Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Persalinan merupakan proses yang normal atau alamiah bagi seorang wanita.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan antara lain Power yaitu kekuatan His
dan daya mengejan ibu, Passanger yaitu keadaan janin dan plasenta, Passage yaitu
keadaan jalan lahir ibu. Tidak jarang penyulit pada persalinan terjadi karena tiga hal
tersebut sehingga dapat menimbulkan keadaan patologis. Meskipun persalinan
merupakan proses yang alamiah, Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin harus
dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku. Dalam proses persalinan setiap ibu
memiliki karakteristik berbeda-beda. Ada ibu yang tahan dengan rasa sakit saat rahim
berkontraksi ada pula yg tidak tahan. Rasa sakit itu bisa sedikit berkurang dengan
mengejan yang efektif dan sempurna.

1.
2.
3.
4.

B. Rumusan masalah
Apakah yang mempengaruhi terjadinya his?
Apakah terdapat tenaga lain dalam persalinan ?
Bagaimanakah his yang ideal?
Bagaimanakah cara mengejan yang baik?

C. Tujuan
1. Memahami terjadinya his dan tenaga lain dalam persalinan
2. Memahami His yang sempurna
3. Memahami bagaimana cara mengejan yang baik

BAB II
TINJAUAN TEORI

Faktor - faktor yang mempengaruhi persalinan salah satunya adalah power. Power
adalah kontraksi dan retraksi otot-otot volunter dari ibu, yaitu kontraksi otot perut dan
diafragma sewaktu ibu mengejan atau mengeran. Power merupakan kekuatan yang
mendorong janin keluar yang dihasilkan oleh kontraksi dan retraksi otot-otot rahim.
Kekuatan yang mendorong janin keluar persalinan ialah: His, kontraksi otot-otot
perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament dengan kerjasama yang baik dan
sempurna.
A. His (Kontraksi Uterus )
His adalah kontraksi uterus karena otot-otot polos rahim bekerja dengan baik dan
sempurna dengan sifat-sifat : kontraksi simetris, fundus dominant, kemudian diikuti
relaksasi. Pada saat kontraksi otot-otot rahim menguncup sehingga menjadi tebal dan
lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil mendorong janin dan kantong amnion
kearah bawah rahim dan serviks. Pengetahuan fungsi uterus dalam masa kehamilan
dan persalinan banyak dipelajari oleh Caldeyro-Barcia dengan memasukkan kateter
polietilen halus kedalam ruangamnion dan memasang mikrobalon di miometrium
fundus uteri, ditengah-tengah korpus uteri dan dibagian bawah uterus, semuanya
disambung kateter polietilien halus ke alat pencatat (elektrometer). Ternyarta
diketahui otot-otot uterus tidak mengadakan relaksasi sampai 0, akan tetapi masih
mempunyai tonus sehingga tekanan didalam ruang amnion masih terukur antara 6-12
mmHg. Pada setiap kontraksi tekanan tersebut meningkat, disebut amplitudo atau
intensitas his yang mempunyai dua bagian: bagian pertama meningkatkan tekanan
yang agak cepat bagian kedua penurunan tekanan yang agak lamban.
Frekuensi his adalah jumlah his dalam waktu tertentu. Amplitudo dikali dengan
frekuensi his dalam 10 menit menggambarkan keaktifan uterus dan ini diukur dengan
unit montevideo. Umpama amplitudo 50 mmHg, frekuensi his 3 x dalam 10 menit,
maka aktivitas uterus adalah 50 x 3= 150 unit montevideo. Nilai yang adekuat untuk
terjadinya persalinan ialah 150 250 unit Montevideo.

