Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sektor pertanian merupakan sektor yang strategis dan berperan penting dalam
perekonomian nasional dan kelangsungan hidup masyarakat, terutama dalam
sumbangannya terhadap PDB, penyedia lapangan kerja dan penyediaan pangan
dalam negeri. Kesadaran terhadap peran tersebut menyebabkan sebagian besar
masyarakat masih tetap memelihara kegiatan pertanian mereka meskipun negara
telah menjadi negara industri. Sehubungan dengan itu, pengendalian lahan pertanian
merupakan salah satu kebijakan nasional strategis untuk tetap memelihara industri
pertanian primer dalam kapasitas penyediaan pangan, dalam kaitannya untuk
mencegah kerugian sosial ekonomi dalam jangka panjang mengingat sifat multi
fungsi lahan pertanian.
Lahan bagi penduduk Indonesia adalah sumber daya yang paling penting.
Seiring dengan meningkatnya kepadatan penduduk, keberadaan lahan terutama lahan
pertanian menjadi semakin terancam dikarenakan kebutuhan yang lebih penting yaitu
untuk tempat tinggal. Fenomena ini memacu terjadinya lahan pertanian menjadi
lahan nonpertanian baik itu untuk komplek perumahan, kawasan industri, kawasan
perdagangan, bahkan sarana publik. Menurut Utomo (1992), alih fungsi lahan atau
lazimnya disebut sebagai konversi lahan didefinisikan sebagai perubahan fungsi
sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang
direncanakan) menjadi fungsi lain yang membawa dampak negatif (masalah)
terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri.
Konversi lahan pertanian dilakukan secara langsung oleh petani pemilik lahan
ataupun tidak langsung oleh pihak lain yang sebelumnya diawali dengan transaksi
jual beli lahan pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilik lahan
mengkonversi lahan atau menjual lahan pertaniannya adalah harga lahan, proporsi
pendapatan, luas lahan, produktivitas lahan, status lahan dan kebijakan-kebijakan
oleh pemerintah. Kawasan perkotaan dapat diartikan sebagai kawasan yang
mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai

tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan


dan pelayanan sosial. Keperluan lahan untuk bidang nonpertanian semakin
meningkat seiring dengan meningkatnya pembangunan perumahan pada awal tahun
1990-an. Pemerintah memberikan berbagai fasilitas untuk mendorong pembangunan
wilayah, laju alih fungsi lahan dari yang semula digunakan untuk pertanian menjadi
perumahan dan industri tidak dapat dihindari.
Departemen pertanian sudah memperkirakan tantangan berat sektor pertanian
terkait

dengan

keterbatasan

lahan.

Pertumbuhan

perekonomian

menuntut

pembangunan infrastruktur baik berupa jalan, bangunan industri dan pemukiman.


Dengan kondisi

demikian, permintaan terhadap lahan untuk

penggunaan

nonpertanian tersebut semakin meningkat, akibatnya banyak lahan sawah terutama


yang berada di sekitar perkotaan mengalami alih fungsi ke penggunaan lain.
Kurangnya insentif pada usaha tani lahan sawah dapat menyebabkan terjadi alih
fungsi lahan pertanian ke fungsi lainnya. Pertumbuhan ekonomi yang ditandai
dengan berkembangnya industri, prasarana ekonomi, fasilitas umum dan pemukiman
di mana semuanya memerlukan lahan sehingga meningkatkan permintaan lahan
untuk memenuhi kebutuhan nonpertanian. Namun pertumbuhan ekonomi juga
meningkatkan kondisi sosial ekonomi pada lahan pertanian. Kondisi inilah yang
membuat konversi lahan pertanian terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan
dan pembangunan ekonomi yang tidak mungkin dapat dihindari.
Konversi lahan pertanian tidak menguntungkan bagi pertumbuhan sektor
pertanian karena dapat menurunkan kapasitas produksi dan daya serap tenaga kerja
yang selanjutnya berdampak pada penurunan produksi pangan, dan pendapatan
perkapita keluarga tani. Konversi lahan pertanian juga mempercepat proses
marginalisasi usaha tani sehingga menggerogoti daya saing produk pertanian
domestik. Konversi lahan pertanian merupakan isu strategis dalam rangka
pemantapan ketahanan pangan nasional, peningkatan kesejahteraan petani dan
pengentasan kemiskinan, serta pembangunan ekonomi berbasis pertanian. Berbagai
peraturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan sebenarnya telah diterbitkan
pemerintah untuk mengendalikan konversi lahan pertanian namun pengalaman
menunjukkan bahwa peraturan-peraturan tersebut kurang efektif. Pada masa
pemerintahan otonomi daerah, peraturan-peraturan yang umumnya diterbitkan oleh
pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, semakin kurang efektif karena pemerintah

