Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahuwata'ala, berkat izin


dan karunia-Nyalah sehingga kami memiliki kesempatan menyelesaikkan
makalah EKOLOGI tentang Suksesi sesuai dengan waktu yang telah diberikan
meski banyak kekurangannya. Makalah ini disusun untuk memenuhi syarat
menyelesaikan studi kami.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak hal-hal
yang perlu disempurnakan dan diperbaiki, oleh karenanya kritik dan saran yang
sifatnya membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini, agar
dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

Gorontalo, 1 mei 2016

Kelompok 3

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.............................................1
1.2. Rumusan
Masalah.........................................................................................2
1.3. Tujuan...........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.

Pengertian suksesi........................................................................................3
Konsep suksesi.............................................................................................3
Faktor-faktor penyebab suksesi...................................................................6
Tahapan-tahapan suksesi.............................................................................7
Pembagian Suksesi......................................................................................8
Sere....11

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan................................................................................................14
3.2. Saran..14
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Seperti yang telah dipelajari materi sebelumnya tentang sub topik ekosistem
(bagian topik ekologi) yang merupakan hubungan timbal balik antara komponen
biotik dan abiotik saling berkesinambungan untuk membentuk suatu sistem yang
seimbang. Pada ekologi memiliki hirarki/tingkatan komponen yang terdiri atas
individu, populasi, komunitas, ekosistem, biosfer dan bioma. Ekosistem di alam
ini memiliki pola penyesuaian untuk mempertahankan stabilitasnya yaitu dengan
mengalami suatu perubahan.
Pada prinsipnya semua bentuk ekosistem akan mengalami perubahan bentuk
baik struktur maupun fungsinya dalam perjalanan waktu. Beberapa perubahan
mungkin hanya merupakan fluktuasi lokal yang kecil sifatnya,sehingga tidak
memberikan arti yang penting.Perubahan lainnya mungkin sangat besar/kuat
sehingga mempengaruhi sistem secara keseluruhan.
Kajian perubahan ekosistem dan stabilitasnya memerlukan perhatian yang
tidak sederhana, ini meliputi aspek-aspek yang sangat luas seperti siklus
materi/nutrisi, produktivitas, konsep energi, kaitannya dengan masalah pertanian
juga dengan masalah konservasi. Perubahan ekosistem ini pada dasarnya dapat
disebabkan oleh berbagai penyebab utama, yaitu:
a) Akibat perubahan iklim
b) Pengaruh dari faktor luar
c) Karakteristika dalam sistem sendiri (Syafei, 1990).
Selain itu perubahan ekosistem juga berdampak pada perubahan lingkungan
hidup dan masalah konservasi lingkungan hidup.Untuk itu perlu di kaji mengenai
pengetahuan akan konsep dasar suksesi, kajiaan pendekatan tentang suksesi,
permasalahan dan contoh-contoh suksesi, dan cara penanggulangan dan aplikasi
solusi dari masalah- masalah suksesi tersebut.Hal ini bertujuan agar insan biologi
dapat menerapkan sedikit pengetahuannya akan suksesi untuk mengurangi
dampak negatif akibat suksesi yang telah terjadi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1

Dari uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Apakah pengertian suksesi ?
2. Bagaimana konsep kajian dari suksesi ?
3. Apa sajakah faktor-faktor suksesi ?
4. Bagaimana tahapan-tahapan dari suksesi ?
5. Bagaimana pembagian dari suksesi ?
6. Apakah yang dimaksud dengan sere ?
1.3 TUJUAN
Dari perumusan masalah di atas dapat dirumuskan tujuan penyusunan
makalah ini adalah:
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian suksesi
2. Mahasiswa dapat mengetahui konsep kajian dari Suksesi
3. Mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor terjadnya suksesi
4. Mahasiswa dapat mengetahui tahapan-tahapan dari suksesi
5. Mahasiswa dapat mengetahui pembagian dari suksesi
6. Mahasiswa dapat mengetahui sere dalam suksesi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara
teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga
terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan

kata lain, suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang
menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan
fisik dalam komunitas atau ekosistem (Syafei, 1990).
2.2 Konsep Suksesi
Pada dasarnya ada komunitas yang statis tetapi pada hakekatnya senantiasa
berubah dalam peredaran waktu. Perubahan itu dikenal dalam jenjang-jenjang;
yang pertama tentunya terjadi karena organisme tumbuh, berinteraksi atau mati.
Perubahan ini dalam jangka waktu yang lebih lama mengakibatkan perubahan
besar pada komposisi dan struktur suksesi ekologik, sebagai reaksi komunitas
perubahan faktor biotik fundamental dan evolusi komunitas.
Dalam contoh tulisan ini suksesi ekologik digambarkan dari awal suatu
ekosistem hutan yang mengalami kebakaran besar sehingga mengakibatkan lahan
menjadi gundul. Kendati demikian pada lahan gundul itu dapat tersisa vegetasi
akar-akaran dan biji-biji dorman yang mulai hidup kembali membentuk ekosistem
baru. Jenis-jenis pertama yang mulai membentuk komunitas baru itu disebut jenis
pionir, yang memelopori kehidupan di lingkungan gersang yang kemudian mati,
ditambah semak-semaknya sewaktu masih tumbuh dan meningkatkan mutu
kondisi lingkungan biotik, yang memungkinkan organisme lain hidup, baik yang
dominan di tempat maupun kedatangan spesies baru dari luar, meningkatkan
komunitas semakin dewasa. Pertumbuhan komunitas semakin dewasa ini disebut
proses suksesi. Proses ini berlanjut terus menuju keseimbangan puncak yang
dalam tulisan ini disebut puncak keseimbangan dinamik (PKD/klimaks)
(McNaughton, 1973).

Gambar 1. Bagan Suksesi Ekologik Dengan Putaran Umpan Balik (McNaughton,


1973).
Menurut Irwan (1992), Teori tradisional menyatakan bahwa suksesi
ekologi mengarah pada suatu komunitas akhir yang stabil yaitu klimaks. Pada
klimaks ini mempunyai sifat-sifat tertentu, dan yang penting adalah:
a. Fase klimaks merupakan sistem yang stabil dalam keseimbangan antara
lingkungan biologi dengan non-biologi.
b. Komposisi jenis pada fase klimaks relatif tetap atau tidak berubah.
c. Pada fase klimaks tidak ada akumulasi tahunan berlebihan dari materi organik,
sehingga tidak ada perubahan yang berarti.
d. Fase klimaks dapat mengelola diri sendiri atau mandiri.
Di dalam kondisi klimaks ini makhluk hidup dapat mengatur dirinya
sendiri dan dapat mengolah habitat sedemikian rupa sehingga cenderung untuk
melawan inovasi baru. Terdapat beberapa jenis klimaks berdasarkan faktor-faktor
yang mempengaruhinya, diantaranya:
1) Klimaks klimatik, klimaks yang dapat dicapai dengan kondisi iklim tertentu.
Karena iklim sendiri menentukan pembentukan klimaks maka dapat dikatakan
bahwa klimaks klimatik dicapai pada saat kondisi fisik di sub stratum tidak
begitu ekstrem untuk mengadakan perubahan terhadap kebiasaan iklim di
suatu wilayah.
2) Klimaks edafik, klimaks yang dimodifikasi begitu besar oleh kondisi fisik
tanah seperti topografi dan kandungan air. Secara relatif vegetasi dapat
mencapai kestabilan lain dari klimatik atau klimaks yang sebenarnya di suatu
wilayah. Hal ini disebabkan adanya tanah habitat yang mempunyai
karakteristik yang tersendiri.
3) Sub klimaks, adakalanya vegetasi terhalang untuk mencapai klimaks, oleh
beberapa faktor selain iklim. Misalnya adanya penebangan, dipakai untuk
penggembalaan hewan, tergenang dan lain-lain. Dengan demikian vegetasi
4

