Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

KONTRAKSI OTOT RANGKA

Disusun Oleh :
Alam Siiran (3415141748)
Ani Mariani (3415141756)
Sefi Pratiwi (3415170728)
Tria Sultika (3415141745)

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2016

PENDAHULUAN
Otot di sebut alat gerak aktif
karena mampu menghasilkan gerak
tubuh. Jaringan otot seperti jaringan
yang lain memiliki sifat peka terhadap
rangsangan ( sifat irritabilitas), mampu
merambatkan
impuls
(sifat
konduktivitas), mampu melaksanakan
metabolism dan reProduksi. Sifat
jaringan otot yang khas adalah
kemampuannya untuk berkontraksi
(sifat kointraktilitas) yang tinggi. Sifat
kontraktilitas ini di sebabkan sel-sel otot
memiliki oleh jaringan yang lain.
Otot rangka memiliki fungsi
eksitabilitas yang artinya serabut otot
akan merespons dengan kuat jika
distimulasi oleh impuls saraf (Sloane,
2002: 119). Sifat irritabilitas ini dapat
melemah, misalnya otot dalam keadaan
lelah, dan dapat meningkat apabila otot
dalam kondisi optimum (cukup
makanan dan oksigen).
Kemampuan otot bergerak di
karenakan sel otot mengandung protein
kontraktil, yaitu miosin sebagai
penyusun filamen tebal, dan aktin,
tropomiosin,
troponin,
sebagai
penyusun filamen tipis. Kedua filamen
ini menyusun miofibril. Miofibril
menyusun serabut otot dan serabutserabut oto menyusun satu otot. Selama
kontraksi, filament-filamen bergerak
relatif satu terhadap yang lain untuk
menghasilkan
pemendakan
dan
tegangan. Pergeseran terjadi akibat
siklus jembatan silang miosin yang
berulang ulang dengan menggunakan
energi ATP, yang di picu oleh tingkat
Ca+ sistolik yang di bebaskan akibat
adanya eksitasi pada membrane sel

otot . Ada tiga macam otot, yaitu otot


polos , otot rangka, , otot jantung yang
struktur fungsi serta sifat kontraksinya
berbeda beda.
Hewan vertebrata membutuhkan
sistem rangka untuk menyokong berat
tubuh. Hal tersebut diatasi dengan
adanya endoskeleton (rangka dalam).
Endoskeleton dapat tumbuh seiring
dengan
pertumbuhan
tubuhnya.
Endoskeleton tersusun dari tulang dan
tulang dan otot bekerja sama dengan
membentuk sistem gerak. Endoskeleton
hewan memiliki bentuk khas, bentuk
khas inilah yang memberi bentuk tubuh
pada masing-masing jenis hewan. Pada
katak yang merupakan hewan vertebrata
yang tergolong Class Amphibia, maka
Katak
memiliki
rangka
dalam
(endoskeleton).
Rangka katak tersusun dari tiga
kelompok
tulang
yaitu
tulang
tengkorak, tulang badan, dan tulang
anggota gerak. Katak adalah pelompat
yang baik karena tungkai belakangnya
panjang dan memiliki otot yang sangat
kuat. Katak ini juga memiliki selaput
renang di tungkainya sehingga bisa
berenang. Selaput ini memberikan
tekanan yang kuat melawan air
sehingga terjadilah gerakan di air.
Tubuh katak terdiri dari 3 jenis
otot, yakni otot polos, jantung, dan
lurik. Ketiga jenis otot tersebut berbeda
dalam struktur mikroskopik dan
fisiologinya. Sistem muskular eksternal
terdiri dari otot skeletal atau volunter,
yang melekat pada tulang. Otot-otot ini
akan bergerak dibawah kehendak yang
disadari. Setiap otot terdiri dari banyak
serat lurik paralel, yang disatukan oleh

jaringan ikat. Beberapa otot bekerja


bersama dan beberapa berkontraksi
lebih dari yang lain. Koordinasi ini
diatur oleh sistem saraf. Setiap serat
atau kelompok serat memiliki ujung
saraf motorik yang menyampaikan
impuls untuk merangsang kontraksi.
Menurut Ganong bahwa sel-sel
otot seperti juga neuron, dapat
dirangsang secara kimiawi, listrik, dan
mekanik
untuk
membangkitkan
potensial aksi yang dihantarkan
sepanjang membran sel. Berbeda
dengan sel saraf, otot memiliki
kontraktil yang digiatkan oleh potensial
aksi. Protein kontraktil aktin dan
myosin, yang menghasilkan kontraksi,
terdapat dalam jumlah sangat banyak di
otot. Ada empat macam bentuk
rangsangan otot rangka, yaitu:

Mekanik : Dapat berupa pijitan,


tarikan, maupun pukulan.
Kimia : Dapat berupa larutan
asam dan larutan garam.
Panas : Dapat berupa keadaan
yang bersifat panas maupun
dingin.
Listrik : Dapat berupa arus
listrik yang diberikan terhadap
otot atau saraf.

