Anda di halaman 1dari 36

Tinjauan Pustaka

Keterkaitan antara Metabolisme Karbohidrat dan Lemak dengan Kegemukan


dan Gula Darah yang Tinggi

Jennifer
10.2012.023 / D6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: jennifer@civitas.ukrida.ac.id
Tutor : dr. Monica

Pendahuluan
Makan adalah salah satu cara manusia untuk mendapatkan energi.Makanan merupakan
salah satu sumber asupan nutrisi tersebut. Makanan yang kita makan memiliki kadar yang
berbeda-beda dan nutrisi yang berbeda oleh sebab itulah kita dianjurkan tidak hanya
mengonsumsi satu jenis makanan saja tapi berbagai jenis makanan. Makanan yang digunakan
sebagai sumber energi itu harus sesuai dengan kebutuhan. Di dalam tubuh makanan yang telah
masuk akan diolah melalu serangkaian proses kimia yang disebut dengan metabolisme. Untuk
setiap jenis makanan, diperlukan metabolisme yang berbeda-beda agar mampu diserap dengan
baik oleh tubuh untuk dijadikan energi. Proses metabolisme sangat penting untuk mengetahui
apakah kadar makanan yang kita makan telah sesuai untuk tubuh atau tidak.
Apabila berlebihan atau kekurangan, akan ada proses dalam tubuh untuk mengaturnya.
Bila ada seseorang yang mengalami kegemukan, berarti terjadi kelebihan zat-zat dalam tubuh. Zat
tersebut adalah karbohidrat dan lemak. Kegemukan bisa terjadi karena banyak faktor, salah
satunya adalah gangguan pada organ endokrin yang menghasilkan hormon-hormon . Dalam hal ini
akan dijelaskan metabolisme dari karbohidrat dan lemak, selain itu pengaturan hormon-hormon yang
mempengaruhinya serta akan dijabarkan pula sumber makanan yang mengandung karbohidrat dan
lemak dan bagaimana cara mengatur pola makan yang lebih baik.

Pembahasan

Metabolisme
Metabolisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan interkonversi senyawa
kimia di dalam dubuh, jalur yang diambil tiap molekul, hubungan antarmolekul, dan mekanisme
yang mengatur aliran metabolit melalui jalur-jalur metabolisme. Jalur metabolik digolongkan
menjadi tiga kategori. Jalur anabolik, yaitu jalur-jalur yang berperan dalam sintesis senyawa yang
lebih besar dan kompleks dari prekurso yang lebih kecil. Jalur anabolik bersifat endotermik. Jalur
katabolik, berperan dalam penguraian molekul besarm sering melibatkan reaksi oksidatif; jalur ini
bersifat eksotermik, yang menghasilkan ekuivalen pereduksi, dan ATP terutama melalui rantai
respiratorik. Jalur amfibolik, yang berlangsung di persimpangan metabolisme, bekerja sebagai
penghubung antara jalur katabolik dan anabolik misalnya siklus asam sitrat.1
Metabolisme Karbohidrat
Glikolisis dan Oksidasi Piruvat
Kebanyakan jaringan memerlukan glukosa. Di otak, kebutuhan ini bersifat substansial.
Glikolisis, yaitu jalur utama metabolisme glukosa, terjadi di sitosil semua sel. Jalur ini unik
karena dapat berfungsi baik dalam keadaan aerob maupun anaerob, bergantung pada ketersediaan
oksigen dan rantai transpor elektron. Eritrosit yang tidak memiliki mitokondria, bergantung
sepenuhnya pada glukosa sebagai bahan bakar metaboliknya, dan memetabolisme glukosa
melalui glikolisis anaerob. Namun, untuk mengoksidasi glukosa melewati piruvat (produk akhir
glikolisis) oksigen dan sistem mitokondria diperlukan.1
Glikolisis merupakan rute utama metabolisme glukosa dan jalur utama untuk metabolisme
fruktosa dan galaktosa, dan karbohidrat lain yang berasal dari makanan. Kemampuan glikolisis
untuk menghasilkan ATP tanpa oksigen sangat penting karena hal ini memungkinkan otot rangka
bekerja keras ketika pasokan O2 terbatas.1
Glikolisis dibagi menjadi dua fase yaitu fase preapartory dan fase payoff. Setiap molekul
glukosa yang melewati fase preparatory, dua molekul gliseraldehid-3-fosfat terbentuk. Kedua
molekul itu menuju fase payoff. Piruvat adalah produk akhir dari fase kedua glikolisis.2
Semua enzim glikolisis ditemukan di sitosol. Glukosa memasuki glikolisis melalui
fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat yang dikatalis oleh heksokinase dengan menggunakan ATP
sebagai donor fosfat. Dalam kondisi fisiologis, fosforilasi glukosa menjadi glukosa 6-fosfat dapat
dianggap bersifat ireversibel. Heksokinasi dihambat secara alosterik oleh produknya, yaitu
glukosa 6-fosfat.1

Gambar 1. Proses glikolisis.2


Di jaringan selain hati (dan sel pulau-pankreas), ketersediaan glukosa untuk glikolisis
dikontrol oleh transpor ke dalam sel yang selanjutnya diatur oleh insulin. Heksokinase memiliki
afinitas tinggi untuk glukosa, dan di hati dalam kondisi normal enzim ini mengalami saturasi
sehingga bekerja dengan kecepatan tetap untuk menghasilkan glukosa 6-fosfat untuk memenuhi
kebutuhan sel. Sel hati juga mengandung isoenzim heksokinase, glukokinase yang memiliki
afinitas rendah. Fungsi glukokinasi di hati adalah untuk mengeluarkan glukosa dari darah setelah
makan dan menghasilkan glukosa 6-fosfat yang melebihi kebutuhan untuk glikolisis, yang
digunakan untuk sintesis glikogen dan lipogenesis.1
Glukosa 6-fosfat adalah senyawa penting yang berada di pertemuan beberapa jalur
metabolik: glikolisis, glukoneogenesis, jalur pentosa fosfat, glikogenesis, dan glikogenolisis. Pada
glikolisis, senyawa ini diubah menjadi fruktosa 6-fosfat oleh fosfoheksosa isomerasi yang
melibatkan suatu isomerasi aldosa-ketosa. Reaksi ini diikuti oleh fosforilasi lain yang dikatalisis
oleh enzim fosfofruktokinase untuk membentuk fruktosa 1,6-bisfosfat. Reaksi fosfofruktokinase

secara fungsional dapat dianggap ireversibel dalam kadaan fisiologis; reaksi ini dapat diinduksi
dan diatur secara alosterik, dan memiliki peran besar dalam mengatur laju glikolisis. Fruktosa 1,6bisfosfat dipecah menjadi aldolase menjadi dua triosa fosfat, gliseraldhida 3-fosfat dan
diidroksiaseton fosfat. Gliseraldehida 3-fosfat dan dihidroksiaseton fosfat dapat saling
terkonveksi oleh enzim fosfotriosa isomerase.1
Glikolisis berlanjut dengan oksidasi gliseraldehida 3-fosfat menjadi 1,3-bisfosfogliserat.
Enzim yang mengatalisis reaksi oksidasi ini, gliseraldehida 3-fosfat dehidrogenase, bersifat
dependen NAD. Dalam reaksi berikutnya yang dikatalisis oleh fosfogliserat kinase, fosfat
dipindahkan dari 1,3-bisfosfogliserat ke ADP, membentuk ATP dan 3-fosfogliserat.1
Karena untuk setiap molekul glukosa yang mengalami glikolisis dihasilkan dua molekul
triosa fosfat, padan tahap ini dihasilkan dua molekul ATP per molekul glukosa yang mengalamu
glikolisis. Lalu 3-fosfogliserat mengalami isomerasi menjadi 2-fosfogliserat oleh fosfogliserat
mutase. Besar kemungkinan bahwa 2,3-bisfosfogliserat merupakan zat antara dalam reaksi ini.1
Langkah berikutnya dikatalisis oleh enolase dan melibatkan suatu dehidrasi yang
membentuk fosfoenolpiruvat. Enolase dihambat oleh fluorida, dan jika pengambilan sampel darah
untuk mengukur glukosa dilakukan, tabung penampung darah tersebut diisi oleh fluorida untuk
menghambat glikolisis. Enzim ini juga bergantung pada keberadaan Mg 2+ atau Mn2+. Fosfat pada
fosfoenolpiruvat dipindahkan ke ADP oleh piruvat kinase untuk membentuk dua molekul ATP per
satu molekul glukosa yang teroksidasi.1
Keadaan redoks jaringan kini menentukan jalur mana dari dua jalur yang diikuti. Pada
kondisi anaerob, NADH tidak dapat direoksidasi melalui rantai respiratorik menjadi oksigen.
Piruvat direduksi oleh NADH menjadi laktat yang dikatalisisi oleh laktat dehidrogenasi. Terdapat
berbagai isoenzim laktat dehidrogenasi spesifik-jaringan yang penting secara klinis. Reoksidasi
NADH melalui pembentukan laktat memungkinkan glikolisisi berlangsung tanpa oksigen dengan
menghasilkan cukup NAD+ untuk siklus berikutnya dari reaksi yang dikatalisis oleh
gliseraldehida-3-fosfat dehidrogenase. Pada keadaan aerob, piruvat diserap ke dalam mitokondria,
dan setelah menjalani dekarboksilasi oksidatif menjadi asetil KoA, dioksidasi menjadi CO 2 oleh
siklus asam sitrat. Ekuivalen pereduksi dari NADH yang dibentuk dalam glikolisis diserap ke
dalam mitokondria untuk dioksidasi.1
Kebanyakan reaksi glikolisisi bersifat reversibel, namun ada tiga reaksi jelas bersifat
eksergonik dan karena itu harus dianggap ireversibel secara fisiologis. Ketiga reaksi tersebut,
yang dikatalisis oleh heksokinase (dan glukokinase), fosfofruktokinase, dan piruvat kinase, adalah

tempat-tempat utama pengendalian glikolisis. Fosfofruktokinase dihambat oleh ATP dalam


konsentrasi intrasel, hambatan ini dapat cepat dihilangkan oleh 5AMP yang terbentuk sewaktu
ADP mulai menumpuk, yang memberi sinyal akan perlunya peningkatan laju glikolisis.1
Fruktosa masuk ke jalur glikolisis melalui fosforilasi menjadi fruktosa 1-fosfat, dan tidak
melalui tahap-tahap regulatorik utama sehingga dihasilkan lebih banyak piruvat (dan asetil KoA)
daripada piruvat yang dibutuhkan untuk membentuk ATP. Di hati dan jaringan adiposa, hal ini
menyebabkan peningkatan lipogenesis dan tingginya asupan fruktosa berperan menyebabkan
obesitas.1

Gambar 2. Reaksi oksidasi piruvat secara umum.2

Gambar 3. Regulasi piruvat dehidrogenase (PDH).1


Piruvat yang terbentuk di sitosol diangkut ke dalam mitokondria oleh suatu simporter
proton. Di dalam mitokondria, piruvat mengalami dekarboksilasi oksidatif menjadi asetil-KoA
oleh suatu kompleks multienzim yang terdapat di membran dalam mitokondria yaitu kompleks
piruvat dehidrogenase.1

