Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ASUHAN PADA IBU BERSALIN KALA II

Oleh :
-

Ninik Afriani
Norma Chairunnissa
Nurnadila Heryuati
Nuraivi

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
TA 2013/2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan tubuh dan perawatan penunjang selama kala dua persalinan merupakan
kelanjutan asuhan yang dimulai selama kala satu persalinan.Dimodifikasi untuk
memenuhi perubahan kebutuhan wanita yang berkembang selama persalinan.
Keefektifan tindakan memberi kenyamanan bergantung pada bagaimana setiap
wanita mengalami dan menerimanya
Wanita mungkin memerlukan bantuan dalam mengatur pernapasannya dan dalam
mengefektifkan penggunaan upaya dorong alaminya. Wanita perlu dipimpin untuk
bernapas pendek dan cepat jika ia merasa ingin mendorong. Bernapas pendek dan
cepat dapat berarti melakukan inhalasi dengan cepat diikuti ekshalasi yang kuat dan
segera diulangi. Pernapasan pendek dan cepat juga dapat berarti napas tenggorok
yang dangkal dan cepat.
Perawatan tubuh, pendampingan oleh keluarga, bebas dari rasa nyeri persalinan,
penghormatan akan budaya, dan informasi tentang diri dan janinnya. asuhan tubuh
artinya metode sentuhan oleh pendamping persalinan, misalnya : mengusap mata
dengan washlap lembab, memperhatikan kebersihan tubuh, memperhatikan
kebersihan pada vulva agar ibu nyaman dan pemberian nutrisi.
B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud asuhan persalinan kala II ?
b. Apa saja perubahan fisiologis persalinan kala II ?

C. Tujuan Penulisan
a. Mengetahui perubahan yang terjadi pada ibu bersalin
b. Mengetahui proses perubahan tersebut
c. Mengetahui cara memberikan Asuhan Kebidanan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Asuhan Persalian Kala II
Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman selama
persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama
perdarahan pascapersalinan, hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. Sementara itu,
focus utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan suatu

pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani komplikasi menjadi


mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah

bayi lahir akan

mengurangi kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir. Penyesuaian ini sangat
penting dalam upaya menurunkan AKI dan AKB. Hal ini di karenakan besar
persalinan diindonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan primer dengan
penguasaan keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas tersebut
masih belum memadai.
Tujuan asuhan prsalinan kala II adalah mengupayakan kelangsungan hidup dan
mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya
yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan
dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal.

B. Perubahan fisiologis pada kala II persalinan


1. Kontraksi, Dorongan Otot-otot Dinding Uterus
Walaupun his itu suatu kontraksi dari otot-otot rahim yang fisiologis akan tetapi
bertentangan dengan kontraksi fisiologis yang lainnya,bersifat nyeri.
Nyeri ini mungkin disebabkan oleh anoxia dari sel-sel otot-otot waktu
kontraksi,tekanan pada ganglia dalam cervix dan segmen bawah rahim oleh serabutserabut otot-otot yang berkontraksi,rengangan dan tarikan pada peritoneum waktu
kontraksi.
Perasaan nyeri tergantung juga pada ambang nyeri dan penderita yang ditentukan
oleh keadaan jiwanya.kontraksi rahim bersifat otonom tidak dipengaruhi dari luar
misalnya rangsangan oelh jari-jari tangan dapat menimbulkan kontraksi (Obstetri
fisiologi universitas Padjadjaran Bandung hal.225 )

