Anda di halaman 1dari 18

DAMPAK PEMBENTUKAN WORLD TRADE ORGANIZATION DALAM

EKONOMI NEGARA BERKEMBANG


A. Pendahuluan
Perkembangan dunia khususnya dalam bidang perdagangan
menuju pasar bebas dimulai pada tahun 1994, dimana terbentuk
World Trade Organization (WTO).1[1] WTO didirikan sebagai hasil
perundingan

Putaran

Uruguay

yang

diselenggarakan

dalam

kerangka General Agreement on Tariff and Trade (GATT), yang


dimulai pada September 1986 di Punta del Este, Uruguay dan
berakhir pada April 1994 di Marrakesh, Maroko.2[2] Perjanjian
WTO

beserta

seluruh

lampirannya

(annex)

berlaku

mulai

Januari 1995.3[3] WTO organisasi yang terbentuk untuk menjadi


wadah bagi negara negara dunia khususnya negara anggota WTO,
untuk

berkonsultasi

dan

menyepakati

aturan

aturan

perdagangan internasional, yang lebih terbuka, dan lebih adil.4


[4]

Terbentuknya

WTO

diawali

dengan

terbentuknya

General

Agreement on Trade and Tariffs (GATT) 1947, yang merupakan


suatu

perjanjian

yang

menyepakati

aturan

aturan

dasar

didalam perdagangan.5[5]

1[1] Direktorat Perdagangan, Perindustrian, Investasi dan HKI, Direktorat


Jenderal
Multilateral,
Departemen
Luar
Negeri,
Sekilas
WTO
(World
Trade
Organization, edisi keempat (Jakarta: Penerbit Dit. Perdagangan, Perindustrian,
Investasi, dan HKI, Ditjend Multilateral, Departemen Luar Negeri, 2006), hal. 3.
2[2] Mark R. Sandstrom & David N. Goldsweig, ed., International
Practitioners Deskbook Series Negotiating International Commercial transactions,
second edition (Chicago, Illinois: American Bar Association, 2003), hal. 136.
3[3] Munir Fuady, Hukum Dagang (Aspek Hukum dari WTO, cet. 1 (Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 29.
4[4]

Deplu, op. cit., hal. 1.

GATT 1947 dilatarbelakangi dengan berakhirnya Perang


Dunia II, dimana pada saat itu sebagian besar negara di benua
Eropa

dan

Amerika,

mengalami

mengakibatkan banyak negara untuk

melindungi

ekonomi

tersebut

ekonomi

kesulitan

yang

negara tersebut menutup diri,

didalam

dilaksanakan

ekonomi,

negeri.6[6]

dengan

Perlindungan

menerapkan

tarif

bea

masuk untuk produk produk dari negara lain dengan nilai yang
sangat

tinggi,

hal

ini

merupakan

upaya

untuk

melindungi

industri didalam negeri.7[7]


Negara Indonesia pada tahun 1994 dengan menandatangani
dan meratifikasi perjanjian pembentukan organisasi perdagangan
dunia (WTO)menjadi anggota dari WTO, dan tunduk dan patuh atas
aturan aturan perdagangan dunia yang telah disepakati dan
tercantun dalam General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)
1994.8[8]

Seluruh

undertaking
menandatangani
kesatuan

yang

perjanjian
artinya

perjanjian

paket.9[9]

WTO

WTO
semua

dianggap
negara

perjanjian

merupakan

sebagai

WTO,

hasil

single

anggota

WTO

sebagai

satu

dari

Konferensi

5[5] H.S. Kartadjoemena, GATT, WTO dan Hasil Uruguay Round, cet. 2 (Jakarta:
Penerbit Universitas Indoneia (UI-Press), 1998), hal. 4.
6[6]

Fuady, op. cit., hal. 9.

7[7]

Ibid., hal. 7.

8[8]

Deplu, op. cit., hlm. 1.

9[9] Ida Susanti & Bayu Seto, ed., Aspek Hukum dari Perdagangan bebas
Menelaah Kesiapan Hukum Indonesia
dalam Melaksanakan Perdagangan Bebas, cet. 1
(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), hal. 13.