Piruvat dehidrogenase dihambat oleh produknya, yaitu asetil-koA dan NADH. Enzim ini
juga diatur melalui fosforilasi oleh suatu kinase tiga residu serin pada komponen pirivat
dehidrogenase kompleks multienzim sehingga aktivitas enzim menurun, dan menyebabkan
peningkatan aktivitas melalui defosforilasi oleh suatu fosfatase. Kinase diaktifkan oleh
peningkatan rasio [ATP]/[ADP], [asetil-KoA]/[KoA], dan [NADH]/[NAD+]. Oleh sebab itu,
piruvat dehidrogenase, dan dengan demikian glikolisis, dihambat jika tersedia ATP dalam jumlah
memadai dan jika asam lemak teroksidasi. Di jaringan adiposa, tempat glukosa menghasilkan
asetil-KoA untuk lipogenesis, enzim tersebut diaktifkan sebagai respons terhadap insulin.1
Siklus Asam Sitrat
Siklus asam sitrat adalah serangkaian reaksi di mitokondria yang mengoksidasi gugus
asetil pada asetil-KoA dan mereduksi koenzim yang ter-reoksidasi melalui rantai transpor elektron
yang berhubungan dengan pembentukan ATP.1
Siklus asam sitrat adalah jalur bersama terakhir untuk oksidasi karbohidrat, lipid, dan
protein karena glukosa, asam lemak, dan sebagian besar asam amino dimetabolisme menjadi
asetil-KoA atau zat-zat antara siklus ini. Siklus ini juga berperan sentral dalam glukoneogenesis,
lipogenesis, dan interkonversi asam-asam amino. Banyak proses ini berlangsung di sebagian besar
jaringan, tetapi hati adalah satu-satunya jaringan tempat semuanya berlangsung dengan tingkat
yang signifikan.1
Siklus diawali dengan reaksi antara gugus asetil pada asetil KoA dan asam dikarboksilat
empat karbon oksaloasetat yang membentuk asam trikarboksilat enam-karbon, yaitu sitrat. Pada
reaksi-reaksi berikutnya, terjadi pembebasan dua molekul CO2 dan pembentukan ulang
oksaloasetat. Hanya sejumlah kecil oksaloasetat yang dibutuhkan untuk mengoksidasi asetil-KoA
dalam jumlah besar. Proses ini bersifat aerob yang memerlukan oksigen sebagai oksidan terakhir
dari koenzim-koenzim yang tereduksi. Enzim-enzim pada siklus asam sitrat terletak di matriks
mitokondria.1

Gambar 4. Tahapan Siklus Asam Sitrat.2


Reaksi awal antara asetil-KoA dan oksaloasetat untuk membentuk sitrat dikatalisis oleh
sitrat sintase yang membentuk ikatan karbon ke karbon antara karbon metil pada asetil-KoA dan
karbon karbonil pada oksaloasetat. Ikatan tioester pada sitril-KoA yang terbentuk mengalami
hidrolisis dan membebaskan sitrat dan KoASG (eksotermik).1
Sitrat mengalami isomerisasi menjadi isositrat oleh enzim akonitase. Racun fluoroasetat
bersifat toksik karena fluoroasetil-KoA berkondensasi dengan oksaloasetat untuk membentuk
fluorositrat, yang menghambat akonitase sehingga terjadi penimbunan sitrat.1
Isositrat mengalami dehidrogenasi yang dikatalisis oleh isositrat dehidrogenase untuk
membentuk oksalosuksinat yang tetap terikat pada enzim dan mengalami dekarboksilasi menjadi
-ketoglutarat. Terdapat tiga isoenzim isositrat dehidrogenase. Salah satunya yang menggunakan

NAD+, hanya terdapat di mitokondria. Dua lainnya menggunakan NADP + dan ditemukan di
mitokondria dan sitosol. Oksidasi isositrat terkait-rantai respiratorik berlangsung hampir
sempurna melalui enzim yang dependen-NAD+.1
-ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh

suatu kompleks multi-enzim yang mirip dengan kompleks multienzim yang berperan dalam
dekarboksilasi oksidatif piruvat. Kompleks -ketoglutarat dehidrogenase memerlukan kofaktor
yang sama dengan kofaktor yang diperlukan kompleks piruvat dehidrogenase serta menyebabkan
terbentuknya suksinil-KoA. Kesetimbangan reaksi ini jauh lebih menguntungkan pembentukan

suksinil-KoA sehingga fisiologisnya reaksi ini harus berjalan satu arah. Arsenit menghambat
reaksi ini yang menyebabkan akumulasi substrat yaitu -ketoglutarat.1
Suksinil-KoA diubah menjadi suksinat oleh enzim suksinat tiokinase (suksinil-KoA
sintetase). Reaksi ini adalah satu-satunya fosforilasi tingkat substrat dalam siklus asam sitrat.1
Metabolisme suksinat yang menyebabkan terbentuknya oksaloasetat, memiliki rangkaian
reaksi kimia yang sama seperti yang terjadi pada oksidasi asam lemak: dehidrogenasi untuk
membentuk ikatan rangkap karbon-ke-karbon, penambahan air untuk membentuk gugus hidroksil,
dan dehidrogenasi lebih lanjut untuk menghasilkan gugus okso pada oksaloasetat.1
Reaksi dehidrogenasi pertama yang membentuk fumarat dikatalisis oleh suksinat
dehidrogenase yang terikat pada permukaan dalam membran dalam mitokondria. Fumarase
mengatalisis penambahan air pada ikatan rangkap fumarat sehingga menghasilkan malat. Malat
diubah menjadi oksaloasetat oleh malat dehidrogenase, suatu reaksi yang memerlukan NAD +.
Meskipun keseimbangan reaksi ini jauh menguntungkan malat, namun aliran netto reaksi tersebut
adalah ke oksaloasetat karena oksaloasetat terus dikeluarkan sehingga reoksidasi NADH terjadi
secara kontinu.1
Akibat oksidasi yang dikatalisis oleh berbagai dehidrogenase pada siklus asam sitrat,
dihasilkan tiga molekul NADH dan satu FADH2 untuk setiap molekul asetil-KoA yang
dikatabolisme per satu kali putaran siklus. Ekuivalen pereduksi ini dipindahkan ke rantai
respiratorik, tempat reoksidasi masing-masing NADH menghasilkan pembentukan 3 ATP dan
FADH2 2 ATP. Selain itu, terbentuk 1 ATP melalui fosforilasi tingkat substrat yang dikatalisis oleh
suksinat tiokinase.1
Jalur Pentosa Fosfat

Gambar 5. Skema umum jalur pentosa fosfat.2

Jalur pentosa fosfat adalah rute alternatif untuk metabolisme glukosa. Jalur ini tidak
menyebabkan terbentuknya ATP, tetapi memiliki dua fungsi utama: pembentukan NADPH untuk
sintesis asam lemak dan steroid, dan sintesis ribosa untuk membentuk nukleotida dan asam
nukleat.1
Jalur pentosa fosfat adalah suatu jalur yang lebih rumit daripada glikolisis. Tiga molekul
glukosa 6-fosfat menghasilkan tiga molekul CO2 dan tiga gula lima-karbon. Zat-zat ini disusun
kembali untuk menghasilkan dua molekul glukosa 6-fosfat dan satu molekul zat antara glikolitik,
yaitu gliseraldehida 3-fosfat. Karena dua molekul gliseraldehida 3-fosfat dapat menghasilkan
glukosa 6-fosfat, jalur ini dapat mengoksidasi glukosa secara tuntas.1
Enzim jalur pentosa fosfat terdapat di sitosol. Tidak seperti glikolisis, oksidasi terjadi
melalui dehidrogenasi dengan menggunakan NADP+, bukan NAD+, sebagai penerima hidrogen.
Rangkaian reaksi di jalur ini dapat dibagi menjadi dua fase: fase oksidatif nonreversibel dan fase
nonoksidatif reversibel. Pada fase pertama, glukosa 6-fosfat mengalami dehidrogenasi dan
dekarboksilasi untuk menghasilkan suatu pentosa, ribulosa 5-fosfat. Pada fase kedua, ribulosa 5fosfat diubah kembali menjadi glukosa 6-fosfat melalui serangkaian reaksi yang terutama
melibatkan dua enzim: transketolase dan transaldolase.1
Dehidrogenasi glukosa 6-fosfat menjadi 6-fosfoglukonat terjadi melalui pembentukan 6fosfoglukonolakton yang dikatalisis oleh glukosa 6-fosfat dehidrogenase. Hidrolisis 6fosfoglukonolakton dilakukan oleh enzim glukonolakton hidrolase. Tahap oksidatif kedua
dikatalisis oleh 6-fosfoglukonat dehidrogenase yang juga memerlukan NADP+ sebagai penerima
hidrogen. Kemudian terjadi dekarboksilasi disertai pembentukan ketopentosa ribulosa 5-fosfat.1
Untuk mengoksidasi glukosa secara sempurna menjadi CO2 melalui jalur pentosa fosfat, di
jaringan harus terdapat enzim-enzim untuk mengubah gliseraldehida 3-fosfat menjadi glukosa 6fosfat. Hal ini melibatkan pembalikan glikolisis dan enzim glukoneogenik, yakni fruktosa 1,6bisfosfatase. Di jaringan yang tidak memiliki enzim ini, gliseraldehida 3-fosfat mengikuti jalur
normal glikolisis menjadi piruvat.1
Jalur pentosa fosfat dan glutation peroksidase dapat melindungi eritrosit dari hemolisis. Di
sel darah merah, jalur pentosa fosfat menghasilkan NADPH untuk mereduksi glutation teroksidasi
yang dikatalisis oleh glutation reduktase, suatu flavoprotein yang mengandung FAD. Glutation
tereduksi mengeluarkan H2O2 dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh glutation peroksidase.
Reaksi ini penting karena penimbunan H 2O2 dapat mempersingkat umur eritrosit dengan
menyebabkan kerusakan oksidatif di membran sel sehingga terjadi hemolisis.1

