Anda di halaman 1dari 7

I.

Tujuan

Menentukan energi yang dikonsumsi beban listrik terpasang.

Menentukan nilai faktor kerja, daya/watt dari suatu beban listrik

Mengkalibrasi KWH meter dengan menggunakan wattmeter dan stopwatch.

II. Dasar Teori


Pada sistem pengukuran energi listrik AC satu phasa diperlukan alat ukur
energi listrik yaitu KWH (KiloWatt Hour) meter elektromekanik atau KWH meter
digital satu phasa .
Konstruksi KWH meter elektromekanik terdiri dari kumparan
arus , kumparan
tegangan , piringan aluminium yang dapat berputar dan magnit
permanent untuk pengereman.
Cara kerja KWH meter elektromekanik adalah sbb :
Fluksi yang dihasilkan oleh kumparan arus dan kumparan tegangan akan
memotong tegak lurus piringan aluminium sehingga akan terjadi ggl induksi dan
timbul arus yang mengelilingi fluksi utama sehingga terjadi momen penggerak.
Magnit pengerem bekerja sebagai rem arus pusar (arus Eddy) yang akan
menimbulkan momen lawan yang besarnya sebanding dengan kecepatan putar
piringan aluminium dan berfunsi untuk melawan momen kelembaman piringan
sehingga hubungan antara kecepatan putar piringan dengan harga sesaat energi tetap
proporsional.
Daya listrik didefinisikan sebagai laju hantaran energi listrik dalam rangkaian
listrik. Satuan SI daya listrik adalah watt yang menyatakan banyaknya tenaga
listrik yang mengalir per satuan waktu (joule/detik). Arus listrik yang mengalir dalam
rangkaian dengan hambatan listrik menimbulkankerja. Peranti mengkonversi kerja ini
ke dalam berbagai bentuk yang berguna, seperti panas (seperti pada pemanas
listrik), cahaya (seperti pada bola lampu),energi kinetik (motor listrik), dan suara
(loudspeaker). Listrik dapat diperoleh daripembangkit listrik atau penyimpan energi
seperti baterai.
Daya listrik, seperti daya mekanik, dilambangkan oleh huruf P dalam persamaan
listrik. Pada rangkaian arus DC, daya listrik sesaat dihitung menggunakan Hukum
Joule, sesuai nama fisikawan Britania James Joule, yang pertama kali menunjukkan
bahwa energi listrik dapat berubah menjadi energi mekanik, dan sebaliknya.

di mana
adalah daya (watt atau W)
adalah arus (ampere atau A)
adalah perbedaan potensial (volt atau V)
Faktor daya terdiri dari dua sifatya itu factor daya leading dan factor daya
lagging.
Faktor daya ini memiliki karakteristik seperti berikut :

FaktorDaya leading
Apabila arus mendahului tegangan, maka factor daya ini dikatakan
leading. Faktor daya
leading ini terjadi apabila bebannya kapasitif, seperti capacitor,
synchronocus generators, synchronocus motors dan synchronocus
condensor.
FaktorDaya lagging
Apabila tegangan mendahului arus, maka factor daya ini dikatakan
lagging. Faktor daya lagging ini terjadi apabila bebannya induktif,
seperti motor induksi, AC dan transformator
Dalam perhitungan untuk system arus tukar / AC maka besar daya listrik dari suatu
beban tertentu adalah
P=V . I . cos
Untuk system arus searah/ DC maka cos = 1 sehingga besarnya daya adalah
P=V . I
Pengukuran daya listrik dapat dilakukan dengan pemasangan :
Wattmeter
Kombinasi voltmeter, amperemeter, dan Cos meter

Dalam pengukuran energy listrik suatu beban tertentu diperlukan peralatan yang
umum dijumpai baik itu didalam pemakaian rumah tangga maupun didalam
industry. Alat yang dimaksud adalah Kilo Watt Hour (KWH). Alat ini bekerja
berdasarkan atas berputarnya suatu piringan logam, sebagai akibat momen putar
hasil interaksi antara medan magnit dari kumparan arus dan kumparan tegangan.
Secara metematis relasi tersebut dapat dituliskan sebagai :
n=k .V . I . cos
Dimana :
n = kecepatan putar piringan logam
V = tegangan beban
I = arus beban
Cos = power faktor
k = konstanta
Beberapa strategi untuk koreksi factor daya adalah :
Meminimalkan operasi dari beban motor yang ringan atau tidak bekerja
Menghindari operasi dari peralatan listrik di atas tegangan rata ratanya
Mengganti motor motor yang sudah tua dengan energy efisien motor.
Meskipun dengan energy efisien motor, bagaimanapun factor daya
diperngaruhi oleh beban yang variasi. Motor ini harus dioperasikan sesuai
dengan kapasitas rata ratanya untuk memperoleh factor daya tinggi.
Memasang kapasitor pada jaringan AC untuk menurunkan medan dari daya
reaktif.
Selainitu, pemasangankapasitordapatmenghindari :
Trafo kelebihan beban (overload), sehingga memberikan tambahan daya
yang tersedia
Voltage drops padaline ends
Kenaikan arus / suhu pada kabel, sehingga mengurangi rugi rugi.
Untuk pemasangan Capasitor Bank diperlukan :
Kapasitor, dengan jenis yang cocok dengan kondisi jaringan

Regulator, dengan pengaturan daya tumpuk kapasitor (Capasitor Bank)


otomatis
Kontaktor, untuk switching kapasitor
Pemutus tenaga, untuk proteksi tumpuk kapasitor.