Bretton

Wood

Konferensi

yang

diprakarsai

Bretton

Wood

oleh

Amerika

menghasilkan

Serikat.10[10]

konsep

dasar

dari

globalisasi ekonomi yang saat ini terjadi.11[11] Sistem ekonomi


dunia

hasil

merupakan

dari

sistem

Konferensi
ekonomi

Bretton

kapitalis

Wood

yang

pada

prinsipnya

terkontrol

melalui

campur tangan negara yang dikembangkan oleh Maynard Keynes.12


[12] Masa 1947 1980 merupakan jaman keemasan dari sistem
kapitalis

ini,

dimana

kontrol

negara

memberikan

pembatasan

yang selayaknya dan tetap mengakui kedaulatan dari negara


negara.

Pada

tahun

1980,

dengan

berkembangnya

perdagangan

internasional, maka konsep perdagangan bebas mulai menyentuh


negara

negara

perdagangan

berkembang

bebas

tersebut

dan

terbelakang.

merupakan

pengaruh

Pengaruh
dari

organisasi ekonomi internasional yaitu International Monetary


Fund (IMF) dan World Bank.13[13] Pengaruh tersebut masuk ke
negara berkembang dan terbelakang dilakukan melalui desakan
dari

IMF,

yang

ikut

campur

dalam

kebijakan

ekonomi

makro

negara berkembang dan terbelakang. Latar belakang ikut campur


tangan IMF dan World Bank, dalam menetapkan kebijakan ekonomi
makro dari negara berkembang dan terbelakang merupakan akibat
dari krisis ekonomi yang terjadi pada era tahun 1980 sampai
10[10]

Ibid.

11[11]

Ibid.

12[12] Manfred B. Steger, Globalization: A Very Short Introduction, (Oxford:


Oxford University Press, 2003), hal. 2.
13[13] Vincent Ferraro & Melissa Rosser, Global Debt and Third World
Development , dalam World Challenges for a New Century, edited by Michael T. Klare
& Daniel C. Thomas, (1995), hal. 5.

dengan

akhir

era

90-an,

dimana

negara

berkembang

dan

terbelakang pada saat itu mengalami krisis hutan luar negeri.14


[14]

IMF

dan

World

Bank

sebagai

dua

organisasi

moneter

internasional saat itu menjadi dua pilar bantuan ekonomi untuk


negara berkembang, akan tetapi bantuan moneter yang diberikan
oleh kedua organisasi moneter internasional tersebut diberikan
dengan syarat syarat tertentu yang utamanya dikenal dengan
istilah

Structural

Adjustment

and

Stabilization

Program

(SAP).15[15] SAP pada intinya merupakan suatu desakan untuk


menerapkan keterbukaan pasar dinegara berkembang sesuai dengan
kesepakatan didalam

General Agreement on Tariffs and Trade

(GATT) 1994/WTO.16[16]

B. Rumusan Masalah
Didalam memahami akibat yang ditimbulkan WTO, untuk
negara

berkembang

maka,

penulis

mengutamakan

analisis

pada

satu rumusan masalah yaitu implikasi penerapan dari perjanjian

perjanjian

Penelaahan

di

dari

WTO

dinegara

penerapan

berkembang

pejanjian

WTO

dan

dampaknya.

bertujuan

untuk

mengetahui, seberapa besar andil WTO dalam pembangunan ekonomi


diseluruh

negara

WTO,

khususnya

negara

berkembang

dan

14[14] Joseph E. Stiglitz, Globalization and Its Discontent, (New York:


Norton & Company, Inc, 2003), hal. 89.
15[15]

Ibid.

16[16]

Susanti, et al., op. cit., hal.15.

terbelakang.

Makalah

ini

juga

mendasari

penelitian

pada

pertanyaan apakah WTO telah mengakomodasi kepentingan ekonomi


dari negara berkembang, serta tindakan proteksionis melalui
kebijakan non ekonomi yang dilakukan oleh negara maju serta
konflik yang timbul didalm WTO antara dua kepentingan ekonomi
yaitu kepentingan ekonomi negara maju dan negara berkembang.

