Anda di halaman 1dari 17

A.

KONSEP SISTISIS
a. Definisi
Sistisis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering
disebabkan oleh penyebaran infeksi dari uretra. Hal ini dapat di
sebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih
(refluks uretrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau
sistokop. (Bunner & sudarth, 2002)
Sistitits adalah imflamasi kandung kemih yang paling serig
disebabkan oleh penyebaran infeksi dari uretra karena aliran balik
dari

uretra

ke

dalam

kandung

kemih

(refluks

utrovesikal),

kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistokop.(Suzane, C.


Smelzer. Keperawatan medikal bedah vol. 2. hal.1432)
Beberapa penelitian menujjukkan bahwa wanita lebih sering
menderita sistisis di bandingkan dengan pria. Kal ini di karenakan
uretra wanita lebih pendek di bandingkan pria, sehingga dengan
mudah kuman mampu mencapai kandung kemih. Pada wanita usia
dewasa di laporkan bahwa hampir setiap tahunnya mengalami
keluhan

disuria

dan

insidennya

cenderung

meningkat

sesuai

pertumbuhan usia dan aktivitas seksual yang mereka lakukan,


meningkatya frekuensi infeksi saluran perkemihan pada wanita
terutama yang gagal berkemih setelah melakukan hubungan seksual
dan diperkirakan pula karena uretra wanita lebih pendek dan tidak
mempunyai substansi anti mikroba seperti yang ditemukan pada
cairan seminal.
b. Klasifikasi
Secara umum sistisis dapat diklasifikasikan menjadi duabagian
yaitu:
1. Sistisis primer
Sistisis primer adalah suatu peradangan yang mengenai
kandung kemih. Radang pada kandung kemih ini dapat terjadi
akibat penyakit seperti batu pada pada

kandung kemih,

divertikel, hipertrofi prostat, dan striktura uretra.


2. Sistisis sekunder

Sistisis sekunder adalah peradangan pada kandung kemih


yang timbul kemudian setelah menderita penyakit primer,
misalnya uretritis dan prostalititis.
c. Etiologi
Mikroorganisme penyebaba infeksi sistisis terutama adalah E coli,
enteroccocus, proteus, dan staphyloccocus aureus yang masuk
ke buli-buli terutama melaalui uretra. Kondisi ini sering muncul
oleh karena pertahanan local tubuh yang menurun seperti pada
diabetes mellitus atau trauma local minor seperti pada pasca
senggama (Purnomo, 2011)
d. Patofisiologi
penyebab infeksi tersering pada sistitis adalah bakteri E coli.
Bakteri ini bisa masuk ke kandung kemih dengan cara refluk
melalui uritra. Selain itu tipikal ini berada pada saluran kencing
dar uretra luar sampai ke ginjal juga bisa melalui penyebaran
hematogen dan lymphogen.
Dengan kondisi koloni bakteri penyebab infeksi yang terlalu
banyak akan mempengaruhi system pertahanan tubuh alami
individu.

Mekanisme

pertahanan

tubuh

merupakan

factor

penentu terjadinya infeksi. Dalam kondisi normal urine dan


bakteri tidak mampu menembus dinding mukosa kandung kemih.
Lapisan mukosa kandung kemih tersusun dan sel-sel urotenial
yang

memproduksi

mucin

yaitu

unsure

yang

membantu

mempertahankan integritas lapisan kandung kemih. Mucin juga


mencegah bakteri melekat pada sel urotelial.
Selain itu tingkat ke asaman PH urine dan kondisi
peningkatatn atau penurunan cairan tubuh memiliki konstribusi
terhadap produksi urine. Produksi urine yang banyak berfungsi

untuk mempertahankan integritas mukosa, beberapa bakteri


dapat masuk dalam sistem urine akan mengeluarkannya. Urine
merupakan produk yang yang steril, dihasilkan dari ultrafiltrasi
darah pada glumerolus dari nerpon ginjal, dan di anggap sebagai
system tubuh yang steril. Akan tetapi uretra uretra merupakan
port de entry bagi kuman pathogen. Pada wanita 1/3 bagian
distal dari uretra di setai jaringan periuretral dan vestibula
vaginalis banyak di huni bakteri dari usus. Hal ini dikarenakan
letak anus tidak jauh dari tempat tersebut tidak jauh dari tempat
tersebut. Selain itu, uretra wanita lebih pendek di banding
dengan pria dan posisi anus yang dekat dengan uretra. Oleh
karena itu, wanita lebih rentan terserang infeksi kandung kemih
di bandingkan dengan pria.
Mikrooarganisme naik ke bledder pada waktu miksi karena
tekanan urine dan selam miksi terjadi refluks ke dalam kanduung
kemih

setelah

mengeluarkan

urine.