Tiap his dimulai sebagai gelombang dari salah satu sudut dimana tuba masuk
kedalam dinding uterus yang disebut sebagai pace maker tempat gelombang his
berasal. Gelombang bergerak kedalam dan kebawah dengan kecepatan 2cm tiap detik
sampai keseluruh uterus.
His paling tinggi di fundus uteri yang lapisan otot nya paling tebal dan puncak
kontraksi terjadi simultan diseluruh bagian uterus. Sesudah tiap his, otot korpus uteri
menjadi pendek dari pada sebelumnya yang disebut sebagai retraksi. Oleh karena
servixs kurang mengandung otot, servixs tertarik dan terbuka ( penipisan dan
pembukaan): lebih-lebih jika ada tekanan oleh bagian janin yang keras umpamanya
kepala. Diperkirakan yang menyebabkan uterus mulai berkontraksi ( mulai infartu )
yaitu adanya sinyal biomolekular dari janin yang diterima otak ibu akan memulai
kaskade penurunan progesteron, estrogen, dan peningkatan prostaklandin dan
oksitosin sehingga terjadilah tanda-tanda persalinan. Satu teori yang menyatakan
bahwa janin merupakan dirigen dari orkestrasi kehamilannya sendiri, darn
komunikasi biomolekular antara ibu dan janin merupakan bagian dari awal ikatan
( bonding and attachment) antara ibu dan janin yang akan terjalin seumur hidup.
Kontraksi uterus umunnya tidak seberapa sakit, tetapi terkadang-kadang dapat
menggangu sekali. Juga pada waktu menyusui, ibu merasakan his yang kadangkadang menggangu akibat rileks pengeluaran oksitosin. Oksitosin membuat uterus
berkontraksi disamping membuat otot polos disekitar alveola berkontraksi pula,
sehingga air susu ibu dapat keluar. Perasaan sakit pada his mungkin disebabkan oleh
iskemia dalam korpus uteri tempat terdapat banyak serabut saraf dan diteruskan
melalui sraf sensorik di pleksus hipogastrik ke sistem saraf pusat. Sakit dipinggang
sering dirasakan pada kala pembukaan dan bila bagian bawah uterus turut
berkontraksi sehingga serabut sensorik turut terangsang. Pada kala II perasaan sakit
disebabkan oleh peregangan vagina, jaringan-jaringan dalam panggul, dan perineum.
Sakit ini dirasakan di pinggang, dalam panggul dan menjalar ke paha sebelah dalam.
Perasaan sakit ini tampaknya mencapai puncak kontraksi yang tercatat secara manual
dan puncak tekanan yang tercatat dengan alat. Perasaan sakit ini dapat dikurangi

dengan cara nonmedikamentosa yaitu memberi penjelasan apa yang terjadi/yang akan
terjadi,pendampingan selama persalinan yang kontinyu, bersalin di air ( water birth ),
atau cara medis misalnya anestesia spinal, epidural, kombinasi spinal dan epidural,
PCEA, pemakaian akupuntur atau pudendal block.
His menyebabkan pembukaan dan penipisan disamping tekanan air ketuban pada
permulaan kala I dan selanjutnya oleh kepala janin yang semakin masuk ke rongga
panggul dan sebagai benda keras yang mengadakan tekanan kepala serviks hingga
pembukaan menjadi lengkap.
Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap kontraksi rahim adalah besar
rahim, besar janin, berat badan ibu, dan lain-lain. Namun, dilaporkan tidak adanya
perbedaan hasil pengukuran tekanan intrauterus kala II antara wanita obese dan tidak
obese.

Sifat-sifat lainnya dari his adalah : involuntir, intermitten, terasa sakit,


terkoordinasi dan simetris yang kadang-kadang dapat dipengaruhi dari luar secara
fisis, chemis dan psikis. Dalam melakukan observasi pada ibu bersalin.
1. Hal-hal yang harus dipehatikan dari his adalah :

