Anda di halaman 1dari 9

Masyarakat Madani I

Makalah

Disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila

Disusun Oleh:

Andre Agusta (109091000091)

Anissa Permitia (109091000066)

Hadyan Ahmad (109091000065)

Muhammad Fahrurrozi (109091000082)

Jurusan Teknik Informatika (TI/B/II/2009)

Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta

1431 H.
2010 M.
I. PENDAHULUAN

Adanya beberapa kasus yang berkenaan dengan penindasan rakyat yang dilakukan
oleh penguasa merupakan realitas yang sering kita lihat dan kita dengar dalam setiap
pemberitaan pers, baik melalui media elektronika maupun media cetak.

Keadaan-keadaan tersebut pada akhirnya akan bermuara pada perlunya dikaji kembali
kekuatan rakyat/masyarakat (civil) dalam konteks interaksi-relationship, baik antara rakyat
dengan negara, maupun antara rakyat dengan rakyat. Kedua pola hubungan interaktif tersebut
akan memposisikan rakyat sebagai bagian integral dalam komunitas negara yang memiliki
kekuatan bargaining dan menjadi komunitas masyarakat sipil yang memiliki kecerdasan,
analis a kritis yang tajam serta mampu berinteraksi di ligkungannya secara demokratis dan
berkeadaban.

Kemungkinan akan adanya kekuatan civil sebagai bagian dari komunitas bangsa ini
akan mengantarkan pada sebuah wacana yang saat ini sedang berkembang, yakni masyarakat
madani.

II. PENGERTIAN MASYARAKAT MADANI

Di Indonesia, istilah masyarakat madani mengalami penerjemahan yang berbeda-beda


dengan sudut pandang yang berbeda pula, seperti masyarakat madani sendiri, masyarakat
sipil, masyarakat kewargaan, masyarakat warga dan civil society (tanpa diterjemahkan).

Masyarakat Madani; konsep ini merupakan penerjemahan istilah dari konsep civil
society yang pertama kali digulirkan oleh Dato Seri Anwar Ibrahim dalam ceramahnya pada
simposium Nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada acara Festival Istiqlal, 26 September
1995 di Jakarta.

Masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip
moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangandengan kestabilan
masyarakat. Masyarakat mendorong daya usaha serta inisiatif individu baik dari segi
pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintahan mengikuti undang-undang dan bukan nafsu atau
keinginan individu menjadikan keterdugaan atau predictability serta ketulusan atau
transparency sistem.

Paradigma dengan pemilihan istilah masyarakat madani ini dilatarbelakangi oleh


konsep kota ilahi, kota peradaban atau masyarakat kota. Pada prinsipnya konsep masyarakat
madani adalah adalah sebuah tatanan komunitas masyarakat yang mengedepankan toleransi,
demokrasi, dan berkeadaban serta menghargai akan adanya pluralisme (kemajemukan).

Masyarakat madani mempunyai prinsip pokok pluralis, toleransi dan human right
termasuk didalamnya adalah demokrasi. Sehingga masyarakat madani dalam artian negara
menjadi suatu cita-cita bagi negara Indonesia ini, meskipun sebenarnya pada wilayah-wilayah
tertentu, pada tingkat masyarakat kecil, kehidupan yang menyangkut prinsip pokok dari
masyarakat madani sudah ada. Sebagai bangsa yang pluralis dan majemuk, model masyarakat

2
Pendidikan Pancasila [Masyarakat Madani I]
madani merupakan tipe ideal suatu mayarakat Indonesia demi terciptanya integritas sosial
bahkan integritas nasional.

Masyarakat Sipil; merupakan penurunan langsung dari istilah civil society. Istilah ini
banyak dikemukakan oleh Mansour Fakih untuk menyebutkan prasyarat masyarakat dan
negara dalam rangka proses penciptaan dunia secara mendasar baru dan lebih baik.

Masyarakat Kewargaan; konsep ini pernah digulirkan dalam sebuah Seminar


Nasional Asosiasi Ilmu Politik Indonesia XII di Kupang NTT. Wacana ini digulirkan oleh M.
Ryas Rasyid dengan tulisannya “Perkembangan Pemikiran Masyarakat Kewargaan”,
Riswanda Imawan dengan karyanya “Rekruitmen Kepemimpinan dalam Masyarakat
Kewargaan dalam Politik Malaysia. Konsep ini merupakan respon dari keinginan
untukmenciptakan warga negara sebagai bagian integral negara yang mempunyai andil dalam
setiap perkembangan dan kemajuan negara (state).

