Anda di halaman 1dari 9

SUBSIDENCE DAN SETTLEMENT.

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Geoteknik.


RESUME

Disusun oleh
Gustiani Indah Pratiwi
270110130088
Kelas D

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
JATINANGOR
2016

SUBSIDENCE
Penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan suatu proses gerakan penurunan
muka tanah yang didasarkan atas berbagai macam variabel penyebabnya. Penurunan muka tanah
ini diakibatkan oleh banyak hal seperti pembebanan di atas permukaan, hilangnya air tanah
akibat eksploitasi berlebihan, gempa yang mengakibatkan rusaknya struktur tanah,
ketidakstabilan bidang tanah akibat proses tertentu, dan sebagainya. Penurunan muka tanah ini
secara tidak langsung pemaksaan memadatkan struktur tanah yang belum padat menjadi padat.
UMumnya terjadi pada daerah yang tadinya berupa rawa, delta, endapan banir dan sebagainya
yang di alihkan fungsi tataguna lahannya tanpa melakukan rekayasa tanah terlebih dahulu
Berdasarkan Whittaker and Reddish, 1989 dalam Metasari 2010, secara umum faktor
penyebabnya antara lain ;
1. Penurunan tanah alami (natural subsidence)
Penurunan ini disebabkan oleh proses proses geologi seperti siklus geologi,
sedimentasi daerah cekungan dan sebagainya. Beberapa penyebab terjadinya penurunan
tanah alami bisa digolongkan menjadi :
a. Siklus Geologi
Penurunan muka tanah terkait dengan siklus geologi. Proses proses yang
terlihat dalam siklus geologi adalah : pelapukan (denuation), pengendapan
(deposition), dan pergerakan kerak bumi (crustal movement). Adapun
keterkaitannya yaitu pelapukan bisa disebabkan oleh air seperti pelapukan batuan
karena erosi baik secara mekanis maupun kimia, oleh perubahan temperature
yang mengakibatkan terurainya permukaan batuan, oleh angin terutama di daerah
yang kering dan gersang karena pengaruh glacial dan oleh gelombang yang
biasanya terjadi di daerah pantai (abrasi).

b. Sedimentasi Daerah Cekungan


Biasanya daerah Cekungan terdapat di daerah daerah tektonik lempeng
terutama di dekat perbatasan lempeng. Sedimen yang terkumpul di Cekungan
semakin lama semakin banyak dan menimbulkan beban yang bekerja semakin

meningkat, kemudian proses kompaksi sedimen tersebut menyebabkan


terjadinya penurunan pada permukaan tanah. Sebagian besar penurunan muka
tanah akibat faktor ini adalah :
Adanya gaya berat dari beban yang ditimbulkan oleh endapan dan juga
ditambah dengan air menyebabkan kelenturan pada lapisan kerak bumi.
Aktivitas internal yang menyebabkan naiknya temperature kerak bumi dan
kemudian mengembang menyebabkan kenaikan pada permukaan pada
permukaan tanah. Setelah itu proses erosi dan pendinginan kembali
menyebabkan penurunan muka tanah.
Karakteristik deformasi dari lapisan tanah yang berkaitan dengan tekanan
tekanan yang ada

2. Penurunan tanah akibat pengambilan airtanah (groundwater extraction)


Pengambilan airtanah secara besar besaran yang melebihi kemampuan
pengambilannya akan mengakibatkan berkurangnya jumlah airtanah pada suatu lapisan
akuifer. Hilangnya airtanah ini menyebabkan terjadinya kekosongan pori pori tanah
sehingga tekanan hidrostatis di bawah permukaan tanah berkurang sebesar hilangnya
airtanah tersebut. Selanjutnya akan terjadi pemampatan lapisan akuifer.
3. Penurunan akibat beban bangunan (settlement)
Tanah memiliki peranan penting dalam pekerjaan konstruksi. Tanah dapat menjadi
pondasi pendukung bangunan atau bahan konstruksi dari bangunan itu sendiri seperti
tanggul atau bendungan. Penambahan bangunan di atas permukaan tanah dapat
menyebabkan lapisan di bawahnya mengalami pemampatan. Pemampatan tersebut
disebabkan adanya deformasi partikel tanah, relokasi partikel, keluarnya air atau udara
dari dalam pori, dan sebab lainnya yang sangat terkait dengan keadaan tanah yang
bersangkutan. Proses pemampatan ini pada akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan
permukaan tanah. Secara umum penurunan tanah akibat pembebanan dapat dibagi ke
dalam dua jenis, yaitu :
a. Penurunan konsolidasi yang merupakan hasil dari perubahan volume tanah jenuh
air sebagai akibat dari keluarnya air yang menenpati pori pori airtanah.

b. Penurunan segera yang merupakan akibat dari deforamasi elastik tanah kering,
basah, dan jenuh air tanpa adanya perubahan kadar air.