a. Frekuensi His adalah jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit atau
per 10 menit.
b. Intensitas atau Amplitudo His adalah kekuatan his (adekuat atau lemah).
Kekuatan His hanya dapat diraba secara palpasi apakah sudah kuat atau
lemah.
c. Aktivitas His adalah frekuensi x amplitude diukur dengan unit Monte Video.
Sebagai contoh : frekuensi suatu His 3x per 10 menit dan amplitudonya
50mmHg, maka aktivitas rahim = 3x50= 150 unit Montevideo
d. Durasi (lama His) adalah lamanya setiap his berlangsung dan ditentukan
dengan detik misalnya 40 detik.
e. Interval his adalah jarak antara his satu dengan his berikutnya, misalnya his
datang tiap 2-3 menit
2. His yang sempurna meliputi:
a. kontraksi simultan simetris di seluruh uterus.
b. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus.
c. terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
d. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his.
Istilah-istilah lain yang berhubungan dengan his adalah pace maker yaitu pusat
koordinasi his yang berada di sudut tuba dimana gelombang his berasal dari sini
gelombang his bergerak ke dalam dan ke bawah. Fundus dominan adalah kekuatan
paling tinggi dari his yang sempurna berada di fundus uteri. Kekuatan his yang paling
lemah berada pada segmen bawah rahim (SBR).

Gambar tekanan mulainya Penyebaran His


3. Perubahan-perubahan His
a. Pada uterus dan serviks: uterus teraba keras atau padat karena kontraksi.
Serviks tidak mempunyai otot-otot yang banyak, sehingga setiap muncul his
maka terjadi pendataran (effacement) dan pembukaan (dilatasi) dari serviks.

b. Pada ibu: rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim, terdapat pula
kenaikan nadi dan tekanan darah.
c. Pada janin: petukaran oksigen pada sirkulasi utero plasenta kurang sehingga
timbul hipoksia janin. Denyut jantung janin melambat dan kurang jelas
didengar karena adanya iskemia fisiologis. Kalau betul-betul terjadi hipoksia
yang agak lama, misalnya pada kontraksi tetanik, maka terjadi gawat janin
asfiksia dengan denyut jantung janin diatas 160 permenit dan tidak teratur.

4. Pembagian His dan sifat-sifatnya :

a. His pendahuluan: his tidak kuat dan tidak teratur namun menyebabkan
keluarnya bloody show.
b. His Pembukaan (kala I): menyebabkan pembukaan serviks sampai terjadi
pembukaan lengkap 10 cm, semakin kuat, teratur dan sakit.
Dimulai pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang
teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai

pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid.


Berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam,
bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah

spontan pada saat akhir kala I.


Terdapat 2 fase pada Kala 1 ini, yaitu :
1) Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
2) Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung
sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas :
o Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
o Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
o Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10
cm).
Perbedaan proses pematangan dan pembukaan serviks (cervical
effacement) pada primigravida dan multipara :
Pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih terlebih dahulu sebelum
terjadi pembukaan, sedangkan pada multipara serviks telah lunak akibat
persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan

pembukaan.
Pada primigravida, ostium internum membuka terlebih dahulu daripada
ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran
kecil di tengah), sedangkan pada multipara, ostium internum dan eksternum
membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis

lebar)
Periode Kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan
multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase
laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.

Sifat His pada Kala 1 :


Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik.

Serviks terbuka sampai 3 cm. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat.


Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir
Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg,
frekuensi 2-4 kali / 10 menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka sampai
lengkap (+10cm).

c. His Pengeluaran / His Mengedan ( kala II): untuk mengeluarkan janin, sangat
kuat, teratur, simetris, terkoordinir dan lama, koordinasi bersama antara
kontraksi otot perut, diafragma dan ligament.
Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir pada saat

bayi telah lahir lengkap.


Pada Kala 2 ini His menjadi lebih kuat, lebih sering, dan lebih lama. Selaput
ketuban mungkin juga sudah pecah/ baru pecah spontan pada awal Kala 2
ini. Rata-rata waktu untuk keseluruhan proses Kala 2 pada primigravida
1,5 jam, dan multipara 0,5 jam.