Civil Society; istilah ini (dengan tidak menerjemahkannya) merupakan konsep yang
digulirkan Muhammad AS. Hikam. Menurutnya, konsep civil society yang merupakan
warisan wacana yang berasal dari Eropa Barat, akan lebih mendekati substansinya jika
tetapdisebutkan dengan istilah aslinya. Menurutnya pengertian civil society (dengan
memegang konsep de ‘Tocquiville) adalah wilayah-wilayah kehidupan sosial yan
terorganisasi dan bercirikan antara lain kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self-
generating), dan keswadayaan (self-supporting), kemandirian tinggi berhadapan dengan
negara, dan keterkaitan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh
warganya. Dan sebagai ruang politik, civil society merupakan suatu wilayah yang menjamin
berlangsungnya perilaku, tindakan, dan refleksi mandiri, tidak terkungkung oleh kondisi
kehidupan material, dan tidak terserap dalam jaringan-jaringan kelembagaan politik resmi. Di
dalamnya tersirat pentingnya suatu ruang publik yang bebas (the free public sphere). Tempat
dimana transaksi komunikasi yang bebas bisa dilakukan oleh warga masyarakat.

Berbagai pengistilahan tentang wacana mayarakat madani di Indonesia tersebut,


secara substansial bermuara pada perlunya penguatan masyarakat (warga) dalam sebuah
komunitas negara untuk mengimbangi dan mampu mengontrol kebijakan negara (policy of
state) yang cenderung memposisikan warga negara sebagai subjek yang lemah. Untuk itu,
maka diperlukan penguatan masyarakat sebagai prasyarat untuk mencapai kekuatan
bargaining masyarakat yang cerdas di hadapan negara tersebut, dengan komponen
pentingnya adalah adanya lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mampu berdiri secara
mandiri di hadapan negara, terdapat ruang publik dalam mengemukakan pendapat,
menguatnya posisi kelas menengah dalam komunitas masyarakat, adanya indepedensi pers
sebagai bagian dari social control, membudayakan kerangka hidup yang demokratis, toleran
serta memiliki peradaban dan keadaban yang tinggi.

III. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MASYARAKAT MADANI

Untuk memahami masyarakat madani terlebih dahulu kita harus dibangun paradigma
bahwa konsep masyarakat madani ini bukan merupakan suatu konsep yang sudah final dan

3
Pendidikan Pancasila [Masyarakat Madani I]
sudah jadi, melainkan ia sebuah wacana yang harus dipahami sebagai suatu proses. Oleh
karena itu, untuk memahaminya haruslah dianalisis secara historik.

Wacana masyarakat madani merupakan konsep pergolakan politik yang berasal dari
pergolakan politik dan sejarah masyarakat Eropa Barat yang mengalami proses transformasi
dari pola kehidupan feodal menuju kehidupan masyarakat industri kapitalis. Jika dicari akar
sejarahnya dari awal, maka perkembangan wacana masyarakat madani dapat dirunut mulai
dari Cicero sampai pada Antonio Gramsci dan de’Tocquiville. Bahkan menurut Manfred
Ridel, Cohen dan Arato serta M. Dawam Rahardjo, wacana masyarakat madani sudah
mengemuka pada masa Aristoteles. Pada masa ini (Aristoteles, 382-322 SM) masyarakat
madani dipahami sebagai sistem kenegaraan dengan menggunakan istilah koinonia politike,
yakni sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat langsung dalam berbagai
percaturan ekonomi-politik dan pengambilan keputusan. Istilah koinonia politike yang
dikemukakan Aristoteles ini digunakan untuk menggambarkan sebuah masyarakat politis dan
etis dimana warga negaara didalamnya berkedudukan sama di depan hukum. Hukum sendiri
dianggap etos, yakni seperangkat nilai yang disepakati tidak hanya berkaitan dengan prosedur
politik, tetapi juga sebagai substansi dasar kebijakan (virtue) dari barbagai bentuk interaksi di
antara warga negara.