SETTLEMENT
Settlement atau deformasi volume tanah adalah penurunan tanah yang diakibatkan
kondisi tanah terebut yang memang tidak rata dan tidak padat. Settlement dapat disebabkan oleh
beban statik dan beban dinamik. Penambahan beban di atas suatu permukaan dapat
menyebabkan lapisan tanah dibawahnya mengalami pemapatan. Pemapatan tersebut disebabkan
oleh adanya depormasi partikel tanah, relokasi partikel, keluarnya air atau uadara di dalam pori,
dan sebab-sebab lain. Beberapa atau semua faktor tersebut mempunyai hubungan dengan keadan
tanah yang bersangkutan. Secara Umum, penurunan (settlement) pada tanah yang disebabkan
oleh pembebanan dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu:
1. Penurunan konsolidasi (Consolidation settlement), yang merupakan hasil dari perubahan
volume tanah jenuh air sebagai akibat dari keluarnya air yang menempati poro-pori
tanah.
2. Penurunan segera ( immediete settlement), yang merupakan akibat dari deformasi elastis
tanah kering, basah dan jenuh air tanpa adannya perubahan kadar air. Perhitungan
penurunan segera umumnya didasarkan pada penurunan yang diturunkan dari teori
elastisitas.
3. Beban dinamik juga berpotensi mengakibatkan settlement, khususnya pada tanah pasir
lepas. Akibat beban dinamik, pasir mengalami kondisi short term, sedemikian sehingga
tegangan air pori naik. Namun tidak seperti pada kasus statik, dimana proses penurunan
terjadi secara gradual dalam jangka waktu panjang, tegangan air pori ini akan turun
secara segera akibat tingginya permeabilitas pasir.
Proses keluarnya air secara cepat inilah yang dapat menyebabkan tanah kehilangan
tegangan efektifnya, sehingga menyebabkan tanah menjadi likuid.
Dalam pembahasan suatu settlement, tidak dapat dipisahkan dengan konsolidasi karena
konsolidasi sangat berkaitan dengan settlement. Dengan membahas settlement suatu konsolidasi

tanah, dapat mengetahui penghitungan dalam memperkecil kemungkinan suatu penurunan tanah
yang besar dalam kontruksi. Sebelum mempelajari suatu settlement pada konsolidasi sebaiknya
pembahasan mengenai konsolidasi merupakan hal yang pertama diketahui.
a. Konsolidasi pada tanah
Bila lapisan tanah jenuh berpermeabilitas rendah diberi beban, tekanan air pori pada
lapisan tersebut akan bertambah. Perbedaan tekanan air pori pada lapisan tanah, berakibat air
mengalir kelapisan tanah dengan tekanan air pori yang lebih rendah, yang diikuti penurunan
tanahnya. Karena permaebitas yang rendah memerlukan waktu.
Konsolidasi adalah proses pengecilan volume secara perlahan pada tanah jenuh sempurna
dengan permeabilitas rendah karena pengaliran sebagian air pori. Dengan kata lain, konsolidasi
adalah proses terperasnya air tanah akibat bekerjanya beban, yang terjadi sebagai fungsi waktu
karena kecilnya permeabilitas tanah. Proses ini berlangsung terus sampai kelebihan tekanan air
pori yang disebabkan kenaikan total telah hilang. Kasus yang sangat sederhana adalah
konsolidasi satu dimensi, dimana kondisi regangan lateral nol mutlak ada. Proses konsolidasi
dapat diamati dengan pemasanagan piezimeter, untuk mencatat perubahan tekanan air pori
dengan waktunya. Besarnya penurunan dapat diukur degan berpedoman pada titik referensi pada
tempat tertentu.
b. Proses konsolidasi
Mekanisme proses konsolidasi satu dimensi dengan cara analisis yaitu suatu silinder
berpiston yang berlubang dan dihubungkan dengan pegas, diisi air sampai memenuhi silinder.
Pegas dianggap bebas dari tegangan dan tidak ada gesekan antara dinding silinder dengan tepi
piston. Pegas melukiskan tanah yang mampat, sedangkan air dalam piston melukiskan air pori,
dan lubang pada piston melukiskan kemampuan tanah dalam meloloskan air atau permeabilitas
tanahnya.
c. Pengujian konsolidasi
Tujuan pengujuan konsolidasi adalah menstimulasi kompresi dari tanah akibat beban
yang bekerja sehingga diperoleh karakteristik kompresi tanah yang akan dihitung untuk
menghitung settlement. Uji konsolidasi satu dimensi dengan kekangan lateral dilakukan