kabupaten atau kota madya memiliki kemandirian yang luas dalam merumuskan
kebijakan pembangunannya (Simatupang, 2001).
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa saja pengaruh alih fungsi tanah terhadap kontribusi pertanian dalam Produk
Domestik Bruto (PDB)?
2. Apa saja pengaruh alih fungsi tanah terhadap produksi pangan, lingkungan fisik,
dan kesejahteraan masyarakat pertanian dan pedesaan yang kehidupannya
bergantung pada lahannya?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengaruh alih fungsi tanah terhadap kontribusi pertanian
dalam Produk Domestik Bruto (PDB).
2. Untuk mengetahui pengaruh alih fungsi tanah terhadap produksi pangan,
lingkungan fisik, dan kesejahteraan masyarakat pertanian dan pedesaan yang
kehidupannya bergantung pada lahannya.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi


Dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of
Nations (1776), Adam Smith mengemukakan tentang proses pertumbuhan ekonomi
dalam jangka panjang secara sistematis. Menurut Adam Smith, ada 2 aspek utama
pertumbuhan ekonomi yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk.
Unsur pokok dalam pertumbuhan output total adalah sumber daya alam yang tersedia
(faktor produksi tanah), sumber daya insani (jumlah penduduk), dan stok barang
modal yang ada (Arsyad, 2010).
Sumber daya alam yang tersedia merupakan wadah yang paling mendasar dari
kegiatan produksi suatu masyarakat. Jumlah sumber daya alam yang tersedia
merupakan batas maksimum bagi pertumbuhan suatu perekonomian, artinya jika
sumber daya ini belum digunakan sepenuhnya, maka jumlah penduduk dan stok
modal yang ada berperan dalam pertumbuhan output. Pertumbuhan output tersebut
akan berhenti jika semua sumber daya alam tersebut telah digunakan secara optimal.
Dalam bukunya The Principles of Political Economy and Taxation (1917),
David Ricardo mengemukakan tentang laju pertumbuhan output tergantung dari
faktor produksi yang tersedia. Faktor produksi tanah (sumber daya alam) tidak dapat
bertambah, karena tidak semua faktor produksi tanah merupakan faktor produksi
yang produktif. Oleh karena itu, faktor produksi tanah menjadi faktor pembatas
dalam proses pertumbuhan ekonomi. Jumlah faktor produksi tenaga kerja atau
penduduk tergantung pada tingkat upah yang diperolehnya apakah lebih tinggi atau
lebih rendah daripada tingkat upah minimal atau tingkat upah alamiah. Akumulasi
faktor produksi modal terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik
modal lebih besar daripada tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk
menarik investor melakukan investasi. David Ricardo menambahkan bahwa
kemajuan teknologi terjadi sepanjang waktu dan sektor yang dominan dalam
perekonomian adalah sektor pertanian.

2.2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009


Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan, bahwa Indonesia sebagai negara agraris perlu menjamin
penyediaan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan sebagai sumber pekerjaan
dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dengan mengedepankan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi
nasional. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa Indonesia harus
menjamin ketersediaan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan agar terpenuhi
kebutuhan primer dalam negeri sehingga Indonesia tidak perlu mengimpor dari
Negara lain karena akan menambah pengeluaran dalam neraca perdagangan
internasional.
Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 Bab I Ketentuan Umum pasal 1
ayat 3 dijelaskan mengenai lahan pertanian pangan berkelanjutan adalah bidang
lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara
konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan
kedaulatan pangan nasional. Dan pada ayat 5 dijelaskan mengenai perlindungan
lahan pertanian pangan berkelanjutan adalah system dan proses dalam merencanakan
dan menetapkan, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina, mengendalikan,
dan mengawasi lahan pertanian pangan dan kawasannya secara berkelanjutan.
Dan dalam Bab II mengenai Asas, Tujuan, dan Ruang Lingkup, pada pasal 3
dijelaskan bahwa perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan yang
diselenggarakan bertujuan :
a. Melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan;
b. Menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan;
c. Mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan;
d. Melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani;
e. Meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat;
f. Meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani;
g. Meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak;
h. Mempertahankan keseimbangan ekologi;
i. Mewujudkan revitalisasi pertanian.