Merupakan

asending

infection dari saluran perkemihan. Pada wanita biasanya berupa


sistisis akut karena jarak uretra ke vagina pendek (anatomi),
kelainan periuretral, rektum (kontaminasi) feces, efek mekanik
coitus, serta infeksi kambuhan organisme gram negatif dari
saluran vagina, defek terhadap mukosa uretra, vagina dan
genital ekternal memungkinkan organisme masuk ke vesika
perkemihan. Infeksi terjadi mendadak akibat flora (E.coli) pada
tubuh pasien. Pada laki-laki abnormal, sumbatan menyebabkan
struktur dan hiperplasi prostatik (penyebab yang paling sering
terjadi). Infeksi saluran kemih atas penyebaba infeksi kandung
kemih.
e. Manifestasi klinik
Gejala yang mincul pada pasien dengan sistisis diantaranya
adalah

peningkatan

frekuensi

berkemih.

Ondisi

tersebut

dikarenakan adanya reaksi inflamasi pada kndung kemih akan

memberikan

dampak

mukosa

menjadi

warna

kemerahan

(eritema), odema, dan hipersensitif yang menyebabakan kandung


kemih akan menjadi mudah teransang untuk berkemih ketika
terisi oleh urine. Adanya kontraksi muskulus destrusr pada
kandung kemih akan berdampak pada munculnya rasa nyeri di
daerah

suprapubik.

berdampak

pada

Eritema
kandung

pada

mukosa

buli-buli

akan

kemih

mudah

berdarah

dan

menimbulkan hematuria.
Pada pasien dengan sistisis jarang dijumpai gejala demam , mual,
muntah, dan badan lemah. Apabila beberapa gejala di atas
muncul aka perlu di curigai adanya penjalaran infeksi pada
saluran kemih bagian atas.

Pathway sistisis
E. Coli yang
sangat banyak
Penurunan
ph dan
jumlah urine

Kelainan peri
uretra
Defek
mukosa

Bakteri
masuk dan
menyebar
secara
Mengikis
mukosa
bladder

Efek
mekanik
coitus
Flora
normal
Kesalahan
Bladder
Reaksi
membersihkan
Pada
lakiPola
Disuria
mudah Struktur
BPH
inflamasi
setelah
BAB
laki
uretra
eliminasiteransang

Pada wanita

Bakteri
4 masuk
Penumpukan
Kontaksi
Nyeri
supra
sisa
urine di
pada
pubikbladder

Urine dan
bakteri
Eritema dan
Keseimbanga
Hematuri
mampu
mukosacystisis
n elektrolit
menembus
mudah

f.

Pemeriksaan Penunjang
Analisis urin sangat penting dilakukan. Pada penderita sistitis
dimungkinkan akan ditemukan urine menjadi keruh da berbau.
Pada pemeriksaan mikroskop urine segar

mungkin ditemukan

piuria, hematuria, bakteri uria. Kultur urine peting Untuk di


lakukan guna mengetahui jenis kuman penyebab infeksi. Apa bila
sistisis

sering

kali

mengalami

dipertimbangkan untuk

di

kekambuhan,

maka

perlu

lakukan pemeriksaan pencitraan

(MUUSG atau sitoskopi.


g. Penatalaksanaan Medis
Sudoyo (2010) , mengemukakan beberapa managemen
dalam infeksi saluran kemih bagian bawah. Prinsip managemen

ISK bawah meliputi intake cairan yang banyak , antibiotika yang


adekuat, dan kalau perlu terapi simtomatik untuk alkanisasi
urine:
1. Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam
dengan antibiotika

tunggal seperti ampisillina

3 gram,

trimetropin 200 mg.