Glikogenesis
Glikogen adalah karbohidrat simpanan utama pada hewan, setara dengan pati pada
tumbuhan; glikogen adalah polimer bercabang D-glukosa. Zat ini terutama ditemukan di hati
dan otot; meskipun kandungan glikogen hati lebih besar daripada kandungan glikogen otot,
namun karena massa otot tubuh jauh lebih besar daripada massa hati, sekitar tiga-perempat
glikogen tubuh total berada di otot.1
Glikogen otot merupakan sumber glukosa yang dapat cepat digunakan untuk glikolisis di
dalam otot itu sendiri. Glikogen hati berfungsi untuk menyimpan dan mengirim glukosa untuk
mempertahankan kadar glukosa darah di antara waktu makan. Setelah berpuasa 12 18 jam,
glikogen hati hampir seluruhnya terkuras. Meskipun glikogen otot tidak secara langsung
menghasilkan glukosa bebas, namun piruvat yang terbentuk oleh glikolisis di otot dapat
mengalami transaminasi menjadi alanin yang dikeluarkan dari otot dan digunakan untuk
glukoneogenesis di hati.1
Seperti glikolisis, glukoas mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat yang dikatalisis
oleh heksokinase di otot dan glukokinase di hati. Glukosa 6-fosfat mengalami isomerasi menjadi
glukosa 1-fosfat oleh fosfoglukomutase. Kemudian glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin
trifosfat (UTP) untuk membentuk nukleotida aktif uridin difosfat glukosa (UDPGlc) dan
pirofosfat yang dikatalisis oleh UDPGlc pirofosforilase. Reaksi berlangsung dalam arah
pembentukan UDPGlc karena pirofosfatase mengatalisis hidrolisis pirofosfat menjadi dua kali
fosfat sehingga salah satu produk tersebut reaksi dihilangkan.1
Glikogen sintase mengatalisis pembentukan sebuah ikatan glikosida antara C 1 glukosa
UDPGlc dan C4 residu glukosa terminal glikogen yang membebaskan uridin difosfat (UDP).
Suatu molekul glikogen yang sudah ada (primer glikogen) harus ada agar reaksi ini dapat
berlangsung. Primer glikogen ini pada gilirannya dapat dibentuk pada suatu orimer protein yang
dikenal sebagai glikogenin. Residu glukosa lain melekat pada posisi 14 untuk membentuk suatu
rantai pendek yang merupakan substrat untuk glikogen sintase. Di otot rangka, glikogenin tetap
melekat pada bagian tengah molekul glikogen; di hati, jumlah molekul glikogen lebih banyak
daripada jumlah molekul glikogenin.1
Penambahan sebuah residu glukosa ke rantai glikogen yang sudah ada terjadi di ujung luar
molekul sehingga cabang-cabang molekul nonpereduksi glikogen memanjang seiring dengan
terbentuknya ikatan 14 . Ketika rantai memiliki panjang sedikit 11 residu glukosa, sebagian

rantai 14 dipindahkan ke rantai di dekatnya oleh branching enzyme untuk membentuk ikatan
16 sehingga terbentuk titik percabangan. Cabang tumbuh melalui penambahan unit-unit 14
glukoasil dan percabangan selanjutnya.1

Gambar 6. Jalur glikogenesis dan glikogenolisis.1


Glikogenolisis

Gambar 7. Tahap-tahap dalam glikogenolisis.2


Glikogen fosforilase mengatalisis tahap penentu kecepatan glikogenolisis dengan
mengatalisis pemecahan fosforoilitik ikatan ikatan 14 glikogen untuk menghasilkan glukosa 1fosfat. Residu glukoasil terminal dari rantai terluar molekul glikogen dikeluarkan secara

sekuensial sampai tersisa sekitar empat residu glukosa di kedua sisi suatu cabang 16. Hidrolisis
ikatan 16 memerlukan debranching enzyme; glukan transferase dan debranching enzyme
mungkin merupakan kedua bentuk aktivitas dari suatu protein tunggal. Kerja fosforilase
selanjutnya dapat berlangsung. Kombinasi kerja fosforilase dan enzim-enzim lain menyebabkan
terurainya glikogen secara sempurna. Reaksi yang dikatalisis oleh fosfoglukomutase bersifat
reversibel sehingga glukosa 6-fosfat dapat dibentuk dari glukosa 1-fosfat. Di hati glukosa 6fosfatase menghidrolisis glukosa 6-fosfat yang menghasilkan glukosa yang diekspor sehingga
kadar glukosa darah meningkat.1

Gambar 8. Kontrol fosforilase.1


Enzim-enzim utama yang mengendalikan metabolisme glikogen-glikogen fosforilase dan
glikogen sintase, diatur oleh mekanisme alosterik dan modifikasi kovalen karena terjadi
fosforilasi dan defosforilasi reversibel protein enzim sebagai respons terhadap kerja hormon.1
AMP siklik (cAMP) dibentuk dari ATP oleh adenilil siklase pada permukaan dalam
membran sel dan berfungsi sebagai second messenger intrasel sebagai respons terhadap berbagai
hormon, misalnya epinefrin, norepinefrin, dan glukagon. cAMP dihidrolisis oleh fosfodiesterase
sehingga kerja hormon-hormon tersebut terhenti; di hati insulin meningkatkan aktivitas
fosfodiesterase.1
Di hati peran glikogen adalah menyediakan glukosa bebas untuk diekspor guna
mempertahankan kadar glukosa darah, di otot berperan sebagai sumber glukosa 6-fosfat untuk
glikolisis sebagai respons terhadap kebutuhan akan ATP untuk kontraksi otot. Di kedua jaringan,
enzim diaktifkan oleh fosforilasi yang dikatalisis oleh fosforilase kinase (untuk menghasilkan
fosforilase a) dan diinaktifkan oleh defosforilasi yang dikatalisis oleh fosfoprotein fosfatase
(untuk menghasilkan fosforilase b), sebagai respons terhadap sinyal hormon dan sinyal lain.1

Fosforilase a aktif di kedua jaringan dihambat secara alosterik oleh ATP dan glukosa 6fosfat; di hati, tetapi tidak di otot, glukosa bebas juga merupakan suatu inhibitor. Fosforilase otot
berbeda dari isoenzim di hati karena memiliki tempat pengikatan untuk 5AMP yang berfungsi
sebagai aktivator alosterik bentuk b terdefosforilasi (inaktif) enzim. 5AMP bekerja sebagai sinyal
poten statu energi sel otot; 5AMP terbentuk sewaktu konsentrasi ADP mulai meningkat, akibat
reaksi adenilat kinase: 2x ADP ATP + 5AMP.1
Fosforilase kinase diaktifkan sebagai respons terhadap cAMP. Peningkatan konsentrasi
cAMP anak mengaktifkan protein kinase dependen-cAMP yang mengatalisis fosforilasi oleh ATP
fosforilase kinase b inaktif menjadi fosforilase kinase a aktif yang selanjutnya memfosforilasi
fosforilase b menjadi fosforilase a. Di hati, cAMP dibentuk sebagai respons atas menurunnya
kadar glukosa darah; otot kurang peka terhadap glukagon. Di otot, sinyal untuk meningkatkan
pembentukan cAMP dalah efek norepinefrin yang disekresikan sebagai respons terhadap takut
dan cemas, ketika kebutuhan akan glikogenolisis meningkat agar aktivitas otot dapat
ditingkatkan.1
Baik fosforilase a maupun fosforilase kinase a mengalami defosforilasi dan diinaktifkan
oleh protein fosfatase-1. Protein fosfatase-1 dihambat oleh suatu protein, yakni inhibitor-1, yang
hanya aktif setelah terfosforilasi oleh protein kinase dependen c-AMP. Oleh sebab itu, cAMP
mengontrol baik pengaktifan maupun penginaktifan fosforilase. Insulin memperkuat efek ini
dengan menghambat pengaktifan fosforilase b. Hormon ini melakukannya secara tidak langsung
dengan meningkatkan penyerapan glukosa sehingga meningkatkan pembentukan glukosa 6-fosfat
yang merupakan suatu inhibitor fosforilase kinase.1

Gambar 9. Kontrol glikogen sintase.1


Seperti fosforilase, glikogen sintase terdapat baik dalam keadaan terfosforilasi maupun
tidak-terfosforilasi; namun, efek fosforilasi adalah kebalikan efek yang dijumpai pada fosforilase.

Glikogen sintase a aktif mengalami defosforilasi dan glikogen sintase b inaktif mengalami
fosforilasi.1
Terdapat enam protein kinase berbeda yang bekerja pada glikogen sintase. Dia diantaranya
bersifat dependen Ca2+. Kinase lain adalah protein kinase dependen-cAMP yang memungkinkan
hormon, melalui perantaraan cAMP, menghambat sintesis glikogen secara sinkron dengan
pengaktifan glikogenolisis. Insulin juga memacu glikogenesis di otot secara bersamaan dengan
penghambatan glikogenolisis dengan meningkatkan kadar glukosa 6-fosfat yang merangsang
defosforilasi dan pengaktifan glikogen sintase. Defosforilasi glikogen sintase b dilaksanakan oleh
protein fosfatase-1 yang berada dalam kendali protein kinase dependen-cAMP.1
Pada saat yang sama dengan terjadinya pengaktifan fosforilase oleh peningkatan
konsentrasi cAMP, glikogen sintase diubah menjadi bentuk inaktif; kedua efek diperantarai oleh
protein kinase dependen-cAMP. Jadi, inhibisi glikogenolisis meningkatkan glikogenesis netto,
dan inhibisi glikogenesis meningkatkan glikogenolisis netto. Defosforilasi fosforilase a,
fosforilase kinase, dan glikogen sintase b dikatalisis oleh satu enzim dengan spesifitas yang luas
yaitu protein fosfatase-1. Selanjutnya. Protein fosfatase-1 dihambat oleh protein kinase dependencAMP melalui inhibitor-1. Jadi, glikogenolisis dapat dihentikan dan glikogenesis dirrangsang
secara sinkron atau sebaliknya karena kedua proses bergantung pada aktivitas protein kinase
dependen-cAMP. Baik fosforilase kinase maupun glikogen sintase dapat difosforilasi secara
reversibel di lebih dari satu tempat oleh kinase dan fosfatase yang berbeda. Fosforilasi sekunder
ini memodifikasi sensivitas bagian/tempat utama terjadinya fosforilasidan defosforilasi.
Fosforilasi sekunder ini juga memungkinkan insulin menimbulkan efek yang timbal-balik dengan
efek cAMP melalui peningkatan glukosa 6-fosfat.1
Glukoneogenesis
Glukoneogenesis adalah proses mengubah prekursor nonkarbohidrat menjadi glukosa atau
glikogen. Substrat utamanya adalah asam-asam amino glukogenik, laktat, gliserol, dan propionat.
Hati dan ginjal adalah jaringan glukoneogenik utama.1
Glukoneogenesis memenuhi kebutuhan glukosa tubuh jika karbohidrat dari makanan atau
cadangan glikogen kurang memadai. Pasokan glukosa merupakan hal yang esensial terutama bagi
sistem saraf dan eritrosit. Kegagalan glukoneogenesis biasanya bersifat fatal. Glukosa juga
penting dalam mempertahankan kadar zat-zat antara siklus asam sitrat meskipun asam lemak

adalah sumber utama asetil-KoA di jaringan. Selain itu, glukoneognenesis membersihkan laktat
yang dihasilkan oleh otot dan eritrosit serta gliserol yang dihasilkan oleh jaringan adiposa.1

