Anda di halaman 1dari 17

BAB XI

PENUTUPAN TAMBANG (MINE CLOSURE) DAN


REKLAMASI

Penutupan tambang adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau


menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat dihentikannya kegiatan
penambangan dan/atau pengolahan dan pemurnian untuk memenuhi kriteria
sesuai dengan dokumen Rencana Penutupan Tambang. Kegitan ini juga
didampingi dengan kegiatan reklamasi.
Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha
pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan
dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.
11.1.

Perencanaan Penutupan Tambang


Dengan adanya proyek pertambangan bahan galian batu andesit akan

mengakibatkan suatu dampak baik langsung maupun tidak langsung ataupun


dampak positif dan negatif, terhadap lingkungan tersebut.
Dampak positif biasanya memperoleh nilai atau manfaat, dan sebaliknya
dampak negatif akan merugikan lingkungan tersebut. Dampak tersebut baik
pengaruh abiotik atau fisik (tanah, air dan udara), pengaruh biotik (flora dan
fauna) serta pengaruh ekonomi dan sosial budaya. Untuk mengatasi dampak
lingkungan tersebut terutama dampak negatif sebelumnya dilakukan analisis. Lalu
digunakan sebagai pedoman untuk perencanaan penutupan tambang. Rencana
penutupan tambang didesain berdasarkan hal-hal sebagai berikut :
Peruntukan lahan bekas tambang.

Evaluasi dampak penting pada tahap penutupan tambang.

Rencana Tata Ruang Wilayah daerah bekas penambangan.

XI-1

Diharapkan rencana kegiatan ini memberikan informasi khusus yang


berhubungan

dengan

pemanfaatan

lahan

pasca

tambang

yang

dapat

diperhitungkan baik terhadap persoalan peruntukan lahan pada pasca tambang


maupun terhadap persoalan lingkungan.
Peraturan perundangan yang menjadi landasan hukum pelaksanaan
reklamasi lahan pasca tambang adalah sebagai berikut :
1.

Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan


Mineral dan Batubara.

2.

Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup.

3.

Peraturan Pemerintah No. 76 tahun 2008 tentang Rehabilitasi


dan Reklamasi Hutan.

4.

Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2010 tentang Wilayah


Pertambangan.

5.

Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan


Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

6.

Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2012 tentang Perubahan


Atas Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

7.

Peraturan Pemerintah No.1 tahun 2014 tentang Perubahan


Kedua Atas Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

8.

Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2010 tentang Pembinaan


dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan
Mineral dan Batubara.

9.

Peraturan Pemerintah No. 78 tahun 2010 tentang Reklamasi


dan Pascatambang.

10.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 18


tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral.

XI-2

11.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.18


Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Penutupan Tambang
diperbarui dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
No.7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang
pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

12.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 2


tahun

2013

tentang

Pengawasan

Terhadap

Penyelenggaraan

Pengelolaan Usaha Pertambangan yang Dilaksanakan Oleh Pemerintah


Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
13.

Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul No. 6 tahun 2011


tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gunungkidul Tahun
2010-2030.

11.1.1. Perencanaan Penutupan Tambang dari Aspek Teknik Fisik


Kegiatan

penutupan

tambang

yang

dilakukan

bertujuan

untuk

mengembalikan fungsi lahan menjadi keadaan yang seperti semula atau bahkan
lebih baik dari sebelum dilakukan penambangan, mempunyai fungsi yang lebih
dan dapat digunakan untuk menunjang kehidupan penduduk sekitar setelah
kegiatan pertambangan berakhir.
Penutupan Tambang oleh PT. Sitompul Andesit Mining dapat memberikan
contoh kepada masyarakat sekitar agar tidak dengan sengaja meninggalkan lahan
bekas tambang begitu saja tanpa ada penanganan yang lebih lanjut, sehingga para
penambang tradisional juga dapat melakukan penambangan yang berwawasan
lingkungan. Fasilitas tambang yang ada tidak semuanya dibongkar, gedung
kantor, gudang, mushola, aula dan sebagainya dibiarkan tetap berdiri karena
masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk dialih fungsikan menjadi
balai desa dan peternakan ayam potong.
Pada bagian jenjangnya akan ditanami dengan tanaman perkebunan yaitu jati
super. Penanaman juga dilakukan pada jalan tambang dan disekitar bekas lokasi
pengolahan. Penanaman tidak sekaligus dilakukan, melainkan bertahap agar
pohon tersebut tidak habis dalam satu kali panen. Bibit jati super dipilih
dikarenakan memiliki umur panen lebih singkat daripada pohon jati jenis lain

XI-3

yaitu sekitar 6 sampai 7 tahun, jati super juga cocok tumbuh didaerah tersebut,
selain itu pohon jati super dapat hidup dengan tanah yang sedikit.
Fasilitas pengolahan akan dibongkar sehubungan dengan berhentinya
penambangan.