Sifat His :
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Refleks mengejan
terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada
persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus dan rektum. Tambahan
tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot dinding abdomen dan
diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi.
d. His Pelepasan uri (kala III): kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan
plasenta.
Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap, dan berakhir dengan lahirnya

plasenta.
Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta
pengeluaran plasenta dari kavum uteri.

Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai


dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika

tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus
adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan
berdarah.
Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi

sekitar / di atas pusat.


Sifat His :
Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus
menurun. Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat
juga tetap menempel (retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid)
e. His Pengiring ( kala IV): kontraksi lemah, masih sedikit nyeri, terjadi
pengecilan uterus dalam beberapa jam atau hari.
Dimulai pada saat plaenta telah lahir lengkap, sampai dengan 1 jam
setelahnya.
Hal penting yang harus diperhatikan pada Kala 4 persalinan :
Kontraksi uterus harus baik
Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain
Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
Kandung kencing harus koson
Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma
Resume keadaan umum ibu dan bayi.
5. Otot-otot yang Mempengaruhi Kontraksi Uterus
Miometrium yang tebal tersusun atas lapisan-lapisan serabut otot polos yang
membentang ke tiga arah (longitudinal, transversa, dan oblik). Miometrium paling
tebal di fundus, semakin menipis ke arah istmus, dan paling tipis di serviks.
Serabut longitudinal membentuk lapisan luar miometrium yang paling banyak
ditemukan di fundus, sehingga lapisan ini cocok untuk mendorong bayi pada
persalinan. Pada lapisan miometrium tengah yang tebal, terjadi kontraksi yang
memicu kerja hemostatis. Sedangkan pada lapisan dalam, kerja sfingter untuk

mencegah regurgitasi darah menstruasi dari tuba fallopii selama menstruasi. Kerja
sfingter di sekitar ostium serviks interna membantu mepertahankan isi uterus selama
hamil. Cedera pada sfingter ini dapat memperlemah ostium interna dan menyebabkan
ostium interna serviks inkompeten.
Otot uterus terdiri dari 3 bagain :

Lapisan luar, yaitu lapisan seperti kap melengkung melalui fundus menuju kea
rah ligamenta

Lapisan dalam, merupakan serabut-serabut otot yang berfungsi sebagai


sfingter dan terletak pada ostium internum tubae dan orificium uteri internum

Lapisan tengah, terletak antara ke dua lapisan di atas, merupakan anyaman


serabut otot yang tebal ditembus oleh pembuluh-pembuluh darah. Jadi, dinding
uterus terutama dibentuk oleh lapisan tengah ini.
Miometrium

bekerja sebagai suatu

kesatuan yang utuh. Struktur

miometrium yang memberi kekuatan dan elastisitas merupakan contoh adaptasi


dari fungsi :
a. Untuk menjadi lebih tipis, tertarik ke atas, membuka serviks, dan mendorong janin
ke luar uterus, fundus harus berkontraksi dengan dorongan paling besar.
b. Kontraksi serabut otot polos yang saling menjalin dan mengelilingi pembuluh
darah ini mengontrol kehilangan darah setelah aborsi atau persalinan. Karena
kemampuannya untuk menutup (irigasi) pembuluh darah yang berada di antara
serabut tersebut, maak serabut otot polos disebut sebagai ikatan hidup.
6. Kelainan kontraksi otot rahim
a. Inertia Uteri
His yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his yang normal yang terbagi
menjadi :
1) Inertia uteri primer : apabila sejak semula kekuatannya sudah lemah

2) Inertia uteri sekunder : His pernah cukup kuat tapi kemudian melemah
Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, bagian
terendah terdapat kaput dan mungkin ketuban telah pecah. His yang lemah
dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga
memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas
atau ke dokter spesialis.
b. Tetania uteri
His yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak terdapat kesempatan reaksi
otot rahim. Akibat dari tetania uteri dapat terjadi :
a) Persalinan Presipitatus
b) Persalinan yang berlangsung dalam waktu tiga jam. Akibat mungkin fatal
c) Terjadi persalinan tidak pada tempatnya
Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat persiapan dalam persalinan
Trauma jalan lahir ibu yang luas dan menimbulkan perdarahan, inversio

uteri
Tetania uteri menyebabkan asfiksia intra uterin sampai kematian janin
dalam rahim

