Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan
ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan halhal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia
dan para pendidik yang beraliran humanism biasanya memfokuskan pengajarannya pada
pembangunan kemampuan positif ini.
Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang
terdapat dalam domain afektif. Emosi adalah karakterisitik yang sangat kuat yang nampak
dari para pendidik beraliran humanisme. Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap
individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka
hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Teori humanisme ini cocok
untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segala bidang berpengaruh terhadap
meningkatnya kritis masyarakat terhadap mutu pelayanan kebidanan. Sikap etis
profesional bidan akan mewarnai dalam setiap langkahnya, termasuk dalam mengambil
keputusan dalam merespon situasi yang muncul dalam asuhan.
Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar atau salah,
kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku. Etik berfokus pada prinsip
dan konsep yang membimbing manusia berfikir dan bertindak dalam kehidupannya
dilandasi nilai-nilai yang di anutnya.
Pembangunan bidang kesehatan secara terpadu dimulai sejak tahun 1978, yaitu sejak
dikeluarkannya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
IV/MPR/1978 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara dan Keputusan Presiden Nomor
7 Tahun 1979 tentang REPELITA III. Sejak itu kesehatan menempati bagian tersendiri
dalam pembangunan nasional secara keseluruhan. Berdasarkan kebijaksanaan yang
dituangkan dalam GBHN, disusunlah Sistem Kesehatan Nasional. Sistem ini merupakan
suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia meningkatkan kemampuan
derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa Pengertian Humanistik ?
1

1.2.2 Apa Saja Hak-Hak Klien Dalam Kebidanan ?


1.2.3 Apa Saja Tindak Kekerasan Dalam Kebidanan ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui Pengertian Humanistik.
1.3.2 Mengetahui Hak-Hak Klien Dalam Kebidanan.
1.3.3 Mengetahui Tindak Kekerasan Dalam Kebidanan.
1.4 Metode Penulisan
Makalah Ini Menggunakan Metode Literatur.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Humanistik
2

Teori Humanistik
Beberapa psikolog pada waktu yang sama tidak menyukai uraian aliran
psikodinamika dan behaviouristik tentang kepribadian. Mereka merasa bahwa
teori-teori ini mengabaikan kualitas yang menjadikan manusia itu berbeda dari
binatang, seperti misalnya mengupayakan dengan keras untuk menguasai diri dan
merealisasi diri. Di tahun 1950-an, beberapa psikolog aliran ini mendirikan
sekolah psikologi yang disebut dengan humanisme.
Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana
manusia melihat kehidupan mereka. Mereka cenderung untuk berpegang pada
prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia. Mereka berfokus pada
kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam
mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka.
Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan
perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap
dan perilaku mereka.
Dua psikolog, Abraham Maslow dan Carl Rogers, sangat terkenal dengan teori
humanistik mereka.
Teori Abraham Maslow
Tahapan tertinggi dalam tangga hierarki motivasi manusia dari Abaraham
Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Maslow mengatakan bahwa
manusia akan berusaha keras untuk mendapatkan aktualisasi diri mereka, atau
realisasi dari potensi diri manusia seutuhnya, ketika mereka telah meraih kepuasan
dari kebutuhan yang lebih mendasarnya. Teori hierarki kebutuhan Maslow
digambarkan pada halaman 247.
Maslow juga mengutarakan penjelasannya sendiri tentang kepribadian
manusia yang sehat. Teori psikodinamika cenderung untuk didasarkan pada studi
kasus klinis maka dari itu akan sangat kurang dalam penjelasannya tentang
kepribadian yang sehat. Untuk sampai pada penjelasan ini, Maslow mengkaji
tokoh yang sangat luar biasa, Abaraham Lincoln dan Eleanor Roosevelt, sekaligus
juga gagasan-gagasan kontemporernya yang dipandang mempunyai kesehatan
mental yang sangat luar biasa.
Maslow menggambarkan beberapa karakteristik yang ada pada manusia yang
mengaktualisasikan dirinya:
a. Kesadaran dan penerimaan terhadap diri sendiri.
b. Keterbukaan dan spontanitas.
c. Kemampuan untuk menikmati pekerjaan dan memandang bahwa
pekerjaan merupakan sesuatu misi yang harus dipenuhi.
3

