Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masih banyak ibu ibu dalam masyarakat di Indonesia yang lebih menyukai melahirkan
dengan pertolongan dukun. Salah satu alasannya adalah karena dukun dapat memberikan
dukungan emosi dengan menghormati adat istiadat serta kebiasaan dan melibatkan keluarga.
Sebagai bidan, kita seharusnya juga dapat memberikan asuhan yang menghormati adat istiadat,
kebutuhan social dan emosional, dan juga kebutuhan fisik ibu.
Pengertian asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan
keinginan sang ibu ( Depkes RI 2007 ). Asuhan sayang ibu juga dengan memberikan asuhan
yang aman, berdasarkan temuan dan turut meningkatkan angka kelangsungan hidup ibu.
Asuhan sayang ibu membantu ibu merasa nyaman dan aman selama proses persalinan, yang
menghargai kebiasaan budaya, praktek keagamaan dan kepercayaan
(apabila kebiasaan tersebut aman ), dan melibatkan ibu dan keluarga sebagai pembuat keputusan,
secara emosional sifatnya mendukung. Asuhan sayang ibu melindungi hak hak ibu untuk
mendapatkan privasi dan menggunakan sentuhan hanya seperlunya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan asuhan sayang ibu ?
2. Bagaimana cara meneran dan posisi-posisi dalam persalinan ?
C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui asuhan sayang ibu pada kala II
2. Mengetahui cara meneran dan posisi - posisi dalam persalinan

BAB II
1

PEMBAHASAN
A.
Asuhan Sayang Ibu
1. Pengertian Asuhan Sayang Ibu
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan
sang ibu. Cara yang paling mudah membayangkan mengenai asuhan sayang ibu adalah dengan
menanyakan pada diri kita sendiri, Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan? atau
Apakah asuhan seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?
Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan
keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan
bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi dan
mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima,
mereka akan mendapatkan rasa aman dan hasil yang lebih baik (Enkin, et al, 2000). Disebutkan
pula bahwa hal tersebut diatas dapat mengurangi terjadinya persalinan dengan vacum, cunam,
dan seksio sesar, dan persalinan berlangsung lebih cepat (Enkin, et al, 2000).
Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan
dan keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan
mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persaliann dan kelahiran bayi. Banyak hasil
penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan
dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang
akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik. Antara
lain, juga disebutkan bahwa asuhan tersebut dapat mengurangi jumlah persalinan dengan
tindakan, seperti ekstraksi vakum, forseps, dan seksio sesarea. (Sarwono,Asuhan persalinan
normal Halaman 336-337)
Bekerja bersama anggota keluarga atau pendamping untuk :
a.
b.
c.
d.

Mengucapkan kata-kata yang memberikan hati dan pujian kepada ibu.


Membantu ibu bernafas secara benar pada saat kontraksi.
Memijat punggung, kaki atau kepala ibu dan tindakan-tindakan bermanfaat lainnya.
Mengusap muka ibu secara lembut dengan menggunakan kain yang dibasahi air hangat atau

dingin.
e. Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.

f. Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya membantu ibu untuk berganti
posisi, melakukan rangsangan taktil, memberikan makanan dan minuman, teman bicara,
dan memberikan dukungan dan semangat selama persalinan dan melahirkan bayinya.
g. Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan anggota
keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses persalinan atau kelahiran
bayi kepada mereka.
h. Tenteramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani kala dua persalinan. Lakukan
bimbingan dan tawarkan bantuan jika diperlukan.
i. Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran.
Setelah pembukaan lengkap, anjurkan ibu hanya meneran apabila ada dorongan kuat dan
spontan untuk meneran. Jangan menganjurkan untuk meneran berkepanjangan dan menahan
napas. Anjurkan ibu beristirahat di antara kontraksi. Alasannya karena meneran secara
berlebihan menyebabkan ibu sulit bernapas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu dan
meningkatkan risiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen melalui
plasenta (Enkin, et al, 2000).
Anjurkan ibu untuk minum selama kala dua persalinan. Alasannya, ibu bersalin mudah
sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Cukupnya asupan

cairan dapat mencegah ibu mengalami hal tersebut. (Enkin, et al, 2000).
Anjurkan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan minuman air) selama persalinan
dan proses kelahiran bayi. Sebagian ibu masih ingin makan selama fase laten persalinan tetapi
setelah memasuki fase aktif, mereka hanya ingin mengkonsumsi cairan saja. Anjurkan agar
anggota keluarga sesering mungkin menawarkan minum dan makanan ringan selama proses
persalinan. Karena makanan ringan dan asupan cairan yang cukup selama persalinan akan
memberi lebih banyak energi dan mencegah dehidrasi. Dehidrasi bisa memperlambat kontraksi