Gambar 10. Jalur utama dan glukoneogenesis dan glikolisis hati.1


Tiga reaksi tidak-seimbang dalam glikolisis yang dikatalisis oleh heksokinase,
fosfofruktokinase, dan piruvat kinase, menghambat pembalikan sederhana glikolisis untuk
membentuk glukosa.1
Pembalikan reaksi yang dikatalisis oleh piruvat kinase dalam glikolisis melibatkan dua
reaksi endotermik. Piruvat karboksilase mitokondria mengatalisis karboksilasi piruvat menjadi
oksaloasetat, suatu reaksi yang membutuhkan ATP dengan vitamin biotin sebagai koenzim. Biotin
mengikat CO2 dari bikarbonat sebagai karboksibiotin sebelum penambahan CO 2 ke piruvat.
Enzim kedua, fosfoenolpiruvat karboksikinase, mengatalisis dekarboksilasi dan fosforilasi
oksaloasetat menjadi fosfoenolpiruvat dengan menggunakan GTP sebagai donor fosfat. Di hati
dan ginjal, reaksi suksinat tiokinase dalam siklus asam sitrat menghasilkan GTP, dan GTP ini
digunakan untuk reaksi fosfoenolpiruvat karboksikinase sehingga terbentuk hubungan antara
aktivitas siklus asam sitrat dan glukoneogenesis, untuk mencegah pengeluaran berlebihan
oksaloasetat untuk glukoneogenesis yang dapat mengganggu aktivitas siklus asam sitrat.1
Perubahan fruktosa 1,6-bisfosfat menjadi fruktosa 6-fosfat, untuk pembalikan glikolisis,
dikatalisis oleh fruktosa 1,6-bisfosfatase. Keberadaan enzim ini menentukan apakah suatu
jaringan mampu membentuk glukosa tidah saja dari piruvat, tetapi juga dari triosa fosfat. Enzim

ini terdapat di hati, ginjal, dan otot rangka, tetapi mungkin tidak ditemukan di otot jantung dan
otot polos.1
Perubahan glukosa 6-fosfat menjadi glukosa dikatalisis oleh glukosa 6-fosfatase. Enzim
ini terdapat di hati dan ginjal, tetapi tidak di otot dan jaringan adiposa, akibatnya tidak dapat
mengekspor glukosa ke dalam aliran darah.1
Pemecahan glikogen menjadi glukosa 1-fosfat dikatalisis oleh fosforilase. Sintesis
glikogen melibatkan jalur yang berbeda melalui uridin difosfat glukosa dan glikogen sintase.1
Setelah transaminasi atau deaminasi, asam-asam amino glukogenik menghasilkan piruvat
atau zat-zat antara siklus asam sitrat. Oleh karena ini, reaksi yang dijelaskan sebelumnya dapat
menyebabkan perubahan laktat maupun asam amino glukogenik menjadi glukosa atau glikogen.1
Pada hewan bukan pemamah biak, termasuk manusia, propionat berasal dari oksidasiasam lemak rantai-ganjil yang terdapat pada lipid hewan pemamah biak, serta oksidasi isoleusin
dan rantai samping kolesterol, serta merupakan substrat bagi glukoneogenesis.1
Gliserol dibebaskan dari jaringan adiposa melalui lipolisis lipoprotein triasilgliserol dalam
keadaan kenyang: gliserol dapat digunakan untuk re-esterifikasi asam lemak bebas menjadi
triasilgliserol di jaringan adiposa atau hati, atau menjadi substrat untuk glukoneogenesis di hati.
Dalam keadaan puasa, gliserol yang dibebaskan dari lipolisis triasilgliserol jaringan adiposa
digunakan semata-mata sebata substrat untuk glukoneogenesis di hati dan ginjal.1
Metabolisme minor karbohidrat
Jalur metabolisme asam uronat
Selain dari jalur yang telah diterangkan di atas, glukosa 6-fosfat dapat diubah menjadi asam
glukoronat (glucoronic acid), asam askorbat (ascorbic acid) dan pentosa melalui suatu jalur yang
disebut jalur metabolisme asam uronat. Akan tetapi manusia tidak bisa membuat asam askorbat.
Karena kekurangan enzim tertentu, maka L-gulonat yang terbentuk tidak bisa diubah menjadi Lasam askorbat. L-gulonat akan dioksidasi menjadi 3-keto-L-gulonat, yang kemudian mengalami
dekarboksilasi menjadi L-xylulose.1
Reaksi lengkapnya adalah sebagai berikut : glukosa-6fosfat akan diubah menjadi glukosa 1fosfat. Glukosa 1-fosfat akan bereaksi dengan UTP (uridin trifosfat) dan membentuk nukleotida
aktif UDPG (uridin difosfat glukosa). Selanjutnya UDPG akan mengalami oksidasi dua tahap
pada atom karbon yang keenam. Asam glukoronat (D-glucoronate) yang terbentuk oleh enzim

yang tergantung pada NADPH, direduksi menjadi L-gulonat. L-gulonat merupakan bahan baku
untuk membuat asam askorbat.1
Pada manusia, L-gulonat melalui 3-keto L-gulonat akan diubah menjadi L-xylulose. Dxylulose merupakan bagian dari HMP Shunt. Untuk bisa masuk ke dalam HMP Shunt,maka Lxylulose harus diubah dulu menjadi D-xylulose melalui silitol. Dalam proses ini diperlukan
NADPH dan NAD+. Perubahan silitol menjadi D- silulosa dikatalisis enzim silulosa reduktase.
D-xylulose akan diubah menjadi D-xylulose 5-fosfat, ATP bertindak sebagai donor fosfat.1
Metabolisme Fruktosa
Fruktosa dapat difosforilasi menjadi fruktosa 6-fosfat oleh enzim heksokinase.Enzim ini
juga dapat memakai glukosa dan mannosa sebagai substrat, tapi afinitas untuk fruktosa sangat
kecil bila dibandingkan dengan glukosa.1
Fruktokinase yang terdapat dalam hati, ginjal dan usus halus, dapat mengkatalisis fruktosa
dengan ATP menjadi fruktosa 1-fosfat.Harga Km untuk reaksi ini kecil sekali dan aktivitas enzim
ini tidak dipengaruhi oleh puasa ataupun insulin.Sangat mungkin sekali bahwa fosforilasi dengan
enzim ini merupakan reaksi fosforilasi yang utama dari fruktosa. Karena aktivitas enzim
fruktokinase tidak dipengaruhi insulin maka pada penderita Diabetes Mellitus, fruktosa dapat
dihilangkan dari darah dengan kecepatan yang sama di-bandingkan dengan orang normal.1
Fruktokinase tidak dapat memakai glukosa sebagai substrat. Selanjutnya fruktosa 1-fosfat
dipecah menjadi D-gliseral dehid dan dihidroksi aseton fosfat. Reaksi ini dilatalisis enzim
aldolase B, yang terdapat dalam hati.Enzim ini juga bisa memakai fruktosa 1,6-bisfosfat sebagai
substratnya.D-gliseraldehid dapat masuk ke dalam glikolisis melalui suatu reaksi yang dikatalisis
oleh enzim yang terdapat dalam hepar yaitu triokinase.Enzim ini mengkatalisis fosforilasi Dgliseraldehid menjadi D-gliseraldehid 3-fosfat.Dihidroksi aseton fosfat dan gliseraldehi 3- fosfat
(triosa fosfat) mungkin mengalami degradasi melalui jalur glikolisis atau diubah menjadi glukosa.
Dalam hepar kedua triosa fosfat tersebut akan banyak yang diubah menjadi glukosa.1
Fruktosa akan lebih cepat mengalami glikolisis bila dibandingkan dengan glukosa, karena
fruktosa tidak melewati jalur reaksi yang dikatalisis enzim fosfofruktokinase. Enzim ini
mengontrol kecepatan reaksi katabolisme glukosa. Ini menyebabkan fruktosa akan membanjiri
hepar dengan akibat meningkatnya sintesis asam lemak, esterifikasi asam le- mak dan sekresi
Very Low Density Lipoprotein (VLDL), yang mungkin bisa meningkatkan kadar triasil gliserol.1

Metabolisme Galaktosa
Galaktosa diserap usus dengan mudah diubah menjadi glukosa dalam hepar.Jalur yang
dipakai untuk mengubah galaktosa menjadi glukosa adalah sebagai berikut Galaktokinase
mengkatalisis galaktosa menjadi galaktosa 1-fosfat dan dalam reaksi ini diperlukan ATP sebagai
donor fosfat. Galaktosa 1-fosfat yang terbentuk akan bereaksi dengan uridin difosfat glukosa
(UDPG) dan menghasilkan uridin difosfat galaktosa dan glukosa 1-fosfat. Reaksi ini dikatalisis
enzim galaktosa 1-fosfat uridil transferase, galaktosa menggantikan tempat glukosa.1
Suatu epimerase mengubah galaktosa menjadi glukosa.Reaksi ini terjadi pada suatu
nukleotida yang mengandung galaktosa, peristiwa oksidasi-reduksi berlangsung dan memerlukan
NAD+ sebagai ko-enzim. UDP-glukosa yang dihasilkan, dibebaskan dalam bentuk glukosa 1fosfat.Mungkin sebelum dibebaskan digabung dulu dengan molekul glikogen, baru kemudian
dipecah enzim fosforilase.1
Metabolisme Gula Amin (Heksosamin)
Heksosamin merupakan komponen karbohidrat yang penting dalam tubuh, karena
heksosamin adalah bagian dari elemen struktur jaringan tubuh.1
Glukosa akan diubah menjadi glukosa 6-fosfat yang oleh enzim heksosa fosfat isomerase
akan diubah menjadi fruktosa 6-fosfat.1
Amino transferase mengkatalisis pemindahan gugusan amino dari glutamin dan membentuk
glukosamin 6-fosfat. Reaksi selanjutnya adalah pembentukan N-asetil glukosamin 6-fosfat, Nasetil glukosamin 1-fosfat, kemudian pembentukan UDP-N-asetil glukosamin yang selanjutnya
dengan asam D-glukoronat membentuk unit untuk polimerisasi yaitu sintesa asam hialuronat.1
Mukopolisakarida yang lain adalah khondroitin, yang strukturnya mirip asam hialuronat, bedanya pada khondroitin N-asetil D-glukosamin yang terdapat pada hialuronat diganti dengan Nasetil D-galaktosamin. Khondroitin sendiri hanya merupakan bagian yang kecil dari komposisi
"extra cellular material", tapi derivat sulfatnya seperti khondroitin 4-sulfat dan khondroitin 6sulfat merupakan komponen tulang rawan, kornea dan bagian-bagian lain tubuh dalam jaringan
ikat.1
Dengan enzim epimerase UDP-N-asetil glukosamin diubah menjadi UDP-N-asetil
galaktosamin.1