Di antara keempat macam bentuk


rangsangan tersebut di atas yang sering
digunakan adalah rangsangan listrik,
karena intensitas rangsang, lamanya
pemberian rangsang, dan frekuensi
rangsang dapat dengan mudah diatur
dan kerusakan yang ditimbulkan pada
jaringan adalah minim.

Kontraksi otot memerlukan energi


dan ATP adalah sumber energi utama
untuk kontraksi otot. ATP akan menurun
jika kontraksi otot terjadi dalam waktu
yang lama. Sumber energi untuk
Kontraksi otot adalah ATP > ADP + P.
Energi yang digunakan untuk kontraksi
otot pada umumnya berasal penguraian
ATP dan ADP.
Sumber lain untuk memperoleh
energi adalah dengan cara mengubah
glikogen menjadi glukosa. Reaksi
kimianya adalah sebagai berikut :
Glikogen > laktasidogen
Laktasidogen > glukosa + asam
laktat
Glukosa > CO2 + H2O + Energi

METODOLOGI
Praktikum kontraksi otot rangka
ini dilakukan pada tanggal 2 Desember
2016 di Laboratorium Fisiologi Kampus
B Universitas Negeri Jakarta. Metode
yang
digunakan
yaitu
metode
eksperimen. Kami melakukan 1 macam
percobaan yang berkaitan dengan
kontraksi otot rangka. Percobaan yang
kami lakukan adalah percobaan
terhadap kontraksi otot rangka pada
katak.
Alat yang digunakan dalam
percobaan ini, yaitu batrai 9 Volt,
rangkaian listrik, larutan ringer, papan
bedah, pisau, pinset, cawan petri, jarum,
benang, gunting bedah. Dibawah ini
merupakan cara kerja pada praktikum
kontraksi otot rangka, meliputi :

1. Kontraksi otot rangka


pada bagian betis katak
dikuliti dan diambil
bagian gastroknemius
nya.

Gastroknemius
direndam di larutan
ringer

bagian tendon diberi


arus listrik, lalu
dihitung getaran
yang dihasilkan
selama 5 menit

kedua ujung tendon


diikat dengan
benang, tarik kedua
benang sehingga
gastroknemius
mengencang

katak diletakkan di atas


papan bedah

HASIL
Tabel 1. Percobaan Terhadap Kontraksi Otot Rangka
No

Waktu

Jumlah Getaran

.
1.
2.
3.
4.
5.

Menit ke-1
Menit ke-2
Menit ke-3
Menit ke-4
Menit ke-5

95 kali
99 kali
70 kali
27 kali
23 kali

Gambar 1. Percobaan Terhadap Kontraksi Otot Rangka

PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini, dilakukan


untuk mengetahui adanya kontraksi otot

rangka pada gastroknemus katak.


Bagian otot rangka yang digunakan
yaitu otot pada gastroknemus pada
bagian betis katak. Setelah diambil otot
gastroknemus diletakan di larutan ringer
fungsinya untuk membasahi sel-sel pada
jaringan otot agar sel-sel tersebut tetap
hidup. Rangsangan yang digunakan
berasal dari aliran rangkaian arus listrik
dengan tegangan 9 Volt.
Berdasarkan hasil yang diperoleh
yaitu, pada 1 menit pertama dihasilkan
95 kali getaran pada otot, dilanjutkan 1
menit kedua jumlah getarannya adalah
99 kali, 1 menit ketiga jumlah
getarannya 70 kali, 1 menit keempat
jumlah getarannya 27 kali, dan 1 menit
kelima jumlah getarannya 23 kali. Hal
ini menunjukan getaran yang dihasilkan
semakin lama semakin menurun.
Menurut ccabah (2012), Bahwa
otot rangka dapat mengadakan kontraksi
dengan cepat, apabila ia mendapatkan
rangsangan dari luar berupa rangsangan
arus listrik, rangsangan mekanis panas,
dingin dan lain-lain. Bila otot rangka
dirangsang secara terus-menerus dengan
intensitas rangsang yang sama besar
dengan frekuensi satu rangsang per
detik, maka pada suatu saat otot
kehilangan
kemampuan
untuk
kontraksi.
Menurut Wulangi (1993: 75), ada
beberapa
faktor
yang
dapat
mempengaruhi
kuat
kontraksi
(amplitudo) dan durasi (lamanya waktu)
dari kontraksi otot. Pada umumnya kuat
kontraksi akan meningkat bila intensitas
rangsang meningkat. Faktor lain yang
sangat berpengaruh terhadap kuat
kontraksi otot adalah tegangan awal dari

otot pada waktu


perangsangan.

