Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Banyaknya wanita normal bisa merasakan kegairahan dan kegembiraan disaat merasa

kesakitan awal menjelang kelahiran bayinya. Perasaan positif ini berupa kelegaan hati,
seolah-olah pada saat itulah benar-benar terjadi realitas kewanitaan sejati yaitu munculnya
rasa bangga bisa melahirkan atau memproduksi anaknya. Khusunya rasa lega itu berlangsung
bila kehamilannya mengalami perpanjangan waktu. Mereka seolah-olah mendapatkan
kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu keadaan yang belum pasti
sekarang menjadi hal yang nyata.

B.

Permasalahan
Adapun permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini yaitu apa saja faktor

psikologi yang mempengaruhi persalinan.


C.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu mengetahui apa saja faktor psikologi yang

mempengaruhi persalinan.

BAB II
PEMBAHASAN
1

A. Faktor Psikologi Yang Mempengaruhi Persalinan


Banyaknya wanita normal bisa merasakan kegairahan dan kegembiraan disaat merasa
kesakitan awal menjelang kelahiran bayinya. Perasaan positif ini berupa kelegaan hati,
seolah-olah pada saat itulah benar-benar terjadi realitas kewanitaan sejati yaitu munculnya
rasa bangga bisa melahirkan atau memproduksi anaknya. Khusunya rasa lega itu berlangsung
bila kehamilannya mengalami perpanjangan waktu. Mereka seolah-olah mendapatkan
kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu keadaan yang belum pasti

1.
2.
3.
4.

sekarang menjadi hal yang nyata.


Psikologis meliputi :
Melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual
Pengalaman bayi sebelumnya
Kebiasaan adat
Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu

Perubahan psikis yang terjadi pada ibu bersalin


1. Kecemasan
Menjelang persalinan ,banyak hal mengkhawaktirkan muncul dalam pikiran ibu .
takut bayi cacat ,takut harus operasi,takut persalinannya lama,dan sebagainya. Terlebih bila
sebelumnya ada teman atau kerabat menceritakan pengalaman bersalin mereka,lengkap
dengan komentar yang menyeramkan. Puncak kekhwatiran muncul bersamaan dengan
dimulainya tanda-tanda persalianan. Kontraksi yang lama-kelamaan meningkat menambah
beban ibu,sehingga kekhwatiran pun bertambah. Pada kondisi ini adalah perasaan
khawaktir,bila tidak ditangani dengan baik,bisa merusak konsentrasi ibu sehingga persalinan
yang diperkirakan lancar ,berantakan akibat ibu panik.
Kecemasan mengakibatkan peningkatan hormon stress(stres related hormone)yang
terdiri dari:
Endophrin
Adenocortikotropin
Cortisol
Epinephrin

akan mempengaruhi otot-otot halus uterus sehingga

kontraksi akan menurun


Hormon-hormon tersebut mempengaruhi otot-otot halus uterus yang dapat
mengakibatkan penurunan kontraksi uterus sehingga menimbulkan distocia.
Lefrancois (1980, dalam Kartikasari, 1995) menyatakan bahwa kecemasan merupakan
reaksi emosi yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan ketakutan, adanya hambatan
terhadap keinginan pribadi dan perasaan perasaan yang tertekan yang muncul dalam
kesadaran. Para ahli membagi bentuk kecemasan dalam dua tingkat, yaitu :
1. tingkat psikologis; kecemasan yang berwujud sebagai gejalagejala kejiwaan, seperti tegang,
bingung, khawatir, sukar konsentrasi, perasaan tidak menentu dan sebagainya,
2

2.

1.
2.
3.

4.

tingkat fisiologis; kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada


gejalagejala fisik, terutama pada sistem syaraf, misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar
debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.
Sue, dkk (dalam Kartikasari, 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud
dalam empat hal yaitu :
Manifestasi kognitif
Terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian
buruk yang akan terjadi,
Perilaku motorik
Kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar,
Perubahan somatic
Muncul dalam keadaan mulut kering, tangan dan kaki kaku, diare, sering kencing,
ketegangan otot, peningkatan tekanan darah dan lainlain. Hampir semua penderita
kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung, peningkatan respirasi, ketegangan otot,
peningkatan tekanan darah dan lainlain,
Afektif
Diwujudkan dalam perasaan gelisah, perasaan tegang yang berlebihan.

2. Ketakutan
Kegelisahan dan respon endokrin akan mengakibatkan:
a. Retensi Na(Natrium)
b. Ekskresi K (Kalium)
c. Penurunan glukosa,sehingga dapat mempengaruhi sekresiu epinephrine dan
dapat menghambat aktifitas myometrium.
Tingkat kecemasan wanita selama bersalin akan meningkat jika ia tidak memahami
apa yang terjadi pada dirinya atau yang disampaikan kepadanya. Wanita bersalin biasanya
akan mengutarakan kekhwatiran jika ditanya. Perilaku dan penampilan wanita serta
pasangannya merupakan petunjuk berharga tentang jenis dukungan yang akan diperlukannya.
Membantu wanita berparstipasi sejauh yang diinginkan dalam melahirkan,memenuhi harapan
wanita akan hasil akhir persalinannya. Membantu wanita menghemat tenaga ,mengendalikan
rasa nyeri merupakan suatu upaya dukungan dalam mengurangi kecemasan pasien.
Dukungan psikologis dari orang-orang terdekat akan membantu memperlancar proses
persalianan yang sedang berlangsung. Tindakan mengupayakan rasa nyaman dengan
menciftakan suasana yang nyaman dalam kamar bersalin ,emberi sentuhan,memberi
penenangan nyeri non farmakologi,memberikan analgesia jika diperlukan dan yang paling
penting berada disisi pasien adalah bentuk-bentuk dukungan psikologis. Dengan kondisi
psikologis yang positif proses persalinan akan berlangsung lebih mudah.

Sumber lain menyebutkan, ada beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi


persalinan, yaitu :
1. Adat Kebiasaan Melahirkan
Banyak orang berspekulasi tentang mudah atau sulitnya aktivitas melahirkan bayi,
dengan memperbandingkan prosesnya dengan berbagai suku bangsa yang mempunyai
bermacam-macam budaya.
Penduduk pemeluk norma-norma tradisional secara ketat, wanita-wanita primitif
memiliki toleransi lebih besar terhadap penderitaan dan rasa sakit ketika melahirkan bayinya.
Dengan demikian proses melahirkan pada wanita-wanita primitif itu lebih mudah dan lebih
cepat. Dan proses-proses reproduksi pada mereka itu kelihatannya lebih simpelsederhana, jika dibandingkan dengan proses reproduksi pada wanita-wanita modern yang
mengalami proses degeneratif diakibatkan oleh kebudayaan yang memberikan banyak
kemudahan

dan

kemanjaan,

yang

menyebabkan

tubuh

dan

mentalnya

kurang

tertempa/terlatih untuk fungsi reproduksi atau melahirkan anak bayinya.


Banyak peneliti menyatakan, bahwa otot-otot panggul wanita-wanita primitif itu lebih
efisien dari pada otot panggul wanita modern yang serba manja sebab wanita-wanita
dengan kebudayaan primitif itu hidupnya lebih aktif dan kerjanya jauh lebih berat guna
menghadapi tantangan alam, jika dibandingkan dengan wanita modern yang hidup dalam
kebudayaan tinggi dengan macam-macam komfort dan fasilitas. Kerja berat dan kehidupan
aktif jelas memperkuat otot-otot panggulnya, sehingga memudahkan proses kelahirannya.
Sedang kebudayaan modern yang tinggi sekarang ini menyebabkan timbulnya pengaruh yang
sangat melemahkan dan inhibitif terhadap otot-otot panggul juga terhadap aktifitas
melahirkan anak.
Misalnya, proses kelahiran pada wanita-wanita daerah Tenggger di pegunungan
bromo jarang berlangsung sangat lama. Biasanya berproses sekitar satu atau dua jam saja.
Pada beberapa suku-suku primitif di tanah batak daerah kalimantan (suku dayak), Kubu
(daerah sumatra selatan) dan di irian jaya serta suku-suku primitif di benua Australia, proses
kelahiran itu biasanya berlangsung beberapa menit saja. Ibu yang baru melahirkan itu segera
memandikan tubuhnya sendiri dan bayi yang baru dilahirkannya di sungai yang paling dekat,
lalu kembali pada tugas pekerjaanya yang terpotong atau terganggu oleh aktifitas
melahirkannya tadi. Seolah-olah tidak ada suatu peristiwa penting yang terjadi pada dirinya.

