Anda di halaman 1dari 7

Pengolahan Data Unit 3

Pada pengolahan data ini digunakan metode pendekatan linear dengan basis 1 sekon. Karena
pada tabel hanya diketahui temperatur inlet dan outlet dari cooling water, diperlukan sebuah
konversi untuk mengubah tegangan menjadi satuan suhu Celcius. Langkah-langkah perhitungan
pada metode pendekatan linear ini adalah sebagai berikut:
1. Menghitung nilai T1 dan T2 dengan satuan C, dengan menggunakan persamaan:
T ( ) =[ 24,82 T ( mV ) ] +29,74
Selain itu, juga dihitung Tavg

node

untuk setiap node, sehingga diperoleh hasil sebagai

berikut:
Tabel 4. Pengolahan Data Unit 3 (1)
Node
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

T1 (mV)
3,402
2,973
2,56
2,214
1,906
1,656
1,407
1,189
1,089
0,834

T Node (mV)
T2 (mV) T1 (oC)
T2 (oC)
3,42
114,178 114,624
2,97
103,530 103,455
2,571
93,279
93,552
2,242
84,691
85,386
1,914
77,047
77,245
1,664
70,842
71,040
1,413
64,662
64,811
1,196
59,251
59,425
1,016
56,769
54,957
0,841
50,440
50,614

Tavg (oC)
114,401
103,493
93,416
85,039
77,146
70,941
64,736
59,338
55,863
50,527

2. Menghitung laju Alir Massa Air yang Keluar


Diketahui data laju alir volume air yang keluar pada unit 3 sebagai berikut
Run Volume air (ml) t (sekon)
1
43
10
2
45
10
3
43
10
Untuk mengubah laju alir volume menjadi laju alir massa, digunakan persamaan
V air
m=
Dimana
V =laju alir volume air yang keluar pada waktu tertentu(ml /s )
3

air =densitas air (1000 kg/m )

Didapatkan hasil sebagai berikut :


Run
1
2
3

V air (ml)
43
45
43

t (s)
10
10
10

V air (m3) m air (kg)


0,000043
0,043
0,000045
0,045
0,000043
0,043

(kg/s)
0,0043
0,0045
0,0043

avg (kg/s)
0,004367

3. Menghitung suhu rata-rata air pada outlet untuk setiap node


Diketahui data suhu air pada outlet adalah sebagai berikut
Untuk menghitung suhu rata-rata setiap node digunakan persamaan
T +T
T avg= 1 2
2
Node
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

T1 out air

T2 out air

T avg air

(oC)
36,4
36,2
36,3
36,2
36,1
36,1
36,1
36,3
36,1
36,1

(oC)
36,3
36,3
36,3
36,2
36
36
36,1
36,2
36,2
36

(oC)
36,35
36,25
36,3
36,2
36,05
36,05
36,1
36,25
36,15
36,05

4. Menghitung selisih jarak dan luas tiap node


Terjadi pengurangan ukuran jari-jari node, dengan efek luas per node yang akan memiliki
perbedaan. Melalui informasi pada modul yang menyatakan diameter akhir node adalah
5,04 cm (r final = 0,01275 m) dengan diameter awal mencapai 2,55 cm (r initial =
0,01275 m). Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui penurunan besar jari-jari adalah
sebagai berikut :
r
r
dr= initial final
dx
dr=

0,02520,01275
0,025

dr=0,001131818=1,132 103 m
Besar jari-jari dan luas dari setiap node kemudian dapat dituliskan sebagai berikut :

Node
10

dx
0,025

dr (m)
1,132 103

r (m)
0,02500

A (m2)
0,001963

0,025

1,132 10

0,02387

0,00179

0,025

1,132 103

0,02274

0,001624

0,025

1,132 103

0,02160

0,001466

0,025

1,132 10

0,02047

0,001317

0,025

1,132 103

0,01934

0,001175

0,025

1,132 103

0,01821

0,001042

0,025

1,132 10

0,01708

0,000916

0,025

1,132 103

0,01595

0,000799

0,025

1,132 103

0,01481

0,000689

5. Menghitung nilai k untuk masing-masing bahan penyusun node dengan menggunakan


asas Black
Nilai k dapat dihitung menggunakan asas black yaitu:
Qlepas =Qterima
mair Cp air ( T air T out air )=k A

k=

(T node iT nodei1 )
dx

m Cp ( T out air T air ) dx


A (T node iT node i1 )

Dengan menggunakan Cp = 4200 J/kgoC ,dx = 0,025 m dan luas penampang batang (A)
didapat dari perhitungan sebelumnya, maka k pun dapat dihitung antara setiap node
Tabel 5 Pengolahan Data Unit 3 (2)
dT
Node

1-2

dT1

dT2

node

(oC)

(oC)

avg

11,17

(oC)
10,91

10,65

T node
dT air

avg

A avg

k W/moC

0,000744

449,75

( C)
108,95

k avg
W/moC
442,643

2-3
3-4
4-5
5-6
6-7
7-8
8-9
9-10

10,25
8,59
7,64
6,21
6,18
5,41
2,48
6,33

9,90
8,17
8,14
6,21
6,23
5,39
4,47
4,34

10,08
8,38
7,89
6,21
6,21
5,40
3,47
5,34

98,45
89,23
81,09
74,04
67,84
62,04
57,60
53,19

7,975
7,95
7,825
7,75
7,775
7,875
7,9
7,8

0,000857
0,000979
0,001108
0,001246
0,001392
0,001545
0,001707
0,001877

421,16
442,39
408,15
457,43
410,89
430,80
607,80
355,42

6. Menghitung Persentase kesalahan relatif (% KR) dari k perhitungan


Diketahui bahwa logam tembaga mempunyai nilai konduktivitas sebesar 385 W/moC.
Berdasarkan percobaan, didapatkan nilai konduktivitas sebesar 375,064 W/moC. Oleh
karena itu, besarnya kesalahan relatif dari percobaan unit 3 adalah
k k
KR= avg lit 100
k lit