dan atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang efektif.
Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala dua persalinan. Berikan rasa aman dan
semangat serta tenteramkan hatinya selama proses persalinan berlangsung. Dukungan dan
perhatian akan mengurangi perasaan tegang, membantu kelancaran proses persalinan dan
kelahiran bayi. Beri penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan setiap kali penolong
akan melakukannya, jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu, jelaskan apa yang dialami oleh
ibu dan bayinya dan hasil pemeriksaan yang dilakukan (misalnya tekanan darah, denyut jantung
janin, periksa dalam).

Menjaga lingkungan tetap bersih merupakan hal penting dalam mewujudkan persalinan yang
bersih dan aman bagi ibu dan bayinya. Hal ini merupakan unsur penting dalam asuhan sayang
ibu. Kepatuhan dalam menjalankan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik, juga akan
melindungi penolong persalinan dan keluarga ibu dari infeksi yang baik, juga akan melindungi
penolong persalinan dan keluarga ibu dari infeksi. Ikuti praktik-praktik pencegahan infeksi yang
telah ditetapkan untuk mempersiapkan persalinan dan proses kelahiran bayi. Anjurkan ibu untuk
mandi pada saat awal persalinan dan pastikan ibu memakai pakaian yang bersih. Cuci tangan
sesering mungkin, gunakan peralatan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan gunakan sarung
tangan saat diperlukan. Karena pencegahan infeksi sangat penting dalam menurunkan kesakitan
dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan keterampilan untuk melaksanakan prosedur
pencegahan infeksi secara baik dan benar juga dapat melindungi penolong terhadap risiko

infeksi.
Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara rutin selama persalinan.ibu
harus berkemih sedikitnya setiap 2 jam, atau lebih sering jika ibu merasa ingin berkemih atau
jika kandung kemih terasa penuh. Periksa kandung kemih sebelum memeriksa denyut jantung
janin (amati atau lakukan palpasi tepat diatas simfisis pubis untuk mengetahui apakah kandung
kemih penuh). Anjurkan dan antarkan ibu untu berkemih dikamar mandi. Jika ibu tidak dapat

berjalan ke kemar mandi, berikan wadah urin.


WHO dan Asosiasi Rumah sakit Internasional menganjurkan untuk tidak menyatukan ruang
bersalin dengan kamar mandi atau toilet karena tingginya frekuensi penggunaan, lalu lintas antar
ruang, potensi cemaran mikroorganisme, percikan air atau lantai yang basah akan meningkatkan
resiko infeksi nosokomial terhadap ibu, bayi baru lahir dan penolong sendiri.
Hindarkan terjadinya kandung kemih yang penuh karena berpotensi untuk :
a.
b.
c.
d.
e.

Memperlambat turunnya janin dan mengganggu kemajuan persalinan


Menyebabkan ibu tidak nyaman
Meningkatkan risiko perdarahan pascapersalinan yang disebabkan oleh atonia uteri
Mengganggu penatalaksanaan distosia bahu
Meningkatkan risiko infeksi saluran kemih pascapersalinan

2. Konsep Asuhan Sayang Ibu


Konsep asuhan sayang ibu menurut Pusdiknakes, 2003 adalah sebagai berikut:

1. Asuhan yang aman berdasarkan evidence based dan ikut meningkatkan kelangsungan hidup
ibu. Pemberian asuhan harus saling menghargai budaya, kepercayaan, menjaga privasi,
memenuhi kebutuhan dan keinginan ibu.
2. Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama proses persalinan,
menghargai kebiasaan budaya, praktik keagamaan dan kepercayaan dengan melibatkan ibu
dan keluarga dalam pengambilan keputusan.
3. Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan
proses alamiah dan tidak perlu intervensi tanpa adanya komplikasi.
4. Asuhan sayang ibu berpusat pada ibu, bukan pada petugas kesehatan.
5. Asuhan sayang ibu menjamin ibu dan keluarganya dengan memberitahu tentang apa yang
terjadi dan apa yang bisa diharapkan.
Badan Coalition Of Improving Maternity Services (CIMS) melahirkan Safe Motherhood
Intiative pada tahun 1996. CIMS merumuskan sepuluh langkah asuhan sayang ibu sebagai
berikut ( Mufdlilah, Konsep Kebidanan,hal 165 ) :
1. Menawarkan adanya pendampingan saat melahirkan untuk mendapatkan dukungan
emosional dan fisik secara berkesinambungan.
2. Memberi informasi mengenai praktek kebidanan, termasuk intervensi dan hasil asuhan.
3. Memberi asuhan yang peka dan responsif dengan kepercayaan, nilai dan adat istiadat.
4. Memberikan kebebasan bagi ibu yang akan bersalin untuk memilih posisi persalinan
yang nyaman bagi ibu.
5. Merumuskan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk pemberian asuhan yang
berkesinambungan.
6. Tidak rutin menggunakan praktek dan prosedur yang tidak didukung oleh penelitian
ilmiah tentang manfaatnya, seperti: pencukuran, enema, pemberian cairan intervena,
menunda kebutuhan gizi, merobek selaput ketuban, pemantauan janin secara elektronik.
7. Mengajarkan pada pemberi asuhan dalam metode meringankan rasa nyeri dengan/ tanpa
obat-obatan.