2.3. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012


Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, bahwa untuk menjamin terselenggaranya
pembangunan untuk kepentingan umum, diperlukan tanah yang pengadaannya
dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip kemanusiaan, demokratis, dan adil.
Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Bab I Ketentuan Umum pasal 1
ayat 2 dijelaskan bahwa pengadaan tanah adalah kegiatan menyediakan tanah dengan
cara memberi ganti kerugian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak, pihak
yang berhak merupakan pihak yang menguasai atau memiliki objek pengadaan
tanah. Dan dalam ayat 4 objek pengadaan tanah adalah tanah, ruang atas tanah dan
bawah tanah, bangunan tanaman, benda yang berkaitan dengan tanah, atau lainnya
yang dapat dinilai.
Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Bab II mengenai Asas dan
Tujuan, pada pasal 3 diterangkan bahwa pengadaan tanah untuk kepentingan umum
bertujuan menyediakan tanah bagi pelaksanaan pembangunan guna meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, negara, dan masyarakat dengan tetap
menjamin kepentingan hukum pihak yang berhak.
2.4. Teori Alokasi Lahan
Penggunaan lahan merupakan resultante dari interaksi berbagai macam faktor
yang menentukan keputusan perorangan, kelompok, ataupun pemerintah. Oleh
karena itu, proses perubahan penggunaan lahan sifatnya sangat kompleks.
Mekanisme perubahan itu melibatkan kekuatan-kekuatan pasar, sistem administratif
yang dikembangkan pemerintah, dan kepentingan politik. Peranan pasar dalam
proses alokasi penggunaan lahan sudah banyak dipelajari (Chisholm, 1996; Alonso,
1970; Barlowe, 1978) yang mendasarkan pada efisiensi. Oleh karena itu, tingkah
laku individual yang dimasukkan dalam mekanisme pasar didasarkan pada nilai
penggunaan (utility) yaitu highest and best use
Secara teoritis, sejauh mana efisiensi alokasi sumberdaya lahan dapat dicapai
melalui mekanisme pasar akan tergantung apakah hak pemilikan (ownership) dapat
mengontrol himpunan karakteristik sumberdaya lahan. Himpunan karakteristik ini
antara lain adalah: eksternalitas, inkompatibilitas antar alternatif penggunaan, ongkos
6

transaksi, economic of scale, aspek pemerataan dan keadilan. Dalam prakteknya


pemerintah di sebagian besar negara di dunia memegang peran kunci dalam alokasi
lahan. Dengan sangat strategisnya fungsi dan peran lahan tanah dalam kehidupan
masyarakat (ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan) maka pemerintah mempunyai
legitimasi kuat untuk mengatur kepemilikan atau penguasaan tanah. Peran
pemerintah dalam alokasi lahan sumberdaya lahan dapat berupa kebijakan yang tidak
langsung seperti pajak, zonasi (zoning), maupun kebijakan langsung seperti
pembangunan waduk dan kepemilikan lahan seperti hutan, daerah lahan timbang dan
sebagainya. Dengan demikian peranan pemerintah melalui sistem perencanaan
wilayah (tataguna) ditujukan untuk : (1) menyediakan sumberdaya lahan untuk
kepentingan umum, (2) meningkatkan keserasian antar jenis penggunaan lahan, dan
(3)