Jika seorang wanita suku primitif yang tengah hamil itu tiba-tiba merasakan tandatanda mau melahirkan, suatu saat ia akan melakukan perjalanan jauh maka ia berhenti
sebentar untuk menolong kelahiran bayi dan diri sendiri, lalu meneruskan lagi perjalanannya
sampai ia tiba di tempat yang ingin ditujunya.
Biasanya proses melahirkan itu banyak dipengaruhi oleh proses identifikasi wanita
yang bersangkutan dengan ibunya. Jika ibunya mudah melahirkan anak-anaknya maka pada
umumnya anak-anak gadisnya kelak juga mudah melahirkan bayinya. Dengan demikian
pengaruh-pengaruh psikologis ibu ikut memainkan peranan dalam fungsi reproduksi anak
perempuannya. Dan sebaliknya jika ibunya banyak mengalami kesulitan sewaktu melahirkan
anaknya maka anak gadisnya juuga mengembangkan mekanisme sulit melahirkan bayinya.
Maka proses identifikasi itu tampaknya menyebabkan wanita yang bersangkutan menyerah
mengikuti pola melahirkan bayi yang dikembangkan oleh ibunya.
Fakta menunjukkan bahwa baik dikalangan wanita yang berkebudayaan primitif
maupun dikalangan wanita-wanita modern di kota-kota besar, sering kali berlangsung
peristiwa sebagai berikut : para wanita tersebut ada kalanya dihadapkan pada gangguangangguan yang cukup serius dan macam-macam kesulitan sewaktu mereka melahirkan
bayinya. Kesulitan tersebut kadang kala mengakibatkan wanita-wanita tadi menjadi invalid
atau meninggal dunia. Proses kelahiran yang sulit inilah yang mendorong orang untuk
mengembangkan ilmu kebidanan dan kedokteran, guna memperingan penderitaan para ibu
yang tengah melahirkan bayinya.

2.

Emosi pada Saat Hamil dan Proses Melahirkan

Sepintas lalu telah kita singgung beberapa analogi di antara proses kelahiran pada
wanita primitive dan wanita modern. Orang mendapatkan kesan, bahwa sekalipun kini
terdapat banyak kemajuan di bidang kebidanan dan kedokteran untuk meringankan proses
partus, namun kehidupan psikis wanita yang tengah melahirkan bayinya itu sejak zaman
purba hingga masa modern sekarang masih saja banyak diliputi oleh macam-macam
ketakutan dan ketakhayulan.
Memang benar, bahwa pada zaman mutakhir ini kepercayaan pada kekuatankekuatan gaib selama proses reproduksi sudah sangat berkurang. Sebab secara biologis,
anatomis dan fsikologis, kesulitan-kesulitan pada peristiwa partus bisa dijelaskan dengan
5

alasan-alasan patologis atau sebab abnormalitas (keluar-kebisaan). Namun dalam abad ilmiah
dengan semua kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat-filsafat materialistis ini, bentuk
kuntilanak dan setan demon jahat yang membarengi kelahiran bayi kemudian tampil dalam
bentuk baru, yaitu berupa :
Kecemasan dan ketakutan pada dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan sendiri. Oleh rasa
berdosa ini wanita yang bersangkutan merasa amat takut kalau-kalau nantinya ia melahirkan
bayi yang cacad jasmaniah dan lahiriahnya.
Kita bisa memahami, bahwa lancar atau tidaknya proses kelahiran itu banyak
bergantung pada kondisi biologis, khususnya kondisi wanita yang bersangkutan. Namun kita
juga mengerti bahwa hampir tidak ada tingkah laku manusia (terutama yang disadari) dan
proses biologisnya yang tidak dipengaruhi oleh proses psikis. Maka dapat dimengerti, bahwa
membesarnya

janin

dalam

kandungan

itu

mengakibatkan

calon

ibu

yang

bersangkutan mudah capai, tidak nyaman badan, tidak bisa tidur enak, sering mendapatkan
kesulitan dalam bernafas, dan macam-macam beban jasmaniah lain lainnya di waktu
kehamilannya.
Semua pengalaman tersebut di atas pasti mengakibatkan timbulnya rasa rasa
tegang, ketakutan, kecemasan, konflik-konflik batin dan material psikis lainnya.
Lagi pula semua keresahan hati serta konflik-konflik batin yang lama-lama, kini
menjadi akut dan intensif kembali dengan bertambahnya beban jasmaniah selama
mengandung; lebih-lebih pada saat mendekati kelahiran bayinya.
3. Faktor Somatik dan Psikis yang Mempengaruhi Kelahiran
Setiap proses biologis dari fungsi keibuan dan reproduksi, yaitu sejak turunnya bibit
ke dalam rahim ibu sampai saat kelahiran bayi itu senantiasa saja dipengaruhinya (distimulir
atau justru dihambat) oleh pengaruh-pengaruh psikis tertentu. Maka ada :

Interdependensi di antara faktor-faktor somatis ( jasmaniah) dengan faktor-faktor

psikis.
Jadi pada fungsi reproduksi yang sifatnya biologis itu selalu dimuati pula oleh
elemen-elemen psikis.

Dengan demikian segenap perkembangan psikis dan pengalaman-pengalaman


emosional di masa silam dari wanita yang bersangkutan ikut berperan dalam kegiatan
mempengaruhi mudah atau sukarnya proses kelahiran bayinya.
Para psikiater dan psikolog pada umumnya tidak mempunyai kesempatan untuk
memperhatikan pengalaman psikis wanita yang tengah melahirkan. Juga para dokter dan
bidan hampir-hampir tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan kondisi psikis wanita
tersebut. Sebab mereka biasanya disibuktikan oleh faktor-faktor somatik. Mereka juga
terlampau tegang dan capai untuk memperhatikan kehidupan psikis wanita partus tadi. Pada
umumnya para dokter dan bidan menganggap tugas mereka telah selesai, apabila bayinya
sudah lahir dengan selamat, dan ibunya tidak menunjukan tanda-tanda patologis atau
kelainan-kelainan kondisi tubuhnya.
Biasanya para dokter segera melakukan intervensi (pertolongan interventif sebelum
kelahiran bayi) jauh sebelum kelahiran bayi, apabila terlihat tanda-tanda kelaianan pada
kehamilan. Sebab mereka sama sekali tidak mengharapkan terjadinya proses partus yang
abnormal. Bahkan ada kalanya para dokter melakukan pembedahan (kelahiran artificial), dan
menerapkan hipnose untuk memperingan penderitaan para wanita yang tengah melahirkan.
Maka tampaknya di kelak kemudian hari akan semakin sedikit proses biologis yang spontan
alami dari kelahiran bayi, khususnya dalam masyarakat supermodern, berkat bantuan alat-alat
kebidanan paling mutakhir, karena wanita-wanita yag bersangkutan memilih kelahiran
bayinya lewat pembedahan.
Sangat menarik hati jika kita bisa mendapatkan wawasan tentang reaksi-reaksi psikis
dari wanita yang tengah melahirkan bayinya secara spontan. Yaitu memperhatikan:

