Anda di halaman 1dari 5

Farmakoterapi Pasien Diare

1. Patofisiologi
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau
lebih cair dari biasanya. Sementara untuk bayi dan anak-anak diare
didefinisikan sebagai pengeluaran tinja <10gr/kg per 24 jam, sedangkan ratarata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 gr/kg per 24 jam (Juffrie, 2010).
Diare ada 2
Akut dan kronik..
Masuknya yg kronik karena tjd selama 3 minggu..
Penyebabnya ada berbagai macam,,
Inflamasi : karena mengeluaran darah,
Tidak dehidrasi
2. SOAP
a. Subjective
Nama
: An. MF
Umur
: 2 bulan
Jenis kelamin
:
Keluhan
: mencret sejak 3 minggu sebelum MRS, cair, ada ampas,
berdarah, dan tidak berlendir
Riwayat penyakit : Riwayat obat
:Riwayat alergi
:Diagnosa
: Diare kronis
b. Objective
Parameter penyakit
TTV
TD
N
RR

3-12-2008
108
48

Suhu
36,5
Mual
Sesak
Batuk
Lemas
Data Laboratorium
pemeriksaan
Hb
WBC
Plt
Glu
Alb
Creat
BUN

Tanggal
4-12-2008
110
40

5-12-2008
112
42

36,7
-

36,8
-

Nilai
10,6
10,8
221
63
3,48
0,5
3

Ket

Nilai normal

turun
naik

130x/menit
3040x/menit
36-37,5

Norm

Nilai normal
12-24
9-30

Keterangan
turun

4,4-5,4
0,7-1,7
5-15

Tu
Tu
Tu

AST
ALT
Cl
K
Na
Ca

76
17
112
3,77
142,8
10,3

95-112
3,6-5,8
134-150
10-12

No
No
No
No

c. Assesment
d. Plan
Tujuan Terapi
Memberi penunjang pengobatan diare, mencegah dehidrasi serta
memberikan terapi non farmakologis.
Terapi Non Farmakologis
Diberikan ASI secara eksklusif untuk meningkatkan kebutuhan imunitas
Terapi Farmakologis
Zinc diberikan bersama dengan oralit merupakan pilihan pertama dalam
pengobatan diare kronik pada bayi. Oralit merupakan cairan yang terbaik
bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang sehingga
digunakan untuk mencegah terjadinya dehidrasi) (Kemenkes RI, 2011).
Pada kasus ini, pasien (berumur 2 bulan) tidak mengalami dehidrasi
sehingga digunakan (50-100) ml oralit setiap kali anak diare (Depkes RI,
2006).
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc
dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Sintase), dimana
ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hiper
ekskresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus
yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare
(Kemenkes RI, 2011).
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa zinc mempunyai efek protektif
terhadap diare sebanyak 11% dan menurut hasil Pilot Study menunjukkan
bahwa zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67% (Kemenkes RI,
2011).
Terapi yang disarankan untuk pasien tersebut adalah :
(Belum ditulis)

(ISO, 2016)
Alasan pemilihan obat zinc sulfat heptahidrat adalah karena tidak memiliki
efek samping serta tersedia dalam sediaan sirup sehingga memudahkan
pemberian kepada bayi.

KIE
KIE untuk Dokter
Melakukan pemeriksaan penunjang penyebab diare kronik
untuk menindaklanjuti jika ada diagnosis tambahan.
KIE untuk Keluarga
Nama Obat

Jadwal
Minum

Jumlah

Manfaat

Hal yang
Perlu
Diperhatika
n

Zinc Sulfat
Heptahidrat

1x sehari

1 sendok
the (5
ml)

Mengurangi
frekuensi
BAB,
volume
feses dan
menurunka
n
kekambuha
n kejadian

Diberikan
bersamaan
dengan
oralit.
Diminum
selama 10
hari
meskipun

diare

diare sudah
berhenti

Keberhasilan : diare
Target keberhasilan : menyembuha

Menurut algoritma tersebut, pasien mengalami diare kronik ditandai


dengan diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Terdapat 6 mekanisme
penyebab diare kronik, maka untuk mengetahui penyebab spesifik diare
kronik tersebut diperlukan adanya pemeriksaan penunjang seperti stool
culture/ova/parasities/BRC/WBC, sigmoldoscopy atau intestinal biopsy
supaya dapat diberikan terapi yang tepat. Penanganan diare pada bayi
tidak boleh dilakukan secara sembarangan jika belum diketahui penyebab
diare secara pasti, karena pemberian obat diare pada balita tidak
bermanfaat

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, 2006, Pedoman Tatalaksana Diare, available from http://dinkessulsel.go.id/new/images/pdf/pedoman/pedoman%20tatalaksana
%20diare.pdf, Diakses pada 7 September 2016.
ISO, 2016, ISO Indonesia volume 50, PT ISFI Penerbitan Jakarta, Jakarta.
Jufrie M et al, 2010, Diare Persistant in : Modul Pelatihan Diare edisi
Pertama, UKK Gastro-Hepatologi IDAI.
Kemenkes RI, 2011, Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan: Situasi
Diare di Indonesia
Kemenkes RI, 2011, Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare pada Balita,
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,
Jakarta.