Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan nila (Oreochromis sp.) merupakan salah satu komoditas air tawar
yang memperoleh perhatian cukup besar dari pemerintah dan pemerhati masalah
perikanan dunia, terutama berkaitan dengan usaha peningkatan gizi masyarakat di
negara negara yang sedang berkembang (Khairuman dan Amri, 2008). Rukmana
(1997), menambahkan bahwa ikan nila merupakan salah satu jenis ikan air tawar
potensial untuk sumber protein hewani yang dapat dijangkau berbagai lapisan
masyarakat.
Ikan nila dikenal dengan TILAPIA yang merupakan ikan bukan asli
perairan Indonesia tetapi jenis ikan pendatang yang diintroduksikan ke Indonesia
dalam beberapa tahap. Meskipun demikian, ikan ini ternyata dengan cepat
berhasil dengan cepat menyebar keseluruh pelosok Tanah Air dan menjadi ikan
konsumsi yang cukup popular. Begitu populernya ikan nila sehingga saat ini dapat
dengan mudah ditemukan. Secara resmi ikan nila (Oreochromis sp.) didatangkan
oleh Balai Penelitian Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian
dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani Indonesia
(Suyanto,2003).
Prospek pengembangan budidaya ikan nila juga diperkirakan memiliki
peluang yang memberi andil cepatnya perkembangan usaha budidaya ikan nila
adalah rendahnya biaya produksi, sehingga tidak mengherankan jika keuntungan
yang diperoleh juga cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa ikan nila
merupakan komoditas penting dalam bisnis ikan air tawar dunia. Beberapa hal
yang mendukung pentingnya komoditas nila adalah memiliki resistensi yang
relatif tinggi terhadap kualitas air dan penyakit, memilliki toleransi yang luas
terhadap kondisi lingkungan, memiliki kemampuan yang efisien dalam
membentuk Khairuman dan Amri (2008), menambahkan faktor lain yang
menyebabkan ikan nila berkembang sangat pesat adalah adalah cita rasa
dagingnya yang khas dan harga jualnya terjangkau masyarakat. Warna daging ikan
nila putih dan tidak banyak durinya sehingga sering dijadikan sumber protein

yang murah dan mudah didapat. Hal ini bisa dimengerti karena kandungan gizi
ikan nila cukup tinggi, yakni sekitar, 17,5 %, sehingga membuka peluang pasar
lebih luas. Kebutuhan pasar terhadap ikan nila tidak hanya terbuka untuk ikan
nila berukuran konsumsi, tetapi juga merambah ke ikan nila stadium benih.
Sehingga dengan sendirinya perkembangan yang pesat tersebut mendatangkan
peluang baru bagi pembenihan dan pemasaran benih ikan nila.
1.2 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui dosis peptisida yang menyebabkan keracunan pada ikan air
Laut
b. Mengetahui perubahan performa dan organ dalam ikan air Laut yang
mengalami keracunan
c. Mengetahui bagaimana anatomi ikan Nila
d. Mengetahui bagaimana Morfologi ikan Nila

1.3 Manffa
Mnfaat dari pratikum Toksikologi mengenai Dosisi Pestisida pada ikan
Nila adalah Mahasiswa dapat memahami bentuk Morfologi dan anatomi pada
ikan, serta mahasiswa juga dapat mengetahui dampak penambahan dosis pestisida
pada ikan Nila terhadap kesehatan Manusia jika di komsumsi oleh Manusia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Ikan Nila
kan Nila atau Oreochromis niloticus termasuk jenis hewan vertebrata yang
seluruh badannya bersisik dan mempunyai gurat sisi. Ikan Nila termasuk dalam
filum Chordata yang berarti bertulang belakang atau kerangka tubuh (Dwisang,
2008).
Ikan Nila merupakan salah satub jenis ikan yang dapat dibudidayakan di
kolam dan memiliki nilai ekonomis yang cukup penting. Potensi Ikan Niloa
sebagai Ikian Budidaya cukup besar, karena memiliki kelebihan, yaitu :

Mudah berkembang biak di lingkungan budidaya


Dapat menerima makanan yang beragam
Toleransi terhadap kadar garam/salinitas tinggi
Pertumbuhannya Cepat