C. Subtansi Perjanjian Perdagangan WTO


Fenomena ekonomi dunia pada masa kini, membuat negaranegara

termasuk

kecenderungan
penduniaan

Indonesia,

globalisasi

dalam

arti

dituntut

ekonomi,

peringkasan

untuk

yang
atau

mengikuti

mengarah
perapatan

pada
dunia

(compression of the world) dalam bidang ekonomi. Globalisasi


ekonomi

yang

liberalisasi

juga

semakin

perdagangan

dikembangkan

(trade

oleh

prinsip

liberalization)

atau

perdagangan bebas (free trade) lainnya, telah membawa pengaruh


pada

hukum

ekonomi

dan

globalisasi
ditolak

dan

setiap

negara

perdagangan
ekonomi
harus

dan

yang
bebas

terlibat

dalam

tersebut.

Oleh

perdagangan

diikuti.

Sebab

bebas

itu

globalisasi

globalisasi
karena

arus

sulit

untuk

ekonomi

dan

perdagangan bebas tersebut berkembang melalui perundingan dan


perjanjian internasional.17[17]
Implikasi globalisasi ekonomi itu terhadap hukum tidak
dapat

dihindarkan.

Sebab

globalisasi

hukum

mengikuti

globalisasi ekonomi tersebut, dalam arti substansi berbagai


undang-undang
batas-batas

dan
negara

perjanjianperjanjian
(cross-border).18[18]

menyebar
Tepatlah

melewati
pandangan

Lawrence M. Friedman, yang mengatakan hukum itu tidak bersifat


otonom, tetapi sebaliknya hukum bersifat terbuka setiap waktu
terhadap pengaruh luar.19[19] Dapat dipahami bahwa globalisasi
ekonomi dan perdagangan bebas telah menimbulkan akibat yang
besar sekali pada bidang hukum. Negara-negara di dunia yang
terlibat dengan globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas itu,
baik negara maju maupun sedang berkembang bahkan negara yang
terbelakang harus membuat standarisasi hukum dalam kegiatan
ekonominya.
WTO
organisasi

sebagai

Organisasi

internasional

yang

Perdagangan
dihasilkan

Dunia

dalam

merupakan

Perundingan

Putaran Uruguay (Uruguay Round), yang diselenggarakan dalam


17[17] John Braithwaite dan Peter Drahos, Global Business Regulation, (New
York: Cambridge University Press, 2000), hal. 24-23
18[18] Erman Rajagukguk, Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi:
Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia, pidato pada
Dies Natalis Universitas Sumatera Utara Ke-44, Medan 20 Nopember 2001, hal. 4.

19[19] Lawrence M. Friedman, Legal Cultur and the Welfare State: Law and
Society -An Introduction, (Cambridge, Massachusetts, London: Harvard University
Press, 1990), hal. 89

kerangka General Agreement on Tarif and Trade (GATT), yang


dimulai pada September 1986 di Punta del Este, Uruguay dan
berakhir pada 15 April 1994 di Marrakesh, Maroko. WTO mulai
beroperasi
Januari

sebagai

1995.

organisasi

WTO

disebut

internasional

sebagai

pada

pendukung

tanggal

vital

untuk

memperkuat kerjasama ekonomi dunia dan juga disebut sebagai


salah

satu

organisasi

perekonomian

internasional

internasional,

terpenting

di

samping

di

bidang

organisasi

internasional lainnya. Hal ini dapat diamati dari pendapat


Peter

D.

Sutherland,

mantan

Direktur

Jenderal

GATT

yang

disampaikan pada World EconomicForum,


Money, Finance and Trade have all to be treated in an
integrated way. The resources that can be mobilized by the
World Bank in support of the development of essential
infrastructure and enterprise are vital, especially to give
a lead to promising private sector initiatives. The IMFs
role of guiding macroeconomic and monetary policy is
crucial one. And the new WTO will-over and above all its
other specific tasks provide a much-needed means of
gauging the appropriateness and effectiveness of microeconomic policies through their impact on trade and
consistency with multilateral rules.20[20]

