). lly<lr<44ra1il)y as a Sclenc.e. Hyr-lro lNTtRNn

Webster's

91

- = - > - -

ll(

)Nn I , A;rrrl.

3 (2004). www.hyperdictionary.com.

Sis1om ltokrronsi (jrxrrk.lih


d:rn Pnnentueln lDosisi rli l,tul

Penentuan posisi (suatu objek)

di laut (termasul< juga wil;ryalr

1x'r,rir,rrr

lainnya) merupakan kegiatan utama dalam survei hidrografi. ()lrjr.l( y,u11


dimal<sud dapat terletal< di (i) permukaan laut, (ii) antara permul<,r,rrr rl,rrr
dasar laut atau (iii)dasar laut. Objek tersebut diwakili oleh sehLrah titil\ y,rrti
memiliki posisi yang dinyatakan terhadap suatu sistem referr.rrsi licorh.lrl.
tertentu.

A. SISTEM

REFERENSI GEODETIK

Setelah melalui sejarah yang panjang, pemahaman meng('n,rr 'lrr,rrlrrl.


bumi'telah diperbaiki mulai dari model bumi datar hingga ke nr<xk'l nr,,,l,'l
berbentuk bola yang cukup memenuhi ketelitian untul< l<eperlu;rrr ck.,plor,r',r
global, navigasi dan pemetaan. Kini, dari pengamatan-penganr.rl,rrr .,,rlr,lrt

selama bertahun-tahun, disimpull<an bahwa datum geodetik y;rrrg r or ol.


digunal<an dalam pengukuran-pengukuran adalah elipsoid. Sistem rcfcrcrr,,r
geodetik menggunakan elipsoid sebagai bidang referensi untuk mcny,rl,rl<,rrr
posisi horisontal suatu titik. Elipsoid tersebut disebut sebagai datum lrorisorrl,rl
yang pusatnya berimpit dengan pusat massa bumi. Sistem yang rl<'nril<i,rrr
disebut sebagai sistem geosentrik. Pada masa lalu sulit untuk mcrt.;rlis,rsil<,rrr
sistem yang geosentrik sehingga yang digunal<an adalah clatr-rm lol<,rl rl,rrr
regional. Al<ibat penggunaan datum geodetik yang berberla, str.rlrr lilil< k'r.lr.rrlrr
di laut dapat mempunyai koordinat geodetil< yang br:rbcrla lrrrl;r, st'lrin1i1i,r

diperlukan hubungan antar sistem referensi gcodctil< yang rliny,rl,rl<,rrr r l,rl,rrrr


suatu persamaan transformasi koord i nat ant;r r rlat trm (r'l i rsoir l).
1

pon(.nluiln;xrsisi lrcrlr,rsis s,rlclil, rlrrrrr,r


t.t'u.nttjtt l.r',rr,rlr lx'nllgunaan rl.tltrnr gt.ork,l il< glolr,rl tttltrlili,rtrlrk,rtr rl,rlrrrrr
St'j,rl< tnunctrlnya teknologi

'!':'J!!r'!r--r

----]ErrE!--

EDD;

G>>G

-ff=3--;G>>>

'r1,",
>

r" 1, ,,,, ,,, ,,.,,,1, I'l' ,{ I', ", ,'r,,.,,,

------->----

lok.rl rl.rrr rr.gion,rl. l).rlrrrn gloll,rl IX.'rt,lnril rlitct.rpl<,rn 1l,rrl,r l,rlrrrrr l'l(ro
deng,an nama World Ceor/etlc- -Sy-slent (WC5-60) untuk l<epcrlu,ttt 1x'tttcl,t,tn
darat dan laut serta navigasi. Versi terbaru yanB masih digunal<an hingga
saat ini adalah WCS-84, yang dikembangkan untuk menggantrkan
WCS-72, yang diperoleh dari data, teori dan teknik terbaru tentang penentuan
bentuk bumi. Pada tahun 1979, lnternational Union of Ceodesy and
Ceophysics (IUCC) menerima proposal lnternasional Association of
Ceodesy (lAC) untuk menggunakan Ceodetic Reference System yang baru

,,r.r,lrl,,,,l
-

--

FDI

morrdrirrt y;trtt;

memolorrrl

(CRS B0) sebagai referensi untuk pekerjaan-pekerjaan geodetik, menggantikan

1t

meridian

CRS 57, dan mempunyai sedikit perbedaan dengan WCS-84. Pada tahun
'1983, IHO menggunakan WCS-84 sebagai sistem referensi global untul<
peta laut.

a. Sistem Koordinat
Lokasi tertentu atau posisi suatu titik di permukaan bumi dinyatakan
dalam sistem koordinat. Sistem koordinat yang paling banyal< digunakan
saat ini adalah sistem koordinat geodetil<. Posisi suatu titil< dapatjuga
dinyatal<an terhadap sistem koordinat kartesian yang berpusat di bumi dan
melekat di bumi.
Sistem Koordinat Geodetik

Sistem koordinat geodetik mempunyar parameter lintang, buiur dan


tinggi geodetik. Meridian utama (prime meridian) atau meridian nol, yaitu
meridian yang melalui Creenwich dan ekuator (equator) merupakan acuan
yang digunakan untuk mendefinisikan lintang dan bujur, sedangkan tinggi
dinyatakan terhadap permukaan elipsoid (misalnya: Davis, et al., 1981).
Lintang geodetik dari suatu titil< (misalnya P) adalah sudut dari bidang el<uator
ke arah vertikal dari garis normal elipsoid referensi yang melalui titil< tersebut.
Bujur geodetik suatu titik adalah sudut antara suatu bidang referensi (misalnya:
meridian utama)dan suatu bidang meridian yang melaluititik, yang keduanya
tegak lurus bidang ekuator. Tinggi geodetil< pada suatu titik adalah jaral< dari
elipsoid referensi ke titik dalam arah normal ke elipsoid (Cambar 2.1).

Cambar 2.

l).rr,rr'n(.1('r

l0

X,

Y <l,rn

Lintang (9"), buiur (1") dan tinsgi (h) geodetik titik l'
sistem koordinat geodetik

grarl.r

dengan pusat massa elipsoid referensi (Cambar 2.2). Karakteristik sislcttt


koordinat ECEF adalah:

.
.
.

Sumbu-Z ke arah Kutub Utara.


Sumbu-X adalah perpotongan bidang yang dilalui meridian rrl,rnr,r
dan bidang ekuator.
Sumbu-Y adalah perpotongan suatu bidang yang membcnlttl< stttlttl

90" sebelah timur sumbu-X dan bidang el<uator, st'hirrgg,r


merupakan sistem ortogonal tangan kanan.

Sistem Koordinat Kartesian


Pada sistem koordinat kartesian yang berpusat di bumi dan melekat di
bLrmi (Earth Cenlered Earth Fixecl* ECEF), gxrsisi suatu titik diwakili olt'h

ke

Rumus-rumus untuk konversi posisi titik pada sistem l<rxrr<lin,tl k,trlt'si,ttt


sislem koordinat geodetik dan sebalil<r'ryir rlirlokrrnrcttl,tsil<,rtr p,rrl,r

[,rtttlrit,rtr A.

y,tny, mr.ny.rl,rl<,rn llosisi lig;r rlimcrrsi yang llt'rl<,ril,rtr

lt

setengah sumbu pendek (b)


= jari-jari kutub

setengah sumbu panyang (a)


= jari-jari kutub

pusat

C am

Cambar 2.2 Sistem koordinat kartesian tiga dimensi

b. Datum Geodetik
Penentuan suatu datum geodetik didasarkan pada bentuk bumi,
sedangkan penetapan suatu sistem referensi didasarkan pada keperluan
menggambarkan posisi geografis suatu titik. Elipsoid yang digunakan sebagai
sistem referensi untuk menyatakan posisi suatu titik, mempunyai parameterparameter: setengah sumbu panjang (jari-jari ekuator a) dan koefisien
pegepengan (hubungan antara jari-jari ekuator dan kutub f = (a-b)la).
Parameter-parameterelipsoid referensi lainnya seperlisetengah sumbu pendek

(jari-jari kutub b) dan eksentrisitas e = (a'?-b2)lb2 = f(2-f) dapat dihitung dari


a, b dan f. Cambar 2.3 memperlihatkan parameter-parameter sebuah
elipsoid.

l')

e lip so

id

bar 2 .3 Parameter-parameter elipsoid

WCS-1984 telah digunakan oleh sistem penentuan posisi glolr,rl sr,1,rl.


1987 dan menjadidatum standaryangdisepakatisecara internasion,rIsr,lr,rpi,rr
datum untul< sistem referensi horisontal. Elipsoid yang digunal<arr ,rrl,rl,rlr
CRS (Ceodetic Reference System) 1980 dengan parameter a = 6,37t\,1 lTnt
dan modifikasi f = 11298.257223563, yang berpusat di pusal hurrrr
(geocentric ellipsoid). Negara-negara dan badan-badan dunia menggurr,rk,rrr
datum yang berbeda sebagai sistem referensi yang digunakan untul< pcnr.rrlu,rrr
posisi pada sistem informasi geografi (Ceographic lnformation -9ystcrrr
CIS), sistem penentuan posisi teliti maupun sistem navigasi.
Perbedaan penggunaan datum geodetik dan kemajuan tt'l<rrologi
pengukuran-pengukuran untuk penentuan posisi secara g,lolxrl rk'ng,rrr
ketelitian hingga desimeter membutuhkan pemilihan datum so(';rrir h,rtr lr,rtr
dan transformasi antara koordinat-koordinat dalam rl;rttrm yirng lrcrl x,rl,r.
Kesalahan pengikatan koordinat geodetik kc datum tcrlt.nlrr rnr.ng,rkilr,rl[,rn
kesitl,tlt,ttt posisi hingga ratusan meter. Konvcrsi ,rnl;rr<l,rlrrrnrl,rp,rl rlrl,rktrk,rrr
rlt'tt1i,ttt ntr'nrl x't lrilrrrrgkan ttrjrrh p,rr,rntctcr lr,rnsforrrr,tsi y,rrrpg rrrr,lrpuli lipi,r

Er.E--D
- - D- E
- - r- r'r'r- --3 jr-ErrEr-E
p, y) tl,rrr .,,rltr
ltaramt,tcr translasi (t,, t,.,t,), tiEa l)ilramcter rotasi (cv,
parameter skala (Cambar ).4). Rumus-rumus yang digunakan r-rttlul<
melal<ukan konversi posisi titil< pada sustu datum ke datum lain
didokumentasikan pada Lampiran A.

!.':'J''!'t'!r

; ;,;,;,; ;;;- " ;; ;; ;;; ;;ffi

:;: ; ; i;;

; ; :,

1x.r ,rir,rn, nrr'trggtrtr,rl<,ttt pt oyll<st [rtttlotttt,


yirrrg mr.rrglr,rrrlL,rn pr.ilfiill\ilt,il1 strrltrl, j;rrilk rl;rrr,rr,rlr rlt'ng,rrr rlrsltltsr y,rtr;1
minimtrnr tlilr,rrrrlrrrllk,ur rk'trg,tn proycksi lain.

rrnlul< lx.rrr'rrlrr,rrr lr,rl,r,. wrl,ry,rlr

Berdirs.rrl<,rrr l<r'lrtrtuhan

dan karakteristik area yilnll rlit,rl<up, pilrlr,rrr

proyeksi yang cocok untuk peta laut adalah:

.
.
.
.

Mercator
Lambert
Transverse Mercator
Stereografik

Semua proyeksi di atas merupakan proyeksi yang l<onform (l;cttttrl< tl,rtt

X
Cambar 2.4 Transformasi datum

c. Proyeksi Peta
Bentuk bumi yang didekati dengan elipsoid mempunyai permukaan
yang melengkung. Karenanya, proyeksi posisi titik di permukaan bumi pada
peta tidal< mungkin dilakukan tanpa distorsi. Salah satu proyeksi peta yang
lazim digunakan dalam geodesi adalah proyeksi konform. Proyeksi ini
mempertahankan sudut yang dibentuk oleh perpotongan dua kurva, sehingga
sudut yang digambar di peta akan sama dengan sudut yang berada di
permukaan elipsoid. Proyeksi peta dipilih sedemikian rupa sehingga
meminimasi beberapa distorsi teftentu (karena tidak mungkin semua distorsi
dihilangkan). Dengan demikian, dalam proses pembuatan peta, dilakukan
pemilihan proyeksi peta al(an tergantunB pada persyaratan khusus dari peta
yang akan dibuat.

Peta laut yang digunakan untuk navigasi memilih proyeksi Mercator


yang menggunal<an silinder tegak sebagai bidang proyeksi. Proyel<si ini
menggambarkan /oxodrome (garis jarak terpendek yang menghubungkan
dua titik di permukaan bumi) sebagai garis lurus (mempunyai azimut y;trtg

tetap). Kelemahan proyeksi ir-ri adalah i;rrak clirn luas yang tcr<li'.lor',r

sudut di peta sama dengan di atas elipsoid). Namun demikian, proyt'l<st


Mercator cocok untuk daerah sekitar ekuator (lintang <15") clengarr pililr,rrr
skala peta yang sesuai karena distorsi akan beftambah besar paclrt 1x't,r sl<,rl,r
kecil. Proyeksi lambert cocok untuk daerah lintang 4" hingga 72" rk'tr1i,rtr
distorsi luas yang cukup kecil (sekitar 2oh). Proyeksi Transversc Mtrt,tntt
menggunakan silinder transversal sebagai bidang proyeksinya, st'ltitt111'1,r ,rr',r
di sekitar meridian yang bersinggungan dengan silinder memptrtry,rt rlt"l,t',t
yang minimum. Proyeksi Universal Transverse Mercator (l.ilM) I'lrrr',rt'.
dipakai di seluruh dunia dengan menggunakan meridian pus.rl sl,rttrl,tt ;r,trl,r
setiap interval 6" dari meridian bumi. Proyeksi stereografik tergolorrli ptoy,'1.',t
azimutal konform yang berpusat di kutub dan dianjurkan ttttltrl. rltp,rl,rt
pada daerah dengan lintang di atas 80".
'.

Bagi keperluan pembuatan Peta Navigasi Laut lndonesia, yangtliprxlrrlr',r

oleh Dishidros TNI-AL digunakan Proyeksi Mercator. Sistem proycl<st

ttrt

dianggap paling sesuai dengan karakteristik wilayah perairan lnrlrtnt'si,t y,rtrg


terletak di sekitar ekuator. Untuk keperluan tertentu, seperti pemhu.tl,ttt l'r'l,t
Lingkungan Pantai Indonesia (LPl)dan Peta Lingkungan Laut Nasion.rl ([ [ N)
digunakan Proyeksi UTM karena dapat menyajikan data yang l<'ritttt'gt,tst
antara daratan dan Iautan. Peta Rupa Bumi produksi Bal<osurl,ttt,tl
menggunakan Proyeksi UTM. Dengan demikian, saat inidi lnrl<ltrt'si,r, lt'lrrlt
banyak menggunakan dua macam jenis sistem proyelksi pt'lit s,ri,r, y,rtlu

Mercator dan UTM.


Sislern l'royr.ksi Mercator
!,r,,lr.nr proyr,Lrr Mr.rr .rlor mcrtl.lgtrlt,tk,ttt llirl,rttg ptrryt'k.,i stltnrl,'t r['tt1i.tn

srrrrrlrrr .,rrrllr

lrrrl.rnlg proycl<sirry,r

lrcrirnllil rlr'rr1i,rtr rrrnrlrtt lltp',otrl

t\

*:'!'!T

'!-a

(n11rmal)

rliyt

r B --

---

- rr

BEr'--i

r rEB

- E - E D - D - - E 'l

li<lal< tcrrl;rpal <lislorsi llt'ttttrk/su<lut atau tlist'l rut ',r'lr,r1i,ri

cylinder normal coniorm. Proyeksi ini diperkenalkan oleh Mcrc,ttot 1r.tt.l.r


tahun 1550 dan 4O tahun kemudian Wright memberikan penielasan
matematisnya. Karakteristik yang dimiliki oleh proyeksi ini adalah:

.
.
.
.
.

Faktor skala tetap di sekitar ekuator.


Konvergensi meridian sama dengan nol.

Meridian dan paralel berpotongan teBak lurus'


lnterval antar meridian sama.
lnterval antar paralel membesar semakin jauh dari ekuator.

Peta Navigasi Laut lndonesia yang dipublikasikan Dishidros TNI-AL


menggunakan sistem Proyeksi Mercator. Pada Proyeksi Mercator umumnya
sumbu-X merupakan proyeksi dari ekuator (lintang nol), sedangkan Peta
Navigasi Laut lndonesia menggunakan proyeksi lintang tengah sebagai
sumbu-X. Proyeksi sumbu-Y dapat dipilih sesuai keperluan. Biasanya,
menggunakan proyeksi meridian Jakarta (Cambar 2.5).

--

iil,-,;.:;;;;;;; ;;';;,;;", ;;;;;" ;;, " i;,

lt.,l, ,r.,r ;,rr,rl. ,r, l,rl,rl r trol r lt cl<tt,tlrlr, ll,lllltll l \('lll,ll\lll ttl,'lttl x ",,tt
r['rr13,rrr lx,rt,rrrrl r,rlrrry,r lrrrt,rrrli. I )r lculttlr, <lislt>rsi sl<,tl,t tttt'tt;,lrlr l,rl. lx'tltttr1i1i,r

llrpsoir l, rrr,rl.,r

Lrlx<lr/r9rrrc y.1ll,, nl('nlotorrg mcridian-mericliart <lcng.rtt lx's,rt'strtlttl y,rtr1',


silma alal [,rrgl<rr1g,rrr rlengan azimut yanB tetap, al<atr tlillroyt'ksil<,ttt sol r,t11,tt
garis lurus cli bidang proyeksi Mercator. Hal ini sesu,'ti ttttlttl< l<t'lrct ltr,rrt
navigasi, karena pelaut sangat membutuhkan informasi tc'rttattg .tt',tlt ,tltl,tt
dua titik posisiyang benar pada peta dengan fakta sesungguhny;r

tli

l,tp.rttg,rtr,

Sistem Proyeksi fransverse Mercator


Proyeksi Transverse Mercator (TM) menggunakan bidang proyeksi silitt<lt'r

dengan sumbu simetri bidang proyeksi tegak lurus dengan sumbu clilrsoirl
(transverse) dan tidak terjadi distorsi bentuk/suduI (conform) atau clisirrgk,rt
cylincler transverse conform. Proyeksi ini diperkenalkan oleh Lantht'rl p,rrl,r
tahun 1772 dan 5O tahun kemudian Causs memberikan p('rltrrtrrr,rlr
analitisnya. Tahun 1912, Krliger menyelesaikan penurunan malt'm,ttistty,r,

sehirrgga memudahkarr dalam perhitungan-perhitungan nul'11('l istry,r


Karakteristik lain yang lebih spesifik yang dimiliki oleh proyeksi itri ,rrl,tl,tlr

.
.
.
.

Faktor skala tetap di meridian sentral.

Semakin .fauh dari meridian sentral, konvergensi mcritli,rtr ,rl.,rtr


semakin membesar.

Meridian dan paralel berpotongan tegak lurus.


Pada lintang yang sama (satu garis paralel), faktor sk;rl,r ,rk,rrr
membesar dengan membesarnya bujur relatif terhadap nlt'ri<li,rrr
sentral.

Pada bujur yang sama (satu garis meridian), faktor sk;rla


mengecil dengan membesarnya lintang.

.tl<,ttr

Pada sistem proyeksi Transverse Mercator, sumbu-X merupakan proyt'l<si

dari ekuator (lintang nol), sedangkan sumbu-Y dapat dipilih sesuai l<t'1x'rltr,ttt
(Cambar 2.5).

Sistem Proyeksi Universal Transverse Mercator


Proyel<si Universal Transverse Mercator (UTM) tt'rg()lotlg proycl.sr
/1",111svcrsc Mr.rcak>r (TM) yang mempr-rnyiri kar,rklt'rislik khttsrrs rl,rtl k'l,rlr
rlill,rl.rrl.,rrr rrrrlul. ,,r.lrrrrrlr rltrrria. K;rr.rktt'rislil< kltttstts y,rrrg lcl,lll tlrlr,rkrrl.,rrr
Cambar 2..5 Sistem koordinat bidang Proyeksi Mercator

1A

It,t ,,t,l

rttl rlr,rnl,rr,rn1,,t lr,rrl,trrli llcrnll,tgi,tn, lx'tl()ttl()t ,ttt rl,ttl

lrlttr'tlltl,lll

lx)',1',1

t7

,\^.ut, //,,/.ort.al,
':':':':'tr'*

- -:

- -ar--r-

ErBt

-:EB---

- - D --

- - - ' r -

I""t
' ,.=r,, 1', 1,,,,,'.', ,,,', 1, t,l' ,t 1" ""'r""" 1""'r"' 'l'
j j_
G-

-t

---_-----D

---DDDD->>>>>>----

--

scntral

lll0"Bll

I?lUBT

l6li"BB

l7,1"BB

c ambar 2.7 Pembagian zona proyeksi

L)

niversal rransyerse Mercaktr

meridian

ll()"

Cambar 2.6 Proyeksi fransverse Mercator

ini pertama
zona, faktor skala clan sistem koordinat (cambar 2.7\. Proyeksi
keperluan
kali digunakan oleh Amerika Serikat di awal tahun 1950-an untuk
sera8am
peta
yanE
militer negara-negara NATO sebagai sistem proyeksi
dari
untuk seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Beberapa karakteristik
proyeksi U niversal Transverse Mercator adalah:
yang terbagi
Elipsoi<1 referensi yang digunakan terserah pemakai,

Faktor skala cli meri<li;rn st'ntral = O'(X)()(r'

rore UIM

i
i
I

titik *ol sernu


belahan burni
Ulara

t
1

>x

LS (Lintang Selatan).

berharga negatif.

i111H.
1

dalam 60 zona, dengan lebar setiap zona 6" '


Penomoran zona, dimulai dari 180" BB (Buiur Barat) terus
ke Timur sampai 180" BT (Bujur Timud.
Wilayah pemakaian meliputi 84" LU (Lintang Utara) sampai 80"
proyeksr
Untuk koordinat proyeksi ditetapkan sumbu-X sebagai
meridian
dari
proyeksi
linrang nol (ekuator) dan sumbu-Y sebagai
yang
sentral di setiap zona yang disebut dengan sistem koordinat
mengacu pada titik nol sejati.
nol
Koordinat proyeksi UTM biasanya dinyatakan terhadap titik
Untuk
Y5p,a71
Yrrru =
semLl, dengan Xr., u = Xrrt^r,+ 500,000 m dan
.10,000,000 m untuk
+
Y561,t
d;n"i'rrr,
=
belahan bumi Utara
belahan bumi Selatan (Cambar 2.8).
Konsep titik nol semu ini digtrnakan agar tidak ada koordinat

"

titik nslsemu
belahan burni

F
x
o
(3
{3

titik nol sejati

Selatan
t.
..^

. ". *:..-.-.,,;4

>x

(,antbar

2 .U

Sketsa zona sistem koordin.tl bitlang proyt'kri I lttivrrsal

fransverse Mercator

lt'l

'!':'J!!'z|!rrrr

B.

-r!.rErEr
PENENTUAN POSISI DI LAUT

oleh,

lr. Samsul Bachri. llEng..?h.D.

rf,BrlD-D*,,,u

Posisi suatu titik di atas bidang datar dapat ditentukan dengan l<ombinasi
(perpotongan) dua atau lebih garis posisi (Line of Position - LOP). LOP
adalah lokasi atau l<eberadaan titik-titik dari suatu pengamat yang memiliki
satu besaran pengamatan tetap (dari titik referensi ke titik yang ditentul<an
posisinya) yang dapat berupa: arah, jarak, sudut atau beda jarak. Di atas
permukaan laut, besaran penBamatan tetap tersebut diperoleh menggunakan
instrumen-instrumen pengukuran yang bekerja dengan memanfaatkan
prinsip-prinsip optik (cahaya tampak) atau elektronik (gelombang radio).

,",u,

(a) Caris Iurus

(b) Lingkaran konserrtrik

a. Geometri Garis Posisi


Besaran pengamatan tetap pada setiap LOP memberikan geometri
garis-garis posrsi: garis lurus, lingkaran konsentrik, lingl<aran el<sentris dan
hiperbolil<. Cambar 2.9 memperlihatkan masing-masing geometri garis posisi
tersebut, sedangl<an model-model matematika untuk masing-masing besaran
pengamatan dari suatu garis posisi didol<umentasikan pada Lampiran B.
Berikut ini diberikan penjelasan lebih jauh tentang empat geometri garis
posisi.

(c) Lingkaran eksentrik

Garis Lurus
Jika i adalah pengamat yang menjadi referensi dan ditetapl<an satu
acuan arah yang didefinisikan sebagai 0', maka titik-titil( u1,ut,ut, ..., u,j
berada pada garis sepanjang iu pada arah a,,,. Posisi u berada pada LOP
garis Iurus yang diamati arahnya dari satu titik referensi (Cambar 2.9a).
Pada sistem koordinat kartesian dua dimensi, dengan arah 0" sebagai sumbu
Y dan ditetapkan sumbu X yang tegak lurus Y, mal<a posisi titik u menjadi
fungsi dari posisi titik I dan pengamatan a,.

Li

ngkaran konsentri

l<

ada lah i ngkaran-l


I

gkaran yan g pusatnya bersel<utu

di satu titik. Jika titik I adalah pengamat yang menjadi referensi dan dari i
ditarik suatu garis sejauh 5,,,, maka titik-titik u,, u, t)r, ..., u,, berada pada
lingkaran yang clibentuk oleh titik i sebagai pusat dan jari-jari 5.,,. Posisi u
beracla parla LOP ling,karan yang rliamali jarakrrya dari satu titil< rcfcrcrrsi
(C,rrllr,tr 2.()ll) l',rrl,r sislcnt koorrlirr,rl k,rrlcsi;trt rlrr;r rlimt'lrsi, rlr,trli,rrr
?o

Cambar 2.9 Garis posisi

arah 0" sebagai sumbu Ydan ditetapkan sumbu Xyangtegal< lrrrus Y, ttt,rl,,r
posisi titik u merupakan fungsi dari posisi titik i dan pengamatan \,,,.

Iingkaran Eksentrik
Lingkaran eksentrik adalah lingkaran-lingkaran yang melewati tltr.r lilil<.
Jika titik i dan titik I adalah pengamat yang menjadi referensi, maka titil< titik

ut,u2,tJ.r ...r

Lingkaran Konsentris

(d) Caris hipcrlrolrk

un berada pada garis sepanjang lingkaran y;lttg lt't lrt'ttlttI


oleh titik-titik i, i dan u. Posisi u berada pada LOP lingl<aran ol<scrrlril< rl,rrr
dua titik referensi (Cambar 2.9c). Pada sistem koorclinal l<,rrl<'si,rrr rlu,r
dimensi, dengan arah 0'sebagai sumbu Y rlan rlilct;rpl<.rn surrlrtr X y,rrrli
tegak ltrrrrs Y, maka posisi titil< u adalah fr-rngsi <l;rri posisi tilil< l, lilili 7 rl,rrr
surlrrl ; x't rli,rnt,rl,ttt /1,,,,.

- r E -,- -- ri

*:'J!'!'t::!r

r r a r f, r r - - D r -. - t - -D - - > - r D -

-G3--;;;;,-.,

Hiperbolik
Caris-garis hiperbolik adalah garis-garis yang terbentul< olt'lr lrlil<-titik
yang selisih jaraknya ke dua titik lain konstan. Jika titik I dan titrk l adalah
pengamat yang menjadi referensi, maka titik-titik u,, u2,u3, ..., un berada
pada sepanjang garis hiperbolik yang dibentuk oleh titik-titik yang selalu
tetap selisih jaraknya ke titik idan titik i. Posisi titik u ditentukan berada
pada LOP hiperbolik dari dua titik referensi (Cambar 2.9d). Pada sistem
koordinat kartesian dua dimensi, dengan arah 0" sebagai sumbu Y dan
ditetapkan sumbu X yang tegak lurus Y, maka posisi titik u menjadi fungsi
dari posisi titik i, titik I dan pengamatan jarak S, dan 5,,.

b.

;;;i;;l;;;,t ;;,
;. rlrl.lt,r
;;;;: ;,",
t()l,tttttl

,tl,tttrh'trp,,rtr.rl,rl

4.

rrl

rltl'

/,rst't /r,',tttt.

lt ll'lrrlx,tlxrlil<: ltrsisi litik u rlrkcl,rlrrri

rl,rtt tnttrttn,tl
/i. l)osisi titik u rlitcrrtrrl<,rn tl,rri 1x.r1lolon1i,rrr
ant,rr,r l( )l' y,rrrg nrcnrpunyai beda jarak A.Sr (A\r ls,, s, ,l
konst.rn) rlan A5, (ASr= l5,u-5;u I = konstan) yan,l siun,r ,rrrl,rr',r lrlrl.
referensi (disebut: master) dengan titik il<at pcrrtrnj.rrr13 (rlist,lrrrl:
s/ave) (Cambar 2.10d). Kombinasi LOP i ni dipal<ai rl.rl,rnr l x'n(,nl u, u
posisi menggunakan gelombang rad io. Beda .jaral< dilxrrok'l r r k.n1;, rn
mengukur beda pulsa antara ketiga titik tersebut.
I)r't1xrlotrl.i,rrr

lig,r lilrk tlh,rlt

rsr r,

l rl,rrr

Penentuan Posisi Berbasis Garis Posisi

Kombinasi (perpotongan) LOP untuk penentuan posisi suatu titik di


atas bidang datar dapat diperoleh dengan pasangan LOP garis lurus
(kombinasi pengamatan arah), lingkaran konsentrik (kombinasi pengamatan
iarak), lingkaran eksentrik (kombinasi pengamatan sudut) dan hiperbolik
(kombinasi pengamatan selisih jarak). Visualisasi masing-masing pasang
garis posisi tersebut ditunjukkan pada Cambar 2.10 dengan keterangan
lebih lanjut sebagai berikut:
1

(a) Perpotongan garis lurus-garis lurus

Perpotongan LOP garis lurus: posisi u diperoleh dengan mengukur


a. dan a,.dari dua buah titik ikat (referensi) I dan i di

arah-arah

pantai. our'i'p"rpo18ngan kedua garis lurus (pengamatan arah)


tersebut dapat diperoleh posisi titik u (Cambar 2.10a). Pengukuran
arah biasanya dilakukan menggunakan teodolit kompas.
2.

s",,

',

Perpotongan LOP lingkaran konsentrik: posisi u diperoleh dari


minimal dua titik referensi i dan I yang diketahui posisinya dan

5.,, dan 5,. Posisi titik u ditentukan


jarak
terhadap titik referensi tersebut
dari perpotongan dua
(Cambar 2.10b). Jarak horisontal dapat diperoleh dengan

s,,,

>:
,,'

pengamatan jarak-jarak horisontal

memanfaatkan cahaya tampak (menggunakan substence bar),


gelombang radio (mengukur beda fase atau beda pulsa) atau sinar
laser.
3.

?2

(c) Perpotongan lingkaran eksentris


Cambar

(d) Perpotongan lrillcrllol,r

2./0 Geometri konfigurasi penentuan posisi

Perpotongan LOP lingkaran eksentrik atau disebut juga metode


perpotongan sudut (resection): posisi titik u diketahui dari minimal
tiga titik referensi i, j dan k yang koordinat-koordinatnya diketahui.
Koordinat titik u ditentukan dari perpotong,an antara dua sttrltrt f),,,,
rlan p,,^ y;rtrg rlitrl<trr rlari tt terharlap kctiga titik rt'ft'rcltsi k't',r'l rrtl

/t

'!,':' !/'!"1: lE r E r B E r. E E
- - - - E ] r r B E D. = - - G - - r - B -,
St'l,rinorlr[),lt l)(ls,lnl.l L()l'sr'1x'rti y,rtrgrlilunjul<k,tn1t,trl,t(r,uttl r,rt .'lo,
secara teorctil<, enam komtlinasi LOP lair-rnya rlapat clrperolt'lr rl,rri cntpat
jenis geometri LOP. Contoh kombinasi LOP tersebut misalnya: L()1'} garis
lurus dan LOP lingkaran konsentrik (kombinasi pengamatan arah dan jarak),
LOP garis lurus dan LOP lingkaran eksentrik (kombinasi pengamatan arah
dan sudut) dan sebagainya. Estimasi ketelitian penentuan posisi dengan
kombinasi garis posisi didokumentasikan dalam Lampiran C.
Pada kondisi tertentu, kombinasi LOP belum cukup memberikan posisi

definitif. Kombinasi dua LOP lingkaran l<onsentrik memberikan dua titik


potong yang belum memberikan l<epastian posisi titil< yang akan ditentukan.
Demikian pula halnya pada kombinasi LOP garis lurus dan lingkaran
konsentrik. Pada suatu keadaan tertentu ke dua LOP tersebut dapat
menghasilkan dua titik potong (Cambar 2.11). Kejadian ini diistilahkan
dengan LOP ambiguity atau l<eraguan garis posisi. Untuk mengatasi persoalan
tersebut perlu ditambahkan satu LOP sehingga penentuan posisi dilakukan
menggunakan lebih dari dua LOP.

;;;;

;;,;:;ffi:l;; ;;;;;:;.:; ::;'


"

Ittslrttntt'tt ok'kltotttl.,ltliun,rl\,urrrrrlrrI tnr'l,rkrrk.rrr lx,rrgtrl<ru,rrr;,rr,tk rL,rr11,rrr


tlt'nrattfit,tlk,ttt l, r',r't , rl, rr t ;illott rl r, rr rg clt'ktronr,rgrrctik .rl,rt I gck rrr rll,rr t1; r', rr lro.
Ittslrumttrt tttttuk pcncr rlu,ur posisi sccara <>ptik dan clckto-o1 rtik tlnurrrrry,r
<ligunakan untttl< 1x:ttgtrl<uralr daerah pesisir deng.rn jarrg,k.ruirrr .rrrl,rr',r 2(X)
meter hingga 5 kilometer dari garis pantai.
Penggunaan metode optik untuk penentuan posisi menuntut lilr,.l('l y,urg
harus terlihat dari pengamat. Faktor-faktor dominan yang m('nrlr,rr,rsi
kemampuan pengamat untuk melihat target adalah kelengkungan lrtrnrr rl,rrr
refraksi. Jika lukisan jalannya berkas cahaya diasumsikan berupa girris ltrrtrs,
maka untuk penggunaan instrumen optik di permLrkaan bumi y;rrrg
melengkung akan terjadi kondisi sebagaimana ditunjukkan p,rrl,r
cambar 2.12. Fenomena yang disebut dengan keterbatasan garis penglih;rr,rn
(line of slght) ini merupakan akibat melengkungnya permukaan bumi.

,1
i

lh
t

jr

.".a"".

P ,.,

I
!

!t'

ln

.R
\

---'*'---

'\

'il{)/

Cambar 2. / 7 Keraguan garis posisi

!1

Cambar 2.12 Garis pengamatan pada permukaan melengkung

c. Teknik

Penentuan Posisi secara Optik

Penentuan posisi secara optik dilakukan dengan teodolit (theodolit).


Berkas cahaya pada garis bidik instrumen menBgantikan garis-garis
pengamatan. Jenis kombinasi LOP yang dapat diterapkan dengan metode
ini adalah garis lurus (pengamatan arah), lingkaran konsentrik (pengamatan
jarak) dan lingl<aran eksentrik (pengamatan sudut). Metode optil< mtrrni
hanya mr.manfaatkan berkas sinartampak schag.-ti pengganti garis 1x'tt1i,rttt,rl,ttt.
Inslnrrrrcrr clcl<lronil< dipakai lrcrs,rr-r'r,r-s,rnt;r rk'rrg;rn ittslnttttltr opltl.

)4

Pengamat di titik P akan melihat target di f yang hcrjarak.s 1r.rrl,r


ketinggian h. Artinya, semakin jauh 5 (jarak pengamat kc largcl) sr.m,rl<irr
besar pula h. Hubungan ini dinyatakan dengan:

t'tts(/
<lcttg,ttr

/i

- ill r lt

l,rrt l,rrt lrrtttt rl,rn

(].
S

t)

rlirlt'k,rti rk'n1i,rrr /(/). W,rl,rrrl,rrrr rlr,nrrlrr,rl,


,r.

'!':'J/!t'!- - -- - -- --E-EE-, r, -E - E - - -- efek l<clt-'r-rg,kung,itlt lrumi ltattya tncnrIrcri pcrrg.rrurlr kct rl p,rrl.r l\(,nr,ilil1)u.il1

alat ukur optik karena kebanyakan instrumen optik memiliki l<t'tt'rlr,rt,rs,rn


jangkauan pandang, sehingga hanya dapat dipakai pada daerah scmpit di
atas permukaan bumi yang dapat dianggap sebagai bidang datar. Selain efek
kelengkungan bumi, penentuan posisi optik dipengaruhi pula oleh efek
refraksi (pembiasan) yang disebabkan oleh perbedaan densitas atmosfer
(yang menjadi medium rambat cahaya tampak) karena variasi suhu, tekanan
dan kelembapan udara. Refraksi akan 'membelokkan' berkas sinar yang
dipakai sebagai garis pengamatan. Pengaruh refraksi direduksi dengan
prosedur pengukuran. Teknikteknik reduksi kesalahan pengukuran optik
lebih jauh dapat dilihat di Davis et al. (1981)

Metode Optik Murni


Metode penentuan posisi secara optik murni mengaplikasikan kombinasi
LOP garis lurus, lingkaran konsentrik dan lingkaran eksentrik. Cambar 2.13
memperlihatkan penggunaan dua teodolit kompas untuk mengul<ur
arah-arah a,, dan d,,, dari titik-titik referensi i dan I ke titik u. Teknik ini
disebut dengan theodolit tracking (Cambar 2.14a). Pengukuran jarak dapat
pula dilakukan dengan cara optik murni menggunakan teknik sextant-substence
bar. )arak diperoleh dengan mengukur sudut y yang dibentuk oleh posisi
kapal dengan ujung-ujung lengan substence bar (Cambar 2.14b). Jika panjang
lengan substence bar diketahui maka jarak pengamat u ke titil< referensi i
dapat dihitung. Posisi diperoleh dengan pengamatan dua jarak ke dua titil<
referensi. Selain itu, metode optik murni dapat pula dipakai untuk melakukan
pengukuran sudut. Pengukuran tersebut dilakukan dengan teknik sekstan
yang dilakukan dengan mengukur sudut yang dibentuk oleh kapal dengan
dua titik referensi di darat (Cambar 2.14c). Posisi diperoleh dengan
pengamatan dua sudut ke tiga titik referensi.

Cambar 2. /3 Penentuan posisi u dengan perpotongan arah di i dan

It,r'\

/(,2

. l,'

(a) Teknik theodolit tracking

(b) Teknik sextant - sub-stt'rrr r' /r,u

Metode Elektro-optik
Instrumen elektro-optik terutama dipakai untuk mengaplikasikan
kombinasi LOP lingkaran konsentrik (pengamatan jarak). Cambar 2.15
memperlihatkan penggunaan sistem Polarfix dari Atlas untuk mengukur jarak
dan arah dari titil(-titik referensi di pantai ke kapal di laut yang ditentukan
posisinya. Posisi diperoleh dengan kombinasikan pengukuran jarak secara
elektronik (dengan gelombang radio) dan pengukuran arah (srrrlrrt) rk'rrg;rn
cara optik. Pacla litil< y,rng tlilr:ntukan J;osisinya dilcmpalk;rrr rr'l/r,r tor rl,rrr
p;rrl;r titik r('f('r(.nsi rli rl,rr,rl rlitr.rnp,rll<.tn ,tl,rl clcl<tro oJrlik.
26

(c) Teknik sekstarr


| ,,ttttl t.tt .'

/ Perrgukuran .rr.rh, jarak dan srrrlrrl

se<

ara opliL

',r.r.,,, l',1,,.

;:il ;; ;r; ";;; il ; il ;:;;ilil,


",,r r r.,,,,1,.111. ,{ l',.,,.,,rt,,.,,' 1,,,,.r,,r,1r I ,,,,r

Metode Elektro-optik

lnstrumen elektro-optik terutama dipakai untuk meng,al)lil(.rsikan


kombinasi LOP lingkaran konsentrik (pengamatan jarak). Cambar 2.15
memperlihatkan penggunaan sistem Polarfix dariAtlas untuk mengukur jarak
dan arah dari titik+itik referensi di pantai ke kapal di laut yang ditentukan
posisinya. Posisi diperoleh dengan kombinasikan pengukuran jarak secara
elektronik (dengan gelombang radio) dan pengukuran arah (sudut) dengan
cara optik. Pada titik yang ditentukan posisinya ditempatkan reflector dan
pada titik referensi di darat ditempatkan alat elektro optik.

Parl.l llitl,rrrgrl,tl,tr (( r,unl r,u .'.l(rr ). 5tr<lut /1,,, y.rrrgtlilx.rrtrrk ok'l t k,r1r,rl rl,rrr
titik-titik rt'lt'tctrrr r rl,rrr 1tlrrl,rr,rt tlitlctcksi ricngalr ll.rrrtu,rrr rt'llt.ktor rr.lk,kkrr
.

Celombarrg y.tttg r lilr,rtrlrrlk,rn kcnrbali akan dideteksi olt-.h alal irri rl,rrr rlip,rk.rr
untuk memlrcri tatttla .rr.rh-arah (relatif dari kapal) rcflcktor i tl.rrr I. Strrlrrt

yang dibentuk merupakan selisih arah i terhadap i.

--"-Q,,,

Snring llead
000

sw lt72 0

(a) Tcknik laser alignment beam

(b) Teknik tracking lac/rcorrrr,tr,r (",,,)


dan rotating /aser /x',rrrr (\,,,)

u./\
-/a-/
,,--..1-?

-rr"rr*
AZ t026 A

-----1

FJ,

OO0

Oo-Board St.tion

-vi fi

Control Unir

swltT0Aool

(c) Teknik rotating laser beam

Cambar 2. /5 Penentuan posisi u dengan perpotongan arah dan jarak dari


titik referensi (sumber: Krupp Atlas)
Pengamatan jarak dapat pula diperoleh dengan teknik-teknik pengukuran
laser alignment beam, tracking tacheometer dan rotating laser beam. Dengan
teknik laser alignment beam, pengamatan jarak 5, secara elektronik dilakukan
dengan bantuan reflektor di titik referensii (Cambar 2.16a). Teknik tracking
tacheometer dilakukan untuk mengukur jarak 5.,, atau S,, dengan bantuan
reflektor optik di kapal yang ditentukan posisinya (Cambar 2. t(rh).
Tacheometer adalah suatu sistem pengukr-rr jarak clengan gr,lonrlr,rrrg
t.lt.ktrom.rgrrr.lik. Tr.knik nilatittl-i, /;rsr,r /rr'.urr rl;r1l;rt ltrrl,t rli;r,rk,rr rlrlrrh
28

Cambar 2. / 6 Pengukuran jarak dan sudut secara optik-hibrid

d.