Fungsi Karbohidrat
Fungsi utamanya adalah menyediakan keperluan energy tubuh, selain itu karbohidrat juga
mempunyai fungsi lain yaitu karbohidrat diperlukan bagi kelangsungan proses metabolisme
lemak. Diketahui juga karbohidrat mengadakan suatu aksi penghematan terhadap protein. Orangorang yang membatasi pemasukan kalori, akan membakar terlalu banyak asam amino (unit
pembangun molekul protein) bersama dengan lemak akan dibakar untuk menghasilkan energy.
Akibatnya orang tersebut akan mengalami kehilangan banyak asam amino yang berfungsi
membangun jaringan tubuh. Akan tetapi bila kebutuhan tenaga bisa dicukupi oleh karbohidrat,
maka tubuh cukup mengoksidasinya tanpa harus mempergunakan protein yang sebenarnya
mempunyai fungsi yang lebih penting sebagai zat pembangun. Dengan demikian akan
menyelamatkan asam amino untuk fungsiny yang lain daripada sekedar penghasil energy.3
Diketahui juga kelebihan karbohidrat akan disimpan dalam bentuk glikogen sebagai
energy siap pakai pada saat tubuh mengalami kekurangan. Fungsi yang lain karbohidrat mengatur
peristaltic usus terutama usus besar. Keseluruhan fungsi tersebut, akan dibahas di bawah ini.3
a. Sebagai sumber energy utama.
b. Pengatur metabolism lemak.
c. Penghemat fungsi protein.
d. Sumber energy utama bagi otak dan susunan syaraf.
e. Simpanan karbohidrat sebagai glikogen.
f. Pengatur peristaltic usus dan pemberi muatan pada sisa makanan.
Sumber Karbohidrat
Karbohidrat terkandung di dalam semua kelompok makanan. Jumlah dan jenis karbohidrat
sangat bervariasi di antara kelompok makanan dan di antara pilihan dalam masing-masing
kelompok.4
Padi-padian meliputi roti, sereal, nasi, dan pasta. Semuanya mengandung karbohidrat
kompleks dan beberapa protein; beberapa padi-padian tertentu juga mengandung lemak. Serat
hanya sedikit terkandung dalam produk olahan, sedang dalam padi-padian utuh dan paling tinggi
dalam produk dari kulit padi. Setidaknya, separuh dari jumlah sajian padi-padian yang
direkomendasikan seharusnya merupakan padi-padian utuh. Padi-padian menjadi dasar menu
makanan sehat.4

Bagi banyak makanan yang dapat dipilih dari kelompok ini, satu kali penyajian
mengandung sekitar 15 gram karbohidrat. Satu kali penyajian setara dengan: satu potong roti,
cup pasta atau nasi yang telah dimasak, cup sereal yang telah dimasak, muffin Inggris atau
roti bagel kecil.4
Sebagian besar karbohidrat dalam kelompok sayuran terkandung dalam sayuran yang
mengandung tepung, seperti kacang polong, jagung, kentang, dan kacang-kacangan.4
Kelompok buah-buahan terdiri dari berbagai makanan yang sebagian besar mengandung
gula. Buah yang dikeringkan memiliki kandungan gula lebih tinggi daripada buah segar karena
airnya telah dihilangkan sehingga meningkatkan konsentrasi gula. Selain itu, asupan serat akan
meningkat jika memakan buah secara utuh ketimbang meminum jus buah.4
Kelompok susu, yogurt, dan keju (produk olahan susu) mengandung gula laktosa.
Beberapa produk olahan susu seperti susu coklat, yogurt stroberi, dan es krim telah diberi perasa
atau ditambah gula sehingga jumlah karbohidrat setiap penyajian menjadi lebih tinggi. Namun,
keju merupakan pilihan dari produk olahan susu yang rendah laktosa (rendah karbohidrat).4
Makanan dari kelompok daging dan kacang-kacangan sebagian besar mengandung
protein. Akan tetapi kacang kering yang merupakan sumber protein dari tumbuhan, juga tinggi
akan karbohidrat, seperti zat tepung dan serat. Selain itu, kebanyakan kalori dalam kacang berasal
dari lemak, tetapi sebagian besar varietas kacang mengandung 4 sampai 8 g karbohidrat per 1-oz
penyajian.4
Polong-polongan termasuk dalam kelompok sayuran dan daging, serta kacang-kacangan
karena mengandung zat gizi dan keduanya memiliki kadar serat yang tinggi.4
Klasifikasi Karbohidrat
Monosakarida adalah gula yang paling sederhana susunan molekulnya. Dapat
dikelompokkan menurut jumlah atom karbon yang membentuk rantai: Triosa (3-karbon), Tetrosa
(4-karbon), Pentosa (5-karbon), Heksosa (6-karbon) dan Heptosa (7-karbon).4
Monosakarida yang paling penting adalah Heksosa (gula 6-C) dan di antara golongan ini
glukosa, merupakan yang terpenting bagi metabolism manusia, dikenal sebagai gula fisiologis dan
dextrose. Substansi ini terdapat dalam bentuk jadi di alam ditemui glukosa pada buah-buahan,
jagung manis, sejumlah akar dan madu.4

Metabolisme Lemak

Oksidasi Asam Lemak


Meskipun asam lemak mengalami oksidasi menjadi asetil-KoA dan disintesis dari asetilKoA, namun oksidasi asam lemak bukan merupakan pembalikan sederhana dari biosintesis asam
lemak, tetapi merupakan proses yang sama sekali berbeda dan berlangsung di kompartemen sel
yang berbeda. Pemisahan oksidasi asam lemak di mitokondria dari biosintesis di sitosol
memungkinkan tiap proses dikendalikan secara individual, dan diintegrasikan sesuai kebutuhan
jaringan. Setiap tahap pada oksidasi asam lemak melibatkan turunan asil-KoA yang dikatalisis
oleh enzim-enzim yang berbeda, menggunakan NAD dan FAD sebagai koenzim, dan
menghasilkan ATP. Proses tersebut merupakan suatu proses aerob yang memerlukan keberadaan
oksigen.1
Asam lemak bebas (FFA) adalah asam lemak yang berada dalam keadaan tidak
teresterifikasi. Di plasma, FFA rantai-panjang berikatan dengan albumin, dan di sel asam-asam ini
melekat pada protein pengikat-asam lemak sehingga pada kenyataannya asam-asam lemak ini
tidak pernah benar-benar bebas. Asam lemak rantai-pendek lebih larut air dan terdapat dalam
bentuk asam tak terionisasi atau sebagai anion asam lemak.1
Asam lemak mula-mula harus diubah menjadi suatu zat antara aktif sebelum dapat
dikatabolisme. Reaksi ini adalah satu-satunya tahap dalam penguraian sempurna suatu asam
lemak yang memerlukan energi dari ATP. Dengan adanya ATP dan koenzim A, enzim tiokinase
mengatalisis perubahan asam lemak menjadi asam lemak aktif atau asil-KoA yang menggunakan
satu fosfat berenergi-tinggi disertai pembentukan AMP dan PPi. PPi dihidrolisis oleh pirofosfatase
anorganik disertai hilangnya fosfat berenergi-tinggi lainnya yang memastikan bahwa seluruh
reaksi berlangsung hingga selesai. Asil-KoA sintetase ditemukan di retikulum endoplasma,
peroksisom, serta di bagian dalam dan membran luar mitokondria.1
Karnitin tersebar luas dan terutama banyak terdapat di otot. Asil-KoA rantai panjang tidak
dapat menembus membran dalam mitokondria. Namun, karnitin palmitoiltransferase-I, yang
terdapat di membran luar mitokondria, mengubah asil-KoA rantai panjang menjadi asilkarnitin
yang mampu menembus membran dalam dan memperoleh akses ke sistem oksidasi- enzim.
Karnitin-asilkarnitin translokase bekerja sebagai pengangkut penukar di membran dalam
mitokondria. Asil karnitin diangkut masuk, dan disertai dengan pengangkutan keluar satu molekul
karnitin. Asil karnitin kemudian bereaksi dengan KoA yang dikatalisis oleh karnitin
palmitoiltransferase-II yang terletak di bagian dalam membran dalam. Asil-KoA terbentuk
kembali di matriks mitokondria dan karnitin dibebaskan.1

Pada oksidasi- , terjadi pemutusan tiap dua karbon dari molekul asil-KoA- yang dimulai
dari ujung karboksil. Rantai diputus antara atom karbon - (2) dan (3) karena itu dinamai
oksidasi-. Unit dua karbon yang terbentuk adalah asetil-KoA;

Jadi, palmitoil-KoA

menghasilkan delapan molekul asetil-KoA.1


Asam lemak dengan jumlah atom karbon ganjil dioksidasi melalui jalur oksidasi-, yang
menghasilkan asetil-KoA sampai tersisa sebuah residu tiga karbon (propionil-KoA). Senyawa ini
diubah menjadi suksinil-KoA, suatu konstituen siklus asam sitrat. Karena itu, residu propionil dari
asam lemak rantai ganjil adalah satu-satunya bagian asam lemak yang bersifat glukogenik.1
Lipogenesis
Asam lemak disintesis oleh sistem ekstramitokondria yang bertanggung jawab untuk
menyintesis palmitat dari asetil-KoA di sitosol. Pada sebagian besar mamalia, glukosa adalah
substrat utama untuk lipogenesis, tetapi pada hewan pemamah biak substrat tersebut adalah asetat,
yaitu molekul bahan bakar terpenting yang dihasilkan dari makanan.1
Jalur utama sintesis de novo asam lemak berlangsung di sitosol. Sistem ini terdapaat di
banyak jaringan, meliputi hati, ginjal, otak, paru, kelenjar mamaria, dan jaringan adiposa.
Kebutuhan kofaktornya mencakup NADPH, ATP, Mn 2+, biotin, dan HCO3-. Asetil-KoA adalah
substrat langsungnya, dan palmitat bebas adalah produk akhirnya. 1
Pembentukan malonil-KoA adalah tahap awal dan pengendali dalam sistem asam lemak.
Bikarbonat sebagai sumber CO2 diperlukan dalam reaksi awal untuk karboksilasi asetil-KoA
menjadi malonil-KoA dengan keberadaan ATP dan asetil-KoA karboksilase. Asetil-KoA
karboksilase memerlukan vitamin biotin. Enzim ini adalah suatu protein multienzim yang
mengandung subunit-subunit identik dengan jumlah bervariasi, masing-masing mengandung
biotin, biotin karboksilase, protein pembawa biotin karboksil, dan transkarboksilase, serta tempat
alosterik regulatorik. Reaksi ini berlangsung dalam dua tahap: karboksilasi biotin yang
melibatkan ATP dan pemindahan karboksil ke asetil-KoA untuk membentuk malonil-KoA.1
Kompleks asam lemak sintase adalah suatu polipeptida yang mengandung tujuh aktivitas
enzim. Pada bakteri dan tumbuhan, masing-masing enzim pada sistem asam lemak sintase
terpisah, dan ditemukan radikal asil dalam betuk kombinasi dengan suatu protein yang disebut
protein pengangkut asil (ACP). Namun pada ragi, mamalia, dan unggas, sistem sintase adalah
suatu kompleks polipeptida multienzim yang memasukkan ACP dan mengambil alih peran KoA.
Kompleks ini mengandung vitamin asam pantotenat dalam bentuk 4-fosfopantetein. Pemakaian

satu

unit

fungsional

multienzim

memiliki

keunggulan

berupa

tercapainya

efek

kompartementalisasi proses di dalam sel tanpa perlu membentuk sawar permeabilitas, dan sintesis
semua enzim di kompleks tersebut terkoordinasi karena dikode oleh satu gen.1
Pada mamalia, kompleks asam lemak sintase adalah suatu dimer yang terdiri dari dia
monomer identik, masing-masing menganding ketujuh aktivitas enzim lemak sintase pada sati
rantai polipeptida. Pada awalnya, suatu molekul priming asetil-KoA berikatan dengan gugus SH
sistein yang dikatalisis oleh asetil transasilase. Malonil-KoA berikatan dengan SH di dekatnya
pada 4-fosfopantetein ACP di monomer yang lain yang dikatalisis oleh malonil transasilase,
untuk membentuk asetil-malonil enzim. Gugus asetil menyerang gugus metilen di residu malonil
yang dikatalisis oleh 3-ketoasil sintase dan membebaskan CO2, membentuk 3-ketoasil enzimm
membebaskan gugus SH sistein. Dekarboksilasi memungkinkan reaksi tersebut berlangsung
tuntas, dan menarik sekuens reaksi keseluruhan ke arah selanjutnya. Gugus 3-ketoasil akan
tereduksi, terdehidrasi, dan kembali tereduksi untuk membentuk enzim asil-S jenuh. Molekul
malonil-KoA baru berikatan dengan SH pada 4fosfopantetein, menggeser residu asil jenuh ke
gugus SH sistein bebas. Rangkaian reaksi diulang enam kalo lagi sampai terbentuk radikal asil
16-karbon (palmitil) yang jenuh.1