d. Kemampuan untuk mengembangkan persahabatan yang erat tanpa


bergantung terlalu banyak pada orang lain.
e. Mempunyai selera humor yang bagus.
f. Kecenderungan untuk meraik pengalaman puncak yang memuaskan secara
spiritual maupun emosional.
Teori Pribadi Terpusat Manusia dari Carl Rogers
Carl Rogers, seorang psikolog humanistik lainnya, mengutarakan sebuah teori
yang disebut dengan teori pribadi terpusat. Seperti halnya Freud, Rogers
menjelaskan berdasarkan studi kasus klinis untuk mengutarakan teorinya. Dia juga
mengembangkan gagasan dari Maslow serta ahli teori lainnya. Dalam pandangan
Rogers, konsep diri merupakan hal terpenting dalam kepribadian, dan konsep diri
ini juga mencakup kesemua aspek pemikiran, perasaan, serta keyakinan yang
disadari oleh manusia dalam konsep dirinya.
Kongruensi dan Inkongruensi
Rogers mengatakan bahwa konsep diri manusia seringkali tidak tepat secara
sempurna dengan realitas yang ada. Misalnya, seseorang mungkin memandang
dirinya sebagai orang yang sangat jujur namun kenyataannya seringkali
berbohong kepada atasannya tentang alasan mengapa dia datang terlambat. Rogers
menggunakan istilah inkongruensi (ketidaksejajaran) untuk mengacu pada
kesenjangan antara konsep diri dengan realitas. Di sisi lain, kongruensi,
merupakan kesesuaian yang sangat akurat antara konsep diri dengan realitas.
Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya inkongruensi ini ketika
mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang
tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana
mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa
diterima. Disisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak
kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan kongruensinya. Remaja
yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang kondisional akan meneruskan
kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa
diterima di lingkungan.
Dampak dari Inkongruensi
Rogers brefikir bahwa manusia akan merasa gelisah ketika konsep diri mereka
terancam. Untuk melindungi diri mereka dari kegelisahan tersebut, manusia akan
mengubah perbuatanny sehingga mereka masih akan tetap mampu berpegang
pada konsep diri mereka. Manusia dengan tingkat inkongruensi yang lebih tinggi
akan merasa sangat gelisah karena realitas selalu mengancam konsep diri mereka
secara terus menerus.
4

Contoh:
Erin yakin bahwa dia merupakan orang yang sangat dermawan, sekalipun dia
seringkali sangat pelit dengan uangnya dan biasanya hanya memberikan tips yang
sedikit atau bahkan tidak memberikan tips sama sekali saat di restauran. Ketika
teman makan malamnya memberikan komentar pada perilaku pemberian tipsnya,
dia tetap bersikukuh bahwa tips yang dia berikan itu sudah layak dibandingkan
pelayanan yang dia terima. Dengan memberikan atribusi perilaku pemberian
tipsnya pada pelayanan yang buruk, aka dia dapat terhindar dari kecemasan serta
tetap menjaga konsep dirinya yang katanya dermawan.
2. Hak-Hak Klien dalam Kebidanan
Hak Pasien
a. pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan
yang berlaku di RS.
b. Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi adil dan makmur.
c. Pasien berhak memperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan profesi
bidan tanpa diskriminasi.
d. Pasien berhak memperoleh asuhan kebidanan sesuai dengan profesi bidan
tanpa diskriminasi.
e. Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya.
f. Pasien berhak mendapatkan informasi.
g. Pasien berhak mendapat pendampingan suami selama proses persalinan
berlangsung.
h. Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya.
i. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat
kritis dan mendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.
j. Pasien berhak menerima konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di RS
tersebut.
k. Pasien berhak meminta atas privacy dan kerahasiaan penyakit yang
diderita termasuk data data medisnya.
l. Pasien berhak mendapat informasi.
m. Pasian berhak menyetujui atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter
n.
o.
p.
q.

sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.