a. Kontraksi Uterus
Keaadaan segmen atas dan segmen bawah rahim pada persalinan . Sejak
kehamilan yang lanjut uterus dengan jelas terdiri dari 2 bagian,ialah segmen atas
rahim yang dibentuk oleh corpus uteri dan segmen bawah rahim yang terjadi dari
isthimus uteri. Segmen atas memegang perenan yang aktif karena berkontraksi dan
dindingnya bertambah tebal dan majunya persalinan. Sebalikanya segmen bawah
rahim memegang peranan fasif dan makin tipis dengan majunya persalinan.
Jadi secara singkat segmen atas berkontraksi,menjadi tebal dan mendorong anak
keluar, sedangkan segme3n bawah dan serviks mengadakan relaksasi dan dilatasi dan
menjadi saluran yang tipis dan teregang yang akan dilalui bayi.
Kontraksi otot rahim mempunyai sifat yang khas
1.) Setelah kontraksi maka otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke
keadaan sebelum kontraksi tapi menjadi sedikit lebih pendek walaupun
tonusnya seperti sebelum kontraksi. Kejadian ini disebut retraksi. Dengan
retraksi ini maka rongga rahim mengecil dan anak berangsur didorong ke
bawah dan tidak banyak naik lagi ke atas setelah his hilang. Akibat
retraksi ini segmen atas makin tebal dengan majunya persalinan apalagi
setelah bayi lahir.
2.) Kontraksi tidak sama kuatnya,tapi paling kuat didaerah fundus uteri dan
berangsur berkurang ke bawah dan paling lemah pada segmen bawah
rahim.
Telah dikatakan bahwa sebagai akibat retraksi,segmen atas makin mengecil.
Karena pada permulaan persalinan cervix masih tertutup,maka tentu isi rahim tidak
dapat didorang kedalam vagina : Jadi pengecilan segmen atas hanya mungkin jika
diimbangan oleh relaksasi dari segmen bawah rahim.

Sebagian dari isi rahim, keluar dari segmen atas tetapi diterima oleh segmen
bawah. Jadi segmen atas makin lama makin mengecil,sedangkan segmen bawah
semakin bawah semakin meregang dan dan isi rahim sedikit demi sedikit pindah ke
segmen bawah. Karena segmen atas makin tebal dan segmen bawah makin tipis,maka
batas antara segmen atas dan segmen bawah menjadi jelas. (Obstetri fisiologi
universitas Padjadjaran Bandung hal.227 )

2. Pergeseran Organ Dasar Panggul


a. Perubahan pada vagina dan dasar panggul :
Jalan lahir disokong dan secara fungsional ditutup oleh sejumlah lapisan
jaringan yang bersama-sama membentuk dasar panggul. Stuktur yang paling penting
adalah m. levatorani dan fasia yang membungkus permukaan atas bawahnya, yang
demi praktisnya dapat dianggap sebagai dasar panggul. Kelompok otot ini menutup
ujung bawah rongga panggul sebagai sebuah diagfagma sehingga memperlihatkan
permukaan atas yang cekung dan bagian bawah yang cembung. Di sisi lain, m.
levator ani terdiri atas bagian pubokoksigeus dan iliokoksigeus. Bagian posterior dan
lateral dasar panggul, yang tidak di isi oleh m. levator ani, diisi oleh m. piriformis dan
m. koksigeus pada sisi lain.
Ketebalan m. levator ani bervariasi dari 3 sampai 5 mm meskipun tepi-tepinya
melingkari rectum dan vagina agak tebal. Selama kehamilan, m. levator ini biasanya
mengalami hivertrofi. Pada pemeriksaan pervaginam tepi dalam otot ini dapat diraba
sebagai tali tebal yang membentang kebelakang dari pubis dan melingkari vagina
sekitar 2 cm diatas hymen. Sewaktu kontraksi, m. levator ani menarik rectum dan
vagina ke atas sesuai arah simpisis pubis sehingga bekerja menutup vagina. Otot-otot
perineum yang lebih superficial terlalu halus untuk berfungsi lebih dari sekedar
sebagai menyokong.

Tahap perubahan pergeseran organ dasar panggul :


1. Dalam kala 1 ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina yang sejak
kehamilan mengalami perubahan-perubahan sedemikian rupa sehingga
dapat dilalui oleh anak
2. Setelah ketuban pecah, segala perubahan, terutama pada dasar panggul
ditimbulkan oleh bagian depan anak. Oleh bagian depan yang maju itu,
dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding yang tipis.
3. Waktu kepala sampai di vulva, lubang vulva menghadap ke depan atas.
Dari luar, peregangan oeh bagian depan Nampak pada perineum yang
menonjol dan menjadi tipis sedangkan anus menjadi terbuka.
4. Regangan yang kuat ini dimungkinkan karena bertambahnya pembulu
darah pada vagina dan dasar panggul, tetapi kalau jaringan tersebut robek,
maka menimbulkan perdarahan yang banyak..

