Anda di halaman 1dari 7

Hutan dan Gunggung Senoaji

Kembalikan Fungsi Utama Hutan sebagai Penyeimbang Ekosistem Bumi


Skip to content

BERANDA

ABOUT

CATEGORY ARCHIVES: KEHUTANAN

Masyarakat Desa Sekitar Hutan Lindung Bukit Daun Di Bengkulu


Posted on 17 Oktober 2010 | 2 komentar

Telah siap diterbitkan di Jurnal Sosiohumaniora

Hutan merupakan sumberdaya alam yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia karena mampu menghasilkan barang dan jasa serta dapat
menciptakan kesetabilan lingkungan (Steinlin, 1988). Sejalan dengan waktu, hutan yang semula dianggap tidak akan habis berangsur-angsur mulai berkurang. Banyak
lahan hutan digunakan untuk kepentingan lain, seperti pertanian, perkebunan, pemukiman, industri dan penggunaan lainnya. Di Provinsi Bengkulu luas kawasan hutan
yang telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, tanah kosong, dan kebun campuran mencapai 286.777 hektar atau sekitar 31,14% dari
luas total hutan yang ada (Pemerintah Propinsi Bengkulu, 2008).

Permasalahan konversi hutan ini berakar dari pertambahan penduduk yang terus meningkat. Pertambahan penduduk menuntut tercukupinya kebutuhan pangan,
kebutuhan kayu bakar, kebutuhan kayu pertukangan, dan tempat pemukiman. Di lain pihak lahan pertanian sebagai penghasil pangan luasannya terbatas, sehingga
alternatif utama untuk pemenuhan kebutuhan pangan adalah mengkonversi lahan hutan menjadi lahan pertanian (Simon, 2001). Keterbatasan lahan yang dimiliki oleh
masyarakat di sekitar hutan akan berakibat pada kondisi hutan di sekelilingnya. Mereka akan menggantungkan hidupnya pada hutan yang ada di sekeliling
pemukimannya guna memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Tanpa pengelolaan yang tepat, hal seperti ini merupakan ancaman bagi keberadaan dan
kelestarian hutan, serta dapat menurunkan fungsi dari peruntukan hutan ini.

Penduduk Desa Air Lanang berjumlah 285 kepala keluarga (KK) , dengan mata pencaharian pokok masyarakatnya adalah petani (98,6 %). Jenis pekerjaan penduduk
akan berhubungan erat dengan tekanan masyarakat ke dalam hutan. Senoaji dan Ridwan (2006) menjelaskan bahwa masyarakat desa hutan yang jenis pekerjaannya
petani cenderung akan meningkatkan tekanan penduduknya ke dalam kawasan hutan; hal ini disebabkan karena semakin terbatasnya lahan pertanian akibat
pertambahan jumlah penduduk. Kebutuhan lahan setiap petani dengan komoditas kopi adalah 0,3 hektar/jiwa atau 1,5 hektar per kepala keluarga, ini berarti
masyarakat di desa ini kekurangan lahan pertanian; sehingga untuk memperluas lahan pertaniannya mereka membuka hutan lindung yang ada di sekeliling
pemukimannya.
Sebanyak 66,7 % responden masyarakat desa membuka kebun di dalam kawasan hutan. Rata-rata luas lahan garapan masyarakat di desa ini setiap kepala keluarga
adalah 2,5 hektar; dengan demikian jika dirata-ratakan berdasarkan jumlah petani dan luas lahan garapan serta kepemilikan lahannya, maka setiap kepala keluarga
petani di desa ini memiliki luas lahan di dalam kawasan hutan sekitar 1,6 hektar. Jika setiap kepala keluarga membuka lahan kebun di hutan seluas 1,6 hektar, maka
lahan hutan yang terbuka di desa ini telah mencapai 456 hektar, dan akan terus bertambah sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk.

Hasil komoditas utama petani di Desa Air Lanang adalah kopi. Hasil pertanian lainnya umumnya digunakan sendiri untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh
karena itu pendapatan petani di Desa Air Lanang sangat ditentukan oleh produksi kopi dan harga jual kopi . Produksi rata-rata kopi per tahun adalah 500 kg per hektar.

Akibat bertambahnya jumlah penduduk, lahan pertanian yang tersedia menjadi terbatas; sedangkan budaya untuk memiliki kebun kopi tetap menjadi tuntutan
masyarakat. Cara yang paling mudah untuk memiliki kebun adalah dengan membuka kebun kopi di kawasan hutan lindung. Di beberapa tempat, luasnya kebun kopi
masih menjadi tolak ukur tingginya derajat seseorang. Budaya seperti ini menjadi faktor penyebab tingginya kerusakan hutan lindung Beberapa masyarakat desa
mengakui bahwa perbuatan membuka kebun di hutan lindung adalah perbuatan yang melanggar aturan. Namun karena desakan kebutuhan ekonomi dan terbatasnya
lahan di luar kawasan hutan, terpaksa mereka membuka kebun di hutan lindung.