Habitat lingkngan Ikan Nila, yaitu : danau, Sungai, Waduk, Rawa, Sawah,
dan perairan lainnya. Selain itu Ikan nila mampu hidup pada perairan payau,
misalnya tambak dengan salinitas maksimal 29% oleh karena itu masyarakat yang
berada di daerah sekitar pantai dapat membudidayakannya khusus kegiatan
pembesaran Ikan Nila (Santoso,1996).
2.2 Klasifikasi Ikan Nila

Gambar. 1 Ikan Nila

Menurut Dr. Trewavas (1982) klasifikasi lengkap Ikan Nila adalah sebagi
berikut :
Fillum

: chordate

Sub Fillum

: vertebrata

Kelas

: detoichtyas

Sub Kelas

: achanthoptarigi

Ordo

: parcomorphi

Sub Ordo

: parchokka

Family

: cichlidan

Genus

: oreochromis

Spesies

: niloticus sp

Nama Latin

:Oroechromis niloticus

Nama Indonesia

: Nila

2.3 Morfologi Ikan Nila


Ikan Nila memiliki bagian tubuh yang memanjang ramping dan relative
pipih. Sisinya besar dan kasar, bentuknya ctenoid, gurat sisi terputus-putus di
bagian tengah badan ikan. Warna sisik abu-abu kecoklatan (nila hitam) dan putih
atau merah (nila merah). Posisi mulut terletak di ujung mulut dan terminal. Pada
sirip punggung terdapat jari-jari sirip punggung yang keras dan garis-garis vertical
yang bulat dan berwarna kemerahan. (Suyanto, 1993).
Ikan nila memiliki ciri pada tubuh secara fisik perbandingannya adalah 2:1
antara panjang dan tinggi. Sirip punggung dengan 16-17 duri tajam dan 11-15 duri
lunak dan pada bagian anal terdapat 3 duri dan 8-11 jari-jari. Tubuh berwarna
kehitaman atau keabuan dengan beberapa pita hitam belang yang semakin
memudar atau samar-samar kelihatan pada saat ikan dewasa. (Satyani, 2001).
Untuk membedakan antara jantan dan betina dapat dilihat melalui bentuk
dan alat kelamin yang ada pada bagian tubuh ikan. Ikan jantan memiliki sebuah
lubang kelamin yang bentuknya memanjang dan menonjol. Berfungsi sebagai alat
pengeluaran sperma dan air seni. Warna sirip memerah, terutama pada saat
matang gonad. Ikan betina memiliki dua lubang kelamin di dekat anus, berbentuk
seperti bulan sabit dan berfungsi untuk keluarnya telur. Lubang yang kedua berada

di belakang saluran telur dan berbentuk bulat dan berfungsi sebagai tempat
keluarnya air seni (Hasni, 2008).
Menurut Pratama (2009), ikan nila mempunyai nilai bentuk tubuh yang
pipih kea rah vertical (kompres) dengan profil empat persegi panjang kea rah
anteroposterior, posisi mulut terletak di ujung/termal.
Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis yang vertical dan pada sirip
punggungnya garis terlihat condong lekuknya. Ciri ikan nila adalah garis-garis
vertikal berwarna hitam pada sirip, ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip
caudal/ ekor yang berbentuk membulat warna merah dan biasa digunakan sebagai
indikasi kematangan gonad (Pratama, 2009).
Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe
scenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari darsal yang keras, begitupun
bagian awalnya. Dengan posisi siap awal dibagian belakang sirip dada (abdormal)
(Pratama, 2009).
2.4 Anatomi Ikan Nila
Menurut wordpress (2010), adapun anatomi dari ikan nila adalah sebagai
berikut :
a. Sistem penutup tubuh (kulit), antara lain sisik, kelenjar racun, kelenjar
lender dan sumber-sumber pewarnaan
b. Sistem otot (Urat Daging) antara lain penggerak tubuh, sirip-sirip, insang,
organ listrik
c. Sistem rangka (tulang) antara lain tempat melekatnya otot, pelindung
d.

organ-organ dalam dan penegak tubuh


Sistem pernafasan (respirasi) antara lainorgannya terutama insang, ada

organ-organ tambahan
e. Sistem peredaran darah (sirkulasi) antara lain organnya jantung dan sel-sel
darah, mengedarkan O2, nutrisi dan sebagainya
f. Sistem pencernaan 1 organnya saluran pencernaan dari mulut sampai anus
g. Sistem Hormon antara lain kelenjar-kelenjar hormone untuk pertumbuhan
reproduksinya dan sebaginya
h. Sistem Saraf antara lain Organ otak dan saraf-saraf tepi
i. Sistem Ekskresi dan Osmoregulasi antara lain Organnya terutama ginjal
j. Sistem reproduksi dan Embriologi antara lainOrgannya Gonad Jantan dan
Betina.