Penentuan Posisi secara Elektronik

Penggunaan gelombang elektromagnetik untuk mendapatkan [)cs,rr,ul


pengamatan jarak merupakan prinsip penting dalam penentuan posisi
elektronik. Metode penentuan posisi yang digunakan adalah komhin,rsi L( )1,
lingkaran konsentrik (pengukuran jarak) dan hiperbolik (1-rr:rr1.ltrkrrr,rrr sr.lisilr
jarak). Pt'ngukuran jarak tidak dilakukan secara langsunl3 nrcl.rirrl<,rr r r lilx.rok.lr
cltttrg,ttt tttottgcn,tli laju gelombang, c'lekromagnctik p,rrl,r nlvlirrnr ,rlrrrorft'r
tl,tlt rt'l,tttg w.rLlrr ',r';,rk gclomlrirngrlip,rn<,rrk.rrr rl,rri 1x'ng,rrn,rl r,rrn; r,rirlr.rrg,rrr

,\'u.ur, //,,/.ooral,

f r -E L*--

-r

r-rr

rE=E-rrEr-r

r--r--D----DD

il;;;;;;" ;l;,;;;, ;;;; ;,;;;;;';::;

(lil('rim.l oleh target. lnstrumen elektrorrik <ligunak.rrr UnlUl\ ilrr,il,lukur


jarak yang relatif jauh, yang tidak dapat dijangkau oleh irrslrrrtrtcrr oplik.
Celombang elektromagnetik memiliki spektrum yang sangat luas. l.rlrcl 2.1
memperlihatkan spektrum Belombang elektromagnetik menurut panjang

gelombang (2) dan frekuensinya

Teknik oneway rangit)Btlilakukandengan menggunak;ur s,rlu rrrslrrrrrrt,rr


l)emancar yang disebut dengan transmitter dan satu inslrtrllcn lx'n(.1 ltl,t
yang disebut dengan receiver. Pada sistem ini pemancar tlisclrrrt sr.l r,rg,rr
unit aktif dan penerima disebut sebagai unit pasif. Pengukuran s<'lirrrg w,rlilrr

saat

(f).

Tabel 2.1 Spektrum gelombang elektromagnetik

f (Hz)

i (cm)

GETOMBANC

>3x10r5M
3x108-3x10r5M

>3.1 0-r0

3x.l 0"-3x',I 0BM

30000-3x l 0sM

0.01-3x10-r
1-0.01

3000-10000M

10-1

00-3 000M

3x10-ro-3x10

Radiasi kosm ik
Sinar-X, gamma, ultra
violet. cahava tamoak

lnfra

erah

Extra H igh Frequency


(SH F)

membandingkannya dengan saat gelombang dipancarkan untuk mentlx'rr rk,lr


informasi selang waktu. Pada sistem ini, jam pada transmitter hants s.rrrr,r
dengan jam pada receiver I l<arena kesalahan pengukuran selang waklt r sr,lx,s, rr

Ultra Hig,h Freguency

1ms mengakibatkan kesalahan pengukuran jarak hingga 300 m. Tt'krrik

Super H igh Frequencl


(U H F)

30-300M
3-3 0M

300k-3M
30-300k
3-30k

1x10r-1x1O']

xl04-1x
lxl05-1x
l

x 1 06-

0.r

04

x 0s

lx.l 07-1x

0n

dilakukan oleh jam pada recelver yang mengukur selang, wal<lu sr';,rk
gelombang meninggalkan transmitter hingga diterima oleh re<riycr. /,/r,rrr,
discriminator di receiver mendeteksi saat gelombang cliterrim,r rl,rn

(EHF)

1x1O'z-10

^;;

rtri tl,tp,rl rlt1t,ll.,rt tttrlrtl, nr|l,rIuL,rtr 1x,ttr'ttltt,ttt lx)st\t (L'r r;i,trr rrrr,l,rkrrL,ilr
ll0ttgtlkttr,ttt l,ll,ll\ l.il,rl\ y,rrli rr'l,rltl pcilrlt'k rk'rtg,rrr sislr,rrr,rl,rl,rrrl,rr,r l,rrrr
Ilc<lroni<' /)rsl,rrrr r'fuft'tr,r (t l)M) ,rt,ru tODM (E/r,< lro ()1tti< I )rst,rrrr t'Mt'lt'rl.

Very High Frequency

(VHF)

High Frequ ency (H F)


Medium Freq uency (M F)
Low F reclue n cy (L F)
Very Low Frequency (VLF)

Celombang elektromagnetik dengan frekuensi 3 hingga 3x106 MHz


tergolong gelombang radio dan gelombang mikro. Beberapa sistem naviBasi
dan penentuan posisi elektron i k memanfaatkan gelomban g elektromagneti k
pada rentang frekuensi ini. Sistem navigasi Omega menggunakan VLF, sistem
Decca dan Loran C menggunakan LF, sistem radiobeacons menggunakan
LF darr MF, sistem NAVSAT menggunakan VHF dan UHF, sistem NAVSTAR
menggunakan UHF, sedangkan sistem RADAR menggunakan UHF, SHF

rrrr

dapat dipakai untuk melakukan penentuan posisi dengan rlr,l,rkrr[,rrr


pengukuran jarak-jarak menengah. Sistem navigasi dan pent'rrtu,ur lx).,r,,r
yang menggunakan teknik ini misalnya adalah Hi-Fix dan Dcr < ,r.
Teknik range differencing dilakukan dengan menggunak,rrr rIr,r ,rl,rrr
lebih instrumen pemancargelombangyangdisebutdengan transnrlllcr (rrr,rrlr.r)
dan dua instrumen penerima gelombang dari master yang rlisr.lrrrt ,,/,rvr,,,
Master dan s/aves ditempatkan pada titiktitik referensi. Master mcrrgirrrrrl.,rrr
sinyal ke s/ave pertama dan kedua yang melakukan pengukur,rrr .,r,l,rrrg
waktu perambatan gelombang dan meneruskan perambatan g,elonrlr,rrrli kr,
receiver di kapal (titik yang ditentukan posisinya). Beda waktu at,rrr lrr.rl,r
fase dari sinyal yang diterima dari dua slaves diukur di receiver sr.hingl;,r
beda iarak ke master dan s/ave pertama serta s/ave kedua dapat ditt.nluk,rrr.
Sistem penentuan posisi Loran C dikembangkan dengan teknik ini. Sistorn
lain yang juga memanfaatkan teknik ini adalah Omega dan satelit [)op1rk.r.

dan VHF.
Pemanfaatan Gelombang Radio
Pengukuran farak secara Elektronik
Pengul<uran jarak secara elektronik dilakukan dengan metode-metode

two way ranging, one way ranging atau range difference. Teknik two way
ranging dilakukan deng,an satu instrumen pemancar g,elombang yang disebut
dengan ma.ster dan satu instrumen pemantlrl gelombang yang disollut k'rtg;trt
r('mot(. ;rl:ttr rcfloktor. Pt.ngukuriln selang waktu clilakukalr ololr j,rttt 1l.rrl,t
r)),rslr,r y,lnli n'r(,nliul<rrr sr'l,rrr13 w,rl<ltr st'j,rk gr.lonrll;rn11 rnltrrtrlili,rll..,,',
<

ln

Hingga kini, gelombang radio mempunyai sejarah yang p,rrrj,rrrg rl,rl,rrrr


penentttan posisi di laut. Metode penentuan posisi yang rligrrn,rkirn un)unlny,t
komlrirt,rsi l()P lingkaran konsentrik (pengamatarr j.rrirl<). (lt'lorrrlr,rrrg r,r<lro
yitrrg rli;irtlr,rk,ttr rl,tl,rttt pcngukuran jarak elc.klrorrik rl,rgr,rt rlikl,rsilil<,rsil<,rn
Irt'rrl,r',,rr[,rrr lrr'l\urn',rrry,r y,ritrr Llltr,t t tigh I r<,t1tt<'rt< y ((,1 lt ), lt4ttlirttrt
IrcAtl,'tttr tlvll ) '.r'rl,t /r,tt, ltt'(11('1(y (LI) rl,rrr Vty, lrtw lrptllt,l( y, (Vl l)

l1'ttlttltt,ttt llnlil'il rlltrll,ttt

1rr,1.111,1,,,,

littlilqi rltlirrrr,rk,trr rrrrlrrk 1x.11i1krrr,t1

1,rr,rl.

,\L.x; //,i/,oo,oth
- --- &J

,,,1, r,l. ,.1

l',.,,,.,,r,,,,,,
-

-----

---

,,,,1,1,,,,r
--D--

dengan jangkauan sekitar.l0 km. ['arla konrlisi cuirr.ir yirrrg lr,rrl. lrr,l x'r ,rp,r
sistem dapat mengukur jarak sampai 100 km. Contoh sistem ini rrris,rlrrya:
Syledis, Miniranger, Trisponder, Microfix dan Autotape.

Penentuan posisi ini menggunakan gelombang menengah dengan

p,

frekuensi antara 1.5 hingga 5 MHz dapat mencapai jarak maksimum antara
150 hingga 1200 km. Pencapaian jarak pengukuran sangat tergantung pada

P,

refleksi dari ionosfer dan lintasan gelombang melalui daratan atau lautan.
Contoh darisistem gelombang menengah ini misalnya: Argo, Hi-Fix, Raydist,
Ceoloc dan Hydrotac. Frekuensi rendah digunakan untuk navigasi di laut
lepas dan seluruh dunia yang tidak memerlukan ketelitian tinggi. Sistem

'\. -----

.)#.''

t-

'''t.,,

Loran C memanfaatkan rentang frekuensi ini (sekitar 100 kHz) untuk


menjangkau jarak pengukuran sekitar 1000 km pada siang hari dan sekitar
2000 km pada malam hari. Untuk navigasi dengan jangkauan seluruh dunia,
posisinya dapat ditentukan dengan sistem Omega yang menggunakan
frel<uensi 10 kHz.

C.

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS

olefu lr.

]{asanuddin Z. .4bidin.,tr[1c..

Cambar

q{ D.

CPS (C/obal Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan


penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini
didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi
mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa tergantung waktu
dan cuaca, kepada banyak orang secara simultan. Pada saat ini, sistem CPS
sudah sangat banyak digunakan orang di seluruh dunia. Di lndonesia pun,

CPS sudah banyak diaplikasikan, terutama yang terkait dengan


aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi.
Prinsip dasar penentuan posisi dengan CPS adalah pengukuran jarak
ke beberapa satelit (yang koordinatnya telah diketahui) sekaligus, yang tidak
lain merupakan kombinasi dari beberapa permukaan posisi bola konsentrik
dalam ruang, seperti yang ditunjukkan pada Cambar 2.17.
Dibandingkan dengan sistem dan metode penentuan posisi lainnya,

CPS mempunyai banyak kelebihan dan menawarkan lebih banyak


keuntungan, baik dalam segi operasionalisas maupun kualitas posisi yang
diberikan. Saat ini ada juga sistem penentuan lrosisi berl-rasis s,rlolil y,rng
operasional, yaitu CLONASS yang dimiliki Rusia. Di samlrirrli iltt, rl,rl,rtrr
w.rkltr rk'k;rl Konrrrrril,rs Iro1l,r ,rkirn mr.lrrn< trrkirrr sisk'nr s,rk'lrl (,2\l ll l( )

2./

Z Prinsip penentuan posisi dengan pengukuran iarak


ke tiga satelit

Penjelasan yang lebih detil tentang CPS dan aplikasinya dall.rl rlilrlr,rr
Abidin (2000).

rlr

a. Karakteristik Sistem GPS


cPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggtrrr,rk,rrr
satelit. Nama formalnya adalah NAVSTAR CPS, kependekan dari NAVigatiotr
Sate//ite Timing and Ranging clobal Positioning system. Sistem yang rl,rp,rt
digunakan oleh banyak orang sekaligus dalam segala cuaca ini, rlirk,s,rirr
untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi yang teliti scrta inforrrr,rsi
mengenai waktu secara kontinyu di seluruh dunia. Arsitektur sistcnr (il,S
disetujui oleh Departemen Peftahanan Amerika Serikat pacla t.rhun l()z l.
Satelit pertama diluncurkan pada tahun 1978 dan secara rcsmr CPS rlirry,rt,rk,rrr
operasional pada tahun 1994.
(

il'\ t.rrliri ,rr;rs lig;r segmen utama, yaitu: (i) s(,gnr(lr'r ,rrrgl<,rs,r (s1r,rr r,

sr'1;rrrlrrt) y,rrrpi tr,rr lrri <l,rri satelitsirtclit CpS, (ii) sogntcn sislcrl l<orrlrol
(t ttttlrt r/ ',\ .'lrttt ',t'l:tttt'ttl\ y,rrrg lcrrliri rl.rri rl,tsirrrr-sl,tsirrn
;x,rrlorrrlor rl,rrr

;x,rrgnrrlrll ',,rlllrt rl,rl (rrr) ',r,l,int('n

1x.rrt,rl<,ri (rrsr,, .,r,ll,n(,,r1)

y,nrli lr,rrlrrrrl,rrr

,\n.,n,

r &iE

//,,/roor,u{,

&*r

r r--BE---

GG>*

---rGrr-rG-:--

>-

Gr r

(ll)S tt'nn,rstrk,rl,rt-.rl.rl Ix'r)('rir]ril <l.rrt 1x'trgol,rlr srrry,rl rl,rrr rl,rl,r


CPS. Ketiga seSmen CPS ini cligambarkan secar.l sk('nr,rlrI p,rt.l,r
ponrill<ai

Cambar 2.1

;;; ;;;l;';;;l; ;;;

;,;

;;i; ;; ; ;,

rlrgtrtr,rl<,tn rrtrlrrk 1)(,nr,il1il,ilr 1ril',r',r ',('t l,r,r1rltk,rsi ,ll)lll\,1\l l,rttltry,l

B.

SATELIT
-jumlah; 21+3
"periode orbit: 12 jam
-ketinggian orbit:
PENGGUNA
-mengamali sinyal
-hitung posisi dan kecepatan
-dapalkan informasi waktu

SISTEM KONTROL
-sinkronisasi waktu
-predik$i orbit
-injeksi data
-monitor kesehatan satelit

Cambar 2. / 9 Konfigurasi orbit satelit GPS


Gambar

2. I 8

Sistem penentuan posisi global GPS (Wells et al., 1986)

di angkasa, yang
dilengkapi dengan a.ntena-antena untuk mengirim dan menerima
Satelit CPS bisa dianalogikan sebagai stasiun radio

sinyal-sinyal gelombang. Sinyal-sinyal ini selanjutnya diterima oleh receiver


CPS di atau dekat permukaan bumi dan digunakan untuk menentukan
posisi, kecepatan maupun waktu. Selain itu, satelit CPS juga dilengkapi

dengan peralatan untuk mengontrol 'tingkah-laku' (attitude) satelit serta


sensor-sensor untuk mendeteksi peledakan nuklir dan lokasinya.
Konstelasi standar satelit CPS terdiri dari 24 satelit yang menempati
enam bidang orbit yang bentuknya sangat mendekati lingkaran, seperti yang
diilustrasikan pada Cambar 2.19. Orbit satelit CPS berinklinasi 55" terhadap

bidang ekuator dengan ketinggian rata-rata dari permukaan bumi sekitar


20,200 km. Satelit CPS bergerak dalam orbitnyadengan kecepatan kira-kira
3.87 km/s dan mempunyai periode 11 jam dan 58 menit (sekitar 12lam).
Dengan adanya 24 satelit yang mengangkasa tersebut, 4 sampai l0 satclit
CPS al<an sc.lalu dapat cliamati parla sotiap waklr-r rl;rrimana ptrrr rli 1x't tntrli,r,rn
bumi. S,r,rl ini (l;rntr,rri 2(X)5), k,lrcr'r,l ,r<l,rttyit () silt('lil (il)S gcrrlt,r',t ,rw,rl

l4

Setiap satelit CPS secara kontinyu memancarkan sinyal-sinyal gt'lorrtlr,rrrg

padaduafrekuensi L-band yangdinamakan L.l and 12. SinyalLl lx'rfrokrrltr.'r


1575.42 MHz dan sinyal L2 berfrekuensi 1227.60 MHz. Sinyal L'l ntt'tttlr,rw,r

2 buah kode biner yang dinamakan kode-P (P-code; P = Preclst' ,rl,rtr


Private) dan kode-ClA (ClA-code; CIA = Clear Access atau ('rt,trsr'
Acquisation), sedangkan sinyal L2 hanya membawa kode-C/A. S;r.rt ini
kode-P telah diubah menjadi kode-Y yang strukturnya dirahasiakan ttttttrk
umum. Jadi, saat ini kode yang dipancarkan oleh satelit-satelit CPS arlal;rh
kode-C/A dan kode-P (Y).
Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit dalam iumlah dan w.tklu
yang cukup, seseorang kemudian dapat memprosesnya untuk men<lapalk,ttt

informasi mengenai posisi, kecepatan dan waktu ataupun par(lm('l('r'


parameter turunannya. Sinyal CPS dibagi atas tiga kompottcn, y,tiltt:
(i) pcnginformasi .iarak (kode) yang berupa kodc-P rlarr korlt'-C/A,
(ii) lrcrrgirrftrrrnilsi posisi satelit (navigation rttr'.s"sagt') rl.rrr (iii) gclotttlr,utli
Jx'rnlr,rw,r |,trtitr w,rvr,) Ll dan L2. Strr-rktur fn'kttcnsi tl,rtr l<,tt,rl<lctislil.
rl.rt,rr rl,rrr l.r'tr1i,r k,)illl)()r'r(,n siny.rl (il'S lCtsClrrrl rlrl)('lll\,ilr l),1(l,t
(i,rtttlr,rt .'.'tl
t5

,\".tt,
r

r.i

fi,/.t,1tt11,
-

lit J r.r

--

-' -

G>-

EB-

rD-t-E:-F---

-r

204600
Frekuens Dasar
(0silatorAtom)
10

---r;

x154

-1

Kode-ClA

--}i'

1875.47WH2

" '-':t*-Q1

I
|

1.023M1"12

:**
panjang:
perioda:

rumumnya <lig,trrr.rk.rrr trrrttrk .rplikasi-aplikasi yan,l menutrttrt kt'tt'liti.rtl y,rltF,


relatif tinggi (clari orde mm sampai cm), sepefti untuk llcngarlitatl lilik lilik

Kode-P {Y}
10.23MH2

Naviphon

i'30m

50Hz

Message

.:.:T:
Kode-P

{Y} 1

10.23MH2

i'3om

$23

kontrol geodesi, pemantauan deformasi dan studi geoclinamikit'

b. Metode

1227.60MH2

,
t
I
,

;;;;;;;il;: i;,;:;;;';;i;;: ;; ;: ;il;

y,lt.lll t'n(.trutrtrrl kr,tr.lrlr,rn lx.l x,r.rp,r rlttt, st'1x'rti: sttrvt'i rl,ttt 1x'tlx't,t,lll rl('()l()Bl
rlan lxtrtantlr,rrrll,rrr, lx,t(,nt,tl,t,ttl 1x'lir, scrt;r lrmlraltgtttt,ttt tl,ttt 1x't.cttl,ti,t,ttt
Jtasis data Sislcnr lrrkrnrr,rsi ( ir,ogr.r[i (SlC). Sedartgkatt rer-t'ivt'r tilx'gt'rxft'lik

10.23M1'tz

--

Message

',, Y:Y

2,3547x10"cirps

chips

'1ms

Navigatian

1500hrh

2fi7 harl

Canbar 2.20 Struktur f rekuensi dan parameter dasar komponen sinyal

GPS

Untuk dapat menerima dan memproses sinyal-sinyal yang dipancarakan


dari satelit CPS yang selanjutnya digunakan dalam penentuan posisi,

Penentuan Posisi dengan GPS

Konsep dasar penentuan posisi dengan CPS adalah reseksi (pcngikitl.rrr


ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara simttlt,trt
ke beberapa satelit CPS yang koordinatnya telah diketahui. Secara vcktor,

prinsip dasar penentuan posisi dengan CPS diperlihatkan

R=r-P

(2.',l)

kecepatan maupun waktu, diperlukan alat penerima sinyal CPS (CPS


receiver). Receiver CPS untuk penentuan posisi, seperti yang ditunjukkan
pada Cambar 2.21, dapat dibagi atas receiver tipe navigasi, tipe pemetaan
dan tipe geodetik. Receiver tipe navigasi (navigation type) yang kadang
disebut tipe genggam (handheld receiver) umumnya digunakan untuk
penentuan posisi absolut secara instan yang tidak menuntut ketelitian terlalu
tinggi. Receiyer navigasi tipe sipil dapat memberikan ketelitian posisi sekitar
5 hingga 10 meter dan tipe militer sekitar 3 hingga 5 meter.

Tipe Navigasi
Penentuan
Posisi

--o

\rc

1r,rtl,r

Cambar 2.22. Dalam hal ini, parameter yang akan ditentukan adalah vcklot
posisi geosentrik pengamat (R). Untuk itu, karena vektor posisi gt'ost'trtrtk
satelit CPS (r) telah diketahui, maka yang perlu ditentukan adal.rh vcklot
posisi toposentris satelit terhadap pengamat (p):

r (diketahui)

TiPe SiPil

Pusat bumi

Tipe Militer

Cambar 2.22 Prinsip dasar penentuan posisi dengan GPS (pendekatan vektor)

Tipe Pemetaan
Tipe Satu-Frekuens
Tipe Geodetik

Receiver
GPS

Trpe Dua-Frekuensi

Pada pengamatan dengan CPS, yang bisa diukur harryalalr i,tr,tk ,tttt,tr,t

penfiamat dengan satelit dan bukan vektornya, olt:h scball


Penentuan

o---4Tining

Receiver

,,rrrrlt,rr.' .r / Klasifik.psi 71,1 1.jvpr Cl'S (Abirlirl, 20(l(l)

['t'rs,rtrt,t,trt

2.2 lirl,rk rl,rp,rl <lilcrapkan. Untuk meng,atasi hal itti, 1x'ttt'ttltt,ltt


lx-1g.utt,tl

ilu

rfu1,rhrrL.rrr

postsi

rk.rr11rrr mt'l;rktrk;rn;x'rrg,tnt;tl,ttt k'rlt.ttl,r1r Ix'l x'r,r1r,r s,rlclil

sr.k,rligtt', '[ilr.tl,t ',ttrtrtll.rtt, rl,rrt tirl,rk ll,ttty,t lctll,r<l.tp s,tltt s,tk'ltl, ',r'1x'tlt

,\i,.*, //,l,rjro/,

E Er-

d.r

-. -E-it:--

r-

Er---ra--EEF

D -

Er - - -t

!., l' 1,,,,. ' r r,,,,1,1,1. .\i l'.,,.,,r,,,,,, I i,.,r.,r,1, I ,,,,t


rl > - - - - -- ----Dl,DlD]-F'

-D-G->->>>-

yang ditunjul<kitn pa(la Cat]tl)ar ).2). l)a<lit ollttrasiott,tlts,t',ttty,r, llr lrr\rl)


penentuan posisi dasar dengan CPS tergantung Jl.rtl,r lr)('l\,rrrisl'll(l
pengaplikasiannya dan dapat diklasifikasikan atas beberapa met(xle l)('ncntuan
posisi yang akan dijelaskan lebih lanjut pada sub-bab berikutnya.

M'
\.r'

ilr1rrn

lltilll Posisidenqatt GPS

' ,*,
D if

ere nsia

Dilerensia

-tn ..

p1

.&.
r..,i

P,

p,

'1. l,

raE
Pseudo-kinematic

seudoran ge (DGPS)l

Statik Singkat

p{rsaf barnl

Caml..ar 2.23 Prinsip dasar penenlu.ln posisi dengan GPS

Posisi yang diberikan oleh CPS adalah posisi tiSa-dimensi (X, Y, Z


ataupun tp, ),, h) yang dinyatakan dalam datum WCS-1984. Dengan CPS,
titik yang akan ditentukan posisinya dapat diam (statlc positioning) ataupun
bergerak (kinematic positioning). Posisi titik dapat ditentukan dengan
menggunakan satu receiver CPS terhadap pusat bumi dengan menggunakan
metode penentuan posisi absolut, ataupun terhadap titik lainnya yang telah
diketahui koordinatnya (stasiun referensi) dengan menggunakan metode
diferensial (relatifl yang menggunakan minimal dua receiver CPS. CPS dapat
pula memberikan posisi secara instan (real-time)ataupun sesudah pengamatan

setelah data pengamatannya diproses secara lebih ekstensif (post


processing) yang biasanya dilakukan untuk mendapatkan ketelitian yang
lebih baik. Secara umum dikenal beberapa metode dan sistem penentuan
posisi dengan CPS, yaitu seperti yang secara skematis ditunjukkan pada
Cambar 2.24.
Survei CPS dapat didefinisikan sebagai proses penentuan koordinat
dari sejumlah titlk terhaclap beberapa buah titik yang telah clikt:tahui
koordinatnya, dengan menggunakan metode penentuan lxrsisi rlik'tcrrsi,tl
st.rl;r rlirt.r pcng,tmatan f.tsc rlari sinyal C['S. ['arl;t sttrvt'i (il'S, 1x'rtlyrl,llr.rrr
rl,rl,r lrlrrrrrrry,r <lrl,rktrk,rrr sclcl,rlr pr.tr11,utt,tl,ttt st'lt's,ti (ltttrl lttrtt r",',ttttil,

Cambar 2.24 Melode dan sistem penentuan posisi dengan Gl'S


(dimodifikasi dari LangleY, 1998)

meskipun dengan berkembangnya sistem RTK (Rea/Time Kinelt,tltr ), ',tttvlt


CPS secara real-time juga mulai dapat terealisasi.

c. Ketelitian Posisi

GPS

Ketelitian posisi yang didapat dengan pengamatan CPS akan tcrgittrtttttg


pada empat faktor yaitu: metode penentuan posisi yang digunakan, gt'ontclri
dan distribusi satelit-satelit yang diamati, ketelitian data yang digunakarr rl,rtt
strategi atau metode pengolahan data yang diterapkan (Tabel 2.2). ( .tr.r

memperhitungkan dan memperlakukan faktor-faktrlr terst:bttl,tk,ttt


mengakibatkan tingkat ketelitian yang berbeda. Karenanya, CPS mt'ntlx'tik,rtt
ketelitian posisi yang spektrumnya cukup luas, dari ting,k;rt kctt'liti,rrr lirrggl
(orde milimeter) hingga tingkat ketelitian sedanS, (orclc mt'lt'r), sr'1x'rli y,rrtli
dilrrrrjrrl<l<an pada Cambar 2,25.

i9

,\7,*, //,/,oo.rl,

r rr-4.{r

- G--r-r--EE------'f

--rr

----}-}}--

Tabel 2.2 Faktor-faktor yang, mempeng,aruhi ketelitian pencnlu.ur


dengan GPS (dimodifikasi dari Abidin, 2000)

lx,!tasa

AESOIUIt lrosl lt( )NlN(,


.Sl'S wrllr selecltve

FAKTOR

50m

w:

availabilrtv
'

SPS wrlhoul se/eclrve

.
.
Ceometri satelit

<

SUMBER

. Tipe data yang digunakan

Ketelitian data

availabilily

Kualitas receiver
Level dari kesalahan dan bias
. Jumlah satelit
. Lokasi dan distribusi satelit

PPS wrlh antt-spoofing

<

.o

l>

10m

5m

DIFF ERENTI AL POS]NON/NG

Strategi pemrosesan data

.@

. Stati k, r apid-static, pseudo-ki nematic


.stop and go, kinematik
. One and multi-monitor station
. Rea/ time dan post processing
. Strategi eliminasi dan pengkoreksian

differenltalcode

1m

,{--*.-.---.--..-'

carrier-smoothedcode

5cm

+------t-------r-

kesalahan dan bias

. Metode estimasi yang digunakan


. Pemrosesan base/ine dan perataan jaringan
. Kontrol kualitas

3m

ambig uity+e solv ed cani e r ph a se

slallc survey (carrier phase)

lmm
SPS

1cm

1Ocm

1m

Slandard Pos{ronlng Sewice {for civilian)

PPS = Frecise Posrlronlng Service {for military and authoriud users)

Cambar 2.25 Spektrum ketelitian posisi GPS (Abidin, 2000)

Sejak 1 Mei 2000, kebijakan SA (Se/ective Availability) sudah ditiadakan,

sehingga tingkat ketelitian penentuan posisi real-tirne secara absolut dengan


CPS menjadi bertambah baik dari kisaran 50 hingga 100 m menjadi sekitar
5 hingga 10 m. Luasnya spektrum ketelitian posisi yang diberikan oleh CPS

ini adalah salah satu keindahan CPS, karena pemakai CPS mempunyai
keleluasaan dalam melaksanakan penentuan posisi sesuai dengan tingkat
ketelitian yang diperlukan secara optimal dan effisien (baik waktu maupun
biaya). Oleh karena itu, CPS dapat melayani cukup banyak aplikasi dengan
tuntutan ketelitian yang beragam.

d. Aplikasi

Penentuan Posisi GPS dalam Bidang Survei

Kelautan
Dalam hal survei dan pemetaan sefta penentuan posisi di laut, CPS
telah digunakan untuk keperluan survei hidro-oseanografi, survei seismik,
penentuan posisi rambu-rambu dan peralatan bantu navigasi serta titik-titik
pengeboran minyak lepas pantai, ataupun untuk mempelajari kirrirktcrislik
artrs, golomlr;rrrg, atarrl'run l),lsul rli lepas p;tnt,ri. B;rlrkarr lx'lx't ,tp,r 1x'ttcltli

40

di Amerika Serikat juga telah menggunakan CPS, dikombinasil<,ttt

tlr'trf i,rrr

sistim penentuan posisi akustik, untuk menentukan posisi titil<-titik rli rl,r',,rr
laut secara teliti, dalam rangka mempelajari dinamika lempcng-lt'rtllx'rrti
benua di bawah lautan. CPS juga telah digunakan untuk membattttt l)r()\(",
pengerukan pelabuhan.
Patutdicatatdi sini bahwa sebelum adanya CPS, survei hidro-ost',tttogt,rlt
umumnya menggunakan sistem penentuan posisi elektronik y,rtrli
memanfaatkan gelombang radio seperti Mini Ranger, Polarfix, Sylt'tlis,
Hyperfix dan Argo untuk mendapatkan informasitcntang posisi. Kittl,rrrgl<,rl,r
sekstan dan theodolit juga masih digunal<an. Satc'lit Dopplor (Tr,rnsit) itrg,r
digunakan oleh beberapa pihak. Saat ini penBg,Llnaatr Cl'>S rl,tl,trtt stttvt't

hidro-oseanografi terutama terkait dengan

'
'
.

1x'rrcnltr;rr-r posisi

titik-titik kontrol cli 1xurl,ri,

n,rvrli,r.,r k,rp,rl srrrvui,

lx,ru'trln,ur

1rn.,r..r lilrl<-lilil< 1lr.r'trrrr (sorttxlittl:),

4l

,\),,*,
Err-L

//,,/.ro.o(,

J - - Er

.
'

r-EE--G-----E-Eti

-B-

-DD>>

> - - -

--

-,],],i;;,

l)('n('nlu,ln lx)sisi s('r'rs()r-s('nsor lri<lr<lgr,rli <l,tn,rs,',rn,)lI,rlt, ',('t l,t

penontuan posisi struktur atau obiek

di

latrt s('lx'llt w,rlr,rtt,t

penBeboran (rig).

Dalam kaitannya dengan aktivitas pemetaan laut di atas, metode


penentuan posisi yang digunakan umumnya adalah:

1.

Metode survei CPS: untuk penentuan posisi titik-titik kontrol di


pantai;

2.

Metode kinematik diferensial: untuk tahapan lainnya, baik


menggunakan data pseudorange untuk aplikasi-aplikasi yang
menuntut ketelitian menengah (level meter), maupun menggunakan
data fase untuk ketelitian yang lebih tinggi (level cm);

3.

Sistem DCPS dan RTK; untuk aplikasi-aplikasi yang menuntut


informasi posisi secara instan (real-time); dimana sistem DCPS
umumnya digunakan untuk melayani aplikasi berketelitian
menengah dan sistem RTK untuk aplikasi berketelitian lebih tinggi.

Metode Survei GPS


Metode survei CPS pada dasarnya bertumpu pada metode penentuan
posisi statik secara diferensial dengan menggunakan data fase. Dalam hal
ini, pengamatan satelit CPS umumnya dilakukan baseline per base/lne selama
selang waktu tertentu (beberapa menit sampai beberapa iam tergantung
tingkat ketelitian yang diinginkan), dalam suatu jaringan (kerangka) dari
titik-titik yang akan ditentukan posisinya, seperti contoh yang ditunjukkan
pada Cambar 2.26.

*-

stasiun referensi
(titik tetap)

;ffi ;i ;;;; ;;;; i; ;;; i:,; ;,

\(,\t lx.trll,rnt,rl,ln (r,/r,,r,rvrrrl: st'rslrtlt) rl,tp,rl rlt,tttt,rlt lllrrlr rl,rlt'.,rlrt


/r,r.sr'/irrc sr,L,rlr;irr,,. | ),rl,rrrr lx,l,ll\\,ur,r,ur survr'i (il'S, st'l.rrrt tlt'tt11ttt tttorl,t
j:rrinlg.ttt y,ulll (lrlrrrr;rrkL,tn p,trl,r (i,tm[t.tr'2.)6 rli .lt.ts, lx'll('llltl,lll lx]\l\l
titik-titik jrrg,r rl,rp.rt rlil,rkrrl<.rrr rlalam mocla raclial scsuiti tlt'ttg.ttt l<r'1 x't ltt,rtr.
Proses lterrerrtuan koordinat dari titik-titik dalam suatu jitrittgittt tl,tl,tttt
survei CPS, terdiri atas tiga tahap, yaitu: (i) perrgolahan rl.tl.t rl,tri scli,tlr
1l,rrl,t s,tlrt

l:;aseline dalam jaringan, (ii) perataan jaringan yang melibatl<itn setnrtt.t b,tsr'/tttr'
untuk menentukan koordinat dari titik-titik dalam jaringan dan (iii) lrattsfornt,tst

koordinat titik-titik tersebut dari datum WCS-84 ke datr-rm yang tlipt'rltrk,rrr


oleh pengguna. Penjelasan lebih detil tentang metode survei CPS ini tl,r1r,rl
dilihat dalam Abidin et al. (2002).
Penentuan Posisi secara Kinematik

Penentuan posisi secara kinematik (klnematic positioning),r<l,rl,rlr


penentuan posisi dari titik-titik yang bergerak dan receiver CPS tirlak rl,r1r,rt
atau tidak punya kesempatan untuk berhenti pada titik-titik tersobtrl, \('lx'rlr
dalam kasus lingkungan laut. Penentuan posisikinematik inidapatrlil,rkrrk,rrr
secara absolut ataupun diferensial (lihat Cambar 2.27) dengan mt'trggtttr,rk,ttt
data pseudorange dan/atau fase. Hasil penentuan posisi bisa tligx'rlrrk,rrr
saat pengamatan (real-time) ataupun sesudah p('lll-l,lttt,tl,ttt
(post-processing). Untuk real-time differentian positioning rlipcrlrrk,rtr
komunikasi data antara stasiun referensi dengan receiver yang lx'r1y'r,rk,

l
i

:
l

I
I

satelit GPS

satelil GPS

I
I

ii

I
I

'1

stasiun
referensi

1,
\:

,r,Lllfr/[,llllr;,
titik yang akan
ditentukan posisinya

(itttttltttr2.26 I'cnentuanposisititik-titikdclrgatrnrctodcstrrvci
(lrrrxlit.iaringalr)

4?

(,lltS
( ,,ttrtl,,rt

' ' ' t'r.nr.rrlrr,rrr;xrsisi

kincmalik Cl'S, rnorl.t.tlr.'oltrl rlan rli[r'rt'nsi.tl

4t

*:!*f!-

-:--

E- -E r --3

-.-

r - ---r

- E---

- F D D,

DE-

Tttrgantuttl3, gracla jcnis

rlittit y;urg rligunakan s(]rl.l nl('l(xh, pr,rrlntrr,rn


posisi yang digunakan, ketelitian posisi kinematik yang diberik.rrr ok'lr (il)S
dapat berkisar dari tingkat: rendah (penentuan posisi absolut rlcngan
pseudorange) sampai tingkat tinggi (penentuan posisi diferensial dengan
fase). Dari segi aplikasinya, metode kinematik CPS ini akan bermanfaat
untuk navigasi, pemantauan (surveillance), guidance, fotogrametri, airborne
gravimetry, survei hidrografi dan lainnya.
Sistem DGPS

DCPS adalah akronim yang sudah umum digunakan untuk sistem


penentuan posisi real-time secara diferensial menggunakan data pseudorange.
Sistem ini umumnya digunakan untuk penentuan posisi objek-objek yang

;;, ;;,;, :ffiffi1;;;;;:-;;;il;;il:


lX;l'S itti

lctli,rtrltttrli 1r,rrl,r
lLr.rs wil,ry,rlr (,rl\up,rn l.,rrr,k,,rrf,r, sistcnt lX;l'}S tttlltttlltty,r rlilrcrl,rk,rrr ,rl,r.,
Lo< al An,a l X ;l'\ (l n t X il'S) <l,rrr Wirle Area DCPS (Wn l X;l'S).
rrtrtrrrrr rlrlirrn,rl.,rrr p,rrl,r,,rrrvci sulvci kol,tttl,rtr.

Sistem RTK
Sistem RTK (Rea/-fime Kinematic) adalah suatu akrotrim y.rrrg stul,rlr
umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real-trme s()( ara rli[r'rcrrsi,rl
menggunakan data fase. Untuk merealisasikan tuntutan real-tlnrt,-ny,r, sl,rsrr rrr
referensi harus mengirimkan data fase dan pseudorange-nya ke 1x'nggrrrr,r
secara real-time menggunakan sistem komunikasi data tertentu, scpr.rli y,rng
diilustrasikan pada Cambar 2.29.

bergerak. Untuk merealisasikan tuntutan real-time-nya, maka monitor


station harus mengirimkan koreksi diferensial ke pengguna secara real-time
menggunakan sistem komunikasi data teftentu, seperti yang dilustrasikan
pada Cambar 2.28. Koreksi diferensial ini dapat berupa koreksi pseudorange
(seperti RTCM SC-104) maupun koreksi koordinat. Dalam hal ini, yang
umum digunakan adalah koreksi pseudorange. Koreksi koordinat jarang
digunakan, karena koreksi ini menuntut bahwa stasiun referensi pengirim
koreksi serta pengamat mengamati set satelit yang sama, dimana hal ini
umumnya tidak selalu dapat direalisir dalam operasional lapangannya.
Ketelitian tipikal posisi yang diberikan oleh sistem DCPS ini adalah berkisar

slasiun
referensi

satelit GPS

Cantbar 2.29 Sistem RTK

pengguna

shsiun

/'\.rt

referensi

koreksi

diferensial

44

,,rrrtlttr

2.211 Sislt

Ketelitian posisi yang diberikan oleh sistem RTK ini aclalah sckil.rr I
hingga 5 cm. Sistem RTK dapat pula digunakan untuk pencnltr.rrr lxrsisi
objek-objek yang diam maupun bergerak, sehingga sistem RTK irri lirl,rk
hanya dapat merealisakan survei C PS real -ti me, tapi j uga navi gasi [x'rkr.t

iIit

i,rr

tinggi.

m l)GPS

4tt

e. Keunggulan Metode

Penentuan Posisl GPS

Pertama, CPS dapat digunakan setiap saat tanpa tcrg.ttltttttg w,rl<ttr <litn

cuaca, baik siang maupun malam hari, dalam kondisi cuaca y.tttg bttruk
sekalipun seperti hujan ataupun kabut. Karena karakteristiknya ini maka
penggunaan cPS dapat meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas dari
pelaksanaan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan penentuan posisi, yang
pada akhirnya dapat diharapkan akan dapat memperpendek waktu
pelaksanaan aktivitas tersebut serta menekan biaya operasionalnya'
Kedua, satelit-satelit CPS mempunyai ketinggian orbit yang cukup tinggi,

yaitu sekitar 20,000 km di atas permukaan bumi, dan jumlahnya relatif


cukup banyak, yaitu setidaknya 24 satelit. lni menyebabkan CPS dapat
meliput wilayah yang cukup luas, sehingga akan dapat digunakan oleh
banyak orang pada saat yang sama, serta pemakaiannya menjadi tidak
tergantunB pada batas-batas politik dan batas alam. Selama yang bersangkutan
mempunyai alat penerima sinyal (receiver) CPS, maka ia akan dapat
menggunakan CPS untuk penentuan posisi.
Ketiga, penggunaan CPS dalam penentuan posisi relatif tidak terlalu
terpengaruh dengan kondisi topografis dan pantai sekitar kawasan survei
kelautan, serta jarak kawasan survei dari pantai, dibandingkan dengan
penggunaan metode optik maupun metode elektronik. Penentuan posisi
dengan CPS juga tidak memerlukan adanya saling keterlihatan antara titik di
pantai dengan titik lainnya di laut. Yang diperlukan dalam penentuan posisi
titik dengan CPS adalah saling keterlihatan antara titik tersebut dengan
satelit. Karena kawasan laut adalah kawasan yang umumnya terbuka ruang
pandangnya ke langit, maka penggunaan CPS pada umumnya efektif dan
efisien.

Keempat, posisi yang ditentukan dengan CPS akan mengacu ke suatu

datum global yang dinamakan WCS-84. Dengan kata lain, posisi yang
diberikan oleh CPS akan selalu mengacu ke datum yang sama, tidak tergantung
pada lokasi dari kawasan-kawasan survei laut yang ditangani. Karakteristik
ini sangat menguntungkan untuk kondisi lndonesia yang wilayahnya sangat

luas dan terdiri dari banyak pulau, tempat kawasan-kawasan laut secara
topografis banyak'terpisah' oleh pulau-pulau.