dalam tahap perkembangan yang tidak sempurna (tahap sebelum klimaks yang
sebenarnya) baik oleh faktor alam atau buatan. Komunitas tanaman sub
klimaks akan cenderung untuk mencapai klimaks sebenarnya jika faktorfaktor penghalang/penghambat dihilangkan.
4) Disklimaks, gangguan dapat menyebabkan modifikasi klimaks yang
sebenarnya dan ini menyebabkan terbentuknya sub klimaks yang berubah
(termodifikasi). Sebagai contoh vegetasi terbakar menyebabkan tumbuh dan
berkembangnya vegetasi yang sesuai dengan tanah bekas terbakar tersebut.
5) Pra klimaks (pre Klimaks), jika pergantian iklim secara temporer
menghentikan perkembangan vegetasi sebelum mencapai klimaks yang
diharapkan.
Berhubungan dengan berbagai klimaks maka terdapat kekaburan arti
klimaks. Oleh karena terjadi ketidaksepakatan kemudian berkembang tiga teori
klimaks dengan argumentasi masing-masing, yaitu:
a) Teori Monoklimaks
Teori ini dipelopori oleh Clements yang menyatakan bahwa teori klimaks
berkembang dan terjadi hanya satu kali. Hal ini merupakan klimaks klimatik di
suatu wilayah iklim utama.
b) Teori Poliklimaks
Klimaks merupakan keadaan komunitas yang stabil dan mandiri sehingga
pada suatu habitat dapat terjadi sejumlah klimaks karena kondisi selain iklim yang
berbeda.
c) Teori Informasi
Teori ini dikemukakan oleh Odum dan merupakan teori sebagai jalan
tengah antara teori monoklimaks dan teori poliklimaks (Irwan, 1992).
2.3 Faktor-faktor Penyebab Suksesi
Pada prinsipnya semua bentuk ekosistem akan mngalami perubahan baik
struktur maupun fungsinya. Perubahan ekosistem ini pada dasarnya dapat di
sebabkan berbagai penyebab utama yaitu:
a. Akibat perubahan iklim
5

Perubahan atau fluktuasi iklim dalam skala dunia yang meliputi ribuan
tahun telah memberikan reaksi penyusuaian dari ekosistem di dunia ini. Bentuk
perubahan ini meliputi perubahan dalam perioda waktu yang lama dari
penyebaran tumbuhan dan juga hewan yang akhirnya sampai pada bentuk-bentuk
ekosistem sekarang.
b. Suksesi allogenik (karen pengaruh dari luar)
Faktor luar seperti api, penginjakan atau polusi dapat menginduksi
perubahan ekosistem baik untuk sementara maupun waktu yang relative lama.
c. Topografi
Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain :
1. Erosi
Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah
menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan
akhirnya proses suksesi dimulai.
2. Pengendapan (denudasi)
Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan
sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi
menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut.
3. Biotik
Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan
pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang
penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh
kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi (Sancayaningsih, 2007).
Perubahan vegetasi di alam dapat dibedakan dalam tiga bentuk umum,
yaitu:
1. Perubahan fenologis, yaitu perubahan yang tidak saja terjadi karena adanya
masa-masa berbunga, berubah biji, berumbi, gugur daun dan sebagainya,
tetapi juga terjadi pertumbuhan jenis-jenis tumbuhan tertentu dalam perjalanan
waktu atau musim yang memperkaya komunitas tumbuhan itu, misalnya pada

