Anda di halaman 1dari 13

JUDUL MAKALAH THESIS

1. Penelitian Kualitatif
N
O
1

NAMA,
LEMBAGA,
TAHUN, PRODI
Andri Kurniawan, Universitas
Syiah Kuala, 2008, Fakultas
Hukum

JUDUL

Hidayat, Universitas Negeri Peningkatan


Medan, 2013, Prodi Sejarah
Kapasitas
Kelembagaan
Nelayan

METODE

Faktor factor yang Kualitatif


mempengaruhi
efektifitas
panglima
laot
dalam pengelolaan
sumber daya alam
di Kota Sabang

Kualitatif

HASIL
Dalam hal kegiatan sehari hari, masyrakat nelayan
memiliki dan menaati ketentuan atau norma norma
adat yang berkaitan dengan kegiatan laut.
Penyelesaian sengketa adat laut oleh panglima laut
merupakan salah satui mekanisme penerapan
sanksi adat dan menjadi alternative solusi untuk
menyelesaikan kasus tentang pengelolaan Sumber
daya alam di Kota Sabang. Namun dalam
penerapannya terdapat beberapa factor penghalang
diantaranya cara penangkapan ikan, factor
kelembagaan, factor pendapatan, batas wilayah,
SDM, dan lemahnya manajemen perikanan
Keberadaan tradisi, kelembagaan dan kearifan
lokal di sepanjang pantai kepulauan nusantara
merupakan kha-zanah kebudayaan nusantara yang
bersifat strategis baik dalam upaya pemberdayaan
masyarakat
nelayaan
dan
pembangunan
sumberdaya laut ber-kelanjutan maupun untuk
peningkatkan kemandirian dan keswadayaan
masya-rakat. Bagi internal masyarakat nelayan,
keberadaan tradisi, kelembagaan dan kearifan lokal
bersifat fungsional baik secara normatif, regulatif
maupun sosial dan ekonomi. Fungsi normatif dari
tradisi, kelembagaan dan kearifan lokal antara lain

Purnama Sari, UNIMED, Panglima


Lat Kualitatif
2016, Prodi Antropology
Sebagai
Local
Wisdom
Masyarakat
Nelayan
Pesisir
Aceh ( Studi Kasus
Tentang Panglima
Lat
Lhok
Kecamatan
Seruway
Kabupaten Aceh
Tamiang)

Syiha Bunardi, Universitas Peranan panglima Kualitatif


Syiah Kuala, 2013, Prodi laot lhok dalam
Agribisnis
kegiatan perikanan
masyarakat
nelayan
di
kecamatan
Trumon kabupaten
aceh selatan

menjadi pedoman bersikap dan bertingkah laku


dalam relasi sosial dan interaksinya dengan
lingkungan sosial budaya dan ekologinya. Fungsi
regulatifnya adalah menjadi aturan main yang
berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup
rumah tangga, menjaga integrasi dan sekaligus
kontrol sosial.
Hasil penelitian menunjukkan Panglima Lat
sebagai salah satu dari kearifan lokal pada
masyarakat di pesisir Aceh , terdapat hukum adat
laut yang hidup dalam masyarakat pesisir Aceh di
Kecamatan Seruway yang meliputi hari-hari yang
ditetapkan untuk tidak boleh pergi melaut,adat
arang hanyut dan hukum adat laut lainnya,ada
ungkapan adat dan makna upacara-upacara adat
dalam aktifitas menjaga lingkungan laut meliputi
ritual khanduri Lat , ritual tolak bala,dan
peuseujuk oleh Panglima Lat di kawasan pesisir
Aceh di Kecamatan Seruway serta pandangan
bahwa ritual-ritual tersebut merupakan hal yang
Hasil Penelitian menjelaskan bahwa peranan
Panglima Laot Lhok dalam kegiatan perikanan
masyarakat nelayan telah
menunjukkan beberapa hal yang sangat baik,
terutama dalam hal penyelesaian konflik dalam
masyarakat nelayan dan hubungan
kemitraan dengan pemerintah, namun masih
memiliki beberapa kekurangan terutama dalam hal
pengawasan wilayah dan