KR kavg Tembaga (k literatur = 385 W/moC)

KR=

k avgk lit
100
k lit

| 442,643385
|100 =14 , 97
385

KR=

7. Menghitung nilai

k0

dan dengan membuat grafik k vsT node avg (menggunakan

metode least square) dengan menggunakan data k dan T node avg tembaga berdasarkan
rumus :
k =k 0 (1+ T )
k =k 0 +k 0 T

y=c+m x

Sehingga diperoleh grafik sebagai berikut :

Grafik Hubungan Nilai T vs k


700
600
500
400

k (W/mC)

f(x) = - 0.37x + 471.27

300
200
100
0
50

60

70

80

90

100

110

120

T (C)

Grafik 1, Kurva T vs k untuk Cu

Dari grafik diperoleh persamaan :


y=0,3 721 x + 471,27
Sehingga :
c=k 0=471,27
m=k 0 . =0,3153
=

0,3721 0,3721
=
=0,0007895
k0
471,27

Analisis Percobaan Unit 3


Percobaan unit 3 bertujuan untuk mengetahui pengaruh luas permukaan bidang kontak terhadap
kemampuan logam dalam menghantarkan panas secara konduksi. Bahan yang digunakan pada
unit 3 adalah bahan yang sama dengan yang digunakan pada unit 2, yaitu tembaga, yang
memiliki luas penampang yang semakin kecil dari atas ke bawah. Variabel yang berpengaruh

pada unit 3 yaitu jarak antar node dengan sumber kalor dan luas penampang. Adapun luas
penampang batang tembaga semakin besar seiring bertambahnya jarak dari sumber kalor.
Analisis Data Unit 3
Dari tabel data hasil percobaan dapat dilihat bahwa, suhu node yang diperoleh cenderung
menurun, baik pada pengambilan data pertama (run 1) maupun pengambilan data kedua (run 2)
seiring dengan peningkatan node. Jika data suhu node tersebut diplotkan antara suhu node
dengan nodenya maka akan terbentuk grafik yang cenderung linier dengan slope negatif. Slope
negatif tersebut dikarenakan node yang paling atas memiliki luas yang lebih besar. Selain itu
posisi pemanas terletak pada bagian bawah (dekat dengan node 1), sehingga suhu pada node 1
cenderung lebih besar dibanding suhu node-node diatasnya. Pada unit 3 ini, diasumsikan pula
bahwa jarak setiap node sama sehingga dapat diketahui profil perpindahan panas konduksi yang
hanya dipengaruhi oleh nilai suhu dan luas penampang yang berbeda.
Selain itu, data suhu keluaran air yang diperoleh praktikan relatif konstan, baik pada
pengambilan data pertama (run 1) maupun pengambilan data kedua (run 2). Hal tersebut
menunjukkan suhu keluaran air yang diperoleh dari percobaan yang tidak sesuai dengan suhu
yang berlaku bagi parameter-parameter dalam literatur sehingga hasil perhitungan tidak akan
sesuai dengan literatur dan menimbulkan persentase kesalahan. Praktikan mengasumsikan
kekonstanan tersebut terjadi akibat Qloss yang terjadi pada saat sampling akibat lingkungan dan
adanya kerusakan pada bagian alat tertentu.

Analisis Penghitungan dan Hasil Unit 3


Karena luas penampang unit 3 semakin membesar dari bawah ke atas, maka dalam perhitungan,
Tair di tiap node diperoleh dengan pendekatan linier plot grafik T vs tinggi node. Maka untuk
mencari nilai k diperoleh dengan metode yang sama dengan sebelumnya. Nilai k tembaga untuk
Unit 3 didapat sebesar 442,643 W/m.oC dengan kesalahan literatur sebesar 14, 97 %
Nilai dihitung dengan menggunakan plot grafik linier antara k dengan T. Nilai k yang
digunakan adalah k dari perhitungan sebelumnya. Persamaan yang digunakan dalam plot grafik

adalah: k = k0 + k0. .T. Dengan pendekatan least square, maka dianggap bahwa y = k, a = k0, b
= k0. . Dari grafik yang ada diperoleh persamaan y = a + bx dengan nilai = b/a.
Dari penghitungan dapat dilihat bahwa nilai k fluktuatif terhadap besarnya T. Hal ini dapat
disebabkan karena suhu didalam alat yang fluktuatif (tidak konstan nilainya), dan adanya kalor
yang lepas ke lingkungan (heat loss).
Dari grafik hubungan nilai T dan k, diperoleh nilai yang negatif. Menurut literatur, seharusnya
nilai yang diperoleh adalah positif, menandakan bahwa hubungan k dengan T adalah
sebanding. Kesalahan ini dapat disebabkan karena adanya heat loss ke lingkungan yang nilainya
cukup besar, sehingga mempengaruhi data yang diambil dan hasil pengolahan data hasil
praktikum.