Normal labor :

3. Ekspulsi Janin
Ekspulsi janin adalah proses keluarnya janin dari rahim ibu melewati jalan lahir, baik
lunak maupun keras.
Ketika dasar panggul sudah lebih berelaksasi. Dengan his serta kekuatan meneran
maksimal , kepala janin dilahirkan dengan sub oksiput di bawahsimpisis (hipomoklion),
kemudian berturut-turut lahirlah dahi, muka dandagu melewati perineum. Setelah istirahat
sebentar, his mulai lagi untuk mengeluarkan badan dan anggota tubuh bayi.

Ekspulsi dibagi menjadi dua :

a. E k s p u l s i k e p a l a j a n i n ( Termasuk di dalam ekpulsi ini yaitu kelahiran


uub, dahi, muka dan dagu secara berturut-turut.)
b. E k s p u l s i t o t a l ( Yang termasuk dalam proses ini yaitulahirnya bahu
depan, bahu belakang danseluruh badan serta ekstremitas .)

Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah sympisis dan menjadi
hypomoclion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan
selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir mengikuti
lengkung carrus (kurva jalan lahir).
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah symphsis dan menjadi
hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan dapat menyusul
dan selanjutnya seluruh badan anak lahir secara dengan pakai jalan lahir.
Diatas telah diuraikan jalanya persalinan dengan postio occipi to transversa ialah
dengan ubun-ubun kecil kiri melintang. Kalau ubun-ubun kecil sekarang memutar ke
kanan artinya searah dengan jarum jam.. putaran paksi luar terjadi kea rah tuber
ischiadicum sebelah kanan. Pada postio occipito anterior putaran paksi hanya 45
derajat ke kanan atau kekiri
1) Mekanisme pada postio occipito posterior
a) Ubun-ubun kecil kiri belakang
b) Ubun-ubun kecil kanan belakang
c) Ubun-ubun kecil belakang
Postio occipito posterior kanan lebih sering daripada postio occipito
posterior kiri.
Sebab-sebab Postio occipito posterior ialah panggul sempit atau karena plasenta
terdapat pada dinding depan

rahim. Anak dalam posisi ini dapat lahir secara

spontan,walupun sedikit lebih sering harus dibantu dengan forceps. Kalaunpunggung


terdapat sebelah kanan atau kalau bagian-bagian kecil jelas teraba sebelah depan
harus diingatkan kemungkinan Postio occipito posterior.

Pemeriksaan pada Postio occipito posterior menunjukkan


Leopold I

: Dalam fundus teraba bokong

Leopold II

: Punggung teraba sebelah kanan,bagian-bagian kecil sebelah


kiri agak ke depan dan lebih mudah teraba di bandingkan pada
Postio occipito posterior

Leopold III

: Kepala dapat digerakan di atas symphsis kecuali kalau sudah


masuk pintu atas panggul

Leopold IV

: Tonjolan kepala sebelah kiri

Auscultasi

: Bunyi jantung anak terdengar sebelah kanan

Taucher

: Satura sagitalis serong,ubun-ubun kecil teraba sebelah kanan


belakang.

Mekanisme persalinan pada Postio occipito posterior kebanyakan sama dengan


letak belakang kepala lainnya,hanya putaran puksi jauh ialah sebanyak 1350
Sudah jelas bahwa putaran paksi semacam ini meminta banyak tenaga dan
waktu dan bahwa gangguan putaran paksi lebih besar kemungkinannya.
Selain dari pada jauhnya putaran paksi, terjadi jugs torsi (putaran) pada leher
anak yang sangat.
Maka jika
-His kurang baik, Fleksi kurang,spina ishiadia menonjol atau
distantia intertuberosum sempit,, Putaran paksi tidak lengkap atau sama sekali
tidak terjadi
Jika putaran paksi tidak lengkap,maka putaran paksi terhenti dengan ubunubun kecil melintang. Kejadian ini disebut *letak malang melintang rendah =
transverse arrest*

10

Jika putaran paksi sama sekali tidak terjadi maka disebut * Postio occipito
posterior persisten*
Kadang-kadang pada Postio occipito posteriorfleksi sedemikian kurangnya
hingga ubun-ubun besar lebih rendah dari ubun-ubun besar lebih rendah dari
ubun-ubun kecil,maka pada putaran paksi ubun-ubun besarlah yang memutar
kedepan

ke

bawah

syhmphsis,sedangkan

ubun-ubun

kecil

bergerak

kebelakang. Keadaan ini disebut *letak puncak kepala*.