7. Inkoordinasi otot rahim


Keadaan Inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulitnya kekuatan
otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengeluaran janin dari dalam
rahim.
Penyebab inkoordinasi kontraksi otot rahim adalah :
a. Faktor usia penderita relatif tua
b. Pimpinan persalinan
c. Karena induksi persalinan dengan oksitosin
d. Rasa takut dan cemas
B. Tenaga Mengejan
Pada kala kedua (pengeluaran bayi) terjadi rangsangan terbadap fleksus
(kumpulan saraf) Frankenhauser di sekitar mulut rahim sehingga terjadi refleks

mengejan, yang merupakan tambahan kekuatan untuk melahirkan janin (bayi). Bila
his tidak dapat dikendalikan oleh ibu maka kekuatan mengejan dapat dikendalikan
sehingga hasil kedua kekuatan mempercepat proses persalinan. Pada persalinan
pertama, kedua kekuatan sulit dikendalikan dan memerlukan pimpinan persalinan
oleh dokter atau bidan sehingga dapat dikoordinasikan dengan baik. Sekali pun
refleks mengejan terjadi spontan, tetapi sering kekuatan itu malah tertahan di bagian
leher, sehingga leher ibu tegang, wajah merah bengkak bahkan terjadi perdarahan
pada mata.
Salah satu tanda penting pada kehamilan pertama adalah masuknya kepala janin
ke pintu atas panggul, pada minggu ke-36 disebabkan oleh kekuatan kontraksi
Braxton Hicks, tekanan dari diafragma (sekat rongga badan), tegangan ligamentum
rahim dan dinding perut, serta gaya berat kepala janin. Dengan masuknya kepala
janin sudah dapat diperkirakan kerjasama tiga kekuatan akan berlangsung aman,
asalkan mampu melakukan pimpinan persalinan.
Gerakan utama kepala janin dan persalinan tubuh janin secara berurutan seperti di
bawah ini.

Turun dan masuknya kepala janin di pintu atas panggul. Pada ibu yang barn
pertama hamil (primigravida) kepala sudah masuk ke pintu atas panggul pada minggu
ke-36. Sedangkan pada ibu yang hamil lebih dari satu (multigravida) bersamaan
dengan mulainya persalinan (dapat juga masuk saat kehamilan cukup bulan).

1. Kekuatan primer

Kontraksi involunter berasal dari titik pemicu tertentu yang terdapat pada
penebalan lapisan otot di segmen uterus bagian atas. Dari titik pemicu, kontraksi
dihantar ke uterus bagian bawah dalam bentuk gelombang, diselingi periode istirahat
singkat.
Kekuatan primer membuat serviks menipis( Efaccement ) dan berdilatasi dan
janin turun. Penipisan serviks adalah pemendekan dan penipisan serviks selama tahap
pertama persalinan. Serviks yang dalam kondisi normal memiliki panjang 2 sampai 3
cm dan tebal 1 cm, terangkat keatas karena terjadi pemendekan gabungan otot uterus
selama penipisan segmen bawah rahim pada tahap akhir persalinan. Hal ini
menyebabkan bagian serviks yang tipis saja yang dapat diraba setelah effacement
lengkap. Pada kehamilan aterm pertama, efaccement biasanya terjadi lebih dahulu
daripada dilatasi. Pada kehamilan berikutnya, effacement dan dilatasi cenderung
terjadi bersamaan.
Dilatasi serviks adalah pembesaran atau pelebaran muara dan saluran serviks,
yang terjadi pada awal persalinan. Diameter meningkat dari sekitar 1 cm sampai
dilatasi lengkap sekitar 10 cm supaya janin aterm dapat dilahirkan. Apabila dilatasi
serviks lengkap, serviks tidak lagi dapat diraba. Dilatasi serviks lengkap menandai
akhir tahap pertama persalinan.
Dilatasi serviks terjadi karena komponen muskulofibrosa tertarik dari serviks ke
arah atas, akibat kontraksi uterus yang kuat. Tekanan yang ditimbulkan cairan amnion
selama ketuban utuh atau kekuatan yang timbul akibat tekanan bagian presentasi juga
membantu serviks berdilatasi.
2. Kekuatan sekunder
Segera setelah presentasi mencapai dasar panggul, sifat kontraksi berubah, yakni
bersifat mendorong keluar. Ibu merasa ingin mengejan dibantu dengan usaha
volunteer yang sama dengan yang dilakukan saat buang air besar. Namun dalam
usaha mengejan ini, digunakan seperangkat otot dengan jenis yang berbeda-beda.
Otot-otot diafragma dan abdomen ibu berkontraksi dan mendorong keluar isi jalan