Pemerintah, melalui Departemen Kehutanan, telah mengupayakan pengelolaan hutan di desa ini dengan konsep hutan kemasyarakatan, yakni konsep pengelolaan
hutan lindung yang memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar desa untuk memanfaatkan lahan hutannya dengan memperhitungkan aspek pemilihan jenis

tanaman dan jarak tanam. Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman kopi dan tanaman pertanian masyarakat dengan tanaman kehutanan multi purpose tree
species (MPTS) atau tanaman kayu-kayuan seperti : kayu bawang, surian, durian, pete, pinang, dan kemiri, dengan menggunakan jarak tanam pohon tertentu seperti 6
x 6 meter.
Program hutan kemasyarakatan di desa ini mulai digulirkan sejak tahun 1999 mulai dari pembentukan kelembagaan, pelatihan, penyiapan bibit, penanaman,
pendampingan, dan monitoring evaluasi. Hasil wawancara dengan masyarakat dan pengamatan langsung di lapangan, secara fisik persentase penanaman tananaman
MPTS yang dilakukan cukup berhasil, hanya saja tanaman kemiri atau pinang yang ditanam di lahannya sudah mulai ditebangi oleh masyarakat. Alasan mereka pohonpohon tersebut mengganggu pertumbuhan kopi. Tujuan akhir dari program hutan kemasyarakatan sebenarnya adalah menggantikan tanaman kopi dengan tanaman
kehutanan. Harapannya, jika tanaman kehutanannya sudah menghasilkan dan tanaman kopinya sudah ternaungi, petani akan mengurangi aktifitasnya terhadap kopi
dan beralih kepada budidaya tanaman kehutanan. Sehingga nantinya lahan kebun hutannya dipenuhi oleh tanaman-tanaman kayu keras yang lebih banyak
memberikan fungsi perlindungan lingkungan dibanding kopi. Namun setelah sekitar sembilan tahun penanaman dan pertumbuhan tanaman pohon telah baik, petani
tetap mengutamakan tanaman kopinya dan bahkan mulai menebangi tanaman hutannya. Berhasilkan program hutan kemasyarakatan ? ternyata budaya berkebun kopi
memegang peranan penting dalam aspek pengelolaan hutan seperti ini. Sudah saatnya pemerintah membuat program pengelolaan hutan yang dapat mengakomodir
kepentingan masyarakat desa hutan dengan tetap mengutamakan fungsi perlindungan lingkungan.

2 Komentar
Dipublikasi di Kehutanan

Masyarakat Baduy, Hutan, dan Lingkungan


Posted on 30 Agustus 2010 | Tinggalkan komentar

Telah terbit di Jurnal Manusia dan Lingkungan, Edisi Juli 2010


Hutan dan lingkungannya merupakan sumberdaya alam yang dikaruniakan Tuhan kepada umat-Nya dengan fungsi utama untuk penyeimbang ekosistem bumi bagi
perlindungan lingkungan. Namun demikian selain berfungsi perlindungan lingkungan, hutan juga dapat berfungsi sebagai penyedia manfaat barang yang dibutuhkan
manusia seperti : kayu bakar, kayu pertukangan, pangan, ternak, air, dan satwa liar. Kedua fungsi hutan itu bisa saling bertentangan satu sama lainnya. Pemanfaatan
fungsi ekonomi yang berlebihan akan menyebabkan rusaknya fungsi lingkungan, sebaliknya pemanfaatan fungsi lingkungan yang terlalu ekstrim seperti larangan
memasuki dan memanfaatkan kawasan hutan akan menimbulkan mubadzir hutan. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu pengelolaan hutan yang dapat memberikan
keseimbangan pemanfaatan fungsi lingkungan dan fungsi ekonomi.
Pada suatu tempat di Pedalaman Banten, terdapat sekelompok masyarakat yang mampu mengelola hutan dan lingkungannya dengan baik. Kelompok masyarakat ini
dikenal dengan sebutan Urang Baduy. Masyarakat Baduy adalah masyarakat yang hidupnya sangat tergantung pada keberadaan hutan dan lingkungannya. Lingkungan
hidup mereka adalah hutan yang pengelolaannya diatur secara bijaksana untuk perlindungan lingkungan dan untuk penyedia kebutuhan pangan dan ekonomi.
Kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada bagaimana mereka memanfaatkan hutannya. Keberhasilan pengelolaan hutan dan lingkungan yang lestari oleh
masyarakat Baduy, telah diakui oleh banyak pihak, terutama pihak-pihak yang berkompeten dalam pengelolaan lingkungan. Atas keberhasilan masyarakat Baduy ini
dalam mengelola hutan dan lingkungannya, suatu lembaga nasional yang bergerak di bidang lingkungan, yakni Yayasan Kehati Indonesia, terpanggil untuk memberikan
penghargaan Kehati Award tahun 2004 kepada komunitas masyarakat sebagai kelompok masyarakat yang mampu mengelola lingkungan dengan baik dan pada
tahun yang sama juga mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah.
Wilayah ulayat Masyarakat Baduy memiliki luas sekitar 5.101,8 hektar, terletak di sebelah Barat Pulau Jawa, di sekitar Pegunungan Kendeng. Secara administrasi
pemerintahan, wilayah ini dikukuhkan menjadi Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten.