2. Bila infeksi menetap di sertai kelainan uranilisis (lekosuria)
diperlukan terapi konvensional 5-10 hari.
3. Pemeriksaan miroskopik urine dan biakan urine tidak di
perlukan bila semua gejala hilang dan tidak ada lekosuria .
Reinfeksi berulang (frequent re-infection)
1. Di sertai factor predisposisi. Terapi anti mikroba yang intensil
diikuti faktor resiko.
2. Tanpa faktor predisposisi.
Asupan cairan banyak
Cuci setelah melakukan

senggama

diikuti

terapi

antimikroba takaran tunggal (misalnya trimetropin 200


mg)
3. Terapi antimikroba jangka lama sampai dengan 6 bulan .

h. Penatalaksanaan Keperawatan
penatalaksanaan keperawatan pasien dengan systitis ini di
tujukan untuk pengurangan rasa nyeri dan ketidaknyamanan.
Pengurangan

sering

berkemih,

urgency

dan

hesitancy,

peningkatan pengetahuan tentang tindakan pencegahan dan


modalitas penanganan serta tidak adanya potensial komplikasi.
1. Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan
Nyeri dan ketidaknyamanan dapat di kurangi dengan cepat
ketika

terapi

antimikrobial

di

mulai.

Agen

antispasmodic

membantu dalam mengurangi instabilitas kandung kemih dan

nyeri. Asparin pemanasan peringum dan mandi rendam panas


membantu mengurangi ketidaknyamanan dan spasme.
2. Mengurangi frekuensi (sering berkemih) , urgensi dan hesitancy
Pasien di dorong untuk minum dengan bebas sejumlah cairan (air
adalah pilihan terbaik) untuk mendukung aliran darah renal
untuk membilas bakteri dari traktus urinarius. Hindari cairan
yang dapat mengiritasi kandung kemih(misal ; kopi, teh, kola,
alkohol).
3. Pendidikan pasien
Pasien harus menerima rincian instruksi berikut :
a. Mengurangi konsentrasi pathogen pada orifisium vagina (khusus
pada wanita) melalui tindakan hygiene : sering mandi pancuran
daripada mandi rendam karena bakteri dalam air baik dapat
masuk ke uretra. Bersihkan sekeliling perineum dan meatus
uretra setiap selesai defekasi dengan gerakan dari depan ke
belakang.
b. Minum dingin

bebas

sejumlah

cairan

dalam

sehari

untuk

membilas keluar bakteri, dan hindari untuk minum kopi, teh, kola,
dan alkohol.
c. Berkemih setiap 2-3 jam dalam sehari dan kosongkan kandung
kemih dengan sempurna hal ini mencegah distensi kandung
kemih yang berlebihan dan gangguan terhadap suplai darah ke
dinding kandung kemih yang merupakan predisposisi systilis.
d. Jika hubungan seksual merupakan kejadian yang mengawali
berkembangnya bakteriuria: segera berkemih setelah melakukan
hubungan seksual, minum agen antimicrobial oral dosis tunggal
setelah hubungan seksual.
e. Jika bakteri tetap muncul dalam urin, terapi antimicrobial jangka
panjang di perlukan untuk mencegah kolonisasi area periuretral
dan kekambuhan iinfeksi.
f. Konsul ke tenaga kesehatan secara teratur untuk tindak lanjut,
kekambuhan

gejala

atau

infeksi

penanganan.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

nonresponsive

terhadap

1. Pengkajian
a. Identitas
Umur : penyakit sistilis bisa terjadi pada semua umur. Belum
ada penelitian yang menunjukkan penyakit sistilis spesifik
menyerang kelompok umur tertentu
Jenis kelamin : sistilis lebih sering terjadi karena posisi
anatomis dari uretra wanita lebih dekat dengan sumber
infeksi, serta secara anatimis wanita uretra yang lebih pendek.
Insiden sistilis akan cenderung meningkat seiring dengan
pertambahan usia dan aktivitas seksual
Tempat tinggal : ada atau tidaknya factor predisposisi yang
berhubungan

dengan

pola

kebiasaan

yang

berhubungan

dengan pola kebiasaan dan hygiene.