Tujuan
internasional
internasional

utama

WTO

adalah
dan

sebagai

organisasi

meliberalisasikan

menjadikan

perdagangan

perdagangan
perdagangan

bebas

sebagai

landasan perdagangan internasional untuk mencapai pertumbuhan


ekonomi,

pembangunan

dan

kesejahteraan

umat

manusia.21[21]

20[20] Peter D. Sutherland, Global Trade The Next Challenge, Pidato


disampaikan pada World Economic Forum, Davos, tanggal 28 Januari 1994.
21[21] Daniel S. Ehrenberg, The Labor Link: Applying the International
Trading System to Enforce Violation of Forced and Child Labor, Yale Journal

Sekarang ini substansi pengaturan yang ditangani WTO diperluas


sampai

mencakup

bidang

bidang

baru

(new

issues)

yang

sebelumnya tidak pernah dimuat dalam GATT, seperti masalah


perlindungan

Hak

Atas

Kekayaan

Intelektual

(HAKI),

masalah

kebijakan di bidang investasi yang mempunyai dampak terhadap


perdagangan, dan masalah perdagangan jasa General Agreements
on Trade in Services
Didalam

(GATS).

WTO,

disepakati

perjanjian

perjanjian

perdagangan internasional, yang harus dipatuhi oleh negara


negara anggota WTO, dikelompokan sebagai berikut:22[22]
Barang

Jasa

Prinsip
Dasar

GATT

GATS

Tambahan

Persetujuan
mengenai barang
dan Lampiran

Lampiran
Jasa

Komitmen
Akses Pasar

Skedul komitmen
negara anggota

Skedul komitmen
negara
anggota
(pengecualian
terhadap
prinsip MFN

Kesepakatan
perjanjian

perdagangan

Sengketa

TRIPs

DSU

bidang

kesepakatan
dibawah

Hak
Kekayaan
Intelektual

WTO

yang

terdapat

utamanya

adalah

didalam
untuk

mengurangi hambatan hambatan baik berupa penetapan tarif

International Law, (Vol. 20, 1995), hal. 391.

22[22]

Deplu, op. cit., hlm. 23.

ataupun

non

tarif.23[23]

Hambatan

hambatan

tersebut

termasuk pengenaan bea masuk dan tindakan pelarangan impor


atau

pembatasan

kuantitatif

impor

melalui

pengaturan

kuota

terhadap barang secara selektif.24[24] Sejak pembentukan GATT


1947

telah

diselenggarakan

Sembilan

putaran

negosiasi

perdagangan.25[25] Putaran negosiasi ini tujuan utamanya adalah


untuk
barang

melakukan

perundingan

impor.26[26]

Hasil

masalah
yang

penurunan

telah

tarif

dicapai

atas

melalui

perundingan perundingan tersebut adalah penurunan tingkat


tariff secara teratur atas produk industri yang berkisar pada
persentase 6,3% pada akhir era 1980.27[27] Perkembangan yang
timbul

pada

masa

setelah

era

1980,

mendorong

pembahasan

tentang hambatan hambatan non tarif yang terdapat didalam


barang, jasa dan hak kekayaan intelektual.28[28]
Untuk mendorong keikutsertaan negara berkembang dalam
perjanjian

WTO,

maka

perdagangan

internasional

pengecualian

yang

terbelakang.

pengecualian

didalam

perjanjian

dibawah

diberikan

kepada

tersebut

23[23]

Ibid., hal. 6

24[24]

Ibid.

25[25]

Ibid.

26[26]

Ibid.

27[27]

Ibid.

28[28]

Kartadjoemena, op. cit., hal. 77.

organisasi
negara

perjanjian

ini

terdapat

berkembang

disebutkan

dalam

dan
semua

perjanjian
Special

yang

and

Implimentasi
negara

disepakati,

yang

Differential
dari

berkembang

Treatment

ketentuan
dan

dikenal

perlakuan

terbelakang

ini

dengan

Clause
yang

istilah

(S&D).29[29]

khusus

kepada

kali

menjadi

sering

hambatan didalam perundingan perdagangan dikarenakan penerapan


akan

S&D

karena

sangat

dianggap

ditentang

oleh

perlakuan

negara

yang

maju

berbeda

yang

ini

memandang

akan

lebih

mengganggu perdagangan internasional daripada menguntungkan.30


[30]