Sebagai suatu desa, wilayah Baduy atau

Desa Kanekes terdiri atas beberapa Kampung yang terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni Baduy-Dalam dan Baduy-Luar. Pengembangan kampung ini hanya
terjadi di pemukiman Baduy Luar, sedangkan di Baduy Dalam jumlah kampungnya tetap tidak berubah sepanjang masa, yakni hanya tiga kampung. Jumlah kampung di
Baduy pada tahun 2009 sebanyak 58 kampung, 3 kampung di Baduy Dalam dan 55 kampung di Baduy Luar.

Kekuatan hukum status wilayah Baduy ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 32 tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Masyarakat
Baduy. Hak ulayat ini merupakan kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan
lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tamah dalam wilayah tersebut bagi kelangsungan hidup dan kehidupan
yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah turun temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.

Jumlah penduduk Baduy di wilayah Desa Kanekes sampai dengan bulan Juni 2009 adalah 11.172 jiwa terdiri dari 2.948 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 58
kampung. Data kependudukan tentang orang Baduy pertama kali tercatat pada tahun 1888 dengan jumlah 1.476 jiwa. Wilayahnya terbentang mulai dari Leuwidamar,
Cisimeut, sampai ke Pantai Selatan. Pada permulaan abad ke-20 sejalan dengan pembukaan perkebunan karet oleh Hindia Belanda, tampaknya secara tegas diadakan
pengukuran dan penataan tanah. Untuk keperluan itu diadakan kesepakatan antara Sultan Banten dengan Orang Baduy mengenai batas Desa Kanekes yang diambil
oleh Pemerintah Hindia Belanda. Luas wilayah Desa Kanekes menjadi lebih kecil. Pada tahun 1984, Perum Perhutani melakukan tata batas untuk wilayah Baduy, yang
dikenal dengan sebutan Hutan Baduy.

Struktur masyarakat Baduy dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu masyarakat Baduy Dalam dan Masyarakat Baduy Luar. Wilayah Baduy Dalam memiliki luas
1.975 hektar dengan jumlah penduduk 1.083 orang (281 KK) yang tersebar di tiga kampung; sedangkan wilayah Baduy Luar luasnya 3.127 hektar dengan jumlah
penduduk 10.089 (2.667 KK). Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah berladang padi tanah kering. Sistem perladangannya adalah berladang berpindah
dengan masa bera (mengistirahatkan lahan) pada saat ini selama 5 tahun. Mata pencaharian sampingan saat menunggu waktu panen atau waktu luang adalah
membuat kerajinan tangan dari bambu (asepan, boboko, nyiru, dll), membuat koja (tas dari kulit kayu), masuk ke dalam hutan mencari rotan, pete, ranji, buah-buahan
dan madu, berburu, membuat atap dari daun kirai, membuat alat pertanian seperti golok dan kored.
Masyarakat Baduy tidak mengenal sistem pendidikan atau sekolah formal. Adat melarang warganya untuk bersekolah. Mereka berpendapat bila orang Baduy
bersekolah akan bertambah pintar, dan orang pintar hanya akan merusak alam sehingga akan merubah semua aturan yang telah ditetapkan oleh karuhun. Walaupun
tidak berpendidikan formal, masyarakat Baduy ada yang mengenal baca tulis dan berhitung. Mereka belajar dari orang luar yang datang ke lingkungannya. Beberapa
anak-anak Baduy telah dapat menulis namanya sendiri dengan bahasa latin, yang mereka tulis dengan arang pada kayu-kayu di rumahnya. Dalam hal hitung
menghitung, mereka sudah paham terutama dalam hal perhitungan uang untuk jual beli. Pendidikan yang diperoleh oleh masyarakat Baduy lebih banyak dilakukan
melalui ujaran-ujaran yang disampaikan oleh orang tuanya, terutama tentang buyut karuhun (larangan leluhur) tentang bagaimana memanfaatkan alam lingkungannya.