Anatomi atau organ-organ internal ikan adalah jantung, alat pencerna,


Gonad kandung kemih, dan Ginjal. Organ-organ tersebut biasanya diselubungi
oleh jaringan pengikat yang halus dan lunak yang disebut peritoneum. Peritoneum
merupakan selaput atau membrane yang tipis berwarna hitam y6ang biasanya
dibuang joke ikan sedang disiangi (Pratama, 2009).
2.5 Pestisida
Pestisida secara harfiah berarti pembunuh hama, berasal dari kata pest dan
sida. Pest meliputi hama penyakit secara luas, sedangkan sida berasal dari kata
caedo yang berarti membunuh. Pada umumnya pestisida, terutama pestisida
sintesis adalah biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap jasad pengganggu
sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap manusia dan jasad bukan target
termasuk tanaman, ternak dan organisma berguna lainnya (Tarumingkeng, 2008).
Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang
digunakan untuk mengendalikan jasad penganggu yang merugikan kepentingan
manusia. Dalam sejarah peradaban manusia, pestisida telah cukup lama digunakan
terutama dalam bidang kesehatan dan bidang pertanian. Di bidang kesehatan,
pestisida merupakan sarana yang penting. Terutama digunakan dalam melindungi
manusia dari gangguan secara langsung oleh jasad tertentu maupun tidak langsung
oleh berbagai vektor penyakit menular. Berbagai serangga vektor yang
menularkan penyakit berbahaya bagi manusia, telah berhasil dikendalikan dengan
bantuan pestisida. Dan berkat pestisida, manusia telah dapat dibebaskan dari
ancaman berbagai penyakit berbahaya seperti penyakit malaria, demam berdarah,
penyakit kaki gajah, tiphus dan lain-lain (Tarumingkeng, 2008).
Pestisida merupakan racun yang mempunyai nilai ekonomis terutama bagi
petani. Pestisida memiliki kemampuan membasmi organisme selektif (target
organisme), tetapi pada praktiknya pemakian pestisida dapat menimbulkan bahaya
pada organisme non target. Dampak negatif terhadap organisme non target
meliputi dampak terhadap lingkungan berupa pencemaran dan menimbulkan
keracunan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia (Tarumingkeng,
2008).

Di bidang pertanian, penggunaan pestisida juga telah dirasakan


manfaatnya untuk meningkatkan produksi. Dewasa ini pestisida merupakan sarana
yang sangat diperlukan. Terutama digunakan untuk melindungi tanaman dan hasil
tanaman, ternak maupun ikan dari kerugian yang ditimbulkan oleh berbagai jasad
pengganggu. Bahkan oleh sebahagian besar petani, beranggapan bahwa pestisida
adalah sebagai dewa penyelamat yang sangat vital. Sebab dengan bantuan
pestisida, petani meyakini dapat terhindar dari kerugian akibat serangan jasad
pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit maupun gulma.
Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu
meningkat dengan pesat (Tarumingkeng, 2008).

BAB III
MATERI DAN METODA
3.1 Waktu dan tempat
Praktikum Toksikologi dengan materi Uji dosisi peptisida pada ikan air
tawar, dilaksanakan pada hari Senin - Rabu pada tanggal 21 24 November 2016
pukul 13.00 s/d selesai bertempat di laboraturium Fakultas Peternakan Universitas
Jambi.
3.2

Materi
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain :

Pisau Catter ( untuk membersihkan ikan/ filet ikan ), Talenan ( Sebagai alas
membedah ikan ), Ember ( digunakan sebagai tempat Air ), Nampan ( sebagai
wadah ikan ), timbangan ( untuk menimbang berat ikan ), kertas label ( sebagai
pemberi tanda dalam toples ) Ikan nila, air bersih, peptisida.
3.3