Konsep Aristoteles ini diikuti oleh Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) dengan istilah
societies civilies, yaitu sebuah komunitas yang mendominasi komunitas yang lain. Istilah
yang dikedepankan oleh Cicero ini lebih menekankan pada konsep negara kota (city-state),
yakni untuk menggambarkan kerajaan, kota, dan bentuk korporasi lainnya, sebagai kesatuan
yang terorganisasi. Konsepsi masyarakat madani yang aksentuasinya pada sistem kenegaraan
ini dikembangkan pula oleh Thomas Hobbes (1588-1679 M) dan Jhon Locke (1632-1704).
Menurut Hobbes, masayarakat madani harus memiliki kekuasan mutlak, agar mampu
sepenuhnya mengontrol dan mengawasi secara ketat pola-pola interaksi (perilaku politik)
setiap warga negara. Sementara menurut Jhon Locke, kehadiran masyarakat madani
dimaksudkan untuk melindungi kebebasan dan hak milik setiap warga negara.
Konsekuensinya adalah, masyarakat madani tidak boleh absolut dan harus membatasi
perannya pada wilayah yang tidak bisa dikelola masyarakat dan memberikan ruang yang
manusiawi bagi warga negara untuk memperoleh haknya secara adil dan proporsional.

Pada tahun 1767, wacana masyarakat madani ini dikembangkan oleh Adam Ferguson
dengan mengambil konteks sosio-kultural dan politik Skotlandia. Ferguson menekankan
masyarakat madani pada sebuah visi etis dalam kehidupan bermasyarakat. Pemahamannya ini
digunakan untuk mengantisipasi perubahan sosial yang diakibatkan oleh evolusi dan
munculnya kapitalisme serta mencoloknya perbedaan antara publik dan individu. Dengan
konsepnya ini, Ferguson berharap bahwa publik memiliki spirit untuk menghalangi
munculnya kembali despotisme, karena dalam masyarakat madani itulah solidaritas muncul
dan diilhami oleh sentimen moral dan sikap saling menyayangi serta saling mempercayai
antar warga negara secara ilmiah.

Kemudian pada tahun 1792, muncul wacana masyarakat madani yang memiliki
aksentuasi yang berbeda dengan sebelumnya. Konsep ini dimunculkan oleh Thomas Paine

4
Pendidikan Pancasila [Masyarakat Madani I]
(1737-1803) yang menggunakan instilah masyarakat madani sebagai kelompok masyarakat
yang memiliki posisi secara diametral dengan negara, bahkan diangapnya sebagai anti tesis
darri negara. Dengan demikian, maka negara harus dibatasi sampai sekecil-kecilnya dan ia
merupakan perwujudan dari delegasi kekuasaan yang diberikan oleh masyarakat demi
tercuptanya kesejahteraan umum. Dengan demikian, maka masyarakat madani menurut Paine
ini adalah ruang dimana warga dapat mengembangkan kepribadian dan memberi peluang
bagi pemuasan kepentingannya secara bebas dan tanpa paksaan. Paine mengidealkan
terciptanya suatu ruang gerak yang menjadi domain masyarakat, dimana intervensi negara
didalamnya merupakan aktivitas yang tidak sah dan tidak dibenarkan. Oleh karenanya, maka
masyarakat madani harus lebihh kuat dan mampu mengontrol negara demi kebutuhannya.

Perkembangan civil society selanjutnya dikembangkan oleh G.W.F. Hegel (1770-


1831 M), Karl Marx (1818-1883 M) dan Antonio Gramsci (1891-1837 M). Wacana
masyarakat madani yang dikembangkan oleh ketiga tokoh ini menekankan pada masyarakat
madani sebagai ideologi kelas dominan. Pemahaman ini lebih merupakan sebuah reaksi dari
model pemahaman yang dilakukan oleh Paine (yang menganggap masyarakat madani sebagai
bagian terpisah dari negara). Menurut Hegel masyarakatmadani merupakan kelompok
subordinatif dari negara. Pamahaman ini, menurut Ryas Rasyid erat kaitannya dengan
fenomena masyarakat borjuis Eropa (burgerlische gesselschaft) yang pertumbuhannya
ditandai dengan perjuangan melepaskan diri dari dominasi negara.

Karl Marx memahami masyarakat madani sebagai “masyarakat borjuis” dalam


konteks hubungan produksi kapitalis, keberadaannya merupakan kendala bagi pembebasan
manusia dari penindasan. Karenanya, maka ia harus dilenyapkan untuk mewujudkan
masyarakat tanpa kelas. Sementara Antonio Gramsci tidak memahami memahami masyarakat
madani sebagai relasi produksi, tetapi lebih pada sisi ideologis. Bila Marx menempatkan
masyarakat madani pada basis material, maka Gramsci meletakkannya pada superstruktur,
berdampingan dengan negara yang ia sebut sebagai political society. Masyrakat madani
merupakan tempat perebutan posisi hagemonik di luar kekuatan negara. Di dalamnya aparat
hagemoni mengembangkan hagemoni untuk membentuk konsensus dalam masyarakat.