b. Keluhan utama
Pada pasien dengan sistilis biasanya datang dengan keluhan
rasa sakit atau panas di uretra sewaktu kencing, urine
jumlahnya sedikit, sering kencing dan rasa tidak enak di
daerah suprapubik.
c. Riwayat penyakit
Riwayat penyakit yang mendahului terjadinya sistitis misalnya
infeksi saluran kemih bagian atas, riwayat pernah menderita
obstruksi saluran kemih yang akan menyebabkan retensi
urine,

riwayat

penyakit

DM

dan

jantung

yang

dapat

menurunkan system imun tubuh


d. Pemeriksaan fisik
TTV : ada peningkatan suhu tubuh mungkin merupakan tandatanda dari sepsis, inspeksi abdomen bagian bawah dan palpasi
urine bladder ditemukan sisa urine dampak dari pengosongan
tidak maksimal, inflamasi dan lesi di uretra, meatus dan
vagina introitus.
Kaji perkemihan, lihat adanya dorongan, frekuensi,disuria, bau,
urinr yang menyengat, nyeri pada daerah supra pubik. Perlu
dilakukan pengkajian wrna, jumlah , bau dan kejernihan urine
pengkajian

pada

costovertebralis

di

mungkinkan

ditemukannya pembengkakannya dan nyeri ketuk pada area


tersebut.
e. Pemeriksaan psikososial
Sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda karena
peningkatan aktivitas seksual sehingga bisa timnul perasaan
malu dan bersalah. Adanya perasaan takut akan kekambuhan
di mana menyebabkan penolakan terhadap aktivitas seksual.
f. Pemeriksaan laboratorium
Urinalisa urin tengah ketika infeksi terjadi memperlihatkan
bakteriuria, WBC (White Blood Cell), RBC (Red Blood Cell) dan
endapan tidak maksimal inflamasi dan lesi diuretra, meatus
dan vagina introitus.
Kaji perkemihan, lihat apakah ada dorongan, frekuensi, disuria,
bau urine yang menyengat, nyeri pada daerah supra pubik.
Perlu dilakukan pengkajian warna, jumlah, bau, dan kejernihan
urine. P engkajian pada costovertebralis mungkin ditemukanya
pembengkakan pada nyeri ketuk pad area tersebut.
g. Pemeriksaan psikososial
Sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda karena
peningkatan aktivitas seksual sehingga bisa timbul perasaan
malu dan bersalah. Ada pun perasaan takut akan kekambuhan
dimana menyebabkan penolakan terhadap aktivitas seksual.
h. Pemeriksaan laboratorium
Urinalisa urin tengah
Ketika infeksi terjadi memperlihatkan bakteriuria, WBC (White
Blood Cell) (Red Blood Cell) dan endapan sel darah putih
dengan keterlibatan ginjal

Tes Sensitivitas
Banyak mikroorganisme sensitive terhadap antibioik dan
antiseptic berhubungan dengan infeksi berulang.

I.

Pengkajian Radiographic
Cystitis ditegakkan berdasarkan history. Pemeriksaan medis
dan laboratorium, jika terdapat reaksi urine dan obstruksi
aliranurine

dilakukan

IPV

Identifikasi

perubahan

dan

abnormalitas stuctural ).
Pemeriksaan kultur mengidentifikasi bakteri penyebab dari

sistitis
Sinar X ginjal, ureter dan kandung kemih mengidentifikasi
anomali struktur nyata.

2. Diagnosa Keperawatan ( NANDA 2012-2014 )


1. Nyeri Akut
Defenisi : Pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang
actual dan potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan
sedemikian rupa ( International for the Studu of Pain ) awitan
yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat
dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksikan dan
berlangsung < 6 bulan.

Batasan Karakteristik
Perubahan selera makan
Perubahan tekanan darah
Perubahan frekuensi jantung
Perubahan frekuensi pernafasan
Laporan isyarat
Diaphoresis
Perilaku distraksi ( mis: berjalan mondar-mandir mencari orang

lain atau aktivitas lain, aktivitas yang berulang)


Mengekspresikan perilaku ( mis : gelisah,

menangis, waspada, iritabilitas, mendesah ).


Masker wajah ( mis : mata kurang bercahaya, tampak kacau,

gerakan mata berpencar, atau tetap pada satu fokus, meringis.