8. Mendorong semua ibu untuk memberi ASI dan mengasuh bayinya secara mandiri.
9. Menganjurkan tidak menyunat bayi baru lahir jika bukan karena kewajiban agama.
10. Berupaya untuk mempromosikan pemberian ASI dengan baik.
3. Langkah - Langkah Asuhan Sayang Ibu
Ada 10 langkah asuhan sayang ibu diantaranya :
a. Menawarkan adanya pendampingan saat melahirkan untuk mendapatkan dukungan
emosional dan fisik secara berkesinambungan.
b. Memberi informasi mengenai praktek kebidanan, termasuk intervensi dan hasil asuhan.
c. Memberi asuhan yang peka dan responsif dengan kepercayaan, nilai dan adat istiadat.
d. Memberikan kebebasan bagi ibu yang akan bersalin untuk memilih posisi persalinan
yang nyaman bagi ibu.
e. Merumuskan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk pemberian asuhan yang
berkesinambungan.
f. Tidak rutin menggunakan praktek dan prosedur yang tidak didukung oleh penelitian
ilmiah tentang manfaatnya, seperti: pencukuran, edema, pemberian cairan intervena,
menunda kebutuhan gizi, merobek selaput ketuban, pemantauan janin secara elektronik.
g. Mengajarkan pada pemberi asuhan dalam metode meringankan rasa nyeri dengan/ tanpa
obat-obatan.
h. Mendorong semua ibu untuk memberi ASI dan mengasuh bayinya secara mandiri.
i. Menganjurkan tidak menyunat bayi baru lahir jika bukan karena kewajiban agama.
j. Berupaya untuk mempromosikan pemberian ASI dengan baik.
4. Prinsip Umum Sayang Ibu
a. Memahami bahwa kelahiran merupakan proses alami dan fisiologis.
b. Menggunakan cara-cara yang sederhana dan tidak melakukan intervensi tanpa ada
indikasi.
c. Memberikan rasa aman, berdasarkan fakta dan memberi kontribusi pada keselamatan
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

jiwa ibu.
Asuhan yang diberikan berpusat pada ibu.
Menjaga privasi serta kerahasiaan ibu.
Membantu ibu agar merasa aman, nyaman dan didukung secara emosional.
Memastikan ibu mendapat informasi, penjelasan dan konseling yang cukup.
Mendukung ibu dan keluarga untuk berperan aktif dalam pengambilan keputusan.
Menghormati praktek-praktek adat dan keyakinan agama.
Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan sosial ibu/ keluarganya selama
kehamilan, persalinan dan nifas.
6

k. Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.


Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan
Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan (Sarwono,Asuhan persalinan normal Halaman
336-337) antara lain :
1. Memanggil ibu sesuai namanya, menghargai dan memperlakukannya sesuai martabatnya.
2. Menjelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu sebelum memulai
3.
4.
5.
6.

asuhan tersebut.
Menjelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya
Mengajurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau kuatir.
Mendengarkan dan menanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
Memberikan dukungan, membesarkan hatinya dan menenteramkan perasaan ibu beserta

anggota keluarga yang lain.


7. Menganjurkan ibu untuk ditemani suaminya dan anggota keluarga yang lain

selama

persalinan dan kelahiran bayinya.