Pengalaman feminim, kebahagiaan kepedihan/kesakitan yang paling memuncak dan

paling mengesankan dalam hidupnya,


Terutama pada saat kelahiran bayinya yang pertama kali.
Untuk memperoleh sedikit pengertian tentang situasi psikologis dari kelahiran, kita

harus menjenguk sejenak fase terakhir dari masa kehamilan. Kelahiran sang bayi senantiasa
diawali dengan beberapa tanda-tanda pendahuluan. Beberapa minggu sebelum kelahiran bayi,
uterus atau rahim ibu itu menurun. Pada setiap luapan emosi yang disebabkan oleh
rangsangan kuat dari luar, akan timbul kontraksi-kontraksi dalam kandungan yang hampir
mirip dengan kontraksi mau melahirkan. Rahim yang menurun itu mengakibatkan :
7

Tekanan-tekanan yang semakin terasa berat di dalam perut, ketegangan-ketegangan


batin, dan sesak nafas ( sulit bernafas).
Bahkan bagi wanita yang paling sehat sekalipun, kondisi somatik menjelang kelahiran
bayi ini dirasakan sangat berat dan tidak menyenangkan. Sering timbul rasa jengkel, tidak
nyaman badan, selalu kegerahan, duduk- berdiritidur serasa salah dan tidak menyenangkan,
tidak sabaran, cepat menjadi letih, lesu, dan identifikasi serta harmoni antara ibu dengan janin
yang dikandungnya jadi terganggu. Bayi yang semula sangat diharapkan dan mulai dicintai
secara psikologis selama berbulan-bulan itu kini mulai dirasakan sebagai beban yang amat
berat.
Penderitaan fisik dan beban jasmaniah selama minggu-minggu terakhir masa
kehamilan

itu

menimbulkan

banyak

gangguan

psikis,

dan

pada

akhirnya

merenggangkan runitas ibu anak yang semula tunggal dan harmonis. Perubahan-perubahan
organik pada minggu-minggu terakhir itu menimbulkan pula semakin banyaknya perasaanperasaan tidak nyaman. Maka beban derita fisik ini menjadi latar belakang dari impulsimpuls emosional yang di warnai oleh sikap-sikap bermusuhan terhadap bayinya. Lalu ibu
tersebut mengharapkan dengan sangat agar endofarasit yang dikandungnya bisa cepat-cepat
dikeluarkan dari rahimnya.
Dengan semakin bertambah beratnya beban kandungan dan bertambah banyaknya
rasa-rasa tidak nyaman secara fisik, ego wanita yang tengah hamil itu secara psikologis jadi
semakin capai dan lesu letih lahir-batinnya. Akibatnya, relasi ibu dengan (calon) anakny jadi
terpecah, sehingga polaritas aku-kamu (aku sebagai pribadi ibu dan kamu sebagai bayi)
menjadi semakin jelas. Timbulan dualitas perasaan, yaitu:

Harapan-cinta-kasih; dan
Impuls-impuls bermusuhan-kebencian

Oleh sebab itu, musuh yang ada dalam kandungan itu harus cepat-cepat keluar dari
rahim, agar tidak terlampau lama manjadi sumber ketidaksenangan, untuk kemudian
dijadikan objek kesayangan.
Maka selama minggu-minggu terakhir kehamilan itu muncul banyak konflik antara
keinginan untuk mempertahankan janinnya cepat cepat. Pada umumnya peristiwa ini
berlangsung dalam batin/kehidupan psikis belaka. Keinginan untuk mempertahankan janin itu
merupakan ekspresi dari kepuasaan-diri yang narsistis (dan lindungi janin) yang sudah timbul
8

sejak permulaan masa kehamilan. Keinginan yang narsistis ini cenderung menolak kelahiran
bayi, dan ingin mempertahankan janinnya selama mungkin; jadi terdapat unitas total antara
ibu-anak. Dan semakin ketatlah rasa-rasanya identifikasi sang ibu dengan bayinya; sehingga
ibu tersebut ingin sekali menolak kelahiran bayinya, atau mengundurkan kelahiran bayinya,
selama mungkin.
Bersamaan dengan peristiwa tadi, disebabkan oleh :

Fantasi tentang bakal-bayinya yang segera lahir sebagai objek-kasih sayang,

diotambah dengan
Beban fisik oleh semakin membesarnya bayi dalam kandungan, kedua peristiwa
itu menimbulkan kecenderungan kuat untuk cepat-cepat melemparkan sang bayi
keluar dari kandungan.
Jika konflik antara dua tendensi tadi jadi ekstrim dan patologis, sehingga

kecenderungan-kecenderungan untuk membuang/mengeluarkan bayinya yang menang,


mungkin akan terjadi peristiwa kelahiran premature ( lahir sebelum waktunya).
Sebaliknya, jika:

Unitas yang narsitis dari sang ibu berupa kesombongan untuk mempertahankan dan

memiliki janin yang unggul,


Ditambah dengan kecemasan ibu kalau kalau bayinya nanti tidak mendapatkan

jaminan keamanan jika sudah ada diluar rahim ibunya, lagi pula
Ibu tersebut merasa tidak/belum mampu memikul tanggung jawab baru sebagai ibu
muda, maka masa kehamilan itu akan jadi lebih panjang/lama. Dengan kata-kata lain,
muncullah kecenderungan yang sangat kuat untuk memperpanjang kehamilan.
Ada rasa-melekat yang kuat terhadap status quo; dan timbul pula banyak kecemasan

yang akan berkembang menjadi disharmoni atau pecahnya unitas ibu-anak. Muncul pula
ketakutan menghadapi kaesakitan dan risiko bahaya melahirkan bayinya. Semua peristiwa ini
merupakan hambatan untuk mengakhiri masa kehamilan, dan terjadilah perpanjangan masa
kehamilan.
Selanjutnya, disharmoni pada unitas relasi ibu anak pada minggu-minggu terakhir
masa kehamilan itu menjadi prelude dari proses pemisahan (bayinya terpisah dari ibunya,
keluar dari rahim ibu) yang permanen. Secara sadar, amat banyak wanita yang mendambakan
anak pertamanya adalah laki-laki. Sebab banyak sekali tersembunyi dalam dambaan tersebut
9

keinginan untuk lahir kembali sebagai laki-laki, sebagai proses penyempurnaan dirinya.
Sebab laki-laki adalah lambang dari hidup serta keperkasaan. Juga sang ayah dan kakek
biasanya mengharapkan, agar anak dan cucu pertama adalah laki-laki, sebagai lambang dari :

Kelahiran kembali diri mereka


Dan sebagai tanda keabadian kepriaannya.

Banyak pula wanita yang mengikuti pola harapan semacam ini, sebagai tanda cintakasihnya terhadap suami. Motivasi utama yang terselip di dalamnya adalah penghargaan yang
dikaitkan pada hari-hari mendatang; yang pada diri anak lelakinya-lah wanita tersebut
mendambakan hadirnya seorang pria yang bisa mengasihi dan melindungi dirinya, terutama
jika ia sudah menjadi tua renta.
Berbareng dengan dambaan anak lelaki sebagai anak pertama, sering pula dambaan
tersebut disertai keinginan untuk memperoleh anak perempuan yang cantik jelita, dan
melebihi segala kualitas sendiri ( melebihi ibunya). Agak aneh tampaknya, bahwa wanita
hamil itu sering mimpi melahirkan anak laki-laki yang jelek rupanya. Sedang jika yang
diharapkan lahir anak perempuan, maka anak tersebut hendaknya berwajah cantik dan
gemilang.
Di sini tampaknya terdapat relasi yang ambivalen terhadap suaminya, yang
mengandung unsure perasaan-perasaan majemuk, yaitu : inilah anakmu yang ku-lahirkan.
Dia gagah kokoh perkasa, namun sama jeleknya dengan wajahmu. Sebab jauh dibalik
ketidaksadarannya, setiap wanita itu mengharapkan agar wajah suaminya itu tampak
tampan bagi isterinya saja, dan didoakan tampak buruk di mata wanita lain. Dengan
demikian tidak terdapat resiko suaminya akan direbut oleh wanita lain. Sedang semua mimpi
tentang anak perempuan yang akan dilahirkan, pastilah berwajah cantik, persis harapannya
sendiri mengenai wajah pribadi ibu itu sendiri dan wajah anak perempuan yang bakal
dilahirkan.
Mimpi-mimpi tentang bayi yang akan lahir itu tidak selamanya indah wajahnya dan
bernada optimistis. Sebab ada kalanya ibu hamil tersebut mimpi melahirkan seekor monster,
anak yang cacad, anak idiot atau pincang. Sehingga mimpi tersebut menimbulkan banyak
ketakutan dan kecemasan, yang semakin jadi. Memuncak pada minggu terakhir masa
kehamilan. Biasanya setiap wanita-wanita yang pernah melakukan abortus dengan sengaja