Pembongkaran

fasilitas

pengolahan

ini

dimulai

dengan

pembongkaran peralatan pengolahan, sedangkan bangunannya digunakan untuk


peternakan ayam potong. Area disekitar bekas pengolahan di revegetasi dengan
tanaman jati super. Bekas stock yard, Bengkel, Gudang bahan bakar digunakan
untuk penanaman bibit pohon jati juga.
Sedangkan untuk fasilitas penunjang dilakukan pembongkaran peralatan,
mesin, tangki bahan bakar minyak dan pelumas. Selain itu juga dilakukan
revegetasi lahan bekas sarana transportasi, serta pemuliahan (remediasi) tanah
yang terkontaminasi bahan kimia, minyak dan B3. Program rencana reklamasi dan
penutupan tambang dapat dilihat pada Tabel 11.1.
Tabel 11.1
Program Rencana Reklamasi dan Penutupan Tambang
Luasan (m2)
289863
46590
46590
16533
15684
11003
12647
28499

Mesh karyawan

Rona Akhir
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super

11

Kantin

Revegetasi dengan jati super

12035

12
13
10
11
12
13

Rumah Ibadah
Sporthall
Kantor
Poliklinik
Parkiran
Pos jaga

Revegetasi dengan jati super


Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super
Revegetasi dengan jati super

15985
15985
62687
22624
12035
1783

No
1
2
3
4
6
7
8
9

Rona Pertambangan
bekas galian tambang
Jalan Tambang
Pengolahan
Stock yard
Workshop
Gudang Bahan Bakar
Gudang
Aula

10

Perhitungan biaya penutupan tambang terdiri dari :


1. Biaya Langsung
Biaya Langsung, antara lain:

XI-4

20459

1. Pembongkaran bangunan dan sarana penunjang yang sudah tidak


digunakan, kecuali ditentukan lain.
1. Reklamasi tapak bekas tambang, fasilitas pengolahan dan pemurnian,
serta fasilitas penunjang.
2. Penanganan Bahan Berbahaya - Beracun (B3) dan limbah B3.
3. Pemeliharaan dan perawatan.
4. Pemantauan.
5. Aspek sosial budaya dan ekonomi.
(rincian biaya langsung dapat dilihat pada Tabel 11.4)
2. Biaya Tidak Langsung
Biaya TidakLangsung, antara lain:
1. Mobilisasi dan demobilisasi.
2. Perencanaan kegiatan.
3. Administrasi dan keuntungan pihak ketiga sebagai kontraktor pelaksana
penutupan tambang.
4. Supervise.
(rincian biaya tidak langsung dapat dilihat pada Tabel 11.5)
3. Total Biaya
Uraian mengenai total biaya langsung ditambah dengan biaya tidak
langsung dan biaya-biaya tersebut sudah harus memperhitungkan pajak-pajak
yang berlaku dan dibuat dalam mata uang Rupiah.
11.1.2. Perencanaan Pengembangan Masyarakat dan Wilayah
PT. Sitompul Andesit Mining bertanggung jawab memberikan bantuan
bekal ketrampilan kepada penduduk sekitar guna menunjang kelangsungan
hidupnya melalui Community Development selama proses penambangan masih
berlangsung. Sehingga dengan berakhirnya aktivitas penambangan diharapkan
masyarakat sekitar tambang tetap memiliki pekerjaan.
Untuk mengatasi timbulnya pengangguran karena PHK akibat penutupan
tambang, maka sebelum tambang ditutup PT. Sitompul Andesit Mining
melakukan pelatihan dan penyuluhan yang diharapkan dapat memberikan
lapangan pekerjaan bagi karyawan yang di PHK dan masyarakat yang

