Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TERSTRUKTUR READING-QUESTIONING-ANSWERING

PARADIGMA PENDIDIKAN ABAD 21


(CRITICAL THINKING CREATIVE COLLABORATIVE COMMUNICATIVE)
DAN HARTA TERPENDAM SEORANG MUSLIM
Oleh :
Muchammad Andi Ali Ridho
Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Biologi
Universitas Negeri Malang

A. LATAR BELAKANG
Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya, sebuah proverb yang saya
terjemahkan dari bahasa Inggris sebenarnya telah mewakili timeline sejarah manusia selama
hampir tiga millennia. Proverb tersebut dapat dimaknai sebagai perguliran masa yang tidak dapat
dibendung oleh siapapun. Perubahan waktu dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam,
tahun ke tahun, hingga dekade ke dekade telah melahirkan banyak tokoh yang menjadi man of
the year, yaitu tokoh yang memegang kunci pergerakan dan perubahan zaman.
Zaman yang selalu berganti menuntut manusia untuk selalu berubah. Dahulu manusia
cukup puas dengan menggunakan penerangan lampu cepluk, sekarang mereka menggunakan
lampu neon yang lebih hemat energi, misalnya. Contoh lainnya masih banyak, sangat banyak.
Tidak akan saya sebutkan satu-persatu. Ini hanya gambaran saja, betapa perubahan menuju arah
yang lebih baik akan selalu terjadi. Sunnatullah. Qadarullah.
Perubahan di pelbagai lini juga terjadi di bidang pendidikan. Pendidikan yang awalnya
hanya berparadigma behavioristik sekarang sudah berubah drastis menjadi pendidikan yang
lebih humanis dan konstruktivistis. Isu pendidikan terbaru dan yang hangat diperbincangkan oleh
ahli pendidikan akhir-akhir ini berkenaan dengan paradigma pendidikan abad 21.
Untuk menyiapkan siswa dan mahasiswa agar bisa menghadapi abad ke-21 ternyata
diperlukan tindakan/usaha yang cukup kompleks. Tidak hanya itu, para stakeholder juga dituntut
untuk lebih kolaboratif dengan berbagai pihak. Semuanya hanya demi satu tujuan, menyiapkan
generasi unggul abad ke-21. Proses perkembangan siswa, motivasi, ketertarikan terhadap suatu
bidang, aspirasi, sosioekonomi, dan support system akan menjadi faktor penentu kesuksesan
mereka, para generasi penerus bangsa.
1

B. MASALAH
Meskipun zaman terus berubah, reformasi pendidikan terus berlangsung dan berfokus
kepada akuntabilitas peserta didik dan pendidik, tujuan bersekolah senantiasa konsisten dan sama
dari masa ke masa. Prestasi akademis, non-akademis, skill teknis, dan keterserapan kerja menjadi
tolok ukur kesuksesan pendidikan.
Goodlad (1984) menyampaikan empat tujuan sekolah, perkembangan akademis perihal
kemampuan intelektual dan pengetahuan, persiapan dalam bidang vokasional untuk bekerja,
persiapan kemampuan sosial untuk menjadi warga negara yang baik, dan pengetahuan personal
agar mendukung perkembangan pribadi siswa. Selama berlangsungnya abad ke-21 terjadi
perluasan tujuan dalam menyiapkan peserta didik, dari komunitas lokal menjadi ekonomi global.
Tentunya diperlukan pengetahuan, kemampuan, dan disposisi yang baik untuk menyiapkan
warga negara dan pemimpin masa depan yang siap menghadapi tantangan zaman.
Kesiapan memasuki lingkungan perkuliahan dan kesiapan kerja masih belum didefinisikan
dengan baik (DiBenedetto, 2015). Sehingga muncul berbagai pertanyaan tentang siapakah pihak
yang paling berwenang dalam mempersiapkan generasi abad ke-21. Berdasarkan penelitian
Gardner dan Liu (1997) dan Hart (2006), banyak pemimpin perusahaan yang menyatakan bahwa
freshgraduate tidak memiliki kesiapan dan kecakapan kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Menurut Green dan Winters (2005) hanya satu pertiga siswa SMA saja yang memiliki
kualifikasi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Hart
(2015) menyatakan bahwa pekerja dan mahasiswa menginginkan pendidikan perguruan tinggi
yang tidak hanya berfokus kepada akademis saja, tetapi juga kepada kecakapan hidup dan
pengetahuan aplikatif.
Saya pribadi menilai bahwa paradigma pendidikan abad ke-21 telah memperhatikan
banyak aspek tentang kesiapan peserta didik agar mampu menjadi warga negara yang baik, dan
calon pemimpin yang baik. Hanya saja, entah karena perbedaan kebiasaan da kultur budaya,
menurut saya ada hal yang juga memiliki nilai esensial yang harus dipersiapkan bagi peserta
didik. hal esensial itu adalah pribadi berketuhanan.
Indonesia, negara yang memiliki landasan filosofis tertinggi yaitu Pancasila, meletakkan
dasar filosofis bernegara pada sila ke-1, Ketuhanan yang Maha Esa. Bangsa Indonesia adalah
bangsa yang beragama dan menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa. Poin ini tidak boleh
hilang dari re-orientasi paradigma pendidikan.