melindungi

hak

milik

melalui

pembatasan

aktivitas-aktivitas

yang

membahayakan.
Secara garis besar model tataguna lahan dapat dikelompokkan menjadi dua.
Pertama, model mikro di mana satuan analisisnya mikro (misalnya perusahaan).
Dalam pendekatan ini terdapat 4 model yang biasa diacu yaitu : (1) model Von
Thunen, (2) model Burges, (3) model Hoyt, dan (4) model Weber (Barlowe, 1978).
Kedua, model analitik pendekatan wilayah, di mana unit analisanya adalah wilayah.
Model klasik dari alokasi lahan adalah model Ricardo. Menurut model ini,
alokasi lahan akan mengarah pada penggunaan yang menghasilkan surplus ekonomi
(land rent) yang lebih tinggi, yang tergantung pada derajat kualitas lahan yang
ditentukan oleh kesuburannya. Menurut Von Thunen nilai land rent bukan hanya
ditentukan oleh kesuburannya, tetapi merupakan fungsi dari lokasinya. Pendekatan
Von Thunen mengibaratkan pusat perekonomian adalah suatu kota yang dikelilingi
oleh lahan yang kualitasnya homogen. Tataguna lahan yang dihasilkan dapat
dipresentasikan sebagai cincin cincin lingkaran yang bentuknya konsentris yang
mengelilingi kota tersebut (Gambar 1).

A : Jasa komersial

B : Industri/manufaktur

C : Perumahan
D : Pertanian

C
D

D
B

Gambar 1. Penentuan locational rent function menurut model Von Thunen

Cincin A mempresentasikan aktivitas penggunaan lahan untuk jasa komersial


(pusat kota). Di wilayah ini land rent mencapai nilai tertinggi. Cincin B, C dan D
masing-masing mempresentasikan penggunaan lahan untuk industri, perumahan dan
pertanian. Meningkatnya land rent secara relatif akan meningkatkan nilai tukar (term
of trade) jasa-jasa komersial sehingga menggeser kurva land rent A ke kanan dan
sebagian dari area cincin B (kawasan industri) terkonversi menjadi A. Demikian
seterusnya, sehingga konversi lahan pertanian (cincin D) ke peruntukkan pemukiman
(cincin C) juga terjadi. Dalam sistem pasar, alih fungsi lahan berlangsung dari
aktivitas yang menghasilkan land rent lebih rendah ke aktivitas yang menghasilkan
land rent lebih tinggi.
Penentuan kondisi keseimbangan untuk menentukan distribusi geografis yang
dibuat oleh Dunn (1954) pada dasarnya menggunakan pendekatan Von Thunen.
Dalam pendekatan Dunn, alokasi optimal lahan optimal ditentukan oleh jarak lahan
(biaya transportasi) terhadap pusat pertumbuhan ekonomi. Model Burgess
merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Von Thunen (Barlowe, 1978)
dengan mempertimbangkan beberapa pusat pasar (pusat pertumbuhan ekonomi) yang

dapat dijadikan acuan estimasi biaya transportasi. Model Hoyt menggantikan biaya
transportasi dengan jaringan transportasi. Berbeda dengan model model
sebelumnya, orientasi dari model Weber adalah menentukan lokasi optimal dari suati
unit usaha relatif terhadap sumber bahan baku dan lokasi pemasaran produk. Model
ini pada umumnya digunakan untuk menganalisis dampak dampak, misalnya
dampak permintaan akhir terhadap produk industri dan implikasinya terhadap
permintaan lahan.
2.5. Nilai Tukar Petani
Nilai Tukar Petani atau disingkat NTP adalah rasio atau perbandingan indeks
yang diterima oleh petani dari usaha taninya dengan indeks yang dibayarkan petani
dan dinyatakan dalam persen. NTP ini diukur oleh Biro Pusat Statistik di setiap
Provinsi terhadap lima subsektor yaitu sub sektor Tanaman Pangan, Hortikultura,
Peternakan, Perkebunan Rakyat dan Perikanan yang selanjutnya dikenal dengan
istilah NTP Gabungan. Bila angka NTP lebih besar dari 100 persen memberi indikasi
bahwa petani secara keseluruhan di lima subsektor di Provinsi itu sudah sejahtera
karena ada potensi utuk menabung atau membeli kebutuhan lainnya, sedangkan bila
kurang dari 100 persen memberi indikasi bahwa petani di Provinsi tersebut belum
sejahtera atau dengan kata lain belum mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.
Faktor yang berpengaruh :
Paling tidak ada tiga faktor yang kuat berpengaruh terhadap naik-turunnya NTP
di sebuah Provinsi yaitu
1. Tingkat Produktifitas Usaha Tani
2. Tingkat Penerapan Integrasi hulu-hilir dari Usaha Tani
3. Pengaruh atau dukungan dari sector lain.
Produktifitas Usaha Tani tentunya dipengaruhi oleh Penerapan Teknologi
yang dianjurkan, dimulai dari penggunaan bibit bermutu, pupuk berimbang,
pengendalian hama-penyakit sampai kepada pendampingan dalam rangka proses
transformasi sosial.
Usaha integrasi hulu-hilir dari sebuah usaha tani terbukti dapat meningkatkan
nilai tambah yang bermuara kepada peningkatan pendapatan petani. Banyak contoh
yang dapat ditemukan dalam praktek di beberapa tempat seperti (1) memanfaatkan
limbah padi seperti jerami dan sekam padi yang selama ini kurang termanfaatkan
9