10

atau pernah mengalami keguguran - dalam mana ia merasa bertanggung jawab atas terjadinya
peristiwa keguguran tersebut - , sering dihinggapi oleh mimpi-mimpi yang menakutkan itu.
Ada kalanya wanita-wanita tersebut mimpi ditarik oleh dua kekuatan atau dua pribadi
yang bertolak belakang arah tujuannya, atau diancam oleh dua macam bahaya secara
simultan. Sehingga mimpi-mimpi buruk itu sangat menggangguketenangan batinnya. Namun
di antara semua muimpi buruk tersebut toh senantiasa terselip harapan-kegembiraan dan
antisipasi kasih sayang pada bayinya yang bakal lahir.
4.

Kegelisahan dan Ketakutan Menjelang Kelahiran

Pada setiap wanita, baik yang bahagia maupun yang tidak bahagia, apabila dirinya
jadi hamil pasti akan dihinggapi campuran perasaan, yaitu rasa kuat dan berani menanggung
segala cobaan, dan rasa-rasa lemah hati, takut, ngeri; rasa cinta dan benci; keragu-raguan dan
kepastian; kegelisahan dan rasa tenang bahagia; harapan penuh kabahagiaan dan kecemasan,
yang semuanya menjadi semakin intensif pada saat mendekati masa kelahiran bayinya.
Sebab-sebab semua kegelisahan dan ketakutan antara lain adalah sebagai berikut:

Takut mati
Trauma kelahiran
Perasaan bersalah/berdosa
Ketakutan riil

Takut mati
Sekalipun peristiwa kelahiran itu adalah satu fenomena fisiologis yang normal, namun
hal tersebut tidak kalis dari resiko dan bahaya kematian. Bahkan pada proses yang normal
sekalipun senantiasa disertai perdarahan dan kesakitan hebat peristiwa inilah yang
menimbulkan ketakutan-ketakutan khususnya takut mati baik kematian dirinya sendiri
maupun anak bayi yang akan dilahirkan. Inilah penyabab pertama.
Pada saat sekarang perasaan takut mati itu tidak perlu ada atau tidak perlu dilebihlebihkan, berkat adanya metode-metode yang efektif untuk mengatasi macam-macam bahaya
pada proses kelahiran. Dan berkat adanya kemajuan ilmu kebidanan serta pembedahan untuk
mengatasi anormali-anormali anatomi anatomis.

11

Trauma kelahiran
Berkaitan dengan perasaan takut mati yang ada pada wanita pada saat melahirkan
bayinya, adapula ketakutan lahir (takut dilahirkan di dunia ini)pada anak bayi, yang kita
kenal sebagai trauma kelahiran. Trauma kelahiran ini berupa ketakutan kan berpisahnya
bayi dari rahim ibunya. Yaitu merupakan ketakutan hipotesis untuk dilahirkan di dunia,
dan takut terpisah dari ibunya.
Ketakutan berpisah ini ada kalanya menghinggapi seorang ibu yang merasa amat
takut kalau-kalau bayinya bayinya akan terpisah dengan dirinya. Seolah-olah ibu tersebut
menjadi tidak mampu menjamin keselamatan bayinya. Trauma genetal tadi tampak dalam
bentuk ketakutan untuk melahirkan bayinya.
Analog dengan ketakutan semacam ini adalah bentuk gangguan seksual yang neurotis
sifatnya, yaitu; ketakutan kehilangan spermanya pada diri laki-laki; atau berpisah dengan
spermanya sendiri, karena ia terlalu kikir da selalu mau berhemat, yang disebut
dengan ejaculation tarda. Kaum pria yang menderita ejaculation tarda pada umumnya
dihinggapi ketakutan-ketakutan obsesif untuk membuang atau menghamburan spermanya
dimanapun.
Perasaan bersalah/berdosa
Sebab lain yang menimbulkan ketakutan akan kematian pada proses melahirkan
bayinya ialah:
Perasaan bersalah atau berdosa terhadap ibunya.
Pada setiap fase perkembangan menuju pada feminitas sejati, yaitu sejak masa kanakkanak, masa gadis cilik, periode pubertas, sampai pada usia adolesensi, selau saja gadis yang
bersangkutan diliputi emosi-emosi cinta-kasih pada ibu yang kadangkala juga diikuti rasa
kebencian, iri hati dan dendam; bahkan juga disertai keinginan untuk membunuh adik-adik
atau saudara sekandungnya yang dinanggap sebagi saingannya. Peristiwa ingin membunuh
itu kelak kemudian hari diubah menjadi hasrat untuk memusnahkan janin atau bayinya
sendiri, sehingga berlangsung keguguran kandungannya.
Dalam semua aktivitas reproduksinya, wanita itu bsnysk melakukan identifikasi
terhadap ibunya. Jika identifikasi ini menjadi salah bentuk, dan wanita tadi banyak
mengembangkan mekanisme rasa-rasa bersalah dan rasa berdosa terhadap ibunya, maka
12

peristiwa tadi membuat dirinya menjadi tidak mampu berfungsi sebagai ibu yang bahagia;
sebab selalu saja ia dibebani atau dikejar-kejar oleh rasa berdosa.
Perasaan berdosa terhadap ibu ini erat hubungannya dengan ketakutan akan mati pada
saat wanita tersebut melahirkan bayinya. Oleh karena itu kita jumpai adat kebiasaan sejak
zaman dahulu sampai masa sekarang berupa:

Orang lebih suka dan merasa lebih mantap kalu ibunya (nenek sang bayi)

menunggui dikala ia melahirkan bayinya.


Maka menjadi sangat pentinglah kehadiran ibu tersebut pada saat anaknya
melahirkan oroknya.

Ketakutan riil
Pada saat wanita hamil, ketkutan untuk melahirkan bayinya itu saat bisa diperkuat
oleh sebab-sebab konkret lainya. Misalnya:

Takut kalau-kalau bayinya akan lahir cacad, atau lahir dalam kondisi yang patologis;
Takut kalau bayinya akan bernasib buruk disebabkan oleh dosa-dosa ibu itu sendiri di

masa silam.
Takut kalau beban hidupnya akan hidupnya akan menjadi semakin berat oleh lahirnya

sang bayi
Muncunya elemen ketakutan yang sangat mendalam dan tidak disadari, kalau ia akan

dipisahkan dari bayinya;


Takut kehilangan bayinya yang sering muncul sejak masa kehamilan sampai waktu
melahirkan bayinya. Ketakutan ini bisa diperkuat oleh rasa-rasa berdoa atau bersalah.
Ketakutan mati yang sangat mendalam di kala melahirkan bayinya itu disebut

ketakutan primer; biasanya diberangi dengan kekuatan-kekuatan superfisial (buatan, dibuatbuat) lainnya yang berkaitan dengan kesulitan hidup, disebut sebagai kekuatan sekunder.
Kekutan primer dari wanita hamil itu bisa menjadi semakin intensif, jika ibunya,
suaminya dan semua orang yang bersimpati pada dirinya ikut-ikutan menjadi panik dan resah
memikirkan nasib keadaaanya. Oleh karena itu, sikap mengartinya, karena bisa membrikan
dan melindungi dari suami dan ibunya itu sangat besar artinya, karena bisa memberikan
support moril pada setiap konflik batin, keresahan hati dan ketakuan, baik yang riil maupun
yang iriil sifatnya.