Kelima, CPS dapat memberikan ketelitian posisi yang spektrumnya


cukup luas. Dari yang sangat teliti (orde milimiter) sampai yang biasa-lriasa
saia (orcle pulrrhan meter). Ltr:tsnya spcktrum kctclitian yang bis;t rlilx'ril<,rrr
irri ntcnrrrngl<ink,rn lx'tll-ll.lun,l,ln (ll'S scr,tr.r <'fcktif tl.rtt t'[isictt s('\tl,tt rk'tr1i,rtr
411

kctr.liti,rrr

y,rrr1-,,

rllrrtrrl,r

,,r,r

t.r,l,rrr,r y,rtr11lrtsctlt,t, ttttlttk',('lIltl,l l,rlr,rlr,rtI',1llvr'l

l<r.l,rtrt.rrr.

Ke6;ndnt,lx,nt,tl\,lt,ut ,,t\lr.nt ( il'5 ti<l.tk rlikctt.rk,rtr lli,ry,r

penggula nrprlilrki ,rl,rl pt,rtt'rima (rer:eiygr)

(gr

siny,rl (il'S

,rlrs). Sr'l,ttlt,r

ttt,ll<,r

y,rrr11

bersangkutan <l,lpat rncnl3l3unakan sistem CPS untLrk lrcrltitg,ri ;tlllil<,rsi l,rtrp,r


dikenakan biaya oleh pihak yang memiliki satelit, clalam hal irri l)r'lt,ttlctttctt
Pertahanan Keamanan, Amerika Serikat. Jadi, investasi y.lng lxrrltl tlil,rkrtl<,rrr
oleh pengguna hanyalah untuk alat penerima sinyal CPS hescrla 1x'r,tttgk,tl
keras dan lunak untuk pemprosesan datanya.

Ketujuh, alat penerima sinyal (receiver) CPS cenderung mctri,trli lclrilt


l<ecil ukurannya, lebih murah harganya, lebih baik kualitas cl;ti.t y.rtrg
diberikannya, dan lebih tinggi keandalannya. lni terutama disebahk,rrr rtk'lr
kemajuan di bidang elektronika dan komputer yang sangat pesal rlt'w,tr,t
ini. Perangkat lunak komersil untuk pengolahan data CPS juga st'ttt,tkitt
banyak tersedia dengan harga yang relatif murah. Selain itu, karena llittry,rktry,r
merk dan jenis receiver yang beredar, kompetisi antar sesam;t 1x'tttlrtt,rt
receiver juga semakin tinggi, yang salah satu dampaknya ad;rlalt lt'tlt,trl,rp
tersedianya semakin banyak receiver CPS yang lebih user-orit'ttlcr/.

f. Kendala GPS dalam Penentuan

Posisi

Meskipun keuntungan yang dapat diperoleh dari penggt[r,t,tll ( il", ;,rttlr


lebih banyak, ada beberapa hal dan keterbatasan yang harus rlilx'tlt,rlt[,rtt
dalam pemakaian CPS dalam bidang survei kelautan, agar pcnl.lk,ri,rtttty,r
dapat optimal dan tepat sasaran. Beberapa hal dan keterbatasart lt'tst'lrttl
dijelaskan secara singkat berikut ini.
Pertama, agar alat penerima sinyal CPS dapat menerima sinyal (il'S,
maka tidak boleh ada penghalang antara alat penerima tersebr.tl rk'ttg,ttt

satelit yang bersangkutan. lni harus secara serius diperhitungkan, tt'rtrl,tt'tt,t


dalam penempatan antena di kapal survei. Antena sebaiknya dipitsittlg p,r<l,r
bagian kapal yang paling tinggi untuk meminimalkan obstrttksi sirry,rl rl,rrr
bagian-bagian badan kapal.

Kedua, datum penentuan posisi yang cligLrrrakarr olclr cil's ,trl,rl,rlr


WGS tl4. Seandainya posisi harus dipresentasikatt rl,tl,un tl,tlttttt l,titrny,r,
m.rk,r rlilx,r lul<,rrr proscs transformasi ko<lrdin.tt rlitri tl,rtttrtt W(;\ l')ll'l kr'
rl,rlrrrrr lx.r,,,rrrliLrrl,rrr l'rolllcm transformasi rl;tlttnt,tk,ttt tttt'ttj,trlr L'lrrlr lx"',rl
sr,,urrl,rrrry,r lr,r'.rl '.rrrv,,r rl,rn IX'nt('l,l,ul rk'ng,rtr (,1'\ ,rk,rrt tlttr'grtr",r'tll,t',ll\,llt

A1

I
dalam suatu datum lokal yang hubungan geomL'trisny,t (l('nll,rlr (l,lltrrll
WCS-84 tidak diketahui atau tidak jelas.
Ketiga, komponen tinggi koordinat tiga-dimensi yang diberikan CPS
adalah tinggiyang mengacu ke permukaan ellipsoid, yaitu ellipsoid referensi
WCS-84. Jadi, tinggi titik yang didapatkan dengan CPS bukanlah tinggi
oftometris, yaitu tinggi yang mengacu ke permukaan geoid (umum didekati
dengan muka laut rata-rata, MSL), yang umum digunakan sehari-hari untuk
keperluan praktis. Perlu diingat bahwa tinggi CPS tidak boleh langsung
diintegrasikan dengan tinggi yang diperoleh dari pengukuran terestris dengan
metode sipat datar (levelling) ataupun dengan MSL yang diestimasi dari
hasil pengamatan pasut.
Keempat, karena CPS merupakan teknologi yang relatif baru, maka
sumberdaya manusia yang menguasai masalah teknologi ini di lndonesia
relatif masih belum terlalu banyak. Oleh sebab itu, seandainya suatu instansi
pemerintah ingin menggunakan teknologi CPS ini untuk mendukung pekerjaanpekerjaan survei kelautan di lingkungan mereka, maka selain pengadaan
perangkat keras dan perangkat lunak CPS, penyiapan sumber daya manusia
yang terkait .iuga tidak boleh dilupakan. Tanpa didukung dengan sumber
daya manusia CPS dengan kuantitas dan kualitas yang memadai, maka
peralatan-peralatan yang canggih sekalipun akan menjadi kurang berarti.

Referensi
Abidin, H. Z. (2000). Penentuan Posisi Dengan CPS dan Aplikasinya. P.f

Pradnya Paramita, Jakarta. Edisi Kedua. ISBN 979-408-377-1. 268pp.

Abidin,

H.2.,

Jones,

A., &

Kahar,

). (2002). Survei dengan CPs.

P.T.

Pradnya Paramita, Jakarta. ISBN 979-408-380-1. Edisi Kedua. 280pp.

Davis, R.E., Foote, F. S., Anderson,.l. M. & Mikhail, E. M. (1981).


Surveying. Theory and Practice. McCraw-Hill. New York, USA.
Langley, R. B. (199S). RfK CPs. CPS World, Vol. 9, No. 9, September,

pp. 70-76.
Wells, D. 8., Beck, N., DelikaraogloU, D., Kleusberg, A., Krakiwsky, E.
J., Lachapelle, C., Langley, R. B., Nakiboglu, M., Schwarz, K. P.,
Tranquilla, J. M. & Vanicek, P. (1986). Cuide to CPS PositioninS4.
Canadian CPS Associates. Fredericton, N.8., Canada.

l)trstakir
L,ttt1;t'r,t,rr,

W (|'lll,l)

',

1,,v(,yi,)li .urr/ ('h,rrtlrrg

l/rr' \r',r, I lsr.vrlr

()< r',trrogr ,r1rlry \r'r ir,s. Arrrsterclam, Thr: Ncthr:rl,rrr<ls.

lngham, A.f.(t()7.1)..5r,.r Surveying. John Wiley & Sons. Lorrrlon, tJ.

Kelompok Bidang Keahlian Kelautan (1989). Pendidikan.srrrvci llitht4;r,rlr


lTB-PERTAMINA. Diktat Kuliah. Jurusan Teknik Cc<xk.si, trrstrlrrt
Teknologi Bandung.
Ferrara,

A. (1967). Electronic Positioning Systems for Surveyor.s. Co.rst ,rrrrl


Ceodetic Survey, Engineering Division. Rockville, M.D.

,\"",". /il.,'!rql,

]D

-r

l:*

f
r

-t

----r.-

-B-BD-l;-

G-

-_

D _ > _ _ _ E_

Pasut dan l):rtum

A.

Ilnh il
lurl

PASUT
Pasut laut (ocean tide) adalah fenomena naik dan turunnya pcrnrtrk,r,rrr

air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh

gr,rvrr,rsr

benda-benda langit terutama bulan dan matahari. pengarulr gr,rvir,r,,r


benda-benda langit terhadap bumi tidak hanya menyebabkan p,rsrrr l,rrrr,
tetapi .iuga mengakibatkan perubahan bentuk bumi (bodily tides) rl,rrr ,rtrrro,,lr,r
(atmospheric tldes). lstilah 'pasut laut'pada buku ini akan dinyat,rk,rrr rft,rrpi,rrr
'pasl;t'yan8 merupakan gerak naik dan turun muka laut deng.rrr p.r r,rrr,
rata-rata sekitar 12.4 jam atau 24.Bjam. Fenomena lain yang berhtrl)unti,ur
dengan pasut adalah arus pasut, yaitu gerak badan air mr.rrujrr tr,rrr
meninggalkan pantai saat air pasang dan surut.
Permukaan air laut dipakai sebagai tinggi nol. Kedalaman su.rtu rirrk
di dasar perairan atau ketinggian titik di pantai mengacu pada permuk,r.rrr
laut yang dianggap sebagai bidang referensi (atau datum) vertikal. K,rrcn,r
posisi muka laut selalu berubah, maka penentuan tinggi nol harus clilakuk,rrr
dengan merata-ratakan data tinggi muka air yang diamati pada rcnt.rng

waktu tertentu. Data tinggi muka air pada rentang waktu tertenlu jtrg,r
berguna untuk keperluan peramalan pasut. Analisis data pengamatan lirrggi
muka air juga akan berguna untuk mengenali karakter pasut dan ft.rronrcrr,r
lain yang mempengaruhi tinggi muka air laut.

cravitasi bulan merupakan pembangkit utama pasLrt. w,rlirtrprrrr lrr(lss,r


mal,rlr,rri j,rrrh lchih hesar dibanding massa btrl.rrr, n.lnr.u,r k.rrt,1,r j,rr,rk
lltll,rtt y,rrrli l,rrrlr L'lrilt tlt'l<;rt ke bumi rlibanrlirrg n'r,rl,rlr,rri, rrr,rl,rlr,r;r lt,rrry,r
rrtcrrrlrrrrl,,rrr 1,r'rrp,,rrulr y,urg lcltih kt.<'il terh,trl,tp pr,rrrlr,rrrlSl<il,rrr p,rsrrl rlr
lrtrrtrr l.i,r',r,r nl,r',',,r l,rrl,rn lrrrrrri,r<l,rl,rlr scl<il,rr l:ll,r, sr,rl,rrr11k,rrr r,r,,ro nr,r.,\,r
lrrrl,ilr ril,rt,rlr,rrr,r,l,rl,rlr,.''l.rr,rr l r. lrrrlo". f,rr,rk r,rl,r r,rl,r prr,,,rl rrr,r,,,,,r lrrrlrr
50

!":'!l!'r'!r - - ! rr - ] r-

r,ri- t r-.D -- E- D > - >

D,

l)tts,tl lt),lss,t ttt,rl,rlt,rri ,r<l,rl,rlr scl<il,rr ()li,{l }0,O0o rryl, ,,r.rl,rrr1il<,rrr


jaral< rata-rata pusat massa [runri r.lcng;ur
[)Lrsat m.]ssa llul,rrr,rrl,rl,rlr scl<il,rr
238,862 mil, al<ibatnya perbandingan gravitasi bulan rl.rn rrr,rrahari
(masing-masing terhadap bumi) adalalr sekitar 1:0.46.

| ',, ,,,r ,1,,,, I ,,,r,,,,, \/, , r,l.,,l

F-->>>>>-----D

-l.lB---

----

--

E-

D-i

<lt'tt13,ttl

{>

a. Teori Pasut

Irrrrrrr

(-

')

F.

D,;

',

P'i

tl

bulan
F^

>"

!!

Fenomena pasut dijelasl<an dengan 'teori pasut setimbang, yang


dikemukal<an oleh Bapak Fisika Klasik, sir lsaac Newton pada abad ke-|7.
Teori ini menganggap bahwa bumi berbentuk bola sempurna dan dilingkupi
air dengan distribusi massa yang seragam. Pembangkitan pasut dijelaskan
dengan 'teori gravitasi universal', yang menyatakan bahwa: pada slstem dua
benda dengan massa m, dan m, akan terjadi gaya tarik menarik sebesar F
di antara keduanya yang besarnya sebanding dengan perkalian massanya
dan berbanding terbalik dengan l<uadrat jaraknya:

F = 6mtYz

(3.1)

r'

Pada sistem bumi-bulan t gaya-gaya pembangkit pasut (tide generating


forces) adalah resultan gaya-gaya yang menyebabl<an terjadinya pasut, yaitu:

gaya sentrifugal sistem bumi-bulan (Fr) dan gaya gravitasi bulan (Fr).
F, bekerja dalam persekutuan pusat gravitasi bumi-bulan yang titik massanya
terletal< di sekitar % jari-jari bumi dari titik pusat bumi. F, bekerja dengan
kekuatan yang seragam di selurLrh titik di permukaan bumi dengan arah
yang selalu menjauhi bulan pada garis yang sejajar dengan garis yang
menghubungkan pusat bumi dan bulan. Besar F, tergantung pada jarak
pusat massa suatu titik partikel air di permukaan bumi terhadap pusat massa
bulan. Resultan F, dan F,, menghasilkan gaya pembangl<it pasut di sekujur
permukaan bumi (Cambar 3.'l).

titik P yang lokasinya terdekat dengan bulan dan segaris dengan


sumbu bumi-bulan, gaya gravitasi bulan yang bekerja pada titik pengamat
tersebut lebih besar dibanding dengan gaya sentrifugalnya (F/r > Fs). Di titik
P badan air tertarik menjauhi bumi ke arah bulan. seiring dengan menjauhnya
lokasi titik pengamat terhadap bulan, gaya gravitasi yang bekerja pada
Pada

titik-titik di permukaan bumi pun akan semakin kecil. Di tilik /,', gaya
sentrifugal lebih dominan dihanrJing llaya gr;rvitasi bulan (F,, <
barlan ;rir lt'rtlril< nrt'nj,ruhi lrrrnri p,rrl;r ;rr,rh ntr.nj,rrrlti lrLrl,rrr.

5?

/-,,)

,,r,lrirr1i1i,r

\
-'.1--1i,,.&

i,i

t.;

*u:;r{

Cambar 3. / Arah gaya sentrifugal dan gaya gravitasi bulan yang hekerj.r
di permukaan bumi

Fenomena pembangkitan pasut menyebabkan perbedaan lirrgl;r


permukaan air laut pada kondisi kedudukan-kedudukan tertentu rlari lrrrnrr,
bulan dan matahari. SaaI spring, yaitu saat kedudukan matah,rri \('t{,ut,,
dengan sumbu bumi-bulan, maka terjadi pasang maksimum 1t,rrl,r trtrk rlr
permukaan bumi yang berada di sumbu kedudukan relatif bLrmi, lrrrl,rrr rl,rrr
matahari (Cambar 3.2). Saat tersebut terjadi ketika bulan harrr rl,rrr lrrrl,rrr
purnama. Fenomena pasut pada kedudukan demikian disebut rk'rrg,rrr ,,l,nnt
tlde atau pasut perbani.

/t
(t
\'rt-

bumi
._,.___._.

=-?_-

\1

,bulan

m atah ari

//

-/

Cambar 3.2 Kedudukan bumi, bulan dan matahari saat sprrng


(bulan baru dan purnama)

Saat neap, yaitu saat kedudukan matahari tegal< lurrrs tk'ng,rn srrrrrlrtr
bumi-brrlan, terjadi pasut minimum pada titik di pcrmtrk,r.rrr lrrrnri y,rrrli
teg;tk lttrrtr sttntlxt btrmi-hulan (Cambar 3.3). Saal tersclrul lr.rj,rrlr rli pcrr,nrp,rt
bttl,ttt ,tw,rl rl,ttt pctctttpitl bulan akltir. Fcnom('n,t l),lsul 1l,rrl,r l<r,tlurlrrli,rrr
rk'ntikr,rtr rlr',r'lrrrl r|r'rr1i,rrr rrr',111 llrle ;rt,rrr p,rsrrl rrr,rli. Irrlr;i1i,rrr1i p,r.,rrl (;,rr,rk
vcrlrl.,rl Ir'rlrrrlrtl ,rrr pr'rnlul\,r,ur ,trr lcrlirrggi rl,rn lcrr,rrrl,rlr) s,r,rl .,1 rrrr11; h'lrrlr
lrr,,,,rt rltlr,tttrltnll',,r,rl rrr,.11r

,\',,rrr,

/lihyr(,

--E-E-f

lE---r-trr-r--tr-rrE-f

:=f

*'

l-Dr

--'r

;- ;;;;;;;"-;;.;;

bulan

;,

;;-;

;;;;;

l),rsttl rlttttorl,,ll.,rrI rlr.ttll,uI Ix't\.ln),1(ln:

()

!r,= A,cos(rul+r/)

(|..i)

rlengan yn = Iinggi muka air saat t, An = amplitudo pitstrl, rr) = l<r'<r'p,rt,rrr


sudut = 2td, t = waktu dan @ = keterlambatan fasc. Pasul y,rrrg torj,rrli
di suatu titik di permukaan bumi merupakan resultan dari j;rr;rl< rl;rn l<rrltrr lrrl<,rrr
bulan dan matahari terhadap bumi yang selalu berLrbah scc;rr.r pcriorlil,.
Fenomena ini dinyatakan dengan superposisi dari persamaan-p(.rs,urr,l,ln

matahari

>

gelombang pasut karena bulan, mataharidan kedudukan-kedudukan rcl,rli[ny,r.

Perbandingan amplitudo dan fase akibat atraksi benda-bencla l,rrrliir


tertentu pada pola pasut dinyatakan dengan konstanta-konstanta pcntlr,rrrrlrrrli
dengan simbol dan nilai tertentu untuk menjelaskan al<ibat atraksi gr.rvrt,rsr
bulan atau matahari dengan kedudukan tertentu terhadap tinggi nlul\,r ,lr

Cambar 3.3 Kedudukan bumi, bulan dan matahari saat neap


(perempat bulan awaldan perempat bulan akhir)

Cambar 3.4 memperlihatkan data pengamatan tinggi muka air y,,(t)


terhadap waktu t (jam) selama 1 piantan atau 25 jam saat pasut perbani
dengan tunggang pasut sekitar 2 meter dan 1 bulan atau 744 jam. Tipe
pasut yang diperlihatkan tergolong harian ganda dengan jarak waktu dua
posisi muka air tertinggi sekitar 6 jam. Pasut perbani dan pasut mati berjarak
waktu sekitar 7 hari, sedangkan jarak waktu dua pasut perbani adalah
sekitar 14 hari.

Konstanta-konstanta tersebut disebut sebagai komponen

lr,rr ntorrrl.

Tabel 3.1 memperlihatkan komponen-komponen harmonik utilnl,l

lrr,r rl.rrt

periodanya.

c. Tipe Pasut
Pasut di satu lokasi pengamatan dipisahkan menurut lipc r/rurrr,r/,
semi-diurnal dan mixed. Pasut diurnal(harian tunggal) terjadi d,rri s,rtrr [,rlr
kedudukan permukaan air tertinggi dan satu kali kedudukan pcrmuk,l,ln ,ur
terendah dalam satu hari pengamatan. Pasut di pantai utara Jawa tcnn,rsrrl.

jenis ini. Pasut semi-diurnal(harian ganda) terjadi dari dua kali kerlurltrl<,rrr
permukaan air tinggi dan dua kali kedudukan permukaan air rendalr rl,rl,rrrr
satu hari pengamatan. Pasut mixed (campuran) terjadi dari gabtrng,rrr
diurnal dan seml-diurnal. Defant (1958) mengelompokkan pasLrt nt('nrrrut
perbandingan jumlah amplitudo komponen diurnal terharlap jrrrrrl,rlr
amplitudo komponen semi-diurnal, yang,dinyatakan cleng,an
:

180 186 192 198


I

(hour)

200 400
I

600

(iour)

Cambar 3.4 Dala pengamatan tinggi muka air 1 piantan (25 iam) dan
1 bulan (744iam) diDelta Mahakam, Kalimantan
(sumberd.rta: Tol.tl [ & P lndonesie)

800

A/

Kr+O,

't[- - M,-5"

{l

r)

llr.rrl,r,,,rr[,ut N,, 1rnrr.,, dikelompol<l<an ntcrrrtrul lipr, tr;]r' y,utfl


l,rlrr.l 1..r.

<lil,rrrrlrtll.,rrr 1r,rrl.r

,\7,*., //,,/,0y.,(,
r IrI-f,

-rrI;-rr-r

-EII

rIIrI-IG:-;

-E----3

l.rlrr.l t..l l'r.rrgr.lrxnpokkan lipr. ;nsrrl

Tabel 3.1 Komponen-komponen harmonik pasut utama


SPESIES

NAMA
KOMPONEN

Semi-diurnal

M2

s2

N2

K2

Diurnal

K1

o
Perioda

M,

panjang
Perairan

25M2

dangkal
MN52

MKt

PERIODA
FENOMENA
(iam)
12.42
Cravitasi bulan dengan
orbit lingkaran dan sejajar

ekuator bumi
1 2.00
Cravitasi matahari dengan
orbit lingkaran dan sejajar
ekuator bumi
12.66
Perubahan jarak bulan ke
bumi akibat lintasan yang
berbentuk elips
11 .97
Perubahan jarak matahari
ke bumi akibat lintasan
yang berbentuk elips
23.93 Deklinasi sistem bulan
dan matahari
25.82 Deklinasi bulan
24.07 Deklinasimatahari
327.86 Variasi setengah bulanan
661.30 Variasi bulanan
2191.43 Variasi semi tahunan
11 .61 lnteraksi bulan dan
matahari
1 3.1 3
lnteraksi bulan dan
matahari dengan
perubahan jarak matahari
akibat lintasan berbentuk

B.1B

eliPs

lnteraksi bulan dan

matahari dengan

56

Mo

6.21

MS

2.20

perubahan jarak bulan


akibat lintasan berbentuk
elips
2x kecepatan sudut M,
interaksi M, dan S

NI[AI

frNrs

BENTUK

PASUT

0<N,<0.25
o.25 < Nf < 1.5

ganda 2x pasang st:hari rlcng,rrr


murni
tinggi yang rr:l;rlif sirm,r
Harian

Campuran
berganda

1.5<Nf<3
N,>

FENOMENA

Campuran
tunggal
Tunggal

murni

2x pasang seh,rri <k.rrg,rrr


perbedaan tinggi rl:rrr
interval yan,{ bcrbcrl;r
1 x atau 2x pasang
sehari dengan interval
yang berbeda
'l
x pasang sehari, sa;rt
spring dapat terjacli 2x
pasang sehari

B.

ARUS PASUT

Cerak vertikal (naik dan turunnya) permukaan air laut kitrt'n,t p,t',rtl
pada wilayah perairan dan interaksinya dengan batas-batas perair,ttt lcnrp,rl
pasut tersebut terjadi menimbulkan gerak badan air ke arah lrorisorrl,rl
Batas-batas perairan tersebut dapat berupa dinding (pantai dan kc'rl,rtrgl<,rl,rrr)
dan lantai (dasar) perairan. Fenomena ini sangat terasa pada wilayah pcr,rit,rtr
tertutup (teluk), perairan dangkal, kanal-kanal pasut dan muara sung,ai (rlcll,r
dan estuari). lstilah tidal stream atau tidal current atau arus pasut kcntu<li,rrr
diberikan pada fenomena ini yang merupakan gerak horisontal barlatt ,rir
menuju dan menjauhi pantai seiring dengan naik dan turunnya muka l,rul
yang disebabkan oleh gaya-gaya pembangkit pasut.
Arus pasut mempunyai sifat bergerak dengan arah yang saling lrcrlol,rk
belakang atau bi-directional. Arah arus saat air meninggi hiasanya lx.rlol,rl<

belakang dengan arah arus saat air merendah. Kcr.epalan ,trtrs ll.rsrrl
minimum atau efektif nol terjadi saat air ting,gi .rt,ru air rt'rrrlah (s/,rr (
wat('r\). 1),r<la s;rat-saat tersebut terjadi perubahan ;rrah artrs p;rsrrt. Kct r'p,rl,rtr
arus l),r\rl rrr,rIsirrrrrrrr tcrjadi pada saat-saat antara;rir lirrggi rl,rrr,rir rcrrrl,rlr.
Dcttl.i,rrr rlcrrrrl,r,rrr, pcr iorl,r l<r:ccpatan artrs llirsrrl irl<,rrt ntcrrliil<rrli ;rcrrorl,r
p,rslrl y,rrrli urltrrl,,rrrlgl.rll.,rrrrry,r. C.rnrlrirr.i.5 tttcrnlrol lilr,rll<,rn lrrrlrrrrrli,rn
llr,ng,rttt,rl,rtt lr,r',rl \rlr (ti,lrr,, lrPis) rlcrtg,rrt,rr,rlr,r(l) rl,rl,tttt rlr,r,r;,rl lr,rlr,rrl,rp

trl

'!:'!'!f!D]D

D-,- --- -=- r - -- r----!.;>D

DD

---

Ut,tr,t tl,ttt kt'ktt.tt.ltl ,trtts lt,tsttt tr(l) <litl.rnt nt/s (g,rris [,11,, lr.l,,rl) lrrgrolr,lrli
pada p;rntai yang memclnjarrg pada ilrah Timur-B;rrat <k'rr1i.rrr lr,r11,rrr l,rlr
terletak di sebelah Selatan. Cambar 3.6 menunjukl<an lrulrtrrrg,rrr ,urlar.r
arus pasut dan tinggi muka air pada pengamatan arus di sepanjang pen.lmpang
sebuah kanal pasut selama 21 jam.

-)

180

il

----;:;;:,

;;;, :^-;:;

-,-

:;:,;;, ::;

,rl<s('l('t,l\r l(,ilr'il,1 llr,rvrl,r',r l,rttrrt tl,ttl r/ l<r'tl,rl,rttt,rtr l)r'l,lll,lll.'r|lr,tt,ttt


vt'l<lrlr l)('nl.i,ln,tl,ll ,lu,, p,rrl,r ,,rr,rltr l<,tw,ts,ttt ltosisit ttl('tttl),rl\,tn tttlot ttt,t',t
1lt'nting Lrllul\ nr('nlir'l,rlrtrt pol,r 1lr:rgcr,ll(.lll .ll'tls <l,tti w,tlittl l\(' w,lkltl.
Kcccpalan lrrtrs rl,rp.rl rlip,tl<,ri utttul< mc'mperkirak;rn lrt's,trtty,t t'ttcrlii y,rttli
bokcrja di dasar pr:rairan yang mampu meminclahkan st'rlinrott rl,tt'i srt,rlrt
tempat ke tempat lain. Al<ibat perprndahan sedimen itti ,tl<,ttt lcri,ttli ctosi
atau deposisi (sedimentasi).

s-)

120

s.

60

os
-1

180 185 190 195 200


tt

205

-3
t80

1m

cambar 3.5 Hubungan antara pasut dengan arah (kiri) dan kekuatan arus pasut

sepanjang rentang waktu pengamatan. Permukaan laut ratil-r,ll,t ,rl,ill


Mean Sea Leve/ (MSL) diperoleh dari satu atau beberapa stasiLrn l)('nll,un,rl
pasut dan dipakai sebagai datum vertikal (de Jong, et al., 2002). lllttkul ttrt
diperkenalkan beberapa istilah tinggi rata-rata pasut yang dapat rlip,r[,u rrrrlrrlr
membandingkan karakteristik pasut dan penentuan datum verlil<,rl rl,ttt rl,rl,t
pengamatan pasut (Tabel 3.3).

"e '''

f;;0
,
i -r,,

Tabel 3.3 Beberapa istilah* dan definisi datum vertikal (CARIS, 2(Xl:t)

depth (m)

qe

,JIi

VERTIKAL

Tinggi titik di pantai atau kedalaman titik di laut hanya dapat clilt'tttul<,rrr
secara relatif terhadap bidang yang disepakati sebagai referensi tirtggi ,rl,rtr
datum vertikal. Datum vertikal ditentukan dengan merata-ratakan <l;tt,t p,rsul

-2
0

C. DATUM

n/s
a

ro

1.s

NO.
1

lt1

xl
I

; 0.5

,0

cambar 3.6 Hubungan antara pengamatan tinggi muka air dan kekuatan
arus pasut (dimodifikasi dari poerbandono, 2003)

Lowest

An arbitrary level, usually within +0.3m front tlr,rt ol


lowest astronomical tlc/e (LAT). (Hydrographi< Scrvrr

Astronomical

Royal Australian Navy)

-1.

Approximate
Mean Low

An arbitrary level, usually within t0..int front tlt,rt ol


mean low water (MLW). (Hydrographic Servict', l{oy,rl

Water

Australian Navy)
An arbitrary level, usually within *0...lrrt frorrt llt,rt ol
mean low water springs (MLWS). (Hyrlr<>gralrhit St'rvtt t
Royal Australian Navy)
An arbitrary level, usually within !0.lrrt Irttrrr tlrtt ol
mean lower low water (MLLW). (llytlrogr,rltlrit \t'rvtt t',
Royal Australlan l!uy)
An arbitrary level, usu;tlly witltin ]t). )rtr lrotrt tlt,tl rtl
r))(';rn sea /eve/ (MSL). (l'lyrlrogr,rplrrr \r'rvx r', l(rry,rl

4pproximate
Vean Low

4.

Spring,s

Approximate
Mean Lower

lctw Water
a

z\y

11

rr

lc

ox irrr.r

A'lr,,rtt

(t,l)

Tide
2.

Nater
Kekuatan maksimum arus pasut dapat diperkirakan dari ampritudo pasut
dan kedalaman perairan pada daerah yang diamati dan dinyatakan dengan
(Knauss, 1979):

DEFINISI

ISTITAH

Approximate

"r,,t

I tllltut,t ll,tl
rrl r, liltl I l\
l

r,vr'/

Arr',tr,rli,rrr N,rvy)

llt,, l,,vtl of low w,rlcr

syrrirrl;s ttr',rr l/tr, lnrrt

ttl

,rn

Ir/1,,/lrt\

It.rtrr
58

tl ()

I
Irglt W,rtt'r

//rr'/rr1.;ht'st /t,vr'/ rr',rr /rcr/,rt ,r ltll:- t lty,l/r. rr,rlr,r


in ot-rt, ti<!al <.y<lt. Also t tlltt! ltrt:lt lrrlr' tll l( )
Dictionary, S-.12, 5th Editiorr, 2251\; wlrt'tt r,\(,r / ( )/r
inland (non-tidal) waters it is generally del.irtrrl,rs ,r icve
which the daily mean water level exceeds lt:ss tltan 5,,/o
sur/,r( (,

of the time.
An arbitrary level, approximating that of mean high
Springs (MHWS) water springs. (Hydrographic Service, Royal Australian

F--

--FID;.GG!GG>---

l(

.,r(/{'(l lWl lr

t7. Iowr,rl

Astrotuttttit,tl

firle

High Water

Higher High
Water Large
Iide (HHWLT)
Highest

Astronomical

ride (HAT)
lndian Spring
Low Water

Creat lakes

Datum 1985

The average of the highest high waters, one from eaclt


of 19 years of observations.

The highest tidal level which can be predicted to occLtr


under average meteorological conditions and under any
combination of astronomical conditions (lHO
Dictionary, S-32, 5th Edition, 2244)
An arbitrary tidal datum approximating the level of the
mean of the lower low water at spring tides. Also called
lndian tidalplane. (lHO Dictionary, S-32, 5th Edition,
2427) A tidal datum approximating the lowest water
level observed at a place, originated by C.H. Darwin for
the tides of lndia at a level below MSL being equal to
the sum of amplitudes of the harmonic constituents M2,
52, Kl and O1; usually below that of the lower low
water at spring tides. Also called lndian tide plane.
(Hydroeraohic Service. Roval Australian N
A vertical reference system with its zero based on the
mean water level at RimouskilPointe-au-Pire, Quebec,
over the period 1970 to l9BB.

(ICLD 1985)
Local Datum

An arbitrary datum defined by a local harbour authority,


from which levels and tidal heights are measured by thi
An approximation of ntean low water adopted as the
reference level for a limited area, irrespective of better
determinations at a later date. Used mostly in harbour
and river engineering. used ln inland (non-tidal) waters.
It is generally defined as a level which the daily mean
water level would f all below less than 5o/" of the time
and by no more than 0.2 metres during the navigation
season. A single level surface is usually chosen as the
low water datum for a whole lake. On a river, low
water datum is a sloping surface which approximates
the river surface at a low state. (Canadian Hydrographic
Service)

5S.,rings

An arbitrary level, apytroximating that <'tf ntt,;'rn hny


w;tlor springs (MIWS). (l lyclrogralthi< Servir 1,, l(rry,rl

o! zr,l / r rt\
W,ttt,r l,rrlir

(LA I)

Lowest Low
Water
19. Lowest Low
Water Springs
18.

20. Mean High


Water (MHW)

l/rr .rr, t,t1',',,/ l/rr'lotvr",l /rrtv tt


/'l 1 r..il, I tl t,lt.,t't v,tllt)tl\.

It

It

I /r,. /r,rvlrl tt lt'it,al wiu lii ,,,, ltr' ltrttlt lttl lrt ru t rtr
urrr/r,r ,rvcr,tgt'ntet<rroltlgi<,tl rtttxIititttts,rrtr/ ttttt/r't ,ttt\
r orrr/rirr,rtir;n of astronomi< al < otttlitio ur. (ll l( )

Dictionary, S-32,5th Edition,


___
An arbitrary level confornrittSt to tlte /r.rwcsl lirlt'
observed at a place, o
An arbitrary level conforming to the /owe.sl w,rtcr lt'vt'l
observed at a place at spring tides cluring a 1x'ritxt ol
time shorter than l9 years. (Hydrographic Scrvitt', ltoy,r
Australian Navy)
The average height of all high waters at;t ytl;t<t'ovt'r ,r
19-year period. (lHO Dictionary, S-32,5th E(lition,

t1 41\
21

Mean High
Water Springs
(MHWS)

22. Mean Higher


High Water

(MHHW)
23. Mean Low
Water (MLW)

)4. Mean Low


Water Springs
(MLWS)
25. Mean Lower
Low Water
(MLLW)
26. Mean Lower
Low Water
Springs
(MLLWS)
27. Mean Sea Level
(MSL)

28. Mean Water


Level

29. Nearly Highest

lligh Water
l()

Nr',rr /t' I ,,rviitJ-I r rtt,

ll/,tlr'l

Arrstr,rli,rrr N,rvV)

of spring titlt's
Also called spring high water. (lHO Dictionary, S- l.f
5th Edition, 31 44)
The average height of higher high waters al .r p/,rr ,' r,r,,'r
a 19-year period. (lHO Dictionary, S-'32,5th Itlrlrorr,
The average height of the high waters

3l40)

The average height of all low waters at a 1)/,rt l ,vr't


19-year period. (lHO Dictionary, S-32,511r lrlrlrorr,
31 47)
The average height of the low waters of sprittti lrtlt",
Also called spring low water. (lHO Diction;rry, \ l.t

5th Edition,

,t

31 50)

The average height of the lower low waters irl ,r I)/,r(


over a 19-year period. (lHO Dictionary, S-32, 5tlr

Edition,

31 45)

The average height of lower low water springs at


p/ace. (lHO Dictionary, S-32, 5th Edition, 314(,)

,r

The average height of the surface o/ the sea at ,r lirlr'


station for all stages o{ the tide over a l9-year 1x'rirxl,
usually determined from hourly heig,ht reartings
measured from a fixed precleterntined refert'rrct' /r'vr'/.
(lHO Dictionary, S-32,5th Edition, 3156)
The average of all hourly water /evt'/s over (ltc ,rvtrl,rltlr
period o{ record.
An arbitrary level approxintaling lhe /rig/rcsl w,ttt'r ltvt'l
observed at a place, usually erluiva/r'ttl to llrr' lriglt w,tlt'r
sytrings.
Art ,rrbitrary level ;tpprtxint,tlttril l/tr' /owcsl w,tltt h'vr'l
rtlt:r,tvrtl nt a /)/a( (,, ttstt,rlly ctlttiv,rlr'ttt trt tltl lttrlt,ttt
\ltt ttt!: lt)\\/ w,rlcr (lSl W). (l lytlrolir,rlrlrrr \r'rvrr r', l(oy,rl

'\rr,,lr,rlr,trr N,rvy)

rltttrtrll',til ltlr lillrill .rl'l

60

6t

'!': !'!r!t

- D D D D D l r D r D - D - r - - r - D D !. D > > D - D r r
LJrtttrl< l<t'pttrlttittt rt.tvi1.;.tsi tligutr,rk.rtt ntul<;t;rir lcrorrrl,rlr ,,,,lr,r1i,rr rl,rltrnr
vertikal untuk angk;r-angka keclalaman laut yang, dinyat.rk.rrr l.lr,r1i,rr ,rngl<,rangka dan garis-garis kontur kedalaman pada peta navigasi l.rut. Muk,r air
terendah dipilih sedemikian rupa sehingga hampir tidak pernah terjadi l<eadaan
ketika angka kedalaman yang tercantum di peta lebih kecil dari kedalaman
aktual. Datum vertikal ini disebut sebagai chart datum atau muka surutan.
Penentuan muka surutan ditu.jukan untuk menjamin keselamatan pelayaran.
Muka surutan yang ditetapkan dari pengamatan pasut umumnya lebih rendah
dari tinggi rata-rata permukaan air laut terendah saat bulan perbani. Pada
Cambar 3.7 diperlihatkan kedudukan relatif beberapa datum vertikal.
D

l',,,,,t ,l',,' I t,,t,,,', \',


D-

D -

>>*>---->D-DD----

---D>-->D

--

/.o ),1,
rl

G-

rrl.,'l

->

(L")

rlt:ngan A, =.rrrrPlilrrrlo konrl-ronen patsut kc-i, n -- ittrttl,tlt l<trtttpottctt.


Standar pengB,un.l.lrr irmplitudo komponen harmonik rli lx'lrt'r,r1r,l lr('fl,ll,r
clalam penentuan muka surutan berbeda-beda. Bahkatt ll.trlit s,llrr ll('ll,ll,l
scl<ali pun, misalnya di lnggris, digunakan beberapa muka sttrttl,ttr st'l<,rligrrr
(Adams, 2OO4). Tabel 3.4 memperlihatkan beberapa standar 1)t'ttt't'tltt,ttt /,,
yang digunakan oleh beberapa negara di dunia. Saat irli cctrtlcrttttll
direl<omendasikan penggunaan LAT sebagai muka surutan.
Tabel 3.4 Beberapa persamaan untuk menentukan 2,,

NEGARA
Amerika
lnggris
Prancis

zo

Zn= M,
Zn = 1.1(Mr+Sr)
Zn = 1.2(Mr+Sr+Kr)

Pada peta navigasi laut jugadisajikan informasiBaris pantaiyitttg

lrltttrt;rtl

dengan kedudukan muka air pada saat tertinggi. Pengguna(llr rrrtrl\,r ,rrr
tinggi sebagai referensi elevasi dimaksudkan untuk menjamin kt'scl,tttt,tl,ttt
investasi di wilayah pesisir dan dataran rendah di sekitarnya. Dattrttr vctltl.,rl
yang dipakai untuk referensi bagi elevasi atau tinggi nol bagi titik lilrl\ (lr
daratan biasanya ditentukan dari muka laut rata-rata'

a. Pengamatan Pasut
Cambar 3.7 Visualisasi kedudukan beberapa datum vertikal
(de f ong et al., 2002)

Melalui analisis harmonik terhadap data pengamatan pasut akan diperoleh


amplitudo komponen-komponen pasut. Berdasarkan amplitudo komponen
harmonik tersebut ditetapkan muka surutan yang berada pada jarak sebesar
Zo terhadap MSL. Z0 diperoleh dengan penjumlahan amplitudo komponenkomponen pasut tertentu. Banyaknya komponen pasut yang digunakan
tergantung dari banyaknya komponen harmonik pasut yang diperoleh rlari
analisis harmonik. Sclisih jarak MSL kc muka surutan berdasarkan st,rrrrl,rr
inlern,rsior.r,rI <li1rcr<lk'h rlt.rrg,rn

6?

Pengamatan pasut dilakukan untuk memperoleh data tinggi nlttl<,t ,ttt


laut di suatu lokasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapal tlitct,rlrk,rrr
datum vertikal tertentu yang sesuai untuk keperluan-keperluan tcrlt'ttttt pttl,t.

Pengamatan pasut dilakukan dengan mencatat atau merekam rl,rl,r lrlr1i1li


muka air laut pada setiap interval waktu tertentu. Rtlntang 1lt'ttg,tttt,tl,ttt
pasut sebaiknya dilakukan selama selang wal<tu kcsc'lttrttlt,ttt poriotltt,ttt
benrla-hcncla langit yang mempengaruhi terjaclinya pasttl tt'litlt kcntlr,rli p,r<l,t
'scrnulrt'. Rcntang waktu penSamatan [)i)srtl y,tttg l,tzittt rlil.rkrrk,rrr
llpsisirry,r

lrrlrrL l.,,p,,t ltt,ttt grr,rl'tis arlalah 15 atatl 2() pi,tttl,ttt (l pi,rtrl,rtt .'', l,tttl)
Irrlr,rv,rl rr,,rltr plrrr,rt,rl,rrr,rl,rtr llcrkitnt,rrr lirrggi rttttk,r l,lttl lrt,ts,ttty,t,trl,tl,rlr
lrr, l(I ,tl,ltt l'lI tttltttl

6l

'!':' !!!r!

r.

i ] - ! - D- ! i

r. D

] r E - - - - D D - D D. > > D P i - - -

C.tr.r y,trtg p,rlitrg scrlcrlr,rn.t trrrltrl< ntorrg,rr.r.t,rli ll,rsrrl rlrl,rl..rrl',rrr rlt'rr1i,rn


palem al,ru ramhrr l)eng,lmat ltasut (C.rmllar J.li). Tirrggr rrirr[,r ,ur scli,rp
jam diamati secara manual oleh operator (pencatat) dan dicatat p.t<l.r suatu
formulir pengamatan pasut. Pada palem dilukis tanda-tanda skala bacaan
dalam satuan desimeter. Pencatat akan menuliskan kedudukan tinggi muka
air laut relatif terhadap palem pada jam-jam tertentu sesuai dengan skala
bacaan yang tertulis pada palem. Muka air laut yang relatif tidak tenang
membatasi kemampuan pencatatan dalam menaksir bacaan skala. Walaupun
demikian, cara ini cukup efektif untuk memperoleh data pasut dengan ketelitian
hingga sekitar 2.5 cm. Tinggi palem disesuaikan dengan karakter tunggang
air pada wilayah perairan yang diamati pola pasutnya, yang biasanya sekitar
4 hingga 6 meter.