III. Alat dan Bahan

Wattmeter,

KWH meter,

Stopwatch,

Pengukur faktor daya (cos),

Beban alat,

Motor listrik.

IV. Langkah Kerja


1.

Alat disusun seperti gambar 1 :

Cos

watt

Gambar 1.

KWH

Beban

Susunan Alat Percobaan

2. Putaran KWH meter dihitung pada interval 10 menit dan dicatat,


3. Hasil pengukuran cos dan watt meter dicatat,
4. Beban divariasi antara kompor 300 watt, 600 watt dan motor listrik.

V. Data Percobaan
Terlampir

VI. PERHITUNGAN
1 putaran = 50,45 s
Dalam 10 menit, maka dihasilkan:
10 menitx 60 detik

x 1 putaran kwh
50,45 detik
11,89 putaran
Daya yang dihasilkan :
Daya ( P )=Vx Ix cos
212 x 1,2 x 1
= 254,4 W

Energi Teoritis
Pxt

1000
254,4 x 600

3600 x 1000
0,0424 kWH

Energi secara praktik


putaran kWH dalam 10 menit

k
11,89

300
= 0,039643 kWH

Persen kesalahan
energi teoritisenergi praktik

x 100
energi teoritis
0,04240,039643

x 100
0,0424
= 6,501%
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan :

Beba
n

Daya
Cos

300
240
165

1
1
1

V
212
215
215

I
1,2
0,98
0,66

Putrn
kwhmtr

Waktu

putaran dlm
10 menit

Energi T

Energi P

1
1
1

50,45
64,265
101,991

11,89296333
9,33634171
5,882872018

254,4
210,7
141,9

0,0424
0,035117
0,02365

0,039643
0,031121
0,01961

%
kesalahan
6,501861
11,37787
17,08426

Persentase kesalahan jika dibandingkan dengan kwh meter, maka di dapatkan:


Cos
Beban
180
165
155

1
1
1

V
220
219
218

I
0,75
0,52
0,48

Wattmeter
16
10
10

Ptrn
kWHmete
r
1
1
1

P
165
113,88
104,64

Energi T
0,0275
0,01898
0,01744

Energi P
0,039643
0,031121
0,01961

Persentase kesalahan jika dibandingkan dengan wattmeter, maka di dapatkan :


Energi Teoritis :
P pd wattmeter xt
1000
16 x 600

3600 x 1000
= 0,002667

%
kesalahan
30,63125
39,01252
11,06385

Persen kesalahan
Energi teoritisenergi praktik

x 100
Energi teoritis
0,0026670,039643

x 100
0,002667
= 93,2733%

Beban

Wattmeter

Ptrn
kWHmete
r

180

220

0,75

16

165

165

219

0,52

10

113,88

155

218

0,48

10

104,64

Cos

%
Energi T
Energi P kesalahan
0,00266 0,03964 93,2733
7
3
3
0,00166 0,03112 94,6445
7
1
8
0,00166
91,5007
7 0,01961
5

Diasumsikan sebulan adalah 30 hari, biaya per kwh : Rp1.500,00 maka:


Energi = Pxt
24 jam
254,4 watt x 30 hari x
1 hari
= 183.168 Wh
= 183,168 kWh
Biaya sebulan yang harus dikeluarkan adalah :
= 183,168 kWh x Rp1.500,00
= Rp274.725,00
Dengan cara yang sama, diperoleh :
Beban
Daya (watt)
Daya
tiap Biaya per kWh
bulan (kWh)
300
254,4
183,168
240
210,7
151,704
165
141,9
102,168
Rp200,00
180
165
118,8
165
113,8
81,9936
155
104,64
75,3408

Biaya
bulan
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

setiap
36.634
30.341
20.434
23.760
16.399
15.068

PEMBAHASAN
Rasio besarnya daya aktif yang bisa kita manfaatkan terhadap daya
tampak yang dihasilkan sumber inilah yang disebut sebagai faktor daya
Bagian pertama adalah daya yang termanfaatkan oleh konsumen, bisa menjadi
gerakan pada motor, bisa menjadi panas pada elemen pemanas, dsb; daya yang
termanfaatkan ini sering disebut sebagai daya aktif (real power) memiliki
satuan watt
yang mengalir dari sisi sumber ke sisi beban bernilai rata-rata
tidak nol.