habitat padang pasir dengan hadirnya tumbuhan setahun dan geofita setelah
hujan turun,dan ini terjadi satu kali untuk beberapa tahun.
2. Perubahan suksesi sekunder, yaitu perubahan vegetasi yang non fenologis dan
terjadi dalam ekosistem yang telah matang. Ini termasuk suksesi normal,
berirama dan kata strofik. Suatu suksesi sekunder berasal hanya dari suatu
kerusakan ekosistem secara tidak menyeluruh atau tidak total kerusakannya.
Misalnya pada daerah pertanian setelah terjadi panenan, juga pada daerah
hutan akiubat terjadinya pohon tumbang. Pada suksesi sekunder ini dapat
bersifat satu arah atau siklik.
3. Perubahan Suksesi rimer, berlainan dengan suksesi sekunder,pembentukan
komunitas tumbuhan pada suksesi primer ini berasal dari suatu substrat yang
sebelumnya tidak pernah mendukung komunitas tumbuhan.
2.4 Tahapan-tahapan Suksesi
Suksesi dapat terjadi melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Kolonisasi
Tahap awal dari suksesi adalah kolonisasi. Selama tahap tersebut habitat
yang kosong dipenuhi oleh oragisme organisme. Kemampuan organisme untuk
sampai pada suatu tempat tergantung pada kemampuan dispersal individu tersebut
dan isolasi yang ada pada daerah tersebut.
2. Modifikasi Tempat
Dari tahap kolonisasi, organisme organisme yang berdiam didaerah itu
akan mengubah sifat sifat tempat tersebut. Koloni awal dari suksesi primer pada
daerah terestial biasanya adalah mikroorganisme mikroorganisme tanah seperti
misalnya lichens (lumut kerak) yang meruakan kolonis permulaan dari bebatuan
vulkanik. Organisme ini akan mempengaruhi sifat sifat batuan yang didiami.
3. Variabilitas Ruang
Tahap berikut dari modifikasi ruang adalah peningkatan variablitas ruang
(spasial) habitat. Contohnya adalah Dryas drummndii adalah tanaman pembentuk
hutan yang terpentingpada suksesi awal di Alaska. Tumbuhan ini menghasilkan
gradient sifat tanah. Bahan organik tanah brvriasi pada bagian tengah hutandan
pada bagian tepi hutan.

Penutupan vegetasi ummnya berpengaruh pada perbaikan temperature,


cahaya dan evaporasi. Oleh karena transpirasi hutan akan cenderung menciptakan
kelembapan internal yang tinggi, kehilangan air dari organisme yang ada dihutan
mungkin akan berkurang. Temperature udara akan lebih rendah dalam tegakan
suksesi suksesi yang lebih tua.

Gambar 2. Proses suksesi (Syafei, 1990).


2.5 Pembagian Suksesi
Suksesi terdiri atas dua jenis, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
Yang membedakan antara suksesi primer dan suksesi sekunder ini terletak pada
kondisi habitat pada awal proses suksesi terjadi.
1. Suksesi Primer
Suksesi

primer

terjadi

ketika

komunitas

awal

terganggu

dan

mengakibatkan hilangnya komunitas awal tersebut secara total, sehingga di


tempat komunitas asal tersebut akan terbentuk substrat dan habitat baru.
Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan
gunung berapi, endapan Lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di
pantai. Selain itu gangguan juga dapat terjadi karena perbuatan manusia misalnya
penambangan timah, batubara, dan minyak bumi.

Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuknya suksesi di Gunung


Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung
Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (liken) serta tumbuhan
lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan.Tumbuhan
perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga
terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati maka akan mengundang
datangnya pengurai. Zat yang terbentuk karna aktivitas penguraian bercampur
dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks
susunannya.Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat
tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh.
Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner
dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi
sebaliknya.
Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terus
mengadakan pelapukan lahan. Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur
sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh.Tumbuhan
semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan
semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga
terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau
dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil
sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu (Wirakusumah, 2003).

Gambar 3. Suksesi primer pada Pulau Anak Krakatau (Wirakusumah, 2003).


2. Suksesi Sekunder
Apabila dalam suatu ekosistem alami mengalami gangguan, baik secara
alami ataupun buatan (karena manusia), dan gangguan tersebut tidak merusak
total tempat tumbuh organisme yang ada sehingga dalam ekosistem tersebut
substrat lama dan kehidupan lama masih ada. Contohnya, gangguan alami
misalnya banjir, gelombang taut, kebakaran, angin kencang, dan gangguan buatan
seperti penebangan hutan dan pembakaran padang rumput dengan sengaja.
Contoh komunitas yang menimbulkan suksesi di Indonesia antara lain tegalantegalan, padang alang-alang, belukar bekas ladang, dan kebun karet yang
ditinggalkan tak terurus.