Kepercayaan orang Baduy disebut agama sunda wiwitan, yaitu percaya serta yakin adanya satu kuasa, yakni Batara Tunggal, yang tidak bisa dilihat dengan mata
tetapi bisa diraba dengan hati, maha segala tahu yang bergerak dan berusik di dunia ini. Sebutan lain bagi batara tunggal adalah Nungersakeun (Yang Maha
Menghendaki), dan Sang Hiyang Keresa (Yang menghendaki). Masyarakat Baduy juga mengenal kalimat syahadat seperti halnya orang Islam, mereka juga disunat,
percaya adanya hidup, mati, sakit, dan nasib, yang semua itu berada pada kekuasaan Sang Hyang Batara Tunggal. Dalam masalah kematian orang Baduy berpendapat
bahwa apabila manusia telah sampai pada ajalnya, ruhnya akan kembali kepada Sang Pencipta yakni Batara Tunggal. Dalam keyakinannya merekapun mempunyai nabi
yaitu Nabi Adam. Di samping adanya kepercayaan kepada Batara Tunggal, masyarakat Baduy juga mempercayai bahwa untuk mengayomi dan menjaga terhadap
ciptaan Batara Tunggal itu ada pula kekuatan gaib dari roh nenek moyang mereka yang disebut karuhun/leluhur.
Kegiatan utama masyarakat Baduy, pada hakekatnya terdiri dari pengelolaan lahan untuk kegiatan pertanian (ngahuma) dan pengelolaan serta pemeliharaan hutan
untuk perlindungan lingkungan. Oleh karena itu tata guna lahan di Baduy dapat dibedakan menjadi : lahan pemukiman, pertanian, dan hutan tetap. Lahan pertanian
adalah lahan yang digunakan untuk berladang dan berkebun, serta lahan-lahan yang diberakan. Hutan tetap adalah hutan-hutan yang dilindungi oleh adat, seperti
hutan lindung (leuweung kolot/titipan), dan hutan lindungan kampung (hutan lindungan lembur) yang terletak di sekitar mata air atau gunung yang dikeramatkan,
seperti hutan yang terletak di Gunung Baduy, Jatake, Cikadu, Bulangit, dan Pagelaran. Hutan tetap ini merupakan hutan yang selalu akan dipertahankan
keberadaannya.
Masyarakat Baduy dalam peri kehidupannya selalu berpedoman kepada buyut(aturan) yang telah ditentukan dalam bentuk pikukuh karuhun. Aturan utamanya
adalah konsistensi terhadap penataan ruang yang telah menjadi aturan, yakni kawasan hutan untuk perlindungan lingkungan dan kawasan budidaya untuk lahan
pertanian dan atau pemukiman. Seseorang tidak berhak dan tidak berkuasa untuk melanggar dan mengubah tatanan kehidupan yang telah ada dan sudah berlaku
turun menurun. Kedudukan para pimpinan adat memiliki peranan dan kekuasaan luas terhadap keseluruhan sistem sosial budayanya. Wewenang dan kedudukan itu
sudah ditentukan oleh karuhun dengan maksud untuk menyelamatkan taneuh titipan (wilayah baduy) yang merupakan intinya jagat. Jika taneuh titipan ini hancur dan
rusak, maka seluruh kehidupan di dunia akan rusak pula. Adanya aturan seperti ini menjadikan hutan di lingkungan di Baduy tetap terjaga, lestari, dan utuh sampai saat
ini.
Beberapa aturan adat yang mengatur hubungan masyarakat dengan lingkungan di antaranya adalah :

(1)

Dilarang merubah jalan air, misalnya membuat kolam ikan, drainase, dan membuat irigasi atau bendungan.

(2)

Dilarang masuk hutan larangan (leuweung kolot) untuk menebang pohon atau berladang

(3)

Dilarang menebang sembarangan jenis pohon-pohonan.

(4)

Dilarang menggunakan teknologi kimia, misalnya menggunakan pupuk, obat pemberantas hama penyakit, menggunakan minyak tanah, mandi menggunakan

sabun, menggosok gigi menggunakan pasta, dan menuba ikan.

(5)

Dilarang memelihara binatang ternak kaki empat, seperti kambing, sapi, atau kerbau.