Pelaksanaan sidang pada pelanggaran Hari pantang


melaut. Kedua hal ini belum dapat dilaksanakan
sebagaimana mestinya.
5

Sri
Walny
Rahayu,
Universitas Padjajaran, 2014,
Program
Doktoral
Ilmu
Hukum

Lembaga
Kualitatif
Penyelesaian
sengketa adat laut
Panglima Laot di
Aceh
sebagai
bentuk
Pengembangan
Alternatif
penyelesaian
sengketa
dalam
system
Hukum
Indonesia

Kedudukan panglima laot sebagai lembaga APS


bisnis kelautan terdapat dalam pasal 98 ayat (1),
(2), (3), huruf i, (4) serta pasal 162 ayat (2) huruf e
UU pemerintahan Aceh tahun 2006, Qanun Aceh
dan peraturan dibawahnya. Merupakan subjek
sarana pembaharuan persekutuan lembaga APS
hokum adat laut yang diakui dalam system hukum
Indonesia.

2. Penelitian Kuantitatif
N
O
1

NAMA,
LEMBAGA, JUDUL
METODE
TAHUN, PRODI
Anggita Widasari, Institut Hubungan tingkat Kuantitatif
Pertanian Bogor, 2014,
partisipsi
dalam
panglima
laot
terhadap
tingkat
taraf
hidup
rumahtangga
nelayan tradisional
(kasus:
desa

HASIL
Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat
nelayan tradisional di Indonesia adalah kesejahteraan
yang rendah, tidak terkecuai di Aceh. Diperlukan
upaya perbaikan kesejahteraan nelayan dengan
meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan
tradisional. Oleh karena itu aspek lokalitas suatu
wilayah dimana nelayan itu tinggal menjadi penting
untuk dipertimbangkan. Kearifan lokal atau

lambada
lhok,
kecamatan
baitussalam,
kabupaten
aceh
besar )

Edi Rudi, Universitas Syiah Tutupan


Karang Kuantitatif
Kuala, 2010, Prodi Biologi Keras
dan
FMIPA
Distribusi Karang
Indikator
di

pengetahuan lokal masyarakat nelayan tradisional


diharapkan bisa menjadi solusi atas hal tersebut.
Panglima Laot merupakan salah satu kearifan lokal
yang berkembang di wilayah pesisir Aceh sebagai
pengatur kebijakan pengelolaan sumberdaya laut dan
pesisir yang tentunya berkaitan dengan kelangsungan
hidup masyarakat nelayan. Kelembagaan panglima
lat merupakan tatanan yang dibuat oleh masyarakat
dalam menjalankan tiga fungsi, yakni fungsi religi,
ekonomi dan sosial. Ketiga fungsi ini diharapkan
bisa berjalan dengan seimbang demi kelestarian
sumberdaya laut dan pesisir, terjaganya hukum adat
laut di Aceh dan meningkatnya kesejahteraan
nelayan. Oleh sebab itu, partisipasi masyarakat
dalam adat panglima laot berperan penting demi
eksistensi dari kearifan lokal itu sendiri. Sementara
itu, tingkat partisipasi masyarakat dipengaruhi
banyak faktor, dalam hal ini adalah karakteristik
individu dari nelayan itu sendiri. Dengan demikian,
luaran yang diharapkan dari penelitian yang akan
dilaksanakan di Desa Lambada Lhok, Kabupaten
Aceh Besar ini adalah teridentifikasinya hubungan
antara tingkat partisipasi masyarakat dalam panglima
laot terhadap tingkat taraf hidup rumahtangga
nelayan tradisional.
Resiliensi ekologi adalah kemampuan suatu sistem
untuk menjalani, meredam dan
merespon perubahan dan gangguan, sambil
mempertahankan fungsi dan pengontrolannya. Dari