Fleksi kurang ini, mungking ada hubungan dengan kurangnya kyphose dari
tulang punggung: karena tulang punggung terdapat sebelah belakang, maka
tulang punngung anak tertekan pada tulang punngung ibu hingga tidak

memungkinkan fleksi tulang punngung yang baik


Pada letak puncak kepala anak lahir dengan bagian muka di bawah symphsis :
Glabella menjadi hypomochlion dan dengan fleksi lahirlah ubun-ubun kecil
dan belakang kepala pada pinggir perineum kemudian dengan extensi lahirlah
hidung,mulut,dan dagu. (Obstetri fisiologi universitas Padjadjaran Bandung
hal.243)
C. Macam ASuhan Persalnan Kala II

a.

1. Menurut Sumarah (2008) asuhan Kala II meliputi :


Pemantauan ibu
1) Mengevaluasi his (kontraksi uterus) berapa kali terjadi dalam sepuluh
menit (frekuensi his), lamanya his, dan kekuatan his serta kaitan antara
2)

ketiga hal tersebut dengan kemajuan persalinan.


Mengkaji keadaan kandung kencing dengan menganamnese ibu dan
melakukan palpasi kandung kencing untuk memastikan kandung kencing

3)
4)

kosong.
Mengevaluasi upaya meneran ibu efektif atau tidak.
Pengeluaran pervaginam serta penilaian serviks meliputi effasement

(pendataran serviks) dan dilatasi serviks (pembukaan).


Pada kala IIini dilakukan pemantauan terhadap ibu yang meliputi :
a). kontraksi atau his

11

setelah dikemukakan, uterus terdiri atas 3 lapisan otot yaitu : otot polos,
lapisanluar otot longitudinal, dan lapisan dalam sirkuler, di mana dua
diantara lapisan ini terdapat lapisan dengan otot-otot yang beranyaman
tikar. Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah his,
kontraksi otot-otot perut, kontraksi diagfragma, dan aksi dari ligament.
Kontraksi uterus terjadi karena otot polos rahim bekerja dengan baik dan
sempurna, dengan sifat :
-

Kontraksi simetris
Fundus dominan
Relaksasi

Pada waktu kontraksi, otot rahim menguncup sehingga menjadi tebal


dan lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil serta mendorong janin
dan kantung amnion kea rah segmen bawah rahi dan servix. Dalam
mengawasi persalinan hendaknya selalu di buat daftar catatan tentang his
pada status ibu.
b). Tanda-tanda kala II
-

ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran

adanya tekanan pada anus

perineum menonjol

vulva dan anus membuka

c). keadaan ibu


dilihat dari : kesadarann, TD, nadi, suhu, cairan yang masuk
d). kemajuan persalinan

b.

pembukaan servix

penurunan kepala janin

his

Pemantauan janin
1) Penurunan kepala, presentasi, dan sikap.
2) Mengkaji kepala janin adakah caput atau molase.
3) Denyut jantung janin (DJJ) meliputi frekuensi, ritmenya, dan
kekuatannya.
12

4) Air ketuban meliputi warna, bau, dan volume.


Pemantauan janin meliputi :
a). sebelum lahir
- DJJ
- cairan ketuban
- MOULASE/ penyusupan kepala janin
b). saat lahir
- apgar skor
Menurut asuhan persalinan normal (2008) :
1

Asuhan sayang ibu


a Anjurkan agar ibu selalu didampingi oleh keluarga nya selama proses
persalinan dan kelahiran bayinya. Dukungan dari suami, orang tua dan
kerabat yang disukai ibu sangat diperlukan dalam menjalani proses
persalinan.
Alasan : hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungan nya dengan
dukungan dari keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan
b

( enkin, et al, 2000 )


Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya membantu ibu
untuk berganti posisi, melakukan rangsangan taktil, memberikan makanan
dan minuman, teman bicara, dan memberikan dukungan dan semnagta
selama proses persalinan dan melahirkan bayinya dan melakukan pijatan

untuk mengurangi rasa sakit.


Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada
ibu dan anggota keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan

proses persalinan atau kelahiran bayi kepada mereka.


Tentramkan hati ibu dalam menghadapidan menjalani kala 2 persalinan.

e
f

Lakukan bimbingan dan tawarkan bantuan jika diperlukan.