D. Analisis
Peran GATT didalam perdagangan internasional semenjak
dibentuknya WTO jauh lebih memberikan kuasa kepada WTO untuk
mengontrol

kebijakan

ekonomi

wadah

perjanjian

perdagangan

WTO

dari

negara

anggota.

internasional

Didalam

tidak

hanya

mengatur lalulintas barang akan tetapi juga sektor jasa, hak


kekayaan intelektual, dan penanaman modal.31[31] Utamanya WTO
juga

menyepakati

didalam

Dispute

adanya

suatu

Settlement

sistem

penyelesaian

Understanding

sengketa

(DSU),

yang

29[29] Joseph E. Stiglitz & Andrew Charlton, Fair Trade For All How Trade
Can Promote Development, (Oxford, United Kingdom: Oxford University Press, 2007),
hal. 88.
30[30] John H. Jackson, et al. Legal Problem of International Economic
Relations Cases, Materials and Text on the National and International Regulation
of Transnational Economic Relation, fourth edition. (St. Paul, Minnesota: West
Publishing Co, 1995), hal 1187.
31[31] Bossche, Peter Van den. The Law and Policy of the World Trade
Organization Text, Cases and Materials, sixth edition. United Kingdom: Cambridge
University Press, 2007.

memberikan hak yang sah kepada negara anggota untuk menentang


kebijakan

kebijakan

perdagangan

negara

lain

dalam

hal

kebijakan tersebut menimbulkan kerugian.32[32]


Negara anggota WTO berdasarkan kebijakan perdagangan
internasional
bebas

mengambil

protektif
subsidi

yang

untuk

atau

ketat,

tidak

kebijakan
industri

ketentuan

mungkin

lagi

perdagangan

dalam

muatan

internasional

negerinya
nasional

dapat

seperti

atas

dengan
yang

pemberian

barang

(local

content).33[33] Dapat disimpulkan dalam hal ini ruang gerak


negara

anggota

kaitannya

untuk

dengan

memberikan

negara

perlindungan

berkembang

atau

membangun

dalam

industri

nasionalnya menjadi terbatas karena kedaulatan negara untuk


menentukan arah kebijakannya telah ditundukan dibawah WTO.34
[34]
Berdasarkan
sistem

perdagangan

kenyataan
bebas

yang

tersebut

memberikan

diterapkan

oleh

pemahaman

WTO,

lebih

memberikan hambatan kepada negara anggota daripada memberikan


keuntungan untuk pembangunan negaranya. Salah satu contoh yang
dapat diambil adalah kenyataan yang terjadi terhadap Vietnam,

32[32] Huala Adolf, Hukum Penyelesaian


(Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2006), hal. 132.

Sengketa

Internasional,

cet.

2,

33[33]Lihat, Andreas F. Lowenfeld, International Economic Law, (Oxford,


United Kingdom: Oxford University Press, 2002).
34[34] Lihat, Stephen Woolcock, The Multilateral Trading System into the New
Millenium, dalam Trade Politic: International Domestic and Regional Perspectives,
(1999)

Argentina

dan

Haiti.35[35]

Vietnam

yang

pada

awal

era

perdagangan tahun 2000, belum menjadi peserta dari WTO, akan


tetapi pembangunan ekonomi yang dilakukan sejak tahun 1980,
saat ini memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 36
[36] Sebaliknya Argentina dan Haiti yang merupakan anggota
WTO, dari tahun 1990-an, ternyata pertumbuhan ekonominya tidak
meningkat

bahkan

cenderung

berhenti,

kemiskinan

meningkat,

hutang luar negeri meningkat yang pada akhirnya menimbulkan


sengketa politik yang cukup besar antara tahun 2000 2003. 37
[37]
Kekuasaan WTO, tidak hanya menimbulkan kerugian pada
negara

berkembang,

banyak

sekali

dengan

perusahaan

penerapan
di

negara

pasar
maju

bebas
yang

oleh

WTO,

memindahkan

proses industri ke negara berkembang yang dianggap memiliki


tingkat

biaya

rendah,

sehingga

mengakibatkan

penurunan

penyerapan tenaga kerja di negara industri maju, yang dalam


jangka panjang menciptakan tingkat pengangguran yang tinggi
dan tingkat kesejateraan yang menurun.38[38]

35[35] Bruce Ross-Larson, ed., Making Global Trade Work for People, (United
Kingdom: Earthscan Publication, 2003), hal. 27.
36[36]

Ibid.