Faktor daya bisa dikatakan sebagai besaran yang menunjukkan seberapa efisien
jaringan yang kita miliki dalam menyalurkan daya yang bisa kita manfaatkan.
Faktor daya dibatasi dari 0 hingga 1, semakin tinggi faktor daya (mendekati 1)
artinya semakin banyak daya tampak yang diberikan sumber bisa kita
manfaatkan, sebaliknya semakin rendah faktor daya (mendekati 0) maka
semakin sedikit daya yang bisa kita manfaatkan dari sejumlah daya tampak
yang sama. Di sisi lain, faktor daya juga menunjukkan besar pemanfaatan dari
peralatan listrik di jaringan terhadap investasi yang dibayarkan. Seperti kita
tahu, semua peralatan listrik memiliki kapasitas maksimum penyaluran arus,
apabila faktor daya rendah artinya walaupun arus yang mengalir di jaringan
sudah maksimum namun kenyataan hanya porsi kecil saja yang menjadi sesuatu
yang bermanfaat bagi pemilik jaringan.

Perbaikan faktor daya


Salah satu cara untuk memperbaiki faktor daya adalah dengan memasang
kompensasi kapasitif menggunakan kapasitor pada jaringan tersebut. Kapasitor
adalah komponen listrik yang justru menghasilkan daya reaktif pada jaringan
dimana dia tersambung.
Cos Phi adalah faktor daya pada listrik AC dikarenakan perbedaan phase antara
arus dan tegangan, semakin besar cos phi (mak 1) karena daya yang di hasilkan
semakin mendekati daya yang masuk, jika cos phi 1 maka daya masuk sama
dengan daya keluar artinya tidak ada rugi faktordaya, jika kurang dari satu maka
daya yg keluar akan lebih kecil dari daya yang masuk. dengan rumus sebagai
berikut:
P=V.I.Cos
Phi
Jadi P semakin besar dan maksimal jika Cos Phi besar dan bernilai mak 1.

Kilo Watt Hour (KwH) Meter


Untuk menghitung besarnya daya-daya yang dipakai pada perumahan pada
industri peralatan yang dapat dipakai adalah Kwh Meter. Prinsipnya yaitu daya
yang digunakan pada beban dihitung untuk setiap jamnya yang selanjutnya
dikalkulasikan dengan harga listrik yang harus dibayarkan konsumen

Sesuai dengan namanya, KwH meter hanya menghitung daya aktif nya pada
suatu perumahan atau industri sehingga apabila ada daya reaktif yang
ditimbulkan oleh kapasitor atau induktor, maka seharusnya KwH meter tidak
dapat menghitung daya tersebut dan putaran aluminium pada KwH meter jenis
mekanik tidak dapat bergerak. Apabila KwH meter bergerak namun tidak ada
daya aktif nya, maka kemungkinan terbesar, terdapat kerusakan pada KwH
meter.
daya yang tidak termanfaatkan oleh konsumen, namun hanya ada di jaringan,
daya ini sering disebut dengan daya reaktif (reactive power) memiliki satuan
volt-ampere-reactive (VAR) bernilai rata-rata no

.wattmeter induksi
Perbedaan dengan wattmeter jenis dinamometer adalah wattmeter induksi
hanya dapat dipakai dengan suplai listrik bolak balik sedangkan wattmeter jenis
dinamometer dapat dipakai baik dengan suplai listrik bolak balik atau
searah.Kelebihan dan keterbatasan wattmeter induksi yaitu wattmeter induks
imempunyai skala lebar, bebas pengaruh medan liar, serta mempunyai
peredaman bagus. Selain itu, alat ukur ini juga bebas dari error akibat frekuensi.
Kelemahannya adalah timbulnya error yang kadang-kadang serius yang

diakibatkan oleh pengaruh suhu sebab suhu ini berpengaruh pada tahanan
lintasan arus eddy.Pengukuran daya arus searah dapat dilakukan dengan alat
ukur wattmeter. Didalam instrumen ini terdapat dua macam kumparan yaitu
kumparan arus dan kumparan tegangan. Kopel yang dikalikan oleh kedua
macam kumparan tersebut berbanding lurus dari hasil perkalian arus dan
tegangan.Daya listrik dalam pengertiannya dapat dikelompokkan dalam dua
kelompok sesuai dengan catu tenaga listriknya, yaitu daya listrik DC dan daya
listrik AC.Daya listrik DC dirumuskan sebagai Dimana P = daya (Watt)V =
tegangan (Volt)I = arus (Ampere)Daya listrik AC ada dua macam yaitu daya untuk
satu phase dan daya untuk tiga phase.Pada sistem satu phase dirumuskan
sebagai berikut P = VI
P = V . Icos f