Pemahaman Gramsci memberikan tekanan pada kekuatan cendekiawan yang


merupakan aktor utama dalam proses perubahan sosial dan politik. Gramsci dengan denikian
melihat adanya siat kemandirian dan politis pada masyarakat madani, sekalipun pada instansi
terakhir ia juga amat dipengaruhi oleh basis material (ekonomi).

Periode berikutnya, wacana masyarakat madani dikembangakan oleh Alexis


de‘Tocquiville (1805-1859 M) yang berdasarkan pada pengalaman demokrasi di Amerika,
dengan mengembangkan teori masyarakat madani seagai entitas penyeimbang kekuatan
negara. Bagi de’Tocquiville, kekuatan politik dan masyarakat madani-lah yang menjadikan
demokrasi di Amerika mempunyai daya tahan. Dengan terwujudnya pluralitas, kemandirian
dan kapasitas politik di dalam masyarakat madani, maka warga Negara akan mampu
mengimbangi dan mengontrol kekuatan negara.

5
Pendidikan Pancasila [Masyarakat Madani I]
Dari berbagai model pengembangan masyarakat madani diatas, model Gramsci dan
Tocquiville-lah yang menjadi inspirasi gerakan pro-demokrasi di Eropa Timur dan Tengah
pada sekitar akhir dasawarsa 80-an. Pengalaman Eropa Timur dan Tengah tersebut
membuktikan bahwa justru dominasi negara atas masyarakatlah yang melumpuhkan
kehidupan sosial mereka. Hal ini berarti bahwa gerakan membangun masyarakat madani
menjadi perjuangan untuk membangun harga diri mereka sebagai warga negara. Gagasan
tentang masyarakat madani kemudian menjadi semacam landasan ideologis untuk
membebaskan diri dari cengkraman Negara yang secara sistematis melemahkan daya kreasi
dan kemandirian masyarakat.

IV. KARAKTERISTIK MASYARAKAT MADANI

Penyebutan karakteristik masyarakat madani dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa


dalam merealisasikan wacana masyarakat madani diperlukan prasyarat-prasyarat yang
menjadi nilai universal dalam penegakan masyarakat madani. Prasyarat ini tidak bisa
dipisahkan satu sama lain atau hanya mengambil salah satunya saja, melainkan merupakan
satu kesatuan yang integral yang menjadi dasar dan nilai bagi eksistensi masyarakat madani.
Karakteristik tersebut antara lain adalah adanya Free Public Sphere, Demokratis, Toleransi,
Pluralisme, dan Keadilan social (social justice).

1. Free Public Sphere

Yang dimaksud dengan free public sphere adalah adanya ruang publik yang bebas
sebagai sarana dalam mengemukakan pendapat. Pada ruang publik yang bebaslah individu
dalam posisinya yang setara mampu melakukan transaksi-transaksi wacana dan praksis
politik tanpa mengalami distorsi dan kekhawatiran. Aksentuasi prasyarat ini dikemukakan
oleh Arendt dan Habermas. Lebih lanjut dikatakan bahwa ruang publik secara teoritis bisa
diartikan sebagai wilayah dimana masyarakat sebagai warga negara memiliki akses penuh
terhadap setiap kegiatan publik. Warga negara berhak melakukan kegiatan secara merdeka
dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul serta mempublikasikan informasi
kepada publik.

Sebagai sebuah prasyarat maka, untuk mengembangkan dan mewujudkan masyarakat


madani dalam sebuah tatanan masyarakat, maka free public sphere menjadi salah satu bagian
yang harus diperhatikan. Karena dengan menafikan adanya ruang publik yang bebas dalam
tatanan masyarakat madani, maka akan memungkinkan terjadinya pembungkaman kebebasan
warga negara dalam menyalutkan aspirasinya yang berkenaan dengan kepentingan umum
olrh penguasa yang tiranik dan otoriter.

2. Demokratis

Demokratis merupakan ciri entitas yang menjadi penegak wacana masyarakat madani,
dimana dalam menjalani kehidupan, warga negara memiliki kebebasan penuh untuk
menjalankan aktivitas kesehariannya, termasuk dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Demokratis berarti masyarakat dapat berlaku santun dalam pola hubungan interaksi dengan

6
Pendidikan Pancasila [Masyarakat Madani I]
masyarakat sekitarnya dengan tidak mempertimbangkan suku, ras dan agama. Prasyarat
demokratis ini banyak dikemukakan oleh para pakar yang mengkaji fenomena masyarakat
madani. Bahkan denokrasi merupakan salah satu syarat mutlak bagi penegakan masyarakat
madani. Penekanan demokrasi (demokratis) di sini dapat mencakup berbagai bentuk aspek
kehidupan seperti politik, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya.