37[37] Sarah Anderson, Argentina and the IMF, dalam Alternatives Task Force
of
the
International
Forum
on
Globalization,
Alternatives
to
Economic
Globalization: A Better World Is Possible, edited by John Cavanagh, (United States
of America: Berret Koehler Publisher, 2002), hal. 35.
38[38] A.F. Elly Erawati, Globalisasi dan Perdagangan Bebas: Suatu
Pengantar, dalam Aspek Hukum dari Perdagangan Bebas
- Menelaah Kesiapan Hukum
Indonesia dalam Melaksanakan Perdagangan Bebas, edited by Ida Susanti dan Bayu
Seto, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), hal. 30 31.

Keseluruhan perjanjian pada WTO pada akhirnya hanya


memberikan keuntungan pada segelintir perusahaan multinasional
dengan

modal

yang

mengembangan

pembangunan

dikesampingkan
perusahaan

dengan

Pengesampingan

Jepang

dari

utama
yang

pengembangan

perusahaan

Serikat,

tujuan

ekonomi

multinasional

perusahaan
Amerika

besar,

yang

WTO

merata
pasar

kelompok

bebas

atau

negara
utama

negara
di

untuk

saat

kecenderungannya

dari

tujuan

dari

ini,
untul

merupakan

maju

seperti

benua

Eropa.39[39]

tersebutkan

diakibatkan

pembentukan dari perjanjian perdagangan seperti Trade Related


Investment

Measures

(TRIMs)

dan

Trade

Related

Aspect

of

Intellectual Property Rights (TRIPs).40[40] Berdasarkan TRIPs


perusahaan multinasional saat ini tidak hanya dapat menjadi
pemegang paten penemuan penemuan baru (invention), tetapi
kini perusahaan multinasional juga dimungkinkan dapat memegang
hak

intelektual

terhadap

produk

yang

tidak

dikategorikan

sebagai invensi seperti benih atau varietas unggul tanaman


yang

sangat

merupakan
dalam

penting

negara

TRIPs

bagi

negara

berkembang

agricultural.41[41]

disebutkan

di

atas

yang

Kebijakan

akan

mayoritas

perdagangan

mempersulit

negara

berkembang untuk meningkatkan tingkat ekonominya yang sangat

39[39]

Ibid., hal. 31.

40[40] Lihat, John Braithwaite dan Peter Drahos, Global Business Regulation,
(Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press, 2000)
41[41] Vandana Shiva, From Commons to Corporate Patents on Life, dalam
Alternatives Task Force of the International Forum on Globalization, Alternatives
to Economic Globalization: A Better World Is Possible, edited by John Cavanagh,
(United States of America: Berret Koehler Publisher, 2002), hal. 35

bergantung pada sektor pertanian, dikarenakan akses atas benih


dan

varietas

unggul

menjadi

terbatas,

mengingat

perusahaan

multinasional akan menjual produknya sebagai komoditi dengan


harga sesuai permintaan (harga pasar).
Berdasarkan atas kenyataan ini para aktivis lingkungan
hidup menyatakan bahwa hal tersebut merupakan pelanggaran dari
hak para petani, mengingat benih tanaman yang telah dipatenkan
oleh

perusahaan

commons.

