Anda di halaman 1dari 3

TATA LAKSANA DISENTRI BASILER

SOP

No. Kode
Terbitan
No. Revisi
Tgl. Mulai Berlaku
Halaman

: SOP/UKP/RJ/25
: 01
: 00
: 01/06/2015
: 1-3

PUSKESMAS CIKAMPEK
KAB.KARAWANG

PENGERTIAN

dr. H. Deddy Ferry Rachmat, MKM


NIP 19710226 200501 1 004

Definisi :
Suatu infeksi akut kolon yang disebabkan kuman genus shigella,
dengan tanda-tanda diare, adanya lendir dan darah dalam tinja, kram
perut dan tenesmus.
Penyebab :
Kuman genus shigella (S.dysentriae, S.flexneri, S.bondii dan
S.sonnei)
Kriteria Diagnosis :
Defekasi sedikit-sedikit dan dapat terus menerus sampai isi usus
terkuras habis.
Sakit perut dengan rasa kolik dan melilit.
Pada keadaan berat tinja berlendir dengan warna kemerahmerahan atau lendir yang bening dan berdarah, bersifat basa.
Muntah-muntah dan sakit kepala.
Diagnosis Banding :
Radang kolon yang disebabkan oleh kuman enterohemoragik dan
enteroinvasif E.coli, Campylobacter jejuni, Salmonella enteriditis
serotipe, Yersinia enterocolitica, Clostridium difficile dan protozoa
Entamoeba histolytica.
Perjalanan Penyakit :
Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas karena
mual dan muntah, terutama pada anak kecil dan usia lanjut.
Dehidrasi Ringan (hilang cairan 2-5%BB): turgor kurang suara
serak.
Dehidrasi Sedang (hilang cairan 5-8% BB): turgor buruk, suara
serak, presyok (nadi cepat, nafas cepat, dan dalam)
Dehidrasi Berat (hilang cairan 8-10%): tanda dehidrasi sedang
ditambah kesadaran menurun, otot-otot kaku, sianosis.

TUJUAN

Sebagai acuan untuk tenaga medis dan


penatalaksanaan pasien dengan disentri basiler.

paramedis

dalam

RUANG LINGKUP

Seluruh pasien yang datang dengan keluhan Buang Air besar cair yang

disertai dengan nyeri perut berlebihan.


SK Kepala Puskesmas No.00 /2015 tentang Pelayanan Klinis.
KEBIJAKAN
REFERENSI

1
2
3
4
5
6

PROSEDUR

5 Minute Clinical Consult


Sudoyo, Aru W. et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
IV.Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2007.
Fauci, AS. Et al. Harrisons Principles of Internal Medicine. 18th ed.
The McGraw-Hill Company Inc, New York, 2012.
WWW.WHO/int
MIMS Indonesia. Petunjuk Konsultasi, ed.7, 2008.
Permenkes No.5 tahun 2014, Panduan praktik Pelayanan Klinis
bagi Dokter di Faskes Primer

Anamnesa
1. Apakah terdapat sakit perut yang melilit?
2. Apakah defekasinya sedikit-sedikit?
3. Bagaimana konsistensi feces?
4. Apakah terdapat muntah-muntah?
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah elektrolit (Na, K, Cl)
Pemeriksaan tinja
Penyulit
Gangguan elektrolit dalam darah, demam
Pasien syok, penurunan kesadaran
Lama perawatan
Tiga sampai lima hari (keadaan umum membaik)
Bila dalam perawatan pasien bertambah buruk atau masuk ke
dalam kriteria dehidrasi berat segera rujuk ke rumah sakit terdekat
Terapi
Penatalaksanaan
Bed rest selama keadaan umum lemah, bila keluhan berkurang
mulai mobilisasi
Diet lunak disertai sayuran dan lauk-pauk tidak merangsang
muntah, minum teh, sari buah (yang tidak bergas)
Memasang jalur infus intravena (cairan RL atau Nacl 0,9%)
Rehidrasi
Bila keadaan umum pasien baik (dehidrasi ringan) dapat dilakukan
terapi rehidrasi oral (oralit, pedialit)

Bila keadaan umum pasien lemah disertai dehidrasi,


Dipakai BJ Plasma dengan rumus :
Kebutuhan cairan = BJ plasma-1,025 x BB x 4 ml
0,001
Dehidrasi ringan : BJ plasma 1,025 1,028
Dehidrasi sedang: BJ plasma 1,028 1,032

Dehidrasi berat : BJ plasma 1,032 1,040


Pemberian Cairan Dehidrasi terbagi atas :
a. Dua jam pertama (tahap inisial): jumlah total kebutuhan cairan
menurut rumus BJ plasma diberikan langsung selama 2 jam agar
tercapai rehidrasi optimal
b. Jam ketiga (tahap kedua): diberikan berdasarkan kehilangan
cairan selama 2 jam pemberian cairan tahap inisial sebelumnya
c. Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan
kehilangan cairan melalui tinja dan IWL
Medika Mentosa
Antimikroba: cotrimoxazole 2 x 2 tab/hari (per oral 3-5 hari) atau
ciprofloxacin 2 x 500 mg/hari (per oral 3 hari)
Jika terdapat muntah diberikan ondansentron 4 mg (IV)
Out Put
Keluhan pasien berkurang
Diare berkurang
Dapat makan dan minum seperti biasa
UNIT TERKAIT

1.
2.
3.
4.

POLI UMUM
POLI LANSIA
UGD
KIA