C. TUJUAN
Berbagai pihak harus sadar bahwa persiapan peserta didik menuju persaingan global
harus dimulai sedini mungkin. Tidak hanya menciptakan jago kandang, tetapi menyiapkan
Indonesia menjadi macan Asia. Persiapan tersebut perlu memperhatikan aturan dan rambu-rambu
yang berlaku. Perlu juga memperhatikan indikator-indikator skill abad ke-21 yang telah
dirumuskan oleh banyak ahli dan akademisi. Ada beberapa poin yang menurut saya menjadi
tujuan kepenulisan tugas ini, antara lain sebagai berikut.
1. Mengetahui urgensi pemahaman terhadap paradigma pendidikan abad ke-21.
2. Mengetahui rincian kemampuan yang diharakan dimiliki oleh peserta didik untuk
menyongsong kehidupan masa depan.
3. Menyiapkan strategi untuk mencetak pribadi yang agamis, unggul lahir dan bathin, dan siap
menjadi pemimpin dunia.
D. HASIL TELAAH
Tenaga pendidik, pembuat kebijakan, dan pemimpin perusahaan perlu berkolaborasi
untuk merumuskan sistem pendidikan dan lingkungan pendidikan yang membantu siswa/
mahasiswa untuk siap masuk dil lingkungan kerja. Berbagai faktor yang dibutuhkan untuk
menunjang kesuksesan karir siswa/mahasiswa, motivasi, minat, aspirasi, status sosial ekonomi,
sistem pendukung, dan proses perkembangan lingkungan kerja. Berikut ini adalah teori yang
diadaptasi dari Bandura (1986) dan Bronfenbrenner (1979; 2005) tentang berbagai teori
perkembangan manusia. Teori kognitif sosial, teori perkembangan bioekologikal manusia,
kemampuan belajar, kebiasaan masyarakat berliterasi, kemampuan dan kecakapan dibidang
akademis dan praktik, kecakapan hidup dan karir, serta terakhir adalah individu yang siap
berkarya. Berbagai kecakapan yang dibutuhkan oleh siswa antara lain adalah, learning skills, life
skills, career skills, social skills, knowledge competencies, incidental learning skills,
dispositions, experiences and interdisciplinary topics.
Beberapa peneliti telah berusaha membuat rumusan mengenai kemampuan apa saja yang
seyogianya dapat dikuasai oleh peserta didik di abad ke-21. Pada gambar 1, dapat dilihat
berbagai rincian kemampuan, antara lain kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis dan
kreatif, mengatur diri sendiri, mandiri, memiliki integritas, dan lain-lain. Alangkah luarbiasa
apabila semua peserta didik mampu memiliki skill seperti itu.

Gambar 1. Kemampuan Abad 21 yang diharapkan muncul (DiBenedetto, 2016).

E. REFLEKSI
1. Pertanyaan yang muncul
Saya melihat bahwa orientasi dari pendidikan abad ke-21 berdasarkan artikel ini adalah
membentuk individu yang siap kerja dan bersaing di kancah global, hanya itukah orientasi

pendidikan abad ke-21?


Bagaimana pandangan filosofis peneliti terhadap pendidikan abad ke-21?
Bagaimana peranan religiusitas terhadap kecakapan hidup siswa peserta didik di abad ke-21?
Dimanakah sampel data diambil? Apakah sampel-sampel itu memiliki cakupan tertentu dan

batasan tertentu?
Bagaimana kurikulum yang tepat untuk mengembangkan kecakapan hidup peserta didik di
abad ke 21?

2. Sebuah perspektif
Kemampuan dan kecakapan peserta didik pada era milenial ke-21 perlu dicermati ulang,

apakah memang sesuai dengan falsafah tertinggi bangsa Indonesia.


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, apakah ada ruang bagi pengembangan

spiritual quote untuk peserta didik, ataukah nilai religi dikesampingkan.