multinasional

Genetic

commons

tergolong

merupakan

sebagai

benih

genetic

tanaman

yang

senyatanya telah dikembangkan dalam kurun waktu lama oleh para


petani

dan

sosialiasi

dikembangkan

secara

yang

tradisional.42[42]

juga

tradisional,

dengan
Selain

proses
TRIPS,

perjanjian WTO yang juga tidak mengakomodir kepentingan dari


negara berkembang adalah TRIMs. Sebelum diterapkannya TRIMs,
prinsip penanaman modal internasional didasarkan pada Pasal 7
dari Charter of Economic Rights and Duties of States (CERD)
yang menyatakan negara memiliki kedaulatan dan tanggung jawab
untuk mengembangkan peningkatan ekonomi, sosial dan budaya,
yang

pelaksanaannya

kebijakan

dilakukan

kebijakan

dengan

yang

kebebasan

dapat

penetapan

mendukung

tujuan

pembangunannnya.43[43] CERD didalam Pasal 2 ayat (2) huruf b,


juga

menentukan

mengatur

dan

negara

mengawasi

yang

berdaulat

kegiatan

memiliki
kegiatan

hak
usaha

untuk
dari

42[42]

Ibid.

43[43]

Lihat Pasal 7, dari the Charter of Economic Rights and Duties of

States.

perusahaan multinasional dinegaranya untuk melindungi sektor


ekonomi dan sosialnya. Kedua prinsip dasar yang ditetapkan
oleh CERD pada intinya menentukan hak negara untuk membentuk
kebijakan

penanaman

pembangunan

modal

yang

nasional.44[44]

lebih

Penerapan

ditujuan

TRIMs

kepada

pada

telah

melanggar segala kebijakan yang dapat dilakukan oleh negara


untuk melaksanakan pembangunan ekonomi nasional. Salah satu
kegiatan yang dilarang adalah ketentuan tentang diskriminasi
produk nasional dan asing. Kebanyakan industri nasional di
negara

berkembang

industry,
dalam

yang

tahap

merupakan

pada

intinya

pengembangan

digolongkan
merupakan

dengan

sebagai

industri

tingkat

infant

yang

produksi

masih

rendah.

Persaingan tidak sehat dalam hal ini tercipta karena persamaan


perlakuan antara infant industry dan perusahaan multinasional
dengan tingkat modal dan produksi tinggi. Selayaknya melalui
CERD negara berkembang dapat melakukan pengembangan industri
industri kecil ini, melalui subsidi ataupun pembatasan kuota,
tetapi

dengan

diterapkannya

TRIMs

maka

hal

tersebut

tidak

dapat dilaksanakan.
Perjanjian lain yang juga menjadi suatu hambatan untuk
pembangunan nasional negara berkembang adalah perjanjian dalam
bidang

pertanian,

aturan

didalam

yang

memberikan

Agreement

on

pengecualian

Subsidies

and

keberlakukan

Countervailing

Measures. Disebutkan diatas negara berkembang secara mayoritas


44[44] Martin Khor, The WTO and the South: Implications of the Emerging
Global Economic Governance for Development, dalam Globalization versus Development,
edited by Jomo K.S and Shyamala Nagaraj, (2001), hal. 61.

merupakan negara yang unggul dengan produk pertanian, tetapi


melalui perjanjian pertanian, kegiatan tersebut dihambat, yang
mana saat ini negara industri maju masih menggunakan subsidi
yang

sangat

tinggi

untuk

melindungi

sektor

pertanian

di

negaranya.
Didalam GATT 1994, tidak mengatur secara spesifik tentang
dampak pasar bebas terhadap lingkungan hidup atau pembatasan
akan tindakan perdagangan yang memberikan dampak negatif pada
lingkungan

hidup.

Saat

ini

banyak

negara

anggota

yang

menggunakan isu lingkungan hidup sebagai salah satu alasan


penerapan

kebijakan

proteksionis.