I
- - -,:,;,;.;,,

;,;;,;;;;,
';;
(,lr,l pt,lltl,ll rl,rrr rrr,,1r,,rlrrl.,rrr ()t,url.l y(ulll <littr1l,rsi rtttlttl< tltcttli,lttt,tlt
,:;;

; ; ; ;;;;

;;; ;;;;;;.

rl,rn

rrrppr';tl.rt tirrlilgr ptrrl.,r ,rrr. 5r'lltt.rh alat l)('l'lSilrr,ll ll,tsttl tltt'l<,ttttl. y,tttli
rligunakan lpt1k ini .rrl,rl,th tide gauge. Ceral<att naik rl.rll lrtrtttltty,t,rir l,tttl
rliclctel<si dengan selruah pelampung yang digantungkirtr p,rrl.r l<,rw,rl lr'ri,r,
Kawat baja tersebut digulungkan pada suatu silinder pcnggtrlttttg St'lrtt'tlr
sistem mekanik melakukan peredaman dan konversi gt'ral<,ttl silirrtlcr
penggulung kawat baja dari ke arah vertikal menjadi ke arah horisottl,tl.
Cerakan horisontal bolak-bal ik tersebut kemudian disambungkan ;larl.r st'lrt t,rl t
pena yang menggoreskan tinta pada gulungan kertas perekam dat;r y,tttg

digulungkan pada suatu silinder. Cambar 3.9 memperlihatkan rt'l<,tnt,ttt


tinggi muka air pacla kertas perekam berskala dari pengukuran menggtttt;tk,ttt
tide gauge mekanik.

g
tg.

(s

Cambar 3.8 Pengamatan pasut dengan palem

(Foto: Bramasto A. Wifaya)

+-.i

;.

'i-r

f.

l,rfilrll,rr | 'r lll'lr.tttt,ttt rl.rla pcng;rmal.ln pnsul tlt'ngan lidc g,tttgt' nx'k'rlrik

'!':'

!(f!-,

- : - = E - r D r - . - - 3 r - D D B -, - D > D - - - - r r

Kt'rl,rs llort'l<,rrtt <ligcr,rl<l<,rn <lt'ng,rn sislr,t'n rttt,k.rrrrk lrr,rlr,rr,r1i,r lrstrl.


sehingga mcmungl<inkan nrc'mbcrikan kecepatan surJut y.utH l\orrrl,rrr rl,rrr
setara dengan jam pengamatan. Pada kertas perekam juga tcr<l,rp,rl sl<ala
bacaan yang memungkinkan untuk melakukan kalibrasi dan pcmbacaan
rekaman data yang efisien. Tide gauge semacam ini disebut dengan tide

l',,,,,,r ,1,,,, I r.,t,,,,, \,, , trt.,,l


-D

D t

GD-D-D->E>>-

-*-

----'b->--

---

-D

gauge mekanik, l<arena sensor tinggi muka air dan pencatatannya pun dilakukan

secara mekanik. Pelampung biasanya diletakkan pada pipa dalam sistem


bejana berhubungan untuk mereduksi gerak muka laut sesaat karena
gelombang dan angin. Pengembangan dari sistem ini adalah penggunaan
sensor akustik atau optik (sebagai pengganti sensor mekanik) untul< mengukur
tinggi muka air dengan perekaman secara digital.

pasur
pengamal pasut
penBlkatan stasiun
staslun pengamat
Cambar 3. I0 Skema pengikatan

Untuk skala regional dan global, satelit altimetri Topex/Poseidon yang


bekerja menggunakan pulsa RADAR kini dapat dimanfaatkan untuk mengukur
tinggi muka air laut yang berada jauh dari pantai. Satelit altimetri adalah
satelit pengamat global dan dipakai untuk memantau tinggi permukaan laut

di seluruh bagian bumi. Sistem ini mempunyai footprint beam pada radius
sekitar 7 km dan sangat rentan terhadap noise yang ditimbulkan oleh daratan,
sehingga tidak memungkinkan untuk pemantauan lokal. Sistem pengamatan
pasut lokal dan dekat pantai yang paling maju saat ini adalah dengan suatu
sebaran stasiun pengamat pasut permanen dengan sensor laser dan perekaman
secara
atar"r

digital. Data pengamatan ditransmisikan melalui jaringan telepon

gelombang radio ke suatu stasiun pusat pengolahan data.

b. Pengikatan Stasiun

Pengamat Pasut

Pengikatan stasiun pengamat pasut adalah prosedur standar yang


dilakukan untuk mengetahui kedudukan nol palem relatif terhadap suatu
titik di pantai yang ditetapkan untuk keperluan rekonstruksi. Titil< pengil<atan
nol palem tersebut perlu didokumentasikan (atau dibuat permanen sebagai
bench mark) dengan baik agar mudah ditentukan kembali. Pengikatan stasiun
pengamat pasut dilakukan dengan pengukuran sipat datar untuk menentukan
beda tinggi nol palem relatif terhadap titik pengikat. Jika selisih tinggi palem
terhadap titik ikat diketahui, maka selisih tinggi tersebut nantinya akan
digunakan untuk mendefinisikan tinggi titik ikat itu sendiri setelah datum
vertikal ditentukan dari pengamatan pasut. Cambar 3.10 memperlihatkan
kedudukan palem (atau alat pengamat pasut lain) di P sebesar Ah,,, tcrh,rrl,rll
titik pengil<al Z. Finggi muka air yang cliamati, rliukur rclatif tt'rlr,rtl,r;r trol
palt'm lrcrrl.rs,rrk;rn lrcrl,r tinggi y,rrrg rlitrktrr rl<'rrg.tn sip,tt rl,tt,tr.

66

Beberapa persyaratan untuk penempatan lokasi stasiun pasut yang lt,rrrts


dipenuhi antara lain adalah:

.
.
.

Lokasi stasiun pasut harus mengSambarkan karakterislil< l)ir\,rrrfl


surut di daerah sekitarnYa'
Tanah di daerah lokasi stasiun pasut harus keras (tidak lrtrltttttPrtr)

Lokasi stasiun pasut sebaiknya .lauh dari muara stttt13,ti, tttrlrrl.


menghindari pengarulr aliran serta endapan dan s,rtltp,rlr y,rrrp,
terbawa menuju ke laut.

Perairan di lokasi stasiun pasut diupayakan bersih datt it'rtrilt ',r'tl,r


tidak terganggu oleh tetumbuhan laut yang ada di sekil,rrrry,r.

Lokasi dicari sedemikian rupa agar memudahkan pengaw,ts,ttt rl,ttr


pemeliharaan stasun Pasut'

Terlindung dari pengaruh ombak dan gelombang serta pcttg,trtrlr


lai nnya secara langsung'

D. PREDIKSI

PASUT

Prediksi pasut dituiukan untuk memperoleh informasi tirrggi nrtrl<,t l,rtrl


di masa mendatang pada saat dan lokasi tertentu. Hasil prcrlil<si rlit,rrtrpill<,rrr
clalam tabel yang berisi .iam dan tinggi muka air. Tabt'l-t,rlrt'l prt'tliksi P'rsrrl
(',tr,t l,rttt
cli lrclrcr,rp;r lokasi clipublikasikan dalam se[;uah bltktt 1l,tsttt.
trrrtrrl< rrrr,rry.riil<.rrr irr[ormasi prediksi tinggi muka ;rir.r<l,rl,rlr tk'tt1i.ttt t tt titl,rl

<lr,trl ( r, lrrl,tlrlr,rrlrlrlr,rngrrrrclcng;rnintcrpolitsi (ltrttgg,rttpi ,tl,tttl<r'lcrl,ttttlr,tl,ttt


l',rrr, 1r,r.,1ll ,l,rrr l,r,llr.t,rp,t ,,l,rsirrrr ;tt.ngitntat p,tsrtl. I )itri ittlt'tpol,tst lt'tlt,rrl,rP
I1lHtl,1ttl ,rl,lr lr,lr,tl,rtttlr,tl,ttt l,tst' ;l,tsttl lctsr'lrttl ,rk,ttr rltrl,tP,rlh,rtt

hl

'!':' !'"!'!''!r

- ! i' n t B, - t - ]. ! . - r - B - r- - l > > - - - - t r


tlt,tsittg-ttt,tsitt13 to-r,rttgt'tl.ttt ro-11/r,rsc rlr,rr.l. l)t'rry,l,t,ut (lr.rr1i,rrr r,u,r 1lt
memhreri informasi tirrggi mul<;r air 1;arla lokasi-lokasi y,rrrg lrrl,rl, tt,rst'rli.r

stasiun pengamat pasut.


Prediksi pasut dilakukan dengan menurunkan atau mencari komponen-

komponen pasut dari data pasut dengan rentang pengamatan tertentu.


Pendekatan yang dipakai untuk mendapatl<an komponen-komponen pasut
adalah analisis harmonik. Cara yang Iazim dipakai adalah metode
Admiralty (Hydrografisch Bureau, 1949) atau kuadrat terkecil (misalnya:
crant, 19BB). Penggunaan metode Admiralty biasanya diterapkan pada
panjang data 15 atau 29 piantan dengan interval waktu pengamatan 1 jam.
Untuk data dengan interval waktu pengamatan yang lebih kecil dengan
rentang waktu pengaman yang lebih panjang, metode l<uadrat terkecil cukup
efektif dipakai untuk mendapatkan komponen-komponen harmonik dari data
penBamatan pasut.

;;^";

"

;,;;;,",;;;,;,-,:

;;:,

;;;;,;

pr:latihan.hlnt. I )r,rr;i,ril trtr,l.,rl,, rrrr, ,rrl,r sr'tttlrtl,rn Lr)ltllrr)lt('lr l),t',rll y,tll,l


tl,rpat dilrrrrrrrk,rrr, Mr,torL,Irr,rrlr,rl lcrl<r'< il<lirl,rs,rrl<,rn 1r,r<l,r 1lt't tlttltt,ttr ltnligt
muka air m<ult'l y,rrr11 rrrcrrrlrr,r il<,rrr l<tr.rclral l<esalalt,tn lt'rlr,rrl,rp ltttglii ttttt[,t
air pengamatan y;rrtg rninimum. Dari wel;site yang s.lnl,l, rl,tll,tl tlipt'tolclr
program yang dapat digunal<an untuk melal<ul<an anitlisis p,rsttl rlt'ttg,rtr
metode kuadrat terkecil.

b. Prediksi

LAT

LAT merupakan kedudukan muka air laut terendah hasil prcdil<si st'l,tttt,r
periode waktu '18,6 tahun. Model prediksi kedudukan muka air laLrt tlitlt'l<,rti
dengan:

Foi + f"t

+Q,)

(\,7t

l-1

cerakan vertikal muka air laut yang periodik merupakan resultan atraksi
gravitasi bulan dan matahari pada waktu dan kedudukan tertentu. Maka
gelombang pasut yang diamati di suatu lokasi merupakan superposisi dari
beberapa gelombang yang masing-masing pada setiap saat tertentu
dibangkitkan oleh kedudukan benda langit tertentu. Deviasi muka laut
terhadap kedudukan rata-ratanya dinyatakan dengan:

i-l

;;;,

y(t)= !usr*Lr,O,.or(r,,

a. Analisis Harmonik

y(t) =yu + i A, cos(a,t - Q,)

;:;",

dengan y(t) = kedudukan muka air laut saat t, /r.r, = keduduk,ttt ttttrlr,t,rtt
laut rata-rata atau MSL (Mean Sea [eve/) terhadap alat pcttg,tnt,tl p,t.'rtl,
v; = faktor nodal komponen pasut i, A, = amplitudo komJrrtttt'tt l),t\ttl ,,
(D = kecepatan sudut komponen pasut i, F' + F = fase komll<lttt'tt p,t',ttl
kesetimbangan i, dan 0, = fase komponen pasut i. Keduduk;rn MSI ',r'rl,r
amplitudo dan fase masing-masing komponen pasut yang dilib:rtl<,ttt tl,rl,rttt

model diperoleh dari hasil analisis harmonik. Kecepat;rtt stt<lttl


masing-masing komponen pasut diketahui berdasarkan hasil att,tlisis
(3.6)

astronomis. Sedangkan faktor nodaldan fase komponen pasut kesetimlr;tttg,ttt


dihitung berdasarkan argumen waktu. Data kedudukan mul<a air latrt y,rtrg

dengan, /(t) = tinggi muka laut sesaat, )zo = tinggi muka laut rata-rata,
A. = amplitudo komponen pasut I dan n jumlah komponen pasut yang

dibutuhkan untuk melakukan analisis harmonik bervariasi, namun ntittint,rl


dibutuhkan data pasut selama setahun.

dilibatkan. Dari data pengamatan pasut akan diperoleh data untuk persamaan
3.6 di ruas kiri yaitu y(t) dan dengan mengasumsikan keterlambatan fase
untuk komponen pasut i, maka Persamaan 3.6 dapat dipecahkan untuk
menemukan A-.

c. Pengaruh Faktor-faktor Non-Harmonik

Metode Admiralty dikembangkan oleh A. T. Doodson, Direktu r Ticlal


lnstitute di Liverpool dan digunakan untuk l<eperluan kantor hidrografi lnggris,
yaitu British Admiralty. Doodson mengembangkan sistematika pcngol,rlr,rrr
data pengamatatt pitsut rlenglln lranlrr;rrr sl<t ma rl;rrr ta[rcl-l,rlx,l 1r,,rr1i,rli.
Kt'lt'ttltt.ltr rl,rrr l,rttgl<,rlr-l,rtrgl<;rlt y,lnl.l lx'nllllurrrllt rnclork. ,4r/lrrrr,r/lr rrrrtrrl,
68

Pada kondisi tertentu, faktor-faktor non-harmonil< mcnrputty,ti lrcttli,rrulr


yang pctrting terhadap tinggi muka laut pacJa sl<;rla lokirl, rcgiott,rl ,rl,rrr
glolr,rl y,urll n'r(\ng,lkihatkan perubahan (positif alatr nt'g,ttif) lirrligi tttuk,r l,rrrl
scl,rrrr,r,,,r,rl ,,,r,rl llrlcnlrr ,rlltr terrrs mcnorus. Pt'rttlr,tlr,ttt litt,l,li tttttk,r l,rttl
It.rsr,lrrrl rl,rlr,rl rlr',,'lr,rlrl.,rn ololr [,rl<lor nrclt.oroklgis (lirrliliirry,r lrt;,ttr,,ttr1glt
llt,r,rr, rr,rtl" ,rl,rtt lurrrr\,,r'.rrlrrr likrll,rl rl,rn st.lr,rli,ritry,r),tl,rtt lttrlt,,l,rlit', (,rlrt,rtr

/r0

'!t:,' !'!f!

; -. -, - ],

3 D r. r r r D -

- I - DDDDD>>- - i D- stttll3lti, ll,rrrjir rl,rrr st'll,t1"i,titty,t). Kotttporrcrr rron-lt.rrrr)orrrk rl,r1r,rl rlrllrrrrrlt,rl


dari panjartg rJala pcnBamatan pasut yang cukup dan kort'l,rsr rL,rrli,rrr tl,rt.r
penBamatan lainnya, seperti: curalr hujan dan debit air. Lok.rsi lok,rsr y,rng
terpengaruh oleh komponen non-harmonik adalah daerah-dacr.rlr pantai
yang dekat dengan muara sungai atau dataran-dataran rendah pantai yang
berada pada daerah aliran sungai.
D

.,

Pt-.morumiln

Referensi
Adams, R. (2004). Seam/ess Data and Vertical Datums - Reconci/ing Chart
Datum with a Clobal Reference Frame. The Hydrographic Journal
.t13.

cA

(2

003

Pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditujukan rntlrrl<

).

v e rti

al D atu m .

http ://www. ca ri s. com/s -57 I atrributtdef/d-

verdat.htm.

de Jong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema,

l. A. (2002).
Hydrography. Delft University Press. Delft, The Netherlands.
Defant, A. (1985). Ebb and F/ow. University of Michigan Press, Ann

Arbor, USA.
Crant, t. t. (,988). Simplified Tidal Analysis and Predictton. Lighthouse,
37, Canadian Hydrographic Service, Nova Scotia, Canada.

memperoleh gambaran (model) bentuk permukaan (topografi)dasar ;)t'r,tir,ttt


(seabed surface). Proses penggambaran dasar perairan tersebut (sci,rk
pengukuran, pengolahan hingga visualisasinya) disebut sebag,ri \ttrvr'l
batimetri. Cambaran dasar perairan dapat disajikan dalam garis-g.rris kottlttt
atau model permukaan digital. Cambar 4.1 dan 4.2 memllt'rlrlr,rtL,rrr
visualisasi dasar perairan sebuah pulau terumbu karang di gugusan Kr'pttl,ttt,ttr
Seribu.

Hidrografisch Bureau (1949). overzichtder cetijleer. Afdeling Hydrografie,


Ministerie van Marine, Staat der Nederlanden.

Knauss, J.

A. (1979). lntroduction to Physical

Oceanography.

Prentice-Hall. New Jersey, USA.


Poerbandono (2003). sediment T ransport Measu rements and Model t i ng i n
the Meldorf Bight Tidal Channels, Cerman North Sea Coast.
Dissertation. University of Kiel, Cermany.

(a)

Mozaik citra foto udara


(su

mber: Pemeri ntah Kabupaten

Admi nistratif Kepulauan Seribu)

(b) Caris-garis kontur, angka-arrgk,r


menyatakan kedalaman tla ltrnr

meter

Cambar 4.I Visualisasi dasar perairan dengan garis-garis kontur kedal.rman (a)
dari pemeruman di sebuah putau terumbu karang (b)

(i,rris g,rris kontur kedalaman atau mocJel hatimetri rlipcrrllt'lr rk'ng,rrr


mr.rr1.;,irrk.r ;xrl,rrik,rrr lilik lilik pengukuran kedalamarr yang tr.rst.ll,rr;r,rrl,r lol<,rsr
y,rrrg rlrh,r;r hr,r,rp,rl,rrr lrlik litik pengukr.rr;rn kcrl.ll,lnl,rrr llt.rli,rrrtrrng gr,rrl,r
sk,rl,r rrr,,,L,l y,rrr11 lrlrr,l,rl, rlrlrrr,rl. [)r.rsy,rr,rtk,rn kcr,rp,tl,rrr rttirrirrtrrttr lrlrI lrlrk
lx.nl,irrkrtt,rtr llrl.rl.rrrr,rtr rl,rp,rl rlrlrlr,rl rli l ,rntpir,rrr l ). I rlrk lrtrl grtrrlirrl.trr,rrr
70

1t

'Y:'!Y

-,

r-

-r --

-.

- D]

B -,

-r

-. -. D -

------

> D D D,

lct'tl,tl,ttll,ttt llcr,lrl,t 1t,rrl,r l,titrr l,tjtrr pcrrl3rrl<rrr,rrr l<r'rl,rl,rrn,rrr y,1rll (lrsr,lrtrl


sebagai lajur pcrum atau -sounc/inyl lint: (Cam[-rar 4..t). l,,rtl.r r orrloh rli
cambar 4.1 dan 4.2 jarak antar lajur perum adarah lo0 m yang rrt,lingl<upi
daerah survei seluas sekitar 3x6 km2.

-'
;

>r

- ->

;;;;,;;;;;;;-->>D>-D>

l)t'ttgttl<ttt,ttr l.r'rl,rl,rttt,rtr tlrl,rl'rrli,rrt 1t,rrl,r lilil< tilili y,rrrli rlrprlrlr rrrrlrrl.


tttt:w.tkili l<t'st'ltttttlr,rtr rl,rct,rlr y,rtt13.tl<.tn rlipt'l,rl<,rrr. l',rrl,r lilik lrlrli lr,rsr,lrrrl
iuga dilakul<.ttt pcngttl<Ltr,tn untuk pencntuarr posisi. tilil( lilil. tcrnlr,rt
rlilakukannya pengukuran untuk penentuan posisi rlarr l<t'rl,rl,rrrr,rrr rlisr.lrtrt
sebagai titik fiks perum. Pada setiap titik fiks prrLrm h.rrus jrrg,r rlil,rIrrL,rrr
pencatatan waktu (saat) pengukuran untuk reduksi hasil pengul<trr,rrr l<,rrcrr,r
pasut.

a. Desain Lajur

Perum

Pemeruman dilakukan dengan membuat profil (potongan) pr.ngtrkt rr,rrr


l<edalaman. Lajur perum dapat berbentuk garis-garis lurus, lingkaran-linlili,rr,rrr
(a)

konsentrik, atau lainnya sesuai metode yang digunakan untul< llr,rrorrtu,rrr


posisi titik-titik fiks perumnya. Lajur-lajur perum didesain serk,rrril<i,rrr rrrlr,r
sehingga memungkinkan pendeteksian perubahan kedalaman y,rrrlg lr,l,rlr

Model batimetri dalam penyajian


tiga dimensi
Cambar 4.2 Model permukaan dasar perairan (batimetri)

ekstrem. Untuk itu, desain lajur-laj ur perum harus mt.rrrpr,rlr,rtrl.,rrr


ii

kecenderungan bentuk dan topografi pantai sekitar perairan yanpi ,t l<, r rr r lr,,r

rrvr,r

Agar mampu mendeteksi perubahan kedalaman yang lebih clistrr,rrr l,r1rr


perum dipilih dengan arah yang tegak lurus terhadap kecenrk,r'urrli,rrr ,rr,rlr
garis pantai (Cambar 4.4).

-,-- muka laut


salah satu
titik fiks perum

Cambar 4.3 Laiur-laiur perum

Jarak antar titik-titik fiks perum pada suatu lajur pemeruman


setidak-tidaknya sama dengan atau lebih rapat dari interval lajur perum.
saat ini, teknik perekaman data kedalaman sudah dapat dilakukan scr:ara
digital. Laju perekaman data telah mencapai kecepatan yang lebih lr,rik rl,rri
1 titik pcr rlctik

7?

perairan

( ,,trrrlt,rr

./ ,/ l.rirrr-laiur perum garis lurus dengan ar:rh lt gak lrrrus garis


;tanl.ri

Y:'%:

-B

D r - r -E--.-

a--B-r

r 3r--E-

D>D D > - - r r

Dari Ptltt13Ltl<ttrittt l<crl.tl,rnr,rrr (li tilik-lilik [il<s llcrrrrrr p,rrl,r l,r;rrr l,r;rrr
perum yang telah didesain, akan didapatkan sebararr titil(-litik lrls rprsrT)
f
pada daerah survei yang nilai-nilai pengukuran kedalamannya claJrat
rlipakai
untuk menggambarkan batimetri yang diinginkan (Cambar 4.5). Berdasarkan
sebaran angka-angka kedalaman pada titik-titik fiks perum itu, batimetri
perairan yang disurvei dapat diperoleh dengan menarik garis-garis kontur
kedalaman. Penarikan garis kontur kedalaman dilakukan dengan membangun
grid dari sebaran data kedalaman. Dari grid yang dibangun, dapat ditarik
garis-garis yang menunjukkan angka-angka kedalaman yang sama.

Irtk ryrrl

o
t
1.

titik kedalanrar

J
D

Pengukuran

.'5

S,.3

Cambar 4.6 Penentuan nilaititik grid daritiga titik terdekat

'i
-.12.s
. 1. 7.5"
.18.7 .it.o
\

qaris

muka

,r'

laut

Metode Mekanik

pintai.--.".-..- -i

.g.g

.17.4

.22.2

24.1

,,,

,, -.

t\

.6.3 .11,6 .20.g x.1


.

nrt,n

.LJ.L

Cambar 4.5 Angka-angka kedalaman pada titik_titik fiks perum

b. Prinsip Penarikan Garis Kontur


Teknik yang paling sederhana untul< menarik garis kontur adalah dengan
teknik triangulasi menggunakan interpolasi Iinier. crid dengan interval yang
seragam dibangun di atas sebaran titik-titik tersebut. Nilai kedalaman di
setiap titik-titik grid dihitung berdasarkan tiga titik kedalaman terdekat dengan

pembobotan menurut.jarak. Dari angka-angka kedalaman di setiap titik-tirik

Metode mekanik merupakan metode yang paling awal yarrg pcrrr,rlr


dilakukan manusia untuk melakukan pengukuran kedalaman. Mctorll rrrr
sering disebut juga dengan metode pengukuran kedalaman secarir l,rrrlgsrrrrg
Pada beberapa kondisi lapangan tertentu, misalnya daerah [x.r,ur,ur yirrrH
sangat dangkal atau rawa, cara ini masih cukup efektif untuk rlrpirrrr,rl,,rrr
lnstrumen yang dipakai untuk melakukan pengukuran kedalanr,rrr rlr,rr1.i,rrr
metode ini adalah tongkat ukur atau rantai ukur yang dilakul<,rrr rl.rrg,rrr
bantuan wahana apung. Bentuk dan penampilan tongkat ukLrr krrr,rrrli L,lrrlr
tidak jauh berbeda dengan rambu ukur yang dipakai untul< llcrrgul\ur,ur
sipat datar. Sedangkan rantai ukur, karena fleksibilitas bentuknya, lri,rs,rrry,r
dipakai untuk melakukan pengukuran kedalaman perairan yang r,rl,r r,rl,r
lebih dalam dibanding tongkat ukur.
Pada tongkat ukur terdapat garis-garis dan angka-angka tanrl,r sk,rl,r
bacaan ul<uran. Pada rantai ukur terdapat tanda-tanda skala bacaan rk'rrg,rn
warna-warna tertentu. Bacaan skala kadang-kadang ditempatkan jtrg,r p,rrl,r

grid, dapat dihubungkan dari titik-titik yang mempunyai nilai kedalaman


yang sama. cambar 4.6 memperlihatkan teknik penentuan tinggi pada suatu

silinder penggulung rantai. Pada ujung rantai (nolsl<ala haca.rn)dig.rrrlurrgl<,rn


pemberat untuk menghindari sapuan arus perairan clan mcnj,lg.r ,ll.l,r' r,u)l,rr

titik grid (D) dari tiga titik kedalaman pengukuran terdekat (1, 2 dan

senantiasa relatif tegak. Pengukuran keclalaman rlilakrrl<,rrr rlcrrg,rrr


menenggelamkan alat hingga menyentuh dasar perairan. Kcrltrrltrl<,rrr ,rl,rl

c. Teknik

3).

Pengukuran Kedalaman

Pengukuran kedalaman merupakan bagian terpenting dari pem.rtrman


yang menurut prinsip dan karakte'r tel<nologi yang digunakan dapal rlil,rl<trl,,rrr
clengan mr.lrtrk' mt.k;rrrik, optik .rt;rrr aktrslil<.

diusahakan tegak lurus terhadap permukaan air. Saat pt.ngrrl<rrr,rn kcrl,rl,rrrr,rrr


rlil,rkrrk,rrr, p,trl;r sumhu vertikal alat pengukLrr kr.rlirl,rrnirrr rlilt'nrp,rtl<,rn sljlrrr,,
l,tr1y'l y,rrrlgr ltp,rl.,ti unlttl< lx.nentuan posisi. Pt.n13grrn,r,rn r',rrrl,ri rrl<rrr tn(,nlutlul
l<t,lct',r'rlt,r,rn n,,rlr,ur,r ,rl)unll, n(rnrun tirl,rk rk'rnil<i,rn lr,rlrry,r rk'rr1i,rn lorrli[,rl
ttl<ttt l',r,l,r l','1,,'t,1;,,t f,rtttlr',r l,rp,ttt1;,ttt, stttv('y()t lt,rttt,, lrtttttt l.r'rl,rl,rttr,ttt

ttttlttl. tttlnllrtlrtr l,',l,tl,tnt,rtr rlr,trlg,rn lorrlil<,rl rtIrrr l'r'trliul\ut,ln lr,,rl,rl,rrrr,rrr


74

'y'ru

-- E- -r---.t

-r r - - - rlD-

r,D.

DD- D - -

tlcttg,ttt t)x)t(xlo tttttl<attik t'[t'l<tif rligrrrr,rl<,rn unlul( l)cnt('l,r,rn 1r,rrl,r Ir,rl,r,,,l,r,,r,rlr


survei yang relatif tidak luas deng,an sl<ala yang cukup [rcs.rr.
Metode Optik
Pengukuran kedalaman dengan metode optik merupal<an cara terbaru
yang digunakan untuk pemeruman. Metode ini memanfaatkan transmisi
sinar laser dari pesawat terbang dan prinsip-prinsip optik untuk mengukur
kedalaman perairan. Teknologi ini dikenal dengan sebutan laser airborne
bathymetry (LAB)dan telah dikembangkan menjadi suatu sistem pemeruman
oleh beberapa negara di Amerika dan Australia. Di Kanada dikenal sistem
Light Detecting and Ranging (LIDAR), di Amerika Serikat dikenal sistem
Airborne Oceanographic LTDAR (AOL) dan Hydrographic Airborne Laser
Sounder (HALS) sedangkan di Australia dikenal sistem Laser Airborne Depth

sounder (LADS). Teknologi LADS milik Royal Australian Navy pernah


dicobakan untuk digunakan di lndonesia pada pertengahan tahun 90-an
dengan mengambil daerah survei di perairan sekitar pulau Enggano, Bengkulu,
bekerja sama dengan BPP Teknologi.dan Dishidros TNI-AL.

Pada metode ini sudut transmisi sinar laser diarahkan tegak lurus
terhadap arah lintasan pesawat. cambar 4.7 menunjul<kan profil prinsip
kerja LADS dalam melakukan pengukuran kedalaman di titik p.

-;:;,.;;;

;;; ;,;; ;,
;;1",;,;.:;,;;ffi lltl('tlltt

lr'llr,rrl,r1r
lr,rrrsntisi sirr,rr l,r,,r.r rl,rrr pr,,,,rw,rl lr.rlr,rng tk'ng,ttr stttlttl
srrnttlu vcrlik,rl Ir'lrr,lnul\,r,ur,rrr, l',rrl.r tilik tli pcttttttl<,t,ttt,rir y,rtrg rltl,r'tr,rt
lr.rnsmisi, sr.lr,rgi,rrr liclorrrlr,rrr13 sitr.rr lilser rlip,ttttttll<,rrt <l,ttt tltllt,trk,ttt
l<c segala ar,rh rl.rrr s,rl.rlt satu berkasnya akan ntcttcntJlus l<r' tl,tl,trtt ,rrt.
Berl<as sinar laser yang menembus ke dalam air adalah st:l<it,tr()li'/, rl,rti
cnergi awalnya dan akan dibiaskan dengan arah menclck;rti g,rris ttotttl,tl
(garis vertikal) akibat perubahan dari densitas medium yang lcbih r('rrtitl,rrrtl
ke densitas medium yang lebih rapat.

Berkas gelombang sinar laser akan meneruskan peri.tl,ttt,ttt


perambatannya di dalam air hingga menyentuh dasar perairan dan <lillanltrll<,rtr
l<e segala arah dan salah satu berkasnya dipantulkan kembali ke ar,tlt srttlul
datangnya. Berkas sinar yang memantul ke arah sudut datangnya l<cntttrli,ttt
meneruskan perjalanan perambatannya dan menembus batas air tl,ttt ttrl,tt,r,
Karena perubahan densitas medium yang lebih rapat ke medium y,rttli L'lrtlr
renggang, berkas sinar akan dibiaskan menjauhi garis normal clan rttcr,ttttlr,rl
pada garis lintasan yang searah dengan saat pertama kali ditransrrtistk,ttt rl,rtr
diterima kembali di pesawat terbang oleh unit penerima gelontlr,tttg,

Untuk mendapatkan kedalaman pengukuran/ parametclr y,tttg lr,ttrt',


diketahui adalah sudut transmisi gelombang terhadap garis vcrlik,rl ltt,t,
tinggi terbang pesawat (h) dan indeks bias udara-air di daerah sttrvct (rt,,,)
(lihat: Cambar 4.7). Panjang lintasan sinar dari pesawat ke pt:rmttk,t,ttt ,ttt
(r") diperoleh dengan:

Soz

dengan S, =
--1

0,

(4. t)

+hz

htan0. Dari

indeks bias (n"*) diperoleh hubungan:

nttw=',, = 1in on

.t\,i

(4.

vw sin0,

))

iS"

I
I

\,"

dengan v" = kecepatan cahaya pada medium udara dan v* = l<t'tcl r,tl,ttt
cahaya pada medium air laut. Dari hubungan tersebttt rlipcrolclt:

o"\

r-"
t\

sitt

,[ ,,, .,n 0,,


]

r',,

(4.

r)

(,,rrrr/l.rr 4.2 Pengukuran kedal;rman dengan sinar lasr.r

76

t7

'y'Y--

rE-r

--:-

r --

--

r-

- r-r

rE--D

DDD

D, f, E

B EE

l)t'lt<,tl.tl w.tkltt tli 1x's.tw,tt t<'r[r,rrrg nrcngrrkrrr st'l,rrrg w,rklrr tot,rl (Al)
sejak gelombang clitransmisikan hingga diterima kcmtrali rli 1x's,rw,rt. l,,rn;.rn13
lintasan yang ditempuh sinar laser adalah r, dengan r = r,,+
maka:

f = fn l

rr.

= (r,,Lt,,+ v *Lt*)

r*.

lik,r

DDD-D>--

c-->---r-DD

>D>>G=

-D-->

l',,,,,,',,,,,,,,
-PlF

= vAt

(4.4)

l
i

(x,'t,),t. ....t.

,,

sehingga:

Lt = z(Lt,,+Lt,)

(4.s)

Jika v" telah diketahui, maka At, dapat dihitung dengan persamaan 4.5,
sehingga r. dapat pula dihitung. Jika v* telah diketahui, maka kedalaman
perairan di titik P diperoleh dengan:

d=

r cos9
D'W

@.6)

Arah transmisi gelombang sinar laser selalu dibuat tegak lurus terhadap
arah lintasan pesawat terbang. .farak horisontal pesawat ke titik p (titik yang
diukur kedalamannya)adalah sebesar5 =50+ 5_. Jarak horisontaldari titil< p
ke titik pembiasan sinar laser (5*) diperolei-l d"ngun'

Sx,w= dtan)

(4.7)

titik P ditentukan relatif terhadap posisi pesawat saat pengukuran


dilakukan (cambar 4.8), karenanya, posisi pesawat (x,,y,) dan arah lintasan
terbangnya (a) harus selalu diketahui. Posisi titik p dapat dihitung dengan:
Posisi

xr= x, + Ssin(a-180')

(4. B)

!r= !, + Scos(a-180')

@.9)

0j
t'.

/'

arah lintasan
pesawat

Cambar 4.8 Penentuan posisi relatif titik Pterhadap koordinat pesawal

dengan pembangkitan daya sebesar 1 MW. Sistem ini dapat rlip,rk,ri rrrrlrrl.
melakukan pemeruman pada rentang kedalaman 2 hingga 50 ntctct rllttg,rtr
kondisi air yang jernih dan terbuka, cakupan daerah survei y,tttlg ltt,t', rl,rtr
untuk pemetaan pada skala kecil. Daerah-daerah yang sulil rlrj,rrrgk,ttt olrlr
wahana apung dengan teknologi mekanik atau akustik dapat <lrlilrrtl olrlr
sistem ini. Air laut hampir tidak dapat ditembus oleh hampir seffiLr,r gclontlr,rt r1i
elektromagnetik. Celombang elektromagnetik pada frekuensi HF, VLI lrrrrpif i,r
cahaya akan kehilangan intensitasnya pada kedalaman kurang <l;tri l()o trt
Teknik pengukuran kedalaman dengan metode optik efelctif digunak,rtt p,ttl,r
perairan dangkal yang jernih dengan kedalaman sekitar 50 m.
Metode Akustik
Penggunaan gelombang akustik untuk pengukuran-pengukurart lr,tw,rlr
air (termasuk: pengukuran kedalaman, arus dan sedimen) merupal<irtt tt'ktrtl<
yang paling populer dalam hidrografi hingga saat ini. Celomh;rng ;rktrstik

,l00

Teknologi LADS dioperasikan menggunakan pesawat terbang sekeras


Fokker-27 seri 500 dengan kecepatan terbang sekitar r45 knot pada ketinggian
sekitar 500 meter di atas permukaan laut menggunakan sistem penonlu,rr
posisi kinematic differential CPS. Celombang yang digunakan arl,rl,rlr.,irr,rr
laser infr.r nrt'r,rh rlr-ngan p,rnjang gclonrlr;urg 512 rrm rlan 1x'rrorl,r ,r rr,,

l8

|,.

.,t1. "-)-"-

Hz akan mempertalranl<att l<r'hil,rtrg,rtr


dengan frekuensi 5 kHz atau
intensitasnya hingga kurang dari 10"/o pada keclalamatl l0 km, st'rl,ttrgl<,ttt
gelomhang akustik dengan frekuensi 500 kHz akan kchilartg,tn inlcttstl,rsny,t
parlir l<r'rl,tlaman kurang dari 100 m. Secara kltustts, lt'krrrk rrti rlipt'l,ri,rri
rlal,rrrr lrrrlro ,rl<ustil< tintrrk pengukuran kerlalitm,tn, tligutt,tl<,rtt tt lttxtttrth't
,rl,rtr pr,nlnl llr,nt,r y,ulfl lx'rl,lma kali rlikcnrllitttgk,tn rli lcrttt,rtt l,tltrrtt l().to
(l rrrlorr, ,'lll

l.') Al.rl rnr rl,rgr,rl <lip,rkiri trrrltrl< trtottglr,rsill<,rrr llrolrl kcrl,rl,tttt,ttt

y,rrrg l.nnlln!'u

\r'p.lrl.lrli

l,r1ut pcrrtnt rlong,ttt l<r'lllrlr,rtr y,tnli ( rrkrrp lr,rrk

'2'%

- -rE-D
- DE -- Drr - - -- - -. - ---D -3-I--Al,rl Pt'rtrnr g('nr.l nlcnl.l,gun.rk.rn prirrsip pt:rrgrrktrr,ur lilr,rl. rl,rrg,rrr
memanfailtkan gelombang akustik yang dipancarkan tl.rrr rr,rrrrlusur
(cambar 4.9). Transduser adalah bagian dari alat perum gema yang me.gubah
energi listrik menjadi mekanik (untuk membangkitkan gelombang suara)
dan sebaliknya. celombang akustik tersebut merambat pada medium air
-dengan cepat rambat yang relatif diketahui atau dapat diprediksi- hingga
menyentuh dasar perairan dan dipantulkan kembali ke transduser

ffi;;;;;;;;

";,;;;,il;;;;,",

;;,

(t'< ltr4;t,rtrl). ( i,rtis g,lrrs vttltl.,rl


1x'ngul<rrr,rrr kr.rl,rl,rnr,rrr p,rrl,r kr,rl,r\ l)('r'rrttl
nrpprrpjtrl<l<,tn s,r,rl ,,,r.rl grr,rrr.rrltt,rn posisi tlil,rl<trk,rrt rl,rtr tliscllrtl sclr,tli,tt

g,tris-garis fiks (/ix rrr,tr(). l',rtla garis-garis fiks tcr:;cllttt, w;ll<ltt 1x'rt'l<,tttt,ttr

rlata juga harus dit atat untuk sinkronisasi dengan korcksi 1l,rsttl. l'rolil
l<eclalaman yang dicontohkan pada Cambar 4.10 sangal cur;lm, st'ltitrgg,r
setiap potongan profil harus dibaca menurut skala pengukuran yang Jrt'rlrt'tl,t.

Gambar 4.9 pengukuran kedalaman secara akustik

Perum gema menghitung selang waktu sejak gelombang dipancarkan


dan diterima kembali (At), 5sh;r*ga jarak dasar perairan relatif terhadap
transduser adalah:

d,,2
=lvvt
dengan

Cambar 4./0 Rekaman pengukuran kedalaman pada kertas perum

(4.10)

4 = kedalaman hasil ukuran dan v = kecepatan gelombang akustik


pada medium air. Hasil pengukuran kedalaman akan direkam sel<aligus
ditampilkan pada suatu gulungan kertas (rol/ paper) yang disebut sebagai
echogram (kertas perum) atau direkam dan ditampilkan secara digital. pada
kertas perum akan terlukis profil kedalaman perairan sepanjang jalur survei
kapal (lajur perum). Jika pada titik-titik terrentu ditandai saat (waktu)
pengukurannya dan pengukuran untuk penentuan posisi dilakukan s(.(.ara
kontinyu dengan saat yang tercatat, maka hasil pencatatan wakttr rcr.,r.lrrrr
rlapat digLrnakan tttttuk mcrc.konslrrrksi ;tosisi kapal sa,tt 11r,l,rl,rr[,rrr
80

B.

AKUSTIK BAWAH AIR UNTUK PEMERUMAN

oleh'

lr. lrdam Adil. l,{.7.

Cepat rambat gelombang akustik pada suatu meclium lrt'rgattlttttg P,trl,t


massa jcnis medium yang dilaluinya dan dinyatakan rlcttl3,ttr htttrttttg,ttr
(Lrtrtott,2()O2):

lr

', V,,

(.1

ll)
,t1

'Y'Y*r

f,a-

- - - * - r j

3--

-EDEr
--r--:r
-- -==3l
tlt'ng.tn v = 11rl)irl r,lntl),rl gclorrtll,rng.tktrslik, K = nt(xlulu., r,l,r.,lr,,rl,r., llrritl,r
dan r = densitas fluida. Modulus fluida menyatakan kompn'silrrlit,rs, yaitu
rasio perubahan tekanan terhadap perubahan volume. Pada medium yang
lebih padat, misalnya: air dan udara, untuk mengubah volume suatu zat
diperlukan perubahan tekanan yang lebih besar. Karenanya, gelombang
akustik merambat lebih cepat di air (sekitar 1450 hingga 1500 m/s) daripada
di udara (sekitar 300 m/s), sebab air lebih tidak compressible dibanding
udara.

a. Sifat Gelombang Akustik


Kompresibilitas medium merupakan fungsi dari densitasnya, sehingga
cepat rambat gelombang akustik pun merupakan fungsi densitas. Densitas
air (laut) dipengaruhi oleh terutama suhu, salinitas dan tekanan hidrostatik
(kedalaman perairan). Pada suhu air laut 20'C, densitasnya adalah sekitar
1023.4 kg/m:t dan modulus elastisitasnya 2.28x10e N/m2, sehingga cepat
rambat Belombang akustik adalah 1492.6 mls atau hampir 1 500 m/s. Akurasi
pengukuran jarak akustik akan dipengaruhi oleh estimasi cepat rambat
gelombang akustik. Untuk mengestimasi cepat rambat gelombang aksutik,
beberapa formula empirik dapat digunakan, yan6 salah satunya adalah

(Medwin, 1975\:
v
dengan

1449.2 + 4.67

- 0.05572 + 0.00029T

(t.34- 0.017)(s-

35) + 0.0r6d

+
(4.12)

f = temperatur dalam "C, 5 = salinitas dalam psu dan d = kedalaman

dalam m. Formula di atas berlaku untuk kedalaman hingga.l000 m.