akan

dilakukan

Dari
hasil
penelitian
dan
pengamatan dengan mikroskop elektron
dan difraksi sinar X, Hansen dan Huxly
(l955) mengemukkan teori kontraksi
otot yang disebut model sliding
filaments. Model ini menyatakan bahwa
kontraksi didasarkan adanya dua set
filament di dalam sel otot kontraktil
yang berupa filamen tipis dan filamen
tebal. Rangsangan yang diterima oleh
asetilkolin menyebabkan aktomiosin
mengerut (kontraksi). Kontraksi ini
memerlukan energi.
Pada waktu kontraksi, filament
tipis meluncur di antara miosin ke
dalam zona H. Zona H adalah bagian
terang di antara 2 pita gelap. Dengan
demikian
serabut
otot
menjadi
memendek yang tetap panjangnya ialah
pita A (pita gelap), sedangkan pita I
(pita terang) dan zona H bertambah
pendek waktu kontraksi.
Bagian miofibril yang terletak
antara dua garis Z disebut sarkomer.
Jika otot lurik berkontraksi, maka pita I
menyempit dan zona H dapat hilang
karena garis Z saling mendekat. Derajat
penyempitan pita I tergantung pada
kekuatan kontraksi.

Berdasarkan penjelasan diatas,


filamen tipis dan tebal tidak mngalami
perubahan panjang selama kontraksi
otot. Namun, justru filamen tipis dan
filamen
tebal
saling
bergabung
membentuk aktomiosin dan menggeser
satu dengan yang lain secara
longitudinal sehingga panjang daerah
filamen tipis dan tebal yang tumpang
tindih bertambah besar.
Pada waktu istirahat, tidak ada
interaksi antara filamen-filamen, karena
tempat aktif pada filamen aktin tempat
kepala miosin dapat terikat diblokir oleh
tropomiosin. Jika sebuah serabut otot
dirangsang (impuls saraf sampai pada
ujung suatu neuron), asetilkolin
dilepaskan oleh ujung neuron yang
menyebabkan ion Ca++ dilepaskan dan
bersenyawa dengan troponin dan
mengubah konfigurasinya. Hal ini,
menyebabkan serat otot kepala miosin
mengikat diri di tempat aktif filamen
aktin menggantikan tropomiosin yang
memblokade tempat aktif tersebut.
ATP (adenosin trifosfat) adalah
sumber energi yang dipakai dalam roses
kontarksi otot dengan bantuan enzim
ATPase. Pada saat kontraksi, ATP
menempel
pada
miosin
untuk
menyediakan energi yang diperlukan
untuk menarik filamen aktin. Reaksi
kimianya digambarkan sebagai berikut.

Fosfokreatin merupakan produk


cadangan otot yang terlibat dalam
pengubahan ADP (adenonin difosfat)
menjadi ATP. ADP dihasilkan dari
pemecahan ATP untuk melepaskan

energi. Fosfokreatin bersama dengan


ADP beregenerasi menjadi ATP, seperti
terlihat pada reaksi berikut.

Jika otot bekerja keras dalam


waktu yang lama maka otot akan
kekurangan
untuk
mengoksidasi
glukosa dan asam lemak. Energi akan
diperoleh melalui reaksi anaerob yang
menghasilkan asam laktat dan energi itu
sendiri.

KESIMPULAN
Kontraksi otot adalah proses
terjadinya pengikatan aktin dan miosin
sehingga otot memendek. Apabila otot
dirangsang (disetrum), maka akan
terjadi kontraksi otot dimana otot akan
bergerak
(berkontraksi)
dengan
sendirinya.
Dalam
mekanisme
kontraksi
otot
diperlukan
ATP
(Adenosine
Triphosphate)
dan
Kreatinphosphate untuk memperoleh
energi, namun untuk membuat troponin
C
lancar
mengatur
tropomiosin
2+
diperlukan
ion
Ca
yang
di
distribusikan
oleh
saluran
yang
menghubungkan reticulum sarkoplasma
dengan troponin C. Keadaan otot betis
katak
tersebut
akan
bergerak/berkontraksi
secara
terus
menerus jika arus listrik tersebut
disambungkan terus menerus. Dan otot
tersebut melekat pada rangka dan sendi.

DAFTAR PUSTAKA

Dziemianczyk,
D
et.al,.2012.
Evaluation
of
Secretory
Mucin
Concentration
of
Patients
with
Squamous Cell Carcinoma Oral Cavity.
Journal International of Medical
University Bialystok Polland. Not
Published
Sherwood, Lauralee. 2014. Human
Physiology From Cells to System eight
edition. EGC : Jakarta

Soehardjo dan C. M. Kusharto.


1992.
Prinsip-Prinsip
Ilmu
Gizi.Yogyakarta: Kanisius.
Sulistyani, R. Dkk. (2008). Fisiologi
Sistem Pencernaan pada Vertebrata
(Ikan, Katak, Tokek, Ayam, Mencit, dan
Saliva Manusia)
Rahmi, Masilatur, 2015, Tes Glukosa
Urine Fehling & Benedict(online)
https://www.academia.edu/8898223/Ba
han_pratikum diakses pada: 12 Maret
2015.