13

Segala macam ketakutan tadi menyebabkan timbulnya rasa-rasa pesimistis dan


beriklim hawa kematian. Namun dibalik semua ketakutan tersebut, selalu saja terselip
harapan-harapan yang menyenangkan untuk bisa dengan segera dengan menimmang dan
membelai bayi kesayangan yang bakal lahir. Harapan ini menimbulkan rasa-rasa optimistis,
dan beriklim hawa kehidupan, spirit dan gairah hidup. Perasaan positif ini biasanya
dilandasi oleh pengetahuan intelektual, bahwa sebenarnya memang tidak ada bahaya-bahaya
riil pada masa kehamilan dan saat melahirkan bayinya. Dan bahwa dirinya pasti selamat
hidup (survive), sekalipun melalui banyak kesakitan dan dera-derita lahir dan batin. Karena
itu pada calon ibu-ibu muda itu perlu ditempakan:

Kesiapan mental menghadapai tugas menjadi hamil dan melahirkan bayinya


Tanpa konflik-konflik batin yang serius dan rasa ketakutan

Banyak wanita dan anak gadis pada usia jauh sebelum saat kedewasaannya dihinggapi
rasa takut mati, kalau nantinya dia melahirkan bayi. Akibatnya, fungsi keibuannya menjadi
korban dari ketakutan-ketakutan yang tidak disadari ini (yaitu akibat dari takut mati sewaktu
melahirka itu). Mereka kemudian menghidari perkawinan atau menghindari mempunyai
anak.
5.

Reaksi Wanita Hiper Maskulin dan Reaksi Wanita Total Pasif dalam
Menghadapi Kelahiran

Wanita-wanita yang sangat aktif dan hipermaskulin bersifat kejantan-jantanan


ekstrim, sejak mula pertama kehamilannya senantiasa diombang-ambingkan di antara
keinginan instrinktif untuk memiliki seorang anak melawan rasa keengganan untuk
melahirkan anak sendiri, karena anak tersebut diduga bisa menghambat kariere dan
kebahagiannya. Kehidupan emosionalnya senantiasa goyah dilanda kerinduan-cinta pada
seorang anak kontra kebencian akan mendapatkan keturunan. Kedua gejala tersebut bisa
memuncak, lalu meletus jadi fenomena neurotis yang obsesif. Sebagai akibatnya, wanita
tersebut tidak mempunyai kepercayaan diri, dan sering dikacau oleh gangguan-gangguan
saraf, antara lain berupa :
Migraine (kepilau) atau sakit kepala yang hebat pada satu sisi kepalanya. Juga muncul
banyak konflik dalam batinnya.
Apabila wanita yang sedemikian ini pada suatu saat bebar0benar menjadi hamil, maka
konflik-konflik batinnya menjadi semakin akut. Kahamilannya dirasakan sebagau suatu
14

peristiwa mimpi, atau dirasakan sebagai pengalaman somnabulistis., seperti mimpi berjalan.
Dan selalu saja ia dikejar-kejar ole h emosi-emosi yang antagonistis.
Dia juga dimuati oleh macam-macam kecemasan. Yaitu: cemas kalau sang bayi akan
menghambat profesinya, bisa mematikan segala bakat dan kemampuan ibunya, kecemasan
merasa kalau-kalau ia tidak mampu memelihara bayinya. Cemas kalau-kalau ia tidak bisa
membagi waktunya untuk menjamin kelancaran rumah tangga, mengasuh anak,, dan
mencapai karier dalam profesinya dan lain-lain. Jelaslah, bahwa sumber dari konflik-konflik
batin tadi adalah :

Bertandingnya konflik-konflik yang lebih fundamental. Yaitu antara dorongan

maskulinitas melawan dorongan feminitasnya


Dorongan maskulinitas lebih memberatkan prestasi, kariere dan jabatan, sedang
dorongan feminitas secara naluriah menginginkan seorang anak sendiri.

Selanjutnya, pada saat kelahiran bayinya, wanita bersifat hiper-maskulin ini akan
berusaha mengatasi ketakutan dan kesakitan jasmaniahnya dengan usaha sendiri, dan
menganggap kelahiran bayinya sebagai suatu prestasi pribadi. Akan tetapioleh karena
usaha tersebut sifatnya sangat maskulin-agresif, maka kegiatan tersebut justru mengacaukan
kelahiran yang normal, dan semakin mempersulit kelahiran bayinya dengan kemampuan
sendiri. Lalu dia bersikap hiper-pasif, dan membiarkan para dokter serta bidan melahirkan
bayinya melalui upaya pembedahan Caesar.
Kebalikan yang ekstrim dari wanita hiperaktif ialah waktu yang mengalami proses
kelahiran bayinya secara total-pasif. Selama kehamilannya, wanita yang hiper-pasif ini sama
sekali tidak menyadari keadaan dirinya, dan tidak merasa bertanggung jawab pada segala
sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. Ia Cuma tahu bahwa perutnya secara kebetulan
ketempatan satu buah janin, yang kelak akan lahir dari dirinya. Selanjutnya, alam, Tuhan,
para bidan, dan para dokterlah yang harus bertanggung jawab akan kelahiran bayinya
kelak,misalnya dengan pembelahan Caesar
Wanita tersebut tidak tahu bagaimana seharusnya ia bersikap dan bertingkah laku. Ia
mersa tidak perlu mengetahui secara mendetail keadaan dirinya yang tengah hamil, karena
hal ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna, atau sebagai urusan ibunya atau
suaminya, dan bisa mengganggu ketenangan bathinnya.secara membuta ia mengikuti saja

15

semua sugesti dan instruksi orang lain. Dan bagaikan anak-anak kecil yang masih senang
bermain-main, ia memusatkan segenap minatnya pada :
Upaya menghilangkan semua bentuk ketakutan dan bentuk kesakitan
jasmaniahnya.
Tingkah laku wanita yang total-pasif selama kehamilannya sangat khas, yaitu:

Selalu bergantung dan menempel pada ibunya atau substitute/pengganti ibunya.


Ia menyuruh suaminya sebanyak mungkinmelakukan semua tugas-tugasnya
Pada umumnya semua tingkah lakunya sangat infantile, kebayi-bayian, kekanakkanakan, lincah-gembira, seakan-akan dunia ini penuh dengan nyanyian ria dan

mainan belaka.
Tetap saja ia bersikap sangat pasif
Maka di tengah kelincahan-kegembiraan hati dan kondidi perutnya yang semakin
membesar, menampakan dirinya benar-benarmenyerupai seorang gadis cilikyang

tengah asyik bermain-main dengan bonekanya.


Jika kehamilannya sudah menjadi semakintua, wanita tersebut biasanya jadi
sangat tidak sabaran, dan menjadi semakin pasif. Ia banyak mengeluh, dan dan

selalu saja mendesak-desak lingkungannya agar kelahiran bayinya bisa dipercepat.


Wanita yang pasif dan infantile ini mengalami kehamilan dan kelahiran bayinya

bagaikan satu perisriwa magis yang menakjubkan


Otomatis,ia menyatakan kepada dunia luar adanya sesuatu benda yang diinjeksikan/dimasukkan ke dalam rahimnya melalui coitus, secara tidak sadar atau

setengah sadar.
Sama sekali is tidak merasa bertanggung jawab akan mati atau hidupnya benda

yang dititipkan dalam rahimnyaitu.