Celombang akustik merambat pada suatu medium dengan memindahkan
energinya melalui partikel-partikel medium rambatnya. lntensitas gelombang
akustik adalah besarnya energi yang mengalir pada selang waktu tertentu

melalui satu satuan luas medium rambatnya:

-!

]lD-----DP--

tt.

ror,,lt

//

',,',,,1

;,,

--

-*

EE-_--

i3-D--

:or,'u[

,,r' ,,,,,',,,,

" ->F;

(.r r'r)

rr'[t'r0ttst;
t.lcngan /L = tingkat irrtensitas akustik dan /, = intensilas.tkttstil<
yonipud, medir.rm udara dipakai ambang terbawah kemamptt,ttt 1x'trrlt'trg'tt'Itt
1 kHz' Dalilnl ,tl<ttstil<
manusia yaitu 1xl0-12 Watt dengan frekuensi rata-rata

arlalah l ptl"r
bawah air, tekanan akustik referensi (P,) yang digunakan
(mikro Paskal; 1 PPa = 1 N2/m).
Kehilattg'rrt
lntensitas akustik akan berkurang sejak dibangkitkan.
jarak terhadap sumber gelomb'tttg
intensitas akustik tersebut sebanding dengan

(sebaran geometrik). sil,rt


yang disebut sebagai geometrica! spreading
Semakill i'rrrlr
dibangkitkan, gelombang akan menyebar ke semua arah'
ltt'tc
jarak perambatan gelombang dari titik pembangkitnya akan semakitt
pLrl,t
lritl'rrr;i
luas
tidung medium rambat yang dilaluinya sehingga semakin
konst,trr, ttt,tl''r
medium rambat gelombang. Karena energi pembangkitnya
intensitas akustik pun akan semakin kecil'
mengalami 1x'lt'rtr,rlr'rrr
Selain sebaratl geometrik, gelombang akustik akan

(attenuation) yang disebabkan oleh penyerapan energi untuk rt'l.tkr'tr|t


oleh variasi tt:k'rtt'ttt
molekul-molekul pada meclium rambat yang diakibatkan
Laju pelcrn'rlr'rrr
karena perambatan gelombang akustik (Lurton' 2OO2)'
gelombang aktrslrk
clipengaruhi oleh sifal medium rambat dan frekuensi
sebag'ri rr
yang melaluinya. Laju pelemahan intensitas akustik disimbolkan
merupakan f'rklor
dan'dinyatakan dalam dB/m. Frekuensi gelombang akustik
pelemahan akustik'
yrng priing berpengaruh pada dan sebanding dengan laju
dipakai
karena itu, instrumen akustik berfrekuensi tinggi hanya dapat

Oleh
padaperairandangkalkarenatingginyaintensitaspelemahanaktrstil<.
digunakan r"rnlttk
sebaliknya, instrumen akustik berfrekuensi rendah banyak
aplikasi laut dalam.

b. Alat Perum Gema

t=LA

(4.13)

dengan I = intensitas akustik, P = daya dan A = luas bidang medium


rambat. lntensitas akustik dinyatakan dalam WatVm2 clan merupakan krrarlr.,rt
dari tekanan (p dalam N/m')). lntensitas akustik mempunyai rr.nt,rrrli y,rn1i
sangat lclrar, sehingl3;t trnttrk ntonyatal<;tnnya, rligunakan sk,rl,r lo;i,lrtrrrrl'
rk,r'r13.rrr siltu,rn k.siIr<'l (r|[])
<

Alat perum gema bekerja pada kisaran frckucnsi .rllt,lr,l l2 lrirlgg'r


'l0a hingga 10ts. Ct'lontlr'ttrg
'tl<ttslik
700 kl lz rlirn gelombang sekitar
lrrrlik'rl
l5
lrirlgg'r
5
arll.lril
panCarall
sttdut
rlcrtg,tn
rlilr,rrrliliill.,rrr

lx.ra<la p;r<la rct'ttitt.tg ittlcttsit,ts,lllt,ll',1 /()() lrirrlili'r


lx.rrrlr,rrrlil.rt,rrr 11,hrnrlr,rrr1i
I lo rlll 1r,ilr,,, 1il,.,'r ilr,,rilP,rl<,ilr ll,rgi,rll 1lt'tltitlg rl,lti sclltl,tlt ,tl,tl 1r|tttttt
y'ttl;i lru"ll'rl
y,1fll rlrlrrr,rl ,l,rrr l,,rlr,l1 y,rltll lrltsif,tl ltit'trt t'fit lrir ll,rlr'rtr
fl(,ptrr

,\:* /&ral
3 t

E r,l

n E G-

=&G

GE-

-.Lt

E G___D

D _ _t E _ !_

rL'ttttl<i'rtr,rl<,rtr l)('r'B('l,lr
Ik,r <likclr.ri listril< tl,rrr st'lr,rlikrry,r, rrr.rrrlr,rrrril.rll<,rrr
I

istril<

l<r:t

il<,r rligct.trl<,rn.

Pada alat perum gema, ristrir< dibangkitkan dengan


sebuah catu daya

melalui sebr-rah switching unit dan dialirkan ke transduser,


kemudian
dikonversi menjadi pursa gerombang suara. pursa gerombang
suara yang
dipantulkan oleh dasar laut diterima kembali oleh
trinsduser pienerima dan
dikonversi kembali menjadi energi ristrik yang diperkuat
oreh sebuah
amplifying unlr. Energi listrik hasil penguatan tersebut
direkam pada sebuah
unit secara mekanik (dengan kertas perum gema atau
echogram), secara

elektronik-analog (pada pita magnetik)atau secara digital (pada


unit penyimpan

eksternal; untuk keperluan ini, biasanya arat perum gema


dihubungkan
dengan sebuah komputer).

cambar 4.1 1 memperrihatkan bagian-bagian utama sebuah


arat perum
gema. selain mengalirkan listrik ke transduser,
catu daya juga menggerakkan
motor, sabuk stilus (dengan pena stilus yang terpasang pada
sabuk) dan

nn,$lar saklar
skala transmisi

;-;;;,

;;;l;;,;;",,,;;-,;;;;, ; ;;:; ;;,:

lcr.s,rntllrrrrg rk,rr;q,rrr pl,rt pr.rrlirrnrp,rrr rl.rn tttcttg,tlttk,rn lislrrk l.r' lt,tttrltt,,r,t

lx.mitncr(lr A. l',rrl,r \,l,ll y,ulB s,rnr,l, l)('n,l stiltrs jtrg,r tt'r,rliri lrslril. rl,rrr
mcnggoreskan joi,rk gcnr,r rli posisi A pada kertas [x]runr. S,r,rl l<r'<ltttlrtl<,rtr
saklar transmisi di posisi t3, saklar terpisah deng,an pl.tt pt'ngutttp,ttt tl,tn
aliran listrik ke transduser pemancar A terhenti . Transclr-rst'r llcrrt'ritr,r /i
yang dibangkitkan oleh gelombang pantul dari dasar laut yang clikottvcrsi
dan diperkuat akan mengaktifkan pena stilus untuk menggoresk,rrr jci,rk
gema di posisi B pada kertas perum.
Bentuk gelombang yang dibangkitkan melalui transduser sebuah Jx'runl
gema akan berbentuk seperti pancaran yang menghasilkan jejak (fo<ttpritrtit
berbentuk lingkaran pada dasar perairan. Jari-jari lingkaran yang, rlilretrlttk
sebanding dengan kedalaman yang diukur. Sudut pancaran gelomharrg rlarr
transduser membentuk lebar pancaran B sehingga pada profil dasar Jrt'r,tit,ttt
dengan kemiringan y akan terjadi kesalahan pengukuran o,;tkilr,tl rl,ttt
pantulan gelombang yang berasal dari pancaran parla sisi lrt,rr
(Cambar 4.12).

+
l
I

--i-.--

lo.

Pe*a

Iti

sti,u$

",

-..L-."..''1'

".1,,
,...',1
,V,:=

ii
I

VV(r{i

l
I

Y"
kerlas
n6nrM
Psl uil

Cambar 4.12 Kesalahan pengukuran akibat lebar pancaran gelombang

plat

sabuk

plat

pemburni

stilus

pengumpan

transduser tra*sduser
pemancar penerima

(,artrlt.rr 4. / / Ilaglrn-bagi.rn ulama.rlal


perum gema (dimodifikasi rl.rri
KtlK Kr.larrlan, .l ()ll())
84

Akibat pengaruh lebar pancaran gelombang terselrut, rr.l<;lnr,lrr krll,tl,tttt,rtr


yangrlirrkrrrok'lr 1x.rum gcma pada puncak-puncak tl,tri pcrltrrl,r,rtr kcrl,rl,tttr,ttt
yatrg r,krlr('nr,rk,rtr tttctttllt'ntuk kr,rrva-krt rv,l s('l('nll,tlr lttrgl<,tt,rtt,

(l,uttlr,rt
<hrg,r,rtr

,l I I tttr.tttpr.rlrlr,rlL,rrr

prrltl rl.r.',rr 1r'r,rr,rrr

rck,rrtt,ttt kcrl,rl,rrn,rrr p,rrl,r kr.rl,rs pr.trttn rl,rn


prrlrr., prrlrrr) y,rtrlg lksltcrtt.

(1,i,rrr,,

,\,t* /tur$,

>---D----Blfr___l___

-D---.---*>>_-D>]D__

D'D

D =-

Ialx.l

4.

>ts

FDFD>>>>Gf,

I Srrnrlx.r lrr.rl,rlr.rrr

D'D

> -

*'-:I']'

-';

;x.rrgrrkrrr.rn kctl.rl.rtrtatr tlt'ttg.ttt p('rtrttr H('itt.t

(KllK l(r.larrl.rrr)
-SU,3ER

I'rrlrm

genu

KrsAL\lrAN
Ilrrgrw'l,rr I rrls.t,rw,rl

KCI\DISI
lxrlt sliltts ttrlxl,rl rrtl<,,rtt
arus listrik chri gr:l<nllrttg lrttx,tr lit l tl<
Gxesan saat

berada pada skrla 0


Keterbatasan le*xr l<crtas pnrnt
rrengaki batkan keterbatasat rLnl,

Fase perrgukuran

u u.l

pengukuran keclalanan
Azbkani

snp

kerj a

je.jak genu

perekanan Kelelahan bahan dan korqxn:n m'k,rrtil<


pada alat atau kdidakpresisi.ur
perrasangan konporrn-kr)rr[x nx Ir

rrekanik alat

cambar

4./3

Rekaman profir kedaraman pada perubahan kedaraman


perairan yang ekstrem

Kestabi lan transnisi energi

Kdidaktabilan tegangan cattr

listrik

alat perum gen atau pada rtttgk,ri,rtr


listrik pada alat

Lry,t

l<r'

Kedudukan Kedudukanrzertikal

Tranduser diletakkan di htw,tlt lunrs

transduser

kapal

tranduser terhadap
perm.rkaan laut

Ketelitian pendeteksian perubahan kedaraman pada


arat perum gema
juga dipengaruhi oleh panjang pursa, yaitu jarak
antar pembangkitan
gelombang. Jika perubahan kedaraman rebih kecir
dari setengah panjang
pulsa, maka perubahan tersebut tidak akan terdeteksi
oleh perum gema.
Perum gema hanya dapat mendeteksi perubahan
kedaraman yang rebih

Penisahan transduser

peffarrar dengan tranduser transduser penerina

pErerira
Wahana

Kedudukan kapal yang cerxk'rttttg

Sett/erBnt

tenggelam saat berlalan

aBrnS

Kedudukan buritan kapal yang trrx k t


lebih tenggelam di bandi ng haluanrty,r

Squat

besar dari setengah panjang pursanya. Lebar pancaran


gerombang dan panjang

pulsa merupakan keterbatasan alat perum gema yang


berasal dari desain
dan kemampuan teknologi pemeruman hingga ,rrt ini,
sehingga pada
umumnya ketelitian pengukuran kedalaman dengan teknik
akustik ini berkisar
pada angka i dm. Jika profil kedalaman yang
rinci diperlukan, maka harus
dilakukan interpretasi terhadap hasil perekaman data pada
kertas perum.

oleh jurumrdi

Sifat

Variasi cepat rantat

Perubahan kerapatan nrcli r-rm air littrl

gdonbang

gelontrang

karena perbdaan suhu, tekatr.rn rl.ttt


salinitas

akustik
lapangan

Celorrbang pantul yang


bukan dari dasar laut

Kerurunan ikan di lxrwalt trattvlttv'r,


pertrdaan n-rxliLrm ranllrl y,tttg rlr,tslts
karena polut:tn clan x*lt1.i ritty,r, .rlir,rtt ,rir

tauar di bar,rah g'rmrl<ilttt ;tit l,tttl,

runT{l.q!,ufll!,illjlll_

4.1 . Kesalahan-kesalahan

tersebut dapat terjadi sendiri-sendiri atau bersamaan.


Hampir semua strnrlr.r
kesalahan yang ditunjukkan tersebirt merupakan
kesalahan sistemati k, sr,l
ri

i.l,;rir,,,l,l

lr@kr"rir

llrr Irr rg

r.ftrrlr'.t

l',t..td

l,trI

l,rt rt y,,r4i

mrry*rilrku'r

rgg,r

clapat rJiclesain.ara mengatasinya untuk mendapatkan


h;rsil pr,rrllrrkrrr,rrr

tt6

t11

uahana Kermnpuan pengendalian wal'ntrt .rllrrtg

apung

sumber-sumber kesalahan dalam operasi pengukuran


kedalaman dengan
alat perum gema di lapangan ditunjukkan oleh Tabel

y,rrrg lrt'n,rr.

t tt

saat berlalan
Laju dan arah gerak

Kondisi

c. Sumber Kesalahan dan Kalibrasi

Transcluser perrnncar tevlis.rlr t I t 11i rt r

1x't't

tlulltn

kr r lt r h tl" rt t

.lxrnuka,ttt itit'

lirtilltlrttt

rtt

l.

rt

tl

l<rhrhrl.,ur vrrlrk,rl

l\, tt('t

lrllllll\,l,ll

t,t, tlt, tl\',t I I r x l, r I r r x l, t

l, rt

rlitt

-Y!

--

- - D F..- -l-.r

D----D--DD--DDDF-

- -

(..tr.r y,rng t,lcl<lil rrnttrk rncrrj.rg,r ketclitian p(-rm(.rum.ur ,rrl,rl.rlr rlt.ngarr


melakukan kalibrasi mcnggunakan cakra lera(bar check). K.rlihr,rsr rnr s,ur13.rt

l'r1"tl l"'r11t'r'rl'
"'l'rl
(})I).lsrtl,tlr.tt1,,,,rtt[.rr,.l...rlrrr1i1irtrrttk.r.rirl.tttlst.s.t.tl(.,tlttttt/tttIir/.tlttttl)
lr.rlt.ttl,rlltitrgg,tllrtl.rrrgtt.lt.t.t'ttsivt'rtil<.rl(MSl..rl.rtrrlr.trlr/.rlrtttt)
[)'lstll'
yang tlrpcroklll tl'rri 1x'trgolaltan data 1lt:t113'ltll'll'll'l
<lt,tnt rl'rn

membantu untuk mendapatkan ukuran kedalaman yang benar akih.rt lxrbcrapa


sumber kesalahan sekaligus. Bar check terbuat dari lempeng logam berbentuk
lingkaran atau segi empat yang digantungkan pada tali atau rantai berskala
dan diletakkan di bawah transduser. Tali atau rantai berskala dipakai sebagai
pembanding hasil pengukuran dengan alat perum gema. Pembandingan
pengukuran kedalaman dilakukan untuk setiap perubahan kedalaman, mulai
dari kedalaman 0 hingga kedalaman maksimum yang akan diperum dengan
interval 1 m. Kalibrasi dengan bar check dilakukan setelah pengesetan
pulsa awal nol dilakukan (goresan saat pena stilus mendapatkan arus listrik

lrl:l'l'

j, J,l
: - - - ;I ] = -G-G >;= = > j J, 7 - -' - -

,m-t

1'

o6PTl{ hl

t{Till3

FAYTHI0N C0. I'{ANCHESTER,

}tH.

dari gelombang pancar ditepatkan pada skala 0) dan dimulai dari kedalaman
tali skala bar check 1 meter. Setelah itu, kedudukan bar check diturunkan

dengan selang satu meter hingga kedalaman maksimum daerah yang akan
diperum. Selanjutnya, dari kedalaman maksimum, tali bar check ditarik
dengan selang 1 meter hingga kembali pada kedudukan 1 meter.
Berdasarkan mekanisme kalibrasi itu, akan didapatkan jejak seperti
tangga pada kertas perum (Cambar 4.14). Anak-anak tangga yang

menunjukkan pengukuran kedalaman dengan bar check kemudian


dibandingkan dengan skala bacaan kertas perum, sehingga didapatkan tabel
kalibrasi pemeruman. Tabel kalibrasi tersebut dipakai untuk memberi koreksi
pada hasil pengukuran kedalaman.

Kalibrasi dengan bar check harus dilakukan langsung sebelum dan


setelah pemeruman dilakukan pada satu sesi atau satu hari pemeruman.
Sebelum pemeruman dilakukan, dipilih suatu kawasan air yang relatif tenang

,tr
,ll

,lt.

dan dalam dengan kapal yang berhenti untuk kalibrasi awal.


Pemilihan lokasi bar check pada air tenang dilakukan agar lempeng logam
tidak melayang karena arus, sehingga tetap berada di bawah transduser.
Kedalaman tempat kalibrasi juga penting untuk memperoleh kedalaman
kalibrasi yang maksimum. Data ukuran kedalaman yang telah dikoreksi
dengan kalibrasi menggunaka n bar check dapat dianggap terbebas dari sumber
kesalahan karena sifat perambatan gelombang pada medium air laut. Selain
kalibrasi dengan bar check, data hasil pengukuran kedalaman harus diberi
koreksi-koreksi karena kesalahan akibat:

(1)
(2)

tili

Sarat transduser, dengan mengukur kedudukan (jarak vertikal)


permukaan transduser terhadap bidang permukaan laut.
.Sett/emt.ntdan.squal (yika rlianggalt lrcrarti), deng,an mcmlr.rrrrlirr;ik,rrr
kcrlrrrltrk,rn vertikal lr;tnsrltrsr.r tr.rlt,rrl.rp ;lt.rmtrk,ul oir r.t.rl k,rp,rl

dengan bar check


Cambar 4.14 Kalibrasi perum gema

d. Pemeriksaan Data Pemeruman


Lajur-lajurUtamapemerumanperludiperiksadenganmcnyt'lr'tlgg.tt..tl<.ttr
l,tirt
yaitu lajur perum yang, mcmot.rrg s.rnrr,r
laf ur silang (.ror, ,orlJing)
pada aralt TitrtLrr-[]'tr'tl p'rtl't
utama. Laiur-laiur perum yang meman;ang
tttttttl< rtt(|ttt0t iks't
4l.r,rrl.rl;rh laiLrr-lafur silang yang digtrn:tkatt

cirnrh,rr

rlil;rl<ttkittt r1'tt11'ttr lt.tt'tt '


h,rsil gx,rrgtrkrrr,*r l,ritrr l.ritrr trtama. lika llcngLrktrr;lrt
rlttl'rP'rlk'rtr

lrlrl trtrl. 1u,t,,,,1i l,ritrr ttt;tnlil <l<'ttg,ltr l,ritrr sil'rrr11 'tl<'rtr


h.trtlSrr.trgtll,ttt,rtt!,.rl,rl.rttt.ttty.lllll\.llll.l.lt.liIlIl('Itl('trttlliltllr.t.rtl.'r

m,rL,r P.rrl,r

.f.4,
r--

lrtW
-D-

D--D--

-D--*-

- - E----r

rD-D-

>-

- - i D -

Itl[ornt'tsi l('rIl,llll-]

ltllt'rittlsi kt'tt'liti.rrr lx.ngukrrr.ln krrl,rl,rrrr,rrr rl,r,,rt rlrlilr,rl


pada Lampiran D. .f ika selisih kecraraman
yang dipc,roleh p,rrr,r
lx,rrx)rorgir.
lajur utama dengan lajur sirang merebihi toreransi,
.ukr'p"ng.-rkrrr.rn pacJa
lajur utama yang bersangkutan harus diulang.

;;;;;;;,,

;,,:;,;;;

;;:,

cl<slrt'ttt tcl,tltl llrlt,rrl,t1,1,,'rl,rl,rttt,ttt l)r'l,lll,lll

C. DETIL SITUASI DAN

.;;;,";;;;,
";;;,.,
scl<tl,lttly,t

GARIS PANTAI

Detil situasi yang dimaksud disini adalah ulrsur-unstrl' y.rrtll lcrrl,rp,rl


rli sepanjang pantai, yang seringkali ikut tergambarl<an patla 1rcl,t-pt'l,r l,rrrl,
Untuk keperluan pelayaran, detil situasi dibutuhkan olclt 1rt'l,ttrl rttrltrk
melakukan navigasi secara visual. Artinya, detil tersebut dibtrttrhl<,rtt ok'lt
pelaut untuk membantunya dalam penentuan posisi kapal. Su(:ar.l rlrlllllll,
detil situasi yang terdapat di sepanjang pantai, dapat berupa ulrsrrr-tllr\trr
alam (misalnya: pohon kelapa, bakau, karang, tebing dan l.tin-l,titt) ,tl,trt
buatan manusia (pelabuhan, mercusuar, menara, bangunan darr l,rirl l,rirr).
Seberapa jauh detil yang harus diukur untuk keperluan pembual.rrr pt'l,r l,rrrl
sangat tergantung dari tujuan pembuatan peta lautnya. Yang jcl,ts, ',r'trt,rl.rrr
besar skala peta yang akan dibuat, akan semakin rapat ck'til silrr,r',r y,rrr11
harus diul<ur.
Gambar

4./5 Lajur_lajur perum utama (Utara_Selatan) dan


lajur-lajur perum silang (Timur_Barat)

Pengukuran kedalaman pada rajur perum


utama akan menghasirkan
potongan atau profil yang kontinu, sementara
data kedaraman yang berada
di antara dua lajur perum dianggap mengikuti kedaraman yang
diperum
dengan teknik interpolasi data. pada kenyataannya
di rapangan, mungkin
saja terjadi suatu kondisi kedaraman yang
berbeda jauh deng;'n kedaraman
pengukuran pada lajur perum, misalnya
tonjolan karang,lirng pun.rng
dalam air dan sebagainya. Untuk itu, dirakukanrah
teknik- sweeping, yaitu
suatu cara merapatkan pengambiran data yang
berada di antara dua rajur
perum' Sweeping dapat dirakukan secara
mekanik, dengan batang baja
yang digantungkan pada dua sekoci perum yang
mengikuti .iejak rajur perum
utama. sweeping dapat pura dirakukan dengan
metode akustik, yaitu dengan
alat side scan sonar yang bekerja menggunakan gerombang
akustik untuk
mendapatkan citra dasar perairan. lnterpretasi
terhadap citra dilakukan dalam
mengidentifikasi anomali kedalaman yang tidak terdeteksi
dengan pemeruman

biasa. Pemeriksaan ini disebut deteksi anomali


kedalaman yungirr,,, clil;rkrrk,r,
l-rila survci ditujLrkan'uni,,t

di antara lalur-laiur perum ttlama

90

l)(,r(,n(,rr(r,r)

a. Garis Pantai
Caris pantai merupakan garis pertemuan antara pantai (rl;tt,rl,rtr) rl,ttt,ttt
(lautan). Walaupun secara periodik permukaan air laut sclaltr lrctttlr,tlr,
suatu tinggi muka air tertentu yang tetap harus dipilih untuk ntt'rrit'l,rsl.,rtr
posisi garis pantai. Pada peta laut biasanya digunakan garis ,tir li1g11r
(high water /ine) sebagai garis pantai (Cambar 4.16). Sedangl<.ttr ttttltrl.
acuan kedalaman biasanya digunakan garis air rendah (low watt'r lirx').

Walaupun secara teoritis, garis pantai diambil dari kedudukatt g,rri.' ,rtt
tinggi, pada kenyataannya, penentuan Saris pantai di lapang,ttt ,tk,rtt
menghadapi berbagai kendala dalam penentuan titik represcrtl,rlil y,rrtg
mewakili batas antar daratan dan perairan pada pantai-ll.ttrt,li tk'ttg,rtt
karakteristik seperti : pantai lumpur, pantai pasir, patrlai ll,tttt/lr,tltt l<t'tsil./
batu besar, pantai karang/karang terjal, pantai ctLlritm, p,tttl,ri pr'poltott,ttt,
pantai rerumputan atau pantai buatan. Penenluan garis llant,ri rli l,rp,rtrli,rtl
dap;rl rlil;rl<ukan dengan ketentuan sebagai beriktrt:

(,r)

tlntul< rl,rr.r',rh lxrntai yang landai (bt:rp;rsir), g,tris p,tnt,ri <lilcttlrtl<,rtl


rlr,rrli,rrr rrrr,lilr,rl jr'j,rl< alatr bckas gr'rt,tttgrur s,r,rl ,tit p,rs,rttg lt'tlttr1i11t.

(lrl

Ilrrtrrl lr,rrrt,rr I'r,rlrrrngrtrr', g,rris p,rnl,ri tliw,rkilrolclt ti,tti" Plllltttll,ttl


,urt,r,r rl,rr,rl.rrr lt,rrr,rlr l<,r'r,rs) rlcrrli,lt l,tttl,ttt. ( i,ttts ;t,tttl,tt tl,rl,rlrl lr,rl
(,l

'y'Y

D- -I-Dr-

---r

D-D

--

r,

Dr DDD>

F;.'

EDr D]

ilr

(liw.rl(ili ok'lr g,rris.rir lirr1.i1.;i, lrcrup,r jr,j.rl< lx,nnul\,r,rlr ,rrr l,rrrl


yang paling tinggi yang dapat tcr;adi parJa dar.rr.rn.

(c)
(d)

Untuk daerah pantai yang bertebing terjal, garis pantainy.r arlalah


bibir tebing tersebut.
Untuk daerah rawa dan tumbuhan semak, garis pantainya adalah
batas tumbuhan terluar ke arah laut.

(e) Untuk

pantai buatan, garis pantainya diwakili oleh garis batas


terluar suatu bangunan permanen buatan manusia yang terletak
di pinggir pantai.

;;;;;;;;;;;;;;" ;;;;I ;

llrtmi y.trrg tirl.rk tr,rgr,rr,rrrg) rl,rrr l,rrrl,rrt (1x'rntttk.t,ttt ltttlttt y,tttli lt'ltl('ll,tllH)
Pacla dasarny,r, lx,rrgrrLrrr,rrr rk.til situirsi rlrtn garis Jl.tnt,ti ittg,t rrtct up.tk.ttr
kegiatan pencntu,ul posisi titik-titik detil sepanjang toptlgrafi 1r,rni,ti tl,rtt
titik-titik yang terletak pada garis pantai. Dengan dc'mikian, mitka tt'kttik
CPS dapat diterapkan untuk keperluan pengukuran detil sitt-t1si tl,ltt g,trir
pantai (Cambar 4.17).

titik referensi
l!r\

1_l

garis pantai

a) Cara teresffis

r$i&
Cambar 4.16 Garis pantai dari garis air tinggi

sebelum kegiatan pengukuran garis pantai dilakukan, sebaiknya terlebih


dahulu harus dilakukan survei pendahuluan untuk mengenal karakteristik
pantai yang akan ditemui. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memeriksa
peta-peta lama yang tersedia. Kegiatan ini dapat dianggap sebagai bagian

dari kegiatan perencanaan sebelum survei lapangan dilaksanakan.


Berdasarkan informasi awal ini, dapat ditentukan metode dan peralatan apa
yang akan digunakan untuk penentuan garis pantai.

b.

Pengukuran Detil Situasi dan Garis Pantai

Pengukuran detil situasi dimaksudkan untuk mengumpulkan data detil


pada permukaan bumi (unsur alam maupun buatan manusia) yang diperlukan
bagi pelaksanaan pemetaan situasi yang bertujuan memberikan gamlraran
situasi secara lengkap pada suatu daerah di sepanjang parrrai rlcrrli,rrr sl<,rl,r

16'-

satelit
,*..

gafis pantai

receiver

u*s-riii

,d,

.-

recewer
..s-tetaP

1i

ilr

'\\'\\

l/ll\\

liit\

b) Menggunakan CPS

Ctmbar 4.17 Pengukuran detilsituasidan garis panlai

tert('ntu rrntuk llorbag,ri kcllcrlu;rn. Sr.rlarrgkan pcngukrrr,rrr ll,ur,, l),u)t,u


92

9t

Y'Y

---i - D--

- ] --

- D-----]*---

- DID

-, D -

lt'tlgttkttr,ttt l.l,lris l)(lltl,li tl,tp.tl lrula dil,rkuk.rrr ntcnggrrrr,rl.,rrr r ,rr,r 1//spl


atau polar (tacimetri). Untuk keperluan ini, diperlukan scdikitrry,r s(fl),rs,utg,
titik kontrol (kerangka dasar) sebagai referensi posisi. Keraparan titik detil
pantai tergantung dari skala peta yang akan dibuat, serta bentuk geometris
garis pantai. semakin besar skala peta, semakin rapattitik ddiil pantai yang

harus diukur. Demikian juga, kerumitan bentuk garis pantai akan


memperbanyak titik detil yang harus diukur. Ketelitian detil situasi dan garis
pantai yang disyaratkan umumnya adalah 1 mm pada skala peta. Sebagai
contoh, untuk peta dengan skala I :5000, maka ketelitian yang disyaratkan
adalah 1 mm x 5000 = 5 m. Jika dikaitkan dengan ketelitian yang dapar
dicapai oleh cPS, maka penentuan posisinya harus dilakukan secara

-D D ! - - -D e- - - > - -'i I',1'!"J'


n('ll,lt,t n('ll,tl,t ,utlJ,llnl,lny,r ll l( ) lll,rll tttlttcl,t;)l\,lll lll,llll ,r',Ill. l',rtlo|lt,rlt
>>=-->-

1lt't,t l,tttt, y,tiltt. rl,tlttttt vr,ttr[,r], rl.rlttttt llottsottl,tl,',t',lctll l]l()y('l\',1,',1',1('lll

s,rtuan, kt'tt'liti,rrr (sl.,rl,r),',rrttlr,rl tl,ttt w,trlt,t (Iirllcl 4.l).

Tabel 4.3 Aspek kartografi peta laul


ASPEK

Datum vertikal

Datum horisontal

diferensial dan cukup menggunakan data pseudo range (yangdapat mencapai


ketelitian t hingga 5 m). Sedangkan jika menggunakan ntetode Rea/ flme
Kinematic (RTK)flsng2n menggunakan data fase, ketelitian yang dapat dicapai

t hingga 5 cm. Tabel 4.2 memperlihatkan syarat pengambilan detil


situasi dan garis pantai untuk beberapa orde ketelitian survei.
adalah

Sistem proyeksi

Tabel4.2 Standar ketelitian detil situasi dan garis pantai

SURVEI ORDE
SPESIAT

Alat bantu navigasi


tetap dan detil
enting basi navieasi
Caris oantai alami
Posisi alat bantu
navrSasr

2m
10 m
10 m

apung _

SURVE!

ORDE

2m

SURVEI

ORDE 2 dan 3

Sistem satuan

Ketelitian

5m

20m
10 m

20m

Detil topograii

Simbol dan warna

D. BEBERAPA KETENTUAN
PETA LAUT

TENTANG KARTOGRAFI

lHo telah mempublikasikan ketentuan pokok mengenai pemilihan dan


penggunaan simbol dan warna yang diterbitkan dengan nama
Peta Laut Nomor 1: simbol-simbol dan singkatan peta Laut (Chart
Number l: Nautical Chart Simbols and Abbreviations). Publikasi tcrsr.lrut
berisi legenda untuk peng,lLrnan siml^rol (termasuk warna) rla, sirrgl<,rr,r,
llagi 1lr'l,l-1x'l.t l,tttl y;ttt13 tlitorllilk.tn ll l() ,rl,rtr k,rrrlor-k,rnlor hirlrogr,rlr rr,r,,rorr,rl
94

KETENTUAN
Lokal dengan chart datum, disebr-ttl<;rrr
kedudukan muka surutannya terhaclal> tlttrltrk
tengah
Titik kontrol horisontal pada elipsoicla
referensi WGS '84 dalam sistem gratiktrl
(jaring garis proyeksi lintang dan l^ruiur) p,rrl,r
interval 1O-20 cm di peta dengan grarlrt,rtttttt
frame (skala pembagi gratikul) di tt.pi-tr'pr
batas muka petanya
Mercator untuk 75'LU-75'LS
Polar Stereografis untuk 75o-90"1[.] rl,rrr
750-9001S
Metrik, dalam meter atau mil laut
2 1:10.000 untuk bandar, pelabulr:ttr, ,rlrtr
pelayaran dan perairan wajib panclu
2 1 :20.000 untuk alur pendekat pel.tItttlt,rtr
dan perairan lain yang digunakan ter,tlttr
untuk pelayaran
> 1 :50.000 untuk daerah pantai sampai
kedalaman rata-rata sekurang-kurangny;t l0tlt
1:50.000-1 :100.000 untuk daerah cleng,ttt
kedalaman antara E@_
Peta konvensional: mengikuti Peta Laut No. I
Peta disital: mengikuti SP-52 IHO tetrt,rtll-i
Aspek Kartografi ECDIS dan SP-.57 lH()
tqnlang Standar Pertuk
!lL-

lika data peta laut disajikan dalam wuiud digital mitl<,t rl,rl,r lorsclrttl
|r,rrtrs rf isirrrp,trr rl;rlam format dxf (digital cx< /t.utgt' l'orrtt,rt\ rl,rl,tttt stt,tltt
sislr.rrr lr,r,.r,. rl,rl,r rl,rrr llcmberian kode yang rlisl,tnrl,rrrlis,tsi prrl,r rl,tl,rttt
51t r,,' ll l{ ) llr.lrr.r,r1,,r pr.r,rngk,rl lrrrr,rk gr,rfis rrrrlrtk l<r'pr,tltt,rrr k,rtlolgr,rlr
rlrgtt,rl rl,r;r,rl trrctt;r,,1,,'t,r',tl',rn l'otrtl,tl rl,ttt sislcttt ll,tsis rl,tl,r ttrt

q
?%

-G,

r.--EE--

F--DrD

-D-

D-D-D

I DD - --

- -

Ii.ef'erensi

de Jong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema, l. A. (2002).


Hydrography. Delft University Press. Delft, The Netherlands.

Pongukuran Arus dan Sedlmen

lnternational Hydrographic Organization - IHO (1998). Standards for


Hydrographic Surveys. Special Publication No. 44, 4th Edition.
lHB. Monaco.
Medwin, H. (1975). Speed of Sound in Water: A Simple Equation for
Rea/istic Parameters. Journal of the Acoustical Society of America
(58), 1318-1319.
Kelompok Bidang Keahlian Kelautan (1989). Pendidikan Survei Hidrografi
ITB-PERTAMINA. Diktat Kuliah. Jurusan Teknik Ceodesi, lnstitut
Teknologi Bandung.

Lurton, X. (2002). An lntroduction to Underwater Acoustics.


Springer

Praxis Publishing. Chichester, UK.

A.

PENGUKURAN ARUS

tl,rrrgk'rl,
Arus adalah gerakan badan air. Di pantai dengan perairan
dan -sampai tingkat tt'rl0ttltt
arus dapat dibangkitkan oleh pasut, gelombang
wilayith 1x't'ttt'ttt
angin. Pengetahuan mengenai dinamika arus pada suatu
,uigu, p"niing r-rntuk ka.iian mengenai dinamika dan kualitas litrgktttrg'rtr
r['ttg'ttt
,ert, ,ekryasa wilayah. Teknik pengukuran arus dapat dilakuk.lrr

dilaktrk'rrr rh'ttg'ttr
pendel<atan Lagrangian atau Eulerian. Pendekatan Lagrangian

tt'rlt'ttltt
pengamatan gerakan massa air permukaan dalam rentanS wakttt
pelampr-r.g S.l'tttt'r
impiem"ntasinya biasanya dilakukan dengan sebuah
yang tertentu pula, lx'lr8,lnl'rt
selang waktu tertentu dan dalam interval waktu
clt'miki'ttt
,unJu,u, posisi pelampung tersebut. Studi dinamika arus yan,

SanSatpenting-misalnya-untukmengkajimode|tumpahanminyak.tt.ttt
petrclck'tl'ttr
pengangkutan materi oleh badan air di permukaan. sementara,
pada suatu posisi tertcttttt tli
Eulerian dilakukan dengan pengamatan arus
pendekatan ini aclalah kcktt'tt'ttt
suatu kolom air. Data yang diperoleh dengan
Bukr-r irri lr;ttty'r
dan arah arus pada suatu tempat sebagai fungsi dari waktu.
al<an mendiskusikan

a. Sifat Gerakan

teknik pengukuran arus dengan pendekatarr Eult'ri,rtt'

Badan Air

ftltlgsi tl,lri
Kecepatan arus U pada suatu penampanS A merrrpakatl
((2 ataLr <lt'ltit) tl'ttr ltt'ts
volume air yang clialirkan dalam setiap satuan wakttt
pen.rml)ang yang di laluinYa

lt

()tA

I )r 1x,r,ilt,ttl

rl,r,.,rr ;,r1r,1r.ur

95

(5

1)

(l,rrr;il.,rl, lratlittt air y.rng llt'rgt'r,tk'l'llt'r,ts,lk,lll' lt'r'lrt't'trl't'ttt


r\l,tl,,rlrty,r l1,ri,rrli [riksi,rl,rrl 1it'rcl<,rtt,llll'll'l lr'r;it'rtt lr'r;it'rtr
al ,

,\7,*,

//^/n,,pnr,l,
D Dr-blr

-DD-

__

-r-rt-_

__-D_

_DtD_

t_

_D

> _

r.

,lir y,rrrg lrr'rgt'r,ll< rk'ttg.rtr rl,ts,tr pt'r,rir,rrr. I ril<sr irrr rrrprrli,rl.rlr,rll<,r1


perlambiitan yang, sistematik pada kekuatan arLrs cJi suatr-r kol<1nr
,rir, st,lrirrgga
distribusi kekuatan arus u di perairan dangkal pada satu vertikal clengan
kedalaman total h akan membentuk profil logaritmik (Cambar
5.1a). Jika
data lapisan-lapisan kedalaman d dikonversi ke ekspresi logaritmik
normal,
maka sebaran data kekuatan arus pada kolom air yang dekat dengan
dasar
akan cenderung membentuk sebuah garis lurus (Cambar 5.jb).
lllilss'{l

lx'nrittl\ttt,ltl,tllt\ p,ttl,t',tl.tltt;tolottli,ttt
lr,ttr,rl lt.rsrtl ill(.nlllliltr,ll,,rrr lr.l.rrrl. ,rl.ttsltk tlcttg,ttt tt'srtlttst vt'tltl.,rl O 'r lll (l,lll
rcsoltrsi lt<lrisorrl,rl ,,r,[rl,rr (r nr s,l.rl rttcttjt'l,trtg sttrttl. l)r'rl,ttttlr,rl,rtt stslcttt,tltlr
tt.rlihat clerng,rn lrr,rl x'<l,r,rrr li.r'krr,rt,rn itrus di rlt'kitt l.rul rl,ts,tr <l,ur rli rk'l.,rl
( i,rtttlr,rt

', .'ntr,ltl,r,rlrlr,rll..rtr

lr,r',tl

1rt'rmul<aan air.

m/s
2

u (m/ s\

0.5'

'1

a (m/s)'1

0.5

1.5

1.5

1.5

;.

5+
6

gO
-1.

.)

.,I

(a) Profil pengukuran kecepatan arus


u

pada kedalaman-kedalaman d

(b) Visualisasi profil pengukuran

lnr

0
7X{1

n00

Cambar 5.2 Hasil pengukuran arus pada suatu penampang kanal pastrl

(Poerbandono & Mayerle, 2005)

kecepatan arus secara semi-

logaritmik
cambar 5. / Profil vertikal kecepatan arus di perairan dangkal dengan
kedataman h

Perlambatan sistematik pada ariran arus di perairan dangkal juga


berlaku

pada aliran badan air di sungai atau kanar buatan. Dinding-dinding


kanal
memperlambat aliran arus secara sistematik sehingga kecepatan arus
tertinggi
terletak di tengah-tengah kanal. Di perairan dangkal, morfologi
dasar perairan

mempengaruhi distribusi vertikal profil kecepatan arus. Morfologi


dasar
perairan yang dimaksud adalah kerut yang terjadi akibat
usikan gelombang
dan arus di perairan dangkal yang disebut sebagai beclform atau bed
feature. Dimensi morfologi dasar perairan biasanya dinyatakan
dalam tinggi
dan panjang. Tinggi morfologi dasar perairan mempunyai sifat memperlambat
gerakan badan air. Akibatnya, distribusi vertikal kekuatan arus
clengan
kecepatan dan pada kedalaman yang sama akan mempunyai l-rentLrk
yang
herbeda pada claerah yang m.miriki ketinggian morf.rog,i rl,rs,rr p.r,rrr,rrr
y;lng lrerberh.
98

0.1

Morfologi dasar perairan cenderung terbentuk di wilayah pant,ri y,rrrg


berpasir. Pada kondisi pantai berpasir yang memperoleh pengaruh ;rrus tl,ttt
gelombang yang cukup kuat, butiran-butiran pasir relatif lebih mutl,rlr
dipindahkan untuk membentuk kerut-kerut di dasar perairan. Semcnt.tr.t,
karena memiliki sifat kohesif, butiran-butiran lumpur cenderung saling t,rrik
menarik dan terpadatkan sehingga lebih sulit dipindahkan oleh arus rl,ttt
gelombang. Akibatnya, di wilayah pantai yang mengandung lttmltttr,
morfologi dasar perairan cenderung tidak terbentuk. Efek perlambal,tn p,ul,r
gerak badan air relatif lebih lemah pada lingkungan ini. Kondisi yarrg lt'lrilr
kompleks terjadi pada sistem estuari tempat bercampurnya air law,tt'<l.rtt ,tir
asin serta terakumulasinya sedimen yang dibawa oleh sttng,ti tlari lrulrr.
Pacla lirrgktrngan ini, kadang-kadang terjadi, alat perum gcm.l ti(l.rk rll,rrlll)u
mt'rrrlt,lr.k.,i l<r'rl,rl,rm,rrr karena adanya lumpur cair (fiuirl rttur/) y,tttg lrcrly'r,rL
rlt'rrg,,rrr l\r,( r'l),rl,ur .,,rrr1g,rl renclah di atas rlas;rr 1lt'r,rir-,ln y,lnl.l kct,rs. l',trl,r
l,rpi,,,rn lrrtrr;,rrr rtrt, l.r.r r'p,rl,rrr ,lnrs s(!( <lnr r.fcktif tirl,rk lx'r,rrti.

qr)

.\n,*,
E--

1,,/,ro.t,(,

! L L. - -E
-rE

E-E

--

b. Prosedur Pengukuran

rDtrrr,-E

E---._.-

- _-

_ _ t r _

Arus

t-tll----->}GF-==-*

--EE-]-

l', ',,1',1.,,,,,,, ,\,,,, ,1,,,, .',.1,,,,,


Dlr
D
F
-

Pada lingkungan laut yang didominasi oreh pasr-rt, m,rr<,r <rrr;rsi


pengukuran arus pasut setidak-tidaknya adalah sepanjang perioda pasut.
Untuk daerah dengan sifat pasut yang diurnal atau campuran, maka durasi

-D

',

-'

potongan lokasi
pengukuran arus

pengukuran arus adalah sekurang-kurangnya 25 jam. sementara,


untuk daerah
dengan sifat pasut yang semi-diurnal, maka durasi pengukuran arus adalah
sekurang-kurangnya 13 jam. Cakupan waktu tersebut sangat diperlukan
untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang arah dan kecepatan
arus pasut pada satu perioda pasut.