Metoda
Sebelum melakukan pengamatan terlebi dahulu kita siapkan ikan Nila

sebnayak 3 ekor, kemudian ukur panjang berat dan lebar, kemudian amati
morfologi serta anatomi pada masing-masing ikan, selanjutnya tentukan nomor
ikan, satu ikan dilakukan pembedahan untuk diamati langsung bagian anatominya
tampa perlakuan apa-apa dalam keadaan segar, ikan pertama telah selesai di
amati, kemudian lanjutkan ke dua ekor ikan yang tersisa di masukan dalam
masing-masing toples dan di tambahkan larutan peptisida, toples yang pertama di
tambah larutan pestisida sebanyak 3 cc dan toples ke dua ditambah dengan larutan
pestisida sebanyak 6 cc, kemudian diamkan selama 24 jam (sampai ikan mati),
setelah mencukupi waktu 24 jam selanjutnya bedah masing-masing ikan, amati
anatomi pada setiap ikan daan bandingkan ikan satu yang di bedah tampa
pemberian pestisida dengan ikan 2 dan 3 yang telah di beri pestisida

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.I Dosis Pestisida pada ikan air tawar
Tabel 1. Hasil dari deskriptif morfologi ikan nila
N
o
1

Perlakuan
Ikan Nila
perlakuan

Ikan
penambahan
Pestisida 3 cc

Ikan
penambahan
Pestisida 6 cc

Sebelum direndam
tampa Pada ikan satu berat
10 gr, panjang 20 cm,
lebar 6,5 cm dengan
organ tubuh yang
masih utuh, warna
cerah, sisik kuat,
dengan
mata
menonjol
Nila Pada ikan Nila 2
memiliki berat 13 gr,
panjang 24 cm dan
lebar 10 cm. Warna
kulit
cerah
mata
menonjol
dan
keadaan masih lincah
Nila pada ikan Nila tiga
memiliki berat 5,5 gr
panjang 19 cm, dan
lebar 6 cm. Warna
kulit cerah dan ikan
masih bergerak lincah

Setelah 24 jam

Mata cembung warna


kulit putih pucat dengan
mata
memar-memar
merah, sisik mudah lepas,
ingsang bewarna merah

Mata cembung, warna


kulit putih
kebiruan
dengan kemerahan, sisik
sudah
mudah
lepas,
ingsang bewarna biru

Dalam praktikum toksikologi, diketahui bahwa data-data Ikan Nila sebagai


berikut :
Morfologi Ikan nila memilik beberapa macam sirip antaranya adalah
a. Sirip Darsal

: punggung

b. Sirip Caudal

: Ekor

c. Sirip Anal

: Anus

d. Sirip Pektoral

: Perut

e. Sirip Ventral

: Dada

Gambar 2. Morfologi ikan Nila Tampa perlakuan


Pada ikan Nila tampa perlakuan Keadaan ikan yang digunakan dalam ke
adaan segar (pre rigor) karna ikan yang digunakan pada pratikum kali ini langsung
di tangani dalam keadaan hidup,dengan berat memiliki berat 10 gr, panjang 20
cm, lebar 6,5 cm dengan organ tubuh yang masih utuh, warna cerah, sisik kuat,
dengan mata menonjol.

Gambar 3 Morfologi ikan Nila dengan penambahan pestisida 3 cc


Pada ikan Nila dengan penambahan Pestisida 3 cc ikan yang digunakan
dalam keadaan kurang segar (Rigor) dikarnakan dalam penanganan kuran cepat,
Ikan Nila dengan 3 cc memiliki berat 13 gr, panjang 24 cm dan lebar 10 cm.
Warna kulit cerah mata menonjol dan keadaan kurang lincah. namun setelah 24
jam penambahan pestisida 3 cc morfologi ikan menjadi Mata cembung warna

10

kulit putih pucat dengan mata memar-memar merah, sisik mudah lepas, ingsang

bewarna merah
Gambar 4. Morfologi ikan Nila dengan penambahan Pestisida 6 cc
Keadaan ikan yang digunakan masih dalam keadaan segar (pre Rigor)
memiliki berat 5,5 gr panjang 19 cm, dan lebar 6 cm. Warna kulit cerah dan ikan
masih bergerak lincah. namun setelah 24 jam penambahan pestisida 6 cc
morfologi ikan menjadi mata cembung, warna kulit putih