Semua sikap tidak senang dan sikap bermusuh terhadapo ibunya sendiri (jika hal
ini ada), menjdai lenyap hilang sejak masa kehamilannya. Sebab, sejak saat
kehamilannya wanita tersebut ingin menyerahkan semua tanggungjawab
sendiri, dan menyerahkan anaknya yang bakal lahir kepada ibunya. Yaitu anak
yang dianggap sebagai endo-parasit, dan sebaiknya kelak diserahkan saja pada

pertanggungjawaban ibunya.
Oleh sikap sedemikian ini, pada umumnya, ia sanat mengharapkan agar ibunya
bersedia terus menerus menunggui dirinya di saat ia hamil dan melahirkan
bayinya, untuk memberikan asistensi pada kelahiran janinnya

B. Cara Mengatasi Gangguan Psikologis Saat Persalinan


16

Fenomena psikologis yang menyertai persalinan itu bermacam-macam. Setiap wanita


memiliki disposisi kepribadian yang definitive dan mewarnai proses kelahiran bayinya.
Secara garis besar, mewarnai itu mengandung pengertian menonjolkan kepasifan atau
keaktifan pada saat kelahiran bayinya. Perbedaan dari dua disposisi yang kepasifan dan
keaktifan pada saat kelahiran bayinya.
Perbedaan dari

dua dispossisi yang pasif dan aktif itu mencolok pada periode

kesakitan preliminer atau mula-mula. Wanita yang bersikap pasif secara total sejak semula
sudah mempunyai anggapan bahwa mereka tidak perlu takiut dan cemas, sebab mereka tidak
akan banyak menderita sesuai dengan nasihat atau sugesti pada bidan dan dokter. Namun
stelah merasakan sendiri kesakitan yang bertubi-tubi dan semakin hebat mereka menjadi
sangat marah dan tidak sabar. Sebaliknya, tipe yang aktif menjadi sangat marah semakin
gelisah dan meningkatkan berbagai aktivitas sehari-hari. Semua kegelisahan dan impuls
untuk tetap aktif bergiat biasanya dirsionalisasi sebagai satu metode untuk memperpendek
masa penantian menunggu lahirnya bayi.
Banyak wanita normal bisa merasakan kegairahan dan kegembiraan di kala
merasakan kesakitan-kesakitan pertama menjelang persalinan. Mereka seolah mendapatkan
kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap sebagai seuatu keadaan yang belum pasti
itu kini benar-benar akan terjadi atau teralisasi secara konkrit. Tugas penting atau paling
utama dari seorang wanita dalam proses kelahiran bayinya khusus pada periode permulaan
(periode mulai melebarnya saluran vagina dan ujung uterus) ialah sebagai berikut:
1. Sepenuhnya patuh mengikuti kekuatan-kekuatan naluriah dari dalam.
2. Memberikan partisipasi sepenuhnya.
3. Dengan kesabaran sanggup menahan segala kesakitan.

Namun ada wanita yang tidak bias menoleransi sikap demikian. Mereka itidak sabar
mengikuti irama naluriah dan ingin mengatur sendiri proses kelahiran bayinya. Biasanya
mereka menolak proses yang wajar atau menolak nasihat dari luar. Selanjutnya, jika proses
kesakitan pertama menjelang kelahiran disertai banyak ketegangan batin dan rasa cemas atau
ketakutan berlebihan. Mereka cenderung bertingkah super aktif djadi sangataksi menn mau
menagatur sendiri proses kelahiran bayinya sehingga proses kelahiran bayi bisa terganggu
atau menyimpang dari pola normal dan spontan. Sebaliknya, jika wnaita yang bersangkutan
bersikap sangat pasif atau menyerah dan berkeras tidak bersedia memberikan partisipasi sama
17

sekali, maka dapat memperlambat proses kontraksi dan pembukaan serviks. Sikap ini
mengakibatkan kontraksi sangat lemah bahkan berhenti secara total dan proses kelahiran itu
jadi macet sehingga harus dibantu dengan pembedahan cesar.
Situasi pada saat kelahiran bayi atau pada kala II berlangsung agak berbeda. Wanita
yang bersangkutan benar-benar harus bekerja keras, kesakita bertambah hebat, dan tekanan
dalam perut terus harus disertai usaha mengejan secara sungguh-sungguh. Tekanan-tekanan
tersebut berlangung secara ritmis, bersamaan dengan munculnya kesakitan yang berturu-turut
sehingga segenap daya psikis dan fisik wanita benar-benar di konsentrasikan pada
pengabdian diri untuk melanggengkan generasi manusia dengan jalan meahirkan bayinya.
Perisstiwa melahirkan bayi itu betul-betul memerlukan penguasaan diri terutama untuk
mengatasi gejala ketakuatan dan seribu satu penderitaan. Semua penderitaan dan syock saat
mengalami kesakitan jasmaniah itu jelas mengurangi perhatian wanita yang sedang
melahiirkan terhadap keaadaan sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi wanita pada
kesakitan-kesakitan yang maha hebat itu ditambah kepanikan menjelang keluarnya bayi
melalui jalan lahir.
Ringkasnya, melahirkan bayi adalah proses yag menyerap segenap tenaga lahir batin
wanita dan merupakan kulminasi (titik puncak) dari pengalaman seorang wanita. Kulminasi
terhadap realiasasi dirinya dan realisasi kewanitaannya.
Seorang wnaita yang sednag melahirkan tidak merasakan ketakutan karena keadaan
fisik sangta payah, capai, lemas, lemah, apatis serta konsentrasi penuh pada nasib bayinya.
Pada umumnaya wanita yang bersangkutan lebih mementingkan keselamatan bayinya
daripada keadaan jasmani atau mati hidupnya sendiri.
Sifat-sifat dukungan persalianan antara lain: Sederhana, efektif, murah tau terjangkau,
beresiko rendah, kemajuan persalian bertambah baik, serta menjadikan hasil persalianan akan
bertambah baik. Dukungan persalinan bertujuan untuk :
1. Mengurangi nyeri pada sumbernya,
2. Member perangsang alternative

yang

kuat

untuk

mengurangi

sensasi

nyeri/menghambat rasa sakit,


3. Mengurangi reaksi negative emosional dan atau reaksi fisik wanita terhadap rasa
sakit.

18

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri yang dialamai diantaranya
dengan melakukan kompres panas atau dingin kemudian sentuhan dan pemijatan ringan dan
remasan, pijatan yang melingkar dan halus dan ringan (pemijatan dalam kategori rangsangan
dan sentuhan halus dan ringan).
Kompres panas
Kompres dapat dilakukan menggunakan handuk panas, silica gel yang telah
diapanskan, kantong nasi panas, atau botol yang telah diisi air panas. Dapat juga langsung
menggunakan shower air pans langsung pada bahu, perut, punggungnya jika dia merasa
nyaman. Kompres panas dapat meningkatkan suhu local kulit sehingga meningkatkan
sirkulasi pada jaringan untuk proses metabolism tubuh. Hal tersebut dapa mengurangi spasme
otot dan mengurabgi nyeri.
Indikasi pemberian kompres panas
Saat yang tepat pemberian kompres panas , yaitu saat ibu mengeluh sakit atau nyeri
pada daerah tertentu, saat ibumengeluh ada perasaan tidak nyaman. Kompres panas tidak
diberikan ssat ibu dalam keadaan demam dan disertai tanda-tanda perdangan lai, mengompres
daerah yang mengalami peradangan (ditandai denganbengkak, panas, dan merah) dapat
memperluas daerah peradangan. Atau, kompres panas tidak dilakukan jika petugas takut
dengan kemungkinan terjadinya demam akibat kompres panas.
Kompres dingin
Cara pemberian kompres dingin adalah dengan meletakkan kompres dingin butiran
es, handuk basah dan dingin, sarung tangan karet yang diisi dengan butiran es, botol plastic
dnegan dengan air es pada punggung taua perineum. Selain itu, kompres dingin dapat
digunakan pada wajah ibu yang bengkak, tangan, dan kaki, serta dapat diletakkan pada naus
untuk mengurangi hemorid pada kala II.
Kompres dingin sangat berguna untuk mengurangi ketegangan oto dan nyeri debgan
menekan spasme otot (lebih lama daripada kompres panas) serta memperlambat proses
penghantaran rasa sakitdari neuron ke organ. Kompres dingin juga mengurangi bengkak dan
mendinginkan kulit. Kompres dingi diberikan pada kondisi nyeri punggung, rasa panas saat
inpartu, hemoroid yang menimbulkan sakit. Setelah persalinan, kompres dingin dapat