8. Mengajarkan suami dan anggota keluarga mengenai cara memperhatikan dan mendukung
ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.
9. Melakukan pencegahan infeksi yang baik secara konsisten.
10. Menghargai privasi ibu.
11. Menganjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi.
12. Menganjurkan ibu untuk minum cairan dan makan makanan ringan bila ia
menginginkannya.
13. Hargai dan perbolehkan praktik-praktik tradisional yang tidak memberi pengaruh
merugikan
14. Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti episiotomi, pencukuran
dan klisma
15. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya segera setelah lahir
16. Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah kelahiran bati
17. Siapkan rencana rujukan
18. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik serta bahan-bahan,
perlengkapan, dan obat-obatan yang diperlukan. Siap untuk melakukan resusitasi bayi
baru lahir pada setiap kelahiran bayi.
Asuhan sayang ibu pada masa pascapersalinan :
1. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya ( rawat gabung)
2. Bantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan anjurkan pemberian ASI sesuai
permintaan
7

3. Ajarkan kepada ibu dan kelurganya mengenai nutrisi dan istirahat yang cukup setelah
melahirkan
4. Anjurkan suami dan anggota keluarga untuk memeluk bayi dan mensyukuri kelahiran
bayi
5. Ajarkan kepada ibu dan anggota keluarganya tentang bahaya dan bahaya dan tanda-tanda
bahay yag dapat diamati dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika terdapat
masalah atau kekhawatiran

B.
Posisi Meneran Pada Saat Pesalinan
1. Pengertian
Menurut WHO persalinan normal adalah persalinan yang dimulai secara spontan (dengan
kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko rendah pada

awal persalinan dan

presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara 37-42 minggu setelah persalinan ibu
maupun bayi berada dalam kondisi baik. Persalinan normal disebut juga partus spontan adalah
proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alatalat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya belangsung kurang dari 24 jam. (Sujiyatini,
dkk, 2011 : 1).
Persalinan merupakan suatu peristiwa fisiologis tanpa disadari dan terus berlangsung.
Posisi persalinan mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan. Penolong persalinan
dapat membantu ibu agar tetap tenang dan rileks, maka penolong persalinan tidak boleh
mengatur posisi meneran. Penolong persalinan harus memfasilitasi ibu dalam memilih sendiri
posisi meneran dan menjelaskan alternatif-alternatif posisi meneran bila posisi bila posisi yang
dipilih ibu tidak efektif. (Sumarah, dkk, 2009 : 102).
Pada saat proses persalinan akan berlangsung, ibu biasanya di anjurkan untuk mulai
mengatur posisi telentang atau litotomi. Tetapi berdasarkan penelitian yang telah dilakukan

ternyata posisi telentang ini tidak boleh dilakukan lagi secara rutin pada proses persalinan, hal ini
dikarenankan :
a) Bahwa posisi telentang pada proses persalinan dapat mengakibatkan berkurangnya aliran
darah ibu ke janin.
b) Posisi telentang dapat berbahaya bagi ibu dan janin , selain itu posisi telentang juga
mengalami konntraksi lebih nyeri, lebih lama, trauma perineum yang lebih besar.
c) Posisi telentang atau litotomi juga dapat menyebabkan kesulitan penurunan bagian
bawah janin.
d) Posisi telentang bisa menyebabkan hipotensi karena bobot uterus dan isinya akan
menekan aorta, vena kafa inferior serta pembuluh - pembuluh lain dalam vena tersebut.
Hipotensi ini bisa menyebabkan ibu pingsan dan seterusnya bisa mengarah ke anoreksia
janin.
e) Posisi litotomi bisa menyebabkan kerusakan pada syaraf di kaki dan di punggung dan
akan ada rasa sakit yang lebih banyak di daerah punggung pada masa post partum (nifas).
f) Pada posisi ini pasien akan lebih sulit untuk melakukan pernafasan.
g) Pasien merasa terbatas dalam melakukan pergerakan.
2. Tujuan dan keuntungan
a. Tujuan mengatur posisi dalam persalinan antara lain :
a) Memberikan kenyamanan dalam proses persalinan
b) Mempermudah atau memperlancar proses persalinan dan kelahiran bayi
c) Mempercepat kemajuan persalinan
b. Keuntungan mengatur posisi dalam persalinan antara lain :
a) Mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan
b) Lama kala II lebih pendek
c) Laserasi perineum lebih sedikit
d) Menghindari persalinan yang harus ditolong dengan tindakan
e) Nilai APGAR lebih baik
3. Posisi Posisi Dalam Persalinan
Pada saat proses persalinan akan berlangsung, ibu biasanya di anjurkan untuk mulai
mengatur posisi telentang atau litotomi.
Adapun posisi yang dianjurkan pada proses persalinan antara lain posisi tegak, berbaring
miring, jongkok, duduk atau setengah duduk dan merangkak. Hal ini berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Bhardwaj, Kakade alai 1995, Nikodeinn 1995, dan Gardosi 1989.
1.