XI-5

ditinggalkan oleh perusahaan. Program pelatihan dan penyuluhan tersebut


disesuaikan dengan program coorporate social responsibility (CSR). Program
penyuluhan dan pelatihan yang diberikan berkaitan dengan perkebunan dan
perikanan serta ketrampilan lainya. Penyuluhan dan pelatihan dimulai 2 tahun
sebelum tambang ditutup dan dilakukan setiap enam bulan sekali. Dengan
demikian masalah pengangguran diharapkan dapat teratasi.
Tabel 11.2
Program Pengembangan Masyarakat dan Karyawan
Kegiatan

Pelaksanaan

Penyuluhan pertanian I

Tempat

Pertengahan

Aula

tahun ke 1

perusahaan

Penyuluhan pertanian II Akhir tahun

Aula

ke 1

Anggaran

Target

Rp. 5.000.000

Karyawan dan
masyarakat

Rp. 5.000.000

perusahaan

Penyuluhan manajemen Pertengahan

Aula

pertanian I

perusahaan

tahun ke 2

Penyuluhan manajemen Akhir tahun

Aula

pertanian II

perusahaan

ke 2

Penyuluhan pengolahan Pertengahan

Aula

produk pertanian I

perusahaan

tahun ke 3

Penyuluhan pengolahan Akhir tahun

Aula

produk pertanian II

perusahaan

ke 3

Karyawan dan
masyarakat

Rp. 5.000.000

Karyawan dan
masyarakat

Rp. 5.000.000

Karyawan dan
masyarakat

Rp. 5.000.000

Karyawan dan
masyarakat

Rp. 5.000.000

Karyawan dan
masyarakat

11.1.3. Pengelolaan Aset dan Lokasi


Sebelum

memutuskan

untuk

melakukan

penutupan

lahan

bekas

penambangan, dilakukan konsultasi dengan kepala dusun, kepala desa, ketua RT,
ketua RW, dan tokoh masyarakat serta tokoh agama setempat untuk
membicarakan bagaimana rencana peruntukan lahan bekas tambang tersebut agar

XI-6

dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Hasil dari konsultasi dengan


pemangku kepentingan tersebut adalah lahan bekas tambang dilakukan revegetasi
dengan pohon jati super, sedangkan bekas bangunan kantor, pabrik pengolahan
dan sebagian fasilitas lainya akan dihibahkan ke pemerintah daerah setempat
untuk digunakan sebagai sarana pengembangan masyarakat.
11.1.4. Manajemen Penutupan Tambang
Dalam upaya penutupan tambang tentunya ada organisasi yang
menjalankannya, dalam organisasi tersebut antara lain terdapat :
1. Divisi K3 dan Lingkungan
Mempunyai tanggung jawab dan mengawasi atas Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Mencegah dampak negatif terhadap lingkungan akibat
penambangan yang berlangsung.
2. Bagian Lingkungan
Merupakan tingkat dibawah dari Divisi K3 dan Lingkungan, dimana tugas
dari bagian ini untuk mengawasi dampak yang terjadi terhadap
lingkungan, dan sebisa mungkin meminimalisir dampak yang akan
ditimbulkan.
3. Bagian K3
Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja yang terhadap para pekerja
ketika proses penambangan berlangsung. Terdiri dari staf yang mengurusi
bidang kelistrikan dan mesin- mesin agar mencapai kondisi aman.
4. Staf Perawatan Alat
Bertugas untuk melakukan perawatan berkala terhadap alat-alat dan
kendaraan, baik ringan maupun berat. Pemeliharaan dan perawatan
dilakukan agar kegiatan reklamasi berjalan lancar dan tujuan reklamasi
dapat dicapai. Pemeliharaan dan perawatan terhadap tapak bekas tambang,
lahan bekas fasilitas pengolahan, dan lahan bekas fasilitas penunjang yang
dilakukan rutin sebulan sekali.
5. Staf Rehabilitasi
Bertugas untuk melakukan rehabilitasi terhadap lingkungan dan vegetasi
yang sebelumnya ada di daerah penambangan.
6. Staf Pemantauan

XI-7

Bertugas melakukan pemantauan terhadap analisis-analisis yang berkaitan


dengan pemantauan keadaan lingkungan tambang selama proses
penambangan dan pascatambang. Lihat (Gambar 11.2)