untuk dijadikan pupuk organik, makanan ternak bahkan sebagai pembangkit tenaga
listrik biomassa, (2) melepas itik piaraan dipersawahan setelah panen padi untuk
memanfaatkan butiran padi yang losses yang volumenya bisa mencapai 3-5 persen
dari volume panen, (3) memanfaatkan kotoran hewan piaraan untuk menjadi pupuk
organik bahkan menjadi pembangkit listrik sistem biogas, (4) memanfaatkan limbah
tempurung coklat untuk pakan ternak, (5) memanfaatkan limbah ikan untuk
memproduksi snak, tepung tulang, pupuk bahkan pada ikan tertentu kulitnya dapat
dimanfaatkan untuk kulit dompet, tas bakan sepatu. Dan masih banyak contoh lain
yang bisa dilakukan, belum lagi integrasi antar subsektor misalnya padi dengan ikan
yang dinamakan mina padi. Usaha-usaha integrasi seperti ini akan berdampak
terhadap meningkatnya harga pembelian produk utama seperti padi, daging, ikan
dan seterusnya.
Sektor lain juga sangat berpengaruh terhadap naik-turunnya NTP seperti
tersedianya Infrastruktur dasar berupa irigasi, modal transportasi, air bersih dan
kelistrikan;

Pendidikan

misalnya

kehadiran

sekolah-sekolah

kejuruan,

pengembangan kurikulum dalam muatan lokal; Pelayanan kesehatan; Pengkajian


Inovasi oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi sampai kepada dukungan
pembiayaan oleh lembaga keuangan kepada petani yang saat ini realisasinya masih
minim.

10

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pengaruh alih fungsi tanah pada kontribusi pertanian terhadap PDB
Dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of
Nations (1776), Adam Smith mengemukakan bahwa sumber daya alam yang berupa
tanah merupakan wadah yang paling mendasar bagi kegiatan ekonomi, karena tanah
merupakan lahan atau wadah bagi berlangsungnya kegiatan ekonomi. Jumlah lahan
yang tersedia merupakan batas maksimum bagi pertumbuhan ekonomika. Buku yang
ditulis 236 tahun yang lalu memberikan gambaran kondisi Indonesia sekarang ini.
Pemberitaan di berbagai media massa menunjukkan bahwa Indonesia dalam kondisi
kekurangan lahan untuk kegiatan ekonomi. Terjadi tarik menarik kepentingan antara
pemanfaatan tanah untuk pertanian, industri, dan pengembangan perumahan. Karena
kekuatan industri dan pengembangan perumahan lebih kuat daripada pertanian, maka
terjadi alih lahan pertanian besar-besaran. Akibatnya kontribusi pertanian dalam
Produk Domestik Bruto Indonesia semakin menurun dari 19,24% (1991) menjadi
12,58% (2011), sedang kontribusi industri naik dari 20,96% (1991) menjadi 24,49%
(2011) dan kontribusi perumahan naik dari 5,21% (1991) menjadi 10,63% (2011).
Penurunan kontribusi pertanian terhadap PDB Indonesia berdampak negatif
bagi masyarakat. Hal ini ditunjukkan pada UU Nomor 41 tahun 2009 tentang
perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan bahwa alih fungsi lahan
mempunyai implikasi yang serius terhadap produksi pangan, lingkungan fisik, serta
kesejahteraan masyarakat pertanian dan pedesaan yang kehidupannya bergantung
pada lahannya. Alih fungsi lahan pertanian kurang diimbangi oleh upaya-upaya
terpadu mengembangkan lahan pertanian melalui pencetakan lahan pertanian baru
yang potensial.