kebiruan dengan

kemerahan, sisik sudah mudah lepas, ingsang bewarna biru


4.2 Hasil pengamatan perbedaan Anatomi
Tabel. 2 Hasil dari perbandingan Anatomi ikan nila
N
o
1

Perlakuan

Ikan sebelum direndam

Ikan setelah 24 jam

Ikan Nila
perlakuan

tampa pada
ikan
tampa
perlakuan
memiliki
ingsang
bewarna
merah, daging elastis,
saluran
pencernaan
lengkap dan terdapat
telur TKG 4.
Ikan Nila dengan
mengalami
kerusakan
dosis peptisida 3 cc
pada
bagian
organ
dalam,
gelembung
renangnya
mengalami
pembengkakan
yang
cukup besar, hati hancur
dan menyatu dengan
gonat dan daging tidak
elastis
Ikan Nila dengan .
dosisi peptisida 6 cc

mengalami
kerusakan
pada
bagian
organ

11

dalam, semua isi dalam


perut, usus, gonat, hati
menyatu dan mencair,
daging tidak elastis atau
lembut dan mudah ha
ncur, isi perut berubah
warna hitam pekat

Dari tabel di atas dapat kita bandingkanAnatomi ikan Nila tampa


perlakuan dan ikan dengan penambahan pestisida 3 cc dan 6 cc selama fermentasi

Gambar 5.Anatomi ikan Nila Tampa perlakuan


Dilihat dari tabel mengenai anatomi pada ikan Nila kususnya ikan tampa
perlakuan bahwa Anatomi Ikan Nila masih utuh dan sempurna ingsang bewarna
merah, daging elastis, saluran pencernaan lengkap dan terdapat telur TKG 4..
dikarnakan ikan yang digunakan masih dalam keadaan Pre Rigor dan masih dapat
di komsumsi

Gambar 6. Anatomi kan Nila dengan penambahan Pestisida 3 cc


Selanjutnya dapat dilihat dari tabel ke 2 ikan Nila dengan perlakuan
Peptisida 3 cc mengalami kerusakan pada bagian organ dalam, gelembung renang

12

membengakak cukup besar, hati hancur dan menyatu dengan gonat ikan, tidak
layak dikomsumsi

Gambar 7 Anatomi ikan Nila dengan penambahan Pestisida 6 cc


Selanjutnya dapat kita lihat dari tabel ke 3 ikan Nila dengan perlakuan 6 cc
mengalami kerusakan pada bagian organ dalam, semua isi dalam perut, usus,
gonat, hati menyatu dan mencair. daging tidak elastis atau lembut dan mudah ha
ncur, isi perut berubah warna hitam pekat
Tidak layak di komsumsi.
4.3 Pengaruh dosisi Pestisida Terhadap Ikan Nila

Gambar 8 Ikan Nila yang telah di beri larutan Pestisida


Dapat dilihat pada gambar ikan Nila yang telah di beri larutas pestidia
langsung bergerak aktif (cepat) Interaksi antara proses lingkungan dan sifat fisika
kimiawi pencemaran menentukan penyebarannya, intensitas, dan pengaruhnya
terhadap kehiupan mahluk hidup (Connel & Miller, 1995). Pengambilan pestisida
oleh hewan dapat terjadi secara langsung dari lingkungan fisik atau dari
penyerapan gastrointestinal. Untuk organisme air, kontaminasi pestisida dapat
disebabkan oleh: (1) masuk bersama makanan yang terkontaminasi, (2)

13

pengambilan dari air yang melewati membran insang, (3) difusi kutikular, dan (4)
penyerapan langsung dari sedimen (Livingstone, 1977).
Secara kualitatif maupun kuantitatif, residu beberapa bahan aktif pestisida
yang terdapat dalam daging ikan lebih tinggi dibanding residu yang terdapat
dalam air dan tanah. Hal ini dapat terjadi karena ikan merupakan akumulator yang
baik terutama bagi bahan aktif yang bersifat lipofilik sehingga sangat mudah
terikat dalam jaringan lemak ikan. Menurut Edward (1976), rata-rata kenaikan
residu pestisida dalam hewan akuatik mempunyai korelasi dengan aktivitas
metabolisme, bobot badan, luas permukaan tubuh, dan rantai makanannya.
Sedangkan Kusnoputranto (1995) mengemukakan bahwa penyerapan residu
pestisida tergantung dari besarnya residu, sifat fisika-kimia, sifat bioakumulatif
dan toksisitasnya, maka keracunan yang ditimbulkannyapun dapat bersifat letal
maupun subletal.
4.4 pengaruh pestisida terhadap kesehatan Manusia.
4.4.1 Beban Pestisida
Beban pestisida mengacu pada jumlah pestisida yang berbeda yang
digunakan pada tanaman tunggal. Sementara ada batas pada jumlah pestisida
tunggal yang digunakan pada tanaman, tidak ada batasan berapa banyak pestisida
yang berbeda dapat digunakan. Hal ini telah menghasilkan beberapa makanan
yang memiliki banyak pestisida yang berbeda didalamnya. Apa yang peneliti
medis tahu adalah masing-masing pestisida dalam diri individu memiliki efek
merugikan pada kesehatan.
4.4.2. Kesehatan Otak
Ada pestisida tertentu yang mempengaruhi perkembangan neuron dan
struktur otak, yang dapat berdampak pada proses pembelajaran dan memori.
Neonicotinoids , organofosfat, dan karbamat adalah beberapa pestisida yang
berbahaya bagi otak. Pestisida ini juga mengganggu transmisi sinyal saraf dan
menyebabkan kebingungan. Pestisida ini merupakan masalah bagi semua orang,
terutama bagi wanita hamil karena bayi yang belum lahir bisa terkena bahan kimia
ini ketika otak mereka berkembang. Karena penggunaan pestisida tersebar begitu