Gambar 4. Suksesi sekunder karena penebangan hutan (Wirakusumah, 2003,


1990).

10

Gambar 5. Suksesi sekunder karena kebakaran hutan (Syafei, 1990).


Kebakaran sering kali terjadi seiring dengan datangnya musim kering atau
yang dikenal juga dengan musim kemarau. Kebakaran dapat ditimbulkan oleh
beberapa faktor baik yang disebabakan oleh kesalahan manusia maupun faktor
kondisi alam, kebakaran yang terjadi karena gejala alam sering terjadi di musim
kemarau dengan suhu panas yang tinggi memudahkan bahan organik kering
mudah terbakar jika tersulut dengan api, bencana kebakaran pun lebih banyak
menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi setelahnya dan bahkan
menimbulkan kerugian material. Kebakaran tidak hanya terjadi di pemukinaan
masyarakat, kebakaran hutan juga sering kali terjadi di sebagian wilayah
Indonesia, bencana ini dapat melenyapkan ekosistem didalamnya. Tidak hanya
hilangnya vegetasi hutan, kerusakan habitat satwa dan sumber pakannnya juga
mengakibatkan mereka harus bergerak ke habitat lain (Syafei, 1990).
2.6 Sere
Suksesi tanaman merupakan perubahan keadaan tanaman. Suksesi yang
menempati habitat utama disebut sere. Sedangkan variasi yang terjadi diantaranya
disebut Seral. Komunitas yang timbul pada susunan itu disebut Komunitas Seral.
Biasanya komunitas seral itu tidak tampak dengan jelas, mereka kenal hanya
karena beberapa spesies tanaman dominan tumbuh diantaranya. Tumbuhan
pertama yang tumbuh di habitat yang kosong disebut tanaman Pioner.

11

Jika habitat menjadi ekstrem tidak memenuhi syarat untuk tumbuhnya


tanaman-tanaman maka timbul tanaman dari komunitas berikutnya yang sesuai
dengan lingkungan yang baru, kemudian tanaman ini menjadi dominan. Setelah
beberapa kali mengalami pergantian semacam itu, suatu saat habitat akan terisi
oleh spesies-spesies yang sesuai dan mampu bereproduksi dengan baik. Sehingga
proses ini mencapai Komunitas Klimaks yang matang, dominan, dapat
memelihara dirinya sendiri dan selanjutnya bila ada pergantian, maka pergantian
itu relatif sangat lambat.
Telah

dijelaskan

bahwa akhir suksesi adalah terbentuknya suatu

komunitas klimaks. Berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis


komunitas klimaks sebagai berikut:
1. Hidrosere
Hidrosere yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air tawar. Tipe suksesi
yang berkembang di daerah (habitat) perairan yang biasanya disebut Hidrarch.
Tipe suksesi ini tidak memerlukan komunitas aquatik untuk menuju ke
perkembangan komunitas daratan. Jika air yang ada itu dalam jumlah cukup besar
dan sangat dalam atau jika air selalu bergerak kuat (beratus atau bergelombang)
atau adanya kekuatan fisik lain, suksesi menghasilkan suatu komunitas aquatik
yang stabil dan sukar mengalami pergantian. Jadi suksesi ini hanya terjadi jika
kolonisasi komunitas tumbuhan menempati kolam buatan yang kecil dan dangkal,
serta diikuti terjadinya erosi tanah di tepi danau, sehingga batas air akan semakin
kecil dan hilang setelah waktu yang lama. Sebagai pelopor adalah tumbuhan air
yang terendam, kemudian dirusak tumbuhan terapung seperti eceng gondok,
kemudian rumput rawa, rumput daratan, semak dan akhirnya pohon.
Pada kolam, eceng gondok berangsur-angsur akan menutup permukaan air,
kemudian akumulasi seresahnya baru menumpuk di dasar kolam dan lama
kemudian mengubah kolam menjadi rawa dengan jenis tumbuhan baru yang
mematikan jenis tumbuhan sebelumnya. Secara berangsur-angsur kemudian
habitat yang lebih kering dengan aerasi yang lebih baik yang akhirnya akan terjadi
tanah yang cukup matang dan tebal (Irwan, 1992).