Posisi tegak/berdiri
Menurut Rohani (2011:53) menyatakan bahwa pada posisi ini ibu disangga oleh
suami dibelakangnya. Sedangkan menurut Sumarah (2009:102) menyatakan bahwa pada

posisi berdiri memudahkan penurunan kepala janin, memperluas rongga panggul sebesar
28 % lebih besar pada pintu bawah panggul, memperkuat dorongan meneran.
Posisi ini mempunyai kelebihan sebagai berikut :
a) Posisi tegak dilaporkan mengalami lebih sedikit rasa tak nyaman dan nyeri.
b) Posisi tegak dapat membantu proses persalinan kala II yang lebih singkat.
c) Posisi tegak membuat ibu lebih mudah mengeran, peluang lahir spontan lebih besar, dan
robekan perineal dan vagina lebih sedikit.
d) Posisi tegak dalam persalinan memiliki hasil persalinan yang lebih baik dan bayi baru
lahir memiliki nilai apgar yang lebih baik.

Gambar Posisi Tegak / Berdiri


2.

Posisi Jongkok
Posisi ini sudah dikenal sebagai posisi bersalin yang alami. Beberapa suku di Papua
dan daerah lain memiliki kebiasaan melakukan persalinan dengan cara berjongkok seperti
ini. Oleh karena memanfaatkan gravitasi tubuh, ibu tidak usah terlalu kuat mengejan.
Sementara bayi pun lebih cepat keluar lewat jalan lahir. Tak heran karena berbagai
keunggulan tersebut, beberapa RS/RSB di Jakarta menerapkan posisi persalinan ini untuk
membantu pasiennya. Posisi jongkok membantu mempercepat kemajuan kala II
persalinan dan mengurangi rasa nyeri. (JPNK-KR, 2007 : 82).
Posisi jongkok memudahkan penurunan kepala janin ,memperluas rongga panggul
sebesar 28 % lebih besar pada pintu bawah panggul, memperkuat dorongan meneran.
Posisi jongkok dapat memudahkan dalam pengosongan kandung kemih. Jika kandung
kemih penuh akan dapat memperlambat penurunan bagian bawah janin. (Sumarah, dkk,
2009 : 102). Di Indonesia < 10% posisi miring ini terjadi menurut Dr. Dwi Rahmiati
Hasyar.
10

Keuntungan :
1. Memperluas rongga panggul, diameter tranversa bertambah 1 cm dan diameter
anteroposterior bertambah 2 cm.
2. Persalinan lebih mudah.
3. Posisi ini menggunakan gaya gravitasi untuk membantu turunnya bayi.
4. Mengurangi trauma pada perineum. (Rohani , dkk , 2011 : 50)
Sedangkan kelemahannya, melahirkan dengan posisi jongkok amat berpeluang
membuat kepala bayi cedera. Soalnya, tubuh bayi yang berada dijalan lahir bisa meluncur
sedemikian cepat. Untuk menghindari cedera, biasanya ibu berjongkok di atas bantalan
empuk yang berguna menahan kepala dan tubuh bayi. Bagi para dokter, posisi ini dinilai
kurang menguntungkan karena menyulitkan pemantauan perkembangan pembukaan dan
tindakan-tindakan persalinan lainnya, misalnya episiotomi memantau perkembangan
pembukaan.

Gambar Posisi Jongkok


3.

Posisi setengah duduk


Posisi ini posisi yang paling umum diterapkan diberbagai RS/RSB di segenap
penjuru tanah air. Pada posisi ini, pasien duduk dengan punggung bersandar bantal, kaki
ditekuk dan paha dibuka ke arah samping. Posisi ini cukup membuat ibu merasa nyaman.
(Rohani, dkk, 2011 : 52)
Dengan posisi ini penolong persalinan lebih leluasa dalam membantu kelahiran
kepala janin serta lebih leluasa untuk dapat memperhatikan perineum. (Sumarah, dkk,
2009 : 102). Dari hasil penelitian menurut Dr. Dwi Rahmiati Hasyar terdapat >50%
kejadian pada posisi setengah duduk.
Keuntungan :
11

1. Memudahkan melahirkan kepala bayi.


2. Membuat ibu nyaman.
3. Jika merasa lelah ibu bisa beristirahat dengan mudah. (Rohani, dkk, 2011 : 144)
Keuntungan :
1. Membantu dalam penurunan janin dengan kerja gravitasi menurunkan janin ke dasar
panggul.
2. Lebih mudah

bagi

bidan

untuk

membimbing

kelahiran

kepala

bayi

dan

mengamati/mensupport perineum. (Sulistyawati, Ari, dkk, 2010 : 105)


Kekurangannya yaitu posisi ini bisa menyebabkan keluhan pegal di punggung dan
kelelahan, apalagi kalau proses persalinannya lama.