19

digunakan pada perineum. Kompres dingin tidak diberikan saat ibu merasa mengigil atau jika
ibu mengatakan tidak ada perubahan dengan kompres panas dan menimbulkan iritasi.
Hidroterapi
Hidroterapi adalah salah satu jenis terapi yang menggunakan media air dengan
suhunya tidak lebih dari 37-37,5C untuk mengurangi rasa sakit, ketegangan otot, nyeri, atau
cemas pada beberapa wabita.
Hidroterapi juga dapat menguarangi nyeri punggung dengan menggunakan teknik
tertentu, diantaranya sebagai berikut:
1. Hip Squeeze. Kedua tangan member tekan pada ototgluteal (daerah bokong) bergerak
ke atas. Tekhnik ini mengurangi ketegangan pada sakro iliaka dan juga pada ligament.
2. Knee Press. Dilakukan penekanan pada lutut dengan posisi duduk. Cara ini dapat
mengurangi nyeri punggung.
Semua tekhnik diatas dibahas lengkap dalam asuhan kebidanan, sedangkan dari sisi
psikologi yang wajib dilakukan adalah komunikasi terapeutik. Komukiasi bertujuan untuk
member sugesti yang mengandung arti penting. Pertahankan komunikasi agar ibu tidak
merasa berjuang sendiri.
C. Perubahan psikologis pada kala Satu

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Beberapa keadaan yang dapat terjadi pada ibu dalam persalinan, terutama bagi ibu
yang pertama kali melahirkan, Perubahan-perubahan yang dimaksud adalah :
Perasaan tidak enak.
Takut dan ragu-ragu akan persalinan yang akan dihadapi.
Ibu dalam menghadapi persalinan sering memikirkan apakah persalinan akan berjalan
dengan normal.
Menganggap persalinan sebagai cobaan.
Apakah penolong persalinan dapat sabar dan bijaksana dalam menolongnya.
Apakah bayinya normal atau tidak.
Apakah ia sanggup merawat bayinya.
Ibu merasa cemas.
(Sumarah dkk.2008.Perawatan Ibu Bersalin.yogyakarta.penerbit:Fitramaya .hal63-64.)
Beberapa keadaan bisa terjadi pada ibu selama proses persalinan ,terutama bagi
ibu yang pertama kali melahirkan.kondisi psikologis yang sering terjadi selama
persalinan kala I :
1. kecemasan & ketakutan pada dosa-dosa atau kesalahan diri sendiri kecemasan dan
ketakutan tersebut tersebut biasanya takut kalau bayinya terlahir dengan cacat jasmani dan
rohani.kepercayaan pada hal-hal yang bersifat gaib selama proses reproduksi sudah sangat
berkurang sebab secara biologis,anatomis,dan fisiologis kesulitan-kesulitan pada peristiwa
20

partus bisa dijelaskan deengan alasan-alasan patologis atau sebab abnormalis,tetapi masih
ada perempuan yang meliputi ketakutan hal-hal gaib.
2. timbulnya sara tegang,ketakutan,kecemasan dan konflik-konflikbatin.hal ini disebabkan
oleh semakin membesar nya janin dalam kandungan ,yang bisa mengakibatkan ,calon ibu
mudah capek,badan tidak nyaman,tidak bisa tidur nyenyak,sering kesulitan bernafas dan
sebagainya.
3. sering timbul rasa jengkel,tidak nyaman,badan selalu kegerahan,tidak sabaran,sehingga
harmoni antara ibu dan janin yang dikandungnya terganggu.hal ini diosebabkan karena
kepala janin sudah memasuki panggul dan timbul kontaksi-kontraksi uterus,sehingga bayi
yang semula sangat diharapkan dan dicintai secara pskiologis selama berbulan-bulan,kini
dirasakan sebagai beban yang amat berat.
4. relasi ibu denfgan calon anaknya terpecah,sehingga timbul polaritas AKU-KAMU(aku
sebagai pribadi ibu dan kamu sebagai bayi)yang menjadi semakin jelas.timbul dualitas
perasaan yaitu:
a.harapan kasih sayang
b.impuls-impuls bermusuhan terhadsap bayi nya
5. sikap bermusuhan terhadap bayi nya.biasanya disebabkan karena derita fisik ibu yang
semakin berat sehingga melawan kemauan untuk membuangnya cepat-cepat.Keinginan untuk
mempertahankan janin merupakan ekspresi kepuasan diri yang narsistis,yang cenderung
menolak kalahiran bayi.
Alasan mengapa ibu memperthankan janinnya adalah :
a.Keinginan untuk memiliki janin yang unggul
b.Kecemasan ibu mengenai banyinya kalau tidak mendapatkan jaminan keamanan bila telah
keluar rahim.
c.Ibu merasa belum mampu memikul tanggung jawab baru sebagai ibu muda.
Sedangkan alasan ibu untuk segera mengeluarkan janinnya adalah :
a.Fantasi tentang bakat bayinya yang lahir sebagai objek kasih sayang.
b.Beban fisik oleh karena membesarnya bayi dalam kandungan yang cenderung untuk
mengeluarkan bayinya sehingga mungkin terjadi peristiwa prematur.
6.Muncul ketakutan menghadapi kesakitan dan resiko bahaya melahirkan bayinya
merupakan hambatan-hambatan dalam proses persalinan.
7. Adanya harapan-harapan mengenai jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan.Banyak
perempuan yang mendambakan anak pertamanya adalah laki-laki, sebab laki-laki adalah
lambang hidup dan keperkasaan. Begitu pula dengan suami dan kakeknya sehingga ini dapat
dijadikan sebagai motivasi dalam proses persalinan (Perawatan Ibu
Bersalin.yogyakarta.2010. Hal:39-41)
Fase Laten : Pada fase ini ibu biasanya merasa lega dan bahagia karena masa kehamilannya
akan segera berakhir. Namun pada awal persalinan wanita biasanya gelisah, gugup, cemas
dan khawatir sehubungan dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi. Biasanya ia ingin
berbicara, perlu ditemani, tidak tidur, ingin berjalan-jalan dan menciptakan kontak mata. Pada
wanita yang dapat menyadari bahwa proses ini wajar dan alami akan mudah beradaptasi
dengan keadaan tersebut.
Fase Aktif : saat kemajuan persalinan sampai pada waktu kecepatan maksimum rasa
khawatir wanita menjadi meningkat. Kontraksi semakin kuat dan fekuensinya lebih sering
sehingga wanita tidak dapat mengontrolnya. Dalam keadaan ini wanita akan lebih serius.
Wanita tersebut menginginkan seseorang untuk mendampinginya karena dia merasa takut
tidak mampu beradaptasi dengan kontraksinya.
Kebutuhan ibu selama persalinan:
a. Kebutuhan fisiologis
21

b. Kebutuhan rasa aman


c. Kebutuhan dicintai dan mencintai
d. Kebutuhan harga diri
e. Kebutuhan aktualisasi diri