/.
.

"i

saat pengukuran arus pasut, sebaiknya diatur sedemikian rupa


sehingga mewakili kondisi pada saat bulan purnama dan bulan perbani.
Untuk itu, pengukuran perlu dijadwarkan serama dua kali dengan selang
waktu sekitar 7 hari. Buku pasut yang diterbitkan Dishidros TNI-AL

t.

\"''

arah arus

akan sangat membantu dalam mengambil keputusan untuk merencanakan


saat pengukuran arus. lnterval pengukuran dapat dilakukan setiap 1 jam

untuk pengukuran pada pantai yang mempunyai sifat pasut diurnal.


Pada pantai yang mempunyai sifat pasut semi-diurnal dan campuran
sebaiknya pengukuran dilakukan sekurang-kurangnya dengan interval
3O',.

pantai
Pemilihan lokasi pengukuran ditentukan berdasarkan pertimbangan

kemampuan alat, kondisi rapangan, dan permintaan keteritian


(cambar 5.3). Jika yang digunakan adalah alat ukur mekanik,
maka
sebaiknya pengukuran dilaktrkan di ketinggian sekitar 4o%o dari dasar
perairan. Tempat yang diukur harus mewakili kondisi batimetri perairan
setempat. Jika pengukuran dilakukan di suatu sungai atau kanal pasut,
maka alat ukur ditempatkan setidak-tidaknya di tengah-tengah sungai
dan jika mungkin ditambahkan 2 lokasi antara sumbu dan tepi-tepi
sungai. Pada suatu sistem sungai atau kanal pasut (yang bercabangcabang), pengukuran arus dilakukan pada setiap percabangan. Untuk
muara sungai, pengukuran perlu dilakukan pada 2 potongan. potongan
tersebut hendaknya tegak lurus terhadap kecenderungan arah arus. Untuk
pantai, pengukuran arus dilakukan pada beberapa potongan tegak
lurus
garis pantai. walaupun demikian, keputusan pemirihan lokasi pengukuran

akan bervariasi menurut tujuan survei.

cambar5.3 Beberapa saran penentuan Iokasi stasiun pengukuran arus

Pengukuran arus dengan cara mekanik


Current meter adalah alat pengukur arus yang sanSat populer. Pada
(Cambar 5'4)'
saat awal dikembangkannya, alat ini bekerja secara mekanik
Badan air yang bergerak memutar baling-baling yang dihubungkan deng,att
(counter)dan
sebuah roda gigi. Pada roda gigi tersebutterdapat penghitung
pencatat waktu (time-keeper) yang merekam jumlah putaran untuk setialr
satuan waktu. Melalui suatu proses kalibrasi, jumlah putaran per satu,llr
waktu yang dicatat dari alat ini dikonversi ke kecepatan arus dalam mctcr
per sekon (mA). Alat ukur ini mempunyai ketelitian pengukuran yang relatif
perubahan
sangat baik. Beberapa desain current meter mampu mengukur
kecepatan gerak badan air sampai dengan 1 mm/s. Kini, telah berkembapg
current meter yang bekerja secara elektronik dan mempunyai kemampuan
perekaman data yang sangat besar.
I lirrgga clewasa

ini, currentmetersan,lat umumdipakai untuk mcnguktrr

rlari
,rr,rlr rl,rrr l<r,r.r.p;rtarr;rrrrs 1l,rrl,r su,rlrt lok;tsi rlt'lrg,ttt kr'trnggi,rn lertcntu

rm

'f

rlilcrint,r,rl<,rrr rrtctrll,rl,rtrrr,'1,,f I lrrgrgrlr.r ,rl,rrr lrlrulr,rlr ltlkttlttsttty,t. l'r'tttlr,tlr,rrr


lrt'l<ut'nsi itti st,lr,rtrrlrrrll rlr,tt)-1,1n llr,tlrr,rl,r,rrr lior t'1l,tl,ttt ,rttl,tt.,r ,ll,ll ul\1il ,ilil',
,rl<rrstil< tkrnl3.trr l,rprs,rrr ,rru,, y,urli rlrrrIrrr. Alat ul<trr ,trLts .tl<ttslik tttcttttltIt
hclterapa kelebilr.rrr rlilr,rnrlrrrgk,rrr r rrrrt'rrl lneter konvensional. (-urtcttl tttclr't
rnempunyai sifat merrgganBgu badan air yang diukur (intru-sive), s('nr('nl,u,r

alat ukur arus akustik cukup dioperasikan dari permukaan air deng,rtt posi'r
menghadap ke dasar perairan. Resolusi spasial dan temporal alat rrl<ur,rnrt
akustik juga lauh lebih baik dibanding current meter.

a) USGS Price Type AA

b) Neyrpic Dumas

Cambar 5.4 Beberapa tipe awal current rneter mekanik

dasar perairan. Kedalaman pengukuran yang dipilih biasanya sekitar 60%


dari permukaan air (arau 4oo/" kedalaman dari dasar perairan). pada kedalaman

tersebut kecepatan yang terukur biasanya sama dengan kecepatan arus


rata-ratanya. Jika pada suatu kolom air diperlukan lebih dari satu data
pengukuran arus, maka akan diperlukan dua atau lebih current meter yang
digantung pada kedalaman pengukuran yang berbeda. Keputusan mengenai
jumlah alat yang dipakai pada suatu kolom pengukuran akan sangat tergantung
pada kebutuhan dan penggunaan data pengukuran tersebut, ketersediaan
sumberdaya (alat dan biaya) dan kondisi lapangan (utamanya sifat gerakan
badan air).

Pengukuran arus dengan cara akustik


Teknik pengukuran arus yang saat ini merupakan state-of-the-art dilakukan

dengan memanfaatkan gelombang akustik. Beberapa diantaranya adalah


Acoustic Doppler Profiler. (ADp) dan Acousric Doppler Current profiler
(ADCP) (cambar 5.5). Pada alat ini, gelombang akustik dipancarkan
melalui
transduser dan merambat di bepanjang kolom air. pada suatu lapisan air
yang diukur kecepatan arusnya, gelombang dipantulkan kembali menuju
transduser oleh partikel sedimen dan prankton (yang bergerak dengan
kecepatan sama dengan kecepatan gerak air). Karena adanya gcrak relatif
pemantulgelombang tcrhadap alat ukur arus akustik, mak.r gr.lrrrrlr,rrrg y,rrrg

10?

(a) Acoustic

Doppler

produksi SonTek

Prof iler

lnc.

(ADP)

(b) Acoustic Doppler Current Prolih'r

(ADCP) produksi RD lnstrumerrls


(Foto: Catot H. Pramono)

Cambar 5.-5 Beberapa jenis produk alat ukur arus akustik

c. Prinsip

Pengukuran Arus dengan Cara Akustik

Efek Doppler adalah fenomena kesetaraan perubahan frekuensi stt,tlrr


bunyi (yang diterima oleh pengamat) dengan perubahan kecepatan stttttlrt't
bunyi. Peristiwa ini biasanya dijelaskan dengan peluit kereta api yang terrlt'tt1i,tt
meninggi saat mendekati pengamat dan merendah saat kereta api merri,rulrr
pen8amat. Di dalam air terdapat material-material padat yang tersusl)('n',r
(mis,rlny,r: st'rlimcn, plankton dan lainnya) dan bergerak dcngan itr,tlr rl,rn
kt.r r'p,rl,rn y,rrrll \,rn,l rlengan arus. lika gelombang akustil< rlt.ngirn l.rckttctr',t
<l,rrr rrrlr,rr'.rl,r', lr'rlr'rrlrr rlill,rngkilk,rrr rl,rrr rlitorrtlr,rkl<,rtr l<r'su,rltt l<olottt,rtt,

,\".u,
--

/1,/.,,,t.a(,

lD

b.!rr--f

r--.--r

rDrD--

ED_D__i___

D_

-_

mdk.l nliltcri.tl-nt.tlt'ri,rl l)(l(l(ll t('rsusl)('nsi l),r(la lapisarr,ur y,urli (lr1l\1r ,ll(,11


memantuIkan Selombang yang ditembakkan tersebut kembaIi l<t'
;1'prlr,rpg,kit.
Karena material pemantul bergerak relatif terhadap sumber gelombang, mal<a
frekuensi gelombang pantul akan mengalami efek Doppler.
Jika perbedaan
frekuensi gelombang pantul relatif terhadap gelombang pancar diketahui,
maka l<ecepatan relatif antara pembangkit gelombang dengan lapisan air
yang diukur akan dapat dihitung.

(y,rrr11

hubungan:
rr = v,

Kekuatan Arus

ltlkttt'ttst /, rl,ttt l,rpt',,rtr


tr,rrh'l',rl ri'n,.l,ln lr,ttls(lttscr). Al,tt 1lt'ttr,tl,tl w,tl.ltl
,rir y,rrrg llcrl,rrrr,r
mt'ltitn(l.ri s,till lx't)('t rttl,r,rtt lr'tsll rttl (tlt'ttgiln l= l,).
Dari pengct.rltu,rrr nt('ng('t1,li rr-.pat rambat gcl<lmbang,rkr"rslil< v, rl,tl,rttt
m/s dan selang wal<tu At, = t, - t,, dalam s, maka iirrak rl;rri lr,tttstlttrt't
l<e lapisan air yang pertama diukur (r,) dalam meter akan rlil<t't,rlrtri tl,rtt
rttrrl,rr rttt'rrt'rittt,r p,rrrlrrl,rrr 1i,,l,,lrl',rnli,rl\rl',ltl(tlr'ttg,ttt

atr

(5

"2)

Melalui transduser, alat ukur arus akustik menembakkan gelombang


akustik (ping) dengan panjang gelombang sekitar 10 ps dan 'mendengarkan,
pantulannya. Alat ukur arus akustik kemudian mengukur frekuensi gelombang

pantulnya dan menghitung kecepatan relatif arus pada lapisan air yang
diukur terhadap alat ukur arus akustik (Simpson, 2001). penggerbangan
waktu dilakukan untuk memperoleh profil kecepatan arus di sepanjang
kolom air (cambar 5.6). Ketika transduser bergetar dan mulai mengirim
gelombang akustik ke kolom air dengan frekuensi tertentu (fo) selama selang
waktu ato, alat pencatat waktu mulai bekerja dan menandai saat pengiriman
tersebut (dengan t =
L). sebelum menerima pantulan gelombang dari badan
air, transduser terdiam sejenak. setelah waktu terdiam tersebut, transduser

Kemudian dengan memanfaatkan efek Doppler, perbedaan frekucnsi A/,


dipakai untuk menghitung perbedaan kecepatan arah arus relatif Av, p.rrl,r
lapisan air yang diukur. Penggerbangan waktu ini dilakukan samp,ti rlr'tt1;,rtt
lapisan air yang terbawah (terdekat dengan dasar perairan utrtttl<,tl,rl y,rrrli
menghadap ke bawah) atau teratas (terdekat dengan permuka,ttt ,tir rrtrlrrL
alat yang menghadap ke atas). Dalam terminologi ADCP, lapis,ttt l,t1rr','rtr
air yang diukur pada sepanjang kolom pengukuran discllut st'lr,r11,rt /rttr,

sedangkan kolom pengukuran itu sendiri disebut scllitg,ti lttr,'ttt/r/,'


(Cordon, 1996).Ketebalanbindiaturolehselangwaktudalamlx'tt111y'tl,,rttp,,rtt
waktu. Semakin panjang rentang waktunya, maka bin pun .tk,trr ',r'ttt,tl*ttt
tebal dan sebaliknya. Satu ensemb/e dapat merupakan rk,lrllrlll \,lltl l,rrrl:
atau rata-rata dari beberapa ping. Pada selang-selang wakttr Al,, lcrkrrrrrl,rrl
satu atau lebih ping yang dirata-ratakan untuk mendapatkarr gt'lottrlr,rtrg
representatif yang mewakili bin (Ad,) yang diukur. Bln pert,rm,t (rlctrg,rtr
ketebalan Ad,) berjarak r, dari transduser dan merupakan rata-r,rt;t lt'tlrolxrl
(dengan bobot terbesar diberikan pada gelombang pantul dari r/ = t,) tl,ttt
gelombang pantul selama At,.

Arah Cerak

d
jarak

dari

6)O-*)$'
*6'

transduser

Cambar 5.6 Penggerbangan waktu (At) untuk mendapatkan data kekuatan


arus di suatu kolom air pada lapisan-lapisan (A4) yang diukur
(Poerbandono, 2005a)

104

Alat ukur arus akustik menentukan arah gerakan badan itir Jr;trl,t litltts,ttt
yang diukur dengan memanfaatkan konfigurasi multi tr;rnsrlttst'r. Scll,rg,rt
ilustrasi, ADCP mempunyai empat transduser yang mengharl;tp kt' ('rlll),rl
arah yang berbeda dengan kemiringan masing-masing terh,rriap sttttllrtt lr'1i,tk
selrsar 20". Kedua pasang transduser ADCP tersehut memllctrlttl< sisllttt

krxlrrlirr,rl k,rrlcsi,ttr yitng disebut sebagai sumbu Ut.lIa tltlttrl< rllt,r p,r',,rtr;i
tr,rrrsrlrr.,r,r y,rrrli r,rlrnli lrcrtolak hclakirng rlan stttrtlrtt Tinttrr ttttlttli rltt,t l),1\,tltli
('unll)u IJl,rr.t rnt'rrrlr.lcl<si gcr',rl<,ttt ll,rtl,ttt ,tit
It,rrr,,rlrr,,r.r l,rrrrrry,r
;l,rrl,r ,rr,rlr
srrrnlrrr
mr'trrk'lcl.st
Iitttttt
vr.rlrl.rlt.,,r,rl.rn1ik,rrr
IJl,rr,t {rl.rrt
licr,rk,rtr lt,ttl,ttt,ttt

,\',,,ur, /1,/.r,t n,il,


r

D-

-lrl>r-lD--llD_]D_,_B_

_irBDD

--

->

D -

_ _ ]

l),1(l,l,lr,lllJitttLrr(rl,rnvt'rtik,rl)rl,rrrr-rr,tsirrg-nl,tsirUlrlisr,lrrrl,_(,1),rll,rl.r,rr,1r,rl,rrr
Utara dan kecepatan Timur, sching,ga r<ec.c1;ata, arus (r/)
rrirrittrrrg rr.rrli,rrr:

u=

,1

*ur'

(s.J)

--

l;,;-;..;, ;;;:;;,;; ;;;-,,;;;,"';,;,; ;:-,

nl,l\llli nt,r,,ntllrl,rl,ru,rl,ur lr,, y,rttg tttt'tttlrctt ittlotttt,tst kt'r r'p,tl,ttt


pacla
arLrs
strrllrtr Irrlrrr (rr,). I)t'ng.tt.r (.ar(l y,lnll s('t.ttl),t 1rrtl,r, rlirl,rp,tll.,rtr
data proyeksi clcl< Dollplcr pada bidangvertikal (trrrtl,ttt ttu") y,tttg tltt'tltlrct
informasi kekuatan gerak badan air pada arah vcrtik,rlrTu/. l),rl,tnt lctntittolo1gr
ADCP, kelebihan data pengukuran pada arah vertil<al rlisclrrrt sclr,rg,ti t'ttot
velocity. lnformasi ini berguna untuk menguji konsislct.tsi itsttt.ttsi lr,rlrw,r
arus pada suatu bidang horisontal bergerak dcngan kekLralan rl,trr irr,rlr y,rrrli
rli<l.r1t.rtl<,rn

dengan

dan

il,

r,

= kecepatan arus representatif pada sumbu Utara daram m/s

= kecepatan arus representatif pada sumbu Timur dalam m/s.


Arah geral< arus (a) pada kuadran r, il, Iil dan rV ciapat
dihitung sebagai
fungsi dari u, dan u,.

cambar 5.2 memperrihatkan pasangan transduser Utara-seratan


yang
masing-masing mendeteksi efek Dopprer pada arah
bidikan gerombang yant
saling bertolak belakang. proyeksi efek Doppler dari
transduser Utara pada
sumbu horisontal (ur) dan proyeksi efek Dopprer dari
transduser seratan
pada sumbu horisontal (ur) memberi informasi
kekuatan gerak badan air
pada bidang horisontal di lapisan yang diukur
sebagai komplnen kecepatan
arus pada sumbu lJtara (uu). Data proyeksi efek Dopprer
dari transduser
Utara dan selatan pada bidang vertikar (uru dan uus) memberi
informasi

kekuatan gerak badan air pada arah vertikal fiuu.

sama.
Kecepatan arus absolut (relatif terhadap dasar perairan) clitentuk,tn rlt'ttg,ttt
cara yang serupa dengan pengukuran kecepatan arus pada kolont,rir. Al,rt

ukur akustik memanfaatkan efek Doppler untuk menerima frtlkttcttst y,ttr;i


dipantulkan oleh dasar perairan. Perubahan frekuensi akihat pt'ttt,rttlrtl,ttt
daridasar perairan memberi korel<siatas kecepatan relatif yangrlitrl<trr k'tlt,rrl,rp
alat. Penginderaan dasar perairan dilakul<an dengan memcril<s,r tttlltt',tl,t',
gelombang yang diterima. Karena massa jenis dasar perair,ln tcl,rlrl h'lrtlr

tinggi dibanding massa jenis air laut, maka intensitas yarrg rlitlr rrrr,r l,rrrr
lebih l<uat dibanding intensitas yang diterima dari l<olottt ,ttt l),rl,rrrr
terminologi ADCP, teknik ini disebut sebagai l>rtllttrrr lr,tt ktrr1l
(Cordon, 1996).

d.

,,2
-'

j\

.,t

tl

v"

cambar 5.7 Konfigurasi murti transduser pada arat ukur arus


akustik

untuk mengindera gerak badan air secara tiga dimensi


pada suatu lapisan air yang diukur (poerbandono,
2005a)

106

Pengolahan dan Penyaiian Data Pengukuran Arus

Arus memiliki energi atau kapasitas angkut (carrying cap,lt lty) y,rrrli
sebanding dengan kecepatannya. Kapasitas angkut tersebut mcrttp,tk,ttt
representasi dari tekanan (stress)yang terjadi akibat gesekan (frictictn),tttl,tt,t
lapisan badan air yang bergerak dan dengan dasar perairan. Tcl<ittt.ttr y,rrrll
bel<erja di dasar perairan disebut sebagai tekanan geser dasar (Irt'r/ sltr',tt
stress)dan dinotasikan sebagairn. Pada sisi lain, sedimen rli rlas,rr pcr,tir',ttt
memiliki resistensi atau sifat enggan bergerak yang sccara Llmtlm st'll,ttttltttli
dengan ukurannya sehingga laju pengangkutan serlimt'n mcrttp,tk,ttr
kesetimbangan antara kapasitas angkut dengan ukttr;tn scrlirrtt'rr. ( )lclr
karonanya, hasil kajian mengenai dinamika badan itir ntr:rttp,rl<,rtt ittlirtttt,t',r
y.rrril 1rt'ttling trntuk kaj ian-kaj ian lan jutan, s('lx)rl i: ,tttgkttl,ttt sctlitltctr,
llcnyr,l r,rr,ur rrttltit'tr rl;rrr ol<si13cn, ;lnalisis lx'tt( ('tl),lr,ltt rl,rrt s,'l ),tli,tttry,r

,\^",r, h,/,tj.,(,

-t

-Db&rr---_D__t_DDD-______DD__-__

D _ D,

Penghitungan l)chit Air

Jika pengukuran arus sepaniang korom vertrkar tcrs.rri.r,


,r,rl<,r nirai
representatif pengukuran arus(17)dari pengukuran
di beberapa ketinggian di
atas dasar perairan dihitung dengan nilai
rata-rata terbobot menurut

rl,ttt r/ = j.rr,rk vr,rtrk,tl l'.,,1,,,,,,,,, y,rrrlirlrw,rkili pCtrgttkttt,ttt tt,. ltl.,r l\r'( (,1),rl,rrl
;lrus rcpres('nl,rlil t('l,rll rlrlrrlrrrrg, rrr,rl<,r rlcllit air ((l,rrrrlr,rr li.tllr) rl,rp,rl rlrlrrlrrnli
dengan:

kedalaman:

=!*A

o=i)@, .o,.,);fu, * h,.,b,,,.,

* u,*,)(2,*, - Z,)

dengan

ditentukan dengan (poerbandono, 2005b):

=lw,a,

(s.s)

i
I

ii
ir
Ir

b. Penghitungan debit air

Gambar 5'B Visuariasasi estimasi kecepatan


dan arah arus representa
dan peng,hitungan debit air

108

sl,rsrtrrr

Cambar 5.10 memperlihatkan hasil pengukuran arus sesart

I
j

,).r(l,r

beberapa stasiun pengukuran saat menjelang surut. Hasil pengukuran rlis;rjik,rrr

dengan vektor arus yang menunjukkan secara umum kekuatan rlarr ,rr,rlr
arus di lokasi yang disurvei.

B.

representatif

b = jarak lateral anlilr

Cambar 5.9 memperlihatkan hasil pengukuran arus pada srr.rlrr \l,r',rrl


tetap selama satu siklus pasut. Pada gambar tersebut hasil pcngrrl<rrt,rrr ,rrrr',
(kekuatan dan arah) dengan interval sekitar 1 jam disalikan scr,tt,r p,rl,l
(Cambar 5.9a) dan dengan vektor menurut waktu (Camlr,tr 'r ')lr) l),rrt
gambar tersebut dapat dipelajari pola arus saat air pasang clan ,tir \urrl y,url{
menunjukkan bahwa komponen arus ke arah Utara relatif lr.lrilr rirnlrrr.rrr
dibanding komponen arus ke arah Selatan. Jika arah dan kt'ku,rt,ln,uu.,
pasut diasumsikan bi-directionaldengan kekuatan yang sama, m,rk,r rcsrrlrr
dari arus pasang dan arus surut dapat dipakai untuk mendugit.rr,rlr rl,rrr
kekuatan arus tetap yang bukan dibangkitkan oleh pasut.

a. Estirnasi kecepatan dan arah arus

= jumlah stasiun pengukuran dan

Deskripsi Dinamika Badan Air

untuk dilakukan pada kedaraman 6o"h dari permukaan


air. Arah arus

pengukuran.

sekitar 40"h dari dasar perairan (Cambar 5.Ba).


Karenanya, jika hanya
tersedia sebuah current meter maka pengukuran
arus direkomendasikan

(5. t,1

(s.4)

dengan h = kedalaman perairan, z tinggi pengukuran


=
(dari dasar perairan),
a = jumlah pengukuran pada suatu vertikal dan u(z)
= kekuatan arus u di
ketinggian z. Pada umumnya, kecepatan arus
representatif atau yang secara
praktis sering disebut sebagai kecepatan
arus rata-rata berada pada ketinggian

representatif

;;1,;;, ;- -::;-:- ;;,,;-;;;,.;;;,;;;;;-';;

PENGUKURAN DAN ANALISIS SEDTMEN

Sedimen adalah bahan utama pembentuk morfologi (topogr,rfi <l,rrr


batimetri) pesisir. Sedimen berasal dari fragmentasi (pemet'ahan) h,tltr,rrt.
Pemecahan tersebut terjadi karena pelapukan (weatherinB) yang tl,tp,rl
berl:rngsung secara fisik, kimiawi atau biologis. Berubahnya morfologi 1x'sisir
tr.rj,rrli sclr;rgiri akibat berpindahnya sedimen yang Ircrl.rngsur]ll nrr,l,rlrri
lrtr,k,ttrirtttc ctori, perrgangkutan (transport) dan 1x'rrl3orrrl,tpirn (r/ryrosrlirrlr).
St'tltttt,'tr y,tttl-i (ltpttrrl,11,;,,,,' adalah scclimcn y.tng tt'rlt'titk lt,rrl,r llprntttk,t,ttt
(Lr\rt pr'r,ut.rtr z\p,r'rr y,rrrg lrr.rpr.ritn rl,tl,tnt llr,rpirrrl,tlr,rn sr.rlrrrlr,n rrrr ,rrl,rl,rlr

.\ur*, //r,/.oora/,
- = t -'L &. - - rr

I.-r

rG-

t--E

--E--

--

E-

r r f, r E E
- -

l',,,.1,,1.,,,.,,' .\,,,,1,,,,',,,1,,,,.,,

-B-->DDDD]=--

>D-D-DD--5-DDl-

-DD->D-

> 0.5m/s

Cambar.5. l0 Vektor kecepatan arus dari pengukuran sesaat pada beberapa


stasiun pengukuran ketika menielang surut
(dimodifikasi dari Ali, 2004)

a) Secara polar
0.5

t li!/r,

IiII1/
(c lolal

1-

mhd

/ /t,

L-'__l_t l-.

L-\ t -r 1---r-7- z-/


r
t ,/
,:

arus. Sebagian besar kandungan sedimen di bumi adalah kuarsa dengan


massa jenis rata-rata p, - 265Okg/mj. Angka tersebut lazim dipakai untuk
berbagai aplikasi kajian sedimentasi. Walaupun clemikian, pada lokasi-lokasi
tertentu, misalnya pantai berterumbu karang atau pantai yang bahan
sedimennya didominasi oleh produksi erupsi vulkanik atau bahan organik,
massa jenis sedimen rata-ratanya harus ditentukan berdasarkan hasil survei
(pengambilan contoh sedimen) setempat.

a. Karakter Sedimen
b) Dengan vektor menurut waktu
Cambar 5.9 Visualisasi pengukuran arus pada stasiun tetap selama satu
siklus pasut (Ali, 2OO4)

ttn

Sedimen dicirr atau dikarakterisasi menurut sifat-sifat alami yang


climilikinya, yaitu misalnya: ukuran butir (grain size), densitas, kecepirl,rrr
jatuh, komposisi, porositas, bentuk dan sebagainya. Dalam studi angkul,rrr
sedimen, ukuran butir merupakan karakter sedimen yang sangat penting
karena dipakai untuk merepresentasikan resistensinya terhadap agcrr
t)engangkut. Ukuran butir sedimen diwakili oleh diameternya yanB biasarry.r
rlisimlrolk,ur sr'lr;rg;ri d. Satuan yang lazim digunakan untuk ukuran butir
scrlinrr.rr ,ul,rl,rlr rrrilinrr:ter (mm) dan mikrometer (pm). Berdasarkan ukurarr
lrrrlirrry,r, rr,rlurrr.n rhl<l,rsifikasikan menurut: lumpur (mud), pasir (.sand) clarr
l<r,rikrl gy,n,t,h h l,r,,rlrL,r.,i tr.rsehut mcngikuti kriteria Wentworth (Wttntwrlrllr,

,\1.n, //,/roo,aL
r

ri

(-L--F-f

=-

--.-

--

-D!-

D-DD-D

>>

D -

D -

1922). Cambar 5.1'l memperlihatkan klasifikasi se(lun('n nr('rrunrl ul\ur,ur


butirnya berdasarkan skala Wentworth. Cara lain untuk mcny,r(.rl(,ur l<l,rsr[il<asi
sedimen berdasarkan ukuran butirnya adalah menggunakan Q @lti):
Q=

(s.7)

-log, d

'

DD

- -D

DDD

F>>>>D

>

DD

-';:'::':'l':l';:'':,'-'l'r'l'
l./ tttltttlx'rlrlr,rll.,rrr lrrtlrrrtrll,rtr

rur.rrgikrrli l\(.( (,1,,r(,ln rl,ur,rr.rlr,rrur. (

',rttll),tt 'r.
(,l,,ll,ut
profi
k<lttst:trlr.tsi st'tlitrtt'tt rlcttll,rrr lok,rst
,rrrrr
d,ur
l kt'<
,ln(,tr,t
pcrrgambilan <;olrl<lh srrlimcrr <li dasar perair;tt't tlan yartg lt'r,tttgktrl scl r,rg,tt
suspensi pada suatu kolom air.

pengambitan
,
;;,i;h;;
muka air...,i-- ".-i -*- -,... l-/
i
volume

sehing8a,

d=2-o

(s. B)

dengan d dalam mm.

i..,a
sand

mud

-"--,r\._-,_
""' 'lr--- - --r i --.*,r

-r'

rrg!_u ,-

ii'i

Prolil

kecepatan

'*t
Profil konsentrasi

hrsuspensi

;r,- Tdimen

"'rr-,:

I \I
l

a)

U)

^o
SoP

Rhb
xo0)

bo
otr
>{I

ob
i:o

.Julv

o,,a

i.....*,,,,**;-]'*./-t]

L--.

I
I

0,0005 0.0002 0,0625


(0,5rrm) (0,2rrm) (62.5pm)

0.125

0.25 0,5 I

nioang

penga;!il---i.-..

|*1:/\'
\l\..*._-,-

256mm

-"

""

-*..

\
r-._...

(125pm)

Cantbar 5.1 / Skala Wentworth untuk klasifikasi sedimen menurut


ukuran butir

b. Pengambilan Contoh

Sedimen

Kajian terhadap contoh sedimen sangat berguna untuk penentuan sifat


fisik sedimen serta komposisi kandungannya. lnterpretasi terhadap informasi
tentang sifat fisik dan komposisi kandungan sedimen sangat penting untuk
dikembangkan menjadi kajian lanjutan untuk, antara lain, analisis dinamika
batimetri, ketahanan tanah, potensi penambangan atau pencemaran. Sedimen
yang berukuran besar (misalnya: pasir kasar dan kerikil) cenderung resisten
terhadap gerakan arus. Jika kekuatan arus cukup besar, sedimen tersebut
cenderung terangkut dengan kontak yang kontinu (menggelinding, meluncur
atau melompat-lompat) dengan dasar perairan. Sedimen yanB lrcrtrkttran
lebih kecil (misalnya: lumpur dengan konsentrasi rendah al;ttt p,r',it lr,rltrs)
cr.ndt'rurrg tcr;rngktrt sobagai srrs;lt'r'rsi rk'ngan kt'r'r.p.rl,rtt tl,rtr ,rr,rlr y,rrrli

Cambar 5. l2 Visualisasi hubungan antara profil kecepatan arus dan konsenlr.rsi


sedimen dengan pengambilan contoh sedimen di dasar perairatr
dan yang terangkut sebagai suspensi pada suatu kolom air

di dasar perairan dikaji dengan mengambil contoh (.s,rrrrp/r')


menggunakan grab sampler (Cambar 5.13). Berat contoh sedimcn y,tttg
diambil bervariasi menurut ukuran grab sampler yang digunakarr, l',rrl,r
Sedimen

umumnya, berat contoh sedimen 1 kg sudah cukup untuk dipakai st'lr,tg,ri


bahan untuk menganalisis beberapa karakter sedimen dari suit{tt tl,ts,tt
perairan. Contoh sedimen yang diambil mewakili karakter sedimctt y,rtrg
terletak di lapisan teratas dari suatu dasar perairan.
Selain sedimen yang berada di dasar perairan, terrlall:rt

ittl-3,t sotlttttctr

yang tt.r,rrrgl<rrl oleh arus sebagai suspensi. PengukLtran strlimctt y.tttg tt't,tttgktrl

irri rlil,rkrrk,rn rk'rrgan mcrrgambil contoh air tl;rrr sualtt k<llotn 1x'ttgttkttt,ttt,
l)t,nli,rrrrlrrl,rrr r orrlolr rl,rp,rt rlil,rkukan st,r',tra s('s,t,ll ttt('rtl.l11tttt,tl<,rtt l,,tl),rl,ttt
/roll/r,r,rrrrlr/r'r {(r,rrrrlr,rr ',.l,l). l)r'rrg.rrnlril,rrt trtttlolr rl,rgl,rt pttl,r rlrl,rkttk,rtt

ttl

,\o.*, //,,/rno.
:---lL

T
---

t::-IIE-Er-

]i:EEEESl__D_

D > _ _ a_ _ Er

;;;;;;;;

;;;

; ;;:;;

;,",;;;;;,

;,,

Kotlsentrasi sedimen dapat dinyatakan secara altsolut rl,rl,rnr kg/rrrr lrrr,rss,r


stlclimen per volume contoh air) atau relatif dalam mi/m' (volrrrtr, strlirrrr,n
per volume contoh air).

Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur konserrtr.rsi scrlinrprr


tersuspensi adalah dengan teknik optik atau akustik. cara-qrrl t('rst,lrrrt
digolongkan sebagai pengukuran tak langsung (indirectsamplinc). ponguktrr,rrr
kekeruhan (turb id ity). Teknik ini memanfaatkan perambatan (transnrlsslep)
(Cambar 5.1 5a) atau pembelokan (scatte ring) cahayatampak (Cambar 5. I 5lr)
(biasanya cahaya merah dengan panjang gelombang sekitar 660 nm). Al,rr
yang dipakai biasanya optical beam transmissometer untuk sistem lrarrsnrisi

dan optical Backscatterance Sensor (oBS) untuk teknik pemlx,lok,rrr.


Pengukuran konsentrasi sedimen dengan teknik akustik (Cambar 5.1'rr )
Cambar 5.13 Grab sampler (Foto: Catot H. pramono)

dilakukan dengan pengukuran intensitas akustik (dari gelombang ,rkrr,,trk


berfrekuensi tinggi, sekitar 1000 kHz) yang dipantulkan (back.sr,rflu) olr,lr
sedimen yang terdapat pada kolom air. Pengukuran secara tak l,rrrg.,trnp.
dengan teknik optik maupun akustik hanya memberi informasi korrslrrtr,r,,r
relatif, oleh karena itu, kalibrasi menggunakan pengambilan conlolr l,rpg,.rrrr11
harus dilakukan.
Hubungan antara pengukuran optik dengan konsentrasi serlinx,rr rrrrtrrlr
teknik transmisi dan teknik pembelokan masing-masing dinyatakarr rft'rr1g,rrr
(van Rijn, .1993):

I
_=
I

Io

kre-k"

tI .t

- p.n-kzr'
Io "-1'

Carnbar 5.14 Bottle sampler (Foto: Catot H. pramono)

menggunakan pump sampler untuk mengamati perubahan atau dinamika


konsentrasi sedimen dalam selang waktu pengamatan. Teknik pengambilan
contoh ini disebut sebagai pengukuran langsu ng(direct sampting). pengambilan

contoh sedimen tersuspensi terutama ditujukan untuk mcngt.l,rlrrri k11ps3ptrirsi


114

(5.9)

(5'1o)

dengan /, = intensitas perambatan yang diterima receiver, /,, = intr.rrsil,rs


yangdikirim melalui transmitter, c = konsentrasi sedimen dan k,, k., st,rl.r k,
adalah konstanta-konstanta kalibrasi yang dapat diperoleh mcl;rlui .rnirlisis
regresi menggunakan beberapa data konsentrasi sedimen yang cliukur s(,( ,rr,r
langsrrrrg.
I lttlrtrtrg,rtt,tttlilra pengukuran akustikdengan konsenlr,rsi srrlilrx.rr

cnrgririk rlrny,rl,rL,rrr rk,rrgan (Cartner, 2OO2*

lllluHtr) ,r/ t/r

(,ill)

\(\

,y,r

,\1.,*, //n/.19.fi,
!

f, r

*rr-E-.EE---t----t---E--->---D

-Br

T
;;;,

;;;-;;,

.,1

pembelokan

;;;;;;;

;;;,;;;

konstarrta-k<llrsl,rrtl,r t(.Htr.\t nlr.nflflun,lk,ttt 1x'llt'r,t1t,t rl,tl,t kottscttlt,tst

rrtlttttrtt

yang diukur sc( .ir,t l,tttlisttttli.


absorpsi

c. Analisis Distribusi Ukuran Butir

a) Memanfaatkan perambatan cahaya tampak

Sedimen di alam tidak akan pernah memiliki ukuran yanS s(.ra8,tnr. lik,r
contoh sedimen yang terletak pada suatu permukaan dasar perairan cli;rntlril,

maka analisis akan menunjukkan bahwa contoh sedimen terscllut tt'nliri


dari berbagai macam ukuran butir. Ukuran representatif yang dipak;ri urrttrk
mewakili contoh sedimen tersebut biasanya adalah diameter merli,trrtty,t
yang ditentukan menurut berat. Diameter median tersebut dinotasikarr st'lt,tg,ti
dro, yang artinya: 50% berat contoh sedimen, memiliki ukuran lltrtir y,rrrg
sama dengan atau lebih kecil dari dro tersebut. Distribusi ukur,rn lrrtlit rl,tti
suatu contoh sedimen juga merupakan parameter yang pentinB tl,tl,tttt rlttrli
angkutan sedimen. Menyempit atau melebarnya distribusi ukttr,ttt lrttlit rl,ttt
Suatu contoh sedimen dapat ditentukan berdasarkan rentang .lr)l,ll.,t t/,,,. rl,ttt
d,o. Dyer (1986) mengelompokkan contoh sedimen yitttg tttl.ttttltLl
dsAldrc<2 sebagai sedimen yang terurut (wel/-sorted) sedangk.ttt t/,,.,/r/,,,'ll'
sebagai sedimen yang tercampur (well-mixed). Distribusi ukttr,ttt lrttltt rl,rrt
suatu contoh sedimen dapat pula dinyatakan dengan statttl,tr tllvt,tst

pembelokan

abs0rpsi

b) Memanfaatkan pembelokan cahaya tampak


alal ukur
arus akustik

geometrik (q):

o, =
transduser

intensitas

/ i/ inlensitas
/ i pantulan
/ / batik

terkirim

ti

a*/
t

material padal
yang tersuspensi
i

,
i
i:

Cambar.5. /5 Teknik-teknik pengukuran konsentrasi sedimen scorr1 lak l.rrrgsung

116

('r.