Gambar 11.2
Diagram Alir Organisasi Mine Closure
Hal-hal yang perlu di pemantauan antara lain :
1. Kestabilan Fisik
Pemantauan kestabilan fisik dilakukan terhadap lereng bekas tambang.
Pemantauan ini dimaksudkan untuk memastikan lereng tersebut aman
atau tidak. Pemantauan tersebut akan dilakukan setiap enam bulan
sekali oleh tim geoteknik dari PT Sitompul Andesit Mining.
2. Air Permukaan dan Air Tanah
Pemantauan terhadap kualitas air sungai, air sumur, disekitar lokasi
bekas tambang, sumur pantau, air di kolam bekas tambang dilakukan
untuk memastikan kualitas air sesuai dengan baku mutu air yang
ditetapkan oleh pemerintah. Pemantau dilakukan setiap enam bulan
sekali.
3. Flora dan Fauna
Pemantauan terhadap flora dan fauna akuatik dan terrestrial di sekitar
lokasi bekas penambangan dan daerah di sekitarnya.
4. Sosial dan Ekonomi
Pemantauan Sosial Ekonomi dilalukan dengan cara mengamati
kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat sekitar. Hal-hal yang
diamati antara lain taraf hidup, daya beli, pendidikan, kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat sekitar. Pemantauan dilakukan setiap enam
bulan setelah penutupan tambang selama 2 tahun.
11.2.

Teknik Reklamasi Lahan Bekas Tambang

XI-8

11.2.1. Aspek Legalitas Reklamasi Lahan Bekas Tambang


Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks dan
sangat rumit, sarat risisko, merupakan kegiatan usaha jangka panjang yang
melibatkan teknologi tinggi, padat modal, dan aturan regulasi yang dikeluarkan
dari beberapa sektor. Selain itu, kegiatan pertambangan mempunyai daya ubah
lingkungan yang besar, sehingga memerlukan perencanaan total yang matang
sejak tahap awal sampai pasca tambang. Pada saat membuka tambang, sudah
harus difahami bagaimana menutup tambang. Rehabilitasi/reklamasi tambang
bersifat progresif, sesuai rencana tata guna lahan pasca tambang.
Tahapan kegiatan perencanaan tambang meliputi penaksiran sumberdaya
dan cadangan, perancangan batas penambangan (final/ultimate pit limit),
pentahapan tambang, penjadwalan produksi tambang, perancangan tempat
penimbunan (waste dump design), perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja,
perhitungan biaya modal dan biaya operasi, evaluasi finansial, analisis dampak
lingkungan, tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility)
termasuk pengembangan masyarakat (Community Development) serta Penutupan
tambang.
Perencanaan tambang, sejak awal sudah melakukan upaya yang sistematis untuk
mengantisipasi perlindungan lingkungan dan pengembangan pegawai dan
masyarakat sekitar tambang (Arif, 2007)
Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata
kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan, agar
dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya.
Pembangunan berwawasan lingkungan menjadi suatu kebutuhan penting
bagi setiap bangsa dan negara yang menginginkan kelestarian sumberdaya alam.
Oleh sebab itu, sumberdaya alam perlu dijaga dan dipertahankan untuk
kelangsungan hidup manusia kini, maupun untuk generasi yang akan datang
(Arif, 2007).
11.2.2. Watak Pertambangan dan Dampak Lingkungan

XI-9

Kegiatan pertambangan apabila tidak dilaksanakan secara tepat dapat


menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, antara lain berupa :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penurunan produktivitas tanah


Terjadinya erosi dan sedimentasi
Terjadinya gerakan tanah/ longsoran
Gangguan terhadap flora dan fauna
Perubahan iklim mikro
Permasalahan sosial.

Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu adanya kebijakan penutupan