Gambar 11. Kompleks multienzim asam lemak sintase.2


Senyawa ini dibebaskan dari kompleks enzim oleh aktivitas enzim ketujuh di kompleks,
yaitu tioesterase. Palmitat bebas harus diaktifkan menjadi asil-KoA sebelum dapat diproses lebih
lanjut melalui jalur metabolik lain. Biasanya palmitat ini mengalami estrifikasi menjadi
asilgliserol, pemanjangan rantai atau desaturasi, atau esterifikasi menjadi ester kolesteril.1
Asetil-KoA yang digunakan sebagai primer membentuk atom karbon 15 dan 16 pada
palmitat. Penambahan seluruh unit C2 selanjutnya adalah melalui malonil-KoA.1

Triasilgliserol
Triasilgliserol adalah lipid utama di timbunan lemak dan di dalam makanan. Peran
senyawa ini adalah dalam transpor dan penyimpanan lipid. Triasilgliserol harus dihidrolisis oleh
lipase menjadi unsur pokoknya, yaitu asam lemak dan gliserol sebelum dapat dikatabolisme lebih
lanjut. Sebagian besar proses hidrolisis ini terjadi di jaringan adiposa disertai pembebasan asam
lemak bebas ke dalam plasma, tempat asam-asam ini berikatan dengan albumin serum. Hal ini
diikuti oleh penyerapan asam lemak bebas oleh jaringan tempat asam-asam ini dioksidasi atau
mengalami re-esterifikasi. Pemakaian gliserol bergantung pada apakah jaringan memiliki
gliserolkinase yang dijumpai dalam jumlah bermakna di hati, ginjal, usus, jaringan adiposa
cokelat, dan kelenjar mamaria laktasi.1
Dua molekul asil-KoA yang dibentuk melalui pengaktifan asam lemak oleh asil-KoA
sintetase berikatan dengan gliserol 3-fosfat untuk membentuk fosfatidat (1,2-diasilgliserol fosfat).
Hal ini berlangsung dalam dua tahap, yang dikatalisis oleh gliserol-3-fosfat asiltransferase dan 1asilgliserol-3-fosfat asil transferase. Fosfatidat diubah oleh fosfatidat fosfohidrolase dan
diasilgliserol asiltransferase (DGAT) menjadi 1,2-diasilgliserol dan kemudian trasilgliserol.
DGAT mengatalisis satu-satunya tahap yang spesifik untuk sintesis triasilgliserol dan diperkirakan
menentukan laju reaksi pada sebagian besar keadaan. Di mukosa usus, monoasilgliserol
asiltransferase mengubah monoasilgliserol menjadi 1,2-diasilgliserol di jalur monoasilgliserol.
Sebagian besar aktivitas enzim-enzim ini dijumpai di retikulum endoplasma, tetapi sebagian
dijumpai di mitokondria. Fosfatidat fosfohidrolase terutama ditemukan di sitosol, tetapi bentuk
aktif enzim ini terikat dengan membran.1
Simpanan triasilgliserol di jaringan adiposa secara terus-menerus mengalami lipolisis dan
re-esterifikasi. Kedua proses ini adalah jalur yangs ama sekali berbeda yang melibatkan reaktan
dan enzim yang berlainan. Hal ini memungkinkan proses esterifikasi atau lipolisis diatir secara
terpisah oleh banyak faktor nutrisi, metabolik, dan hormon, Hasil kedua proses ini menentukan
besarnya kompartemen asam lemak bebas di jaringan adiposa, yang pada gilirannya menentukan
kadar asam lemak bebas di dalam plasma. Karena kadar asam lemak bebas ini memiliki efek
paling mencolok pada metabolisme jaringan lain, terutama hati dan otot, faktor-faktor yang
bekerja pada jaringan adiposa yang mengatur aliran keluar asam lemak bebas menimbulkan
pengaruh yang jauh melebihi pengaruh pada jaringan itu sendiri.1

Triasilgliserol disintesis dari asil-KoA dan gliserol 3-fosfat. Karena enzim gliserol kinase
tidak diekspresikan di jaringan adiosa, gliserol tidak dapat digunakan untuk menghasilkan gliserol
3-fosfat yang harus dipasok oleh glukosa melalui glikolisis.1
Triasilgliserol dihidrolisis oleh lipase peka-hormon untuk membentuk asam lemak bebas
dan gliserol. Lipase ini berbeda dari lipoprotein lipase yang mengatalisis hidrolisis triasilgliserol
lipoprotein sebelum penyerapannya ke dalam jaringan ekstrahepatik. Karena tidak dapat
digunakan, gliserol masuk ke darah dan diserap serta digunakan oleh jaringan, seperti hati dan
ginjal yang memiliki suati gliserol kinase aktif. Asam-asam lemak bebas yang dibentuk oleh
lipolisis dapat diubah kembali di jaringan adiposa menjadi asil-KoA oleh asil-KoA sintetase dan
dire-esterifikasi dengan gliserol 3-fosfat untuk membentuk triasilgliserol. Oleh karena itu, terjadi
siklus lipolisis dan re-esterifikasi yang terus menerus di dalam jaringan tersebut. Namun, jika laju
re-esterifikasi tidak dapat mengimbangi laju lipolisis, terjadi akumulasi asam lemak bebas yang
kemudian berdifusi ke dalam plasma tempat asam-asam ini berikatan dengan albumin dan
meningkatkan kadar asam lemak bebas plasma.1
Kolesterol
Kolesterol terdapat di jaringan dan plasma sebagai kolesterol bebas atau dalam bentuk
simpanan, yang berikatan dengan asam lemak rantai-panjang sebagai ester kolesteril. Di dalam
plasma, kedua bentuk tersebut diangkut dalam lipoprotein. Kolesterol adalah lipid amfipatik dan
merupakan komponen struktural esensial pada membram dan laposan luar lipoprotein plasma.
Senyawa ini disintesis di banyak jaringan dari asetil-KoA dan merupakan prekursor semua steroid
lain di tubuh.1
Biosintesis kolesterol dapat dibagi menjadi lima tahap. Tahap pertama adalah biosintesis
mevalonat. HMG-KoA dibentuk melalui reaksi-reaksi yang digunakan di mitokondria untuk
membentuk badan keton. Namin, karena sintesis kolesteriol berlangsing di luar mitokondria,
kedua jalur ini berbeda. Pada awalnya, dua molekul asetil-KoA bersatu untuk membentuk
asetoasetil-KoA yang dikatalisis oleh tiolase sitosol. Asetoasetil-KoA mengalami kondensasi
dengan molekul asetoasetil-KoA lain yang dikatalisis oleh HMG-KoA sintase untuk membentuk
HMG-KoA yang direduksi menjadi mevalonat oleh NADPH dan dikatalisis oleh HMP-KoA
reduktase. Ini adalah tahap regulatorik utama di jalur sintesis kolesterol.1

Tahap 2 adalah pembentukan unit isoprenoid. Mevalonat mengalami fosforilasi secara


sekuensial oleh ATP dengan tiga kinase, dan setelah dekarboksilasi terbentuk unit isoprenoid
aktif, isopentenil difosfat.1
Tahap adalah enam unit isoprenoid membentuk skualen. Isopentenil difosfat mengalami
isomerasi melalui pergeseran ikatan rangkap untuk membentuk dimetilalil difosfat, yang
kemudian bergabung dengan molekul lain isoprenoil difosfat untuk membentuk zat antara
sepuluh-karbon geranil difosfat. Kondensasi lebih lanjut dengan isopentenil difosfat membentuk
farnesil difosfat. Dua molekul farnesil difosfat bergabung di ujung difosfat skualen untuk
membentuk skualen. Pada awalnya, pirofosfat anorganik dieliminasi, yang membentuk praskualen
difosfat, yang kemudian mengalami reduksi oleh NADPH disertai eliminasi satu molekul
pirofosfat anorganik lainnya.1
Tahap empat adalah pembentukan lanosterol. Skualen dapat melipat membentuk suatu
struktur yang sangat mirip dengan inti steroid. Sebelum terjadi penutupan cincin, skualen diubah
menjadi skualen 2,3-epoksida oleh oksidase berfungsi campuran, skulaen epoksidase di retikulum
endoplasma. Gugus metil di C14 dipindahkan ke C13 dan yang ada di C8 ke C14 sewaktu terjasdi
siklisasi, dikatalisis oleh oksidoskualen: lanosterol siklase.1
Tahap lima adalah pembentukan kolesterol. Pembentukan kolesterol dari lanosterol
berlangsung di membran retikulum endoplasma dan melibatkan pertukaran-pertukaran di inti
steroid dan rantai samping. Gugus metil di C14 dan C4 dikeluarkan untuk membentuk 14-desmetil
lanosterol dan kemudian zimosterol. Ikatan rangkap di C8-C9 kemudian dipindahkan ke C5-C6
dalam dua langkah, yang membentuk demosterol. Akhirnya, ikatan rangkap rantai samping
direduksi, dan menghasilkan kolesterol.1
Fungsi Lemak
Beberapa fungsi lemak adalah sebagai berikut.5
1. Sebagai penghasil energy.
Lemak dioksidasi di dalam tubuh untuk menghasilkan energy untuk kegiatan jaringan dan
untuk memelihara suhu tubuh. Lemak menghasilkan 37 kJ (9 kcal) per gram, setara
dengan 16 kJ karbohidrat dan 17 kJ protein. Persediaan energy yang cukup dari
karbohidrat dan lemak memastikan bahwa protein tersedia untuk perbaikan dan perubahan
pada jaringan.
2. Penggabungan dengan badan sel.