(6)

Berladang harus sesuai dengan ketentuan adat

Tinggalkan komentar
Dipublikasi di Kehutanan, Lingkungan Hidup

Dinamika Masyarakat Baduy dalam mengelola Hutan dan Lingkungan


Posted on 22 Agustus 2010 | Tinggalkan komentar

Telah diterbitkan pada Jurnal Bumi Lestari edisi Agustus 2010

Anak-anak Baduy berbalut busana adat

Masyarakat Baduy adalah kelompok masyarakat Sunda yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten (Pemerintah Daerah
Kabupaten Lebak, 2001). Masyarakat Baduy ini merupakan salah satu suku di Pulau Jawa yang hidupnya mengasingkan diri dari keramaian dan tidak mau tersentuh
oleh kegiatan pembangunan. Di perkampungan Baduy tidak ada listrik, tidak ada pengerasan jalan, tidak ada fasilitas pendidikan formal, tidak ada fasilitas kesehatan,
tidak ada sarana transportasi, dan kondisi pemukiman penduduknya sangat sederhana. Aturan adat melarang warganya untuk menerima modernisasi pembangunan.
Untuk mencapai ke lokasi pemukiman, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak tanpa pengerasan. Masyarakat Baduy menempati wilayah
seluas 5.101,8 hektar berupa hak ulayat yang diberikan oleh pemerintah.

Pola kehidupan masyarakat Baduy sangat ditentukan oleh aturan-aturan dan norma-norma yang berperanan penting dalam proses kehidupan sosial mereka, yang
membentuk homogenitas prilaku dan sosial ekonomi masyarakatnya. Hikmahnya agar mereka mampu memperkokoh benteng kehidupan anak turunan, menjalin
tatanan hidup yang terus berkesinambungan dan dominan. Aturan dan norma itu dijabarkan dalam suatu hukum adat, yang berperan sebagai alat pengayom bagi
seluruh warga sehingga mampu menggiring semua warganya kepada tertib hukum, untuk mampu mematuhi hak dan kewajibannya. Mampukah aturan adat
masyarakat Baduy bertahan dalam kondisi modernisasi yang pesat dengan luas lahan pertanian yang dimilikinya terbatas ?