11

Tabel 3. Kontribusi Sub Sektor Pertanian terhadap PDB Sektor Pertanian (%),
2011 - 2012
Lapangan Usaha
a. Pertanian sempit (3 sub sektor)

2011
Tw. IV

*)

2012

Total 2011

Tw. III

**)

Tw. IV

Total 2012

70,09

74,49

75,17

68,00

73,94

- Tanaman Bahan Makanan (Tabama)

41,82

48,56

47,61

39,88

48,25

- Tanaman Perkebunan

13,88

14,08

16,25

13,11

13,42

- Peternakan dan Hasil-hasilnya

14,39

11,85

11,32

15,01

12,27

b. K e h u t a n a n

5,70

4,74

4,36

5,80

4,61

c. P e r i k a n a n

24,21

20,77

20,47

26,20

21,45

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

PERTANIAN
Sumber : BPS, diolah Pusdatin

Keterangan : *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara


Dilihat dari tabel di atas kontribusi untuk pertanian terutama subsektor Tabama
(Tanaman Bahan Makanan) mengalami penurunan dari tahun 2011 total sebesar
74,49% menjadi 73,94% di tahun 2012, penurunan ini diakibatkan karena faktor
produksi yang menurun penyebabnya berasal dari penurunan luas panen, kinerja para
petani yang bergantung pada musiman. Dan untuk kontribusi subsektor tanaman
perkebunan juga mengalami penurunan dari tahun 2011 sebesar 14,08% menjadi 13,
42% di tahun 2012. Penurunan kontribusi ini karena berkurangnya produksi di
beberapa komoditas unggulan perkebunan seperti kelapa dan kelapa sawit, lahan
yang semula menjadi area untuk pembibitan berubah fungsi menjadi perluasan
pabrik industri itu sendiri. Begitu juga dengan perkebunan tebu yang mengalami
penurunan karena lahan yang digunakan untuk memanen tebu berubah menjadi
kawasan elit perumahan terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga
kapasitas produksi untuk subsektor tanaman perkebunan mengalami penurunan.

12

3.2. Pengaruh alih fungsi tanah terhadap produksi pangan, lingkungan fisik

serta

kesejahteraan masyarakat pertanian dan pedesaan yang kehidupannya bergantung


pada lahannya.
Ancaman rawan produksi pangan sudah terjadi di depan mata. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan I-2012, Indonesia telah melakukan
impor beras dari Vietnam sebanyak 390.000 ton, Thailand 212.000 ton, India
135.200 ton, dan Pakistan 26.900 ton. total nilai impor beras sebesar US$420,7 juta
atau Rp3,8triliun. Alih lahan yang tidak dikelola secara profesional berdampak
terhadap perubahan lingkungan fisik. Hampir semua wilayah di Indonesia terjadi
kerusakan lingkungan yang berdampak pada banjir, tanah longsor, terganggunya
ekosistem alam, dan berujung pada pemanasan global yang berbahaya bagi
kesehatan masyarakat. Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai perbandingan antara indeks
harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani cenderung
menurun. Hal ini ditunjukkan dengan kesejahteraan masyarakat pertanian yang
menurun di 20 provinsi selama Januari-Juni 2012 dengan NTP rata-rata turun sebesar
0,1%. Dengan demikian, penurunan lahan pertanian pada akhirnya membatasi
pertumbuhan ekonomi yang terjadi, khususnya pertumbuhan ekonomi yang
berkualitas yaitu pertumbuhan ekonomi yang mampu mendukung pencapaian
pembangunan manusia yang tinggi. Penurunan NTP pada semester 1 tahun 2012
membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dapat dicapai pada
semester 1 tahun 2012 belum berkualitas.
Keterbatasan penyediaan lahan tidak hanya terjadi pada pertanian, tetapi juga
industri. Kebutuhan sektor industri manufaktur yang diyakini mampu menekan
angka pengangguran pada caturwulan pertama tahun 2012 ternyata hanya mampu
memberikan kontribusi ekspor nonmigas sebesar 59,5% karena keterbatasan lahan
yang tersedia di kawasan industri. Padahal tahun 2000, sektor industri manufaktur
masih mampu menyumbang 76%. Kondisi yang semakin merosot akan berdampak
terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi.
Dari data Sensus Pertanian 1983-1993, setiap tahun lahan pertanian yang
dikonversi di Indonesia mencapai 40.000 hektar. Kalau setiap hektar biasanya
menghasilkan 5 ton gabah, maka pada tahun 1993 kita sudah kehilangan produksi
sebesar 2 juta ton. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa luas lahan pertanian yang
dikonversi kira-kira dua kali lipat dari yang terjadi satu dasawarsa sebelumnya. Ini
13