12

2. Halosere
Halosere yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau. Suksesi ini
dimulai pada tanah bergaram atau air asin. Biasanya pada daerah rawa yang habis
terkikis oleh air.
3. Xerosere
Xerosere yaitu sukses yang terbentuk di daerah gurun. Suksesi vegetasi
yang berkembang dalam daerah xerik atau kering, biasanya disebut xerarch.
Suksesi xerik biasanya terjadi pada lahan yang tinggal batuan induknya
saja. Dengan demikian tumbuhan yang mampu hidup disitu harus tumbuhan yang
tahan kering dan mampu hidup di tanah miskin. Tumbuhan yang biasanya
merupakan pioner adalah lumut kerak (Lichenes) dalam bentuk lapisan kerak.
Dalam proses respirasi Lichenes akan mengeluarakan CO2 dan akan bereaksi
dengan H2O sehingga menjadi H2CO3. Asam karbonat ini akan bereaksi dengan
bahan-bahan dari batuan induk sehingga melepaskan ikatan partikel batuan.
Partikel batuan yang lepas itu akan bereaksi dengan sisa-sisa Lichenes yang
mengalami pembusukan, mengikat Nitrogen yang terbawa oleh air hujan. Kondisi
seperti itu tidak sesuai lagi bagi lumut kerak sehingga lumut kerak mati. Setelah
itu akan muncul vegetasi jenis lain yaitu Thallus (Thallophyta). Begitu seterusnya
vegetasi pertama akan memberikan pengaruh pada habitat yang tidak cocok untuk
vegetasi kedua.
Tidak semua proses suksesi xerik seperti di atas. Kalau habitat
permukaannya merupakan pasir maka akan dimulai oleh rumput tahan kering,
baru kemudian semak dan pohon-pohonan (McNaughton, 1973).

13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Suksesi merupakan suatu proses perubahan dari keadaan yang tidak
seimbang menjadi keadaan yang seimbang. Perubahan dalam jangka waktu yang
lebih lama mengakibatkan perubahan besar pada komposisi dan struktur suksesi
ekologik, sebagai reaksi komunitas perubahan faktor biotik fundamental dan
evolusi komunitas. suksesi ekologik digambarkan dari awal suatu ekosistem hutan
yang mengalami kebakaran besar sehingga mengakibatkan lahan menjadi gundul.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu faktor perubahan iklim, suksesi
allogenik. Pada tahapan-tahapan suksesi dapat terjadi melalui kolonisasi,
modifikasi tempat dimana, variabilitas ruang. Adapun pembagian suksesi yang
tercakup yaitu suksesi primer, suksesi sekunder.
3.2 Saran
Kami selaku penyusun menghimbau kepada pembaca agar makalah ini
dapat dijadika acuan dalam mempelajari serta mengenal ekosistem alam lebih
khususnya tentang suksesi, agar kita mampu bersama-sama menjaga dan
melestarikan lingkungan ekosistem alam kita.

14

Daftar Pustaka
Irwan, Zoeraini Djamal. 1992. Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Jakarta:
Bumi Aksara.
McNaughton, S.J and Larry L. Wolf. 1973. General Ecology Secon Edition.
Saunders College Publishing, a Divisin of Holt, Rinehart and Winston.
Syafei, Surasana Eden. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Wirakusumah, Sambas. 2003. Dasar-dasar Ekologi Bagi Populasi dan
Komunitas. Jakarta: UI-Press.

POWERPOINT