Perairan
Aceh
bagian Utara

YESSI EKA SARTYKA, Pengaruh panglima Kuantitatif


Universitas Sumatera Utara, laot terhadap

enam indikator resiliensi terumbu karang yang


sedang dikembangkan, maka kondisi tutupan karang
dan distribusi karang-karang indikator adalah bagian
penting resiliensi terumbu karang. Penelitian ini
dilakukan di 20 stasiun pengamatan yang terdapat di
perairan Aceh bagian utara, yaitu di Pulau Weh
dan Aceh Besar. Persentase tutupan karang keras
diperoleh dengan metode line intercept transects
(LIT) dengan mengamati bentuk hidup benthik yang
ada, sedangkan distribusi karang indikator
diamati dengan metode transek kuadrat. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa persentase tutupan
karang keras berkisar dari 20,46% - 67,4%. Secara
umum tutupan karang keras di wilayah yang
dilindungi oleh autoritas pengelolaan berada dalam
kondisi baik dibandingkan wilayah yang dibiarkan
terbuka (open access). Rekrut karang yang masuk
kategori tahan seperti Porites (massive) dan
Pavona banyak ditemukan di bagian barat Pulau
Weh, sedangkan karang dewasa tahan banyak
ditemukan di stasiun yang berada sebelah timur
Pulau Weh. Karang dewasa kategori rentan seperti
Acropora dan Pocillopora yang banyak di bagian
barat dan utara Pulau Weh perlu menunjukkan
bahwa daerah tersebut berpotensi untuk mengalami
pemutihan (bleaching) apabila terjadi pamanasan
global yang menyebabkan suhu air laut yang naik.
1. Belum terdapat perkembangan yang signifikan
dari Panglima Laot selama 3 tahun terakhir di

2008,
Prodi
Pertanian

Ekonomi Peningkatan
pendapatan
nelayan

Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan


Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan, baik
perkembangan secara kualitas maupun kuantitas dari
Panglima Laot tersebut.
2. Tidak ada pengaruh Panglima Laot terhadap
peningkatan pendapatan nelayan di derah penelitian.
3. Terdapat perbedaan pendapatan antara nelayan
pemilik : kapal motor, perahu motor dan perahu
tanpa motor.

Crispen Wilson, Fauna&Flora The Panglima Laot Kuantitatif


Indonesia, 2012.
of Aceh: a case
study in large-scale
community-based
marine
management after
the
2004 Indian Ocean
tsunami

During AprilJune 2008 GPS (global positioning


system) sounding devices were installed on 53
local fshing boats and
hazardous fshing areas mapped based on local
knowledge,
and shared amongst fshermen. During July
December
2008 nearly fve million GPS data points were
collected,
from which detailed bathymetric maps were
produced and
shared between fshermen and Aceh government
ofcials.
Signifcant project outputs included a map of
fshing areas
over 20,000 km2, which included three new
seamounts, one
of which expanded Acehs provincial boundary by .
1.3
million ha, and a Panglima Laot decree that
reduced fshing
in hazardous areas of high coral density by 23.3%.
Our
fndings have wide applicability. Locally, the

introduction of
GPS technology and sharing of traditional
knowledge
resulted in fshermen developing and
implementing their
own management strategies and demonstrating
their ability
to stay out of restricted areas. Provincially, this
project
provided a framework through which government
agencies
and academic institutions could efectively engage
with local
customary leaders and their fshing communities.

Christeward Alus,
Acta Diurna 2014

Jurnal Peran
lembaga Kuantitatif
adat
dalam
pelestarian
kearifan lokal suku
sahu
Di desa balisoan
kecamatan sahu
Kabupaten
halmahera barat

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas


maka dapat disimpulkan
bahwa:
1) Adanya kesadaran masyarakat Desa Balisoan
tentang pentingnya pelestarian budaya
makan bersama /(syukuran) di Sasadu menunjukan
bahwa upaya pelestarian budaya
berpeluang besar mecapai keberhasilan.
2) Manajeme kinerja lembaga adat suku Sahu kurang
memuaskan sehingga tidak bisa
menyusun suatu perencanaan program pelestarian
budaya makan bersama di sasadu
(Orom toma sasadu).
3) Kreatifitas masyarakat akan lebih baik maningkat
apabila ada singkronisasi program
antara lembaga adat dengan pemerintah daerah
dalam kegiatan upaya pelestarian

budaya makan bersama di sasadu.

