Anda di halaman 1dari 10

A.

PENGERTIAN DASAR KEPEMIMPINAN


Kepemimpinan pada dasarnya bersifat subjektif, dalam arti sempit
tidak dapat di ukur secara objektif,dan dalam arti yang sangat luas
tidak dapat dari atau diajarkan di sekolah. Kepemimpinan adalah
kemampuan member inspirasi kepada orang lain untuk bekerja sama
sebagian suatu kelompok, agar dapat mencapai suatu tujuan umum.
Kemampuan memimpin diperoleh melalui

pengalaman hidup sehari-

hari. Pengertian lain tentang kepemimpinan ialah segala hal yang


bersangkutan dengan pemimpin dalam menggrakkan, membimbing, dan
mengarahkan orang lain agar melaksanankan tugas dan mewujudkan
sasaran yang ditetapkan (LAN RI, 1996).
Banyak pendapat, yang kadang berbeda-beda, tentang apa yang
dimaksud dengan pemimpin yang baik. Demikian juga tentang apa yang
menjadi kewajiban setiap pemimpin.. R.I,. Khan mengemukakan bahwa
seorang pemimpin menjalankan pekerjaan dengan baik bila:
a. Memberikan kepuasan terhadap kebutuhan langsung para bawahannya;
b. Menyusun jalur pencapaian tujuan;
c. Menghilangkan hambatan-hambatan pencapaian tujuan;
d. Mengubah tujuan karyawan sehingga tujuan mereka bias berguna
secara organisatoris.
Robert .C Millus menyebutkan tanggung jawab para pemimpin secara
rinci, yaitu:
1. Menentukan tujuan pelaksanaan kerja yang realitas, dalam arti
kuantitas, kualitas, keamanan, dan lain sebagainya.
2. Melengkapi para karyawan/pegawai dengan sumber-sumber dana
yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya;

3. Mengomunikasikan

kepada

para

karyawan

tentang

apa

yang

diharapkan dari mereka;


4. Memberikan reward/insentif yang sepadan untuk mendorong prestasi;
5. Mendeklarisasikan wewenang apabila diperlukan dan mengundang
partisipasi apabila memungkinkan;
6. Menghilangkan hambatan untuk pelaksanaan pekerjaan yang
efektif;
7. Menilai pelaksanaan pekerjaan dan mengomunikasikan hasilnya;
8. Menujukkan perhatian kepada para karyawan/karyawati.
B. WEWENANG KEPEMIMPINAN
Agar seorang pemimpin bias mencapai tujuan secara efektif, ia
harus mempunyai wewenang untuk memimpin para staf/bawahan
dalam usaha mencapai tujuan tersebut. Wewenang ini disebut
wewenang

kepemimpinan,

yaitu

hak

untuk

bertindak

atau

memengaruhi tingkah laku orang yang dipimpinnya. Wewenang


kepemimpinan itu.
Secara umum dua konsep pemberian wewenang kepemimpinan
dilihat dari arahnya, yaitu dari atas dan dari bawah. Wewenang dari
atas

umumnya berasal dari atasannya, misalnya seorang direktur

rumah sakit menujukkan seorang perawat yang dinilai mampu untuk


menjadi kepala bagian perawat dan kemudian diberi wewenang untuk
memerintah. Cara demikian ini disebut top-down authority, atau
dari kewenangan dari atas ke bawah.
Konsep

yang

kedua

adalah

bottom-up

outhority,

atau

kewenangan dari bawah ke atas, yang berdasarkan pada teori


penerimaan (receptance theory). Pada konsep ini, pemimpin dipilih
oleh mereka yang akan menjadi bawahannya. Apabila seseorang

diterimah sebagai pemimpin dan diberi wewenang untuk memimpin,


maka para bawahan akan menghargai wewenang tersebut. Pemimpin
tersebut bias juga merupakan seorang wakil yang mewakili nilai-nilai
yang meraka anggap penting.

C. KRITERIA PEMIMPIN
Dari

daftar

kewajiban

yang

harus

dilakukan

oleh

seorang

pemimpin, paling sedikit ia harus mampu untuk memimpin para


pegawai /bawahan untuk mencapai tujuan insitusi dan harus mampu
untuk menangani hubungan antara karyawan (interpersonal relation).
Pemimpin yang berkualitas harus memenuhi kriteria dan sebagai
berikut:
a. Mempunyai keinginan untuk menerima tanggu jawab;
b. Mempunyai kemampuan untuk perceptive insight atau persepsi
introspektif;
c. Mempunyai kemampuan untuk menentukan prioritas;
d. Mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi
D. GAYA KEPEMIMPINAN
Gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang dirancang
untuk mengiteraksikan tujuan organisasi dengan tujuan idividu, untuk
mencapai

suatu

tujuan.