I 2)

Teknik baku yang dipakai untuk menganalisis sebaran ukur;ttr lrtttit


sedimen adalah sieving. Untuk itu, contoh sedimen terlebih rlithtrltr
dikeringkan, kemudian disaring melalui saringan-saringan yang tlktrr,ttr
kerapatan jaringnya berbeda-beda (terkecil 0.063 mm dan terbesar 20 mnt).
Contoh sedimen yang tertinggal pada sebuah saringan pasti mcmptrrly,ri
ukuran butir yang lebih besar dari kerapatan iaring pada saringan tt'rst'lrttt
dan lebih kecil dari ukuran kerapatan jaring pada saringan scht'lumtty,t.
Selanjutnya, sedimen yang tertinggal pada setiap saring;rn masirtg-nt,tsitrg

//
I /

c) Memanfaatkan pantulan balik gelombang akustik

(doold,,u)o's

ditimhang beratnya. Dari hasil penimbangan tersebut akan clipt'rolt'lt rlislrrlrrrsi


ber;rt sr.rlirttt'n Jrcrdasarkan rentang ukuran kcrapatirn iaring s,tritt1.;,ttt.
Talrr'l ', I rrrr.rrrpr,rlilr,rlk;rn hasil penimbangan sLtitttt t otttolt sr'<litttctt tl,ts,tt
ttr scl rtt,tll

[)(.r,yt,l1 rk.rrp,,rrr lr.l rrrl. sicving. Dari talrcl tt'rst'ltttl rl,t1l,tl tlilr,tttgt
Iristogr ,lrrlrr,!rrr,rr,.r ((',unl),u 5.I6,r) tl,rrrrlistrilltrsi ktrrttrrl,rlif ltkttt,ttlst'tlttttr.tt
(( i,ttttl r,rt ', I I'l rl
117

,\".",,

//,,/,uo.ul,

] t - r L { r r. D r -, r - } r t D
- r - } r _ } r _ D}

}}

_ _ _ D _. _ } r

Tabel 5.1 Data hipotetik hasil penimbangan sualu ((,trt(,lr


sedimen dasar perairan dengan teknik sieving
Diameter

Diameter

Diameter

Minimum

Makimum

Pertengahan

(mm)

(mm)

(mm)

0.425
0.3s5
0.300
0.250
0.212
0.1 B0

0.500
o.425
0.355
0.300
0.250
0.212

0.1 50

0.1 B0

0.125
0.1 06
0.090
0.075
0.063
0.053
0.045

0.1 50

0.46
0.39
0.33
0.28
0.23
0.20
o.17
o.14
o.12
0.10
0.08
0.07
0.06
0.05

0.125
0.'t06
0.090
0.075
0.063
0.053

IMassa

iVlassa

(e)

(%)

0.00
0.10
0.28
4.07
19.99
53.55
19.47
30.90

0
0
0
2

'16.80

8.16
7.94
2.16
0.59
0.36

12

33

B5

12

53

19

41

10

22

12

i::

l*2

.'ri

Mcdian grain diameter

o's-.o ?s

:0-l

r.0-0

pebbles, mustcls

I manh elc);

0
cambar 5.17 Peta sebaran sedimen dasar perairan menurut dr,, di Tay I slttdry,
lnggris (Buller & McManus,1975)

100

d. Analisis Konsentrasi

Sedimen

Contoh air yang diambil dari suatu kolom air akan melaltri l)r()\('\
filtrasi untuk memisahkan partikel-partikel sedimen dari air mclaltri st'lrtt,tlt
filter. Massa sedimen pada contoh air yang diambil diperolch rlt'tr1i,ttt

li
/:)

menimbang selisih berat kering filter setelah dan sebelum filtrasi. Kortst'ttlt,tst

a.

sedimen diperoleh dengan membagi massa sedimen tlr:t.l1-i.rtl vttlttrtlt' 'ttt


contoh. Data l<onsentrasi sedimen tersuspensi dipcrltrkatr lerttl,tttt,t tlttlttk

ii;n

mengukur laju pengangkutan sedimen (dan material pacl;ll t('rstlslx'ttsi l,titltty,t)

25

{1

I
KilornctrcsO I
statutcmrtesoiffi

mm
0.063

i-::l-4 0'125 {'063


:: 2-3 0.25 -o.l ?s

"

llr.llr.rirll;r l<,tr',tl<lr,t .,r,lt,tt,ttt ttl\ttt,ttt lrtlltr st'tlttllt'tt, y,ttltt: t/,,,, O l'r() tttttt,
si[al sehilran y,rrrg wr.// sttrlt'rl, k,rrr<luttg.ttr lltnrpttr l'1, tl,ttt sl,ttrtl,tt tI'vt,tst
ge6metrik o, = l. tt,. l),rl.t sr.tlimcn (lasar perair;rtt <lrs;riik,rrr tl,rl,rttt lrt'ttlttl<
peta sebaran sedimL'n yang dibangun melalui intcrpol,tsi lr.ttty,tI lolr,tst
pengambilan contoh sedimen. Cambar 5.17 mem[)orlill,tll<.ttt 1x'try,t;t,rtr
peta sebaran sedimen dasar perairan menurut diameter mtlrli.ttttty,t.

phi
li: > 4

iu 4

:i
;
I (mm)

;;;;;;; ;;;;;;;:;;,' ;;,;;,;,;,

100

100

l;;.;;,

100
100
97

0
0

164.37

TOTAL

iMassa

Kumulatif
(%)

--

{} (}.1 0.2
r/ (nrnr)

{).3

0.4

pada suatu kolom air atau bidang potongan pengukttr;tn. fik,r tlikcl,rlrrri
konst'tttrasi Sedimen cdalam kg/mldan kc'ceplatan ilrtls t/ rlirl,rm tlt/s, ltt,rk'r
lljrr ,rrr1ll.rrl,ur s('(limen q dalam kg/m's clipcr<lklh rlt'tl1-i,ttt:

tl

ttt

('r.ll)

(,aml>ar 5. / (r Hasil analisis contoh sedimen

118

ll(,

E"

,fnn l,i/-o.rl,
r= r _:__t
---rG&r
D_ r__r-__t:-_-]
_ ___: __ _r
Lalu .rrrgkut.l, sulim('a (/ nro,)y.ltak(rn
m(rss(r s(\li,r(,a y,lrH rr.r,rrgkrr
pada setiap m2 ruas pe'ampang
daram setiap detik. lrrf,rrrr,rsi raju
pengangkutan sedimen dari dua
penampang pengukuran ditujukan
untuk
kajian dinamika batimetri (perubahan
erevasi dasar perairan) di antara dua
lokasi potongan pengukuran (cambar
5.18). pendekatan ini mengasumsikan

bahwa tidak ada sumber sedimen rain


kecuari yang berasar dari dasar perairan.
Pada sistem yang ditujukkan pada
Cambar S. t A, lika e,,1eou,maka kapasitas
angkut yang dimiliki arus mengangkat
sedimen dari dasar ierairan sehingga
akan terjadi erosi (pengikisan). i"brriknyr,
jik" q,,r%,,, maka arus kehirangan
sebagian kapasitas angkutnya drn
,"nluirhkan sedimen yang diangkutnya
ke dasar perairan sehingga terjadi
aup*iri (pengendapan).

--

;;,,:,;;;;;;;-;;;;;r;,, ;;, ;; ; :; ;;'; ;. ;

st'lltlrti inttlraksi ,ttll,lr,r l),rlr,rlr z\lrr,rrr Sungai dcngirrr kaw.rs,rrr


lx,\rc1. l,,r,,1l.,rrr
stlclimen yang rli,rrrgktrl oh'h sttttgai adalah salah salu lrah,lr y,yrA
l)('1t1rli
untuk menjaga stabilitas pantar scbagai penggantisedimcn yang hil,rpg,rkilr,rr
c'nergi yang bekerja di pantai karena aksi gelombang rl.rn
l)itsul. l).rl,rrrr lr,rl
ini, sumber sedimen lain (selain yang berasar dari dasar llcr,riran) y,,r,.r
berasal dari permukaan tanah pada suatu sistem aliran sungai jug.r hartrs

diperhitungkan. Kelebihan pasokan dari sungai akan mengakibatk,rrr


pengendapan di pantai, sebaliknya kekurangan pasokan sedimen dari sulg.rr
akan mengakibatkan mundurnya garis pantai.

Referensi

Ali, M. (2004). Lapctran Pengukuran Arus pulau

l ."

SenraI<

l)tun

Tidak dipublikasikan.

i---.,^...
I

Buller, A. T. & McManus, ). (197S). Sediments r>f lht, I,ry


Estuary. r. Bottom sediments of the lJpper and L)py,r Mnrtlrr

Q,n

Reaches. Proceedings of RoyalSociety Edinburgh (7t>),

4l4vl.

de Jong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema,

^Q*

dhJ

--.rx

darcarperairar

Cambar 5./B Model perubahan elevasi


dasar perairan dengan lebar
satu satuan panjang

Perubahan elevasi.dasar perairan per


satuan waktu

dengan (misalnya: Soulsby, 1997):

ah

dq

0t

I- e 0x

dengan a

ITENAS.

(s.14)

= porositas sedimen. Akresi terjadi ketika


dhtdt>0, sehaliknya

erosi tcrjadi ketika Ohtdt<o.


120

0hl0t dimodelkan

L A. (2()o2)
Hydrography. Delft University press. Delft, The Nerhcrr,rntrs.
Dyer, K. R. (1986). Coastal and Estuarine Sediment Dynami<:s. Wik'y,rrrrl
Sons, Chichester, England, 2nd edition.
Cartner, ).W. (2002). Estimation of Suspended Solids Concentrations /t,rrr,r/
on Acoustic Backscatter lntensity: Theoretical tsar kgrouttt!.
Turbidity and Other Sediment Surrogates Workshop.
cordon, R. L. (1996). Acoustic Doppler Current profiler: prinriltl<,s ttl
Operation. RD lnstruments, San Diego, USA, 2nd edition.
Poerbandono & Mayerle, R. (2005). Measurement of Sedlment Translttrt
Dynamics. Submitted to ,Die Kueste,.
Poerbandono (2005a). Penggunaan Alat L)kur Arus cli perairan D,rngk;
B agi an I : T ekn ik d an Kete r and al an Penguku r an . D iscra h ka
n l<r' I rrr r, I
Poerbandono (2005b). Penggunaan Alat L-Jkur Arus cli l)cr,rirap l),rtrt:k,rl
ll,tgi,trr ll: Estimasi Parameter Dinamika /t,slslr. [)iscr,rlrk,rrr l<r'lrrrrr,rl

tltNAS

Sittt;r',r,tr, N,l li

(2001). Disr'lr,rr/lc Mr,,trrrr ttrrt,nt., u,,r,,lt


( rtrtt,rtr r'trtrrlt,r ( )pr,rr r rlr, r(r';r,rrr

,t llttt.trl li,tttrl,'\r orrsrlc r\4t1ilt'r


tll I Il',(,',, ( ,rltlorrrr,r, USA.

q
'!:'!/tT

'!,>

- - D- - - - DFr - ] D- - - DDFF>D>>- E
5<rtrlslry, li. L. (l<)()7). Dytt,ttrri<s <tl Marint, -\.rrrr/r. llrorrr,r,, lollor<l
Pr-rblications, Lonclorr, UK.
van Rijn, L. C. (1993). Principles of Sedlment Transport rn llivcr.s, [.stu.rries
and Coasta/ 5eas. Aqua Publications, Amsterdam, Tlre
Netherlands.
Wentworth, C. K. (1922). A Scale of Crade and Class Terms for Clastic
Sediments. Journal Ceology (30), 377-392.
D,

,,

Penetap:rn lBart'us l'lrrrl

kepastian httl<ttrrt lt'ttl'rtt1""


Penetapan batas lautditujukan untuk meniamin
.'tr'rlrt
(dalam konteks internasi6n'tl) 'tl'trt
batas-batas laut suatu negara pantai

penetapan Iral,ts l'rttl ''tt'rlrt


daerah pantai (dalam konteks nasional). Kegiatan

neSarapantaimerupakanimplementasidariKonvensillrtkrtrtrl,rrrl

perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau United Nation Cottvt'ttlrr ttt ri lltr'


sejak tahun l()ll'' rl'ttt t'"'tttt
Law of the Sea (uNCLOS) yang disepakati
berlaku pada tanggal 16 November 1994'
lndonesia tttttl'rt lr'rtry'rl
Penetapan batas laut daerah (nasional) di
(UU) No' 7'', l'rlrrttr
dibicarakan setelah clikeluarkannya Undang-undang
.lggg,
Pasal 1o Ay,rl l, y'rttg
terutama yang tercantum dalam Pasal 3 dan
kol'r
daerah propinsi dan kabupatt'rt

'tl'ttt
menyebutkan hahwa wilayah
l'tttl y'ttrg
12
mil
masing-masing
laut,
wilayah
terdiii dari wilayah daratdan
perairan l<t'pttl'ttt'rtr
diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau
untukwilayahlar-rtpropinsidansejauhsepertiganyauntukwilayalrl.rrrl

pemerintah propinsi dan l<itlrttp'rlt'tt


kabupaten atau kota. Dengan demikian,
daerahnya, baik wil.ry,rlr
atau kota harus menetapkln batas-batas wirayah
yang dimiliki clallat rlil'rl<s'rrt'rk'rtr
darat maupun wilayah laut, ag,ar kewenangan
dengan baik.

kctcnturtn-kt'lt'ttltl'ttt
Dalam konteks batas laut neSara (internasional),
tentangpenetapanbataslauttercantumdalamKonvensiHtlkumL.ttttl,llll
mclalLri Lll'l No lT
1g82. lndonesia telah meratifikasi konvensi tersebut

TahunlgB5padatanggal3lDesemberlgB.5,karenanya,lltrltlttr.lt.t

y'tttg

ketcntuatl-kt'lt'tlltt'ttl
berkewajiban untuk Secara konsisten melaksanakan
tt,tsiott'tl
perunclartg-ttnrl,lt.tg,ttt
produk
tcrcilat.m clalam konvensi. Semua
tirl,rk

lr.llI

lrcrtgnt,rng,an dengan k<.1nvenSi, tcrmasttk y'rrrg

scllagai s,tl,rh s,tltt


1tr.rrr,l,r1r,rn lr,rl,rr l,rrrt

Ix'rk'lit'ttt r|'ttg'ttt

ll,tgi,ln 1lt'tttitlg <l,tl,trtt 1x'trr'1i'rkk'rtr

Itttkttttt l,trtl ttlllrrr.r,'irltt,tl.


122

r/

'Y'

!:t':y-

A.

- r - - r - r DD- - - - DDr i D-

DD

- ED- - >Dr -

KONSEP BATAS LAUT BERDASARKAN UNCI,oS T982


Negara-negara pantai berkewajiban menyajikan batas wirayah

perairannya dalam bentuk peta laut atau daftar koordinat


geografis dari
titik-titik dasar (basepoints) terluar wilayahnya. Dalam peta laut
tersebut
harus disajikan informasi yang dibutuhkan bagi pelayaran,
serta yang paling

l',,,,
-.f,

DDD

.::i

penutup

garis air rendah = garis pangkal normal

Dalam uNCLos 'r982 ada beberapa wirayah atau zona perairan

yurisdiksi yang ditentukan dari suatu garis pangkal, yaitu:


(1) Perairan Pedalaman (lnternal Waters): pasal
B,
(2) Laut Teritorial (Territorialsea): pasal 3 _

r,,1,,,,, 1t,,r,,,, L,,,r

D---i:--

a)3

penting adalah garis-garis pangkal (base/ines) yang digunakan


untuk mengukui
batas-batas wilayah laut (maritime zone). Konsep penetapan
batas laut yang
tercantum dalam konvensi dimaksudkan untuk penentuan wilayah perairan
negara-negara pantai di dunia terutama negara-negara yang
telah meratifikasi
konvensi tersebut.

-*D

--

tlarrs arr rerrrlirh

-r-=
penutup teluk

*re
grrirprngk\C)/

16,

kepulauan

(3) Zona Tambahan (Contiguous Zone): pasal


33,

pelabuhan

(4) Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic


Zone): pasal 55
(5) Landas Kontinen (Continentat Shetft: pasal
76 _ 85,
(6) Laut Lepas (High Sea): pasal 86 _ 120.

75,

caris pangkal merupakan acuan penarikan batas terruar (outer rimit)


dari wilayah-wilayah perairan yurisdiksi tersebut. Ada dua macam garis
pangkal yang tercantum dalam UNCLOS 1982, yaitu:
(1) Caris pangkal normal (normalbaseline); dan

(2)

----i-l->-----D-

Cambar 6.7 Macam-macam garis pangkal

sendiri garis pangkal wilayahnya dan harus diperlihatkan pada peta l,rrri
atau dibuatkan daftar koordinat geografis dari titiktitik dasarnya. Selanjutny,r,
salinan dokumen tersebut diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB. l-l,rl
khusus yang harus diperhatikan adalah apabila dalam penetapan garis pangk,rl

tersebut berpengaruh pada hak negara pantai yang bersebelahan atau

Caris pangkal lurus (straight baseline), termasuk di dalamnya garis

berhadapan.

penutup sungai dan teluk serta garis pangkal kepulauan

(arch i pe I agi c b asel i ne).

caris pangkal normar dapat diartikan sebagai garis air

B. WILAYAH PERAIRAN BERDASARKAN UNCLOS 1982


rendah

(low water /lne) sebagaimana yang terrihat sebagai garis


kedaraman nor
pada peta laut skala besar yang diakui secara resmi
di negara tersebut.
sedangkan garis pangkal lurus adalah garis rurus yang menghubungkan
dua
titik dasar yang terletak pada garis air rendah (Cambar 6.tj.

Dalam uNCLos r9B2 disebutkan juga bahwa setiap negara pantai


bebas menentukan dan memilih garis-garis pangkal yang
akan digunakan
untuk menetapkan batas wilayah perairannya, asarkan memenuhi
beberapa
persyaratan yang diatur dalam konvensi. Kewajiban
suatu negilr.,r p,rrrai
berkaitan dengan penetapan batas wilayah pcrairan aclal,rh n,r('rr.rrtul\,ln
124

Wilayah-wilayah perairan berdasarkan UNCLOS 1982 ditunjukkan olch


Cambar 6.2 dengan penjelasan sebagai berikut.

a. Perairan Pedalaman
Berdasarkan pasal B UNCLOS 1982, perairan pedalaman adalah perair.rrr
yang terletak pada sisi darat garis pangkal laut teritorial.

b. Lnut Terltorial
| ),rl,rrrr ;r,r,,,rl

I tlN('t ()S 1 982 disehutkan hahwa

seti,rp nog,aril [)ar)t,u

-f
\7rx,
r

3-,

//,i/roXtn/,
-

D D-

ri-

t,f

-.--

D1-

--

tD-DBE--EDD5

-'

;;,;1.;,;;,:;;;;;;;,; ;;,; ;; ;

y.rrrg rliguttitk.ttt trrrl r tl* t ttt't

r1,it

tkt

tt l,tttt torit0ri,tl.

;;;

;;

i; ; ;,

trlik

pailgkal

Pada kawasan ini suatu negara pantai mempunyai hak cl<skltrsif r-rrrtrrk
melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pelestarian dan pengelolaan sumlx'r
daya alam (hayati dan non-hayati) di dasar, di bawah dan di atas laut, st:rl,t

350mil
alau
25il0m

kegiatan lain seperti produksi energi dari air, arus dan angin. Namun
demikian, semua negara lain dapat menikmati kebebasan pelayaran dan
penerbangan, sefta kebebasan meletakkan kabeldan pipa bawah laut, dengan
memperhatikan hak dan kewa.iiban negara pantai serta harus mentaati
peraturan yang ditetapkan oleh negara pantai. Lebar zona ekonomi eksklusif
tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal yang digunakan untuk
mengukur laut teritorial.

100mil.

,/

Cambar 6.2 Wilayah Perairan berdasarkan UNCTOS l9B2

berhak menetapkan lebar laut teritorialnya hingga suatu batas yang tidak
boleh melebihi 12 mil laut, diukur dari garis pangkal yang telah ditentukan.
Di dalam kawasan ini, negara pantai mempunyai hak berdaulat atas ruang
udara di atas laut teritorial, dasar laut serta tanah di bawahnya. penarikan
garis batas wilayah laut teritorial antara dua negara pantai yang berhadapan
atau berdampingan didasarkan pada garis tengah (median /lne) yang
titik-titiknya mempunyai jarak yang sama terhadap titik-titik terdekat pada
garis pangkal kedua negara, kecuali karena alasan historis atau keadaan
khusus. Caris pangkal untuk mengukur lebar laut teritorial harus dicantumkan
dalam peta dengan skala yang memadai atau diberikan dalam bentuk
koordinat geografis.

c. Zona

Tambahan

Zona tambahan dimaksudkan agar negara pantai dapat melaksanakan


pengawasan yang diperlukan untuk:

(i)

Mencegah pelanggaran peraturan bea cukai, fiskal, imigrasi di


dalam wilayah laut teritorial; dan

(ii) Menghukum

pelanggaran tersebut di atas yang dilakukan di clalam

wilayah laut teritorial.

176

d. Zona Ekonomi Eksklusif

e. Landas Kontinen
Landas kontinen suatu negara pantai meliputi suatu kawasan dasar laut
dan tanah di bawahnya dari daerah di bawah permukaan laut yang terletak
di luar laut teritorial, sepanjang kelanjutan alamiah daratan hingga pinggiran
luar tepi kontinen atau hingga suatu jarak 200 mil laut dari garis pangkal,

dalam hal ini tepi kontinen tidak mencapai jarak tersebut. Jika jarak tepian
kontinen lebih dari 200 mil laut, maka penetapan pinggiran luar kontinen
dilakukan dengan cara:
(i) Menghubungkan titik-titik tetap terluar dimana ketebalan batu
endapan paling sedikit 1"/" dari jarak terdekat antara titik tersehut
dan kaki lereng kontinen (titik perubahan maksimum); atau

(ii) Suatu garis lurus yang ditarik dari titik-titik

tetap yang terletak tidak

lebih dari 60 mil laut dari kaki lereng kontinen.


Namun demikian, garis batas terluar tidak boleh melebihi 350 mil lltrt
atau 100 mil laut dari garis kedalaman (isobath) 2500 m, kecuali tttttttk
elevasi dasar laut yang merupakan bagian alamiah tepian kontinen, 5,1'pt'r'li
pelataran (plateau), tanjakan, puncak (caps), ketinggian yang datar 1/;.rrlL)
dan puncak gunung yang bulat (spurs). Negara pantai harus menetapk,rn
batas lt.rluar landas kontinennya yang melebihi 200 mil laut dcngan t,tr,t
nt('n,lrk li,rris-g,tris lurus yang panjangnya tidak melebihi (t0 mil lattt, rlt'ttg.ttt
rrrr,rrp,lrrrlrrrnlgl',rn litik-titik tctap yang nlcmltuttyai k<l<lrrlitl,tl gt'o1ir,tfis.

,\i,n ///n1n/,
--rD-

-L---

-'----3--D-

-i-------D--

- - -r
(iit.ltb'tr (r"i ntt'ttltrl.rlih.rlk.rrr
l)('n(,rnruan llatas lancJas k,rrr,rr,rr lr,,rtl,rs,rrk.rn
konvensi Hukum Laut pBB tahun
i982.

;;;f"-

- - - - - - - - - - - B - - - - - - I:r'l',ri :

l'] : i :'

Scmua lr.rgi,rrr rl,rrr l,rul y,rng tirlak tcrtnirsrrk rl,rl,rnr /()n,l (,1\()n()ilil
eksklusif, laut tcritori.rl <l.rn lrcrairan pedalaman su.ltu n(,B.lr,r ,rl,rrr pr,r,rrr,rrr
l<epulauan suatu neg,ara kepulauan merupakan k:rwirs.ur l,rut k'p,rs. l,rrrl
lepas terbuka untuk negara pantaiatau negara tidak berpantai unluk rrrt'l,rl<ul<,rrr
kegiatan-kegiatan:

(1) Berlayar di bawah satu bendera negara,


(2) Penerbangan,
(3) Memasang pipa dan kabel bawah laut,
(4) Membangun pulau buatan dan instalasi
(5) Menangkap ikan, dan
(6) Penelitian ilmiah.

lainnya,

Kebebasan ini dilaksanakan oleh semua negara dengan nr()rlrlx,rlr,rlrl,,rrr


kepentingan negara lain dan ketentuan lainnya dalam konvensi. l,rrrt lr,p,r,,
pada dasarnya memang dicadangkan untuk maksud damai.

C.

PENETAPAN BATAS LAUT

DI INDONESIA

Dalam kaitannya dengan penetapan batas-batas wilayah pcr,rir,rrr rr,pr.rtr


yang diuraikan di atas, maka kegiatan yang harus dilakukan mcliprrti:
Cambar 6.3 Batas landas kontinen (lHO,
1993)

Negara pantai mempunyai hak


berdaurat atas sumber kekayaan aram
(hak eksklusi0 untuk tujuan
eksprorasi dan eksproitasi.
Jika negara pantai
tidak memanfaarkan haknya, tidak
seorangprr'aup;
kegiatan
eksplorasi dan eksproitasi tanpa persetujuan
tegas dari negara pantai yang
berhak' Negara pantaijuga berhak
menetapkan persyaratan bagi pemasangan
pipa dan kabel bawah raut negara
rain di atas randas kontine-nnya,
dengan
maksud untuk pencegahan, p"ngrrrngun,
dan pengendalian pun."rrrrn

,;r;;;r"

atau terganggunya kegiatan eksplorasidin


eksploitari."oi

,r*tr!

itu, negara
pantai mempunyai kewajiban
untuk melakukan pembayrrun rruu'rumbangan
berupa barang merarui pihak berwenang
bertarian dengan eksproitasi sumber
kekayaan alam non-hayati landas
kontinen di luar 200 mil laut.

128

(1) Penggambaran garis-garis pangkal.


(2) Penentuan wilayah laut secara teliti.
(3) Penentuan batas-batas lepas pantai (Laut Teritorial, Zona Tamb,rlr,r n,
(4)

Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen).


Pendefinisian batas-batas ekuidistan (sama jarak) untuk lx)n('t.rl),ur
batas laut dengan negara tetangga, jika batas yang norm,rl tirl,rk
dapat diterapkan.

Semua kegiatan

di

atas banyak terkait dengan aspek tc.knis, l('rul,rn,r

aspek geodetik dan hidrografik yang dalam implementasinya tid;rk

llirr lrcrtrlr,r

kegiatan survei dan pemetaan laut. Produk akhir dari kegial;rrr lx'n('t,rl),ur
batas seperti yang disyaratkan dalam UNCLOS 1982 lrcrtrp,r pcl,r l,rrrl ,rl,rtr
dalam bentuk daftar koordinat geocletik (gcogra[is) rl,rri titik titik lr,rl,rs
Kotr.,r,p y,rrrg acla rlalam 1..,N( t()S

l()li2 sr.lrcrr,trny,r rl,rp,rl

rlrtr.r ,rpl.,rrr

\('(,lt,l l,rtrg',rttrpi rrrrtrrk kcgi,rt.ln l)('n(,l,tl),rrr lr,rl,rs l,rrrl rrnlrrk rl,rr,r,rlt l)r()l)lr,,t
rl,ttt [,tl,rt;r,rllrr ,rl.ru kol.r rlr ltrrlotrr,rr,r 5t,r ,rr,r 1rr,rl.lr,,, ntr.nt,ttl]i rlrl,r.rlrr[,rrr
llt'ltrtt,tl ra lrrtltyr',iu,r.ln, lr,rul,iln,t y,rng lrr.tL,rtl,rtr (h.nH,ln lrr,lrrt,t;r,r lr,rl, y,rtlrr

l', ''. r"1""' l\"r"


DGi--

--

Fl

1
Dt

""r

_--DF-EDP>>---i!-Ea-l!Dti

tl,rl,tttt t'tl
l)t,rtrlt,lirrisi,rrr g.rris lt,rrrt.ri sr.1x'tti y,rrlg tlrrtr.rl<sttrl
.l
pacla l<eclucluk.rtr llltll\'r l'lrrl; 'rp'rk'rh
Tal-run 999, harus ielas mengacLl

Nrr. /2

mukalautrenclah(sepertidalamUNCLoSlgB2),nrlrl<.ll.rttll..ll.l-rilt.]
(sepcrti clalam
(seperti dalam peta rupa bumi), atau muka laut tinggi
peta-peta

h id

rograf i).

apakah garis pantai lurus (yang


Jenis garis pantai yang akan digunakan;
ke arah laut yang terletak pada garis

,"ngiubr'ngkan dua"titik terlJar


topografis pantai)'
pantli), garii pantai normal (yang mengikuti bentuk
,tru to,iUinasi keduanya (seperti dalam UNCLOS 1982)'

*11:

maka harus
Jika garis pantai lurus dapat digunakan,
'Oi
garis pantat
(terutama
panllng maksimum dari garis pantai lurus tersebut
sufgri, teluk, dan pelabuhan, serta pulau-pulau)'

!1:':1

<24mtl

lurus untuk menutupi

dari yang berlaku umum/


Harus ada ketentuan yang bersifat pengecualian

(terutamabagiwilayah."wilayah'lautyangSecarahistorismerupakan
propinsi tertentu)'
frrgirn yang"tidak terpisahkan dari suatu wilayah
sebagai contoh KePulauan Seribu'
dapat mencup.ui, 2 mil laut
Batas terluar wilayah laut propinsi yang
Laut Teritorial yang sudah
ticlak boleh metebihi batas ierluar dari bitas

propinsi B

UNCLOS 1982'
clitetapkan sebelumnya dalam rangka implementasi

Konseppenetapanbatasyansdikemukakandiatasselanjutnyaditerapkan
untuk wilayah laut yang terdiri dari:
meliputi wilayah laut yang dibatasi oleh

(1) Wilayah laut propinsi,

laut dari garis


garis pantai hinggu batas terluar seiauh 12 mil
apabila lebar laut
pantai. Satas terlilr 12 mil laut dapat berkurang
tersebut kurang dari 24
yang berbatmun l'ng'ung dengan propinsi
mil. Dalam kasus inl, maka penetapan batas terluar menggunakan
lain' Jika batas
prinsip sama jarak terhadap garis pantai propinsi
lain' maka,batas terluar
terluar rngrung berbatasan d"ngun negara
yang sudah ditetapkan
yang digunatui tiAat boleh meiebihi batas
tetanSEa' Sedangkan batas
antara negara lndonesia dengan negara
juga ditetapkan
laut dengan p,opinsi yaig bersebel'ahan
(Cambar
6'4)'
prinsip sama jarak
^unggrnukan
(2) wilayah laut kabupaten atau kota atau kota, terdiri dari sepertiga
wilayahlautpropinsi.Bataslautdengankabupatenataukotayang
prinsip sama iarak
bersebelahun frg, dilakukan dengan

titik pangkal

oaris batas oroPinsi


,i /
,
,
I

garis pantai

(Cambar 6.5)'
bertetangga yang berhadapan

Dalam konteks batas antar dua negara pantai


juga dapat diterapkan.
atau bersebelahan, konsep di atas

( ,,rrrrb;tr (r.5

Penarikan garis balas

lnl'rr propillsi

y'rng' llerst'belalr'rn

''::'

|,.,,, t,,|,,,,, I\,,r,,,, L,,,r

!! :!-

D.

- - F . r t - i - - -., - - - - - D - > > - > D - - r D - r,


IMPLEMEN'l'ASI PENETAPAN BATAS I.Atlt l)AllllAlt
DI LAPANGAN

a.

Penentuan Lokasi Daerah Survei

a]-i3t

---

--

Dt-----DD>>-

_G-_,-

_ -

Dr

t-r

retttlitlt

Survei geodetik dan topografik


Pengamatan pasut

Survei batimetrik

Survei geodetik dan topografik diperlukan dalam rangka penentuan


garis pantai (sebagai acuan penarikan batas) dan titik-titik panglcal (yang
terletak pada garis pantai), sebagai dasar untuk meng-klaim wilayah laut
sejauh 12 mil laut dari garis pantai ke arah laut atau perairan kepulauan,
sesuai ketentuan pasal 3 UU No. 22 tahun 1999. Survei ini juga diperlukan
untuk penentuan koordinat geodetik titik-titik referensi yang di lapangan
diwakili secara fisis dalam bentuk BM (bench mark).

Untuk menentukan lokasi daerah survei bagi penempatan titik-titik


referensi, diperlukan peta-peta seperti Peta Laut, Peta Rupa Bumi, Peta
Lingkungan Pantai, Peta Lingkungan Laut Nasional atau peta lainnya yang
relevan. lnformasi utama dari peta tersebut yang diperlukan bagi kegiatan
penetapan batas laut, adalah garis parrtai yang tergambar dengan baik atau
telah diperlihatkan secara jelas pada peta. Berdasarkan bentuk garis pantai,
selanjutnya dapat cliperkirakan letak titik-titik dasar (sesuai dengan penBertian
yang telah ditetapkan).

Lokasi titik-titik referensi sebaiknya ditempatkan

di sekitar pantai dan

berada di dekat titik-titik dasar, pada tempat yang aman dan tidak tergenang
air pasang, agar dapat bertahan lama. Secara visual diupayakan posisi

dapat
menjangkau posisi titik-titik dasar dengan alat ukur optis. Survei batimetri
dan pengukuran topografi pantai, idealnya dilakukan di sepanjang pantai di
dekat lokasi titik referensi dengan cakupan ke arah laut sejauh garis pasang
surut. Akibatnya, panjang jalur survei ke arah laut akan bervariasi, tergantung
pada kelandaian topografi dasar Iaut dan besarnya tunggang pasut. Semakin
landai dan semakin besar tunggang air, maka semakin panjang jalur survei
yang diperlukan. Pengamatan pasut sebaiknya dilakukan pada dua lokasi

yang mewakili daerah survei batimetri. Lokasi daerah survei, secara


keselurr:han dapat dilihat pada Cambar 6.6.

iltik

referensi
Cambar

Survei

di

6'6

'*

Daerah survei

garis pantai belum diketahui' lrk'r


atas diperlukan apabila

telahtersediapetadasar(PetaRupaBumiatauPetaNavigasiLaut).'[.rl,r
t r'tttt'tt
garis p"*i dapat juga ditentukan
besar, maka

'"'t*:'11-11:'-*ut
garis pantai pasut rt'ttrl'rlr
dengan asumsi bahwa
yang ada pada peta tersebut
peta'
garrs pantai yang ada dalam
berimpit dengan

b.

Pemasangan Pilar

Titik Referensi

Spesifikasipilartitikreferensidiperlukanagarterjadikeseragaman<l.tl.rrtr

pembuatanpila,oan,ntukkemudahanidentifikasidilapangan.Spesilrk.r.'r
yang diusulkan adalah:

.Titikreferensimerupakantitikyangdigurrakansebagaiacuantlttlttk
titik-titik pangkal di tapangan'
menetapkan

pilar beton bera.ngka besi dt'rrgttt


Titik referensi diwakili oleh sebuah
pada Lampiran ll clan tlir 'rl
bentul< dan ukuran seperti '"'iihut
dt'1t11'ttt
pada tanah yang cukup keras
warna biru laut, serta ditanam
tanah 'lo t trt'
sedangkan yang di atas
bagian yang ditanam 70 cm'

titik-titik referensi ini terletak sedemikian rupa sehin6ga masih

1\)

-D

gans all

Agar penetapan bratas wilayah laut antar propinsi di lndonesia dapat


dilakukan, maka diperlukan survei daratan dan lautan, yang terdiri dari:

(1)
(2)
(3)

.Padabagiantengahataspilardipasangsebuahkuni.nganllt'rht.ttttrk
til d"ngun tulisan Ktttlt' tl'ttt
l"mp"ng'n bullt berdiameteri0 pada buglr: samping Pil,rr kr'
Nomor Titik Referensi, sedangkan
arahlautdiberimarm.,u",ut.,,un)o*r6cm,dengantLllis.rrrlitrk
Referensi Batas Laut ProPinsi'

relatif 'tttt'ttr tl'ttt


sedemikian rupa sehingga
ol.,r',i pil'rr rlipasang
's'lat
memttngl<irrl<irtr rlilltrll'rll''rtr
,"' l'"'l
fasang' dan iika
i,rrrp,l.,rrr,rrr
tl'tt'r'tlr'
rlt It.tl,rtrt,ur l"rttlot 1rcttlcritll'tltittl
I

t::

c.

=l

r r - - - - B r - - - - -- - rr - r - DID' F - G - - -,
Penggambaran dan Penentuan Koordlnat 'l'lllk lfntas

!!:'!-

r.

Berdasarkan berbagai kemungkinan letak titik-titik parrgk,rl, nt,rl<,t su;rlu


titik pangkal dapat:

Terletal< pada kontur kedalaman nol (garis air rendah sepanjang


pantai).

Terletak pada bentukan alamiah (misalnya: batu, karang, dan gosong)


yang tampak di permukaan laut pada waktu air surut.

Terletak di tepi pantai yang terjal/curam, sehinBga tidak mungkin

diperoleh kontur kedalaman nol, akibatnya posisi titik pangkal

I'l'l']-'l I i': !':t


>
- - i ] B - r r - ]- - F- - G - - - D D - - - - - Itclcl'cnsi

(|()()l). Icr /ttttr 'rl ;\s, t|r ll'


Intt,rrr.rtional Ilytlrogr .rplrrr ( )lg,rrrtz,tliot-t - ll-l()
of tl-re L,tw ,l rir,' s,',,. .Strxr.ia/ ['ttl.,lir:ttti<ttt Ntltttlr.r '; l' l"t ltlrlrtttr'
lnternational l-lyclrographic Bureau - IHB' Mot.titt <l'
Pustaka
Ktrliah' [)t'trt'tlril
Djunarsjah, E. (2003). Aspek Teknik Hukum Laut. Diktat
lTB. Bandung, lndonesia'

ditempatkan pada tepi tebing.


Apabila koordinat titik-titik dasar telah tergambar, maka letak koordinat
titik batas wilayah laut propinsi dan kabupaten atau kota dapat ditentukan.
Posisi titik dan garis batas terluar sejauh 12 mil laut dapat ditentukan secara
grafis atau digambarkan pada lembar lukis teliti skala 1:25000 berdasarkan
posisi titik{itik pangkal tersebut (Cambar 6.7).

Apabila dalam konteks negara pantai, informasi mengenai batas harus


diserahkan kepada Sekjen PBB, maka dalam konteks batas daerah, Menteri
Dalam Negeri lndonesia yang berwenang untuk mengesahkan batas laut
antar daerah (Propinsi atau Kabupaten/Kota).

titik batas

titik batas 2

L---:;:^:;:-;,
garis batas terluar

l2millaul

l2millaut

titik pangkal

titik pangkal 2
1

.'1

garis Pangkal lurus

Canrbar 6.7 Penentuan titik batas wilayah laut dari garis pangkal lurus

1ld

il5

,lir* //,,/.yte/,
----,-

---,b--!-D--_

=l
___D-

D-__DDDb-_

__D

_D

Transformasi l(oord i nrtl

Berikut ini adalah rumus yang digunakan untuk melakukan tratrsfot'ttt,tsi


dari sistem koordinat kartesian ke sistem koordinat geodetik.

Z + e'2.bsin3 0
p e2 acost g

orur(

7 = atanZ(Y,X)

(4. r)

t^- P
n=--N(E)
cos(q)

dengan (p,1,h = lintang, bujur dan tinggi di atas elipsoid darr X, Y,


koordinat kartesian ECEF serta parameter-parameter lainnya:

N(rP) =

- e2 sinz rp

deng;rn ,t = setengah sumbu panjang elipsoi<l rr'[t'rcnsi, /r


lrt.rrrlr,k clipsoirl,

1]6

f = (a-b)lb

dan e2 =

2[

'-

st'lct rg,tlt rt ttttl rtt

l'.

ll

,(,*, //,/.g.(,
!--f

rGrI

E -

*-

r----IlG!-;-I-:-!-t]-=D

Rr.rrlrus y,lng (li!lun,tl<;rrt trtrlrrk t)r('l.lkukiln tr.tttsfortn,rst rl,rtt',t',llnt Io()t(llll,ll


geodetik ke sistem koordinat kartesian adalah:

rGf

D
-F',-D!D--_

R,,=

X =(N+tu)cosEcos/.

f = (N + ft)cosE sin 2

Etr-

-,

rr,,1't'

JC'O

""

,l l,

Jt-,';

sin(9n )r

(4.2)

z =(w$- r')* h)sintp

aB
S

Berikut ini ditunjukkan penggunaan rumus baku Molodensky untuk


konversi posisi suatu titik, misalnya, pada datum Bessel 1841 ke
WCS-84, jika diketahui koordinat geodetik pada datum Bessel 1841 rp*
.lrdan hu serta parameter-parameter elipsoid du, f s, e*2 = 2f ,-fr,2*"rno
dan f*"rno. Parameter-parameter datum shift Bessel 1841 ke WCS-84
diketahui 6X, ,Y dan 62.

--_t

G"=-

in(E

),Y

dengan:
Konversi ke datum WCS-84 diperoleh

@*crso

tr*orro

-' )'u +

Qu+6E
6)"

(4.4)

Pergeseran lintang, bujur dan tinggi di atas elipsoid referensi adalah:

l'*orro=hB+6h

-"[d1.,,*R.
61 _

-dX

sin

(R,,

cos(pB

7, y 6Y cos2a

+ hr)costpu

6h = 6X cos (pB cos


+

- (t- f ,)),i,,a,

/.,

+ 6I/ cos rp, sin ,1., + 6Z sin

(4.3)

tp u

- 6aa'

R,,

6/(l - f ,\R,,sin rp, sin @B

dengan 1-fu = brlau dan pergeseran parameter-parameter elipsoid:

6a = a*"rno-au

6f

= f*.rno-fo
:

]:l

ll8

l19

Y'
'l
,\i.n,

//,,/.,y.a/,

-ElrBEtt-E-G-lEl--rf

-IEIItr_DDD

__

_ _ _ r

_r

t
Model Matematika Penentuan lDosisi

Hubungan fungsional antara pengamatan (besaran yang diukur) dc'ttg.ttt


parameter (besaran yang akan ditentukan nilainya) dinyatakan dalam morl'l
matematika penentuan posisi. Besaran-besaran yang diukur adalah ,rr,tlt,
sudut, jarak dan selisih jarak.
Semua model matematika yang telah dilinierkan dapat ditulis dalanr lrcrrtrrl.

umum:

W+AX-V =

(lt.l)

dengan W = nilai pendekatan yang dihitung berdasarkan koorrlttt,tl


pendekatan minus nilai yang diukur (misalnya, d'.,,-d';,,), A = fi,tlrtk',
desain, X = parameter yang dicari, yairu dx,,, dy,, atau d{p,,,c17,,<latr
V = residu pengamatan. Persamaan 2.1 diselesaikan dengan mtllorlr'
kuadrat terkecil:
X=-(ArpA)'1(ArpW)

(8.2)

dengan p = matriks berat pengamatan. Selanjutnya koordinat rlcfinitif


titik u dapat dihitung dengan:

*=Xo+X

(8.3)

dengan f = prtr*eter, .lP = parameter pendekatan dan X = koreksi [r,ttl,t


parameter pendekatan. Persamaan 2.2 dan 2.3 diselesaikan sccar;t ilcr,tlil.
Parameter pendekatan dapat ditentukan secara grafis, berdasarkan dal,t ttktrr,rrr

atau scmbarang.

140

t4r

,\;,.*, //,,/Htrdl,
D-

-D-Df-E-----t-D--BD----D----DlD
--

Pengamatan Arah

Hubungan antara arah su;rtu garis


dengan titik-titik yang dik.t,rlrrri rr.r,
akan
ditentukan nilai koordinatnya pada
sisteir koordinat
kartesian dapat dinyatakan

dengan:

-rlErEtr-D-----------r,=--ttt,tl<,t l)<'rs,rnt.r,rr r ll.