tambang yang bertujuan untuk mendorong setiap kebijakan pertambangan dengan
konsep pemanfaatan lahan bekas tambang. Konsep pemanfaatan lahan bekas
tambang tentunya harus sesuai dengan rencana pembangunan daerah.
11.2.3. Kendala Pemulihan Vegetasi Pasca Tambang
Kendala utama dalam melakukan aktivitas vegetasi pada lahan-lahan
terbuka bekas penambangan adalah kondisi tanah yang marginal bagi
pertumbuhan tanaman. Kondisi ini secara langsung akan mempengaruhi
pertumbuhan tanaman. Untuk dapat mengatasi masalah ini, maka karakteristik
fisik, kimia dan biologi tanah perlu diketahui.
a. Kondisi Fisik Tanah
Berbagai aktivitas dalam kegiatan penambangan menyebabkan
rusaknya struktur, teksttur, porositas dan bulk density sebagai karakter
fisik tanah yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi tanah yang
kompak karena pemadatan menyebabkan buruknya system tata air (water
infiltration and percolation) dan aerasi (peredaran udara) yang secara
langsung dapat membawa dampak negative terhadap fungsi dan
perkembangan akar. Akar tidak dapat berkembang dengan sempurna dan
fungsinya sebagai absorpsi unsure hara akan terganggu. Akibatnya
tanaman tidak dapat berkembang dengan normal tatapi tetap kerdil dan
tumbuh merana.
b. Kondisi Kimia Tanah
Dalam profil tanah yang normal lapisan tanah atas merupakan
sumber unsure-unsur hara makro dan mikro bagi pertumbuhan tanaman.

XI-10

Selain itu juga berfungsi sebagai sumber lahan organic untuk menyokong
kehidupan mikroba. Hilangnya lapisan tanah atas (top soil) yang proses
pembentukannya memakan waktu ratusan tahun (Bradshaw, 1983)
dianggap sebagai penyebab utama buruknya tingkat kesuburan tanah
pada lahan-lahan bekas pertambangan. Kekahatan unsure hara esensial
seperti Nitrogen dan fosfor, toksisitas mineral dan kemasaman tanah (pH
yang rendah) merupakan kendala umum dan utama yang ditemui pada
tanah-tanah bekas kegiatan pertambangan.
Tanah bekas tambang yang akan ditanam biasanya berupa
campuran dari berbagai bentuk bahan galian yang ditimbun satu sama
lainnya secara tidak beraturan dengan komposisi campurannya sangat
berbeda satu tapak ke tapak lainnya. Hal ini tentunya mengakibatkan
sangat bervariasinya reaksi tanah (pH) dan kandungan unsure hara pada
areal-areal yang ditanami. Karena besarnya variasi ini maka sangat
menyulitkan dalam menentukan takaran soil amandement atau soil
ameliorant yang perlu diberikan guna memperbaiki kondisi tanah-tanah
tersebut.
c. Kondisi Biologi Tanah
Hilangnya lapisan top soil dan serasah (liter layer) sebagai sumber
karbon untuk menyokong kehidupan mikroba potensial merupakan
penyebab utama buruknya kondisi populasi mikroba tanah. Hal ini secara
tidak langsung akan sangat mempengaruhi kehidupan tanaman yang
tumbuh di permukaan tanah tersebut.
Keadaan mikroba tanah potensial dapat memainkan peranan sangat
penting

bagi

perkembangan

dan kelangsungan

hidup tanaman.

Aktivitasnya tidak saja terbatas pada penyediaan unsure hara, tetapi juga
aktif dalam komposisi serasah dan bahkan dapat memperbaiki struktur
tanah.
Jenis-jenis mikroba tanah yang memberikan banyak manfaat
diantaranya bakteri penambat nitrogen dan bakteri pelarut fosfat. Selain
bakteri, cendawan mikroriza sangat mutlak diperlukan pada lahan-lahan

XI-11

bekas tambang. Beberapa tanaman juga sangat tergantung untuk


kehidupannya pada jenis cendawan ini (Vogel, 1987). Kemampuan
cendawan mikoriza tidak hanya terbatas pada peningkatan solibilitas
mineral dan memperbaiki absorpsi nutrisi tanaman (terutama fosfat),
tetapi juga dapat mengurangi stress karena temperature dan serangan
pathogen akar. Dengan cara tersebut maka daya hidup dan pertumbuhan
tanaman pada lahan marginal dapat ditingkatkan.
11.2.4. Aspek Teknik Rehabilitasi Tambang
Aspek teknik pada rehabilitasi tambang meliputi :
- Struktur dan stabilitas timbunan
- Dimensi timbunan sesuai peruntukannya
- Penataan kontur serta perataan timbunan
- Pengaturan drainase air permukaan
- Pengelolaan material pembangkit asam (Potentially Acid Forming/PAF)
- Pengendalian erosi dan sedimentasi
- Rekondisi tanah sebagai media tanam
11.2.5. Perencanaan Reklamasi Lahan Pasca Tambang
Reklamasi adalah Pemulihan lahan bekas tambang untuk memperbaiki
lahan yang terganggu ekologinya. Mempersiapkan lahan bekas tambang yang
sudah diperbaiki ekologinya untuk pemanfaatan selanjutnya. Proses reklamasi
lahan bekas tambang memerlukan perencanaan yang baik, agar dalam
pelaksanaannya dapat tercapai sasaran yang dikehendaki. Hal-hal yang harus
diperhatikan didalam perencanaan reklamasi adalah sebagai berikut :
1.Mempersiapkan rencana reklamasi sebelum pelaksanaan penambangan
2.Luas areal yang direklamasikan sama dengan luas areal penambangan
3.Memindahkan dan menempatkan tanah pucuk pada tempat tertentu dan
mengatur sedemikian rupa untuk keperluan revegetasi
4.Mengembalikan/memperbaiki pola drainase alam yang rusak