Salah

satunya

adalah

sebagaimana yang terjadi pada penyelesaian sengketa melalui DSB


atas Sengketa US Shrimp yang didasarkan pada tindakan Amerika
Serikat melarang import udang dari negara negara anggota WTO
berdasarkan peraturan Section 609 of US Public Law 101-16245[45],
yang ditangkap dengan cara yang dapat membunuh kura kura.
Pengajuan penyelesaian sengketa tersebut diajukan oleh
India, Pakistan, Malaysia dan Thailand selaku pengekspor udang ke
Amerika Serikat46[46]. Argumentasi keempat negara tersebut adalah
larangan import udang Amerika Serikat merupakan pelanggaran dari
Pasal XI, GATT 1994 tentang quantitative restriction. Bilamana
dilihat dari keadaan perdagangan udang di Amerika Serikat pada

45[45] Prabhash Ranjan, Discussions On Disputes - Shrimp-Turtle Dispute


Between The Us And India, Malaysia, Pakistan, Thailand,< http: //www.centad .org
/disputes_dis_02.asp>, diakses pada tanggal 13 Mei 2008
46[46] WTO Condemns US Shrimp Ban, Recommends Negotiated Solutions To
Conserve Sea Turtles, < http://www.ictsd.org/html/review2-3.8.htm>, diakses pada
tanggal 13 Mei 2008

saat itu, keempat negara pemohon menguasai sebagian besar dari 85


persen

pasar

udang

Amerika

Serikat.47[47]

Hal

tersebut

juga

menekan industi udang Amerika Serikat untuk menjual murah udang


dan produksi udangnya.
Hilangnya pasar tersebut akan memberikan dampak yang sangat
besar

bagi

ekonomi

keempat

negara

pemohon

khususnya

untuk

industri udang nasionalnya. Ekuador yang juga merupakan negara


pengimport udang ke Amerika Serikat tidak mengajukan penyelesaian
sengketa ini, karena kerugian yang diderita oleh Ekuador kurang
dari

10

persen

dari

keseluruhan

pasar

udang

Ekuador,

yang

pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap ekonomi Ekuador.48[48]


Perbandingan antara keadaan keempat negara pemohon dengan keadaan
Ekuador maka dapat terlihat kerugian ekonomi merupakan faktor
utama diajukannya penyelesaian sengketa dalam kasus USA Shrimp.
Berdasarkan atas contoh kasus di atas maka permohonan
penyelesaian

sengketa

memang

selalu

didasarkan

pada

suatu

perjanjian WTO, akan tetapi pengajuannya sendiri adalah suatu


didasarkan
negara

pada

yang

keadaan

mengajukan

yang

merugikan

kasus

atau

tersebut,

dapat

merugikan

bilamana

tindakan

pelanggaran tersebut tetap dilaksanakan.

E. Kesimpulan
47[47] Andrew Schmitz, et al., International Agricultural Trade Disputes:
Case Studies in North America, < http://edis.ifas.ufl.edu/FE381>, di akses pada
tanggal 13 Mei 2008
48[48] WTO Condemns US
Conserve Sea Turtles, op. cit.

Shrimp

Ban,

Recommends

Negotiated

Solutions

To

Perkembangan dari perjanjian perjanjian didalam wadah


WTO,

telah

memberikan

menerapkan
ekonomi

kebijakan

pembatasan
yang

dinegaranya.

dapat

Idealism

kedaulatan

negara

meningkatkan

dari

WTO

untuk

pembangunan

yang

cenderung

memaksakan pemberlakuan pasar bebas di negara berkembang dan


persamaan

perlakuan

menimbulkan
perlakuan

dengan

kesenjangan
yang

penerapannya

yang

ditentukan

kepada

negara

industri

lebih

jauh.

oleh

WTO,

sebagian

besar

maju

Prinsip
yang

negara

telah

persamaan
dipaksakan

berkembang,

memberikan akibat negatif. Persaingan yang tidak sehat dengan


kebijakan

pasar

bebas

WTO,

dapat

timbul

antara

negara

berkembang dan industri maju, atau antara perusahaan nasional


dan

perusahaan

multinasional.

Persamaan

perlakuan

dalam

perdagangan tersebut diterapkan kepada negara atau industri


dengan modal yang sangat kecil, tingkat teknologi yang rendah
serta tingkat produksi yang masih sangat kecil dengan negara
industri

maju

dengan

perusahaan

multinasionalnya

yang

memiliki, tingkat produksi, modal dan teknologi yang sangat


tinggi.
mematikan

Persamaan
ekonomi

perlakuan
negara

tingkat pembangunan ekonomi.

didalam

berkembang

WTO

ini,

daripada

akan

lebih

meningkatkan