Anda di halaman 1dari 9

PENERAPAN

RAPAN GREEN ARCH


ARCHITECT
ECTURE SEBA
SEBAGAI UPAYA
AYA
PENCAP
NCAPAIAN EARTHFRIENDLY ARCH
ARCHITECTURE
TURE
Aditia Putra Jaya
Abstrak
Permasalahan lingkungan khususnya pemanasan global menjadi topik
permasalahan
yang menarik untuk dibicarakan. Perlu kita sadari bahwa
keadaan bumi kita saat ini sudah tidak seoptimal di masa lampau. Hal ini
dipengaruhi oleh factor internal dari bumi ini sendiri, yaitu manusia sebagai
penghuni bumi yang terus mengelola sumber daya alam yang tersedia tanpa
memikirkan dampak yang ditimbulkan dari ulah mereka. Seharusnya kita saling
memahami, antara keadaan alam dan kebutuhan manusia yang tidak boleh saling
merugikan. Selain karna adanya pemanasan global, penciptaan atau inovasi
energi yang terbarukan juga menjadi latar belakang timbulnya konsep green
architecture. Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan
praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber
yang dapat diperbaharui, passive- active solar photovoltaic (sel surya pembangkit
listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan,
menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.
Suatu bangunan belum bisa dikatakan berkonsep green architecture apabila
bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan.
Kata Kunci: Green Architecture, Earthfriendly Architecture
1.

PENDAHULUAN
Permasalahan lingkungan

khususnya pemanasan global

menjadi topik

permasalahan yang menarik untuk dibicarakan. Perlu kita sadari bahwa keadaan
bumi kita saat ini sudah tidak seoptimal di masa lampau. Hal ini dipengaruhi oleh
factor internal dari bumi ini sendiri, yaitu manusia sebagai penghuni bumi yang
terus mengelola sumber daya alam yang tersedia tanpa memikirkan dampak yang
ditimbulkan dari ulah mereka. Seharusnya kita saling memahami, antara keadaan
alam dan kebutuhan manusia yang tidak boleh saling merugikan.
Berdasarkan laporan dari BBC Indonesia 2009 luas hutan di Indonesia
menyusut setiap tahun. Kementrian Kehutanan mencatat kerusakan hutan hingga
2009 mencapai lebih dari 1,08 juta hektar pertahun. Menurut

World

Health

Organisation (WHO), 30% bangunan gedung di dunia mengalami masalah


kualitas udara dalam ruangan.

*Mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Untuk itu muncul adanya konsep green architecture yaitu pendekatan


perencanaan arsitektur yang berusaha meminimalisasi berbagai pengaruh
membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Konsep green

architecture ini memiliki beberapa manfaat diantaranya bangunan lebih tahan


lama, hemat energi, perawatan bangunan lebih minimal, lebih nyaman
ditinggali, serta lebih sehat bagi penghuni. Konsep green architecture
memberi kontribusi pada masalah lingkungan khususnya pemanasan global.
Apalagi bangunan adalah penghasil terbesar lebih dari 30% emisi global
karbon dioksida sebagai salah satu penyebab pemanasan global.
Selain karena adanya pemanasan global, penciptaan atau inovasi energi
yang terbarukan juga menjadi latar belakang timbulnya konsep green
architecture. Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan
praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumbersumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya
pembangkit listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah
hujan, menggunakan

kerikil

yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan

sebagainya.

Gambar 1. Salah satu bangunan yang merupakan Top Ten Green


Architecture (Cherokee Studios, Los Angeles, CA)
Projects Of 2011
Konsep 'green' juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan
energy (misalnya

energi listrik), low energy house dan zero energy

building dengan memaksimalkan penutup bangunan. Penggunaan energi


terbarukan seperti energi matahari, air, biomas, dan pengolahan limbah menjadi
energy juga patut diperhitungkan. Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar
menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan,

tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan
agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru,
menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.
Arsitektur ramah lingkungan berangkat dari kepedulian dengan lingkungan
dalam membuat desain bangunan guna memenuhi kebutuhan manusia. Aspek
ramah terhadap lingkungan menjadi penting mengingat kondisi alam terutama di
perkotaan dimana bangunan menempati sebagian besar lahan ternyata
menimbulkan masalah yang cukup serius.
Tujuan utama dari arsitektur ramah lingkungan adalah menciptakan
bangunan yang mempunyai sesedikit mungkin efek negatif terhadap lingkungan.
Kesehatan lingkungan menjadi bagian penting dari desain bangunan sehingga
praktek pembangunan mulai dari pembuatan struktur hingga pembangunan
keseluruhan bangunan harus memperhatikan lingkungan sekitar.
2.