14

luas, satu-satunya cara untuk mencegah paparan pestisida dan masalah


perkembangan otak adalah dengan membeli produk organik.
4.4.3. Masalah Perkembangan Pada Anak
Terkena neurotoksin dan endokrin yang ada pada pestisida dalam rahim
dapat menempatkan bayi pada peningkatan risiko terhadap gangguan perhatian
dan bahkan gangguan spektrum autisme. Pestisida juga telah dikaitkan dengan
cacat lahir, gangguan kognitif, dan gangguan reproduksi. Kabar baiknya adalah
peneliti telah menemukan bahwa setelah beralih ke produk organik, tidak lagi
terdeteksi dalam sampel urin dari anak-anak. Jadi, tidak pernah terlalu terlambat
untuk membuat perubahan.
4.4.4. Kesehatan Reproduksi
Setiap pestisida bisa mempengaruhi kesehatan reproduksi. Endosulfan
misalnya, menghasilkan tertundanya masa pubertas pada anak laki-laki, sementara
atrazin menyebabkan masalah menstruasi, jumlah sperma rendah, dan bayi dengan
berat badan saat lahir rendah. Pestisida lain, seperti alachlor dan diazinon dapat
mengakibatkan penyimpangan sperma. Selain masalah reproduksi ini, paparan
pestisida juga telah dikaitkan dengan keguguran dan masalah kesuburan.
4.4.5. Alergi
Dari sekian banyak masalah kesehatan yang disebabkan oleh pestisida,
alergi adalah salah satu masalah yang lebih mengejutkan. Penelitian telah
menunjukkan bahwa ada kemungkinan peningkatan mengembangkan alergi akibat
paparan pestisida. Tampaknya pestisida menurunkan toleransi tubuh terhadap
makanan. Salah satu teori tentang mengapa hal ini terjadi karena pestisida
merusak usus, sehingga memudahkan alergen untuk melalui dinding usus.
4.4.6. Penyakit
Ironisnya, penggunaan pestisida telah ditemukan dapat menyebabkan
norovirus, yang menyebabkan diare, mual, muntah, demam, sakit dan nyeri.
Alasan pestisida telah dikaitkan dengan norovirus adalah karena air yang
digunakan untuk menyemprot pestisida sering terkontaminasi dengan kotoran.
Untuk melindungi diri dari norovirus, selalu cuci produk Anda walaupun itu
makanan organik. Meskipun makanan organik memiliki kontaminan yang jauh
lebih sedikit, masih mungkin bisa memiliki patogen seperti konvensional.

15

4.4.7. Kanker
Pestisida dikenal sebagai karsinogen, karena menumpuk dalam tubuh, ini
menempatkan orang pada risiko lebih besar untuk kanker. Petani dan buruh tani
yang lebih sering terpapar pestisida daripada penduduk lainnya memiliki risiko
lebih tinggi terkena kanker. Juga semua orang yang terpapar pestisida berada pada
risiko tinggi terhadap kanker.
Dengan membeli produk organik, Anda akan meminimalkan resiko dari
terpapar pestisida. Apakah Anda sudah mencoba untuk membatasi paparan
pestisida di makanan Anda? Cuci bersih produk bahan makanan yang akan Anda
makan dan olah dengan matang.