jelas semakin menurunkan potensi produksi yang biasa kita hasilkan. Setelah tahun
2007 belum diketahui berapa jumlah lahan yang dikonversi.
Proses konversi lahan yang dilakukan oleh pihak lain tersebut biasanya
berlangsung melalui dua tahap, yaitu: (a) pelepasan hak pemilikan lahan petani
kepada pihak lain yang kemudian diikuti dengan, (b) pemanfaatan lahan tersebut
untuk kegiatan nonpertanian.
Mengenai laju perkembangan dampak, dapat dikatakan bahwa sesuai dengan
perjalanan waktu, semakin besar dampak pengurangan produksi akibat konversi
lahan sawah, maka dampak pencetakan lahan sawah secara relatif semakin kecil. Hal
yang menyebabkan demikian adalah: (a) arah konversi lahan sawah yang terjadi
cenderung mengarah kepada jenis lahan sawah yang berkualitas dan daerah-daerah
dengan teknologi usaha tani yang cukup tinggi; (b) sebaliknya, kegiatan pencetakan
sawah semakin bergeser pada kabupaten-kabupaten dengan produktivitas usaha tani
padi relatif rendah dan daerah-daerah dengan teknologi usaha tani yang semakin
rendah. Hal ini menunjukkan pula bahwa ketersediaan lahan yang potensial bagi
pencetakan sawah semakin terbatas.
Pengendalian konversi lahan pertanian, khususnya sawah ke penggunaan
nonpertanian dapat dilakuakan melalui dua pendekatan, yaitu: (a) pengendalian
melalui kelembagaan dan pengaturan tentang pengalihan dan penatagunaan lahan
sawah (regulation), (b) pengendalian melalui instrumen ekonomi, seperti melalui
mekanisme kompensasi, kebijakan penerapan pajak progresif dan bank tanah.
Sedangkan pengendalian pemanfaatan lahan untuk kepentingan pengadaan pangan
pada dasarnya dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu (1) mengendalikan
pelepasan hak kepemilikan lahan petani kepada pihak lain, dan atau (2)
mengendalikan dampak alih fungsi lahan tanaman pangan tersebut terhadap
keseimbangan pengadaan pangan.
Produsen utama beras nasional adalah petani-petani di pedesaan yang secara
ikhlas mensubsidi orang-orang kaya diperkotaan, tanpa pernah memikirkan
kesejahteraannya. Tingkat kesejahteraan petani diukur dengan nilai tukar petani
(NTP), yaitu rasio antara harga-harga barang dan jasa yang dibayar petani dengan
harga-harga produksi yang diperoleh petani. Kesejahteraan petani selain ditentukan
oleh NTP, juga ditentukan oleh struktur penguasaan lahan. Artinya, semakin sempit
penguasaan lahan, pendapatan petani makin rendah, yang berarti kesejahteraan
petani semakin menurun.
14