Gambar Setengah Duduk

4.

Posisi duduk
Pada posisi ini, duduklah diatas tempat tidur dengan disangga beberapa bantal atau
bersandar pada tubuh pasangan. Kedua kaki ditekuk dan dibuka tangan memegang lutut
dan tangan pasangan membantu memegang perut ibu. (Rohani, dkk, 2011 : 52).
Menurut Sumarah (2009 : 102) dengan posisi duduk penolong persalinan lebih
leluasa dalam membantu kelahiran kepala janin serta lebih leluasa untuk dapat
memperhatikan perineum.
Keuntungan :
1. Posisi ini memanfaatkan gaya gravitasi untuk membantu turunnya bayi.
2. Memberi kesempatan untuk istirahat di antara dua kontraksi.
3. Memudahkan melahirkan kepala bayi. (Rohani, dkk, 2011 : 53)

12

Gambar Posisi Duduk


5.

Posisi miring atau lateral


Posisi miring membuat ibu lebih nyaman dan efektif untuk meneran dan membantu
perbaikan oksiput yang melintang untuk berputar menjadi posisi oksiput anterior dan
memudahkan ibu beristirahat diantara kontraksi jika ia mengalami kelelahan dan juga
mengurangi resiko terjadinya laserasi perineum. (JPNK-KR, 2007 : 82). Menurut Dr. Dwi
Rahmiati Hasyar posisi miring ini di Indonesia terjadi sekitar < 40%.
Posisi berbaring miring kekiri dapat mengurangi penekanan pada vena cava inferior
sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia karena suplai oksigen tidak
terganggu dapat memberi suasana rileks bagi ibu yang mengalami kecapekan dan dapat
pencegahan terjadinya laserasi/robekan jalan lahir. (Sumarah, dkk, 2009 : 102)
Posisi ini mengharuskan si ibu berbaring miring ke kiri atau ke kanan. Salah satu
kaki diangkat, sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Posisi yang akrab disebut
posisi lateral ini, umumnya dilakukan bila posisi kepala bayi belum tepat. Normalnya,
posisi ubun-ubun bayi berada di depan jalan lahir. Posisi kepala bayi dikatakan tidak
normal jika posisi ubun-ubunnya berada di belakang atau di samping. Dalam kondisi
tersebut biasanya dokter akan mengarahkan ibu untuk mengambil posisi miring. Arah
posisi ibu tergantung pada letak ubun-ubun bayi. Jika berada dikiri ibu dianjurkan
mengambil posisi miring ke kiri sehingga bayi, bisa berputar, jika berada dikanan ibu
dianjurkan mengambil posisi miring ke kanan sehingga bayi diharapkan bisa berputar.
(Rohani, dkk, 2011 : 123)
Keuntungan :
1. Oksigenisasi janin maksimal karena dengan miring kekiri sirkulasi darah ibu ke janin
lebih lancar.
13

2. Memberi rasa santai bagi ibu yang letih.


3. Mencegah terjadinya laserasi. (Sulistyawati, dkk, 2010 :105)
Keuntungan :
1. Perdarahan balik ibu berjalan lancar, sehingga pengiriman oksigen dalam darah dari ibu
ke janin melalui plasenta tidak terganggu.
2. Kontraksi uterus lebih efektif.
3. Memudahkan bidan dalam memberikan pertolongan persalinan. Karena tidak terlalu
menekan proses pembukaan akan berlangsung sehingga persalinan berlangsung lebih
nyaman. (Rohani, dkk, 2011 : 50)
Kekurangannya yaitu posisi ini membuat dokter atau bidan sedikit kesulitan
membantu proses persalinan, kepala bayi lebih sulit dipegang atau diarahkan, bila harus
melakukan episiotomi pun posisinya lebih sulit.

Gambar Posisi Miring Atau Lateral


6.