Dasar

yang

sering

digunakan

untuk

mengelompokkkan gaya kepemimpinan adalah (1) tugas yang harus


dilakukan oleh pemimpin , (2) kewajiban pemimpin, dan (3) falsafah
yang dianut oleh pemimpin.

Harris membagigaya kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu (1)


kepemimpinan otoktarik (autoctaric leadership), (2) kepemimpinan
participative leadership), dan (3) kepemimpinan free reign ( free reign
leadership). Berikut ini akan dijelaskan satu per satu.
1. Kepemimpinan otorotik
Seorang pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan otorotik
auoto cratic) menganggap bahwa

semua kewajiban untuk

mengambil

tindakan,

keputusan,

menjalankan

mengarahkan,

memberikan motivasi, dan mengawasi bawahannya berpusat di


tangannya.

Pemimpin

berkompenen

untuk

seperti

ini

memutuskan

merasa
yang

bahwa

hanya

menganggap

ia

bahwa

bawahannya tidak mampu untuk mengarahkan diri merekan


sendiri.
2. Kepemimpinan partisipatif
Seorang pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya secara
konsultatif adalah pemimpin yang menggunakan gaya partisipatif
artinya ini tidak mendeklarasikan wewenangnya untuk membuat
keputusan akhir dari untuk memberikan pengarahan tertentu
kepada staf/bawahan. Akan tetapi ia mencari berbagai pendapat
dan pemikiran para bawahan mengenali keputusan yang akan
diambil. Pemimpin dengan gaya partisipasif akan secara seris
mendengarkan dan memiliki pemikiran mereka sejauh pemikiran
tersebut bias di praktikkan.
3. Kepemimpinan free reign
Dalam gaya kepemimpinan

free

reign,

mendegelesasikan

wewenang untuk mengambil keputusan kepada para bawahan


dengan

agak

lengkap.

Pada

perinsip

nya

pemimpin

akan

mengatakan inilah pekerjaan yang harus anda lakukan. Saya

tidak

peduli

diselesaikan

bagaimana
dengan

anda

baik.

Di

mengerjakan
sini

tersebut

pemimpin

dapat

menyerahkan

tanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut kepada para


staf/bawahan.
E. FIGUR KEPEMIMPINAN
Figur kepemimpinan dalam hal ini diistilahkan harus mempuyai
karakter rajapandita. Bila diartikan, raja artinya memiliki ilmu dan
wawasan keagamaan/ moralitas.
Untuk menjadi rajapandita seorang pemimpin harus mempuyai
karakter sebagai berikut.
1. Berpendidikan dan berpengalaman dalam subtansi tugas dan
tanggung jawabnya. Hal ini dikuatkan dalam sebuah hadist
bahwa, Jika suatu urusan yang diserahkan kepada yang bukan
ahliny, maka maka tungglah kehancurannya.
2. Berbudi luhur.
Tidak sombong
Mampu membantu keadaan dan mendengarkan aspirasi

serta keluhan kesah anggotanya,


Menjujung tinggi hokum dan konsitusi Negara
Demokratis
Tegas dalam bertindak san menengakkan kebenaran,
Arif dan bijaksana,
Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri
handayani,

Gaya kepemimpinan menurut Liker dalam Nursalam (2002)


mengelompokkan gaya kepemimpinan dalam empat system.
1. Sistem otoriter- Eksploitatif.

Pemimpin ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan


yang rendah terhadap bawahannya, memotivitasi bawahan
melalui

ancaman

atau

hukuman.

Komunikasi

yang

dilakukan bersifat satu arah ke bawah (top-down).


2. Sistem Benevolent- Otoritatif (Authoritative).
Pemimpin mempercayai bawahan sampai pada tingkat
tertentu,memotivasi

bawahan

dengan

ancaman

atau

hukuman tetapi tidak selalu, dan membolehkan komunikasi


ke atas. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan
mendelegasikan wewenang, meskipun dalam pengambilan
keputusan masih melakukan pengawasan yang ketat.
3. Sistem konsultatif.
Pemimpin mempunyai kepercayaan yang cukup besar
terhadap

bawahan.

Pemimpin

menggunakan

balasan

(insentif) untuk memotivasi bawahan.


Gaya kepemimpinan menurut Lippts dan K. White terdapat
tiga gaya kepemimpinan yaitu: otoriter, demokrasi, dan liberal
yang mulai dikembangkan di Universitas Iowa.
1. Otoriter
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri antara lain:
Wewenang mutlak berada pada pimpinan
Keputusan dibuat selalu oleh pemimpinan
Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pemimpinan
Komunikasi berlangsung satu arah dari pemimpin kepada

bawahan
Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau

kegiatan para bawahan dilakukan secara ketat


Prakarsa harus selalu berasal dari pemimpinan
Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran,
pertimbangan atau pendapat.