PERMASALAHAN
Penerapan Green Architecture Sebagai Upaya Pencapaian Earthfriendly
Architecture merupakan studi untuk mendapatkan pemahaman yang jelas
mengenai makna penerapan Green Architecture yang timbul sebagai ekspresi
bangunan. Yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara menerapkan
perencanaan bangunan sejak awal berdasarkan konsep green architecture?
bagaimana mendesain sebuah bangunan yang 'green' sekaligus memiliki estetika
bangunan yang baik? Karena bisa saja bangunan memiliki fasilitas yang
mendukung konsep green, namun ternyata secara estetika terlihat kurang menarik.
Dalam hal ini, peran arsitek menjadi penting. Standar bangunan yang 'green' juga
bisa menuntut lebih banyak dana, karena fasilitas yang dibeli agar bangunan
menjadi 'green' tidaklah murah, misalnya penggunaan photovoltaic (sel surya
pembangkit listrik). Teknologi agar bangunan menjadi 'green' biasanya tidak
murah. Bagaimana konsep terapan green architecture dapat mendukung konsep
arsitektur ramah lingkungan?

3.

KAJIAN PUSTAKA

3.1.

GREEN ARCHITECTURE
Konsep Green Architecture atau arsitektur hijau menjadi topik yang
menarik saat ini, salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi
site dan menghemat sumber daya alam akibat menipisnya sumber energi tak
terbarukan. Berbagai pemikiran dan interpretasi arsitek bermunculuan secara

berbeda-beda, yang masing-masing

diakibatkan oleh persinggungan dengan

kondisi profesi yang mereka hadapi.


Green Architecture ialah sebuah konsep arsitektur yang berusaha
meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan
menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan
dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien
dan optimal.
Green dapat

diinterpretasikan

sebagai

sustainable

(berkelanjutan),

earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan


dengan performa sangat baik). Ukuran 'green' ditentukan oleh berbagai faktor,
dimana terdapat peringkat yang merujuk pada kesadaran untuk menjadi lebih
hijau. Di negara-negara maju terdapat award, pengurangan pajak, insentif yang
diberikan pada bangunan-bangunan yang tergolong 'green'.
Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan praktek
arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat
diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik),
teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, menggunakan kerikil
yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.
Konsep 'green' juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energy
(misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan
memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energy
terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi
energi juga patut diperhitungkan.
Dari pengertian diatas, Green Architecture sangat berpengaruh penting
terhadap kehidupan manusia, baik di masa lampau, sekarang terutama akan
datang.
3.2.

EARTHFRIENDLY ARCH
ARCHITECTURE
TURE
Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep green
architecture apabila bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan. Maksud
tidak bersifat ramah terhadap lingkungan disini tidak hanya dalam perusakkan
terhadap lingkungan. Tetapi juga menyangkut masalah pemakaian energi. Oleh
karena itu bangunan berkonsep green architecture mempunyai sifat ramah
terhadap lingkungan sekitar, energi dan aspek aspek pendukung lainnya.
Pada dasarnya earthfriendly architecture menerapkan konsep arsitektur
hemat energy. Banyak memanfaatkan pengudaraan alami dan pencahayaan alami.
Desain rumah sedemikian rupa sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada AC

dan lampu. Bangunan ramah lingkungan mempunyai kontribusi menahan laju


pemanasan global dengan membenahi iklim mikro. Fakta akibat pemanasan global
mendorong lahirnya berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam
dunia arsitektur dan bahan bangunan. Konsep pembangunan arsitektur hijau
menekankan pada peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energy, dan
material bangunan, mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan
bangunan itu ke depan.
4.

PEMBAHASAN

4.1.

PENERAPAN GREEN ARCHITECTURE


1) Memiliki Konsep High Perfomance Building & Earth Friendly.
a. Dapat

dilihat

dari

dinding

bangunan,

terdapat

kaca

di beberapa

bagiannya. Fungsinya adalah untuk menghemat penggunaan elektrisiti


untuk bangunan terutama dari segi pencahayaan dari lampu.
b. Menggunakan energi alam seperti angin, sebagai penyejuk lingkungan.
c. Bahan-bahan

bangunan

yang

digunakan

cenderung ramah

pada

lingkungan seperti keramik dengan motif kasar pada lantai untuk


mengurangi pantulan panas yang dihasilkan dari dinding yang berkaca.
d. Kolam air disekitar Bangunan berfungsi selain dapat memantulkan sinar
lampu, juga dapat mereduksi panas matahari sehingga udara tampak
sejuk dan lembab.
2) Memiliki Konsep Sustainable.
Pembangunannya sangat di konsepkan, menelaah lahan lingkungan wilayah
yang sangat terbatas, dengan konsep alamiah dan natural, dipadukan dengan
konsep teknologi tinggi, bangunan ini memungkinkan terus bertahan dalam
jangka panjang karena tidak merusak lingkungan sekitar yang ada.
3) Memiliki Konsep Future Healthly.
a. Dapat

dilihat

dari

beberapa

tanaman

rindang

yang mengelilingi

bangunan, membuat iklim udara yang sejuk dan sehat bagi kehidupan
sekitar, lingkungan tampak tenang, karena beberapa vegetasi dapat
digunakan sebagai penahan kebisingan.
b. Dinding bangunan curtain wall dilapisi alumunium dapat berguna untuk
UV protector untuk bangunan itu sendiri. Tentunya ini semua dapat
memberi efek positif untuk kehidupan.
c. Pada bagian atap gedung, terdapat tangga untuk para pengguna yang
akan menuju lantai atas. Ini dapat meminimalisasi penggunaan listrik
untuk lift atau eskalator.