3. Toleran

Toleran merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani untuk


menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan orang lain.
Toleransi ini memungkinkan akan adanya kesadaran masing-masing individu untuk
menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh
kelompokmasyarakat lain yang berbeda. Toleransi – menurut Nurcholish Madjid –
merupakan persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran itu. Jika toleransi
menghasilkan adanya tata cara pergaulan yang “enak” antara berbagai kelompok yang
berbeda-beda, maka hasil itu harus dipahami sebagai “hikmah” atau “manfaat” dari
pelaksanaan ajaran yang benar.

Azyumardi azra pun menyebutkan bahwa masyarakat madani (civil society) lebih
darri sekadar gerakan-gerakan pro demokrasi. Masyarakat madani juga mengacu ke
kehidupan yang berkualitas dan tamaddun (civility). Civilitas meniscayakan toleransi, yakni
kesediaan individu-individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan sikap sosial
yang berbeda.

4. Pluralisme

Sebagai sebuah prasyarat penegakan masyarakat madani, maka pluralisme harus


dipahami secara mengakar dengan menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang menghargai
dan menerima kemajemukan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pluralisme tidak bisa
dipahami hanya dengan sikapyang tulus untuk menerima kenyataan pluralisme itu sebagai
bernilai positif, merupakan rahmat Tuhan.

Menurut Nurcholish Madjid, konsep pluralisme ini merupakan prasyarat bagi


tegaknya masyarakat madani. Pluralisme menurutnya adalah pertalian sejati kebhinekaan
dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engangement of diversities within the bonds of
civility). Bahkan pluralisme juga adalah suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia
antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan (check and balance).

Lebih lanjut Nurcholish mengatakan bahwa sikap penuh pengertian kepada orang lain
itu diperlukan dalam masyarakat yang majemuk, yakni masyarakat uang tidak monopolitik.
Apalagi sesungguhnya kemajemukan masyarakat itu sudah merupakan dekrit Allah dan
design-Nya untuk umat manusia. Jadi tidak ada masyarakat yang tunggal, monolitik, sama,
dan sebangun dalam segala segi.

5. Keadilan Sosial (social justice)

7
Pendidikan Pancasila [Masyarakat Madani I]
Keadilan dimaksudkan untuk menyebutkan keseimbangan dan pembagian yang
proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek
kehidupan. Hal ini memungkinkan tidak adanya monopoli dan pemusatan salah satu aspek
kehidupan pada satu kelompok masyarakat. Secara esensial, masyarakat memiliki hak yang
sama dalam memperoleh kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah (penguasa).

V. PENUTUP

Masyarakat madani, keadaan dimana kekuatan masyarakat diperhitungkan merupakan


kondisi yang diidamkan oleh berbagai negara. Namun, saat ini masyarakat madani masih
hanya sekedar menjadi wacana. Walaupun demikian, bukan berarti masyarakat madani
mustahil untuk bisa terealisasi. Konsep masyarakat madani bisa tercipta asalkan setiap
elemen masyarakat saling mengerti posisinya masing-masing. Mari kita sama-sama merubah
diri agar masyrakat madani yang diidamkan bukan hanya sebatas wacana, konsep, dan teori,
tetapi terealisasi secara nyata di negara kita.

Masyarakat madani membutuhkan institusi sosial, non-pemerintahan, yang


independen yang menjadi kekuatan penyeimbang dari negara. Posisi itu dapat ditempati
organisasi masyarakat, maupun organisasi sosial politik bukan pemenang pemilu, maupun
kekuatan-kekuatan terorganisir lainnya yang ada di masyarakat. Akan tetapi institusi tersebut
selama orde baru relatif dikerdilkan dalam arti lebih sering berposisi sebagai corong
kepentingan kekuasaan ketimbang menjadi kekuatan swadaya masyarakat.

8
Pendidikan Pancasila [Masyarakat Madani I]
DAFTAR PUSTAKA

Andik Nurcahyo. Masyarakat Madani (Civil Society) dan Pluralitas Agama Di


Indonesia. http://islamkuno.com/2008/01/16/masyarakat-madani-civil-
society-dan-pluralitas-agama-di-indonesia/. Diakses pada 25-05-10.

http://rully-indrawan.tripod.com/rully01.htm. Diakses pada 25-05-10.

Rosyada, Dede., dkk. 2003. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education):


Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

9
Pendidikan Pancasila [Masyarakat Madani I]