Perubahan sosial dan budaya masyarakat Baduy dikatagorikan ke dalam perubahan statis, karena perubahan sosial yang terjadi sangatlah lambat. Sampai sekarang
terlihat pola kehidupan yang sangat berbeda dengan masyarakat luar pada umumnya. Walaupun demikian, sengaja atau tidak disengaja telah terjadi perubahan sosial
di pemukiman masyarakat Baduy. Perubahan penentuan masabera lahan pertanian yang semula 7 tahun ke atas, sekarang hanya 5 tahun bahkan 3 tahun merupakan
salah satu indikator terjadinya perubahan itu. Pertambahan penduduk yang menyebabkan berkurangnya lahan garapan adalah pangkal dari terjadinya perubahan
sosial ini; karenanya itu masyarakat Baduy mulai melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk mempertahankan hidupnya.
Saat ini terlihat perbedaan yang jelas pada kehidupan masyarakat Baduy-Luar dan Baduy-Dalam. Perubahan status masyarakat telah terjadi pada kehidupan
masyarakat Baduy. Awalnya semua masyarakat Baduy harus ikut bertapamenjaga alam lingkungannya; sekarang ini hanya Baduy-Dalam yang tugasnyabertapa,
Masyarakat Baduy-Luar tugasnya hanya ikut menjaga dan membantutapanya orang Baduy-Dalam. Masyarakat Baduy-Luar mulai diperbolehkan mencari lahan garapan
ladang di luar wilayah Baduy dengan cara menyewa tanah, bagi hasil, atau membeli tanah masyarakat luar. Untuk menambah pendapatannya pada lahan mereka di
luar Baduy, diperbolehkan ditanami beberapa jenis tanaman perkebunan seperti cengkeh, kopi, kakao, dan karet yang di wilayah Baduy dilarang. Hubungan yang
terbina karena bisnis sewa menyewa dan jual beli ladang, membentuk suatu interaksi yang cukup antara masyarakat Baduy dengan masyarakat luar. Interaksi ini
berdampak pada perubahan tingkah laku dan pola hidup masyarakat Baduy. Masyarakat Baduy-Luar sudah mulai memakai baju buatan pabrik, kasur, gelas, piring,
sendok, sendal jepit, blue jeans, sabun, sikat gigi, senter, dan patromaks; bahkan sudah cukup banyak masyarakat Baduy yang telah menggunakan telepon seluler.
Larangan penggunaan kamera dan video camera hanya berlaku pada masyarakat Baduy-Dalam; sedangkan pada Baduy-Luar sudah sering stasiun TV mengekspose
kehidupan mereka. Beberapa masyarakat di Baduy-Luar sudah ada yang berdagang di kampungnya masing-masing. Dalam hal kepemilikan lahan, yang semula semua
lahannya milik adat, khusus di Baduy-Luar telah menjadi milik perorangan dan bisa diperjualkan sesama orang Baduy.
Dinamika sosial dan budaya masyarakat Baduy berdampak juga pada pengelolaan hutan, lahan, dan lingkungannya. Peningkatan jumlah penduduk yang
mengakibatkan berkurangnya luas kepemilikan lahan pertanian setiap keluarga, selalu menjadi perhatian ketua adat. Masyarakat Baduy-Luar yang sudah tidak memiliki
lahan pertanian di dalam wilayah Baduy diharuskan mengolah lahan di luar wilayah, sedangkan masyarakat Baduy-Dalam mulai memperpendek masa bera lahannya.
Ketua adat Baduy selalu mengingatkan kepada seluruh warganya untuk tidak membuka lahan hutan menjadi lahan pertanian. Musyawarah tentang larangan membuka
hutan selalu disampaikan setiap tiga bulan sekali yang dihadiri oleh seluruh kepala kampung Baduy. Pertemuan rutinan itu dilanjutkan dengan pemeriksaan seluruh
batas kawasan hutan Baduy untuk melihat kondisi hutannya dan mengingatkan tentang batas-batas kawasan hutan kepada seluruh warga Baduy.
Bertambahnya jumlah penduduk juga meningkatkan kebutuhan kayu pertukangan untuk membuat rumah. Satu rumah untuk keluarga Baduy rata-rata membutuhkan
300 batang kayu tiang (10 cm x 10 cm x 3 m), 150 batang kayu papan (10 cm x 2,5 cm x 3 m), 30 lembar bilik bambu (2,7 m x 3 m), 600 lembar atap daun kirai, dan 30
batang bambu untuk lantainya (palupuh). Bahan untuk membuat atap rumah, bilik, dan lantai tidak menjadi permasalahan karena jumlahnya melimpah dan mudah
untuk dibudidayakan. Kebutuhan akan kayu pertukangan yang menjadi masalah dalam membuat rumah. Awalnya kebutuhan kayu pertukangan dapat diperoleh dari
ladangnya yang sudah di-bera-kan lebih dari 10 tahun. Ladang yang di-bera-kan lebih dari 10 tahun akan menghasilkan jenis-jenis kayu yang dapat digunakan untuk
tiang seperti kayu kecapi, kihiang, dan sebagainya. Namun, dengan perubahan masa bera menjadi 5 tahun, jenis-jenis kayu tersebut belum layak untuk dijadikan
tiang. Untuk mengatasi hal tersebut, aturan adat yang semula melarang menanam tanaman kayu di ladang berangsur-angsur mulai mengendur. Dalam lima belas
tahun terakhir ini, masyarakat Baduy-Luar diperbolehkan menanam tanaman kayu di ladangnya. Jenis tanaman kayu yang ditanam masyarakat Baduy-Luar di
ladangnya diantaranya adalah sengon, mahoni, kayu afrika, sungkai, aren, dan mindi. Tanaman kayu tersebut akan ditebang pada saat akhir masa bera. Kayu hasil
penebangannya ada yang dipakai sendiri dan ada pula yang sebagian dijual ke masyarakat luar. Dari sisi konservasi, penanaman jenis-jenis tanaman kayu selama
menunggu masa bera dapat meningkatkan kesuburan tanah dan sekaligus melindungi tanah dan lahannya dari erosi; sedangkan dari segi ekonomi akan meningkatkan
pendapatan petani dan sekaligus mengatasi masalah kekurangan kayu. Saat ini, seluruh lahan yang dikelola oleh masyarakat Baduy-Luar ditanami tanaman kayu yang
penanamannya dilakukan bersamaan pada saat menanam padi. Untuk di Baduy-Dalam, penanaman jenis tanaman kayu di ladang tetap dilarang; hanya saja
masyarakat diperbolehkan mengambil kayu di hutan dengan batasan diameter yang boleh ditebang tidak lebih dari 20 cm.
Tinggalkan komentar
Dipublikasi di Kehutanan, Lingkungan Hidup

Kesesuaian kawasan hutan lindung (studi kasus di HL Konak, Bengkulu)


Posted on 20 April 2010 | 1 komentar

Diterbitkan di Jurnal Ilmu Kehutanan, Januari 2010

Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya
buatan (Pemerintah Republik Indonesia, 2007). Kawasan lindung terdiri dari : kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, kawasan
perlindungan setempat, kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya, kawasan rawan bencana alam, kawasan lindung geologi, dan kawasan lindung
lainnya. Salah satu kawasan lindung yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya adalah hutan lindung (Pemerintah Republik Indonesia, 2008).
Undang-Undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan mendefinisikan hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan
sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Mengingat
fungsi tersebut keberadaan hutan lindung mempunyai peranan penting dalam menjaga kestabilan ekosistem sekitarnya.