Posisi merangkak
Posisi merangkak membuat ibu lebih nyaman dan efektif untuk meneran dan
membantu perbaikan oksiput yang melintang untuk berputar menjadi posisi oksiput
anterior dan memudahkan ibu beristirahat diantara kontraksi jika ia mengalami kelelahan
dan juga mengurangi resiko terjadinya laserasi perineum. (JPNK-KR, 2007 : 82).
Posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasa sakit pada punggung
mempermudah janin dalam melakukan rotasi serta peregangan pada perineum berkurang.
(Sumarah, dkk, 2009 : 102).
Pada posisi ini ibu merebahkan badan dengan posisi merangkak, kedua tangan
menyanggah tubuh dan kedua kaki ditekuk sambil dibuka. (Rohani, dkk, 2011 : 51).
Keuntungan :
1. Membantu kesehatan janin dalam penurunan lebih dalam ke panggul.
2. Baik untuk persalinan dengan punggung yang sakit.
14

3. Membantu janin dalam melakukan rotasi.


4. Peregangan minimal pada perineum. (Sulistyawati, dkk, 2010 : 105)

Gambar Posisi Merangak


Sebelum bidan menolong persalinan sebaiknya melakukan hal hal sebagai berikut :
a) Menjelaskan kepada ibu bersalin dan pendamping tentang kekurangan dan kelebihan
berbagai posisi pada saat persalinan.
b) Memberikan kesempatan pada ibu memilih sendiri posisi yang dirasakan nyaman.
c) Mebicarakan tentang posisi-posisi pada ibu semasa kunjungan kehamilan.
d) Memperagakan tekhnik dan metode berbagai posisi kepada ibu sebelum memasuki kala
II.
e) Mendukung ibu tentang posisi yang dipilihnya.
f) Mengajak semua petugas untuk meninggalkan posisi litotomi.
g) Menyediakan meja bersalin atau tempat tidur yang memberi kebebasan menggunakan
berbagai posisi dan mudah dibersihkan.
4. Mengatur posisi meneran
a. Menganjurkan ibu untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan
melahirkan bayi serta anjurkan suami dan pendamping lainnya untuk membantu ibu
berganti posisi. Ibu boleh berjalan, berdiri, duduk, jongkok, berbaring miring atau
merangkak. Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya
kepala bayi dan sering kali memperpendek waktu persalinan. Bantu ibu untuk sering
berganti posisi selama persalinan.
b. Beritahukan pada ibu untuk tidak berbaring terlentang lebih dari 10 menit, karena jika ibu
berbaring terlentang maka berat uterus dan isinya (janin, cairan ketuban, plasenta, dll)
akan menekan vena cava inferior. Hal ini akan mengakibatkan turunnya aliran darah dari
sirkulasi ibu ke plasenta. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan hipoksia atau
15

kekurangan pasokan oksigen pada janin. Selain itu, posisi terlentang berhubungan dengan
gangguan terhadap proses kemajuan persalinan.
c. Saat pembukaan sudah lengkap, anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan
alamiahnya, dan beristirahat diantara kontraksi. Jika diinginkan, ibu dapat mengubah
posisinya. Posisi berdiri atau jongkok, dapat mempersingkat kala dua persalinan. Biarkan
ibu untuk mengeluarkan suara selama persalinan dan proses kelahiran berlangsung.
d. Sebagian besar penolong akan memimpin persalinan dengan menginstruksikan untuk
menarik nafas panjang dan meneran, segera setelah pembukaan lengkap. Biasanya, ibu
dibimbing untuk meneran tanpa berhenti selama 10 detik atau lebih, tiga sampai empat
kali per kontraksi. Meneran dengan cara ini dikenal sebagai meneran dengan tenggorokan
terkatup atau manuver Valsava. Hal ini ternyata dapat mengurangi pasokan oksigen ke
janin. Pada banyak penelitian, meneran dengan cara tersebut di atas, berhubungan dengan
kejadian menurunya denyut jantung janin (DJJ) dan rendahnya Apgar. Karena cara ini
berkaitan dengan buruknya keluaran janin, maka cara ini sebaiknya tidak digunakan.
Dianjurkan untuk menatalaksana kala dua persalinan secara fisiologis.
5. Membimbing Ibu untuk Meneran
Bila tanda pasti kala dua telah diperoleh, tunggu sampai ibu merasakan adanya dorongan
spontan untuk meneran. Teruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi.
6. Mendiagnosa kala dua persalinan dan memulai meneran
Langkah langkah mendiagnosa kala dua persalinan dan memulai meneran diantaranya :
a. Cuci tangan (gunakan sabun dan air bersih yang mengalir).
b. Pakai satu sarung tangan DTT/steril untuk periksa dalam.
c. Beritahu ibu saat, prosedur dan tujuan periksa dalam.
d. Lakukan periksa dalam (hati-hati) untuk memastikan pembukaan sudah lengkap (10
cm), lalu lepaskan sarung tangan.
e. Jika pembukaan belum lengkap, tenteramkan ibu dan bantu ibu mencari posisi
nyaman (bila ingin berbaring) atau berjalan-jalan di sekitar ruang bersalin. Ajarkan
cara bernapas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayinya (lihat
pedoman fase aktif persalinan) dan catatkan semua temuan pada partograf.
f. Jika ibu merasa ingin meneran tapi pembukaan belum lengkap, beritahukan belum
saatnya untuk meneran, beri semangat dan ajarkan cara bernapas cepat selama
kontraksi berlangsung. Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman dan
16