Tugas-tugas bawahan diberikan secara instruktif


Lebih banyak kritik dari pada pujian
Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa

syarat
Pimpinan menuntut kesetian tanpa syarat
Cenderung adanya paksaan, ancaman, dan hukuman
Kasar dalam bersikap
Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh

pimpinan.
2. Demokratis
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan dalam
memengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berbagai kegiatan yang
akan dilakukan ditentukan

bersama antara pimpinan dan

bawahan.
Gaya pimpinan ini memiliki cirri-ciri antara lain:
Wewenang pimpinan tidak mutlak
Pimpinan bersedia melimpahkan sebagai

wewenang

kepada bawahan
Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
Komunikasi berlangsung timbal balik
Pengawasan dilakukan secara wajar
Prakarsa dapat datang dari bawahan
Banyak kesempatan dari bawahan untuk menyampaikan

saran dan pertimbangan


Tugas-tugas yang kepada

permintaan dari pada instruktif


Pujian dan kritik seimbang
Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan

dalam batasan masing-masing


Pimpinan meminta kesetiaan bawahan secara wajar

bawahan

lebih

bersifat

Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan

bertindak
Terdapat suasana saling percaya, saling menghormati,

dandan saling menghargai.


Tanggung jawab keberhasilan

bersama.
3. Liberal atau Laissez Faire.
Kepemimpinan gaya liberal

atau

organisasi

Laissez

ditanggung

Faire

adalah

kemampuan memengaruhi orang lain agar bersedia bekerja


sama mencapai tujuan dengan cara lebih banyak mencapai
tujuan dengan cara lebih banyak menyerahkan pelaksanaan
berbagai kegiatan kepada bawahan.
Ciri gaya kepemimpinan ini antara lain:
Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada

bawahan
Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan
Kebijaksanaan lebih banyak dibuat bawahan
Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh

bawahan
Hampir tidak ada pengawasan terhadap tingkah laku

bawahan
Prakarsa selalu berasal dari bawahan
Hampir tidak ada pengarahan dari pimpinan
Peranan pimpinan sangat sedikit dalam

kelompok
Kepentingan

kelompok
Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh

pribadi

lebih

penting

dari

perorangan.
F. TEORI KONTEMPORER (KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN)

kegiatan

kepentingan

Teori ini menekankan pada empat komponen penting dalam suatu


pengelolaan, yaitu manajer/pemimpin, staf dan atasan, pekerjaan,
serta lingkungan. Dia menekankan dalam melaksanakan suatu
manajemen seorang pemimpin harus menginteraksikan keempat
unsur

tersebut

untuk

mencapai

tujuan

organisasi

teori

kontemporer tersebut juga perlu didukung oleh teori motivasi,


interaksi, dan teori transformasi.
G. TEORI MOTIVASI
1. Hierarki kebutuhan (Maslow)
Fisiologis= gaji pokok
Aman = perencanaan yang regular (gaji)
Kasih sayang = kerja sama secara tim
Harga diri = pencegahan posisi
Aktualisasi = tantangan dalam bekerja
2. Teori ERG (clayton Aiderfer)
E = Extencentice (fisiologis)
R = Relondress (kasih sayang)
G = Grown (harga diri aktualisasi
3. Teori Dua Faktor Frederich Herzberg)
Motiorsurs = kepuasan kerja
Hygiene = lingkungan yang kondusif
4. Teori belajar McClellend
Affilonson = bersahabat
Power = menerimah orang lain
Achivemeng
=
suka
tantangan
komposisi

dan

menyelesaikanmasalah secara detail.


H. TEORI Z
Teori Z dikemukakan oleh Ouchi (1981). Teori ini merupakan
pengembangan teori Y dari McGregor (1460) dan mendukng gaya
kemimpinan demokratis. Komponen Teori Z meliputi pengambilan
keputusan

dan

kesepakatan,

menempatkan

pegawai

sesuai

keahlianya, menekankan pada keamanan pekerjaan, promosi yang

lambat dan pendekatan yang holistic terhadap staf. Teori ini lebih
menekankan pada staf dibandingkan dengan kualitas produksi,
sehingga di Amerika teori ini masih banyak yang diperdebatkan.
I. TEORI INTERAKTIF
Schein (1970) menekankan bahwa staf atau pegawai suatu sistem
terbuka

yang

selalu

berinteraksi

dengan

sekitarnya

dan

berkembang secara dinamis, sistem tertentu dianggap suatu


sistem yang terbuka jika terjadi adanya perubahan energy dan
informasi dengan lingkungan. Asumsi teori ini sebagai berikut.
Manusia memilih karakteristik yang sangat komleks, mereka
mempunyai motivasi yang berpariasi dalam melakukan

suatu pekerjaan
Motivasi seseorang tidak tetap, tetapi berkembang sesuai
perubahan waktu.