Sikap melindungi area nyeri.
Focus menyempit ( mis : gangguan persepsi nyeri, hambatan
proses

berpikir,

penurunan

interaksi

lingkungan ).
Indikasi nyeri yang dapat diamati
10

dengan

merengek,

orang

dan

Perubahan posisi untuk menghindari nyeri


Sikap tubuh melindungi
Dilatasi pupil
Melaporkan nyeri secara verbal
Fokus pada diri sendiri
Gangguan tidur
Faktor yang berhubungan
Agen cedera ( mis : Biologis, zat kimia, fisik, psikologis )

2. Gangguan Eliminasi urine


Defenisi : disfungsi pada eliminasi urine
Batasan karakteristik
- Disuria
- Sering berkemih
- Inkontenensia
- Nokturia
- Retensi
- Dorongan

Faktor yang berhubungan


Obstruksi anatornic
Penyebaba mulitipel
Gangguan sensori motorik
Interaksi saluran kemih

3. Defesiensi pengetahuan
Defenisi : ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang
berkaitan dengan topic tertentu.
Batasan karakteristik
- Perilaku hiperbola
- Ketidakdaruratan mengikuti perintah
- Ketidakdaruratan mengikuti tes
- Perilaku tidak tepat ( mis : histeria, bermusuhan, agitasi,
-

apatis)
Pengungkapan masalah

Faktor yang berhubungan


Keterbatasan kognitif
Salah interpretasi masalah
Kurang pajanan
11

Kurang minat dalam belajar


Kurang dapat mengingat
Tidak familiar dengan sumber informasi

3. Intervensi
Intervensi keperawatan (NANDA 2012=2014, NIC-NOC)
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (misalnya biologis,
zat kimia, fisik, psikologis)
Nursing Outcome Classification
Setelah dlakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klie
-

akan
2012 pain level
1605 pain control
2101 pain : disruptive effects, yang dibuktikan dengan indikator
sebagai berikut: (1-5- tidak pernah , jarang, kadang-kadang,
sering, atau selalu)

Kriteria hasil:
- Mampu mengontrol

nyeri

(tahu

penyebab

nyeri,

mampu

menggunakan tekhnik non farmakologi untuk mengurangi nyeri,


-

mencari bantuan)
Melaporkan bahwa

manajemen nyeri.
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda

nyeri)
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal

Nursing Intervention Classificatin (NIC)


1400 Pain management
Aktivitas keperawatan
Lakukan pengkajain nyeri secara komprehensif termasuk lokasi ,

karakteristik, durasi, frekuensi , kualitas, dan faktor presipitasi


Observasi reaksi nonverbal dan ketidaknyaman
Gunakan tekhnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui

pengelaman nyeri pasien


Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri yang masa lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan

nyeri

berkurang

dengan

ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau

12

menggunakan

lain

tentang

Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan

dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu

ruangan, pencahayaan dan kebisingan,


Kurangi faktor prespitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri

farmakologi, dan inter personal)


Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukn intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi
Berikan analhetik untuk mengurangi nyeri
Evaluasu kefektifan kontrol nyeri
Tingkatan istirahan
Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri

tidak berhasil
Monitor penerimaan pasieb tentang manajemen nyeri

2210, analgesic administration


Aktivitas keperawatan
Tentukan likasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum

pemberian obat
Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang diperlikan atau kombinasi dari analgesik

ketika pemberian lebih dari stau


Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
Tentukan ana;gesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
Pilih rute pemberian secara IV , IM untuk pengobatan nyeri secara

teratur
Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik

pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala(efek samping)

(farmakologi,

non

b. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomic,


penyebab multiple gangguan sensori motorik, infeksi sauran kemih.
Nursing Outcomes Classificatin (NOC)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 2x24 jam klien akan
- 0502 urinary continence

13

0410 urinary elomination, yang di buktikan dengan indikator


sebagai berikut: (1-5= tidak pernah , jarang, kadang-kadang,
sering, selalu)

Kriteria hasil:
Klien tidak mengalami disuria
Klien tidak mengalami
Klien tidak mengalami
Klien tidak mengalami
Klien tidak mengalami
Klien dapat berkemih setiap 3 jam
Klien tidak kesulitan pada saat berkemih
Klien dapat bak dengan berkemih