Kriteria penetapan suatu kawasan menjadi kawasan hutan lindung didasarkan kepada kondisi alamiah wilayahnya yang mencakup jenis tanah, topografi, intensitas
curah hujan, dan ketinggian tempat dari permukaan laut (Pemerintah Republik Indonesia, 2004 dan 2008). Kriteria-kriteria itu dengan nilai tertentu mengharuskan
suatu untuk dijadikan kawasan hutan lindung. Dengan kondisi alamiah sesuai kriteria kawasan hutan lindung, diharapkan wilayah tersebut dapat memberikan
perlindungan terhadap tanah dan tata air dan sebagai sistem penyangga kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di bagian hilir (Senoaji, 2006). Sudahkan
kriteria tersebut diterapkan dalam penetapan suatu areal menjadi hutan lindung ?

Kenyataan di lapangan, cukup banyak kawasan hutan lindung yang dialihfungsikan oleh masyarakat menjadi lahan pertanian dan perkebunan (Senoaji, 2007). Hasil
interpretasi citra satelit tahun 2005 menunjukkan bahwa dari luas kawasan hutan di Kabupaten Kepahiang sekitar 18.322,31 hektar, hanya sekitar

3.127,60 hektar

atau sekitar 17,07 % yang masih berhutan, selebihnya sekitar 15.194,71 hektar telah berubah bentuk menjadi kebun campuran, semak belukar, tanah kosong, sawah,
dan lading (Bapedalda Propinsi Bengkulu, 2006). Beralihnya fungsi hutan tersebut akan mengakibatkan terganggunya fungsi perlindungan dan keseimbangan
lingkungan

Hasil penentuan kesesuaian lahan di areal hutan lindung Konak terhadap kriteria-kriteria kesesuaian lahan untuk kawasan lindung lindung adalah sebagai berikut :

Kemiringan lahan di hutan lindung Konak dominasinya adalah 0-8 %; yang berarti mempunyai nilai 20.

Jenis tanah di hutan lindung Konak adalah podsolik; yang berarti termasuk dalam katagori tanah peka terhadap erosi yang nilainya adalah 60.
Curah hujan harian yang didasarkan pada pengamatan curah hujan tahunan dari Badan Metereologi dan Geofisika di Kabupaten Kepahiang tahun 2006 dan

2007, intensitas hujannya sebesar 8,6 mm/hari; berarti termasuk dalam kelas satu dengan nilai 10.

Ketinggian tempat di hutan lindung Konak terletak pada kisaran 500 meter dari permukaan laut.

Berdasarkan hasil perhitungan kriteria-kriteria kesesuaian lahan untuk menentukan kawasan lindung, nilai dari hutan lindung Konak ini adalah 90. Batas nilai kriteriakriteria untuk kesesuaian lahan menjadi kawasan lindung adalah diatas 174. Ini berarti nilainya masih dibawah kriteria untuk kesesuaian lahan sebagai kawasan
lindung. Nilai ini menunjukkan bahwa hutan lindung Konak ini lebih sesuai jika digunakan untuk fungsi lain seperti tempat rekreasi, hutan kota, budidaya tanaman, dan
lain sebagainya; kerena secara fisiografis kurang cocok sebagai lahan yang diperuntukan bagi perlindungan lingkungan. Suatu kawasan ditetapkan menjadi kawasan
lindung jika arealnya dapat menjadi wahana perlindungan lingkungan di sekitarnya atau di daerah hilirnya, karena fungsi kawasan lindung adalah untuk mengatur tata
air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Penentuan suatu areal menjadi atau dilepaskan dari kawasan hutan adalah kewenangan menteri kehutanan. Dengan demikian pengalihfungsian hutan lindung Konak
menjadi fungsi lainnya baik bidang kehutanan ataupun di luar bidang kehutanan sepenuhnya menjadi kewenangan menteri kehutanan. Dalam hal ini, semestinya
pemerintah Kabupaten Kepahiang mengajukan permohonan kepada menteri kehutanan untuk mengalihfungsikan kawasannya. Jika ijin pengalihfungsiannya telah
dikeluarkan, Pemerintah Kabupaten Kepahiang baru bisa melakukan pemanfaatan kawasan tersebut sesuai dengan persetujuannya.