Pasien berhak meolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya.
Pasien berhak didmpingi keluarganya dalam keadaan kritis.
Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama.
Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama perawatan di

RS.
r. Pasien berhak menerima arau menolak imbingan moril atau spiritual.

s. Pasien berhak mendapatkan perlindungan hukum atas terjadinya kasus mal


praktek.
t. Hak untuk menentukan diri sendiri.
u. Pasien berhak melihat rekam medik.
3. Kekerasan Dalam Praktek Kebidanan
Bentuk Bentuk Kekerasan Dalam Praktek Kebidanan
Kode etik diharapkan diharapkan mampu menjadi sebuah pedoman yang nyata
bagi para bidan dalam menjalankan tugasnya. Tapi pada kenyataannya para bidan
masih banyak yang melakukan pelanggaran terhadap kode etiknya sendiri dalam
pemberian pelayanan terhadap masyarakat. Keadaan tersebut merupakan suatu bentuk
kekerasan dalam praktek kebidanan.
Bentuk dari pelanggaran ini bermacam-macam. Seperti pemberian pelayanan
yang tidak sesuai dengan kewenangan bidan yang telah diatur dalam Permenkes
Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan.
Contoh bentuk kekerasan yang dilakukan oleh bidan adalah penangan kasus
kelahiran sungsang, melakukan aborsi, menolong partus patologis serta kekerasan
terhadap bayi dalam praktek kebidanan.
a. Kekerasan dalam pelayanan kebidanan ANC
Kekerasan dalam pelayanan kebidanan ANC sering terjadi secara fisik,
psikis, finansial, atau pembatasan ekonomi dan seksual yang menimbulkan
nyeri dan kerusakan yang berdampak lama setelah kejadian tersebut. Hal
ini membutuhkan tugas perkembangan yang pasti dan tuntas meliputi:
menerima kehamilan, mengidentifikasi peran sebagai ibu, membangun
hubungan yang baik dengan suami, orang tua, petugas kesehatan, janin
yang ada dalam kandungannya dan menyiapkan kelahirannya kelak.
Kekerasan pada ibu hamil berdampak langsung maupun tidak langsung
pada ibu dan janinnya. Akibat langsung yang berdampak pada ibu adalah
luka, kecatatan fisik ibu, perdarahan, syok, meninggal dunia. Sedangkan
akibat tidak langsung pada ibu adalah infeksi infertilitas, meningkatnya
kecemasan, depresi, kondisi ibu menjadi lebih buruk (anemia ringan
menjadi anemia berat, tidak ada peningkatan berat badan bahkan
penurunan berat badan). Mungkin ibu menjadi perokok peminum alkohol,
pengguna obat-obat terlarang, tidak ada akses terhadap pelayanan
kebidanan, adanya keinginan untuk aborsi, dan mengahiri hidupnya.
Dampak pada janin adalah dapat terjadi abortus, abrasio plasenta,
persalinan prematur, janin mengalami kecatatan dan KJDR.
6

Dampak kejiwaan lain yang dapat dialami oleh ibu hamil adalah
trauma atau luka jiwa yang disebabkan oleh karena mengalami kejadian
yang sangat menyakitkan. Faktor-faktor yang tergolong dalam penyebab
mendasar antara lain rendahnya pendidikan pengetahuan, sikap ibu yang
berkaitan dengan kesehatan kehamilan, rendahnya tingkat pendapatan
ekonomi keluarga dan masih banyak praktik lokal yang sangat merugikan
ibu seperti pantang makan makanan tertentu yang sebenarnya sangat
dibutuhkan oleh tubuh untuk proses pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam kandungan ibu dan untuk proses metabolisme ibu serta sebagai
cadangan energi untuk proses persalinan dan laktasi kelak serta kurangnya
konseling bidan pada pasien.
Dengan demikian diharapkan