beritahukan untuk menahan diri untuk meneran hingga penolong memberitahukan


saat yang tepat untuk itu.
g. Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantu ibu mengambil
posisi yang nyaman, bimbing ibu untuk meneran secara efektif dan benar dan
mengikuti dorongan alamiah yang terjadi. Anjurkan keluarga ibu untuk membantu
dan mendukung usahanya. Catatkan hasil pemantauan pada partograf. Beri cukup
minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Pastikan ibu dapat beristirahat di antara
kontraksi.
h. Jika pembukaan sudah lengkap tapi ibu tidak ada dorongan untuk meneran, bantu ibu
untuk memperoleh posisi yang nyaman (bila masih mampu, anjurkan untuk berjalanjalan). Posisi berdiri dapat membantu penurunan bayi yang berlanjut dengan
dorongan untuk meneran. Ajarkan cara bernapas selama kontraksi berlangsung.
Pantau kondisi ibu dan bayi dan catatkan semua temuan pada partograf. Berikan
cukup cairan dan anjurkan/perbolehkan ibu untuk berkemih sesuai kebutuhan. Pantau
DJJ setiap 15 menit. Stimulasi puting susu mungkin dapat meningkatkan kekuatan
dan kualitas kontraksi. Jika ibu ingin meneran, lihat petunjuk pada butir 7 diatas.
i. Jika ibu tetap ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit pembukaan lengkap,
anjurkan ibu untuk mulai meneran di setiap puncak kontraksi. Anjurkan ibu
mengubah posisinya secara teratur, tawarkan untuk minum dan pantau DJJ setiap 510 menit. Lakukan stimulasi puting susu untuk memperkuat kontraksi.
j. Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya tersebut diatas atau jika kelahiran bayi
tidak akan segera terjadi, rujuk ibu segera karena tidak turunnya kepala bayi mungkin
disebabkan oleh disproporsi kepala-panggul (CPD).
7.
a.
b.
c.
d.

Cara Meneran
Anjurkan ibu untuk meneran mengikuti dorongan alamiahnya selama kontraksi.
Beritahukan untuk tidak menahan nafas saat meneran.
Minta untuk berhenti meneran dan beristirahat di antara kontraksi.
Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah untuk meneran jika

lutut ditarik ke arah dada dan dagu ditempelkan ke dada.


e. Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.
f. Tidak diperbolehkan untuk mendorong fundus untuk membantu kelahiran bayi.
Dorongan pada fundus meningkatkan risiko distosia bahu dan ruptura uteri. Peringatkan
anggota keluarga ibu untuk tidak mendorong fundus bila mereka mencoba melakukan itu.

17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang
ibu ( Depkes RI 2007 ). Asuhan sayang ibu membantu ibu merasa nyaman dan aman selama
proses persalinan, yang menghargai kebiasaan budaya, praktek keagamaan dan kepercayaan
(apabila kebiasaan tersebut aman ), dan melibatkan ibu dan keluarga sebagai pembuat keputusan,
secara emosional sifatnya mendukung. Cara meneran dengan tanda pasti kala dua telah
diperoleh, tunggu sampai ibu merasakan adanya dorongan spontan untuk meneran serta mencoba
posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan melahirkan bayi seperti berjalan, berdiri,
duduk, jongkok, berbaring miring atau merangkak.

B. Saran
Bidan tetap menghargai budaya, kepercayaan sang ibu dan memberitahukan posisi posisi
yang baik selama persalinan.

18

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Edisi Baru Dengan Resusitasi, Jakarta.
Depkes RI, 2001, Catatan Perkembangan Dalam Praktek Kebidanan, Jakarta.
Draft, 2001, Pelatihan Pelayanan Kebidanan, Jakarta.
Pusdiknakes WHO JHPIEGO, 2003, Asuhan Intrapartum, Jakarta.
makingmothersdoula.com
http://www.lusa.web.id/asuhan-sayang-ibu-sebagai-kebutuhan-dasar-persalinan/
http://www.kebidanan.org/penerapan-asuhan-sayang-ibu-dalam-tahapan-persalinan

19

Image,