(8.4)

yr)-

*u- *,
\- o
.r,,
v',
[
)-"

diu = run-'(

(B's)

dengan a,,= drah iLt, (x,,.-I,,) = koordinat


titik u sebagai titik yang akan
ditentukan koordinatnya', (x,, y,) koordinat
=
titik i sebagai titik kontrol
yang diketahui koordinatnya.' persamaan
8.5 dapat diririerkan dengan
uraian menurut deret Taylor:

F,,=

OLlro

-0_*
*;
p"

- o"!"

d),u

d?,,'

Y;
- p"
d!,

7*'

't:),"

..0

::'

-Ji

l,

d*u

-vai,, :

(ll

rl)

dengan 8,,= f(x,-x0,,)2+0,- y',)'l* = jarak pendekatan titik iu. [)r'rrg,rrr


cara yang sama dapat juga dibentuk model matematika untuk pcn6i,ul,rt,ur
azimut, jika digunakan sistem koordinat geodetik, yaitu:

Fi, = al, - alu +

Y;"i"

dEi

r-: "*,r,1,cosalu dAi

r, M ,, sinol, ',ru+ Nr, .orraf .ora,f, dlu -va,,,, = g

(ll

'))

oi,,

Pengamatan Sudut

X = (xr!rx,,,!,),

Pada dasarnya, sudut adalah selisih dua arah sehingga dapat clitulis:
(xo,,,!o,,)

= koordinat pendekatan titik u, L = a,,u


= arah
iu definitif danLo =-4r,',,'- arah iu
rf,r[n.
tika 0F/0X= _1 dan misalkan
(L- L') adalah harga residLt (vg,),maka persamaaan
a.s dapat
dituris:

P,, = d(xi,!ito,,yo,)

-ff ,+da(x,,!;,x,,,!,,) -

Vd,,=

dengan

da(x,,li,x,,.yu )= ?o or,*do ou, *


dxi d*, / (
142

1r.

dengan M dan M, = jari-jari kelengkungan meridian yang m<'l,rr.,r rrrrk


i dan titik u, N. dan N, = jari-jari kelengkungan normal parla lrirl,rrrg
yang tegak lurus bidang meridian i dan meridian u, (e,, A,) = koorrlrrr,rl
geodetik titik i, (cp,,,7,,) = koordinat geodetik titik u, q = buiur rl,rrr
l, = lintang.

aFf -xo _aFf-*


dF,
tu_
'
P = (x,,y,,'un,,.yu,,),

(B.6)

,, = ob,,yi,xl,yl)-ok,

Oxl*o

rl,rr lr

Fi,, =a!, -dl',, * o")'u - li

dio,,

F',,,- dF,

dengan

dFo

rr tr,r

{}

atau dapat ditulis sebagai fungsi yang


tidak linier:

F,, = d(x,, !i, xr,

i'

- ------

dl,,'

x'-xitanC,iu !,-!i

I , ,,,t1,,,.,,,
D---

D-

Oo
0.r,,

(8.7)

fri,i=

d,la,,i

(ll . l0)

sehingga model matematika pengamatan sudut merupakan sclisih rrrork,l


matematika arah F., dan F;,. Pada sistem koordinat kartcsian, rn.rk,r rnorh,l
matematika penBamatan sudut adalah:

-t
I

,\'o.*, //,,/.o1.d,
l:EE-E

--E

rrtrtr--

Ir-r-

l-l

----I.rt

- - D - - r --

- - - - - - - - - - r - -E D - -'- -' :"Jr'J'

;;;;---

;;;;;

4 +or, - vl -!ax. - 'll-', ,,,,


dy,'

Fiuj = a?ri -a,Yui

dy,'

IltrllLrngan antarit l)(.nl.i,u]l,rl,ltr iarak clcngan k<ltlrtlitt,tl litik y,rrrg,rk,rrr


clitentukan dalam sistem koordittat bidang datar arlalah sclr,tg,ri lx'tilittl:

d'],"

d.(x,,lr x,, !u) = [(/,

#,. l+#),,

-p

- *,)'+

Fiil =d(x..v..x.v)-d.
\ I,rt
u.ru,
dengan

pengamatan sudut adalah:

oq ,

_Nl

*M (ti"of; -rinaf,
"[
d?"

-*2;*, o*, -Yl, oYi dy, -vdiu

il.i

d',u

at

v,

"ot,pl

roraf;i

Fiu =by,
(B.

2)

dan cP,,

".

144

' "ool,"?' a,p'i +

_M u.orafi aE,,
tu +lr,?
p"

N! cosq:;ina?'

o^"

ryjql sing,! d)",, -vtt,,, =0

(ll. l(,)

p"

Pengamatan Selisih Jarak

= jarak pendekatan lu dan ju yang dihitung dari


koordinat pendekatan titik u, ff,ui = harga sudut yang dihitung dari
koordinat pendekatan titik u dan ff = harga sudut hasil pengu kura n.

d."

- dr,)-M

dl,

-Vfriuj =0
dengan

u iu

adalah:

l,o a ju
- N,ol
ldL"
| .orrpf ,otaf;,

i.-

(ll l")

=o

Dalam sistem koordinat geodetik model matematika untuk pengam,tt.trt i,tt,tlt

colco]rp'oL

dl'

(8. r 4)

=0

dk)-.?':r\0,,-#or,

Fi, =bY, -

p?,- ui,-,,':,:,!?v aqi*Nlcosql'1osal't

:;,"1,

(lt. I ])

l^

d, = harga jarak definitif dan d(x,, Yi, X,,Y,\ = har8a iar;tk y'rtrg'

Jika sistem koordinat geodetik yang digunakan, maka model matematika

**

y,,)'

dihitung dari Persamaan 8.13. Persamaan 8.14 dilinierkan menggtttt,tk,ttt


deret Taylor dan dengan cara yang sama seperti model matematik,l ttttlrtI
pengamatan arah diperoleh:

_Vfrirj =0

atau dapat ditulis dalam bentuk fungsi sebagai berikut:

tu

Fiuj =

Or

Model matematika selisih jarak diturunkan dari m<xlt'l matcmatik,t 1x'tlg,trtt,rl,rrr


jarak:

duu=dJu-d.

(lr I /)

Iu

l4'l

t::'

fl
!'!''f"!r

B G r r G -- - r r -. : r - i - E B - r D - E - D - - - - r r r,

Model m;tlcntatika l)()n,l.lrnillarr sclisilr j.rr.rl< lr.rrla sistcrrr koorrlrrr,rt l',rrlr.sr,rrr


adalah:

l,anr;linrn

oo."o

+'i d*,*\d,i-+dx
dY,
df,
aju
^*, '

Fij, =b?, - dY,)- d#,

y!,

y,

a', 'l''

(,|,-r'
.l1f

,y,-

*[-',

Segiempat dan BIiPs Kesalahrtn

_ rg:r,

ai, lar,
)

Pendekatan Trigonometrik dan Segiempat Kesalahan

yl-y,)
-;f)dYu-vdii'=o

Cambar C.1 memperlihatkan penentuan posisi k menggunakan kollllritt,trt


(8. 1 B)

Pada sistem koordinat geodetik, model matematika pengamatan selisih jarak


adalah:

F,j,

=bi, - al,)- a?,, -*,"ol,oio,


M

,cosal,
" ,.^,, ( u , rotol,

oEj-l

P"

(
-l
dengan

aE',

Nl

rrt,plsina,g,

IP"
lu

tu

lu

ill

Nf cosEf sin ol,,


p"

al,,

ik. Bidang itu disebut sebagai segiempat kcs.tl,tlr,rtr y,rtrg


merupakan visualisasi geometrik ketelitian penenttl,ttt po',r',r l'
Cambar C.2 memperlihatkan segiempat kesalahan yang t('rlx'rrlrrl' rl'rrt

pengamatan ik dan

pengamatan arah-arah dari kombinasi LOP,, dan LOPr,..

_u ,"r""?r)Or;

P"

ff.$

(B.19)

_N! c2;olsinai;
p"

(f . d.. oP . o,o

l. Jika [)orrl],rrrr,rl,rrr
(a,u!.o,r
<l;ttr rr,^ lrl^),
kesalahan
mengandung
dari
i
dan
l<e arah k dari
i
maka k akan berada pada bidang yang dibatasi garis-gar-is l<r's,rl,rlr,ttt
LOp garis lurus dengan pengamatan arah di titik i dan titik

),t-

-vd,t, =g

dihitung dari (rp, 7,), (e1,2,) dan

(O',,, Lu,,).

I r,.,"

rl

)r/
/\.
Gambar

146

C.l

Penentuan posisi titik k dari i dan


pengamatan arah-arah ik clan ik

I dcngan

t4l

,\i,,,t,
-

//,,/.,,y.

t-

l)'trlit

t/,
DD--

t_t._ilD___>__

--lD__il

_-

D>-

_ t

p,l,r8,l.

g.lris yillr!r s,l.r-r.rt r<.rir, g,rris,r.lrr l()r,,, tr,rJr,rr rlr,rrr1i1i,r1r


o*o,,dan LoP,, seiaiardengan 13*.,,, schingg,r,rk,rrrrlrpt,rel,h
dua segitiga siku-siku yang dibentuk oleh sisi-sisi a da,.' o
s.rt,r.lelr
sisi-sisi b dan or. panjang d, yang merupal<an ukuran
k"rrgr_rrgrrn
penentuan posisi k, berbanding terbalik ketelitian penentuan
posisi k. Artinya,
semal<in panjang d semakin ruas pura segiempat kesarahan
yang terbentur<
atau semakin rendah pula confidence region posisi k. serain
d, 0 juga
sejajardengan

merupakan parameter segiempat kesalahan dengan pendekatan


trigonometri.

;; ;;, ;;,,,,;;;;;;;;;,;;l;,"

;:;-

strrltrl y.rng bcrharl,tp,rn rk'rrg,rrr r/ pilcla st:gilig,r


runr.rs c-osinus dari scgitiga lll diperolelr:

a2

b2

lll ,rrl,rl,rlr (llt( l l,)

(c.

-2abcos(180-0)

l<arena cos(180-0)
sebagai beril<ut:

;;

l)r'tr1i,rtr

))

= -CoS?, maka Persamaan C.3 dapat ditulis kembali


(c.4)

cP=a2+b2+2abcos9

F*on
Dari Persamaan-persamaan C.2 dan C.3 diperoleh:

---'t','
lll d -*-j
CTr, \'

= oo.csc9

(c.s)

6,r.CSC0

(c.6)

Substitusi Persamaan-persamaan C.5 dan C.6

l<e

Persamaan C.4

menghasill<an:

G*tr,

ttTt

LOpr
Gambar C.2 Segiempat kesalahan dari pengamatan LOpodan

Parameter segiempat kesalahan

d dan

[Op,

diperoreh dengan tahapan yang


dijelaskan berikut ini. Dari segitiga I diperoleh:

(C.1)

Dari segitiga ll diperoleh:

b=

148

= cscOi\o&

* ob +2ooo B cosO/

(c.7)

dengan e,= e,rooSo, op= olorp.Slr, Su = panjang LOP,, dan 5p = panjang


LOPr. Besarnya 0dinyatakan dengan persamaan:
g

= mod lajr'a,r+360",1 Bo"l

0 = min

oa
sin 0

11

[A 180"-0]

(C.B)

(c.e)

Cambar C.3 memperlihatkan segiempat kesalahan dalam penentuan posisi


dengan kombinasi LOP garis lurus. Pada titik k, 0 = 180"-(diL-a,,,-180"),
sedangkan pada titik l, 0 = d,u -4, -.180".

oa
sin 0

G.2)

1Acl

,\l,tn; //,/.,y,r/,
t--

--E---

---E--B!-E-EE_:__;D->_

__

_i

E_

;::;;,; ;;; l;;;;;

;;;;;;;;ffi ;;: ;.,- .,;';

rl<'rt'l T.tylttr dillt'rolt'll lirrit'ris,rsi tttrluk 1x'rsitrtl,t.tlt lct"r'lrttl

J4)=.r(r.)*#

*.WL*

+ .!t;l:)

"r'lr't1-1'tt

Ax"

",

lx'ttIttl

-0

(c. r r)

saja ddri
dengan n = oo. Jika sementara digunakan suku pertama dan ke dua
persamaan C.13 maka diperoleh linerisasi Persamaan C.11 sebagai:

L+v=f(x,).q#)*=o

(c.14)

iteratif' lika
Suku-suku ke-3 dan selaniutnya akan ditemukan kembali secara
fungsi dari X,,,
Xn adalah parameter pendekatan maka diperoleh L, sebagai
yangdinyatakandenganLo=f(X,,),kemudiandXdinyatakandenganmatriks
X dan turunan parsial p"rtrru f(X) terhadap X sebagai matriks A, maka
persamaan C.14 dapat dituliskan kembali menjadi,
(c.1 s)

v=AX-F
Gambar

c.3

segiempat kesalahan dik dan / menggunakan kombinasi


garis lurus dari i danl

top

dengan 5 = (L-Lo). A disebut sebagai matriks koefisien atau matriks desain,


penutup'
sebagai matriks parameter dan F disebut sebagai kesalahan
X disebut

Pendekatan

Persamaan C.1 2 dituliskan kembali sebagai:

Analitik dan Elips Kesalahan

L= f(*)

substitusi Persamaan C.15 ke Persamaan C.16 memberikan:

(c.10)

Jika u adalah besaran yang hendak ditentukan nilainya dan n aclalah data
pengukuran maka redundansi r = n-u. Jika L adalah pengamatan yang
mengandung kesalahan dan L adalah pengamatan yang diangap benar
maka hubungan antara ke dua pengamatan tersebut dinyatakan dengan:

v=L-L

(c.1

1)

dengan v sebagai koreksi atau residu. prinsip kuadrat terkecil menyatakan:

(c.12)
150

(c.1 6)

@=vrv mln

Hubungan antara pengamatan dengan parameter dinyatakan dengan model


umum:

vrv =

(Arxr-r)(Ax-o = ArA{X-AXFI-ArYF+FIF

(C.17)

Minimasi persamaan C.1 7 diperoleh dengan turunan parsialnya terhadap


yang memberikan:

x = (ArA)-tArF

(c.1

X,

B)

c.1B termodifikasi
lil<a bobot pengamatan p tak seragam maka Persamaan
nrcrr j,rrli:

.\.

(At pA) trt pF


t

(c. re)
151

$|rx,
r rr

//n/.01,a/,

r I ! D El.-G-

rleng,an

1r.lr,r

E f,

It

1l.rr13.lrn(rl(ur 1t

Gr-._rGGr-Il

1/ol .

q,

diperoleh dari ketelitian alat.

- > l D, ' F D G E

aclalatr v.lri,lrrsr r)(,rrH.r,,rr,rr y,rrrl

'cambar C.4 memperlihatkan


penentuan posisi k dengan kombinasi garis
posisi lingkaran konsentrik dari i dan
l.

'

-sC,

Grf

Ir=

r -'J--==

DDl = GI Er 3 r ' I

rtt
I

selringga diperoleh koortlittitt titik k sebagai beriktrt:

=rl +tr
,1,=ri +lv
xl

(c.2 3)

dengan xr, = koordinat pendekatan untuk xu dan yuo = koordinat pendekatan


untuk y*. xur dan yu, adalah koordinat titik k yang diperoleh dari iterasi
pertama. Selanjutnya, koordinat tersebut dipakai sebagai koordinat k

(^:

0,r.,.

L rlrl'lrr

r'3 - = ! Err'-

pendekatan untuk tahap iterasi berikutnya. lterasi dilakukan terus hingga


konvergen ((Ax, Ay)+Q). Selanjutnya, disusun matriks variansi-kovariansi :

(x,f,),,,,,..11'

\d,
\
\

Ix

\ /(d'J4,
II

-r"

(e'pt| = I "i o.,l


Lo,, "i

(c.24\

Kualitas pengukuran yang diselesaikan dengan pendekatan analitik

Gambar C.4 penentuan posisi titik k dari titik i dan titikl


menggunakan
kombinasi garis posisi lingkaran konsentrik

Modelfungsional untuk masing-masing pengamatan jarak pada


kasus seperti
yang ditunjukkan pada Cambar C.4 dinyatakan
dengan:

F,=i,*=(i* - fr,)' +(y* - i,)rlt'i


F, = i 1r= (.io - i,l+(io - r,y)

direpresentasikan dengan elips kesalahan (error ellipse) yang dibangun dari


matriks variansi-kovariansi di atas. Ellips kesalahan ini menjelaskan kualitas
pengukuran (atau pengamatan) secara visual. cambar 2.41 adalah elips
kesalahan yang diperoleh dari matriks variansi-kovariansi.

(c.20)

Koreksi v pacla pengamatan memberikan:

[ao,

t;t

!f I

r;l
L# #lr^ir

(c.21)

Solusi aplikasi prinsip kuadrat terkecil dinotasi dengan:


Gambar C.5 Elips kesalahan

* = fA'l
lA,

152

((" t2)
151

,tl,r,r, //,,/r,yr,(,
D]

---t

_-_

_ _ __i__.__t

_ _-D*D-.D_
--i--

tlips l<r's,rl,rlrirrr rIill.rrrgun (lilri unsur._unsLr-.r (sct(.nu,llr


b (setengah sumbu ptnclek) clan g (rotasj sumbu

srrrrrl,rr

ul.trrr.r tlrps

sumbu probabilitas variabel x) yang


diperoleh dengan:

r,rtr;,rrrg),
lcr lr,rrl,rtrr

l,rrntlrir:rn

lD

h---"

o' =;(oi * o)*

iG: -ol)+oi,

o'=)(o? *",?)-

)b: - oi)+ oi,

(c.2 s)

(c.26)

2o

tan20= , 'r.
o; -o;

(c.27)

Tiga persamaan terakhir di atas diturunkan


dari fungsi probabiristik variaber
x dan y. Berdasarkan geometri erips kesarahan
yang diperoreh, dapat dirakukan

analisis untuk menentukan kuaritas pengukuran.


Erips kesarahan yang
berbentuk lingkaran atau nyaris lingkaran (a
= b) menunlul<kan bahwa tidak
ada korelasi antara x dan y. Kemiringan
erips terhadap iumbu probabiristik
x menunjukkan korelasi antara variaber
x dan y.Jika erips t"rutrr,r, miring
ke kiri, maka dikatakan bahwa x dan
y berkorerasi positif, sebariknya jika
elips kesalahan miring ke ka.an maka
dikatakan bahwa x dan yberkorerasi

negatif.

Standar l(etelitian Survei Hidrografi

Sejalan dengan perkembangan teknologi baru dalam bidang survei dan


pemetaan, terutama dalam l<aitannya dengan semakin luasnya pemanfaatan

teknologi satelit (misalnya: CPS) untuk keperluan penentuan posisi


berketelitian tinggi, penggunaan multibeam echosounder atau swatll sonar
untuk pengukuran kedalaman dan penyelidikan dasar laut yang dapat
mencakup 100% area survei dasar laut, serta kemajuan teknologi komputer
untuk perkapalan, IHO menetapkan standar hidrografi baru yang
dipublikasikan pada bulan April 1998. Standar survei hidrografi tersebut
merupakan pedoman bagi negara-n('gara anggota IHO (termasuk lndonesra)
da la m menyelenggara lca n survei -su rvei h idrografi.

IHO Standards for Hydrographic Surveys dipublikasikan dalam bentuk


Special Publication Number 44 (SP-44 IHO) Edisi ke-4, menggantikan standarstandar survei hidrografi sebelumnya yanB dipublikasikan berturut-turut tahun

1958 (Edisi ke-1), tahun 1 982 (Edisi ke-2) dan tahun 1987 (Edisi ke-3).
Ketiga standar survei hidrografi tersebut dimaksudkan untuk keperluan
pembuatan peta navigasi laut yang digunakan sebagai pedoman untuk
pelayaran. Penentuan skala survei didasarkan pada fase-fase rravigasi laut
yang dicerminkan oleh semakin besarnya sl<ala peta untuk fase navigasi
yang semakin dekat dengan pelabuhan. Skala survei selanjutnya dijadikan
sebagai dasar untuk penentuan standar ketelitian penentuan posisi, mulai
dari l<etelitian posisi titik-titik kontrol pantai lringga ketelitian dari
objek-objek yang akan clipetakan.
Pada edisi ke-4, penekanan diarahkan pada pengumpulan data untuk

memenuhi berbagai kebutuhan pengguna. Standar ini tidak hanya


drmaksLrdkan untuk keperluan pembuatan peta navigasi laut dan publikasi
navig,rsi, tetapi juga untuk memenuhi keperluan seperti: pengumpulan data

Irirlrolir,rli lr,rgi manaiemerr kawasan pesisir, pengawasan lingkungan,


1rr,rrll,r1r,rrr lr,rl,rs l,rul nasional (implementasi UU Rl No. 22119()9) rl,-rn
154

sxl%rr

r.E E- E E- - E r r : Br - - E r rr r - r D - - ] r r. r
- internasional (implementasi uNCLos 1gB2), pcmork,l,ur l,rur rlan

meteorologi, serta berbagai proyek kerekayasaan termasuk untuk lx,nggalian


sumber daya ketautan (lHo, 1998). sP-44 ini akan diperbaharui setiap
lima tahun sekali (Monahan & wells, 2000). Di samping perubahan dalam
standar ketelitian penentuan posisi (berbasis sateli0 maupun cakupan area
surveidasar laut 10}o/o (dengan multibeam echosounder), pemakaian Sp-44

edisi terbaril irti disertai pemahaman tentang teori kesalahan, terutama


pengertian tentang tingkat kepercay aan g|Yo yang berkaitan dengan ketelitian
posisi dan kedalaman.

Klaclflkaal Survel
Survei hidrografi dibagi berdasarkan berbagai persyaratan ketelitian untuk
daerah yang disurvei (Tabel D.1). Standar ketelitian untuk masing-masing
orde survei mencerminkan kepentingan ini dan secara efektif menggantikan
standar penentuan posisidan kerapatan data berdasarkan skala yang digunakan
pada standar survei hidrografi edisi sebelumnya.
Tabel

ontr

Spesid

CONTOH

Pelabuhan,

DAERAH

D.l l0.rtrilrcl

Pelabuhan,
pelabuhan
tempat
berlabuh, dan nrendekati
terusan kritis terusan, jalur
dengan
anjuran, dan
hambatan
daerah
sarat kapal
perairan

minimum

dengan

nrryel
2
Daerah yang

DaerAh lepas

tidak tercakup pantai yang


dalam Orde tidak tercakup
Spesial dan 1, dalam Orde
atau daerah
Spesial, 1,
dengan
dan 2
kedalaman
hingga 200 m

kedalaman
hinesa 100 m

Survei hidrografi orde spesial mencakup daerah dengan karakteristik dasar

laut yang berbahaya bagi keselamatan pelayaran. Orde survei ini


membutuhkan ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan dengan standar
ketelitian yang lama. Kantor atau dinas hidrografi negara anggota IHO
bertanggung jawab untuk menentukan daerah mana saja yang harus disurvei
dengan orde ini, termasuk kualitas data hasil survei. Survci ()r<le l
dimaksudkan untuk daerah pclabuhan, perairan pantai d,ln pr.rl,ll,yrr,ul,
r56

;;;;;;;; il;;,;, ;;;;,;

:,, : ; ; ;:; ;; ;,

berllahaya (misalnya: pasir). Standar yang digunak,ttt p,trl,t otrlt' rlli l('l,rlr
cligunakan pada edisi-edisi SP-44 sebelumnya. Survei ()rtlt' 2 rl,tp,tt rlilxrkai
untuk daerah dengan kedalaman kurang dari 200 m yang tidak tercakup
'1, sedangkan spesifikasi untuk Survei
oleh kriteiia Orde Spesial atau Orde
Orde 3 dapat dipakai untuk daerah dengan kedalaman lebih dari 2O0 m.

Fenentuan Poslsl
Pada SP-44 Edisi ke-3, disebutkan bahwa kedalaman ditentukan relatlf
terhadap titik kontrol sedemikian Fupa sehingga kemungkinan 95% posisi
kedalaman yang benar terletak dalam lingkaran dengan .iari-iari 1.5 mm
pada skala survei. Sebagai contoh, untuk skala survei 1:5,000 kedalaman
terletak 0-7.5 m terhadap posisi sebenarnya dengan tingkat kepercayaan
95%. Dengan demikian, semua peralatan dan kemungkinan kesalahan yang
berkaitan dengan penentuan posisi, serta kesalahan penggambaran titik-titik
kedalaman (baik secara manual maupun dengan alat plotter), termasuk di
dalamnya.

Dalam standar survei hidrografi yang baru (SP-44 Edisi ke-4), ditetapkan
berbagai ketelitian posisi horisontal dengan tingkat kepercayaan yang sama,
yaitu 95o/o, namun untuk empat macam orde survei. Salah satu konsep baru
yang muncul adalah adanya standar ketelitian posisi yang bergantung pada
faktor kedalaman (depth-dependent) yang dikaitkan dengan ketidakpastian
posisi kedalaman dari sistem multibeam sonar dengan bertambahnya
kedalaman (Tabel D.2).
Tabel D.2 Standar ketelitian posisi titik kedalaman
ORDE

Spesia!

KETELITIAN

2m

m*

5o/d

20 m+ 5"h d 150 m t5"/"d

HORISONTAL
d = kedalaman dalam m

Ketelitian relatif titik kontrol primer yang digunakan sebagai acuan untuk
pencntuan posisi titik kedalaman dalam standar survei hidrografi edisi baru
a{,rl,rlr I :100,000 (survei terestris). Jika penentuan posisi dilakukan dengan
satr.lrl (trtr,,,rlrry,r: CPS), maka kesalahan posisi titik kontrol yang dihasilkan
lirl,rk lrnh,lr rrrrL.lrilri 10 <'m rlertgan tingkat kepcrcayaan 95'2,. Stxlangkan
157

'!':' !!f!-

DB

-E- ] - - - -- r r - - -r r - ->- - - D - - D r D r

trntuk titik krltttr<ll sttkttttrlcr y,tttg rligtrnirl<.rn trrrtrrl< lx'n(,nlu,ul po,,rsr

yang penting dalam survei hidrografi dalam standar baru, ditentukan dengan
standar ketelitian yang diperlihatkan pada Tabel D.3.
Tabe! D.3 Standar ketelitian posisi alat bantu navigasi dan fitur penting lainnya

ORDE

Alat bantu navigasi tetap dan


fitur pentine baei navieasi
Caris pantai alami
Posisi alat bantu navigasi apunq
Fitur topoerafis

ORDE

2m

5m

10 m

20m

10m
10m

l0m

20m
20m
20m

Pengukuran Kedalaman
Kesalahan total dalam pengukuran kedalaman, mengacu pada Sp-44 Edisi

ke-3, tidak boleh melebihi 0.3 m untuk kedalaman kurang dari 30 m atau
1'/' dari kedalaman untuk kedalaman yang lebih dari 30 m, dengan tingkat
kepercayaan 9o'h. lni tidak termasuk kesalahan yang berkaitan dengan

pengukuran pasut, penentuan datum kedalaman dan transfer datum


kedalaman dari lokasi pengamatan pasut (palem atau tide gauge). Kombinasi
kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan pasut tidak boleh melebihi
kesalahan yang diizinkan untuk pengukuran kedalaman. Sedangkan konsep
atau hal baru yang dimasukkan dalam SP-44 Edisi ke-4 terdiri dari:

(1)

Peningkatan tingkat kepercayaan dari 9oo/. menjadi 95Y" agar dapat


digunakan untuk pengukuran-pengukuran dalam survei yang lebih
I

(2)

(3)

uas.

Standar ketelitian kedalaman terbagi menjadi kesalahan yang bersifat


tetap (flxed error) dan kesalahan yang bergantung pada kedalaman
yang bervariasi untuk masing-masing orde survei.

Kesalahan-kesalahan pengamatan pasut, penentuan datum dan


transfer datum kedalaman telah termasuk dalam penentuan ketclitiarr

kedalaman secara keseluruhan.


158

;;;;;;:;

;.- ;,"-,;;

llirt;rs-ltatas kesalaharr (o) urrtuk ketelitian keclalam,rrr rlrlrrlrrtrg tttt'trggtttt,tl<,ttt:

(D.1)

a' + (ua)'

dengan a = kesalahan kedalaman independen (jumlah kesalahan yang bersifat


tetap), b = faktor kesalahan kedalaman yang dependen, d = kedalaman dan
bd = kesalahan kedalaman yang dependen (jumlah semua kesalahan kedalaman
yang dependen). Nilai a dan b untuk masing-masing orde survei ditentukan
berdasarkan Tabel D.4.

ORDE2&3

2m

20m

,;;;;;:;,.,,

lol<,rl

(tidak boleh digunakan untuk memperbanyak titik korrtrol) rrrcnrprrrry.ri


ketelitian relatif 1:10,000 jika penentuannya dilakukan se(:(rr(r lr,ristris flan
kesalahan posisi maksimal 50 cm jika menggunakan teknik penerrtuan posisi
dengan satelit. Posisi horisontal alat-alat bantu navigasi dan fitur-fitur lainnya

SPESIAT

--;.;:;

Tabel D.4 Standar ketelitian pengukuran kedalaman


ORDE

Spesial

KETEL!TIAN

a=0.25m

KEDALAMAN

b = 0.0075

a = 0.5m
b = 0.013

a = 1.0m
b = 0.023

a = 1.0m
b = 0.023

Kerapatan Data dan Deteksi Fitur Bawah Laut


Untuk mengantisipasi tuntutan akan kerapatan data yang dibutuhkan untuk
penyelidikan bawah laut, terutama yanB berpotensi membahayakan pelayaran,
maka standar tentang hal ini disediakan pada standar survei hidrografi Edisi
ke-4. Pada edisi sebelumnya, lebar lajur survei (berkaitan dengan daerah

cakupan dasar laut) didasarkan pada skala survei, yaitu tidak boleh melebihi
satu sentimeter pada skala survei dan interval titik kedalaman tidak boleh
melebihi 4 hingga 6 cm pada skala survei kecuali pada daerah yang relatif
datar atau dasar laut yang beraturan. Pendekatan yang lebih ilmiah dilakukan
oleh IHO sejalan dengan perkembangan kemampuan komputer pengolah
data serta kemajuan teknologi side scan sonar dan multibeam sonar yang
telah dicapai.
Realisasi dari konsep baru tersebut adalah dengan penentuan kedalaman
dasar laut terbaik yang disebut model batimetrik dengan metode interpolasi
kedalaman hasil pengukuran. Data survei yang dapat diterima atau ditolak,
dinilai dengan membandingkan model kesalahan yang dihasilkan dengan
nil,ri yang didasarkan pada Persamaan D.1 untuk ketelitian kedalaman dengan
rril,rr ,r rl,rn /r seperti yang ditunjukkan pada Tabel D.5. Jika melebihi statrrlitr
y,rll, {lrlrr,r rl.,rrr, rn;rl<a titik-titik kcdalam;ln harus lellih rlirapatkarr.

l5(,

,\im
If

l,J.2.a/,

r..l-l.f

-E-Br:r.f

I_L_E:__f

I:___>Da

_ - I r r: r

Tabel D.5 Standar kerapatan data, deteksi


fitur bawah raur, rr:'ar rajur
maksimum dan ketelitian model batimetrik

Mungkin

diperlukan pada

;;;;"-;;;;,;,;il;,

;;;,

;;;;;, ;

daerah survei harus dikombinasikan dengan kesalah,ttt 1x'trgttkttr,trt ktrl,tl,tttt,ttl

untuk penentuan ketelitian

titiktitik

kedalaman.

Beberapa pengukuran lainnya, seperti pengambilan sampel bawah laut


dan pengamatan arus laut juga masih dicantumkan dalam SP-44 Edisi ke-4.
Pengambilan sampel bawah laut dimaksudkan untuk menentukan kondisi
dasar laut (dapat juga disimpulkan dari berbagai sensor, seperti: echosounder,

side scan sonar atau sub-bottom profiler). Kondisi dasar laut ini diperlukan

antara lain untuk penentuan lokasi peniangkaran kapal. Pada kondisi


normal, pengambilan sampel tidak diperlukan pada daerah dengan kedalaman

10%d jika lebih

TIMETRIK
TINGKAT

b = 0.05m

lebih dari 200 m. Jarak antar sampel umumnya 10 kali dari lebar jalur
survei yang terpilih. Untuk penentuan daerah lokasi penjangkaran, jarak
antar sampel dapat semakin dirapatkan. Sedangkan pengamatan arus laut
biasanya dilakukan pada daerah sekitar pelabuhan dan terusan, terutama
jika kecepatan arus melebihi 0.5 knot. Secara umum, pengamatan arus
sebaiknya dilakukan sepanjang mereka dapat membawa pengaruh terhadap
navigasi permukaan. Lamanya pengamatan tidak kurang dari 15 hari (dapat

mencapai 29 hari) dengan interval minimal satu jam'

Berkaitan dengan lebar lajur survei pada edisi-edisi


sebelumnya, bergantung

pada skala survei, sedangkan pada standar


yang baru bergantung pada
kedalaman rata-rata perairan (lihat: Tabel D.5). pengecualian
berlaku untuk
orde spesial yang menggunakan cakupan dasar laut 1oo%. pembesaran

lebar lajur survei dapat saja dirakukan, jika prosedur-prosedur


yang ada
telah dipenuhisehingga menjamin deteksi
bahaya secara baik. Sistem-sistem
sonar yang digunakan untuk masing-masing
orde survei harus mampu
mendeteksi fitur bawah raut, sesuai dengan standar
yang diberikan.

Lain-lain
Dalam standar survei yang baru, persyaratan
yang berkaitan dengan
pengukuran tinggi (pengamatan) pasut juga
terah ditetapkan. Kesarahan
pengukuran total tidak boreh merebihi t
5 cm pada tingkat kepercayaan
95% untuk orde spesiar dan t 10 cm untuk
orde survei rainnya. Kesarahan
pengukuran tinggi pasut ditambah dengan
kesalahan pada pr,rs,., rx,rontuan

Agar dapat dilakukan pengkajian secara komprehensif terhadap kualitas


data survei, diperlukan dokumen untuk memfasilitasi penggunaan data tersebut
untuk berbagai keperluan pengguna. Semua informasi yang berkaitan dengan
kualitas data (metadata) hendaknya tidak hanya berkaitan dengan kapal

survei, daerah, tanggal dan peralatan yang digunakan, tetapi iuga tentang
prosedur-prosedur kalibrasi, penentuan kecepatan gelombang akustik dan
metode-metode reduksi pasut. Estimasi tentang ketelitian data yang berkaitan
dengan tingkat kepercayaan sebaiknya juga dimasukkan.

Referensi
lnternational Hydrographic Organization, (1998). IHO Standards for
Hydrographic Surveys. Special Publication Number 44, 4th
Edition. lnternational Hydrographic Bureau - lHB, Monaco'
Monahan, D. & Wells, D. (2000). IHO SP 44 Standards for Hydrographic
Surveys and the Demands of the New Century, Ocean Mapping
Croup, UNB, Canada.

160
161

"!nDD

!':'!'!T

-D r -- -.r

D- r--D

D.-r---

-- - - D, r, -

Pustaka
Djunarsjah, E. (2001). Standar Survei (Baru) clalam .strrvcl t tidrograf i
(sP
- 44 lHo Edisi ke-4 Tahun t99B). Forum rlmiah Tahunan rsr.
Surabaya.

Federal ceographic Data Committee (2000). ceospatial positioning


Accuracy Standards. subcomrnittee on Marine and Coastal spatial
Data, Federal Ceographic Data Committee. Virginia, USA.
Janhidros TNI-AL (1983). Standar Ketelitian Survey Hidrografi, Jawatan
Hidro-oseanografi TNI-AL. Jakarta.
Mills, J. (1998). New /nrernational standards for Hydrographic Adoptect.
Newsletter Seahorse. The Hydrographic society of America, vol.
Vll No.4. Rockville, USA.
Thomson, D.8., Wells, D.& Falkenberg, w. H. (r981). An rntroduction
to Hydrographic surveying. Lecture Notes No. 53. University of
New Brunswick, Canada.

Poerbandono menyelesaikan riset doktoral tentang


pengukuran dan pemodelan arus dan angkutan

di

Departemen llmu-ilmu Kebumian,


Fakultas.-Matematika dan llmu Pengetahuan Alam,
Universitas Kiel, Jerman 1999 -2003' Sejak diangkat

sedimen

menjadi.dosen
Dr. der Nal. Poerbandono,

s.T., M.M.

di

Kelompok Keahlian (KK)

Hidrografi, Departemen Teknik Ceodesi, Fakultas


Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) - lnstitut
Teknologi Bandung ilfg) t 997, ia mulai tertarik

dengan kajian dinamika fisik kawasan pesisir, angkutan sedimen dan instrumen
akustik bawah air. Publikasi-publikasinya di konferensidan workshop ilmiah
internasional dalam 3 tahun terakhir, seperti: lnternational Conference on

Coastal Engineering, Coastal Sediment, ADCP

Users

Workshop, F/C dan IEEE Working Conference on Current Measurement


Technology, bertopik pengukuran dan pemodelan angkutan sedimen serta
penggunaan instrumen akustik untuk pendugaan kandungan dan laju angkutan

sedimen. Poerbandono adalah dosen di Departemen Teknik Ceodesi ITB


yang bertugas mengajar mata kuliah Hidrografi, Angkutan sedimen dan
Dinamika Pesisir pada program sar.iana dan mata kuliah Dinamika Pesisir
pada program magister. Tahun ini hingga dua tahun mendatang ia diminta
sebagai post-doctorate research fellow di Universitas Kiel, Jerman untuk
menjalankan penelitian tentang pengukuran dan pemodelan dinamika badan
air dan sedimen di perairan tropis serta beberapa tugas akademik lainnya
dalam rangka kerjasama penelitian dan pendidikan antara ITB dan
Universitas Kiel, Jerman. Lahir di Jember, 25 Januari 1970. Menamatkan
Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP)dan Sekolah Menengah
At;rs (SMA) rli kota yang sama. Menikah dengan salsalia Anggaraswati sejak
1()()') rl,rrr '.r'i,rk 2000 dikaruniai satu anak laki-laki.

"162

161

Ilonlrlbulor

Eka Djunarsjah adalah Magister Teknik alumni


Departemen Teknik Ceodesi FTSP - ITB tahun 1996
dan kandidat doktor dalam bidang teknik geodesi
dan geomatika di departemen yang sama. la
menaruh minat pada pengembangan peta laut
elektronik, teori navigasi laut dan spektrum
implementasi Aspek-aspek Ceodetik Hukum Laut
(Ceodeti c Aspects of the Law of the
lr. Eka Djunarsiah, M,T.
Sea-CALOS)- yang menjadi tema riset doktoralnya.
Diangkat menjadi dosen di KK Hidrografi, Departemen Teknik Ceodesi
FTSP - ITB tahun 1994 dan banyak terlibat dalam kegiatan nasional yang
berkaitan dengan kajian pemetaan pesisir dan laut serta penetapan batas
wilayah di laut. Telah menghasilkan beberapa diktat kuliah tentang hidrografi
dan Aspek Teknik Hukum Laut untuk Departemen Teknik Ceodesi FTSP lTB. Di Departemen Teknik Ceodesi lTB, saat ini Eka Djunarsjah aktif
mengajar mata kuliah Hidrografi, Aspek Teknis Hukum Laut dan Sistem
Pendukung Keputusan pada program sarjana dan mata kuliah Batimetri dan
Penentuan Posisi pada program magister. Selain itu, ia pun adalah dosen di
Sekolah Tirtggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) yang bertugas mengajar
mata kuliah Survei dan Penentuan Posisi Kelautan. Beberapa penelitian
yang pernah dilakukannya antara lain: Pemetaan Batas Propinsi Laut dalam
Perspektif UU No. 22 tentang Pemerintahan Daerah, Kajian Batas Laut
lndonesia dan Timor Leste, Kajian lmplementasi Kadaster Kelautan di
lndonesia, Kajian Batas Maritim lndonesia dan Negara Tetangga, Kajian
Datum Maritim Batas Laut lndonesia dan Negara Tetangga dan Model
Prediksi LAT untuk Penetapan Batas Laut di Perairan lndonesia. Lahir di
Curup, 27 luli 1967 dan menyelesaikan SD di kota yang sama, menamatkan
SMP hingga SMA di Bandung. Tahun 1996 menikah dengan Laksmi dan
dikaruniai satu anak perempuan yang lahir tahun 1 997.
1AA

Setelah menamatkan program magister di


Universitas New Brunswick dengan topik tesis
penentuan posisi horisontal di laut dengan gelombang

- menyelesaikan penelitian
radio, Samsul Bachri
doktoral di Universitas Curtin, Australia pada tahun
1999 dengan topik disertasi tentang deteksi
i:
lr. Samsul Bachri,
M.Eng., Ph.D.

perubahan daerah aliran sungai dengan penginderaan


jauh dan sejak ZOO3 menjabat Ketua KK Hidrografi.

Telah menjadi akademisi di KK Hidrografi,


Deparremen Teknik ceodesi FTSP - ITB sejak tahun 1979 dan telah

berkontribusi pada Forum llmiah Tahunan lkatan Surveyor lndonesia dan


beberapa konferensi CALOS. Memi nati Sistem I nformasi Ceografi dan apl i kasi
data penginderaan jauh untuk hidrografi pesisir dan perairan pedalaman.

Lahir di Bandung, 28 Maret 1954 dan menyelesaikan pendidikan dasar dan

menengah di kota yang sama. Tahun 1985 menikah dengan Lina Herlina
(198{}
dan dikaruniai seorang anak perempuan (1985) dan dua anak laki-laki

dan 2002).

Hasanuddin Z. Abidin menyelesaikan penelitian


doktoral di Departemen Teknik Ceodesi dan
Ceomatika, Universitas New Brunswick, Kanada
pada tahun 1 992 dengan topik disertasi tentanS,
aspek-aspek geometrik dan komputasi pemecahan
ambiguity secara on-the-fly pada pengamatan sinyal
Clobal Positining System (CPS). Sejak tahun 1986

di KK Ceodesi, Departemcn
lr. ]larantrtltlin Zainal Abidin, menjadi akademisi
M.Sr.. Ph.l).
Teknik Ceodesi FTSP ITB dan telah barry;rk
rrrprrrl,rrlrlrl.,r,,rk,rrr lr,rsil-hasilJrenr.litiitnnya pada iurnal-f urnal rlan krlnfi'rctrsi

165

ilmiah ittlt'rtt;tsiott;rl <littr tt.tsiottitl st:rl,t lclirlt ptrllr nrlrrrrlr,,

lr,,l r,,r,rp,r lrrrl<rr

teks. Meminati aplil<asi CPS untirl< berbagari aplil<asi peren(.ln,r,urrl,rrr irrrltrslri,


mitigasi bencana dan vulkanologi. Pernah menerima beberapa pcnglrargaan

nasional dan internasional sebagai dosen dan peneliti teladan. Lahir di


Jakarta, B Agustus 1960 serta menyelesaikan SD di Jakarta dan Aceh serta
SMP dan SMA di Jakarta. Menikah dengan Budi Mulyanti (1 985) dan dikaruniai
anak perempuan (1986) serta tiga anak laki-lal<i (dua di antaranya tahun
1 990 dan 1 995).

lrdam Adil adalah Magister Tel<nik dari Program


Studi Ceofisika Terapan, Fal<ultas llmu Kebumian
dan Teknologi Mineral - ITB 1994 dan saat ini
merupakan akademisi di KK Hidrografi, Departemen
Teknik Ceodesi FTSP - ITB yang paling
berpengalaman dalam hidrografi praktis. Selak
menjadi dosen ITB 1984 hingga kini, ia menaruh
perhatian besar pada instrumentasi dan otomatisasi
al<uisisi dan transmisi data batimetri serta telah
banyak terlibat dalam berbagai kegiatan survei hidrografi untul< perencanaan
wilayah perairan dan eksplorasi lepas pantai. Pengetahuan hidrografinya
diperkuat saat menjalani pendidikan lanjutan di Universitas New Brunswick,
Kanada 1989-1990. Kelahiran Jal<arta, 21 September 1952 dan di l<ota yang
sama pula menyelesaikan SD hingga SMA. Menil<ah dengan Neny Widya
sejal< 1983 dan dikaruniai dua anak lal<i-lal<i (1984 dan 1990) dan seorang
anak perempuan (1998).
lr. lrdam Adil,

l6fr

M.T.