Beberapa lemak memasuki badan sel dan merupakan bagian dari asam lemak esensial.
Lemak adalah bagian yang penting pada struktur otak dan jaringan syaraf.
3. Pelindung.
Simpanan lemak dalam jaringan disekitar organ bital akan memfiksasi letak organ dan
melindungi organ tersebut dari benturan.
4. Mencegah hilangnya panas tubuh yang berlebih.
5. Menghambat peristaltic dan sekresi asam di lambung.
6. Melarutkan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak (Vitamin A,D,E,K).
7. Sebagai simpanan energy.
Sumber Lemak
Lemak dalam makanan bervariasi jenis dan jumlahnya. Beberapa lemak dapat terlihat
kasat mata, seperti mentega dan gajih yang terlihat mengelilingi sepotong daging steak. Namun
demikian, sebagian besar lemak tidak dapat dilihat kasat-matam, seperti lemak dalam susu, keju,
dan kacang, serta lemak-lemak yang terjalin di dalam steak tersebut. Sumber makanan hewani
mengandung sekitar 57% dari total asupan lemak; sisanya didapat dari sumber makanan nabati.4
Lima besar sumber lemah jenuh dalam menu makanan orang dewasa di Amerika adalah:
daging, mentega / margarin, bumbu salad termasuk mayones, keju, susu.4
Sumber lemak trans yang utama dalam makanan antara lain kentang goreng, donat, dan
makanan goreng lainnya yang dijual. Sumber lemak trans lainnya meliputi kue kering, kraker, dan
makanan panggang lain.4
Padi-padian secara alami mengandung sangat sedikit lemak. Namun demikian, makanan
olahan yang termasuk dalam kelompok makanan ini, seperti sereal granola, panekuk, donat, kue
kering, dan pai, banyak mengandung lemak tambahan. Makanan-makanan ini juga dapat menjadi
sumber lemak trans.4
Selain alpukat, kelapa, dan zaitun, buah-buahan tidak banyak mengandung lemak. Sayuran
mentah hanya mengandung sedikit lemak atau tidak sama sekali. Sayuran yang digoreng, diberi
krem susu, disajikan dengan keju, atau dicampur dengan mayones jelas mengandung lebih banyak
lemak.4
Produk-produk tang termasuk dalam kelompok susu terbagi menjadi bebas-lemak, rendahlemak, dan lemak-utuh. Untuk mengurangi kemungkinan seseorang mengonsumsi makanan
tinggi-lemak dalam kelompok makanan ini, sebaiknya membaca label dan membandingkan antara

berbagai jenis dan merk. Karena makanan olahan susu berasal dari hewan, sebaiknya melihat juga
kandungan kolesterol dalam makanan tersebut.4
Bahan nabati dalam kelompok kacang dan polong bebas kolesterol dan sedikit atau tidak
mengandung lemak jenuh. Umumnya daging yang tidak dibersihkan lebih tinggi kandungan
lemaknya daripada daging tanpa lemak, dan daging yang berwarna putih lebih rendah-lemak
daripada daging berwarna gelap (contohnya daging ayam). Kerang-kerangan seperti kepiting,
lobster, dan udang, kaya akan kolesterol, tetapi rendah-lemak dan rendah-lemak jenuh.4
Klasifikasi Lemak
Lemak netral, trigliserida atau triasil gliserol yang diperoleh dari hewan tingkat tinggi,
dikenal sebagai lemak hewani, dan di Indonesia pada umumnya berupa bahan padat (fat). Lemak
yang diperoleh dari tanaman disebut lemak nabati, dan di Indonesia biasanya merupakan zat cair
(minyak).6
Sebagian besar lemak hewani merupakan zat padat karena unit penyusunnya berupa asam
lemak jenuh rantai panjang. Pada suhu kamar, lemak yang terdapat pada ikan paus, ikan kod dan
ikan hering, berupa zat cair sehingga dikenal sebagai minyak ikan. Lemak nabati merupakan zat
cair, karena pada umumnya mengandung satu atau lebih asam lemak tak jenuh sebagai unit
penyususnnya. Lemak nabati banyak terdapat dalam kacang-kacangan, buah-buahan, biji-bijian
dan akar tanaman.6
Perbedaan antara lemak dan minyak hanya pada bentuk wujud fisiknya. Jika pada suhu
kamar berupa padat, kita menyebutnya lemak. Namun demikian, jika pada suhu kamar berupacair,
kita menyebutnya minyak. Padat atau cairnya suatu lemak tergantung pada beberapa factor, antara
lain iklim, panjang atau pendeknya rantai karbon asam lemak penyusunnya, serta banyak atau
sedikitnya ikatan rangkap asam lemak penyusunnya. Asam lemak jenuh yang banyak menyusun
lemak alam adalah asam stearat dan asam palmitat, dan asam lemak tak jenuh yang banyak
menyusun lemak atau minyak alam adalah asam oleat.6
Di antara sekian banyak lemak yang telah dikenal, ada yang mempunyai satu atau lebih
ikatan rangkap dua, dan lemak seperti ini disebut lemak tak jenuh. Lemak yang tidak mempunyai
ikatan rangkap dalam struktur kimianya disebut lemak jenuh. Tripalmitolein adalah salah satu
contoh lemak tak jenuh, sedangkan tripalmitin adalah salah satu contoh lemak jenuh.6

Gambar 12. Contoh Asam Lemak Jenuh dan Tidak Jenuh.6


Lemak berasam satu adalah lemak yang ketiga asam lemak penyusunnya sama, contohnya
tristearin dan triolein.6

Gambar 13. Contoh Asam Lemak Berasam Satu.6


Lemak berasam dua adalah lemak yang dua dari ketiga asam lemak penyusunnya sama.
Contohnya adalah gliseril-1-oleo-2,3-distearat atau 1-oleo-2,3-distearin dan gliseril-2-palmito1,3-distearat atau 2-palmito-1,3-distearin.6

Gambar 14. Contoh Asam Lemak Berasam Dua.6

Lemak berasam tiga adalah lemak yang ketiga asam lemaknya tidak sama. Contohnya
adalah gliseril-1-stearo-2-oleo-3-palmitat atau 1-stearo-2-oleo-3-palmitin dan gliseril-1-palmito2-butiro-3-stearat atau 1-palmito-2-butiro-3-stearin.6

Gambar 15. Contoh Asam Lemak Berasam Tiga.6


Transport Lemak
Transpor lemak dalam aliran darah. Lemak ditranspor dalam bentuk kilomikron, asam
lemak bebas, dan lipoprotein.
1. Kilomikron terbentuk dalam mukosa usus dari asam lemak dan gliserol, diabsorpsi dalam
lacteal, dan masuk ke sirkulasi darah. Kilomikron terdiri dari 90% trigliserida, ditambah
kolesterol, fosfolipid, dan selubung tipis protein. Dalam waktu empat jam setelah makan
(tahap post absorbtif), sebagian besar kilomikron dikeluarkan dari darah oleh jaringan
adipose dan hati.
2. Asam lemak bebas adalah asam lemak yang terikat pada albumin, salah satu protein
plasma. Bentuk bebas ini adalah bentuk asam lemak yang ditranspor dari sel-sel jaringan
adipose untuk dipakai jaringan lain sebagai energy.
3. Lipoprotein adalah partikel kecil yang komposisinya serupa kilomikron. Lipoprotein
terutama disintesis di hati. Lipoprotein dipakai untuk transport lemak antar jaringan dan
bersikulasi dalam darah pada tahap post absorbtif setelah kilomikron dikeluarkan dari
darah. Lipoprotein terbagi menjadi tiga kelas sesuai dengan densitasnya.
a. VLDL (very low density lipoprotein) mengandung kurang lebih 60% trigliserida
dan 15% kolesterol dan memiliki massa terkecil. VLDL mentranspor trigliserida
dan kolesterol menjauhi hati menuju jaringan untuk disimpan atau digunakan.
b. LDL (low density lipoprotein) mengandung hampir 50% kolesterol dan membawa
60%-70% kolesterol plasma yang disimpan dalam jaringan adipose dan otot polos.
Konsentrasinya bergantung pada banyak factor, tetapi terutama pada factor asupan

makanan yang mengandung kolesterol dan lemak jenuh. Konsentrasi LDL tinggi
dalam darah dihubungkan dengan insidensi tinggi penyakit jantung koroner.
c. HDL (high density lipoprotein) mengandung 20% kolesterol, kurang dari 5%
trigliserida dan 50% protein dari berat molekulnya. HDL penting dalam
pembersihan trigliserida dan kolesterol dari plasma karena HDL membawa
kolesterol kembali ke hati untuk proses metabolism bukan untuk disimpan dalam
jaringan lain. Konsentrasi HDL tinggi dalam darah dihubungkan dengan insidensi
rendah penyakit jantung koroner.
Hormon-hormon Terkait
Kadar glukosa dan lemak dalam tubuh diatur oleh fungsi hormon endokrin yang
disekresikan oleh pankreas. Pankreas adalah suatu organ yang terdiri dari jaringan eksokrin dan
endokrin. Sel endokrin pankreas yang terbanyak adalah sel beta, tempat sintesis dan
sekresi insulin, dan

sel

alfa,

sintesis somastostatin. Sel

yang
pulau

menghasilkan glukagon. Sel D (delta)


Langerhans

yang

adalah

paling

tempat
jarang,

sel PP, mengeluarkan polipeptida.8


Somatostatin
Somatostatin pankreas

adalah menghambat

pencernaan nutrien

dan mengurangi

penyerapannya. Somatostatin dikeluarkan sebagai respon terhadap peningkatan glukosa darah dan
asam

amino

darah

selama

penyerapan

makanan.