Untuk mengantisipasi keterbatasan lahan bagi pengembangan pertanian agar


tidak timbul rawan produksi pangan, pengembangan industri agar tetap tumbuh
perekonomian Indonesia, dan pengembangan perumahan agar kebutuhan penduduk
akan perumahan tetap terjamin maka pemerintah sudah seharusnya menjalankan
amanat UU Nomor 2 tahun 2012 tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk
kepentingan umum. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa pemerintah pusat dan
daerah menjamin tersedianya tanah dan pendanaan untuk 18 jenis kepentingan
umum.
Sampai sekarang, UU Nomor 2 Tahun 2012

belum dilaksanakan karena

belum adanya peraturan pelaksanaan UU tersebut yang harus segera terbit paling
lama satu tahun sejak UU ini di undangkan. Jadi investor maupun pelaku ekonomi
lainnya harus bersabar minimal satu tahun lagi untuk menunggu pemerintah
menjalankan ketentuan UU tersebut dengan pasti dan aplikabel. Pelaksanaan UU
tersebut diharapkan mampu mengurai lingkaran setan dalam alih fungsi tanah.

15

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Perubahan pada luas lahan usaha petani sebagai akibat konversi lahan pertanian
ternyata membuat perubahan pada kondisi ekonomi dan berdampak juga pada petani.
Pengaruh yang pertama yaitu dengan kontribusi sektor pertanian pada komponen
PDB mengalami penurunan dan berbeda jauh dari kontribusi sektor nonpertanian
yang mengalami peningkatan signifikan. Yang kedua pengaruh konversi lahan
pertanian umumnya membuat kesejahteraan petani menurun karena tidak adanya
peningkatan akses pekerjaan non pertanian yang dapat menambah pengahasilan
petani. Konversi lahan pertanian juga menimbulkan berbagai masalah, yaitu dapat
menyebabkan adanya pergeseran struktur ketenagakerjaan dan penguasaan
kepemilikan lahan pertanian di pedesaan, serta adanya transformasi struktur ekonomi
dari pertanian ke industri dan demografis dari pedesaan ke perkotaan.
Berlakunya sistem pewarisan lahan pecah bagi yang berdampak pada
pemilikan lahan per petani yang semakin sempit, dan penurunan rente usaha
pertanian sebagai konsekuensi dari penurunan sekuler nilai tukar pertanian dan
naiknya harga lahan. Kedua fenomena tersebut dapat menjadi dorongan bagi petani
untuk menjual lahannya dan beralih ke sektor lain, karena pendapatan yang diperoleh
dari lahan yang dimiliki dinilai tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga petani.

4.2. Saran
Untuk meningkatkan kontribusi pertanian bagi PDB pemerintah pusat harus
bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengutamakan program peningkatan
sektor agraris atau swasembada terhadap bahan pokok makanan untuk mengurangi
terjadinya rawan pangan karena hanya dengan impor ke negara lain masih belum
bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. Program yang lain yaitu dilakukan

16

penyuluhan terhadap para petani agar mereka tidak dengan mudah mengkonversi
lahan pertanian terhadap pihak lain. Hal ini dilakukan agar ketersediaan lahan
pertanian tetap eksis. Pemerintah seharusnya juga memberi himbauan dan dukungan
kepada para petani agar mereka tetap mau mengolah lahan untuk kepentingan
pertanian.

17

DAFTAR PUSTAKA

Alonso, W. 1970. Location and Land Use. Harvard University Press, Cambridge
Arsyad, Lincolin, (2010), Ekonomi Pembangunan, Edisi 5, UPP STIM YKPN,
Yogyakarta.
Badrudin, Rudy, (2012), Ekonomika Otonomi Daerah, Edisi 1, UPP STIM YKPN,
Yogyakarta.
Badrudin, Rudy, (2013), Potret Perekonomian Indonesia: Kumpulan Solusi Terhadap
Permasalahan dalam Ekonomi Indonesia, Gosyen Publishing, Yogyakarta.
Barlowe, R. 1978. Land Resource Economics. Prentice-Hall, Inc., New Jersey.
Chsiholm, M. 1996. Rural Settlement and Land Use. Hutchinson University Library,
London.
Simatupang, P dan B. Irawan. 2002. Pengendalian konversi lahan pertanian: Tinjauan
ulang kebijakan lahan pertanian abadi. Makalah Seminar Nasional Multifungsi dan
Konversi Lahan Pertanian, 25 Oktober 2002. Badan Litbang Deptan. Jakarta
Utomo, M. , Eddy Rifai dan Abdulmutalib Thahir. 1992. Pembangunan dan Alih
Fungsi Lahan. Lampung : Universitas Lampung.

18