Nursing Intervention Classificatin (NIC)


0590. urinary Elimination Management
Aktivitas keperawatan:
- Lakuakan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
-

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan factor prespitasi


Observasi reaksi nonverbal dan ketidaknyamanan
Gunakan tekhnik komunikasi terapeutik untuk mengetahuai

pengalamanan nyeri pasien


Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
Evaluasi pengalaman masa lampau
Evaluasi bersama pasien dan tm kesehatan

keefektifan kontrol nyeri masa lampau


Bantu klien dan keluarga untuk mencari dan menemukan

dukungan
Kontrol faktor lingkungan yang memepengaruhi nyeri seperti

suhu ruangan , pencahyaan dan kebisingan.


Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penenganan nyeri (farmakologi, nonfarmakologi,

dan inerpersonal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang tekhnik non farmakologi (bio feedback, TENS,

hipnotis, relaksasi, distraksi dan lain-lain )


Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada komplain dan tindakan

nyeri tidak berhasil


Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

14

lain

tentang

4120. fluid managemen


Aktivitas keperawatan
Timbang popok/pembalit jika diperlukan
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Montor status hidrasi (kelembaban membran mukosa , nadi

adekuat, tekanan, darah ortostatik), jika diperlukan.


Monitor vital sign
Monitor masuka makanan/cairan dan hitung intake kalori harian
Kolaborasikan pemberian cairan IV
Monitor status nutrisi
Beriakn cairan IV pada suhu ruangan
Dorong masukan oral
Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
Tawarkan snack (jus buah, buah segar)
Kolaborasikan dokter jika tanda cairan berlebih muncul

memburuk
Atur kemungkinan transfusi
Persiapan untuk tranfusi

4. Implementasi
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitasaktivitas yang telah di catat dalam rencana perawatan klien .
agar implementasi/pelaksanaan ini dapat tepat waktu dan efektif
maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan
mencata

respon

pasien

terhadap

setiap

intervensi

yang

dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanan perawatan.


5. Evaluasi
Pada tahap ini yang perlu dievaluasi pada klien dengan sistisis
adalah mengacuh pada tujuan yang hendak dicapai yakni apakah
terdapat:
1. Nyeri yang menetap atau bertambah
2. Kebutuhan akan rasa nyaman terpenuhi
3. Pola berkemih berubah, berkemih sering dan sedikit-sedikit,
perasaan ingin berkemih menetes setelah berkemih
4. Kultur urine menunjukkan tidak ada bakteri
5. Perubahan warna urine
6. Mengerti tentang kondisi pemeriksaan diagnostik, rencana
pengobatan, tindakan keperawatan dari preventif.
7.

15

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sistitits adalah imflamasi kandung kemih yang paling serig
disebabkan oleh penyebaran infeksi dari uretra karena aliran balik
dari

uretra

ke

dalam

kandung

kemih

(refluks

utrovesikal),

kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistokop.(Suzane, C.


Smelzer. Keperawatan medikal bedah vol. 2. hal.1432).
Mikroorganisme penyebaba infeksi sistisis terutama adalah E
coli, enteroccocus, proteus, dan staphyloccocus aureus yang masuk
ke buli-buli terutama melaalui uretra. Kondisi ini sering muncul oleh
karena pertahanan local tubuh yang menurun seperti pada diabetes
mellitus atau trauma local minor seperti pada pasca senggama
(Purnomo, 2011)
SARAN
Diharapkan makalah ini bisa memberikan masukan bagi rekan- rekan
mahasiswa calon perawat, sebagai bekal untuk dapat memahami mengenai penyakit
cystitis menjadi bekal dalam pengaplikasian dan praktik bila menghadapi kasus yang
kami bahas ini.

DAFTAR PUSTAKA

16

Nursalam Dan Fransisca B. Batticaca. 2009. Asuhan Keperawatan Pada


Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan , Jakarta. Salemba Medika
Prabowo, Eka & Andi.E.P.2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Sitem
Perkemihan Pendekatan Nanda, Nic, Noc, Yogyakarta: Medical Book
Suharyanto,Toto & Madjid, Abdul.2009. Asuhan Keperawatan [Ada Klien
Dengan Gangguan Sistem Perkemihan, Jakarta: Trans Info Media Jakarta

17