XI-12

5.Menghilangkan/memperkecil kandungan (kadar) bahan beracun sampai


tingkat yang aman sebelum dapat dibuang ke suatu tempat pembuangan
6.Mengembalikan lahan seperti keadaan semula dan/atau sesuai dengan
tujuan penggunaannya
7.Memperkecil erosi selama dan setelah proses reklamasi
8.Memindahkan semua peralatan yang tidak digunakan lagi dalam aktifitas
penambangan
9.Permukaan

yang

padat

harus

digemburkan

namun

bila

tidak

memungkinkan agar ditanami dengan tanaman pionir yang akarnya


mampu menembus tanah yang keras
10.Setelah penambangan maka pada lahan bekas tambang yang
diperuntukkan bagi revegetasi, segera dilakukan penanaman kembali
dengan jenis tanaman yang sesuai dengan rencana rehabilitasi dari
Departemen Kehutanan dan RKL yang dibuat.
11.Mencegah masuknya hama dan gulma yang berbahaya
12.Memantau dan mengelola areal reklamasi sesuai dengan kondisi yang
diharapkan
Hasil dari konsultasi dengan pemangku kepentingan tersebut adalah lahan
bekas tambang dilakukan revegetasi dengan pohon jati super, sedangkan pada
cekungan pit bottom akan masyarakat setempat. Sedangkan bekas bangunan
kantor, pabrik pengolahan dan sebagian fasilitas lainya akan dihibahkan ke
pemerintah daerah setempat untuk digunakan sebagai sarana pengembangan
masyarakat.
11.2.6. Dampak Penambangan Terhadap Lingkungan dan Pemulihan Lingkungan
Hidup
Pertambangan mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif dari
kegiatan pertambangan bahan galian yaitu sebagai salah satu sektor penyumbang
devisa negara yang terbesar. Sisi negatif akibat adanya kegiatan pertambangan
yaitu mengakibatkan dampak besar terhadap lingkungan. Hal ini dapat dilihat
dengan hilangnya fungsi proteksi terhadap tanah akibat tidak adanya penutupan

XI-13

tajuk, disamping itu pertambangan bahan galian juga mengakibatkan hilangnya


keanekaragaman hayati (gene pool), terjadinya degradasi pada daerah aliran
sungai, perubahan bentuk lahan, terjadinya peningkatan erosi, dan terlepasnya
logam-logam berat yang dapat masuk ke lingkungan perairan. Jika hal ini
dibiarkan, maka akan mengancam kehidupan manusia.
Dampak negatif dari kegiatan pertambangan diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
dampak terhadap lingkungan dan dampak terhadap tanah itu sendiri.
1. Dampak terhadap lingkungan
- Terjadinya peningkatan konsentrasi debu, gas CO 2, N2O maupun SO2 yang
menyebabkan pemanasan atmosfer bumi.
- Masuknya gulma/hama/penyakit tanaman,
- Pencemaran air permukaan/air tanah oleh bahan beracun,
- Terganggunya flora dan fauna,
- Terganggunya keamanan dan kesehatan penduduk,
- Perubahan iklim mikro.
2. Dampak terhadap tanah
-