16

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pratikum toksikologi mengenai penamabahan dosis Pestisida
pada ikan Nila dapat kita lihat dari keterangan pada tabel bahwa ikan yang baik di
komsumsi adalah ikan yang tidak terdapat penambahan larutan atau zat-zat kimia
yang dapat membahayakan kesehatan manusia, dapat kita bandingkan bahwa ikan
yang di bedah tampa perlakuan terdapat Morfologi dan Anatomi yang baik,
berbeda dengan ikan Nila yang kita tambahkan larutan pestisida, dan dapat pula
kita simpulkan bahwa semakin banyak penggunaan pestisida pada ikan maka
semakin ikan cepat mati, dan Anatomi pada ikan hancur menyatu menjadi satu.
Selain itu dapat kita ketahui bersama Toksikologi adalah studi mengenai
efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat kimia terhadap organisme hidup.
Toksikologi juga membahas tentang penilaian secara kuantitatif tentang organorgan tubuh yang sering terpajang serta efek yang di timbulkannya.
Efek merugikan/ toksik pada sistem biologis dapat disebabkan oleh bahan
kimia yang mengalami biotransformasi dan dosis serta susunannya cocok untuk
menimbulkan keadaan toksik
Respon terhadap bahan toksik tersebut antara lain tergantung kepada sifat
fisik dan kimia, situasi paparan, kerentanan sistem biologis, sehingga bila ingin
mengklasifiksikan toksisitas suatu bahan harus mengetahui macam efek yang
timbul dan dosis yang dibutuhkan serta keterangan mengenai paparan dan
sasarannya. Di dalam ekotoksikologi komponen yang penting adalah integrasi
antara laboratorium dengan peneltian lapangan.
5.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya
membangun agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bias lebih baik lagi, atas
perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.

17

DAFTAR PUSTAKA
Cotton dan Wilkinson . 2009 . Kimia Anorganik Dasar . Jakarta : UI-Press
Darmono . 2006 . Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya Dengan
Toksikologi Seyawa Logam . Jakarta . UI-Press
Darmono . 2009 . Farmasi Forensik dan Toksikologi . Jakarta : UI-Press
Alifia, U, 2008. Apa Itu Narkotika dan Napza. Semarang: PT Bengawan Ilmu.
Darmono, 2009. Farmasi Forensik dan Toksikologi. Jakarta: UI Press.
Munim Idries, Abdul. 2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto.
Munim Idries. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina Rupa Aksara
Dhewi, 2008 Kualitas Ikan Nila. Graha Ilmu: Jakarta
Dwisang, 2008. Struktur Tubuh Ikan Nila: Yogyakarta
Image. 2009. Caudal of Nila Fish. http://aquaviews.net Diakses tanggal 07 Oktober 2011
pukul 09.31 WIB
Image, 2009. Gambar ikan Nila. http://meitanisyah.wordpress.com Diakses tanggal 07
Oktober 2011 pukul 09.36 WIB
Image, 2009. Sisik Ikan Nila. http://australianmuseum.net.au Diakses pada tanggal 07
Oktober 2011 pukul 12.16 WIB
Indhie. 2009. Ikan Nila. http://indhie.wordpress.com Diakses pada tanggal 07 Oktober
2011 pukuol 16.30 WIB
Trewavas.Dr, 2009 Klasifikasi Nila. http://meitanisyah.wordpress.com Diakses pada
tanggal 07 Oktober 2011 pukul 12.19 WIB
Meitanisyah, 2010 Anatomy of Fish. Erlangga: Jakarta
Pratama, 2009. Morfologi Ikan Nila. Airlangga. Jakarta
Putra, adriansyah, 2010. Macam-macam sisik ikan nila. Graha Ilmu: Jakarta
Rustidja,1996. Pola warna dan genetika ikan. Jakarta
Santoso. Budi 1996. Budidaya Ikan Nila. Kasinius: Yogyakarta
Santoso,budi,1996. Sistem reproduksi. Kasinius: Yogyakarta
Seaworld. 2011. Jenis ekor Ikan. http://seaworld.org/aquaviews/tetra/mbuthfish.htm
Diakses pada tanggal 7 Oktober 2011 pukul 13.01 WIBBrown, A.W.A. 1978.
Ecology of pesticides. John Wiley and Sons, New York, 342 pp.

18

Connel, D.W. & Miller, G.J. 1995. Kimia dan ekotoksikologi pencemaran.
Penerbit Univ. Indonesia, Jakarta, hlm. 331-341.

19