d. Tentu lebih menyehatkan, selain sejuk pada atap bangunan terdapat


rumput yang digunakan sebagai green roof, pengguna juga mendapatkan
sinar matahari.
4) Memiliki Konsep Climate Supportly.
Dengan konsep penghijauan, sangat cocok untuk iklim yang masih
tergolong tropis (khatulistiwa). Pada saat penghujan, dapat sebagai resapan
air, dan pada saat kemarau, dapat sebagai penyejuk udara.
5) Memiliki Konsep Esthetic Usefully.
Penggunaan green roof pada kampus ini, selain untuk keindahan dan agar
terlihat menyatu dengan alam, juga dapat digunakan sebagai water catcher
sebagi proses pendingin ruangan alami karena sinar matahari tidak diserap
beton secara langsung. Ini juga menurunkan suhu panas di siang hari dan
sejuk di malam hari untuk lingkungan sekitarnya. Desainnya yang
melengkung digunakan agar penyerapan matahari oleh kulit bangunan dapat
di minimalisasikan.
4.2.

PENERAPAN EARTHFRIENDLY ARCH


ARCHITECTUR
TUR
1) Menggunakan energy secara efisien.
a. Menggunakan lampu tipe light emitting diode (LED) sebagai pengganti
lampu pijar atau CFL yang bisa menghemat penggunaan energy hingga 40%
untuk menghasilkan intensitas cahaya yang sama.
b. Memperbanyak jendela di langit-langit (skylight), sehingga bisa menghindari
penggunaan lampu di siang hari.
c. Menggunakan teknologi yang efisiensi energy
d. Mengaplikasikan teknologi proses produksi di industry yang hemat energy.
2) Penggunaan bahan bangunan hemat energy di gedung.
a. Retrofitting gedung, yaitu proses merombak ulang sebuah bangunan atau
sebagai bagian dari bangunan yang telah dibangun guna memaksimalkan
performa gedung.
b. Gedung harus memiliki system operasional dan peralatan yang juga hemat
energy seperti system HVAC (heating, ventilating and air conditioning)
yang efisien, pencahayaan alami yang maksimal serta peralatan yang hemat
energy.
c. Desain gedung hemat energy, membatasi lahan bangunan, layout sederhana,
kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan.
Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green

roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran
berkurang, dan ruang hijau bertambah.
Bahan bangunan hemat energy yang sering ditemui dalam kehidupan seharihari yaitu:
a. Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku
utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam
mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.
b. Kerangka bangunan utama dan atap, saat ini material berbahan kayu sudah
mulai digantikan dengan material baja ringan. Illegal logging akibat
pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menjadikan bangunan berbahan
kayu mulai berkurang. Material baja ringan dapat dipilih berdasarkan
beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dari
baja memiliki keunggulan yaitu lebih kuat, antikarat, antikropos, antirayap,
lentur, mudah dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi
teknik sipil.
c. Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai rnenggunakan bahan aluminium
sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki
keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat
pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern),
dengan desain khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi,
hemat biaya), Iebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama
sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan
ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).
d. Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik.
Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur,
semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap
tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas
matahari secara signifkan.
e. Penggunaan keramik pada dinding menggeser wallpaper merupakan salah
satu bentuk inovasi desain. Dinding keramik memberikan kemudahan
dalam perawatan, pembersihan dinding (tidak perlu dicat ulang, cukup
dilap), motif beragam dengan warna pilihan eksklusif dan elegan, serta
menyuguhkan suasana ruang yang bervariasi. Fungsi setiap ruang dalam
rumah berbeda-beda sehingga membuat desain dan bahan lantai menjadi
beragam, seperti marmer, granit, keramik, teraso, dan parquet. Merangkai
lantai tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal untuk tampil artistik.

f. Konsep ramah Iingkungan juga telah merarnbah ke dunia sanitasi. Septic


tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank,) berbahan
fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari
Iingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan
sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi,
pemasangan mudah dan cepat, serta tidak rnembutuhkan perawatan khusus.
g. Penggunaan panel sel surya meringankan kebutuhan energi listrik bangunan
dan memberikan keuntungan tidak perlu takut kebakaran, hubungan pendek
(korsleting), bebas polusi, hemat listrik, hemat biaya listrik, dan rendah
perawatan. Panel sel surya diletakkan di atas atap, berada tepat pada jalur
sinar matahari dari timur ke barat dengan posisi miring. Kapasitas panel sel
surya harus terus ditingkatkan sehingga kelak dapat memenuhi kebutuhan
energi listrik setiap bangunan.

5.

KESIMPULAN
Green Architecture ialah sebuah konsep arsitektur yang berusaha
meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan
menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan
dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien
dan optimal.
Earthfriendly Architecture (arsitektur ramah lingkungan) ialah sebuah
konsep arsitektur yang bukan hanya dalam perusakkan terhadap lingkungan tetapi
juga menyangkut masalah pemakaian energy yaitu dengan menerapkan konsep
arsitektur hemat energy.

DAFTAR PUSTAKA