1 Komentar
Dipublikasi di Kehutanan

Kondisi Ekosistem Hutan Lindung Bukit Daun di Kepahiang Bengkulu


Posted on 10 Maret 2010 | Tinggalkan komentar

Hutan Lindung : antara pinus dan kebun masyarakat

Pondok Masyarakat di Hutan Lindung

Diterbitkan pada Buletin Sawala, Balai Diklat Dephut RI, Juni 2009

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem kawasan Hutan Lindung Bukit Daun di Kabupaten Kepahiang Bengkulu Metode yang digunakan adalah studi
peta dan survey lingkungan. Hutan Lindung Bukit Daun memiliki luasan sekitar 8.045 hektar, hutan primernya hanya 1.038,11 hektar, 435,17 hektar berupa belukar tua,
dan selebihnya seluas 6.571,72 hektar telah berubah menjadi kebun campuran, lahan terbuka, persawahan, belukar muda, dan ladang. Rata-rata kelerengan lahannya
15 45 % dengan jenis tanahnya didominasi oleh kambisol/dystropepts. Rata-rata curah hujan hariannya sebesar 8,6 mm/hari. Tipe ekosistemnya hutan dataran rendah
dan ekosistem hutan dataran tinggi. Berdasarkan kondisi penutupan vegetasinya, dikelompokkan menjadi tiga kelompok hutan, yaitu : hutan primer, hutan tegakan
pinus, dan hutan kebun Vegetasi tingkat pohon di Hutan Lindung Bukit Daun pada kelompok hutan primer disusun oleh 17 jenis. Potensi tegakan untuk tingkat pohon
sekitar 132,31 m3 per hektar dengan jumlah pohon per hektar sekitar 105 pohon.

Tinggalkan komentar
Dipublikasi di Kehutanan
Tag Ekosistem, Hutan Lindung

Kontribusi keberadaan hutan lindung terhadap pendapatan masyarakat


Posted on 10 Maret 2010 | Tinggalkan komentar

Diterbitkan pada Jurnal Manusia dan Lingkungan, Maret 2009

Hutan lindung merupakan kawasan hutan yang fungsi pokoknya sebagai perlindungan lingkungan. Kenyataannya banyak hutan lindung yang diolah masyarakat menjadi
kebun dan menjadi salah satu sumber pendapatannya. Upaya pemerintah mengeluarkan masyarakat dari kawasan ini berarti akan mengurangi pendapatannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan masyarakat yang diperoleh dari hutan lindung. Penelitian ini dilakukan di Desa Air Lanang, Bengkulu.
Metode dasar yang digunakan adalah metode survey dengan teknik PRA. Data dan informasi yang dikumpulkan, dianalisis dengan analisis dekriptif kualitatif dan
kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa jumlah penduduk desa adalah 1.460 jiwa (285 KK), 96 % pekerjaannya sebagai petani, 60 % tingkat
pendidikannya lulusan sekolah dasar. Tanaman kopi merupakan tanaman utama dan menjadikan prestise bagi pemiliknya. Luas lahan mereka sekitar 2,5 hektar di lahan
milik dan kawasan hutan. Kontribusi pendapatan masyarakat dari kawasan hutan lindung ini sebesar 52,5 % dari total pendapatan. Ini berarti bahwa mengeluarkan
masyarakat dari aktifitasnya di hutan lindung akan mengurangi pendapatannya sebesar 52,5 %.

Tinggalkan komentar
Dipublikasi di Kehutanan
Tag Hutan, Masyarakat

Kajian Ekologi dan Fungsi Hutan di Pulau Enggano Bengkulu


Posted on 10 Maret 2010 | 1 komentar

Hutan dataran rendah di Pulau Enggano

Hutan Mangrove di Puau Enggano

Diterbitkan di Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 2007

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekologis kawasan hutan pulau Enggano berdasarkan fungsinya dan tipe ekosistem penyusun hutan. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan cara membuat petak pengamatan berupa jalur pada kawasan
hutan yang akan dikaji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan hutan Pulau Enggano berdasarkan fungsinya terdiri dari hutan lindung, hutan produksi terbatas,
cagar alam dan taman buru. Ekosistem hutannya adalah hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa, dan hutan dataran rendah. Topografi kawasan hutan Pulau
Enggano bervariasi mulai dari datar sampai curam dengan ketinggian tempat 0 220 meter dari permukaan laut. Jenis-jenis yang dominan di hutan dataran rendah
adalah suku Dipterocarpaceae, Sapindaceae, dan Myrtaceae. Jenis-jenis yang dominan di hutan pantai adalah suku Malvaceae dan Guttiferae; di hutan rawa adalah suku
palmae (nibung) dan rumput rawa; sedangkan pada ekosintem mangrove, jenis yang dominan adalah suku Rhizophoraceae dan Soneratiaceae.