ibu

hamil

dapat

menjalankan

kehamilannya dengan sehat, sehingga ibu hamil harus dapat dengan mudah
mengakses fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
sesuai standar, termasuk deteksi kemungkinan adanya masalah/penyakit
yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janinnya. Selain
itu pelayanan kebidanan ANC harus dilaksanakan secara terpadu,
komprehensif, dan berkualitas agar semua masalah tersebut dapat diatasi,
sehingga hak reproduksinya dapat terpenuhi.
Hasil pengamatan lapangan yang dilaksanakan secara intensif dalam
beberapa tahun terakhir, memperlihatkan bahwa, pelayanan antenatal care
masih terfokus pada pelayanan 7T (timbang, tensi, tinggi fundus, tetanus
toxoid, tablet FE, temu wicara, dan tes lab). Hal ini menyebabkan berbagai
masalah/penyakit yang diderita ibu hamil tidak terdeteksi secara dini,
untuk menjawab kebutuhan tersebut, kementerian kesehatan RI telah
menyusun pedoman pelayanan ANC terpadu. Dalam pedoman ini
pelayanan 7T menjadi 10T (timbang, tekanan darah, nilai status
gizi/lingkar lengan atas, tinggi fundus, tentukan presentasi janin dan DJJ,
tablet FE, tes lab, temu wicara/konseling. Pedoman ini diharapkan menjadi
acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan ANC yang
berkulaitas untuk meningkatkan status kesehatan ibu yang pada akhirnya
akan memberikan kontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu.
b. Kekerasan terhadap bayi dalam praktek kebidanan
Kekerasan terhadap bayi dalam praktek kebidanan adalah merupakan
semua bentuk malpraktek profesi Bidan terhadap bayi berupa perilaku
7

verbal atau nonverbal yang mengakibatkan kesengsaraan fisik maupun


psikis. Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga bidan berlaku
norma etika dan norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan
adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah diukur atau dilihat dari
sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari sudut pandang etika
disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut
yuridical malpractice.
1) Memberikan

pertolongan

sendiri

pada

kasus

kelahiran

sungsang. Untuk kasus kelahiran sungsang jika bidan


melakukan pertolongan sendiri maka bertentangan dengan
Undang-Undang Kesehatan Pasal 5 Ayat (2) yang menyatakan
bahwa Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman PERMENKES RI tentang
Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan Pada Pasal 10 point
(d) disebutkan bahwa Pelayanan kebidanan kepada ibu
meliputi pertolongan persalinan normal
2) Pemberian Tindakan Aborsi
Dalam Dalam kasus aborsi jika bidan melakukan tindakan
aborsi maka akan melanggar peraturan Pasal 229 :
a) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita
atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan
atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu
hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun atau denda paling
banyak tiga ribu rupiah.
b) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari
keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai
pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib,
bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah
sepertiga.
c) Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut,
dalam menjalani pencarian maka dapat dicabut haknya
untuk melakukan pencarian itu.
Criminal malpractice

a) Criminal

malpractice

yang

bersifat

ceroboh

(recklessness), misalnya melakukan tindakan medis


tanpa persetujuan pasien informed consent.
b) Criminal malpractice yang bersifat kealpaan/lalai
(negligence) misalnya kurang hati-hati melakukan
proses kelahiran.

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana
manusia melihat kehidupan mereka. Mereka cenderung untuk berpegang pada
prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia. Hak-hak pasien yang paling
menonjol dalam hubungannya dengan pelayanan kesehatan, yaitu rekam medis,
persertujuan tindakan medis, rahasia medis. Kode etik diharapkan diharapkan mampu
menjadi sebuah pedoman yang nyata bagi para bidan dalam menjalankan tugasnya.
Tapi pada kenyataannya para bidan masih banyak yang melakukan pelanggaran
terhadap kode etiknya sendiri dalam pemberian pelayanan terhadap masyarakat.
Keadaan tersebut merupakan suatu bentuk kekerasan dalam praktek kebidanan.

3.2 Saran
Praktek kebidanan yang humanistic sangat bermanfaat bagi mahasiswa dan bidan
dalam penerapannya dalam dunia pelayanan kebidanan. Diharapkan mahasiswa dan
bidan yang bertugas dibidang pelayanan dapat menerapkan pelayanan kebidanan yang
humanistic.