Bantu ibu untuk memilih posisi yang aman saat meneran.
Setelah pembukaan lengkap, anjurkan ibu hanya meneran apabila ada
dorongan kuat dan spontan untuk meneran. Jangan menganjurkan untuk
meneran berkepanjangan dan menahan nafas. Anjurkan ibu beristirahat
disela kontraksi.

13

Alasan : meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernafas,


sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu dan meningkatkan resiko
asfiksia pada bayi sebagai akibat turunya pasokan oksigen melalui
g

placenta ( enkin, et al, 2000 )


Anjurkan ibu untuk minum selama persalinan kala 2.
Alasan : ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses
persalinan dan kelahiran bayi. Cukupnya asuhan cairan dapat mencegah
ibu mengalami hal tersebut ( enkin, et al, 2000 )
a Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala 2 persalinan.
Berikan rasa aman dan semangat sertya tentramkan hatinya selaa
proses persalinan berlangsung. Dukunhgan dan perhatian akan
mengurangi perasaan tegang, membantu kelancaran proses persalinan,
dan kelahiran bayi. Beri penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap
tindakan setiap kali penolong akan melakukanya, jawab setiap
peertanyaan yang diajukan ibu, jelaskan apa yang dialami ibu dan
bayinya dan hasil pemeriksaan yang dilakukan, misalnya TD, nadi,

DJJ, dan periksa dalam.


Membersihkan perineum ibu

Praktik terbaik pencegahan infeksi pada persalinan kala dua diantaranya adalah
melakukan pembersihan vulva dan perineum menggunakan air matang (DTT).
Gunakan gulungan kapas atau kassa yang bersih, bersihkan mulai dari bagian atas ke
arah bawah (dari bagian anterior vulva kearah rectum) untuk mencegah kontaminasi
tinja. Letakkan kain bersih dibawah bokong saat ibu mulai meneran. Sediakan kain
bersih cadangan di dekatnya. Jika keluar tinja saat ibu meneran, jelaskan bahwa hal
itu biasa terjadi. Bersihkan tinja tersebut dengan kain alas bokong atau tangan yang
sedang menggunakan sarung tangan. Ganti kain alas bokong dan sarung tangan DTT.
Jika tidak ada cukup waktu untuk membersihkan tinja karena bayi akan sefera lahir
maka sisihkan dan tutupi tinja tersebut dengan kain bersih.
3

Mengosongkan kandung kemih

14

Anjurkan ibu dapat berkemih setiap 2 jam atau lebih sering jika kandung kemih
selalu terasa penuh. Jika diperlukan, bantu ibu untuk kekamar mandi. Jika ibu tak
dapat berjalan kekamar mandi, bantu agar ibu dapat duduk dan berkemih diwadah
penampung urin. Alasannya, kandung kemih yang penuh menganggu penurunan
kepala bayi. Selain itu juga menambah rasa nyeri pada perut bawah, menghambat
penatalaksanaan distosia bahu, menghalangi lahirnya plasenta dan perdarahan
pascapersalinan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman selama
persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama
perdarahan pascapersalinan, hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. Sementara itu,
focus utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan suatu
pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani komplikasi menjadi
mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.

15

Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah

bayi lahir akan

mengurangi kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir. Penyesuaian ini sangat
penting dalam upaya menurunkan AKI dan AKB. Hal ini di karenakan besar
persalinan diindonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan primer dengan
penguasaan keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas tersebut
masih belum memadai.
B. Saran
Diharapkan dengan makalah ini mahasiswa mampu mengetahui apa yang
dimaksud dengan asuhan persalinan kala II dan lebih memahaminya dengan
membaca sumber lain di buku yang ada di perpustakaan.

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung,


1983. Bandung : ELEMAN
Prawirohardjo, sarwono, 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Marni, 2012. INTRANATAL CARE Asuhan Kebidanan Pada Persalinan.
Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR
Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan reproduksi Departemen Kesehatan
Republic Indonesia, 2008. ASUHAN PERSALINAN NORMAL Asuhna Esensial,

16

Pencegahan dan Penanggulangan Segera Komplikasi Persalinan dan Bayi Baru Lahir.
Jakarta : USAID
Sulistryorini, dewie, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta : Graha
Ilmu
Medforth janet, dkk. Kebidanan Oxford. EGC
http://elviradwiseptia.wordpress.com/2013/07/30/asuhan-kebidanan-pada-kala-iipersalinan/
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/16/asuhan-pada-ibu-bersalin-kala-2/

17