Penurunan produktivitas tanah, pemadatan tanah, terjadinya erosi dan


sedimentasi, terjadinya gerakan tanah atau longsoran, drainase yang buruk,

- Tanah memiliki karakteristik yang berhidrokarbon tinggi, zat meracun tinggi,


kadar hara rendah, hancuran batuan, sifat fisika, kimia dan biologi yang jelek.
- Tanah berlubang dengan ukuran yang besar dan sangat sulit untuk diperbaharui.
dibuat kolam ikan yang dikelola oleh pekerja dari
- Pencemaran limbah menyebabkan tanah menjadi sulit untuk diolah
Langkah awal untuk pemulihan tanah dikawasan pertambangan adalah
merehabilitasi dan mereklamasi lahan. Rehablitasi adalah usaha memperbaiki,
memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak (krisis), agar
dapat berfungsi secara optimal, baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata
air, maupun sebagai unsur perlindungan alam lingkungan. Kepmen PE No.
1211.K/008/M.PE/95 menjelaskan bahwa yang dimaksud Reklamasi adalah
kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang
terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan umum, agar dapat

XI-14

berfungsi dan berdayaguna sesuai dengan peruntukkannya Prinsip-prinsip


reklamasi adalah Kegiatan Reklamasi harus dianggap sebagai kesatuan yang utuh
dari kegiatan penambangan sehingga Kegiatan Reklamasi harus dilakukan sedini
mungkin dan tidak harus menunggu proses penambangan secara keseluruhan
selesai dilakukan.
.

XI-15

Tabel 11.4
Rincian Biaya Langsung
BIAYA PENUTUPAN TAMBANG
N
o

Kegiatan Penutupan Tambang

Unit
Satuan

C
D

Total Biaya Rp

Rp5,000,000.
00

Rp144,700,000.0
0

Besaran

Tapak Bekas Galian


Ha

28.94

1. Pembongkaran Bekas Fasilitas Pengolahan

Ha

4.66

2. Remidiasi Tanah Yang Terkontaminasi Minyak


Pembongkaran Lahan Bekas Fasilitas Penunjang
1. Pembongkaran Peralatan, Mesin, dan Tangki BBM
Alih Fungsi Lahan Bekas Tambang

m2

2,500

1. Pengelolaan Lubang Bekas Galian


B

Biaya per Unit

Pembongkaran Lahan Bekas Fasilitas Pengolahan


Rp10,000,00
0.00
Rp10,000.00

Rp46,600,000.00
Rp25,000,000.00
Rp10,000,000.00

1. Biaya Biaya reklamasi

Rp4.912.696.212

Sosial dan Ekonomi

1. Pelatihan Bagi Bekas Karyawan di PHK

Per karyawan

65

2. Pelatihan Bagi Masyarakat Sekitar sebagai Pengganti


Usaha

Per warga

50

3. biaya penyelengaraan

per acara

Rp1,000,000.
00
Rp500,000.0
0
Rp6,000,000.
00

Rp65,000,000.00
Rp25,000,000.00
Rp36,000,000.00

Pemeliharaan dan Perawatan


1. lahan bekas pengolahan & fasilitas penunjang

m2

Pemantauan
1. Pemantauan Air

mg/l

46590

Rp15,000.00

22

Rp20,000.00

Rp698,850,000.0
0
Rp 440,000.00

2. Pemantauan Tanah
3. Pemantauan Udara
G

% volume
g/m3

14
5

Rp20,000.00
Rp30,000.00

TOTAL BIAYA LANGSUNG

Rp 280,000.00
Rp 150,000.00
Rp
5.964.716.212

Tabel 11.5
Rincian Biaya Tak Langsung

REKAPITULASI BIAYA TAK LANGSUNG RENCANA PENUTUPAN TAMBANG


No
.
1
2
3
4

Biaya, Rp
Persentas
e
Biaya Langsung
Biaya Mobilisasi dan Demobilisasi Alat
2,5 %
Rp5.963.846.212,00
Biaya Perencanaan Penutupan Tambang
5%
Rp5.963.846.212,00
Biaya Administrasi dan Keuntungan Kontraktor
4%
Rp5.963.846.212,00
Biaya Supervisi
5%
Rp5.963.846.212,00
Sub Total Biaya Tak Langsung
TOTAL BIAYA : (BIAYA LANGSUNG + BIAYA TAK LANGSUNG)
Komponen Biaya

Total Biaya, Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

149.096.155,3
298.192.310,6
238.553.848,5
298.192.310,6
984.034.625
6.948.750.837