Faktor psikologis:
Peran Suami Dalam Menghadapi Persalinan
Menunggu kelahirann si kecil menjadi saat-saat yang paling menegangkan sekaligus
melelahkan. Di usia kandungan yang semakin tua, apa pun bisa terjadi pada ibu hamil
seperti : mulas, keluhan sakit perut, perdarahan, sampai kontraksi yang frekuensinya makin
sering. Dalam situasi demikian, pastikan kondisinya selalu terkontrol. Menyiapkan segala
kebutuhan yang akan dibawa ke rumah sakit. Tidak perlu pakaian yang bagus-bagus, yang
penting nyaman dipakai. Di usia kehamilan tua, ibu hamil cenderung mengeluarkan banyak
keringat. Belum lagi ketegangan menanti si buah hati. Agar lebih menenangkan perasaan
istri, bawakan radio kecil atau tape recorder yang bisa dimanfaatkannya untuk
menghilangkan kegelisahan. Bila berniat mengabadikan proses kelahiran si kecil, jangan lupa
siapkan kamera atau handycam.
Yang terpenting untuk diingat, keberadaan suami di sisi istri yang tengah berjuang
menghadirkan si buah hati ke dunia sangatlah penting dalam menciptakan rasa aman dan
nyaman. Suami harus tetap berada di sisi istriya agar setiap saat ia membutuhkan, sang suami
senantiasa ada dan siap membantunya. Akan tetapi memeberikan ruang yang cukup untuk
sang suami ketika ia ingin menikmati dunianya sendiri. Mendampingi seorang istri yang
hendak melahirkan harus dengan kesabaran total. Kalaupun seorang istri terkesan ketus dan
menjengkelkan, sang suami menerima dengan besar hati. Karena perlu memaklumi bahwa
istri sedang mengalami ketegangan luar biasa.
Berikut adalah hal-hal yag bisa dilakukan seorang Suami jika menghadapi kondisi
tertentu saat mendampingi Istrinya melahirkan, antara lain:
a.

Bantulah pasangan mendapatkan posisi yang paling tepat. Kalau sudah, berikan dukungan
dengan sepenuh hati.
b. Sampaikan/bicaralah padanya hanya mengenai hal-hal yang bisa membesarkan hatinya.
Jangan lupa, jaga kontak mata dan kontak batin, hingga ia memperoleh keyakinan Anda
selalu bersamanya.Mengucapkan hanya kata-kata positif yang membangun semangat.
Meghindari kata-kata pedas, kritik tajam atau apa pun yang bernada melecehkan. Yang
dibutuhkannya saat itu hanyalah pendamping yang mampu menenangkan dirinya. Tidak lupa
selalu berdoa untuk keselamatannya dan si buah hati..
c. Jika Ibu terlihat mengerang-erang menahan sakit, seorang suami harus mencoba mengeluselus atau pijat perlahan punggung Istrinya. Sentuhan lembut semacam ini akan mengurangi
ketegangannya.
d. Jika Ibu berkeluh kesah tentang rasa sakit yang tak tertanggungkan, besarkan hatinya untuk
tetap tabah. Pahami benar bahwa saat itu ia memang sedang sakit.

22

e. Bicaralah pada suster atau dokter bila ada sesuatu yang tidak dimengerti tentang kondisi istri.
Jika Anda mengkhawatirkannya, yakinkan diri bahwa tenaga paramedis di situ adalah orangorang profesional yang akan membantu menangani istri dan bayi Anda.
f. Peliharalah rasa humor. Jika istri berteriak atau mengucapkan sumpah-serapah seakan marah
besar, tak perlu tersinggung, apalagi berniat membalasnya. Pahami hal semacam itu muncul
karena ia tengah berada dalam situasi yang sangat berat dan membuatnya tertekan. Justru
cobalah hibur dengan humor-humor segar.
g. Jika si kecil sudah berhasil dilahirkan, sampaikan pada istri bahwa berkat perjuangannya,
Anda berdua kini memiliki seorang bayi yang sangat cantik atau tampan. Ini akan sangat
membesarkan hatinya. Tentu saja jangan sampai kehadiran Anda di sisinya menghambat
tugas kalangan medis yang menangani persalinan tersebut.
h. Saat memberitahukan jenis kelaminnya, jangan hanya mengucapkan, "Dia cewek" atau "Dia
cowok," tapi sampaikan dengan kata-kata manis yang terdengar mesra. Semisal, "Anak kita
laki-laki, lo." atau "Anak kita cantik seperti ibunya." Tentu saja ekspresikan
i. Jika petugas medis mengizinkan, gendonglah bayi Anda. Nikmati momen berharga tersebut
sebagai pengalaman yang amat fantastis untuk senantiasa bersyukur atas kebesaranNya.kebahagiaan hati Anda atas karunia besar tersebut.
j. Bila suasana haru begitu menyergap, tak perlu merasa malu dengan menahan-nahan diri.
Biarkan air mata kebahagiaan mengalir. Itulah salah satu momen terindah sepanjang hidup
sebagai seorang ayah.
Tidak semua suami memiliki keberanian untuk menyaksikan proses kelahiran bayinya. Bila
seorang Suami mampu melakukannya, nikmati momen-momen tersebut untuk menyaksikan
sebuah keajaiban yang pasti merupakan pengalaman yang tidak pernah terlupakan sepanjang
hayat. Pendek kata, nikmati momen terindah tersebut bertiga saja dengan orang-orang yang
paling dicintai.
Sentuhan
Sentuhan dalam pendampingan klien yang bersalin
Sentuhan bidan terhadap klien akan memberikan rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi.
Misalnya: ketika kontraksi pasien merasakan kesakitan, bidan memberikan sentuhan pada
daerah pinggang klien. Sehingga pasien akan merasa nyaman.
Tindakan utama massase dianggap menutup gerbang untuk menghambat
penghantaran rasa nyeri pada pusat nyeri. Selanjutnya rangsang taktil dan perasaan positif
yang berkembang ketika dilakukan bentuk sentuhan yang penuh perhatian dan empatik
bertindak memperkuat efek massase untuk mengendalikan nyeri.
MASSASE HARUS DILAKUKAN SECARA INTERMITTEN SAAT KONTRAKSI
TERJADI
Teknik yang dianjurkan Maxwell-Hudson (1990) : mencakup massase wajah diantara
kontraksi dengan menggunakan gerakan halsu dan ritmis, kemudian massase kaki dengan
keras
Kontraindikasi : efek massase pada sistem sirkulasi diantaranya tromboflebitis,
arteriosklerosis, kondisi kardiovaskuler

23

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Banyaknya wanita normal bisa merasakan kegairahan dan kegembiraan disaat merasa
kesakitan awal menjelang kelahiran bayinya. Perasaan positif ini berupa kelegaan hati,
seolah-olah pada saat itulah benar-benar terjadi realitas kewanitaan sejati yaitu munculnya
rasa bangga bisa melahirkan atau memproduksi anaknya. Khusunya rasa lega itu berlangsung
bila kehamilannya mengalami perpanjangan waktu. Mereka seolah-olah mendapatkan
kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu keadaan yang belum pasti

5.
6.
7.
8.

sekarang menjadi hal yang nyata.


Psikologis meliputi :
Melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual
Pengalaman bayi sebelumnya
Kebiasaan adat
Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu

24

DAFTAR PUSTAKA
Dahro Ahmad, 2012, PSIKOLOGI KEBIDANAN Analis Perilaku Wanita untuk Kesehatan,
Jakarta : Salemba Medika
Kartono kartini, 1992, PSIKOLOGI WANITA Jilid 2 Mengenal Wanita Sebagai Ibu dan
Nenek, Bandung : Mandar Maju
Marmi, 2012, INTRANATAL CARE Asuhan Kebidanan Pada Persalinan, Yogyakarta :
Pustaka Pelajar

25