Pendidikan abad ke-21 yang ideal dan berbagai kecakapan yang dibutuhkan pada abad ke-21
perlu dianalisis, apakah keduanya memiliki posisi hirarkial atau tidak.

Penelitian ini hanya cocok untuk negara yang sudah siap bersaing global, negara berkembang

perlu usaha keras untuk mengejar ketertinggalan itu.


Basis religius umat islam di Indonesia menjadi poin penting yang harus dicermati, tidak
semua teori dan konsep yang lahir dari negara sekularis dan liberalis cocok untuk diterapkan
di Indonesia.
Pertemuan saya dengan sosok hebat selama mengikuti seminar di UNS, serta penyusunan

tugas ini seakan menjadi tali takdir untuk saya. Pemahaman pendidikan di Indonesia adalah
langkah awal yang akhirnya bisa saya tarik dari fenomena yang baru terjadi pada hidup saya.
Indonesia butuh re-orientasi pendidikan.
Bangsa Indonesia tidak boleh lupa bahwa posisi saat ini, bangsa Indonesia bukan sebagai
seorang pemain kancah dunia. Bangsa Indonesia masih nyaman dengan posisinya sebagai
konsumen tingkat dunia.
Banyak hal yang mendukung argumentasi saya ini. Pertama dari angka kebiasaan literasi,
nilai sitasi dan impact factor artikel yang dimiliki oleh akademisi Indonesia, dari segi ekonomi
Indonesia tertinggal jauh oleh raksasa asia lainnya. Tapi hal yang pling penting adalah, Indonesia
sebagai negara muslim terbesar di dunia tidak sadar terhadap potensi yang dimiliki. Bayangkan
saja jika semua muslim di Indonesia adalah intelektual-intelektual yang berperan di kancah
global.
Negara-negara lain menyadari atas potensi Indonesia, berbagai upaya mereka lakukan, ini
bukan teori konspirasi, tapi memang Indonesia menjadi sasaran proxy war. Saya tidak ingin
membahas wilayah ini terlalu mendalam.
Kembali pada bidang akademis, masyarakat Indonesia selama ini masih menggunakan
standardisasi dari bangsa luar TIMMS, PISA, Human Development Index, dan entah banyak lagi
tolok ukur yang dibuat oleh bangsa asing untuk Indonesia, apakah Indonesia tidak ingin
membentuk standard bagi kaumnya sendiri? Rasa nasionalisme pun menjadi penggugah untuk
hal yang satu ini. Allahu Akbar!!
Singkat kata, perjalanan saya telah memberikan perspektif baru untuk tidak terlalu
memusingkan standard dunia. Standard terpenting dalam hidup seorang muslim adalah
ketaqwaan kepada Allah. Jadilah muslim yang paling memberikan manfaat kepada khalayak
dunia, jadilah muslim yang bisa berkompetisi dan berkompetensi global.

F. KESIMPULAN
Dari pembahasan singkat yang telah saya lakukan, saya dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut.

Kemampuan yang diharapkan muncul pada paradigma pendidikan abad ke-21 adalah
kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif, kemampuan berkolaborasi, dan

kemampuan untuk berkomunikasi.


Jauh sebelum abad ke-21, sekitar 13 abad yang lalu, konsep manusia unggul sudah dijelaskan

dalam agama Islam, antara lain siddiq, amanah, fathonah, dan tabligh.
Sudah waktunya muslim bangkit, menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan oleh dunia.
Sudah saatnya muslim menunjukan identitas dan entitasnya sebagai khalifah fil ard, yang
cinta damai, yang suka menebarkan kebaikan.

G. RUJUKAN
Bronfenbrenner, U. 2005. Making human beings human: Bioecological perspectives on human
development. Thousand Oaks, CA: Sage.
Dibenedetto, C. A., & Myers, B. E. (2016). A Conceptual Model for the Study of Student
Readiness in the 21st Century 1, 60(May).
Gardner, P.D. and W.Y. Liu. 1997. Prepared to perform? Employers rate work force readiness of
new grads. Journal of Career Planning and Employment 57(3): 32-56.
Greene, J.P. and M.A. Winters. 2005. Public high school graduation and college-readiness rates:
1991-2002. New York, NY. Education Working Paper No. 8. Center for Civic Innovation.
Goodlad, J.I. 1984. A place called school: Prospects for the future. New York, NY: McGraw-Hill.
Hart. 2015. Falling short? College learning and career success. A survey of employers and
college students conducted on behalf of: The Association of American Colleges and
Universities. Washington, DC: Hart Research Associates, Inc.