dilaboratorium terhadap tanah berbutir halus. Beban diberikan waktu tertentu sesuai prosedur,
dan kompresi yang terjadi akibat keluarnya air pori.
Beberapa penyebab settlement adalah :
1. Capacity Bearing/tegas kegagalan atau ketidakstabilan, mencakup tanah longsor.
2. Kegagalan atau defleksi struktur pondasi.
3. Elastis atau penyimpangan tanah atau batu.
4. Konsolidasi (kompresi) tanah atau batu.
5. Penyusutan sehubungan dengan pengeringan.
6. Perubahan pada kepadatan sehubungan dengan goncangan atau getaran.
7. Perubahan Kimia yang mencakup peluruhan.
8. Erosi Bawah tanah.
9. Kehancuran pembukaan bawah tanah seperti gua atau tambang.
10. Kehancuran Struktural sehubungan dengan melemah dari sementasi ketika saturasi.
Metode Perbaikan Bangunan Akibat Penurunan (Settlement)
Besar Penurunan (settlement) tergantung dari :
a. Jenis konstruksi
Bangunan kayu memberi toleransi penurunan yang lebih besar dibandingkan
bangunan batu bata.
b. Penggunaan Bangunan
Rumah tinggal tidak mentoleransi adanya retak tetapi retak pada batas tertentu masih
dimungkinkan pada bangunan industri, gudang dll.
c. Keberadaan unsur bangunan yang sensitif
Ubin dan beberapa komponen bangunan yang sensitif kurang memberi toleransi
adalanya pergerakan struktur bangunan termasuk penurunan.
d. Kekakuan Struktur
Umumnya struktur bangunan dengan kekakuan yang tinggi memberi tolansi
penurunan yang lebih besar dibandingkan dengan struktur yang kurang kaku.

Perhitungan penurunan / settlement


Rumus yang dipakai dalam perhitungan settlement akibat timbunan tanah dibedakan
akibat timbunan tanah dibedakan menjadi dua bagian yaitu:

1. Tanah Normally Consolidated (NC Soil)

2. Tanah Over Consolidated (OC Soil)

Dimana :
Sci

= pemampatan konsolidasi pada lapissan tanah yang ditinjau, lapisan ke i.

Hi

= tebal lapisan tanah ke i

e0

= angka pori awal dari lapisan tanah ke i

Cc

= Compresssion Index dari lapisan tanah tersebut. (lapisan ke i )

Cs

= Swelling Index dari lapisan tanah tersebut. (lapisan ke i )

P0

= tekanan tanah vertical effective di suatu titik ditengah-tengah lapisan ke I akibat beban

tanah sendiri di atas titik tersebut di lapangan ( = effective overburden pressure )


Pc

= effective past overburden pressure , tegangan konsolidasi effective dimasa lampau yang

lebih besar dari pada po (dapat dilihat dari kurva konsolidasinya).


p

= penambahan tegangan vertical di titik yang ditinjau ( di tengah lapisan ke i ) akibat

beban timbunan jalan yang baru.

Untuk menghitung besaran p :


p = z = 2 x Ii x q
Dimana :
q = tegangan vertical efektif dipermukaan tanah akibat timbunan / embakment.
Menghitung penurunan / settlement
Waktu penurunan dapat dihitung dengan rumus :

dimana :
H

= tebal seluruh lapisan lunak dibawa embakment seperti dilihat Gb.2

Cv

= koefisien konsolidasi ( m2/th)

Tv

= derajat konsolidasi (%)

Untuk mempercepat proses konsolidasi bisa dipakai vertikal drain dengan rumus

dimana:
t

= waktu yang diperlukan untuk mencapai h U

= diameter lingkaran

Ch

= koefisien konsolidasi aliran horizontal

F(n) = faktor tahanan akibat jarak antara PVD


Uh

= derajat konsolidasi arah horizontal

Menghitung F ( n )
Fungsi F ( n ) Merupakan Fungsi hambatan akibat jarak antara titik pusat PVD. Oleh
Hansbo ( 1979 ) harga F ( n ) didefinisikan sebagai berikut :

Dimana :
n = D/dw
dw = diameter equivalent dari vertical drain ( equivalan terhadap bentuk lingkaran)
Pada umuamnya n > 20 sehingga dapat dianggap

Jadi :

Hasbo (1979) menentukan waktu konsolidasi dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

DAFTAR PUSTAKA
http://www.nrcresearchpress.com/doi/10.1139/t11-049#.WD-91dIrLIW
A. Sroka, K. Tajdus and A. Preusse, Calculation of Subsidence for Room and Pillar and
Longwall Panels, 11th Underground Coal Operators' Conference, University of Wollongong &
the Australasian Institute of Mining and Metallurgy, 2011, 83-90.
F. T. Lee dan J. F. Abel, Jr. 1983. Subsidence from Underground Mining Environmental Analysis
and Planning Consideration. Geological Survey Circular 876, U.S. DEPARTMENT OF THE
INTERIOR 1894.