Dengan

menimbulkan

efek

inhibisi, somatostatin pankreas bekerja melalui mekanisme umpan balik negatif untuk mengerem
kecepatan pencernaan dan penyerapan makanan sehingga kadar nutrien dalam plasma tidak
berlebihan. Somatostatin pankreas juga berperan parakrin dalam mengatur sekresi hormon
pankreas. Keberadaan lokal somatostatin mengurangi sekresi insulin, glukagon, dan somatostatin
itu sendiri, tetapi makna fisiologik dari fungsi parakrin ini masih belum jelas.8
Insulin
Insulin memiliki efek penting pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Hormon
ini menurunkan kadar glukosa, asam lemak, dan asam amino darah serta mendorong
penyimpanan bahan-bahan tersebut. Sewaktu molekul nutrien ini masuk ke darah selama keadaan
absorptif, insulin mendorong penyerapan bahan-bahan ini oleh sel dan pengubahannya masing-

masing menjadi glikogen, trigliserida, dan protein. Insulin melaksanakan banyak fungsinya
dengan mempengaruhi transpor nutrien darah spesifik masuk ke dalam sel atau mengubah
aktivitas enzim-enzim yang berperan dalam jalur-jalur metabolik tertentu.8
Efek Pankreas pada karbohidrat adalah terutama memelihara homeostasis glukosa darah.
Konsentrasi glukosa dalam darah ditentukan oieh keseimbangan antara proses-proses berikut:
penyerapan glukosa dari saluran cerna, pemindahan glukosa ke dalam sel, produksi glukosa oleh
hati, dan (secara abnormal) ekskresi glukosa di urin.8
Insulin memiliki empat efek yang menurunkan kadar glukosa darah dan mendorong
penyimpanan karbohidrat:8
1. Insulin mempermudah transpor glukosa ke dalam sebagian besar sel. (Mekanisme
peningkatan penyerapan glukosa ini dijelaskan setelah efek lain insulin dalam menurunkan
glukosa darah dicantumkan)
2. Insulin merangsang glikogenesis, pembentukan glikogen dari glukosa, di otot rangka dan
hati.
3. Insulin menghambat glikogenolisis, penguraian glikogen menjadi glukosa.
4. Insulin juga menurunkan pengeluaran glukosa oleh hati dengan menghambat
glukoneogenesis.
Karena itu, insulin mengurangi konsentrasi glukosa darah dengan mendorong penyerapan
glukosa oleh sel dari darah untuk digunakan dan disimpan, dan secara bersamaan menghambat
dua mekanisme pembebasan glukosa oleh hari ke dalam darah (glikogenolisis dan
glukoneogenesis). Insulin adalah satu-satunya hormon yang mampu menurunkan kadar glukosa
darah. Insulin mendorong penyerapan glukosa oleh sebagian besar sel melalui rekrutmen
pengangkut glukosa.8
Sedangkan efek insulin pada lemak adalah:8
1. Insulin meningkatkan pemasukan asam lemak dari darah menuju kedalam sel jaringan
lemak.
2. Insulin meningkatkan transpor glukosa ke dalam sel jaringan lemak. Glukosa berfungsi
sebagai prekursor untuk pembentukan asam lemak dan gliserol, yaitu bahan mentah untuk
membentuk trigliserida.
3. Insulin mendorong reaksi-reaksi kimia yang akhirnya menggunakan turunan asam lemak
dan glukosa untuk sintesis trigliserida.

4. Insulin menghambat lipolisis, mengurangi pembebasan asam lemak dari jaringan lemak ke
dalam darah.
Secara kolektif, efek-efek ini cenderung mengeluarkan asam lemak dan glukosa dari darah
dan mendorong penyimpanan keduanya sebagai trigliserida.8
Pengontrol utama sekresi insulin adalah sistem umpan balik negatif langsung antara sel
pankreas dan konsentrasi glukosa dalam darah yang mengalirinya. Peningkatan kadar glukosa
darah, seperti selama penyerapan makanan, secara langsung merangsang sel untuk membentuk
dan mengeluarkan insulin. Peningkatan insulin menurunkan kadar glukosa darah ke normal dan
mendorong pemakaian serta penyimpanan nutrien ini. Sebaliknya, penurunan glukosa darah di
bawah normal, misalnya sewaktu puasa, secara langsung menghambat sekresi insulin. Penurunan
laju sekresi insulin menggeser metabolisme dari pola absorptif ke pasca-absorptif. Karena itu,
sistem umpan balik negatif sederhana sudah dapat mempertahankan pasokan glukosa yang relatif
konstan ke jaringan tanpa memerlukan partisipasi saraf atau hormon lain.8

Gambar 15. Efek defisiensi insulin.9


Konsekuensi yang terjadi dengan penurunan metabolisme karbohidrat adalah akibat
penurunan aktivitas insulin, maka perubahan yang terjadi pada diabetes melitus adalah pola

metabolik pasca-absropsi yang berlebihan, kecuali hiperglikemia. Pada keadaan puasa yang biasa,
kadar glukosa darah sedikit di bawah normal. Hiperglikemia merupakan tanda utama diabetes
melitus, terjadi karena berkurangnya penyerapan glukosa oleh hati. Karena proses-proses
glikogenolisis dan glukoneogenesis yang menghasilkan glukosa berlangsung tanpa kendali karena
tidak adanya insulin maka pengeluaran glukosa oleh hati meningkat. Karena banyak sel tubuh
tidak dapat menggunakan glukosa tanpa bantuan insulin maka terjadi kelebihan glukosa ekstrasel
bersamaan dengan defisiensi glukosa intrasel. Meskipun otak yang tidak bergantung pada insulin
mendapat nutrisi yang adekuat pada diabetes melitus, namun konsekuensi yang lebih lanjut adalah
disfungsi otak.8
Ketika glukosa darah meningkat ke kadar dimana jumlah glukosa yang tersaring melebihi
kemampuan sel tubulus maka glukosa muncul di urin yang menimbulkan efek osmotik sehingga
menarik air bersamanya menyebabkan diuresis osmotik yang ditandai oleh poliuria (sering
berkemih). Besarnya cairan tubuh yang keluar menyebabkan dehidrasi dan menyebabkan gagal
sirkulasi perifer karena kurangnya volume darah. Kegagalan sirkulasi ini dapat menyebabkan
kematian atau gagal ginjal sekunder. Serta malfungsi sistem saraf akibat penciutan sel otak.
Akibat dehidrasi akan terjadi polidipsia yakni rasa haus berlebihan sebagai kompensasi dehidrasi.
Pada defisiensi glukosa intrasel, nafsu makan meningkat sehingga terjadi polifagia (asupan makan
berlebih) namun tidak terjadi penaikan berat badan, melainkan penurunan akibat efek defisiensi
insulin pada metabolisme lemak dan protein.8
Sintesis trigliserida akan berkurang dan lipolisis meningkat menyebabkan mobilisasi asam
lemak dari simpanan trigliserida. Peningkatan asam lemak darah sebagian besar digunakan oleh
sel sebagai sumber energi alternatif. Peningkatan pemakaian asam lemak oleh hati menyebabkan
pelepasan badan-badan keton secara berlebihan ke dalam darah menyebabkan ketosis. Asidosis
menekan otak dan dapat menyebabkan koma diabetes dan kematian.8
Glukagon
Meskipun insulin berperan kunci dalam mengontol penyesuaian metabolik antara keadaan
absorptif dan pasca-absorptif, namun produk sekretorik sel alfa pulau Langerhans pankreas
(glukagon) juga sangat penting. Glukagon mempengaruhi banyak proses metabolik yang juga
dipengaruhi oleh insulin tetapi pada kebanyakan kasus efek glukagon adalah berlawanan arah
dengan insulin. Tempat utama kerja glukagon adalah hati.8

Efek keseluruhan glukagon pada karbohidrat menyebabkan peningkatan produksi dan


pelepasan glukosa oleh hati sehingga kadar glukosa darah meningkat. Glukagon melaksanakan
efek hiperglikemiknya dengan menurunkan sintesis glikogen, mendorong glikogenolisis, dan
merangsang glukoneogenesis.8
Sedangkan efek glukagon pada lemak adalah mendorong penguraian lemak serta inhibisi
sintesis trigliserida. Glukagon meningkatkan produksi keton hati dengan mendorong perubahan
asam lemak menjadi badan keton. Karena itu, kadar asam lemak dan keton darah meningkat di
bawah pengaruh glukagon.8
Peningkatan kadar glukosa darah merangsang sekresi insulin tetapi menghambat sekresi
glukagon sementara penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sebaliknya. Penurunan
konsentrasi asam lemak darah secar langsung menghambat pengeluaran insulin dan merangsang
pengeluaran glukagon oleh pankreas dimana keduanya adalah mekanisme kontrol umpan balik
negatif untuk memulihkan kadar asam lemak darah ke normal.8
Efek berlawanan yang ditimbulkan oleh konsentrasi glukosa dan asam lemak dalam darah
pada sel alfa dan beta pankreas adalah sesuai untuk mengatur kadar molekul nutrien di dalam
darah karena efek insulin dan glukagon pada metabolisme karbohidrat dan lemak saling
berlawanan.8
Kesimpulan
Pencernaan merupakan suatu proses penguraian makanan dari struktur yang komplek diubah
menjadi satuan-satuan lebih kecil yang dapat diserap oleh enzim-enzim yang diproduksidi dalam
sistem pencernaan. Organ-organ utama yang berperan dalam sistem pencernaan antaralain mulut,
kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum, dan anus.Pencernaan dan penyerapan
merupakan sumber nutrisi penting dalam transport aktif, sekresi, maupun sintesis lainnya.
Sehingga bila terjadi gangguan pada 1 tahap saja, dapat mengganggu hingga keseluruhan tahap
pencernaan.Hal ini dapat kita lihat dalam scenario dimana sumbatan pada saluran empedu
menyebabkan perempuan tersebut menderita mual, kembung, sembelit, dan buang air besar yang
berwarna putih.
Daftar Pustaka
1. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta: EGC; 2009.
2. Nelson DL, Cox MM. Lehninger principles of biochemistry. 4th edition. New York: W. H.
Freeman and Company; 2005.

3. Suhardjo, Kusharto CM. Prinsip-prinsip ilmu gizi. Yogyakarta: Kanisius; 2006.


4. Mayer BH, Tucker L, Williams S. Ilmu gizi menjadi sangat mudah. Edisi ke-2. Jakarta:
EGC; 2011.h.36-7; 57-9.
5. Barker HM. Nutrition and dietetics for health care. 10th edition. UK: University of
Coventry; 2002.p. 18.
6. Sumardjo D. Pengantar kimia: buku panduan kuliah mahasiswa kedokteran dan program
strata I fakultas bioeksakta. Jakarta: EGC; 2009.h.270-2.
7. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004.h. 306-7.
8. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2011.h.780-90.
9. Sherwood L. Human physiology from cell to system. Seventh Editon. Belmont:
Brooks/Cole; 2010.h.722.

http://books.google.co.id/books?
id=ZZWWcW1uGS8C&pg=PA14&dq=gizi+pola+makan+yang+sesuai+diet+rendah+k
arbohidrat&hl=id&sa=X&ei=JhpYUtW9AoSGrQe1uIHwAQ&ved=0CDAQ6AEwAQ
#v=onepage&q=gizi%20pola%20makan%20yang%20sesuai%20diet%20rendah

%20karbohidrat&f=false h 17
http://books.google.co.id/books?
id=2gXCSGXtfQAC&pg=PA10&dq=gizi+pola+makan+yang+sesuai+diet+rendah+kar
bohidrat&hl=id&sa=X&ei=JhpYUtW9AoSGrQe1uIHwAQ&ved=0CCsQ6AEwAA#v
=onepage&q=gizi%20pola%20makan%20yang%20sesuai%20diet%20rendah

%20karbohidrat&f=false h 10
http://books.google.co.id/books?id=nTCmkVpT9AC&pg=PA6&dq=pola+makan+yang+sesuai+diet+rendah+Karbohidrat&hl=id
&sa=X&ei=iBlYUvvuE4XBrAf7goC4Aw&ved=0CCsQ6AEwAA#v=onepage&q=pola
%20makan%20yang%20sesuai%20diet%20rendah%20Karbohidrat&f=false h 8