3. Penelitian Mixed Method


NO
NAMA, LEMBAGA, TAHUN, PRODI
JUDUL
METODE
HASIL
1
Sulaiman, Universitas Diponegoro, 2013, Program Doktor Ilmu Hukum
Prospek Hukum adat laut dalam pengelolaan perikanan di kabupaten pidie jaya Provinsi Aceh
Mixed
Penelitian ini menemukan, meskipun diakui dalam ketentuan perundang undangan, pelaksanaan hukum adat dalam manajemen
perikanan harus dilakukan melalui mekanisme pengelolaan bersama melibatkan berbagai pihak. Masyarakat adat tidak dapat
melaksanakannya secara mandiri. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkuat pengawasan pemerintah dalam mendukung
pengelolaan perikanan secara berkelanjutan, salah satunya dengan menerapkan hukum adat laut.

2
Stuart j. Campbell, Coastal Oceans Research and Development in the Indian Ocean, 2008.
Fishing Controls, habitat protection and reef fish conservation in Aceh
Mixed
A community management system known as
the Panglima Laot was being implemented in at least
one region of the island and a government tourism
reserve or Kawasan Wisata was in place in another
region. Both areas had prohibited the use of netting
for reef fsh over the past 10 years. Areas open to
unregulated fshing, except for prohibitions on blast
fshing and use of cyanide, also exist on Weh island
and a group of islands to the west known as Aceh. In
April 2006 and 2007 we examined the structure of
coral reef fsh populations in each of these 4 areas, the
Panglima Laot and Kawasan Wisata and the open
access areas of Weh and Aceh islands.

3
Zulmiro Pinto, Universidade Oriental de Timor Lorosae, 2015, Jurnal Wilayah dan Lingkungan

Kajian Perilaku Masyarakat Pesisir yang


Mengakibatkan Kerusakan Lingkungan (Studi Kasus
di Pantai Kuwaru, Desa Poncosari, Kecamatan
Srandakan, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY
Mixed
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku masyarakat
pesisir yang mengakibatkan kerusakan lingkungan sangat berpengaruh pada menurunnya
kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor rendahnya tingkat pendidikan
masyarakat tentang wilayah pesisir Pantai Kuwaru. Pemerintah hendaknya dapat
bekerjasama dengan masyarakat untuk menyelamatkan Pantai Kuwaru dari kerusakan
lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku masyarakat sendiri.
4
Norsidi, Universitas Sebelas Maret, 2016, Pascasarjana Kependidikan
Model Pengelolaan Hutan adat berkelanjutan berbasis kearifan local di desa lubuk beringin kecamatan Bathin III ULU Kabupaten
Bungo
Mixed
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Lubuk Beringin masih menjunjung tinggi kearifan local dalam pengelolaan
hutan, dilihat dari proses penggunaan lahan, pembukaan lahan, pola peradangan, pemanfaatan sumber daya hutan, dan adanya sanksi
adat bagi yang melanggar.

5
Susilowati Indah, UMS, 2013, Jurnal Ekonomi Pembangunan
Prospek Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis Ekosistem: Studi Empiris Di Karimunjawa
Mixed
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa model pengelolaan secara konvensional masih belum berhasil dalam mengelola sumberdaya.
Sedangkan,
pengelolaan
sumberdaya
perikanan
berbasis
ekosistem memberikan indikasi
yang
prospektif.
Untuk itu disarankan perlu
diuji-coba
implementasinya.
Bila model

EBFM
yang
diusulkan
ini telah lolos uji maka kerangka
implementasi
EBFM ini
diharapkan
dapat

diadopsi
oleh daerah lain di
Penelitian ini bertujuan; pertama, membandingkan model pengelolaan sumber daya
perikanan dengan versi konvensional dan yang berparadigma baru; kedua, mengeksplorasi
tingkat keberhasilan model pengelolaan sumberdaya perikanan dengan paradigma baru; dan
ketiga menyusun strategi pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis ekosistem (EBFM).
Ekosistem Karimunjawa yang merupakan wilayah kepulauan yang dapat diambil menjadi
pilot project. Tokoh kunci sebanyak 25 orang yang diambil secara purposive quoted sampling.
Deskriptif statistik dipakai untuk menganalisis data penelitian dan juga dilengkapi dengan

metode Meta-Analysis dan Analysis Hierarchy Proccess.