lahir. Hal ini menghasilkan peningkatan tekanan intraabdomen. Tekanan ini menekan
uterus pada semua sisi dan menambah kekuatan untuk mendorong keluar.
Kekuatan sekunder tidak dipengaruhi dilatasi serviks, tetepi setelah dilatasi
serviks lengkap, kekuatan ini cukup penting untuk mendorong bayi keluar dari uterus
dan vagina. Apabila dalam persalinan ibu memerlukan usaha volunteer terlalu dini,
dilatasi serviks akan terhambat. Mengejan akan melelahkan ibu dan menimbulkan
trauma serviks.
Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang mendorong
anak keluar selain his, terutama disebabkan oleh kontraksi otot-otot dinding perut
yang mengakibatkan peninggian tekanan intra abdominal. Tenaga ini serupa dengan
tenaga mengejan waktu kita buang air besar tapi jauh lebih kuat lagi.
Saat kepala sampai pada dasar panggul, timbul suatu reflek yang mengakibatkan
ibu menutup glottisnya, mengontaraksikan otot-otot perutnya dan menekan
diafragmanya kebawah.
Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil, bila pembukaan sudah lengkap dan
paling efektif sewaktu ada his. Tanpa ada tenaga mengejan ini anak tidak dapat lahir,
misalnya pada penderita yang lumpuh otot-otot perutnya, persalinan harus dibantu
dengan forceps. Tenaga mengejan ini juga melahirkan placenta setelah placenta lepas
dari dinding rahim.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Kekuatan yang mendorong janin keluar saat persalinan ialah His, kontraksi
otot-otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament dengan kerjasama yang
baik dan sempurna serta tenaga mengejan yang paling efektif adalah saat kontraksi.
B. Saran
Sebaiknya tenaga kesehatan khusus untuk seorang bidan memberikan
konseling dan penyuluhan tentang cara mengejan yang baik saat persalinan pada
trimester awal agar ibu hamil tidak merasakan ketakutan saat persalinan dan ibu
hamil menyiapkan mentalnya dan persiapan yang baik untuk proses persalinan ibu
hamil.

DAFTAR PUSTAKA

Prawiroharddjo,

Sarwono.2009.Ilmu

Kebidanan

Sarwono

Prawiroharddjo.Jakarta: PT Bina Pustaka


Sastrawinata,Prof. Sulaiman.1983.Bagian Obstetri Dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.Bandung:Elemen
Yanti, S.S.T,M.keb.2010.Buku Anjar Asuhan Kebidanan Persalinan.Sewon
Bantul Yogyakarta:Pustaka Rihama.
Asrinah; Putri,shinta siswoyo;dkk.2010.ASUHAN-KEBIDANAN-MASAPERSALINAN.Jogyakarta.Graha Ilmu
Manuaba,Ida

Bagus

Gde,SpoG.1999.MEMAHAMI-KESEHATAN-

REPRODUKSI-WANITA.Jakarta:Arcan
http://ijammeru.blogspot.com/2011/04/power.html